SAFETY PRIME

Engineering Safety

[151014] Tugas 4 Keselamatan Konstruksi – Khusus Semester V Kelas B1 (Sore) 2015

35 Comments

Kepada Mahasiswa D4K3 Semester V Kelas B1 (Sore) 2015.

Berdasarkan tugas 3 yang telah Anda kerjakan sebelumnya, Anda diminta untuk membuat Risk Matriks yang merupakan identifikasi suatu potensi bahaya (hazard) dan pengendalian potesi bahaya untuk jenis pekerjaan:

  1. Pekerjaan pemasangan bata ringan untuk perumahan dengan ketinggian sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.
  2. Pekerjaan pemasangan bata ringan untuk gedung bertingkat dengan ketinggian diatas 3,00 meter.

Risk Matriks terdiri atas:

  • Nama pekerjaan (2 jenis pekerjaan seperti tercantum diatas).
  • Potensi penyebab bahaya (hazard).
  • Deskripsi konsekuensi terhadap manusia, alat/peralatan, lingkungan.
  • Risiko awal (Tingkat kemungkinan, Tingkat keparahan, Tingkat risiko).
  • Pengendalian potensi bahaya (Eliminasi, Substitusi, Rekayasa Teknis, Administratif, APD).
  • Risiko sisa (Tingkat kemungkinan, Tingkat keparahan, Tingkat risiko).
  • Pengendalian tambahan terhadap bahaya (bila ada).

Kerjakan tugas Anda dengan ketentuan sebagai berikut:

  1. Untuk mengerjakan tugas ini, Anda disarankan menggunakan program aplikasi NOTEPAD atau Text Editor atau program aplikasi sejenis terlebih dahulu. Jangan menggunakan program aplikasi MS WORD.
  2. Cantumkan nama, NIM, semester, dan kelas Anda diakhir tugas Anda.
  3. Kirimkan tugas (posting) dengan cara mengetik langsung pada kotak “Leave a Reply” atau copy-paste dari NOTEPAD yang telah dikerjakan sebelumnya. Masukkan alamat e-mail dan nama Anda pada kotak yang disediakan (alamat website tidak perlu diisi), dan terakhir jangan lupa klik “POST COMMENT”.
  4. Batas akhir posting adalah hari Rabu, 14 Oktober 2015 pukul 23:59 wita.
  5. Posting tidak boleh lewat waktu. Apabila telah lewat waktu, maka tugas Anda TIDAK akan mendapat approval untuk dimuat pada website ini dan dianggap TIDAK mengerjakan tugas.
  6. Posting hanya akan tampil setelah mendapatkan persetujuan terlebih dulu dari Dosen Pengampu, sehingga Mahasiswa tidak perlu memposting berulang kali untuk tugas yang sama.
  7. Tugas yang anda kerjakan TIDAK boleh sama antara satu mahasiswa dengan mahasiswa yang lain dalam kelas yang sama. Apabila ditemukan ada kesamaan penyelesaian dua atau lebih, maka kesemua tugas yang dikerjakan tidak akan diberikan penilaian.
  8. Sistem penilaian tugas ini: Tugas dikerjakan dengan benar, rinci dan akurat, serta diposting pada hari:
    –     H       — Nilai C
    –     H -1   — Nilai C+
    –     H -2   — Nilai B
    –     H -3   — Nilai B+
    –     H -4   — Nilai A
    –     Lewat waktu — Nilai 0 (Nol)
  9. Nilai tugas akan dipertimbangkan sesuai tanggal posting, meskipun terdapat koreksi oleh Dosen pada tanggal berbeda kemudian Mahasiswa melakukan perbaikan, namun tanggal posting awal tetap dianggap sebagai acuan penilaian.

Selamat mengerjakan tugas, tetap semangat dan semoga berhasil.

Advertisements

35 thoughts on “[151014] Tugas 4 Keselamatan Konstruksi – Khusus Semester V Kelas B1 (Sore) 2015

  1. 1. Pekerjaan pemasangan bata ringan untuk perumahan ketinggian sampai dengan 3 meter dari permukaan tanah.

    1.1Potensi bahaya
    1.1.1 Ketinggian
    1.1.2 Pemasangan profil pondasi
    1.1.3 debu
    1.1.4 cuaca
    1.1.5 perilaku tidak aman
    1.1.6 abu semen

    1.2 Deskripsikan konsekuensi terhadap manusia,alat,lingkungan
    1.2.1 Ketinggian : risiko dari pekerjaan ketinggian ialah terjatuh dan dapat mengakibatkan cacat permanen/ patah tulang karena belum diberi existing control.
    1.2.2 Pemasangan profil pondasi : resiko dari pekerjaan pemasangan profil pondasi ini adalah tertimpa beton Konsekuensinya dari pemasangan profil pondasi ialah cacat pemanen karena belum diberi existing control
    1.2.3 Debu : disekitar area kerja banyak terdapat dari material/bahan abu semen, pasir, batu bata dan area tempat bekerja resikonya adalah dapat terhirup atau terpapar yang dapat menyebabkan insfeksi saluran pernapasan dan konsekuensinya ialah medical treatment.
    1.2.4 cuaca : pekerjaan dapat tertunda bila cuaca tidak mendukung (musim hujan) pekerjaan akan terbengkalai dan konsekuensinya ialah kerugian/property damage dan penyelesainnya tidak tepat waktu
    1.2.5 perilaku tidak aman: pekerja mempunyai kemampuan dan keahlian yang terbatas atau bekerja dalam kondisi tidak fit dan konsekuensinya adalah patah tulang/cacat permanen
    1.2.6 Abu semen: resiko dari abu semen dapat terpapar,terhirup zat yang terkandung dalam semen dan konsekuensinya dari terpapar menyababkan gangguan pernapasan/medical treatment

    1.3 risiko awal = (Consequnce x Likelihood)
    1.3.1 Ketinggian | LTi cacat permanen (2) x Kemungkinan besar terjadi(D) = High risk
    1.3.2 Pemasangan Profil pondasi | LTi cacat permanen (2) x Kemungkinan besar terjadi (D)= High Risk
    1.3.3 Debu | Medical Treatment (4) x Kemungkinan rata-rata terjadi (C)= Medium Risk
    1.3.4 Cuaca | Property Damage US$ 100.000 – US$ 1M (3) x Kemungkinan besar terjadi (D)= High Risk
    1.3.5 Perilaku tidak aman | LTi cacat permanen (2) x Kemungkinan besar terjadi (D)= High Risk
    1.3.6 abu semen | Medical treatment (4) x Kemungkinan rata-rata terjadi (C)= Medium Risk

    1.4 Pengendalian potensi Bahaya
    1.4.1 Ketinggian
    1.4.1.1 Subtitusi : mengganti tangga kayu dengan scaffolding ang sudah ditetapkan standarnya
    1.4.1.2 Adminstrasi : membuat SOP bekerja diketinggian, Semua peralatan Penahan dan Pencegah Jatuh serta Peralatan Pendukung harus dalam kondisi baik dan sudah diinspeksi sebelum digunakan.
    1.4.1.3 PPE : Memakai APD (Safety Shoes,cover all,Sarung tangan, Glasses Safety,Helmet,Masker) dan Full body harness.

    1.4.2 Pemasangan Profil pondasi
    1.4.2.1 subtitusi: menggunakan beton yang sudah ditetapkan standarisasinya.
    1.4.2.2 Isolasi : mengisolasi lokasi pekerjaan Menyiapkan lokasi pembuatan pondasi harus sudah bersih dan siap dibangun.
    1.4.2.3 Administrasif : Mengindentikasi kembali seluruh profil pemasangan pekerjaan dasar pasangan bata yang telah selesai sesuai dengan gambar kerja.
    1.4.2.4 PPE : Memakai APD (Safety Shoes,Overall,Sarung tangan, Glasses Safety,Helmet,Masker).

    1.4.3 Debu
    1.4.3.1 Isolasi = Menyiram Jalanan disekitar area kerja tersebut dengan air.
    1.4.3.2 PPE = Memakai APD (Safety Shoes,Cover all,Sarung tangan, Glasses Safety,Helmet,Masker.

    1.4.4 Cuaca
    1.4.4.1 Eliminasi : Pemberhentian pekerjaan bila cuaca terlihat mendung/hujan.
    1.4.4.2 Isolasi : mengisolasi tempat beristirahat kerja jauh dari paparan lngsung terik matahari.
    1.4.4.3 administrasi : Memberikan istirahat kerja yang cukup.

    1.4.5 Perilaku tidak aman’
    1.4.5.1 Subtitusi: mengganti pekerja yang tidak berpengalaman dengan merekrut pekerja yang ahli dibidangnya.
    1.4.5.2 Training : Memberi pelatihan Kepada pekerja sebelum pekerjaan itu dimulai, memberikan safety talk sebelum melakukan pekerjaan.
    1.4.5.3 Adminitrasif: Pastikan sudah memiliki Surat Ijin Kerja untuk bekerja di ketinggian, jika pekerja yang ahli dibidangnya melampirkan sertifikat training yang pernah diikuti,memasang rambu k3
    1.4.5.4 PPE : Memakai APD (Safety Shoes,Cover all,Sarung tangan, Glasses Safety,Helmet,Masker) dan Full body harness.

    1.4.5 Abu semen
    1.4.5.1 Subtitusi : pekerjaan mengaduk semen dengan sekop diganti dengan mesin molen karena bekerjanya dari permukaan tanah .
    1.4.5.2 PPE = Memakai APD (Safety Shoes,cover all,Sarung tangan, Glasses Safety,Helmet,Masker) dan Full body harness

    1.5 Risiko Sisa
    1.5.1 Ketinggian | LTI taPA caat permanen (3) X kemungkinan kecil terjadi (B) = Low Risk
    1.5.2 Pemasangan Profil Pondasi | medical treatment (4) x kemungkinan kecil terjadi (B)= Low Risk
    1.5.3 Debu| Medical Treatment (4) x kemungkinan kecil terjadi (B) = Low risk
    1.5.4 Cuaca | property damage < US$10.000 (5) x keungkinan rata-rata terjadi (C)= Low Risk
    1.5.5 perilaku tidak aman | LTI taPA caat permanen (3) x kemungkinan kecil terjadi (B)= Low Risk
    1.5.6 Abu semen | medical treatment (4) x Kemungkinan kecil terjadi (B)= Low risk

    2. Pekerjaan pemasangan bata ringan untuk gedung bertingkat dengan ketinggian diatas 3,00 meter.

    2.1 Analisis potensi bahaya
    2.1.1 Ketinggian
    2.1.2 Cuaca yang berubah-ubah
    2.1.3 Peralatan dan material yang digunakan
    2.1.4 Perilaku tidak aman
    2.1.5 abu semen
    2.1.6 Debu

    2.2 Deskripsikan konsekuensi terhadap manusia,alat,lingkungan
    2.2.1 Ketinggian= risiko dari pekerjaan ini salah satunya ialah ketinggian yang berisiko terjatuh dan dapat mengakibatkan fatality/kematian karena pekerjaan ini ilakukan digedung yang dibangun diatas 3 meter
    2.2.2 cuaca= pekerjaan dapat tertunda bila cuaca tidak mendukung (musim hujan) pekerjaan akan terbengkalai dan konsekuensinya ialah kerugian/property damage dan penyelesainnya tidak tepat waktu
    2.2.3 peralatan dan material yang digunakan= peralatan dan material yang digunakan apabila digunakan yang tidak susai dengan ketentuan akan mengakibatkan kerusakan/kerugian (property damage)
    2.2.4 perilaku tidak aman= pekerja mempunyai kemampuan dan keahlian yang terbatas atau bekerja dalam kondisi tidak fit dan konsekuensinya adalah fatality/kematian
    2.2.5 abu semen= resiko dari abu semen dapat terpapar,terhirup zat yang terkandung dalam semen dan konsekuensinya dari terpapar menyababkan gangguan pernapasan/medical treatment
    2.2.6 Debu = disekitar area kerja banyak terdapat dari material/bahan abu semen, pasir, batu bata dan area tempat bekerja resikonya adalah dapat terhirup atau terpapar yang dapat menyebabkan insfeksi saluran pernapasan dan konsekuensinya ialah medical treatment.

    2.3 risiko Awal (Consequnce x Likelihood)
    2.3.1 Ketinggian | Fatality (1) x pasti terjadi (E) = Significant Risk
    2.3.2 Cuaca | Property damage (3) kemungkinan Besar terjadi (D)=High Risk
    2.3.3 Peralatan dan material yang digunakan= property damage (2) x kemungkinan besar terjadi (D)= High Risk
    2.3.4 Perilaku tidak aman | Fatality (1)x kemungkinan besar terjadi (D) = significant Risk
    2.3.5 abu semen | medical treatment (4) x kemungkinan rata-rata terjadi= Medium Risk
    2.3.6 debu| Medical Treatment (4) x Kemungkinan rata-rata terjadi (C)= Medium Risk

    2.4 Pengendalian bahaya
    2.4.1 Ketinggian
    2.4.1.1 Eliminasi: pada saat pemasangan bata diatas 3 meter pastikan area dibawah pemasangan bata steril dari aktivitas
    2.4.1.2 Subtitusi : mengganti tangga dengan menggunakan scaffolding yang standar.
    2.4.1.3 Administrasif: Membuat SIKA bekerja diketinggian, Membuat JSA pepamasangan dinding bata di gedung bertingkat, Membuat SOP bekerja diketinggian, Semua peralatan Penahan dan Pencegah Jatuh serta Peralatan Pendukung harus dalam kondisi baik dan sudah diinspeksi sebelum digunakan, Semua peralatan pendukung sesuai dengan persyaratan standard, dan dididirikan atau dioperasikan oleh orang yang berkompeten, merekrut pekerja K3 (safety man),membuat spanduk atau rambu-rambu perintah dan larangan selama bekerja di proyek.
    2.4.1.4 Training : memberikan pelatihan untuk para pekerja yang akan melakukan pekerjaan di ketinggian, sebelum melakukan pekerjaan melakukan safety talk dari pengawas k3.
    2.4.1.5 PPE : Memakai APD (Safety Shoes, cover all, Sarung tangan, Glasses Safety,Helmet,Masker) dan Full body harness

    2.4.2 Cuaca
    2.4.2.1 Eliminasi : Pemberhentian pekerjaan bila cuaca terlihat mendung/hujan.
    2.4.2.2 Isolasi : mengisolasi tempat beristirahat kerja jauh dari paparan lngsung terik matahari.
    2.4.2.3 Memberikan istirahat kerja yang cukup.

    2.4.3 Peralatan dan Material yang digunakan
    2.4.3.1 Subtitusi = mengganti material bata yang rendah dengan material bata yang sudah standar, Semen yang dipakai untuk pekerjaan ini harus memenuhi syarat-syarat yang memenuhi mutu persyaratan Standard Industri Indonesia (SII) tidak diperkenankan semen (semen bekas atau yang sejenis) atau semen yang sudah lewat masa berlakunya.
    2.4.3.2 Isolasi : Pekerjaan membersihkan lokasi Memindahkan benda yang akan menghambat proses pekerjaan,Membuat penerangan dan sarana kebersihan seperti lampu dan tersedianya air.
    2.4.3.3 administrasi: Membuat checklist pada peralatan kerja yang bertujuan untuk menghilangkan kecelakan kerja yg di sebabkan penggunaan alat yg tidak standar, sebelum melakukan pekerjaan hendaknya mengecekk peralatan.

    2.4.4 Perilaku tidak aman
    2.4.4.1 Subtitusi = mengganti pekerja yang tidak berpengalaman dengan merekrut pekerja yang ahli dibidangnya.
    2.4.4.2 Training = Memberi pelatihan Kepada pekerja sebelum pekerjaan itu dimulai, memberikan safety talk sebelum melakukan pekerjaan.
    2.4.4.3 Adminitrasif = Pastikan sudah memiliki Surat Ijin Kerja untuk bekerja di ketinggian, jika pekerja yang ahli dibidangnya melampirkan sertifikat training yang pernah diikuti,memasang rambu k3
    2.4.4.4 PPE = Memakai APD (Safety Shoes,cover all,Sarung tangan, Glasses Safety,Helmet,Masker) dan Full body harness.

    2.4.5 abu semen
    2.4.5.1 Subtitusi : pekerjaan mengaduk semen dengan sekop diganti dengan mobil molen karena bekerja di ketinggian di atas 3 meter.
    2.4.5.2 training : memberikan pelatihan mengenai prosedur menggunakan semen
    2.4.5.3 PPE : Memakai APD (Safety Shoes,Overall,Sarung tangan, Glasses Safety,Helmet,Masker) dan Full body harness

    2.4.6 Debu
    2.4.6.1 Isolasi :Menyiram Jalanan disekitar area kerja tersebut dengan air.
    2.4.6.2 PPE : Memakai APD (Safety Shoes,Overall,Sarung tangan, Glasses Safety,Helmet,Masker) dan Full body harness

    2.5 Risiko Sisa
    2.5.1 Ketinggian | LTI taPA caat permanen (3) X kemungkinan kecil terjadi (B) = Low Risk
    2.5.2 cuaca | property damage < US$10.000 (5) x keungkinan rata-rata terjadi (C)= Low Risk
    2.5.3 peralatan dan material yang digunakan | property damage US$10.000 – US$100.000 (4) x Kemungkinan kecil terjadi (B)= Low Risk
    2.5.4 Perilaku tidak aman | LTI taPA caat permanen (3) x kemungkinan kecil terjadi (B)= Low Risk
    2.5.5 abu semen| medical treatment (4) x Kemungkinan kecil terjadi (B)= Low risk
    2.5.6 debu | Medical Treatment (4) x kemungkinan kecil terjadi (B) = Low risk

    Nama : Tri wulan Amelia
    Kelas : B1
    Semester : 5
    NPM : 13.11.106.701501.0863

  2. 1. Pekerjaan pemasangan bata ringan untuk perumahan dengan ketinggian sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.
    Potensi Bahaya

    1. Terjatuh saat pemasangan kontruksi batu bata
    2. Terpeleset saat pemasangan kontruksi batu bata
    3. Scafolding yang roboh atau ambruk
    4. Terkena matahari langsung
    5. Tertabrak material kontruksi
    6. Terkena hujan saat pemasangan batu bata

    Deskripsi Konsekuensi
    Manusia

    1. Terjatuh dan badan terluka
    2. kaki terluka terkena batu bata yang terjatuh
    3. mata menjadi iritasi terkena debu dan tanah
    4. Saluran pernafasan terganggu
    5. mudah lelah tersengat terik matahari

    Peralatan

    1. Batu bata rusak dan hancur saat terjatuh

    Lingkungan

    1. Kemungkinan udara berdebu

    Resiko awal

    Tingkat Kemungkinan : Kaki terluka terkena batu bata saat pemasangan yang terlepas dari tangan.
    (melakukan house keeping bisa menurunkan kemungkinan kaki tidak terluka akibat terjatuhnya batu bata)

    Tingkat Keparahaan : Kaki atau anggota tubuh lainnya bisa terluka .
    (memakai APD dapat menurunkan keparahan kaki dengan memakai safety shoes)

    Tingkat Resiko : Tingkat resiko level 3 (sedang), membutuhkan perawatan medis

    Pengendalian potensi bahaya

    A. Eliminasi : Menghilangkan potensi bahaya disekitar tempat kerja

    B. Subsitusi :

    1.Mengatur durasi waktu kerja
    2.Mengatur system kerja
    3.Mengganti peralatan kerja yang lebih safe terhadap pekerja

    C. Rekayasa Teknis : Memisahkan batu bata yang masih bisa digunakan dan yang tidak.

    D. Adminitratif :
    1.Membuat SOP yang benar terhadap pekerjaan pemasangan batu bata
    2.Melakukan brefing kepada pekerja sebelum melakukan pekerjaannya
    3. Melakukan House Keeping

    E. Alat Pelindung Diri(APD) :
    1.Memakai safety shoes
    2.Memakai Safety goggles
    3.Memakai masker
    4.Memakai sarung tangan

    2. Pekerjaan pemasangan bata ringan untuk gedung bertingkat dengan ketinggian diatas 3,00 meter.
    Potensi Bahaya
    1. Terjatuh saat pemasangan batu bata
    2. Terpeleset saat pemasangan batu bata
    3. Tertabrak material kontruksi
    4. Kaki terkena batu bata
    5. Scaffolding yang roboh
    6. Terkena hujan saat pemasangan batu bata
    7. Pekerja yang takut ketinggian
    8. Pekerja yang mudah kelelahan

    Deskripsi Konsekuensi

    Manusia :
    1. Mengalami cidera patah tulang bahkan kematian jika terjatuh atau terkena alat berat
    2. Tejatuh karena kelelahan
    3. Terganggu konsentrasi akibat kebisingan yang ditimbulkan dari suara mesin konstruksi
    4. Saluran pernapasan terganggu akibat polutan yang dihasilkan dari mesin alat berat, bahkan bisa menyebabkan penyakit TBC jika terkontaminasi lebih lama.
    5. Terkena gigitan binatang melata
    6. Heat cramps pada operator saat mengendarai elevator (alat berat) akibat getaran yang dihasilkan elevator

    Peralatan :
    1. Kendaraan rusak atau mati total karena digunakan terus menerus tanpa henti

    Lingkungan:
    1. Tercemar polutan dari elevator
    2. Tercemar dengan kebisingan dari mesin elevator
    3. Bangunan yang roboh terkena crane jatuh karena factor alam seperti angin yang sangat kencang

    Resiko awal

    Tingkat Kemungkinan :
    1. Tertabrak alat konstruksi
    2. Bangunan roboh

    Tingkat Keparahaan :
    1.Mengakibatkan cedera bahkan kematian seseorang jika tertabrak mesin konstruksi dan bangunan yang roboh

    Tingkat resiko : level tinggi (level 5)

    Pengendalian Potensi Bahaya

    A. Eliminasi : Menghilangkan potensi bahaya di sekitar lokasi. Contoh : tanah tidak
    rata dan mengandung banyak air

    B. Subsitusi :
    1.Mengatur durasi waktu kerja
    2.Mengatur sistem kerja
    3. Pembangunan harus dibarikade, dan dibatasi dengan tali, dan tanda peringatan yang ditempatkan disekitar pembangunan.

    C. Rekayasa Teknis : Menandai daerah atau tanah yang dapat dilakukan pembangunan

    D. Adminitratif :
    1.Memilih tenaga kerja operator yang memiliki sertifikat mengendarai alat berat seperti elevator dan sudah berpengalaman
    2.Membuat SOP yang benar terhadap pekerjaan pembangunan
    3.Melakukan brefing kepada pekerja sebelum melakukan pekerjaan
    4.Memilih seorang yang ahli untuk melaksanakan pengawasan yang sudar bersertifikat dan berpengalaman

    E.Alat Pelindung Diri(APD) :
    1.Memakai safety googles
    2.Memakai Safety shoes
    3.Memakai helmet
    4.Memakai sarung tangan.
    5.Memakai baju kerja dari perusahaan
    6.Memakai masker

    Resiko Sisa

    – Kemungkinan jika semua estimasi substitusi resiko bahaya telah ditiadakan dan SOP diterapkan maka kemungkinan resiko sisa tidak akan terjadi kecuali factor alam yang terjadi secara tidak terduga.

    Nama : Diana
    Npm : 13.11.106.701501.0872
    Semester: 5 (lima)
    Kelas: B1

  3. 1. Pekerjaan pemasangan bata ringan untuk perumahan dengan ketinggian sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.

    A.Potensi bahaya
    1.Jatuh dari ketinggian karena mengunakan alat bantu berkerja di ketinggian yang tidak sesuai dan tidak standar
    2.Postur kerja yang tidak sesuai dan tidak alami
    3.Debu yang dihasilkan dari material bangunan yang digunakan yaitu bata ringan dan semen
    4.Tertimpa material bangunan (bata ringan) yang di gunakan
    5.Jam kerja yang melebihi jam kerja normal karena diburu waktu untuk menyelesaikan pekerjaan tepat waktu
    6.Meletakan bahan material bangunan yang digunakan di tempat yang mudah terjatuh dan susah di jangkau pekerja

    B.Konsekuensi
    1.Manusia : Pekerja yang terjatuh dari ketinggian dapat mengalami kematian atau fatality
    2.Manusia : Pekerja dapat mengalami WMSDs (Work-related Musculoskeletal Disorders) yang menyebabkan pekerjaan yang dilakukan menjadi terganggu
    3.Manusia : Pekerja dapat mengalami gangguan pernapasan dan pengelihatan akibat debu
    4.1.Manusia : Pekerja yang tertimpa material dapat mengalami kematian atau fatality
    4.2.Peralatan : Peralatan yang tertimpa material dapat mengalami kerusakan
    5.Manusia : Pekerja dapat mengalami kelelahan atau fatique yang menyebabkan pekerja kurang fokus dalam bekerja
    6.1.Manusia : Pekerja dapat tertimpa material yang jatuh yang menyebabkan kematian
    6.2.Peralatan : Material bangunan yang terjatuh menjadi rusak dan tidak dapat digunakan dan peralatan yang tertimpa material yang jatuh menjadi rusak

    C.Resiko awal
    1.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan besar terjadi
    1.2.Tingkat keparahan : Fatality (manusia)
    1.3.Tingkat resiko : Very high
    2.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan besar terjadi
    2.2.Tingkat keparahan : Medical treatment (manusia)
    2.3.Tingkat resiko : Medium
    3.1.Tingkat kemungkinan : Pasti terjadi
    3.2.Tingkat keparahan : Medical treatment (manusia)
    3.3.Tingkat resiko : High
    4.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan besar terjadi
    4.2.Tingkat keparahan : Fatality (manusia)
    4.3.Tingkat resiko : Very high
    5.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan besar terjadi
    5.2.Tingkat keparahan : Medical treatment (manusia)
    5.3.Tingkat resiko : Medium
    6.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan besar terjadi
    6.2.Tingkat keparahan : Fatality (manusia) dan property damage
    6.3.Tingkat resiko : Very high

    D.Pengendalian potensi bahaya
    1.1.Rekayasa teknis : Menggunakan scafolding yang sesuai dengan standar untuk membantu bekerja di ketinggian
    1.2.Administratif : Pekerja diberitahukan bahaya apa saja yang dapat terjadi di bila bekerja di ketinggian
    1.3.APD : Pekerja diberikan helm dan sepatu safety
    2.Admistratif : Pekerja diberitahukan untuk selalu bekerja untuk selalu bekerja dalam postur tubuh yang sesuai dan alami dan memberikan pelatihan ke pekerja tentang ergonomi yang baik dalam bekerja
    3.APD : Pekerja diberikan masker saat bekerja agar tidak menghisap debu dan kacamata untuk melindungi pengelihatan pekerja saat bekerja
    4.1.Rekayasa teknis : Memasang jaring pengaman di sekitar bangunan agar saat material jatuh dapat tertahan oleh jaring
    4.2.APD: Pekerja diberikan helm dan sepatu safety
    5.Administratif : Mengatur pola jam kerja tidak lebih dari 8 jam per hari agar pekerja tidak kelelahan dan kurang fokus akibat jam kerja yang tidak normal
    6.1.Rekayasa teknis : Membuat tempat meletakan material yang aman dan mudah dijangkau oleh pekerja
    6.2.APD: Pekerja diberikan helm dan sepatu safety

    C.Resiko sisa
    1.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan kecil terjadi
    1.2.Tingkat keparahan : Fatality (manusia)
    1.3.Tingkat resiko : Medium
    2.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan kecil terjadi
    2.2.Tingkat keparahan : Medical treatment (manusia)
    2.3.Tingkat resiko : Low
    3.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan kecil terjadi
    3.2.Tingkat keparahan : First aid case (manusia)
    3.3.Tingkat resiko : Low
    4.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan kecil terjadi
    4.2.Tingkat keparahan : Fatality (manusia)
    4.3.Tingkat resiko : Medium
    5.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan kecil terjadi
    5.2.Tingkat keparahan : First aid case (manusia)
    5.3.Tingkat resiko : Low
    6.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan kecil terjadi
    6.2.Tingkat keparahan : Fatality (manusia) dan property damage
    6.3.Tingkat resiko : Medium

    2. Pekerjaan pemasangan bata ringan untuk gedung bertingkat dengan ketinggian diatas 3,00 meter.

    A.Potensi bahaya
    1.Jatuh dari ketinggian karena mengunakan alat bantu berkerja di ketinggian yang tidak sesuai dan tidak standar
    2.Postur kerja yang tidak sesuai dan tidak alami
    3.Debu yang dihasilkan dari material bangunan yang digunakan yaitu bata ringan dan semen
    4.Tertimpa material bangunan (bata ringan) yang di gunakan
    5.Jam kerja yang melebihi jam kerja normal karena diburu waktu untuk menyelesaikan pekerjaan tepat waktu
    6.Meletakan bahan material bangunan yang digunakan di tempat yang mudah terjatuh dan susah di jangkau pekerja
    7.Pekerja tidak menggunakan fall protection sistem saat bekerja di ketinggian

    B.Konsekuensi
    1.Manusia : Pekerja yang terjatuh dari ketinggian dapat mengalami kematian atau fatality
    2.Manusia : Pekerja dapat mengalami WMSDs (Work-related Musculoskeletal Disorders) yang menyebabkan pekerjaan yang dilakukan menjadi terganggu
    3.Manusia : Pekerja dapat mengalami gangguan pernapasan dan pengelihatan akibat debu
    4.1.Manusia : Pekerja yang tertimpa material dapat mengalami kematian atau fatality
    4.2.Peralatan : Peralatan yang tertimpa material dapat mengalami kerusakan
    5.Manusia : Pekerja dapat mengalami kelelahan atau fatique yang menyebabkan pekerja kurang fokus dalam bekerja
    6.1.Manusia : Pekerja dapat tertimpa material yang jatuh yang menyebabkan kematian
    6.2.Peralatan : Material bangunan yang terjatuh menjadi rusak dan tidak dapat digunakan dan peralatan yang tertimpa material yang jatuh menjadi rusak
    7.Manusia : Apabila pekerja jatuh dari ketinggian dapat mengamai kematian atau fatality karena tidak ada fall protection sistem yang menahan pekerja tersebut jatuh

    C.Resiko awal
    1.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan besar terjadi
    1.2.Tingkat keparahan : Fatality (manusia)
    1.3.Tingkat resiko : Very high
    2.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan besar terjadi
    2.2.Tingkat keparahan : Medical treatment (manusia)
    2.3.Tingkat resiko : Medium
    3.1.Tingkat kemungkinan : Pasti terjadi
    3.2.Tingkat keparahan : Medical treatment (manusia)
    3.3.Tingkat resiko : High
    4.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan besar terjadi
    4.2.Tingkat keparahan : Fatality (manusia)
    4.3.Tingkat resiko : Very high
    5.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan besar terjadi
    5.2.Tingkat keparahan : Medical treatment (manusia)
    5.3.Tingkat resiko : Medium
    6.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan besar terjadi
    6.2.Tingkat keparahan : Fatality (manusia) dan property damage
    6.3.Tingkat resiko : Very high
    7.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan besar terjadi
    7.2.Tingkat keparahan : Fatality (manusia)
    7.3.Tingkat resiko : Very high

    D.Pengendalian potensi bahaya
    1.1.Rekayasa teknis : Menggunakan scafolding yang sesuai dengan standar untuk membantu bekerja di ketinggian
    1.2.Administratif : Pekerja diberitahukan bahaya apa saja yang dapat terjadi di bila bekerja di ketinggian, membuat SOP tetang cara bekerja yang aman di ketinggian dan pekerja diberikan pelatihan tentang cara bekerja yang aman di ketinggian
    1.3.APD : Pekerja diberikan helm, sepatu safety dan full body harness
    2.Admistratif : Pekerja diberitahukan untuk selalu bekerja untuk selalu bekerja dalam postur tubuh yang sesuai dan alami dan memberikan pelatihan ke pekerja tentang ergonomi yang baik dalam bekerja
    3.APD : Pekerja diberikan masker saat bekerja agar tidak menghisap debu dan kacamata untuk melindungi pengelihatan pekerja saat bekerja
    4.1.Rekayasa teknis : Memasang jaring pengaman di sekitar bangunan agar saat material jatuh dapat tertahan oleh jaring
    4.2.APD: Pekerja diberikan helm dan sepatu safety
    5.Administratif : Mengatur pola jam kerja tidak lebih dari 8 jam per hari agar pekerja tidak kelelahan dan kurang fokus akibat jam kerja yang tidak normal
    6.1.Rekayasa teknis : Membuat tempat meletakan material yang aman dan mudah dijangkau oleh pekerja
    6.2.APD: Pekerja diberikan helm dan sepatu safety
    7.1.Administratif : Membuat SOP tetang cara bekerja yang aman di ketinggian dan pekerja diberikan pelatihan tentang cara bekerja yang aman di ketinggian
    7.2.APD : Pekerja diberikan fall protection sistem sperti full body harness saat bekerja di ketinggian

    C.Resiko sisa
    1.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan kecil terjadi
    1.2.Tingkat keparahan : Fatality (manusia)
    1.3.Tingkat resiko : Medium
    2.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan kecil terjadi
    2.2.Tingkat keparahan : Medical treatment (manusia)
    2.3.Tingkat resiko : Low
    3.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan kecil terjadi
    3.2.Tingkat keparahan : First aid case (manusia)
    3.3.Tingkat resiko : Low
    4.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan kecil terjadi
    4.2.Tingkat keparahan : Fatality (manusia)
    4.3.Tingkat resiko : Medium
    5.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan kecil terjadi
    5.2.Tingkat keparahan : First aid case (manusia)
    5.3.Tingkat resiko : Low
    6.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan kecil terjadi
    6.2.Tingkat keparahan : Fatality (manusia) dan property damage
    6.3.Tingkat resiko : Medium
    7.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan kecil terjadi
    7.2.Tingkat keparahan : First aid case (manusia)
    7.3.Tingkat resiko : Low

    Nama : Mohamad Imam

    NPM : 13.11.106.701501.0842

    Semester : 5

    Kelas : B1

  4. Tugas 4

    Risk Matriks :

    1. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.

    1.1. Analisis potensi penyebab bahaya (hazard).

    1.1.1 Kompetensi pekerja (bekerja tanpa ijin, tidak sesuai prosedur, scaffolder tidak bersertifikat, tidak menggunakan Alat Pelindung Diri).
    1.1.2 Terdapat saluran jalur kabel listrik di area pemasangan batu bata.
    1.1.3 Terdapat bahaya biologi seperti laba-laba serangga
    1.1.4 Gangguan cuaca (panas, angin kencang, hujan).
    1.1.5 Gelap/ penerangan tidak memadai.
    1.1.6 Debu-debu dan partikel dari pasir dan semen.
    1.1.7 Material yang bertebaran di sekitar area pemasangan batu bata.
    1.1.8 Material terjatuh dari perancah/ scaffold.
    1.1.9 Pemasangan batu bata miring tidak sesuai prosedur
    1.1.10 Adanya pekerja atau orang lain yang tidak berkepentingan berlalu lalang di area pekerjaan.
    1.1.11 Perancah/ scaffold tidak dipasang dengan benar, komponen-komponen perancah/ scaffold dalam kondisi tidak memadai/ tidak layak pakai
    1.1.12 Tidak ada pagar pembatas pada perancah/ scaffold untuk perlindungan jatuh.
    1.1.13 Permukaan tanah untuk perancah/ scaffold yang tidak stabil dan tidak rata.
    1.1.14 Kondisi body harness untuk digunakan pada saat pemasangan batu bata di ketinggian lebih dari 1,80 meter yang tidak bagus/ tidak layak pakai.
    1.1.15 Kondisi tangga yang tidak standar (untuk akses naik dan turun di area pemasangan batu bata dengan ketinggian sampai dengan 3,00 meter) dan peletakan tangga di permukaan tanah yang tidak rata.
    1.1.16 Titik jepit pada katrol untuk mengangkat material di ketinggian 1,80 – 3,00 meter.
    1.1.17 Pergerakan dari alat pemotong batu bata
    1.1.18 Ergonomi/ pergerakan pekerja (gerakan yang monoton secara terus menerus pada saat pemasangan bata, seperti jongkok, membungkuk, berdiri selama ±3 jam ).
    1.1.19 Pengaturan jam kerja yang melebihi 8 jam

    1.2. Deskripsi konsekuensi terhadap manusia, alat/peralatan, lingkungan.

    1.2.1.1 Luka/ cedera pada saat bekerja yang dapat mengakibatkan hilangnya hari kerja (Lost Time Ijury) tanpa cacat permanen karena tidak memahami prosedur, tidak menggunakan Alat Pelindung Diri.
    1.2.1.2 Kerusakan peralatan (perancah/ scaffold) yang menimbulkan kerugian materi.
    1.2.2 Terjadi korsleting di area pemasangan batu bata, luka bakar pada pekerja yang dapat mengakibatkan hilangnya hari kerja (Lost Time Ijury) dengan cacat permanen akibat luka bakar.
    1.2.3 Luka pada pekerja karena tergigit laba-laba dan serangga yang membutuhkan pertolongan dari dokter (Medical Treatment Case).
    1.2.4.1 Bekerja di cuaca yang sangat panas dapat membuat pekerja pingsan, fatique.
    1.2.4.2 Bekerja pada saat hujan/ angin kencang dapat membuat pekerja terjatuh dan mengalami terkilir, patah tulang akibat terjatuh di ketinggian sampai dengan 3 meter karena lantai perancah/ scaffold menjadi licin.
    1.2.5 Fatique karena penerangan yang tidak memadai.
    1.2.6 Gangguan pernapasan karena terpapar debu dan partikel secara terus-menerus.
    1.2.7 Pekerja tersandung dan terluka karena adanya material yang bertebaran di area pemasangan batu bata.
    1.2.8 Pekerja terluka karena terkena material yang jatuh dari perancah/ scaffold.
    1.2.9 Pemasangan batu bata yang miring tidak sesuai prosedur dapat menyebabkan kerusakan material dan kerugian materi karena harus mengulang pemasangan batu bata agar sesuai standar.
    1.2.10 Pekerja atau orang lain mengalai cedera/ terluka karena terkena material yang bertebaran di area pemasangan batu bata.
    1.2.11 Kerusakan perancah/ scaffold karena tidak sesuai standar.
    1.2.12 Terjadi patah tulang pada pekerja karena terjatuh dari perancah/ scafffold yang tidak dipasangi pagar pembatas.
    1.2.13 Kerusakan peralatan (perancah/ scaffold rubuh), pekerja mengalami cedera, patah tulang karena terjatuh dari perancah/ scaffold.
    1.2.14 Pekerja terjatuh dan mengalami terkilir, cedera dan patah tulang akibat terjatuh di ketinggian sampai dengan 3 meter karena kondisi body harness yang tidak layak.
    1.2.15 Pekerja mengalami cedera, terluka karena karena terjatuh dari tangga yang tidak layak.
    1.2.16 Tangan terluka karena terjepit oleh katrol.
    1.2.17 Terluka dan anggota tubuh terpotong karena mengenai alat pemotong batu bata.
    1.2.18 Terkilir dan fatique karena ergonomi pekerja yang tidak baik.
    1.2.19 Fatique yang dapat menimbulkan kecelakaan karena jam kerja yang melebihi 8 jam.

    1.3 Risiko awal (Tingkat kemungkinan, Tingkat keparahan, Tingkat risiko)

    1.3.1.1 Kemungkinan Terjadi (Sering) x Keparahan (Sedang) = Resiko (Tinggi)
    1.3.1.2 Kemungkinan Terjadi (Sering) x Keparahan (Sedang) = Resiko (Tinggi)
    1.3.2 Kemungkinan Terjadi (Jarang) x Keparahan (Serius) = Resiko (Tinggi)
    1.3.4.1 Kemungkinan Terjadi (Sering) x Keparahan (Sedang) = Resiko (Tinggi)
    1.3.4.2 Kemungkinan Terjadi (Jarang) x Keparahan (Sedang) = Resiko (Sedang)
    1.3.5 Kemungkinan Terjadi (Jarang) x Keparahan (Sedang) = Resiko (Sedang)
    1.3.6 Kemungkinan Terjadi (Sering) x Keparahan (Serius) = Resiko (Tinggi)
    1.3.7 Kemungkinan Terjadi (Sering) x Keparahan (Sedang) = Resiko (Tinggi)
    1.3.8 Kemungkinan Terjadi (Jarang) x Keparahan (Serius) = Resiko (Tinggi)
    1.3.9 Kemungkinan Terjadi (Jarang) x Keparahan (Serius) = Resiko (Tinggi)
    1.3.10 Kemungkinan Terjadi (Sering) x Keparahan (Sedang) = Resiko (Tinggi)
    1.3.11 Kemungkinan Terjadi (Jarang) x Keparahan (Sedang) = Resiko (Sedang)
    1.3.12 Kemungkinan Terjadi (Jarang) x Keparahan (Serius) = Resiko (Tinggi)
    1.3.13 Kemungkinan Terjadi (Jarang) x Keparahan (Serius) = Resiko (Tinggi)
    1.3.14 Kemungkinan Terjadi (Sering) x Keparahan (Serius) = Resiko (Tinggi)
    1.3.15 Kemungkinan Terjadi (Jarang) x Keparahan (Sedang) = Resiko (Sedang)
    1.3.16 Kemungkinan Terjadi (Jarang) x Keparahan (Serius) = Resiko (Tinggi)
    1.3.17 Kemungkinan Terjadi (Jarang) x Keparahan (Serius) = Resiko (Tinggi)
    1.3.18 Kemungkinan Terjadi (Sering) x Keparahan (Sedang) = Resiko (Tinggi)
    1.3.19 Kemungkinan Terjadi (Sering) x Keparahan (Sedang) = Resiko (Tinggi)

    1.4 Pengendalian potensi bahaya (Eliminasi, Substitusi, Rekayasa Teknis, Administratif, APD).

    1.4.1 Kompetensi pekerja
    1.4.1.1 Bekerja tidak sesuai prosedur dan tanpa Alat Pelindung Diri.
    1.4.1.1.1 Substitusi : Mengganti pekerja yang tidak berkompeten dan tidak memiliki keahlian.
    1.4.1.1.2 Administratif : Membuat prodedur pemasangan batu bata dan sosialisasi mengenai prosedur tersebut, membuat surat ijin kerja sebelum melakukan pekerjaan, membuat JSA mengenai pemasangan batu bata.
    1.4.1.1.3 APD : Menggunakan safety shoes, safety helmet, safety glass, hand glove, dust mask dan body harness dengan benar.
    1.4.1.2 Scaffolder tidak memiliki keahlian
    1.4.1.2.1 Substitusi : Memilih scaffolder berkompeten dan memiliki sertifikat.
    1.4.1.2.2 Rekayasa Teknis : Memasang perancah/ scaffold yang sesuai standar.
    1.4.1.2.3 Administratif : Pemeriksaan perancah/ scaffold secara rutin.
    1.4.1.2.4 Training : Memberikan pelatihan tentang perancah/ scaffold.
    1.4.1.2.5 APD : Menggunakan safety shoes, safety helmet, safety glass, hand glove, dust mask dan body harness dengan benar.

    1.4.2 Bahaya listrik
    1.4.2.1 Eliminasi : Menugaskan electrician untuk mematikan sementara aliran listrik selama pekerjaan berlangsung di area pemasangan batu bata.
    1.4.2.2 Isolasi : Memberi tanda/ barikade di area jaringan kabel listrik yang masih aktif.
    1.4.2.3 Admisnistratif : Pemeriksaan jaringan kabel listrik di area pemasangan batu bata.
    1.4.2.4 APD : Menggunakan safety shoes, safety helmet, safety glass, hand glove, dust mask dan body harness dengan benar.

    1.4.3 Bahaya biologi (bakteri, serangga, kalajengking)
    1.4.3.1 Substitusi : Mengganti pakaian kerja setiap hari agar tidak muncul bakteri dari keringat yang menempel di pakaian.
    1.4.3.2 Admisnistratif : Melakukan pemeriksaan terhadap unsur bahaya biologi seperti kalajengking, serangga dan melakukan housekeeping secara rutin
    1.4.3.3 APD : Menggunakan coverall, safety shoes, safety helmet, safety glass, hand glove, dust mask dengan benar.

    1.4.4 Bahaya cuaca
    1.4.4.1 Panas
    1.4.4.1.1 Isolasi : Mengisolasi tempat kerja dan tempat istirahat dengan memasang tenda agar tidak terpapar langsung oleh matahari.
    1.4.4.1.2 Administratif : Pengaturan jam kerja yang tepat dan jam istirahat yang cukup sehingga pekerja tidak mengalami fatigue.
    1.4.4.1.3 APD : Menggunakan safety shoes, safety helmet, coverall, kacamata keselamatan berwarna hitam untuk mengurangi paparan langsung matahari ke mata.
    1.4.4.2 Hujan, angin kencang
    1.4.4.2.1 Eliminasi : Menghentikan pekerjaan pada saat hujan dan angin kencang.
    1.4.4.2.2 APD : Menggunakan safety shoes, safety glass, safety helmet dan jas hujan apabila bekerja pada saat gerimis.

    1.4.5 Gelap/ penerangan tidak memadai
    1.4.5.1 Rekayasa Teknis : Memberikan penerangan yang cukup terutama selama jam-jam/ waktu gelap.
    1.4.5.2 Administratif : Pengaturan jam kerja yang benar.
    1.4.5.3 APD : Menggunakan safety shoes, safety helmet, coverall, kacamata keselamatan berwarna bening/ putih.

    1.4.6 Debu/ partikel
    1.4.6.1 Isolasi : Menyiram area sekitar pekerjaan dengan air untuk mengurangi paparan debu/ partikel.
    1.4.6.2 APD : Menggunakan safety shoes, safety helmet, safety glass, hand glove, dust mask dan body harness dengan benar.

    1.4.7 Material yang bertebaran di area kerja
    1.4.7.1 Eliminasi : Membuang material yang tidak terpakai pada tempat sampah sesuai jenisnya.
    1.4.7.2 Isolasi : Membuat tempat untuk penyimpanan material yang berceceran.
    1.4.7.3 APD : Menggunakan safety shoes, safety helmet, safety glass, hand glove, dust mask dan body harness dengan benar.

    1.4.8 Material terjatuh dari perancah
    1.4.8.1 Isolasi : Menggunakan toolbox untuk penempatan peralatan kerja, memberi tanda/ barikade di sekitar perancah/ scaffold.
    1.4.8.2 APD : Menggunakan safety shoes, safety helmet, safety glass, dust mask.

    1.4.9 Pemasangan batu bata miring (tidak sesuai prosedur)
    1.4.9.1 Substitusi : Mengganti pekerja yang tidak berkompeten dan tidak memiliki keahlian.
    1.4.9.2 Administratif : Sosialisai prosedur pemasangan batu bata kepada pekerja, membuat JSA sebelum bekerja.
    1.4.9.3 APD : Menggunakan coverall, safety shoes, safety helmet, safety glass, hand glove, dust mask dengan benar.

    1.4.10 Pekerja yang berlalu-lalang di area kerja
    1.4.10.1 Isolasi : Memberi tanda/ barikade di sekitar perancah/ scaffold, memasang warning sign/ larangan kepada orang yang berlalu lalang di area pemasangan batu bata.
    1.4.10.2 APD : Menggunakan coverall, safety shoes, safety helmet, safety glass, hand glove, dust mask dengan benar.

    1.4.11 Perancah/ scaffold tidak sesuai standar
    1.4.11.1 Substitusi : Memilih pekerja yang berkompeten dan memiliki keahlian mengenai perancah/ scaffold.
    1.4.11.2 Rekayasa Teknik : Memasang perancah/ scaffold sesuai dengan standar, memasang guard rails (pegangan tangan) pada perancah/ scaffold, papan (planks) harus kuat dan menutup minimal 3/4 bagian dari luas lantai kerja, dan terkait kuat pada struktur perancah/ scaffold, dan seluruh komponen pada perancah/ scaffold sesuai dengan standar.
    1.4.11.3 Administratif : Melakukan safety talks sebelum memulai pekerjaan, membuat JSA mengenai bekerja di ketinggian, melakukan pemeriksaan perancah/ scaffold secara rutin.
    1.4.11.4 Training : Melakukan pelatihan tentang perancah/ scaffold, pelatihan untuk bekerja di ketinggian.
    1.4.11.5 APD : Menggunakan body harness, safety shoes, safety helmet, safety glass, hand glove, dust mask dengan benar.

    1.4.12 Tidak ada pagar pembatas pada perancah/ scaffold
    1.4.12.1 Rekayasa Teknik : Memasang pagar pembatas/ pegangan tangan pada perancah/ scaffold.
    1.4.12.2 Administratif : Melakukan safety talks sebelum memulai pekerjaan, membuat JSA mengenai bekerja di ketinggian, melakukan pemeriksaan perancah/ scaffold secara rutin.
    1.4.12.3 Training : Melakukan pelatihan tentang perancah/ scaffold, pelatihan untuk bekerja di ketinggian.
    1.4.12.4 APD : Menggunakan body harness, safety shoes, safety helmet, safety glass, hand glove, dust mask dengan benar.

    1.4.13 Permukaaan tanah pada scaffold yang tidak rata
    1.4.13.1 Rekayasa Teknik : Memasang perancah/ scaffold sesuai dengan standar, seperti memasang perancah/ scaffold di permukaan yang rata dan kokoh.
    1.4.13.2 Administratif : Pemeriksaan kondisi tanah sebelum pemasangan perancah/ scaffold.
    1.4.13.3 APD : Menggunakan body harness, safety shoes, safety helmet, safety glass, hand glove, dust mask dengan benar.

    1.4.14 Kondisi body harness tidak sesuai standar
    1.4.14.1 Rekayasa Teknik : Body harness dipasang dengan shock-absorbing lanyard atau self retracting lifeline/ fall militer. Dengan ketinggan sampai dengan 3 meter dan dibawah 5,6 meter, shock absorber tidak wajib digunakan untuk mencegah potensi terhempas di permukaan tanah apabila terjatuh pada saat menggunakan body harness.
    1.4.14.2 Administratif : Pemeriksaan body harness secara rutin , melakukan safety talks sebelum bekerja, membuat JSA .
    1.4.14.3 APD : Menggunakan body harness, safety shoes, safety helmet, safety glass, hand glove, dust mask dengan benar.

    1.4.15 Kondisi tangga yang tidak sesuai standar dan tidak layak pakai
    1.4.15.1 Substitusi : Mengganti tangga yang rusak dengan tangga yang layak digunakan.
    1.4.15.2 Rekayasa Teknik : Memasang handrail pada tangga.
    1.4.15.3 Administratif : Pemeriksaan kondisi tangga, melakukan safety talk sebelum bekerja, sosialisasi mengenai penggunaan tangga, seperti memperhatikan 3 titik tumpu pada saat menaiki tangga.
    1.4.15.4 APD : Menggunakan body harness, safety shoes, safety helmet, safety glass, hand glove, dust mask dengan benar.

    1.4.16 Titik jepit pada katrol
    1.4.16.1 Administratif : Melakukan safety talks sebelum bekerja, membuat JSA, sosialiasi mengenai penerapan ergonomi pada pekerjaan pemasangan batu bata.
    1.4.16.2 APD : Menggunakan body harness, safety shoes, safety helmet, safety glass, hand glove, dust mask dengan benar.

    1.4.17 Pergerakan alat pemotong batu bata
    1.4.17.1 Rekayasa Teknik : Memasang cover atau penutup pada alat pemotong batu bata.
    1.4.17.2 Administratif : Melakukan safety talk sebelum bekerja, membuat JSA mengenai pemasangan batu bata.
    1.4.17.3 APD : Menggunakan body harness, safety shoes, safety helmet, safety glass, hand glove, dust mask dengan benar.

    1.4.18 Ergonomi/ pergerakan pekerja yang tidak benar
    1.4.18.1 Administratif : Pengaturan jam kerja tepat dan jam istirahat yang cukup, sosialiasi mengenai penerapan ergonomi pada pekerjaan pemasangan batu bata.

    1.4.19 Jam kerja yang tidak sesuai standar
    1.4.19.1 Administratif : Pengaturan jam kerja tepat dan jam istirahat yang cukup, pengaturan pola shift kerja apabila melebihi 8 jam.

    1.5 Risiko sisa (Tingkat kemungkinan, Tingkat keparahan, Tingkat risiko)

    1.5.1 Kompetensi pekerja
    1.5.1.1 Kemungkinan Terjadi (Jarang) x Keparahan (Ringan) = Resiko (Rendah)
    1.5.1.2 Kemungkinan Terjadi (Jarang) x Keparahan (Ringan) = Resiko (Rendah)
    1.5.2 Kemungkinan Terjadi (Sulit Terjadi) x Keparahan (Sedang) = Resiko (Rendah)
    1.5.4.1 Kemungkinan Terjadi (Jarang) x Keparahan (Ringan) = Resiko (Rendah)
    1.5.4.2 Kemungkinan Terjadi (Jarang) x Keparahan (Ringan) = Resiko (Rendah)
    1.5.5 Kemungkinan Terjadi (Sulit Terjadi) x Keparahan (Ringan) = Resiko (Rendah)
    1.5.6 Kemungkinan Terjadi (Jarang) x Keparahan (Ringan) = Resiko (Rendah)
    1.5.7 Kemungkinan Terjadi (Jarang) x Keparahan (Ringan) = Resiko (Rendah)
    1.5.8 Kemungkinan Terjadi (Sulit Terjadi) x Keparahan (Sedang) = Resiko (Rendah)
    1.5.9 Kemungkinan Terjadi (Sulit Terjadi) x Keparahan (Sedang) = Resiko (Rendah)
    1.5.10 Kemungkinan Terjadi (Jarang) x Keparahan (Ringan) = Resiko (Rendah)
    1.5.11 Kemungkinan Terjadi (Sulit Terjadi) x Keparahan (Ringan) = Resiko (Rendah)
    1.5.12 Kemungkinan Terjadi (Sulit Terjadi) x Keparahan (Sedang) = Resiko (Rendah)
    1.5.13 Kemungkinan Terjadi (Sulit Terjadi) x Keparahan (Sedang) = Resiko (Rendah)
    1.5.14 Kemungkinan Terjadi (Sulit Terjadi) x Keparahan (Sedang) = Resiko (Rendah)
    1.5.15 Kemungkinan Terjadi (Jarang) x Keparahan (Ringan) = Resiko (Rendah)
    1.5.16 Kemungkinan Terjadi (Sulit Terjadi) x Keparahan (Sedang) = Resiko (Rendah)
    1.5.17 Kemungkinan Terjadi (Sulit Terjadi) x Keparahan (Sedang) = Resiko (Rendah)
    1.5.18 Kemungkinan Terjadi (Jarang) x Keparahan (Ringan) = Resiko (Rendah)
    1.5.19 Kemungkinan Terjadi (Jarang) x Keparahan (Ringan) = Resiko (Rendah)

    1.6 Pengendalian tambahan terhadap bahaya (bila ada).
    – Tidak ada.

    2. Pekerjaan pemasangan batu bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian diatas 3,00 meter dari permukaan tanah.

