SAFETY PRIME

Engineering Safety

[151007] Tugas 3 Keselamatan Konstruksi – Khusus Semester V Kelas B2 (Malam) 2015

75 Comments

Bata merah

Kepada Mahasiswa D4K3 Semester V Kelas B2 (Malam) 2015.

Berdasarkan gambar diatas, Anda diminta untuk membuat: (a) analisis potensi bahaya; dan (b) pengendalian potensi bahaya; untuk jenis pekerjaan konstruksi pemasangan batu bata merah, dengan ketentuan seperti tercantum dibawah ini.

  1. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.
  2. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah.

Cantumkan Nama, NIM, Semester, dan Kelas Anda diakhir tugas Anda.

Posting Tugas Anda ini dengan cara klik pada bagian judul diatas, lalu ketik tugas Anda pada kotak “Leave a Reply“, selanjutnya masukkan alamat e-mail dan nama Anda pada kotak yang disediakan, dan terakhir jangan lupa klik “POST COMMENT”.

Batas akhir posting adalah:

  • Hari Rabu, tanggal 07 Oktober 2015 pukul 23:59 wita.

Lewat waktu tersebut maka tugas Anda TIDAK akan mendapat approval untuk dimuat pada website ini dan dianggap TIDAK mengerjakan tugas. Posting hanya akan tampil setelah mendapatkan persetujuan terlebih dulu dari Dosen Pengampu, sehingga Mahasiswa tidak perlu memposting berulang kali untuk tugas yang sama.

Tugas yang anda kerjakan TIDAK boleh sama antara satu mahasiswa dengan mahasiswa yang lain dalam kelas yang sama. Bila ditemukan ada kesamaan antara 2 tugas atau lebih, maka kesemua tugas yang sama tersebut tidak akan diberikan penilaian.

Sistem penilaian tugas ini:
Tugas dikerjakan dengan benar, rinci dan akurat, serta diposting pada hari:

  • H       — Nilai C
  • H -1   — Nilai C+
  • H -2   — Nilai B
  • H -3   — Nilai B+
  • H -4   — Nilai A
  • Lewat waktu — Nilai 0 (Nol)

Selamat mengerjakan tugas, semoga berhasil.

Advertisements

75 thoughts on “[151007] Tugas 3 Keselamatan Konstruksi – Khusus Semester V Kelas B2 (Malam) 2015

  1. 1. pekerjaan pemasangan bata merah untuk perumahan untuk perumahan dengan ketinggian
    rumah 3 meter dari permukaan tanah.

    A. analisis potensi bahaya

    -bahaya lingkungan yakni berupa panas matahari

    -bahaya ketinggian atau gravitasi papn pijakan skafolding

    -bahaya sikologis seperti stres,fatique,beban pekerjaan

    -bahaya kimia berupa material semen,pasir,batu dan besi beton

    B.analis pengendalian bahaya

    -buatkan kanopi atau beri penutup seperti terpal di area pekerjaan yang dilakukuan agar mengurangi deidrasi

    -usahakan buat pijakan yang sekiaranya aman atau perlu jarak antar papan di rapatkan agar tidak ada celah apabila papan penyanggah bergeser posisinya

    -lakukan penyegaran saat jam istirahat,luangkan waktu untuk berdiskusi santai kepada para pekerja sehingga seorang hse dapat mengetahui masalah atau persoalan yang telah di hadapi si pekerja itu sendiri.

    -buat sop tentang pengolahan bahan-bahan material tersebut agar para pekerja tidak kesulitan dalam bekerja dan juga dapat meningkatkan efektifitas pekerjaan.

    2. pekerjaan pemasangan bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketingian gedung di atas 3 meter dari permukaan tanah.

    A .analisis potensi bahaya

    -bahaya ketinggian atau gravitasi

    -bahaya lingkungan seperti cuaca

    -bahaya kimia berupa material semen pasir dan lainnya

    -bahaya psikologis berhubungan dengan jiwa,beban kerja dan stress

    -bahaya mekanika berupa alat yang digunakan dalam konstruksi

    B.pengendalian potensi bahaya

    -untuk menghindari insiden pekerja yang jatuh dari ketinggian harus menggunakan apd (helm,sarung tangan,yang terbenting body harnes) dan beri 1 orang hse untuk mengawasi para pekerja agar mematuhi peraturan tersebut.

    -dengan mendesain tempat proyek tersebut harus di buat sesejuk mungkin sehingga para pekerja dapat bekerja dengan efektif(buatkan kanopi yang teduh)

    -berikan masker pelindung debu agar para pekerja tidak terganggu kesehatannya yang di timbulkan oleh debu semen pasir,untuk besi beton berikan para pekerja sarung tangan karana biasanya besi beton itu ujungnya sangat tajam yang bias saja melukai si pekerja itu
    .
    – ciptakan suasana kerja yang kondusif,berikan istirahat yang cukup dan juga luangkan waktu untuk sharing masalah kerjaan,kluarga atau hanya sekedar bertukar pikiran,sehingga bila seorang pekerja ada masalah dapat segera di selesaikan tanpa mengganggu perkerjaaanya.

    – rajinlah merawat alat konstruksi,biasanya karna banyak yang harus dikerjakan menjadikan alasan untuk tidak merawat atau lakukan cek kondisi alat,karana kita tidak dapat mengetahui apakah alat tersebut layak beroperasi atau tidak,jika alat tersebut kondisinya tidak layak beroperasi tetapi tetap di operasikan maka bias menimbulkan insiden.

    NAMA:MUHAMMAD IRPAN ANSORI
    KELAS:B2 (MALAM)
    NIM:13.11.106.701501.0907
    SEMESTER: V

  2. 1. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah :

    a. Analisa Potensi Bahaya
    1. Bahaya Psikososial : Kelelahan karena jam kerja, usia dan pengalaman kerja
    2. Bahaya Fisika : Debu, Gravitasi, Dinding Konstruksi, Scaffolding, Suhu
    3. Bahaya Biologi : Bakteri, Ergonomi
    4. Bahaya Kimia : Material beracun
    5. Bahaya Lingkungan : Permukaan Tanah

    b. Pengendalian Potensi Bahaya
    1. Bahaya Psikososial :
    – Mengatur jam kerja sehingga mengurangi resiko dari faktor kelelahan.
    – Jenis pekerjaan disesuaikan dengan usia dan pengalaman kerja.

    2. Bahaya Fisika :
    – Hindari debu dengan menggunakan masker.
    – Untuk menghindari terjatuh karena konstruksi perumahan 3 meter menggunakan full body harness.
    – Karena material Batu Bata Merah, tinggi pemasangan dinding batu bata dalam satu hari supaya tidak lebih dari 1 meter, untuk menjaga dari keruntuhan. Karena 1 m2 batu bata merah menggunakan 70 – 72 construction waste.
    – Scaffolding, jika tidak ingin menggunakan full body harness bisa di enginnering yaitu membangun scaffolding dengan dilengkapi handrail dan midrail. Sehingga kemungkinan pekerja terjatuh sangat kecil karena sudah di lindungi oleh rail
    – Suhu yang tinggi menyebabkan pekerja jadi cepat lelah, sehingga perlu diatur kembali jam istirahat dan pembagian konsumsi.
    – Melengkapi APD pekerja, seperti Safety Shoes, Safety Glasses, Safety Hand Gloves atau Body Harness.

    3. Bahaya Biologi :
    – Bakteri, pakaian yang dipakai pekerja penuh dengan keringat sehingga dapat menyebabkan pekerja terkena penyakit kulit. Jadi, wajib bagi manajemen menyediakan baju atau pakaian khusus untuk pekerja.
    – Ergonomi, wajib dibuat SOP pemasangan konstruksi. Salah satunya ergonomi nya, sehingga pekerja tidak lagi membangun tembok sambil menjongkok yang berpotensi menyebabkan pekerja sakit pinggang.

    4. Bahaya Kimia :
    – Mengetahui bahan-bahan yang beracun, sehingga dapat melengkapi diri dengan APD. Contoh material beracun asbes. Sehingga perlu pengetahuan tentang material tersebut dan cara penanganannya.

    5. Bahaya Lingkungan :
    – Permukaan tanah yang tidak rata karena banyaknya material yang berserakan, sehingga dapat menyebabkan pekerja terjatuh. Sehingga perlu dilakukan housekeeping terlebih dahulu atau pemindahan material yang menggaggu mobilisasi atau aktivitas pekerja.

    2. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah :

    a. Analisa Potensi Bahaya
    1. Bahaya Psikososial : Kelelahan karena jam kerja, usia dan pengalaman kerja
    2. Bahaya Fisika : Debu, Gravitasi, Dinding Konstruksi, Scaffolding, Suhu
    3. Bahaya Biologi : Bakteri, Ergonomi
    4. Bahaya Kimia : Material beracun
    5. Bahaya Lingkungan : Permukaan Tanah

    b. Pengendalian Potensi Bahaya
    1. Bahaya Psikososial :
    – Mengatur jam kerja sehingga mengurangi resiko dari faktor kelelahan.
    – Jenis pekerjaan disesuaikan dengan usia dan pengalaman kerja.

    2. Bahaya Fisika :
    – Hindari debu dengan menggunakan masker.
    – Untuk menghindari terjatuh karena konstruksi bangunan yang lebih dari 3 meter pekerja wajib menggunakan full body harness.
    – Karena material Batu Bata Merah, tinggi pemasangan dinding batu bata dalam satu hari supaya tidak lebih dari 1 meter, untuk menjaga dari keruntuhan.
    – Scaffolding, jika tidak ingin menggunakan full body harness bisa di enginnering yaitu membangun scaffolding dengan dilengkapi handrail dan midrail. Sehingga kemungkinan pekerja terjatuh sangat kecil karena sudah di lindungi oleh rail
    – Suhu yang tinggi menyebabkan pekerja jadi cepat lelah, sehingga perlu diatur kembali jam istirahat dan pembagian konsumsi.
    – Melengkapi APD pekerja, seperti Safety Shoes, Safety Glasses, Safety Hand Gloves atau Body Harness.
    – Untuk bangunan yang bertingkat atau diatas 3 meter, disarankan mengganti jenis batu nya. Yaitu mengganti bata merah menjadi batako atau bata ringan. Sehingga dalam perluasan minimal 1 m2 dapat 20 – 26 construction waste.

    3. Bahaya Biologi :
    – Bakteri, pakaian yang dipakai pekerja penuh dengan keringat sehingga dapat menyebabkan pekerja terkena penyakit kulit. Jadi, wajib bagi manajemen menyediakan baju atau pakaian khusus untuk pekerja.
    – Ergonomi, wajib dibuat SOP pemasangan konstruksi. Salah satunya ergonomi nya, sehingga pekerja tidak lagi membangun tembok sambil menjongkok yang berpotensi menyebabkan pekerja sakit pinggang.

    4. Bahaya Kimia :
    – Mengetahui bahan-bahan yang beracun, sehingga dapat melengkapi diri dengan APD. Contoh material beracun asbes. Sehingga perlu pengetahuan tentang material tersebut dan cara penanganannya.

    5. Bahaya Lingkungan :
    – Permukaan tanah yang tidak rata karena banyaknya material yang berserakan, sehingga dapat menyebabkan pekerja terjatuh. Sehingga perlu dilakukan housekeeping terlebih dahulu atau pemindahan material yang menggaggu mobilisasi atau aktivitas pekerja.

    Reza Hermawan
    13.11.106.701501.0885
    B2
    Semester V

  3. nalisa Pekerjaan Pemasangan Batu Bata Merah.
    A) Jenis – jenis Bahayanya :
    * Bahaya fisika
    >> Permukaan Scaffolding yang diberi beban atau muatan yg berlebih dapat mengakibatkan kepatahan dan akibatnya dapat menjatuhkan benda-benda yang berada diatasnya, termasuk manusianya (para pekerja).
    >> Paparan sinar matahari yg mengenai mata akan mengakibatkan gangguan penglihatan dan penyakit mata, sehingga mengurangi ketelitian dlm pemasangan kontruksinya.
    * Bahaya Kimia
    >> Pekerja yang tidak menggunakan APD dengan baik, benar dan lengkap akan terkena paparan zat kimia dari material yg digunakan (adukan semen).
    * Bahaya Lingkungan
    >> Benda-benda yg berserakan berada di area kerja dapat membuat pekerja yg melintas diarea kerja memiliki potensi terjatuh lebih besar apabila salah pijakan dlm berjalan atau melangkah.
    B) Pengendalian potensi Bahayanya
    1. Perkuat tumpuan Scaffolding dengan menambah tiang penyangganya dan papan penyangga beban. Atau dengan cara / membatasai beban yg berada diatasnya.
    2. Menggunakan pelindung mata seperti kaca mata (APD). Atau memberi penghalang sinar disekitar area kerja di sidut datangnya sinar matahari.
    3. Gunakan APD yang sesuai dan benar.
    4. Singkirkan benda-benda berserakan disekitar area kerja yang belum digunakan pada area aman.
    5. Berikan tanda bahaya agar orang yg tidak berkepentingan tidak melintas dilokasi kerja.
    Nama: Ruddy Prannoto
    NIM : 13.11.106.701501.0911
    Semester : V (Lima)
    Kelas : B2

    • Analisis Anda masih belum lengkap dan sistematis. Disarankan melakukan analisis dengan lengkap dan sistemik seperti contoh berikut dibawah ini:

      1. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.
      1.1. Analisis potensi bahaya.
      1.1.1.
      1.1.2.
      1.1.3.
      dst.
      .
      1.2. Pengendalian potensi bahaya
      1.2.1.
      1.2.2.
      1.2.3.
      dst.
      .
      2. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah.
      2.1. Analisis potensi bahaya.
      2.1.1.
      2.1.2.
      2.1.3.
      dst.

      2.2. Pengendalian potensi bahaya
      2.2.1.
      2.2.2.
      2.2.3.
      dst.

      Klik “Reply” dibawah ini untuk memperbaiki tugas anda kembali.

      • 1. Pekerjaan pemasangan bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.
        1.1 analisis potensi bahaya
        1.1.2 bahaya gravitasi pekerja terjatuh dari ketinggian
        1.1.3 truktur tanah yang tidak rata, sehingga saat mendirikan scaffolding goyang dan ambruk.
        1.1.4 material batu bata yang berada diatas scaffolding terjatuh. Dan melukai pekerja yang berada di bawahnya.
        1.1.5 kemungkinan bahaya yang datang dari binatang seperti nyamuk lebah
        1.1.6 paparan sinar matahari yang mengganggu pekerja,
        1.1.7 debu yang berasal dari material bangunan
        1.8 stress dan fatugue karena tekanan kerja
        1.2. pengendalian potensi bahaya
        1.2.1 bangun scaffolding dengan kokoh dan diberi handrail dan midrail sehingga meminimalisir resiko
        1.2.2 Tidak menaruh bata pada scaffolding atau pekerja dapat memasang pagar atau penghalang yang memungkinkan bata tidak langsung jatuh kebawah dan dapat mencederai pekerja.
        1.2.3 memastikan kaitan sambungan scaffolding terpasang dengan kuat. Dan jangan menggunakan scaffolding yang sdh tidak layak pakai ( karat)
        1.2.4 melengkapi para pekerja dengan safety helm safety shoes, agar menghindari cidera pada kepala saat ada material yang terjatuh.
        1.2.5 merapikan area tempat kerja serta membersihkan sehingga gangguan dari binatang dapat di kendalikan
        1.2.6 memasang atap sementara untuk mengurangi paparan sinar matahari
        1.2.7 melengkapi para pekerja dengan masker anti debu.
        1.2.8 memberikan jam istirahat yang cukup agar para pekerja tdk kelelahan dan stress.
        2. Pekerjaan pemasangan bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.
        2.1 analisa potensi Bahaya
        2.1.1 adanya debu yang berada pada area kerja yang menganggu kesehatan para pekerja
        2.1.2 dan pada pekerjaan gedung bertingkat dapat mengakibatkan pekerja terjatuh yang menyebabkan fatality dan kemungkinan meninggal dunia
        2.1.3 benda atau material kerja atau bata yang bias terjatuh dan menimpa pekerja yang berada di bawahnya
        2.1.4 penggunaan alat-alat yang sesuai dengan pekerjaan gedung bertingkat seperti crane .
        2.1.5 keluar masuk kendaraan penganggkut material.
        2.1.6 jamur ,karena pakaian pekerja yang tidak di ganti
        2.1.7 kemungkinan ambruknya scaffolding
        2.1.8 sinar matahari yang menyebabkan dehidrasi karena cuaca panas
        2.1.9 stress dan fatique karena tekanan kerjaan yang harus di selesaikan
        2.2 pengendalian potensi bahaya
        2.2.1 melengkapi pekerja dengan masker anti debu, untuk mengurangi paparan debu terhadap pekerja,
        2.2.2 Membuat perancah atau andang dengan struktur yang kuat, jangan sampai adanya lubang yang terdapat di papan perancah yang dapat memungkinkan kaki pekerja terperosok ataumungkin saja tergelincir.
        2.2.2 .1 Untuk konstruksi yang menggunakan batu bata merah sebaiknya tidak memasangnya melebihi 1 meter untuk menghindari kemungkinan robohnya dinding karena tinggi belum terlalu kuat.
        2.2.2.2 pada pekerejaan di gedung bertingkat dengan ketingian lebih dari 3 meter diatas permukaan tanah harus di lengkapi dengan body harness.
        2.2.3 melengkapi para pekerja dengan helm, agar dapat megurangi resiko cidera para pada kepala saat ada material yang terjatuh dari atas.
        2.2.4 mengecek alat berat yang di pakai seperti crane apakah masih layak pakai. Dan memperkerjakan operator crane haruslah yang memiliki SIO ( surat ijin operasi ) atau tang telah tersertifikasi dan terlatih membawa crane.
        2.2.5 membuat jalan untuk kendaraan proyek yang membawa material agar tidak mengaggngu pekerjaan yang sedang berlangsung.
        2.2.6 memberitahukan kepada pekerja agar membudayakan kebersihan diri sendiri dalam bekerja dengan cara menyuruh untuk mengganti pakaian kerja sehari sekali atau di beri seragam lebih dari satu untuk mengganti.
        2.2.7 memastikan serta memeriksa sambungan scaffolding dan papan pikajan apakah sudah terpasang dengan benar dan kuat, agar scaffolding tidak ambruk.
        2.2.8 penyediaan air minum agar tidak dehidrasi.
        2.2.9 jam kerja yang diatur sehingga pekerja tidak fatigue dalam bekerja dan hiburan yang diadakan guna menghindari stress akibat kerja.
        Nama: Ruddy Prannoto
        NIM : 13.11.106.701501.0911
        Semester : V (Lima)
        Kelas : B2

  4. Tugas 3 Keselamatan Konstruksi.

    1. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.

    A. Analisis Potensi Bahaya

    – Batu bata yang terjatuh dari scaffolding.
    – Campuran semen yang terjatuh dan mengenai tangan pekerja.
    – Tidak adanya tag di scaffolding/bukti pemeriksaan scaffolding yang layak di pakai atau tidak.
    – Tidak adanya hand real di scaffolding.
    – Lantai atau pijakan di scaffolding tidak standard (Karna bukan pasanganya).
    – Pekerja tidak menggunakan APD yang lengkap dan cara penggunaanya.
    Contoh temuan APD (Gloves, Masker, Glasses).
    – Environment : Campuran semen yang terjatuh & pecahan atau bongkahan bata yang tercecer di area sekitar proyek.

    B. Pengendalian Potensi Bahaya

    – Memberikan tempat tersendiri untuk menyusun batu bata yang berada di atas scaffolding agar tidak jatuh ke bawah atau Drop Object.
    – Berikan wadah/tempat untuk mengaduk semen.
    – Membuat tag agar pekerja tau scaffolding dapat digunakan atau tidak.
    – Berikan Hand Real pada scaffolding.
    – Mengganti lantai peranca yang terbuat dari kayu dengan bahan yang terbuat dari bahan plat untuk laintai peranca.
    – Pekerja harus diberikan sarung safety tangan agar tidak terjepit material yang ada di area sekitar proyek, Masker safety untuk menghindari debu di area proyek, Kaca mata Safety utnuk menghindari mata dari partikel kecil yang di akibatkan dari pecahan batu bata & semen.
    – Memberikan tepat untuk menaruh sisa-sisa dari pembuangan semen atau batu bata yang terjatuh ke bawah agar tidak dapat merusak tanaman dan lingkungan yang berada di sekitar area proyek.

    2. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah.

    A. Analisis Potensi Bahaya

    – Batu bata yang terjatuh dari scaffolding.
    – Campuran semen yang terjatuh dan mengenai tangan pekerja.
    – Tidak adanya tag di scaffolding/bukti pemeriksaan scaffolding yang layak di pakai atau tidak.
    – Tidak adanya hand real di scaffolding.
    – Lantai atau pijakan di scaffolding tidak standard.
    – Pekerja tidak menggunakan APD yang lengkap dan cara penggunaanya.
    Contoh temuan APD (Gloves, Masker, Glasses).
    – Environment : Campuran semen yang terjatuh & pecahan atau bongkahan bata yang tercecer di area sekitar proyek.

    B. Pengendalian Potensi Bahaya

    – Memberikan tempat tersendiri untuk menyusun batu bata yang berada di atas scaffolding agar tidak jatuh ke bawah atau Drop Object.
    – Berikan wadah/tempat untuk mengaduk semen.
    – Membuat tag agar pekerja tau scaffolding dapat digunakan atau tidak.
    – Berikan Hand Real pada scaffolding.
    – Mengganti lantai peranca yang terbuat dari kayu dengan bahan yang terbuat dari bahan plat untuk laintai peranca.
    – Pekerja harus diberikan sarung safety tangan agar tidak terjepit material yang ada di area sekitar proyek, Masker safety untuk menghindari debu di area proyek, Kaca mata Safety utnuk menghindari mata dari partikel kecil yang di akibatkan dari pecahan batu bata & semen.
    – Memberikan tepat untuk menaruh sisa-sisa dari pembuangan semen atau batu bata yang terjatuh ke bawah agar tidak dapat merusak tanaman dan lingkungan yang berada di sekitar area proyek.

    Note: Menurut analisa saya potensi bahaya dan cara penanggulanganya antara kasus nomer 1 dan nomer 2 itu sama cara menanggulangi dan yang membedakan adalah lokasi proyek tersebut di kerjakan.

    Nama : Dimas Cahya Anggara
    Npm : 13.11.106.701501.0878
    Semester : V
    Kelas : B2

  5. Dari pengamatan saya sesuai gambar di atas untuk pemasangan bata perumahan dengan ketinggian 3 meter bahkan lebih dari 3 meter analisi dampak potensi bahayanya adalah :
    – Dropped Object
    – Working at Height
    1. Pengendalian/Kontrol yang harus di berikan pada pekerjaan pemasangan bata dengan ketinggian 3 meter adalah :
    – Sebelum bekerja pekerja diharuskan membuat JSA.
    – Pekerja wajib menggunakan PPE diantaranya : Full Body Harness Masker,Safety Shoes, Kaca mata, Sarung Tangan dan Helm. Karena di gambar ada pekerja yang tidak menggunakan sarung tangan.
    – Mengganti alas scafolding dengan bahan yang lebih aman.
    – Memasang barricade atau pita penghalang dibawah orang bekerja diketinggian
    – Memasang jaring jaring untuk menghindari dropped object.
    2. Pengendalian/Kontrol yang harus di berikan pada pekerjaan pemasangan bata dengan ketinggian diatas 3 meter adalah :
    – Sebelum bekerja pekerja diharuskan membuat JSA.
    – Pekerja wajib menggunakan PPE diantaranya : Full Body Harness Masker,Safety Shoes, Kaca mata, Sarung Tangan dan Helm. Karena di gambar ada pekerja yang tidak menggunakan sarung tangan.
    – Mengganti alas scafolding dengan bahan yang lebih aman.
    – Mengisolir area dengan memasang batas area kerja.
    – Memasang jaring jaring untuk menghindari dropped object.
    – Memasang Handrill pada scafolding
    – Memasang pagar scafolding.
    Memasang barricade atau pita penghalang dibawah orang bekerja diketinggian
    – Memasang jaring jaring untuk menghindari dropped object.
    Safe action and Safe Condition.
    Nama : Dewi Fatmah Febriyanti
    Kelas : B2 / V
    NPM : 13.11.106.701501.0880

    • Analisis anda jangan mencampuradukkan antara kedua jenis pekerjaan tersebut, tetapi harus diselesaikan satu demi satu, karena kedua jenis pekerjaan tersebut berbeda. Disarankan melakukan analisis secara sistemik seperti contoh dibawah ini.

      1. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.

      1.1. Analisis potensi bahaya.

      1.1.1.
      1.1.2.
      1.1.3.
      dst.

      1.2. Pengendalian potensi bahaya.

      1.2.1.
      1.2.2.
      1.2.3.
      dst.

      2. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah.

      2.1. Analisis potensi bahaya.

      2.1.1.
      2.1.2.
      2.1.3.
      dst.

      2.2. Pengendalian potensi bahaya.

      2.2.1.
      2.2.2.
      2.2.3.
      dst.

      Klik “Reply” dibawah ini untuk memperbaiki tugas anda kembali.

      • 1. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.

        1.1. Analisis potensi bahaya.

        1.1.1. Bahaya Fisika : Gravitasi (Drop Object, Working At Height), Suhu (Panas Matahari,
        Hujan), Debu (Abu Semen, Pasir dan Batu bata), Konstruksi Scafolding
        1.1.2. Bahaya Kimia :Bahan Iritan/Penyebab Iritasi : Semen.
        1.1.3. Bahaya Biologi : Bakteri, Hewan Penyengat dan Berbisa (Kalajengking, Ular dst)
        1.1.4. Bahaya Biomekanika : Ergonomi(Posisi Kerja), Pengangkutan Manual
        1.1.5. Bahaya Psikologi : Fatigue, Underpressure)

        1.2. Pengendalian potensi bahaya.
        1.2.1.Drop Object : Menggunakan barricade atau pita penghalang dibawah orang bekerja.
        Menggunakan Helm safety agar mengurangi dampak resiko

        Working at Height : Menggunakan full body Harness sesuai standar ketentuan bekerja di
        ketinggian.
        Suhu : Membuat pelindung terik matahari seperti memasang kanopi atau tenda, Jika
        hujan tiba menghentikan semua pekerjaan
        Debu : Menggunakan masker agar debu tidak terhirup,
        Menggunakan kacamata agar serpihan pasir, semen yang terbang tdk terkena mata
        Konstruksi Scafolding : Mengganti pijakan scafolding dengan bahan dari plat sehinga tidak
        ada celah yang menimbulkan kaki terperosok., Memasang
        handrill
        1.2.2. Menggunakan sarung tangan, agar tangan tidak terpapar langsung oleh semen yang
        dapat mengakibatkan iritasi kulit dan segera cuci tangan.
        1.2.3. Bakteri : Mengganti dan mencuci pakaian kerja
        hewan Penyengat/Berbisa : Membersihkan area sekitar tumpukan material sebelum dan
        seleai bekerja.
        1.2.4. Ergonomi : Hindari sikap kerja yang tidak ergonomi seperti menjongkok
        Pengangkatan Manual : Lakukan pengangkatan sesuai dengan ketentuan standar MMH
        (Manual Material Handling).
        1.2.5. Fatigue : Manfaatkan waktu istirahat dengan baik, Memberikan suplemen tambahan
        sebagai penambah energy.
        Membuat shift kerja yang maksimal. Memberikan asupan makanan gizi seimbang
        Underpressure : Komunikasi yang baik.

        2. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah.

        2.1. Analisis potensi bahaya.
        2.1.1. Bahaya Fisika : Gravitasi (Drop Object, Working At Height), Suhu (Panas Matahari,
        Hujan), Debu (Abu Semen, Pasir dan Batu bata), Konstruksi Scafolding
        2.1.2. Bahaya Kimia :Bahan Iritan/Penyebab Iritasi : Semen.
        2.1.3. Bahaya Biologi : Bakteri, Hewan Penyengat dan Berbisa (Kalajengking, Ular dst)
        2.1.4. Bahaya Biomekanika : Ergonomi(Posisi Kerja), Pengangkutan Manual
        2.1.5. Bahaya Psikologi : Fatigue, Underpressure)

        2.2. Pengendalian potensi bahaya.
        1.2.1.Drop Object : Menggunakan barricade atau pita penghalang dibawah orang bekerja.
        Menggunakan Helm safety agar mengurangi dampak resiko
        Mengganti bata merah dengan batako/bata ringan untuk mengurangi resiko
        Memasang Jaring pengaman untuk meredam benda jatuh.

        Working at Height : Menggunakan full body Harness sesuai standar ketentuan bekerja di
        ketinggian.
        Memasang jala keselmatan.
        Suhu : Membuat pelindung terik matahari seperti memasang kanopi atau tenda, Jika
        hujan tiba menghentikan semua pekerjaan
        Debu : Menggunakan masker agar debu tidak terhirup,
        Menggunakan kacamata agar serpihan pasir, semen yang terbang tdk terkena mata
        Konstruksi Scafolding : Mengganti pijakan scafolding dengan bahan dari plat sehinga tidak
        ada celah yang menimbulkan kaki terperosok., Memasang
        handrill.
        Lakukan isnpeksi scafolding secara berkaa agar memastikan
        scafolding aman dan layak pakai
        2.2.2. Menggunakan sarung tangan, agar tangan tidak terpapar langsung oleh semen yang
        dapat mengakibatkan iritasi kulit dan segera cuci tangan.
        2.2.3. Bakteri : Mengganti dan mencuci pakaian kerja
        hewan Penyengat/Berbisa : Membersihkan area sekitar tumpukan material sebelum dan
        seleai bekerja.
        2.2.4. Ergonomi : Hindari sikap kerja yang tidak ergonomi seperti menjongkok
        Pengangkatan Manual : Lakukan pengangkatan sesuai dengan ketentuan standar MMH
        (Manual Material Handling).
        2.2.5. Fatigue : Manfaatkan waktu istirahat dengan baik, Memberikan suplemen tambahan
        sebagai penambah energy.
        Membuat shift kerja yang maksimal. Memberikan asupan makanan gizi seimbang
        Underpressure : Komunikasi yang baik.

        Note : Sebelum melakukan aktifitas kerja harus melakukan Tool Box Meeting, melakukan pembagian tugas dan wewenang kepada setiap pekerja, Pastikan pekerja adalah orang yang kompeten di bidangnya.

        Terima kasih.

