SAFETY PRIME

Engineering Safety

[151014] Tugas 4 Keselamatan Konstruksi – Khusus Semester V Kelas B2 (Malam) 2015

55 Comments

Kepada Mahasiswa D4K3 Semester V Kelas B2 (Malam) 2015.

Berdasarkan tugas 3 yang telah Anda kerjakan sebelumnya, Anda diminta untuk membuat Risk Matriks yang merupakan identifikasi suatu potensi bahaya (hazard) dan pengendalian potesi bahaya untuk jenis pekerjaan:

  1. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.
  2. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah.

Risk Matriks terdiri atas:

  • Nama pekerjaan (2 jenis pekerjaan seperti tercantum diatas).
  • Potensi penyebab bahaya (hazard).
  • Deskripsi konsekuensi terhadap manusia, alat/peralatan, lingkungan.
  • Risiko awal (Tingkat kemungkinan, Tingkat keparahan, Tingkat risiko).
  • Pengendalian potensi bahaya (Eliminasi, Substitusi, Rekayasa Teknis, Administratif, APD).
  • Risiko sisa (Tingkat kemungkinan, Tingkat keparahan, Tingkat risiko).
  • Pengendalian tambahan terhadap bahaya (bila ada).

Kerjakan tugas Anda dengan ketentuan sebagai berikut:

  1. Untuk mengerjakan tugas ini, Anda disarankan menggunakan program aplikasi NOTEPAD atau TEXT EDITOR atau yang sejenis terlebih dahulu. Jangan menggunakan program aplikasi MS WORD.
  2. Cantumkan Nama, NIM, Semester, dan Kelas Anda diakhir tugas.
  3. Kirim tugas Anda (posting) dengan cara mengetik secara langsung pada kotak “Leave a Reply” atau copy-paste dari NOTEPAD yang sudah dibuat sebelumnya. Masukkan alamat e-mail dan nama Anda pada kotak yang disediakan, Anda tidak perlu memasukkan alamat website. Terakhir jangan lupa klik “POST COMMENT”.
  4. Batas akhir posting adalah hari Rabu, 14 Oktober 2015 pukul 23:59 wita.
  5. Posting tidak boleh lewat waktu. Apabila telah lewat waktu, maka tugas Anda TIDAK akan mendapat approval untuk dimuat pada website ini dan dianggap TIDAK mengerjakan tugas.
  6. Posting hanya akan tampil setelah mendapatkan persetujuan terlebih dulu dari Dosen Pengampu, sehingga Mahasiswa tidak perlu memposting berulang kali untuk tugas yang sama.
  7. Tugas yang anda kerjakan TIDAK boleh sama antara satu mahasiswa dengan mahasiswa yang lain dalam kelas yang sama. Bila ditemukan ada kesamaan penyelesaian dua atau lebih, maka kesemua tugas yang dikerjakan tidak akan diberikan penilaian.
  8. Sistem penilaian tugas ini: Tugas dikerjakan dengan benar, rinci dan akurat, serta diposting pada hari:
    –     H       — Nilai C
    –     H -1   — Nilai C+
    –     H -2   — Nilai B
    –     H -3   — Nilai B+
    –     H -4   — Nilai A
    –     Lewat waktu — Nilai 0 (Nol)
  9. Nilai tugas akan dipertimbangkan sesuai tanggal posting, meskipun terdapat koreksi oleh Dosen pada tanggal berbeda kemudian Mahasiswa melakukan perbaikan, namun tanggal posting awal tetap dianggap sebagai acuan penilaian.

Selamat mengerjakan tugas, tetap semangat dan semoga berhasil.

Advertisements

55 thoughts on “[151014] Tugas 4 Keselamatan Konstruksi – Khusus Semester V Kelas B2 (Malam) 2015

  1. Tugas IV.

    Tabel I. Risk Matriks

    _________________________________________________________________________________________________________________________
    | KECENDERUNGAN / KEMUNGKINAN dari KONSEKUENSI |
    |_______________________________________________________________________________________________________________________|
    |Hampir tidak pernah |Terjadi 1 x tiap |Terjadi 1 x tiap |Terjadi 1x – 2x tiap |Banyak terjadi |
    |terjadi |15 tahun |5 tahun |1 tahun |tiap tahun |
    |_______________________|_______________________|_______________________|_______________________|_______________________|
    |Tidak mungkin |Kemungkinan kecil |Kemungkinan terjadi |Kemungkinan besar |Pasti terjadi |
    |terjadi |Terjadi |rata rata |terjadi | |
    ________________________________________________________________________|_______________________|_______________________|_______________________|_______________________|_______________________|
    |Lingkungan |Kerusakan Properti |Keselamatan | A | B | C | D | E |
    ________________|_______________________|_______________________|_______________________|_______________________|_______________________|_______________________|_______________________|_______________________|
    | | | | | | | | | | |
    | K | |Berefek sangat serius | | | | | | | |
    | O | 5 |dan bersifat jangka | > Rp 1.000.000.000 |Fatality | MENENGAH | MENENGAH | TINGGI | SIGNIFIKAN | SIGNIFIKAN |
    | N | |panjang, yang | | | | | | | |
    | S |_______|mempengaruhi |_______________________|_______________________|_______________________|_______________________|_______________________|_______________________|_______________________|
    | E | |ekosistem secara | | | | | | | |
    | K | |keseluruhan | Rp 100.000.000 |Lost Time Injury | | | | | |
    | U | 4 | | s/d |dengan cacat permanen | MENENGAH | MENENGAH | TINGGI | TINGGI | SIGNIFIKAN |
    | E | | | Rp 1.000.000.000 | | | | | | |
    | N |_______|_______________________|_______________________|_______________________|_______________________|_______________________|_______________________|_______________________|_______________________|
    | S | |Berefek serius terhadap| | | | | | | |
    | I | |lingkungan, efek jangka| Rp 1.000.000 |Lost Time Injury | | | | | |
    | | 3 |pendek, tanpa | s/d |tanpa cacat permanen | RENDAH | RENDAH | MENENGAH | TINGGI | TINGGI |
    | atau | |mempengaruhi ekosistem | Rp 100.000.000 | | | | | | |
    | |_______|_______________________|_______________________|_______________________|_______________________|_______________________|_______________________|_______________________|_______________________|
    | K | |Berefek sedang terhadap| | | | | | | |
    | E | |lingkungan, efek jangka| Rp 100.000 |Perawatan medis | | | | | |
    | P | 2 |pendek, tanpa | s/d |(Medical treatment) | RENDAH | RENDAH | MENENGAH | MENENGAH | TINGGI |
    | A | |mempengaruhi ekosistem | Rp 1.000.000 | | | | | | |
    | R |_______|_______________________|_______________________|_______________________|_______________________|_______________________|_______________________|_______________________|_______________________|
    | A | |Berefek kecil terhadap | | | | | | | |
    | H | |lingkungan | |P3K | | | | | |
    | A | 1 | | < Rp 100.000 |(First aid case) | RENDAH | RENDAH | RENDAH | MENENGAH | MENENGAH |
    | N | | | | | | | | | |
    |_______|_______|_______________________|_______________________|_______________________|_______________________|_______________________|_______________________|_______________________|_______________________|

    Tabel 2. Tabel Skala Kecenderungan
    Risk Matrik pada tabel 1 menggunakan acuan skala kecenderungan dengan keterangan pada tabel 2 berikut.
    _________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
    | Tingkatan | Kejadian | Deskripsi Kecenderungan | Indikasi Kecenderungan |
    |_______________|_______________________|_______________________________________________________________________|_______________________________________________|
    | |Hampir tidak |Pernah terdengar kejadian yang serupa di tempat lain pada waktu | |
    | A |pernah terjadi |yang sudah lampau |Terjadi setiap 100 tahun sekali |
    |_______________|_______________________|_______________________________________________________________________|_______________________________________________|
    | |Terjadi setiap |Pernah terjadi kejadian serupa di tempat yang berbeda beda dengan | |
    | B |1x setiap 15 tahun |tingkat keparahan yang hampir mirip atau serupa |Terjadi setiap 15 tahun sekali |
    |_______________|_______________________|_______________________________________________________________________|_______________________________________________|
    | |Terjadi setiap | | |
    | C |1x setiap 5 tahun |Kejadian ini mungkin dapat terjadi di tempat kerja yang sekarang |Terjadi setiap 5 tahun sekali |
    |_______________|_______________________|_______________________________________________________________________|_______________________________________________|
    | |Terjadi 1x – 2x tiap |Kejadian yang sama dapat terjadi di tempat kerja yang sekarang | |
    | D |1 tahun |atau pada proyek yang sedang dikerjakan |Dapat terjadi 1x atau 2x dalam setahun |
    |_______________|_______________________|_______________________________________________________________________|_______________________________________________|
    | | |Kejadian sering terjadi pada proyek yang sama dengan jumlah lebih | |
    | E |Pasti terjadi |dari 2x setiap tahunnya |Terjadi lebih dari 2x selama periode 1 tahun |
    |_______________|_______________________|_______________________________________________________________________|_______________________________________________|

    Tabel 3. Tabel Skala Kemungkinan
    Risk Matrik pada tabel 1 menggunakan acuan skala kemungkinan dengan keterangan pada tabel 3 berikut.
    _________________________________________________________________________________________________________________
    | Tingkatan | Kejadian | Deskripsi Kemungkinan |
    |_______________|_______________________|_______________________________________________________________________|
    | | | |
    | A |Tidak mungkin terjadi |Tidak pernah terjadi selama proyek berlangsung |
    |_______________|_______________________|_______________________________________________________________________|
    | |Kemungkinan kecil | |
    | B |terjadi |Sangat jarang terjadi selama proyek berlangsung |
    |_______________|_______________________|_______________________________________________________________________|
    | |Kemungkinan terjadi | |
    | C |rata-rata |Jarang terjadi pada saat proyek sedang berlangsung |
    |_______________|_______________________|_______________________________________________________________________|
    | |Kemungkinan besar | |
    | D |terjadi |Sangat mungkin terjadi pada proyek yang sedang berlangsung |
    |_______________|_______________________|_______________________________________________________________________|
    | |Banyak terjadi | |
    | E |setiap |Sering terjadi pada hampir setiap proyek yang sejenis |
    |_______________|_______________________|_______________________________________________________________________|

    Dengan menggunakan Risk Matriks pada tabel 1 diatas maka dapat dibuat HIRAC (Hazard Identification and Risk Assessment Control) pada pekerjaan pekerjaan berikut.