    2.1. Analisis potensi penyebab bahaya (hazard).

    2.1.1 Kompetensi pekerja (bekerja tanpa ijin, tidak sesuai prosedur, scaffolder tidak bersertifikat, tidak menggunakan Alat Pelindung Diri).
    2.1.2 Terdapat saluran jaringan kabel listrik di ketinggian lebih dari 4 meter.
    2.1.3 Terdapat bahaya biologi seperti laba-laba, serangga.
    2.1.4 Gangguan cuaca (panas, hujan, angin kencang).
    2.1.5 Gelap/ penerangan tidak memadai.
    2.1.6 Debu-debu dan partikel dari pasir dan semen.
    2.1.7 Material yang bertebaran di sekitar area pemasangan batu bata.
    2.1.8 Material terjatuh dari perancah/ scaffold.
    2.1.9 Pemasangan batu bata miring.
    2.1.10 Adanya pekerja atau orang lain yang tidak berkepentingan berlalu lalang di area pekerjaan.
    2.1.11 Perancah/ scaffold tidak dipasang dengan benar, komponen-komponen perancah/ scaffold dalam kondisi tidak memadai/ tidak layak pakai, seperti : platform licin, pipa scaffold berkarat, bengkok, permukaan tanah untuk perancah/ scaffold yang tidak stabil dan tidak rata.
    2.1.12 Tidak ada pagar pembatas pada perancah/ scaffold untuk perlindungan jatuh.
    2.1.13 Kondisi full body harness untuk digunakan pada saat pemasangan batu bata di ketinggian lebih dari 1,80 meter yang tidak bagus/ tidak layak pakai.
    2.1.14 Kondisi tangga yang tidak standar (untuk akses naik dan turun di area pemasangan batu bata dengan ketinggian diatas 3,00 meter).
    2.1.15 Titik jepit pada alat mekanis untuk mengangkat material di ketinggian.
    2.1.16 Ergonomi/ pergerakan pekerja (gerakan yang monoton secara terus menerus pada saat pemasangan bata, seperti jongkok, membungkuk, berdiri selama ±3 jam ).
    2.1.17 Pengaturan jam kerja yang melebihi 8 jam.

    2.2. Deskripsi konsekuensi terhadap manusia, alat/peralatan, lingkungan.

    2.2.1.1 Hilangnya hari kerja (Lost Time Ijury) dengan cacat permanen karena tidak memahami prosedur, kematian karena tidak menggunakan Alat Pelindung Diri untuk pekerjaan di ketinggian lebih dari 3 meter.
    2.2.1.2 Kerusakan peralatan (perancah/ scaffold) yang mengakibatkan kerugian yang besar karena pekerjaan di ketinggian lebih dari 3 meter membutuhkan scaffold dengan jumlah besar.
    2.2.2 Terjadi korsleting di area pemasangan batu bata, luka bakar pada pekerja yang dapat mengakibatkan hilangnya hari kerja (Lost Time Ijury) dengan cacat permanen akibat luka bakar.
    2.2.3 Penyakit kulit karena adanya bakteri di pakaian yang penuh keringat yang digunakan pada pekerja dan luka pada pekerja karena tergigit serangga, kalajengking.
    2.2.4.1 Bekerja di cuaca yang sangat panas dapat membuat pekerja pingsan, fatique.
    2.2.4.2 Bekerja pada saat hujan/ angin kencang dapat menyebabkan kematian akibat terjatuh di ketinggian lebih dari 3 meter karena lantai perancah/ scaffold menjadi licin.
    2.2.5 Fatique karena penerangan yang tidak memadai.
    2.2.6 Gangguan pernapasan karena terpapar debu dan partikel secara terus-menerus.
    2.2.7 Pekerja tersandung dan terluka karena adanya material yang bertebaran di area pemasangan batu bata.
    2.2.8 Hilangnya hari kerja (Lost Time Ijury) dengan cacat permanen, kematian pekerja karena terkena material yang jatuh dari perancah/ scaffold di ketinggian lebih dari 3 meter.
    2.2.9 Pemasangan batu bata yang miring tidak sesuai prosedur dapat menyebabkan kerusakan material dan kerugian materi yang besar karena harus mengulang pemasangan batu bata agar sesuai standar.
    2.2.10 Pekerja atau orang lain mengalai cedera/ terluka karena terkena material yang bertebaran di area pemasangan batu bata.
    2.2.11 Kerusakan perancah/ scaffold karena tidak sesuai standar.
    2.2.12 Kematian pekerja karena terjatuh dari perancah/ scafffold yang tidak dipasangi pagar pembatas.
    2.2.13 Kematian pekerja karena terjatuh di ketinggian lebih dari 3 meter karena kondisi body harness yang tidak layak.
    2.2.14 Pekerja mengalami cedera, kehilangan hari kerja dengan cacat permanen karena terjatuh dari tangga yang tidak layak, kematian pekerja yang terjatuh di ketinggian lebih dari 3 meter .
    2.2.15 Tangan terluka karena terjepit oleh peralatan mekanis.
    2.2.16 Terkilir dan fatique karena ergonomi pekerja yang tidak baik.
    2.2.17 Fatique yang dapat menimbulkan kecelakaan karena jam kerja yang melebihi 8 jam.

    2.3. Deskripsi konsekuensi terhadap manusia, alat/peralatan, lingkungan.

    2.3.1.1 Kemungkinan Terjadi (Sering) x Keparahan (Serius) = Resiko (Tinggi)
    2.3.1.2 Kemungkinan Terjadi (Sering) x Keparahan (Sedang) = Resiko (Tinggi)
    2.3.2 Kemungkinan Terjadi (Jarang) x Keparahan (Serius) = Resiko (Tinggi)
    2.3.4.1 Kemungkinan Terjadi (Sering) x Keparahan (Sedang) = Resiko (Tinggi)
    2.3.4.2 Kemungkinan Terjadi (Sering) x Keparahan (Serius) = Resiko (Tinggi)
    2.3.5 Kemungkinan Terjadi (Sering) x Keparahan (Sedang) = Resiko (Tinggi)
    2.3.6 Kemungkinan Terjadi (Sering) x Keparahan (Serius) = Resiko (Tinggi)
    2.3.7 Kemungkinan Terjadi (Sering) x Keparahan (Sedang) = Resiko (Tinggi)
    2.3.8 Kemungkinan Terjadi (Sering) x Keparahan (Serius) = Resiko (Tinggi)
    2.3.9 Kemungkinan Terjadi (Jarang) x Keparahan (Serius) = Resiko (Tinggi)
    2.3.10 Kemungkinan Terjadi (Sering) x Keparahan (Serius) = Resiko (Tinggi)
    2.3.11 Kemungkinan Terjadi (Sering) x Keparahan (Sedang) = Resiko (Tinggi)
    2.3.12 Kemungkinan Terjadi (Sering) x Keparahan (Serius) = Resiko (Tinggi)
    2.3.13 Kemungkinan Terjadi (Sering) x Keparahan (Serius) = Resiko (Tinggi)
    2.3.14 Kemungkinan Terjadi (Sering) x Keparahan (Serius) = Resiko (Tinggi)
    2.3.15 Kemungkinan Terjadi (Jarang) x Keparahan (Serius) = Resiko (Tinggi)
    2.3.16 Kemungkinan Terjadi (Sering) x Keparahan (Sedang) = Resiko (Tinggi)
    2.3.17 Kemungkinan Terjadi (Sering) x Keparahan (Sedang) = Resiko (Tinggi)

    2.4 Pengendalian potensi bahaya (Eliminasi, Substitusi, Rekayasa Teknis, Administratif, APD).

    2.4.1 Kompetensi pekerja
    2.4.1.1 Bekerja tidak sesuai prosedur dan tanpa Alat Pelindung Diri.
    2.4.1.1.1 Substitusi : Mengganti pekerja yang tidak berkompeten dan tidak memiliki keahlian.
    2.4.1.1.2 Administratif : Membuat prodedur pemasangan batu bata dan sosialisasi mengenai prosedur tersebut, membuat surat ijin kerja sebelum melakukan pekerjaan, membuat JSA mengenai pemasangan batu bata.
    2.4.1.1.3 APD : Menggunakan safety shoes, safety helmet, safety glass, hand glove, dust mask dan full body harness dengan benar.
    2.4.1.2 Scaffolder tidak memiliki keahlian
    2.4.1.2.1 Substitusi : Memilih scaffolder berkompeten dan memiliki sertifikat.
    2.4.1.2.2 Rekayasa Teknis : Memasang perancah/ scaffold yang sesuai standar.
    2.4.1.2.3 Administratif : Pemeriksaan perancah/ scaffold secara rutin.
    2.4.1.2.4 Training : Memberikan pelatihan tentang perancah/ scaffold.
    2.4.1.2.4 APD : Menggunakan safety shoes, safety helmet, safety glass, hand glove, dust mask dan full body harness dengan benar.

    2.4.2 Bahaya listrik
    2.4.2.1 Isolasi : Memberi tanda/ barikade di area jaringan kabel listrik yang masih aktif.
    2.4.2.2 Admisnistratif : Pemeriksaan jaringan kabel listrik secara rutin, pada ketinggian diatas 3 meter yang mengenai kabel tegangan tinggi, harus memperoleh izin dari petugas kelistrikan..
    2.4.2.3 APD : Menggunakan safety shoes, safety helmet, safety glass, hand glove, dust mask dan full body harness dengan benar.

    2.4.3 Bahaya biologi (laba-laba, serangga)
    2.4.3.1 Admisnistratif : Melakukan pemeriksaan terhadap unsur bahaya biologi seperti laba-laba, serangga dan melakukan housekeeping secara rutin
    2.4.3.2 APD : Menggunakan coverall, safety shoes, safety helmet, safety glass, hand glove, full body harness, dust mask dengan benar.

    2.4.4 Bahaya cuaca
    2.4.4.1 Panas
    2.4.4.1.1 Isolasi : Mengisolasi tempat istirahat dengan memasang tenda agar tidak terpapar langsung oleh matahari.
    2.4.4.1.2 Administratif : Pengaturan jam kerja yang tepat dan jam istirahat yang cukup sehingga pekerja tidak mengalami fatigue.
    2.4.4.1.3 APD : Menggunakan safety shoes, safety helmet, full body harness, coverall, kacamata keselamatan berwarna hitam untuk mengurangi paparan langsung matahari ke mata.
    2.4.4.2 Hujan, angin kencang
    2.4.4.2.1 Eliminasi : Menghentikan pekerjaan pada saat hujan dan angin kencang.
    2.4.4.2.2 APD : Menggunakan safety shoes, safety glass, safety helmet, full body harness.

    2.4.5 Gelap/ penerangan tidak memadai
    2.4.5.1 Rekayasa Teknis : Memberikan penerangan yang cukup terutama selama jam-jam/ waktu gelap.
    2.4.5.2 Administratif : Pengaturan jam kerja yang benar.
    2.4.5.3 APD : Menggunakan safety shoes, safety helmet, coverall, kacamata keselamatan berwarna bening/ putih.

    2.4.6 Debu/ partikel
    2.4.6.1 Isolasi : Menyiram area sekitar pekerjaan dengan air untuk mengurangi paparan debu/ partikel.
    2.4.6.2 APD : Menggunakan safety shoes, safety helmet, safety glass, hand glove, dust mask dan body harness dengan benar.

    2.4.7 Material yang bertebaran di area kerja
    2.4.7.1 Eliminasi : Membuang material yang tidak terpakai pada tempat sampah sesuai jenisnya.
    2.4.7.2 Isolasi : Membuat tempat untuk penyimpanan material yang berceceran.
    2.4.7.3 APD : Menggunakan safety shoes, safety helmet, safety glass, hand glove, dust mask dan body harness dengan benar.

    2.4.8 Material terjatuh dari perancah
    2.4.8.1 Isolasi : Menggunakan toolbox untuk penempatan peralatan kerja, memberi tanda/ barikade di sekitar perancah/ scaffold.
    2.4.8.2 Administratif : Pemeriksaan rutin terhadap alat dan sistem pelindung jatuh, membuat JSA sebelum bekerja
    2.4.8.3 APD : Menggunakan jaring/ jala pengaman yang sesuai standar dibawah perancah/ scaffold untuk mencegah material jatuh, menggunakan full body harness, safety shoes, safety helmet, safety glass, dust mask.

    2.4.9 Pemasangan batu bata miring (tidak sesuai prosedur)
    2.4.9.1 Substitusi : Mengganti pekerja yang tidak berkompeten dan tidak memiliki keahlian.
    2.4.9.2 Administratif : Sosialisai prosedur pemasangan batu bata kepada pekerja, membuat JSA sebelum bekerja.
    Melakukan pengecoran pada setiap ketinggian tertentu (sekita 1,20 – 1,50 meter) untuk mencegah runtuhnya pemasangan batu bata, dan pengecoran dilakukan setelah batu bata yang dipasang mengering.
    2.4.9.3 APD : Menggunakan full body harness, safety shoes, safety helmet, safety glass, hand glove, dust mask dengan benar.

    2.4.10 Pekerja yang berlalu-lalang di area kerja
    2.4.10.1 Isolasi : Memberi tanda/ barikade di sekitar perancah/ scaffold, memasang warning sign/ larangan kepada orang yang berlalu lalang di area pemasangan batu bata.
    2.4.10.2 APD : Menggunakan coverall, safety shoes, safety helmet, safety glass, hand glove, dust mask dengan benar.

    2.4.11 Perancah/ scaffold tidak sesuai standar
    2.4.11.1 Substitusi : Memilih pekerja yang berkompeten dan memiliki keahlian mengenai perancah/ scaffold.
    2.4.11.2 Rekayasa Teknik : Memasang perancah/ scaffold sesuai dengan standar, memasang guard rails (pegangan tangan) pada perancah/ scaffold, papan (planks) harus kuat dan menutup minimal 3/4 bagian dari luas lantai kerja, dan terkait kuat pada struktur perancah/ scaffold, dan seluruh komponen pada perancah/ scaffold sesuai dengan standar.
    2.4.11.3 Administratif : Melakukan safety talks sebelum memulai pekerjaan, membuat JSA mengenai bekerja di ketinggian, melakukan pemeriksaan perancah/ scaffold secara rutin.
    2.4.11.4 Training : Melakukan pelatihan tentang perancah/ scaffold, pelatihan untuk bekerja di ketinggian.
    2.4.11.5 APD : Menggunakan jaring/ jala pengaman yang sesuai standar dibawah perancah/ scaffold untuk mencegah material jatuh, menggunakan full body harness, safety shoes, safety helmet, safety glass, hand glove, dust mask dengan benar.

    2.4.12 Tidak ada pagar pembatas pada perancah/ scaffold
    2.4.12.1 Rekayasa Teknik : Memasang pagar pembatas/ pegangan tangan pada perancah/ scaffold.
    2.4.12.2 Administratif : Melakukan safety talks sebelum memulai pekerjaan, membuat JSA mengenai bekerja di ketinggian, melakukan pemeriksaan perancah/ scaffold secara rutin.
    2.4.12.3 Training : Melakukan pelatihan tentang perancah/ scaffold, pelatihan untuk bekerja di ketinggian.
    2.4.12.4 APD : Menggunakan jaring/ jala pengaman yang sesuai standar dibawah perancah/ scaffold, menggunakan full body harness, safety shoes, safety helmet, safety glass, hand glove, dust mask dengan benar.

    2.4.13 Kondisi body harness tidak sesuai standar
    2.4.13.1 Substitusi : Memilih pekerja yang berkompeten dan memiliki keahlian
    2.4.13.2 Rekayasa Teknik : Pemasangan sistem Peralatan Pelindung Jatuh: anchorage, lifeline dan body harness.
    2.4.13.3 Administratif : Pemeriksaan body harness secara rutin , melakukan safety talks sebelum bekerja, membuat JSA .
    2.4.13.4 Training : Melakukan mengenai pekerjaan di ketinggian
    2.4.13.5 APD : Menggunakan body harness, safety shoes, safety helmet, safety glass, hand glove, dust mask dengan benar.

    2.4.14 Kondisi tangga yang tidak sesuai standar dan tidak layak pakai
    2.4.14.1 Substitusi : Mengganti tangga yang rusak dengan tangga yang layak digunakan.
    2.4.14.2 Rekayasa Teknik : Memasang handrail pada tangga.
    2.4.14.3 Administratif : Pemeriksaan kondisi tangga, melakukan safety talk sebelum bekerja, sosialisasi mengenai penggunaan tangga, seperti memperhatikan 3 titik tumpu pada saat menaiki tangga.
    2.4.14.4 APD : Menggunakan body harness, safety shoes, safety helmet, safety glass, hand glove, dust mask dengan benar.

    2.4.15 Titik jepit pada peralatan mekanis
    2.4.15.1 Administratif : Melakukan safety talks sebelum bekerja, membuat JSA, sosialiasi mengenai penerapan ergonomi pada pekerjaan pemasangan batu bata.
    2.4.15.2 APD : Menggunakan body harness, safety shoes, safety helmet, safety glass, hand glove, dust mask dengan benar.

    2.4.16 Ergonomi/ pergerakan pekerja yang tidak benar
    2.4.16.1 Administratif : Pengaturan jam kerja tepat dan jam istirahat yang cukup, sosialiasi mengenai penerapan ergonomi pada pekerjaan pemasangan batu bata.

    2.4.17 Jam kerja yang tidak sesuai standar
    2.4.17.1 Administratif : Pengaturan jam kerja tepat dan jam istirahat yang cukup, pengaturan pola shift kerja apabila melebihi 8 jam.

    2.5 Risiko sisa (Tingkat kemungkinan, Tingkat keparahan, Tingkat risiko)

    2.5.1.1 Kemungkinan Terjadi (Sulit Terjadi) x Keparahan (Sedang) = Resiko
    2.5.1.2 Kemungkinan Terjadi (Jarang) x Keparahan (Ringan) = Resiko (Tinggi)
    2.5.2 Kemungkinan Terjadi (Jarang) x Keparahan (Ringan) = Resiko (Tinggi)
    2.5.4.1 Kemungkinan Terjadi (Sulit Terjadi) x Keparahan (Sedang) = Resiko (Rendah)
    2.5.4.2 Kemungkinan Terjadi (Sulit Terjadi) x Keparahan (Sedang) = Resiko (Rendah)
    2.5.5 Kemungkinan Terjadi (Jarang) x Keparahan (Ringan) = Resiko (Rendah)
    2.5.6 Kemungkinan Terjadi (Jarang) x Keparahan (Ringan) = Resiko (Rendah)
    2.5.7 Kemungkinan Terjadi (Jarang) x Keparahan (Ringan) = Resiko (Rendah)
    2.5.8 Kemungkinan Terjadi (Sulit Terjadi) x Keparahan (Sedang) = Resiko (Rendah)
    2.5.9 Kemungkinan Terjadi (Sulit Terjadi) x Keparahan (Sedang) = Resiko (Rendah)
    2.5.10 Kemungkinan Terjadi (Jarang) x Keparahan (Ringan) = Resiko (Rendah)
    2.5.11 Kemungkinan Terjadi (Jarang) x Keparahan (Ringan) = Resiko (Rendah)
    2.5.12 Kemungkinan Terjadi (Jarang) x Keparahan (Ringan) = Resiko (Rendah)
    2.5.13 Kemungkinan Terjadi (Sulit Terjadi) x Keparahan (Sedang) = Resiko (Rendah)
    2.5.14 Kemungkinan Terjadi (Sulit Terjadi) x Keparahan (Sedang) = Resiko (Rendah)
    2.5.15 Kemungkinan Terjadi (Jarang) x Keparahan (Ringan) = Resiko (Rendah)
    2.5.16 Kemungkinan Terjadi (Sulit Terjadi) x Keparahan (Sedang) = Resiko (Rendah)
    2.5.17 Kemungkinan Terjadi (Sulit Terjadi) x Keparahan (Sedang) = Resiko (Rendah)

    2.6 Pengendalian tambahan terhadap bahaya (bila ada).
    – Tidak ada.

    Keterangan Perhitungan Resiko :
    – Kemungkinan Terjadi (Sulit Terjadi) x Keparahan (Ringan) = Resiko (Rendah)
    – Kemungkinan Terjadi (Jarang) x Keparahan (Ringan) = Resiko (Rendah)
    – Kemungkinan Terjadi (Sering) x Keparahan (Ringan) = Resiko (Sedang)

    – Kemungkinan Terjadi (Sulit Terjadi) x Keparahan (Sedang) = Resiko (Rendah)
    – Kemungkinan Terjadi (Jarang) x Keparahan (Sedang) = Resiko (Sedang)
    – Kemungkinan Terjadi (Sering) x Keparahan (Sedang) = Resiko (Tinggi)

    – Kemungkinan Terjadi (Sulit Terjadi) x Keparahan (Serius) = Resiko (Sedang)
    – Kemungkinan Terjadi (Jarang) x Keparahan (Serius) = Resiko (Tinggi)
    – Kemungkinan Terjadi (Sering) x Keparahan (Serius) = Resiko (Tinggi)

    Nama : Pebriyanti
    NPM : 13.11.106.701501.0841
    Kelas : B1
    Semester : 5

  5. 1. pekerjaan pemasangan bata ringan untuk perumahan dengan ketinggian sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah

    1.1 Potensi penyebab bahaya :

    1.1.1 Tempat pijakan kaki yang tidak standar
    1.1.2 Debu
    1.1.3 Kondisi tanah tidak rata
    1.1.4 Tidak memakai APD yang lengkap
    1.1.5 Stress kerja
    1.1.6 Posisi kerja
    1.1.7 Jam kerja
    1.1.8 Bakteri dan binatang kecil
    1.1.9 Bekerja diketinggian

    1.2 Deskripsi konsekuensi terhadap manusia, alat/peralatan, lingkungan :

    1.2.1 -Manusia : Terkilir, luka-luka, patah tulang
    -Alat/peralatan : Kerusakan peralatan kerja ( pijakan kaki/andang )
    1.2.2 -Manusia : Gangguan kesehatan ( sesak nafas )
    -Lingkungan : Polusi udara
    1.2.3 -Manusia : Terkilir, luka-luka, patah tulang ( terjatuh karena pijakan kaki yang dipasang di tanah yang tidak rata )
    -Peralatan : Pijakan kaki yang rusak dikarenakan posisi pijakan tidak stabil
    1.2.4 -Manusia : Terkilir, luka-luka, patah tulang, Gangguan kesehatan ( sesak nafas)
    1.2.5 -Manusia : pekerjaan tidak maksimal
    1.2.6 -Manusia : gangguan pada tulang belakang
    1.2.7 -Manusia : Kelelahan pada pekerja
    1.2.8 -Manusia : Gatal, infeksi
    -Alat/peralatan : pijakan kaki rusak karena rayab
    1.2.9 -Manusia : Terkilir, luka-luka, patah tulang

    1.3 Resiko Awal :

    1.3.1 Tingkat kemungkinan untuk pekerja adalah pasti terjadi karena tempat pijakan kaki tidak standar
    Tingkat keparahan untuk pekerja adalah patah tulang karena pekerja tidak memakai APD dan menggunakan peralatan yang tidak standar
    Tingkat Resikonya high
    1.3.2 Tingkat kemungkinan untuk pekerja adalah kemungkinan besar terjadinya gangguan kesehatan karena pekerja tidak memakai masker
    Tingkat Keparahan untuk pekerja adalah sesak nafas karena pekerja tidak memakai APD
    Tingkat resikonya Medium
    1.3.3 Tingkat kemungkinan untuk pekerja adalah pasti terjadi karena permukaan tanah yang tidak rata mengakibatkan pijakan kaki yang tidak stabil dan pekerja yang diatas terjatuh
    Tingkat keparahan untuk pekerja adalah patah tulang
    Tingkat resikonya high
    1.3.4 Tingkat kemungkinan untuk pekerja adalah pasti terjadi karena pekerja tidak memakai APD
    Tingkat keparahan untuk pekerja adalah patah tulang karena tidak memakai body harness
    Tingkat resiko high
    1.3.5 Tingkat kemungkinan untuk pekerja adalah mungkin terjadi karena dalam kondisi kerja di atas tidak memenui standar
    Tingkat keparahan untuk pekerja adalah pekerjaan yang dia lakukan tidak maksimal
    Tingkat resikonya low
    1.3.6 Tingkat kemungkinan untuk pekerja adalah mingkin terjadi karena posisi kerja yang tidak ergonomi
    Tingkat keparahan untuk pekerja adalah gangguang pada tulang belakang
    Tingkat resikonya medium
    1.3.7 Tingkat kemungkinan untuk pekerja adalah pasti terjadi karena jam kerja yang tidak beraturan
    Tingkat keparahan untuk pekerja adalah kelelahan pada pekerja
    Tingkat resikonya medium
    1.3.8 Tingkat kemungkinan untuk pekerja adalah kemungkinan besar terjadi terjadi karena pekerja tidak memakai APD
    Tingkat keparahan untuk pekerja adalah infeksi
    Tingkat resikonya medium
    1.3.9 Tingkat kemungkinan untuk pekerja adalah pasti terjadi karena pekerja tidak memakai APD dan peralatan yang digunakan tidak standar
    Tingkat keparahan untuk pekerja adalah patah tulang
    Tingkat resikonya high

    1.4 Pengendalian potensi bahaya :

    1.4.1 Mengganti pijakan kaki yang terbuat dari kayu dengan scaffolding
    Memberi pegangan disekeliling scaffolding
    1.4.2 Menggunakan masker
    1.4.3 Meratakan permukaan tanah
    Melapisi permukaan tanah dengan kayu sehingga permukaan tanah menjadi rata
    1.4.4 Menggunakan alat pelindung diri yang lengkap dan sesuai standar
    1.4.5 Memberi jam istirahat yang sesuai
    1.4.6 Memberi pengarahan tentang ergonomi kepada pekerja
    Pekerja harus menerapkan ergonomi
    1.4.7 Mengatur jam kerja sesuai dengan standar ( 8 jam/hari atau 40 jam/minggu
    1.4.8 Menggunakan APD seperti masker, kacamata, sepatu safety, sarung tangan
    Menggunakan pakaian yang panjang dan bersih
    1.4.9 Menggunakan Scaffolding yang standar
    Memberikan pengarahan sebelum bekerja
    Memberi pegangan disisi-sisi scaffolding
    Menggunakan body harness
    Memberi SOP/JSA kepada pekerja
    Memberikan garis pembatas di tempat kerja
    Menggunakan APD yang lengkap ( helm, masker, kacamata,sarung tangan sepatu safety )

    1.5 Resiko Sisa :

    1.5.1 Tingkat kemungkinan untuk pekerja adalah kemungkinan kecil terjadi karena pijakan kaki yang terbuat dari kayu diganti dengan scaffolding yang sesuai standar dan sekelilinf scaffolding dipasangin pegangan
    Tingkat keparahan untuk pekerja adalah patah tulang ( medical treatment )
    Tingkat resikonya low
    1.5.2 Tingkat kemungkinan untuk pekerja adalah kemungkinan kecil terjadi karena sudah diberi control yang sesuai
    Tingkat keparahan untuk pekerja adalah batuk – batuk karena pekerja sudah memakai masker
    Tingkat resikonya low
    1.5.3 Tingkat kemungkinan untuk pekerja adalah sangat kecil terjadi karena sudah diberi control yang sesuai
    Tingkat keparahan untuk pekerja adalah patah tulang
    Tingkat resikonya low
    1.5.4 Tingkat kemungkinan untuk pekerja adalah pekerja sudah menggunakan APD ynag lengkap dan standar sehingga sangat kecil kemungkinan terjadinya kecelakaan
    Tingkat keparahan untuk pekerja adalah luka-luka karena sudah dilengkapi dengan APD
    Tingkat resikonya low
    1.5.5 Tingkat kemungkinan untuk pekerja adalah sangat kecil karena pekerja diberi istirahat yang cukup
    Tingkat keparahan untuk pekerja adalah pekerjaan tidak maksimal
    Tingkat resikonya low
    1.5.6 Tingkat kemungkinan untuk pekerja adalah sangat kecil karena pekerja sudah menerapkan ergonomi
    Tingkat keparahan untuk pekerja adalah gangguan tulang belakang
    Tingkat resikonya low
    1.5.7 Tingkat kemungkinan untuk pekerja adalah kemungkinan kecil terjadi kelelahan karena jam kerja sudah diatur sesuai dengan standar
    Tingkat keparahan untuk pekerja adalah kelelahan
    Tingkat resikonya low
    1.5.8 Tingkat kemungkinan untuk pekerja adalah sangat mungkin terjadi karena sudah diberi contol ynag sesuai
    Tingkat keparahan untuk pekerja adalah gatal-gatal karena sudah memakai APD dan pakaian panjang
    Tingkat resikonya low
    1.5.9 Tingkat kemungkinan untuk pekerja adalah sanagt kecil karena sudah diberi control yang sesuai
    Tingkat keparahan untuk pekerja adalah luka-luka karena pekerja sudah dilengkapi dengan APD
    Tingkat resikonya low

    2. pekerjaan pemasangan bata ringan untuk gedung bertingkat dengan ketinggian diatas 3,00 meter

    2.1 Potensi penyebab bahaya :

    2.1.1 Tempat pijakan kaki yang tidak standar
    2.1.2 Debu
    2.1.3 Kondisi tanah tidak rata
    2.1.4 Tidak memakai APD yang lengkap
    2.1.5 Stress kerja
    2.1.6 Posisi kerja
    2.1.7 Jam kerja
    2.1.8 Bakteri dan binatang kecil
    2.1.9 Bekerja diketinggian

    2.2 Deskripsi konsekuensi terhadap manusia, alat/peralatan, lingkungan :

    2.2.1 -Manusia : Terkilir, luka-luka, patah tulang, kematian
    -Alat/peralatan : Kerusakan peralatan kerja ( pijakan kaki/andang )
    2.2.2 -Manusia : Gangguan kesehatan ( sesak nafas )
    -Lingkungan : Polusi udara
    2.2.3 -Manusia : Terkilir, luka-luka, patah tulang, kematian ( terjatuh karena pijakan kaki yang dipasang di tanah yang tidak rata )
    -Peralatan : Pijakan kaki yang rusak dikarenakan posisi pijakan tidak stabil
    2.2.4 -Manusia : Terkilir, luka-luka, patah tulang, kematian Gangguan kesehatan ( sesak nafas)
    2.2.5 -Manusia : pekerjaan tidak maksimal
    2.2.6 -Manusia : gangguan pada tulang belakang
    2.2.7 -Manusia : Kelelahan pada pekerja
    2.2.8 -Manusia : Gatal, infeksi
    -Alat/peralatan : pijakan kaki rusak karena rayab
    2.2.9 -Manusia : Terkilir, luka-luka, patah tulang, kematian

    2.3 Resiko Awal :

    2.3.1 Tingkat kemungkinan untuk pekerja adalah pasti terjadi karena tempat pijakan kaki tidak standar
    Tingkat keparahan untuk pekerja adalah kematian karena pekerja tidak memakai APD dan menggunakan peralatan yang tidak standar
    Tingkat Resikonya significant
    2.3.2 Tingkat kemungkinan untuk pekerja adalah kemungkinan besar terjadinya gangguan kesehatan karena pekerja tidak memakai masker
    Tingkat Keparahan untuk pekerja adalah sesak nafas karena pekerja tidak memakai APD
    Tingkat resikonya Medium
    2.3.3 Tingkat kemungkinan untuk pekerja adalah pasti terjadi karena permukaan tanah yang tidak rata mengakibatkan pijakan kaki yang tidak stabil dan pekerja yang diatas terjatuh
    Tingkat keparahan untuk pekerja adalah kematian
    Tingkat resikonya sifnificant
    2.3.4 Tingkat kemungkinan untuk pekerja adalah pasti terjadi karena pekerja tidak memakai APD
    Tingkat keparahan untuk pekerja adalah kematian karena tidak memakai body harness
    Tingkat resiko significant
    2.3.5 Tingkat kemungkinan untuk pekerja adalah mungkin terjadi karena dalam kondisi kerja di atas tidak memenui standar
    Tingkat keparahan untuk pekerja adalah pekerjaan yang dia lakukan tidak maksimal
    Tingkat resikonya low
    2.3.6 Tingkat kemungkinan untuk pekerja adalah mingkin terjadi karena posisi kerja yang tidak ergonomi
    Tingkat keparahan untuk pekerja adalah gangguang pada tulang belakang
    Tingkat resikonya medium
    2.3.7 Tingkat kemungkinan untuk pekerja adalah pasti terjadi karena jam kerja yang tidak beraturan
    Tingkat keparahan untuk pekerja adalah kelelahan pada pekerja
    Tingkat resikonya medium
    2.3.8 Tingkat kemungkinan untuk pekerja adalah kemungkinan besar terjadi terjadi karena pekerja tidak memakai APD
    Tingkat keparahan untuk pekerja adalah infeksi
    Tingkat resikonya medium
    2.3.9 Tingkat kemungkinan untuk pekerja adalah pasti terjadi karena pekerja tidak memakai APD dan peralatan yang digunakan tidak standar
    Tingkat keparahan untuk pekerja adalah kematian
    Tingkat resikonya significant

    2.4 Pengendalian potensi bahaya :

    2.4.1 Mengganti pijakan kaki yang terbuat dari kayu dengan scaffolding
    Memberi pegangan disekeliling scaffolding
    Menggunakan body harness
    2.4.2 Menggunakan masker
    2.4.3 Meratakan permukaan tanah
    Melapisi permukaan tanah dengan kayu sehingga permukaan tanah menjadi rata
    Memberi body harness kepada pekerja
    2.4.4 Menggunakan alat pelindung diri yang lengkap dan sesuai standar
    2.4.5 Memberi jam istirahat yang sesuai
    2.4.6 Memberi pengarahan tentang ergonomi kepada pekerja
    Pekerja harus menerapkan ergonomi
    2.4.7 Mengatur jam kerja sesuai dengan standar ( 8 jam/hari atau 40 jam/minggu
    2.4.8 Menggunakan APD seperti masker, kacamata, sepatu safety, sarung tangan
    Menggunakan pakaian yang panjang dan bersih
    2.4.9 Menggunakan Scaffolding yang standar
    Memberikan pengarahan sebelum bekerja
    Memberi pegangan disisi-sisi scaffolding
    Menggunakan body harness
    Memberi SOP/JSA kepada pekerja
    Memberikan garis pembatas di tempat kerja
    Menggunakan katrol konstruksi untuk mengangkat material
    Menggunakan APD yang lengkap ( helm, masker, kacamata,sarung tangan sepatu safety )

    2.5 Resiko Sisa :

    2.5.1 Tingkat kemungkinan untuk pekerja adalah kemungkinan kecil terjadi karena pijakan kaki yang terbuat dari kayu diganti dengan scaffolding yang sesuai standar dan sekelilinf scaffolding dipasangin pegangan
    Tingkat keparahan untuk pekerja adalah luka-luka
    Tingkat resikonya low
    2.5.2 Tingkat kemungkinan untuk pekerja adalah kemungkinan kecil terjadi karena sudah diberi control yang sesuai
    Tingkat keparahan untuk pekerja adalah batuk – batuk karena pekerja sudah memakai masker
    Tingkat resikonya low
    2.5.3 Tingkat kemungkinan untuk pekerja adalah sangat kecil terjadi karena sudah diberi control yang sesuai
    Tingkat keparahan untuk pekerja adalah luka-luka
    Tingkat resikonya low
    2.5.4 Tingkat kemungkinan untuk pekerja adalah pekerja sudah menggunakan APD ynag lengkap dan standar sehingga sangat kecil kemungkinan terjadinya kecelakaan
    Tingkat keparahan untuk pekerja adalah luka-luka karena sudah dilengkapi dengan APD
    Tingkat resikonya low
    2.5.5 Tingkat kemungkinan untuk pekerja adalah sangat kecil karena pekerja diberi istirahat yang cukup
    Tingkat keparahan untuk pekerja adalah pekerjaan tidak maksimal
    Tingkat resikonya low
    2.5.6 Tingkat kemungkinan untuk pekerja adalah sangat kecil karena pekerja sudah menerapkan ergonomi
    Tingkat keparahan untuk pekerja adalah gangguan tulang belakang
    Tingkat resikonya low
    2.5.7 Tingkat kemungkinan untuk pekerja adalah kemungkinan kecil terjadi kelelahan karena jam kerja sudah diatur sesuai dengan standar
    Tingkat keparahan untuk pekerja adalah kelelahan
    Tingkat resikonya low
    2.5.8 Tingkat kemungkinan untuk pekerja adalah sangat mungkin terjadi karena sudah diberi contol ynag sesuai
    Tingkat keparahan untuk pekerja adalah gatal-gatal karena sudah memakai APD dan pakaian panjang
    Tingkat resikonya low
    2.5.9 Tingkat kemungkinan untuk pekerja adalah sanagt kecil karena sudah diberi control yang sesuai
    Tingkat keparahan untuk pekerja adalah luka-luka karena pekerja sudah dilengkapi dengan APD
    Tingkat resikonya low

    NAma : Sa’diyah putri R
    Kelas: B1
    Semester : V
    NPM : 13.11.106.701501.0839

  6. Maaf pak yang pertama saya salah kirim, ada sedikit kata yang salah dalam pernyataan kedua
    di Resiko Awal bekerja di ketinggian diatas 3,00 meter

    ini perbaikannya pak :

    1. Pekerjaan pemasangan bata ringan untuk perumahan dengan ketinggian sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.

    potensi penyebab bahaya :

    1. dengan batas standard yang di tetap untuk bekerja di ketinggian 1,8 maka dengan pernyataan dia atas maka potensi terjatuh dan mengakibatkan cidera serius/patah tulang dapat terjadi.
    2. tertimpa material yang kemungkinan ada di sekitarnya yang terletak tepat diatas tumpuan penyanggah.
    3. menurut gambar di atas aspek ergonomic pun dapat terjadi Msds ( moskuloskeletal disorders). yang dimana pekerja melakukan pekerjaan berulang dengan posisi yang kurang memungkinkan.
    4. telapak tangan akan mengalami cidera akibat mengangkut dan memindahkan tanpa adanya sarung tangan.
    5. jika kaki pekerja tertimpa material maka akan mengalami cidera di karenakan hanya memakai sendal jepit
    6. akan mengalami fatiq atau kelelahan akibat panas yang langsung memancarkan tepat pada si pekerja karena perlengkapan safety yang sangat kurang memadai.
    7. akan mengalami gangguan pernafasan, dan mata akibat debu yang dihasilkan dari pemasangan bata ringan

    Deskripsi konsekuensi terhadap manusia, alat/peralatan, lingkungan.

    1. Terhadap manusia
    jika potensi bahaya yang saya analisis itu terjadi dan membuktikan bahwa insiden itu terjadi setiap tahun untuk kategori bahaya seperti itu sangatlah minim jika manusia atau pekerja tidak sama sekali memperhatikan suatu system kerja/prosedur saat bekerja maka konsekuensi yang akan diterima oleh pekerja itu sendiri adalah,

    1.1 mengealami kesenjangan sosial.
    1.2 mengalami cacat.
    1.3 terancam tidak bisa bekerja kembali.
    1.4 mengalami frustasi dan gangguan mental.
    1.5 terganggunya ekonomi keluarga.
    1.6 jika fatality dapat menyebabkan kematian.
    1.7 terbatasnya ruang lingkup.

    2. alat/peralatan
    dari potensi bahaya yang saya analisis faktor yang paling memungkinkan terjaganya suatu alat/peralatan dapat ditunjang dari manusia/pekerja sendiri tentunya ditetapkan SOP dalam penyimpanan suatu alat/peralatan jika kesadaran tidak ada maka konsekuensi bagi peralatan itu sendiri adalah,

    2.1 mengalami kerugian biaya peralatan
    2.2 rusak (tidak bisa digunakan kembali) akibat pemakaian yang tidak sesuai dan penyimpanan yang tidak sesuai dengan tempatnya
    2.3 hilang akibat aktifitas yang kurang peduli
    2.4 cacat alat/peralatan akibat pemakaian yang tidak sesuai dan penyimpanan yang tidak sesuai dengan tempatnya

    3. lingkungan
    lingkungan adalah aspek penting yang harus diperhatikan, tanpa memperhatikan lingkungan kerja suatu pekerjaan berakibat fatal bagi karyawan dan perusahaan atau setiap instansi yang ikut serta dalam proses pekerjaan tersebut dan konsekuensinya adalah,

    3.1 limbah material kecil dan besar berserakan dimana-mana
    3.2 budaya yang kurang memperhatikan keselamatan
    3.3 produktifitas berkurang
    3.4 proses pekerjaan tidak sesuai jadwal
    3.5 potensi bahaya akan tinggi

    Risiko awal (Tingkat kemungkinan, Tingkat keparahan, Tingkat risiko).

    dari potensi bahaya saya analisis ada 7 potensi bahaya dari Pekerjaan pemasangan bata ringan untuk perumahan dengan ketinggian sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah. kita kaitkan dengan

    1. tingkat kemungkinan

    untuk parameter
    sangat jarang : terjadi dalam masa 1 kali dalam kurun waktu lebih dari 1 tahun
    jarang : terjadi 1 kali dalam waktu 1 tahun
    sedang : terjadi 1 kali dalam waktu 1 bulan
    sering : terjadi 1 kali dalam waktu seminggu
    sangat sering : terjadi setiap hari

    1.1 dengan batas standard yang di tetap untuk bekerja di ketinggian 1,8 maka dengan pernyataan dia atas maka potensi terjatuh dan mengakibatkan cidera serius/patah tulang dapat terjadi.(sedang)
    1.2 tertimpa material yang kemungkinan ada di sekitarnya yang terletak tepat diatas tumpuan penyanggah.(sedang)
    1.3 aspek ergonomic pun dapat terjadi Msds ( moskuloskeletal disorders). yang dimana pekerja melakukan pekerjaan berulang dengan posisi yang kurang memungkinkan.(Sering)
    1.4 telapak tangan akan mengalami cidera akibat mengangkut dan memindahkan tanpa adanya sarung tangan.(sering)
    1.5 jika kaki pekerja tertimpa material maka akan mengalami cidera di karenakan hanya memakai sendal jepit (sedang)
    1.6 akan mengalami fatiq atau kelelahan akibat panas yang langsung memancarkan tepat pada si pekerja karena perlengkapan safety yang sangat kurang memadai. (sering)
    1.7 akan mengalami gangguan pernafasan, dan mata akibat debu yang dihasilkan dari pemasangan bata ringan (sering)

    2.tingkat keparahan

    untuk parameter
    sangat ringan : Tidak terdapat cedera/penyakit, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    ringan : Cedera ringan, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    sedang : Mendapat P3K atau tindakan medis, tidak ada hilang jam kerja lebih dari 1X24 jam
    parah : Memerlukan tindakan medis lanjut/rujukan, cacat sementara, terdapat jam kerja hilang 1X24 jam
    sangat parah : Cacat Permanen, Kematian, terdapat jam kerja hilang lebih dari 1X24 jam

    2.1 dengan batas standard yang di tetap untuk bekerja di ketinggian 1,8 maka dengan pernyataan dia atas maka potensi terjatuh dan mengakibatkan cidera serius/patah tulang dapat terjadi.(parah)
    2.2 tertimpa material yang kemungkinan ada di sekitarnya yang terletak tepat diatas tumpuan penyanggah.(sedang)
    2.3 aspek ergonomic pun dapat terjadi Msds ( moskuloskeletal disorders). yang dimana pekerja melakukan pekerjaan berulang dengan posisi yang kurang memungkinkan.(ringan)
    2.4 telapak tangan akan mengalami cidera akibat mengangkut dan memindahkan tanpa adanya sarung tangan.(sedang)
    2.5 jika kaki pekerja tertimpa material maka akan mengalami cidera di karenakan hanya memakai sendal jepit (sedang)
    2.6 akan mengalami fatiq atau kelelahan akibat panas yang langsung memancarkan tepat pada si pekerja karena perlengkapan safety yang sangat kurang memadai. (sedang)
    2.7 akan mengalami gangguan pernafasan, dan mata akibat debu yang dihasilkan dari pemasangan bata ringan (sedang)

    3. tingkat resiko
    tingkat resiko ini adalah kalkulasi antara tingkat kemungkinan dan keparahan yang terjadi di tempat kerja, tingkat resiko ini beragam

    rendah : tag hijau (Perlu Aturan/Prosedur/Rambu)
    sedang : tag kuning (Perlu Tindakan Langsung)
    tinggi : tag merah (Perlu Perencanaan Pengendalian)
    ekstrim : tag ungu (Perlu Perhatian Manajemen Atas)

    dari kalkulasi potensi bahaya yang saya analisis maka tingkat resiko

    3.1 dengan batas standard yang di tetap untuk bekerja di ketinggian 1,8 maka dengan pernyataan dia atas maka potensi terjatuh dan mengakibatkan cidera serius/patah tulang dapat terjadi.(tinggi/tag merah)
    3.2 tertimpa material yang kemungkinan ada di sekitarnya yang terletak tepat diatas tumpuan penyanggah.(sedang/tag kuning)
    3.3 aspek ergonomic pun dapat terjadi Msds ( moskuloskeletal disorders). yang dimana pekerja melakukan pekerjaan berulang dengan posisi yang kurang memungkinkan.(sedang/tag kuning)
    3.4 telapak tangan akan mengalami cidera akibat mengangkut dan memindahkan tanpa adanya sarung tangan.(tinggi/tag merah)
    3.5 jika kaki pekerja tertimpa material maka akan mengalami cidera di karenakan hanya memakai sendal jepit (sedang/tag kuning)
    3.6 akan mengalami fatiq atau kelelahan akibat panas yang langsung memancarkan tepat pada si pekerja karena perlengkapan safety yang sangat kurang memadai. (tinggi/tag merah)
    3.7 akan mengalami gangguan pernafasan, dan mata akibat debu yang dihasilkan dari pemasangan bata ringan (tinggi/tag merah)

    Pengendalian potensi bahaya (Eliminasi, Substitusi, Rekayasa Teknis, Administratif, APD).

    1 Eleminasi

    dari 7 potensi bahaya yang saya jabarkan di atas ada beberapa potensi yang harus di hilangkan
    – aspek prilaku yang kurang sadar akan k3 khususnya konstruksi
    – mengurangi material yang tidak penting penggunaanya
    – limbah konstruksi

    2 subtitusi

    dari 7 potensi bahaya yang saya jabarkan di atas ada beberapa potensi yang harus di subtitusikan
    – menggantikan peralatan sesuai dengan bidang kerja
    – menggantikan bahan-bahan yang memicu limbah konstruksi lebih banyak
    – menggantikan mesin yang mudah dan sesuai standard konstruksi
    – menggantikan waktu kerja dengan karyawan yang lainnya

    3 Rekayasa teknis

    dari 7 potensi bahaya yang saya jabarkan di atas ada beberapa potensi yang harus memiliki rekayasa teknis
    – membuat tempat limbah khusus konstruksi
    – merancang penempatan alat kerja konstruksi sesuai penggunaannya
    – membuat tempat peristirahatan (rest area)
    – membuat alat angkut yang memudahkan pekerjaan sesuai standard
    – membuat sekat batas kerja dan membuat scaffolding pada pekerja di ketinggian sesuai standard

    4 Administratif

    dari 7 potensi bahaya yang saya jabarkan di atas ada beberapa potensi yang harus memiliki tindakan administratif
    – membuat SOP (Standard Operasional Prosedur) cara menggunakan peralatan maupun aktifitas konstruksi
    – Mempunya izin kerja sebelum melakukan konstruksi dan memulai pekerjaan
    – mempunya regulasi dalam setiap aktifitas maupun dalam pekerjaannya
    – setiap SDM (sumber daya manusia) wajib memiliki sertifikasi pekerjaan konstruksi dan memiliki ahli k3 konstuksi
    – membuat durasi waktu atau system kerja yang bergantian
    – membuat tanda (sign safety), label, poster yang berkaitan dengan potensi bahaya sesuai pekerjaan

    5 APD (alat pelindung diri)

    dari 7 potensi bahaya yang saya jabarkan di atas ada beberapa potensi yang harus memiliki tindakan penggunaan APD
    – safety Masker sesuai dengan pekerjaan konstruksi
    – safety helmet sesuai dengan pekerjaan konstruksi
    – kaca mata safety sesuai dengan pekerjaan konstruksi
    – safety gloves yang sesuai pekerjaan konstruksi
    – pakaian safety (werpak) yang sesuai pekerjaan konstruksi
    – safety shoes yang sesuai pekerjaan safety
    – safety body harness

    Risiko sisa (Tingkat kemungkinan, Tingkat keparahan, Tingkat risiko).
    risiko sisa ini adalah penilaian setelah diberikannya Pengendalian potensi bahaya (Eliminasi, Substitusi, Rekayasa Teknis, Administratif, APD). tetapi tetap saja risiko itu ada dalam setiap aktifitas hanya saja berubah dari setiap parameter,

    1. tingkat kemungkinan

    untuk parameter
    sangat jarang : terjadi dalam masa 1 kali dalam kurun waktu lebih dari 1 tahun
    jarang : terjadi 1 kali dalam waktu 1 tahun
    sedang : terjadi 1 kali dalam waktu 1 bulan
    sering : terjadi 1 kali dalam waktu seminggu
    sangat sering : terjadi setiap hari

    1.1 dengan batas standard yang di tetap untuk bekerja di ketinggian 1,8 maka dengan pernyataan dia atas maka potensi terjatuh dan mengakibatkan cidera serius/patah tulang dapat terjadi.(jarang)
    1.2 tertimpa material yang kemungkinan ada di sekitarnya yang terletak tepat diatas tumpuan penyanggah.(sangat jarang)
    1.3 aspek ergonomic pun dapat terjadi Msds ( moskuloskeletal disorders). yang dimana pekerja melakukan pekerjaan berulang dengan posisi yang kurang memungkinkan.(jarang)
    1.4 telapak tangan akan mengalami cidera akibat mengangkut dan memindahkan tanpa adanya sarung tangan.(sangat jarang)
    1.5 jika kaki pekerja tertimpa material maka akan mengalami cidera di karenakan hanya memakai sendal jepit (sangat jarang)
    1.6 akan mengalami fatiq atau kelelahan akibat panas yang langsung memancarkan tepat pada si pekerja karena perlengkapan safety yang sangat kurang memadai. (jarang)
    1.7 akan mengalami gangguan pernafasan, dan mata akibat debu yang dihasilkan dari pemasangan bata ringan (jarang)

    2.tingkat keparahan

    untuk parameter
    sangat ringan : Tidak terdapat cedera/penyakit, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    ringan : Cedera ringan, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    sedang : Mendapat P3K atau tindakan medis, tidak ada hilang jam kerja lebih dari 1X24 jam
    parah : Memerlukan tindakan medis lanjut/rujukan, cacat sementara, terdapat jam kerja hilang 1X24 jam
    sangat parah : Cacat Permanen, Kematian, terdapat jam kerja hilang lebih dari 1X24 jam

    2.1 dengan batas standard yang di tetap untuk bekerja di ketinggian 1,8 maka dengan pernyataan dia atas maka potensi terjatuh dan mengakibatkan cidera serius/patah tulang dapat terjadi.(sedang)
    2.2 tertimpa material yang kemungkinan ada di sekitarnya yang terletak tepat diatas tumpuan penyanggah.(ringan)
    2.3 aspek ergonomic pun dapat terjadi Msds ( moskuloskeletal disorders). yang dimana pekerja melakukan pekerjaan berulang dengan posisi yang kurang memungkinkan.(sangat ringan)
    2.4 telapak tangan akan mengalami cidera akibat mengangkut dan memindahkan tanpa adanya sarung tangan.(ringan)
    2.5 jika kaki pekerja tertimpa material maka akan mengalami cidera di karenakan hanya memakai sendal jepit (ringan)
    2.6 akan mengalami fatiq atau kelelahan akibat panas yang langsung memancarkan tepat pada si pekerja karena perlengkapan safety yang sangat kurang memadai. (ringan)
    2.7 akan mengalami gangguan pernafasan, dan mata akibat debu yang dihasilkan dari pemasangan bata ringan (ringan)

    3. tingkat resiko
    tingkat resiko ini adalah kalkulasi antara tingkat kemungkinan dan keparahan yang terjadi di tempat kerja, tingkat resiko ini beragam

    rendah : tag hijau (Perlu Aturan/Prosedur/Rambu)
    sedang : tag kuning (Perlu Tindakan Langsung)
    tinggi : tag merah (Perlu Perencanaan Pengendalian)
    ekstrim : tag ungu (Perlu Perhatian Manajemen Atas)

    dari kalkulasi potensi bahaya yang saya analisis maka tingkat resiko berubah karena terjadi pengendalian yang merubah parameter antara tingkat kemungkinan dan keparahan

    3.1 dengan batas standard yang di tetap untuk bekerja di ketinggian 1,8 maka dengan pernyataan dia atas maka potensi terjatuh dan mengakibatkan cidera serius/patah tulang dapat terjadi.(sedang/tag kuning)
    3.2 tertimpa material yang kemungkinan ada di sekitarnya yang terletak tepat diatas tumpuan penyanggah.(rendah/tag hijau)
    3.3 aspek ergonomic pun dapat terjadi Msds ( moskuloskeletal disorders). yang dimana pekerja melakukan pekerjaan berulang dengan posisi yang kurang memungkinkan.(rendah/tag hijau)
    3.4 telapak tangan akan mengalami cidera akibat mengangkut dan memindahkan tanpa adanya sarung tangan.(rendah/tag hijau)
    3.5 jika kaki pekerja tertimpa material maka akan mengalami cidera di karenakan hanya memakai sendal jepit (rendah/tag hijau)
    3.6 akan mengalami fatiq atau kelelahan akibat panas yang langsung memancarkan tepat pada si pekerja karena perlengkapan safety yang sangat kurang memadai. (sedang/tag kuning)
    3.7 akan mengalami gangguan pernafasan, dan mata akibat debu yang dihasilkan dari pemasangan bata ringan (sedang/tag kuning)

    pengendalian bahaya tambahan

    – melakukan aktifitas positif sebelum memulai bekerja seperti senam dan games, agar menyegarkan pikiran sebelum bekerja
    – inspeksi yang akurat terhadap peralatan
    – maintenance terhadap mesin untuk membantu kualitas kerja
    – pemeliharaan lingkungan
    – melakukan pelatihan setiap bulan
    – selalu sosialisasikan k3 dalam bentuk edukasi
    – melakukan penanganan MMH (material manual handling)

    2.Pekerjaan pemasangan bata ringan untuk gedung bertingkat dengan ketinggian diatas 3,00 meter.

    potensi penyebab bahaya :

    1. berbeda dengan potensi bahaya di pernyataan pertama pernyataan kedua potensi bahaya sangat sangat beresiko tinggi dengan melewati 3 meter jika terjatuh maka menyebabkan kematian dan patah tulang serta biaya yang sangat tinggi.
    2. kejatuhan material-material kecil dari atas gedung tingkat oleh pekerja lainnya yang akan berpotensi mengenai kepala pekerja lainnya yang di bawah.
    3. material material kecil yang jatuh dapat membahayakan orang disekitar bukan hanya karyawan/pekerja.
    4. menurut gambar di atas aspek ergonomic pun dapat terjadi Msds ( moskuloskeletal disorders). yang dimana pekerja melakukan pekerjaan berulang dengan posisi yang kurang memungkinkan.
    5. telapak tangan akan mengalami cidera akibat mengangkut dan memindahkan tanpa adanya sarung tangan.
    6. jika kaki pekerja tertimpa material maka akan mengalami cidera di karenakan hanya memakai sendal jepit
    7. akan mengalami fatiq atau kelelahan akibat panas yang langsung memancarkan tepat pada si pekerja karena perlengkapan safety yang sangat kurang memadai.
    8. akan mengalami gangguan pernafasan, dan mata akibat debu yang dihasilkan dari pemasangan bata ringan.
    9. jatuhnya material besar dari atas tingkat yang berpotensi besar untuk memecahkan kepala karyawan/pekerja lainnya yang berada di bawah.
    10. dengan scaffolding yang kurang memadai dan tidak sesuai standar yang dibuat abal abal dari kayu oleh pekerja memungkinkan potensi terjatuh yang sangat besar karena tidak adanya perhitungan beban angkut.