        Nama : Dewi Fatmah Febriyanti
        Kelas : B2 / V
        NPM : 13.11.106.701501.0880

  6. Tugas 3 Keselamatan Konstruksi

    1. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah
    1.1 Analisis potensi bahaya
    a) Bahaya Fisika
    – Grafitasi :
    * Bekerja di ketinggian 3,00 meter.
    * Batu bata yang digunakan di ketinggian 3,00 meter atau beban yang tergantung.
    – Radiasi :
    * Sinar matahari.
    – Suhu :
    * Suhu yang tinggi saat bekerja di siang hari.
    – Pergerakan :
    * Pergerakan pekerja saat pengambilan dan pemasangan batu bata merah.

    b) Bahaya Kimia
    – Debu : Debu yang berasal dari batu bata merah dan bahan bangunan lainnya.

    c) Bahaya Biologi
    – Bakteri : Bakteri yang menempel pada pakaian pekerja dan di lingkungan kerja.

    d) Bahaya Mekanik
    – Katrol : Katrol yang digunakan untuk pengangkutan batu bata merah dari bawah ke ketinggian 3,00 meter.

    e) Bahaya Psikososial
    – Fatigue : Kelelahan mental pekerja saat bekerja.
    – Intimidasi : Tindakan menakut-nakuti atau memaksa dengan kekuatan yang dilakukan pekerja terhadap pekerja lain.
    – Stress : Stress yang dialami pekerja atau ketidaksesuaian antara kondisi yang diinginkan dengan keadaan biologis dan psikis pekerja.
    – Kompetensi : Pengetahuan, keterampilan dan prilaku yang dimiliki, dikuasai dan diaktualisasikan pekerja saat bekerja.

    f) Bahaya Lingkungan
    – Humidity : Kelembaban tempat kerja.
    – Kemiringan tanah : Tingkat kemiringan tempat kerja terutama tanah landasan scaffolding yang digunakan pekerja saat pemasangan batu bata merah.

    1.2 Pengendalian potensi bahaya
    a) Pemasangan papan perancah (platform) atau toe board sebagai tempat berpijak pekerja
    b) Pemasangan handrail pada scaffolding.
    c) Inspeksi scaffolding secara rutin sebelum digunakan untuk memastikan scaffolding bebas dari keretakan, cacat permukaan dan memastikan pengunci atau clam berfungsi dengan baik.
    d) Menempatkan scaffolding di permukaan tanah yang rata dan keras agar mampu menahan beban scaffolding dan beban di atasnya.
    e) Memasang tenda pada lokasi pekerjaan agar pekerja tidak terpapar sinar matahari secara langsung.
    f) Mengganti atau memilih bahan bangunan yang lebih ramah lingkungan dan memiliki resiko lebih rendah terhadap kesehatan pekerja.
    g) Pemberian seragam yang bersih kepada pekerja.
    h) Memilih katrol yang ergonomis terhadap pekerja.
    i) Pengaturan shift kerja sesuai jam kerja dan jumlah pekerja.
    j) Membuat SOP dan JSA pada setiap tahap pekerjaan dan disosialisasikan kepada pekerja.
    k) Melakukan Safety briefing rutin setiap akan memulai pekerjaan.
    l) Memberikan pelatihan dan pengetahuan dasar keselamatan agar pekerja memahami dan lebih peduli terhadap keselamatan, minimal keselamatan diri sendiri.
    m) Memberikan PPE yang sesuai dan layak untuk pekerja seperti body harness, safety helmet, safety shoes, safety glasses, hand gloves dan masker.

    2. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah.
    2.1 Analisi potensi bahaya
    a) Bahaya fisika
    – Gravitasi :
    * Bekerja di ketinggian diatas 3,00 meter.
    * Batu bata yang digunakan di ketinggian diatas 3,00 meter atau drop object.
    – Radiasi :
    * Sinar matahari
    – Suhu :
    * Suhu yang tinggi saat bekerja di siang hari
    – Pergerakan :
    * Pergerakan pekerja saat pengambilan dan pemasangan batu bata merah.

    b) Bahaya Kimia
    – Debu : Debu yang dihasilkan dari batu bata dan bahan bangunan lainnya.

    c) Bahaya Biologi
    – Bakteri : Bakteri yang menempel pada pakaian pekerja dan di lingkungan kerja.

    d) Bahaya Mekanik
    – Pergerakan pipa pompa beton (concrete pump) dari truk molen/truk mixer.

    e) Bahaya Psikososial
    – Fatigue : Kelelahan mental pekerja saat bekerja.
    – Intimidasi : Tindakan menakut-nakuti atau memaksa dengan kekuatan yang dilakukan pekerja terhadap pekerja lain.
    – Stress : Stress yang dialami pekerja atau ketidaksesuaian antara kondisi yang diinginkan dengan keadaan biologis dan psikis pekerja.
    – Kompetensi : Pengetahuan, keterampilan dan prilaku yang dimiliki, dikuasai dan diaktulisasikan pekerja saat bekerja.

    f) Bahaya Lingkungan
    – Humidity : Kelembaban tempat kerja
    – Kemiringan tanah : Tingkat kemiringan tempat kerja terutama tanah landasan scaffolding yang digunakan pekerja saat pemasangan batu bata merah.

    2.2 Pengendalian potensi bahaya
    a) Pemasangan papan perancah (platform) atau toe board sebagai tempat berpijak pekerja
    b) Pemasangan handrail pada scaffolding.
    c) Inspeksi scaffolding secara rutin sebelum digunakan untuk memastikan scaffolding bebas dari keretakan, cacat permukaan dan memastikan pengunci atau clam berfungsi dengan baik.
    d) Menempatkan scaffolding di permukaan tanah yang rata dan keras agar mampu menahan beban scaffolding dan beban di atasnya.
    e) Membuat jaring-jaring keselamatan untuk meminimalisir konsekuensi yang hasilkan jika body harness mengalami kerusakan dan pekerja terjatuh dari ketinggian lebih dari 3,00 meter.
    f) Memasang tenda pada lokasi pekerjaan agar pekerja tidak terpapar sinar matahari secara langsung.
    g) Mengganti atau memilih bahan bangunan yang lebih ramah lingkungan dan memiliki resiko lebih kecil terhadap kesehatan pekerja.
    h) Pemberian seragam yang bersih kepada pekerja.
    i) Memilih katrol yang ergonomis terhadap pekerja.
    j) Pengaturan shift kerja sesuai jam kerja dan jumlah karyawan.
    k) Membuat SOP dan JSA pada setiap tahap pekerjaan dan disosialisasikan kepada pekerja.
    l) Melakukan Safety briefing rutin setiap akan memulai pekerjaan
    m) Memberikan pelatihan dan pengetahuan dasar keselamatan agar pekerja memahami dan lebih peduli terhadap keselamatan, minimal keselamatan diri sendiri.
    n) Memberikan PPE yang sesuai dan layak untuk pekerja seperti body harness, safety helmet, safety shoes, safety glasse, hand gloves dan masker.

    Nama : Riyan Handoko
    NIM : 13.11.106.701501.0908
    Semester : V (Lima)
    Kelas : B2

  7. Tugas III
    Analisa Potensi Bahaya dan Pengendaliannya Pada Pekerjaan Pemasangan Bata Merah
    1. Pekerjaan pemasangan bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.
    Potensi bahaya dan pengendaliannya.
    a. Bahaya FISIKA
    Bahaya fisika dapat diklasifikasikan lagi menjadi beberapa hal antara lain gravitasi, pergerakan (motion), suhu, radiasi, gelombang suara , dan lain lain. Disebut juga sebagai bahaya yang bersumber dari hukum alam. Adapun bahaya fisika yang dapat diidentifikasi dari foto adalah gravitasi dan pergerakan (motion).
    Berikut adalah bahaya gravitasi dan pergerakan (motion) yang dapat diidentifikasi
     Pekerja terjatuh dari perancah atau andang
    mitigasi : membuat perancah dengan struktur yang kuat.
    Foto menunjukkan penggunaan perancah yang terbuat dari besi (frame scaffold) system knock down maka mitigasinya adalah dengan menutup penuh seluruh permukaan yang menjadi landasan pijakan dengan papan perancah yang sesuai. Tidak boleh ada pijakan yang berlubang atau terdapat sela sela papan perancah yang memungkinkan kaki terperosok ataupun tergelincir. Jika seluruh permukaan perancah tertutup, maka pijakan menjadi luas sehingga maneuver tukang lebih leluasa , lebih aman dan nyaman.
     Pembantu tukang kejatuhan ember semen, bata, atau alat kerja (palu, cetok)
    mitigasi 1 :
    komunikasi antara tukang dan pembantu tukang harus terhubung dengan baik, hal ini untuk menghindari material yang berlebihan karena pembantu tukang terus memasok bata merah, adukan semen dan lain lain ke papan perancah. Jika area tukang sempit maka kemungkinan benda jatuh ataupun tertendang tukang menjadi lebih tinggi. Idealnya pasangan tukang dan pembantu tukang adalah orang orang yang mempunyai kecocokan dan sudah terbentuk team work sehingga komunikasi yang terjalin sudah baik dan saling mengerti.
    Mitigasi 2 :
    Seluruh pekerja menggunakan Alat Pelindung Diri Standar. Minimal menggunakan safety helmet untuk mengurangi keparahan saat kejatuhan benda, dan sepatu safety.
    Mitigasi 3 :
    Membuat stopper / dinding papan setinggi 10 – 15 cm di pinggir papan perancah.
     Perancah / andang ambruk
    Mitigasi : bersihkan lantai kerja dari bekas material sehingga perancah dapat didirikan tegak lurus sempurna terhadap permukaan tanah. Pastikan seluruh sambungan dan kaitan pada perancah terhubung dengan sempurna. Jangan menggunakan perancah yang penyok, berkarat dan bengkok karena dapat mempengaruhi kerataan perancah (level) setelah didirikan.
    b. Bahaya KIMIA
    Bahaya kimia yang dapat diidentifikasi dari gambar tersebut adalah adanya debu yang berada di area kerja.
    Mitigasinya adalah melengkapi seluruh pekerja tanpa terkecuali dengan masker anti debu. Jika tempat kerja tidak terlalu luas , contoh seperti pada foto, maka dapat dilakukan penyiraman terhadap lingkungan sebelum pekerjaan dimulai atau pada saat pekerjaan berlangsung supaya debu tidak beterbangan.
    c. Bahaya BIOLOGI
    Bahaya biologi yang dapat diidentifikasikan dari gambar adalah pakaian kerja yang tidak nyaman karena keringat.
    Adanya binatang berbisa seperti kalajengking, kelabang pada bongkahan material.
    Mitigasinya lebih ke pribadi masing masing tukang untuk menjaga kebersihan pakaian kerja dan untuk binatang berbisa dapat dikendalikan dengan membersihkan lantai kerja sebelum pekerjaan dimulai.
    d. Bahaya MEKANIKA
    Tidak ada
    e. Bahaya PSIKOSOSIAL
    Pekerja mengalami fatique dan mungkin stress akibat dehidrasi dikarenakan lingkungan kerja yang panas serta target penyelesaian pekerjaan harus sesuai tepat waktu.
    Mitigasinya adalah menyediakan minimal minuman / air putih untuk pekerja sehingga dehidrasi dapat dicegah.
    2. Pekerjaan pemasangan bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian lebih dari 3,00 meter dari permukaan tanah.
    Potensi bahaya dan pengendaliannya.
    a. Bahaya FISIKA
    Hampir sama dengan pekerjaan pada no. 1 di atas. Namun ada beberapa perbedaan pada nilai resiko. Misalnya jika pada pekerjaan no. 1 ada tukang yang kejatuhan batu bata dan mengenai kepala. Jika helm digunakan, maka kemungkinan akibatnya adalah terkejut atau luka ringan saja. Tapi pada konstruksi gedung tinggi, kalau ada batu bata yang terjatuh dari ketinggian 15 meter dan tepat mengenai kepala, maka keparahan yang ditimbulkan dapat berakibat fatality.
    Berikut adalah bahaya gravitasi dan pergerakan (motion) yang dapat diidentifikasi
     Pekerja terjatuh dari perancah atau andang
    Mitigasi 1 : membuat perancah dengan struktur yang kuat antara lain sebagai berikut,
    – Untuk konstruksi gedung bertingkat, perancah harus dibuat sedemikian rupa sehingga dapat digunakan dengan aman.
    – Membuat planning dan perhitungan perancah dengan cermat. Mulai dari pemilihan bahan perancah, model perancah, gambar perancah, titik titik pengikat ke gedung.
    – Pemasangan perancah dilakukan oleh orang / tukang yang sudah kompeten.
    – Melakukan inspeksi perancah sebelum digunakan untuk bekerja.
    – Papan perancah yang digunakan dapat menutup semua permukaan pijakan. Terdapat stopper benda jatuh di pinggir pinggir papan
    – Pemeriksaan papan perancah sebelum dipasang. Papan yang lapuk, retak , pecah, terlalu banyak lubang paku, tidak boleh digunakan.
    Mitigasi 2 :
    Dari faktor manusianya , yaitu setiap orang yang berada di lokasi proyek gedung, harus mendapatkan training, safety talk, meeting mandor supaya ada awareness atau munculnya kesadaran pribadi dari masing masing pekerja bahwa saya berada di lokasi yang beresiko tinggi terhadap kecelakaan.
    Tukang yang bekerja di struktup perancah di training dulu tentang cara bekerja aman di ketinggian (working at height).
    Mitigasi 3 :
    Pengawasan dari implementasi bekerja aman secara berkelanjutan.
    Pengawasan cara bekerja aman ( implementation on safe work practice ) harus dilakukan untuk mengawal proses pekerjaan proyek .
     Pekerja kejatuhan benda
    Mitigasi 1.
    Seluruh pekerja diwajibkan menggunakan Alat Pelindung Diri Standar. Minimal menggunakan safety helmet untuk mengurangi keparahan saat kejatuhan benda, dan sepatu safety.
    Mitigasi 2.
    Membuat stopper / dinding papan setinggi 10 – 15 cm di pinggir papan perancah.
    Memasang safey net ( jaring pengaman di sekeliling perancah)
    Mitigasi 3.
    Memasang barikade pada tempat tempat yang kritikal. Akses ke tempat yang kritikal tersebut harus orang yang mempunyai otoritas khusus. Tidak semua orang bisa masuk (terbatas) sehingga kemungkinan mengenai orang apabila ada benda jatuh dapat dikurangi. Karena pada lokasi yang paling sering terjadi benda jatuh sudah dibatasi aksesnya.
     Perancah / andang ambruk
    Mitigasi 1.
    Membuat jalur lalu lintas kendaraan di lokasi proyek.
    Pada proyek gedung tinggi alat berat dan truck sering keluar masuk ke dalam lokasi. Maka jalur lalu lintas di dalam lokasi proyek harus dibuat. Minimal untuk mencegah alat berat atau truk menyenggol struktur perancah yang dapat menyebabkan perancah ambruk.
    Mitigasi 2.
    Melakukan pemeriksaan / inspeksi perancah secara berkala berkala untuk memastikan struktur perancah masih aman untuk digunakan.
    b. Bahaya KIMIA
    Bahaya kimia : adanya debu
    Mitigasinya adalah melengkapi seluruh pekerja tanpa terkecuali dengan masker anti debu.
    c. Bahaya BIOLOGI
    Bahaya biologi yang dapat diidentifikasikan dari gambar adalah pakaian kerja yang tidak nyaman karena keringat.
    Mitigasinya lebih ke pribadi masing masing tukang untuk menjaga kebersihan pakaian kerja.
    d. Bahaya MEKANIKA
    Tidak ada.
    e. Bahaya PSIKOSOSIAL
    Pekerja mengalami fatique dan mungkin stress akibat dehidrasi dikarenakan lingkungan kerja yang panas serta target penyelesaian pekerjaan harus sesuai tepat waktu.
    Mitigasinya adalah menyediakan minimal minuman / air putih untuk pekerja sehingga dehidrasi dapat dicegah.
    Nama : Muhammad Taufiq
    Kelas : B2
    Semester : V
    NIM : 13.11.106.701501.0915

    • Pisahkan antara analisis potensi bahaya dengan analisis pengendalian bahaya, sehingga lebih sistematis. Disarankan melakukan secara sistemik seperti contoh dibawah ini.

      1. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.
      1.1. Analisis potensi bahaya
      1.1.1.
      1.1.2.
      1.1.3.
      dst.

      1.2. Pengendalian potensi bahaya
      1.2.1.
      1.2.2.
      1.2.3.
      dst.

      2. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah.
      2.1. Analisis potensi bahaya
      2.1.1.
      2.1.2.
      2.1.3.
      dst.

      2.2. Pengendalian potensi bahaya
      2.2.1.
      2.2.2.
      2.2.3.
      dst.

      Klik “Reply” dibawah ini untuk memperbaiki tugas anda kembali.

      • Tugas III

        Analisa Potensi Bahaya dan Pengendaliannya Pada Pekerjaan Pemasangan Bata Merah
        1. Pekerjaan pemasangan bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.

        1.1. Analisa potensi bahaya
        1.1.1. Pekerja terjatuh dari perancah atau andang (fisika)
        1.1.2. Pembantu tukang kejatuhan ember semen, bata, atau alat kerja ; palu, cetok. (fisika)
        1.1.3. Perancah / andang ambruk (fisika)
        1.1.4. Adanya debu yang berada di area kerja (kimia)
        1.1.5. Pakaian kerja yang tidak nyaman karena keringat (biologi)
        1.1.6. Adanya binatang berbisa seperti kalajengking, kelabang pada bongkahan material (biologi)
        1.1.7. Pekerja mengalami fatique dan mungkin stress akibat dehidrasi dikarenakan lingkungan kerja yang panas serta target penyelesaian pekerjaan harus sesuai tepat waktu. (psikososial)

        1.2. Pengendalian potensi bahaya
        1.2.1. membuat perancah dengan struktur yang kuat.
        Foto menunjukkan penggunaan perancah yang terbuat dari besi (frame scaffold) system knock down maka mitigasinya adalah dengan menutup penuh seluruh permukaan yang menjadi landasan pijakan dengan papan perancah yang sesuai.
        1.2.2. Menutup seluruh permukaan perancah dengan papan perancah. Tidak boleh ada pijakan yang berlubang atau terdapat sela sela papan perancah yang memungkinkan kaki terperosok ataupun tergelincir. Jika seluruh permukaan perancah tertutup, maka pijakan menjadi luas sehingga maneuver tukang lebih leluasa , lebih aman dan nyaman.
        1.2.3. Komunikasi antara tukang dan pembantu tukang harus terhubung dengan baik, hal ini untuk menghindari material yang berlebihan karena pembantu tukang terus memasok bata merah, adukan semen dan lain lain ke papan perancah. Jika area tukang sempit maka kemungkinan benda jatuh ataupun tertendang tukang menjadi lebih tinggi. Idealnya pasangan tukang dan pembantu tukang adalah orang orang yang mempunyai kecocokan dan sudah terbentuk team work sehingga komunikasi yang terjalin sudah baik dan saling mengerti.
        1.2.4. Seluruh pekerja menggunakan Alat Pelindung Diri Standar. Minimal menggunakan safety helmet untuk mengurangi keparahan saat kejatuhan benda, dan sepatu safety.
        1.2.5. Membuat stopper / dinding papan setinggi 10 – 15 cm di pinggir papan perancah.
        1.2.6. Bersihkan lantai kerja dari bekas material sehingga perancah dapat didirikan tegak lurus sempurna terhadap permukaan tanah. Pastikan seluruh sambungan dan kaitan pada perancah terhubung dengan sempurna. Jangan menggunakan perancah yang penyok, berkarat dan bengkok karena dapat mempengaruhi kerataan perancah (level) setelah didirikan.
        1.2.7. Melengkapi seluruh pekerja tanpa terkecuali dengan masker anti debu. Jika tempat kerja tidak terlalu luas , contoh seperti pada foto, maka dapat dilakukan penyiraman terhadap lingkungan sebelum pekerjaan dimulai atau pada saat pekerjaan berlangsung supaya debu tidak beterbangan.
        1.2.8. Masing masing tukang harus menjaga kebersihan pakaian kerja.
        1.2.9. Membersihkan lantai kerja sebelum pekerjaan dimulai.
        1.2.10. Menyediakan minimal minuman / air putih untuk pekerja sehingga dehidrasi dapat dicegah.
        1.2.11. Menambah jumlah tukang dan pembantu tukang yang kompeten.

        2. Pekerjaan pemasangan bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian lebih dari 3,00 meter dari permukaan tanah.

        2.1. Analisa potensi bahaya
        2.1.1. Pekerja terjatuh dari perancah atau andang (fisika)
        2.1.2. Pekerja kejatuhan benda (fisika)
        2.1.3. Perancah / andang ambruk (fisika)
        2.1.4. Terdapat banyak sekali debu di area lokasi proyek (kimia)
        2.1.5. Pakaian kerja yang tidak nyaman karena keringat. (biologi)
        2.1.6. Pekerja mengalami fatique dan mungkin stress akibat dehidrasi dikarenakan lingkungan kerja yang panas serta target penyelesaian pekerjaan harus sesuai tepat waktu. (psikososial)

        2.2. Pengendalian potensi bahaya
        2.2.1. Membuat planning dan perhitungan perancah dengan cermat. Mulai dari pemilihan bahan perancah, model perancah, gambar perancah, titik titik pengikat ke gedung.
        2.2.2. Pemasangan perancah dilakukan oleh orang / tukang yang sudah kompeten.
        2.2.3. Melakukan inspeksi perancah sebelum digunakan untuk bekerja.
        Papan perancah yang digunakan dapat menutup semua permukaan pijakan.
        2.2.4. Terdapat stopper benda jatuh di pinggir pinggir papan.
        2.2.5. Pemeriksaan papan perancah sebelum dipasang. Papan yang lapuk, retak , pecah, terlalu banyak lubang paku, tidak boleh digunakan.
        2.2.6. Training untuk setiap orang yang berada di lokasi proyek gedung, harus mendapatkan training, safety talk, meeting mandor supaya ada awareness atau munculnya kesadaran pribadi dari masing masing pekerja bahwa saya berada di lokasi yang beresiko tinggi terhadap kecelakaan.
        2.2.7. Untuk setiap pekerja yang harus menggunakan perancah, maka wajib ditraining tentang cara bekerja aman di ketinggian (working at height).
        2.2.8. Pengawasan dari implementasi bekerja aman secara berkelanjutan. Pengawasan cara bekerja aman ( implementation on safe work practice ) harus dilakukan untuk mengawal setiap proses dan tahapan pekerjaan proyek
        2.2.9. Seluruh pekerja diwajibkan menggunakan Alat Pelindung Diri Standar. Minimal menggunakan safety helmet untuk mengurangi keparahan saat kejatuhan benda, dan sepatu safety.
        2.2.10. Membuat stopper / dinding papan setinggi 10 – 15 cm di pinggir papan perancah.
        2.2.11. Memasang safey net ( jaring pengaman di sekeliling perancah).
        2.2.12. Memasang barikade pada tempat tempat yang kritikal. Akses ke tempat yang kritikal tersebut harus orang yang mempunyai otoritas khusus.
        2.2.13. Membuat jalur lalu lintas kendaraan di lokasi proyek.
        2.2.14. Pada proyek gedung tinggi alat berat dan truck sering keluar masuk ke dalam lokasi. Maka jalur lalu lintas di dalam lokasi proyek harus dibuat. Minimal untuk mencegah alat berat atau truk menyenggol struktur perancah yang dapat menyebabkan perancah ambruk.
        2.2.15. Membatasi kendaraan yang keluar masuk proyek, hanya kendaraan yang mempunyai kepentingan saja yang boleh masuk kedalam proyek.
        2.2.16. Melakukan pemeriksaan / inspeksi perancah secara berkala berkala untuk memastikan struktur perancah masih aman untuk digunakan.
        2.2.17. Melengkapi seluruh pekerja tanpa terkecuali dengan masker anti debu.
        2.2.18. Tukang diwajibkan untuk menjaga kebersihan pakaian.
        2.2.19. Menyediakan minimal minuman / air putih untuk pekerja sehingga dehidrasi dapat dicegah.

        Nama : Muhammad Taufiq
        Kelas : B2
        Semester : V
        NIM : 13.11.106.701501.0915

  8. #Tugas3 Keselamatan Konstruksi
    1. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.
    2. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah.
    Berdasarkan ketentuan yang tercantum, maka analisis potensi bahaya dan pengendalian potensi bahaya adalah sebagai berikut
    a. Analisis Potensi Bahaya
    – Bahaya Fisika
    Bahaya Fisika adalah bahaya yang bersumber dari hukum – hukum/gejala – gejala fisika seperti gravitasi dan radiasi.
    Pada kasus ini terdapat bahaya fisika (gravitasi) karena pekerja bekerja di ketinggian. Terdapat juga bahaya fisika lainnya (radiasi) karena pekerja berkerja di area terbuka yang terkena paparan sinar matahari secara langsung.
    – Bahaya Kimia
    Bahaya Kimia adalah bahaya yang bersumber dari sifat – sifat bahan kimia dan interaksinya.
    Pada kasus ini terdapat bahaya kimia yang terdapat pada debu semen (cement dust) merupakan partikel yang sangat kecil dan halus, dan dapat menimbulkan gangguan kesehatan di paru – paru khususnya, seperti penyakit paru obstruktif kronis dan peradangan paru.
    – Bahaya Biologi
    Bahaya Biologi adalah bahaya yang bersumber dari makhluk hidup.
    Pada kasus ini terdapat bahaya biologi yaitu jamur/fungi yang terdapat pada pakaian pekerja yang menimbukan penyakit kulit dan membuat pekerja dalam keadaan tidak nyaman saat melakukan pekerjaan.
    – Bahaya Psikologi adalah bahaya yang berasal atau ditimbulkan oleh kondisi aspek – aspek psikologis.
    pada kasus ini terdapat bahaya psikologi yaitu beban kerja yang yang dimiliki pekerja yang harus menyelesaikan pekerjaan dengan batas waktu yg telah ditentukan.
    b. Pengendalian Potensi Bahaya
    – Memberikan Alat Pelindung Diri (APD) berupa full body harness, safety helmet, safety shoes, sarung tangan, safety glasses, dan masker kepada setiap pekerja.
    – Memberikan Training kepada pekerja bertujuan agar setiap pekerja mengerti dan memahami pekerjaan yang akan di kerjakan sebelum melakukan pekerjaan tersebut.
    – Membuat canopy sementara bagi para pekerja guna meminimalisir dampak paparan radiasi ke pekerja.
    – Menyediakan pakaian kerja bagi pekerja dan mengganti setiap harinya. Bertujuan agar menghilangkan bahaya biologi yaitu jamur/fungi pada pakaian pekerja.
    NIM : 13.11.106.701501.0920
    semester : V (lima)
    kelas : B2

    • Jangan dicampuraduk antara jenis pekerjaan (1) dengan jenis pekerjaan (2). Disarankan melakukan analisis secara sistemik sesuai contoh dibawah ini.

      1. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.
      1.1. Analisis potensi bahaya
      1.1.1.
      1.1.2.
      1.1.3.
      dst.

      1.2. Pengendalian potensi bahaya
      1.2.1.
      1.2.2.
      1.2.3.
      dst.

      2. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah.
      2.1. Analisis potensi bahaya
      2.1.1.
      2.1.2.
      2.1.3.
      dst.

      2.2. Pengendalian potensi bahaya
      2.2.1.
      2.2.2.
      2.2.3.
      dst.

      Klik “Reply” dibawah ini untuk memperbaiki tugas anda kembali.

  9. 1,.Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.

    1.1 Analisis potensi bahaya

    a) Bahaya Fisika
    – Grafitasi :
    *Bekerja di ketinggian 3,00 meter.
    * Batu bata yang dipasang dengan ketinggian 3,00 meter
    – Radiasi :
    * Paparan sinar matahari.
    – Suhu :
    * Suhu yang tinggi saat bekerja di siang hari.
    – gelombang suara :
    *kebisingan dari putaran suara mesin molen

    b) Bahaya Kimia
    – Debu : Debu yang berasal dari bahan material seperti(batu bata merah,pasir dan semen)

    c) Bahaya Biologi
    – Bakteri : Bakteri yang menempel pada pakaian pekerja dan di lingkungan kerja.

    d) Bahaya Mekanik
    – Katrol : Katrol yang digunakan untuk pengangkutan batu bata merah dari bawah ke ketinggian 3 meter.
    -Putaran mesin molen

    e) Bahaya Psikososial
    – Kelelahan fisik pekerja saat bekerja.
    – Tindakan menang sendiri kepada pekerja.
    – kurangnya keterampilan dan pengetahuan pada pekerja,saat melakukan pekerjaan

    f) Bahaya Lingkungan
    – Permukaan tanah yang tidak rata,yang digunakan untuk menempatkan peranca.

    1.2 Pengendalian potensi bahaya
    a) Pemasangan papan peranca sebagai pijakan.

    b) Pemasangan handrail pada peranca.

    c) Pengecekan peranca secara rutin apakah sudah terpasang dengan baik,dan clam pengunci tidah ada yang rusak.

    d)Menempatkan peranca pada permukaan tanah yang keras dan rata,agar dapat menahan beban di atas peranca.

    e)Mengganti seragam pekerja dengan yang bersih.

    f)Menggunakan alat bantu katrol untuk mengangkat batu bata merah dan bahan semen.

    g)Menggunakan PPE(safety boat,masker,helm dan sarung tangan)

    2. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah.

    2.1 Analisis Potensi bahaya
    a) Bahaya Fisika
    – Grafitasi :
    *Bekerja di ketinggian lebih dari 3,00 meter.
    * Batu bata yang dipasang dengan ketinggian lebih 3,00 meter
    – Radiasi :
    * Paparan sinar matahari.
    – Suhu :
    * Suhu yang tinggi saat bekerja di siang hari.
    – gelombang suara :
    *kebisingan dari putaran suara mesin molen

    b) Bahaya Kimia
    – Debu : Debu yang berasal dari bahan material seperti(batu bata merah,pasir dan semen)

    c) Bahaya Biologi
    – Bakteri : Bakteri yang menempel pada pakaian pekerja dan di lingkungan kerja.

    d) Bahaya Mekanik
    – Katrol : Katrol yang digunakan untuk pengangkutan batu bata merah dari bawah ke ketinggian 3 meter.
    -Putaran mesin molen

    e) Bahaya Psikososial
    – Kelelahan fisik pekerja saat bekerja.
    – Tindakan menang sendiri kepada pekerja.
    – kurangnya keterampilan dan pengetahuan pada pekerja,saat melakukan pekerjaan

    f) Bahaya Lingkungan
    – Permukaan tanah yang tidak rata,yang digunakan untuk menempatkan peranca.

    2.2 Pengendalian potensi bahaya

    a) Pemasangan papan peranca sebagai pijakan.

    b) Pemasangan handrail pada peranca.

    c) Pengecekan peranca secara rutin apakah sudah terpasang dengan baik,dan clam pengunci tidah ada yang rusak.

    d)Menempatkan peranca pada permukaan tanah yang keras dan rata,agar dapat menahan beban di atas peranca.

    e)Mengganti seragam pekerja dengan yang bersih.

    f)Menggunakan alat bantu katrol untuk mengangkat batu bata merah dan bahan semen.

    g)membuat jaring penahan di sekitar gedung,yang berfungsi sebagai penahan bila ada material atau pekerja yang jatuh.

    h)Memberi tanda bila di area tersebut sedang ada kegiatan pembangunan.

    i)membuat akses jalan,untuk mobil pengangkat bahan material atau mobil crane,sehingga tidak langsung menjadi satu dengan pekerja.dan mengurangi bersenggolan antara mobil dangan peranca

    j)Membuat JSA dan SOP setiap tahap pengerjaan.

    k) Mengatur shift kerja yang sesuai dengan banyaknya pekerja.

    l)Memberikan pelatihan kepada para pekerja,agar mengetahui bahaya dan resiko yang di timbulkan.

    m)Melakukan safety briefing setiap akan memulai pekerjaan.

    n) Menggunakan PPE(safety boat,masker,helm,kaca mata safety dan sarung tangan)

    o)Menggunakan body harness,bila berada di ketinggian.