    Tabel 4.1. HIRAC pada pemasangan bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah

    Keterangan :
    a. segala aktifitas dengan nilai Tingkat Resiko lebih dari atau sama dengan MENENGAH maka pada kolom Resiko Residual harus diisi dengan "Ya"
    b. Kontrol Tambahan dan seterusnya dibuat untuk menurunkan Tingkat Resiko menjadi RENDAH
    _________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
    | | | | | | | Penilaian Resiko sesuai Kontrol yang sudah ada | | | | | | Penilaian Resiko setelah Kontrol Tambahan | |
    | | | | | | |_______________________________________________________| Resiko | P I C | Kontrol Tambahan |Batas |Status |_______________________________________________________| Keterangan |
    | No. | Aktifitas | Lokasi | Detail Bahaya | Konsekuensi | Kontrol yang sudah ada | Konsekuensi | Kecenderungan | Tingkat Resiko | Residual | | |Waktu | | Konsekuensi | Kecenderungan | Tingkat Resiko | |
    |_______|_______________________________________|_______________|_______________________________|_______________________|_______________________________|_______________|_______________|_______________________|_______________|_______________|_______________________|_______________|_______|_______________|_______________|_______________________|_______________________________|
    | | | | | | | | | | | | | | | | | | |
    |4.1.1. |Memasang batu bata dengan posisi |Proyek Rumah |Pekerja terjatuh dari perancah | – Memar |- Menggunakan perancah model | 4 | C | Tinggi | Ya |Mandor dan |- Membuat stopper |9 Okt 2015 |Close | 2 | B | Rendah | |
    | |berdiri diatas andang | |atau andang | – Terkilir/keseleo | knock down | | | | |tukang |- Menutup permukaan | | | | | | |
    | | | | | – Patah tulang |- Pengawasan | | | | | | perancah secara penuh| | | | | | |
    |_______|_______________________________________|_______________|_______________________________|_______________________|_______________________________|_______________|_______________|_______________________|_______________|_______________|_______________________|_______________|_______|_______________|_______________|_______________________|_______________________________|
    | | | | | | | | | | | | | | | | | | |
    |4.1.2. |Pembantu tukang menaikkan material |Proyek Rumah |Pembantu tukang kejatuhan ember| – Memar |- Menggunakan perancah model | 3 | D | Tinggi | Ya |Mandor dan |- Membuat stopper |10 Okt 2015 |Close | 2 | B | Rendah | |
    | |untuk tukang. | |semen,bata,palu, cetok. | – Luka pada kepala | knock down | | | | |tukang |- Membuat tangga satu | | | | | | |
    | | | | | |- Pengawasan | | | | | | tingkat | | | | | | |
    |_______|_______________________________________|_______________|_______________________________|_______________________|_______________________________|_______________|_______________|_______________________|_______________|_______________|_______________________|_______________|_______|_______________|_______________|_______________________|_______________________________|
    | | | | | | | | | | | | | | | | | | |
    |4.1.3. |Supervisi pekerjaan dan penyiapan |Proyek Rumah |Perancah ambruk menimpa pem- | – Memar |- Belum ada | 3 | E | Tinggi | Ya |Tukang dan |- Mengikat perancah |21 Okt 2015 |Open | 3 | E | Tinggi |Tukang dan pembantu tukang |
    | |material | |bantu tukang dan mandor | – Luka terbuka | | | | | |pembantu tukang|- Pembersihan lantai | | | | | |belum melaksanakan pembersihan |
    | | | | | | | | | | | | kerja | | | | | |lokasi |
    |_______|_______________________________________|_______________|_______________________________|_______________________|_______________________________|_______________|_______________|_______________________|_______________|_______________|_______________________|_______________|_______|_______________|_______________|_______________________|_______________________________|
    | | | | | | | | | | | | | | | | | | |
    |4.1.4. |Aktivitas harian di lokasi proyek |Proyek Rumah |Seluruh pekerja terpapar debu | – Sesak nafas |- Belum ada | 2 | D | Menengah | Ya |Pemborong |- Menyediakan masker |9 Okt 2015 |Close | 2 | B | Rendah | |
    | | | | | | | | | | | | anti debu | | | | | | |
    | | | | | | | | | | | |- Pembersihan lokasi | | | | | | |
    |_______|_______________________________________|_______________|_______________________________|_______________________|_______________________________|_______________|_______________|_______________________|_______________|_______________|_______________________|_______________|_______|_______________|_______________|_______________________|_______________________________|
    | | | | | | | | | | | | | | | | | | |
    |4.1.5. |Aktivitas harian di lokasi proyek |Proyek Rumah |Pakaian kerja yang bau dan | – Gatal gatal |- Pekerja mencuci pakaian | 1 | C | Rendah | Tidak | – | – | – | – | – | – | – | |
    | | | |kotor | – Penyakit kulit | secara teratur | | | | | | | | | | | | |
    | | | | | | | | | | | | | | | | | | |
    |_______|_______________________________________|_______________|_______________________________|_______________________|_______________________________|_______________|_______________|_______________________|_______________|_______________|_______________________|_______________|_______|_______________|_______________|_______________________|_______________________________|
    | | | | | | | | | | | | | | | | | | |
    |4.1.6. |Aktivitas harian di lokasi proyek |Proyek Rumah |Pekerja tersengat binatang | – Lebam |- Belum ada | 2 | D | Menengah | Ya |Tukang dan |- membuang sisa atau |10 Okt 2015 |Open | 2 | D | Menengah |Tukang dan pembantu tukang |
    | | | |berbisa | – Pingsan | | | | | |pembantu tukang| bekas bongkaran | | | | | |belum melaksanakan pembersihan |
    | | | | | | | | | | | | | | | | | |lokasi |
    |_______|_______________________________________|_______________|_______________________________|_______________________|_______________________________|_______________|_______________|_______________________|_______________|_______________|_______________________|_______________|_______|_______________|_______________|_______________________|_______________________________|
    | | | | | | | | | | | | | | | | | | |
    |4.1.7. |Aktivitas harian di lokasi proyek |Proyek Rumah |Pekerja mengalami dehidrasi | – Keletihan |- Menyiapkan air minum untuk | 2 | B | Rendah | Tidak | – | – | – | – | – | – | – | |
    | | | |dan kelelahan | – Pingsan | semua pekerja | | | | | | | | | | | | |
    | | | | | |- Menutupi area dengan terpal | | | | | | | | | | | | |
    |_______|_______________________________________|_______________|_______________________________|_______________________|_______________________________|_______________|_______________|_______________________|_______________|_______________|_______________________|_______________|_______|_______________|_______________|_______________________|_______________________________|

    Tabel 4.2. HIRAC pada pekerjaan pemasangan bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian lebih dari 3,00 meter dari permukaan tanah

    Keterangan :
    a. segala aktifitas dengan nilai Tingkat Resiko lebih dari atau sama dengan MENENGAH maka pada kolom Resiko Residual harus diisi dengan "Ya"
    b. Kontrol Tambahan dan seterusnya dibuat untuk menurunkan Tingkat Resiko menjadi RENDAH
    _________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
    | | | | | | | Penilaian Resiko sesuai Kontrol yang sudah ada | | | | | | Penilaian Resiko setelah Kontrol Tambahan | |
    | | | | | | |_______________________________________________________| Resiko | P I C | Kontrol Tambahan |Batas |Status |_______________________________________________________| Keterangan |
    | No. | Aktifitas | Lokasi | Detail Bahaya | Konsekuensi | Kontrol yang sudah ada | Konsekuensi | Kecenderungan | Tingkat Resiko | Residual | | |Waktu | | Konsekuensi | Kecenderungan | Tingkat Resiko | |
    |_______|_______________________________________|_______________|_______________________________|_______________________|_______________________________|_______________|_______________|_______________________|_______________|_______________|_______________________|_______________|_______|_______________|_______________|_______________________|_______________________________|
    | | | | | | | | | | | | | | | | | | |
    |4.2.1. |Memasang batu bata dengan posisi |Proyek Gedung |Pekerja terjatuh dari perancah | – Patah tulang |- Perencanaan scafolding | 3 | C | Menengah | Ya |- Supervisor |- Inspeksi dan komuni |9 Okt 2015 |Open | 1 | C | Rendah |On progress. Berkala harian. |
    | |berdiri diatas andang | |atau andang | – Kematian |- Training bekerja di ketingg- | | | | | | kasi terhadap mandor |(tentative) | | | | | |
    | | | | | | gian | | | | | | | | | | | | |
    | | | | | |- Wajib APD di semua area | | | | | | | | | | | | |
    | | | | | |- Permit Kerja & JSA | | | | | | | | | | | | |
    | | | | | |- Pembuatan badge khusus | | | | |- Electrician |- Pemasangan lampu |8 Okt 2015 |Close | | | | |
    | | | | | |- Pemberian punishment & reward| | | | | | emergency | | | | | | |
    | | | | | |- Pemasangan safety net | | | | | | | | | | | | |
    | | | | | |- Inspeksi perancah secara | | | | |- Mandor dan |- Menyediakan tangga |8 Okt 2015 |Close | | | | |
    | | | | | | berkala | | | | | Supervisor | darurat dan akses | | | | | | |
    | | | | | |- Penggunaan body harness untuk| | | | | | evakuasi | | | | | | |
    | | | | | | setiap pekerja di perancah | | | | | | | | | | | | |
    | | | | | |- Perencanaan pekerjaan harian | | | | |- Safetyman |- Inspeksi APD per |8 Okt 2015 | | | | | |
    | | | | | |- Membuat tanda akses terbatas | | | | | | minggu| |(tentative) |Open | | | |On progress. Berkala mingguan. |
    | | | | | |- Pengawas pekerjaan pada tiap | | | | | | | | | | | | |
    | | | | | | tiap sub pekerjaan yang meng-| | | | | | | | | | | | |
    | | | | | | gunakan perancah | | | | | | | | | | | | |
    | | | | | |- patroli Safetyman setiap | | | | | | | | | | | | |
    | | | | | | 2 jam sekali di setiap shift | | | | | | | | | | | | |
    | | | | | |- Pembatasan jam kerja saat | | | | | | | | | | | | |
    | | | | | | menggunakan perancah | | | | | | | | | | | | |
    | | | | | |- Pelarangan penggunaan hand- | | | | | | | | | | | | |
    | | | | | | phone pada pekerja yang | | | | | | | | | | | | |
    | | | | | | bekerja menggunakan perancah | | | | | | | | | | | | |
    |_______|_______________________________________|_______________|_______________________________|_______________________|_______________________________|_______________|_______________|_______________________|_______________|_______________|_______________________|_______________|_______|_______________|_______________|_______________________|_______________________________|
    | | | | | | | | | | | | | | | | | | |
    |4.2.2. |Aktivitas harian di lokasi proyek |Proyek Gedung |Pekerja kejatuhan benda dari |- Luka berat |- Pemasangan safety net | 3 | C | Menengah | Ya |- Safetyman dan|- Inspeksi safetynet |8 Okt 2015 | | 1 | C | Rendah | |
    | | | |perancah |- Gegar otak |- Barikade dan pembuatan tanda | | | | | Mandor | tiap minggu |(tentative) |Close | | | | |
    | | | | |- Fatality | akses terbatas pada tempat di| | | | | | | | | | | | |
    | | | | | | bawah perancah | | | | | | | | | | | | |
    | | | | | |- Wajib APD di area proyek | | | | | | | | | | | | |
    |_______|_______________________________________|_______________|_______________________________|_______________________|_______________________________|_______________|_______________|_______________________|_______________|_______________|_______________________|_______________|_______|_______________|_______________|_______________________|_______________________________|
    | | | | | | | | | | | | | | | | | | |
    |4.2.3. |Supervisi pekerjaan, persiapan material|Proyek Gedung |Perancah ambruk / runtuh |- Kerusakan properti |- Perencanaan pendirian peran- | 4 | D | Tinggi | Ya |- HRD & PM |- training internal |6 Okt 2015 |Close | 2 | C | Menengah | |
    | |dan aktivitas rutin lainnya di area | |menimpa lokasi kerja di bawah |- Cedera berat | cah secara matang | | | | | | materi lalu lintas | | | | | | |
    | |proyek | | |- Fatality |- Perakitan perancah oleh | | | | | | terbatas pada proyek | | | | | | |
    | | | | | | tukang yang punya kompetensi | | | | | | | | | | | | |
    | | | | | |- Inspeksi material perancah | | | | |- Facility |- pembuatan pos jaga |5 Okt 2015 |Close | | | | |
    | | | | | | sebelum dipasang / dirakit | | | | | Dept | portal untuk security| | | | | | |
    | | | | | |- Inspeksi keamanan perancah | | | | | | | | | | | | |
    | | | | | | oleh Scaffolding Inspector | | | | |- HRD |- penambahan personil |15 Okt 2015 |Open | | | |- proses penerimaan karyawan |
    | | | | | |- Persiapan landasan perancah | | | | | | traffic man dan | | | | | | masih berlangsung |
    | | | | | | atau tapak dengan pengerasan | | | | | | security | | | | | | |
    | | | | | |- Pembuatan jalur lalu lintas | | | | | | | | | | | | |
    | | | | | | kendaraan keluar masuk proyek| | | | |- Scaffolding |- inspeksi perancah |10 Okt 2015 |Open | | | |- belum berjalan. Inspector |
    | | | | | |- Barikade di sekeliling | | | | | Inspector | rutin mingguan | | | | | | resign per 1 Oktober. Sedang |
    | | | | | | perancah untuk menghindari | | | | | | | | | | | | proses iklan lowongan. |
    | | | | | | tersenggol kendaraan proyek | | | | |- Logistic |- pengadaan material |6 Okt 2015 |Close | | | | |
    | | | | | |- Wajib APD di area proyek | | | | | Dept | perancah pengganti | | | | | | |
    | | | | | |- Pembuatan tanda / stiker | | | | | | | | | | | | |
    | | | | | | khusus bagi kendaraan proyek | | | | | | | | | | | |lokasi |
    | | | | | |- Terdapat Emergency Response | | | | | | | | | | | | |
    | | | | | | Team | | | | | | | | | | | | |
    |_______|_______________________________________|_______________|_______________________________|_______________________|_______________________________|_______________|_______________|_______________________|_______________|_______________|_______________________|_______________|_______|_______________|_______________|_______________________|_______________________________|
    | | | | | | | | | | | | | | | | | | |
    |4.2.4. |Bongkar muat semen |Proyek Gedung |Seluruh pekerja terpapar debu | – Sesak nafas |- Pembagian masker anti debu | 2 | D | Menengah | Ya |Logistic dan |- Menyediakan masker |9 Okt 2015 |Close | 2 | B | Rendah | |
    | |dan aktivitas harian lainnya | | | | sebelum dimulai pekerjaan | | | | |sub kontraktor | anti debu sebagai | | | | | | |
    | | | | | |- Penggantian tiap kerusakan | | | | | | stock (mandatory) | | | | | | |
    |_______|_______________________________________|_______________|_______________________________|_______________________|_______________________________|_______________|_______________|_______________________|_______________|_______________|_______________________|_______________|_______|_______________|_______________|_______________________|_______________________________|
    | | | | | | | | | | | | | | | | | | |
    |4.2.5. |Aktivitas harian di lokasi proyek |Proyek Gedung |Pakaian kerja yang bau dan | – Gatal gatal |- Pekerja mencuci pakaian | 1 | C | Rendah | Tidak | – | – | – | – | – | – | – | |
    | | | |kotor | – Penyakit kulit | secara teratur | | | | | | | | | | | | |
    | | | | | |- Pemberian reward | | | | | | | | | | | | |
    |_______|_______________________________________|_______________|_______________________________|_______________________|_______________________________|_______________|_______________|_______________________|_______________|_______________|_______________________|_______________|_______|_______________|_______________|_______________________|_______________________________|
    | | | | | | | | | | | | | | | | | | |
    |4.1.7. |Aktivitas harian di lokasi proyek |Proyek Gedung |Pekerja mengalami dehidrasi | – Keletihan |- Menyiapkan air minum untuk | 2 | B | Rendah | Tidak | – | – | – | – | – | – | – | |
    | | | |dan kelelahan | – Pingsan | semua pekerja | | | | | | | | | | | | |
    | | | | | | | | | | | | | | | | | | |
    |_______|_______________________________________|_______________|_______________________________|_______________________|_______________________________|_______________|_______________|_______________________|_______________|_______________|_______________________|_______________|_______|_______________|_______________|_______________________|_______________________________|