    Deskripsi konsekuensi terhadap manusia, alat/peralatan, lingkungan.

    1. Terhadap manusia
    jika potensi bahaya yang saya analisis itu terjadi dan membuktikan bahwa insiden itu terjadi setiap tahun untuk kategori bahaya seperti itu sangatlah minim jika manusia atau pekerja tidak sama sekali memperhatikan suatu system kerja/prosedur saat bekerja maka konsekuensi yang akan diterima oleh pekerja itu sendiri adalah,

    1.1 mengealami kesenjangan sosial.
    1.2 mengalami cacat.
    1.3 terancam tidak bisa bekerja kembali.
    1.4 mengalami frustasi dan gangguan mental.
    1.5 terganggunya ekonomi keluarga.
    1.6 jika fatality dapat menyebabkan kematian.
    1.7 terbatasnya ruang lingkup.

    2. alat/peralatan
    dari potensi bahaya yang saya analisis faktor yang paling memungkinkan terjaganya suatu alat/peralatan dapat ditunjang dari manusia/pekerja sendiri tentunya ditetapkan SOP dalam penyimpanan suatu alat/peralatan jika kesadaran tidak ada maka konsekuensi bagi peralatan itu sendiri adalah,

    2.1 mengalami kerugian biaya peralatan
    2.2 rusak (tidak bisa digunakan kembali) akibat pemakaian yang tidak sesuai dan penyimpanan yang tidak sesuai dengan tempatnya
    2.3 hilang akibat aktifitas yang kurang peduli
    2.4 cacat alat/peralatan akibat pemakaian yang tidak sesuai dan penyimpanan yang tidak sesuai dengan tempatnya

    3. lingkungan
    lingkungan adalah aspek penting yang harus diperhatikan, tanpa memperhatikan lingkungan kerja suatu pekerjaan berakibat fatal bagi karyawan dan perusahaan atau setiap instansi yang ikut serta dalam proses pekerjaan tersebut dan konsekuensinya adalah,

    3.1 limbah material kecil dan besar berserakan dimana-mana
    3.2 budaya yang kurang memperhatikan keselamatan
    3.3 produktifitas berkurang
    3.4 proses pekerjaan tidak sesuai jadwal
    3.5 potensi bahaya akan tinggi

    Risiko awal (Tingkat kemungkinan, Tingkat keparahan, Tingkat risiko).

    dari potensi bahaya yang saya analisis ada 10 potensi bahaya dari Pekerjaan pemasangan bata ringan untuk perumahan dengan ketinggian lebih dari 3,00 meter dari permukaan tanah. kita kaitkan dengan

    1. tingkat kemungkinan

    untuk parameter
    sangat jarang : terjadi dalam masa 1 kali dalam kurun waktu lebih dari 1 tahun
    jarang : terjadi 1 kali dalam waktu 1 tahun
    sedang : terjadi 1 kali dalam waktu 1 bulan
    sering : terjadi 1 kali dalam waktu seminggu
    sangat sering : terjadi setiap hari

    1.1 berbeda dengan potensi bahaya di pernyataan pertama pernyataan kedua potensi bahaya sangat sangat beresiko tinggi dengan melewati 3 meter jika terjatuh maka menyebabkan kematian dan patah tulang serta biaya yang sangat tinggi.(sedang)
    1.2 kejatuhan material-material kecil dari atas gedung tingkat oleh pekerja lainnya yang akan berpotensi mengenai kepala pekerja lainnya yang di bawah.(sering)
    1.3 material material kecil yang jatuh dapat membahayakan orang disekitar bukan hanya karyawan/pekerja.(sedang)
    1.4 aspek ergonomic pun dapat terjadi Msds ( moskuloskeletal disorders). yang dimana pekerja melakukan pekerjaan berulang dengan posisi yang kurang memungkinkan.(sering)
    1.5 telapak tangan akan mengalami cidera akibat mengangkut dan memindahkan tanpa adanya sarung tangan. (sering)
    1.6 jika kaki pekerja tertimpa material maka akan mengalami cidera di karenakan hanya memakai sendal jepit (sedang)
    1.7 akan mengalami fatiq atau kelelahan akibat panas yang langsung memancarkan tepat pada si pekerja karena perlengkapan safety yang sangat kurang memadai. (sering)
    1.8 akan mengalami gangguan pernafasan, dan mata akibat debu yang dihasilkan dari pemasangan bata ringan.(sering)
    1.9 jatuhnya material besar dari atas tingkat yang berpotensi besar untuk memecahkan kepala karyawan/pekerja lainnya yang berada di bawah.(sedang)
    1.10 dengan scaffolding yang kurang memadai dan tidak sesuai standar yang dibuat abal abal dari kayu oleh pekerja memungkinkan potensi terjatuh yang sangat besar karena tidak adanya perhitungan beban angkut.(sedang)

    2.tingkat keparahan

    untuk parameter
    sangat ringan : Tidak terdapat cedera/penyakit, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    ringan : Cedera ringan, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    sedang : Mendapat P3K atau tindakan medis, tidak ada hilang jam kerja lebih dari 1X24 jam
    parah : Memerlukan tindakan medis lanjut/rujukan, cacat sementara, terdapat jam kerja hilang 1X24 jam
    sangat parah : Cacat Permanen, Kematian, terdapat jam kerja hilang lebih dari 1X24 jam

    2.1 berbeda dengan potensi bahaya di pernyataan pertama pernyataan kedua potensi bahaya sangat sangat beresiko tinggi dengan melewati 3 meter jika terjatuh maka menyebabkan kematian dan patah tulang serta biaya yang sangat tinggi. (sangat parah)
    2.2 kejatuhan material-material kecil dari atas gedung tingkat oleh pekerja lainnya yang akan berpotensi mengenai kepala pekerja lainnya yang di bawah. (sedang)
    2.3 material material kecil yang jatuh dapat membahayakan orang disekitar bukan hanya karyawan/pekerja.(sedang)
    2.4 aspek ergonomic pun dapat terjadi Msds ( moskuloskeletal disorders). yang dimana pekerja melakukan pekerjaan berulang dengan posisi yang kurang memungkinkan.(ringan)
    2.5 telapak tangan akan mengalami cidera akibat mengangkut dan memindahkan tanpa adanya sarung tangan.(sedang)
    2.6 jika kaki pekerja tertimpa material maka akan mengalami cidera di karenakan hanya memakai sendal jepit(sedang)
    2.7 akan mengalami fatiq atau kelelahan akibat panas yang langsung memancarkan tepat pada si pekerja karena perlengkapan safety yang sangat kurang memadai.(sedang)
    2.8 akan mengalami gangguan pernafasan, dan mata akibat debu yang dihasilkan dari pemasangan bata ringan.(sedang)
    2.9 jatuhnya material besar dari atas tingkat yang berpotensi besar untuk memecahkan kepala karyawan/pekerja lainnya yang berada di bawah.(parah)
    2.10 dengan scaffolding yang kurang memadai dan tidak sesuai standar yang dibuat abal abal dari kayu oleh pekerja memungkinkan potensi terjatuh yang sangat besar karena tidak adanya perhitungan beban angkut.(parah)

    3. tingkat resiko
    tingkat resiko ini adalah kalkulasi antara tingkat kemungkinan dan keparahan yang terjadi di tempat kerja, tingkat resiko ini beragam

    rendah : tag hijau (Perlu Aturan/Prosedur/Rambu)
    sedang : tag kuning (Perlu Tindakan Langsung)
    tinggi : tag merah (Perlu Perencanaan Pengendalian)
    ekstrim : tag ungu (Perlu Perhatian Manajemen Atas)

    dari kalkulasi potensi bahaya yang saya analisis maka tingkat resiko

    3.1 berbeda dengan potensi bahaya di pernyataan pertama pernyataan kedua potensi bahaya sangat sangat beresiko tinggi dengan melewati 3 meter jika terjatuh maka menyebabkan kematian dan patah tulang serta biaya yang sangat tinggi.(extrim/tag ungu)
    3.2 kejatuhan material-material kecil dari atas gedung tingkat oleh pekerja lainnya yang akan berpotensi mengenai kepala pekerja lainnya yang di bawah.(tinggi/tag merah)
    3.3 material material kecil yang jatuh dapat membahayakan orang disekitar bukan hanya karyawan/pekerja.(sedang/tag kuning)
    3.4 aspek ergonomic pun dapat terjadi Msds ( moskuloskeletal disorders). yang dimana pekerja melakukan pekerjaan berulang dengan posisi yang kurang memungkinkan.(sedang/tag kuning)
    3.5 telapak tangan akan mengalami cidera akibat mengangkut dan memindahkan tanpa adanya sarung tangan.(tinggi/tag merah)
    3.6 jika kaki pekerja tertimpa material maka akan mengalami cidera di karenakan hanya memakai sendal jepit(sedang/tag kuning)
    3.7 akan mengalami fatiq atau kelelahan akibat panas yang langsung memancarkan tepat pada si pekerja karena perlengkapan safety yang sangat kurang memadai.(tinggi/tag merah)
    3.8 akan mengalami gangguan pernafasan, dan mata akibat debu yang dihasilkan dari pemasangan bata ringan.(tinggi/tag merah)
    3.9 jatuhnya material besar dari atas tingkat yang berpotensi besar untuk memecahkan kepala karyawan/pekerja lainnya yang berada di bawah.(tinggi/tag merah)
    3.10 dengan scaffolding yang kurang memadai dan tidak sesuai standar yang dibuat abal abal dari kayu oleh pekerja memungkinkan potensi terjatuh yang sangat besar karena tidak adanya perhitungan beban angkut.(tinggi/tag merah)

    Pengendalian potensi bahaya (Eliminasi, Substitusi, Rekayasa Teknis, Administratif, APD).

    1 Eleminasi

    dari 10 potensi bahaya yang saya jabarkan di atas ada beberapa potensi yang harus di hilangkan
    – oknum pekerja yang memberi kontribusi negatif
    – peralatan besar yang tidak digunakan di ketinggian
    – aspek prilaku yang kurang sadar akan k3 khususnya konstruksi
    – mengurangi material kecil yang tidak penting penggunaanya
    – limbah konstruksi

    2 subtitusi

    dari 10 potensi bahaya yang saya jabarkan di atas ada beberapa potensi yang harus di subtitusikan
    – menggantikan peralatan sesuai dengan bidang kerja
    – menggantikan bahan-bahan yang memicu limbah konstruksi lebih banyak
    – menggantikan mesin yang mudah dan sesuai standard konstruksi
    – menggantikan waktu kerja dengan karyawan yang lainnya
    – menggantikan inspektor dari ahli k3 konstruksi

    3 Rekayasa teknis

    dari 10 potensi bahaya yang saya jabarkan di atas ada beberapa potensi yang harus memiliki rekayasa teknis
    – membuat tempat limbah khusus konstruksi
    – merancang penempatan alat kerja konstruksi sesuai penggunaannya
    – membuat tempat peristirahatan (rest area)
    – membuat alat angkut yang memudahkan pekerjaan sesuai standard
    – membuat sekat batas kerja dan membuat scaffolding pada pekerja di ketinggian sesuai standard
    – membuat area kerja sesuai tingkatan kerja di ketinggian
    – menambah peralatan angkut seperti : crane

    4 Administratif

    dari 10 potensi bahaya yang saya jabarkan di atas ada beberapa potensi yang harus memiliki tindakan administratif
    – membuat SOP (Standard Operasional Prosedur) cara menggunakan peralatan maupun aktifitas konstruksi di ketinggian
    – Mempunya izin kerja sebelum melakukan konstruksi dan memulai pekerjaan
    – mempunya regulasi dalam setiap aktifitas maupun dalam pekerjaannya
    – setiap SDM (sumber daya manusia) wajib memiliki sertifikasi pekerjaan konstruksi dan memiliki ahli k3 konstuksi
    – membuat durasi waktu atau system kerja yang bergantian
    – membuat tanda (sign safety), label, poster yang berkaitan dengan potensi bahaya sesuai pekerjaan

    5 APD (alat pelindung diri)

    dari 10 potensi bahaya yang saya jabarkan di atas ada beberapa potensi yang harus memiliki tindakan penggunaan APD
    – safety Masker sesuai dengan pekerjaan konstruksi
    – safety helmet sesuai dengan pekerjaan konstruksi
    – kaca mata safety sesuai dengan pekerjaan konstruksi
    – safety gloves yang sesuai pekerjaan konstruksi
    – pakaian safety (werpak) yang sesuai pekerjaan konstruksi
    – safety shoes yang sesuai pekerjaan safety
    – safety body harness
    – safety net (bisa untuk peralatan jatuh & manusia) agar tercegah sebelum sampai kedasar dan terhantup material keras

    Risiko sisa (Tingkat kemungkinan, Tingkat keparahan, Tingkat risiko).
    risiko sisa ini adalah penilaian setelah diberikannya Pengendalian potensi bahaya (Eliminasi, Substitusi, Rekayasa Teknis, Administratif, APD). tetapi tetap saja risiko itu ada dalam setiap aktifitas hanya saja berubah dari setiap parameter,

    1. tingkat kemungkinan

    untuk parameter
    sangat jarang : terjadi dalam masa 1 kali dalam kurun waktu lebih dari 1 tahun
    jarang : terjadi 1 kali dalam waktu 1 tahun
    sedang : terjadi 1 kali dalam waktu 1 bulan
    sering : terjadi 1 kali dalam waktu seminggu
    sangat sering : terjadi setiap hari

    1.1 berbeda dengan potensi bahaya di pernyataan pertama pernyataan kedua potensi bahaya sangat sangat beresiko tinggi dengan melewati 3 meter jika terjatuh maka menyebabkan kematian dan patah tulang serta biaya yang sangat tinggi.(jarang)
    1.2 kejatuhan material-material kecil dari atas gedung tingkat oleh pekerja lainnya yang akan berpotensi mengenai kepala pekerja lainnya yang di bawah.(sedang)
    1.3 material material kecil yang jatuh dapat membahayakan orang disekitar bukan hanya karyawan/pekerja.(jarang)
    1.4 aspek ergonomic pun dapat terjadi Msds ( moskuloskeletal disorders). yang dimana pekerja melakukan pekerjaan berulang dengan posisi yang kurang memungkinkan.(sedang)
    1.5 telapak tangan akan mengalami cidera akibat mengangkut dan memindahkan tanpa adanya sarung tangan. (sedang)
    1.6 jika kaki pekerja tertimpa material maka akan mengalami cidera di karenakan hanya memakai sendal jepit (jarang)
    1.7 akan mengalami fatiq atau kelelahan akibat panas yang langsung memancarkan tepat pada si pekerja karena perlengkapan safety yang sangat kurang memadai. (sedang)
    1.8 akan mengalami gangguan pernafasan, dan mata akibat debu yang dihasilkan dari pemasangan bata ringan.(sedang)
    1.9 jatuhnya material besar dari atas tingkat yang berpotensi besar untuk memecahkan kepala karyawan/pekerja lainnya yang berada di bawah.(jarang)
    1.10 dengan scaffolding yang kurang memadai dan tidak sesuai standar yang dibuat abal abal dari kayu oleh pekerja memungkinkan potensi terjatuh yang sangat besar karena tidak adanya perhitungan beban angkut.(jarang)

    2.tingkat keparahan

    untuk parameter
    sangat ringan : Tidak terdapat cedera/penyakit, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    ringan : Cedera ringan, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    sedang : Mendapat P3K atau tindakan medis, tidak ada hilang jam kerja lebih dari 1X24 jam
    parah : Memerlukan tindakan medis lanjut/rujukan, cacat sementara, terdapat jam kerja hilang 1X24 jam
    sangat parah : Cacat Permanen, Kematian, terdapat jam kerja hilang lebih dari 1X24 jam

    2.1 berbeda dengan potensi bahaya di pernyataan pertama pernyataan kedua potensi bahaya sangat sangat beresiko tinggi dengan melewati 3 meter jika terjatuh maka menyebabkan kematian dan patah tulang serta biaya yang sangat tinggi. (parah)
    2.2 kejatuhan material-material kecil dari atas gedung tingkat oleh pekerja lainnya yang akan berpotensi mengenai kepala pekerja lainnya yang di bawah. (ringan)
    2.3 material material kecil yang jatuh dapat membahayakan orang disekitar bukan hanya karyawan/pekerja.(ringan)
    2.4 aspek ergonomic pun dapat terjadi Msds ( moskuloskeletal disorders). yang dimana pekerja melakukan pekerjaan berulang dengan posisi yang kurang memungkinkan.(sangat ringan)
    2.5 telapak tangan akan mengalami cidera akibat mengangkut dan memindahkan tanpa adanya sarung tangan.(ringan)
    2.6 jika kaki pekerja tertimpa material maka akan mengalami cidera di karenakan hanya memakai sendal jepit(ringan)
    2.7 akan mengalami fatiq atau kelelahan akibat panas yang langsung memancarkan tepat pada si pekerja karena perlengkapan safety yang sangat kurang memadai.(ringan)
    2.8 akan mengalami gangguan pernafasan, dan mata akibat debu yang dihasilkan dari pemasangan bata ringan.(ringan)
    2.9 jatuhnya material besar dari atas tingkat yang berpotensi besar untuk memecahkan kepala karyawan/pekerja lainnya yang berada di bawah.(sedang)
    2.10 dengan scaffolding yang kurang memadai dan tidak sesuai standar yang dibuat abal abal dari kayu oleh pekerja memungkinkan potensi terjatuh yang sangat besar karena tidak adanya perhitungan beban angkut.(sedang)

    3. tingkat resiko
    tingkat resiko ini adalah kalkulasi antara tingkat kemungkinan dan keparahan yang terjadi di tempat kerja, tingkat resiko ini beragam

    rendah : tag hijau (Perlu Aturan/Prosedur/Rambu)
    sedang : tag kuning (Perlu Tindakan Langsung)
    tinggi : tag merah (Perlu Perencanaan Pengendalian)
    ekstrim : tag ungu (Perlu Perhatian Manajemen Atas)

    dari kalkulasi potensi bahaya yang saya analisis maka tingkat resiko berubah karena terjadi pengendalian yang merubah parameter antara tingkat kemungkinan dan keparahan

    3.1 berbeda dengan potensi bahaya di pernyataan pertama pernyataan kedua potensi bahaya sangat sangat beresiko tinggi dengan melewati 3 meter jika terjatuh maka menyebabkan kematian dan patah tulang serta biaya yang sangat tinggi.(tinggi/tag merah)
    3.2 kejatuhan material-material kecil dari atas gedung tingkat oleh pekerja lainnya yang akan berpotensi mengenai kepala pekerja lainnya yang di bawah.(sedang/tag kuning)
    3.3 material material kecil yang jatuh dapat membahayakan orang disekitar bukan hanya karyawan/pekerja.(sedang/tag kuning)
    3.4 aspek ergonomic pun dapat terjadi Msds ( moskuloskeletal disorders). yang dimana pekerja melakukan pekerjaan berulang dengan posisi yang kurang memungkinkan.(rendah/tag hijau)
    3.5 telapak tangan akan mengalami cidera akibat mengangkut dan memindahkan tanpa adanya sarung tangan.(sedang/tag kuning)
    3.6 jika kaki pekerja tertimpa material maka akan mengalami cidera di karenakan hanya memakai sendal jepit(sedang/tag kuning)
    3.7 akan mengalami fatiq atau kelelahan akibat panas yang langsung memancarkan tepat pada si pekerja karena perlengkapan safety yang sangat kurang memadai.(sedang/tag kuning)
    3.8 akan mengalami gangguan pernafasan, dan mata akibat debu yang dihasilkan dari pemasangan bata ringan.(sedang/tag kuning)
    3.9 jatuhnya material besar dari atas tingkat yang berpotensi besar untuk memecahkan kepala karyawan/pekerja lainnya yang berada di bawah.(sedang/tag kuning)
    3.10 dengan scaffolding yang kurang memadai dan tidak sesuai standar yang dibuat abal abal dari kayu oleh pekerja memungkinkan potensi terjatuh yang sangat besar karena tidak adanya perhitungan beban angkut.(sedang/tag kuning)

    pengendalian bahaya tambahan

    – melakukan aktifitas positif sebelum memulai bekerja seperti senam dan games, agar menyegarkan pikiran sebelum bekerja
    – inspeksi yang akurat terhadap peralatan
    – maintenance terhadap mesin untuk membantu kualitas kerja
    – pemeliharaan lingkungan
    – melakukan pelatihan setiap bulan
    – selalu sosialisasikan k3 dalam bentuk edukasi
    – melakukan penanganan MMH (material manual handling)
    – inspeksi tambahan untuk alat angkut crane yang lebih diperhatikan
    – memberi baliho atau spanduk yang mengingatkan kesadaran k3
    – menanamkan tingkat kedisiplinan karyawan agar terpaku untuk bekerja aman
    – menambah gaji karyawan adalah salah satu aspek pengendalian dimana untuk menjaga kesehatan pekerja
    – memberi asuransi kerja
    – dalam perekrutan SDM pihak perusahaan harus memperhatikan Sertifikat untuk bekerja di ketinggian.

    Nama : septino eklesia wangania

    NPM : 13.11.106.701501.1155

    Kelas : B1

    Semester : V (Lima)

  7. 1. Pekerjaan pemasangan bata ringan untuk perumahan ketinggian sampai dengan 3 meter dari permukaan tanah.

    1.1Potensi bahaya
    1.1.1 Debu
    1.1.2 ketinggian
    1.1.3 posisi tubuh yang tidak aman
    1.1.4 material
    1.1.5 cuaca
    1.1.6 pekerja tidak kompeten

    1.2 Deskripsi konsekuensi terhadap manusia,alat,lingkungan
    1.2.1 Debu:disekitar area kerja banyak debu yang dihasilkan oleh material seperti semen, risikonya dapat terhirup dan konsekuensi yang dapat timbul kerusakan paru-paru untuk jangka waktu yang panjang.
    1.2.2 Ketinggian :Risiko dari pekerjaan ketinggian ialah terjatuh dan konsekuensi yang timbul adalah patah tulang
    1.2.3 Posisi tubuh yang tidak aman karena terlalu lama jongkok dapat mengakibatkan sakit pada pinggang
    1.2.4 material:material yang ada seperti bata yang sedang dipasang dapat terlepas atau terjatuh tanpa sengaja konsekuensi yang dapat ditimbulkan cidera pada kepala pekerja lain
    1.2.5 cuaca : cuaca hujan dapat menimbulkan risiko terlambatnya pekerjaan dan konsekuensi yang diperoleh adalah kerugian
    1.2.6 pekerja tidak kompeten: risiko yang dapat terjadi jika pekerja tidak kompeten kurang maksimalnya hasil yang diperoleh konsekuensinya kerugian.

    1.3 risiko awal = (Consequnce x Likelihood)
    1.3.1 Debu | Medical Treatment (4) x Kemungkinan rata-rata terjadi (C)= Medium Risk
    1.3.2 Ketinggian | LTi cacat permanen (2) x Kemungkinan besar terjadi(D) = High risk
    1.3.3 posisi tubuh yang tidak aman | Medical treatment (4) x kemungkinan besar terjadi (D) = Medium risk
    1.3.4 material | Lti tanpa cacat permanen (3) x kemungkinan besar terjadi (D) = High risk
    1.3.5 Cuaca | Property Damage US$ 100.000 – US$ 1M (3) x kemungkinan terjadi rata-rata (D)= High Risk
    1.3.6 pekerja tidak kompeten | Property damage – US$ 10.000-100.000 x pasti terjadi (E) = high risk

    1.4 Pengendalian potensi Bahaya
    1.4.1 Debu
    1.4.1.1 Administratif: Program pengendalian debu di tempat kerja
    1.4.1.2 PPE = Memakai APD (Safety Shoes,Cover all,Sarung tangan, Glasses Safety,Helmet,Masker).

    1.4.2 Ketinggian
    1.4.2.1 Subtitusi:mengganti tangga kayu dengan scaffolding yang dilengkapi dengan guard rail dan work platform
    1.4.2.2 Rekayasa teknis: memasang hand rail,memasang jala keselamatan
    1.4.2.3 Administratif:membuat program observasi tugas, melakukan inspeksi,melakukan safety briefing
    1.4.2.4 PPE:(Safety Shoes,Cover all,Sarung tangan, Glasses Safety,Helmet,Masker) dan Full body harness).

    1.4.3 posisi tubuh yang tidak aman
    1.4.3.1 Administratif: Membuat program observasi tugas,memberikan instruksi posisi kerja yang aman dalam melakuakan pekerjaan,safety briefing

    1.4.4 Material
    1.4.4.1 Rekayasa teknis :Memasang jaring agar material yang jatuh tidak langsung mengenai pekerja lain.
    1.4.4.2 isolasi:Memasang garis pembatas atau demarkasi,memasasng sign board.
    1.4.4.3 Adminitrasif:Membuat program observasi pekerjaan/tugas.safety briefing
    1.4.4.4 PPE : Memakai(Safety Shoes,Cover all,Sarung tangan, Glasses Safety,Helmet,Masker)

    1.4.5 Cuaca
    1.4.5.1 Eliminasi: Menghentikan pekerjaan

    1.4.6 Pekerja tidak kompeten
    1.4.6.1 Administratif:Mempekerjakan pekerja yang berpengalaman dan kompeten dibidangnya

    1.5 Risiko Sisa
    1.5.1 Debu | Medical Treatment (4) x Kemungkinan kecil terjadi (B)= Low Risk
    1.5.2 Ketinggian | LTi tanpa cacat permanen (3) x Kemungkinan kecil terjadi(B) = Low risk
    1.5.3 posisi tubuh yang tidak aman | Medical treatment (4) x kemungkinan kecil terjadi (B) = Low risk
    1.5.4 material | Lti tanpa cacat permanen (3) x kemungkinan kecil terjadi (B) = Low risk
    1.5.5 Cuaca | Property Damage US$ 10.000 (5) x kemungkinan kecil terjadi (D)= Low Risk
    1.5.6 pekerja tidak kompeten | Property damage – US$ 10.000-100.000 x Kemungkinan kecil terjadi (B) = Low risk

    2. Pekerjaan pemasangan bata ringan untuk gedung bertingkat dengan ketinggian diatas 3,00 meter.

    2.1 Analisis potensi bahaya
    2.1.1 Ketinggian
    2.1.2 Cuaca
    2.1.3 material
    2.1.4 Debu
    2.1.5 posisi tubuh yang tidak aman

    2.2 Deskripsi konsekuensi terhadap manusia,alat,lingkungan
    2.2.1 Ketinggian= Risiko dari pekerjaan ketinggian ialah terjatuh dan konsekuensi yang timbul adalah kematian/fatality dikarenakan ketinggian daiatas 3,00 meter
    2.2.2 Cuaca= pekerjaan dapat tertunda/terhambat dan konsekuensi yang diperoleh kerugian
    2.2.3 Material material yang ada seperti bata yang sedang dipasang dapat terlepas atau terjatuh tanpa sengaja konsekuensi yang dapat ditimbulkan cidera serius pada pekerja maupun orang yang melintas
    2.2.4 Debu:disekitar area kerja banyak debu yang dihasilkan oleh material seperti semen, risikonya dapat terhirup dan konsekuensi yang dapat timbul kerusakan paru-paru untuk jangka waktu yang panjang
    2.2.5 Posisi tubuh yang tidak aman karena terlalu lama jongkok dapat mengakibatkan sakit pada pinggang

    2.3 risiko Awal (Consequnce x Likelihood)
    2.3.1 Ketinggian | Fatality (1) x pasti terjadi (E) = Significant Risk
    2.3.2 Cuaca | Property damage (3) kemungkinan Besar terjadi (D)=High Risk
    2.3.3 material | Lti tanpa cacat permanen (3) x kemungkinan besar terjadi (D) = High risk
    2.3.4 Debu | Medical Treatment (4) x Kemungkinan rata-rata terjadi (C)= Medium Risk
    2.3.5 posisi tubuh yang tidak aman | Lti tanpa cacat permanen (3) x kemungkinan besar terjadi (D) = High risk
    2.3.6 debu| Medical Treatment (4) x Kemungkinan rata-rata terjadi (C)= Medium Risk

    2.4 Pengendalian bahaya
    2.4.1 Ketinggian
    2.4.1.1 Subtitusi: Mengganti tangga dengan scaffolding yang dilengkapi dengan guard rail,work platform.
    2.4.1.2 Rekayasa teknik: Menggunakan fall protection system,memasang jaring pengaman
    2.4.1.3 Isollasi: Memasang garis pembatas/demarkasi,memasang sign board
    2.4.1.3 Administrasif: Membuat SIKA bekerja diketinggian, Membuat JSA pepamasangan dinding bata di gedung bertingkat, Membuat SOP bekerja diketinggian,membuat program observasi tugas,melakukan inspeksi,safety briefing
    2.4.1.4 Training : memberikaN training cara menggunakan APD yang benar
    2.4.1.5 PPE : Memakai APD (Safety Shoes, cover all, Sarung tangan, Glasses Safety,Helmet,Masker)

    2.4.2 Cuaca
    2.4.2.1 Eliminasi : Menghentikan pekerjaan bila cuaca sedang buruk

    2.4.3 Material
    2.4.3.1 isolasi: Memasang garis pembatas,sign board.
    2.4.3.2 Rekayasa teknik : Pekerjaan membersihkan lokasi Memindahkan benda yang akan menghambat proses pekerjaan,menyediakan tempat meletakkan material,memasang jaring.
    2.4.3.3 Administratif: safety briefing,membuat program observasi pekerjaan.
    2.4.3.4 PPE: (Safety Shoes, cover all, Sarung tangan, Glasses Safety,Helmet,Masker)

    2.4.4 Debu
    2.4.4.1 Administratif: Program pengendalian debu di tempat kerja
    2.4.4.2 PPE : Memakai APD (Safety Shoes,Overall,Sarung tangan, Glasses Safety,Helmet,Masker)

    2.5 posisi tubuh yang tidak aman
    2.5.1 Administratif: Membuat program observasi tugas,memberikan instruksi posisi kerja yang aman dalam melakuakan pekerjaan,safety briefing

    2.6 Risiko Sisa
    2.6.1 Ketinggian | LTI taPA caat permanen (3) X kemungkinan kecil terjadi (B) = Low Risk
    2.6.2 cuaca | property damage < US$10.000 (5) x keungkinan rata-rata terjadi (C)= Low Risk
    2.6.3 material | Lti tanpa cacat permanen (3) x kemungkinan kecil terjadi (B) = Low risk
    2.6.4 Debu | Medical Treatment (4) x Kemungkinan kecil terjadi (C)= Low Risk
    2.6.5 posisi tubuh yang tidak aman | Lti tanpa cacat permanen (3) x kemungkinan kecil terjadi (B) = Low risk

    Nama : Prawoto
    Kelas : B1
    Semester : 5
    NPM : 13.11.106.701501.0837

  8. -Nama Pekerjaan : 1. Pekerjaan pemasangan bata ringan untuk perumahan dengan ketinggian sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.
    2. Pekerjaan pemasangan bata ringan untuk gedung bertingkat dengan ketinggian diatas 3,00 meter.

    -Potensi Penyebab Bahaya : -Pekerjaan 1-
    a. Debu yang bertebaran diarea lokasi kerja.
    b. Andang (scaffolding kayu) yang digunakan menggunakan bahan – bahan kayu dan papan yang seadanya yang terlihat tidak kokoh untuk dinaiki oleh pekerja.
    c. Bata ringan yang digunakan dapat menjadi potensi bahaya apabila si pekerja tersebut tidak memegangnya dengan aman.
    d. Bakteri/kuman yang terdapat dalam bahan material yang digunakan.
    e. Ketinggian juga memiliki potensi bahaya yang cukup besar, meskipun tingkat keparahan yang diakibatkan tidak parah(fatality) bagi pekerja.
    f. Pemasangan batu bata miring tidak sesuai prosedur.
    g. Permukaan tanah untuk andang(Scaffolding kayu) yang tidak stabil dan tidak rata.

    -Deskripsi konsekuensi terhadap manusia : -Pekerja dapat mengelami gangguan pernafasan,
    seperti sesak nafas dan ganguan pengelihatan
    (iritasi mata) yang diakibatkan oleh debu.
    -Bakteri/kuman dapat membuat iritasi kulit pada
    pekerja yang terdapat didalam material yang
    digunakan.
    -Andang (Scaffolding kayu) yang tidak kokoh dapat
    mengakibatkan pekrja terjatuh.
    -Ketinggian dalam pekerjaan tersebut dapat
    membuat pekerja terkilir apabila terjatuh.

    -Deskripsi konsekuensi terhadap alat/peralatan: Ambruknya andang (Scaffolding kayu) yang
    tidak kokoh tersebut akibat diberi beban oleh
    pekerja.
    Permukaan tanah yang tidak rata dapat
    membuat andang/scaffold jatuh menimpa alat
    dan peralatan yang didekatnya.

    -Deskripsi konsekuensi terhadap lingkungan : Pemasangan batu bata yang tidak sesuai
    prosedur dapat membuat dinding yang dibuat
    ambruk meninpa yang ada di lingkungan
    sekitarnya.

    -Resiko awal : Saya menilai tingkatan-tingkatan resiko awal sesuai dengan gambar yang mana
    tidak ada proteksi apapun.
    -Tingkat kemungkinan : a. Debu : Frekuensi keseringan “sering” selama pekerjaan
    berlangsung -> Keparahan “berat” karna pekerja tidak
    menggunakan APD apapun-> hasil kategori resiko “tinggi”
    b. Andang (Scaffolding kayu) : Frekuensi keseringan “sering” selama
    pekerjaan berlangsung -> keparahan “sedang” karna andang akan
    patah dan menjatuhkan pekerja dan material yang ada diatasnya
    sebagai beban ->hasil kategori resiko “tinggi”
    c. Bata Ringan : Frekuensi keseringan “sedang” selama pekerjaan
    berlangsung -> Keparahan “berat” karna bata dapat menipa
    pekerja karna kurang induction dan perlengkapan APD -> Hasil
    ketegori resiko “tinggi”
    d. Bakteri/Kuman : Frekuensi keseringan “sering” selama pekerjaan
    berlangsung -> Keparahan “sedang” karna kurangnya
    induction dan perlengkapan APD -> Hasil kategori resiko “tinggi”
    e. Ketinggian 3,00 meter dari permukaan tanah : Frekuensi
    keseringan “sering” -> Keparahan “ringan” ketinggian 3,00 meter
    tidak mengakibatkan cidera parah -> Hasil kategori resiko “sedang”
    f. Pemasangan batu bata tidak sesuai prosedur : Frekuensi
    keseringan “sering” selama pekerjaan berlangsung -> Keparahan
    “berat” karna bata akan ambruk dan menimpa pekerja dan
    alat/peralatan yang disekitarnya -> Hasil kategori resiko “tinggi”
    g. Permukaan tidak rata : Frekuensi keseringan “sering” selama
    pekerjaan berlangsung -> keparahan “berat” karna alat, material
    dan pekerja yang bekerja dipermukaan tanah yang tidak rata akan
    terganggu -> Hasil kategori resiko “tinggi”

    -Pengendalian potensi bahaya : a. Debu : Memberikan induction tentang bahaya pada
    pekerjaan yang dilakukan (Administratif) dan memberikan
    masker khusus debu dan kacamata safety (APD).
    b.Anadang (Scaffolding kayu) : Mengganti papan scaffold dan
    batangan besi penyangga dengan yang lebih kokoh
    (subtitusi).
    c. Bata ringan : Memberiakan induction tentang memegang dan
    mengangkat bata tersebut (Administratif) dan memberikan
    sarung tangan safety dan sepatu safety (APD).
    d. Bakteri/Kuman : Induction tentang menjaga kesehatan
    (Administratif) dan mewajibkan semua pekerja menggunakan
    sarung tangan safety (APD).
    e. Ketinggian 3,00 meter dari permukaan tanah : menghilangkan
    material sisa yang berada dibawah scaffold (eliminasi)
    mengganti andang (scaffolding kayu) dengan scaffold yang
    lebih kokoh (subtitusi),memberikan pekerja helm proyek dan
    sepatu safety (APD).
    f. Pemasangan yang tidak sesuai prosedur : Memberikan
    trainning pekerja cara memasang batu bata sesuai prosedur
    (administratif) sebelum melaksanakan proses pemasangan.
    g. Permukaan tanah tidak rata : Meratakan tanah lokasi area
    kerja (eliminasi).

    -Resiko sisa : a. Debu : Frekuensi keseringan “sering” -> Keparahan “ringan” -> Hasil kategori
    resiko “sedang” masih aman dilakukan dengan pengendalian yang ada.
    b. Andang (Scaffolding kayu) : Frekuensi keseringan “sering” -> Keparahan “ringan” ->
    Hasil kategori resiko “sedang” masih aman dilakukan dengan pengendalian yang
    ada.
    c. Bata ringan : Frekuensi keseringan “sedang” -> Keparahan “ringan” -> Hasil
    kategori resiko “rendah” aman untuk dilakukan.
    d. Bakteri/Kuman : Frekuensi kesringan “sering” -> Keparahan “ringan” -> Hasil
    kategori resiko “sedang” masih aman dilakukan dengan pengendalian yang ada.
    e. Ketinggian : Frekuensi “sering” -> Keparahan “sangat ringan” -> Hasil katergori
    resiko “sedang” masih aman dilakukan dengan pengendalian yang ada.
    f. Pemasangan Bata tidak sesuai prosedur : Frekuensi keseringan “sering” ->
    Keparahan “ringan” -> Hasil kategori resiko “sedang”masih aman dilakukan dengan
    pengendalian yang ada.
    g. Permukaan tanah tidak rata : Frekuensi keseringan “sering” -> Keparahan “sangat
    ringan” -> Hasil kategori resiko ” masih aman dilakukan dengan pengendalian yang
    ada.

    -Potensi Penyebab Bahaya : -Pekerjaan 2-

    -Potensi penyebab bahaya pada pekerjaan ini kurang lebih seperti yang telah dijabarkan dipekerjaan nomor 1 diatas, hanya ada beberapa potensi bahaya tambahan
    untuk pekerjaan pemasangan bata ringan di gedung bertingkat, yaitu : a. Ketinggian diatas 3,00 meter, b. Lintasan jalur kabel listrik, c.Kompetensi pekerja,d.Tekanan angin saat berada diketinggian lebih dari 8 meter, e. Andang (scaffolding kayu)

    -Deskripsi konsekuensi terhadap manusia : Jatuhnya pekerja pada ketinggian diatas 3,00 meter dari permukaan tanah, lintasan saluran kabel listrik, kompetensi pekerja dan tekanan angin.

    -Deskripsi konsekuensi terhadap alat/peralatan : Andang(scaffolding kayu) mudah ambruk dan tidak sesuai dengan jenis proyek pembangunan.

    -Deskripsi konsekuensi terhadap lingkungan : Pemasangan batu bata yang tidak sesuai prosedur dapat membuat dinding yang dibuat ambruk meninpa yang ada di lingkungan sekitarnya.

    -Resiko awal : Tanpa proteksi apapun sesuai dengan gambar.
    – Tingkat kemungkinan : a. Ketinggian : Frekuensi keseringan “sering” selama pekerjaan
    berlangsung -> Keparahan “berat” karna ketinggian lebih dari 3,00
    meter dapat menimbulkan fatality pada pekerja -> Hasil kategori
    resiko “tinggi”.
    b. Lintasan jalur kabel : Frekuensi keseringan”sering” selama
    pekerjaan berlangsung -> Keparahan “berat” karna pekerja dapat
    tersengat listrik dari saluran kabel tersebut -> Hasil kategori resiko
    “tinggi”
    c. Kompetensi pekerja : Frekuensi keseringan “sering” selama
    pekrjaan berlangsung -> Keparahan “berat” dapat merusak
    peralatan dan membahayakan si pekerja dan orang-orang
    disekitar area kerja -> Hasil kategori resiko “tinggi”
    d. Tekanan angin : Frekuensi keseringan “sering” selama pekerjaan
    berlangsung -> Keparahan “berat” membuat konsentrasi
    pekerja berkurang dan pekerja dapat terjatuh -> Hasil kategori
    resiko “tinggi”
    e. Andang(Scaffolding kayu) Frekuensi keseringa “sering” selama
    pekerjaan berlangsung -> Keparahan “berat” ketidak sesuaian
    scaffold yang digunakan untuk proyek gedung bertingkat -> Hasil
    ketegori resiko “tinggi”

    -Pengendalian potensi bahaya : a. Ketinggian : Melakuakn observasi dan melakukan trainning
    pada setiap pekerja, memberikan JSA (Administrasi)
    memberikan full body harness, helm proyek, sepatu safety
    dan sarung tangan safety (APD).
    b. Lintasan jalur kabel listrik : Memindah lokasi kerja (eliminasi),
    melakukan survey area kerja (administrasi)
    c. Kompetensi pakerja : Mengganti pekerja yang lebih ahli
    (subtitusi)
    d. Tekanan angin : Memberikan peralatan full body harness
    (APD)
    e. Andang(Scaffolding kayu) : Mengganti scaffold khusus
    proyek gedung bertingkat (subtitusi), menambahkan
    pemabatan disetiap sisi scaffolding (rekayasa teknis).

    -Resiko sisa : a. Ketinggian : Frekuensi keseringan “sering” -> Keparahan “ringan” -> Hasil
    kategori resiko “sedang”masih aman dilakukan dengan pengendalian yang ada.
    b. Lintasan jalur kabel listrik : Frekuensi keseringan “rendah” -> Keparahan
    “rendah” -> Hasil kategori resiko “sedang” masih aman dilakukan dengan
    pengendalian yang ada.
    c. Kompetensi pekerja : Frekuensi keseringan “sering” -> Keparahan “sangat
    ringan” -> Hasil ketegori resiko “sedang” masih aman dilakukan dengan
    pengendalian yang ada.
    d. Tekanan angin : Frekuensi keseringan “sering” -> Keparahan “ringan” -> Hasil
    kategori resiko “sedang”masih aman dilakukan dengan pengendalian yang ada.
    e. Andang (Scaffolding kayu) : Frekuensi keseringan “sedang” -> Keparahan
    “sangat ringan” -> Hasil kategori resiko “rendah” aman dilakukan.

    NAMA: CHRISTIANI UTAMI
    NPM : 13.11.106.701501.0845
    SMT : V (LIMA)
    KLS : B1

  9. (1)-Nama Pekerjaan :
    Pekerjaan pemasangan bata ringan untuk perumahan dengan ketinggian sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah

    -Potensi penyebab bahaya :
    1.Struktur scaffolding yang tidak sesuai standar
    2.Debu dari hasil konstruksi
    3.Letak alat konstruksi yang rentan jatuh
    4.Posisi pekerja yang tidak ergonomi
    5.Kurangnya pengetahuan pekerja tentang K3 konstruksi
    6.Pekerja yang tidak memakai alat pelindung diri (APD)

    -Konsekuensi :
    1.pekerja bisa terjatuh dan mengalami patah tulang
    2.pekerja bisa mengalami ISP (Infeksi saluran pernapasan)
    3.peralatan bisa terjatuh dan mengenai pekerja lainnya dan mengalami pendarahan pada kepala atau luka pada bagian tubuh lainnya
    4.pekerja bisa mengalami muskuluskeletal disorder
    5.bisa terjadinya human eror dan akan memperparah keadaan jika terjadi eccident
    6.pekerja bisa saja mengalami acident yang fatal jika tanpa APD

    -Risiko awal (Tingkat kemungkinan, Tingkat keparahan, Tingkat risiko) :
    1.Kemungkinan besar terjadi, Fatality, Significant
    2.Kemungkinan besar terjadi, Fatality, Significant
    3.kemungkinan terjadi rata-rata, Medical treatment, Medium
    4.kemungkinan besar terjadi, dengan cacat permanen, High
    5.kemungkinan besar terjadi, cacat permanen, High
    6.kemungkinan besar terjadi, Fatality, Significant

    -Pengendalian :
    1.(Subtitusi) Scaffolding di ganti dengan scaffolding yang sesuai standar untuk menghindari potensi jatuhnya pekerja
    2.(APD) Diadakan pembagian masker pada pekerja yang bekerja di area konstruksi tersebut untuk mengurangi potensi penyakit ISP (Infeksin saluran pernapasan) pada pekerja.
    3.1.(Isolasi) Diletakannya alat konstruksi di tempat yang aman seperti di scaffholding untuk menghindara jatuhnya alat tersebut
    3.2.(Rekayasa tekhnis) memberikan tempat yang aman untuk perlatan konstruksi seperti scaffolding.
    4.(Training) Memberikan training tentang kerja ergonomi pada pekerja
    5.(Training) Memberikan training pada pekerja tentang K3 konstruksi
    6.1.(APD) Di berikannya APD untuk pekerja jika perlu memakai work permit untuk para pekerja jika safety tidak lengkap dilarang bekerja.
    6.2.(Adminitrasi) Melarang pekerja bekerja di area konstruksi tanpa work permit

    -Risiko sisa (Tingkat kemungkinan, Tingkat keparahan, Tingkat risiko) :
    1.Kemungkinan kecil terjadi, Tanpa cacat permanen, Low
    2.Kemungkinan kecil terjadi, First Aid case, Low
    3.kemungkinan kecil terjadi, First Aid case, Low
    4.kemungkinan kecil terjadi, Medical treatment, Low
    5.kemungkinan kecil terjadi, First Aid case, Low
    6.kemungkinan terjadi rata-rata, fisrt aid case, Low

    (2)-Nama pekerjaan :
    Pekerjaan pemasangan bata ringan untuk gedung bertingkat dengan ketinggian diatas 3,00 meter.

    -Potensi penyebab bahaya :
    1.Struktur scaffolding yang tidak sesuai standar
    2.Debu dari hasil konstruksi
    3.Letak alat konstruksi yang rentan jatuh
    4.Posisi pekerja yang tidak ergonomi
    5.Kurangnya pengetahuan pekerja tentang K3 konstruksi
    6.Pekerja yang tidak memakai alat pelindung diri (APD)
    7.Ketinggian melebihi 3 meter

    -Konsekuensi :
    1.pekerja bisa terjatuh dan mengalami patah tulang
    2.pekerja bisa mengalami ISP (Infeksi saluran pernapasan)
    3.peralatan bisa terjatuh dan mengenai pekerja lainnya dan mengalami pendarahan pada kepala atau luka pada bagian tubuh lainnya
    4.pekerja bisa mengalami muskuluskeletal disorder
    5.bisa terjadinya human eror dan akan memperparah keadaan jika terjadi eccident
    6.pekerja bisa saja mengalami acident yang fatal jika tanpa APD
    7.Pekerja bisa menglami luka serius seperti patah tulang, kepala pecah jika terjatuh

    -Risiko awal (Tingkat kemungkinan, Tingkat keparahan, Tingkat risiko) :
    1.Kemungkinan besar terjadi, Fatality, Significant
    2.Kemungkinan besar terjadi, Fatality, Significant
    3.kemungkinan terjadi rata-rata, Medical treatment, Medium
    4.kemungkinan besar terjadi, dengan cacat permanen, High
    5.kemungkinan besar terjadi, cacat permanen, High
    6.kemungkinan besar terjadi, Fatality, Significant
    7.Kemungkinan besar terjadi, Fatality, Significant

    -Pengendalian :
    1.(Subtitusi) Scaffolding di ganti dengan scaffolding yang sesuai standar untuk menghindari potensi jatuhnya pekerja
    2.(APD) Diadakan pembagian masker pada pekerja yang bekerja di area konstruksi tersebut untuk mengurangi potensi penyakit ISP (Infeksin saluran pernapasan) pada pekerja.
    3.1.(Isolasi) Diletakannya alat konstruksi di tempat yang aman seperti di scaffholding untuk menghindara jatuhnya alat tersebut
    3.2.(Rekayasa tekhnis) memberikan tempat yang aman untuk perlatan konstruksi seperti scaffolding.
    4.(Training) Memberikan training tentang kerja ergonomi pada pekerja
    5.(Training) Memberikan training pada pekerja tentang K3 konstruksi
    6.1.(APD) Di berikannya APD untuk pekerja jika perlu memakai work permit untuk para pekerja jika safety tidak lengkap dilarang bekerja.
    6.2.(Adminitrasi) Melarang pekerja bekerja di area konstruksi tanpa work permit
    7.1.(Rekayasa tekhnis) memberikan pagar pada saccaffolding untuk mengurangipotensi jatuhya pekerja.
    7.2.(APD) memberika body harnes
    7.3.(Training) memberikan training tentang kerja aman di ketinggian
    7.4.(SOP) memberikan prosedur tata cara bekerja di ketinggian

    -Risiko sisa (Tingkat kemungkinan, Tingkat keparahan, Tingkat risiko) :
    1.Kemungkinan kecil terjadi, Tanpa cacat permanen, Low
    2.Kemungkinan kecil terjadi, First Aid case, Low
    3.kemungkinan kecil terjadi, First Aid case, Low
    4.kemungkinan kecil terjadi, Medical treatment, Low
    5.kemungkinan kecil terjadi, First Aid case, Low
    6.kemungkinan terjadi rata-rata, fisrt aid case, Low
    7.Kemungkinan kecil terjadi, First aid case, Low

    Nama : Muhammad Al Nurizzati
    NPM : 13.11.106.701501.0870
    Semester : 5
    Kelas : B1

  10. Nama Pekerjaan : 1. Pemasangan Bata ringan untuk perumahan dengan ketinggian sampai dengan 3M dari permukaan tanah.

    Potensi penyebab bahaya :
    1.1 Pekerja tersebut tidak menggunakan Alat pelindung diri yang sesuai standar SNI, sedangkan pekerjaan yang dilakukan rentan terjadi kecelakaan
    1.2 Jam kerja yang tidak pasti dapat menimbulkan kelelahan pada pekerja bangunan tersebut
    1.3 Tuntutan untuk menyelesaikan bangunan tepat waktu yang dapat mengakibatkan depresi / stress bagi si pekerja
    1.4 Dilihat dari peralatan penunjang kerja, bisa dilihat pekerja menggunakan peralatan yang tidak layak pakai serta rawan kecelakaan
    1.5 Pekerja yang kurang edukasi yang melalaikan keselamatan dalam bekerja yang bisa menyebabkan kecelakaan kerja.
    1.6 Posisi kerja yang tidak ergonomic seperti membungkuk dalam waktu yang lama pada saat pemasangan bata ringan.
    1.7 Pekerjaan tersebut banyak menimbulkan Debu yang dapat mengganggu pernafasan si pekerja
    1.8 Pekerja bekerja di area terbuka dan langsung terpapar sinar matahari yang mengakibatkan pusing

    Konsekuensi terhadap manusia, alat/peralatan, lingkungan :

    – terhadap manusia : dapat menyebabkan cidera pada kerangka otot,gangguan pernafasan,
    serta iritasi pada mata,dan kecelakaan kepada para pekerja karena kurangnya edukasi,
    kesadaran,dan pengawasan tentang keselamatan dan kesehatan kerja

    – terhadap alat/peralatan : dapat menyebabkan kerusakan peralatan,material serta properti lainnya yang bisa berakibat kerugian

    – lingkungan : lingkungan yang belum pasti bisa melindungi para pekerja dari paparan sinar matahari,dan bahaya biologis seperti gangguan serangga.

    Resiko Awal :

    1.1 * tingkat Kemungkinan : pasti terjadi
    * tingkat keparahan : LTI tanpa cacat permanen
    * tingkat Resiko : HIGH

    1.2 * tingkat Kemungkinan : Pasti terjadi
    * tingkat keparahan : medical treatment
    * tingkat Resiko : MEDIUM

    1.3 * tingkat Kemungkinan : kemungkinan besar terjadi
    * tingkat keparahan : first aid case
    * tingkat Resiko : LOW

    1.4 * tingkat Kemungkinan : pasti terjadi
    * tingkat keparahan : LTI tanpa cacat permanen
    * tingkat Resiko : HIGH

    1.5 * tingkat Kemungkinan : pasti terjadi
    * tingkat keparahan : medical treatment
    * tingkat Resiko : HIGH

    1.6 * tingkat Kemungkinan : kemungkinan terjadi rata-rata
    * tingkat keparahan : medical tretment
    * tingkat Resiko : medium

    1.7 * tingkat Kemungkinan : pasti terjadi
    * tingkat keparahan : first aid case
    * tingkat Resiko : MEDIUM

    1.8 * tingkat Kemungkinan : pasti terjadi
    * tingkat keparahan : first aid case
    * tingkat Resiko : MEDIUM

    Pengendalian Potensi Bahaya :
    1.1 Pekerja harus melengkapi diri dengan peralatan pelindung yang sesuai standar seperti menggunakan safety shoes, safety helmet dll. Untuk menghindari resiko cidera.

    1.2 Menerapkan shift pagi dan sore agar pekerja dapat bekerja dengan maksimal dan tidak gampang mengalami kelelahan

    1.3 Menggunakan peralatan yang sesuai standar pekerjaan,seperti scaffolding yang layak, Karena pekerjaan tersebut dilakukan di ketinggian 3.00 M dari permukaan tanah di sertai beban yang berat

    1.4 Membuatkan job desk pada setiap pekerja agar pekerja dapat memperkirakan waktu pembangunan agar tidak terburu-buru dalam bekerja yang dapat mengakibatkan pekerja merasa tertekan.

    1.5 Memberikan edukasi tentang keselamatan kerja kepada setiap pekerja serta mengawasi pelaksanaan agar pekerja tetap aman dan selalu menerapkan konsep k3 pada setiap kegiatan.

    1.6 Dilihat dari sisi ergonomic pekerja seharusnya melakukan perenggangan dan duduk dalam kondisi yang nyaman agar terhindar sakit pada pergelangan tangan, jari jari tangan, dan seluruh tubuh secara berkala misalnya setiap 30 menit.