    Nama: Rachmadanny M Merapi
    Kls : B2 /semester 5
    Npm : 13.11.106.701501.0884

  10. 1. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah

    (a). analisis potensi bahaya
    – adanya potensi bahaya gravitasi  yang berpotensi jatuhnya pekerja langsung ke permukaan tanah
    – Tidak ratanya permukaan tanah ( miring)
    – Banyaknya material yang berhamburan di atas tanah yang memiliki potensi pekerja dapat tersandung, terpeleset, cidera
    – adanya bata yang ditaruh di atas scaff holding yang berpotensi dapat terjatuh dan mencederai pekerja yang ada dibawahnya
    – cuaca panas saat melakukan pekerjaan,, yang berpotensi mengurangi focus, konsentrasi dan dapat menyebabkan dehidrasi pada pekerja
    – adanya partikel debu yang beterbangan yang dapat menggangu kesehatan pekerja
    – Adanya kemungkinan pekerja tidak mengganti pakaian pekerjaan, yang memiliki potensi terserang jamur, virus dan bakteri yang dapat mengganggu kesehatan
    – adanya kemungkinan bahwa para pekerja dalam kedaan fatique yang dapat menghilangkan focus dan konsentrasi
    – adanya kemungkinan pekerja dalam keadaan strees karena beban kerja dan pekerjaan harus segera selesai
    – masih tidak kuatnya bata merah karena masih dalam tahap pemasangan
     
    (b). Pengendalian potensi bahaya
    – Pemasangan scaff holding yang sesuai standar
    – Pemasangan pagar scaff holding yang dapat mengurangi potensi jatuhnya pekerja dari atas scaff holding
    –  menyingkirkan material yang tidak perlu dari atas tanah, untuk menghindari terjadinya resiko pekerja tersandung dan cidera karena material yang berhamburan
    – Tidak menaruh bata di atas scaff holding jika tidak ada pagar pengaman untuk menghindari terjadinya cidera pada pekerja yang ada dibawahnya
    – dapat dipasang tenda diatas tempat pemasangan bata untuk mengurangi paparan langsung dari sinar matahari
    – Penggunaan masker untuk menghindari terhirupnya partikel debu secara berlebihan
    -Pemberian baju seragam kerja agar pekerja dapat mengganti baju setiap bekerja
    – Pemberian hari libur di weekend kepada pekerja untuk mengurangi fatigue dan strees akibat beban kerja
    – pembangunan bata merah tidak melebihan tinggi 1 meter / hari untuk menghindari robohnya dinding bata merah yang baru di pasang

    2. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk pembangunan gedung bertingkat dengan ketinggian lebih dari 3,00 meter dari permukaan tanah

    (a). analisis potensi bahaya
    – adanya potensi bahaya gravitasi  yang berpotensi jatuhnya pekerja langsung ke permukaan tanah
    – Tidak ratanya permukaan tanah ( miring)
    – Banyaknya material yang berhamburan di atas tanah yang memiliki potensi pekerja dapat tersandung, terpeleset, cidera
    – adanya bata yang ditaruh di atas scaff holding yang berpotensi dapat terjatuh dan mencederai pekerja yang ada dibawahnya
    – cuaca panas saat melakukan pekerjaan,, yang berpotensi mengurangi focus, konsentrasi dan dapat menyebabkan dehidrasi pada pekerja
    – adanya partikel debu yang beterbangan yang dapat menggangu kesehatan pekerja
    – Adanya kemungkinan pekerja tidak mengganti pakaian pekerjaan, yang memiliki potensi terserang jamur, virus dan bakteri yang dapat mengganggu kesehatan
    – adanya kemungkinan bahwa para pekerja dalam kedaan fatique yang dapat menghilangkan focus dan konsentrasi
    – adanya kemungkinan pekerja dalam keadaan strees karena beban kerja dan ppekerjaan harus segera selesai
    – adanya kemungkinan penggunaan alat crane
    – adanya kemungkinan mobilisasi peralatan dan material di sekitar area pemasangan bata dan bangunan scaff holding
    – masih tidak kuatnya bata merah karena masih dalam tahap pemasangan

    (b). Pengendalian potensi bahaya
    – Pemasangan scaff holding yang sesuai standar
    – adanya pemasangan jaring-jaring di scaff holding
    – pemasangan alas untuk tempat berjalan di atas scaff holding
    – Pemasangan pagar scaff holding yang dapat mengurangi potensi jatuhnya pekerja dari atas scaff holding
    – membuat lalu lintas khusus untuk mobilisasi peralatan dan material agar tidak membahayakan bangunan scaff holding
    – jika ada penggunaan crane di area pembangunan gedung, ada baiknya jarak crane dan bangunan scaff holding tidak berdekatan
    – pembangunan bata merah tidak melebihan tinggi 1 meter / hari untuk menghindari robohnya dinding bata merah yang baru di pasang
    –  menyingkirkan material yang tidak perlu dari atas tanah, untuk menghindari terjadinya resiko pekerja tersandung dan cidera karena material yang berhamburan
    – Tidak menaruh bata di atas scaff holding jika tidak ada pagar pengaman untuk menghindari terjadinya cidera pada pekerja yang ada dibawahnya
    – dapat dipasang tenda diatas tempat pemasangan bata untuk mengurangi paparan langsung dari sinar matahari
    – Penggunaan masker untuk menghindari terhirupnya partikel debu secara berlebihan
    -Pemberian baju seragam kerja agar pekerja dapat mengganti baju setiap bekerja
    – Pemberian hari libur di weekend kepada pekerja untuk mengurangi fatigue dan strees akibat beban kerja

    Nama : Muhammad Irvan
    Kelas : B2
    Npm : 13.11.106.701501.0886
    Semester : V

  11. 1. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.

    a. Analisis potensi bahaya;
    1. Bahaya Fisika : Suhu, Gravitasi, Pergerakan scaffolding, Ketinggian, Konstruksi Batu Bata
    2. Bahaya Kimia : Bahan dan material yang beracun, Debu, iritasi.
    3. Bahaya Biologis : Bakteri, Binatang.
    4. Bahaya Psikososial : Kelelahan, Stress.
    5. Bahaya Lingkungan : Kondisi area kerja, Hujan.
    6. Bahaya Biomekanik : Postur/Posisi Kerja

    b. Pengendalian Potensi Bahaya
    1. Bahaya Fisika
     Kondisi suhu yang panas di lapangan sehingga mempengaruhi stamina atau energi pekerja oleh karena itu diperlukan pembagian beban kerja dan waktu istirahat dengan benar.
     Untuk mencegah pekerja terjatuh scaffolding harus di lengkapi dengan handrail dan midrail.
     Tinggi pasangan batu bata yang dikerjakan maksimum 1 meter agar tidak roboh.
     Menyusun pijakan untuk pekerja agar tidak terdapat cela atau lubang yang bisa menimbulkan pekerja dan material terjatuh. Sehingga tidak mengenai pekerja yang berada dibawah.
     memasang konstruksi scaffolding dengan kokoh dan memperhatikan struktur permukaan tanah.
     Wajib menggunakan body harness bila bekerja diketinggian lebih dari 1,8 meter.
     Melengkapi pekerja dengan alat pelindung diri yang standar seperti Safety Helmet, Safety Shoes, Safety Glasses, Safety Gloves, Masker, Body Harness.

    2. Bahaya Kimia
     Menggunakan masker untuk menghindari terhirupnya debu.
     Menggunakan sarung tangan untuk mencegah iritasi.
     Mengetahui bahaya dari bahan dan material yang digunakan, serta mengetahui cara penanganannya.

    3. Bahaya Biologis
     Untuk mencegah dari gangguan binatang yang masuk ke area kerja diperlukan seorang pengawas untuk memperhatikan area kerja.
     Pakaian pekerja yang dipakai penuh dengan keringat terdapat bakteri yang dapat menimbulkan penyakit kulit. Sehingga perlunya menyediakan pakaian khusus untuk pekerja.
     Bakteri juga bisa berasal dari makanan, sehingga perlu diperhatikan makanan untuk pekerja.

    4. Bahaya Psikososial
     Diperlukan untuk mengatur jam kerja dengan waktu istirahat pekerja sehingga pekerja tidak kelelahan.
     Memberikan motivasi ke pekerja dan membagi porsi perkerjaan sehingga pekerja tidak merasa ditekan dan tidak gampang stress.

    5. Bahaya Lingkungan
     Material batu bata dan peralatan yang berserakan di sekitar area kerja bisa menimbulkan pekerja terjatuh. Oleh karena itu diperlukan pemindahan material dan peralatan yang tidak digunakan ketempat yang lebih aman dan menyusun material dengan rapi sehingga pada saat aktivitas bekerja tidak terganggu.
     Apabila cuaca hujan pekerjaan wajib dihentikan.

    6. Bahaya Biomekanik
     Posisi kerja yang kurang ergonomis dapat menimbulkan cidera kepada pekerja. Contohnya pekerja tidak jongkok terlalu lama saat pemasangan batu bata, pergerakan berulang, posisi pengangkatan material dengan manual. Sehingga diperlukan pengarahan terlebih dahulu tentang posisi kerja yang aman dan membuat SOP pemasangan konstruksi batu bata.

    2. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah.

    a. Analisis potensi bahaya;
    1. Bahaya Fisika : Suhu, Gravitasi, Pergerakan scaffolding, Ketinggian. Konstruksi Batu Bata.
    2. Bahaya Kimia : Bahan dan material yang beracun, Debu, iritasi.
    3. Bahaya Biologis : Bakteri, Binatang.
    4. Bahaya Psikososial : Kelelahan, Stress.
    5. Bahaya Lingkungan : Kemiringan tanah.
    6. Bahaya Biomekanik : Postur/Posisi Kerja.

    b. Pengendalian Potensi Bahaya
    1. Bahaya Fisika
     Kondisi suhu yang panas di lapangan sehingga mempengaruhi stamina atau energi pekerja oleh karena itu diperlukan pembagian beban kerja dan waktu istirahat dengan benar.
     Tinggi pasangan batu bata yang dikerjakan maksimum 1 meter agar tidak roboh
     Untuk mencegah pekerja terjatuh scaffolding harus di lengkapi dengan handrail dan midrail sehingga meminimalisir potensi pekerja terjatuh.
     Menyusun pijakan untuk pekerja agar tidak terdapat cela atau lubang yang bisa menimbulkan pekerja dan material terjatuh. Sehingga tidak mengenai pekerja yang berada dibawah.
     Membatasi beban material atau batu bata yang ditaruh discaffolding sehingga tidak kelebihan beban yang dapat menimbulkan pijakan ambruk dan tidak menggangu pergerakan pekerja.
     memasang konstruksi scaffolding dengan kokoh dan memperhatikan struktur permukaan tanah.
     Walaupun scaffolding telah dilengkapi handrail dan midrail, potensi terjatuhnya pekerja masih ada sehingga diwajibkan menggunakan body harness bila bekerja diketinggian lebih dari 1,8 meter.
     Melengkapi pekerja dengan alat pelindung diri yang standar seperti Safety Helmet, Safety Shoes, Safety Glasses, Safety Gloves, Masker, Body Harness.
     Menggunakan perancah/steger yang cukup kokoh untuk pemasangan batu bata yang lebih tinggi.
     Untuk gedung bertingkat disarankan menggunakan bata ringan, sehingga akan jauh mengurangi beban konstruksi pada bangunan bertingkat.

    2. Bahaya Kimia
     Menggunakan masker untuk menghindari terhirupnya debu.
     Menggunakan sarung tangan untuk mencegah iritasi.
     Mengetahui bahaya dari bahan dan material yang digunakan, serta mengetahui cara penanganannya.

    3. Bahaya Biologis
     Untuk mencegah dari gangguan binatang yang masuk ke area kerja diperlukan seorang pengawas untuk memperhatikan area kerja. Contohnya Serangga, nyamuk, tawon sehingga diperlukan pembasmian.
     Pakaian pekerja yang dipakai penuh dengan keringat terdapat bakteri yang dapat menimbulkan penyakit kulit.
     Bakteri juga bisa berasal dari makanan, sehingga perlu diperhatikan makanan untuk pekerja.

    4. Bahaya Psikososial
     Diperlukan untuk mengatur jam kerja dengan waktu istirahat pekerja sehingga pekerja tidak kelelahan.
     Memberikan motivasi ke pekerja dan membagi porsi pekerjaan sehingga pekerja tidak merasa ditekan dan tidak gampang stress.

    5. Bahaya Lingkungan
     Material batu bata dan peralatan yang berserakan di sekitar area kerja bisa menimbulkan pekerja terjatuh. Oleh karena itu diperlukan pemindahan material dan peralatan yang tidak digunakan ketempat yang lebih aman dan menyusun material dengan rapi sehingga pada saat aktivitas bekerja tidak terganggu.
     Apabila cuaca hujan pekerjaan wajib dihentikan.

    6. Bahaya Biomekanik
     Posisi kerja yang kurang ergonomis dapat menimbulkan cidera kepada pekerja. Contohnya pekerja tidak jongkok terlalu lama saat pemasangan batu bata, pergerakan berulang, posisi pengangkatan material dengan manual. Sehingga diperlukan pengarahan terlebih dahulu tentang posisi kerja yang aman dan membuat SOP pemasangan konstruksi batu bata.

    Nama : Imam Arifin
    kelas : B2
    Semester :5
    NIM : 13.11.106.701501.0892

  12. Tugas 3
    Potensi bahaya dan pengedaliannya
    1. Pekerjaan pemasangan bata merah untuk perumahan dengan ketinggian 3 meter dari permukaan tanah
    – Potensi Bahaya
    a. Bahaya fisika
    Gravitasi : helper tukang kejatuhan bata, alat ( cetok dll)
    Andang ambruk
    b. Bahaya kimia
    Melihat dari gambar diatas potensi bahaya yang ditimbulkan adalah debu dari bata dan semen
    c. Bahaya Biologi
    Keringat dan bau badan.
    d. Bahaya psikososial
    Pekerja yang yang mengalami fatigue ,stress akibat dehidrasi.
    – Pengendelaiannya
    a. Merangkai scaffolding dengan susunan struktur yang kuat, dengan memberikan penutup dipijakan pekerja berdiri dan tidak ada lubang atau celah pada pijakan andang. Sehingga pekerja tidak terperosok jatuh.dan menjadikan pekerja lebih aman dalam melakukan pekerjaanya.
    b. Tukang dan helper tukang harus menjalin komunikasi, sehingga pekerjaa dapat di control dan dikoordinasikan dengan baik,urutan langkah pekerjaan sehingga menghindari material yang berlebihan di atas scaffolding, yang membuat pergerakan kerja sempit. Pemberian APD dan mewajibkan seluruh pekerja untuk menggunakan APD seperti Helmt, sepatu safety. Sehingga resiko kejatuhan benda dapat di minimalisir.
    c. Pemeriksaan sambungan scaffolding apakah sudah terpasang kuat jangan menggunakan scaffolding yang sudah berkarat dan tdak layak pakai.
    d. Pemberian masker anti debu , penyiraman aera kerja sebelum pekerjaan dimulai sehingga mengurangi debu yang timbul.
    e. Memberi arahan atau isntruksi kepada pekerja untuk mengganti pakaian kerja mereka , untuk yang berseragam diusahakan pemberian baju 2 potong baju seragam . sehingga dapat dipakai bergantian dan para pekerja lebih nyaman.
    f. Penyediaan air minum yang cukup, jam kerja yang diatur( waktu istirahat) sehingga pekerja tidak kelelahan dan dapat memiliki waktu istirahat yang cukup.
    2. Pekerja pemasangan bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian lebih dari 3 meter dari permukaan tanah.
    – Potensi Bahaya
    a. Bahya fisika
    Pada konstruksi gedung tinggi, jika batu bata terjatuh maka keparahan yang dakibatkan bisa lebih parah dari soal nomor 1
    b. Bahaya gravitasi
    Pekerja terjatuh dari scaffolding
    Pekerja kejatuhan benda ( material dan alat pekerjaan )
    c. Bahaya kimia
    Adanya debu
    _ -bahaya biologi
    Keringat dan bau badan
    d. Bahaya psikososial
    Pekerja yang yang mengalami fatigue ,stress akibat dehidrasi
    – Pengendaliannya
    a. Scaffolding harus dirangkai dengan tepat dan bener sesuai standard SOP yang berlaku , untuk bangunan gedung bertingkat harus disusun sedemikian rupa. Supaya pekerja merasa aman dibuat perhitungan terlebih dahulu dimulai dari pemelihan material .. pemasangan harus dilakukan oleh orang yang ahli. Tidak ada sela ada lobang dalam pijakan scaffolding dengan diberi penutup .
    b. Pemberian kondisi papan scaffolding sebelum dipasang . jangan ada lubang ataupun retakan.
    c. Setiap pekerja yang bekerja harus mendapatkan pembekalan safety training , safety talk dan selalu diawasi
    d. Pemberian APD seperti masker debu, helmt, sepatu safety dan body harness pada pekerjaan di ketinggian 1.8 meter di atas permukaan tanah.
    e. Membuat papan perlindungan disekitar scaffolding dan memasang barikade serta memasang rambu-rambu peringantan seperti” yang tidak berkepentigan dilarang masuk”sehingga memperlancar kegiatan kerja .agar dapat mengurangi resiko oaring yang tertimpa jatuhan.
    f. Membuat jalur lalu lintas khusus kendaraan keluar masuk yang menganggkut material. Sehngga tidak mengganggu aktifitas orang-orang disekitar.
    g. Memberi arahan atau isntruksi kepada pekerja untuk mengganti pakaian kerja mereka , untuk yang berseragam diusahakan pemberian baju 2 potong baju seragam . sehingga dapat dipakai bergantian dan para pekerja lebih nyaman.
    h. Penyediaan air minum yang cukup, jam kerja yang diatur( waktu istirahat) sehingga pekerja tidak kelelahan dan dapat memiliki waktu istirahat yang cukup sehingga dehidrasi dapat dihindari .
    Nama : Siti Rohana
    Kelas : B2
    Semester : V
    NPM : 13.11.106.701501.0918

    • Jangan dicampur aduk antara analisis potensi bahaya dengan analisis pengendalian bahaya. Lakukan secara sistematis seperti contoh dibawah ini.

      1. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.
      1.1. Analisis potensi bahaya
      1.1.1.
      1.1.2.
      1.1.3.
      dst.

      1.2. Pengendalian potensi bahaya
      1.2.1.
      1.2.2.
      1.2.3.
      dst.

      2. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah.
      2.1. Analisis potensi bahaya
      2.1.1.
      2.1.2.
      2.1.3.
      dst.

      2.2. Pengendalian potensi bahaya
      2.2.1.
      2.2.2.
      2.2.3.
      dst.

      Klik “Reply” dibawah ini untuk memperbaiki tugas anda kembali.

  13. Menurut yang saya dapat ialah :
    a. 1.1 analisa potensi bahaya dengan ketinggian 3;00 meter :
    Bahaya fisika :Gravitasi, bekerja hingga di ketinggian 3;00 meter untuk memasang batu bata merah.
    Radiasi, suhu yang panas, karena terpapar dari sinar matahari.
    Bahaya kimia :Debu, karena terpapar dari batu bata yang dipasang.
    Bahaya biologi :Baju, karena keringat yang dihasilkan menjadi bakteri ketubuh.
    Bahaya psikososial : Fatigue, karena pekerjaan tersebut membutuhkan tenaga yang extra.
    Stress, karena bekerja di area yang lingkungannya tidak bersih.
    Bahaya lingkungan : kemiringan tanah, banyak bebatuan di pondasi skaffolding.
    1.2 pengendalian potensi bahaya ketinggian sampai 3;00 meter:
    – memakai papan dan tiang yang lebih kokoh untuk skaffolding yang dipakai pekerja berpijak.
    – inspeksi/pengecekan scaffolding secara rutin agar bahaya dapat diminimalisir.
    – meletakan scaffiolding ditempat yang rata dan padat agar tidak bergoyang dan mampu menahan beban berat sipekerja.
    – memberikan tempat istirahat sipekerja yang terhindar dari paparan sinar matahari.
    – memberikan si pekerja pakaian yang bersih yang digunakan pada saat bekerja.
    – membuat JSA untuk sipekerja agar mengetahui alur dan tahapan pada saat bekerja.
    – selalu mengadakan safety talk sebelum melakukan pekerjaan.
    – menyarankan agar selalu meggunakan APD seperti masker, safety helmet, safety shoes, safety glasse, dan sarung tangan.
    b. 2.1 analisa potensi bahaya dengan ketinggian diatas 3;00 meter :
    Bahaya fisika :Gravitasi, bekerjahingga di ketinggian 3;00 meter untuk memasang batu bata merah.
    Radiasi, suhu yang panas, karena terpapar dari sinar matahari.
    Bahaya kimia :Debu, karena terpapar dari batu bata yang dipasang.
    Bahaya biologi :Baju, karena keringat yang dihasilkan menjadi bakteri ketubuh.
    Bahaya psikososial : Fatigue, karena pekerjaan tersebut membutuhkan tenaga yang extra. Stress, karena bekerja di area yang lingkungannya tidak bersih.
    Bahaya lingkungan : kemiringan tanah, banyak bebatuan di pondasi scaffolding.
    2.2 analisa pengendalian bahaya dengan ketinggian diatas 3;00 meter :
    – memakai papan dan tiang yang lebih kokoh untuk skaffolding yang dipakai pekerja berpijak.
    – inspeksi/pengecekan scaffolding secara rutin agar bahaya dapat diminimalisir.
    – meletakan scaffiolding ditempat yang rata dan padat agar tidak bergoyang dan mampu menahan beban berat sipekerja.
    – memberikan tempat istirahat sipekerja yang terhindar dari paparan sinar matahari.
    – memberikan pelatihan sipekerja bagaimana cara bekerja ditempat ketinggian dengan benar.
    – memberikan si pekerja pakaian yang bersih yang digunakan pada saat bekerja.
    – membuat JSA untuk sipekerja agar mengetahui alur dan tahapan pada saat bekerja.
    – selalu mengadakan safety talk sebelum melakukan pekerjaan.
    – menyarankan agar selalu meggunakan APD seperti masker, safety helmet, safety shoes, safety glasse, dan sarung tangan.
    NAMA : RIZKY SEPTIAN
    NIM : 13.11.106.701501.0897
    SEMESTER : V (LIMA)
    KELAS : B2

    • Lakukan analisis Anda secara sistematis seperti contoh dibawah ini. Termasuk sistem penomorannya agar lebih mudah diidentifikasi.

      1. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.
      1.1. Analisis potensi bahaya
      1.1.1.
      1.1.2.
      1.1.3.
      dst.

      1.2. Pengendalian potensi bahaya
      1.2.1.
      1.2.2.
      1.2.3.
      dst.

      2. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah.
      2.1. Analisis potensi bahaya
      2.1.1.
      2.1.2.
      2.1.3.
      dst.

      2.2. Pengendalian potensi bahaya
      2.2.1.
      2.2.2.
      2.2.3.
      dst.

      Klik “Reply” dibawah ini untuk memperbaiki tugas anda kembali.

  14. 1. Pekerjaan pemasangan bata-bata merah untuk perumahan dengan ketinggian sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.

    A. Analisa potensi bahaya

    – Jatuh dari ketinggian karena mengunakan alat bantu berkerja di ketinggian yang tidak sesuai dan tidak standar
    – Postur kerja yang tidak sesuai dan tidak alami
    – Debu yang dihasilkan dari material bangunan yang digunakan yaitu bata-bata merah dan semen
    – kondisi cuaca yang panas sehingga dapat menurunkan tingkat efektifitas para pekerja
    – Keadan landasan scaffolding yang kurang sehingga dapat menyebabkan kestabilan scaffolding terganggu
    – Perlengkapan APD saat bekerja seperti Masker, sarung tangan, masih kurang perhatian.
    – Jam kerja yang melebihi jam kerja normal karena mengejar target untuk menyelesaikan pekerjaan tepat waktu
    – Tertimpa material yang berasal dari area atas seperti bata -bata merah dan kayu Bagi pekerja yang berada dibawah sekitar scaffolding

    B. Pengendalian potensi bahaya

    – Membersihkan tempat pijakan kaki atau tumpuan scaffolding dari material -material yang berserakan yang dapat menganggu kesetabilan tumpuan scaffolding
    – Postur tubuh yang sesuai dan alami saat bekerja saperti tidak terlalu lama membungkuk dan tidak dalam posisi jongkok terlalu lama dalam bekerja
    – Mengatur jam kerja tidak lebih dari 8 jam per hari agar pekerja tidak kelelahan dan kurang fokus akibat jam kerja yang tidak normal
    – Merapikan tumpukan bata-bata merah dan kayu yang berserakan yang berada diarea atas scaffolding
    – Melengkapi APD yang sesuai dengan pekerjaan seperti Masker, sarung tangan, dan Kacamata untuk melindungi pekerja dari debu dan tertimpa bahan bangunan

    2. Pekerjaan pemasangan bata bata-bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian diatas 3,00 meter.

    A. Analisa potensi bahaya
    – Jatuh dari ketinggian karena tidak mengunakan alat bantu berkerja di ketinggian yang tidak sesuai dan tidak standar
    – Postur kerja yang tidak sesuai dan tidak alami
    – Tidak ada fall protection sistem untuk melindungi pekerja jatuh dari ketinggian
    – Debu yang dihasilkan dari material bangunan yang digunakan yaitu bata ringan dan semen
    – Tertimpa material bangunan (bata-bata merah) yang di gunakan
    – Tidak mengunakan APD saat bekerja seperti Masker, sarung tangan, dan Kacamata.
    – Jam kerja yang melebihi jam kerja normal karena diburu waktu untuk menyelesaikan pekerjaan tepat waktu
    – Meletakan bahan material kayu yang berserakan di atas scaffolding

    B. Pengendalian potensi bahaya

    – Postur tubuh yang sesuai dan alami saat bekerja saperti tidak terlalu lama membungkuk dan tidak dalam posisi jongkok terlalu lama dalam bekerja
    – Mengatur jam kerja tidak lebih dari 8 jam per hari agar pekerja tidak kelelahan dan kurang fokus akibat jam kerja yang tidak normal
    – Menggunakan APD yang sesuai dengan pekerjaan seperti Masker, sepatu, sarung tangan, dan Kacamata untuk melindungi pekerja dari debu dan tertimpa bahan bangunan
    – Meletakan bahan material bangunan yang di gunakan di tempat yang tidak menyebabkan material bangunan jatuh dan ditempat yang mudah di jangkau pekerja
    – Membuat SOP tentang tata cara bekerja aman di ketinggian
    – Melakukan pengawasan terhadap pekerja yang bekerja di ketinggian
    – Memiliki izin dalam melakukan pekerjaan yang mengunakan scaffolding
    – Menggunakan fall protection sistem saat bekerja di ketinggian seperti full body harness

    Nama : Teguh nurmin w
    NPM : 13.11.106.701501.0879
    Semester : 5
    Kelas : B2

  15. Analisis Potensi Bahaya:
    – Pekerja tidak menggunakan APD yg berkaitan dengan pekerjaan (seperti helm proyek, masker, tali helm, kaca mata pelindung, dan sarung tangan )
    – Batu bata yang dapat terjatuh dari scaffolding karena diletakkan sembarangan dan tidak teratur ( tidak diwadahi ) atau terlalu berat.
    – Scaffolding tidak standart ( ada bagian yang rusak atau lemah )
    – Peletakkan scaffolding ditanah / pondasi yang tidak rata.
    Pengendalian Potensi Bahaya:
    – Diterapkannya SOP yang dapat difahami serta dilaksanakan oleh pekerja.
    – Training untuk para pekerja mengenai keselamatan dari pekerjaan yang akan dilakukan mengenai K3.
    Penempatan leader yang faham akan keselamatan kerja dari tim nya.
    – Inspeksi untuk perancah / scaffolding yang masih laik.
    – Scaffolding biasanya tidak dirancang untuk memikul beban berat diatas anjungan kerjanya ( setidaknya dapat menahan 4x beban yang mungkin ada, dari beban pekerja itu sendiri dan bahan-bahan bangunannya ). Jadi lebih baik, batu bata atau bahan bangunannya diletakkan tidak terlalu banyak. Ukuran minimum sisi dasar scaffolding adalah setengah ukuran tingginya.
    – Scaffolding diletakkan pada pondasi yang kuat dan rata. Tanah atau pondasinya harus mampu menahan berat scaffolding dan berbagai beban yang diletakkan diatasnya. Hati-hati terhadap rongga-rongga kosong seperti ruang bawah tanah atau timbunan tanah lembek yang mengakibatkan anjungan dapat roboh bila memperoleh beban. Lantai atau permukaan tanahnya dalam kemiringan maksimum 30 derajat dan bebas dari lubang, tidak rata, atau benda-benda penghalang. Berikan pendukung tambahan bila diperlukan.
    – Jangan menggunakan kotak, drum, batu bata, balok kayu / beton untuk mengganjal atau mendukung scaffolding. Bagian-bagian scaffolding harus digabungkan satu sama lain dari produsen yang sama. Perancangan, pembangunan, dan pemeliharaan scaffolding pun harus sesuai dengan petunjuk dari produsennya dengan standart industri.
    – Gunakan pengunci roda setiap saat bila scaffolding tidak sedang bergerak atau berpindah. Roda-rodanya pun harus dilengkapi dengan lapisan karet atau sejenisnya.
    – Pengaturan waktu kerja untuk para pekerja.
    – Pekera dilengkapi dengan Alat Pelindung Diri ( APD ) dan Alat Pengaman Kerja ( APK ) yang sesuai dan standart.
    Nama: Dinda Rizky K.N
    NIM : 13.11.106.701501.1117
    Kelas : B2
    Sem. : V ( Lima )

    • Jangan mencampuradukkan jenis pekerjaan (1) dengan jenis pekerjaan (2). Lakukan analisis Anda secara sistematis seperti contoh dibawah ini. Termasuk sistem penomorannya agar lebih mudah diidentifikasi.

      1. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.
      1.1. Analisis potensi bahaya
      1.1.1.
      1.1.2.
      1.1.3.
      dst.

      1.2. Pengendalian potensi bahaya
      1.2.1.
      1.2.2.
      1.2.3.
      dst.

      2. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah.
      2.1. Analisis potensi bahaya
      2.1.1.
      2.1.2.
      2.1.3.
      dst.

      2.2. Pengendalian potensi bahaya
      2.2.1.
      2.2.2.
      2.2.3.
      dst.

      Klik “Reply” dibawah ini untuk memperbaiki tugas anda kembali.