    Nama : Muhammad Taufiq
    Kelas : B2
    Semester : V
    NIM : 13.11.106.701501.0915

    • Berhubung website ini berbasis text, maka apabila memposting dalam bentuk tabel hasilnya akan menjadi kacau dan tidak bisa terbaca. Jadi harap diperbaiki kembali tugas anda. Lihatlah tugas dari rekan yang lain yang sudah disetujui sebagai acuan. Klik “Reply” dibawah komentar ini untuk memperbaikinya, hal ini agar proses perbaikan yang anda lakukan agar mudah ditelusuri.

      • Tugas IV.

        I. Risk Matriks
        Jenis Matriks = 5 x 5

        I.1. Konsekuensi atau Keparahan

        Konsekuensi atau Keparahan dibagi menjadi 5 (lima) kelompok dengan rating menggunakan angka 1 sampai dengan 5.
        Angka 1 adalah keparahan atau konsekuensi terkecil sedangkan angka 5 adalah keparahan atauy konsekuensi terbesar.
        Konsekuensi atau Keparahan dikelompokkan menjadi 3 (tiga) kolom, yaitu sebagai berikut ;

        I.1.A. Kolom Lingkungan
        Angka 1 = Berefek kecil terhadap lingkungan
        Angka 2 = Berefek sedang terhadap lingkungan, efek jangka pendek, tanpa mempengaruhi ekosistem
        Angka 3 = Berefek serius terhadap lingkungan, efek jangka pendek, tanpa mempengaruhi ekosistem
        Angka 4 = Berefek sangat serius dan bersifat jangka panjang, yang mempengaruhiekosistem secara keseluruhan
        Angka 5 = Berefek sangat serius dan bersifat jangka panjang, yang mempengaruhiekosistem secara keseluruhan

        I.1.B. Kolom Kerusakan Properti
        Angka 1 = kerugian Rp 1.000.000.000

        I.1.C. Kolom Keselamatan
        Angka 1 = P3K (first aid case)
        Angka 2 = Perawatan medis (Medical treatment)
        Angka 3 = Lost Time Injury tanpa cacat permanen
        Angka 4 = Lost Time Injury dengan cacat permanen
        Angka 5 = Kematian (Fatality)

        I.2. Kecenderungan / Kemungkinan dari Konsekuensi.

        I.2.A Kecenderungan

        Kolom kecenderungan dibagi menjadi 5 (lima) sub kolom dengan rating menggunakan huruf A – E.
        Berikut adalah penilaian untuk tiap masing masing

        Huruf A = Hampir tidak pernah terjadi
        Huruf B = Terjadi 1x tiap 15 tahun
        Huruf C = Terjadi 1x tiap 5 tahun
        Huruf D = Terjadi tiap 1x – 2x tiap tahun
        Huruf E = Banyak terjadi tiap tahun

        I.2.B Kemungkinan

        Kolom kemungkinan dibagi menjadi 5 (lima) sub kolom dengan rating menggunakan huruf A – E.
        Berikut adalah penilaian untuk tiap masing masing

        Huruf A = Tidak mungkin terjadi
        Huruf B = Kemungkinan kecil terjadi
        Huruf C = Kemungkinan terjadi rata rata
        Huruf D = Kemungkinan besar terjadi
        Huruf E = Pasti terjadi

        I.3. Menentukan klasifikasi tingkat resiko

        Rendah = 1A, 1B, 1C, 2A, 2B, 3A, 3B,
        Menengah = 1D, 1E, 2C, 2D, 3C, 4A, 4B, 5A, 5B
        Tinggi = 2E, 3D, 3E, 4C, 4D, 5C
        Signifikan = 4E, 5D, 5E

        II. HIRADC

        Dengan menggunakan Risk Matriks diatas maka dapat dibuat HIRADC (Hazard Identification and Risk Assessment Determining Control) pada pekerjaan pekerjaan berikut.

        II.1. HIRADC pada pemasangan bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah

        Keterangan :
        A. Segala aktifitas dengan nilai Tingkat Resiko lebih dari atau sama dengan MENENGAH maka pada kolom Resiko Residual harus diisi dengan “Ya”
        B. Kontrol Tambahan dan seterusnya dibuat untuk menurunkan Tingkat Resiko menjadi RENDAH

        II.1.1.a. Aktifitas = Memasang batu bata dengan posisi berdiri diatas andang
        II.1.1.b. Lokasi = Proyek Rumah
        II.1.1.c. Detail bahaya = Pekerja terjatuh dari perancah atau andang
        II.1.1.d. Konsekuensi = Memar, terkilir , keseleo, patah tulang
        II.1.1.e. Kontrol yang sudah ada = Menggunakan perancah model knock down, pengawasan
        II.1.1.f. Penilaian resiko awal (konsekuensi) = 4
        II.1.1.g. Penilaian resiko awal (kecenderungan) = C
        II.1.1.h. Penilaian resiko awal (tingkat resiko) = Tinggi
        II.1.1.i. Resiko residual = Ya
        II.1.1.j. PIC = Mandor dan Tukang
        II.1.1.k. Kontrol Tambahan = Membuat stopper, menutup permukaan perancah secara penuh
        II.1.1.l. Batas Waktu = 9 Oktober 2015
        II.1.1.m. Status = Close
        II.1.1.n. Penilaian resiko setelah kontrol tambahan (konsekuensi) = 2
        II.1.1.o. Penilaian resiko setelah kontrol tambahan (kecenderungan) = B
        II.1.1.p. Penilaian resiko setelah kontrol tambahan (tingkat resiko) = Rendah
        II.1.1.q. Keterangan = –

        II.1.2.a. Aktifitas = Pembantu tukang menaikkan material untuk tukang
        II.1.2.b. Lokasi = Proyek rumah
        II.1.2.c. Detail bahaya = Pembantu tukang kejatuhan ember, semen, bata, palu, cetok
        II.1.2.d. Konsekuensi = Memar, luka pada kepala
        II.1.2.e. Kontrol yang sudah ada = Menggunakan perancah model knock down, pengawasan
        II.1.2.f. Penilaian resiko awal (konsekuensi) = 3
        II.1.2.g. Penilaian resiko awal (kecenderungan) = D
        II.1.2.h. Penilaian resiko awal (tingkat resiko) = Tinggi
        II.1.2.i. Resiko residual = Ya
        II.1.2.j. PIC = Mandor dan tukang
        II.1.2.k. Kontrol Tambahan = Membuat stopper, membuat tangga satu tingkat
        II.1.2.l. Batas Waktu = 10 Okt 2015
        II.1.2.m. Status = Close
        II.1.2.n. Penilaian resiko setelah kontrol tambahan (konsekuensi) = 2
        II.1.2.o. Penilaian resiko setelah kontrol tambahan (kecenderungan) = B
        II.1.2.p. Penilaian resiko setelah kontrol tambahan (tingkat resiko) = Rendah
        II.1.2.q. Keterangan =