    1.7 Menggunakan masker di setiap melakukan pekerjaan kepada setiap pekerja

    1.8 Dilihat dari lingkungan sekitarnya harus menggunakan atap terpal non permanen untuk setiap ruang lingkup kerja demi kenyamanan para pekerja saat bertugas,agar terhindar dari sengatan matahari secara langsung yang dapat mennyebabkan pusing,dehidrasi,dan kurang konsentrasi

    Resiko Sisa :
    1.1 * tingkat Kemungkinan : kemungkinan kecil terjadi
    * tingkat keparahan : medical treatment
    * tingkat Resiko : LOW

    1.2 * tingkat Kemungkinan : tidak mungkin terjadi
    * tingkat keparahan : first aid case
    * tingkat Resiko : LOW

    1.3 * tingkat Kemungkinan : kemungkinan kecil terjadi
    * tingkat keparahan : medical treatment
    * tingkat Resiko : LOW

    1.4 * tingkat Kemungkinan : tidak mungkin terjadi
    * tingkat keparahan : first aid case
    * tingkat Resiko : LOW

    1.5 * tingkat Kemungkinan : kemungkinan kecil terjadi
    * tingkat keparahan : medical treatment
    * tingkat Resiko : LOW

    1.6 * tingkat Kemungkinan : kemungkinan terjadi rata-rata
    * tingkat keparahan : medical treatment
    * tingkat Resiko : MEDIUM

    1.7 * tingkat Kemungkinan : tidak mungkin terjadi
    * tingkat keparahan : medical treatment
    * tingkat Resiko : LOW

    1.8 * tingkat Kemungkinan : tidak mungkin terjadi
    * tingkat keparahan : first aid case
    * tingkat Resiko : LOW

    Nama Pekerjaan : 2. Pekerjaan pemasangan bata ringan untuk gedung bertingkat diatas ketinggian 3,00 M dari permukaan tanah .

    Potensi Penyebab Bahaya :
    1.1 Pekerja tidak menggunakan Alat pelindung diri yang sesuai standar SNI, sedangkan pekerjaan dilakukan di ketinggian yang rawan cidera jika terjadi kecelakaan

    1.2 Tekanan untuk menyelesaikan bangunan tepat waktu yang dapat mengakibatkan depresi / stress bagi si pekerja

    1.3 Pekerja yang kurang edukasi yang mengabaikan keselamatan dalam bekerja

    1.4 Posisi kerja yang tidak ergonomic seperti membungkuk dalam waktu yang lama pada saat pemasangan bata ringan.

    1.5 Pekerjaan yang banyak menimbulkan Debu yang bisa mengganggu pernafasan si pekerja

    1.6 Tempat berpijak yang tidak layak untuk bekerja di ketinggian yang membahayakan pekerja

    1.7 Terpaan angin di ketinggian yang dapat mengakibatkan pekerja bisa terjatuh

    Konsekuensi terhadap manusia, alat/peralatan, lingkungan :

    – terhadap manusia : pekerja dapat terjatuh dari ketinggian di atas 3m karena tidak menggunakan body harness yang dikaitkan pada tempatnya
    yang dapat menyebabkan cidera, patah tulang hingga kematian ,adanya debu diarea kerja dapat mengganggu pernafasan
    serta iritasi pada mata,dan kecelakaan kepada para pekerja karena kurangnya edukasi,
    kesadaran,dan pengawasan tentang keselamatan dan kesehatan kerja

    – terhadap alat/peralatan : dapat menyebabkan kerusakan peralatan,material serta properti lainnya yang bisa berakibat kerugian

    – lingkungan : lingkungan yang belum pasti bisa melindungi para pekerja dari paparan sinar matahari,dan bahaya biologis
    seperti gangguan serangga,serta struktur tanah yang belum diketahui kuat atau tidaknya tanah untuk menahan bobot batu bata ringan

    Resiko Awal :

    1.1 * tingkat Kemungkinan : pasti terjadi
    * tingkat keparahan : LTI dengan cacat permanen
    * tingkat Resiko : VERY HIGH

    1.2 * tingkat Kemungkinan : Pasti terjadi
    * tingkat keparahan : first aid case
    * tingkat Resiko : MEDIUM

    1.3 * tingkat Kemungkinan : kemungkinan besar terjadi
    * tingkat keparahan : first aid case
    * tingkat Resiko : LOW

    1.4 * tingkat Kemungkinan : kemungkinan besar terjadi
    * tingkat keparahan : LTI tanpa cacat permanen
    * tingkat Resiko : HIGH

    1.5 * tingkat Kemungkinan : pasti terjadi
    * tingkat keparahan : medical treatment
    * tingkat Resiko : HIGH

    1.6 * tingkat Kemungkinan : pasti terjadi
    * tingkat keparahan : fatality
    * tingkat Resiko : VERY HIGH

    1.7 * tingkat Kemungkinan : kemungkinan besar terjadi
    * tingkat keparahan : fatality
    * tingkat Resiko : VERY HIGH

    Pengendalian potensi bahaya
    1.1 Mewajibkan setiap pekerja menggunakan alat pelindung diri sesuai pekerjaan di ketinggian seperti menggunakan body harness,safety shoes karet,serta gloves yang sesuai

    1.2 Menjadwalkan setiap kegiatan secara terperinci agar setiap pekerjaan dapat di selesaikan tepat waktu

    1.3 Memberi edukasi kepada setiap pekerja agar menerapkan k3

    1.4 Tidak melakukan jenis pekerjaan yang sama secara berulang-ulang dalam waktu yang lama agar tidak mengalami kerusakan pada anggota tubuh

    1.5 Penggunaan masker atau penutup hidung agar terhindar dari debu yang di hasilkan dari bahan bangunan tersebut

    1.6 Wajib menggunakan platform,scaffolding yang sesuai standar pekerjaan di ketinggian

    1.7 Menggunakan bodyharness dan memastikan untuk mengaitkan bodyharness ke tempatnya agar tidak terjatuh

    Resiko Sisa :
    1.1 * tingkat Kemungkinan : kemungkinan kecil terjadi
    * tingkat keparahan : medical treatment
    * tingkat Resiko : LOW

    1.2 * tingkat Kemungkinan : kemungkinan kecil terjadi
    * tingkat keparahan : first aid case
    * tingkat Resiko : LOW

    1.3 * tingkat Kemungkinan : kemungkinan kecil terjadi
    * tingkat keparahan : medical treatment
    * tingkat Resiko : LOW

    1.4 * tingkat Kemungkinan : kemungkinan kecil terjadi
    * tingkat keparahan : medical treatment
    * tingkat Resiko : LOW

    1.5 * tingkat Kemungkinan : tidak mungkin terjadi
    * tingkat keparahan : first aid case
    * tingkat Resiko : LOW

    1.6 * tingkat Kemungkinan : kemungkinan terjadi rata-rata
    * tingkat keparahan : medical treatment
    * tingkat Resiko : MEDIUM

    1.7 * tingkat Kemungkinan : kemungkinan kecil terjadi
    * tingkat keparahan : medical treatment
    * tingkat Resiko : LOW

    Nama : Rima Nur Zain
    NPM : 13.11.106.701501.0846
    Kelas :B1-D4K3
    SEMESTER V

  11. •Nama pekerjaan (2 jenis pekerjaan seperti tercantum diatas).
    •Potensi penyebab bahaya (hazard).
    •Deskripsi konsekuensi terhadap manusia, alat/peralatan, lingkungan.
    •Risiko awal (Tingkat kemungkinan, Tingkat keparahan, Tingkat risiko).
    •Pengendalian potensi bahaya (Eliminasi, Substitusi, Rekayasa Teknis, Administratif, APD).
    •Risiko sisa (Tingkat kemungkinan, Tingkat keparahan, Tingkat risiko).
    •Pengendalian tambahan terhadap bahaya (bila ada).

    1. Pekerjaan pemasangan bata ringan untuk perumahan ketinggian sampai dengan 3 meter dari permukaan tanah.
    1.1.1 Debu yang dihasilkan dari bahan banguna yang digunakan bata ringan,semen dan pasir
    1.1.2 Jam kerja yang terlalu lama tidak seperti waktu batas normal 8 jam / kurang istirahat
    1.1.3 Terjatuh dari ketingian karena tidak mengunakan alat bantu yang standar
    1.1.4 Cuaca yang berubah ubah seperti hujan permukaan menjadi licin
    1.1.5 Postur tubuh yang tidak sesuai

    1.2 Deskripsikan konsekuensi terhadap manusia,alat,lingkungan
    1.2.1 Dapat mengalami gangguan penglihatan dan gangguan pernapasan yang diakibatkan semen/pasir
    1.2.2 Mengalamin kelelahan dapat mengakibatkan tidak fokus dalam pekerjaan
    1.2.3 Pekerja ketinggian dapat mengakibatkan kematian dan cacat permanen
    1.2.4 Pekerja dapat berhenti bekerja ketika cuaca buruk
    1.2.5 Wmsds yang dapat menyebabkan gangguan pada saat bekerja

    1.3 Risiko awal = (Consequnce x Likelihood)
    1.3.1 Debu: medical treatment (4) x kemungkinan terjadi rata-rata (C)= Medium Risk
    1.3.2 Jam kerja : medical treatment (4) x kemungkinan terjadi rata-rata (C)= Medium Risk
    1.3.3 Ketinggian : LTI dengan cacat permanen(2) x kemungkinan besar terjadi (D) = High Risk
    1.3.4 Cuaca : Property damage US$ 100.000 – US$ 1M (3) x kemungkinan besar terjadi (D)= High Risk
    1.3.5 Postur tubuh LTI dengan cacat permanen x kemungkinan besar terjadi (D) = High Risk

    1.4 Pengendalian potensi Bahaya
    1.4.1 Debu
    1.4.1.1 Isolasi = Menyiram Jalanan disekitar area kerja tersebut dengan air.
    1.4.1.2 PPE = Memakai APD (Safety Shoes,Cover all,Sarung tangan, Glasses Safety,Helmet,Masker

    1.4.2 Jam kerja
    1.4.2.1 Administratif : Mengatur pola jam kerja tidak lebih dari 8 jam per hari agar pekerja tidak kelelahan dan kurang fokus akibat jam kerja yang tidak normal

    1.4.3 Ketinggian
    1.4.3.1 Subtitusi : mengganti tangga kayu dengan scaffolding ang sudah ditetapkan standarnya
    1.4.3.2 Adminstrasi : membuat SOP bekerja diketinggian, Semua peralatan Penahan dan Pencegah Jatuh serta Peralatan Pendukung harus dalam kondisi baik dan sudah diinspeksi sebelum digunakan.
    1.4.3.3 PPE : Memakai APD (Safety Shoes,cover all,Sarung tangan, Glasses Safety,Helmet,Masker) dan Full body harness

    1.4.4 Cuaca
    1.4.4,1 Eliminasi : Pemberhentian pekerjaan bila cuaca terlihat mendung/hujan.
    1.4.4.2 Isolasi : mengisolasi tempat beristirahat kerja jauh dari paparan lngsung terik matahari.
    1.4.4.3 Administrasi : Memberikan istirahat kerja yang cukup

    med1.4.5 Postur tubuh tidak sesuai
    1.4.5.1 Subtitusi: mengganti pekerja yang tidak berpengalaman dengan merekrut pekerja yang ahli dibidangnya.
    1.4.5.2 Training : Memberi pelatihan Kepada pekerja sebelum pekerjaan itu dimulai, memberikan safety talk sebelum melakukan pekerjaan.
    1.4.5.3 Adminitrasif: Pastikan sudah memiliki Surat Ijin Kerja untuk bekerja di ketinggian, jika pekerja yang ahli dibidangnya melampirkan sertifikat training yang pernah diikuti,memasang rambu k3
    1.4.5.4 PPE : Memakai APD (Safety Shoes,Cover all,Sarung tangan, Glasses Safety,Helmet,Masker) dan Full body harnes

    1.5 Risiko sisa
    1.5.1 Debu : medical treatment (4) x kemungkinan kecil terjadi (B)= Low risk
    1.5.2 Jam karja : medical treatment (4) x kemungkinan terjadi (B)= Low risk
    1.5.3 Ketinggian : Lpi cacat permanen (3) x kemungkinan terjadi (B)= Low risk
    1.5.4 Cuaca : properti promage 10 < US$10.000 (5) x keungkinan rata-rata terjadi (C)= Low Risk
    1.5.5 Postur tubuh : LTI taPA caat permanen (3) x kemungkinan kecil terjadi (B)= Low Risk

    2. Pekerjaan pemasangan bata ringan untuk gedung bertingkat dengan ketinggian diatas 3,00 meter

    2.1 Analisis potensi bahaya
    2.1.1 Debu yang dihasilkan dari bahan banguna yang digunakan bata ringan,semen dan pasir
    2.1.2 Jam kerja yang terlalu lama tidak seperti waktu batas normal 8 jam / kurang istirahat
    2.1.3 Terjatuh dari ketingian karena tidak mengunakan alat bantu yang standar
    2.1.4 Cuaca yang berubah ubah seperti hujan permukaan menjadi licin
    2.1.5 Postur tubuh yang tidak sesuai

    2.2 Deskripsikan konsekuensi terhadap manusia,alat,lingkungan
    2.2.1 Debu = disekitar area kerja banyak terdapat dari material bahan abu semen, pasir, batu bata dan area tempat bekerja resikonya terhirup yang dapat menyebabkan insfeksi saluran pernapasan
    2.2.2 Jam kerja = Mengalamin kelelahan dapat mengakibatkan tidak fokus dalam pekerjaan
    2.2.3 Ketingian = risiko dari pekerjaan ini salah satunya ialah ketinggian yang berisiko terjatuh
    2.2.4 Cuaca = Pekerja dapat berhenti bekerja ketika cuaca buruk dapat menundah pekerjaan sehingga memerlukan waktu lama pada saat pengerjaan
    2.2.5 Postur tubuh = Pekerja dapat mengalami WMSDs (Work-related Musculoskeletal Disorders) yang menyebabkan pekerjaan yang dilakukan menjadi terganggu

    2.3 Risiko Awal (Consequnce x Likelihood)
    2.3.1 Debu = debu: medical treatment (4) x kemungkinan terjadi rata-rata (C)= Medium Risk
    2.3.2 Jam kerja : medical treatment (4) x kemungkinan terjadi rata-rata (C)= Medium Risk
    2.3.3 Ketinggian : LTI dengan cacat permanen(2) x kemungkinan besar terjadi (D) = High Risk
    2.3.4 Cuaca : Property damage US$ 100.000 – US$ 1M (3) x kemungkinan besar terjadi (D)= High Risk
    2.3.5 Postur tubuh LTI dengan cacat permanen x kemungkinan besar terjadi (D) = High Risk

    2.4 Pengendalian bahaya
    2.4.1 Debu
    2.4.1.1 Isolasi = Menyiram Jalanan disekitar area kerja tersebut dengan air.
    2.4.1.2 PPE = Memakai APD (Safety Shoes,Cover all,Sarung tangan, Glasses Safety,Helmet,Masker

    2.4.2 Jam kerja
    2.4.2.1 Administratif : Mengatur pola jam kerja tidak lebih dari 8 jam per hari agar pekerja tidak kelelahan dan kurang fokus

    2.4.3 Ketingian
    2.4.3.1 Subtitusi : mengganti tangga kayu dengan scaffolding ang sudah ditetapkan standarnya
    2.4.3.2 Adminstrasi : membuat SOP bekerja diketinggian, Semua peralatan Penahan dan Pencegah Jatuh serta Peralatan Pendukung harus dalam kondisi baik dan sudah diinspeksi sebelum digunakan.
    2.4.3.3 PPE : Memakai APD (Safety Shoes,cover all,Sarung tangan, Glasses Safety,Helmet,Masker) dan Full body harness

    2.4.4 Cuaca
    2.4.4.1 Eliminasi : Pemberhentian pekerjaan bila cuaca terlihat mendung/hujan.
    2.4.4.2 Isolasi : mengisolasi tempat beristirahat kerja jauh dari paparan lngsung terik matahari.
    2.4.4.3 Memberikan istirahat kerja yang cukup.

    2.4.5 Postur tubuh
    2.4.5.1 Subtitusi = mengganti pekerja yang tidak berpengalaman dengan merekrut pekerja yang ahli dibidangnya.
    2.4.5.2 Training = Memberi pelatihan Kepada pekerja sebelum pekerjaan itu dimulai, memberikan safety talk sebelum melakukan pekerjaan.
    2.4.5.3 Adminitrasif = Pastikan sudah memiliki Surat Ijin Kerja untuk bekerja di ketinggian, jika pekerja yang ahli dibidangnya melampirkan sertifikat training yang pernah diikuti,memasang rambu k3
    2.4.5.4 PPE = Memakai APD (Safety Shoes,cover all,Sarung tangan,Helmet,Masker) dan Full body harness

    2.5 Risiko Sisa
    2.5.1 Debu : medical treatment (4) x kemungkinan kecil terjadi (B)= Low risk
    2.5.2 Jam karja : medical treatment (4) x kemungkinan terjadi (B)= Low risk
    2.5.3 Ketinggian : Lpi cacat permanen (3) x kemungkinan terjadi (B)= Low risk
    2.5.4 Cuaca : properti promage 10 < US$10.000 (5) x keungkinan rata-rata terjadi (C)= Low Risk
    2.5.5 Postur tubuh : LTI taPA caat permanen (3) x kemungkinan kecil terjadi (B)= Low Risk

    Nama : Riskianor
    Kelas : B1
    Npm : 13.11.106.701501.1211
    Semester : V ( Lima )

  12. Nama Pekerjaan : 1. Pemasangan Bata ringan untuk perumahan dengan ketinggian sampai dengan 3M dari permukaan tanah

    Potensi penyebab bahaya :
    Setelah di amati dari gambar yang di tampilkan pada soal maka saya telah menemukan beberapa potensi bahaya pada pekerjaan tersebut .

    1.1 Dilihat dari peralatan penunjang kerja, bisa dilihat pekerja menggunakan peralatan yang tidak layak pakai serta rawan kecelakaan

    1.2 pekerja tersebut, tidak menggunakan apd yang sesuai standar pekerjaan,sedangkan pekerjaan yang di lakukan rentan terhadap kecelakaan

    1.3 Pekerja bekerja di area terbuka dan langsung terpapar sinar matahari yang mengakibatkan pusing dan dehidrasi

    1.4 Pekerja yang kurang edukasi yang jadi melalaikan keselamatan dalam bekerja

    1.5 Posisi yang tidak ergonomi saat melakukan pemasangan bata

    Konsekuensi terhadap manusia, alat/peralatan, lingkungan :

    – terhadap manusia : pekerjaan yang sama dan dilakukan secara berulang- ulang dalam waktu yang cukup lama
    seperti memasang/ menyusun bata dalam posisi membungkuk dapat menyebabkan cidera pada kerangka otot,
    sedangkan banyak debu yang berterbangan dapat mengangguan pernafasan sehingga menurunkan kinerja para pekerja,
    serta iritasi pada mata,dan kecelakaan kepada para pekerja karena kurangnya edukasi,
    kesadaran,dan pengawasan tentang keselamatan dan kesehatan kerja

    – terhadap alat/peralatan : dapat menyebabkan kerusakan peralatan,material serta properti lainnya yang bisa berakibat kerugian

    – lingkungan : lingkungan yang belum bisa melindungi para pekerja dari paparan sinar matahari yang dapat mengakibatkan dehidrasi dan sakit kepala,serta terdapat bahaya biologis seperti gangguan serangga.

    Resiko Awal :

    1.1 * tingkat Kemungkinan : pasti terjadi
    * tingkat keparahan : LTI tanpa cacat permanen
    * tingkat Resiko : HIGH

    1.2 * tingkat Kemungkinan : Pasti terjadi
    * tingkat keparahan : LTI tanpa cacat permanen
    * tingkat Resiko : HIGH

    1.3 * tingkat Kemungkinan : kemungkinan besar terjadi
    * tingkat keparahan : first aid case
    * tingkat Resiko : LOW

    1.4 * tingkat Kemungkinan : pasti terjadi
    * tingkat keparahan : LTI tanpa cacat permanen
    * tingkat Resiko : HIGH

    1.5 * tingkat Kemungkinan : pasti terjadi
    * tingkat keparahan : medical treatment
    * tingkat Resiko : HIGH

    Pengendalian potensi bahaya

    1.1 Sisi peralatan : menggunakan peralatan yang sesuai standar pekerjaan,seperti scaffolding yang layak ,Karena pekerjaan tersebut dilakukan di ketinggian 3.00 M dari permukaan tanah di sertai beban yang berat

    1.2 Sisi pekerja : mewajibkan setiap pekerjan mengenakan APD sesuai standar pekerjaan seperti penggunaan Safety shoes,gloves,helm untuk mengurangi resiko cidera

    1.3 Sisi lingkungan : menutupi para pekerja dengan atap terpal non permanen untuk setiap ruang lingkup kerja demi kenyamanan para pekerja saat bertugas,agar terhindar dari sengatan matahari secara langsung yang dapat mennyebabkan pusing,dehidrasi,dan kurang konsentrasi

    1.4 Sisi edukasi: memberikan edukasi kepada setiap pekerja di proyek agar lebih peduli dengan keselamatan dalam bekerja dan mengawasi setiap pelaksanaanya agar tidak terjadi pelanggaran serta hal yang tidak di inginkan

    1.5 Sisi ergonomi : sesekali pekerja merenggangkan tubuh untuk menghindari sakit pada system rangka dan relaksasi jari-jari tangan,pergelangan tangan dan seluru tubuh secara berkala,misalnya setiap 30 menit

    Resiko sisa :

    1.1 * tingkat Kemungkinan : kemungkinan kecil terjadi
    * tingkat keparahan : medical treatment
    * tingkat Resiko : LOW

    1.2 * tingkat Kemungkinan : Kemungkinan kecil terjadi
    * tingkat keparahan : first aid case
    * tingkat Resiko : Low

    1.3 * tingkat Kemungkinan : tidak mungkin terjadi
    * tingkat keparahan : first aid case
    * tingkat Resiko : LOW

    1.4 * tingkat Kemungkinan : kemungkinan kecil terjadi
    * tingkat keparahan : first aid case
    * tingkat Resiko : LOW

    1.5 * tingkat Kemungkinan : Kemungkinan terjadi rata-rata
    * tingkat keparahan : medical treatment
    * tingkat Resiko : MEDIUM

    Nama Pekerjaan : 2. Pekerjaan pemasangan bata ringan untuk gedung bertingkat diatas ketinggian 3,00 M dari permukaan tanah .

    potensi Penyebab bahaya

    1.1 Debu dari bahan bangunan

    1.2 Terpaan angin di ketinggian

    1.3 Posisi kerja yang tidak ergonomic

    1.4 Pekerja yang tidak menggunakan APD apapun seperti body harness,helm,sarung tangan dll

    1.5 Kurangnya edukasi pada pekerja

    1.6 Kurangnya pengawasan pada pekerja dari mandor

    1.7 Peralatan yang kurang memadai untuk proses pengerjaan batu bata ringan

    Konsekuensi terhadap manusia, alat/peralatan, lingkungan :

    – terhadap manusia : pekerja mengalami tekanan pekerjaan yang diharuskan menyelesaikan tepat waktu sehingga menyebabkan depresi/ stress.
    dan dapat menurunkan kinerja para pekerja,dan para pekerja yang kurangnya edukasi,dapat mengakibatkan kecelakaan jatuh dari ketinggian
    yang bisa mengakibatkan patah tulang hingga resiko kematian.

    – terhadap alat/peralatan : dapat menyebabkan kerusakan peralatan,material serta properti lainnya yang bisa berakibat kerugian

    – lingkungan : lingkungan kerja yang rawan kecelakaan seperti bekerja diketinggian diatas 3m tanpa menggunakan apd yang sesuai standar pekerjaan.

    Resiko Awal :

    1.1 * tingkat Kemungkinan : kemungkinan terjadi rata-rata
    * tingkat keparahan : medical treatment
    * tingkat Resiko : MEDIUM

    1.2 * tingkat Kemungkinan : Pasti terjadi
    * tingkat keparahan : LTI dengan cacat permanen
    * tingkat Resiko : HIGH

    1.3 * tingkat Kemungkinan : kemungkinan terjadi rata-rata
    * tingkat keparahan : medical treatment
    * tingkat Resiko : MEDIUM

    1.4 * tingkat Kemungkinan : pasti terjadi
    * tingkat keparahan : Fatality
    * tingkat Resiko : Very HIGH

    1.5 * tingkat Kemungkinan : pasti terjadi
    * tingkat keparahan : LTI dengan cacat permanen
    * tingkat Resiko : VERY HIGH

    Pengendalian potensi bahaya

    1.1 Penggunaan masker pada setiap pekerja demi melindungi pekerja dari bahaya debu yang bisa menyebabkan penyakit pada saluran pernafasan

    1.2 Menggunakan serta mengaitkan body harness pada scaffolding agar pekerja terhindar dari resiko terjatuh karena terpaan angin

    1.3 Mengkombinasi pekerjaan pada setiap pekerja agar pekerja tidak melakukan pekerjaan yang di lakukan pada posisi yang monoton,agar terhindar dari cidera pada kerangka serta otot-otot pada tubuh pekerja

    1.4 Para pekerja wajib menggunakan APD yang sesuai standar di tempat mereka bekerja agar tidak mengalami kecelakaan.

    1.5 Memberikan edukasi pada setiap pekerja dan mandor agar lebih memperhatikan keselamatan para pekerja

    1.6 Mengawasi setiap pekerja agar selalu menerapkan keselamatan dalam bekerja dan mematuhi segala prosudur keamanan dalam melakukan pekerjaan agar terhindar dari kecelakaan serta memberikan teguran pada setiap pekerja yang melanggar aturan tersebut

    1.7 Penggunaan alat yang sesuai standar untuk pekerjaan pemasangan bata ringan seperti penggunaan scaffolding yang sesuai serta alat penunjang lainya

    Resiko Sisa :

    1.1 * tingkat Kemungkinan : Tidak mungkin terjadi
    * tingkat keparahan : medical treatment
    * tingkat Resiko : LOW

    1.2 * tingkat Kemungkinan : kemungkin terjadi rata-rata
    * tingkat keparahan : LTI tanpa cacat permanen
    * tingkat Resiko : MEDIUM

    1.3 * tingkat Kemungkinan : kemungkinan kecil terjadi
    * tingkat keparahan : medical treatment
    * tingkat Resiko : LOW

    1.4 * tingkat Kemungkinan : kemungkinan terjadi rata-rata
    * tingkat keparahan : medical treatment
    * tingkat Resiko : MEDIUM

    1.5 * tingkat Kemungkinan : kemungkinan kecil terjadi
    * tingkat keparahan : first aid case
    * tingkat Resiko : LOW

    1.6 * tingkat Kemungkinan : kemungkinan kecil terjadi
    * tingkat keparahan : first aid case
    * tingkat Resiko : LOW

    1.7 * tingkat Kemungkinan : kemungkinan terjadi rata-rata
    * tingkat keparahan : medical treatment
    * tingkat Resiko : MEDIUM

    Nama : Muhamad Afin Abizal
    NPM : 13.11.106.701501.0860
    Kelas :B1-D4K3
    SEMESTER V

  13. 1. Nama Pekerjaan : a. Pekerjaan pemasangan bata ringan untuk perumahan dengan ketinggian sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.

    2. Potensi Penyebab Bahaya (Hazard) :
    1. Dapat terjatuh ke permukaan tanah yang datar maupun berlubang
    2. Dapat terjatuh ke permukaan tanah yang terdapat material material bangunan kerja
    3. Jatuh dari tangga karena kelelahan (fatique) atau terpeleset atau bisa juga karena tangga tidak aman yang hanya terbuat dari bambu,kayu,atau bahan mudah rapuh lainnya
    4. Terpapar debu semen dan pasir yang dapat mengganggu penglihatan juga mengganggu pernafasan pekerja yang bisa menyebabkan tidak aman dan nyaman dalam bekerja
    5. Kejatuhan material bangunan seperti paku, palu, batu bata,dan lain-lain
    6. Tersengat serangga atau bahaya biologis yang dapat membahayakan pekerja

    3. Deskripsi Konsekuensi terhadap manusia,alat/peralatan,lingkungan :
    1. Konsekuensi terhadap manusia yaitu jika pekerja terjatuh dari ketinggian bisa mengakibatkan patah tulang, luka berat maupun luka ringan
    2. Konsekuensi terhadap alat/peralatan yaitu jika alat/peralatan rusak atau tidak dapat dipergunakan kembali untuk pekerjaan maka mengakibatkan kerugian karena harus membeli kembali alat/peralatan yang harus dipergunakan/dipakai dalam pekerjaan bangunan tersebut
    3. Konsekuensi terhadap lingkungan yaitu mengakibatkan kerusakan terhadap lingkungan jika limbah dari pekerjaan bangunan tidak langsung dibersihkan dan dapat mengakibatkan PAK (penyakit akibat kerja) karena lingkungan tidak bersih menjadi sarang penyakit bagi si pekerja

    4. Resiko Awal :

    1. Bahaya – Dapat terjatuh ke permukaan tanah yang datar maupun berlubang :
    Risk Matriks = Tingkat Kemungkinan : Kemungkinan Besar Terjadi
    Tingkat Keparahan : Medical Treatment
    Tingkat Resiko : Medium
    2. Bahaya – Dapat terjatuh ke permukaan tanah yang terdapat material material bangunan kerja :
    Risk Matriks = Tingkat Kemungkinan : Kemungkinan Besar Terjadi
    Tingkat Keparahan : Medical Treatment
    Tingkat Resiko : Medium
    3. Bahaya – Jatuh dari tangga karena kelelahan (fatique) atau terpeleset atau bisa juga karena tangga tidak aman yang hanya terbuat dari bambu,kayu,atau bahan mudah rapuh lainnya :
    Risk Matriks = Tingkat Kemungkinan : Pasti Terjadi
    Tingkat Keparahan : Medical Treatment
    Tingkat Resiko : High
    4. Bahaya – Terpapar debu semen dan pasir :
    Risk Matriks = Tingkat Kemungkinan : Pasti Terjadi
    Tingkat Keparahan : First Aid Case
    Tingkat Resiko : Medium
    5. Bahaya – Kejatuhan material bangunan seperti paku, palu, batu bata,dan lain-lain :
    Risk Matriks = Tingkat Kemungkinan : Kemungkinan Besar Terjadi
    Tingkat Keparahan : Medical Treatment
    Tingkat Resiko : Medium
    6. Bahaya – Tersengat serangga atau bahaya biologis yang dapat membahayakan pekerja :
    Risk Matriks = Tingkat Kemungkinan : Kemungkinan Besar Terjadi
    Tingkat Keparahan : Medical Treatment
    Tingkat Resiko : Medium

    5. Pengendalian Potensi Bahaya :
    1. Sebelum melakukan pekerjaan di ketinggian, sebaiknya memilih orang-orang yang berkompeten dan sudah ahli dalam bidang pekerjaan tersebut juga sehat secara fisik maupun psikis
    2. Membuatkan SOP pada pekerja atau memberi pengarahan terlebih dahulu sebelum melakukan pekerjaan
    3.1 Memeriksa keadaaan tangga yang akan digunakan apakah masih layak untuk dipergunakan atau tidak, pilih tangga dengan ketinggian yang sesuai, perhatikan sudut kemiringan dan posisi tangga harus stabil
    3.2 Jika sudah merasa lelah atau tidak kuat fisik untuk melakukan pekerjaan jangan dipaksa untuk tetap bekerja disarankan untuk beristirahat dahulu
    4. Agar tidak terpapar debu gunakan alat pelindung diri seperti kacamata dan masker saat bekerja agar pekerjaan tidak terganggu
    5.1 Perlengkapan alat atau material-material bangunan yang tidak dipergunakan sebaiknya disingkirkan atau disimpan terlebih dahulu ditempat yang aman
    5.2 Menggunakan APD alat pelindung diri
    6. Agar terlindung dari bahaya biologis seperti tersengat serangga sebaiknya gunakan baju lengan panjang dan celana panjang juga APD pendukung lainnya seperti helm, sarung tangan, kacamata, masker, sepatu safety dll. Dan jika sudah tersengat sebaiknya hentikan pekerjaan tersebut ditindak lanjuti secara medis jika sudah benar-benar pulih pekerjaan bisa dilanjutkan kembali.

    6. Resiko Sisa :

    1. Bahaya – Dapat terjatuh ke permukaan tanah yang datar maupun berlubang :
    Risk Matriks = Tingkat Kemungkinan : Kemungkinan Kecil Terjadi
    Tingkat Keparahan : Medical Treatment
    Tingkat Resiko : Low
    2. Bahaya – Dapat terjatuh ke permukaan tanah yang terdapat material material bangunan kerja :
    Risk Matriks = Tingkat Kemungkinan : Kemungkinan Kecil Terjadi
    Tingkat Keparahan : Medical Treatment
    Tingkat Resiko : Low
    3. Bahaya – Jatuh dari tangga karena kelelahan (fatique) atau terpeleset atau bisa juga karena tangga tidak aman yang hanya terbuat dari bambu,kayu,atau bahan mudah rapuh lainnya :
    Risk Matriks = Tingkat Kemungkinan : Kemungkinan Kecil Terjadi
    Tingkat Keparahan : Medical Treatment
    Tingkat Resiko : Low
    4. Bahaya – Terpapar debu semen dan pasir :
    Risk Matriks = Tingkat Kemungkinan : Kemungkinan Besar Terjadi
    Tingkat Keparahan : First Aid Case
    Tingkat Resiko : Low
    5. Bahaya – Kejatuhan material bangunan seperti paku, palu, batu bata,dan lain-lain :
    Risk Matriks = Tingkat Kemungkinan : Kemungkinan Kecil Terjadi
    Tingkat Keparahan : First Aid Case
    Tingkat Resiko : Low
    6. Bahaya – Tersengat serangga atau bahaya biologis yang dapat membahayakan pekerja :
    Risk Matriks = Tingkat Kemungkinan : Kemungkinan Kecil Terjadi
    Tingkat Keparahan : First Aid Case
    Tingkat Resiko : Low

    7. Pengendalian Tambahan Terhadap Bahaya (bila ada) : –

    1. Nama Pekerjaan : b. Pekerjaan pemasangan bata ringan untuk gedung bertingkat dengan ketinggian diatas 3,00 meter.

    2. Potensi Penyebab Bahaya (Hazard) :
    1. Terjatuh dari ketinggian karena pengggunaan scafolding yang tidak benar,kurang aman, tidak diperiksa terlebih dahulu sebelum menggunakan atau scafolding hanya terbuat dari bambu,kayu, atau bahan mudah rapuh lainnya
    2. Terpapar debu semen dan pasir yang dapat mengganggu penglihatan pekerja yang bisa menyebabkan tidak aman dan nyaman dalam bekerja
    3. Terpapar radiasi sinar uv, suhu ekstrim, kelembapan, getaran,kebisingan dan lain-lain
    4. Terjatuh dari ketinggian karena tidak menggunakan full body harness dan APD pendukung lainnya
    5. Terjatuh ke permukaan tanah yang terdapat material material bangunan kerja dan mesin alat yang masih beroperasi atau bergerak
    6. Bahaya cuaca: panas,hujan,angin kencang yang bisa berpotensi pekerja tersebut terjatuh
    7. Kejatuhan material bangunan seperti paku, palu, batu bata,dan lain-lain
    8. Tersengat serangga atau bahaya biologis yang dapat membahayakan pekerja
    9. Tersengat aliran listrik

    3. Deskripsi Konsekuensi terhadap manusia,alat/peralatan,lingkungan :
    1. Konsekuensi terhadap manusia yaitu jika pekerja terjatuh dari ketinggian diatas 3,00 m bisa mengakibatkan patah tulang, luka ringan dan berat, maupun fatality (kematian)
    2. Konsekuensi terhadap alat/peralatan yaitu jika alat/peralatan rusak atau tidak dapat dipergunakan kembali untuk pekerjaan maka mengakibatkan kerugian karena harus membeli kembali alat/peralatan yang harus dipergunakan/dipakai dalam pekerjaan bangunan tersebut
    3. Konsekuensi terhadap lingkungan yaitu mengakibatkan kerusakan terhadap lingkungan jika limbah dari pekerjaan bangunan tidak langsung dibersihkan dan dapat mengakibatkan PAK (penyakit akibat kerja) karena lingkungan tidak bersih menjadi sarang penyakit bagi si pekerja

    4. Resiko Awal :

    1. Bahaya – Terjatuh dari ketinggian karena pengggunaan scafolding yang tidak benar,kurang aman, tidak diperiksa terlebih dahulu sebelum menggunakan atau scafolding hanya terbuat dari bambu,kayu, atau bahan mudah rapuh lainnya :
    Risk Matriks = Tingkat Kemungkinan : Kemungkinan Besar Terjadi
    Tingkat Keparahan : Fatality
    Tingkat Resiko : Significant
    2. Bahaya -Terpapar debu semen dan pasir :
    Risk Matriks = Tingkat Kemungkinan : Pasti Terjadi
    Tingkat Keparahan : First Aid Case
    Tingkat Resiko : Medium
    3. Bahaya – Terpapar radiasi sinar uv, suhu ekstrim, kelembapan, getaran,kebisingan dan lain-lain :
    Risk Matriks = Tingkat Kemungkinan : Kemungkinan Besar Terjadi
    Tingkat Keparahan : Medical Treatment
    Tingkat Resiko : Medium
    4. Bahaya – Terjatuh dari ketinggian karena tidak menggunakan full body harness dan APD pendukung lainnya :
    Risk Matriks = Tingkat Kemungkinan : Kemungkinan Besar Terjadi Terjadi
    Tingkat Keparahan : Fatality
    Tingkat Resiko : Significant
    5. Bahaya – Terjatuh ke permukaan tanah yang terdapat material material bangunan kerja dan mesin alat yang masih beroperasi atau bergerak :
    Risk Matriks = Tingkat Kemungkinan : Kemungkinan Besar Terjadi
    Tingkat Keparahan : Fatality
    Tingkat Resiko : Significant
    6. Bahaya – Bahaya cuaca: panas,hujan,angin kencang yang bisa berpotensi pekerja tersebut terjatuh :
    Risk Matriks = Tingkat Kemungkinan : Pasti Terjadi
    Tingkat Keparahan : Medical Treatment
    Tingkat Resiko : High
    7. Bahaya – Kejatuhan material bangunan seperti paku, palu, batu bata,dan lain-lain :
    Risk Matriks = Tingkat Kemungkinan : Kemungkinan Besar Terjadi
    Tingkat Keparahan : Medical Treatment
    Tingkat Resiko : Medium
    8. Bahaya – Tersengat serangga atau bahaya biologis yang dapat membahayakan pekerja :
    Risk Matriks = Tingkat Kemungkinan : Kemungkinan Besar Terjadi
    Tingkat Keparahan : Medical Treatment
    Tingkat Resiko : Medium
    9. Bahaya – Tersengat aliran listrik :
    Risk Matriks = Tingkat Kemungkinan : Kemungkinan Besar Terjadi
    Tingkat Keparahan : Fatality
    Tingkat Resiko : Significant

    5. Pengendalian Potensi Bahaya :
    1.1 Pastikan scafolding yang akan digunakan diperiksa terlebih dahulu apakah sudah aman untuk dipergunakan atau tidak dan memastikan pemasangan pipa-pipa scafolding sudah terpasang dengan benar, juga diikat secara maksimum dimasing-masing ujung scafolding dan beri tanda aman / safety sign
    1.2 Diberikan SOP penggunaan Scalfoding
    2. Agar tidak terpapar debu gunakan alat pelindung diri seperti kacamata dan masker saat bekerja agar pekerjaan tidak terganggu
    3. Gunakan pakaian wearpak untuk melindungi diri dari paparan sinar uv,suhu,dan lain-lain juga gunakan APD pendukung lainnya.
    4.1 Gunakan APD seperti full body harness,lanyard,lifeline dan APD pendukung lainnya seperti helm,sepatu safety,kacamata dll.
    4.2 Sebelum melakukan pekerjaan diketinggian, pastikan full body harness sudah terpasang dengan baik dan benar
    5.1 Sebelum melakukan pekerjaan di ketinggian, sebaiknya memilih orang-orang yang berkompeten dan sudah ahli dalam bidang pekerjaan tersebut juga sehat secara fisik maupun psikis dan sudah memiliki surat ijin bekerja diketinggian
    5.2 Melakukan persiapan pekerjaan sebanyak mungkin dari bawah sebelum si pekerja naik ke atas
    5.3 Memastikan pekerja bisa mendapatkan akses dengan aman dari tempat dimana mereka akan melakukan pekerjaan diketinggian
    5.4 Memberikan asuransi atau jaminan jika sewaktu waktu timbulnya kecelakaan kerja (jatuh dari ketinggian)
    6. Mempertimbangkan kondisi cuaca yang dapat membahayakan keselamatan pekerja
    7. Perlengkapan alat atau material-material bangunan yang tidak dipergunakan sebaiknya disingkirkan atau disimpan terlebih dahulu ditempat yang aman, jika pekerja membutuhkan peralatan tersebut dikerek menggunakan bantuan katrol
    8. Agar terlindung dari bahaya biologis seperti tersengat serangga sebaiknya gunakan baju lengan panjang dan celana panjang juga APD pendukung lainnya seperti helm, sarung tangan, kacamata, masker, sepatu safety dll. Dan jika sudah tersengat sebaiknya hentikan pekerjaan tersebut ditindak lanjuti secara medis jika sudah benar-benar pulih pekerjaan bisa dilanjutkan kembali.
    9. Meminta bantuan orang teknis atau ahli teknik perlistrikan yang tau bagaimana caranya agar tidak membahayakan pekerja
    Memberikan asuransi atau jaminan jika sewaktu waktu timbulnya kecelakaan kerja (jatuh dari ketinggian)

    6. Resiko Sisa :

    1. Bahaya – Terjatuh dari ketinggian karena pengggunaan scafolding yang tidak benar,kurang aman, tidak diperiksa terlebih dahulu sebelum menggunakan atau scafolding hanya terbuat dari bambu,kayu, atau bahan mudah rapuh lainnya :
    Risk Matriks = Tingkat Kemungkinan : Kemungkinan Kecil Terjadi
    Tingkat Keparahan : Fatality
    Tingkat Resiko : Medium
    2. Bahaya -Terpapar debu semen dan pasir :
    Risk Matriks = Tingkat Kemungkinan : Kemungkinan Besar Terjadi
    Tingkat Keparahan : First Aid Case
    Tingkat Resiko : Low
    3. Bahaya – Terpapar radiasi sinar uv, suhu ekstrim, kelembapan, getaran,kebisingan dan lain-lain :
    Risk Matriks = Tingkat Kemungkinan : Kemungkinan Kecil Terjadi
    Tingkat Keparahan : Medical Treatment
    Tingkat Resiko : Low
    4. Bahaya – Terjatuh dari ketinggian karena tidak menggunakan full body harness dan APD pendukung lainnya :
    Risk Matriks = Tingkat Kemungkinan : Kemungkinan Kecil Terjadi
    Tingkat Keparahan : Fatality
    Tingkat Resiko : Medium
    5. Bahaya – Terjatuh ke permukaan tanah yang terdapat material material bangunan kerja dan mesin alat yang masih beroperasi atau bergerak :
    Risk Matriks = Tingkat Kemungkinan : Kemungkinan Kecil Terjadi
    Tingkat Keparahan : Fatality
    Tingkat Resiko : Medium
    6. Bahaya – Bahaya cuaca: panas,hujan,angin kencang yang bisa berpotensi pekerja tersebut terjatuh :
    Risk Matriks = Tingkat Kemungkinan : Pasti Terjadi
    Tingkat Keparahan : First Aid Case
    Tingkat Resiko : Medium
    7. Bahaya – Kejatuhan material bangunan seperti paku, palu, batu bata,dan lain-lain :
    Risk Matriks = Tingkat Kemungkinan : Kemungkinan Kecil Terjadi
    Tingkat Keparahan : First Aid Case
    Tingkat Resiko : Low
    8. Bahaya – Tersengat serangga atau bahaya biologis yang dapat membahayakan pekerja :
    Risk Matriks = Tingkat Kemungkinan : Kemungkinan Kecil Terjadi
    Tingkat Keparahan : First Aid Case
    Tingkat Resiko : Low
    9. Bahaya – Tersengat aliran listrik :
    Risk Matriks = Tingkat Kemungkinan : Kemungkinan Kecil Terjadi
    Tingkat Keparahan : Fatality
    Tingkat Resiko : Medium

    7. Pengendalian Tambahan Terhadap Bahaya (bila ada) : –

    Nama : Jenny Agnesia Dumanaw
    Kelas : B1
    Semester : V
    Npm : 13.11.106.701501.0861

  14. 1 Pekerjaan pemasangan bata ringan untuk perumahan dengan ketinggian sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.

    1.1 Potensi bahaya
    1.1.1 Cuaca
    1.1.2 Kontruksi tanah
    1.1.3 Berdiri membungkuk telalu lama pada saat memasang bata
    1.1.4 Naik ke atas tanpa alat pengaman
    1.1.5 Jam kerja yang lama/istirahat kurang
    1.1.6 Debu yang berasal dari bahan-bahan bangunan
    1.1.7 Scaffolding yang tidak standar
    1.1.8 Tergores alat bangunan
    1.1.9 Tidak mengunakan APD lengkap

    1.2 Deskripsi konsekuensi terhadap manusia,alat/peralatan,lingkungan
    1.2.1 cuaca : pekerjaan dapat tertunda apabila cuacah tidak mendukung maka konsekuensinya kerugian/property damage
    1.2.2 kontruksi tanah :dalam pekerjaanini kontruksi tanah bisa terjadinya tanah longsor dan struktur tanah yg tidak padat
    1.2.3 Berdiri membungkuk telalu lama pada saat memasang bata:dalam bekerja membungkuk pekerja bisa terjadi cidera(fatiq)
    1.2.4 Naik ke atas tanpa alat pengaman:resiko dari menaiki ke atas tanpa alat pengamaan bisa mengakibatkan kecelakaan fatal seperti terjatoh dari ketinggian
    1.2.5 Jam kerja yang lama/istirahat kurang:pekerja yang sering bekerja lembur dapat mengakibatkan stres psikologis yang muncul bersamaan dengan depresi dan kecemasan dikarnakan kurangnya jam istirahat
    1.2.6 Debu yang berasal dari bahan-bahan bangunan:resiko dari debu yang berasal dari bahan-bahan bangunan seperti pasit,serpihan batu dan semen bisa terhirup oleh pekerja dan bisa mengakibatkan gangguan pernafasan
    1.2.7 Scaffolding yang tidak standar:scaffolding yang tidak standar bisa mengakibatkan terjadinya kecelakan fatal seperti jatoh dari ketinggian
    1.2.8 Tergores alat bangunan:disekitar area proyek banyak terdapat bahan atau alat-alat di taroh sembarangan bisa mengakibatkan terinjak dan tergores
    1.2.9 Tidak mengunakan APD lengkap: apabila pekerja tidak menggunakan APD lengkap bisa terjadi cidera seperti jatuh dari ketinggian,mata memerah terkena debu,bocor kepala akibat jatohnya bahan bangunan

    1.3 Resiko awal
    1.3.1 cuaca : kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = tinggi
    1.3.2 kontruksi tanah : kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = tinggi
    1.3.3 berdiri membungkuk : kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = tinggi
    1.3.4 naik ke atas tanpa alat pangaman : kemungkinan terjadi sering x keparahan serius : tinggi
    1.3.5 jam kerja yang lama/istirahat kurang : kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang : tinggi
    1.3.6 debu yang berasal dari bahan-bahan bangunan: kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang : tinggi
    1.3.7 scaffolding yang tidak standar : kemungkinan terjadi sering x keparahan serius : tinggi
    1.3.8 tergores alat bangunan : kemungkinan terjadi jarang x keparahan serius : tinggi
    1.3.9 tidak mengunakan APD lengkap : kemungkinan terjadi sering x keparahan serius : tinggi

    1.4. pengendalian potensi bahaya
    1.4.1 cuaca
    1.4.1.1 eliminasi : menghentikan pekerjaan bila cuaca terlihat mendung/hujan
    1.4.1.2 isolasi : mengisolasi tempat istirahat kerja jauh daridari paparan langsung terik matahari
    1.4.1.3 administrasi : memberikan istirahat yang cukup
    1.4.2 kontruksi tanah
    1.4.2.1 isolasi :memadatkan sruktur tanah dengan papan tau plat baja
    1.4.2.2 admintrasi : buat rambu” atau pemberi tahuan struktur tanah
    1.4.3 berdiri membungkuk
    1.4.3.1 admintrasi : membuat SOP dan jsa
    1.4.3.2 training : memberi pelatihan
    1.4.4 naik ke atas tanpa alat pengaman
    1.4.4.1 engineering : gunakan akses jalan masuk permanen seperti tangga ,walkway serta panggung sementara atau perancahh
    1.4.4.2 administrasi : membuat dan menerapkan tata cara kerja yang aman
    1.4.4.3 PPE : memakai body harness
    1.4.5 jam kerja yang lama/istirahat kurang
    1.4.5.1 administrasi : membuat schedule pekerjaan
    1.4.6 debu yang berasal dari bahan-bahan bangunan
    1.4.6.1 isolasi : menyiram area yang berbebu
    1.4.6.2 APD : mengunakan masker dan kaca mata
    1.4.7 scaffolding yang tidak standar
    1.4.7.1 subtitusi : mengganti scatffoling kayu dengan besi
    1.4.7.2 administratif : membuat SOP dan JSA
    1.4.7.3 APD : memakai body harnes
    1.4.8 tergores alat bangunan
    1.4.8.1 eliminasi : membuang material yang tidak terpakai
    1.4.8.2 isolasi : menyediakan tempat kusus untuk material
    1.4.8.3 APD : memakai sepatu bod,sarung tangan dan werpak
    1.4.9 tidak menggunakan APD lengkap
    1.4.9.1 adminitrasi : JSA
    1.4.9.2 training : memberikan pelatihan
    1.4.9.3 APD : menyediakan peralatan PPE yang sesai standar

    1.5 Resiko sisa
    1.5.1 cuaca : kemungkinan terjadi jarang x keparahan ringan =rendah
    1.5.2 kontruksi tanah : kemungkinan terjadi jarang x keparahan ringan = rendah
    1.5.3 berdiri membungkuk : kemungkinan terjadi jarang x keparahan ringan = rendah
    1.5.4 naik ke atas tanpa alat pangaman : kemungkinan terjadi jarang x keparahan ringan : rendah
    1.5.5 jam kerja yang lama/istirahat kurang : kemungkinan terjadi jarang x keparahan ringan : rendah
    1.5.6 debu yang berasal dari bahan-bahan bangunan: kemungkinan terjadi jarang x keparahan ringan : rendah
    1.5.7 scaffolding yang tidak standar : kemungkinan terjadi jarang x keparahan ringan : rendah
    1.5.8 tergores alat bangunan : kemungkinan terjadi jarang x keparahan ringan : rendah
    1.5.9 tidak mengunakan APD lengkap : kemungkinan terjadi jarang x keparahan ringan : rendah

    2.Pekerjaan pemasangan bata ringan untuk gedung bertingkat dengan ketinggian diatas 3,00 meter.

    2.1 potensi bahaya
    2.1.1 cuaca panas, hujan dan angin kencang
    2.1.2 konstruktur tanah
    2.1.3 pergerakan mesin pengaduk semen
    2.1.4 pergerakan kendaraan berat
    2.1.5 peletakan material bangunan
    2.1.6 berdiri membungkuk terlalu lama pada saat memasang bata
    2.1.7 naik ke atas tanpa alat pengaman
    2.1.8 jam kerja yang lama/ istirahat kurang
    2.1.9 debu yang berasal dari bahan-bahan bangunan
    2.1.10 Scaffolholding yang tidak standar
    2.1.11 tidak menggunakan APD lengkap

    2.2 Deskripsikan konsekuensi terhadap manusia, alat/peralatan
    2.2.1 cuaca : pekerjaan dapat tertunda apabila cuacah tidak mendukung maka konsekuensinya kerugian/property damage
    2.2.2 kontruksi tanah :dalam pekerjaanini kontruksi tanah bisa terjadinya tanah longsor dan struktur tanah yg tidak padat
    2.2.3 pergerakan mesin pengaduk semen:bagian yang bergerak paa mesin mpengaduk semen bisa mengakibatkan timbulnya cedera atau kerusakan seperti tersayat,terjepit,terpotong dan terkupas
    2.2.4 pergerakan kendaraan berat:pekerja atau kendaran lain dapat tertabrak
    2.2.5 peletakan material bangunan:material-material yang sembarangan ditaroh bisa mengakibatkan cedera seperti tersandung
    2.2.6 Berdiri membungkuk telalu lama pada saat memasang bata:dalam bekerja membungkuk pekerja bisa terjadi cidera(fatiq)
    2.2.7 Naik ke atas tanpa alat pengaman:resiko dari menaiki ke atas tanpa alat pengamaan bisa mengakibatkan kecelakaan fatal seperti terjatoh dari ketinggian
    2.2.8 Jam kerja yang lama/istirahat kurang:pekerja yang sering bekerja lembur dapat mengakibatkan stres psikologis yang muncul bersamaan dengan depresi dan kecemasan dikarnakan kurangnya jam istirahat
    2.2.9 Debu yang berasal dari bahan-bahan bangunan:resiko dari debu yang berasal dari bahan-bahan bangunan seperti pasit,serpihan batu dan semen bisa terhirup oleh pekerja dan bisa mengakibatkan gangguan pernafasan
    2.2.10 Scaffolding yang tidak standar:scaffolding yang tidak standar bisa mengakibatkan terjadinya kecelakan fatal seperti jatoh dari ketinggian
    2.2.11 Tidak mengunakan APD lengkap: apabila pekerja tidak menggunakan APD lengkap bisa terjadi cidera seperti jatuh dari ketinggian,mata memerah terkena debu,bocor kepala akibat jatohnya bahan bangunan

    2.3 Resiko awal
    2.3.1 Kemungkinan terjadi sering x keparahan serius = resiko tinggi
    2.3.2 Kemungkinan terjadi sering x keparahan serius = resiko tinggi
    2.3.3 Kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = resiko tinggi
    2.3.4 Kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = resiko tinggi
    2.3.5 Kemungkinan terjadi sering x keparahan serius = resiko tinggi
    2.3.6 Kemungkinan terjadi sering x keparahan serius = resiko tinggi
    2.3.7 Kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = resiko tinggi
    2.3.8 Kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = resiko tinggi
    2.3.9 Kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = resiko tinggi
    2.3.10 Kemungkinan terjadi sering x keparahan serius = resiko tinggi
    2.3.11 Kemungkinan terjadi sering x keparahan serius = resiko tinggi

    2.4 Pengendalian potensi bahaya(eliminasi,subtitusi,rekayasa teknik,administrasi,APD)

    2.4.1 cuaca
    2.4.1.1 eliminasi : menghentikan pekerjaan bila cuaca terlihat mendung/hujan
    2.4.1.2 isolasi : mengisolasi tempat istirahat kerja jauh daridari paparan langsung terik matahari
    2.4.1.3 administrasi : memberikan istirahat yang cukup
    2.4.2 kontruksi tanah
    2.4.2.1 isolasi :memadatkan sruktur tanah dengan papan tau plat baja
    2.4.2.2 admintrasi : buat rambu” atau pemberi tahuan struktur tanah
    2.4.3 pergerakan mesin pengaduk semen
    2.4.3.1 subtitusi : menganti pengadukan manual menjadi pengadukan track mixer
    2.4.3.2 isolasi : memberi tempat khusus untuk pegadukan
    2.4.3.3 APD : memakai sarung tangan dan helm
    2.4.4 pergerakan kendaraan berat
    2.4.4.1 isolaso : buat jalur kusus pengendara alat berat
    2.4.4.2 administrasi :membaca SOP
    2.4.4.3 training : memberi pelatihan khusus pengendaraan peralatan berat
    2.4.5 peletak material bangunan
    2.4.5.1 subtitusi : memberi skat atau batas pada peletakan material bangunan
    2.4.5.2 isolasi : menyediakan temapt khusus untuk material bangunan
    2.4.6 berdiri membungkuk
    2.4.6.1 admintrasi : membuat SOP dan jsa
    2.4.6.2 training : memberi pelatihan
    2.4.7 naik ke atas tanpa alat pengaman
    2.4.7.1 engineering : gunakan akses jalan masuk permanen seperti tangga ,walkway serta panggung sementara atau perancahh
    2.4.7.2 administrasi : membuat dan menerapkan tata cara kerja yang aman
    2.4.7.3 PPE : memakai body harness
    2.4.8 jam kerja yang lama/istirahat kurang
    2.4.8.1 administrasi : membuat schedule pekerjaan
    2.4.9 debu yang berasal dari bahan-bahan bangunan
    2.4.9.1 isolasi : menyiram area yang berbebu
    2.4.9.2 APD : mengunakan masker dan kaca mata
    2.4.10 scaffolding yang tidak standar
    2.4.10.1 subtitusi : mengganti scatffoling kayu dengan besi
    2.4.10.2 administratif : membuat SOP dan JSA
    2.4.10.3 APD : memakai body harnes
    2.4.10 tidak menggunakan APD lengkap
    2.4.11.1 adminitrasi : JSA
    2.4.11.2 training : memberikan pelatihan
    2.4.11.3 APD : menyediakan peralatan PPE yang sesai standar

    2.5 Resiko sisa
    2.5.1 cuaca : kemungkinan terjadi jarang x keparahan ringan =rendah
    2.5.2 kontruksi tanah : kemungkinan terjadi jarang x keparahan ringan = rendah
    2.5.3 pergerakan tanah : kemungkinan terjadi jarang x keparahan ringan = rendah
    2.5.4 pergerakan kendaraan berat : kemungkinan terjadi jarang x keparah ringan : rendah
    2.5.5 peletakan material : kemungkinan jarang x keparahan ringan : rendah
    2.5.6 berdiri membungkuk : kemungkinan terjadi jarang x keparahan ringan = rendah
    2.5.7 naik ke atas tanpa alat pangaman : kemungkinan terjadi jarang x keparahan ringan : rendah
    2.5.8 jam kerja yang lama/istirahat kurang : kemungkinan terjadi jarang x keparahan ringan : rendah
    2.5.9 debu yang berasal dari bahan-bahan bangunan: kemungkinan terjadi jarang x keparahan ringan : rendah
    2.5.10 scaffolding yang tidak standar : kemungkinan terjadi jarang x keparahan ringan : rendah
    2.5.11 tidak mengunakan APD lengkap : kemungkinan terjadi jarang x keparahan ringan : rendah

    Nama: Ade Kharisma
    NPM : 13.11.106.70150.0853
    Kelas : Sore (B1)
    Semester : V (Lima)

  15. 1 Pekerjaan pemasangan bata ringan untuk perumahan dengan ketinggian sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.