  16. 1. Pengerjaan pemasangan batu bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3 meter dari permukaan tanah
    a. Analisis potensi bahaya
    – Bahaya fisika
    Bahaya tertimpa material bangunan seperti batu bata , kayu pondasi, dll ( gravitasi )
    – Bahaya kimia
    Terhirup debu semen pada waktu pekerjaan sedang berlangsung, karena para pekerja tersebut tidak menggunakan APD ( sarung tangan dan masker).
    – Bahaya psikososial
    Fatigue dan dehidrasi karena pekerjaan berlangsung dibawah terik matahari.
    – Bahaya Biologi
    Bakteri atau jamur yang terdapat di area tempat kerja tersebut.
    – Bahaya Lingkungan
    Kondisi tanah di area kerja yang tidak stabil, yang dapat mengakibatkan scaffolding roboh.
    b. Pengendalian potensi bahaya
    – Pada bangunan ketinggian 3 meter wajib memakai body harness dan untuk bekerja diketinggian diatas 1,8m.
    – Memasang penutup di area pijakan scaffolding agar tidak terperosok jatuh ke bawah.
    – Pemberian APD seperti, masker anti debu, helmt, sepatu dan sarung tangan.
    – Menyediakan atau memasang atap agar para pekerja tidak terpapar langsung cahaya matahari.
    – Keterampilan para pekerja harus di seleksi untuk memudahkan pekerjaan. Sehingga tidak ada pekerja yang cidera akibat kecelakaan kerja.
    – Pemberian training dan safety talk terlebih dahulu sebelum memulai pekerjan.
    Nama : Agustinah
    Npm : 13.11.106.701501.0917
    Kelas : B2
    Semester : V

    • Tugas yang anda kerjakan tidak lengkap, tidak ada analisis untuk jenis pekerjaan yang kedua. Lakukan analisis Anda secara sistematis seperti contoh dibawah ini. Termasuk sistem penomorannya agar lebih mudah diidentifikasi.

      1. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.
      1.1. Analisis potensi bahaya
      1.1.1.
      1.1.2.
      1.1.3.
      dst.

      1.2. Pengendalian potensi bahaya
      1.2.1.
      1.2.2.
      1.2.3.
      dst.

      2. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah.
      2.1. Analisis potensi bahaya
      2.1.1.
      2.1.2.
      2.1.3.
      dst.

      2.2. Pengendalian potensi bahaya
      2.2.1.
      2.2.2.
      2.2.3.
      dst.

      Klik “Reply” dibawah ini untuk memperbaiki tugas anda kembali.

    • AGUSTINAH (TUGAS PERBAIKAN)
      11 October 2015 / 01:03

      Soal :

      Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.
      Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah.

      1. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.

      A. Analisis Potensi Bahaya

      * Bahaya gravitasi , jatuh dari ketinggian ( Papan pijakan yang telah di dudukin )
      * Kejatuhan benda asing ( Benda yang berada di area pekerja tersebut )
      * Bahaya kimia berupa,zat yang terhirup ( debu )
      * Lingkungan terlalu Panas ( Paparan langsung dari matahari )
      * Bahaya Psikososial karena kelalelahan karena jam kerja, usia dan pengalam.
      * Bahaya Biologi ( bakteri, hewan penyengat dan berbisa (Kalajengking, Ular dst) )

      B. Analisis Pengendalian Bahaya

      * Harus adaanya papan pijakan ( Perancah ) agar tetap aman bagi pekerja.
      * Merapikan terlebih dahulu ( housekeeping) yang kiranya benda – bend yang tidak di gunakan.
      * Para pekerja di anjurkan memakai APD (masker) terlebih dahulu sebelum melakukan pekerjaan tersebut.
      * Sebaiknya memasang atap atau terpal terlebih dahulu,agar cahaya dari matahari tidak terpapar langsung ke para pekerja.
      * Sebaiknya di adakan shift bagi pekerja tersebut.
      * Para pekerja harus memakai sepatu safety terlebih dahulu.

      2. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah.

      A . Analisis Potensi Bahaya

      *bahaya ketinggian atau gravitasi.

      *bahaya lingkungan seperti cuaca,suhu.

      *bahaya kimia berupa material semen pasir dan lainnya.

      *bahaya psikologis berhubungan dengan jiwa,beban kerja dan stress.

      *bahaya mekanika berupa alat yang digunakan dalam konstruksi.

      B. Pengendalian Potensi Bahaya

      * Untuk menghindari insiden kepada para pekerja yang jatuh dari ketinggian harus menggunakan APD (helm,sarung tangan,yang terpenting body harnes) dan beri 1 orang HSE untuk mengawasi para pekerja agar mematuhi peraturan di tempat kerja tersebut.

      *Untuk mendapatkan hasil yang bagus dengan mendesain tempat proyek tersebut harus di buat senyaman mungkin sehingga para pekerja dapat bekerja dengan efektif(buatkan kanopi yang teduh (tenda).

      *Memakai masker pelindung debu agar para pekerja tidak terganggu kesehatannya yang di timbulkan oleh debu semen pasir,untuk besi beton berikan para pekerja sarung tangan karana biasanya besi beton itu ujungnya sangat tajam yang bias saja melukai si pekerja tersebut.

      * Buat suasana kerja yang kondusif,berikan istirahat yang cukup dan juga luangkan waktu untuk sharing masalah kerjaan,kluarga atau hanya sekedar bertukar pikiran,sehingga bila seorang pekerja ada masalah dapat segera di selesaikan tanpa mengganggu perkerjaaanya.

      *Rutinitas merawat alat konstruksi,biasanya karna banyak yang harus dikerjakan menjadikan alasan untuk tidak merawat atau lakukan cek kondisi alat,karana kita tidak dapat mengetahui apakah alat tersebut layak beroperasi atau tidak,jika alat tersebut kondisinya tidak layak beroperasi tetapi tetap di operasikan maka bias menimbulkan insiden.

      NAMA : Agustinah
      KELAS:B2 (MALAM)
      NIM :13.11.106.701501.0917
      SEMESTER: V ( Lima )

  17. (1) Pekerjaan pemasangan batu bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai 3,00 m dari permukaan tanah.
    A. Analisis potensi bahaya
    – Bahaya fisika berupa gravitasi yang dapat menyebabkan pekerja jatuh dari ketinggian.
    – Scaffolding didirikan di atas tanah yang tidak rata dan banyak sisa-sisa material dapat mengakibatkan scaffolding tidak stabil.
    – Tanah yang tidak rata dan banyaknya sisa-sisa material yang berserakan dapat menyebabkan pekerja tersandung, terluka dan cidera lainnya.
    – Batu bata yang diletakan diatas scaffolding bisa saja terjatuh dan melukai pekerja yang ada dibawah.
    – Cuaca yang panas di siang hari saat bekerja dapat mengurangi fokus dan konsentrasi pekerja.
    – Selain cuaca yang panas, debu yang berasal dari proses pembangunan juga dapat mengganggu saluran pernafasan.

    B. Pengendalian potensi bahaya
    – Membuat scaffolding dengan struktur yang kuat dan menutup semua bagian yang kosong sebagai pijakan agar pekerja tidak terperosok serta membuat pekerja lebih nyaman.
    – Sebelum mendirikan scaffolding, bersihkan dulu sisa-sisa material yang berserakan dia area itu agar scaffolding lebih stabil.
    – Membersihkan sisa-sisa material yang tidak terpakai agar pekerja lebih bebas dan nyaman dalam bekerja, serta lebih memudahkan pekerja mengambil bahan dan peralatan yang digunakan untuk pemasangan batu bata.
    – Tidak menaruh material di atas scaffolding karena tempatnya terbatas dan untuk memberi ruang gerak pada pekerja yang memasang batu bata.
    – Memasang terpal diatas bangunan untuk mengurangi paparan langsung panas matahari ke pekerja.
    – Penggunaan masker untuk mengurangi masuknya debu yang mengganggu saluran pernafasan.
    – Seluruh pekerja diwajibkan menggunakan alat pelidung diri standar seperti safety helmet dan safety shoes untuk mengurang cidera.
    – Untuk konstruksi menggunakan batu bata merah sebaiknya tidak dipasang melebihi tinggi 1 m per hari untuk menghindari robohnya dinding karena belum terlalu kuat.

    (2) Pekerjaan pemasangan batu bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian lebih dari 3,00 m dari permukaan tanah.
    A. Analisis potensi bahaya
    – Bahaya fisika berupa gravitasi yang dapat menyebabkan pekerja jatuh dari ketinggian.
    – Scaffolding didirikan di atas tanah yang tidak rata dan banyak sisa-sisa material dapat mengakibatkan scaffolding tidak stabil.
    – Tanah yang tidak rata dan banyaknya sisa-sisa material yang berserakan dapat menyebabkan pekerja tersandung, terluka dan cidera lainnya.
    – Batu bata yang diletakan diatas scaffolding bisa saja terjatuh dan melukai pekerja yang ada dibawah.
    – Cuaca yang panas di siang hari saat bekerja dapat mengurangi fokus dan konsentrasi pekerja.
    – Selain cuaca yang panas, debu yang berasal dari proses pembangunan juga dapat mengganggu saluran pernafasan.
    – Jika pembangunan gedung bertingkat diatas 3 m kemungkinan adanya penggunaan alat berat crane.
    – Mobilisasi peralatan dan material di sekitar area pembangunan gedung yang berlalu lalang.
    – Jika pekerja kejatuhan material dari ketinggian yang berbeda maka berbeda juga tingkat resikonya.

    B. Pengendalian potensi bahaya
    – Membuat scaffolding dengan struktur yang kuat dan menutup semua bagian yang kosong sebagai pijakan agar pekerja tidak terperosok serta membuat pekerja lebih nyaman.
    – Sebelum mendirikan scaffolding, bersihkan dulu sisa-sisa material yang berserakan dia area itu agar scaffolding lebih stabil.
    – Membersihkan sisa-sisa material yang tidak terpakai agar pekerja lebih bebas dan nyaman dalam bekerja, serta lebih memudahkan pekerja mengambil bahan dan peralatan yang digunakan untuk pemasangan batu bata.
    – Tidak menaruh material di atas scaffolding karena tempatnya terbatas dan untuk memberi ruang gerak pada pekerja yang memasang batu bata.
    – Memasang terpal diatas bangunan untuk mengurangi paparan langsung panas matahari ke pekerja.
    – Penggunaan masker untuk mengurangi masuknya debu yang mengganggu saluran pernafasan.
    – Seluruh pekerja diwajibkan menggunakan alat pelidung diri standar seperti safety helmet dan safety shoes untuk mengurang cidera.
    – Untuk konstruksi menggunakan batu bata merah sebaiknya tidak dipasang melebihi tinggi 1 m per hari untuk menghindari robohnya dinding karena belum terlalu kuat.
    – Membuat jalur khusus kendaraan untuk mobilisasi peralatan dan material agar truk atau alat berat lainnya tidak mengenai scaffolding.

    Nama: Rani Ramadhani
    NPM: 13.11.106.701501.0937
    Semester: V (Lima)
    Kelas: B2

  18. 1. Pekerjaan pemasangan bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.

    a. Analisis potensi bahaya.
    – Terdapatnya partikel-partikel debu yang berada di sekitaran area pembangunan yang dapat berpotensi mengganggu kesehatan para pekerja.
    – Adanya bata yang diletakkan di scaffolding yang dapat kapan saja jatuh dan bisa mencederai para pekerja yang sedang bekerja dibawahnya.
    – Para pekerja yang sewaktu-waktu dapat saja terjatuh dari perancah atau andang.
    – Kemungkinan ambruknya perancah atau andang.
    – Pakaian pekerja yang kemungkinan tidak nyaman dikenakan karena keringat, virus, bakteri dan juga jamur yang dikarenakan baju tersebut tidak pernah diganti.
    – Kemungkinan adanya binatang-binatang seperti kalajengking, ular, kelabang yang terdapat di bongkahan material di area kerja.
    – Para pekerja yang kemungkinan mengalami fatique dan mungkin juga stress akibat dehidrasi yang dikarenakan lingkungan tempat bekerja yang panas dan juga target penyelesaian pembangunan yang harus cepat diselesaikan.

    b. Pengendalian potensi bahaya.
    – Melengkapi para pekerja dengan masker anti debu dan bisa saja menyiram area sekitaran kerja dengan air untunk menghindari debu yang beterbangan pada saat pekerjaan sedang berlangsung.
    – Membuat perancah atau andang dengan struktur yang kuat, jangan sampai adanya lubang yang terdapat di papan perancah yang dapat memungkinkan kaki pekerja terperosok ataumungkin saja tergelincir.
    – Membersihkan area tempat bekerja dari bekas-bekas material sehingga perancah dapat didirikan dengan sempurna di permukaan tanah.
    – Memastikan kaitan atau sambungan yang terdapat di perancah sudah terhubung dengan sempurna dan pastikan menggunakan perancah yang layak pakai.
    – Tidak menaruh bata pada scaffolding atau pekerja dapat memasang pagar atau penghalang yang memungkinkan bata tidak langsung jatuh kebawah dan dapat mencederai pekerja.
    – Dari kesadaran diri masing-masing para pekerja untuk menjaga kebersihan pakaian kerjanya.
    – Dapat membersihkan area kerja sebelum melakukan pekerjaan.
    – Selalu menyediakan minum agar tidak terjadi dehidrasi.
    – Dapat memberikan hari libur pada para pekerja dan konsisten pada jam kerja yang disepakati dan jangan berlebihan agar menghindarkan para pekerja dari fatique dan juga stress.

    2. Pekerjaan pemasangan bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.

    Hampir sama dengan pekerjaan pada no. 1, tetapi ada beberapa pekerjaan.

    a. Analisis potensi bahaya
    – Adanya partikel debu yang berada di sekitaran area pembangunan dan beterbangan yang dapat berpotensi mengganggu kesehatan para pekerja.
    – Pada area kerja gedung bertingkat yang dapat memungkinkan para pekerja terjatuh dari perancah atau andang yang dapat mengakibatkan fatality.
    – Benda peralatan kerja atau bata yang mungkin saja jatuh dari ketinggian yang berbeda maka akan berbeda juga tingkat resikonya.
    – Penggunaan alat crane yang digunakan untuk pembangunan gedung bertingkat di atas 3,00 meter.
    – Mobilisasi peralatan dan material yang beraktifitas di sekitaran area pembangunan.
    – Kemungkinan ambruknya perancah atau andang.
    – Pakaian pekerja yang kemungkinan tidak nyaman dikenakan karena keringat, virus, bakteri dan juga jamur yang dikarenakan baju tersebut tidak pernah diganti.
    – Para pekerja yang kemungkinan mengalami fatique dan mungkin juga stress akibat dehidrasi yang dikarenakan lingkungan tempat bekerja yang panas dan juga target penyelesaian pembangunan yang harus cepat diselesaikan.

    b. Pengendalian potensi bahaya.
    – Melengkapi para pekerja dengan masker anti debu untuk menguurangi terhirupnya partikel debu yang berada disekitar area pembangunan.
    – Membuat perancah atau andang dengan struktur yang kuat, jangan sampai adanya lubang yang terdapat di papan perancah yang dapat memungkinkan kaki pekerja terperosok ataumungkin saja tergelincir.
    – Untuk konstruksi yang menggunakan batu bata merah sebaiknya tidak memasangnya melebihi 1 meter untuk menghindari kemungkinan robohnya dinding karena tinggi belum terlalu kuat.
    – Membuat jalur khusus lalu lintas kendaraan untuk mobilisasi peralatan dan material agar alat berat tidak mengenai scaffolding.
    – Melengkapi para pekerja dengan APD untuk mengurangi resiko yang terjadi.
    – Memastikan kaitan atau sambungan yang terdapat di perancah sudah terhubung dengan sempurna dan pastikan menggunakan perancah yang layak pakai.
    – Dari kesadaran diri masing-masing para pekerja untuk menjaga kebersihan pakaian kerjanya.
    – Selalu menyediakan minum agar tidak terjadi dehidrasi.
    – Dapat memberikan hari libur pada para pekerja dan konsisten pada jam kerja yang disepakati dan jangan berlebihan agar menghindarkan para pekerja dari fatique dan juga stress.

    Nama : Nur Lutfiani
    NPM : 13.11.106.701501.0887
    Semester : V (Lima)
    Kelas : B-2

  19. Analisa potensi bahaya dan pengendalian potensi bahaya untuk jenis pekerjaan konstruksi pemasangan batu bata merah.

    1. Pekerjaan pemasangan batu bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah. Potensi bahaya dan pengendaliannya adalah :

    A. Potensi Bahaya
    − Pekerja  yang bisa terjatuh dari perancah.
    − Batu bata yang diletakkan di scaffolding yang bisa jatuh dan bisa melukai para pekerja yang sedang bekerja dibawahnya.
    − Perancah ambruk.
    − Adanya debu-debu yang berada disekitaran area pembangunan atau area pekerja yang dapat mengganggu penglihatan mata atau kesehatan para pekerja.
    − Pakaian para pekerja yang  mungkin tidak nyaman saat digunakan karena berkeringat atau  adanya bakteri-bakteri dan juga jamur yang disebabkan oleh baju yang tidak diganti.
    − Kemungkinan adanya binatang-binatang yang berbisa seperti ular,kalajengking yang berada pada bongkahan material.
    − Para pekerja yang mungkin saja mengalami fatique dan stress karena kecapean saat bekerja dan mengalami dehidrasi karena lingkungan tempat bekerja yang panas.
    − Banyaknya material yang berhamburan disekitar area kerja

    B. Pengendaliannya
    − Membut perancah dengan struktur kuat jangan sampai ada pijakan yang berlubang atau sela sela papan perancah yang dapat menyebabkan kaki pekerja terperosok atau tergelincir.
    − Para pekerja memakai masker atau menyiram bagian area pekerja dengan air supaya terhindar dari debu-debu beterbangan pada saat melakukan pekerjaan.
    − Tidak menaruh batu bata di scaffolding atau para pekerja dapat memasang pagar atau penghalang supaya batu bata tidak langsung terjatuh kebawah.
    − Para pekerja harus menjaga kebersihan pakaian yaitu dengan mencuci dan mengganti baju kerjanya.
    − Membersihkan area kerja supaya tidak digigit binatang.
    − Menyediakan air minum ditempat kerja agar tidak dehidrasi dan memberikan para pekerja hari libur agar tidak stress dan tidak selalu fatique.
    − Membersihkan material-material di area kerja untuk mengurangi potensi tersandung,terjepit dan cidera lainnya.
    − Memastikan kaitan atau sambungan yang terdapat diperancah sudah sempurna atau aman dan selalu memastikan memakai  perancah yang layak pakai.

    2. Pekerjaan pemasangan batu bata merah untuk gedung bertingkat sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah. Potensi bahaya dan pengendaliannya adalah :

    A. Potensi Bahaya
    − Penggunaan alat crane yang digunakan untuk pembangunan gedung bertingkat diatas 3,00 meter
    − Para pekerja yang mungkin saja mengalami fatique dan stress karena kecapean saat bekerja dan mengalami dehidrasi karena lingkungan tempat bekerja yang panas.
    − Pakaian para pekerja yang  mungkin tidak nyaman saat digunakan karena berkeringat atau  adanya bakteri-bakteri dan juga jamur yang disebabkan oleh baju yang tidak diganti.
    − Adanya debu-debu yang berada disekitaran area pembangunan atau area pekerja yang dapat mengganggu penglihatan mata atau kesehatan para pekerja.
    − Di area kerja gedung bertingkat yang dapat menyebabkan pekerja bisa terjatuh dari perancah dan bisa menyebabkan fatality.
    − Peralatan kerja atau batu bata yang bisa saja jatuh dari ketinggian yang berbeda dan bisa berbeda juga tingkat resikonya.
    − Perancah ambruk.
    − Banyaknya material yang berhamburan disekitar area kerja.
    − Mobilisasi peralatan dan material yang bolak-balik beraktivitas di sekitar area pembangunan.

    B. Pengendaliannya
    − Memiliki operator yang mempunyai SIO (Surat Izin Operasi) dan mempunyai sertifikat crane.
    − Menyediakan air minum ditempat kerja agar tidak dehidrasi dan memberikan para pekerja hari libur agar tidak stress dan tidak selalu fatique.
    − Para pekerja harus menjaga kebersihan pakaian yaitu dengan mencuci dan mengganti baju kerjanya.
    − Para pekerja memakai masker atau menyiram bagian area pekerja dengan air supaya terhindar dari debu-debu beterbangan pada saat melakukan pekerjaan.
    − Membut perancah dengan struktur kuat jangan sampai ada pijakan yang berlubang atau sela sela papan perancah yang dapat menyebabkan kaki pekerja terperosok atau tergelincir.
    − Membersihkan material-material di area kerja untuk mengurangi potensi tersandung,terjepit dan cidera lainnya
    − Selalau melengkapi para pekerja dengan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD).
    −  Memastikan kaitan atau sambungan yang terdapat diperancah sudah sempurna atau aman dan selalu memastikan memakai  perancah yang layak pakai.
    − Membuat jalur khusus lalu lintas kendaraan untuk mobilisasi peralatan dan material supaya alat berat tidak mengenai scaffolding.

    Nama : Marisa Wulandari Lestaluhu
    NPM : 13.11.106.701501.0919
    Semester : V (Lima)
    Kelas : B2

  20. 1. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah :

    a. Analisa Potensi Bahaya
    1. Bahaya Psikososial : Kelelahan di karenakan jam kerja yang sangat padat, usia, pengalaman kerja,dan masalah rumah tangga
    2. Bahaya Fisika : Debu, Gravitasi, Dinding Konstruksi, Suhu
    3. Bahaya Biologi : Jamur ,bakteri,virus
    4. Bahaya Kimia : Material beracun
    5. Bahaya Lingkungan : Permukaan Tanah,Bencana Alam

    b. Pengendalian Potensi Bahaya
    1. Bahaya Psikososial :
    – Seharusnya di beri waktu istrahat yang cukup
    – Jenis pekerjaan disesuaikan dengan usia dan pengalaman kerja.

    2.Bahaya Fisika :
    – Hindari debu dengan menggunakan masker sesuai standar yang berlaku
    – Untuk menghindari resiko terjatuhnya pekerja konstruksi perumahan 3 meter harus menggunakan full body harness.
    – Suhu yang tinggi menyebabkan pekerja jadi cepat lelah, sehingga perlu diatur agar si pekerja tetap terjaga kondisi tubuh nya
    – Melengkapi APD pekerja, seperti Safety Shoes, Safety Glasses, Safety Hand Gloves atau Body Harness.

    2. Bahaya Biologi :
    – Bakteri, pakaian yang dipakai pekerja penuh dengan keringat sehingga dapat menyebabkan pekerja terkena penyakit kulit. Jadi, wajib bagi manajemen menyediakan baju atau pakaian khusus untuk pekerja.
    – Virus, Pekerja harus wajib memeriksakan kondisi tubuh mereka setiap seminggu sekali agar terhindar dari berbagai macam penyakit.
    – Ergonomi, wajib dibuat SOP pemasangan konstruksi. Salah satunya ergonomi nya, sehingga pekerja tidak lagi membangun tembok sambil menjongkok yang berpotensi menyebabkan pekerja sakit pinggang.

    3. Bahaya Kimia :
    – Mengetahui bahan-bahan yang beracun, sehingga dapat melengkapi diri dengan APD.

    4. Bahaya Lingkungan :
    – Permukaan tanah yang tidak rata menyebabkan banyaknya material yang berserakan, sehingga dapat menyebabkan pekerja terjatuh.

    2. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah :

    a. Analisa Potensi Bahaya
    1. Bahaya Psikososial : Kelelahan karena jam kerja, usia dan pengalaman kerja
    2. Bahaya Fisika : Debu, Gravitasi, Dinding Konstruksi,Suhu
    3. Bahaya Biologi : Bakteri, Ergonomi,Virus
    4. Bahaya Kimia : Material beracun
    5. Bahaya Lingkungan : Permukaan Tanah,Bencana Alam

    b. Pengendalian Potensi Bahaya
    1. Bahaya Psikososial :
    – Mengatur jam kerja sehingga mengurangi resiko dari faktor kelelahan.
    – Jenis pekerjaan disesuaikan dengan usia dan pengalaman kerja.

    2. Bahaya Fisika :
    – Hindari debu dengan menggunakan masker dan pergunakan masker dengan sesuai standar nya.
    – Untuk menghindari terjatuh karena konstruksi bangunan yang lebih dari 3 meter pekerja wajib menggunakan full body harness dan itu harus dipergunakan oleh setiap pekerja yang ingin bekerja diketinggian.
    – Suhu yang tinggi menyebabkan pekerja jadi cepat lelah, sehingga perlu diatur kembali jam istirahat dan pembagian konsumsi dan juga harus disediakan tempat untuk pekerja yang sudah mengalami kelelahan.
    – Melengkapi APD pekerja, seperti Safety Shoes, Safety Glasses, Safety Hand Gloves atau Body Harness serta menggunakan alat alat yang sesuai dengan standar yang berlaku.
    – Untuk bangunan yang bertingkat atau diatas 3 meter, disarankan mengganti jenis batu nya. Yaitu mengganti bata merah menjadi batako atau bata ringan. Sehingga para pekerja lebih enjoy untuk menyelesaikan pekerjaan mereka.

    3. Bahaya Biologi :
    – Bakteri, pakaian yang dipakai pekerja penuh dengan keringat sehingga dapat menyebabkan pekerja terkena penyakit kulit. Jadi, seharus nya di sediakan pakaian yang lebih layak untuk para pekerja bangunan tersebut.

    4. Bahaya Kimia :
    – Mengetahui bahan-bahan yang beracun, sehingga dapat melengkapi diri dengan APD. Contoh material beracun asbes. Sehingga perlu pengetahuan tentang material tersebut dan cara penanganannya.

    Dedy Heryono
    13.11.106.701501.0888
    B2
    Semester V

  21. A. Analisa saya untuk pekerjaan bangunan perumahan dengen tinggi 3 meter :
    Potensi bahayanya :
    – Batu bata yang berserakan di lantai , sangat berpotensi membuat pekerja tersandung .
    – Cat walk pada scaffolding hanya menggunakan beberapa papan yang di susun , perkerja berpotensi terperosok .
    – Banyak bahan material bangunan di cat walk scaffolding .
    – Scaffolding tidak diberi pengaman , sangat berpotensi pekerja terjatuh.
    Contol bahayanya :
    – House keeping , rapikan batu bata yanag berserakan selain agar terlihat tidak berserekan ini membuat pekerja tidak tersandung dan lebih mudah untuk mengambilnya.
    – Cat walk di buat penuh menutupi bagian atas scaffolding , bertujan agar pekerja tidak terperosok selain itu dapat mempermudah pekerja menaruh peralatan kerja.
    – Beri barricade/pagar pada scaffolding agar potensi pekerja terjatuh berkurang.
    – Pakai selalu APD saat bekerja. Helmet, sepatu safety, sarung tangan, kaca mata dan baju lengan panjang.
    B. Analisa untuk pekerjaan banguna bertingkat lebih dari 3 meter diatas permukaan tanah :
    Potensi bahayanya :
    – Scaffloding runtuh karena tumpuan tidak seimbang.
    – Pekerja tidak berkompeten untuk bekerja di ketinggian.
    – Pekerja terjatuh pada saat bekerja di ketinggian,
    – Material bangunan terjatuh ke bawah.
    – Cat walk yang hanya menggunakan beberapa papan.
    Control bahayanya :
    – Sebelum digunakan scaffolding wajib di inspeksi terlebuh dahulu oleh scaffolding inspector.
    – Beri pelatihan bekerja di ketinggian kedapa semua pekerja yang bekerja di ketinggian.
    – Toolbox meeting dilakukan sebelum memulai pekerjaan
    – Beri jaring pada semua bagian scaffolding hingga seluruhnya.
    – Cat walk dibuat menutupi seluruh bagian atas scaffolding, agar pekerja tidak terperosok
    – Full body harness selalu digunakan saat bekerja & selalu dikaitkan pada scaffolding
    – APD : helmet, safety shoes, sarung tangan selalu di gunakan saat bekerja.
    Nama : Rizky Prayogo
    Kelas : B2
    Smt : V
    NPM : -0913

    • Jangan dicampur aduk antara jenis pekerjaan (1) dengan jenis pekerjaan (2) meskipun tampak serupa. Lakukan analisis Anda secara sistematis seperti contoh dibawah ini. Termasuk sistem penomorannya agar lebih mudah diidentifikasi.

      1. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.
      1.1. Analisis potensi bahaya
      1.1.1.
      1.1.2.
      1.1.3.
      dst.

      1.2. Pengendalian potensi bahaya
      1.2.1.
      1.2.2.
      1.2.3.
      dst.

      2. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah.
      2.1. Analisis potensi bahaya
      2.1.1.
      2.1.2.
      2.1.3.
      dst.

      2.2. Pengendalian potensi bahaya
      2.2.1.
      2.2.2.
      2.2.3.
      dst.

      Klik “Reply” dibawah ini untuk memperbaiki tugas anda kembali.

      • A. Analisa saya untuk pekerjaan bangunan perumahan dengen tinggi 3 meter :

        1.1. Potensi bahayanya :
        1.1.1. Batu bata yang berserakan di lantai , sangat berpotensi membuat pekerja tersandung .
        1.1.2. Cat walk pada scaffolding hanya menggunakan beberapa papan yang di susun , perkerja berpotensi terperosok .
        1.1.3. Banyak bahan material bangunan di cat walk scaffolding .
        1.1.4. Scaffolding tidak diberi pengaman , sangat berpotensi pekerja terjatuh.

        1.2. Contol bahayanya :
        1.2.1. House keeping , rapikan batu bata yanag berserakan selain agar terlihat tidak berserekan ini membuat pekerja tidak tersandung dan lebih mudah untuk mengambilnya.
        1.2.2. Cat walk di buat penuh menutupi bagian atas scaffolding , bertujan agar pekerja tidak terperosok selain itu dapat mempermudah pekerja menaruh peralatan kerja.
        1.2.3. Beri barricade/pagar pada scaffolding agar potensi pekerja terjatuh berkurang.
        1.2.4. Pakai selalu APD saat bekerja. Helmet, sepatu safety, sarung tangan, kaca mata dan baju lengan panjang.

        B. Analisa untuk pekerjaan banguna bertingkat lebih dari 3 meter diatas permukaan tanah :

        2.1. Potensi bahayanya :
        2.1.1. Scaffloding runtuh karena tumpuan tidak seimbang.
        2.1.1. Pekerja tidak berkompeten untuk bekerja di ketinggian.
        2.1.2. Pekerja terjatuh pada saat bekerja di ketinggian,
        2.1.3. Material bangunan terjatuh ke bawah.
        2.1.4. Cat walk yang hanya menggunakan beberapa papan.

        2.2. Control bahayanya :
        2.2.1. Sebelum digunakan scaffolding wajib di inspeksi terlebuh dahulu oleh scaffolding inspector.
        2.2.2. Beri pelatihan bekerja di ketinggian kedapa semua pekerja yang bekerja di ketinggian.
        2.2.3. Toolbox meeting dilakukan sebelum memulai pekerjaan
        2.2.4. Beri jaring pada semua bagian scaffolding hingga seluruhnya.
        2.2.5. Cat walk dibuat menutupi seluruh bagian atas scaffolding, agar pekerja tidak terperosok
        2.2.6. Full body harness selalu digunakan saat bekerja & selalu dikaitkan pada scaffolding
        2.2.7. APD : helmet, safety shoes, sarung tangan selalu di gunakan saat bekerja.