        II.1.3.a. Aktifitas = Supervisi pekerjaan dan penyiapan material
        II.1.3.b. Lokasi = Proyek rumah
        II.1.3.c. Detail bahaya = Perancah ambruk menimpa pembantu tukang dan mandor
        II.1.3.d. Konsekuensi = memar, luka terbuka
        II.1.3.e. Kontrol yang sudah ada = Belum ada
        II.1.3.f. Penilaian resiko awal (konsekuensi) = 3
        II.1.3.g. Penilaian resiko awal (kecenderungan) = E
        II.1.3.h. Penilaian resiko awal (tingkat resiko) = Tinggi
        II.1.3.i. Resiko residual = Ya
        II.1.3.j. PIC = Tukang dan pembantu tukang
        II.1.3.k. Kontrol Tambahan = Mengikat perancah, membersihkan lantai kerja
        II.1.3.l. Batas Waktu = 21 Oktober 2015
        II.1.3.m. Status = Open
        II.1.3.n. Penilaian resiko setelah kontrol tambahan (konsekuensi) = 3
        II.1.3.o. Penilaian resiko setelah kontrol tambahan (kecenderungan) = E
        II.1.3.p. Penilaian resiko setelah kontrol tambahan (tingkat resiko) = Tinggi
        II.1.3.q. Keterangan = Tukang dan pembantu tukan belum melaksanakan pembersihan lokasi

        II.1.4.a. Aktifitas = Aktifitas harian di lokasi proyek
        II.1.4.b. Lokasi = Proyek rumah
        II.1.4.c. Detail bahaya = Seluruh pekerja terpapar debu
        II.1.4.d. Konsekuensi = Sesak nafas
        II.1.4.e. Kontrol yang sudah ada = Belum ada
        II.1.4.f. Penilaian resiko awal (konsekuensi) = 2
        II.1.4.g. Penilaian resiko awal (kecenderungan) = D
        II.1.4.h. Penilaian resiko awal (tingkat resiko) = Menengah
        II.1.4.i. Resiko residual = Ya
        II.1.4.j. PIC = Pemborong
        II.1.4.k. Kontrol Tambahan = Menyediakan masker anti debu, pembersihan lokasi
        II.1.4.l. Batas Waktu = 9 Oktober 2015
        II.1.4.m. Status = Close
        II.1.4.n. Penilaian resiko setelah kontrol tambahan (konsekuensi) = 2
        II.1.4.o. Penilaian resiko setelah kontrol tambahan (kecenderungan) = B
        II.1.4.p. Penilaian resiko setelah kontrol tambahan (tingkat resiko) = Rendah
        II.1.4.q. Keterangan = –

        II.1.5.a. Aktifitas = Aktifitas harian di lokasi proyek
        II.1.5.b. Lokasi = Proyek rumah
        II.1.5.c. Detail bahaya = Pakaian kerja yang bau dan kotor
        II.1.5.d. Konsekuensi = Gatal gatal, penyakit kulit
        II.1.5.e. Kontrol yang sudah ada = Pekerja mencuci pakaian secara teratur
        II.1.5.f. Penilaian resiko awal (konsekuensi) = 1
        II.1.5.g. Penilaian resiko awal (kecenderungan) = C
        II.1.5.h. Penilaian resiko awal (tingkat resiko) = Rendah
        II.1.5.i. Resiko residual = Tidak
        II.1.5.j. PIC = –
        II.1.5.k. Kontrol Tambahan = –
        II.1.5.l. Batas Waktu = –
        II.1.5.m. Status = –
        II.1.5.n. Penilaian resiko setelah kontrol tambahan (konsekuensi) = –
        II.1.5.o. Penilaian resiko setelah kontrol tambahan (kecenderungan) = –
        II.1.5.p. Penilaian resiko setelah kontrol tambahan (tingkat resiko) = –
        II.1.5.q. Keterangan = –

        II.1.6.a. Aktifitas = Aktifitas harian di lokasi proyek
        II.1.6.b. Lokasi = Proyek rumah
        II.1.6.c. Detail bahaya = Pekerja tersengat binatang berbisa
        II.1.6.d. Konsekuensi = Lebam, pingsan
        II.1.6.e. Kontrol yang sudah ada = belum ada
        II.1.6.f. Penilaian resiko awal (konsekuensi) = 2
        II.1.6.g. Penilaian resiko awal (kecenderungan) = D
        II.1.6.h. Penilaian resiko awal (tingkat resiko) = Menengah
        II.1.6.i. Resiko residual = Ya
        II.1.6.j. PIC = Tukang dan pembantu tukang
        II.1.6.k. Kontrol Tambahan = membuang sisa atau bekas bongkaran
        II.1.6.l. Batas Waktu = 10 Oktober 2015
        II.1.6.m. Status = Open
        II.1.6.n. Penilaian resiko setelah kontrol tambahan (konsekuensi) = 2
        II.1.6.o. Penilaian resiko setelah kontrol tambahan (kecenderungan) = D
        II.1.6.p. Penilaian resiko setelah kontrol tambahan (tingkat resiko) = Menengah
        II.1.6.q. Keterangan = Tukang dan pembantu tukang belum melakukan pembersihan lokasi

        II.1.7.a. Aktifitas = Aktifitas harian di lokasi proyek
        II.1.7.b. Lokasi = Proyek rumah
        II.1.7.c. Detail bahaya = Pekerja mengalami dehidrasi dan kelelahan
        II.1.7.d. Konsekuensi = Keletihan, pingsan
        II.1.7.e. Kontrol yang sudah ada = menyiapkan air minut untuk semua pekerja, menutupi area dengan terpal
        II.1.7.f. Penilaian resiko awal (konsekuensi) = 2
        II.1.7.g. Penilaian resiko awal (kecenderungan) = B
        II.1.7.h. Penilaian resiko awal (tingkat resiko) = Rendah
        II.1.7.i. Resiko residual = Tidak
        II.1.7.j. PIC = –
        II.1.7.k. Kontrol Tambahan = –
        II.1.7.l. Batas Waktu = –
        II.1.7.m. Status = –
        II.1.7.n. Penilaian resiko setelah kontrol tambahan (konsekuensi) = –
        II.1.7.o. Penilaian resiko setelah kontrol tambahan (kecenderungan) = –
        II.1.7.p. Penilaian resiko setelah kontrol tambahan (tingkat resiko) = –
        II.1.7.q. Keterangan = –

        II.2. HIRADC pada pekerjaan pemasangan bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian lebih dari 3,00 meter dari permukaan tanah

        Keterangan :
        A. Segala aktifitas dengan nilai Tingkat Resiko lebih dari atau sama dengan MENENGAH maka pada kolom Resiko Residual harus diisi dengan “Ya”
        B. Kontrol Tambahan dan seterusnya dibuat untuk menurunkan Tingkat Resiko menjadi RENDAH

        II.2.1.a. Aktifitas = Memasang batu bata dengan posisi berdiri diatas andang
        II.2.1.b. Lokasi = Proyek Gedung
        II.2.1.c. Detail bahaya = Pekerja terjatuh dari perancah atau andang
        II.2.1.d. Konsekuensi = Patah tulang, kematian
        II.2.1.e. Kontrol yang sudah ada = perencanaan scaffolding dengan baik, memberikan training bekerja di ketinggian kepada karyawan, wajib APD di semua area proyek, permit kerja dan JSA, pembuatan badge khusus, pemberian punishment dan rewards, pemasangan safety net, inspeksi scaffolding secara berkala, penggunaan body harness untuk setiap pekerja yang bekerja di scaffolding, membuat tanda akses terbatas, pengawas bekerja pada tiap tiap sub pekerjaan yang menggunakan perancah, patroli Safetyman setiap 2 jam sekali setiap shift nya, pembatasan jam kerja saat menggunakan perancah, pelarangan penggunaan handphone pada pekerja yang bekerja menggunakan perancah.
        II.2.1.f. Penilaian resiko awal (konsekuensi) = 3
        II.2.1.g. Penilaian resiko awal (kecenderungan) = C
        II.2.1.h. Penilaian resiko awal (tingkat resiko) = Menengah
        II.2.1.i. Resiko residual = Ya
        II.2.1.j.1. PIC = Supervisor
        II.2.1.j.2. PIC = Electrician
        II.2.1.j.3. PIC = Mandor dan supervisor
        II.2.1.j.4. PIC = Safetyman
        II.2.1.k.1. Kontrol Tambahan (supervisor) = Inspeksi dan komunikasi terhadap mandor
        II.2.1.k.2. Kontrol Tambahan (electrician) = Pasang lampu emergency
        II.2.1.k.3. Kontrol Tambahan (mandor dan supervisor) = menyediakan tangga darurat dan akses evakuasi
        II.2.1.k.4. Kontrol Tambahan (safetyman) = Inspeksi APD setiap minggu
        II.2.1.l.1. Batas Waktu (supervisor) = 9 Oktober 2015 tentative
        II.2.1.l.2. Batas Waktu (electrician) = 8 Oktober 2015
        II.2.1.l.3. Batas Waktu (mandor dan supervisor) = 8 Oktober 2015
        II.2.1.l.4. Batas Waktu (safetyman) = 8 Oktober 2015 tentative
        II.2.1.m.1. Status (supervisor) = Open
        II.2.1.m.2. Status (electrician)= Close
        II.2.1.m.3. Status (mandor dan supervisor) = Close
        II.2.1.m.4. Status (safetyman) = Open
        II.2.1.n. Penilaian resiko setelah kontrol tambahan (konsekuensi) = 1
        II.2.1.o. Penilaian resiko setelah kontrol tambahan (kecenderungan) = C
        II.2.1.p. Penilaian resiko setelah kontrol tambahan (tingkat resiko) = Rendah
        II.2.1.q.1. Keterangan (supervisor) = On progress. Berkala harian.
        II.2.1.q.2. Keterangan (electrician) = –
        II.2.1.q.3. Keterangan (mandor dan supervisor) = –
        II.2.1.q.4. Keterangan (safetyman) = On progress. Berkala mingguan.

        II.2.2.a. Aktifitas = Aktifitas harian di lokasi proyek
        II.2.2.b. Lokasi = Proyek Gedung
        II.2.2.c. Detail bahaya = Pekerja kejatuhan benda dari perancah atau tingkat di atasnya
        II.2.2.d. Konsekuensi = Luka berat, gegar otak, kematian
        II.2.2.e. Kontrol yang sudah ada = Pemasangan safety net, barikade, pembuatan tanda akses terbatas pada tempat di bawah perancah, wajib APD di area proyek
        II.2.2.f. Penilaian resiko awal (konsekuensi) = 3
        II.2.2.g. Penilaian resiko awal (kecenderungan) = C
        II.2.2.h. Penilaian resiko awal (tingkat resiko) = Menengah
        II.2.2.i. Resiko residual = Ya
        II.2.2.j. PIC = Safetyman dan mandor
        II.2.2.k. Kontrol Tambahan = Inspeksi safety net setiap minggu
        II.2.2.l. Batas Waktu = 8 Oktober 2015 tentative
        II.2.2.m. Status = Close
        II.2.2.n. Penilaian resiko setelah kontrol tambahan (konsekuensi) = 1
        II.2.2.o. Penilaian resiko setelah kontrol tambahan (kecenderungan) = C
        II.2.2.p. Penilaian resiko setelah kontrol tambahan (tingkat resiko) = Rendah
        II.2.2.q. Keterangan = –