    1.1 Potensi bahaya
    1.1.1 Pengaturan jam kerja
    1.1.2 Konstruktur tanah
    1.1.3 Peletakan material bangunan
    1.1.4 Peletakan peralatan bangunan
    1.1.5 Pemilihan bahan bagunan yang tidak memenuhi standar
    1.1.6 Pekerja yang tidak memakai APD
    1.1.7 Cuaca
    1.1.8 Faktor biologi (Serangga)
    1.1.9 Debu
    1.1.10 Genangan air
    1.1.11 Faktor fisika (Pergerakan mesin untuk pengadukan semen)
    1.1.12 Titik jepit
    1.1.13 Ergonomi
    1.1.14 Ketinggian
    1.1.15 Scaffolding yang tidak standar
    1.1.16 Gaya grafitasi (Terjatuhnya bahan material bangunan)
    1.1.17 Ergonomi

    1.2 Deskripsikan konsekuensi terhadap manusia, alat/peralatan, lingkungan
    1.2.1 Pengaturan jam kerja : resiko dari jam kerja yang berlebihan adalah pekerja yang mengakibatkan fatique dan menurunnya kinerja pekerja.
    1.2.2 Konstruktur tanah : resiko dari konstruktur tanah yang tidak rata adalah menghambat kegiatan operasional dan membahayakan pekerja yang bekerja di sekitar area yang tidak rata.
    1.2.3 Peletakan material bangunan : peletakan material bangunan yang tidak pada tempatnya akan menghambat kegiatan operasional dan dapat membuang waktu kerja.
    1.2.4 Peletakan peralatan bangunan : peletakan peralatan bangunan yang tidak pada tempanya akan mengakibatkan pekerja bisa cidera karna peralatan yang berserakan (tersandung).
    1.2.5 Pemilihan bahan bangunan yang tidak memenuhi standar : resiko dari bahan bangunan yang tidak sesuai standar dapat menyebabkan jam kerja yang lebih lama dan kerugian material.
    1.2.6 Pekerja yang tidak memakai APD : Pekerja yang tidak memakai APD dapat mengakibatkan cidera ringan hingga cacat permanen.
    1.2.7 Cuaca : Pekerjaan dapat tertunda apabila cuaca tidak mendukung maka konsekuensinya kerugian.
    1.2.8 Faktor biologi (serangga) : menyebabkan pekerja terluka/alergi akibat tergigit serangga.
    1.2.9 Debu : faktor debu dapat mengakibatkan gangguan pernafasan.
    1.2.10 Genangan air : resiko dari adanya genanggan air adalah terpeleset.
    1.2.11 Faktor fisika (pergerakan mesin untuk pengadukan semen) : resiko dari faktor fisika tersebut adalah mengakibatkan jari tanggan terjepit dan pekerja terkena mesin pada saat berputar.
    1.2.12 Titik jepit : pekerja dapat terjepit.
    1.2.13 Ergonomi : dalam bekerja membungkuk yang terlalu lama dan terus menerus dapat mengakibatkan fatique.
    1.2.14 Ketinggian : resiko dari pekerjaan ketinggian adalah terjatuh dan mengakibatkan cidera ringan sampai dengan cacat permanen.
    1.2.15 Scaffolding yang tidak standar : dapat mengakibatkan pekerja terjatuh.
    1.2.16 Gaya grafitasi (terjatuhnya bahan material bangunan) : dapat menimpa pekerja dan pekerja dapat mengakibatkan cidera permanen.
    1.2.17 Ergonomi : dalam bekerja jongkok yang terlalu lama dan terus menerus dapat mengakibatkan fatique.

    1.3 Resiko awal
    1.3.1 Kemungkinan terjadi sering x keparahan serius = resiko tinggi
    1.3.2 Kemungkinan terjadi sering x keparahan serius = resiko tinggi
    1.3.3 Kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = resiko tinggi
    1.3.4 Kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = resiko tinggi
    1.3.5 Kemungkinan terjadi sering x keparahan serius = resiko tinggi
    1.3.6 Kemungkinan terjadi sering x keparahan serius = resiko tinggi
    1.3.7 Kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = resiko tinggi
    1.3.8 Kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = resiko tinggi
    1.3.9 Kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = resiko tinggi
    1.3.10 Kemungkinan terjadi sering x keparahan serius = resiko tinggi
    1.3.11 Kemungkinan terjadi sering x keparahan serius = resiko tinggi
    1.3.12 Kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = resiko tinggi
    1.3.13 Kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = resiko tinggi
    1.3.14 Kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = resiko tinggi
    1.3.15 Kemungkinan terjadi sering x keparahan serius = resiko tinggi
    1.3.16 Kemungkinan terjadi sering x keparahan serius = resiko tinggi
    1.3.17 Kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = resiko tinggi

    1.4 Pengendalian potensi bahaya (Eliminasi, subtitusi, rekayasa teknik, administratif, APD)
    1.4.1 Pengaturan jam kerja
    1.4.1.1 Administratif : membuat schedule pekerja.
    1.4.2 Konstruktur tanah
    1.4.2.1 Isolasi : meratakan tanah
    1.4.2.1 Administratif : SOP, JSA
    1.4.2.2 APD : helm safety, safety shoes.
    1.4.3 Peletakan material bangunan
    1.4.3.1 Eliminasi : membuang material yang tidak terpakai.
    1.4.3.2 Isolasi : menyediakan tempat khusus untuk material sesuai dengan bahannya.
    1.4.3.3 Admistratif : pembuatan SOP
    1.4.4 Peletakan peralatan bangunan
    1.4.4.1 Eliminasi : membuang peralatan yang tidak terpakai.
    1.4.4.2 Isolasi : menyediakan tempat khusus untuk peralatan sesuai dengan bahannya.
    1.4.4.3 Admistratif : pembuatan SOP
    1.4.5 Pemilihan bahan bangunan yang tidak memenuhi standar
    1.4.5.1 Subtitusi : pemilihan bahan bagunan sesuai standar.
    1.4.5.2 Admnistratif : membuat SOP.
    1.4.6 Pekerja tidak memakai APD.
    1.4.6.1 Administrasi : JSA.
    1.4.6.2 Training : memberikan pelatihan.
    1.4.6.3 APD : menyediakan PPE yang sesuai standar.
    1.4.7 Cuaca
    1.4.7.1 Eliminasi : menghentiakan pekerjaan saat cuaca buruk (hujan).
    1.4.7.2 Isolasi : membuat tempat berteduh yang jauh dari sinar matahari.
    1.4.7.3 APD : memakai helm.
    1.4.8 Faktor biologi (serangga)
    1.4.8.1 Eliminasi : melaksanakan housekeeping.
    1.4.8.2 Administrasi : memeriksa area kerja.
    1.4.8.3 APD : memakai masker, baju lengan panjang, kaca mata, sepatu seafety.
    1.4.9 Debu
    1.4.9.1 Isolasi : menyiram area yang berdebu.
    1.4.9.2 APD : menggunakan masker dan kaca mata.
    1.4.10 Genangan air
    1.4.10.1 Eliminasi : membersihkan area genangan.
    1.4.10.2 APD : memakai sepatu safety
    1.4.11 Faktor fisika (Pergerakan mesin untuk pengadukan semen)
    1.4.11.1 Administratif : membaca SOP.
    1.4.11.2 APD : memakai sarung tanggan, kaca mata.
    1.4.12 Titik jepit
    1.4.12.1 Administratif : membaca SOP.
    1.4.12.2 APD : memakai sarung tanggan, kaca mata.1.4.13 Ergonomi
    1.4.13 ergonomi
    1.4.13.1 Subtitusi : mengganti cara kerja manual dengan menggunakan mesin penggaduk.
    1.4.13.2 Administratif : membaca SOP dan membuat pengaturan jam kerja.
    1.4.14 ketinggian
    1.4.14.1 subtitusi: mengganti tangga kayu dengan scffolding yang sesuai dengan standar
    1.4.14.2 adminstrasi : membuat SOP bekerja di ketinggian
    1.4.14.3 APD : menggunakan APD lengkap dan menggunakan full body harness
    1.4.15 Scaffolding yang tidak standar
    1.4.15.1 Subtitusi : mengganti scaffolding kayu dengan besi.
    1.4.15.2 Administratif : membuat SOP DAN JSA
    1.4.15.3 APD : memakai body harness.
    1.4.16 Gaya grafitasi (Terjatuhnya bahan material bangunan)
    1.4.16.1 Isolasi : memakai jaring pengaman agar bahan tersebut tidak sampai jatuh kebawah.
    1.4.16.2 Administratif : membaca SOP.
    1.4.17 Ergonomi
    1.4.17.1 Administratif : membaca SOP dan membuat pengaturan jam kerja.

    1.5 Resiko sisa
    1.5.1 Kemungkinan jarang x keparahan ringan = resiko rendah
    1.5.2 Kemungkinan jarang x keparahan ringan = resiko rendah
    1.5.3 Kemungkinan jarang x keparahan ringan = resiko rendah
    1.5.4 Kemungkinan jarang x keparahan ringan = resiko rendah
    1.5.5 Kemungkinan jarang x keparahan ringan = resiko rendah
    1.5.6 Kemungkinan jarang x keparahan ringan = resiko rendah
    1.5.7 Kemungkinan jarang x keparahan ringan = resiko rendah
    1.5.8 Kemungkinan jarang x keparahan ringan = resiko rendah
    1.5.9 Kemungkinan jarang x keparahan ringan = resiko rendah
    1.5.10 Kemungkinan sulit terjadi x keparahan sedang = resiko rendah
    1.5.11 Kemungkinan sulit terjadi x keparahan sedang = resiko rendah
    1.5.12 Kemungkinan jarang x keparahan ringan = resiko rendah
    1.5.13 Kemungkinan jarang x keparahan ringan = resiko rendah
    1.5.14 Kemungkinan jarang x keparahan ringan = resiko rendah
    1.5.15 Kemungkinan sulit terjadi x keparahan sedang = resiko rendah
    1.5.16 Kemungkinan sulit terjadi x keparahan sedang = resiko rendah
    1.5.17 Kemungkinan jarang x keparahan ringan = resiko rendah

    2. Pekerjaan pemasangan bata ringan untuk gedung bertingkat dengan ketinggian diatas 3,00 meter.

    2.1 Potensi bahaya
    2.1.1 Pengaturan jam kerja
    2.1.2 Konstruktur tanah
    2.1.3 Peletakan material bangunan
    2.1.4 Peletakan peralatan bangunan
    2.1.5 Pemilihan bahan bangunan yang tidak memenuhi standar
    2.1.6 Pekerja yang tidak memakai APD lengkap
    2.1.7 Cuaca
    2.1.8 Faktor Biologi (Serangga)
    2.1.9 Keluar masuknya kendaraan alat berat
    2.1.10 debu
    2.1.11 Genangan air
    2.1.12 Faktor Fisika (Pergerakan mesin untuk pengadukan semen)
    2.1.13 Titik jepit
    2.1.14 Ergonomi
    2.1.15 ketinggian
    2.1.16 Scaffolholding yang tidak standar
    2.1.17 Gaya Grafitasi (terjatuhnya bahan material bangunan)
    2.1.18 Ergonomo

    2.2 Deskripsikan konsuensi terhadap manusia,alat/peralatan

    2.2.1 Pengaturan jam kerja : resiko dari jam kerja yang berlebihan adalah pekerja yang mengakibatkan fatique dan menurunnya kinerja pekerja.
    2.2.2 Konstruktur tanah : resiko dari konstruktur tanah yang tidak rata adalah menghambat kegiatan operasional dan membahayakan pekerja yang bekerja di sekitar area yang tidak rata.
    2.2.3 Peletakan material bangunan : peletakan material bangunan yang tidak pada tempatnya akan menghambat kegiatan operasional dan dapat membuang waktu kerja.
    2.2.4 Peletakan peralatan bangunan : peletakan peralatan bangunan yang tidak pada tempanya akan mengakibatkan pekerja bisa cidera karna peralatan yang berserakan (tersandung).
    2.2.5 Pemilihan bahan bangunan yang tidak memenuhi standar : resiko dari bahan bangunan yang tidak sesuai standar dapat menyebabkan jam kerja yang lebih lama dan kerugian material.
    2.2.6 Pekerja yang tidak memakai APD : Pekerja yang tidak memakai APD dapat mengakibatkan cidera ringan hingga cacat permanen.
    2.2.7 Cuaca : Pekerjaan dapat tertunda apabila cuaca tidak mendukung maka konsekuensinya kerugian.
    2.2.8 Faktor biologi (serangga) : menyebabkan pekerja terluka/alergi akibat tergigit serangga.
    2.2.9 keluar masuk kendaraan alat berat : pekerja atau kendaraan lain dapat tertabrak
    2.2.10 Debu : faktor debu dapat mengakibatkan gangguan pernafasan.
    2.2.11 Genangan air : resiko dari adanya genanggan air adalah terpeleset.
    2.2.12 Faktor fisika (pergerakan mesin untuk pengadukan semen) : resiko dari faktor fisika tersebut adalah mengakibatkan jari tanggan terjepit dan pekerja terkena mesin pada saat berputar.
    2.2.13 Titik jepit : pekerja dapat terjepit.
    2.2.14 Ergonomi : dalam bekerja membungkuk yang terlalu lama dan terus menerus dapat mengakibatkan fatique.
    2.2.15 Ketinggian : resiko dari pekerjaan ketinggian adalah terjatuh dan mengakibatkan cidera ringan sampai dengan cacat permanen.
    2.2.16 Scaffolding yang tidak standar : dapat mengakibatkan pekerja terjatuh.
    2.2.17 Gaya grafitasi (terjatuhnya bahan material bangunan) : dapat menimpa pekerja dan pekerja dapat mengakibatkan cidera permanen.
    2.2.18 Ergonomi : dalam bekerja jongkok yang terlalu lama dan terus menerus dapat mengakibatkan fatique.

    2.3 Resiko awal
    2.3.1 Kemungkinan terjadi sering x keparahan serius = resiko tinggi
    2.3.2 Kemungkinan terjadi sering x keparahan serius = resiko tinggi
    2.3.3 Kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = resiko tinggi
    2.3.4 Kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = resiko tinggi
    2.3.5 Kemungkinan terjadi sering x keparahan serius = resiko tinggi
    2.3.6 Kemungkinan terjadi sering x keparahan serius = resiko tinggi
    2.3.7 Kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = resiko tinggi
    2.3.8 Kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = resiko tinggi
    2.3.9 Kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = resiko tinggi
    2.3.10 Kemungkinan terjadi sering x keparahan serius = resiko tinggi
    2.3.11 Kemungkinan terjadi sering x keparahan serius = resiko tinggi
    2.3.12 Kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = resiko tinggi
    2.3.13 Kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = resiko tinggi
    2.3.14 Kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = resiko tinggi
    2.3.15 Kemungkinan terjadi sering x keparahan serius = resiko tinggi
    2.3.16 Kemungkinan terjadi sering x keparahan serius = resiko tinggi
    2.3.17 Kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = resiko tinggi
    2.3.18 Kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = resiko tinggi

    2.4 Pengendalian potensi bahaya (Eliminasi, subtitusi, rekayasa teknik, administratif, APD)
    2.4.1 Pengaturan jam kerja
    2.4.1.1 Administratif : membuat schedule pekerja.
    2.4.2 Konstruktur tanah
    2.4.2.1 Isolasi : meratakan tanah
    2.4.2.1 Administratif : SOP, JSA
    2.4.2.2 APD : helm safety, safety shoes.
    2.4.3 Peletakan material bangunan
    2.4.3.1 Eliminasi : membuang material yang tidak terpakai.
    2.4.3.2 Isolasi : menyediakan tempat khusus untuk material sesuai dengan bahannya.
    2.4.3.3 Admistratif : pembuatan SOP
    2.4.4 Peletakan peralatan bangunan
    2.4.4.1 Eliminasi : membuang peralatan yang tidak terpakai.
    2.4.4.2 Isolasi : menyediakan tempat khusus untuk peralatan sesuai dengan bahannya.
    2.4.4.3 Admistratif : pembuatan SOP
    2.4.5 Pemilihan bahan bangunan yang tidak memenuhi standar
    2.4.5.1 Subtitusi : pemilihan bahan bagunan sesuai standar.
    2.4.5.2 Admnistratif : membuat SOP.
    2.4.6 Pekerja tidak memakai APD.
    2.4.6.1 Administrasi : JSA.
    2.4.6.2 Training : memberikan pelatihan.
    2.4.6.3 APD : menyediakan PPE yang sesuai standar.
    2.4.7 Cuaca
    2.4.7.1 Eliminasi : menghentiakan pekerjaan saat cuaca buruk (hujan).
    2.4.7.2 Isolasi : membuat tempat berteduh yang jauh dari sinar matahari.
    2.4.7.3 APD : memakai helm.
    2.4.8 Faktor biologi (serangga)
    2.4.8.1 Eliminasi : melaksanakan housekeeping.
    2.4.8.2 Administrasi : memeriksa area kerja.
    2.4.8.3 APD : memakai masker, baju lengan panjang, kaca mata, sepatu seafety.
    2.4.9 keluar masuk kendaraan alat berat
    2.4.9.1 isolasi : memberikan rambu-rambu/peringatan,memberikan replektor pada kendaraan dan pekerjaan
    2.4.9.2 administrasi : membaca SOP
    2.4.10 Debu
    2.4.10.1 Isolasi : menyiram area yang berdebu.
    2.4.10.2 APD : menggunakan masker dan kaca mata.
    2.4.11 Genangan air
    2.4.11.1 Eliminasi : membersihkan area genangan.
    2.4.11.2 APD : memakai sepatu safety
    2.4.12 Faktor fisika (Pergerakan mesin untuk pengadukan semen)
    2.4.12.1 Administratif : membaca SOP.
    2.4.12.2 APD : memakai sarung tanggan, kaca mata.
    2.4.13 Titik jepit
    2.4.13.1 Administratif : membaca SOP.
    2.4.13.2 APD : memakai sarung tanggan, kaca mata.
    2.4.14 Ergonomi
    2.4.14.1 Subtitusi : mengganti cara kerja manual dengan menggunakan mesin penggaduk.
    2.4.14.2 Administratif : membaca SOP dan membuat pengaturan jam kerja.
    2.4.15 ketinggian
    2.4.15.1 subtitusi: mengganti tangga kayu dengan scffolding yang sesuai dengan standar
    2.4.15.2 adminstrasi : membuat SOP bekerja di ketinggian
    2.4.15.3 APD : menggunakan APD lengkap dan menggunakan full body harness
    2.4.16 Scaffolding yang tidak standar
    2.4.16.1 Subtitusi : mengganti scaffolding kayu dengan besi.
    2.4.16.2 Administratif : membuat SOP DAN JSA
    2.4.16.3 APD : memakai body harness.
    2.4.17 Gaya grafitasi (Terjatuhnya bahan material bangunan)
    2.4.17.1 Isolasi : memakai jaring pengaman agar bahan tersebut tidak sampai jatuh kebawah.
    2.4.17.2 Administratif : membaca SOP.
    2.4.18 Ergonomi
    2.4.18.1 Administratif : membaca SOP dan membuat pengaturan jam kerja.

    2.5 Resiko sisa
    2.5.1 Kemungkinan jarang x keparahan ringan = resiko rendah
    2.5.2 Kemungkinan jarang x keparahan ringan = resiko rendah
    2.5.3 Kemungkinan jarang x keparahan ringan = resiko rendah
    2.5.4 Kemungkinan jarang x keparahan ringan = resiko rendah
    2.5.5 Kemungkinan jarang x keparahan ringan = resiko rendah
    2.5.6 Kemungkinan jarang x keparahan ringan = resiko rendah
    2.5.7 Kemungkinan jarang x keparahan ringan = resiko rendah
    2.5.8 Kemungkinan jarang x keparahan ringan = resiko rendah
    2.5.9 Kemungkinan jarang x keparahan ringan = resiko rendah
    2.5.10 Kemungkinan sulit terjadi x keparahan sedang = resiko rendah
    2.5.11 Kemungkinan sulit terjadi x keparahan sedang = resiko rendah
    2.5.12 Kemungkinan jarang x keparahan ringan = resiko rendah
    2.5.13 Kemungkinan jarang x keparahan ringan = resiko rendah
    2.5.14 Kemungkinan jarang x keparahan ringan = resiko rendah
    2.5.15 Kemungkinan jarang x keparahan ringan = resiko rendah
    2.5.16 Kemungkinan sulit terjadi x keparahan sedang = resiko rendah
    2.5.17 Kemungkinan sulit terjadi x keparahan sedang = resiko rendah
    2.5.18 Kemungkinan jarang x keparahan ringan = resiko rendah

    1 Pekerjaan pemasangan bata ringan untuk perumahan dengan ketinggian sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.

    1.1 Potensi bahaya
    1.1.1 Cuaca
    1.1.2 Kontruksi tanah
    1.1.3 Berdiri membungkuk telalu lama pada saat memasang bata
    1.1.4 Naik ke atas tanpa alat pengaman
    1.1.5 Jam kerja yang lama/istirahat kurang
    1.1.6 Debu yang berasal dari bahan-bahan bangunan
    1.1.7 Scaffolding yang tidak standar
    1.1.8 Tergores alat bangunan
    1.1.9 Tidak mengunakan APD lengkap

    1.2 Deskripsi konsekuensi terhadap manusia,alat/peralatan,lingkungan
    1.2.1 cuaca : pekerjaan dapat tertunda apabila cuacah tidak mendukung maka konsekuensinya kerugian/property damage
    1.2.2 kontruksi tanah :dalam pekerjaanini kontruksi tanah bisa terjadinya tanah longsor dan struktur tanah yg tidak padat
    1.2.3 Berdiri membungkuk telalu lama pada saat memasang bata:dalam bekerja membungkuk pekerja bisa terjadi cidera(fatiq)
    1.2.4 Naik ke atas tanpa alat pengaman:resiko dari menaiki ke atas tanpa alat pengamaan bisa mengakibatkan kecelakaan fatal seperti terjatoh dari ketinggian
    1.2.5 Jam kerja yang lama/istirahat kurang:pekerja yang sering bekerja lembur dapat mengakibatkan stres psikologis yang muncul bersamaan dengan depresi dan kecemasan dikarnakan kurangnya jam istirahat
    1.2.6 Debu yang berasal dari bahan-bahan bangunan:resiko dari debu yang berasal dari bahan-bahan bangunan seperti pasit,serpihan batu dan semen bisa terhirup oleh pekerja dan bisa mengakibatkan gangguan pernafasan
    1.2.7 Scaffolding yang tidak standar:scaffolding yang tidak standar bisa mengakibatkan terjadinya kecelakan fatal seperti jatoh dari ketinggian
    1.2.8 Tergores alat bangunan:disekitar area proyek banyak terdapat bahan atau alat-alat di taroh sembarangan bisa mengakibatkan terinjak dan tergores
    1.2.9 Tidak mengunakan APD lengkap: apabila pekerja tidak menggunakan APD lengkap bisa terjadi cidera seperti jatuh dari ketinggian,mata memerah terkena debu,bocor kepala akibat jatohnya bahan bangunan

    1.3 Resiko awal
    1.3.1 cuaca : kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = tinggi
    1.3.2 kontruksi tanah : kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = tinggi
    1.3.3 berdiri membungkuk : kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = tinggi
    1.3.4 naik ke atas tanpa alat pangaman : kemungkinan terjadi sering x keparahan serius : tinggi
    1.3.5 jam kerja yang lama/istirahat kurang : kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang : tinggi
    1.3.6 debu yang berasal dari bahan-bahan bangunan: kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang : tinggi
    1.3.7 scaffolding yang tidak standar : kemungkinan terjadi sering x keparahan serius : tinggi
    1.3.8 tergores alat bangunan : kemungkinan terjadi jarang x keparahan serius : tinggi
    1.3.9 tidak mengunakan APD lengkap : kemungkinan terjadi sering x keparahan serius : tinggi

    1.4. pengendalian potensi bahaya
    1.4.1 cuaca
    1.4.1.1 eliminasi : menghentikan pekerjaan bila cuaca terlihat mendung/hujan
    1.4.1.2 isolasi : mengisolasi tempat istirahat kerja jauh daridari paparan langsung terik matahari
    1.4.1.3 administrasi : memberikan istirahat yang cukup
    1.4.2 kontruksi tanah
    1.4.2.1 isolasi :memadatkan sruktur tanah dengan papan tau plat baja
    1.4.2.2 admintrasi : buat rambu” atau pemberi tahuan struktur tanah
    1.4.3 berdiri membungkuk
    1.4.3.1 admintrasi : membuat SOP dan jsa
    1.4.3.2 training : memberi pelatihan
    1.4.4 naik ke atas tanpa alat pengaman
    1.4.4.1 engineering : gunakan akses jalan masuk permanen seperti tangga ,walkway serta panggung sementara atau perancahh
    1.4.4.2 administrasi : membuat dan menerapkan tata cara kerja yang aman
    1.4.4.3 PPE : memakai body harness
    1.4.5 jam kerja yang lama/istirahat kurang
    1.4.5.1 administrasi : membuat schedule pekerjaan
    1.4.6 debu yang berasal dari bahan-bahan bangunan
    1.4.6.1 isolasi : menyiram area yang berbebu
    1.4.6.2 APD : mengunakan masker dan kaca mata
    1.4.7 scaffolding yang tidak standar
    1.4.7.1 subtitusi : mengganti scatffoling kayu dengan besi
    1.4.7.2 administratif : membuat SOP dan JSA
    1.4.7.3 APD : memakai body harnes
    1.4.8 tergores alat bangunan
    1.4.8.1 eliminasi : membuang material yang tidak terpakai
    1.4.8.2 isolasi : menyediakan tempat kusus untuk material
    1.4.8.3 APD : memakai sepatu bod,sarung tangan dan werpak
    1.4.9 tidak menggunakan APD lengkap
    1.4.9.1 adminitrasi : JSA
    1.4.9.2 training : memberikan pelatihan
    1.4.9.3 APD : menyediakan peralatan PPE yang sesai standar

    1.5 Resiko sisa
    1.5.1 cuaca : kemungkinan terjadi jarang x keparahan ringan =rendah
    1.5.2 kontruksi tanah : kemungkinan terjadi jarang x keparahan ringan = rendah
    1.5.3 berdiri membungkuk : kemungkinan terjadi jarang x keparahan ringan = rendah
    1.5.4 naik ke atas tanpa alat pangaman : kemungkinan terjadi jarang x keparahan ringan : rendah
    1.5.5 jam kerja yang lama/istirahat kurang : kemungkinan terjadi jarang x keparahan ringan : rendah
    1.5.6 debu yang berasal dari bahan-bahan bangunan: kemungkinan terjadi jarang x keparahan ringan : rendah
    1.5.7 scaffolding yang tidak standar : kemungkinan terjadi jarang x keparahan ringan : rendah
    1.5.8 tergores alat bangunan : kemungkinan terjadi jarang x keparahan ringan : rendah
    1.5.9 tidak mengunakan APD lengkap : kemungkinan terjadi jarang x keparahan ringan : rendah

    2.Pekerjaan pemasangan bata ringan untuk gedung bertingkat dengan ketinggian diatas 3,00 meter.

    2.1 potensi bahaya
    2.1.1 cuaca panas, hujan dan angin kencang
    2.1.2 konstruktur tanah
    2.1.3 pergerakan mesin pengaduk semen
    2.1.4 pergerakan kendaraan berat
    2.1.5 peletakan material bangunan
    2.1.6 berdiri membungkuk terlalu lama pada saat memasang bata
    2.1.7 naik ke atas tanpa alat pengaman
    2.1.8 jam kerja yang lama/ istirahat kurang
    2.1.9 debu yang berasal dari bahan-bahan bangunan
    2.1.10 Scaffolholding yang tidak standar
    2.1.11 tidak menggunakan APD lengkap

    2.2 Deskripsikan konsekuensi terhadap manusia, alat/peralatan
    2.2.1 cuaca : pekerjaan dapat tertunda apabila cuacah tidak mendukung maka konsekuensinya kerugian/property damage
    2.2.2 kontruksi tanah :dalam pekerjaanini kontruksi tanah bisa terjadinya tanah longsor dan struktur tanah yg tidak padat
    2.2.3 pergerakan mesin pengaduk semen:bagian yang bergerak paa mesin mpengaduk semen bisa mengakibatkan timbulnya cedera atau kerusakan seperti tersayat,terjepit,terpotong dan terkupas
    2.2.4 pergerakan kendaraan berat:pekerja atau kendaran lain dapat tertabrak
    2.2.5 peletakan material bangunan:material-material yang sembarangan ditaroh bisa mengakibatkan cedera seperti tersandung
    2.2.6 Berdiri membungkuk telalu lama pada saat memasang bata:dalam bekerja membungkuk pekerja bisa terjadi cidera(fatiq)
    2.2.7 Naik ke atas tanpa alat pengaman:resiko dari menaiki ke atas tanpa alat pengamaan bisa mengakibatkan kecelakaan fatal seperti terjatoh dari ketinggian
    2.2.8 Jam kerja yang lama/istirahat kurang:pekerja yang sering bekerja lembur dapat mengakibatkan stres psikologis yang muncul bersamaan dengan depresi dan kecemasan dikarnakan kurangnya jam istirahat
    2.2.9 Debu yang berasal dari bahan-bahan bangunan:resiko dari debu yang berasal dari bahan-bahan bangunan seperti pasit,serpihan batu dan semen bisa terhirup oleh pekerja dan bisa mengakibatkan gangguan pernafasan
    2.2.10 Scaffolding yang tidak standar:scaffolding yang tidak standar bisa mengakibatkan terjadinya kecelakan fatal seperti jatoh dari ketinggian
    2.2.11 Tidak mengunakan APD lengkap: apabila pekerja tidak menggunakan APD lengkap bisa terjadi cidera seperti jatuh dari ketinggian,mata memerah terkena debu,bocor kepala akibat jatohnya bahan bangunan

    2.3 Resiko awal
    2.3.1 Kemungkinan terjadi sering x keparahan serius = resiko tinggi
    2.3.2 Kemungkinan terjadi sering x keparahan serius = resiko tinggi
    2.3.3 Kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = resiko tinggi
    2.3.4 Kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = resiko tinggi
    2.3.5 Kemungkinan terjadi sering x keparahan serius = resiko tinggi
    2.3.6 Kemungkinan terjadi sering x keparahan serius = resiko tinggi
    2.3.7 Kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = resiko tinggi
    2.3.8 Kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = resiko tinggi
    2.3.9 Kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = resiko tinggi
    2.3.10 Kemungkinan terjadi sering x keparahan serius = resiko tinggi
    2.3.11 Kemungkinan terjadi sering x keparahan serius = resiko tinggi

    2.4 Pengendalian potensi bahaya(eliminasi,subtitusi,rekayasa teknik,administrasi,APD)

    2.4.1 cuaca
    2.4.1.1 eliminasi : menghentikan pekerjaan bila cuaca terlihat mendung/hujan
    2.4.1.2 isolasi : mengisolasi tempat istirahat kerja jauh daridari paparan langsung terik matahari
    2.4.1.3 administrasi : memberikan istirahat yang cukup
    2.4.2 kontruksi tanah
    2.4.2.1 isolasi :memadatkan sruktur tanah dengan papan tau plat baja
    2.4.2.2 admintrasi : buat rambu” atau pemberi tahuan struktur tanah
    2.4.3 pergerakan mesin pengaduk semen
    2.4.3.1 subtitusi : menganti pengadukan manual menjadi pengadukan track mixer
    2.4.3.2 isolasi : memberi tempat khusus untuk pegadukan
    2.4.3.3 APD : memakai sarung tangan dan helm
    2.4.4 pergerakan kendaraan berat
    2.4.4.1 isolaso : buat jalur kusus pengendara alat berat
    2.4.4.2 administrasi :membaca SOP
    2.4.4.3 training : memberi pelatihan khusus pengendaraan peralatan berat
    2.4.5 peletak material bangunan
    2.4.5.1 subtitusi : memberi skat atau batas pada peletakan material bangunan
    2.4.5.2 isolasi : menyediakan temapt khusus untuk material bangunan
    2.4.6 berdiri membungkuk
    2.4.6.1 admintrasi : membuat SOP dan jsa
    2.4.6.2 training : memberi pelatihan
    2.4.7 naik ke atas tanpa alat pengaman
    2.4.7.1 engineering : gunakan akses jalan masuk permanen seperti tangga ,walkway serta panggung sementara atau perancahh
    2.4.7.2 administrasi : membuat dan menerapkan tata cara kerja yang aman
    2.4.7.3 PPE : memakai body harness
    2.4.8 jam kerja yang lama/istirahat kurang
    2.4.8.1 administrasi : membuat schedule pekerjaan
    2.4.9 debu yang berasal dari bahan-bahan bangunan
    2.4.9.1 isolasi : menyiram area yang berbebu
    2.4.9.2 APD : mengunakan masker dan kaca mata
    2.4.10 scaffolding yang tidak standar
    2.4.10.1 subtitusi : mengganti scatffoling kayu dengan besi
    2.4.10.2 administratif : membuat SOP dan JSA
    2.4.10.3 APD : memakai body harnes
    2.4.10 tidak menggunakan APD lengkap
    2.4.11.1 adminitrasi : JSA
    2.4.11.2 training : memberikan pelatihan
    2.4.11.3 APD : menyediakan peralatan PPE yang sesai standar

    2.5 Resiko sisa
    2.5.1 cuaca : kemungkinan terjadi jarang x keparahan ringan =rendah
    2.5.2 kontruksi tanah : kemungkinan terjadi jarang x keparahan ringan = rendah
    2.5.3 pergerakan tanah : kemungkinan terjadi jarang x keparahan ringan = rendah
    2.5.4 pergerakan kendaraan berat : kemungkinan terjadi jarang x keparah ringan : rendah
    2.5.5 peletakan material : kemungkinan jarang x keparahan ringan : rendah
    2.5.6 berdiri membungkuk : kemungkinan terjadi jarang x keparahan ringan = rendah
    2.5.7 naik ke atas tanpa alat pangaman : kemungkinan terjadi jarang x keparahan ringan : rendah
    2.5.8 jam kerja yang lama/istirahat kurang : kemungkinan terjadi jarang x keparahan ringan : rendah
    2.5.9 debu yang berasal dari bahan-bahan bangunan: kemungkinan terjadi jarang x keparahan ringan : rendah
    2.5.10 scaffolding yang tidak standar : kemungkinan terjadi jarang x keparahan ringan : rendah
    2.5.11 tidak mengunakan APD lengkap : kemungkinan terjadi jarang x keparahan ringan : rendah

    Nama: Ratih chayu kurniawati
    NPM : 13.11.106.70150.0840
    Kelas : Sore (B1)
    Semester : V (Lima)

  16. 1. Pekerjaan pemasangan bata ringan untuk perumahan dengan ketinggian sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.

    A. Potensi Bahaya
    1.Posisi kerja yang tidak sesuai
    2.Lantai kerja yang licin
    3.Scafolding yg terbuat dari kayu
    4.Material yang di taruh sembarangan
    5.Debu yang di hasilkan oleh material bangunan

    B. Konsekuensi
    1.Pekerja dapat mengalami WMSDs (Work-related Musculoskeletal Disorders)
    2.Pekerja yang terjatuh dari lantai yang licin dapat mengakibatkan patah tulang atau keseleo
    3.Pekerja yang terjatuh dari scafolding dapat mengalami patang tulang atau kematian
    4.Dapat membuat pekerja jatuh sehingga mengalami patang tulang atau keseleo
    5.Pekerja dapat mengalami gangguan pernapasan dan pengelihatan akibat debu

    c. Resiko Awal
    1.1.Tingkat kemungkinan :Kemungkinan besar terjadi
    1.2.Tingkat keparahan :medical treatment (manusia)
    1.3.Tingkat resiko :medium

    2.1.Tingkat kemungkinan : Pasti terjadi
    2.2.Tingkat keparahan : Medical treatment (manusia)
    2.3.Tingkat resiko : High

    3.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan besar terjadi
    3.2.Tingkat keparahan : Fatality (manusia)
    3.3.Tingkat resiko : Very high

    4.1.Tingkat kemungkinan :Kemungkinan besar terjadi
    4.2.Tingkat keparahan :medical treatment (manusia)
    4.3.Tingkat resiko :medium

    5.1.Tingkat kemungkinan : Pasti terjadi
    5.2.Tingkat keparahan : Medical treatment (manusia)
    5.3.Tingkat resiko : High

    D. Pengendalian Potensi Bahaya
    1.Pekerja diberitahukan untuk selalu bekerja dalam postur tubuh yang sesuai dan alami dan memberikan pelatihan ke pekerja tentang ergonomi yang baik dalam bekerja
    2.Pekerja diberikan sepatu safety agar tidak mudah terpeleset
    3.Menganti scafolding dengan pipa besi yang lebih kuat
    4.Pekerja diberitahukan bahaya apa saja yang dapat terjadi bila menaruh barang sembarangan
    5.Pekerja diberikan masker saat bekerja agar tidak menghisap debu dan kacamata untuk melindungi pengelihatan pekerja saat bekerja

    E. Resiko Sisa
    1.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan kecil terjadi
    1.2.Tingkat keparahan : Medical treatment (manusia)
    1.3.Tingkat resiko : Low
    2.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan kecil terjadi
    2.2.Tingkat keparahan : First aid case (manusia)
    2.3.Tingkat resiko : Low
    3.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan kecil terjadi
    3.2.Tingkat keparahan : Fatality (manusia)
    3.3.Tingkat resiko : medium
    4.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan kecil terjadi
    4.2.Tingkat keparahan : First aid case (manusia)
    4.3.Tingkat resiko : Low
    5.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan kecil terjadi
    5.2.Tingkat keparahan : Medical treatment (manusia)
    5.3.Tingkat resiko : Low

    2. Pekerjaan pemasangan bata ringan untuk gedung bertingkat dengan ketinggian diatas 3,00 meter.

    A. Potensi Bahaya
    1.Posisi kerja yang tidak sesuai
    2.Lantai kerja yang licin
    3.Kondisi cuaca
    4.Jatuh dari ketinggian karena tidak mengunakan alat bantu berkerja di ketinggian yang tidak sesuai dan tidak standar
    5.Pekerjanya tidak terlatih bekerja di ketinggian
    6.Debu yang di hasilkan oleh material bangunan
    7.Kurangnya perencanaan dan penilaian risiko
    8.Tidak mengunakan APD dan Full body harness

    B. Konsekuensi
    1.Pekerja dapat mengalami WMSDs (Work-related Musculoskeletal Disorders)
    2.Pekerja yang terjatuh dari lantai yang licin dapat mengakibatkan kematian
    3.Pekerja dapat terjatuh dari ketinggian sehingga mengakibatkan kematian
    4.kematian atau fatality
    5.kematian atau fatality
    6.Pekerja dapat mengalami gangguan pernapasan dan pengelihatan akibat debu
    7.kematian atau fatality
    8.kematian atau fatality

    C. Resiko AWal
    1.1.Tingkat kemungkinan :Kemungkinan besar terjadi
    1.2.Tingkat keparahan :medical treatment (manusia)
    1.3.Tingkat resiko :medium
    2.1.Tingkat kemungkinan : Pasti terjadi
    2.2.Tingkat keparahan : Medical treatment (manusia)
    2.3.Tingkat resiko : High
    3.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan besar terjadi
    3.2.Tingkat keparahan : Fatality (manusia)
    3.3.Tingkat resiko : Very high
    4.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan besar terjadi
    4.2.Tingkat keparahan : Fatality (manusia)
    4.3.Tingkat resiko : Very high
    5.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan besar terjadi
    5.2.Tingkat keparahan : Fatality (manusia)
    5.3.Tingkat resiko : Very high
    6.1.Tingkat kemungkinan : Pasti terjadi
    6.2.Tingkat keparahan : Medical treatment (manusia)
    6.3.Tingkat resiko : High
    7.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan besar terjadi
    7.2.Tingkat keparahan : Fatality (manusia)
    7.3.Tingkat resiko : Very high
    8.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan besar terjadi
    8.2.Tingkat keparahan : Fatality (manusia)
    8.3.Tingkat resiko : Very high

    D. Pengendalian Potensi Bahaya
    1.Pekerja diberitahukan untuk selalu bekerja dalam postur tubuh yang sesuai dan alami dan memberikan pelatihan ke pekerja tentang ergonomi yang baik dalam bekerja
    2.Pekerja diberikan sepatu safety agar tidak mudah terpeleset
    3.jika cuaca buruk pekerjaan harus di hentikan
    4.Memasang jaring pengaman di sekitar bangunan
    5.Pekerja harus di training dan memberikan SOP
    6.Pekerja diberikan masker saat bekerja agar tidak menghisap debu dan kacamata untuk melindungi pengelihatan pekerja saat bekerja
    7.pekerja di bekali JSA dan SOP
    8.Pekerja harus menggunakan fall protection sistem saat bekerja di ketinggian seperti full body harness dan gunakan juga APD

    E. Resiko Sisa
    1.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan kecil terjadi
    1.2.Tingkat keparahan : Medical treatment (manusia)
    1.3.Tingkat resiko : Low
    2.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan kecil terjadi
    2.2.Tingkat keparahan : First aid case (manusia)
    2.3.Tingkat resiko : Low
    3.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan kecil terjadi
    3.2.Tingkat keparahan : Fatality (manusia)
    3.3.Tingkat resiko : medium
    4.1.Tingkat kemungkinan : pasti terjadi
    4.2.Tingkat keparahan : Fatality (manusia)
    4.3.Tingkat resiko : medium
    5.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan kecil terjadi
    5.2.Tingkat keparahan : Fatality (manusia)
    5.3.Tingkat resiko : medium
    6.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan kecil terjadi
    6.2.Tingkat keparahan : Medical treatment (manusia)
    6.3.Tingkat resiko : Low
    7.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan kecil terjadi
    7.2.Tingkat keparahan : Fatality (manusia)
    7.3.Tingkat resiko : medium
    8.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan kecil terjadi
    8.2.Tingkat keparahan : Fatality (manusia)
    8.3.Tingkat resiko : medium

    Nama : chaidir setiawan

    NPM : 13.11.106.701501.0844

    Semester : 5

    Kelas : B1

  17. 1. Pekerjaan pemasangan bata ringan untuk perumahan ketinggian sampai dengan 3 meter dari permukaan tanah.
    1.1 Potensi bahaya :
    1.1.1 Bahaya ketinggian.
    1.1.2 Bahaya fisika.
    1.1.3 Bahaya psikososial.
    1.1.4 Bahaya kimia.
    1.1.5 Bahaya material dan peralatan.

    1.2 Deskripsikan konsekuensi terhadap manusia,alat,lingkungan
    1.2.1 Bahaya ketinggian : Terjatuh/Terpeleset karena alat yang digunakan tidak standart, konsekuensinya dapat mengakibatkan cidera serius seperti patah tulang/cacat permanen.
    1.2.2 Bahaya fisika : Cuaca extreme yang kapan saja bisa berubah – ubah seperti panas dan hujan, panas dapat menambah tinggkat emosi seorang pekerja, hujan dapat menghambat/memperlambat jalannya proses pekerjaan, konsekuensinya ialah kerugian/property damage.
    1.2.3 Bahaya psikososial: pekerja kurang profesional/tidak kompeten di bidangnya dapat menimbulkan masalah seperti performa yang rendah dalam bekerja, angka absensi yang tinggi, kurangnya pengetahuan akan keselamatan diri sendiri dan orang di sekitar, konsekuensinya akan merugikan perusahaan atau properti damage.
    1.2.4 Bahaya kimia : banyaknya terdapat material bahan utama yang di posisikan tidak benar pada pekerjaan diatas seperti pasir,sement. konsekuensinya dapat terhirup/terpapar bagi para pekerja dan mengakibatkan kerusakan struktur paru-paru, mengurangi kapasitasnya dalam menghirup dan mempertukarkan oksigen dalam darah, maka dilakukan medical treatment.
    1.2.5 Bahaya material : Peralatan Yang Berserakan di area Pekerjaan Atau Memposisikan Material/Alat Yang Sekiranya Dapat Membahayakan Pekerja, dapat tertimpa material seperti batu bata dan scaffolding, konsekuensinya cacad permanen karna belum diberi existing control.

    1.3 risiko awal (Consequnce x Likelihood)
    1.3.1 Bahaya ketinggian : (safety) LTI dengan cacat permanen X kemungkinan besar terjadi = High Risk.
    1.3.2 Bahaya fisika : (property damage) US$ 10.000 – US$ 100.000 X kemungkinan besar terjadi = Medium Risk.
    1.3.3 Bahaya psikososial : (property damage) US$ 10.000 – US$ 100.000 X pasti terjadi = High Risk.
    1.3.4 Bahaya kimia : (safety) Medical treatment X kemungkinan besar terjadi = Medium Risk.
    1.3.5 Bahaya material dan peralatan : (safety) LTI dengan cacat permanen X kemungkinan besar terjadi = High Risk

    1.4 Pengendalian Potensi Bahaya
    1.4.1 Bahaya Ketinggian
    1.4.1.1 Subtitusi ( 75% ) : Mengganti Tangga Kayu Sebelumnya Dengan Scaffolding.
    1.4.1.2 Training ( 20%) : memberikan pelatihan dan sosialisasi dalam sistem kerja aman agar tidak terjadi insiden.
    1.4.1.3 PPE (10%) : Menggunakan Fall Protection Sistem Seperti Full Body Harness, Safety Helmet, Safety Gloves, Safety Shoes.

    1.4.2 Bahaya fisika
    1.4.4.1 Eliminasi (100%) : Pemberhentian pekerjaan bila cuaca tiba-tiba mendung/hujan.
    1.4.4.2 Isolasi (50%) : mengisolasi area tempat beristirahat jauh dari paparan langsung terik matahari.
    1.4.4.3 administrasi (30%) : Memberikan istirahat yang cukup untuk pekerja.

    1.4.3 Bahaya psikososial
    1.4.3.1 Subtitusi (75%) : mengganti pekerja sebelumnya dengan pekerja yang lebih handal.
    1.4.3.2 Administrasi (30%) : memberikan safety briefing agar pekerja memamahami area dan bahaya disekitar lokasi pekerjaan, memberikan aturan pola shift kerja.
    1.4.3.3 training (20%) : memberikan pelatihan dan sosialisasi dalam sistem kerja aman agar tidak terjadi insiden kepada pekerja sebelum melaksanakan pekerjaan.

    1.4.4 Bahaya kimia
    1.4.4.1 Engineering (75%) : yaitu yang sebelumnya pengadukan semen dilakukan manual maka diganti dengan menggunakan mesin molen.
    1.4.4.2 PPE (10%) : Penggunaan alat safety seperti masker,safety helmet, safety gloves, safety shoes.

    1.4.5 Bahaya Material/Alat
    1.4.5.1 subtitusi (75%) : mengganti dengan alat yang sesuai standarnya, pembersihan area kerja sebelum proses pekerjaan dimulai.
    1.4.2.2 Isolasi (50%) : mengisolasi lokasi pekerjaan, menjauhkan benda-benda yang sekiranya dapat membahayakan pekerja.
    1.4.2.4 PPE (10%) : Penggunaan alat safety seperti masker,safety helmet, safety gloves, safety shoes.

    1.5 Risiko Sisa
    1.5.1 Bahaya ketinggian : (safety) LTI tanpa cacat permanen X kemungkinan kecil terjadi = Low Risk
    1.5.2 Bahaya fisika : (property damage) < US$ 10.000 x kemungkinan kecil terjadi = Low Risk
    1.5.3 Bahaya psikososial : (property damage) US$ 10M x kemungkinan besar terjadi = significant Risk.
    2.3.3 Bahaya psikososial : (property damage) US$ 1M – US$ 10m x kemungkinan besar terjadi = High Risk.
    2.3.4 Bahaya kimia : (safety) Medical treatment X kemungkinan besar terjadi = Medium Risk.
    2.3.5 Bahaya material dan peralatan : (safety) fatality x kemungkinan besar terjadi = significant risk.

    2.4 Pengendalian bahaya
    2.4.1 Bahaya ketinggian
    2.4.1.1 Subtitusi ( 75% ) : Mengganti Tangga Kayu Sebelumnya Dengan Scaffolding yang memiliki standar minimal SNI.
    2.4.1.2 Administrasi ( 30%) : Membuat SOP,JSA untuk pekerjaan di atas ketinggian dan melakukan inspeksi alat kerja.
    2.4.1.2 Training ( 20%) : memberikan pelatihan dan sosialisasi dalam sistem kerja aman agar tidak terjadi insiden.
    2.4.1.3 PPE (10%) : Menggunakan Fall Protection Sistem Seperti Full Body Harness, Safety Helmet, Safety Gloves, Safety Shoes.

    2.4.2 Bahaya fisika
    2.4.4.1 Eliminasi (100%) : Pemberhentian pekerjaan bila cuaca tiba-tiba mendung/hujan.
    2.4.4.2 Isolasi (50%) : mengisolasi area tempat beristirahat jauh dari paparan langsung terik matahari.
    2.4.4.3 administrasi (30%) : Memberikan istirahat yang cukup untuk pekerja.

    2.4.3 Bahaya psikososial
    2.4.3.1 Subtitusi (75%) : mengganti pekerja sebelumnya dengan pekerja yang lebih handal setidaknya memiliki pengalaman lebih dari 2 tahun.
    2.4.3.2 Administrasi (30%) : memberikan safety briefing agar pekerja memamahami area dan bahaya disekitar lokasi pekerjaan, memberikan aturan pola shift kerja.
    2.4.3.3 training (20%) : memberikan pelatihan dan sosialisasi dalam sistem kerja aman agar tidak terjadi insiden kepada pekerja sebelum melaksanakan pekerjaan.

    2.4.4 Bahaya kimia
    2.4.4.1 Engineering (75%) : yaitu yang sebelumnya pengadukan semen dilakukan manual maka diganti dengan menggunakan Truck molen.
    2.4.4.2 Administrasi (30%) : mempekerjakan seorang inspektur lapangan/mandor.
    2.4.4.3 PPE (10%) : Penggunaan alat safety seperti masker,safety helmet, safety gloves, safety shoes.

    2.4.5 Bahaya Material/Alat
    2.4.5.1 subtitusi (75%) : mengganti dengan alat yang sesuai standarnya, pembersihan area kerja sebelum proses pekerjaan dimulai.
    2.4.5.2 Isolasi (50%) : mengisolasi lokasi pekerjaan, menjauhkan benda-benda yang sekiranya dapat membahayakan pekerja.
    2.4.5.3 PPE (10%) : Penggunaan alat safety seperti masker,safety helmet, safety gloves, safety shoes.