        Nama : Rizky Prayogo
        Kelas : B2
        Smt : V
        NPM : -0913

  22. Berdasarkan gambar pada tugas 3 pada mata kuliah keselamatan konstruksi ini, saya akan menganalisis potensi bahaya dan pengendalian potensi bahaya pada gambar pekerjaan pemasangan batu bata merah untuk perumahan dan gedung bertingkat dengan ketinggian sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.
    1. Pekerjaan pemasangan batu bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.

    a. Analisis potensi bahaya
    – Bekerja pada ketinggian 3,00 meter yang melebihi standar bekerja diketinggian, yaitu 1,8 meter dari permukaan tanah
    – Debu yang berterbangan di sekitar area bekerja
    – Cuaca yang tidak menentu dan berubah-ubah suhunya dapat mengganggu kesehatan bagi para pekerjanya
    – Material dan area sekitar proyek pengerjaan tidak Ringkas, Rapi, Resik, Rawat dan Rajin (5R), contohnya seperti ember dan batu bata yang dibiarkan berantakkan di permukaan tanah, material yang diletakkan di scaffolding
    – Pekerja tidak menggunakan APD yang yang kurang lengkap, yang dapat mengakibatkan pekerja tergores/cidera karena bahan-bahan material yang ada di proyek
    – Posisi para kerja yang tidak ergonomis dapat menimbulkan Musculoskeletal Disorders (MSDS).

    b. Pengendalian potensi bahaya
    – Memakai APD yang lengkap seperti: memakai masker agar dapat melindungi mulut dan hidung yang dapat mengganggu pernafasan karena debu di proyek, memakai sarung tangan agar melindungi tangan dari goresan bahan-bahan material tajam dsb, dan disarankan agar memakai body harness karena pekerjaan tersebut memiliki ketinggian 3,00 yang melebihi standar pekerjaan diketinggian yaitu 1,8 meter dari permukaan tanah
    – Membersihkan daerah sekitar lokasi proyek supaya menjadikan lingkungan kerja yang Ringkas, Rapi, Resik, Rawat dan Rajin (5R)
    – Meletakkan material pada satu sisi agar tidak berantakkan di jalur jalannya para pekerja
    – Mengadakan sistem kerja shift atau 8 jam/hari
    – Memposisikan tubuh dan disetiap gerakkan pada posisi yang ergonomis, tidak jongkok, jinjit dsb.

    2. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah.

    a. Analisis potensi bahaya
    – Bekerja pada ketinggian 3,00 meter yang melebihi standar bekerja diketinggian, yaitu 1,8 meter dari permukaan tanah
    – Debu yang berterbangan di sekitar area bekerja
    – Cuaca yang tidak menentu dan berubah-ubah suhunya dapat mengganggu kesehatan bagi para pekerjanya
    – Material dan area sekitar proyek pengerjaan tidak Ringkas, Rapi, Resik, Rawat dan Rajin (5R), contohnya seperti batu bata yang dibiarkan berantakkan di permukaan tanah, material yang diletakkan di scaffolding
    – Pekerja tidak menggunakan APD yang yang kurang lengkap, yang dapat mengakibatkan pekerja tergores/cidera karena bahan-bahan material yang ada di proyek
    – Posisi para kerja yang tidak ergonomis dapat menimbulkan Musculoskeletal Disorders (MSDS).

    b. Pengendalian potensi bahaya
    – Memakai APD yang lengkap seperti: memakai masker agar dapat melindungi mulut dan hidung yang dapat mengganggu pernafasan karena debu di proyek, memakai sarung tangan agar melindungi tangan dari goresan bahan-bahan material tajam dsb, dan disarankan agar memakai body harness karena pekerjaan tersebut memiliki ketinggian 3,00 yang melebihi standar pekerjaan diketinggian yaitu 1,8 meter dari permukaan tanah
    – Membersihkan daerah sekitar lokasi proyek supaya menjadikan lingkungan kerja yang Ringkas, Rapi, Resik, Rawat dan Rajin (5R)
    – Meletakkan material pada satu sisi agar tidak berantakkan di jalur jalannya para pekerja dan tidak menimbulkan resiko tersandung, terjatuh, dll untuk para pekerja yang melintas di area tersebut
    – Mengadakan pembagian waktu bekerja berdasarkan waktu tertentu/ sistem shift bagi para pekerjanya
    – Memposisikan tubuh dan disetiap gerakkan pada posisi yang ergonomis, tidak jongkok, jinjit dsb.

    Nama : Adinda Rachmasari
    NPM : 13.11.106.701501.0876
    Semester : V
    Kelas : B2

  23. hazard and control for working at height
    1a. Analisis potensi bahaya (ketinggian 3.00 m diatas permukaan)
    Terdapat berbagai bahaya sbb;
    1. Bahaya paparan panas terbuka sinar matahari, debu berterbangan, getaran tanah, angin dan gaya gravitasi diketinggian (Fisika)
    2. Bahaya lontaran batu bata, partikel pecahan bata (Operasional)
    3. Bahaya keterbatasan ruang gerak, bahan yg berserakan diplatform maupun areal, beban material dan pekerja di perancah, bahaya perancah yg rapuh dan banyak scratch (lecet) or plague (karat)
    4. Bahaya akses yg terbatas dan hecticness di platform oleh banyak pekerja
    1b. Analisis potensi bahaya (ketinggian diatas 3.00m diatas permukaan)
    Terdapat berbagai bahaya sbb;
    1. Tekanan Gravitasi yg cukup tinggi, bahaya terik panas, bahaya angin, debu dam partikel yg terlempar dr proses kerja, dan bahaya guncangan (Fisika)
    2. Bahaya muatan yang overload dari bahan material dan pekerja, bahaya keregangan percancah yg tidak solid, bahaya keterbatasan ruang gerak, bahaya fondasi perancah yg tidak memadai, bahaya material yang berhamburan diplatform scaffolding dan areal kerja.
    3. Bahaya akses yg terbatas.
    4. Bahaya Jatuh ketinggian dan perancah yg tidak standar
    2a. Pengendalian Bahaya (ketinggian 3.00m)
    1. Subtutisi perancah sistem plug and play, dengan gondola atau scaffolding dengan trigger yg kokoh.
    2. Isolasi implementasi scaffolding dengan additional control pagar pelindung (edge protector), akses mekanis (mechanical acces plant) dengan fixed barrier, fencing dan warning barrier. Dengan pengendalian ini tidak lagi diperlukan harnes karena control pengadaan yg memadai untuk melindungi pekerja ataupun areal kerja tetap aman.
    3. Control management melalui penambahan Safety handbook scaffold dan tools, safety induction sebelum kerja, toolbox meeting maupun warning poster dan notification boards di areal kerja serta di buatnya working height elevation permit.
    4. Hire HSE person, Scaffolding inspector dan pengawas.
    5. Pemasangan damper anti getar pada scaffold, taging system (enginering)
    6. Training personel, dan perlengkap keamanan diri dengan PPE/APD khusus untuk working at height.
    b. Pengendalian Bahaya (ketinggian diatas 3.00m)
    1. Subtutisi perancah sistem plug and play, dengan gondola atau scaffolding dengan trigger yg kokoh.
    2. Isolasi implementasi scaffolding dengan additional control pagar pelindung (edge protector), akses mekanis (mechanical acces plant) dengan fixed barrier, fencing dan warning barrier. Dengan pengendalian ini tidak lagi diperlukan harnes karena control pengadaan yg memadai untuk melindungi pekerja ataupun areal kerja tetap aman.
    3. Control management melalui penambahan Safety handbook scaffold dan tools, safety induction sebelum kerja, toolbox meeting maupun warning poster dan notification boards di areal kerja serta di buatnya working height elevation permit, JSA konstruksi dengan perancah atau pemasangan batu bata di ketinggian beserta SOp kerja.
    4. Hire HSE person, Scaffolding inspector untuk penginspeksian kelayakan dan pengawas.
    5. Penggunaan Full body Harness, sistem anchor dengan kelengkapan tali serat or lanyard, damper atau anti goncangan mengoptimalkan sistem fall arrest setiap personil working at height (enginering)
    6. Training personel dan Penggunaan PPE/APD konstruksi di ketinggian
    7. Emergency unit respon di sediakan pada areal kerja
    Nama: Roynando Silitonga
    Kelas: b2 malam | Npm:13.11.106.701501.0921
    Semester: 5

    • Jangan mencampuradukkan jenis kedua pekerjaan tersebut, tetapi lakukan analisis satu demi satu. Lakukan analisis Anda secara sistematis seperti contoh dibawah ini. Termasuk sistem penomorannya agar lebih mudah diidentifikasi.

      1. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.
      1.1. Analisis potensi bahaya
      1.1.1.
      1.1.2.
      1.1.3.
      dst.

      1.2. Pengendalian potensi bahaya
      1.2.1.
      1.2.2.
      1.2.3.
      dst.

      2. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah.
      2.1. Analisis potensi bahaya
      2.1.1.
      2.1.2.
      2.1.3.
      dst.

      2.2. Pengendalian potensi bahaya
      2.2.1.
      2.2.2.
      2.2.3.
      dst.

      Klik “Reply” dibawah ini untuk memperbaiki tugas anda kembali.

      • 1. Pekerjaan Pemasangan Batu Bata Merah untuk konstruksi perumahan dengan ketinggian sampai dengan 3,00 m dari permukaan tanah.

        1.1 Analisis Potensi Bahaya

        1.1.2 Bahaya tekanan gravitasi di ketinggian 3,00m dari pekerjaan konstruksi
        1.1.3 Bahaya terik panas matahari selama bekerja di ketinggian 3,00 m
        1.1.4 Material dan batu bata yang berada di platform berserakan dan dapat jatuh ke bawah
        1.1.5 Adanya bahaya mahluk hidup seperti ular, lebah, tawon dan serangga lainnya
        1.1.6 Struktur tanaha yang tidak rata dan kemiringan sudut yang buruk bagi scaffolding
        1.1.7 Areal yang akan berdebu selama proses pemasangan batu bata merah
        1.1.8 Stress pada pekerja pemasangan batu bata merah, ditambah beban kerja overtime demi percepatan selesainya proyek
        1.1.9 Terdapat parasit jamur dan bakteri pada pakaian maupun areal kerja yang kotor
        1.1.10 Platform Scaffolding yang sempit dan terbatas ruang gerak pada saat pemasangan batu bata merah

        1.2 Pengendalian Bahaya

        1.2.1 Menambahkan perancah scaffolding dengan platform yang stabil dan tidak bersela (rapat) serta aman bagi aktifitas melangkah pekerja
        1.2.2 Penempatan batu bata merah dan material tidak berlebihan di scaffolding untuk ketinggian 3,00 demi kestabilan perancah dan ruang gerak akses pekerja
        1.2.3 Menambah additional control pada perancah scaffolding dengan toe board, midrail dan hand rail jadi kemungkinan jatuh baik objek atau pekerja tidak langsung ke dasar
        1.2.4 Pemberian dan Peraturan memakai masker Debu atau Face mask untuk perlindungan dari masuknya debu atau partikel yg terlontar lainnya
        1.2.5 Membersihkan Areal kerja dari banyak objek yang berbahaya baik obstacle atau benda benda yang tidak dibutuhkan sehingga kinerja jauh lebih aman.
        1.2.6 Penginspeksian Scaffolding serta Pengecekan detail Scaffolding agar tidak mengganggu performance dari alat perancah di ketinggian 3,00 m
        1.2.7 Memberikan Air minum dan tenda istirahat bagi para pekerja agar dapat mengurangi lelah yang berlebih
        1,2.8 Memberlakukan jam Istrirahat dan rotasi kerja yang baik sehingga karyawan tetap stabil kinerjanya
        1.2.9 Pemberian PPE untuk bekerja diketinggian dan pemasangan batu bat merah

        2. Pekerjaan Pemasangan Batu Bata Merah untuk Gedung yang memiliki ketinggian sampai diatas 3,00 m dari permukaan tanah

        2.1.2 Bahaya tekanan gravitasi di ketinggian 3,00m dari pekerjaan konstruksi
        2.1.3 Bahaya terik panas matahari selama bekerja di ketinggian 3,00 m
        2.1.4 Material dan batu bata yang berada di platform berserakan dan dapat jatuh ke bawah
        2.1.5 Adanya bahaya mahluk hidup seperti ular, lebah, tawon dan serangga lainnya
        2.1.6 Struktur tanaha yang tidak rata dan kemiringan sudut yang buruk bagi scaffolding
        2.1.7 Areal yang akan berdebu selama proses pemasangan batu bata merah
        2.1.8 Stress pada pekerja pemasangan batu bata merah, ditambah beban kerja overtime demi percepatan selesainya proyek
        2.1.9 Terdapat parasit jamur dan bakteri pada pakaian maupun areal kerja yang kotor
        2.1.10 Platform Scaffolding yang sempit dan terbatas ruang gerak pada saat pemasangan batu bata merah
        2.1.11 Bahaya Perancah yang korosi dan tua dapat roboh jika terdapat getaran ataupun benturan

        2.2 Pengendalian Bahaya

        2.2.1 Mengoptimalkan pekerjaan dengan scaffolding yang disesuaikan dengan tinggi diatas 3.00 m dengan keamanan yang full protected baik adanya hand rail, mid rail dan toe boar sehingga meminimalisir bahaya diketinggian.
        2.2.2 Penambahan Net dibawah areal sekitar untuk menahan korban terjatuh makin parah
        2.2.3 Menambahkan perancah scaffolding dengan platform yang stabil dan tidak bersela (rapat) serta aman bagi aktifitas melangkah pekerja
        2.2.4 Penempatan batu bata merah dan material tidak berlebihan di scaffolding untuk ketinggian diatas 3,00 m demi kestabilan perancah dan ruang gerak akses pekerja
        2.2.5 Menambah additional control PPE diketinggian diatas 3,00 m dengan full body harness system
        2.2.7 Membersihkan Areal kerja dari banyak objek yang berbahaya baik obstacle atau benda benda yang tidak dibutuhkan sehingga kinerja jauh lebih aman.
        2.2.8 Penginspeksian Scaffolding serta Pengecekan detail Scaffolding agar tidak mengganggu performance dari alat perancah di ketinggian 3,00 m
        2.2.9 Memberikan Air minum dan tenda istirahat bagi para pekerja agar dapat mengurangi lelah yang berlebih
        2,2.10 Memberlakukan jam Istrirahat dan rotasi kerja yang baik sehingga karyawan tetap stabil kinerjanya
        2.2.11 Pengunaan Crane saja, dan pengecekan SIO pekerja sesuai atau tidak
        2.2.12 P2h pada bagan–bagan scaffolding dan alas atau trigger sehingga scaffolding benar dipastikan kokoh berdiri
        2.2.13 Pemberitahuan untuk pekerja agar menjaga kebersihan lingkungan dan personel agar terhindar dari penyakit
        2.2.14 Penggunaan Helm dan Apd di ketinggian

        Nama : Roynando SIlitonga
        Kelas ; B2 / Semester : V
        13.11.106.701501.0921

  24. 1. pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3 meter dari permukaan tanah.

    1.a *Analisis Potensi Bahaya:
    – Potensi bahaya pada pekerjaan yang bekerja di atas ketinggian adalah suatu kegiatan atau aktifitas yang dilakukan pekerja yang mempunyai resiko jatuh dari ketinggian .
    – Akibat jatuhnya pekerja bisa di akibatkan karna tidak kokohnya scaffolding atau ladders yang meng-akibatkan jatuhnya pekerja tersebut.

    1.b *Pengendalian Potensi Bahaya:
    – Diberikan pengawasan pada setiap pengerjaan pemasangan bata merah oleh Safety engineering yang berkompeten.
    – Diberikan training atau safety induction sebelum bekerja terlebih dahulu.
    – Membuat scaffolding dengan kokoh agar tidak goyang pada saat bekerja dan dapat membuat insiden kerja terhadap para pekerja.
    – Diberikan APD terutama Full body harness karena sesuai dengan peratuan yang di keluarkan direktorat jenderal pembinaan pengawasan ketenagakerjaan yang berisi tetang keselamatan dan kesehatan bekerja pada ketinggian NO.KEP.45/DJPPK/IX/2008 , pekerja yang bekerja di atas ketinggian 1,8 meter wajib memakai full body harness

    2. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung di atas 3 meter dari permukaan tanah

    2.a *Analisis Potensi Bahaya:
    – Potensi bahaya pada pekerjaan yang bekerja di atas gedung adalah terjatuh dari ketinggian karena Factor Cuaca , Fatigue dan lingkungan pekerjaan yang dapat meng-akibatkan timbulnya insiden terhadap pekerja.
    – akibat tidak kokohnya scaffolding atau ladders yang meng-akibatkan timbulnya insiden terhadap para pekerja.
    – terpeleset dari scaffolding pada saat pemasangan bata merah / tertimpa material material yang jatuh dan dapat menimbulkan cedera terhadap pekerja.

    2.b *Pengendalian potensi bahaya
    – Diberikan PPE/APD pada setiap pekerja , terutama full body harness agar dapat menahan pekerja pada saat memasang bata di atas scaffold sesuai dengan analisis di no 1.a , bahwa pekerja di atas 1.8 meter wajib memakai full body harness.
    – Diberikan training untuk bekerja pada ketinggian
    – Pekerja harus dalam kondisi fit sebelum bekerja pada ketinggian dan tidak mempunyai riwayat penyakit kronis.
    – Semua peralatan penahan dan pencegah jatuh serta peralatan pendukung harus dalam kondisi baik dan sudah diinspeksi sebelum digunakan
    – serta peralatan pendukung Scaffold,ladders,dll sesuai dengan persyaratan standard dan didirikan atau di operasikan oleh orang yang berkompeten.

    Nama : Fahmi ade kurnia
    NPM : 13.11.106.701501.0899
    Kelas : B2
    Semester : V (LIMA)

  25. A.Analisi Potensi Bahayanya :
    -Faktor Fisik Cuaca panas Mengakibatkan kulit gatal-gatal,kelelahan,biang keringat,dan dehidrasi
    -Faktor Biologis Bakteri,Virus,Jamur yang menimbulkan penyakit
    -Naik ke atas setinggi 3meter tanpa APD(alat pelindung diri)
    -Tergores alat-alat bangunan Tidak menggunakan sarung tangan, sepatu boat dan perlengkapan diri lainnya
    -Permukaan yang tidak rata mengakibatkan Scafolding kurang stabil kemungkinan Terjatuh
    -Injakan untuk berdiri di scafolding terbuat dari kayu rentan patah
    -Memberikan alat berbahaya diatas kepala
    B.Pengendalian Potensi Bahaya
    – Pekerja wajib menggunakan alat perlindung seperti sarung tangan, sepatu boot, tali, dan tangga yang sesuai standar yang telah ditentukan.
    -Pekerja wajib menggunakan alat pengaman seperti ikat pinggang untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan kerja diketinggian
    -Seharusnya atasan atau pihak tender menyediakan bahan bangunan yang mengandung bahan yang tidak berbahaya bagi tubuh
    -Memberikan SOP dan dan penerapan K3 kepada kepekerja
    Nama : Saban Nur Putra
    NIM : 13.11.106.701501.0900
    Kelas : B2

    • Tugas anda ini tidak lengkap. Lakukan analisis Anda secara sistematis seperti contoh dibawah ini. Termasuk sistem penomorannya agar lebih mudah diidentifikasi.

      1. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.
      1.1. Analisis potensi bahaya
      1.1.1.
      1.1.2.
      1.1.3.
      dst.

      1.2. Pengendalian potensi bahaya
      1.2.1.
      1.2.2.
      1.2.3.
      dst.

      2. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah.
      2.1. Analisis potensi bahaya
      2.1.1.
      2.1.2.
      2.1.3.
      dst.

      2.2. Pengendalian potensi bahaya
      2.2.1.
      2.2.2.
      2.2.3.
      dst.

      Klik “Reply” dibawah ini untuk memperbaiki tugas anda kembali.

  26. 1. Pekerjaan pemasangan bata-bata merahuntuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah :
    a. Analisis potensi bahaya
    1. Bahaya fisika : gravitasi , suhu, pergerakan material
    2. Bahaya biologi : bakteri ,jamur
    3. Bahaya kimia : debu
    4. Bahaya psikososial: fatigue
    5. Bahaya lingkungan : ganguan binatang buas
    b. Pengendalian potensi bahaya
    1. Bahaya fisika
    a. Gunakan full body harness dalam bekerja di ketinggian
    b. Jika perlu bangun scalfolding dengan dilengkapi handrail dan midrail sehingga kemungkinan pekerja jatuh sangat kecil
    c. Rapikan bahan material yang menggangu mobilitas saat bekerja agar tidak tersandung material
    d. Pasang atap sementara agar pekerja tidak kepanasan dalam bekerja
    e. Training pekerja dalam bekerja di ketinggian
    2. Bahaya biologi
    a. Selalu pastikan perlengkapan bekerja dicuci atau dibersihkan setelah bekerja agar tidak pekerja tidak terkena penyakit gatal-gatal
    3. Bahaya kimia
    a. Gunakan masker dalam bekerja agar tidak terkena penyakit gangguan pernapasan
    4. Bahaya psikoosial
    a. Atur jam kerja pekerja sehingga mengurangi resiko dari factor kelelahan
    5. Bahaya lingkungan
    a. Bersihkan area kerja dari sampah – sampah material sehingga tidak ada nyamuk yang dapat menggangu pekerja
    2. Pekerjaan pemasangan batu bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah
    a. Analisis potensi bahaya
    1. Pekerja yang mungkin saja fatigue , dehidrasi saat bekerja di ketinggian
    2. Pakaian pekerja yang bekeringat dapat menimbulkan rasa gatal apabila tidak diganti
    3. Jatuh dari tiang perancah
    4. Material yang berhamburan di area kerja
    b. Pengendalian potensi bahaya
    1. Gunakan safety full body harness saat kerja di ketinggian
    2. Gunakan crane untuk mengangkat material dan orang untuk mempercepat mobilitas dalam bekerja
    3. Pastikan kekuatan crane dengan menggunakan material data sheet
    4. Pasang rambu peringatan di crane pengankut untuk mengetahui beban maks yang dapat diangkut crane
    5. Cuci baju setiap selesai bekerja sehingga tidak terkena penyakit gatal gatal
    6. Atur jam kerja pekerja sehingga resiko pekrja kelelahan berkurang
    7. Bersihkan area kerja dari material sampah yang tidak di gunakan untuk meperlancar mobilitas pekerja
    8. Bagun scalfolding dengan di lengkapi handrail ,midrail dan dibawah midrail di beri papan setinggih 10cm untuk mncegah material jatuh kebawah
    9. Training setiap pekerja saat sebelum bekerja di ketinggian
    10. Buat JSA danSOP bekerja di ketinggian
    11. Gunakan APD yang di perlukan seperti safety shoes , masker, helm
    Nama : Yogi adi wilantara
    NPM : 13.11,106.701501.0912
    Kelas : B2 sore
    Semester : v

    • Tugas anda ini masih belum lengkap dan belum sistematis. Lakukan analisis Anda secara sistematis seperti contoh dibawah ini. Termasuk sistem penomorannya agar lebih mudah diidentifikasi.

      1. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.
      1.1. Analisis potensi bahaya
      1.1.1.
      1.1.2.
      1.1.3.
      dst.

      1.2. Pengendalian potensi bahaya
      1.2.1.
      1.2.2.
      1.2.3.
      dst.

      2. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah.
      2.1. Analisis potensi bahaya
      2.1.1.
      2.1.2.
      2.1.3.
      dst.

      2.2. Pengendalian potensi bahaya
      2.2.1.
      2.2.2.
      2.2.3.
      dst.

      Klik “Reply” dibawah ini untuk memperbaiki tugas anda kembali.

    • 1. Pekerjaan pemasangan bata-bata merahuntuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah :
      1.1 Analisis potensi bahaya
      1.1.1 Bahaya fisika :
      – Grafitasi : bekerja di ketinggian 3,00 meter
      – Radiasi : paparan sinar matahari
      – Pergerakan : pergerkana pekerja saat pengambilan dan pemasangan batu bata merah
      1.1.2 Bahaya biologi
      – Bakteri : bakteri yang menempel pada pakaian pekerja dan lingkungan kerja.
      1.1.3 Bahaya kimia : debu
      – Debu : debu yang berasal dari batu bata merah dan bahan bangunan lainnya.
      1.1.4 Bahaya psikososial: fatigue
      – Fatigue : kelelahan mental pekerja
      – Stress : stress yang di alami pekerja karena tidak sesuai dengan keinginan psikis pekerja
      1.1.5 Bahaya lingkungan :
      – Kemiringan tanah : tanah landasan scaffolding yang digunakan pada saat pemasangan bata
      1.2 Pengendalian potensi bahaya
      1.2.1 Gunakan full body harness dalam bekerja di ketinggian
      1.2.2 Jika perlu bangun scalfolding dengan dilengkapi handrail dan midrail sehingga kemungkinan pekerja jatuh sangat kecil
      1.2.3 Rapikan bahan material yang menggangu mobilitas saat bekerja agar tidak tersandung material
      1.2.4 Pasang atap sementara agar pekerja tidak kepanasan dalam bekerja
      1.2.5 Training pekerja dalam bekerja di ketinggian
      1.2.6 Mengganti bahan bangunan dengan bahan yang ramah lingkungan dan memiliki tingkat resiko yang rendah terhadap pekerja tetapi tetap memperhatikan kualitas bangunan
      1.2.7 Inspeksi scaffolding secara rutin sebelum dan sesudah digunakan untuk memastikan scaffolding itu masih bagus
      1.2.8 Selalu pastikan perlengkapan bekerja dicuci atau dibersihkan setelah bekerja agar tidak pekerja tidak terkena penyakit gatal-gatal
      1.2.9 Gunakan masker dalam bekerja agar tidak terkena penyakit gangguan pernapasan
      1.2.10 Atur jam kerja pekerja sesuai jam kerja dan jumlah pekerja sehingga mengurangi resiko dari factor kelelahan
      1.2.11 Bersihkan area kerja dari sampah – sampah material sehingga tidak ada nyamuk yang dapat menggangu pekerja
      1.2.12 Membuat SOP dan JSA pada setiap tahap pekerjaan dan di sosialisasikan ke pekerja
      1.2.13 Menggunakan APD yang layak dan sesuai untuk pekerja seperti Body harness , safety helmet,safety glasses, safety shoes, masker dan hand gloves

      2. Pekerjaan pemasangan batu bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah
      2.1 Analisis potensi bahaya
      2.1.1 Bahaya fisika :
      – Grafitasi : bekerja di ketinggian 3,00 meter
      – Radiasi : paparan sinar matahari
      – Pergerakan : pergerkana pekerja saat pengambilan dan pemasangan batu bata merah
      2.1.2 Bahaya biologi
      – Bakteri : bakteri yang menempel pada pakaian pekerja dan lingkungan kerja.
      2.1.3 Bahaya kimia : debu
      – Debu : debu yang berasal dari batu bata merah dan bahan bangunan lainnya.
      2.1.4 Bahaya psikososial: fatigue
      – Fatigue : kelelahan mental pekerja
      – Stress : stress yang di alami pekerja karena tidak sesuai dengan keinginan psikis pekerja
      2.1.5 Bahaya lingkungan :
      – Kemiringan tanah : tanah landasan scaffolding yang digunakan pada saat pemasangan bata
      2.1.6 Bahaya mekanika :
      – Katrol/ crane yang digunakan untuk mengangkat manusia atau barang dari bawah ke ketinggian 3,00 meter .
      2.2 Pengendalian potensi bahaya
      2.2.1 Gunakan full body harness dalam bekerja di ketinggian
      2.2.2 Perlu bangun scalfolding dengan dilengkapi handrail dan midrail sehingga kemungkinan pekerja jatuh sangat kecil
      2.2.3 Rapikan bahan material yang menggangu mobilitas saat bekerja agar tidak tersandung material
      2.2.4 Pasang atap sementara agar pekerja tidak kepanasan dalam bekerja
      2.2.5 Training pekerja dalam bekerja di ketinggian sehingga mngurangi resiko terjatuh dari ketinggian
      2.2.6 Mengganti bahan bangunan dengan bahan yang ramah lingkungan dan memiliki tingkat resiko yang rendah terhadap pekerja tetapi tetap memperhatikan kualitas bangunan
      2.2.7 Inspeksi scaffolding secara rutin sebelum dan sesudah digunakan untuk memastikan scaffolding itu masih bagus dan aman
      2.2.8 Selalu pastikan perlengkapan bekerja dicuci atau dibersihkan setelah bekerja agar tidak pekerja tidak terkena penyakit gatal-gatal
      2.2.9 inspeksi katrol/ crane pengangkut barang dan manusia untuk memastikan alat tersebut masih layak dan tidak ada tanda tanda kerusakan
      2.2.10 Pasang jaring – jaring di samping dinding untuk mencegah material yang terpecik atau terlempar tidak langsung kerumah atau bangunan di sebelahnya
      2.2.11 Gunakan masker dalam bekerja agar tidak terkena penyakit gangguan pernapasan
      2.2.12 Atur jam kerja pekerja sesuai jam kerja dan jumlah pekerja sehingga mengurangi resiko dari factor kelelahan
      2.2.13 Bersihkan area kerja dari sampah – sampah material sehingga tidak ada nyamuk yang dapat menggangu pekerja
      2.2.14 Membuat SOP dan JSA pada setiap tahap pekerjaan dan di sosialisasikan ke pekerja
      2.2.15 Menggunakan APD yang layak dan sesuai untuk pekerja seperti Body harness , safety helmet,safety glasses, safety shoes, masker dan hand gloves

      Nama : Yogi adi wilantara
      NPM : 13.11,106.701501.0912
      Kelas : B2 sore
      Semester : v

  27. A. Analisa potensi bahaya dari pemasangan bata merah
    Pemasangan bata merah untuk suatu pekerjaan konstruksi dengan ketinggian 3 meter terlihat pekerjaan yang sepele dan mudah untuk dikerjakan,Namun pekerjaan sepele dapat mengakibatkan kecelakaan kerja apabila pekerjaan nya tidak sesuai dengan prosodur kerja yang berlaku .
    Berikut ini ada beberapa potensi bahaya yang dipat ditimbulkan dari pekerjaan konstruksi pemasangan bata merah.
    -. Bahaya fisika : adanya pergerakan yang terjadi antara pekerja 1 dengan yang lain
    -. Bahaya kimia ; adanya bahan-bahan kimia yang terkandung dalam bahan bangunan,seperti semen,pasir,yang dapat mengakibatkan jamur,iritasi kulit,panu,kutu air.
    -.Bahaya gravitasi; ke tidak seimbangan badan diketinggian dapat mengakibatkan kecelakaan,adanya faktor angin yang kencang yang dapat mendorong
    – Bahaya psikologi ;stess,fatique,beban kerja berpotensi besar mengakibatkan kecelakaan kerja konstruksi
    – . Bahaya lingkungan;Bahaya yang berasal dari lingkungan,yang tidak dapat kita prediksi,seperti.gempa,sunami,tanah longsor,dan cuaca yang tidak mendukung.
    B.1 pengendalian potensi bahaya untuk perumahan dengan tinggi 300m dari permukaan tanah.
    – bahaya fisika dapat di kendalikan dengan memberikan jalur khusus,dan jarak bagi para pekerja, yang berjalan dalam melakuan pekerjaan.
    – Pekerja harus memakai sarung tangan,dan masker,agar terhindar dari debu,dan bahan kimia yang ada dalam semen tersebut,
    – sebaiknya memakai bodi harness ketika bekerja di ketinggian untuk menghindari terjatuh langsung ke dasar tanah.
    – pekerja harus sehat secara jasmani dan rohani sebelum melakukan aktifitas konstruksi.
    – posisi kerja yang tidak baik dapat mengakibatkan kecelakaan,seperti pekerja yang berada disela-Sela antara tembok dan scaffolding,ketika ada gempa,atau bangunan ambruk langsung menimpa kaki pekerja.
    B.2.Pengendalian potensi bahaya pada Pekerjaan pemasangan bata merah untuk gedung bertingkat diatas 300m dari permukaan tanah.
    – bekerja diketinggian diwajibkan memakai body harness sesuai dengan standart nasional indonesia.
    – scaffolding yang dipasang harus betul kuat dengan permukaan yang rata,dan beban yang sesuai.
    – Proses menaikkan dan menurunkan bahan bangunan harus menggunakan katroll supaya proses kerja lebih aman.
    – seluruh pekerja yang terlibat harus sehat dan berpengalaman..sekian analisis dari saya .thanks..
    Nama ;jogia simamora
    class ; b2(sore)
    semester : v

    • Tugas anda belum lengkap. Lagipula tidak ada instruksi untuk melakukan analisis pekerjaan perumahan dengan tinggi 300m dari permukaan tanah. Lakukan analisis Anda secara sistematis seperti contoh dibawah ini. Termasuk sistem penomorannya agar lebih mudah diidentifikasi.