        II.2.3.a. Aktifitas = Supervisi pekerjaan, persiapan material dan aktifitas rutin lainnya di area proyek
        II.2.3.b. Lokasi = Proyek Gedung
        II.2.3.c. Detail bahaya = Perancah ambruk / runtuh menimpa lokasi kerja di bawah
        II.2.3.d. Konsekuensi = Kerusakan properti diatas Rp 100.000.000, cedera berat, kematian / fatality
        II.2.3.e. Kontrol yang sudah ada = Perencanaan pendirian perancah secara matang, perakitan perancah oleh tukan yang mempunyai kompetensi, inspeksi material perancah sebelum dipasang / dirakit, inspeksi keamanan perancah oleh Scaffolding Inspector, persiapan landasan perancah atau tapak dengan pengerasan, pembuatan jalur lalu lintas kendaraan keluar masuk proyek, barikade di sekeliling perancah sebagai rambu batasan kepada kendaraan proyek, wajib APD di area proyek, pemberian tanda / stiker khusus pada kendaraan proyek, terdapat emergency response team
        II.2.3.f. Penilaian resiko awal (konsekuensi) = 4
        II.2.3.g. Penilaian resiko awal (kecenderungan) = D
        II.2.3.h. Penilaian resiko awal (tingkat resiko) = Tinggi
        II.2.3.i. Resiko residual = Ya
        II.2.3.j.1. PIC = HRD & PM (Project Manager)
        II.2.3.j.2. PIC = FAC (Facility Department)
        II.2.3.j.3. PIC = HRD
        II.2.3.j.4. PIC = Scf Ins (Scaffolding Inspector)
        II.2.3.j.5. PIC = LOG (Logistic Dept)
        II.2.3.k.1. Kontrol Tambahan (HRD & PM) = Training internal dengan materi lalu lintas terbatas di area proyek
        II.2.3.k.2. Kontrol Tambahan (FAC) = Pembuatan pos jaga portal untuk security
        II.2.3.k.3. Kontrol Tambahan (HRD) = Penambahan personil trafficman dan security
        II.2.3.k.4. Kontrol Tambahan (Scf.Ins) = Inspeksi perancah rutin mingguan
        II.2.3.k.5. Kontrol Tambahan (LOG) = Pengadaan material pengganti perancah yang rusak
        II.2.3.l.1. Batas Waktu (HRD & PM) = 6 Oktober 2015
        II.2.3.l.2. Batas Waktu (FAC) = 5 Oktober 2015
        II.2.3.l.3. Batas Waktu (HRD) = 15 Oktober 2015
        II.2.3.l.4. Batas Waktu (Scf.Ins) = 10 Oktober 2015
        II.2.3.l.5. Batas Waktu (LOG) = 6 Oktober 2015
        II.2.3.m.1. Status (HRD & PM) = Close
        II.2.3.m.2. Status (FAC) = Close
        II.2.3.m.3. Status (HRD) = Open
        II.2.3.m.4. Status (Scf.Ins) = Open
        II.2.3.m.5. Status (LOG) = Close
        II.2.3.n. Penilaian resiko setelah kontrol tambahan (konsekuensi) = 2
        II.2.3.o. Penilaian resiko setelah kontrol tambahan (kecenderungan) = C
        II.2.3.p. Penilaian resiko setelah kontrol tambahan (tingkat resiko) = Menengah
        II.2.3.q.1. Keterangan (HRD & PM) = –
        II.2.3.q.2. Keterangan (FAC) = –
        II.2.3.q.3. Keterangan (HRD) = proses penerimaan karyawan masih berlangsung
        II.2.3.q.4. Keterangan (Scf.Ins) = belum berjalan, Scaffolding Inspector resign per 1 Oktober 2015. Sedang dalam proses rekrutmen oleh HRD.
        II.2.3.q.5. Keterangan (LOG) = –

        II.2.4.a. Aktifitas = Bongkar muat semen dan aktifitas harian lainnya
        II.2.4.b. Lokasi = Proyek Gedung
        II.2.4.c. Detail bahaya = Seluruh pekerja terpapar debu
        II.2.4.d. Konsekuensi = Sesak nafas, batuk, ISPA
        II.2.4.e. Kontrol yang sudah ada = Pembagian masker anti debu sebelum memulai pekerjaan, penggantian tiap kerusakan masker
        II.2.4.f. Penilaian resiko awal (konsekuensi) = 2
        II.2.4.g. Penilaian resiko awal (kecenderungan) = D
        II.2.4.h. Penilaian resiko awal (tingkat resiko) = Menengah
        II.2.4.i. Resiko residual = Ya
        II.2.4.j. PIC = LOG, tiap tiap Kontraktor dan Sub Kontraktor
        II.2.4.k. Kontrol Tambahan = Menyediakan masker debu sebagai stock wajib di masing masing gudang
        II.2.4.l. Batas Waktu = 9 Oktober 2015
        II.2.4.m. Status = Close
        II.2.4.n. Penilaian resiko setelah kontrol tambahan (konsekuensi) = 2
        II.2.4.o. Penilaian resiko setelah kontrol tambahan (kecenderungan) = B
        II.2.4.p. Penilaian resiko setelah kontrol tambahan (tingkat resiko) = Rendah
        II.2.4.q. Keterangan = –

        II.2.5.a. Aktifitas = Akifitas harian rutin di proyek
        II.2.5.b. Lokasi = Proyek Gedung
        II.2.5.c. Detail bahaya = Pakaian kerja yang bau dan kotor
        II.2.5.d. Konsekuensi = Gatal gatal, penyakit kulit akibat jamur
        II.2.5.e. Kontrol yang sudah ada = Pekerja mencuci pakaian secara teratur, pemberian reward
        II.2.5.f. Penilaian resiko awal (konsekuensi) = 1
        II.2.5.g. Penilaian resiko awal (kecenderungan) = C
        II.2.5.h. Penilaian resiko awal (tingkat resiko) = Rendah
        II.2.5.i. Resiko residual = Tidak
        II.2.5.j. PIC = –
        II.2.5.k. Kontrol Tambahan = –
        II.2.5.l. Batas Waktu = –
        II.2.5.m. Status = –
        II.2.5.n. Penilaian resiko setelah kontrol tambahan (konsekuensi) = –
        II.2.5.o. Penilaian resiko setelah kontrol tambahan (kecenderungan) = –
        II.2.5.p. Penilaian resiko setelah kontrol tambahan (tingkat resiko) = –
        II.2.5.q. Keterangan = –

        II.2.6.a. Aktifitas = Aktifitas harian di lokasi proyek
        II.2.6.b. Lokasi = Proyek Gedung
        II.2.6.c. Detail bahaya = Pekerja mengalami dehidrasi
        II.2.6.d. Konsekuensi = keletihan, pusing, pingsan
        II.2.6.e. Kontrol yang sudah ada = menyiapkan air minum untuk setiap pekerja di setiap tingkat lantai
        II.2.6.f. Penilaian resiko awal (konsekuensi) = 2
        II.2.6.g. Penilaian resiko awal (kecenderungan) = B
        II.2.6.h. Penilaian resiko awal (tingkat resiko) = Rendah
        II.2.6.i. Resiko residual = Tidak
        II.2.6.j. PIC = –
        II.2.6.k. Kontrol Tambahan = –
        II.2.6.l. Batas Waktu = –
        II.2.6.m. Status = –
        II.2.6.n. Penilaian resiko setelah kontrol tambahan (konsekuensi) = –
        II.2.6.o. Penilaian resiko setelah kontrol tambahan (kecenderungan) = –
        II.2.6.p. Penilaian resiko setelah kontrol tambahan (tingkat resiko) = –
        II.2.6.q. Keterangan = –

        Nama : Muhammad Taufiq
        Kelas : B2
        Semester : V
        NIM : 13.11.106.701501.0915

  2. Risk Matriks

    Rating :

    Probability
    Sulit terjadi = 1
    Jarang = 2
    Sering = 3

    Severity
    Ringan = 1
    Sedang = 2
    Serius = 3

    Risk Rating
    1-3 = Rendah
    4 = Sedang
    5-6 = Tinggi

    1. Pekerjaan pemasangan batu bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.
    1.1 Potensi Bahaya
    1.1.1 Bahaya Fisika
    1.1.1.1 Gravitasi
    1.1.1.1.1 Bekerja di ketinggian 3,00 meter.
    1.1.1.1.2 Batu bata yang digunakan di ketinggian 3,00 meter atau beban yang tergantung.

    1.1.1.2 Radiasi
    1.1.1.2.1 Sinar matahari

    1.1.1.3 Suhu
    1.1.1.3.1 Suhu yang tinggi saat bekerja di siang hari.

    1.1.1.4 Pergerakan
    1.1.1.4.1 Pergerakan pekerja saat pengambilan dan pemasangan batu bata merah.

    1.1.2 Bahaya Kimia
    1.1.2.1 Debu yang berasal dari batu bata merah dan bahan bangunan lainnya.

    1.1.3 Bahaya Biologi
    1.1.3.1 Bakteri yang menempel pada pakaian pekerja dan di lingkungan kerja.

    1.1.4 Bahaya Mekanik
    1.1.4.1 Katrol yang digunakan untuk pengangkutan batu bata merah dari bawah ke ketinggian 3,00 meter.

    1.1.5 Bahaya Psikososial
    1.1.5.1 Fatigue : Kelelahan mental pekerja saat bekerja.
    1.1.5.2 Intimidasi : Tindakan menakut-nakuti atau memaksa dengan kekuatan yang dilakukan pekerja terhadap pekerja lain.
    1.1.5.3 Stress : Stress yang dialami pekerja atau ketidaksesuaian antara kondisi yang diinginkan dengan keadaan biologis dan psikis pekerja.
    1.1.5.4 Kompetensi : Pengetahuan, keterampilan dan prilaku yang dimiliki, dikuasai dan diaktualisasikan pekerja saat bekerja.

    1.1.6 Bahaya Lingkungan
    1.1.6.1 Humidity : Kelembaban tempat kerja.
    1.1.6.2 Kemiringan tanah : Tingkat kemiringan tempat kerja terutama tanah landasan scaffolding yang digunakan pekerja saat pemasangan batu bata

    1.2 Deskripsi Konsekuensi
    1.2.1 Manusia
    1.2.1.1 Pekerja terjatuh dari ketinggian 3,00 meter (Lost time injury tanpa cacat permanen).
    1.2.1.2 Pekerja tertimpa batu bata yang terjatuh dari ketinggian 3,00 meter (First Aid Case).
    1.2.1.3 Pekerja terpapar sinar matahari secara langsung (First Aid Case).
    1.2.1.4 Pekerja terpapar terpapar suhu yang tinggi saat bekerja di siang hari (First aid Case).
    1.2.1.5 Pekerja terjatuh dari ketinggian 3,00 meter saat melakukan pergerakan (motion) pengambilan dan pemasangan batu bata merah (Lost Time Injury tanpa cacat permanen).
    1.2.1.6 Pekerja terhirup debu yang berasal dari batu bata merah dan bahan bangunan lainnya (First aid Case).
    1.2.1.7 Pekerja terkontaminasi bakteri yang menempel pada pakaian pekerja dan di lingkungan kerja (Medical Treatment).
    1.2.1.8 Tangan pekerja terjepit pada saat mengoperasikan katrol yang digunakan untuk pengangkutan batu bata merah dari bawah ke ketinggian 3,00 meter (First Aid Case).
    1.2.1.9 Pekerja terjatuh dari ketinggian 3,00 meter karena bekerja dalam keadaan fatigue atau stress (Lost Time Injury).
    1.2.1.10 Pekerja terjatuh dari ketinggian 3,00 meter karena tanah yang tidak rata dan menyebabkan scaffolding tidak stabil (Lost Time Injury tanpa cacat permanen).