    2.5 Risiko Sisa
    2.5.1 Bahaya ketinggian : (safety) LTI tanpa cacat permanen X kemungkinan kecil terjadi = Low Risk
    2.5.2 Bahaya fisika : (property damage) < US$ 10.000 x kemungkinan kecil terjadi = Low Risk
    2.5.3 Bahaya psikososial : (property damage) < US$ 10.000 x kemungkinan terjadi rata-rata = Low risk
    2.5.4 Bahaya kimia : (safety) medical treatment x keungkinan kecil terjadi = Low Risk
    2.5.5 Bahaya material dan peralatan : (safety) LTI tanpa cacat permanen x kemungkinan kecil terjadi = Low Risk

    2.5 Risiko Sisa
    2.5.1 Bahaya ketinggian : (safety) LTI tanpa cacat permanen X kemungkinan kecil terjadi = Low Risk
    2.5.2 Bahaya fisika : (property damage) < US$ 10.000 x kemungkinan kecil terjadi = Low Risk
    2.5.3 Bahaya psikososial : (property damage) < US$ 10.000 x kemungkinan terjadi rata-rata = Low risk
    2.5.4 Bahaya kimia : (safety) medical treatment x keungkinan kecil terjadi = Low Risk
    2.5.5 Bahaya material dan peralatan : (safety) LTI tanpa cacat permanen x kemungkinan kecil terjadi = Low Risk

    Nama : Ishak
    NPM : 13.11.106.701501.0864
    Semester : V (Lima)
    Kelas : B1

    • Berikan uraian Risk Assessment Anda untuk jenis pekerjaan ke-2, yakni Pekerjaan pemasangan bata ringan untuk gedung bertingkat dengan ketinggian diatas 3,00 meter. Karena dari uraian Anda diatas, masih belum ditemukan penjelasan risk assessment untuk pekerjaan ke-2 tersebut. Harap perbaiki kembali tugas anda ini dengan cara klik “Reply” dibawah komentar ini, hal ini agar proses perbaikan anda dapat mudah ditelusuri.

      • 1. Pekerjaan pemasangan bata ringan untuk perumahan ketinggian sampai dengan 3 meter dari permukaan tanah.
        1.1 Potensi bahaya :
        1.1.1 Bahaya ketinggian.
        1.1.2 Bahaya fisika.
        1.1.3 Bahaya psikososial.
        1.1.4 Bahaya kimia.
        1.1.5 Bahaya material dan peralatan.

        1.2 Deskripsikan konsekuensi terhadap manusia,alat,lingkungan

        1.2.1 Bahaya ketinggian : Terjatuh/Terpeleset karena alat yang digunakan tidak standart, konsekuensinya dapat mengakibatkan cidera serius seperti patah tulang/cacat permanen.

        1.2.2 Bahaya fisika : Cuaca extreme yang kapan saja bisa berubah – ubah seperti panas dan hujan, panas dapat menambah tinggkat emosi seorang pekerja, hujan dapat menghambat/memperlambat jalannya proses pekerjaan, konsekuensinya ialah kerugian/property damage.

        1.2.3 Bahaya psikososial: pekerja kurang profesional/tidak kompeten di bidangnya dapat menimbulkan masalah seperti performa yang rendah dalam bekerja, angka absensi yang tinggi, kurangnya pengetahuan akan keselamatan diri sendiri dan orang di sekitar, konsekuensinya akan merugikan perusahaan atau properti damage.

        1.2.4 Bahaya kimia : banyaknya terdapat material bahan utama yang di posisikan tidak benar pada pekerjaan diatas seperti pasir,sement. konsekuensinya dapat terhirup/terpapar bagi para pekerja dan mengakibatkan kerusakan struktur paru-paru, mengurangi kapasitasnya dalam menghirup dan mempertukarkan oksigen dalam darah, maka dilakukan medical treatment.

        1.2.5 Bahaya material : Peralatan Yang Berserakan di area Pekerjaan Atau Memposisikan Material/Alat Yang Sekiranya Dapat Membahayakan Pekerja, dapat tertimpa material seperti batu bata dan scaffolding, konsekuensinya cacad permanen karna belum diberi existing control.

        1.3 risiko awal (Consequnce x Likelihood)

        1.3.1 Bahaya ketinggian : (safety) LTI dengan cacat permanen X kemungkinan
        besar terjadi = High Risk.

        1.3.2 Bahaya fisika : (property damage) US$ 10.000 – US$ 100.000 X kemungkinan besar terjadi = Medium Risk.

        1.3.3 Bahaya psikososial : (property damage) US$ 10.000 – US$ 100.000 X pasti terjadi = High Risk.

        1.3.4 Bahaya kimia : (safety) Medical treatment X kemungkinan besar terjadi = Medium Risk.

        1.3.5 Bahaya material dan peralatan : (safety) LTI dengan cacat permanen X kemungkinan besar terjadi = High Risk

        1.4 Pengendalian Potensi Bahaya

        1.4.1 Bahaya Ketinggian
        1.4.1.1 Subtitusi ( 75% ) : Mengganti Tangga Kayu Sebelumnya Dengan Scaffolding.
        1.4.1.2 Training ( 20%) : memberikan pelatihan dan sosialisasi dalam sistem kerja aman agar tidak terjadi insiden.
        1.4.1.3 PPE (10%) : Menggunakan Fall Protection Sistem Seperti Full Body Harness, Safety Helmet, Safety Gloves, Safety Shoes.

        1.4.2 Bahaya fisika

        1.4.4.1 Eliminasi (100%) : Pemberhentian pekerjaan bila cuaca tiba-tiba mendung/hujan.
        1.4.4.2 Isolasi (50%) : mengisolasi area tempat beristirahat jauh dari paparan langsung terik matahari.
        1.4.4.3 administrasi (30%) : Memberikan istirahat yang cukup untuk pekerja.

        1.4.3 Bahaya psikososial

        1.4.3.1 Subtitusi (75%) : mengganti pekerja sebelumnya dengan pekerja yang lebih handal.
        1.4.3.2 Administrasi (30%) : memberikan safety briefing agar pekerja memamahami area dan bahaya disekitar lokasi pekerjaan, memberikan aturan pola shift kerja.
        1.4.3.3 training (20%) : memberikan pelatihan dan sosialisasi dalam sistem kerja aman agar tidak terjadi insiden kepada pekerja sebelum melaksanakan pekerjaan.

        1.4.4 Bahaya kimia

        1.4.4.1 Engineering (75%) : yaitu yang sebelumnya pengadukan semen dilakukan manual maka diganti dengan menggunakan mesin molen.
        1.4.4.2 PPE (10%) : Penggunaan alat safety seperti masker,safety helmet, safety gloves, safety shoes.

        1.4.5 Bahaya Material/Alat

        1.4.5.1 subtitusi (75%) : mengganti dengan alat yang sesuai standarnya, pembersihan area kerja sebelum proses pekerjaan dimulai.
        1.4.2.2 Isolasi (50%) : mengisolasi lokasi pekerjaan, menjauhkan benda-benda yang sekiranya dapat membahayakan pekerja.
        1.4.2.4 PPE (10%) : Penggunaan alat safety seperti masker,safety helmet, safety gloves, safety shoes.

        1.5 Risiko Sisa

        1.5.1 Bahaya ketinggian : (safety) LTI tanpa cacat permanen X kemungkinan kecil terjadi = Low Risk

        1.5.2 Bahaya fisika : (property damage) < US$ 10.000 x kemungkinan kecil terjadi = Low Risk

        1.5.3 Bahaya psikososial : (property damage) US$ 10M x kemungkinan besar terjadi = significant Risk.

        2.3.3 Bahaya psikososial : (property damage) US$ 1M – US$ 10m x kemungkinan besar terjadi = High Risk.

        2.3.4 Bahaya kimia : (safety) Medical treatment X kemungkinan besar terjadi = Medium Risk.

        2.3.5 Bahaya material dan peralatan : (safety) fatality x kemungkinan besar terjadi = significant risk.

        2.4 Pengendalian bahaya

        2.4.1 Bahaya ketinggian

        2.4.1.1 Subtitusi ( 75% ) : Mengganti Tangga Kayu Sebelumnya Dengan Scaffolding yang memiliki standar minimal SNI.
        2.4.1.2 Administrasi ( 30%) : Membuat SOP,JSA untuk pekerjaan di atas ketinggian dan melakukan inspeksi alat kerja.
        2.4.1.2 Training ( 20%) : memberikan pelatihan dan sosialisasi dalam sistem kerja aman agar tidak terjadi insiden.
        2.4.1.3 PPE (10%) : Menggunakan Fall Protection Sistem Seperti Full Body Harness, Safety Helmet, Safety Gloves, Safety Shoes.

        2.4.2 Bahaya fisika

        2.4.4.1 Eliminasi (100%) : Pemberhentian pekerjaan bila cuaca tiba-tiba mendung/hujan.
        2.4.4.2 Isolasi (50%) : mengisolasi area tempat beristirahat jauh dari paparan langsung terik matahari.
        2.4.4.3 administrasi (30%) : Memberikan istirahat yang cukup untuk pekerja.

        2.4.3 Bahaya psikososial

        2.4.3.1 Subtitusi (75%) : mengganti pekerja sebelumnya dengan pekerja yang lebih handal setidaknya memiliki pengalaman lebih dari 2 tahun.
        2.4.3.2 Administrasi (30%) : memberikan safety briefing agar pekerja memamahami area dan bahaya disekitar lokasi pekerjaan, memberikan aturan pola shift kerja.
        2.4.3.3 training (20%) : memberikan pelatihan dan sosialisasi dalam sistem kerja aman agar tidak terjadi insiden kepada pekerja sebelum melaksanakan pekerjaan.

        2.4.4 Bahaya kimia

        2.4.4.1 Engineering (75%) : yaitu yang sebelumnya pengadukan semen dilakukan manual maka diganti dengan menggunakan Truck molen.
        2.4.4.2 Administrasi (30%) : mempekerjakan seorang inspektur lapangan/mandor.
        2.4.4.3 PPE (10%) : Penggunaan alat safety seperti masker,safety helmet, safety gloves, safety shoes.

        2.4.5 Bahaya Material/Alat

        2.4.5.1 subtitusi (75%) : mengganti dengan alat yang sesuai standarnya, pembersihan area kerja sebelum proses pekerjaan dimulai.
        2.4.5.2 Isolasi (50%) : mengisolasi lokasi pekerjaan, menjauhkan benda-benda yang sekiranya dapat membahayakan pekerja.
        2.4.5.3 PPE (10%) : Penggunaan alat safety seperti masker,safety helmet, safety gloves, safety shoes.

        2.5 Risiko Sisa

        2.5.1 Bahaya ketinggian : (safety) LTI tanpa cacat permanen X kemungkinan kecil terjadi = Low Risk

        2.5.2 Bahaya fisika : (property damage) < US$ 10.000 x kemungkinan kecil terjadi = Low Risk

        2.5.3 Bahaya psikososial : (property damage) < US$ 10.000 x kemungkinan terjadi rata- rata = Low risk

        2.5.4 Bahaya kimia : (safety) medical treatment x keungkinan kecil terjadi = Low Risk

        2.5.5 Bahaya material dan peralatan : (safety) LTI tanpa cacat permanen x kemungkinan kecil terjadi = Low Risk

      • Masih terdapat kesalahan. Mengapa butir 1.5.3 Bahaya psikososial, langsung disambung butir 2.3.3 Bahaya psikososial? Mana perbedaan antara jenis pekerjaan ke-1 dengan jenis pekerjaan ke-2? Perbaiki tugas dengan cermat.

      • 1. Pekerjaan pemasangan bata ringan untuk perumahan ketinggian sampai dengan 3 meter dari permukaan tanah.
        1.1 Potensi bahaya :
        1.1.1 Bahaya ketinggian.
        1.1.2 Bahaya fisika.
        1.1.3 Bahaya psikososial.
        1.1.4 Bahaya kimia.
        1.1.5 Bahaya material dan peralatan.

        1.2 Deskripsikan konsekuensi terhadap manusia,alat,lingkungan

        1.2.1 Bahaya ketinggian : Terjatuh/Terpeleset karena alat yang digunakan tidak standart, konsekuensinya dapat mengakibatkan cidera serius seperti patah tulang/cacat permanen.

        1.2.2 Bahaya fisika : Cuaca extreme yang kapan saja bisa berubah – ubah seperti panas dan hujan, panas dapat menambah tinggkat emosi seorang pekerja, hujan dapat menghambat/memperlambat jalannya proses pekerjaan, konsekuensinya ialah kerugian/property damage.

        1.2.3 Bahaya psikososial: pekerja kurang profesional/tidak kompeten di bidangnya dapat menimbulkan masalah seperti performa yang rendah dalam bekerja, angka absensi yang tinggi, kurangnya pengetahuan akan keselamatan diri sendiri dan orang di sekitar, konsekuensinya akan merugikan perusahaan atau properti damage.

        1.2.4 Bahaya kimia : banyaknya terdapat material bahan utama yang di posisikan tidak benar pada pekerjaan diatas seperti pasir,sement. konsekuensinya dapat terhirup/terpapar bagi para pekerja dan mengakibatkan kerusakan struktur paru-paru, mengurangi kapasitasnya dalam menghirup dan mempertukarkan oksigen dalam darah, maka dilakukan medical treatment.

        1.2.5 Bahaya material : Peralatan Yang Berserakan di area Pekerjaan Atau Memposisikan Material/Alat Yang Sekiranya Dapat Membahayakan Pekerja, dapat tertimpa material seperti batu bata dan scaffolding, konsekuensinya cacad permanen karna belum diberi existing control.

        1.3 risiko awal (Consequnce x Likelihood)

        1.3.1 Bahaya ketinggian : (safety) LTI dengan cacat permanen X kemungkinan besar terjadi = High Risk.

        1.3.2 Bahaya fisika : (property damage) US$ 10.000 – US$ 100.000 X kemungkinan besar terjadi = Medium Risk.

        1.3.3 Bahaya psikososial : (property damage) US$ 10.000 – US$ 100.000 X pasti terjadi = High Risk.

        1.3.4 Bahaya kimia : (safety) Medical treatment X kemungkinan besar terjadi = Medium Risk.

        1.3.5 Bahaya material dan peralatan : (safety) LTI dengan cacat permanen X kemungkinan besar terjadi = High Risk

        1.4 Pengendalian Potensi Bahaya

        1.4.1 Bahaya Ketinggian
        1.4.1.1 Subtitusi ( 75% ) : Mengganti Tangga Kayu Sebelumnya Dengan Scaffolding.

        1.4.1.2 Training ( 20%) : memberikan pelatihan dan sosialisasi dalam sistem kerja aman agar tidak terjadi insiden.

        1.4.1.3 PPE (10%) : Menggunakan Fall Protection Sistem Seperti Full Body Harness, Safety Helmet, Safety Gloves, Safety Shoes.

        1.4.2 Bahaya fisika
        1.4.2.1 Eliminasi (100%) : Pemberhentian pekerjaan bila cuaca tiba-tiba mendung/hujan.

        1.4.2.2 Isolasi (50%) : mengisolasi area tempat beristirahat jauh dari paparan langsung terik matahari.

        1.4.2.3 administrasi (30%) : Memberikan istirahat yang cukup untuk pekerja.

        1.4.3 Bahaya psikososial
        1.4.3.1 Subtitusi (75%) : mengganti pekerja sebelumnya dengan pekerja yang lebih handal.

        1.4.3.2 Administrasi (30%) : memberikan safety briefing agar pekerja memamahami area dan bahaya disekitar lokasi pekerjaan, memberikan aturan pola shift kerja.

        1.4.3.3 training (20%) : memberikan pelatihan dan sosialisasi dalam sistem kerja aman agar tidak terjadi insiden kepada pekerja sebelum melaksanakan pekerjaan.

        1.4.4 Bahaya kimia
        1.4.4.1 Engineering (75%) : yaitu yang sebelumnya pengadukan semen dilakukan manual maka diganti dengan menggunakan mesin molen.

        1.4.4.2 PPE (10%) : Penggunaan alat safety seperti masker,safety helmet, safety gloves, safety shoes.

        1.4.5 Bahaya Material/Alat
        1.4.5.1 subtitusi (75%) : mengganti dengan alat yang sesuai standarnya, pembersihan area kerja sebelum proses pekerjaan dimulai.

        1.4.5.2 Isolasi (50%) : mengisolasi lokasi pekerjaan, menjauhkan benda-benda yang sekiranya dapat membahayakan pekerja.

        1.4.5.3 PPE (10%) : Penggunaan alat safety seperti masker,safety helmet, safety gloves, safety shoes.

        1.5 Risiko Sisa
        1.5.1 Bahaya ketinggian : (safety) LTI tanpa cacat permanen X kemungkinan kecil terjadi = Low Risk

        1.5.2 Bahaya fisika : (property damage) < US$ 10.000 x kemungkinan kecil terjadi = Low Risk

        1.5.3 Bahaya psikososial : (property damage) US$ 10M x kemungkinan besar terjadi = significant Risk.

        2.3.3 Bahaya psikososial : (property damage) US$ 1M – US$ 10m x kemungkinan besar terjadi = High Risk.

        2.3.4 Bahaya kimia : (safety) Medical treatment X kemungkinan besar terjadi = Medium Risk.

        2.3.5 Bahaya material dan peralatan : (safety) fatality x kemungkinan besar terjadi = significant risk.

        2.4 Pengendalian bahaya

        2.4.1 Bahaya ketinggian

        2.4.1.1 Subtitusi ( 75% ) : Mengganti Tangga Kayu Sebelumnya Dengan Scaffolding yang memiliki standar minimal SNI.

        2.4.1.2 Administrasi ( 30%) : Membuat SOP,JSA untuk pekerjaan di atas ketinggian dan melakukan inspeksi alat kerja.

        2.4.1.3 Training ( 20%) : memberikan pelatihan dan sosialisasi dalam sistem kerja aman agar tidak terjadi insiden.

        2.4.1.4 PPE (10%) : Menggunakan Fall Protection Sistem Seperti Full Body Harness, Safety Helmet, Safety Gloves, Safety Shoes.

        2.4.2 Bahaya fisika

        2.4.2.1 Eliminasi (100%) : Pemberhentian pekerjaan bila cuaca tiba-tiba mendung/hujan.

        2.4.2.2 Isolasi (50%) : mengisolasi area tempat beristirahat jauh dari paparan langsung terik matahari.

        2.4.2.3 administrasi (30%) : Memberikan istirahat yang cukup untuk pekerja.

        2.4.3 Bahaya psikososial

        2.4.3.1 Subtitusi (75%) : mengganti pekerja sebelumnya dengan pekerja yang lebih handal setidaknya memiliki pengalaman lebih dari 2 tahun.

        2.4.3.2 Administrasi (30%) : memberikan safety briefing agar pekerja memamahami area dan bahaya disekitar lokasi pekerjaan, memberikan aturan pola shift kerja.

        2.4.3.3 training (20%) : memberikan pelatihan dan sosialisasi dalam sistem kerja aman agar tidak terjadi insiden kepada pekerja sebelum melaksanakan pekerjaan.

        2.4.4 Bahaya kimia

        2.4.4.1 Engineering (75%) : yaitu yang sebelumnya pengadukan semen dilakukan manual maka diganti dengan menggunakan Truck molen.

        2.4.4.2 Administrasi (30%) : mempekerjakan seorang inspektur lapangan/mandor.

        2.4.4.3 PPE (10%) : Penggunaan alat safety seperti masker,safety helmet, safety gloves, safety shoes.

        2.4.5 Bahaya Material/Alat

        2.4.5.1 subtitusi (75%) : mengganti dengan alat yang sesuai standarnya, pembersihan area kerja sebelum proses pekerjaan dimulai.

        2.4.5.2 Isolasi (50%) : mengisolasi lokasi pekerjaan, menjauhkan benda-benda yang sekiranya dapat membahayakan pekerja.

        2.4.5.3 PPE (10%) : Penggunaan alat safety seperti masker,safety helmet, safety gloves, safety shoes.

        2.5 Risiko Sisa

        2.5.1 Bahaya ketinggian : (safety) LTI tanpa cacat permanen X kemungkinan kecil terjadi = Low Risk

        2.5.2 Bahaya fisika : (property damage) < US$ 10.000 x kemungkinan kecil terjadi = Low Risk

        2.5.3 Bahaya psikososial : (property damage) < US$ 10.000 x kemungkinan terjadi rata-rata = Low risk

        2.5.4 Bahaya kimia : (safety) medical treatment x keungkinan kecil terjadi = Low Risk

        2.5.5 Bahaya material dan peralatan : (safety) LTI tanpa cacat permanen x kemungkinan kecil terjadi = Low Risk

        Nama : Ishak
        NPM : 13.11.106.701501.0864
        Semester : V (Lima)
        Kelas : B1

      • Masih terdapat kesalahan. Point 1.5.3. langsung lompat menjadi 2.3.3.

  18. Nama pekerjaan : 1. Pekerjaan pemasangan bata ringan untuk perumahan dengan ketinggian sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.
    2. Pekerjaan pemasangan bata ringan untuk gedung bertingkat dengan ketinggian diatas 3,00 meter.

    1.Potensi penyebab bahaya :
    pekerjaan 1

    A.Terjatuh dari ketinggian karena menggunakan alat atau penyangga yang tidak sesuai/tidak standard
    B.Debu yang di hasilkan dari material mengakibatkan gangguan pernapasan
    C.Posisi tubuh yang tidak ergonomi dapat mengakibatkan cidera pada tulang punggung
    D.Tidak menggunakan APD dapat membahayakan pekerja saat bekerja
    E.Lingkungan tempat kerja yang panas dan bising dapat mengganggu saat bekerja
    F.Pekerjaan yang diburu-buru

    deskripsi konsekuensi pekerjaan :

    A.Manusia
    – pekerja dapat mengalami gangguan yang diakibatkan debu seperti iritasi mata dan gangguan pada pernafasan seperti sesak nafas
    – posisi tubuh yang kurang alami dapat menyebabkan gangguan pada tulang belakang karena,
    dilakukan secara berkala dan dalam jangka waktu yang lama.
    – pekerja dapat mengalami gangguan pada kulit sepert iritasi karena paparan dari bahan/material yang digunakan.
    – alat penyangga/scaffolding yang tidak sesuai standard dapat mengakibatkan cidera jika terjatuh dikarenakan alat yang tidak standard
    karena hanya terbuat dari kayu

    B.Alat/peralatan :
    – rubuhnya scaffolding dikarenakan tidak dapat menahan beban dari pekerja
    – scaffolding bisa saja rubuh dikarenakan permukaan tanah yang tidak rata

    c.Lingkungan
    – pemasangan batu menggunakan material yang menggunakan bahan kimia agar lebih cepat mengeras dapat menyebabkan gangguan pada
    lingkungan sekitar
    – pemasangan batu bata yang tidak sesuai prosedur bisa saja jatuh menimpa lingkungan di sekitarnya

    – resiko awal : belum adanya proteksi atau penggunaan APD menyebabkan resiko yang tinggi
    -Tingkat Kemungkinan : A. Terjatuh : tingkat kemungkinan “tinggi” karena pekerjaan dilakukan setiap hari dengan menggunakan alat yang tidak standard
    B. Debu : tingkat kemungkinan “tinggi” karena pekerjaan yang dilakukan setiap hari dan tidak menggunakan
    APD apapun
    C. posisi tubuh : tingkat kemungkinan “tinggi” karena dilakukan secara berkala dan dalam jangka
    waktu cukup lama sehingga menyababkan tingkat cidera yang tinggi
    D. Tidak adanya APD : tingkat kemungkinan “tinggi” tidak adanya penggunaan APD di saat bekerja
    membuat resiko semakin besar.
    E. Lingkungan : tingkat kemungkinan “tinggi”karena permukaan tanah yang tidak rata bisa mengakibatkan
    terjatuh saat menggunakan scaffolding,dan cuaca yang panas membuat pekerja tidak fokus
    saat bekerja.
    F. pekerjaan yang diburu-buru : tingkat kemungkinan “tinggi” karena para pekerja bekerja dengan buru-buru tanpa
    memikirkan keselamatan terlebih dahulu
    -Pengendalian potensi bahaya :

    A. Menggunakan penyangga yang lebih aman scaffolding yang terbuat dari besi(subsitusi)
    B. Menggunakan masker & kacamata saat bekerja (APD)
    C. Merubah posisi tubuh ke posisi yang lebih natural dan ergonomi atau member jeda/istirahat untuk tubuh setiap beberapa jam.
    D. Menggunakan APD seperti ear plug,kacamata & masker (APD)
    E. meratakan tanah disekitar lingkungan pekerjaan (rekayasa teknik)

    -Resiko sisa :
    A. Terjatuh : tingkat kemungkinan “ringan”karena sudah menggunakan alat yang lebih memenuhi standard menggunakan scaffolding dari besi
    B. Debu : tingkat kemungkinan “ringan” pengguaan masker dan kacamata dapat mengurangidampak dari paparan debu dan iritasi mata
    C. Posisi Tubuh : tingkat kemungkinan “sedang” karena tubuh diistirahatkan sejenak setiap beberapa jam tetapi pekerjaan dengan
    posisi tubuh yang sama tidak berhenti di lakukan.
    D. Pemberian APD : tingkat kemungkinan “sedang” penambahan APD kepada tiap pekerja mengurangi resiko kecelakaan dari pekerja
    tetapi tidak dapat menghilangkan resiko tersebut.
    E.meratakan tanah : tingkat kemungkinan “ringan” karena tanah yang sudah diratakan membuat pijakan lebih stabil.

    2.Potensi penyebab bahaya :
    pekerjaan 2

    Dipekerjaan kedua tidak jauh berbeda dengan pekerjaan pertama yaitu pemasangan bata di gedung bertingkat
    sehingga menakibatkan bertambahnya beberapa potensi bahaya, seperti :

    A. Angin karena jika bekerja di ketinggian maka angin akan semakin kencang
    B. Ruang kerja yang terbatas
    C. Pijakan yang tidak stabil

    deskripsi konsekuensi pekerjaan :

    A.Manusia
    – jatuhnya pekerja dari ketinggian mengakibatkan cidera yang lebih parah seperti: patah tulang dan kematian
    – sulitnya melakukan pergerakan karena ruang gerak yang terbatas
    – pijakan yang tidak stabil menyebabkan sulitnya fokus untuk bekerja diketinggian

    B. Alat/peralatan : jatuhnya pekerja di akibatkan penyangga/ scaffolding yang tidak kokoh karena saat di ketinggian
    angin akan semakin kencang dapat menyebabkan rubuhnya scaffolding
    c. Lingkungan : angin yang bertiup dapat mengganggu konsentrasi pekerja dan menyebabkan goyangnya scaffolding

    -Resiko awal : Belum adanya pengendalian membuat pekerjaan memiliki resiko yang tinggi
    -Tingkat Kemungkinan A. Terjatuh : tingkat kemungkinan “tinggi” karena pekerjaan dilakukan setiap hari dengan menggunakan alat yang tidak standard
    B. Ruang gerak terbatas : tingkat kemungkinan “tinggi” sulitnya bergerak menghambat waku pekerjaann dan membahayakan pekerja
    C. Pijakan tidak Stabil : tingkat kemungkinan “tinggi” Karena bekerja ditempat tinggi dengan pijakan yang tidak
    stabil sangat berbahaya
    -Pengendalian potensi bahaya :

    A. mengganti scaffolding dengan scaffolding yang lebih standard (subsitusi) & Mengikatkan bagian dari scaffolding ke badan bangunan
    agar tidak goyang ketika angin bertiup dan lebih kuat jika digunakan di ketinggian (rekayasa teknis)
    B. memberikan scaffolding yang lebih besar sehingga para pekerja memiliki ruang gerak yang cukup (rekayasa teknis)
    C. meratakan tanah disekitar lingkungan pekerjaan (rekayasa teknik)

    -Resiko sisa :
    A. Terjatuh : tingkat kemungkinan “ringan”karena sudah menggunakan alat yang lebih memenuhi standard menggunakan scaffolding dari besi
    B. Ruang gerak terbatas : tingkat kemungkinan “ringan” Karena pekerja sudah memiliki ruang gerak yang cukup dan penyangga yang kokoh
    C. meratakan tanah : tingkat kemungkinan “ringan” karena tanah yang sudah diratakan membuat pijakan lebih stabil.

    NAMA : ILHAM AKBAR F

    KELAS : B1.V

    NPM : 13.11.106.701501.0833

    • Pisahkan risk assessment untuk kedua jenis pekerjaan tersebut, jangan dijadikan satu karena analisisnya berbeda. Harap perbaiki kembali tugas anda ini dengan cara klik “Reply” dibawah komentar ini, hal ini agar proses perbaikan anda dapat mudah ditelusuri.

  19. 1. Pekerjaan pemasangan bata ringan untuk perumahan ketinggian sampai dengan 3 meter dari permukaan tanah.
    1.1 potensi bahaya
    1.1.1 penggalian pondasi
    1.1.2 penempatan material
    1.1.3 ketinggian
    1.1.4 cuaca
    1.1.5 debu
    1.1.6 pemasangan bata

    1.2 Deskripsikan konsekuensi terhadap manusia,alat,lingkungan
    1.2.1 penggalian podasi: risiko dari pekerjaan penggalian pondasi adalah terluka akibat terkena cangkul dapat mengakibatkan cacat permanen atau medical treatment karna belum diberi tindakan pengendalian
    1.2.2 penempatan material:risiko dari penempatan material yang tidak tertata adalah terpeleset,tertimpa,terjepit dapat mengakibatkan cacat permanen atau cidera ringan
    1.2.3 ketinggian:resiko dari bekerja diketinggian adalah terjatuh dan memiliki konsekunsi patah ulang atau medical treatment
    1.2.4 cuaca:pekerjaan yang dilakukan di outdor memiliki bahaya dari aspek cuaca yang memiliki resiko runtuhnya bata yag sudah terpasang, dan terhambatnya pekerjaan sehingga menimbulkan konsekunsi kerugian atau menggulang pekerjaan
    1.2.5 debu:risiko yang ditimbulkan dari debu sement dan material lain seperti pasir dan tanah terhirup dan terpapapar memiliki konsekuensi gangguan pernapasan
    1.2.6 pemasangan bata: risiko dari pemasangan bata adalah tertimpa batu bata,property damage sehingga menimbulkan konsekuensi fatal dan kerugian

    1.3 risiko awal: (qonsequnce x likelihood)
    1.3.1 penggalian pondasi: LTI tanpa cacat permanen (3) x kemungkinan terjadi rata-rata (c)=Medium
    1.3.2 penempatan material: Medical treatment (4) x kemungkinan terjadi rata-rata (c)=Medium
    1.3.3 ketinggian: LTI cacat permanen (2) X kemungkinan besar terjadi (D)= High
    1.3.4 cuaca: property damage uS$10.000-US$100.000 (4) X kemungkinan terjadi rata-rata (c)=Medium
    1.3.5 debu: medical treatment (4) x kemungkinan besar terjadi (D)=medium
    1.3.6 pemasangan bata : property damage $10.000( x kemungkinan terjadi rata-rata (c)= Medium

    1.4 Pengendalian potensi bahaya
    1.4.1 penggalian pondasi
    1.4.1.1 subsitusi: mengganti tukang yang kelas dua dengan tukang yag ahli atau tukang kelas 1
    1.4.1.2 isolasi memberi: garis demarkasi di sekitar area penggalian pondasi
    1.4.1.3 administrasi: membuat jsa penggalian pondasi, membuat cheklist perawatan harian untuk alat kerja penggalian seperti cangkul dan seekop
    1.4.1.4 training: memberikan training kepada tukang tentang prosedur keselamata kerja penggalian pondasi
    1.4.1.5 ppe:memberikan alat pelindung diri seperti sepatu safety,kacamata, sarung tangan,masker dan helm pelindung

    1.4.2 penempatan material
    1.4.2.1 eliminasi: menghilangkan semua sisa material dari area kerja
    1.4.2.2 reegineering: membuat tempat khusus penyimpanan material
    1.4.2.3 isolasi: memberi garis demarkasi disekitar area penempatan material
    1.4.2.4 administrasi: membuat rambu-rambu atau papan informasi disekitar gudang material
    1.4.2.5 ppe: memberikan alat pelindung diri seperti helm pelindung, kacamata,sarung tangan dan sepatu safety

    1.4.3 ketinggian
    1.4.3.1 subsitusi mengganti perancah kayu yang digunakan dengan scafolding atau flatform yang dilengkapi dengan pagar pelindung
    1.4.3.2 isolasi: memastikan area di sekitar penempatan scafolding tidak ada orang yang melewati area tersebut
    1.4.3.3 administrasi:membuat jsa bekerja diketinggian.megatur jam kerja tukang
    1.4.3.4 training: memberikan training bekerja diketinggian
    1.4.3.5 ppe: menggunakan alat pelindung diri full body harness.

    1.4.4 cuaca
    1.4.4.1 eliminasi: menghentikan pekerjaan bila hujan turun
    1.4.4.1 subsitusi: memasang terpal pelindung di area kerja
    1.4.4.2 reengeering: memberikan campuran bahan kimia agar adukan sement cepat mengering

    1.4.5 debu
    1.4.5.1 eliminasi:menghilangkan debu disekitar area kerja denga melakukan penyiraman
    1.4.5.2 administrasi:membuat jadwal penyiraman debu di area kerja
    1.4.5.3 ppe: memberikan masker kepada pekerja proyek

    1.4.6 pemasangan bata
    1.4.6.1 subsitusi:mengganti tukang yang tidak ahli dengan tukang kelas satu atau tukang yang ahli
    1.4.6.2 isolasi:memberi garis demarkasi di area pemasangan bata
    1.4.6.3 reengineering:memastikan tiang penyangga untuk pemasangan batu bata sudah sesuai dengan design dari engineer konstruksi,menambahkan campura bahan kimia agar campuran sement cepat kering
    1.4.6.4 administrasi:membuat jsa pemasangan batu bata.mengatur jam istirahat karyawan
    1.4.6.5 ppe:memberikan alat pelindung diri helm,kacamata.sarung tangan dan sepatu safety

    1.5 Risiko yang tersisa
    1.5.1 penggalian pondasi :LTI tanpa cacat permanen (3)x kemungkinan terjadi kecil (B) = Low risk
    1.5.2 penempatan material :Medical treatment (4) x kemungkinan kecil terjadi (B)= Low risk
    1.5.3 ketinggian :Medical treament (4) x kemungkinan terjadi kecil (B)= Low risk
    1.5.4 cuaca :<US$10.000 (5) x kemungkinan terjadi rata-rata (c)= Low risk
    1.5.5 debu :first aid case (5) x kemungkinan kecil terjadi (B)= Low risk
    1.5.6 pemasangan bata:US$10.000-US$100.000 X kemungkinan kecil terjadi (B)=Low

    2 pekerjaan pemasangan bata ringan untuk gedung bertingkat dengan ketinggian diatas 3,00 meter

    2.1 potensi bahaya
    2.1.1 penggalian pondasi
    2.1.2 ketinggian
    2.1.3 pemasangan bata
    2.1.4 debu
    2.1.5 cuaca
    2.1.6 penempatan material
    2.1.7 kompetensi pekerja

    2.2 Deskripsikan konsekuensi terhadap manusia,alat,lingkungan
    2.2.1 risiko dari pekerjaan penggalian pondasi adalah terkena cangkul,tertimbun tanah,dapat menyebabkan cacat permanen atau medical treatment karna pekerjaan belum diberikan tindakan pengendalian
    2.2.2 risiko dari bekerja diketinggian adalah terjatuh dan memiliki konsekunsi fatality,patah tulang atau cacat permanen
    2.2.3 risiko dari pemasangan bata adalah tertimpa bata,terjepit,runtuhnya bata yang telah dipasang dan memiliki konsekuensi fatality dan kerugian
    2.2.4 risiko dari debu adalah terhirup dan terpapar debu material memiliki konsekunsi gangguan pernapasan
    2.2.5 risiko dari cuaca apabila hujan adalah runtuhnya bangunan,terhambatnya pekerjaan dan memiliki konsekuensi kerugian dan mengulang pekerjaan
    2.2.6 risiko dari penempatan material adalah terjepit,terhamburan,terpeleset dan memiliki konsekuensi patah tulang dan cidera ringan
    2.2.7 risiko dari kompetensi pekerja adalah kecelakaan kerja, terhambatnya pekerjaan dan memiliki konsekuensi fatality ,cacat permanen,medical treatment,kerugian dan pekerjaan selesai tidak seuai dengan waktu yang telah ditentukan

    2.3 risiko awal: (qonsequnce x likelihood)
    2.3.1 penggalian pondasi: LTI dengan cacat permanen (2) X kemungkinan terjadi rata-rata (C)= High
    2.3.2 bekerja diketinggian: fatality (1) X kemungkinan besar terjadi (D)= signifikan
    2.3.3 pemasangan bata: us$ 1M-US$ 1OM atau LTI dengan cacat permanen (2) x kemungkinan terjadi rata-rata (c)= High
    2.3.4 debu: LTI tanpa cacat permanen (3) x kemungkinan besar terjadi (D)= High
    2.3.5 cuaca: US$ 1M-US$ 10M (2) X kemungkinan terjadi rata-rata (C)= High
    2.3.6 penempatan material: LTI tanpa cacat permanen (3) x kemungkinan terjadi rata-rata (c)
    2.3.7 kompetensi kerja: us $100.000-us$ 1M atau LTI tanpa cacat permanen (3) x kemugkinan besar terjadi (c)= High

    2.4 pegendalian potensi bahaya:
    2.4.1 penggalian pondasi
    2.4.1.1 subitusi: menganti alat gali dari cangkul menjadi mini excavator
    2.4.1.2 isolasi: memasang garis demarkasi disekitar area galian pondasi
    2.4.1.3 administrasi: membuat jsa penggalia ponadasi,membuat rambu wajib ppe diarea kerja,megatur jam kerja karyawan,membuat permit kerja yang ditujukan kepada owner gedung,membuat check list peralatan harian
    2.4.1.4 training: memberikan pelatihan pekerjaan pondasi dan pelatihan menggunakan peralatan pekerjaan
    2.4.1.5 ppe: memberikan alat pelindung diri helm,kacamata,sarung tangan,masker,dan sepatu safety

    2.4.2 bekerja diketinggian
    2.4.2.1 subsitusi: mengganti perancah kayu dengan scafolding atau platform yang dilegkapi dengan handrail
    2.4.2.2 isolasi: memastikan dibawah area scafolding tidak ada orang yang bekerja dibawahnya
    2.4.2.3 adminstrasi: membuat sop bekerja diketinggian,membuat ijin permit yang ditujukan kepada owner gedung,membuat checklist harian peralatan kerja,mengatur jam istirahat karyawan,membuat rambu-rambu wajib menggunakan ppe.
    2.4.2.4 training: memberikan training prosedur bekerja diketingian,memberikan training tanggap darurat
    2.4.2.5 ppe: meberikan alat pelindung diri full body harness,helm,sarung tangan,dan sepatu safety

    2.4.3 pemasangan bata
    2.4.3.1 subsitusi:mengganti dari cara manual menggunakan molen pada saat melakukan percampuran antara material pasir dan sement, memasang batu bata secara bertahap
    2.4.3.2 isolasi: membuat garis demarkasi disekitar area pemasangan batu bata
    2.4.3.3 reengineering: memastikan tiang beton peyanggah kokoh pada saat batu bata akan dipasang
    2.4.3.4 administrasi: membuat sop pemasangan bata,membuat check list peralatan kerja,mengatur jam istirahat karyawan.
    2.4.3.5 trainig: memberikan training prosedur pemasangan bata,memberikan traiining pengoprasian mesin molen
    2.4.3.6 ppe: memberikan alat pelindung diri helm,kacamata,sarung tangan,masker dan sepatu safety

    2.4.4 debu
    2.4.4.1 eliminasi: menghilangkan debu di area kerja dengan melakukan penyiraman
    2.4.4.2 administrasi: mengatur jadwal penyiraman area kerja secara rutin
    2.4.4.3 isolasi: menjauhkan material yang mengahasilkan debu seperi sement dan pasir
    2.4.4.4 ppe: memberikan alat pelindung diri masker khusus debu.

    2.4.5 cuaca
    2.4.5.1 eliminasi: menghentikan pekerjaan bila kondisi sedang hujan
    2.4.5.2 subsitusi: membuat tenda kerja atau terpal disekitar area pemasangan bata
    2.4.5.3 reengineering: menambahkan campuran bahan kimia pada sement agar cepat kering
    2.4.5.4 administrasi: meminta prediksi cuaca dari BMKG untuk perencaan kerja.

    2.4.6 penempatan material
    2.4.6.1 eliminasi: mengumpulkan material-material yang sudah tidak digunakan yang berserakan di area kerja
    2.4.6.2 subsitusi: membuat tempa khusus untuk penempatan material bangunan
    2.4.6.3 isoalasi: memberi garis demarkasi disekitar area penempatan material
    2.4.6.4 adminisrtasi: mengatur susunan penyimpanan material yang bertujuan untuk mempermudah saat pengambilan barang
    2.4.6.5 ppe: memberikan alat pelindung diri helm,kacamata,sarung tangan dan sepatu safety

    2.4.7.kompetensi kerja
    2.4.7.1 subsitusi: mengganti tukang yang tidak memiliki kompensi baik dengan tukang ahli
    2.4.7.2 administrasi:mengatur jam kerja dan jam istirhat karyawan
    2.4.7.3 training: memberi pelatihan pemasangan bata,memberikan pelatihan k3 kontruksi,memberikan pelatihan tentang team work

    2.5 risiko yang tersisa setelah control
    2.5.1 penggalian pondasi: LTI tanpa cacat permanen (3) x kemungkinan terjadi kecil (B)= Low
    2.5.2 ketinggian:medical treatment (4) x kemungkinan terjadi kecil (4)= Low
    2.5.3 pemasangan bata:LTI tanpa cacat permanen (3) x kemungkinan kecil terjadi(B)= Low
    2.5.4 debu: First Aid Case (4) x kemungkinan terjadi kecil (B)= Low
    2.5.5 cuaca :us$ 100.000-us$ 1M (3) X kemungkinan terjadi (B)= Low
    2.5.6 penempatan material: LTI tanpa cacat permanen (3) x kemungkinan kecil terjadi)= Low
    2.5.7 kompetensi kerja: us$ 100.000 (4) x kemungkinan terjadi kecil (B)= Low

    Nama: Adri ponco wibowo
    kelas: B1
    Semester: 5
    NPM: 13.11.106.701501.0858

  20. 1. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.

    1.1. Analisis potensi penyebab bahaya (hazard).
    1.1.1 Bahan material yang berserakan
    1.1.2 Scaffolding yang tidak memenuhi standar
    1.1.3 Alat pelindung diri
    1.1.4 Bahaya cuaca (hujan, angin, kabut)
    1.1.5 Tidak memberikan training terhadap pekerja
    1.1.6 Human error
    1.1.7 Cipratan semen atau debu yang terkena mata
    1.1.8 Orang yang lalu lalang di sekeliling tempat berkerja
    1.1.9 Tidak adanya pengawas pekerja saat berkerja
    1.1.10 Pekerja yang tidak ergonomi saat berkerja
    1.1.11 Tidak adanya safety talk terhadap pekerja sebelum berkerja
    1.1.12 Struktur tanah yang miring atau tanah yang gembur

    1.2. Deskripsi konsekuensi terhadap manusia, alat/peralatan, lingkungan.
    1.2.1 bahan material yang berserakan :Mengganggu pekerja saat berkerja, pekerja bisa terluka, tersandung dan menimbulkan cedera parah terhadap pekerja/fatality
    1.2.2 scaffolding yang tidak memenuhi standar: Pekerja bisa terjatuh di saat berkerja karena scaffolding yang tidak memenuhi standar tersebut
    1.2.3 alat pelindung diri: Menimbulkan cedera terhadap pekerja di saat berkerja di lapangan
    1.2.4 bahaya cuaca: Mengakibatkan pekerjaan yang terulur atau mengundur waktu pekerjaan
    1.2.5 tidak memberikan training terhadap pekerja: Peekerjaan yang tidak sesuai dengan prosedur dan menimbulkan kecelakaan kerja
    1.2.6 human error: Kelalaian pekerja yang menimbulkan pekerjaan yang tidak sesuai dengan prosedur kerja
    1.2.7 ciptakan semen atau debu yang terkena mata: Mengakibatkan iritasi mata pada pekerja
    1.2.8 orang yang lalu lalang di sekeliling tempat bekerja: Mengganggu bagi pekerja yang ada di lapangan saat berkerja
    1.2.9 tidak adanya pengawasan pekerja saat berkerja: Mengakibatkan pekerja yang tidak melaksanakan pekerjaan sesuai dengan prosedur
    1.2.10 pekerja yang tidak ergonomi saat berkerja: Kelelahan/fatique terhadap pekerja
    1.2.11 tidak adanya safety talk terhadap pekerja sebelum berkerja: Missed comunication antar pekerja yang menimbulkan kelalaian berkerja saat di lapangan
    1.2.12 struktur tanah yang miring atau tanah gembur: Mengakibatkan tanah longsor dan tumpuan scaffolding menjadi tertimbun karena tanah yang gembur

    1.3 Risiko awal (Tingkat kemungkinan, Tingkat keparahan, Tingkat risiko)
    1.3.1 Kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = tinggi
    1.3.2 Kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = tinggi
    1.3.3 Kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = tinggi
    1.3.4 Kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = tinggi
    1.3.5 Kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = tinggi
    1.3.6 Kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = tinggi
    1.3.7 Kemungkinan terjadi jarang x keparahan sedang = tinggi
    1.3.8 Kemungkinan terjadi jarang x keparahan sedang = tinggi
    1.3.9 Kemungkinan terjadi jarang x keparahan sedang = tinggi
    1.3.10 Kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = tinggi
    1.3.11 Kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = tinggi
    1.3.12 Kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = tinggi

    1.4 Pengendalian potensi bahaya (Eliminasi, Substitusi, Rekayasa Teknis, Administratif, APD)
    1.4.1 Bahan material yang berserakan
    1.4.1.1 Subtitusi: memindahkan bahan material ke tempat yang tidak mengganggu para pekerja
    1.4.1.2 Isolasi: memberikan tempat untuk bahan material
    1.4.2 Scaffolding yang tidak memenuhi standar
    1.4.2.1 Subtitusi: mengganti scaffolding yang layak di gunakan sesuai pekerjaan dengan aman
    1.4.3 Alat pelindung diri
    1.4.3.1 Adminitrasi: membuat JSA
    1.4.3.2 Training: memberi training ke pekerja
    1.4.3.3 PPE: memberikan alat pelindung diri dengan lengkap ke pekerja
    1.4.4 Bahaya cuaca (hujan, angin, kabut)
    1.4.4.1 Eliminasi: menghentikan pekerjaan berlangsung jika cuaca buruk
    1.4.4.2 Isolasi: memberikan atau membangunkan bangunan tempat berteduh
    1.4.5 Tidak memberikan training terhadap pekerja
    1.4.5.1 Adminitrasi: membuat JSA dan SOP
    1.4.5.2 Training; memberikan pelatihan ke pekerja
    1.4.6 Human error
    1.4.6.1 Adminitrasi: membuat JSA dan SOP
    1.4.6.2 Training: memberikan pelatihan ke pekerja
    1.4.7 Cipratan semen atau debu yang terkena mata
    1.4.7.1 Isolasi: menyiram ke area yang berdebu agar tidak menimbulkan debu
    1.4.7.2 PPE: memberikan APD seperti kaca mata dan masker
    1.4.8 Orang yang lalu lalang di sekeliling tempat berkerja
    1.4.8.1 Adminitrasi: membuat jalur khusus untuk berlalu lalang
    1.4.9 Tidak adanya pengawas pekerja saat berkerja
    1.4.9.1 Subtitusi: memberi ahli kontruksi bangunan untuk mengawas pekerja
    1.4.9.2 Adminitrasi: membuat JSA dan SOP
    1.4.9.3 Training: memberikan pelatihan ke semua pekerja
    1.4.10 Pekerja yang tidak ergonomi saat berkerja
    1.4.10.1 Adminitrasi: membuat JSA dan SOP
    1.4.10.2 Training: memberikan pelatihan ke pekerja
    1.4.11 Tidak adanya safety talk terhadap pekerja sebelum berkerja
    1.4.11.1 Adminitrasi: membuat JSA dan SOP
    1.4.12 Struktur tanah yang miring atau tanah yang gembur
    1.4.12.1 Isolasi: meratakan tanah yang miring
    1.4.12.2 Adminitrasi: memberikan JSA dan SOP
    1.4.12.3 PPE: memberikan alat pelindung diri ke perka

    1.5 Risiko sisa (Tingkat kemungkinan, Tingkat keparahan, Tingkat risiko)
    1.5.1 Kemungkinan jarang x keparahan ringan = resiko rendah
    1.5.2 Kemungkinan jarang x keparahan ringan = resiko rendah
    1.5.3 Kemungkinan jarang x keparahan ringan = resiko rendah
    1.5.4 Kemungkinan jarang x keparahan ringan = resiko rendah
    1.5.5 Kemungkinan jarang x keparahan ringan = resiko rendah
    1.5.6 Kemungkinan jarang x keparahan ringan = resiko rendah
    1.5.7 Kemungkinan jarang x keparahan ringan = resiko rendah
    1.5.8 Kemungkinan jarang x keparahan ringan = resiko rendah
    1.5.9 Kemungkinan jarang x keparahan ringan = resiko rendah
    1.5.10 Kemungkinan sulit terjadi x keparahan sedang = resiko rendah
    1.5.11 Kemungkinan sulit terjadi x keparahan sedang = resiko rendah
    1.5.12 Kemungkinan jarang x keparahan ringan = resiko rendah

    2. Pekerja pemasangan bata ringan untuk gedung bertingkat dengan ketinggian di atas 3.00 meter

    2.1. Analisis potensi penyebab bahaya (hazard).
    2.1.1 Bahan material yang berserakan
    2.1.2 Scaffolding yang tidak memenuhi standar
    2.1.3 Alat pelindung diri
    2.1.4 Bahaya cuaca (hujan, angin, kabut)
    2.1.5 Tidak memberikan training terhadap pekerja
    2.1.6 Human error
    2.1.7 Cipratan semen atau debu yang terkena mata
    2.1.8 Orang yang lalu lalang di sekeliling tempat berkerja
    2.1.9 Tidak adanya pengawas pekerja saat berkerja
    2.1.10 Pekerja yang tidak ergonomi saat berkerja
    2.1.11 Tidak adanya safety talk terhadap pekerja sebelum berkerja
    2.1.12 Struktur tanah yang miring atau tanah yang gembur
    2.1.13 Tidak adanya ahli kontriksi bangunan

    2.2. Deskripsi konsekuensi terhadap manusia, alat/peralatan, lingkungan.
    2.2.1 Bahan material yang berserakan: Mengganggu pekerja saat berkerja, pekerja bisa terluka, tersandung dan menimbulkan cedera parah terhadap pekerja/fatality
    2.2.2 Scaffolding yang tidak memenuhi standar: Pekerja bisa terjatuh di saat berkerja karena scaffolding yang tidak memenuhi standar tersebut
    2.2.3 Alat pelindung diri: Menimbulkan cedera terhadap pekerja di saat berkerja di lapangan
    2.2.4 Bahaya cuaca: Mengakibatkan pekerjaan yang terulur atau mengundur waktu pekerjaan
    2.2.5 Tidak memberikan training terhadap pekerja: Peekerjaan yang tidak sesuai dengan prosedur dan menimbulkan kecelakaan kerja
    2.2.6 Human error: Kelalaian pekerja yang menimbulkan pekerjaan yang tidak sesuai dengan prosedur kerja
    2.2.7 Ciptakan semen atau debu yang terkena mata: Mengakibatkan iritasi mata pada pekerja
    2.2.8 Orang yang lalu lalang di sekeliling tempat bekerja: Mengganggu bagi pekerja yang ada di lapangan saat berkerja
    2.2.9 Tidak adanya pengawasan pekerja saat berkerja: Mengakibatkan pekerja yang tidak melaksanakan pekerjaan sesuai dengan prosedur
    2.2.10 Pekerja yang tidak ergonomi saat berkerja: Kelelahan/fatique terhadap pekerja
    2.2.11 Tidak adanya safety talk terhadap pekerja sebelum berkerja: Missed comunication antar pekerja yang menimbulkan kelalaian berkerja saat di lapangan
    2.2.12 Struktur tanah yang miring atau tanah gembur: Mengakibatkan tanah longsor dan tumpuan scaffolding menjadi tertimbun karena tanah yang gembur
    2.2.13 Tidak adanya ahli kontruksi bangunan: Tidak adanya pengawasn menimbulkan accident dan pekerjaan yang tidak sesuai dengan prosedur

    2.3 Risiko awal (Tingkat kemungkinan, Tingkat keparahan, Tingkat risiko)
    2.3.1 Kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = tinggi
    2.3.2 Kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = tinggi
    2.3.3 Kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = tinggi
    2.3.4 Kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = tinggi
    2.3.5 Kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = tinggi
    2.3.6 Kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = tinggi
    2.3.7 Kemungkinan terjadi jarang x keparahan sedang = tinggi
    2.3.8 Kemungkinan terjadi jarang x keparahan sedang = tinggi
    2.3.9 Kemungkinan terjadi jarang x keparahan sedang = tinggi
    2.3.10 Kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = tinggi
    2.3.11 Kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = tinggi
    2.3.12 Kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = tinggi
    2.3.13 Kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = tinggi

    2.4 Pengendalian potensi bahaya (Eliminasi, Substitusi, Rekayasa Teknis, Administratif, APD)
    2.4.1 Bahan material yang berserakan
    2.4.1.1 Subtitusi: memindahkan bahan material ke tempat yang tidak mengganggu para pekerja
    2.4.1.2 Isolasi: memberikan tempat untuk bahan material
    2.4.2 Scaffolding yang tidak memenuhi standar
    2.4.2.1 Subtitusi: mengganti scaffolding yang layak di gunakan sesuai pekerjaan dengan aman
    2.4.3 Alat pelindung diri
    2.4.3.1 Adminitrasi: membuat JSA
    2.4.3.2 Training: memberi training ke pekerja
    2.4.3.3 PPE: memberikan alat pelindung diri dengan lengkap ke pekerja
    2.4.4 Bahaya cuaca (hujan, angin, kabut)
    2.4.4.1 Eliminasi: menghentikan pekerjaan berlangsung jika cuaca buruk
    2.4.4.2 Isolasi: memberikan atau membangunkan bangunan tempat berteduh
    2.4.5 Tidak memberikan training terhadap pekerja
    2.4.5.1 Adminitrasi: membuat JSA dan SOP
    2.4.5.2 Training: memberikan pelatihan ke pekerja
    2.4.6 Human error
    2.4.6.1 Adminitrasi: membuat JSA dan SOP
    2.4.6.2 Training: memberikan pelatihan ke pekerja
    2.4.7 Cipratan semen atau debu yang terkena mata
    2.4.7.1 Isolasi: menyiram ke area yang berdebu agar tidak menimbulkan debu
    2.4.7.2 PPE: memberikan APD seperti kaca mata dan masker
    2.4.8 Orang yang lalu lalang di sekeliling tempat berkerja
    2.4.8.1 Adminitrasi: membuat jalur khusus untuk berlalu lalang
    2.4.9 Tidak adanya pengawas pekerja saat berkerja
    2.4.9.1 Subtitusi: memberi ahli kontruksi bangunan untuk mengawas pekerja
    2.4.9.2 Adminitrasi: membuat JSA dan SOP
    2.4.9.3 Training: memberikan pelatihan ke semua pekerja
    2.4.10 Pekerja yang tidak ergonomi saat berkerja
    2.4.10.1 Adminitrasi: membuat JSA dan SOP
    2.4.10.2 Training: memberikan pelatihan ke pekerja
    2.4.11 Tidak adanya safety talk terhadap pekerja sebelum berkerja
    2.4.11.1 Adminitrasi: membuat JSA dan SOP
    2.4.12 Struktur tanah yang miring atau tanah yang gembur
    2.4.12.1 Isolasi: meratakan tanah yang miring
    2.4.12.2 Adminitrasi: memberikan JSA dan SOP
    2.4.12.3 PPE: memberikan alat pelindung diri ke pekerja
    2.4.13 Tidak adanya ahli kontruksi bangunan
    2.4.13.1 Adminitrasi: memberika JSA dan SOP

    2.5 Risiko sisa (Tingkat kemungkinan, Tingkat keparahan, Tingkat risiko)
    2.5.1 Kemungkinan jarang x keparahan ringan = resiko rendah
    2.5.2 Kemungkinan jarang x keparahan ringan = resiko rendah
    2.5.3 Kemungkinan jarang x keparahan ringan = resiko rendah
    2.5.4 Kemungkinan jarang x keparahan ringan = resiko rendah
    2.5.5 Kemungkinan jarang x keparahan ringan = resiko rendah
    2.5.6 Kemungkinan jarang x keparahan ringan = resiko rendah
    2.5.7 Kemungkinan jarang x keparahan ringan = resiko rendah
    2.5.8 Kemungkinan jarang x keparahan ringan = resiko rendah
    2.5.9 Kemungkinan jarang x keparahan ringan = resiko rendah
    2.5.10 Kemungkinan sulit terjadi x keparahan sedang = resiko rendah
    2.5.11 Kemungkinan sulit terjadi x keparahan sedang = resiko rendah
    2.5.12 Kemungkinan jarang x keparahan ringan = resiko rendah
    2.5.13 Kemungkinan jarang x keparahan ringan = resiko rendah

    Nama: Eka Fajar Bahari
    Kelas: B1 D4K3
    Semester: 5
    Npm: 13.11.106.701501.0834

  21. 1. Pekerjaan pemasangan bata ringan untuk perumahan dengan ketinggian sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.