      1. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.
      1.1. Analisis potensi bahaya
      1.1.1.
      1.1.2.
      1.1.3.
      dst.

      1.2. Pengendalian potensi bahaya
      1.2.1.
      1.2.2.
      1.2.3.
      dst.

      2. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah.
      2.1. Analisis potensi bahaya
      2.1.1.
      2.1.2.
      2.1.3.
      dst.

      2.2. Pengendalian potensi bahaya
      2.2.1.
      2.2.2.
      2.2.3.
      dst.

      Klik “Reply” dibawah ini untuk memperbaiki tugas anda kembali.

    • A.Pekerjaan pemasangan bata merah 3,00m dari permukaan dasar tanah

      1.1.Analisis potensi bahaya

      1.1.1 Bahaya Psikososial : Kelelahan,sterss,dan masalah keluarga.
      1.1.2 Bahaya Fisika : Debu, Gravitasi, Dinding Konstruksi, Suhu
      1.1.3 Bahaya Biologi : Jamur ,bakteri,virus
      1.1.4 Bahaya Kimia : Material beracun
      1.1.5 Bahaya Lingkungan : Permukaan Tanah,Bencana Alam

      2.2 Pengendalian Potensi Bahaya

      2.2.1 Bahaya Psikososial :

      – Istrahat yang cukup
      – Jenis pekerjaan disesuaikan dengan usia dan pengalaman kerja.

      2.2.2 Bahaya Fisika :

      – Hindari debu dengan menggunakan masker sesuai standar yang berlaku
      – Untuk menghindari resiko terjatuhnya pekerja konstruksi perumahan 3 meter harus menggunakan full body harness.
      – Suhu yang tinggi menyebabkan pekerja jadi cepat lelah, sehingga perlu diatur agar si pekerja tetap terjaga kondisi tubuh nya
      – Melengkapi APD pekerja, seperti Safety Shoes, Safety Glasses, Safety Hand Gloves atau Body Harness.

      2.2.3 Bahaya Biologi :

      – Bakteri, pakaian yang dipakai pekerja penuh dengan keringat sehingga dapat menyebabkan pekerja terkena penyakit kulit. Jadi, wajib bagi manajemen menyediakan baju atau pakaian khusus untuk pekerja.
      – Virus, Pekerja harus wajib memeriksakan kondisi tubuh mereka setiap seminggu sekali agar terhindar dari berbagai macam penyakit.
      – Ergonomi, wajib dibuat SOP pemasangan konstruksi. Salah satunya ergonomi nya, sehingga pekerja tidak lagi membangun tembok sambil menjongkok yang berpotensi menyebabkan pekerja sakit pinggang.

      2.2.4. Bahaya Kimia :
      – Mengetahui bahan-bahan yang beracun, sehingga dapat melengkapi diri dengan APD.

      2.2.5 Bahaya Lingkungan :

      – Permukaan tanah yang tidak rata menyebabkan banyaknya material yang berserakan, sehingga dapat menyebabkan pekerja terjatuh.

      B. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah :

      3.1. Analisa Potensi Bahaya

      3.1.1. Bahaya Psikososial : Kelelahan karena jam kerja, usia dan pengalaman kerja
      3.1.2 Bahaya Fisika : Debu, Gravitasi, Dinding Konstruksi,Suhu
      3.1.3 Bahaya Biologi : Bakteri, Ergonomi,Virus
      3.1.4 Bahaya Kimia : Material beracun
      3.1.5 Bahaya Lingkungan : Permukaan Tanah,Bencana Alam

      3.2 Pengendalian Potensi Bahaya

      3.2.1 Bahaya Psikososial

      – Mengatur jam kerja sehingga mengurangi resiko dari faktor kelelahan.
      – Jenis pekerjaan disesuaikan dengan usia dan pengalaman kerja.

      3.2.2 Bahaya Fisika :

      – Hindari debu dengan menggunakan masker dan pergunakan masker dengan sesuai standar nya.
      – Untuk menghindari terjatuh karena konstruksi bangunan yang lebih dari 3 meter pekerja wajib menggunakan full body harness dan itu harus dipergunakan oleh setiap pekerja yang ingin bekerja diketinggian.
      – Suhu yang tinggi menyebabkan pekerja jadi cepat lelah, sehingga perlu diatur kembali jam istirahat dan pembagian konsumsi dan juga harus disediakan tempat untuk pekerja yang sudah mengalami kelelahan.
      – Melengkapi APD pekerja, seperti Safety Shoes, Safety Glasses, Safety Hand Gloves atau Body Harness serta menggunakan alat alat yang sesuai dengan standar yang berlaku.
      – Untuk bangunan yang bertingkat atau diatas 3 meter, disarankan mengganti jenis batu nya. Yaitu mengganti bata merah menjadi batako atau bata ringan. Sehingga para pekerja lebih enjoy untuk menyelesaikan pekerjaan mereka.

      3.2.3 Bahaya Biologi :

      – Bakteri, pakaian yang dipakai pekerja penuh dengan keringat sehingga dapat menyebabkan pekerja terkena penyakit kulit. Jadi, seharus nya di sediakan pakaian yang lebih layak untuk para pekerja bangunan tersebut.

      3.2.4. Bahaya Kimia :
      – Mengetahui bahan-bahan yang beracun, sehingga dapat melengkap

      3.2.5.Bahaya lingkungan

      – Permukaan tanah yang tidak rata membuat scafollding tidak berdiri dengan sempurna.

      Nama ; jogia simamora
      Npm ;13.11.106.701501.0894
      Kelas ; B2 (v)

  28. Analisis Potensi Bahaya
    1. Rumah :
    -Permukanaan Tanah yang tidak rata
    -Batu bata yang berserakan di lokasi kerja
    -Pekerja yang tidak menggunakan sarung tangan
    -Suhu udara yang panas
    -Scaffolding yang tidak baik pemasangannya
    -Jatuh dari ketinggian
    -Fatigue yang dapat membuat pekerja bisa pingsan
    2. Gedung Bertingkat :
    -Gangguan cuaca yang tidak bisa diduga
    -Jatuh dari ketinggian
    -Bahan material yang jatuh dari atas
    -Fatigue yang dapat membahayakan bagi pekerja tersebut
    -Scaffolding yang tidak baik pemasangannya
    -Suhu udara yang panas
    Pengendalian Potensi Bahaya
    1. Rumah :
    -Sebaiknya permukaan yang tidak rata tersebut diratakan terlebih dahulu agar scaffolding tidak goyang
    -Bata yang berserakan lebih bai dibersihkan dahulu agar tidak mengganggu akses jalan bagi para pekerja
    -Pekerja harus menggunkan sarung tangan sehingga tidak menimbulkan alergi yang di sebabkan oleh semen
    -Menggunakan pakaian lengan panjang dan helm agar tidak terpapar sinar matahari secara langsung
    -Sebelum mulai bekerja lebih baik memeriksa scaffolding agar tidak terjadi kecelakaan atau bahkan mengganti scaffolding dengan yang lebih baik
    -Menggunakan body harness , dipasang plat t5ambahan di bagian belakang scaffolding
    -Pengaturan jam kerja dan jam istirahat dengan baik
    2. Gedung Betingkat
    -Menghentikan pekerjaan jika cuaca mulai buruk
    -Menggunakan body harness dan memasang plat tambahan di belakang scaffolding
    -Memasang jaring di sekitar scaffoldingagar bahan material yang jatuh di terlempar jauh dan melukai pekerja yang ada di bawah
    -Pengaturan jam kerja yang baik
    -Memeriksa scaffolding jika ingin melakukan pekerjaan , pastikan scaffolding terpasang dengan baik dan layak untuk digunakan
    -Pekerja menggunakan pakaian lengan panjang dan helm agar tidak terpapar sinar matahari secara langsung
    Nama : Ardy Prabowo
    Kelas : B2 (malam)
    Semester : V (lima)
    NPM :13.11.106.701501.0895

    • Lakukan analisis Anda secara sistematis seperti contoh dibawah ini. Termasuk sistem penomorannya agar lebih mudah diidentifikasi.

      1. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.
      1.1. Analisis potensi bahaya
      1.1.1.
      1.1.2.
      1.1.3.
      dst.

      1.2. Pengendalian potensi bahaya
      1.2.1.
      1.2.2.
      1.2.3.
      dst.

      2. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah.
      2.1. Analisis potensi bahaya
      2.1.1.
      2.1.2.
      2.1.3.
      dst.

      2.2. Pengendalian potensi bahaya
      2.2.1.
      2.2.2.
      2.2.3.
      dst.

      Klik “Reply” dibawah ini untuk memperbaiki tugas anda kembali.

      • 1. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.

        1.1. Analisis potensi bahaya

        1.1.1. Permukanaan Tanah yang tidak rata
        1.1.2. Batu bata yang berserakan di lokasi kerja
        1.1.3. Pekerja yang tidak menggunakan sarung tangan
        1.1.4. Suhu udara yang panas
        1.1.5. Scaffolding yang tidak baik pemasangannya
        1.1.6. Jatuh dari ketinggian
        1.1.7. Fatigue yang dapat membuat pekerja bisa pingsan

        1.2. Pengendalian potensi bahaya

        1.2.1. Sebaiknya permukaan yang tidak rata tersebut diratakan terlebih dahulu agar scaffolding tidak goyang
        1.2.2. Bata yang berserakan lebih bai dibersihkan dahulu agar tidak mengganggu akses jalan bagi para pekerja
        1.2.3. Pekerja harus menggunkan sarung tangan sehingga tidak menimbulkan alergi yang di sebabkan oleh semen
        1.2.4. Menggunakan pakaian lengan panjang dan helm agar tidak terpapar sinar matahari secara langsung
        1.2.5. Sebelum mulai bekerja lebih baik memeriksa scaffolding agar tidak terjadi kecelakaan atau bahkan mengganti scaffolding dengan yang lebih baik
        1.2.6. Menggunakan body harness , dipasang plat tambahan di bagian belakang scaffolding
        1.2.7. Pengaturan jam kerja dan jam istirahat dengan baik

        2. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah.

        2.1. Analisi potensi bahaya

        2.1.1. Gangguan cuaca yang tidak bisa diduga
        2.1.2. Jatuh dari ketinggian
        2.1.3. Bahan material yang jatuh dari atas
        2.1.4. Fatigue yang dapat membahayakan bagi pekerja tersebut
        2.1.5. Scaffolding yang tidak baik pemasangannya
        2.1.6. Suhu udara yang panas

        2.2. pengendalian potensi bahaya

        2.2.1. Menghentikan pekerjaan jika cuaca mulai buruk
        2.2.2. Menggunakan body harness dan memasang plat tambahan di belakang scaffolding
        2.2.3. Memasang jaring di sekitar scaffoldingagar bahan material yang jatuh di terlempar jauh dan melukai pekerja yang ada di bawah
        2.2.4. Pengaturan jam kerja yang baik
        2.2.5. Memeriksa scaffolding jika ingin melakukan pekerjaan , pastikan scaffolding terpasang dengan baik dan layak untuk digunakan
        2.2.6. Pekerja menggunakan pakaian lengan panjang dan helm agar tidak terpapar sinar matahari secara langsung

        Nama : Ardy Prabowo
        NPM : 13.11.106.701501.0895
        Kelas : B2
        Semester : V (lima)

  29. A .Analisis potensi bahaya pada gambar : – terjatuh dari sakapolding akibat permukan yang tidak rata
    – kejatuhan material ( batu ,papan dan kayu
    – terluka tangan akibat kena goresan
    B.pengendalian potensi bahaya: – harus di beri landasan yang rata pada skapolding agar tidak jatuh
    -harus di berikan tempat yang ekxtra untuk material bangunan pada gambar tersebut
    – pekerja harus diberikan sarung tangan ( APD )
    1. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.
    – Bahaya fisika ,gravitasi pekerjaan yang di lakukan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter darai permukaan tanah
    – Bahaya kimia : debu dari material bangunan terpapar dari batu bata dan pasir semen
    – Bahaya biologi : keringat,baju yang terus menerus di pake untuk bekerja dan bercap bakteri
    – Bahaya lingkungan : kemiringan tanah dan struktur tanah yang tidak rata untuk memasang skapolding
    – Bahaya psikologis : fatique karena perkerjaan tersebut memerlukian tenaga ekstra dan terpapar matahari yang menyebabkan pekerja cepat lelah dan fatique
    Pengendalian potensi bahaya ketinggian sampai 3.00 m
    – Pasang kan papan yang rata pada tanah atau pondasi skapolding agar kaki skapolding rata untuk berdiri dan tidak miring
    – Sebelum di pake skapolding harus di inspeksi alat yang akan di gunakan pada skapolding
    – Pastikan pekerja di beri helmet ( APD ) atau terpal untuk atap agara pekerja tidak langsung terpapar sinar matahari
    – Setiap pekerja di berikan 3 stle baju bekerja agar untuk seminggu kedepan pekerja bisa menganti baju untuk aktifitas pekerjaan tersebut
    – Selalu melakukan safety talk sebelum melakukan perkjaan tersebut
    – Sebelum bekerja harus menyiapkan JSA untuk posisi pekerja yang di lakukan diatas atau di bawah ketinggian
    – Harus wajib memeberikan kelengkapan APD ( helemet,sarung tangan ,kaca mata ,masker ,sepatu sefty,baju sefty ) untuk pekerja yang akan melakukan pekerjaan pada gambar tersebut
    2. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah
    – Bahaya fisika ,gravitasi bekerja hingga ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah
    – Bahaya kimia : debu karena terpapar dari batu bata yang dipasang dan asap polusi kendaraan di area tersebut
    – Bahaya biologi: baju karena baju tidak pernah diganti dan selalu dipake yang menyebabkan bakteri timbul dibaju tersebut
    – Bahaya psikologis : fatique Karena pekerjaan tersebut menggunakan ekstra tenaga dan terkena paparan sinar matahari
    – Bahaya lingkungan : kemiringan dan banyak berbatuan pada pondasi kaki skapolding
    Pengendalian potensi bahaya dengan ketinggian di atas 3.00 m
    – Memakai papan untuk pondasi kaki skapolding agar rata dan kuat untuk pondasi kaki skapolding
    – Infeksi untuk alat-alat yang akan di gunakan pada skapolding
    – Memberikan APD ( helmet,masker,sarung tangan,sepatu sefty,kaca mata dan baju sefty ) lengkap pada pekerja dan di berikan body harness untuk pekerjaan ketingian
    – Di berikan JSA sebekum melakukan pekerjaan
    – Pekerjan harus diberikan baju bersih paling banyak 3 stle buat ganti dalam seminggu kedepan
    Nama : hendra hadi saputra
    Npm :13.11.106.701501.0890
    Semester : v ( lima ) malam
    Kelas : B2

    • Lakukan analisis Anda secara sistematis seperti contoh dibawah ini. Termasuk sistem penomorannya agar lebih mudah diidentifikasi.

      1. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.
      1.1. Analisis potensi bahaya
      1.1.1.
      1.1.2.
      1.1.3.
      dst.

      1.2. Pengendalian potensi bahaya
      1.2.1.
      1.2.2.
      1.2.3.
      dst.

      2. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah.
      2.1. Analisis potensi bahaya
      2.1.1.
      2.1.2.
      2.1.3.
      dst.

      2.2. Pengendalian potensi bahaya
      2.2.1.
      2.2.2.
      2.2.3.
      dst.

      Klik “Reply” dibawah ini untuk memperbaiki tugas anda kembali.

    • HENDRA HADI SAPUTRA
      11 October 2015 / 19:02 {Editing oleh Administrator}

      1. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.

      1.1. Analisis potensi bahaya

      1,1.1 Bahaya fisika ,gravitasi pekerjaan yang di lakukan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter darai permukaan tanah
      1.1.2 Bahaya kimia : debu dari material bangunan terpapar dari batu bata dan pasir sem 1.1.3 Bahaya biologi : keringat,baju yang terus menerus di pake untuk bekerja dan bercap bakteri
      1,1.4 Bahaya lingkungan : kemiringan tanah dan struktur tanah yang tidak rata untuk memasang skapolding
      1,1.5 Bahaya psikologis : fatique karena perkerjaan tersebut memerlukian tenaga ekstra dan terpapar matahari yang menyebabkan pekerja cepat lelah dan fatiqu

      1.2. Pengendalian potensi bahaya

      1.2.1pasang kan papan yang rata pada tanah atau pondasi skapolding agar kaki skapolding rata untuk berdiri dan tidak miring
      1.2.2 Sebelum di pake skapolding harus di inspeksi alat yang akan di gunakan pada skapolding
      1.2.3 Pastikan pekerja di beri helmet ( APD ) atau terpal untuk atap agara pekerja tidak langsung terpapar sinar matahari
      1.2.4 Setiap pekerja di berikan 3 stle baju bekerja agar untuk seminggu kedepan pekerja bisa menganti baju untuk aktifitas pekerjaan tersebut
      1.2.5 Selalu melakukan safety talk sebelum melakukan perkjaan tersebut
      1.2.6 Sebelum bekerja harus menyiapkan JSA untuk posisi pekerja yang di lakukan diatas atau di bawah ketinggian
      1.2.7 Harus wajib memeberikan kelengkapan APD ( helemet,sarung tangan ,kaca mata ,masker ,sepatu sefty,baju sefty ) untuk pekerja yang akan melakukan pekerjaan pada gambar tersebut

      2. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah.

      2.1. Analisis potensi bahaya

      2.1.1 Bahaya fisika ,gravitasi bekerja hingga ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah
      2.1.2 Bahaya kimia : debu karena terpapar dari batu bata yang dipasang dan asap polusi kendaraan di area tersebut
      2.1.3 Bahaya biologi: baju karena baju tidak pernah diganti dan selalu dipake yang menyebabkan bakteri timbul dibaju tersebut
      2.1.4 Bahaya psikologis : fatique Karena pekerjaan tersebut menggunakan ekstra tenaga dan terkena paparan sinar matahari
      2.1.5 Bahaya lingkungan : kemiringan dan banyak berbatuan pada pondasi kaki skapolding

      2.2. Pengendalian potensi bahaya

      2.2.2 Memakai papan untuk pondasi kaki skapolding agar rata dan kuat untuk pondasi kaki skapolding
      2.2.3 Infeksi untuk alat-alat yang akan di gunakan pada skapolding
      2.2.4 Memberikan APD ( helmet,masker,sarung tangan,sepatu sefty,kaca mata dan baju sefty ) lengkap pada pekerja dan di berikan body harness untuk pekerjaan ketingian
      2.2.5 Di berikan JSA sebekum melakukan pekerjaan
      2.2.6 Pekerjan harus diberikan baju bersih paling banyak 3 stle buat ganti dalam seminggu kedepan
      2.2.7 Sebelum melakukan pekerjaan harus melakukan safety talk pekerjaan tersebut

      Nama : hendra hadi saputra
      Npm :13.11.106.701501.0890
      Semester : v ( lima ) malam
      Kelas : B2

  30. #Analisis bahaya yg ada pada rumah
     A. Faktor faal kerja atau ergonomi
    Gangguan yang besifat faal karena beban kerja yang terlalu berat,
    peralatan yang digunakan tidak serasi dengan tenaga kerja.
    B. Faktor psikologik
    Gangguan jiwa dapat terjadi karena keadaan lingkungan sosial tempat
    kerja yang tidak sesuai dan menimbulkan ketegangan jiwa pada karyawan, seperti
    hubungan atasan dan bawahan yang tidak serasi.
    C. Bangunan, Peralatan dan instalasi
    Bahaya dari bangunan, peralatan dan instalasi perlu mendapat perhatian.
    Konstruksi bangunan harus kokoh dan memenuhi syarat. Desain ruangan dan
    tempat kerja harus menjamin keselamatan dan kesehatan pekerja. Pencahayaan
    dan ventilasi harus baik, tersedia penerangan darurat, marka dan rambu yang jelas
    dan tersedia jalan penyelamatan diri. Instalasi harus memenuhi persaratan
    keselamatan kerja baik dalam disain maupun konstruksinya.
    D. Bahaya dari lingkungan kerja
    Dapat di golongkan atas berbagai jenis
    bahaya yang dapat mengakibatkan berbagai gangguan kesehatan dan penyakit
    akibat kerja serta penurunan produktivitas dan efisiensi kerja. Bahaya tersebut
    adalah:
    1) Faktor lingkungan fisik
    Bahaya yang bersifat fisik seperti ruangan yang terlalu panas, terlalu
    dingin, bising, kurang penerangan, getaran yang berlebihan, dan radiasi
    2) Faktor lingkungan kimia
    Bahaya yang bersifat kimia yang berasal dari bahan–bahan yang
    digunakan maupun bahan yang di hasilkan selama proses produksi. Bahan ini
    berhamburan ke lingkungan karena cara kerja yang salah, kerusakan atau
    kebocoran dari peralatan atau instalasi yang digunakan dalam proses.
    3) Faktor lingkungan biologik
    Bahaya biologi disebabkan oleh jasad renik, gangguan dari serangga
    maupun dari binatang lainnya yang ada di tempat kerja. 4) Faktor faal kerja atau ergonomi
    Gangguan yang besifat faal karena beban kerja yang terlalu berat,
    peralatan yang digunakan tidak serasi dengan tenaga kerja.
    5) Faktor psikologik
    Gangguan jiwa dapat terjadi karena keadaan lingkungan sosial tempat
    kerja yang tidak sesuai dan menimbulkan ketegangan jiwa pada karyawan, seperti
    hubungan atasan dan bawahan yang tidak serasi.
    #Penanganan dan pengendalian bahaya
    Pilihan yang Ideal untuk sistem perlindungan bagi pekerja adalah menghilangkan seluruh resiko jatuh yang melekat pada pekerjaan tersebut. Misalnya selain disiapkan palang / rintangan (handrails, guardrails) di area kerja, para pekerja juga diberi alat pelindung diri yang sesuai safety harness, shock absorbers, dan lifeline)  untuk melindungi segala kemungkinan terjatuh.
    Analisis bahaya gedung
    a. Bangunan, Peralatan dan instalasi
    Bahaya dari bangunan, peralatan dan instalasi perlu mendapat perhatian.
    Konstruksi bangunan harus kokoh dan memenuhi syarat. Desain ruangan dan
    tempat kerja harus menjamin keselamatan dan kesehatan pekerja. Pencahayaan
    dan ventilasi harus baik, tersedia penerangan darurat, marka dan rambu yang jelas
    dan tersedia jalan penyelamatan diri. Instalasi harus memenuhi persaratan
    keselamatan kerja baik dalam disain maupun konstruksinya. Dalam industri juga
    digunakan berbagai peralatan yang mengandung bahaya, yang bila tidak
    dilengkapi dengan alat pelindung dan pengaman bisa menimbulkan bahaya seperti
    kebakaran, sengatan listrik, ledakan, luka–luka atau cidera.
    b. Bahan
    Bahaya dari bahan meliputi berbagai risiko sesuai dengan sifat bahan
    antara lain mudah terbakar, mudah meledak, menimbulkan alergi, menimbulkan
    kerusakan pada kulit dan jaringan tubuh, menyebabkan kanker, mengakibatkan
    kelainan pada janin, bersifat racun dan radio aktif .
    c. Proses
    Bahaya dari proses sangat bervariasi tergantung teknologi yang
    digunakan. Proses yang digunakan di industri ada yang sederhana tetapi ada
    proses yang rumit. Industri kimia biasanya menggunakan proses yang berbahaya,
    dalam prosesnya digunakan suhu, tekanan yang tinggi dan bahan kimia berbahaya
    yang memperbesar resiko bahayanya. Dari proses ini kadang–kadang timbul asap, debu, panas, bising, dan bahaya mekanis seperti terjepit, terpotong, atau tertimpa
    bahan.
    d. Cara kerja
    Bahaya dari cara kerja dapat membahayakan karyawan itu sendiri dan
    orang lain disekitarnya. Cara kerja yang demikian antara lain cara kerja yang
    mengakibatkan hamburan debu dan serbuk logam, percikan api serta tumpahan
    bahan berbahaya.
    e. Lingkungan kerja
    Bahaya dari lingkungan kerja dapat di golongkan atas berbagai jenis
    bahaya yang dapat mengakibatkan berbagai gangguan kesehatan dan penyakit
    akibat kerja serta penurunan produktivitas dan efisiensi kerja. Bahaya tersebut
    adalah:
    1) Faktor lingkungan fisik
    Bahaya yang bersifat fisik seperti ruangan yang terlalu panas, terlalu
    dingin, bising, kurang penerangan, getaran yang berlebihan, dan radiasi
    2) Faktor lingkungan kimia
    Bahaya yang bersifat kimia yang berasal dari bahan–bahan yang
    digunakan maupun bahan yang di hasilkan selama proses produksi. Bahan ini
    berhamburan ke lingkungan karena cara kerja yang salah, kerusakan atau
    kebocoran dari peralatan atau instalasi yang digunakan dalam proses.
    3) Faktor lingkungan biologik
    Bahaya biologi disebabkan oleh jasad renik, gangguan dari serangga
    maupun dari binatang lainnya yang ada di tempat kerja. 4) Faktor faal kerja atau ergonomi
    Gangguan yang besifat faal karena beban kerja yang terlalu berat,
    peralatan yang digunakan tidak serasi dengan tenaga kerja.
    5) Faktor psikologik
    Gangguan jiwa dapat terjadi karena keadaan lingkungan sosial tempat
    kerja yang tidak sesuai dan menimbulkan ketegangan jiwa pada karyawan, seperti
    hubungan atasan dan bawahan yang tidak serasi.
    Sistem penanganan / pengendaliannya
    Pilihan yang Ideal untuk sistem perlindungan bagi pekerja adalah menghilangkan seluruh resiko jatuh yang melekat pada pekerjaan tersebut. Misalnya selain disiapkan palang / rintangan (handrails, guardrails) di area kerja, para pekerja juga diberi alat pelindung diri yang sesuai safety harness, shock absorbers, dan lifeline)  untuk melindungi segala kemungkinan terjatuh
    Rheza Ridwan Nurrochman
    13.11.106.701501.0896
    D4 k3 kelas b2 semester v

    • Jangan dicampur aduk antara analisis pekerjaan nomor 1 dengan analisis pekerjaan nomor 2. Lakukan analisis Anda secara sistematis seperti contoh dibawah ini. Termasuk sistem penomorannya agar lebih mudah diidentifikasi.

      1. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.
      1.1. Analisis potensi bahaya
      1.1.1.
      1.1.2.
      1.1.3.
      dst.

      1.2. Pengendalian potensi bahaya
      1.2.1.
      1.2.2.
      1.2.3.
      dst.

      2. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah.
      2.1. Analisis potensi bahaya
      2.1.1.
      2.1.2.
      2.1.3.
      dst.

      2.2. Pengendalian potensi bahaya
      2.2.1.
      2.2.2.
      2.2.3.
      dst.

      Klik “Reply” dibawah ini untuk memperbaiki tugas anda kembali.

      • RHEZA RIDWAN NURROCHMAN (TUGAS PERBAIKAN)
        13 October 2015 / 10:33

        1. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.

        1.1. Analisis potensi bahaya

        1.1.1. Kontur tanah tidak stabil
        1.1.2. Bahan bangunan yg tidak tertata dengan rapi yang berserakan di lokasi kerja
        1.1.3. Alat pelindung diri yg tidak di gunakan oleh pekerja
        1.1.4. Terpapar matahari dengan suhu yang tinggi
        1.1.5. Scaffolding yang seadanya tidak memenuhi standar
        1.1.6. Bahaya dari gravitasi bumi
        1.1.7. Fatigue yang membuat pekerja tidak konsentrasi saat bekerja

        1.2. Pengendalian potensi bahaya

        1.2.1. Sebaiknya permukaan yang tidak rata tersebut diratakan terlebih dahulu agar scaffolding tidak goyang
        1.2.2. Bahan bangunan yang berserakan lebih baik disusun dahulu agar tidak mengganggu akses jalan bagi para pekerja
        1.2.3. Pekerja harus menggunkan alat pelindung diri seperti sarung tangan sehingga tidak menimbulkan alergi yang di sebabkan oleh semen
        1.2.4. Membuat tenda darurat agar matahari tidak langsung mengenai pekerja serta di dukung dengan pakaian lengan panjang dan helm agar tidak terpapar sinar matahari secara langsung
        1.2.5. Memasang handrail di scaffolding agar pekerja dapat berpegangan
        1.2.6. Menggunakan body harness , agar menghambat pekerja jika terjatuh
        1.2.7. Pengaturan jam kerja dan jam istirahat dengan baik

        2. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah.