    1.2.2 Alat/peralatan
    1.2.2.1 Scaffolding runtuh karena tanah yang tidak rata (Poperty Damage).

    1.2.3 Lingkungan
    1.2.3.1 Lingkungan tercemar akibat debu dari bahan bangunan (Minor Effect).

    1.3 Risiko Awal
    1.3.1 Manusia
    1.3.1.1 Probability = 3 Severity = 2 Risk Rating = 5 (Tinggi)
    1.3.1.2 Probability = 3 Severity = 1 Risk Rating = 4 (Sedang)
    1.3.1.3 Probability = 3 Severity = 1 Risk Rating = 4 (Sedang)
    1.3.1.4 Probability = 3 Severity = 1 Risk Rating = 4 (Sedang)
    1.3.1.5 Probability = 3 Severity = 2 Risk Rating = 6 (Tinggi)
    1.3.1.6 Probability = 3 Severity = 1 Risk Rating = 4 (Sedang)
    1.3.1.7 Probability = 3 Severity = 1 Risk Rating = 4 (Sedang)
    1.3.1.8 Probability = 2 Severity = 1 Risk Rating = 3 (Rendah)
    1.3.1.9 Probability = 3 Severity = 2 Risk Rating = 5 (Tinggi)
    1.3.1.10 Probability = 3 Severity = 2 Risk Rating = 5 (Tinggi)

    1.3.2 Alat/peralatan
    1.3.2.1 Probability = 2 Severity = 3 Risk Rating = 5 (Tinggi)

    1.3.3 Lingkungan
    1.3.3.1 Probability = 2 Severity = 2 Risk Rating = 4 (Sedang)

    1.4 Pengendalian Potensi Bahaya
    1.4.1 Manusia
    1.4.1.1 Pemasangan papan perancah (platform) atau toe board sebagai tempat berpijak pekerja.
    1.4.1.2 Pemasangan handrail pada scaffolding.
    1.4.1.3 Inspeksi scaffolding secara rutin sebelum digunakan untuk memastikan scaffolding bebas dari keretakan, cacat permukaan dan memastikan pengunci atau clam berfungsi dengan baik.
    1.4.1.4 Menempatkan scaffolding di permukaan tanah yang rata dan keras agar mampu menahan beban scaffolding dan beban di atasnya.
    1.4.1.5 Memasang tenda pada lokasi pekerjaan agar pekerja tidak terpapar sinar matahari secara langsung.
    1.4.1.6 Mengganti atau memilih bahan bangunan yang lebih ramah lingkungan dan memiliki resiko lebih rendah terhadap kesehatan pekerja.
    1.4.1.7 Pemberian seragam yang bersih kepada pekerja.
    1.4.1.8 Memilih katrol yang ergonomis terhadap pekerja.
    1.4.1.9 Pengaturan shift kerja sesuai jam kerja dan jumlah pekerja.
    1.4.1.10 Membuat SOP dan JSA pada setiap tahap pekerjaan dan disosialisasikan kepada pekerja.
    1.4.1.11 Melakukan Safety briefing rutin setiap akan memulai pekerjaan.
    1.4.1.12 Memberikan pelatihan dan pengetahuan dasar keselamatan agar pekerja memahami dan lebih peduli terhadap keselamatan, minimal keselamatan diri sendiri.
    1.4.1.13 Memberikan PPE yang sesuai dan layak untuk pekerja seperti body harness, safety helmet, safety shoes, safety glasses, hand gloves dan masker.

    1.4.2 Alat/peralatan
    1.4.2.1 Menempatkan scaffolding di permukaan tanah yang rata dan keras agar mampu menahan beban scaffolding dan beban di atasnya.
    1.4.2.2 Inspeksi scaffolding secara rutin sebelum digunakan untuk memastikan scaffolding bebas dari keretakan, cacat permukaan dan memastikan pengunci atau clam berfungsi dengan baik.

    1.4.3 Lingkungan
    1.4.3.1 Membuat barikade (penghalang) berupa jaring – jaring atau terpal agar debu dari kegiatan pemasangan batu bata tidak mencemari lingkungan sekitar.

    1.5 Risiko Sisa
    1.5.1 Manusia
    1.5.1.1 Probability = 2 Severity = 1 Risk Rating = 3 (Rendah)
    1.5.1.2 Probability = 2 Severity = 1 Risk Rating = 3 (Rendah)
    1.5.1.3 Probability = 2 Severity = 1 Risk Rating = 3 (Rendah)
    1.3.1.4 Probability = 2 Severity = 1 Risk Rating = 3 (Rendah)
    1.3.1.5 Probability = 1 Severity = 2 Risk Rating = 3 (Rendah)
    1.3.1.6 Probability = 2 Severity = 1 Risk Rating = 3 (Rendah)
    1.3.1.7 Probability = 2 Severity = 1 Risk Rating = 3 (Rendah)
    1.3.1.8 Probability = 1 Severity = 1 Risk Rating = 2 (Rendah)
    1.3.1.9 Probability = 2 Severity = 1 Risk Rating = 3 (Rendah)
    1.3.1.10 Probability = 1 Severity = 2 Risk Rating = 3 (Rendah)

    1.5.2 Alat/peralatan
    1.5.2.1 Probability = 1 Severity = 2 Risk Rating = 3 (Rendah)

    1.3.3 Lingkungan
    1.3.3.1 Probability = 2 Severity = 1 Risk Rating = 3 (Rendah)

    1.6 Pengendalian Tambahan Terhadap Bahaya (bila ada)
    1.6.1 Pemberian Reward kepada pekerja yang mematuhi peraturan keselamatan dan punishment kepada pekerja yang melanggar peraturan yang telah disepakati.
    1.6.2 Memasang safety sign dilokasi kerja yang mudah dibaca dan dipahami oleh pekerja.

    2. Pekerjaan pemasangan batu bata merah untuk perumahan dengan ketinggian Gedung di atas 3,00 meter dari permukaan tanah.
    2.1 Potensi Bahaya
    2.1.1 Bahaya Fisika
    2.1.1.1 Gravitasi
    2.1.1.1.1 Bekerja di ketinggian diatas 3,00 meter.
    2.1.1.1.2 Batu bata yang digunakan di ketinggian diatas 3,00 meter atau drop object.

    2.1.1.2 Radiasi
    2.1.1.2.1 Sinar matahari

    2.1.1.3 Suhu
    2.1.1.3.1 Suhu yang tinggi saat bekerja di siang hari.

    2.1.1.4 Pergerakan
    2.1.1.4.1 Pergerakan pekerja saat pengambilan dan pemasangan batu bata merah.

    2.1.2 Bahaya Kimia
    2.1.2.1 Debu yang berasal dari batu bata merah dan bahan bangunan lainnya.

    2.1.3 Bahaya Biologi
    2.1.3.1 Bakteri yang menempel pada pakaian pekerja dan di lingkungan kerja.

    2.1.4 Bahaya Mekanik
    2.1.4.1 Pergerakan pipa pompa beton (concrete pump) dari truk molen/truk mixer.

    2.1.5 Bahaya Psikososial
    2.1.5.1 Fatigue : Kelelahan mental pekerja saat bekerja.
    2.1.5.2 Intimidasi : Tindakan menakut-nakuti atau memaksa dengan kekuatan yang dilakukan pekerja terhadap pekerja lain.
    2.1.5.3 Stress : Stress yang dialami pekerja atau ketidaksesuaian antara kondisi yang diinginkan dengan keadaan biologis dan psikis pekerja.
    2.1.5.4 Kompetensi : Pengetahuan, keterampilan dan prilaku yang dimiliki, dikuasai dan diaktualisasikan pekerja saat bekerja.

    2.1.6 Bahaya Lingkungan
    2.1.6.1 Humidity : Kelembaban tempat kerja.
    2.1.6.2 Kemiringan tanah : Tingkat kemiringan tempat kerja terutama tanah landasan scaffolding yang digunakan pekerja saat pemasangan batu bata

    2.2 Deskripsi Konsekuensi
    2.2.1 Manusia
    2.2.1.1 Pekerja terjatuh dari ketinggian di atas 3,00 meter (Fatality).
    2.2.1.2 Pekerja tertimpa batu bata yang terjatuh dari ketinggian di atas 3,00 meter (Lost Time Injury dengan cacat permanen).
    2.2.1.3 Pekerja terpapar sinar matahari secara langsung (First Aid Case).
    2.2.1.4 Pekerja terpapar terpapar suhu yang tinggi saat bekerja di siang hari (First aid Case).
    2.2.1.5 Pekerja terjatuh dari ketinggian di atas 3,00 meter saat melakukan pergerakan (motion) pengambilan dan pemasangan batu bata merah (Fatality).
    2.2.1.6 Pekerja terhirup debu yang berasal dari batu bata merah dan bahan bangunan lainnya (First aid Case).
    2.2.1.7 Pekerja terkontaminasi bakteri yang menempel pada pakaian pekerja dan di lingkungan kerja (Medical Treatment).
    2.2.1.8 Pekerja tertabrak pipa pompa beton (concrete pump) dari truk molen/truk mixer saat menyalurkan semen dari bawah ke ketinggian di atas 3,00 meter (Mediacal Treatment).
    2.2.1.9 Pekerja terjatuh dari ketinggian di atas 3,00 meter karena bekerja dalam keadaan fatigue atau stress (Fatality).
    2.2.1.10 Pekerja terjatuh dari ketinggian di atas 3,00 meter karena tanah yang tidak rata dan menyebabkan scaffolding tidak stabil (Fatality).

    2.2.2 Alat/peralatan
    2.2.2.1 Scaffolding runtuh karena tanah yang tidak rata (Poperty Damage).

    2.2.3 Lingkungan
    2.2.3.1 Lingkungan tercemar akibat debu dari bahan bangunan (Minor Effect).

    2.3 Risiko Awal
    2.3.1 Manusia
    2.3.1.1 Probability = 3 Severity = 3 Risk Rating = 6 (Tinggi)
    2.3.1.2 Probability = 3 Severity = 3 Risk Rating = 6 (Tinggi)
    2.3.1.3 Probability = 3 Severity = 1 Risk Rating = 4 (Sedang)
    2.3.1.4 Probability = 3 Severity = 1 Risk Rating = 4 (Sedang)
    2.3.1.5 Probability = 3 Severity = 3 Risk Rating = 6 (Tinggi)
    2.3.1.6 Probability = 3 Severity = 1 Risk Rating = 4 (Sedang)
    2.3.1.7 Probability = 3 Severity = 1 Risk Rating = 4 (Sedang)
    2.3.1.8 Probability = 2 Severity = 2 Risk Rating = 4 (Sedang)
    2.3.1.9 Probability = 3 Severity = 3 Risk Rating = 6 (Tinggi)
    2.3.1.10 Probability = 3 Severity = 3 Risk Rating = 6 (Tinggi)

    2.3.2 Alat/peralatan
    2.3.2.1 Probability = 2 Severity = 3 Risk Rating = 5 (Tinggi)

    2.3.3 Lingkungan
    2.3.3.1 Probability = 2 Severity = 2 Risk Rating = 4 (Sedang)

    2.4 Pengendalian Potensi Bahaya
    2.4.1 Manusia
    2.4.1.1 Pemasangan papan perancah (platform) atau toe board sebagai tempat berpijak pekerja.
    2.4.1.2 Pemasangan handrail pada scaffolding.
    2.4.1.3 Inspeksi scaffolding secara rutin sebelum digunakan untuk memastikan scaffolding bebas dari keretakan, cacat permukaan dan memastikan pengunci atau clam berfungsi dengan baik.
    2.4.1.4 Menempatkan scaffolding di permukaan tanah yang rata dan keras agar mampu menahan beban scaffolding dan beban di atasnya.
    2.4.1.5 Membuat jaring-jaring keselamatan untuk meminimalisir konsekuensi yang hasilkan jika body harness mengalami kerusakan dan pekerja terjatuh dari ketinggian lebih dari 3,00 meter.
    2.4.1.6 Memasang tenda pada lokasi pekerjaan agar pekerja tidak terpapar sinar matahari secara langsung.
    2.4.1.7 Mengganti atau memilih bahan bangunan yang lebih ramah lingkungan dan memiliki resiko lebih rendah terhadap kesehatan pekerja.
    2.4.1.8 Pemberian seragam yang bersih kepada pekerja.
    2.4.1.9 Pengaturan shift kerja sesuai jam kerja dan jumlah pekerja.
    2.4.1.10 Membuat SOP dan JSA pada setiap tahap pekerjaan dan disosialisasikan kepada pekerja.
    2.4.1.11 Melakukan Safety briefing rutin setiap akan memulai pekerjaan.
    2.4.1.12 Memberikan pelatihan dan pengetahuan dasar keselamatan agar pekerja memahami dan lebih peduli terhadap keselamatan, minimal keselamatan diri sendiri.
    2.4.1.13 Memberikan PPE yang sesuai dan layak untuk pekerja seperti body harness, safety helmet, safety shoes, safety glasses, hand gloves dan masker.