    A.Potensi bahaya
    1.posisi kerja yang tidak sesuai dan tidak alami
    2.andang atau scaffolding yang terbuat dari kayu yang tidak di anjurkan untuk pekerjaan kontruksi di ketinggian
    3.Debu yang dihasilkan dari material bangunan yang digunakan yaitu bata ringan
    4.Tertimpa material bangunan
    5.tempat pekrja yang terbatas

    B.Konsekuensi
    1.Pekerja dapat mengalami WMSDs yang menyebabkan pekerjaan yang dilakukan menjadi terganggu
    2.1.pekerja dapat terjatuh akibat kontruksi andang yang tidak kokoh atau roboh karena keseimbangannya tidak sempurna dan

    pekerja mengalami patah tulang dan lebih parahnya kematian
    2.2.adang roboh dan terjadi kerusakan pada peralatan lain yang berada di atas andang

    3.Pekerja dapat mengalami gangguan pernapasan dan pengelihatan akibat debu

    4.1.Pekerja yang tertimpa material dapat mengalami cidera di kepala lebih parahnya gagar otak
    4.2.Peralatan yang tertimpa material dapat mengalami kerusakan

    5.Manusia : Pekerja dapat mengalami MSDs karena posisi tubuh pekerja bergerak dengan keterbatasan tempat

    C.Resiko awal
    1.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan besar terjadi
    1.2.Tingkat keparahan : Fatality
    1.3.Tingkat resiko : high

    2.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan besar terjadi
    2.2.Tingkat keparahan : Medical treatment
    2.3.Tingkat resiko : very high

    3.1.Tingkat kemungkinan : Pasti terjadi
    3.2.Tingkat keparahan : Medical treatment
    3.3.Tingkat resiko : High

    4.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan besar terjadi
    4.2.Tingkat keparahan : Fatality
    4.3.Tingkat resiko : Very high

    5.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan besar terjadi
    5.2.Tingkat keparahan : Medical treatment
    5.3.Tingkat resiko : Medium

    D.Pengendalian potensi bahaya
    1.memberikan pengertian akan bayaha MSDs dan memberikan arahan untuk selalu bekerja dengan merubah gerakan agar tidak

    terjadi MSDs sealian itu memberikan pelatihan terhadap pekerja

    2.1.Menggunakan scafolding yang sesuai dengan standar untuk membantu bekerja di ketinggian
    2.2.memberikan pengertian akan bahaya yang di timbulkan pekerjaan kontruksi di ketinggian
    2.3.memberikan APD sesuai dengan potensi bahaya yang ada

    3.ekerja diberikan masker saat bekerja agar debu tidak gterhirup saat bernafas dan kacamata untuk melindungi pengelihatan

    pekerja saat bekerja

    4.1.Memasang jaring pengaman di sekitar bangunan agar saat material jatuh dapat tertahan oleh jaring
    4.2.Pekerja diberikan helm dan sepatu safety

    5.Mengatur pola jam kerja tidak lebih dari 8 jam per hari agar pekerja tidak kelelahan dan kurang fokus akibat jam kerja

    yang tidak normal

    E.Resiko yang tersisa
    1.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan kecil terjadi
    1.2.Tingkat keparahan : Fatality
    1.3.Tingkat resiko : Medium

    2.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan kecil terjadi
    2.2.Tingkat keparahan : Medical treatment
    2.3.Tingkat resiko : Low

    3.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan kecil terjadi
    3.2.Tingkat keparahan : First aid case
    3.3.Tingkat resiko : Low

    4.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan kecil terjadi
    4.2.Tingkat keparahan : Fatality
    4.3.Tingkat resiko : Medium

    5.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan kecil terjadi
    5.2.Tingkat keparahan : First aid case
    5.3.Tingkat resiko : Low

    2. Pekerjaan pemasangan bata ringan untuk gedung bertingkat dengan ketinggian diatas 3,00 meter.

    A.Potensi bahaya
    1.bahaya bekerja di ketinggian
    2.bahaya cuaca (angin kencang)
    3.bahaya dari kontruksi scaffolding (kuat tidaknya kontruksi scaffolding)
    4.tempat yang terbatas untuk pekerja
    5.bahaya manusianya sendiri (dalam keadaan sehat atau tidaknya,kosentrasinya atau tidaknya)

    B.Konsekuensi
    1.Pekerja yang terjatuh dari ketinggian dapat mengalami kematian
    2.pekerjaan tertundah akibat cuaca yang buruk
    3.1.Pekerja dapat terjatuh akibat robohnya scaffolding yng tidak kokoh
    3.2.kerusakan alat yang terjatuh dari ketinggian dan rangka scaffolding yang roboh

    4.ruang gerak pekerja terbatas dan dapat mengalami stres pekerjaan akibat melakukan gerakan yang samadan menjadikan pekerja

    cepat lelah kemudian kosentrasi berkurang

    5.Pekerja dapat mengalami kelelahan atau fatique yang menyebabkan pekerja kurang fokus dalam bekerja

    C.Resiko awal
    1.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan besar terjadi
    1.2.Tingkat keparahan : Fatality
    1.3.Tingkat resiko : Very high

    2.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan kecil terjadi
    2.2.Tingkat keparahan : Medical treatment
    2.3.Tingkat resiko : Low

    3.1.Tingkat kemungkinan : kemungkinan besar terjadi
    3.2.Tingkat keparahan : Medical treatment
    3.3.Tingkat resiko : very High

    4.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan besar terjadi
    4.2.Tingkat keparahan : Fatality
    4.3.Tingkat resiko : Very high

    5.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan besar terjadi
    5.2.Tingkat keparahan : Medical treatment
    5.3.Tingkat resiko : Medium

    D.Pengendalian potensi bahaya
    1.1.memeberikan pagar di sekeliling scaffolding dimana pekerja itu bekerja
    1.2.meberikan bodyharness pada pekerja tersebut
    1.3.memberikan jaring jarring di bagian luar scaffolding

    2.(tidak perlu pengendlian lagi karena tingkat resiko sebelumnya low)
    3.penegcekan scaffolding setelah pemasangan scaffolding tersebut,apakah sudah benar-benar kokoh dan siap untuk di

    aplikasikan

    4.memperluas area kerja pekerja dengan menambah kontruksi scaffolding di sekitarnya
    5.Mengatur jadwal kerja yang sesuai dengan peraturan pemerintah agar pekerja juga memiliki jam istirahat yang cukup.

    E.Resiko yang tersisa

    1.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan kecil terjadi
    1.2.Tingkat keparahan : Fatality
    1.3.Tingkat resiko : Medium

    2.(tidak perlu perhitungan risk matriks lagi karena tingkat resiko sebelumnya low)

    3.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan kecil terjadi
    3.2.Tingkat keparahan : First aid case
    3.3.Tingkat resiko : Low

    4.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan kecil terjadi
    4.2.Tingkat keparahan : Fatality
    4.3.Tingkat resiko : Medium

    5.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan kecil terjadi
    5.2.Tingkat keparahan : First aid case
    5.3.Tingkat resiko : Low

    Nama : alfian abdul kamid kusnudin

    NPM : 13.11.106.701501.0838

    Semester : 5

    Kelas : B1

  22. 1.1 Potensi bahaya
    1.1.1 Pekerja yang tidak berkompenten
    1.1.2 Terdapat saluran pipa atau kabel listrik di sekitar pekerjaan pembangunan
    1.1.3 Gangguan cuaca
    1.1.4 Debu-debu dan partikel dari pasir dan semen
    1.1.5 Material terjatuh dari atas
    1.1.6 Adanya orang yang tidak berkepentingan berlalu lalang di sekitar pekerjaan pembangunan
    1.1.7 Permukaan tanah yang tidak stabil dan tidak rata
    1.1.8 Penggunaan tangga yang tidak standart
    1.1.9 Getaran dari alat stamper untuk meratakan dari tanah
    1.1.10 Ergonomi pergerakan dari pekerjaan
    1.1.11 Pengaturan jam kerja yang lebih dari 8 jam
    1.1.12 Pekerjaan yang di lakukan kurang pencahayaan
    1.1.13 Kubangan air bekas adukan semen
    1.1.14 Pengunaan scaffolding yang tidak sesuai
    1.1.15 Bahaya ketinggian
    1.1.16 Pengakatan mataerial atau campuran semen yang mengunakan tali

    1.2 Deskripsi konsekuensi terhadap manusia,alat/peralatan,lingkungan
    1.2.1 Pekerja yang tidak berkompenten: pekerja bisa mengalami cedera
    1.2.2 Terdapat saluran pipa atau kabel listrik di sekitar pekerjaan pembangunan: pekerja bisa tersandung dan tersetrum
    1.2.3 Gangguan cuaca: pekerjaan bisa tertunda yang mengakibatkan kerugian
    1.2.4 Debu-debu dan partikel dari pasir dan semen: pekerja bisa mengalami ispa dan mengganggu pengelihatan
    1.2.5 Material terjatuh dari atas: pekerja bisa tertimpa dan mengalami cedera
    1.2.6 Adanya orang yang tidak berkepentingan berlalu lalang di sekitar pekerjaan: Orang yang lewat bisa mengalami cedera dan bia menghambat pekerjaan
    1.2.7 Permukaan tanah yang tidak stabil dan tidak rata: bisa terjadinya longsor
    1.2.8 Penggunaan tangga yang tidak standart: Perkerja bisa mengalami patah tulang
    1.2.9 Getaran dari alat stamper: Pekerja bisa mengalami cedera
    1.2.10 Ergonomi pergerakan dari pekerjaan:Pekerja mengalami cedera (fatiq)
    1.2.11 Pengaturan jam kerja yang lebih dari 8 jam: Pekerja mengalam fatiq
    1.2.12 Pekerjaan yang di lakukan kurang pencahayaan: Pekerja bisa mengalami cedera
    1.2.13 Kubangan air bekas adukan semen: pekerja bisa mengalami penyakit kulit
    1.2.14 Pengunaan scaffolding yang tidak sesuai: pekerja bisa terjatuh dan mengalami patah tulang
    1.2.15 Bahaya ketinggian: Pekerja bisa terjatuh
    1.2.16 Pengakatan mataerial atau campuran semen yang mengunakan tali: Material bisa terjatuh yang bisa menimpa pekerja dan kerugian materi

    1.3 Resiko awal
    1.3.1 Pekerja yang tidak berkompenten :kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = tinggi
    1.3.2 Terdapat saluran pipa atau kabel listrik di sekitar pekerjaan pembangunan :kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = tinggi
    1.3.3 Gangguan cuaca :kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = tinggi
    1.3.4 Debu-debu dan partikel dari pasir dan semen :kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = tinggi
    1.3.5 Material terjatuh dari atas :kemungkinan terjadi jarang x keparahan serius = tinggi
    1.3.6 Adanya orang yang tidak berkepentingan berlalu lalang di sekitar pekerjaan pembangunan :kemungkinan terjadi jarang x keparahan serius = tinggi
    1.3.7 Permukaan tanah yang tidak stabil dan tidak rata :kemungkinan terjadi sering x keparahan serius = tinggi
    1.3.8 Penggunaan tangga yang tidak standart :kemungkinan terjadi jarang x keparahan serius = tinggi
    1.3.9 Getaran dari alat stamper untuk meratakan dari tanah :kemungkinan terjadi jarang x keparahan serius = tinggi
    1.3.10 Ergonomi pergerakan dari pekerjaan :kemungkinan terjadi sering x keparahan serius = tinggi
    1.3.11 Pengaturan jam kerja yang lebih dari 8 jam :kemungkinan terjadi sering x keparahan serius = tinggi
    1.3.12 Pekerjaan yang di lakukan kurang pencahayaan :kemungkinan terjadi sering x keparahan serius = tinggi
    1.3.13 Kubangan air bekas adukan semen :kemungkinan terjadi sering x keparahan serius = tinggi
    1.3.14 Pengunaan scaffolding yang tidak sesuai :kemungkinan terjadi jarang x keparahan serius = tinggi
    1.3.15 Bahaya ketinggian :kemungkinan terjadi jarang x keparahan serius = tinggi
    1.3.16 Pengakatan mataerial atau campuran semen yang mengunakan tali :kemungkinan terjadi jarang x keparahan serius = tinggi

    1.4. pengendalian potensi bahaya
    1.4.1 Pekerja yang tidak berkompenten
    1.4.1.1 subtitusi : menganti pekerja yang memiliki sertifikat dan berkompenten
    1.4.1.2 administrasi : memberikan training
    1.4.1.3 APD
    1.4.2 Terdapat saluran pipa atau kabel listrik di sekitar pekerjaan pembangunan
    1.4.1.1 isolasi :memasangkan pelindung di daerah sekitar tali dan pipa
    1.4.1.2 admintrasi : buat rambu” untung menunjukan adanya pipa dan tali
    1.4.3 Gangguan cuaca
    1.4.3.1 eliminasi : menghentikan pekerjaan bila cuaca terlihat mendung/hujan
    1.4.3.2 isolasi : mengisolasi tempat istirahat kerja jauh daridari paparan langsung terik matahari
    1.4.3.3 administrasi : memberikan pelatihan untuk pekerjaan saat cuaca buruk
    1.4.4 Debu-debu dan partikel dari pasir dan semen
    1.4.4.1 isolasi : memberi tempat khusus untuk pasir dan semen
    1.4.4.2 APD
    1.4.5 Material terjatuh dari atas
    1.4.5.1 administrasi : memberikan rambu hati” material terjatuh
    1.4.5.2 APD
    1.4.6 Adanya orang yang tidak berkepentingan berlalu lalang di sekitar pekerjaan pembangunan
    1.4.6.1 isolasi: memasang barikade di sekitar pekerjaan
    1.4.6.2 administrasi: pemasangan rambu” di sekitar pkerjaan dan memberi pengawas
    1.4.7 Permukaan tanah yang tidak stabil dan tidak rata
    1.4.7.1 isolasi :memadatkan sruktur tanah dengan papan tau plat baja
    1.4.7.2 admintrasi : buat rambu” atau pemberi tahuan struktur tanah
    1.4.8 Penggunaan tangga yang tidak standart
    1.4.8.1 subtitusi: menganti tangga yang memenuhi standart
    1.4.8.2 administrasi: memberikan training,jsa dan sop
    1.4.8.3 APD
    1.4.9 Getaran dari alat stamper untuk meratakan dari tanah
    1.4.9.1 subtitusi: menganti stamper dengan roller
    1.4.9.2 administrasi: memberikan training
    1.4.10 Ergonomi pergerakan dari pekerjaan
    1.4.10.1 administrasi: memberikan training,jsa dan sop
    1.4.11 Pengaturan jam kerja yang lebih dari 8 jam
    1.4.11.1 eliminasi: memberhentikan pekerjaan jika lebih dari 8 jam
    1.4.11.2 administrasi: memberlakukan shift kerja
    1.4.12 Pekerjaan yang di lakukan kurang pencahayaan
    1.4.12.1 rekayasa teknis: pemasangan lampu sorot
    1.4.12.1 administrasi: memberikan training,jsa dan sop
    1.4.13 Kubangan air bekas adukan semen
    1.4.13.1 eliminasi: menghilangkan kubangan
    1.4.13.2 rekayasa teknik: mengaduk semen dengan mesin pengaduk
    1.4.13.3 isolasi: memberi tempat khusus mengaduk semen
    1.4.14 Pengunaan scaffolding yang tidak sesuai
    1.4.14.1 subtitusi: mengganti scaffolding dengan yang sesuai standart
    1.4.14.2 administrasi: memberikan training,jsa dan sop
    1.4.14.3 APD
    1.4.15 Bahaya ketinggian
    1.4.15.1 administrasi: memberikan training jsa dan sop
    1.4.15.2 APD
    1.4.16 Pengakatan mataerial atau campuran semen yang mengunakan tali
    1.4.16.1 subtitusi: menganti tali dengan chain block

    1.5 Resiko sisa
    1.5.1 Pekerja yang tidak berkompenten :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah
    1.5.2 Terdapat saluran pipa atau kabel listrik di sekitar pekerjaan pembangunan :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah
    1.5.3 Gangguan cuaca :kemungkinan jarang x keparahan sedang = rendah
    1.5.4 Debu-debu dan partikel dari pasir dan semen :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah
    1.5.5 Material terjatuh dari atas :kemungkinan jarang x keparahan sedang = rendah
    1.5.6 Adanya orang yang tidak berkepentingan berlalu lalang di sekitar pekerjaan pembangunan :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah
    1.5.7 Permukaan tanah yang tidak stabil dan tidak rata :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah
    1.5.8 Penggunaan tangga yang tidak standart :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah
    1.5.9 Getaran dari alat stamper untuk meratakan dari tanah :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah
    1.5.10 Ergonomi pergerakan dari pekerjaan :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah
    1.5.11 Pengaturan jam kerja yang lebih dari 8 jam :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah
    1.5.12 Pekerjaan yang di lakukan kurang pencahayaan :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah
    1.5.13 Kubangan air bekas adukan semen :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah
    1.5.14 Pengunaan scaffolding yang tidak sesuai :kemungkinan terjadi jarang x keparahan ringan = rendah
    1.5.15 Bahaya ketinggian :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah
    1.5.16 Pengakatan mataerial atau campuran semen yang mengunakan tali :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah

    2.1 Potensi bahaya
    2.1.1 Pekerja yang tidak berkompenten
    2.1.2 Terdapat saluran pipa atau kabel listrik di sekitar pekerjaan pembangunan
    2.1.3 Gangguan cuaca
    2.1.4 Debu-debu dan partikel dari pasir dan semen
    2.1.5 Material terjatuh dari atas
    2.1.6 Adanya orang yang tidak berkepentingan berlalu lalang di sekitar pekerjaan pembangunan
    2.1.7 Permukaan tanah yang tidak stabil dan tidak rata
    2.1.8 Penggunaan tangga yang tidak standart
    2.1.9 Getaran dari pemasangan paku bumi atau pondasi
    2.1.10 Ergonomi pergerakan dari pekerjaan
    2.1.11 Pengaturan jam kerja yang lebih dari 8 jam
    2.1.12 Pekerjaan yang di lakukan kurang pencahayaan
    2.1.13 Kubangan air bekas adukan semen
    2.1.14 Pengunaan scaffolding yang tidak sesuai
    2.1.15 Bahaya ketinggian
    2.1.16 Pengakatan mataerial mengunakan crane
    2.1.17 Jalur keluar masuk pengangkut material yang terbuka

    2.2 Deskripsi konsekuensi terhadap manusia,alat/peralatan,lingkungan
    2.2.1 Pekerja yang tidak berkompenten: pekerja bisa mengalami cedera
    2.2.2 Terdapat saluran pipa atau kabel listrik di sekitar pekerjaan pembangunan: pekerja bisa tersandung dan tersetrum
    2.2.3 Gangguan cuaca: pekerjaan bisa tertunda yang mengakibatkan kerugian
    2.2.4 Debu-debu dan partikel dari pasir dan semen: pekerja bisa mengalami ispa dan mengganggu pengelihatan
    2.2.5 Material terjatuh dari atas: pekerja bisa tertimpa dan mengalami cedera
    2.2.6 Adanya orang yang tidak berkepentingan berlalu lalang di sekitar pekerjaan: Orang yang lewat bisa mengalami cedera dan bia menghambat pekerjaan
    2.2.7 Permukaan tanah yang tidak stabil dan tidak rata: bisa terjadinya longsor
    2.2.8 Penggunaan tangga yang tidak standart: Perkerja bisa mengalami patah tulang
    2.2.9 Getaran dari pemasangan paku bumi atau pondasi: Pekerja bisa mengalami cedera
    2.2.10 Ergonomi pergerakan dari pekerjaan:Pekerja mengalami cedera (fatiq)
    2.2.11 Pengaturan jam kerja yang lebih dari 8 jam: Pekerja mengalam fatiq
    2.2.12 Pekerjaan yang di lakukan kurang pencahayaan: Pekerja bisa mengalami cedera
    2.2.13 Kubangan air bekas adukan semen: pekerja bisa mengalami penyakit kulit
    2.2.14 Pengunaan scaffolding yang tidak sesuai: pekerja bisa terjatuh dan mengalami patah tulang
    2.2.15 Bahaya ketinggian: Pekerja bisa terjatuh
    2.2.16 Pengakatan mataerial atau campuran semen yang mengunakan crane: Material bisa terjatuh yang bisa menimpa pekerja dan bisa terjadi tabrakan dengan bangunaan sekitar
    2.2.17 Jalur keluar masuk pengakut material yang terbuka: Menimbulan kerugian materi karena material bisa di ambil orang sekitar

    2.3 Resiko awal
    2.3.1 Pekerja yang tidak berkompenten :kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = tinggi
    2.3.2 Terdapat saluran pipa atau kabel listrik di sekitar pekerjaan pembangunan :kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = tinggi
    2.3.3 Gangguan cuaca :kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = tinggi
    2.3.4 Debu-debu dan partikel dari pasir dan semen :kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = tinggi
    2.3.5 Material terjatuh dari atas :kemungkinan terjadi jarang x keparahan serius = tinggi
    2.3.6 Adanya orang yang tidak berkepentingan berlalu lalang di sekitar pekerjaan pembangunan :kemungkinan terjadi jarang x keparahan serius = tinggi
    2.3.7 Permukaan tanah yang tidak stabil dan tidak rata :kemungkinan terjadi sering x keparahan serius = tinggi
    2.3.8 Penggunaan tangga yang tidak standart :kemungkinan terjadi jarang x keparahan serius = tinggi
    2.3.9 Getaran dari pemasangan paku bumi atau pondasi :kemungkinan terjadi jarang x keparahan serius = tinggi
    2.3.10 Ergonomi pergerakan dari pekerjaan :kemungkinan terjadi sering x keparahan serius = tinggi
    2.3.11 Pengaturan jam kerja yang lebih dari 8 jam :kemungkinan terjadi sering x keparahan serius = tinggi
    2.3.12 Pekerjaan yang di lakukan kurang pencahayaan :kemungkinan terjadi sering x keparahan serius = tinggi
    2.3.13 Kubangan air bekas adukan semen :kemungkinan terjadi sering x keparahan serius = tinggi
    2.3.14 Pengunaan scaffolding yang tidak sesuai :kemungkinan terjadi jarang x keparahan serius = tinggi
    2.3.15 Bahaya ketinggian :kemungkinan terjadi jarang x keparahan serius = tinggi
    2.3.16 Pengakatan mataerial atau campuran semen yang mengunakan crane :kemungkinan terjadi jarang x keparahan serius = tinggi
    2.3.17 Jalur keluar masuk pengakut material yang terbuka :kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = tinggi

    2.4. pengendalian potensi bahaya
    2.4.1 Pekerja yang tidak berkompenten
    2.4.1.1 subtitusi : menganti pekerja yang memiliki sertifikat dan berkompenten
    2.4.1.2 administrasi : memberikan training
    2.4.1.3 APD
    2.4.2 Terdapat saluran pipa atau kabel listrik di sekitar pekerjaan pembangunan
    2.4.1.1 isolasi :memasangkan pelindung di daerah sekitar tali dan pipa
    2.4.1.2 admintrasi : buat rambu” untung menunjukan adanya pipa dan tali
    2.4.3 Gangguan cuaca
    2.4.3.1 eliminasi : menghentikan pekerjaan bila cuaca terlihat mendung/hujan
    2.4.3.2 isolasi : mengisolasi tempat istirahat kerja jauh daridari paparan langsung terik matahari
    2.4.3.3 administrasi : memberikan pelatihan untuk pekerjaan saat cuaca buruk
    2.4.4 Debu-debu dan partikel dari pasir dan semen
    2.4.4.1 isolasi : memberi tempat khusus untuk pasir dan semen
    2.4.4.2 APD
    2.4.5 Material terjatuh dari atas
    2.4.5.1 administrasi : memberikan rambu hati” material terjatuh
    2.4.5.2 APD
    2.4.6 Adanya orang yang tidak berkepentingan berlalu lalang di sekitar pekerjaan pembangunan
    2.4.6.1 isolasi: memasang barikade di sekitar pekerjaan
    2.4.6.2 administrasi: pemasangan rambu” di sekitar pkerjaan dan memberi pengawas
    2.4.7 Permukaan tanah yang tidak stabil dan tidak rata
    2.4.7.1 isolasi :memadatkan sruktur tanah dengan papan tau plat baja
    2.4.7.2 admintrasi : buat rambu” atau pemberi tahuan struktur tanah
    2.4.8 Penggunaan tangga yang tidak standart
    2.4.8.1 subtitusi: menganti tangga yang memenuhi standart
    2.4.8.2 administrasi: memberikan training,jsa dan sop
    2.4.8.3 APD
    2.4.9 Getaran dari pemasangan paku bumi atau pondasi
    2.4.9.1 eliminasi: para pekerja berada di luar daerah pemasangan paku bumi
    2.4.9.2 administrasi: memberikan training dan memberikan rambu
    2.4.10 Ergonomi pergerakan dari pekerjaan
    2.4.10.1 administrasi: memberikan training,jsa dan sop
    2.4.11 Pengaturan jam kerja yang lebih dari 8 jam
    2.4.11.1 eliminasi: memberhentikan pekerjaan jika lebih dari 8 jam
    2.4.11.2 administrasi: memberlakukan shift kerja
    2.4.12 Pekerjaan yang di lakukan kurang pencahayaan
    2.4.12.1 rekayasa teknis: pemasangan lampu sorot
    2.4.12.1 administrasi: memberikan training,jsa dan sop
    2.4.13 Kubangan air bekas adukan semen
    2.4.13.1 eliminasi: menghilangkan kubangan
    2.4.13.2 rekayasa teknik: mengaduk semen dengan mesin pengaduk
    2.4.13.3 isolasi: memberi tempat khusus mengaduk semen
    2.4.14 Pengunaan scaffolding yang tidak sesuai
    2.4.14.1 subtitusi: mengganti scaffolding dengan yang sesuai standart
    2.4.14.2 administrasi: memberikan training,jsa dan sop
    2.4.14.3 APD
    2.4.15 Bahaya ketinggian
    2.4.15.1 administrasi: memberikan training jsa dan sop
    2.4.15.2 APD
    2.4.16 Pengakatan mataerial yang mengunakan crane
    2.4.16.1 administrasi: memberi pengawas dari bawah untuk operator crane,memberikan rambu-rambu,pemberian sop dan jsa
    2.4.17 Jalur keluar masuk pengakut material yang terbuka
    2.4.17.1 Isolasi: pemberian barikade di sekitar jalan keluar masuk
    2.4.17.2 administrasi: pemberian pengawas di sekitar dan memberikan rambu-rambu

    2.5 Resiko sisa
    2.5.1 Pekerja yang tidak berkompenten :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah
    2.5.2 Terdapat saluran pipa atau kabel listrik di sekitar pekerjaan pembangunan :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah
    2.5.3 Gangguan cuaca :kemungkinan jarang x keparahan sedang = rendah
    2.5.4 Debu-debu dan partikel dari pasir dan semen :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah
    2.5.5 Material terjatuh dari atas :kemungkinan jarang x keparahan sedang = rendah
    2.5.6 Adanya orang yang tidak berkepentingan berlalu lalang di sekitar pekerjaan pembangunan :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah
    2.5.7 Permukaan tanah yang tidak stabil dan tidak rata :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah
    2.5.8 Penggunaan tangga yang tidak standart :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah
    2.5.9 Getaran dari pemasangan paku bumi atau pondasi :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah
    2.5.10 Ergonomi pergerakan dari pekerjaan :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah
    2.5.11 Pengaturan jam kerja yang lebih dari 8 jam :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah
    2.5.12 Pekerjaan yang di lakukan kurang pencahayaan :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah
    2.5.13 Kubangan air bekas adukan semen :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah
    2.5.14 Pengunaan scaffolding yang tidak sesuai :kemungkinan terjadi jarang x keparahan ringan = rendah
    2.5.15 Bahaya ketinggian :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah
    2.5.16 Pengakatan mataerial yang mengunakan crane :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah
    2.5.17 Jalan keluar masuk pengakut material yang terbuka : kemungkinan sulit terjadi x keparahan ringan = rendah

    Nama : Sendy eki tanos
    NPM : 13.11.106.701501.0855
    Kelas : B1 (Sore)
    Semester : 5

    • Cantumkan nama jenis pekerjaannya untuk memudahkan melakukan risk assessment. Harap perbaiki kembali tugas anda ini dengan cara klik “Reply” dibawah komentar ini, hal ini agar proses perbaikan anda dapat mudah ditelusuri.

      • 1.Pekerjaan pemasangan batu bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah

        1.1 Potensi bahaya
        1.1.1 Pekerja yang tidak berkompenten
        1.1.2 Terdapat saluran pipa atau kabel listrik di sekitar pekerjaan pembangunan
        1.1.3 Gangguan cuaca
        1.1.4 Debu-debu dan partikel dari pasir dan semen
        1.1.5 Material terjatuh dari atas
        1.1.6 Adanya orang yang tidak berkepentingan berlalu lalang di sekitar pekerjaan pembangunan
        1.1.7 Permukaan tanah yang tidak stabil dan tidak rata
        1.1.8 Penggunaan tangga yang tidak standart
        1.1.9 Getaran dari alat stamper untuk meratakan dari tanah
        1.1.10 Ergonomi pergerakan dari pekerjaan
        1.1.11 Pengaturan jam kerja yang lebih dari 8 jam
        1.1.12 Pekerjaan yang di lakukan kurang pencahayaan
        1.1.13 Kubangan air bekas adukan semen
        1.1.14 Pengunaan scaffolding yang tidak sesuai
        1.1.15 Bahaya ketinggian
        1.1.16 Pengakatan mataerial atau campuran semen yang mengunakan tali

        1.2 Deskripsi konsekuensi terhadap manusia,alat/peralatan,lingkungan
        1.2.1 Pekerja yang tidak berkompenten: pekerja bisa mengalami cedera
        1.2.2 Terdapat saluran pipa atau kabel listrik di sekitar pekerjaan pembangunan: pekerja bisa tersandung dan tersetrum
        1.2.3 Gangguan cuaca: pekerjaan bisa tertunda yang mengakibatkan kerugian
        1.2.4 Debu-debu dan partikel dari pasir dan semen: pekerja bisa mengalami ispa dan mengganggu pengelihatan
        1.2.5 Material terjatuh dari atas: pekerja bisa tertimpa dan mengalami cedera
        1.2.6 Adanya orang yang tidak berkepentingan berlalu lalang di sekitar pekerjaan: Orang yang lewat bisa mengalami cedera dan bia menghambat pekerjaan
        1.2.7 Permukaan tanah yang tidak stabil dan tidak rata: bisa terjadinya longsor
        1.2.8 Penggunaan tangga yang tidak standart: Perkerja bisa mengalami patah tulang
        1.2.9 Getaran dari alat stamper: Pekerja bisa mengalami cedera
        1.2.10 Ergonomi pergerakan dari pekerjaan:Pekerja mengalami cedera (fatiq)
        1.2.11 Pengaturan jam kerja yang lebih dari 8 jam: Pekerja mengalam fatiq
        1.2.12 Pekerjaan yang di lakukan kurang pencahayaan: Pekerja bisa mengalami cedera
        1.2.13 Kubangan air bekas adukan semen: pekerja bisa mengalami penyakit kulit
        1.2.14 Pengunaan scaffolding yang tidak sesuai: pekerja bisa terjatuh dan mengalami patah tulang
        1.2.15 Bahaya ketinggian: Pekerja bisa terjatuh
        1.2.16 Pengakatan mataerial atau campuran semen yang mengunakan tali: Material bisa terjatuh yang bisa menimpa pekerja dan kerugian materi

        1.3 Resiko awal
        1.3.1 Pekerja yang tidak berkompenten :kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = tinggi
        1.3.2 Terdapat saluran pipa atau kabel listrik di sekitar pekerjaan pembangunan :kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = tinggi
        1.3.3 Gangguan cuaca :kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = tinggi
        1.3.4 Debu-debu dan partikel dari pasir dan semen :kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = tinggi
        1.3.5 Material terjatuh dari atas :kemungkinan terjadi jarang x keparahan serius = tinggi
        1.3.6 Adanya orang yang tidak berkepentingan berlalu lalang di sekitar pekerjaan pembangunan :kemungkinan terjadi jarang x keparahan serius = tinggi
        1.3.7 Permukaan tanah yang tidak stabil dan tidak rata :kemungkinan terjadi sering x keparahan serius = tinggi
        1.3.8 Penggunaan tangga yang tidak standart :kemungkinan terjadi jarang x keparahan serius = tinggi
        1.3.9 Getaran dari alat stamper untuk meratakan dari tanah :kemungkinan terjadi jarang x keparahan serius = tinggi
        1.3.10 Ergonomi pergerakan dari pekerjaan :kemungkinan terjadi sering x keparahan serius = tinggi
        1.3.11 Pengaturan jam kerja yang lebih dari 8 jam :kemungkinan terjadi sering x keparahan serius = tinggi
        1.3.12 Pekerjaan yang di lakukan kurang pencahayaan :kemungkinan terjadi sering x keparahan serius = tinggi
        1.3.13 Kubangan air bekas adukan semen :kemungkinan terjadi sering x keparahan serius = tinggi
        1.3.14 Pengunaan scaffolding yang tidak sesuai :kemungkinan terjadi jarang x keparahan serius = tinggi
        1.3.15 Bahaya ketinggian :kemungkinan terjadi jarang x keparahan serius = tinggi
        1.3.16 Pengakatan mataerial atau campuran semen yang mengunakan tali :kemungkinan terjadi jarang x keparahan serius = tinggi

        1.4. pengendalian potensi bahaya
        1.4.1 Pekerja yang tidak berkompenten
        1.4.1.1 subtitusi : menganti pekerja yang memiliki sertifikat dan berkompenten
        1.4.1.2 administrasi : memberikan training
        1.4.1.3 APD
        1.4.2 Terdapat saluran pipa atau kabel listrik di sekitar pekerjaan pembangunan
        1.4.1.1 isolasi :memasangkan pelindung di daerah sekitar tali dan pipa
        1.4.1.2 admintrasi : buat rambu” untung menunjukan adanya pipa dan tali
        1.4.3 Gangguan cuaca
        1.4.3.1 eliminasi : menghentikan pekerjaan bila cuaca terlihat mendung/hujan
        1.4.3.2 isolasi : mengisolasi tempat istirahat kerja jauh daridari paparan langsung terik matahari
        1.4.3.3 administrasi : memberikan pelatihan untuk pekerjaan saat cuaca buruk
        1.4.4 Debu-debu dan partikel dari pasir dan semen
        1.4.4.1 isolasi : memberi tempat khusus untuk pasir dan semen
        1.4.4.2 APD
        1.4.5 Material terjatuh dari atas
        1.4.5.1 administrasi : memberikan rambu hati” material terjatuh
        1.4.5.2 APD
        1.4.6 Adanya orang yang tidak berkepentingan berlalu lalang di sekitar pekerjaan pembangunan
        1.4.6.1 isolasi: memasang barikade di sekitar pekerjaan
        1.4.6.2 administrasi: pemasangan rambu” di sekitar pkerjaan dan memberi pengawas
        1.4.7 Permukaan tanah yang tidak stabil dan tidak rata
        1.4.7.1 isolasi :memadatkan sruktur tanah dengan papan tau plat baja
        1.4.7.2 admintrasi : buat rambu” atau pemberi tahuan struktur tanah
        1.4.8 Penggunaan tangga yang tidak standart
        1.4.8.1 subtitusi: menganti tangga yang memenuhi standart
        1.4.8.2 administrasi: memberikan training,jsa dan sop
        1.4.8.3 APD
        1.4.9 Getaran dari alat stamper untuk meratakan dari tanah
        1.4.9.1 subtitusi: menganti stamper dengan roller
        1.4.9.2 administrasi: memberikan training
        1.4.10 Ergonomi pergerakan dari pekerjaan
        1.4.10.1 administrasi: memberikan training,jsa dan sop
        1.4.11 Pengaturan jam kerja yang lebih dari 8 jam
        1.4.11.1 eliminasi: memberhentikan pekerjaan jika lebih dari 8 jam
        1.4.11.2 administrasi: memberlakukan shift kerja
        1.4.12 Pekerjaan yang di lakukan kurang pencahayaan
        1.4.12.1 rekayasa teknis: pemasangan lampu sorot
        1.4.12.1 administrasi: memberikan training,jsa dan sop
        1.4.13 Kubangan air bekas adukan semen
        1.4.13.1 eliminasi: menghilangkan kubangan
        1.4.13.2 rekayasa teknik: mengaduk semen dengan mesin pengaduk
        1.4.13.3 isolasi: memberi tempat khusus mengaduk semen
        1.4.14 Pengunaan scaffolding yang tidak sesuai
        1.4.14.1 subtitusi: mengganti scaffolding dengan yang sesuai standart
        1.4.14.2 administrasi: memberikan training,jsa dan sop
        1.4.14.3 APD
        1.4.15 Bahaya ketinggian
        1.4.15.1 administrasi: memberikan training jsa dan sop
        1.4.15.2 APD
        1.4.16 Pengakatan mataerial atau campuran semen yang mengunakan tali
        1.4.16.1 subtitusi: menganti tali dengan chain block

        1.5 Resiko sisa
        1.5.1 Pekerja yang tidak berkompenten :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah
        1.5.2 Terdapat saluran pipa atau kabel listrik di sekitar pekerjaan pembangunan :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah
        1.5.3 Gangguan cuaca :kemungkinan jarang x keparahan sedang = rendah
        1.5.4 Debu-debu dan partikel dari pasir dan semen :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah
        1.5.5 Material terjatuh dari atas :kemungkinan jarang x keparahan sedang = rendah
        1.5.6 Adanya orang yang tidak berkepentingan berlalu lalang di sekitar pekerjaan pembangunan :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah
        1.5.7 Permukaan tanah yang tidak stabil dan tidak rata :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah
        1.5.8 Penggunaan tangga yang tidak standart :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah
        1.5.9 Getaran dari alat stamper untuk meratakan dari tanah :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah
        1.5.10 Ergonomi pergerakan dari pekerjaan :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah
        1.5.11 Pengaturan jam kerja yang lebih dari 8 jam :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah
        1.5.12 Pekerjaan yang di lakukan kurang pencahayaan :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah
        1.5.13 Kubangan air bekas adukan semen :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah
        1.5.14 Pengunaan scaffolding yang tidak sesuai :kemungkinan terjadi jarang x keparahan ringan = rendah
        1.5.15 Bahaya ketinggian :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah
        1.5.16 Pengakatan mataerial atau campuran semen yang mengunakan tali :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah

        2.Pekerjaan pemasangan batu bata ringan untuk gedung bertingkat dengan ketinggian di atas 3,00 meter.

        2.1 Potensi bahaya
        2.1.1 Pekerja yang tidak berkompenten
        2.1.2 Terdapat saluran pipa atau kabel listrik di sekitar pekerjaan pembangunan
        2.1.3 Gangguan cuaca
        2.1.4 Debu-debu dan partikel dari pasir dan semen
        2.1.5 Material terjatuh dari atas
        2.1.6 Adanya orang yang tidak berkepentingan berlalu lalang di sekitar pekerjaan pembangunan
        2.1.7 Permukaan tanah yang tidak stabil dan tidak rata
        2.1.8 Penggunaan tangga yang tidak standart
        2.1.9 Getaran dari pemasangan paku bumi atau pondasi
        2.1.10 Ergonomi pergerakan dari pekerjaan
        2.1.11 Pengaturan jam kerja yang lebih dari 8 jam
        2.1.12 Pekerjaan yang di lakukan kurang pencahayaan
        2.1.13 Kubangan air bekas adukan semen
        2.1.14 Pengunaan scaffolding yang tidak sesuai
        2.1.15 Bahaya ketinggian
        2.1.16 Pengakatan mataerial mengunakan crane
        2.1.17 Jalur keluar masuk pengangkut material yang terbuka

        2.2 Deskripsi konsekuensi terhadap manusia,alat/peralatan,lingkungan
        2.2.1 Pekerja yang tidak berkompenten: pekerja bisa mengalami cedera
        2.2.2 Terdapat saluran pipa atau kabel listrik di sekitar pekerjaan pembangunan: pekerja bisa tersandung dan tersetrum
        2.2.3 Gangguan cuaca: pekerjaan bisa tertunda yang mengakibatkan kerugian
        2.2.4 Debu-debu dan partikel dari pasir dan semen: pekerja bisa mengalami ispa dan mengganggu pengelihatan
        2.2.5 Material terjatuh dari atas: pekerja bisa tertimpa dan mengalami cedera
        2.2.6 Adanya orang yang tidak berkepentingan berlalu lalang di sekitar pekerjaan: Orang yang lewat bisa mengalami cedera dan bia menghambat pekerjaan
        2.2.7 Permukaan tanah yang tidak stabil dan tidak rata: bisa terjadinya longsor
        2.2.8 Penggunaan tangga yang tidak standart: Perkerja bisa mengalami patah tulang
        2.2.9 Getaran dari pemasangan paku bumi atau pondasi: Pekerja bisa mengalami cedera
        2.2.10 Ergonomi pergerakan dari pekerjaan:Pekerja mengalami cedera (fatiq)
        2.2.11 Pengaturan jam kerja yang lebih dari 8 jam: Pekerja mengalam fatiq
        2.2.12 Pekerjaan yang di lakukan kurang pencahayaan: Pekerja bisa mengalami cedera
        2.2.13 Kubangan air bekas adukan semen: pekerja bisa mengalami penyakit kulit
        2.2.14 Pengunaan scaffolding yang tidak sesuai: pekerja bisa terjatuh dan mengalami patah tulang
        2.2.15 Bahaya ketinggian: Pekerja bisa terjatuh
        2.2.16 Pengakatan mataerial atau campuran semen yang mengunakan crane: Material bisa terjatuh yang bisa menimpa pekerja dan bisa terjadi tabrakan dengan bangunaan sekitar
        2.2.17 Jalur keluar masuk pengakut material yang terbuka: Menimbulan kerugian materi karena material bisa di ambil orang sekitar

        2.3 Resiko awal
        2.3.1 Pekerja yang tidak berkompenten :kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = tinggi
        2.3.2 Terdapat saluran pipa atau kabel listrik di sekitar pekerjaan pembangunan :kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = tinggi
        2.3.3 Gangguan cuaca :kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = tinggi
        2.3.4 Debu-debu dan partikel dari pasir dan semen :kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = tinggi
        2.3.5 Material terjatuh dari atas :kemungkinan terjadi jarang x keparahan serius = tinggi
        2.3.6 Adanya orang yang tidak berkepentingan berlalu lalang di sekitar pekerjaan pembangunan :kemungkinan terjadi jarang x keparahan serius = tinggi
        2.3.7 Permukaan tanah yang tidak stabil dan tidak rata :kemungkinan terjadi sering x keparahan serius = tinggi
        2.3.8 Penggunaan tangga yang tidak standart :kemungkinan terjadi jarang x keparahan serius = tinggi
        2.3.9 Getaran dari pemasangan paku bumi atau pondasi :kemungkinan terjadi jarang x keparahan serius = tinggi
        2.3.10 Ergonomi pergerakan dari pekerjaan :kemungkinan terjadi sering x keparahan serius = tinggi
        2.3.11 Pengaturan jam kerja yang lebih dari 8 jam :kemungkinan terjadi sering x keparahan serius = tinggi
        2.3.12 Pekerjaan yang di lakukan kurang pencahayaan :kemungkinan terjadi sering x keparahan serius = tinggi
        2.3.13 Kubangan air bekas adukan semen :kemungkinan terjadi sering x keparahan serius = tinggi
        2.3.14 Pengunaan scaffolding yang tidak sesuai :kemungkinan terjadi jarang x keparahan serius = tinggi
        2.3.15 Bahaya ketinggian :kemungkinan terjadi jarang x keparahan serius = tinggi
        2.3.16 Pengakatan mataerial atau campuran semen yang mengunakan crane :kemungkinan terjadi jarang x keparahan serius = tinggi
        2.3.17 Jalur keluar masuk pengakut material yang terbuka :kemungkinan terjadi sering x keparahan sedang = tinggi

        2.4. pengendalian potensi bahaya
        2.4.1 Pekerja yang tidak berkompenten
        2.4.1.1 subtitusi : menganti pekerja yang memiliki sertifikat dan berkompenten
        2.4.1.2 administrasi : memberikan training
        2.4.1.3 APD
        2.4.2 Terdapat saluran pipa atau kabel listrik di sekitar pekerjaan pembangunan
        2.4.1.1 isolasi :memasangkan pelindung di daerah sekitar tali dan pipa
        2.4.1.2 admintrasi : buat rambu” untung menunjukan adanya pipa dan tali
        2.4.3 Gangguan cuaca
        2.4.3.1 eliminasi : menghentikan pekerjaan bila cuaca terlihat mendung/hujan
        2.4.3.2 isolasi : mengisolasi tempat istirahat kerja jauh daridari paparan langsung terik matahari
        2.4.3.3 administrasi : memberikan pelatihan untuk pekerjaan saat cuaca buruk
        2.4.4 Debu-debu dan partikel dari pasir dan semen
        2.4.4.1 isolasi : memberi tempat khusus untuk pasir dan semen
        2.4.4.2 APD
        2.4.5 Material terjatuh dari atas
        2.4.5.1 administrasi : memberikan rambu hati” material terjatuh
        2.4.5.2 APD
        2.4.6 Adanya orang yang tidak berkepentingan berlalu lalang di sekitar pekerjaan pembangunan
        2.4.6.1 isolasi: memasang barikade di sekitar pekerjaan
        2.4.6.2 administrasi: pemasangan rambu” di sekitar pkerjaan dan memberi pengawas
        2.4.7 Permukaan tanah yang tidak stabil dan tidak rata
        2.4.7.1 isolasi :memadatkan sruktur tanah dengan papan tau plat baja
        2.4.7.2 admintrasi : buat rambu” atau pemberi tahuan struktur tanah
        2.4.8 Penggunaan tangga yang tidak standart
        2.4.8.1 subtitusi: menganti tangga yang memenuhi standart
        2.4.8.2 administrasi: memberikan training,jsa dan sop
        2.4.8.3 APD
        2.4.9 Getaran dari pemasangan paku bumi atau pondasi
        2.4.9.1 eliminasi: para pekerja berada di luar daerah pemasangan paku bumi
        2.4.9.2 administrasi: memberikan training dan memberikan rambu
        2.4.10 Ergonomi pergerakan dari pekerjaan
        2.4.10.1 administrasi: memberikan training,jsa dan sop
        2.4.11 Pengaturan jam kerja yang lebih dari 8 jam
        2.4.11.1 eliminasi: memberhentikan pekerjaan jika lebih dari 8 jam
        2.4.11.2 administrasi: memberlakukan shift kerja
        2.4.12 Pekerjaan yang di lakukan kurang pencahayaan
        2.4.12.1 rekayasa teknis: pemasangan lampu sorot
        2.4.12.1 administrasi: memberikan training,jsa dan sop
        2.4.13 Kubangan air bekas adukan semen
        2.4.13.1 eliminasi: menghilangkan kubangan
        2.4.13.2 rekayasa teknik: mengaduk semen dengan mesin pengaduk
        2.4.13.3 isolasi: memberi tempat khusus mengaduk semen
        2.4.14 Pengunaan scaffolding yang tidak sesuai
        2.4.14.1 subtitusi: mengganti scaffolding dengan yang sesuai standart
        2.4.14.2 administrasi: memberikan training,jsa dan sop
        2.4.14.3 APD
        2.4.15 Bahaya ketinggian
        2.4.15.1 administrasi: memberikan training jsa dan sop
        2.4.15.2 APD
        2.4.16 Pengakatan mataerial yang mengunakan crane
        2.4.16.1 administrasi: memberi pengawas dari bawah untuk operator crane,memberikan rambu-rambu,pemberian sop dan jsa
        2.4.17 Jalur keluar masuk pengakut material yang terbuka
        2.4.17.1 Isolasi: pemberian barikade di sekitar jalan keluar masuk
        2.4.17.2 administrasi: pemberian pengawas di sekitar dan memberikan rambu-rambu

        2.5 Resiko sisa
        2.5.1 Pekerja yang tidak berkompenten :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah
        2.5.2 Terdapat saluran pipa atau kabel listrik di sekitar pekerjaan pembangunan :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah
        2.5.3 Gangguan cuaca :kemungkinan jarang x keparahan sedang = rendah
        2.5.4 Debu-debu dan partikel dari pasir dan semen :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah
        2.5.5 Material terjatuh dari atas :kemungkinan jarang x keparahan sedang = rendah
        2.5.6 Adanya orang yang tidak berkepentingan berlalu lalang di sekitar pekerjaan pembangunan :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah
        2.5.7 Permukaan tanah yang tidak stabil dan tidak rata :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah
        2.5.8 Penggunaan tangga yang tidak standart :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah
        2.5.9 Getaran dari pemasangan paku bumi atau pondasi :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah
        2.5.10 Ergonomi pergerakan dari pekerjaan :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah
        2.5.11 Pengaturan jam kerja yang lebih dari 8 jam :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah
        2.5.12 Pekerjaan yang di lakukan kurang pencahayaan :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah
        2.5.13 Kubangan air bekas adukan semen :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah
        2.5.14 Pengunaan scaffolding yang tidak sesuai :kemungkinan terjadi jarang x keparahan ringan = rendah
        2.5.15 Bahaya ketinggian :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah
        2.5.16 Pengakatan mataerial yang mengunakan crane :kemungkinan jarang x keparahan ringan = rendah
        2.5.17 Jalan keluar masuk pengakut material yang terbuka : kemungkinan sulit terjadi x keparahan ringan = rendah

        Nama : Sendy eki tanos
        NPM : 13.11.106.701501.0855
        Kelas : B1 (Sore)
        Semester : 5

  23. A.Pemasangan Bata Ringan Untuk Perumahan Dengan ketinggian Sampai Dengan 3,00 Meter

    1 Analisis :
    1.1 Potensi Bahaya: Kecelakaan/luka pada saat pengoprasian alat pengaduk semen
    1.2 Pengendalian: Menjauhi area/alat pengaduk semen saat pengoprasian berlangsung
    1.3 Konsekuensi:
    1.3.1 Manusia: luka berat, terpapar debu semen
    1.3.2 Property: alat rusak
    1.3.3 LIngkungan: semen berceceran
    1.4 Risk Matrix : c.5 (low)

    2 Analisis :
    2.1 Potensi Bahaya: Terjatuh saat melakukan pekerjaan pemasangan bata
    2.2 Pengendalian: Memberikan Training lebih intensif kepada pekerja konstruksi di lapangan
    2.3 Konsekuensi :
    2.3.1 Manusia: meninggal, patah tulang, cacat
    2.3.2 Property: pecahnya material bata, peralatan rusak akibat kejatuhan bahan material
    2.3.3 LIngkungan: terhamburnya pecahan bata
    2.4 Risk Matrix : B.5 (low)

    3 Analisis :
    3.1 Potensi Bahaya: Material yang berserakan menyababkan area tidak aman
    3.2 Pengendalian: Mensterilkan area pekerjaan untuk mengurangi potensi bahaya
    3.3 Konsekuensi :
    3.3.1 Manusia: pekerja terkena material yg berserakan, luka ringan
    3.3.2 Property: rusaknya material
    3.3.3 LIngkungan: kotornya lingkungan terkena material
    3.4 Risk Matrix : C.4 (medium)

    4 Analisis :
    4.1 Potensi Bahaya: faktor biologi seperti adanya binatang di sekitar area pekerjaan
    4.2 Pengendalian: mengisolasi tempat yang rawan di tempati binatang dan mensterilkan area sebelum dilakukannya pekerjaan
    4.3 Konsekuensi:
    4.3.1 Manusia: pekerja terluka terkena gigitan
    4.3.2 Property: rusaknya peralatan akibat binatang
    4.3.3 LIngkungan: lingkungan menjadi tidak aman bagi pekerja dan bisa aja dirusak oleh binatang
    4.4 Risk Matrix c.4 medium

    5 Analisis :
    5.1 Potensi Bahaya: Terkena debu pasir dan cipratan semen
    5.2 Pengendalian: melengkapi diri dengan APD seperti kacamata, masker, dan pakaian yang tertutup dan memberi penutup pada alat pengaduk semen agar terhidar dari cipratan
    5.3 Konsekuensi :
    5.3.1 Manusia: terganggunya penglihatan dan pernafasan, infeksi saluran pernafasan
    5.3.2 Property: –
    5.3.3 LIngkungan: rusaknya lingkungan terkena semen
    5.4 Risk Matrix : c.4 (medium)

    6 Analisis :
    6.1 Potensi Bahaya: faktor cuaca yang tidak dapat diprediksi
    6.2 Pengendalian: adanya atap penutup area pekerjaan agar terihindar dari hujan dan panas matahari secara langsung
    6.3 Konsekuensi :
    6.3.1 Manusia: menurunnya daya tahan tubuh
    6.3.2 Property: rusaknya alat dan terjadinya konsleting
    6.3.3 LIngkungan: jalan yang licin apabila terjadi hujan
    6.4 Risk Matrix c.4 (medium)