        2.1. Analisi potensi bahaya

        2.1.1. Cuaca extreme
        2.1.2. Jatuh dari ketinggian
        2.1.3. Bahan material yang jatuh dari atas
        2.1.4. Fatigue yang dapat membahayakan bagi pekerja tersebut
        2.1.5. Scaffolding yang tidak baik pemasangannya
        2.1.6. Suhu udara yang panas

        2.2. pengendalian potensi bahaya

        2.2.1. Menghentikan pekerjaan jika cuaca mulai buruk
        2.2.2. Menggunakan body harness dan memasang handrail di belakang scaffolding
        2.2.3. Memasang jaring di sekitar scaffolding agar bahan material yang jatuh tidak terlempar /terjatuh dan melukai pekerja yang ada di bawah
        2.2.4. Pengaturan pergantian jam kerja yg baik
        2.2.5. Memeriksa scaffolding jika ingin melakukan pekerjaan , pastikan scaffolding terpasang dengan baik dan memenuhi standar kelayakan pemakaian
        2.2.6. Pekerja menggunakan pakaian lengan panjang dan helm agar tidak terpapar sinar matahari secara langsung

        Rheza Ridwan Nurrochman
        13.11.106.701501.0896
        B2 d4K3 semester v

  31. Tugas III
    1. Pekerjaan pemasangan bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.
    A. analisis potensi bahaya
    -Bahaya fisika dapat atau bahaya gravitasi pekerja terjatuh dari ketinggian
    -struktur tanah yang tidak rata, sehingga saat mendirikan scaffolding goyang dan ambruk.
    -material batu bata yang berada diatas scaffolding terjatuh. Dan melukai pekerja yang berada di bawahnya.
    -terdapat kemungkinan bahaya yang dating dari binatang seperti: ular, kelabang yang berasal dari material yang di tumpuk di lokasi tempat kerja .
    -paparan sinar matahari yang mengganggu pekerja, karena panas dan mengakibatkan menurunnya daya konsentrasi dan dehidrasi.
    -debu yang terdapat di sekitar area kerja , debu yang berasal dari tadi ataupun material bangunan yang bias menganggu system pernapasan dan kepedihan di mata.
    b. pengendalian potensi bahaya
    -melengkapi scaffolding dengan penutup yang kuat, sehingga tidak ada pijakan tempat pekerja yang berlubang dan menyebab kan terjatuhnya para pekerja.
    -Tidak menaruh bata pada scaffolding atau pekerja dapat memasang pagar atau penghalang yang memungkinkan bata tidak langsung jatuh kebawah dan dapat mencederai pekerja.
    – Dari kesadaran diri masing-masing para pekerja untuk menjaga kebersihan pakaian kerjanya.
    -memastikan kaitan sambungan scaffolding terpasang dengan kuat. Dan jangan menggunakan scaffolding yang sdh tidak layak pakai ( karat)
    -penyediaan APD dengan masker anti debu, serta menyiram area tempat kerja ,sebelum pekerjaan berlangsung untuk menguramgi debu.
    -menyediakan air minum bagi para pekerja.
    -merapikan area tempat kerja serta membersihkan sehingga gangguan dari binatang dapat di kendalikan.
    -memberikan jam istirahat yang cukup agar para pekerja tdk kelelahan dan stress.
    2. Pekerjaan pemasangan bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.
    Hampir sama dengan pekerjaan pada no. 1, tetapi ada beberapa pekerjaan
    . analisa potensi Bahaya
    -adanya debu yang berada pada area kerja yang menganggu kesehatan para pekerja
    -dan pada pekerjaan gedung bertingkat dapat mengakibatkan pekerja terjatuh yang menyebabkan fatality
    -benda atau material kerja atau bata yang bias terjatuh dan menimpa pekerja yang berada di bawahnya
    -penggunaan alat-alat yang sesuai dengan pekerjaan gedung bertingkat seperti crane .
    -keluar masuk kendaraan penganggkut material.
    -jamur ,karena pakaian pekerja yang tidak di ganti
    -kemungkinan ambruknya scaffolding
    – sinar matahari yang menyebabkan dehidrasi karena cuaca panas
    – stress dan fatique karena tekanan kerjaan yang harus di selesaikan
    b. pengendalian potensi bahaya
    – melengkapi pekerja dengan masker anti debu, untuk mengurangi paparan debu terhadap pekerja,
    Membuat perancah atau andang dengan struktur yang kuat, jangan sampai adanya lubang yang terdapat di papan perancah yang dapat memungkinkan kaki pekerja terperosok ataumungkin saja tergelincir.
    – Untuk konstruksi yang menggunakan batu bata merah sebaiknya tidak memasangnya melebihi 1 meter untuk menghindari kemungkinan robohnya dinding karena tinggi belum terlalu kuat.
    -membuat jalan untuk kendaraan material yang masuk sehingga tidak menggangu scaffolding yang di gunakan untuk pengerjaan bangunan.
    – memberitahukan kepada pekerja agar membudayakan kebersihan diri sendiri dalam bekerja dengan cara menyuruh untuk mengganti pakaian kerja sehari sekali atau di beri seragam lebih dari satu untuk mengganti.
    -penyediaan air minum agar tidak dehidrasi.
    -jam kerja yang diatur sehingga pekerja tidak fatigue dalam bekerja dan hiburan yang diadakan guna menghindari stress akibat kerja.
    -menyediakan body harness jika perkejaan di ketinggian lebih dari 3 meter.
    -APD seperti: helm. Sarung tangan, sepatu safety
    -operator alat yang di tugaskan haruslah yang memiliki ijin resmi atau sudah teruji seperti SIO crane. Atau sertificate crane
    Nama : Siti Rohana
    Kelas : B2
    Semester : V
    NIM : 13.11.106.701501.0918

    • Jangan membuat posting baru untuk perbaikan tugas yang sudah ada, tetapi kliklah “Reply” dibawah komentar Dosen pada tugas awal yang salah tersebut, hal ini agar dapat ditelusuri proses perbaikannya.

      • TUGAS 3

        1. Pekerjaan pemasangan bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.

        1.1 analisis potensi bahaya

        1.1.2 bahaya gravitasi pekerja terjatuh dari ketinggian
        1.1.3 truktur tanah yang tidak rata, sehingga saat mendirikan scaffolding goyang dan ambruk.
        1.1.4 material batu bata yang berada diatas scaffolding terjatuh. Dan melukai pekerja yang berada di bawahnya.
        1.1.5 terdapat kemungkinan bahaya yang dating dari binatang seperti: ular, kelabang yang berasal dari material yang di tumpuk di lokasi tempat kerja .
        1.1.6 paparan sinar matahari yang mengganggu pekerja, karena panas dan mengakibatkan menurunnya daya konsentrasi dan dehidrasi.
        1.1.7 debu yang terdapat di sekitar area kerja , debu yang berasal dari tadi ataupun material bangunan yang bias menganggu system pernapasan dan kepedihan di mata.
        1.8 stress dan fatugue karena tekanan kerja dan pekerjaan yang harus selesai pada waktu yang sudah diberikan oleh atasan.

        1.2. pengendalian potensi bahaya

        1.2.1 melengkapi scaffolding dengan penutup yang kuat, sehingga tidak ada pijakan tempat pekerja yang berlubang dan menyebab kan terjatuhnya para pekerja.
        1.2.2 Tidak menaruh bata pada scaffolding atau pekerja dapat memasang pagar atau penghalang yang memungkinkan bata tidak langsung jatuh kebawah dan dapat mencederai pekerja.
        1.2.3 memastikan kaitan sambungan scaffolding terpasang dengan kuat. Dan jangan menggunakan scaffolding yang sdh tidak layak pakai ( karat)
        1.2.4 melengkapi para pekerja dengan helm, agar menghindari cidera pada kepala saat ada material yang terjatuh.
        1.2.5 merapikan area tempat kerja serta membersihkan sehingga gangguan dari binatang dapat di kendalikan
        1.2.6 menyediakan air minum bagi para pekerja.
        1.2.7 melengkapi para pekerja dengan masker anti debu.
        1.2.8 memberikan jam istirahat yang cukup agar para pekerja tdk kelelahan dan stress.

        2. Pekerjaan pemasangan bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.
        Hampir sama dengan pekerjaan pada no. 1, tetapi ada beberapa pekerjaan.

        2.1 analisa potensi Bahaya

        2.1.1 adanya debu yang berada pada area kerja yang menganggu kesehatan para pekerja
        2.1.2 dan pada pekerjaan gedung bertingkat dapat mengakibatkan pekerja terjatuh yang menyebabkan fatality dan kemungkinan meninggal dunia
        2.1.3 benda atau material kerja atau bata yang bias terjatuh dan menimpa pekerja yang berada di bawahnya
        2.1.4 penggunaan alat-alat yang sesuai dengan pekerjaan gedung bertingkat seperti crane .
        2.1.5 keluar masuk kendaraan penganggkut material.
        2.1.6 jamur ,karena pakaian pekerja yang tidak di ganti
        2.1.7 kemungkinan ambruknya scaffolding
        2.1.8 sinar matahari yang menyebabkan dehidrasi karena cuaca panas
        2.1.9 stress dan fatique karena tekanan kerjaan yang harus di selesaikan

        2.2 pengendalian potensi bahaya

        2.2.1 melengkapi pekerja dengan masker anti debu, untuk mengurangi paparan debu terhadap pekerja,
        2.2.2 Membuat perancah atau andang dengan struktur yang kuat, jangan sampai adanya lubang yang terdapat di papan perancah yang dapat memungkinkan kaki pekerja terperosok ataumungkin saja tergelincir.
        2.2.2 .1 Untuk konstruksi yang menggunakan batu bata merah sebaiknya tidak memasangnya melebihi 1 meter untuk menghindari kemungkinan robohnya dinding karena tinggi belum terlalu kuat.
        2.2.2.2 pada pekerejaan di gedung bertingkat dengan ketingian lebih dari 3 meter diatas permukaan tanah harus di lengkapi dengan body harness.
        2.2.3 melengkapi para pekerja dengan helm, agar dapat megurangi resiko cidera para pada kepala saat ada material yang terjatuh dari atas.
        2.2.4 mengecek alat berat yang di pakai seperti crane apakah masih layak pakai. Dan memperkerjakan operator crane haruslah yang memiliki SIO ( surat ijin operasi ) atau tang telah tersertifikasi dan terlatih membawa crane.
        2.2.5 membuat jalan untuk kendaraan proyek yang membawa material agar tidak mengaggngu pekerjaan yang sedang berlangsung.
        2.2.6 memberitahukan kepada pekerja agar membudayakan kebersihan diri sendiri dalam bekerja dengan cara menyuruh untuk mengganti pakaian kerja sehari sekali atau di beri seragam lebih dari satu untuk mengganti.

        2.2.7 memastikan serta memeriksa sambungan scaffolding dan papan pikajan apakah sudah terpasang dengan benar dan kuat, agar scaffolding tidak ambruk.
        2.2.8 penyediaan air minum agar tidak dehidrasi.
        2.2.9 jam kerja yang diatur sehingga pekerja tidak fatigue dalam bekerja dan hiburan yang diadakan guna menghindari stress akibat kerja.

        Nama : Siti Rohana
        Kelas : B2
        Semester : V
        NIM : 13.11.106.701501.0918

  32. Pekerjaan pemasangan batu bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.
    A. Analisis potensi bahaya
    1.Bahaya fisika berupa gravitasi yang dapat menyebabkan para pekerja terjatuh dari ketinggian.
    2.Cuaca yang panas atau terik matahari pada saat bekerja dapat mengurangi fokus dan konsentrasi pekerja,dan juga efek dari matahari tersebut dapat membakar kulit karena paparan dari panas matahari tersebut.
    3.Selain cuaca yang panas, debu yang berasal dari proses pembangunan juga dapat mengganggu saluran pernafasan.
    4.Para pekerja juga dapat sewaktu – waktu saja terjatuh dari perancah tersebut.
    5 Pakaian para pekerja yang kemungkinan tidak nyaman dikenakan karena keringat, virus, bakteri dan juga jamur yang dikarenakan baju tersebut tidak pernah diganti.
    6 Adanya binatang-binatang seperti kalajengking, ular, kelabang yang terdapat di bongkahan material di area kerja.
    7.Para pekerja yang kemungkinan mengalami fatique atau kelelahan dan memungkin juga stress akibat dehidrasi yang dikarenakan lingkungan tempat bekerja yang panas ,stres,kekerasan ,emosi negatif.
    8.Bahaya biomekanik seperti gerakan berulang,postur atau posisi kerja , pengangkatan manual atau desain tempat kerja.
    Pengendalian potensi bahaya.
    1.Alat Pelindung Diri (APD) bagi tenaga kerja yang bekerja pada ketinggian, dan Scaffolding atau perancah. Setiap pekerjaan pada ketinggian harus sesuai dengan dengan prosedur, menggunakan alat perlindungan diri dan sarana pendukung yaitu scaffolding. Pelaksanaan pekerjaan sesuai dengan prosedur kerja sehingga pekerjaan dapat berjalan dengan teratur dan aman tanpa terjadi kecelakaan kerja
    2.Postur tubuh yang sesuai dan alami saat bekerja saperti tidak terlalu lama membungkuk dan tidak dalam posisi jongkok terlalu lama dalam bekerja,harus ergonomi.
    3.Memperhatikan jam kerja dengan tidak lebih dari 8 jam per hari agar pekerja tidak merasa kelelahan atau fatique.
    4.Menggunakan APD yang sesuai dengan pekerjaan seperti Masker, sepatu, sarung tangan, dan Kacamata agar dapat untuk melindungi para pekerja dari terpaparnya debu dari suatu pekerjaan dan tertimpa bahan bangunan.
    5. Meletakan bahan material bangunan yang di gunakan di tempat yang tidak menyebabkan material bangunan jatuh dan ditempat yang mudah di jangkau pekerja (dengan cara melakukan housekeeping)
    6.Membuat SOP tentang bagaimana tata cara bekerja dengan aman dan selamat di tempat kerja ketinggian.
    7. Melakukan pengawasan terhadap pekerja yang bekerja di ketinggian
    8 Memiliki izin dalam melakukan pekerjaan yang mengunakan scaffolding
    9.Mengadakan pembagian waktu bekerja berdasarkan waktu tertentu/ sistem shift bagi para pekerjanya
    10.Memposisikan tubuh dan disetiap gerakkan pada posisi yang ergonomis, tidak jongkok,
    Nama : Agustinah
    NPM : 13.11.106.701501.0817
    Semester : V
    Kelas : B2

    • Tugas anda masih salah. Lagipula jangan membuat posting baru untuk perbaikan tugas yang sudah ada, tetapi kliklah “Reply” dibawah komentar Dosen pada tugas awal yang salah tersebut, hal ini agar dapat ditelusuri proses perbaikannya.

  33. Menurut yang saya dapat ialah :
    1. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.
    1.1 Analisis potensi bayaha
    1.1.1. Bahaya fisika :Gravitasi, bekerja hingga di ketinggian 3;00 meter untuk memasang bata bata merah, Radiasi, suhu yang panas, karena terpapar dari sinar matahari.
    1.1.2. Bahaya kimia :Debu, karena terpapar dari bata bata merah yang dipasang.
    1.1.3. Bahaya biologi :Baju, karena keringat yang dihasilkan menjadi bakteri ketubuh.
    1.1.4. Bahaya psikososial : Fatigue, karena pekerjaan tersebut membutuhkan tenaga yang extra. Stress, karena bekerja di area yang lingkungannya tidak bersih.
    1.1.5. Bahaya lingkungan : kemiringan tanah, banyak bebatuan di pondasi skaffolding.
    1.2. Pengendalian potensi bahaya
    1.2.1. memakai papan dan tiang yang lebih kokoh untuk skaffolding yang dipakai pekerja berpijak.
    1.2.2. inspeksi/pengecekan scaffolding secara rutin agar bahaya dapat diminimalisir.
    1.2.3. meletakan scaffiolding ditempat yang rata dan padat agar tidak bergoyang dan mampu menahan beban berat sipekerja.
    1.2.4. memberikan tempat istirahat sipekerja yang terhindar dari paparan sinar matahari.
    1.2.5. memberikan si pekerja pakaian yang bersih yang digunakan pada saat bekerja.
    1.2.6. membuat JSA untuk sipekerja agar mengetahui alur dan tahapan pada saat bekerja.
    1.2.7. selalu mengadakan safety talk sebelum melakukan pekerjaan.
    1.2.8. menyarankan agar selalu meggunakan APD seperti masker, safety helmet, safety shoes, safety glasse, dan sarung tangan.
    2. Pekerjaan pemasangan bata-bata merah untuk gendung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah.
    2.1 Analisis potensi bahaya
    2.1.1. Bahaya fisika :Gravitasi, bekerjahingga di ketinggian 3;00 meter untuk memasang bata bata merah, Radiasi, suhu yang panas, karena terpapar dari sinar matahari.
    2.1.2. Bahaya kimia :Debu, karena terpapar dari bata bata merah yang dipasang.
    2.1.3. Bahaya biologi :Baju, karena keringat yang dihasilkan menjadi bakteri ketubuh.
    2.1.4.Bahaya psikososial : Fatigue, karena pekerjaan tersebut membutuhkan tenaga yang extra. Stress, karena bekerja di area yang lingkungannya tidak bersih.
    2.1.5. Bahaya lingkungan : kemiringan tanah, banyak bebatuan di pondasi scaffolding.
    2.2 Pengendalian potensi bahaya.
    2.2.1. memakai papan dan tiang yang lebih kokoh untuk skaffolding yang dipakai pekerja berpijak.
    2.2.2. inspeksi/pengecekan scaffolding secara rutin agar bahaya dapat diminimalisir.
    2.2.3. meletakan scaffiolding ditempat yang rata dan padat agar tidak bergoyang dan mampu menahan beban berat sipekerja.
    2.2.4. memberikan tempat istirahat sipekerja yang terhindar dari paparan sinar matahari.
    2.2.5. memberikan pelatihan sipekerja bagaimana cara bekerja ditempat ketinggian dengan benar.
    2.2.6. memberikan sipekerja pakaian yang bersih yang digunakan pada saat bekerja.
    2.2.7. membuat JSA untuk sipekerja agar mengetahui alur dan tahapan pada saat bekerja.
    2.2.8. selalu mengadakan safety talk sebelum melakukan pekerjaan.
    2.2.9. menyarankan agar selalu meggunakan APD seperti masker, safety helmet, safety shoes, safety glasse, dan sarung tangan.
    2.2.10. memastikan sipekerja harus selalu menggunakan body harnes, dan pastikan inspeksi body harnes masih layak pakai atau tidak.
    NAMA : RIZKY SEPTIAN
    NIM : 13.11.106.701501.0897
    SEMESTER : V (LIMA)
    KELAS : B2

    • Jangan membuat posting baru untuk perbaikan tugas yang sudah ada, tetapi kliklah “Reply” dibawah komentar Dosen pada tugas awal yang salah tersebut, hal ini agar dapat ditelusuri proses perbaikannya.

      • Menurut yang saya dapat ialah :
        1. Pekerjaan pemasangan bata-bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.
        1.1 Analisis potensi bayaha
        1.1.1. Bahaya fisika :Gravitasi, pekerja terjatuh dari ketinggian, radiasi dari suhu panas sinar matahari .
        1.1.2. Bahaya kimia :Debu yang terhirup dan iritasi pada mata yang timbul dari pemasangan bata-bata merah.
        1.1.3. Bahaya biologi :Baju, karena keringat yang dihasilkan menjadi bakteri ketubuh.
        1.1.4. Bahaya psikososial : Fatigue, karena pekerjaan tersebut membutuhkan tenaga yang extra. Stress, karena bekerja di area yang lingkungannya tidak bersih.
        1.1.5. Bahaya lingkungan : kemiringan tanah dan banyak bebatuan di pondasi scaffolding yang bisa membuat scaffolding gampang bergoyang, memungkinan adanya binatang yang menganggu para pekerja dari tumpukan bata-bata merah.

        1.2. Pengendalian potensi bahaya
        1.2.1. Memakai scaffolding yang aman untuk pekerja agar meminimalisir terjatuhnya pekerja saat memasang bata-bata merah dan memakai papan dan tiang yang lebih kokoh agar aman untuk berpijak, memberikan air minum dan safety helmet untuk mengurangi radiasi suhu panas matahari, membuat JSA untuk para pekerja agar mengetahui tahapan pada saat bekerja.

        1.2.2. Selalu menggunakan masker dan safety glasses agar debu tidak terpapar ke hidung dan mata.
        1.2.3. Memberikan para pekerja pakaian peganti yang bersih untuk digunakan pada saat bekerja.
        1.2.4. Memberikan jam istirahat yang cukup untuk para pekerja dan instruksikan kepada pekerja harus selalu mebersihkan area lingkungan kerja pada saat selesai bekerja.
        1.2.5. Menempatkan scaffolding ditempat yang rata dan menyingkirkan bebatuan agar pondasi scaffolding tidak bergoyang serta inspeksi area sekitar kerja agar dapat memastikan area kerja terlindung dari binatang.

        2. Pekerjaan pemasangan bata-bata merah untuk gendung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah.
        2.1 Analisis potensi bahaya
        2.1.1. Bahaya fisika : Gravitasi, potensi fatality lebih besar apabila terjatuh karena bekerja diatas 3;00 meter, Radiasi suhu yang panas karena terpapar dari sinar matahari serta potensi rubuhnya scaffolding lebih besar.
        2.1.2. Bahaya kimia :Debu dari lingkungan dan bata-bata merah akan terhirup serta terkena mata yang bisa mengakibatkan kesehatan pekerja terganggu.
        2.1.3. Bahaya biologi :Baju, karena keringat yang dihasilkan menjadi bakteri ketubuh.
        2.1.4.Bahaya psikososial : Fatigue dan stres karena pekerjaan tersebut membutuhkan tenaga yang extra, mental terganggu lebih besar karena di ketinggian diatas 3,00 meter, serta tekanan dari pimpinan proyek kontruksi.
        2.1.5. Bahaya lingkungan : kemiringan tanah, banyak bebatuan di pondasi scaffolding,

        2.2 Pengendalian potensi bahaya.
        2.2.1. Memastikan para pekerja harus selalu menggunakan body harness dan pastikan inspeksi body harnes masih layak pakai atau tidak, menyarankan agar selalu meggunakan APD seperti safety helmet, safety shoes dan sarung tangan, inspeksi scaffolding sebelum digunakan agar potensi ambruknya scaffolding dapat dihindari, selalu mengadakan safety talk sebelum melakukan pekerjaan.
        2.2.2. Selalu menggunakan masker dan safety glasses agar debu tidak terpapar ke hidung dan mata..
        2.2.3. Memberikan para pekerja pakaian peganti yang bersih untuk digunakan pada saat bekerja.
        2.2.4. Memberikan tempat istirahat sipekerja yang terhindar dari paparan sinar matahari, memberikan pelatihan bagaimana cara bekerja ditempat ketinggian dengan benar dan aman serta hiburan agar pekerja tidak stres.
        2.2.5. Meratakan tanah yang akan di pakai untuk pondasi scaffolding atau memindahkan scaffiolding ditempat yang rata dan padat agar tidak bergoyang dan mampu menahan beban berat pekerja serta membersihkan area pondasi dari bebatuan fungsinya untuk memudahkan peletakan scafolding.

        NAMA : RIZKY SEPTIAN
        NPM : 13.11.106.701501.0897
        SEMESTER : V
        KELAS : B2 (MALAM)

  34. #Tugas3 Keselamatan Konstruksi
    1. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari ermukaan tanah :
    a. Analisa Potensi Bahaya :
    1. Bahaya fisika : gravitasi, radiasi dan suhu
    2. Bahaya Kimia : debu semen
    3. Bahaya Lingkungan : permukaan tanah yang tidak rata dan bencana alam
    4. Bahaya Biologi : bakteri dan binatang
    5. Bahaya Psikososial : beban kerja, fatique dan usia
    b. Pengendalian Potensi Bahaya
    1. Bahaya Fisika :
    – gunakan full body harness untuk mencegah pekerja terjatuh dari ketinggian 3 meter
    – suhu tinggi mempengaruhi produkfitas pekerja membuat pekerja cepat lelah. Perlunya pengaturan waktu bekerja dan waktu istirahat bagi para pekerja.
    -mencegah paparan radiasi yang berlebih dengan membuat canopy sementra bagi para pekerja.
    – gunakan alat penunjang keselamatan pekerja seperti safety shoes, helm, sarung tangan dan kacamata.
    2. Bahaya Kimia :
    – mengetahui bahan – bahan berbahaya kimia dan beracun serta tindakan penangananya disertai dengan penggunaan APD yang sesuai standar
    3. Bahaya Lingkungan :
    – melakukan pengecekan kondisi tanah kemudian memastikan tanah rata dan stabil.
    – memastikan tidak adanya hewan berbahaya seperti kalajengking, ular dan binatang berbahaya lainnya di area kerja.
    4. Bahaya Biologi :
    – kondisi pakaian pekerja yang berkeringat menimbulkan bakteri yang menyebabkan penyakit kulit perlunya penyediaan pakaian khusus bagi para pekerja.
    5. Bahaya psikososial :
    – pengaturan jam kerja untuk mengurangi resiko fatique pada pekerja.
    – memberikan jenis pekerjaan harus sesuai umur dan pengalaman bekerja.
    2. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah :
    a. Analisa Potensi Bahaya
    1. Bahaya Fisika : gravitasi, radiasi dan suhu
    2. Bahaya Kimia: debu semen
    3. Bahaya Lingkungan : permukaan tanah yg tidak rata
    4. Bahaya Biologi : bakteri dan binatang
    5. Bahaya psikososial : beban kerja fatique dan usia
    b. Pengendalian Potensi bahaya
    1. Bahaya Fisika :
    – gunakan full body harness untuk mencegah pekerja terjatuh dari ketinggian 3 meter
    – suhu tinggi mempengaruhi produkfitas pekerja membuat pekerja cepat lelah. Perlunya pengaturan waktu bekerja dan waktu istirahat bagi para pekerja.
    -mencegah paparan radiasi yang berlebih dengan membuat canopy sementara bagi para pekerja.
    – gunakan alat penunjang keselamatan pekerja seperti safety shoes, helm, sarung tangan dan kacamata.
    2. bahaya kimia :
    – mengetahui bahan – bahan berbahaya kimia dan beracun serta tindakan penangananya disertai dengan penggunaan APD yang sesuai standar.
    3. Bahaya Lingkungan :
    – melakukan pengecekan kondisi tanah kemudian memastikan tanah rata dan stabil.
    4. Bahaya Biologi :
    – kondisi pakaian pekerja yang berkeringat menimbulkan bakteri yang menyebabkan penyakit kulit perlunya penyediaan pakaian khusus bagi para pekerja.
    – memastikan tidak adanya hewan berbahaya seperti kalajengking, ular dan binatang berbahaya lainnya di area kerja.
    5. Bahaya Psikososial :
    – pengaturan jam kerja untuk mengurangi resiko fatique pada pekerja.
    – memberikan jenis pekerjaan harus sesuai umur dan pengalaman bekerja.

    • Tugas anda masih salah. Lagipula jangan membuat posting baru untuk perbaikan tugas yang sudah ada, tetapi kliklah “Reply” dibawah komentar Dosen pada tugas yang salah tersebut, hal ini agar dapat ditelusuri proses perbaikannya.

      • 1. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.
        1.1 Analisis potensi bahaya
        a. Bahaya Fisika
        – Radiasi : Pekerja yang secara langsung kontak dengan paparan sinar matahari.
        – Suhu : pekerjaan yang dilaksanakan di siang hari dapat dipastikan memiliki suhu di area kerja tinggi
        – Pergerakan : Pergerakan penyemenan dan pemasangan batu bata.
        – Gelombang Suara : Kebisingan yang ditimbulkan dari suara mesin molen.
        – Gravitasi : pekerjaan yang dilakukan pada ketinggian 3,00 meter.

        b. Bahaya Kimia
        – Material beracun : berasal dari material seperti debu semen dan korosi peralatan kerja.
        – Debu : Debu yang berasal dari pasir dan batu bata merah.

        c. Bahaya Biologi
        – Bakteri : bakteri yang berasal dari keringat pekerja yang melekat pada pakaian pekerja.
        – Binatang : binatang yang berasal dari lingkungan area kerja.

        d. Bahaya Mekanik
        – Putaran mesin molen

        e. Bahaya Psikososial
        – Fatique : kurangnya jedah antara bekerja dan waktu istirahat.
        – Beban kerja : pekerja harus menyelesaikan pekerjaan sampai batas waktu yang telah di tentukan.

        f. Bahaya Lingkungan
        – Kondisi tanah yang tidak stabil

        1.2 Pengendalian potensi bahaya
        1.2.1. Bahaya Fisika
        a. Pemasangan handrail dan midrail pada perancah.
        b. Memberikan APD yang layak dan sesuai dengan jenis pekerjaan.
        c. Membuat JSA dan SOP pada pekerjaan yang akan dikerjakan dan menjelaskan setiap rincian dari SOP dan JSA tersebut.
        d. Memberikan pelatihan kepada setiap pekerja, sebelum pekerja melakukan pekerjaan.

        1.2.2. Bahaya Kimia
        a. Memberikan APD berupa masker, sepatu safety, sarung tangan dan kacamata.
        b. Pengenalan bahan material berbahaya serta cara pengendaliannya.

        1.2.3. Bahaya Biologi
        a. Memberikan pakaian khusus ke pekerja untuk menghindari berkembangnya bakteri yang dapat menyebabkan penyakit kulit.
        b. Pendataan terhadap binatang berbahaya yang ada di area kerja dan mensosialisasikan kepada pekerja dengan harapan pekerja dapat mengenali bahaya binatang di area kerja.

        1.2.4. Bahaya Mekanik
        a. Membuat SOP dann JSA pada pekerjaan yang berhubungan dengan mesin molen.

        1.2.5. Bahaya Psikososial
        a. Pengaturan shift kerja sesuai jam kerja dengan jumlah pekerja.
        b. Mengatur waktu bekerja dan waktu beristirahat bagi pekerja.

        1.2.6. Bahaya Lingkungan
        a. Memastikan kondisi tanah stabil dan layak sebelum melakukan pekerjaan.

        2. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah.

        2.1 Analisis potensi bahaya
        a. Bahaya fisika
        – Gelombang Suara : Kebisingan yang ditimbulkan dari suara mesin molen.
        – Gravitasi : pekerjaan yang dilakukan pada ketinggian 3,00 meter.
        – Radiasi : Pekerja yang secara langsung kontak dengan paparan sinar matahari.
        – Suhu : pekerjaan yang dilaksanakan di siang hari dapat dipastikan memiliki suhu di area kerja tinggi
        – Pergerakan : Pergerakan penyemenan dan pemasangan batu bata.

        b. Bahaya Kimia
        – Material beracun : berasal dari material seperti debu semen dan korosi peralatan kerja.
        – Debu : Debu yang berasal dari pasir dan batu bata merah.

        c. Bahaya Biologi
        – Bakteri : bakteri yang berasal dari keringat pekerja yang melekat pada pakaian pekerja.
        – Binatang : binatang yang berasal dari lingkungan area kerja.

        d.Bahaya Mekanik
        – Putaran mesin molen.

        e. Bahaya Psikososial
        – Fatique : kurangnya jedah antara bekerja dan waktu istirahat.
        – Beban kerja : pekerja harus menyelesaikan pekerjaan sampai batas waktu yang telah di tentukan.

        f. Bahaya Lingkungan
        – Kondisi tanah tidak stabil

        2.2 Pengendalian potensi bahaya
        2.2.1. Bahaya Fisika
        a. Pemasangan handrail dan midrail pada perancah.
        b. Memberikan APD yang layak dan sesuai dengan jenis pekerjaan.
        c. Membuat JSA dan SOP pada pekerjaan yang akan dikerjakan dan menjelaskan setiap rincian dari SOP dan JSA tersebut.
        d. Memberikan pelatihan kepada setiap pekerja, sebelum pekerja melakukan pekerjaan.
        e. Membuat jaring penahan disekitar gedung, berfungsi sebagai penahan apabila ada pekerja atau material yang terjatuh agar tidak menimpa sesuatu dibawahnya.
        f. Tinggi pasangan batu bata dikerjakan maksimum 1 meter agar tidak roboh.