    2.4.2 Alat/peralatan
    2.4.2.1 Menempatkan scaffolding di permukaan tanah yang rata dan keras agar mampu menahan beban scaffolding dan beban di atasnya.
    2.4.2.2 Inspeksi scaffolding secara rutin sebelum digunakan untuk memastikan scaffolding bebas dari keretakan, cacat permukaan dan memastikan pengunci atau clam berfungsi dengan baik.

    2.4.3 Lingkungan
    2.4.3.1 Membuat barikade (penghalang) berupa jaring – jaring atau terpal agar debu dari kegiatan pemasangan batu bata tidak mencemari lingkungan sekitar.

    2.5 Risiko Sisa
    2.5.1 Manusia
    2.5.1.1 Probability = 2 Severity = 1 Risk Rating = 3 (Rendah)
    2.5.1.2 Probability = 2 Severity = 1 Risk Rating = 3 (Rendah)
    2.5.1.3 Probability = 2 Severity = 1 Risk Rating = 3 (Rendah)
    2.3.1.4 Probability = 2 Severity = 1 Risk Rating = 3 (Rendah)
    2.3.1.5 Probability = 1 Severity = 2 Risk Rating = 3 (Rendah)
    2.3.1.6 Probability = 2 Severity = 1 Risk Rating = 3 (Rendah)
    2.3.1.7 Probability = 2 Severity = 1 Risk Rating = 3 (Rendah)
    2.3.1.8 Probability = 1 Severity = 1 Risk Rating = 2 (Rendah)
    2.3.1.9 Probability = 2 Severity = 1 Risk Rating = 3 (Rendah)
    2.3.1.10 Probability = 1 Severity = 2 Risk Rating = 3 (Rendah)

    2.5.2 Alat/peralatan
    2.5.2.1 Probability = 1 Severity = 2 Risk Rating = 3 (Rendah)

    2.3.3 Lingkungan
    2.3.3.1 Probability = 2 Severity = 1 Risk Rating = 3 (Rendah)

    2.6 Pengendalian Tambahan Terhadap Bahaya (bila ada)
    2.6.1 Pemberian Reward kepada pekerja yang mematuhi peraturan keselamatan dan punishment kepada pekerja yang melanggar peraturan yang telah disepakati.
    2.6.2 Memasang safety sign dilokasi kerja yang mudah dibaca dan dipahami oleh pekerja.

    Nama : Riyan Handoko
    NIM : 13.11.106.701501.0908
    Semester : 5
    Kelas : B 2

  3. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah :

    a. Analisa Potensi Bahaya
    1. Bahaya Psikososial : Kelelahan karena jam kerja, usia dan pengalaman kerja
    2. Bahaya Fisika : Debu, Gravitasi, Dinding Konstruksi, Scaffolding, Suhu
    3. Bahaya Biologi : Bakteri, Ergonomi
    4. Bahaya Kimia : Material beracun
    5. Bahaya Lingkungan : Permukaan Tanah

    b. Pengendalian Potensi Bahaya
    1. Bahaya Psikososial :
    – Mengatur jam kerja sehingga mengurangi resiko dari faktor kelelahan.
    – Jenis pekerjaan disesuaikan dengan usia dan pengalaman kerja.

    2. Bahaya Fisika :
    – Hindari debu dengan menggunakan masker.
    – Untuk menghindari terjatuh karena konstruksi perumahan 3 meter menggunakan full body harness.
    – Karena material Batu Bata Merah, tinggi pemasangan dinding batu bata dalam satu hari supaya tidak lebih dari 1 meter, untuk menjaga dari keruntuhan. Karena 1 m2 batu bata merah menggunakan 70 – 72 construction waste.
    – Scaffolding, jika tidak ingin menggunakan full body harness bisa di enginnering yaitu membangun scaffolding dengan dilengkapi handrail dan midrail. Sehingga kemungkinan pekerja terjatuh sangat kecil karena sudah di lindungi oleh rail
    – Suhu yang tinggi menyebabkan pekerja jadi cepat lelah, sehingga perlu diatur kembali jam istirahat dan pembagian konsumsi.
    – Melengkapi APD pekerja, seperti Safety Shoes, Safety Glasses, Safety Hand Gloves atau Body Harness.

    3. Bahaya Biologi :
    – Bakteri, pakaian yang dipakai pekerja penuh dengan keringat sehingga dapat menyebabkan pekerja terkena penyakit kulit. Jadi, wajib bagi manajemen menyediakan baju atau pakaian khusus untuk pekerja.
    – Ergonomi, wajib dibuat SOP pemasangan konstruksi. Salah satunya ergonomi nya, sehingga pekerja tidak lagi membangun tembok sambil menjongkok yang berpotensi menyebabkan pekerja sakit pinggang.

    4. Bahaya Kimia :
    – Mengetahui bahan-bahan yang beracun, sehingga dapat melengkapi diri dengan APD. Contoh material beracun asbes. Sehingga perlu pengetahuan tentang material tersebut dan cara penanganannya.

    5. Bahaya Lingkungan :
    – Permukaan tanah yang tidak rata karena banyaknya material yang berserakan, sehingga dapat menyebabkan pekerja terjatuh. Sehingga perlu dilakukan housekeeping terlebih dahulu atau pemindahan material yang menggaggu mobilisasi atau aktivitas pekerja.

    Risk Matriks Pekerjaan 1

    1. Potensi Penyebab Bahaya
    1.1 Bahaya Psikososial : Kelelahan karena jam kerja, usia dan pengalaman kerja
    1.2 Bahaya Fisika : Debu, Gravitasi, Dinding Konstruksi, Scaffolding, Suhu
    1.3 Bahaya Biologi : Bakteri, Ergonomi
    1.4 Bahaya Kimia : Material beracun
    1.5 Bahaya Lingkungan : Permukaan Tanah

    2. Konsekuensi
    2.1 Bahaya Psikososial
    2.1.1 Kelelahan karena jam kerja : Sedang
    2.1.2 Usia dan pengalaman kerja : Sedang

    2.2 Bahaya Fisika
    2.2.1 Debu : Sedang
    2.2.2 Gravitasi : Tinggi
    2.2.3 Dinding Konstruksi : Tinggi
    2.2.4 Scaffolding : Sedang
    2.2.5 Suhu : Ringan

    2.3 Bahaya Biologi
    2.3.1 Bakteri : Ringan
    2.3.2 Ergonomi : Sedang

    2.4 Bahaya Kimia
    2.4.1 Material Beracun : Tinggi

    2.5 Bahaya Lingkungan
    2.5.1 Permukaan Tanah : Sedang

    3.Deskripsi Konsekuensi
    3.1 Manusia
    3.1.1 Ringan : Tidak terdapat cedera/penyakit, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    3.1.2 Ringan : Cedera ringan, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    3.1.3 Sedang : Mendapat P3K atau tindakan medis, tidak ada hilang jam kerja lebih dari 1X24 jam
    3.1.4 Tinggi : Memerlukan tindakan medis lanjut/rujukan, cacat sementara, terdapat jam kerja hilang 1X24 jam
    3.1.5 Tinggi : Cacat permanen, kematian, terdapat jam kerja hilang lebih dari 1X24 jam

    3.2 Aset / alat
    3.2.1 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja kurang dari Rp. 1.000.000
    3.2.2 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.000.000 – Rp. 1.500.000
    3.2.3 Sedang : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.500.000 – Rp. 5.000.000
    3.2.4 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 5.000.000 – Rp. 10.000.000
    3.2.5 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja lebih dari Rp. 10.000.000

    3.3 Lingkungan
    3.3.1 Ringan : Tidak berdampak apa-apa pada lingkungan
    3.3.2 Ringan : Berefek kecil terhadap lingkungan
    3.3.3 Sedang : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka pendek
    3.3.4 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang
    3.3.5 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang

    4. Risiko awal
    4.1 Bahaya Psikososial : Kelelahan atau fatique
    4.2 Bahaya Fisika : Terhirup debu, tertimpa runtuhan material, scaffolding runtuh, tangan tercepit, terjatuh dari scaffolding
    4.3 Bahaya Biologi : Terkena penyakit kulit, diserang hewan
    4.4 Bahaya Kimia : Terhirup material beracun
    4.5 Bahaya Lingkungan : Tersandung

    5. Pengendalian potensi bahaya dengan hierarchy of control
    5.1 Eliminasi : Eliminasi material-material disekitar konstruksi yang tidak penting dengan dibuang atau dipindahkan
    5.2 Subtitusi : Mengganti model scaffolding menjadi scaffolding yang standar
    5.3 Enginnering : Pada scaffolding dibuat handrail agar pekerja tidak terjatuh
    5.4 Adiministrasi : Dibuat JSA, training untuk pekerjanya, dibuat rambu-rambu
    5.5 APD : Menggunakan sepatu safety, sarung tangan safety, helm safety, masker, kacamata, baju safety

    6. Risiko sisa
    6.1 Bahaya Psikososial
    6.1.1 Kelelahan karena jam kerja : Rendah
    6.1.2 Usia dan pengalaman kerja : Rendah

    6.2 Bahaya Fisika
    6.2.1 Debu : Rendah
    6.2.2 Gravitasi : Sedang
    6.2.3 Dinding Konstruksi : Sedang
    6.2.4 Scaffolding : Rendah
    6.2.5 Suhu : Rendah

    6.3 Bahaya Biologi
    6.3.1 Bakteri : Ringan
    6.3.2 Ergonomi : Sedang

    6.4 Bahaya Kimia
    6.4.1 Material Beracun : Sedang

    6.5 Bahaya Lingkungan
    6.5.1 Permukaan Tanah : Ringan

    Risk Matriks Pekerjaan 2

    1. Potensi Penyebab Bahaya
    1.1 Bahaya Psikososial : Kelelahan karena jam kerja, usia dan pengalaman kerja
    1.2 Bahaya Fisika : Debu, Gravitasi, Dinding Konstruksi, Scaffolding, Suhu
    1.3 Bahaya Biologi : Bakteri, Ergonomi
    1.4 Bahaya Kimia : Material beracun
    1.5 Bahaya Lingkungan : Permukaan Tanah