    7 Analisis :
    7.1 Potensi Bahaya: scafolding yang tidak layak digunakan
    7.2 Pengendalian: menggunakan scafolding yang aman dan memenuhi standar keselamatan
    7.3 Konsekuensi :
    7.3.1 Manusia: luka berat, patah punggung dan bisa saja meninggal
    7.3.2 Property: rusaknya scafoding
    7.3.3 LIngkungan: –
    7.4 Risk Matrix B.2 (medium)

    8 Analisis :
    8.1 Potensi Bahaya: Faktor ergonomi/ pergerakan pekerja
    8.2 Pengendalian: Memperhatikan jam kerja agar tidak terjadi kelelahan dan menggunakan teknologi terkini dalam pemasangan bata
    8.3 Konsekuensi :
    8.3.1 Manusia: sakit jangka panjang, cacat di bagian titik tumpuan karena dilakukan terus menerus
    8.3.2 Property:-
    8.3.3 LIngkungan: –
    8.4 Risk Matrix b.2 medium

    9 Analisis :
    9.1 Potensi Bahaya: medan tempuh yang tidak aman dilalui (licin, becek, berlubang)
    9.2 Pengendalian: memperbaharui medan tempuh yang rusak agar aman ketika dilalui oleh pekerja
    9.3 Konsekuensi :
    9.3.1 Manusia :terjatuhnya pekerja, luka ringan
    9.3.2 Property: rusaknya alat yg dipakai
    9.3.3 LIngkungan: jalan yang tidak mulus
    9.4 Risk Matrix b.4 low

    10 Analisis :
    10.1 Potensi Bahaya: pekerja tidak dilengkapi dengan APD
    10.2 Pengendalian: menggunakan APD yang memenuhi standar keselamatan diri
    10.3 Konsekuensi :
    10.3.1 Manusia: dapat mengakibatkan cidera ringan maupun berat
    10.3.2 Property: rusaknya alat yg digunakan
    10.3.3 LIngkungan: rusaknya lingkungan
    10.4 Risk Matrix b.2 medium

    11 Analisis :
    11.1 Potensi Bahaya: tidak adanya pengawasan langsung yg dapat menyebabkan ketidakpatuhan terhadap standar
    11.2 Pengendalian potensi bahaya: Adanya tenaga ahli K3 dan tenaga ahli konstruksi yang melakukan pengawasan
    11.3 Konsekuensi :
    11.3.1 Manusia: cidera ringan maupun cidera berat
    11.3.2 Property: rusaknya alat karna kekurang tahuan pekerja
    11.3.3 LIngkungan: lingkungan menjadi tercemar karna kesalahan pekerja
    11.4 Risk Matrix:b.5 medium

    B.Pemasangan Bata Ringan Untuk Gedung Bertingkat Dengan Ketinggian Di Atas 3,00 Meter

    1 Analisis :
    1.1 Potensi Bahaya: Kecelakaan/luka pada saat pengoprasian alat pengaduk semen
    1.2 Pengendalian: Menjauhi area/alat pengaduk semen saat pengoprasian berlangsung
    1.3 Konsekuensi:
    1.3.1 Manusia: luka berat, terpapar debu semen
    1.3.2 Property: rusaknya alat pengaduk semen
    1.3.3 LIngkungan: semen berceceran
    1.4 Risk Matrix c.5 (low)

    2 Analisis :
    2.1 Potensi Bahaya: Terjatuh dari ketinggian saat melakukan pekerjaan pemasangan bata
    2.2 Pengendalian: Memakai full body harness saat bekerja dan memberikan Training lebih intensif
    2.3 Konsekuensi:
    2.3.1 Manusia: meninggal, cidera berat, patah tulang punggung
    2.3.2 Property: peralatan rusak akibat kejatuhan material
    2.3.3 LIngkungan: tercecernya pecahan bata
    2.4 Risk Matrix c.2 high

    3 Analisis :
    3.1 Potensi Bahaya: Tertimpa bata atau bahan bangunan lain dari atas
    3.2 Pengendalian: memakai helm, memberikan safety briefing dan menekankan aspek keselamatan yg utama disetiap pekerjaan
    3.3 Konsekuensi:
    3.3.1 Manusia: cidera serius di bagian kepala, geger otak
    3.3.2 Property: alat rusak tertimpa material yang jatuh
    3.3.3 LIngkungan: tercecernya pecahan bata
    3.4 Risk Matrix b.5 low

    4 Analisis :
    4.1 Potensi Bahaya: Scafolding yang tidak layak digunakan
    4.2 Pengendalian: Menggunakan scafolding yang layak pakai dan sesuai standar keselamatan
    4.3 Konsekuensi:
    4.3.1 Manusia: terjatuh, luka berat, patah tulang, patah tulang punggung
    4.3.2 Property: scafolding rusak
    4.3.3 LIngkungan: –
    4.4 Risk Matrix b.5 low

    5 Analisis :
    5.1 Potensi Bahaya: Terkena debu pasir dan cipratan semen
    5.2 Pengendalian: melengkapi diri dengan APD seperti kacamata, masker, dan pakaian yang tertutup dan memberi penutup alat pengaduk semen agar terhidar dari cipratan
    5.3 Konsekuensi:
    5.3.1 Manusia: terganggunya penglihatan dan pernafasan
    5.3.2 Property: –
    5.3.3 LIngkungan: rusaknya lingkungan terkena semen
    5.4 Risk Matrix B.5 (low)

    6 Analisis :
    6.1 Potensi Bahaya: faktor biologi seperti adanya binatang di sekitar area pekerjaan
    6.2 Pengendalian: mengisolasi tempat yang rawan ditempati binatang dan mensterilkan area sebelum dilakukannya pekerjaan
    6.3 Konsekuensi:
    6.3.1 Manusia: pekerja terluka terkena gigitan
    6.3.2 Property: rusaknya peralatan akibat binatang
    6.3.3 LIngkungan: lingkungan menjadi tidak aman bagi pekerja dan bisa aja dirusak oleh binatang
    6.4 Risk Matrix c.4 medium

    7 Analisis :
    7.1 Potensi Bahaya: faktor cuaca yang tidak dapat diprediksi
    7.2 Pengendalian: adanya atap penutup area pekerjaan agar terihindar dari hujan dan panas matahari langsung
    7.3 Konsekuensi:
    7.3.1 Manusia: menurunnya daya tahan tubuh
    7.3.2 Property: rusaknya alat atau terjadi konsleting
    7.3.3 LIngkungan: jalan licin yang apabila terjadi hujan
    7.4 Risk Matrix c.4 medium

    8 Analisis :
    8.1 Potensi Bahaya: Faktor ergonomi/ pergerakan pekerja
    8.2 Pengendalian: Memperhatikan jam kerja agar tidak terjadi kelelahan dan menggunakan teknologi terkini dalam kegiatan pemasangan bata
    8.3 Konsekuensi:
    8.3.1 Manusia: sakit jangka panjang, cacat dibagian titik tumpuan karena dilakukan terus menerus
    8.3.2 Property: –
    8.3.3 LIngkungan: –
    8.4 Risk Matrix b.5 low

    9 Analisis :
    9.1 Potensi Bahaya: Terkena puing-puing atau seprihan material yang berserakan disekitar gendung
    9.2 Pengendalian: mensterilkan area pekerjaan dari puing-puing material untuk mengurangi potensi bahaya
    9.3 Konsekuensi:
    9.3.1 Manusia: cidera ringan
    9.3.2 Property: –
    9.3.3 LIngkungan: –
    9.4 Risk Matrix b.4 low

    10 Analisis :
    10.1 Potensi Bahaya: medan tempuh atau akses yang dilalui pekerja yang mungkin tidak aman (rusak akibat menopang alat berat)
    10.2 Pengendalian: mensterilkan dan memperbarui medan tempuh yang rusak agar aman di lalui pekerja
    10.3 Konsekuensi:
    10.3.1 Manusia: pekerja cidera
    10.3.2 Property: rusaknya alat saat beroprasi di area tersebut
    10.3.3 LIngkungan: jalan berlubang dan licin
    10.4 Risk Matrix c.3 medium

    11 Analisis :
    11.1 Potensi Bahaya: pekerja tidak dilengkapi dengan APD
    11.2 Pengendalian: menggunakan APD yang memenuhi standar keselamatan diri
    11.3 Konsekuensi:
    11.3.1 Manusia: dapat mengakibatkan cidera ringan maupun berat
    11.3.2 Property: –
    11.3.3 LIngkungan: rusaknya lingkungan
    11.4 Risk Matrix b.2 medium

    12 Analisis :
    12.1 Potensi Bahaya: tidak adanya pengawasan langsung yg dapat menyebabkan ketidakpatuhan terhadap standar
    12.2 Pengendalian potensi bahaya: Adanya tenaga ahli K3 dan tenaga ahli konstruksi yang melakukan pengawasan
    12.3 Konsekuensi :
    12.3.1 Manusia: dapat terjadi kecelakaan kerja yang mengakibatkan cidera ringan ataupun berat
    12.3.2 Property: rusaknya alat karna kekurang tahuan pekerja
    12.3.3 LIngkungan: lingkungan menjadi tercemar karna kesalahan pekerja
    12.4 Risk Matrix:b.5 medium

    Nama : Reza Fahlevi
    NPM : 13.11.106.701501.1179
    Kelas : B1 (sore)
    Semester : V (lima)

  24. •Nama pekerjaan (2 jenis pekerjaan seperti tercantum diatas).
    •Potensi penyebab bahaya (hazard).
    •Deskripsi konsekuensi terhadap manusia, alat/peralatan, lingkungan.
    •Risiko awal (Tingkat kemungkinan, Tingkat keparahan, Tingkat risiko).
    •Pengendalian potensi bahaya (Eliminasi, Substitusi, Rekayasa Teknis, Administratif, APD).
    •Risiko sisa (Tingkat kemungkinan, Tingkat keparahan, Tingkat risiko).
    •Pengendalian tambahan terhadap bahaya (bila ada).

    1.Pekerjaan pemasangan bata ringan untuk perumahan dengan ketinggian sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.
    1.1 Potensi bahaya
    1.1.1 Ketinggian.
    1.1.2 Debu.
    1.1.3 Material bangunan dan peralatan bangunan
    1.1.4 Posisi kerja tidak aman.
    1.1.5 Prilaku tidak aman.
    1.1.6 Cuaca.

    1.2 Deskripsikan konsekuensi terhadap manusia,alat,lingkungan
    1.2.1 Ketinggian : Risiko bekerja diketinggian terjatuh dan mengakibatkan patah tulang atau cacat permanen.
    1.2.2 Debu : Risiko debu disekitar area pekerja adalah terpapar atau terhirup dan mengakibatkan gangguan saluran pernafasan.
    1.2.3 Material bangunan dan peralatan bangunan : Material bangunan yang berantakan pada area kerja.
    1.2.4 Posisi kerja tidak aman : Risiko posisi pekerja yang tidak aman dapat mengakibatkan gangguan wmsds pada pekerja.
    1.2.5 Prilaku tidak aman : Pekerja tidak mempunyai keahlian dibidang tersebut dan mengakibatkan bekerja tidak kompeten.
    1.2.6 Cuaca : Cuaca yang berubah-ubah dapat mengakibatkan penundaan pekerjaan.

    1.3 risiko awal = (Consequnce x Likelihood)
    1.3.1 Ketinggian : Lti dengan cacat permanen x kemungkinan besar terjadi = HIGH
    1.3.2 Debu : Medical Treatment x Kemungkinan terjadi rata-rata = MEDIUM
    1.3.3 Material bangunan dan peralatan bangunan : Medical Treatment x Kemungkinan terjadi rata-rata = MEDIUM
    1.3.4 Posisi kerja tidak aman : medical treatment x kemungkinan besar terjadi = MEDIUM
    1.3.5 Prilaku tidak aman : Lti cacat permanen x Kemungkinan besar terjadi = HIGH
    1.3.6 Cuaca : Property Damage US$ 100.000 – US$ 1M X kemungkinan terjadi rata-rata = MEDIUM

    1.4 Pengendalian potensi bahaya (Eliminasi, Substitusi, Rekayasa Teknis, Administratif, APD).
    1.4.1 Ketinggian :
    1.4.1.1 Subtitusi : Mengganti scaffolding yang tebuat dari kayu dengan scaffolding SNI .
    1.4.1.2 Adminstrasi : Memberikan SOP dan training pada pekerja yang bekerja diketinggian.
    1.4.1.3 PPE : Menggunakan APD (Alat Pelindung Diri) contoh : body harness, sepatu, helm, dan lain-lain.

    1.4.2 Debu :
    1.4.2.1 Isolasi : Menyiram air disekitar area pekerja.
    1.4.2.2 PPE : Menggunakan APD (Alat Pelindung Diri) contoh : masker, kaca mata, dan lain-lain.

    1.4.3 Material bangunan dan peralatan bangunan :
    1.4.3.1 Isolasi : menempatkan material bangunan dan peralatan bangunan pada tempat yang sudah disediakan.

    1.4.4 Posisi kerja tidak aman.
    1.4.4.1 Subtitusi : memperbaiki posisi kerja dengan posisi yang sesuai dengan manual handling.
    2.4.4.2 Training : Memberikan pelatihan kepada pekerja sebelum melakukan pekerjaan.
    2.4.4.3 Adminitrasif : memberikan SOP kepada pekerja.
    2.4.4.4 PPE : Menggunakan APD (Alat Pelindung Diri).

    1.4.5 Prilaku tidak aman
    1.4.5.1 Subtitusi: mengganti pekerja yang berpengalaman atau pekerja yang sudah ahli dibidang tersebut.
    1.4.5.2 Training : Memberikan pelatihan kepada pekerja sebelum melakukan pekerjaan.

    1.4.6 Cuaca
    1.4.6.1 Eliminasi : saat cuaca buruk pekerjaan dihentikan.
    1.4.6.2 Isolasi : mengisolasi tempat beristirahat dari paparan langsung terik matahari.

    1.5 Risiko Sisa
    1.5.1 Ketinggian : medical treatment X kemungkinan kecil terjadi = LOW
    1.5.2 Debu : First aid case x kemungkinan kecil terjadi = LOW
    1.5.3 Material bangunan dan peralatan bangunan : Medical Treatment x Kemungkinan kecil terjadi = LOW
    1.5.4 Posisi kerja tidak aman : medical treatment x kemungkinan kecil terjadi = LOW
    1.5.5 Prilaku tidak aman : medical treatment x kemungkinan kecil terjadi = LOW
    1.5.6 Cuaca : Property Damage US$ 10.000 x kemungkinan terjadi rata-rata = LOW

    2.1Pekerjaan pemasangan bata ringan untuk gedung bertingkat dengan ketinggian sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.
    2.1 Potensi bahaya
    2.1.1 Ketinggian.
    2.1.2 Debu.
    2.1.3 Material bangunan dan peralatan bangunan
    2.1.4 Posisi kerja tidak aman.
    2.1.5 Scaffolding
    2.1.6 Cuaca

    2.2 Deskripsikan konsekuensi terhadap manusia,alat,lingkungan
    2.2.1 Ketinggian : Risiko bekerja diketinggian terjatuh dan mengakibatkan patah tulang atau cacat permanen atau fatality.
    2.2.2 Debu : Risiko debu disekitar area pekerja adalah terpapar atau terhirup dan mengakibatkan gangguan saluran pernafasan.
    2.2.3 Material bangunan dan peralatan bangunan : Material bangunan yang berantakan pada area kerja.
    2.2.4 Posisi kerja tidak aman : Risiko posisi pekerja yang tidak aman dapat mengakibatkan gangguan wmsds pada pekerja.
    2.2.5 Scaffolding : Scaffolding yang terbuat dari kayu, tidak layak untuk digunakan.
    2.2.6 Cuaca : Cuaca yang berubah-ubah dapat mengakibatkan penundaan pekerjaan.

    2.3 risiko awal = (Consequnce x Likelihood)
    2.3.1 Ketinggian : Lti dengan cacat permanen x kemungkinan terjadi rata-rata = HIGH
    2.3.2 Debu : Medical Treatment x Kemungkinan terjadi rata-rata = MEDIUM
    2.3.3 Material bangunan dan peralatan bangunan : Medical Treatment x Kemungkinan terjadi rata-rata = MEDIUM
    2.3.4 Posisi kerja tidak aman : medical treatment x kemungkinan besar terjadi = MEDIUM
    2.3.5 Scaffolding : lti dengan cacat permanen x kemungkinan terjadi rata-rata = HIGH
    2.3.6 Cuaca : Property Damage US$ 100.000 – US$ 1M X kemungkinan terjadi rata-rata = MEDIUM

    2.4 Pengendalian potensi bahaya (Eliminasi, Substitusi, Rekayasa Teknis, Administratif, APD).
    2.4.1 Ketinggian :
    2.4.1.1 Subtitusi : Mengganti scaffolding yang tebuat dari kayu dengan scaffolding SNI yang layak untuk digunakan.
    2.4.1.2 Adminstrasi : Memberikan SOP dan training pada pekerja yang bekerja diketinggian gedung bertingkat.
    2.4.1.3 PPE : Menggunakan APD (Alat Pelindung Diri) contoh : full body harness, sepatu, helm, dan lain-lain.

    2.4.2 Debu :
    2.4.2.1 Isolasi : Menyiram air disekitar area pekerja.
    2.4.2.2 PPE : Menggunakan APD (Alat Pelindung Diri) contoh : masker, kaca mata, dan lain-lain.

    2.4.3 Material bangunan dan peralatan bangunan :
    2.4.3.1 Isolasi : menempatkan material bangunan dan peralatan bangunan pada tempat yang sudah disediakan.

    2.4.4 Posisi kerja tidak aman.
    2.4.4.1 Subtitusi : memperbaiki posisi kerja dengan posisi yang sesuai dengan manual handling.
    2.4.4.2 Training : Memberikan pelatihan kepada pekerja sebelum melakukan pekerjaan.
    2.4.4.3 Adminitrasif : memberikan SOP kepada pekerja.
    2.4.4.4 PPE : Menggunakan APD (Alat Pelindung Diri).

    2.4.5 Scaffolding
    2.4.5.1 Subtitusi: mengganti scaffolding yang terbuat dari kayu dengan scaffolding SNI yang layak untuk digunakan.
    2.4.5.2 Training : Memberikan pelatihan kepada pekerja sebelum melakukan pekerjaan.
    2.4.5.3 Adminitrasif : pekerja melakukan pekerjaan sesuai dengan SOP yang diberikan.
    2.4.5.4 PPE : pekerja menggunakan APD bekerja diketinggian contoh : full body harness.

    2.4.6 Cuaca
    2.4.6.1 Eliminasi : saat cuaca buruk pekerjaan dihentikan.
    2.4.6.2 Isolasi : mengisolasi tempat beristirahat dari paparan langsung terik matahari.

    2.5 Risiko Sisa
    2.5.1 Ketinggian : medical treatment X kemungkinan kecil terjadi = LOW
    2.5.2 Debu : First aid case x kemungkinan kecil terjadi = LOW
    2.5.3 Material bangunan dan peralatan bangunan : Medical Treatment x Kemungkinan kecil terjadi = LOW
    2.5.4 Posisi kerja tidak aman : medical treatment x kemungkinan kecil terjadi = LOW
    2.5.5 Scaffolding : medical treatment x kemungkinan kecil terjadi = LOW
    2.5.6 Cuaca : Property Damage US$ 10.000 x kemungkinan terjadi rata-rata = LOW

    Nama : Siti Musdalifah
    NPM : 13.11.106.701501.0869
    SMT : 5
    Kelas : B1

  25. •Nama pekerjaan (2 jenis pekerjaan seperti tercantum diatas).
    •Potensi penyebab bahaya (hazard).
    •Deskripsi konsekuensi terhadap manusia, alat/peralatan, lingkungan.
    •Risiko awal (Tingkat kemungkinan, Tingkat keparahan, Tingkat risiko).
    •Pengendalian potensi bahaya (Eliminasi, Substitusi, Rekayasa Teknis, Administratif, APD).
    •Risiko sisa (Tingkat kemungkinan, Tingkat keparahan, Tingkat risiko).
    •Pengendalian tambahan terhadap bahaya (bila ada).

    1. Pekerjaan pemasangan bata ringan untuk perumahan ketinggian sampai dengan 3 meter dari permukaan tanah.

    1.1Potensi bahaya
    1.1.1 Ketinggian
    1.1.2 Cuaca buruk
    1.1.3 Pemasangan batu bata
    1.1.4 Peralatan dan material
    1.1.5 Zat yang terkandung pada semen
    1.1.6 Debu

    1.2 Deskripsikan konsekuensi terhadap manusia,alat,lingkungan

    1.2.1 Ketinggian : Konsekuensi dari bahaya ketinggian adalah terjatuh dan dapat melukai atau mencelakakan pekerjaan dan dapat menyebabkan kematian
    1.2.2 Cuaca buruk : Dapat menunda pekerjaan yang seharusnya bisa di selesaikan secara tepat waktu, dapat menyebabkan bertambahnya anggaran pada perusahaan
    1.2.3 Pemasangan batu bata: Konsekuensi dari pemasangan batu bata adalah jika tidak mengikuti prosedur yang telah di berikan dapat mencelakakan para pekerja atau menimpa para pejalan kaki
    1.2.4 Peralatan material : Jika tidak mengikuti standar maka akan menyebabkan kerugian pada perusahaan dan juga dapat mencelakakan para pekerja, terluka/ medical treatment
    1.2.5 Zat yang terkandung pada semen : resiko dari abu semen dapat terpapar, terhirup zat kimia dari semen dapat menyebabkan gangguan pernapasan/ medical treatment
    1.2.6 Debu : resiko dari debu adalah terpapar, terhirup. Debu dapat menyebabkan gangguan pernapasan, perih pada mata / medical treatment

    1.3 risiko awal = (Consequnce x Likelihood)

    1.3.1 Ketinggian | LTi cacat permanen (2) x Kemungkinan besar terjadi(D) = High risk
    1.3.2 Cuaca buruk | Property Damage US$ 100.000 – US$ 1M (3) x Kemungkinan besar terjadi (D)= High Risk
    1.3.3 Pemasangan batu bata | LTi cacat permanen (2) x Kemungkinan besar terjadi (D)= High Risk
    1.3.4 Peralatan dan material | Property Damage US$ 100.000 – US$ 1M (3) x Kemungkinan besar terjadi (D)= High Risk
    1.3.5 Zat yang terkandung pada semen | Medical treatment (4) x Kemungkinan rata-rata terjadi (C)= Medium Risk
    1.3.6 Debu | Medical treatment (4) x Kemungkinan rata-rata terjadi (C)= Medium Risk

    1.4 Pengendalian potensi Bahaya

    1.4.1 Ketinggian

    1.4.1.1 Subtitusi : Menggunakan body harness dan mengganti tangga dengan scafolding yang sesuai standar
    1.4.1.2 Adminstrasi : membuat SOP bekerja diketinggian, Semua peralatan Pencegah Jatuh serta Peralatan Pendukung harus dalam kondisi baik dan sudah di periksa terlebih dahulu
    1.4.1.3 PPE : Memakai APD (Safety Shoes,Wearpack,Sarung tangan, Glasses Safety,Helmet,Masker) dan Full body harness

    1.4.2 Cuaca buruk

    1.4.2.1 Eliminasi : Pemberhentian pekerjaan bila cuaca sudah mulai tidak mendukung (mendung/hujan)
    1.4.4.2 Isolasi : mengisolasi tempat beristirahat kerja jauh dari terik sinar matahari
    1.4.4.3 administrasi : Memberikan istirahat kerja yang cukup pada para pekerja

    1.4.3 Pemasangan batu bata

    1.4.3.1 subtitusi: menggunakan batu bata yang sudah ditetapkan standarisasinya
    1.4.3.2 Administrasi : Membuat JSA pekerjaan pemasangan batu bata
    1.4.3.3 PPE : Memakai APD (Safety Shoes,Wearpack,Sarung tangan, Glasses Safety,Helmet,Masker) dan Full body harness

    1.4.4 Peralatan dan material

    1.4.4.1 Administrasi : Membuat SOP untuk peralatan material yang di gunakan
    1.4.4.2 Training : Memberi pelatihan Kepada pekerja sebelum pekerjaan itu dimulai, memberikan pangarahan pada pekerja sebelum pekerjaan di mulai
    1.4.4.3 PPE : Memakai APD (Safety Shoes,Wearpack,Sarung tangan, Glasses Safety,Helmet,Masker) dan Full body harness

    1.4.5 Zat yang terkandung pada semen

    1.4.5.1 Subtitusi : pekerjaan mengaduk semen dengan skop diganti dengan mesin molen .
    1.4.5.2 PPE = Memakai APD (Safety Shoes,cover all,Sarung tangan, Glasses Safety,Helmet,Masker) dan Full body harness

    1.4.6 Debu

    1.4.6.1 Isolasi = Membersihkan area kerja dangan sapu atau menyiram Jalanan disekitar area kerja tersebut dengan air.
    1.4.3.2 PPE = Memakai APD (Safety Shoes,Cover all,Sarung tangan, Glasses Safety,Helmet,Masker.

    1.5 risiko sisa = (Consequnce x Likelihood)

    1.3.1 Ketinggian | LTi TaPA cacat permanen (2) x Kemungkinan kecil terjadi(B) = Low Risk
    1.5.2 Cuaca | property damage < US$10.000 (5) x Kemungkinan rata-rata terjadi (C) = Low Risk
    1.3.3 Pemasangan batu bata | LTi cacat permanen (2) x Kemungkinan kecil terjadi (B)= Medium Risk
    1.3.4 Peralatan dan material | Property Damage < US$10.000 (5) x Kemungkinan kecil terjadi (B) = Low Risk
    1.3.5 Zat yang terkandung pada semen | Medical treatment (4) x Kemungkinan kecil terjadi (B)= Low Risk
    1.3.6 Debu | Medical treatment (4) x Kemungkinan kecil terjadi (B)= Low Risk

    2. Pekerjaan pemasangan bata ringan untuk gedung bertingkat dengan ketinggian diatas 3,00 meter.

    2.1 Analisis potensi bahaya

    2.1.1 Ketinggian
    2.1.2 Cuaca buruk
    2.1.3 Peralatan dan material yang digunakan
    2.1.4 Perilaku tidak aman
    2.1.5 Debu

    2.2 Deskripsikan konsekuensi terhadap manusia,alat,lingkungan

    2.2.1 Ketinggian = risiko dari pekerjaan ini salah satunya ialah ketinggian yang berisiko terjatuh dan dapat mengakibatkan fatality/kematian karena pekerjaan ini ilakukan digedung yang dibangun diatas 3 meter
    2.2.2 cuaca buruk = pekerjaan dapat tertunda bila cuaca tidak mendukung (musim hujan) pekerjaan akan terbengkalai dan konsekuensinya ialah kerugian/property damage dan penyelesainnya tidak tepat waktu
    2.2.3 peralatan dan material yang digunakan = peralatan dan material yang digunakan apabila digunakan yang tidak susai dengan ketentuan akan mengakibatkan kerusakan/kerugian (property damage)
    2.2.4 perilaku tidak aman = pekerja mempunyai kemampuan dan keahlian yang terbatas atau bekerja dalam kondisi tidak fit dan konsekuensinya adalah fatality/kematian
    2.2.6 Debu = disekitar area kerja banyak terdapat dari material/bahan abu semen, pasir, batu bata dan area tempat bekerja resikonya adalah dapat terhirup atau terpapar yang dapat menyebabkan insfeksi saluran pernapasan, konsekuensinya ialah medical treatment.

    2.4 Pengendalian bahaya

    2.4.1 Ketinggian

    2.4.1.1 Eliminasi: pada saat pemasangan bata diatas 3 meter pastikan area dibawah pemasangan bata steril dari aktivitas
    2.4.1.2 Subtitusi : mengganti tangga dengan menggunakan scaffolding yang standar.
    2.4.1.3 Administrasif: Membuat SIKA bekerja diketinggian, Membuat JSA pepamasangan dinding bata di gedung bertingkat, Membuat SOP bekerja diketinggian, Semua peralatan Penahan dan Pencegah Jatuh serta Peralatan Pendukung harus dalam kondisi baik dan sudah diinspeksi sebelum digunakan, Semua peralatan pendukung sesuai dengan persyaratan standard, dan dididirikan atau dioperasikan oleh orang yang berkompeten, merekrut pekerja K3 (safety man),membuat spanduk atau rambu-rambu perintah dan larangan selama bekerja di proyek.
    2.4.1.4 Training : memberikan pelatihan untuk para pekerja yang akan melakukan pekerjaan di ketinggian, sebelum melakukan pekerjaan melakukan safety talk dari pengawas k3.
    2.4.1.5 PPE : Memakai APD (Safety Shoes, Wearpack , Sarung tangan, Glasses Safety,Helmet,Masker) dan Full body harness

    2.4.2 Cuaca

    2.4.2.1 Eliminasi : Pemberhentian pekerjaan bila cuaca terlihat mendung/hujan.
    2.4.2.2 Isolasi : mengisolasi tempat beristirahat kerja jauh dari paparan lngsung terik matahari.

    2.4.3 Peralatan dan Material yang digunakan

    2.4.3.1 Subtitusi = mengganti material bata yang rendah dengan material bata yang sudah standar, Semen yang dipakai untuk pekerjaan ini harus memenuhi syarat-syarat yang memenuhi mutu persyaratan Standard Industri Indonesia (SII) tidak diperkenankan semen (semen bekas atau yang sejenis) atau semen yang sudah lewat masa berlakunya.
    2.4.3.2 Isolasi : Pekerjaan membersihkan lokasi Memindahkan benda yang akan menghambat proses pekerjaan,Membuat penerangan dan sarana kebersihan seperti lampu dan tersedianya air.
    2.4.3.3 administrasi: Membuat checklist pada peralatan kerja yang bertujuan untuk menghilangkan kecelakan kerja yg di sebabkan penggunaan alat yg tidak standar, sebelum melakukan pekerjaan hendaknya mengecekk peralatan.

    2.4.4 Perilaku tidak aman

    2.4.4.1 Subtitusi = mengganti pekerja yang tidak berpengalaman dengan pekerja yang sudah ahli dibidangnya.
    2.4.4.2 Training = Memberi pelatihan Kepada pekerja sebelum pekerjaan itu dimulai.
    2.4.4.3 Adminitrasif = Pastikan sudah memiliki Surat Ijin Kerja untuk bekerja di ketinggian, jika pekerja yang ahli dibidangnya melampirkan sertifikat training yang pernah diikuti,memasang rambu k3
    2.4.4.4 PPE = Memakai APD (Safety Shoes,Wearpack,Sarung tangan, Glasses Safety,Helmet,Masker) dan Full body harness.

    2.4.5 Debu

    2.4.5.1 Isolasi : Menyiram Jalanan disekitar area kerja tersebut dengan air.
    2.4.5.2 PPE : Memakai APD (Safety Shoes,Wearpack,Sarung tangan, Glasses Safety,Helmet,Masker) dan Full body harness

    2.5 Risiko Sisa

    2.5.1 Ketinggian | LTI taPA caat permanen (3) X kemungkinan kecil terjadi (B) = Low Risk
    2.5.2 cuaca | property damage < US$10.000 (5) x keungkinan rata-rata terjadi (C)= Low Risk
    2.5.3 peralatan dan material yang digunakan | property damage US$10.000 – US$100.000 (4) x Kemungkinan kecil terjadi (B)= Low Risk
    2.5.4 Perilaku tidak aman | LTI taPA caat permanen (3) x kemungkinan kecil terjadi (B)= Low Risk
    2.5.5 debu | Medical Treatment (4) x kemungkinan kecil terjadi (B) = Low risk

    Nama : Irma inez ivana
    kelas : B1 (sore)
    semester : V
    Npm : 13.11.106.701501.0881

  26. 1. Pekerjaan pemasangan bata ringan untuk perumahan dengan ketinggian sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.
    A. Potensi Bahaya
    1.jatuh dari ketinggian
    2.tertimpa material(batu ringan)
    3.debu yang dihasilkan material(batu ringan dan semen)
    4.postur kerja yang tidak sesuai
    5.jam kerja yang melebihi jam keja normal 8 jam/hari
    6.bahan material yang susah di jangkau
    7.tempat pijakan yang tidak standar
    B. Konsekuensi
    1.pada manusia : patah tulang yang paling parah kematian atau fatality
    2.1 pada manisia : pekerja mengalami patah tulang yang paling parah kematian atau fatality
    2.2 pada material : material rusak karena terjatuh
    3. pada manusia : pekerja mengalami sesak napas dan penglihatan terganggu
    4. pada manusia : pekerja mengalami MSDs (muskoloskeletal disorder) cedera punggung karena cara mengangkat yang salah
    5. pada manusia : pekerja akan mengalami kelelahan dan akan kurang fokus dalam bekerja
    6.1 pada manusia : pekerja terjatuh karena sulit menjangkau material dan mengalami patah tulang yang paling parah kematian atau fatality
    6.2 pada material : material rusak karena terjatuh
    7.1 pada manusia : pekerja terjatuh dan mengalami patah tulang yang paling parah kematian atau fatality
    7.2 pada material : material rusak karena pijakan yang terjatuh mengenai material
    C. Resiko Awal
    1.1 tingakt kemungkinan :kemungkinan besar terjadi
    1.2 tingkat kepararahan :patah tulang yang paling parah kematian atau fatality
    1.3 tingkat resiko :high
    2.1 tingkat kemungkiinan:kemungkinan besar terjadi
    2.2 tingkat keparahan :medical treatment
    2.3 tingkat resiko :medium
    3.1 tingkat kemungkinan :pasti terjadi
    3.2 tingkat keparahan :first aid
    3.3 tingkat resiko :high
    4.1 tingkat kemungkinan :kemungkinan besar terjadi
    4.2 tingkat keparahan :first aid
    4.3 tingkat resiko :high
    5.1 tingkat kemungkinan :kemungkinan besar terjadi
    5.2 tingkat keparahan :medical treatment
    5.3 tingkat resiko :medium
    6.1 tingkat kemungkinan :kemungkinan besar terjadi
    6.2 tingkat keparahan :patah tulang yang paling parah kematian atau fatality dan property damage
    6.3 tingkat resiko :high
    7.1 tingkat kemungkinan :kemungkinan besar terjadi
    7.2 tingkat keparahan :patah tulang yang paling parah kematian atau fatality dan property damage
    7.3 tingkat resiko :high
    D. Pengendalian Potensi Bahaya
    1.1 pekerja harus memakai alat bantu bekerja di ketinggian
    1.2 memberi sop pada pekerja tentang tata cara bekerja aman di ketinggian
    2.1 memasang jaring untuk mengamankan jika ada material yg terjatuh
    2.2 memakai APD (helm dan sepatu safety)agar bisa meminimalisir jika ada material yg terjatuh
    3. pekerja harus memakai APD (masker dan kacamata)agar tidak menghisap debu dan mata terlindungi dari debu material (bata ringan dan semen)
    4. pekerja harus diberi tahu tentang sikap tubuh yang tidak sesuai agar tidak mudah lelah dan tidak mudah merasa nyeri atau pegal-pegal
    5. mengatur jam kerja yang normal dan sesuai 8 jam/hari agar pekerja tidak kelelahan dan bisa fokus dalam bekerja
    6.1 mengatur letak tempat material agar mudah di jangkau oleh pekerja
    6.2 memakai APD (sarung tangan dan sepatu safety) agar bisa meminimalisir jika meterial terjatuh
    7.1 mengganti andang dengan scafolding
    E. Resiko Sisa
    1.1 tingkat kemungkinan :kemungkinan kecil terjadi
    1.2 tingkat keparahan :patah tulang yang paling parah kematian atau fatality
    1.3 tingkat resiko :medium
    2.1 tingkat kemungkinan :kemungkinan kecil terjdi
    2.2 tingkat keparahan :medical treatment
    2.3 tingkat resiko :medium
    3.1 tingkat kemungkinan :kemungkinan kecil terjadi
    3.2 tingkat keparahan :first aid
    3.3 tingkat resiko :low
    4.1 tingkat kemungkinan :kemungkinan kecil terjadi
    4.2 tingkat keparahan :first aid
    4.3 tingkat resiko :medium
    5.1 tingkat kemungkinan :kemungkinan kecil terjadi
    5.2 tingkat keparahan :medical treatment
    5.3 tingkat resiko :low
    6.1 tingkat kemungkinan :kemungkinan kecil terjadi
    6.2 tingkat keparahan :patah tulang yang paling parah kematian atau fatality dan property damage
    6.3 tingkat resiko :medium
    7.1 tingkat kemungkinan :kemungkinan kecil terjadi
    7.2 tingkat keparahan :patah tulang yang paling parah kematian dan property damage

    2. Pekerjaan pemasangan bata ringan untuk gedung bertingkat dengan ketinggian diatas 3,00 meter.
    A. Analisa potensi bahaya
    1.jatuh dari ketinggian
    2.tertimpa material(batu ringan)
    3.debu yang dihasilkan material(batu ringan dan semen)
    4.postur kerja yang tidak sesuai
    5.jam kerja yang melebihi jam keja normal 8 jam/hari
    6.bahan material yang susah di jangkau
    7.tempat pijakan yang tidak standar
    8.pekerja tidak memakai APD (full body harness)
    B. Konsekuensi
    1.pada manusia : patah tulang yang paling parah kematian atau fatality
    2.1 pada manisia : pekerja mengalami patah tulang yang paling parah kematian atau fatality
    2.2 pada material : material rusak karena terjatuh
    3. pada manusia : pekerja mengalami sesak napas dan penglihatan terganggu
    4. pada manusia : pekerja mengalami MSDs (muskoloskeletal disorder) cedera punggung karena cara mengangkat yang salah
    5. pada manusia : pekerja akan mengalami kelelahan dan akan kurang fokus dalam bekerja
    6.1 pada manusia : pekerja terjatuh karena sulit menjangkau material dan mengalami patah tulang yang paling parah kematian atau fatality
    6.2 pada material : material rusak karena terjatuh
    7.1 pada manusia : pekerja terjatuh dan mengalami patah tulang yang paling parah kematian atau fatality
    7.2 pada material : material rusak karena pijakan yang terjatuh mengenai material
    8.1 pada manusia : apabila pekerja terjatuh tidak ada penahan pekerja akan langsung jatuh kebawah dan mengalami patah tulang yang paling parah kematian atau fatality
    C. Resiko Awal
    1.1 tingakt kemungkinan :kemungkinan besar terjadi
    1.2 tingkat kepararahan :patah tulang yang paling parah kematian atau fatality
    1.3 tingkat resiko :high
    2.1 tingkat kemungkiinan:kemungkinan besar terjadi
    2.2 tingkat keparahan :medical treatment
    2.3 tingkat resiko :medium
    3.1 tingkat kemungkinan :pasti terjadi
    3.2 tingkat keparahan :first aid
    3.3 tingkat resiko :high
    4.1 tingkat kemungkinan :kemungkinan besar terjadi
    4.2 tingkat keparahan :first aid
    4.3 tingkat resiko :high
    5.1 tingkat kemungkinan :kemungkinan besar terjadi
    5.2 tingkat keparahan :medical treatment
    5.3 tingkat resiko :medium
    6.1 tingkat kemungkinan :kemungkinan besar terjadi
    6.2 tingkat keparahan :patah tulang yang paling parah kematian atau fatality dan property damage
    6.3 tingkat resiko :high
    7.1 tingkat kemungkinan :kemungkinan besar terjadi
    7.2 tingkat keparahan :patah tulang yang paling parah kematian atau fatality dan property damage
    7.3 tingkat resiko :high
    8.1 tingkat kemungkinan :kemungkinan besar terjadi
    8.2 tingkat keparahan :patah tulang yang paling parah kematian atau fatality
    8.3 tingkat resiko :very high
    D. Pengendalian Potensi Bahaya
    1.1 pekerja harus memakai alat bantu bekerja di ketinggian
    1.2 memberi sop pada pekerja tentang tata cara bekerja yang aman di ketinggian
    2.1 memasang jaring untuk mengamankan jika ada material yg terjatuh
    2.2 memakai APD (helm dan sepatu safety)agar bisa meminimalisir jika ada material yg terjatuh
    3. pekerja harus memakai APD (masker dan kacamata)agar tidak menghisap debu dan mata terlindungi dari debu material (bata ringan dan semen)
    4. pekerja harus diberi tahu tentang sikap tubuh yang tidak sesuai agar tidak mudah lelah dan tidak mudah merasa nyeri atau pegal-pegal
    5. mengatur jam kerja yang normal dan sesuai 8 jam/hari agar pekerja tidak kelelahan dan bisa fokus dalam bekerja
    6.1 mengatur letak tempat material agar mudah di jangkau oleh pekerja
    6.2 memakai APD (sarung tangan dan sepatu safety) agar bisa meminimalisir jika meterial terjatuh
    7.1 mengganti andang dengan scafolding
    8.1 pekerja harus memakai APD (full body harness) agar bisa meminimalisir jika pekerja terjatuh
    8.2 melakukan pengawasan pada pekerja yang bekerja di ketinggian
    E. Resiko Sisa
    1.1 tingkat kemungkinan :kemungkinan kecil terjadi
    1.2 tingkat keparahan :patah tulang yang paling parah kematian atau fatality
    1.3 tingkat resiko :medium
    2.1 tingkat kemungkinan :kemungkinan kecil terjdi
    2.2 tingkat keparahan :medical treatment
    2.3 tingkat resiko :medium
    3.1 tingkat kemungkinan :kemungkinan kecil terjadi
    3.2 tingkat keparahan :first aid
    3.3 tingkat resiko :low
    4.1 tingkat kemungkinan :kemungkinan kecil terjadi
    4.2 tingkat keparahan :first aid
    4.3 tingkat resiko :medium
    5.1 tingkat kemungkinan :kemungkinan kecil terjadi
    5.2 tingkat keparahan :medical treatment
    5.3 tingkat resiko :low
    6.1 tingkat kemungkinan :kemungkinan kecil terjadi
    6.2 tingkat keparahan :patah tulang yang paling parah kematian atau fatality dan property damage
    6.3 tingkat resiko :medium
    7.1 tingkat kemungkinan :kemungkinan kecil terjadi
    7.2 tingkat keparahan :patah tulang yang paling parah kematian dan property damage
    8.1 tingkat kemungkinan :kemungkinan kecil terjadi
    8.2 tingkat keparahan :first aid
    8.3 tingkat resiko :medium

    Nama : Dildila.Saputra
    NPM : 13.11.106.701501.0843
    Semester : V (Lima)
    Kelas : B1

  27. Pekerjaan :
    1. Pekerjaan pemaangan batu bata ringan untuk perumahan dengan ketinggian sampai dengan 3.00 meter dari permukaan tanah
    2. Pekerjaan pemasangan bata ringan untuk gedung bertingkat dengan ketinggian atas 3.00 meter.

    Pekerjaan 1.
    – Nama Pekerjaan
    Pekerjaan pemasangan batu bata ringan untuk perumahan dengan ketinggian sampai dengan 3.00 meter dari permukaan tanah

    – Potensi Penyebab bahaya (Hazard)
    1. Ketinggian yang sangat berpotensi, yang dapat menyebabkan jatuh
    2. Penyangga dari kayu yang tidak kuat
    3. Debu yang bertebaran di area lokasi kerja
    4. Bahan kimia berbahaya yang terkadung dalam material atau bahan bangunan
    5. Bakteri atau kuman di area kerja ataupun yang terkandung pada bahan- bahan bangunan
    6. Pemasangan batu bata yang tidak sesuai dengan prosedure
    7. Permukaan tanah yang miring untuk tempat pekerja tersebut
    8. Alat – alat kerja yang berserakan diarea kerja
    9. Cuaca panas terik matahari yang langsung

    Deskrepsi konsekuensi terhadap manusia
    – Ketinggian dapat membuat pekerja tersebut cedera apabila terjatuh
    – Debu yang bertebaran dapat menyebabkan iritasi mata apabila langsung kontak dengan mata atau masuk ke mata
    – Penyangga dari kayu yang tidak kokoh dapat menyebabkan pekerja jatuh
    – Bahan kimia yang berbahaya dapat penyebabkan sesak nafas apabila terhirup oleh pekerja, kuman – kuman yang terkandung dalam material dapat menyebabkan iritasi pada pada kulit pekerja
    – Permukaan tanah yang miring dapat terjatuh pada saat
    – alat- alat kerja yang berserakan dapat menganggu pekerja
    – cuaca terik matahari dapat membuat pusing pekerja.
    – Pemasangan Batu Bata yang Tidak sesuai
    Deskripsi konsekuensi Terhadap alat/peralatan
    – Robohnya Penyangga kayu ( Scaffolding kayu ) yang tidak kuat / tidak kokoh tempat pekerja tersebut berdiri
    – hancurnya batu bata apabila terjatuh

    Deskripsi Konsekuensi Terhadap lingkungan

    – banyaknya debu-debu yang bertebaran pada saat pengadukan semen dapat merusak lingkungan
    – Pemasangan batu bata yang tidak sesuai prosedure atau standart dapat menyebabkan roboh atau amrbruknya dinding batu bata yang dapat meganggu atau merusak lingkugan sekitar

    Resiko Awal (Tingkat Kemungkinan, Tingkat Keparahan, Tingkat Resiko )
    – Ketinggian – Tingkat Kemungkinan “Sering” terjadi => Tingkat Keparahan “Berat” Dapat menyebabkan patah tulang => Tingkat Resiko “Tinggi”
    – Penyangga kayu/andang Tempat Pekerja melakukan pekerjaan – Tingkat Kemungkinan “Sedang” terjadi karna penyangga kayu tidak kuat dan tidak kokoh => Tingkat keparahan “Berat” pada saat ambruk atau roboh dapat menyebabkan cedera yang parah => Tingkat Reiko ” Tinggi”
    – Debu – Tingkat Kemungkinan “Sering” terjadi saat pekerjaan berlangsung => Tingkat Keparahan “berat ” Dapat menggangu pernafasan => Tingkat Resiko “tinggi”
    – Bahan Kimia – Tingkat Kemungkinan ” Sering” => Tingkat Keparahan” Sedang” => Tinhkat Keparahan”Sedang”
    – Permukaaan tanah miring – Tingkat Kemungkinan”sering” => Tingkat Keparahan “Berat” => Tigkat Resiko => Tinggi
    – alat-alat yang berserakan – Tingkat Kemungkinan “Sering” => Tingkat Keparahan”sedang” => Tingkat Resiko ” Tinggi”
    – Cuaca Terik Matarhari – Tingkat Kemungkinan”Sering” => Tingkat Keparahan “Berat” => Tingkat Resiko “Tinggi”
    – Pemasagan batu bata tidak sesuai – Tingkat Kemungkinan “Sering” => Tingkat Keparahan “Berat” => Tingkat Resiko “Tinggi”

    Potensi Pengendalian Bahaya
    – Ketinggian : Merapikan Semua barang-barang material yang berserakan dibawah Scaffolding, (Subtitusi) Memberikan Training tentang bekerja diketinggian(Administrasi), Menggunakan Aalat Pelindung diri yang lengkap (APD)
    – Penyangga kayu/ andang tempat pekerja melakukan pekerjaan : Mengganti scaffolding kayu dengan scaffolding besi yang lebih kokoh.(ELIMINASI)
    – Debu : Memberikan training pekerjaan yang dlakukan, Menggunakan Masker khusus Debu kepada pekerja.(APD)
    – Bahan Kimia : Memberikan training tentang bahaya bahan kimia yang terkadung di material bahan bangunan (ADMINISTRASI), Menggunakan baju lengan panjang dan menggunakan sarung tangan safety dan sepatu safety (APD)
    – Permukaan tanah miring: membersihkan area pekerjaan dan meratakan bagian tanah yang miring(ELIMINSAI)
    – Alat – alat pekerjaan yang berserakan dan material yang beserakan : Merapikan barang-barang yang berserakan dan membawa alat yang perlu saja di area pekerjaan pemasangan bata (Subtitusi)
    – Cuaca terik matahari : Menggunakan Helm Safety. (APD)
    – Pemasangan batu bata yang tidak sesuai : Memberikan training kepada pekerja tentang pemasangan batu bata ringan yang benar dan memilih org yang berkompeten dibidangnya (ADMINISTRASI)

    Resiko Sisa:

    Ketinggian : Tingkat Kemungkinan “Sering”, Tingkat Keparahan “Ringan” = Tingkat Resiko “Sedang”
    Penyangga kayu/ Andang kayu : Tingkat kemungkinan ” Sedang” , Tingkat keparahan “Sangat Ringan” = Tingkat Resiko ” Rendah”
    Debu :Tingkat kemungkinan “Sering” , Tingkat Keparahan “Ringan” = Tingkat Resiko ” Sedang”
    Bahan Kimia: Tingkat Kemungkinan ” Serinng”, Tingkat Keparahan ” Ringan” = Tingkat Resiko ” Sedang”
    Permukaan Tanah yang Miring : Tingkat kemungkinan “Jarang”, Tingkat Keparahan “Ringan” = Tingkat Resiko ” Sedang”
    Alat – alat yang berserakan : Tingkat kemungkinan” Sering” , Tingkat keparahan” Sangat Ringan ” = Tingkat Resiko ” Rendah”
    Cuaca Terik Matahari : Tingkat Kemungkinan “Jarang”, Tingkat Keparahan “Sangat Rendah” = Tingkat Resiko “Rendah”
    Pemasangan Batu Bata : Tingkat Kemungkinan ” Sering” , Tingkat Keparahan ” Sedang” = Tingkat Resiko ” Sedang”

    Pekerjaan 2
    Nama Pekerjaan :
    Pekerjaan pemasangan bata ringan untuk gedung bertingkat dengan ketinggian diatas 3,00 meter.

    Potensi Bahaya
    – Ketinggian di atas 3.00 meter
    – Jalur Aliran Listrik
    – Scaffolding yang digunakan hanya dari kayu yang tidak kuat
    – Debu
    – Bahan kimia berbahaya yang terkandung pada material
    – Pemasangan batu bata yang tidak sesuai / miring
    – Permukaan tanah yang tidak rata.

    Deskripsi Konsekuensi terhadap Manusia:
    – Jatuhnya pekerja dari gedung bertigkat yang dapat menyebabkan cedera yang parah bahkan kematian
    – Tersengat ALiran Listrik
    – Gangguan Pada Pernafasan
    – Iritasi Kulit dan gangguan Pernaasan apabila terhirup
    – cuaca panas / terik mathari
    Deskripsi Konsekuensi pada alat
    – Roboh/ Ambruknya Scaffolding kayu yang digunakna pekerja

    Deskripsi Kosekuensi pada Lingkungan
    – Aliran listr yang dapat menyebabkan kebakaran
    – Robohnya Batu bata yang sudah di pasang karna tidak sesuai dengan prosedure

    Resiko Awal (Tingkat Kemungkinan, Tingkat Keparahan, Tingkat Resiko
    – Ketinggian : Tingkat Kemungkinan ” Sering” , Tingkat Keparahan “Berat”= Tingkat Resiko “Tinggi”
    – Jalur Aliran Listrik : Tingkat Kemungkinan ” Sering “, Tingat Keparhan “Sangat Berat” = Tingkat Resiko ” Tinggi”
    – Scaffolding / Penyangga dari kayu : Tingkat Kemungkinan “Sering” tingkat Keparahan “berat” = Tingkat Resiko ‘Tinggi”
    – Debu : Tingkat Kemungkinan “Sering” , Tingkat Keparahan “Berat” = TIngkat Resiko ” Tinggi”
    – Pemasangan batu bata : Tingkat Kemungkinan “sering” Tingkat Keparaha ” Berat” = Tingkat Resiko “Tinggi”
    – Permukaan tanah tidak rata : Tingkat kemungkinan “Sering” , Tingkat Keparahan ” Berat” = Tingkat Resiko “Tinggi”
    – Cuaca panas / terik matahari : Tigkat kemungkinan ” Sering” , Tingkat Keparahan “Berat ” = Tingkat resiko “Tinggi”

    Potensi Pengendalian bahaya.

    -Ketiggian : Memberikan training tentang bekerja diketinggian, SOP kerja diketinggian dan JSA (Administrasi), Menggunakan Semua perlengkapan Safety, Menggunakan Full Body Harnest (APD)
    -Aliran listrik : Memindahkan area / lokasi kerja di tempat yang lebih jauh dari jalur kabel listrik (Eliminasi), Melakukan pengecekan area kerja (Administrasi)
    -Scaffolding kayu : Menggati scaffolding kayu dengan menggunakan scaffolding yang lebih kuat dan kokoh, khusus untuk gedung tinggi / bertingkat (Eliminasi)
    -Debu : Menggunakan Masker khusu debu pada saat pekerjaan berlangsung (APD)
    -Bahan kimia : Memberikan training tentang bahaya bahan kimia bagi kesehatan (Administrari) , Menggunakan Sarung tangan dan menggunakan baju lengan panjang dan celana panjang khusu kerja di ketinggian, menggunakan Sepatu safety (APD)
    -Pemasangan batu bata : Memberkan training kepada pekerja tentang pemasangan batu bata yang benar sesuai dengan prosedure (administrasi), Melakukan pengecekan/ survey area kerja.
    -Permukaan tanah yang miring : Meratakan tanah dan membersihkan area pekerjaan (subtitusi)
    -Cuaca terik matahari : Menggunaka Helm Safety , dan kacamata safety (Apd)

    Resiko Sisa:
    – Ketinggian : Tingkat Kemungkinan ” Sering” , Tingkat Keparahan “Ringan”= Tingkat Resiko “Sedang” (Masih Aman Dilakukan dengan Pengendalian yang ada)
    – Jalur Aliran Listrik : Tingkat Kemungkinan ” Sedang”, Tingat Keparhan “Sangat Ringan” = Tingkat Resiko ” Rendah” (Masih Aman Dilakukan Dengan Pengendalian yang ada )
    – Scaffolding / Penyangga dari kayu : Tingkat Kemungkinan “Sering” tingkat Keparahan “Ringan” = Tingkat Resiko ‘Sedang” (Masih Aman Dlakukan dengan Pengendalian yang ada)
    – Debu : Tingkat Kemungkinan “Sering” , Tingkat Keparahan “Sangat Ringan” = TIngkat Resiko ” Rendah” (Masih Aman dilakukan Dengan pengendalian yang ada)
    – Pemasangan batu bata : Tingkat Kemungkinan “sering” Tingkat Keparahan “Ringan” = Tingkat Resiko “Sedang” (Masih AMan dilakukan Dengan Pengendalian yang ada)
    – Permukaan tanah tidak rata : Tingkat kemungkinan “Sedang” , Tingkat Keparahan “Ringan” = Tingkat Resiko “Sedang” (MAsih aman dilakukan dengan pengendalian yang ada)
    – Cuaca panas / terik matahari : Tigkat kemungkinan ” Sering” , Tingkat Keparahan “Ringan” = Tingkat resiko “Sedang” (Masih aman dilakukan dengan Pengendlian yang ada)

    Nama : Annisa
    Kelas : B1 (Sore)
    NPM : 13.11.106.701501.0862
    Semester : V Lima

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s