        2.2.2. Bahaya Kimia
        a. Memberikan APD berupa masker, sepatu safety, sarung tangan dan kacamata.
        b. Pengenalan bahan material berbahaya serta cara pengendaliannya.

        2.2.3. Bahaya Biologi
        a. Memberikan pakaian khusus ke pekerja untuk menghindari berkembangnya bakteri yang dapat menyebabkan penyakit kulit.
        b. Pendataan terhadap binatang berbahaya yang ada di area kerja dan mensosialisasikan kepada pekerja dengan harapan pekerja dapat mengenali bahaya binatang apa saja yang ada di area kerja.
        c. Pemberian seragam yang bersih kepada pekerja dengan rutin pergantian minimal setiap harinya.

        2.2.4. Bahaya Mekanik
        a. Membuat SOP dann JSA pada pekerjaan yang berhubungan dengan mesin molen.

        2.2.5. Bahaya Psikososial
        a. Melakukan safety briefing setiap memulai pekerjaan di setiap harinya.
        b. Pengaturan shift kerja sesuai jam kerja dengan jumlah pekerja.
        c. Mengatur waktu bekerja dan waktu beristirahat bagi pekerja.

        2.2.6. Bahaya Lingkungan
        a. Memastikan kondisi tanah stabil dan layak sebelum melakukan pekerjaan.
        b. Pekerjaan wajib dihentikan apabila cuaca hujan atau dalam kondisi yang tidak memungkinkan

        Nama : Muhammmad Faisal Mahmud

        NPM : 13.11.106.701501.0920

        Semester : V (Lima)

        Kelas : B2

  35. 1. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai 3 meter dari permukaan tanah.
    Analisa potensi bahaya :
    – bahaya fisiska, (ketinggian, pergerakan atau perpindahan benda, sinar matahari, )
    * posisi pekerja yang berada diatas scaffolding dan benda benda lain, seperti mataerial dan peralatan kerja, memiliki potensi terjatuh.
    * paparan sinar matahari langsung, dapat berpotensi merusak indra penglihatan pekerja.
    * debu yang berpotensi berakibat terjadi gangguan pernafasan.
    – Bahaya biologi ( bakteri, dan makhluk hidup lainnya)
    * bakteri yang menempel pada tubuh pekerja dapat berpotensi mengakibatkan penyakit kulit.
    -bahaya Psikososial
    * faktor capek, atau kelelahan, yg diakibatkan kerja melebihi jam kerja dengan waktu istirahat yang tidak teratur.
    -bahaya lingkungan
    * kondisi disekitar area kerja yang berserakan.
    -bahaya kimia
    * adukan semen
    >> Pengendalian potensi bahaya :
    – perkuat pondasi dan atap scaffolding yang digunakan dan lengkapi dengan pagar pengaman.
    – gunakan APD dengan benar,baik dan lengkap
    – buatkan SOP
    – atur jwaktu kerja, waktu istirhat sesuai dengan prosedur kerja yang sudah ditetapkan.
    2. Analisa pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung di atas 3 meter dari permukaan tanah.
    Analisa potensi bahaya :
    -bahaya ketinggian
    – bahaya bakteri
    – bahaya paparan sinar matahari
    – bahaya material adukan semen
    >> Pengendalian potensi bahaya:
    – singkirkan benda benda yang belum akan dipakai dari area atap scaffolding, untuk menghilangkan resiko kejatuhan benda dan mengurangi bebean scaffolding.
    – perkuat pondasi scaffolding yang digunakan dan lengkapi dengan pagar pelindung jatuh.
    – berikan SOP pada pekerja
    – singkirkan benda benda yang berserakan diarea kerja yang dapat mengakibatkan terjatuhnya pekerja saat melintas
    – pasang tanda larangan untuk orang yang tidak berkepentingan dilarang berada di area kerja.
    -pastikan menggunakan APD yang sesuan dengan baik dan benar.
    Nama: Ruddy Prannoto
    NIM : 13.11.106.701501.0911
    Semester : V (Lima)
    Kelas : B2

    • Tugas anda masih salah. Lagipula jangan membuat posting baru untuk perbaikan tugas yang sudah ada, tetapi kliklah “Reply” dibawah komentar Dosen pada tugas yang salah tersebut, hal ini agar dapat ditelusuri proses perbaikannya.

  36. 1. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.
    1.1 Analisis potensi bahaya
    a.) Bahaya Fisika
    – Gravitasi : Bekerja di ketinggian 3,00 meter ; Batu bata yang digunakan di ketinggian 3,00 meter dan/atau beban yang tergantung.
    – Radiasi : Paparan sinar matahari yang langsung kontak dengan para pekerja
    Suhu : Terik matahari yang bersuhu tinggi saat pekerjaan dilaksanakan siang hari
    – Pergerakan : Pergerakan pekerja saat pengambilan dan pemasangan batu bata merah serta penyemenan.
    – Gelombang Suara : Kebisingan yang ditimbulkan dari suara mesin.
    b.) Bahaya Kimia
    – Debu : Debu yang berasal dari batu bata merah dan bahan bangunan lainnya.
    – Bahan dan Material yang Beracun : berasal dari material tertentu.
    c.) Bahaya Biologi
    – Bakteri : Bakteri yang menempel pada pakaian serta peralatan pekerja dan di sekitar lingkungan kerja.
    – Binatang : Binatang yang berasal dari sekitar lingkungan kerja.
    d.) Bahaya Mekanik
    – Katrol.
    – Putaran Mesin Molen
    e.) Bahaya Psikososial
    – Fatigue : Kelelahan mental maupun fisik para pekerja.
    – Intimidasi : Tindakan pemaksaan atau pengancaman dengan kekuatan maupun kalimat yang dilakukan pekerja terhadap rekan kerjanya.
    – Stres : Ketidaksesuaian antara kondisi pekerjaan dengan kondisi biologis dan psikis pekerja. Atau, penekanan yang terjadi diakibatkan oleh antar sesama pekerja atau antara pekerja dengan pemimipinnya.
    f.) Bahaya Lingkungan
    – Kelembaban tempat kerja.
    – Kemiringan tanah pada tempat kerja, terutama daerah dimana diletakkannya perancah.
    1.2 Pengendalian potensi bahaya
    Bahaya Fisika
    a.) Pemasangan papan perancah (platform) atau toe board sebagai tempat berpijak pekerja.
    b.) Pemasangan handrail dan midrail pada scaffolding.
    c.) Inspeksi scaffolding secara rutin sebelum digunakan untuk memastikan scaffolding bebas dari keretakan, cacat permukaan dan pengunci atau clam berfungsi dengan baik.
    d.) Menempatkan scaffolding di permukaan tanah yang rata dan keras agar mampu menahan beban scaffolding dan beban di atasnya.
    e.) Memberikan PPE yang sesuai dan layak untuk pekerja seperti body harness, safety helmet, dsb.
    f.) Mengganti atau memilih bahan bangunan yang lebih ramah lingkungan dan memiliki resiko lebih rendah terhadap kesehatan pekerja.
    g.) Membuat SOP dan JSA pada setiap tahap pekerjaan dan disosialisasikan kepada pekerja.
    h.) Memberikan pelatihan dan pengetahuan dasar keselamatan agar pekerja dapat memahami dan lebih pedul akan keselamatan yang dimulai untuk dirinya terlebih dahulu.
    Bahaya Kimia
    a.) Penggunaan masker, kacamata safety, sepatu safety, serta sarung tangan agar terhindar dari bahaya iritasi, gangguan pernafasan, serta penglihatan.
    b.) Pendataan mengenai bahan material, terutama yang memiliki kandungan yang beracun.
    Bahaya Biologi
    a.) Pengawas yang dapat memperhatikan area pekerjaan
    b.) Pakaian khusus untuk pekerja untuk menghindari penyakit kulit yang ditimbulkan akibat pakaian yang kotor.
    c.) Pemberian seragam yang bersih kepada pekerja dengan rutin pergantian minimal setiap harinya.
    Bahaya Mekanik
    a.) Memilih katrol yang ergonomis terhadap pekerja agar dapat membantu mengangkat batu bata dan bahan material lainnya.
    Bahaya Psikososial
    a.) Pembagian beban kerja dan waktu istirahat yang benar karena kondisi suhu dilapangan sangan berpengaruh terhadap stamina dan energi pekerja.
    b.) Pengaturan shift kerja sesuai jam kerja dengan jumlah pekerja.
    c.) Melakukan safety briefing setiap memulai pekerjaan disetiap harinya.
    2. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah.
    2.1 Analisis potensi bahaya
    a) Bahaya fisika
    – Gravitasi : Bekerja di ketinggian 3,00 meter ; Batu bata yang digunakan di ketinggian 3,00 meter dan/atau beban yang tergantung.
    – Radiasi : Paparan sinar matahari yang langsung kontak dengan para pekerja
    – Suhu : Terik matahari yang bersuhu tinggi saat pekerjaan dilaksanakan siang hari
    – Pergerakan : Pergerakan pekerja saat pengambilan dan pemasangan batu bata merah serta penyemenan.
    – Gelombang Suara : Kebisingan yang ditimbulkan dari suara mesin pompa beton dari truk mixer.
    b.) Bahaya Kimia
    – Debu : Debu yang berasal dari batu bata merah dan bahan bangunan lainnya.
    – Bahan dan Material yang Beracun : berasal dari material tertentu.
    c.) Bahaya Biologi
    – Bakteri : Bakteri yang menempel pada pakaian serta peralatan pekerja dan di sekitar lingkungan kerja.
    Binatang : Binatang yang berasal dari sekitar lingkungan kerja.
    d.) Bahaya Mekanik
    – Katrol untuk pengangkutan batu bata dan bahan material lainnya yang dibawa dari bawah ke ketinggian 3,00 meter.
    – Pergerakan pipa pompa beton dari truk mixer.
    – Putaran mesin molen / truk mixer.
    e.) Bahaya Psikososial
    – Fatigue : Kelelahan mental maupun fisik para pekerja.
    – Intimidasi : Tindakan pemaksaan atau pengancaman dengan kekuatan maupun kalimat yang dilakukan pekerja terhadap rekan kerjanya.
    – Stres : Ketidaksesuaian antara kondisi pekerjaan dengan kondisi biologis dan psikis pekerja. Atau, penekanan yang terjadi diakibatkan oleh antar sesama pekerja atau antara pekerja dengan pemimipinnya.
    – Kompetensi : Pengetahuan serta keterampilan dari sikap dan perilaku yang dimiliki, dikuasai dan diterapkan pekerja dilingkungan pekerjaan.
    f.) Bahaya Lingkungan
    – Kelembaban tempat kerja.
    – Kemiringan tanah pada tempat kerja, terutama daerah dimana diletakkannya perancah.
    2.2 Pengendalian potensi bahaya
    Bahaya Fisika
    a.) Pemasangan papan perancah (platform) atau toe board sebagai tempat berpijak pekerja.
    b.) Pemasangan handrail dan midrail pada scaffolding untuk meminimalkan potensi pekerja terjatuh diketinggian.
    c.) Inspeksi scaffolding secara rutin sebelum digunakan untuk memastikan scaffolding bebas dari keretakan, cacat permukaan dan pengunci atau clam berfungsi dengan baik.
    d.) Menempatkan scaffolding di permukaan tanah yang rata dan keras agar mampu menahan beban scaffolding dan beban di atasnya.
    e.) Penggunaan body harness pada pekerjaan diketinggian.
    f.) Mengganti atau memilih bahan bangunan yang lebih ramah lingkungan dan memiliki resiko lebih rendah terhadap kesehatan pekerja.
    g.) Membuat SOP dan JSA pada setiap tahap pekerjaan dan disosialisasikan kepada pekerja.
    h.) Memberikan pelatihan dan pengetahuan dasar keselamatan agar pekerja dapat memahami dan lebih peduli keselamatan yang dimulai untuk dirinya terlebih dahulu.
    i.) Membuat jaring penahan disekitar gedung, fungsinya sebagai penahan apabila ada pekerja atau material yang terjatuh agar tidak menimpa sesuatu dibawahnya.
    j.) Pemberian tanda ‘dilarang masuk kecuali yg berkepentingan’ jika area tersebut sedang ada kegiatan pembangunan.
    k.) Untuk gedung bertingkat, disarankan menggunakan bata ringan agar mengurangi beban konstruksi pada bangunan bertingkat.
    Bahaya Kimia
    a.) Penggunaan masker, kacamata safety, sepatu safety, serta sarung tangan agar terhindar dari bahaya iritasi, gangguan pernafasan, serta penglihatan.
    b.) Pendataan mengenai bahan material, terutama yang memiliki kandungan yang beracun.
    c.) Tinggi pasangan batu bata dikerjakan maksimum 1 meter agar tidak roboh.
    Bahaya Biologi
    a.) Pengawas yang dapat memperhatikan area pekerjaan
    b.) Pakaian khusus untuk pekerja untuk menghindari penyakit kulit yang ditimbulkan akibat pakaian yang kotor.
    c.) Pemberian seragam yang bersih kepada pekerja dengan rutin pergantian minimal setiap harinya.
    Bahaya Mekanik
    a.) Memilih katrol yang ergonomis terhadap pekerja agar dapat membantu mengangkat batu bata dan bahan material lainnya.
    Bahaya Psikososial
    a.) Pembagian beban kerja dan waktu istirahat yang benar karena kondisi suhu dilapangan sangan berpengaruh terhadap stamina dan energi pekerja.
    b.) Pengaturan shift kerja sesuai jam kerja dengan jumlah pekerja.
    c.) Melakukan safety briefing setiap memulai pekerjaan disetiap harinya.
    Bahaya Lingkungan
    a.) Pekerjaan wajib dihentikan apabila cuaca hujan.
    Nama : Dinda Rizky Khoirun Nisa
    NPM : 13.11.106.701501.1117
    Semester : V (Lima)
    Kelas : B-2

    • Tugas anda masih salah. Lagipula jangan membuat posting baru untuk perbaikan tugas yang sudah ada, tetapi kliklah “Reply” dibawah komentar Dosen pada tugas awal yang salah tersebut, hal ini agar dapat ditelusuri proses perbaikannya.

    • 1. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.

      1.1 Analisis potensi bahaya
      a.) Bahaya Fisika
      – Gravitasi : Bekerja pada ketinggian 3,00 meter ; Batu bata yang digunakan pada ketinggian 3,00 meter dan/atau beban yang tergantung.
      – Radiasi : Paparan sinar matahari yang langsung kontak dengan para pekerja
      – Suhu : Terik matahari yang bersuhu tinggi saat pekerjaan dilaksanakan siang hari
      – Pergerakan : Pergerakan pekerja pada saat pengambilan dan pemasangan batu bata merah serta pada proses penyemenan.
      – Gelombang Suara : Kebisingan yang ditimbulkan dari suara mesin.

      b.) Bahaya Kimia
      – Debu : Debu yang berasal dari batu bata merah dan bahan bangunan lainnya.
      – Bahan dan Material yang Beracun : berasal dari material tertentu.

      c.) Bahaya Biologi
      – Bakteri : Bakteri yang menempel pada pakaian serta peralatan pekerja dan di sekitar lingkungan kerja.
      – Binatang : Binatang yang berasal dari sekitar lingkungan kerja.

      d.) Bahaya Mekanik
      – Katrol
      – Putaran mesin molen

      e.) Bahaya Psikososial
      – Kelelahan : Kelelahan terhadap mental maupun fisik para pekerja.
      – Intimidasi : Tindakan pemaksaan atau pengancaman dengan kekuatan maupun kalimat yang dilakukan pekerja terhadap rekan kerjanya.
      – Stres : Ketidaksesuaian antara kondisi pekerjaan dengan kondisi biologis dan psikis pekerja. Atau, penekanan yang terjadi diakibatkan oleh antar sesama pekerja atau antara pekerja dengan pemimipinnya.

      f.) Bahaya Lingkungan
      – Kelembaban tempat kerja.
      – Kemiringan tanah pada tempat kerja, terutama area dimana diletakkannya perancah.

      1.2 Pengendalian potensi bahaya
      1.2.1. Bahaya Fisika
      a.) Pemasangan papan perancah (platform) atau toe board sebagai tempat berpijak pekerja.
      b.) Pemasangan handrail dan midrail pada perancah.
      c.) Inspeksi perancah secara rutin sebelum digunakan untuk memastikan perancah bebas dari keretakan, cacat permukaan dan pengunci atau clam berfungsi dengan baik.
      d.) Menempatkan perancah di permukaan tanah yang rata dan keras agar mampu menahan beban perancah serta beban di atasnya.
      e.) Memberikan APD yang sesuai dan layak untuk pekerja seperti body harness, safety helmet, dsb.
      f.) Mengganti atau memilih bahan bangunan yang lebih ramah lingkungan dan memiliki resiko lebih rendah terhadap keselamatan serta kesehatan pekerja.
      g.) Membuat SOP dan JSA pada setiap tahap pekerjaan dan di sosialisasikan kepada pekerja.
      h.) Memberikan pelatihan dan pengetahuan dasar keselamatan agar pekerja dapat memahami serta lebih peduli akan keselamatan kerja yang dimulai untuk dirinya terlebih dahulu.

      1.2.2. Bahaya Kimia
      a.) Penggunaan masker, kacamata safety, sepatu safety, serta sarung tangan agar terhindar dari bahaya iritasi, gangguan pernafasan, serta penglihatan.
      b.) Pendataan mengenai bahan material, terutama yang memiliki kandungan yang beracun.

      1.2.3. Bahaya Biologi
      a.) Pengawas yang dapat memperhatikan area pekerjaan
      b.) Pakaian khusus untuk pekerja untuk menghindari penyakit kulit yang ditimbulkan akibat pakaian yang kotor.
      c.) Pemberian seragam yang bersih kepada pekerja dengan rutin pergantian minimal setiap harinya.

      1.2.4. Bahaya Mekanik
      a.) Memilih katrol yang ergonomis terhadap pekerja agar dapat membantu mengangkat batu bata dan bahan material lainnya.

      1.2.5. Bahaya Psikososial
      a.) Pembagian beban kerja dan waktu istirahat yang benar karena kondisi suhu dilapangan sangan berpengaruh terhadap stamina dan energi pekerja.
      b.) Pengaturan shift kerja sesuai jam kerja dengan jumlah pekerja.
      c.) Melakukan safety briefing setiap memulai pekerjaan disetiap harinya.

      2. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah.
      2.1 Analisis potensi bahaya
      a) Bahaya fisika
      – Gravitasi : Bekerja diketinggian 3,00 meter ; Batu bata yang digunakan diketinggian 3,00 meter dan/atau beban yang tergantung.
      – Radiasi : Paparan sinar matahari yang langsung kontak dengan para pekerja.
      – Suhu : Terik matahari yang bersuhu tinggi saat pekerjaan dilaksanakan siang hari.
      – Pergerakan : Pergerakan pekerja saat pengambilan dan pemasangan batu bata merah serta penyemenan.
      – Gelombang Suara : Kebisingan yang ditimbulkan dari suara mesin pompa beton dari truk mixer.

      b.) Bahaya Kimia
      – Debu : Debu yang berasal dari batu bata merah dan material bahan bangunan lainnya.
      – Bahan dan Material yang Beracun.

      c.) Bahaya Biologi
      – Bakteri : Bakteri yang menempel pada pakaian serta peralatan pekerja dan di sekitar lingkungan kerja.
      Binatang : Binatang yang berasal dari sekitar lingkungan kerja.

      d.) Bahaya Mekanik
      – Katrol untuk pengangkutan batu bata dan bahan material lainnya yang dibawa dari bawah ke ketinggian 3,00 meter.
      – Pergerakan pipa pompa beton dari truk mixer.
      – Putaran mesin molen dari truk mixer.

      e.) Bahaya Psikososial
      – Kelelahan : Kelelahan mental maupun fisik para pekerja.
      – Intimidasi : Tindakan pemaksaan atau pengancaman dengan kekuatan maupun kalimat yang dilakukan pekerja terhadap rekan kerjanya.
      – Stres : Ketidaksesuaian antara kondisi pekerjaan dengan kondisi biologis dan psikis pekerja. Atau, penekanan yang terjadi diakibatkan oleh antar sesama pekerja atau antara pekerja dengan pemimipinnya.
      – Kompetensi : Pengetahuan serta keterampilan dari sikap dan perilaku yang dimiliki, dikuasai dan diterapkan pekerja dilingkungan pekerjaan.

      f.) Bahaya Lingkungan
      – Kelembaban tempat kerja.
      – Kemiringan tanah pada tempat kerja, terutama daerah dimana diletakkannya perancah.

      2.2 Pengendalian potensi bahaya
      2.2.1. Bahaya Fisika
      a.) Pemasangan papan perancah (platform) atau toe board sebagai tempat berpijak pekerja.
      b.) Pemasangan handrail dan midrail pada perancah untuk meminimalkan potensi pekerja terjatuh diketinggian.
      c.) Inspeksi perancah secara rutin sebelum digunakan untuk memastikan perancah bebas dari keretakan, cacat permukaan dan pengunci atau clam berfungsi dengan baik.
      d.) Menempatkan perancah di permukaan tanah yang rata dan keras agar mampu menahan beban scaffolding dan beban di atasnya.
      e.) Penggunaan body harness pada pekerjaan diketinggian.
      f.) Mengganti atau memilih bahan bangunan yang lebih ramah lingkungan dan memiliki resiko yang lebih rendah terhadap kesehatan pekerja.
      g.) Membuat SOP dan JSA pada setiap tahap pekerjaan dan disosialisasikan kepada pekerja.
      h.) Memberikan pelatihan dan pengetahuan dasar keselamatan agar pekerja dapat memahami dan lebih peduli akan keselamatan yang dimulai untuk dirinya terlebih dahulu.
      i.) Membuat jaring penahan disekitar gedung, berfungsi sebagai penahan apabila ada pekerja atau material yang terjatuh agar tidak menimpa sesuatu dibawahnya.
      j.) Pemberian tanda ‘dilarang masuk kecuali yg berkepentingan’ jika area tersebut sedang ada kegiatan pembangunan.
      k.) Untuk gedung bertingkat, disarankan menggunakan bata ringan agar mengurangi beban konstruksi pada bangunan bertingkat.

      2.2.2. Bahaya Kimia
      a.) Penggunaan masker, kacamata keselamatan, sepatu keselamatan, serta sarung tangan agar terhindar dari bahaya iritasi, gangguan pernafasan, serta penglihatan.
      b.) Pendataan mengenai bahan material, terutama yang memiliki kandungan yang beracun.
      c.) Tinggi pasangan batu bata dikerjakan maksimum 1 meter agar tidak roboh.

      2.2.3. Bahaya Biologi
      a.) Pengawas yang dapat memperhatikan area pekerjaan dan para pekerja.
      b.) Pakaian khusus untuk pekerja untuk menghindari penyakit kulit yang ditimbulkan akibat pakaian yang kotor.
      c.) Pemberian seragam yang bersih kepada pekerja dengan rutin pergantian minimal setiap harinya.

      2.2.4. Bahaya Mekanik
      a.) Memilih katrol yang ergonomis terhadap pekerja agar dapat membantu mengangkat batu bata dan bahan material lainnya.

      2.2.5. Bahaya Psikososial
      a.) Pembagian beban kerja dan waktu istirahat yang benar karena kondisi suhu di lapangan sangat berpengaruh terhadap stamina dan energi pekerja.
      b.) Pengaturan shift kerja sesuai jam kerja dengan jumlah pekerja.
      c.) Melakukan safety briefing setiap memulai pekerjaan di setiap harinya.

      2.2.6. Bahaya Lingkungan
      a.) Pekerjaan wajib dihentikan apabila cuaca hujan atau dalam kondisi yang tidak memungkinkan.

      Nama : Dinda Rizky Khoirun Nisa
      NPM : 13.11.106.701501.1117
      Semester : V (Lima)
      Kelas : B-2

  37. Working at height
    I. Analisis potensi bahaya (ketinggian 3.00 m diatas permukaan)
    1. Bahaya Fisika : Paparan panas terbuka sinar matahari, debu berterbangan, getaran tanah, angin, gaya gravitasi diketinggian, Bahaya lontaran batu bata, partikel pecahan bata.
    2. Bahaya Lingkungan : keterbatasan ruang gerak, bahan yg berserakan diplatform maupun areal, beban material dan pekerja di perancah, bahaya perancah yg rapuh dan banyak scratch (lecet) or plague (karat), bahaya struktur tanah (kemiringan).
    3. Bahaya Psikologis Kerja : Rasa fatigue pekerja, kemonotonan pekerjaan, beban kerja yang di pressure) stress kerja.
    4. Bahaya Biologis : bakteri dari keringat pekerja, pakaian yg tidak di bersihkan menimbulkan bibit jamur dan sumber yg memacu PAK.
    5. Bahaya Kimia : partikel dari material atau bahan bahan konstruksi seperti semen, cat dan lainnya.
    6. Bahaya Biomekanik : Ergonomi dan MMH yang minim oleh pekerja.
    I.I
    1. Bahaya Fisika :
    – Pemasangan Canopy atau atap sementara untuk perlindungan dari panas matahari.
    – Pembagian Waktu Kerja (rotasi) agar paparan bahaya fisika tidak membahayakan.
    – Pemasangan Presisi dan Commisioning Scaffolding agar berdiri kokoh.
    – Pembuatan atau penambahan akses ke scaffolding yang aman untuk di gunakan pekerja tanpa resiko terpelest dsb.
    – Pemberlakuan Body harnes dan complete protection bila sudah melewati ketinggian 1,8 m.
    – Pemberian Apd yang sesuai proyek pekerjaan dan Pengawasan kerja yang optimal.
    2. Bahaya Lingkungan :
    – Isolasi ruang kerja dengan scaffolding atau perancah yg lebih fleksibel.
    – Penempatan Storage stok material, sehinga yg diperlukan saja yg berada diplatform. Tidak berserak.
    – Survey dan Pemantapan lokasi penempatan perancah yg tepat
    – Tindakan P2H untuk scaffolding dan tools
    3. Bahaya Psikologis kerja :
    – disediakannya makanan dan minuman untuk beristirahat sejenak bagi pekerja
    – dibuatnya rotasi kerja, dan hiburan sejenak (tv dsb)
    – disediakannya konsultasi atau medical check up
    4. Bahaya Biologis :
    – pencucian pakaian kerja karyawan.
    – pemberian nutrisi atau suplement bagi karyawan.
    5. Bahaya Kimia :
    – alokasi bahan ke tempat tertentu dan aman
    – subtitusi material yang masih bisa digantikan media lain yg minim waste
    – pemberian APD yg tepat
    6. Bahaya Biomekanik
    – penyuluhan ergonomis kerja yg tepat dan MMH training yg memadai
    – pemberian sign board atau warning dan manual handling.
    II. Analisis potensi bahaya (ketinggian diatas 3.00m diatas permukaan)
    1. Bahaya Fisika : Tekanan Gravitasi yg cukup tinggi, bahaya terik panas, bahaya angin, debu dam partikel yg terlempar dr proses kerja, dan bahaya guncangan
    2. Bahaya Lingkungan : muatan yang overload dari bahan material dan pekerja, bahaya keregangan percancah yg tidak solid, bahaya keterbatasan ruang gerak, bahaya fondasi perancah yg tidak memadai, bahaya material yang berhamburan diplatform scaffolding dan areal kerja, Bahaya akses yg terbatas dan ergonomi yg buruk
    3. Bahaya Jatuh dari ketinggian dan perancah yg tidak standar
    4. Bahaya Psikologi : tekanan kerja, fatigue.
    5. Bahaya Biologis : kuman dan bakteri, keringat yang menepel pada pakaian makin menjadi jamur dan sumber PAK
    6. Bahaya Kimia : paparan zat atau senyawa material dan bahan konstruksi seperti cat, semen dll
    II.I Pengendalian Bahaya (ketinggian 3.00m)
    1. Bahaya Fisika
    – Subtutisi perancah sistem plug and play, dengan gondola atau scaffolding dengan trigger yg kokoh.
    – Isolasi implementasi scaffolding dengan additional control pagar pelindung (edge protector), akses mekanis (mechanical acces plant) dengan fixed barrier, fencing dan warning barrier. Dengan pengendalian ini tidak lagi diperlukan harnes karena control pengadaan yg memadai untuk melindungi pekerja ataupun areal kerja tetap aman.
    – Control management melalui penambahan Safety handbook scaffold dan tools, safety induction sebelum kerja, toolbox meeting maupun warning poster dan notification boards di areal kerja serta di buatnya working height elevation permit.
    – hire HSE person, Scaffolding inspector dan pengawas.
    – Pemasangan damper anti getar pada scaffold, taging system (enginering) dan canopy sementara menaha panas terik ke pekerja
    – Training personel, dan perlengkap keamanan diri dengan PPE/APD khusus untuk working at height.
    2. Bahaya Lingkungan :
    – Inspeksi scaffolding
    – pengobservasian area sebelum kerja dan work permit yg harus ada
    – isolasi material dan bahan yg blm akan dipakai
    – penambahan jaluar akses yg baik dan aman
    3. Bahaya Jatuh
    – Subtutisi perancah sistem plug and play, dengan gondola atau scaffolding dengan trigger yg kokoh.
    – Isolasi implementasi scaffolding dengan additional control pagar pelindung (edge protector), akses mekanis (mechanical acces plant) dengan fixed barrier, fencing dan warning barrier. Dengan pengendalian ini tidak lagi diperlukan harnes karena control pengadaan yg memadai untuk melindungi pekerja ataupun areal kerja tetap aman.
    – Control management melalui penambahan Safety handbook scaffold dan tools, safety induction sebelum kerja, toolbox meeting maupun warning poster dan notification boards di areal kerja serta di buatnya working height elevation permit, JSA konstruksi dengan perancah atau pemasangan batu bata di ketinggian beserta SOp kerja.
    – Hire HSE person, Scaffolding inspector untuk penginspeksian kelayakan dan pengawas.
    – Penggunaan Full body Harness, sistem anchor dengan kelengkapan tali serat or lanyard, damper atau anti goncangan mengoptimalkan sistem fall arrest setiap personil working at height (enginering)
    – Training personel dan Penggunaan PPE/APD konstruksi di ketinggian.
    – Emergency unit respon di sediakan pada areal kerja
    4. Bahaya Psikologi :
    – adanya libur kerja dan sistem rotasi kerja
    – disediakan makanan dan hiburan yg cukup
    – adanya ruang istirahat
    5. Bahaya Biologis :
    – laundry pakaian pekerja dengan tepat
    – pemberian suplemen tambahan
    6. Bahaya kimia : pengalokasian bahan bahan bersenyawa kimia yg berbahaya
    Nama: Roynando Silitonga
    Kelas: b2 malam | Npm:13.11.106.701501.0921
    Semester: 5

    • Tugas anda masih salah. Lagipula jangan membuat posting baru untuk perbaikan tugas yang sudah ada, tetapi kliklah “Reply” dibawah komentar Dosen pada tugas awal yang salah tersebut, hal ini agar dapat ditelusuri proses perbaikannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s