    2. Konsekuensi
    2.1 Bahaya Psikososial
    2.1.1 Kelelahan karena jam kerja : Sedang
    2.1.2 Usia dan pengalaman kerja : Sedang

    2.2 Bahaya Fisika
    2.2.1 Debu : Sedang
    2.2.2 Gravitasi : Tinggi
    2.2.3 Dinding Konstruksi : Tinggi
    2.2.4 Scaffolding : Sedang
    2.2.5 Suhu : Ringan

    2.3 Bahaya Biologi
    2.3.1 Bakteri : Ringan
    2.3.2 Ergonomi : Sedang

    2.4 Bahaya Kimia
    2.4.1 Material Beracun : Tinggi

    2.5 Bahaya Lingkungan
    2.5.1 Permukaan Tanah : Sedang

    3.Deskripsi Konsekuensi
    3.1 Manusia
    3.1.1 Ringan : Tidak terdapat cedera/penyakit, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    3.1.2 Ringan : Cedera ringan, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    3.1.3 Sedang : Mendapat P3K atau tindakan medis, tidak ada hilang jam kerja lebih dari 1X24 jam
    3.1.4 Tinggi : Memerlukan tindakan medis lanjut/rujukan, cacat sementara, terdapat jam kerja hilang 1X24 jam
    3.1.5 Tinggi : Cacat permanen, kematian, terdapat jam kerja hilang lebih dari 1X24 jam

    3.2 Aset / alat
    3.2.1 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja kurang dari Rp. 1.000.000
    3.2.2 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.000.000 – Rp. 1.500.000
    3.2.3 Sedang : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.500.000 – Rp. 5.000.000
    3.2.4 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 5.000.000 – Rp. 10.000.000
    3.2.5 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja lebih dari Rp. 10.000.000

    3.3 Lingkungan
    3.3.1 Ringan : Tidak berdampak apa-apa pada lingkungan
    3.3.2 Ringan : Berefek kecil terhadap lingkungan
    3.3.3 Sedang : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka pendek
    3.3.4 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang
    3.3.5 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang

    4. Risiko awal
    4.1 Bahaya Psikososial : Kelelahan atau fatique
    4.2 Bahaya Fisika : Terhirup debu, tertimpa runtuhan material, scaffolding runtuh, tangan tercepit, terjatuh dari scaffolding
    4.3 Bahaya Biologi : Terkena penyakit kulit, diserang hewan
    4.4 Bahaya Kimia : Terhirup material beracun
    4.5 Bahaya Lingkungan : Tersandung

    5. Pengendalian potensi bahaya dengan hierarchy of control
    5.1 Eliminasi : Eliminasi material-material disekitar konstruksi yang tidak penting dengan dibuang atau dipindahkan
    5.2 Subtitusi : Mengganti model scaffolding menjadi scaffolding yang standar, mengganti bahan dari batu bata merah menjadi bata ringan
    5.3 Enginnering : Pada scaffolding dibuat handrail agar pekerja tidak terjatuh, menggunakan bodyharnes
    5.4 Adiministrasi : Dibuat JSA, training untuk pekerjanya, dibuat rambu-rambu
    5.5 APD : Menggunakan sepatu safety, sarung tangan safety, helm safety, masker, kacamata, baju safety

    6. Risiko sisa
    6.1 Bahaya Psikososial
    6.1.1 Kelelahan karena jam kerja : Rendah
    6.1.2 Usia dan pengalaman kerja : Rendah

    6.2 Bahaya Fisika
    6.2.1 Debu : Rendah
    6.2.2 Gravitasi : Sedang
    6.2.3 Dinding Konstruksi : Sedang
    6.2.4 Scaffolding : Rendah
    6.2.5 Suhu : Rendah

    6.3 Bahaya Biologi
    6.3.1 Bakteri : Ringan
    6.3.2 Ergonomi : Sedang

    6.4 Bahaya Kimia
    6.4.1 Material Beracun : Sedang

    6.5 Bahaya Lingkungan
    6.5.1 Permukaan Tanah : Ringan

    Nama : Reza Hermawan
    Kelas : B2
    Semester : 5
    NPM : 13.11.106.701501.0885

  4. Tugas 4 Keselamatan Konstruksi.

    Nama pekerjaan (2 jenis pekerjaan seperti tercantum diatas).
    Potensi penyebab bahaya (hazard).
    Deskripsi konsekuensi terhadap manusia, alat/peralatan, lingkungan.
    Risiko awal (Tingkat kemungkinan, Tingkat keparahan, Tingkat risiko).
    Pengendalian potensi bahaya (Eliminasi, Substitusi, Rekayasa Teknis, Administratif, APD).
    Risiko sisa (Tingkat kemungkinan, Tingkat keparahan, Tingkat risiko).
    Pengendalian tambahan terhadap bahaya (bila ada).

    1. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.

    A. Potensi penyebab bahaya
    1. Batu bata yang terjatuh dari scaffolding.
    2. Campuran semen yang terjatuh dan mengenai tangan pekerja.
    3. Tidak adanya tag di scaffolding/bukti pemeriksaan scaffolding yang layak di pakai atau tidak.
    4. Tidak adanya hand real di scaffolding.
    5. Lantai atau pijakan di scaffolding tidak standard (Karna bukan pasanganya).
    6. Pekerja tidak menggunakan APD yang lengkap dan cara penggunaanya. Contoh temuan APD (Gloves, Masker, Glasses).
    7. Environment : Campuran semen yang terjatuh & pecahan atau bongkahan bata yang tercecer di area sekitar proyek.

    B. Konsekuensi terhadap manusia, alat/peralatan, lingkungan.
    1. Pekerja tertimpa batu bata dari dari scaffoding.
    2. Pekerja terpapar dengan bahan chemical.
    3. Scaffolding yang dibangun bisa rubuh bersama dengan pekerjanya.
    4. Pekerja bisa terjatuh apabila tidak diberikan hand real pada scaffolding.
    5. Lantai peranca yang terbuat dari kayu bisa patah dan tidak direkomendasikan.
    6. Sarung safety tangan agar tidak terjepit material yang ada di area sekitar proyek, Masker safety untuk menghindari debu di area proyek, Kaca mata Safety utnuk menghindari mata dari partikel kecil yang di akibatkan dari pecahan batu bata & semen.
    7. Dapat merusak tanaman dan lingkungan yang berada di sekitar area proyek.

    C. Resiko awal
    1. Kemungkinan Batu bata dapat terjatuh dari atas.
    2. Tingkat keparahan Pekerja yang melakukan kontak langsung dengan bahan chimecial.
    3. Tingkat resiko Scaffolding dapat robuh atau rebah.
    4. Kemungkinan pekerja bisa terjatuh apabila tidak adanya hand real pada scaffoding.
    5. kemungkinan pijakan atau lantai peranca bisa patah.
    6. Tingkat keparahan apabila kontak langsung dengan bahaya dan pekerja tidak menggunakan APD yang baik dan benar akan menimbulkan resiko awal bagi pekerja.
    7. Tingkat keparahan yang merusak lingkungan di area sekitar proyek.

    D. Pengendalian Potensi Bahaya.
    1. Rekayasa teknis membuat tempat untuk menampung batu bata pada saat diatas scaffolding.
    2. Menggunakan APD sesuai dengan bidang yang dikerjakan.
    3. Mengganti scaffolding dengan yang baru dan melakukan pengecekan pada saat ingin digunakan.
    4. Menambahkan hand real pada scaffolding.
    5. Mengganti lantai peranca dengan yang telah direkomendasikan.
    6. Memberikan APD kepada pekerja agar pekerja dapat melakukan pekerjaan dengan aman.
    7. Memberikan tepat untuk menaruh sisa-sisa dari pembuangan semen atau batu bata yang terjatuh ke bawah.

    E. Resiko Sisa
    1. Medium
    2. Low
    3. Medium
    4. Low
    5. Low
    6. Low
    7. Low

    2. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah.

    A. Potensi penyebab bahaya
    1. Batu bata yang terjatuh dari scaffolding.
    2. Campuran semen yang terjatuh dan mengenai tangan pekerja.
    3. Tidak adanya tag di scaffolding/bukti pemeriksaan scaffolding yang layak di pakai atau tidak.
    4. Tidak adanya hand real di scaffolding.
    5. Lantai atau pijakan di scaffolding tidak standard (Karna bukan pasanganya).
    6. Pekerja tidak menggunakan APD yang lengkap dan cara penggunaanya. Contoh temuan APD (Gloves, Masker, Glasses).
    7. Environment : Campuran semen yang terjatuh & pecahan atau bongkahan bata yang tercecer di area sekitar proyek.

    B. Konsekuensi terhadap manusia, alat/peralatan, lingkungan.
    1. Pekerja tertimpa batu bata dari dari scaffoding.
    2. Pekerja terpapar dengan bahan chemical.
    3. Scaffolding yang dibangun bisa rubuh bersama dengan pekerjanya.
    4. Pekerja bisa terjatuh apabila tidak diberikan hand real pada scaffolding.
    5. Lantai peranca yang terbuat dari kayu bisa patah dan tidak direkomendasikan.
    6. Sarung safety tangan agar tidak terjepit material yang ada di area sekitar proyek, Masker safety untuk menghindari debu di area proyek, Kaca mata Safety utnuk menghindari mata dari partikel kecil yang di akibatkan dari pecahan batu bata & semen.
    7. Dapat merusak tanaman dan lingkungan yang berada di sekitar area proyek.

    C. Resiko awal
    1. Kemungkinan Batu bata dapat terjatuh dari atas.
    2. Tingkat keparahan Pekerja yang melakukan kontak langsung dengan bahan chimecial.
    3. Tingkat resiko Scaffolding dapat robuh atau rebah.
    4. Kemungkinan pekerja bisa terjatuh apabila tidak adanya hand real pada scaffoding.
    5. kemungkinan pijakan atau lantai peranca bisa patah.
    6. Tingkat keparahan apabila kontak langsung dengan bahaya dan pekerja tidak menggunakan APD yang baik dan benar akan menimbulkan resiko awal bagi pekerja.
    7. Tingkat keparahan yang merusak lingkungan di area sekitar proyek.

    D. Pengendalian Potensi Bahaya.
    1. Rekayasa teknis membuat tempat untuk menampung batu bata pada saat diatas scaffolding.
    2. Menggunakan APD sesuai dengan bidang yang dikerjakan.
    3. Mengganti scaffolding dengan yang baru dan melakukan pengecekan pada saat ingin digunakan.
    4. Menambahkan hand real pada scaffolding.
    5. Mengganti lantai peranca dengan yang telah direkomendasikan.
    6. Memberikan APD kepada pekerja agar pekerja dapat melakukan pekerjaan dengan aman.
    7. Memberikan tepat untuk menaruh sisa-sisa dari pembuangan semen atau batu bata yang terjatuh ke bawah.

    E. Resiko Sisa
    1. Medium
    2. Low
    3. Medium
    4. Low
    5. Low
    6. Low
    7. Low

    Note: Menurut analisa saya potensi bahaya dan cara penanggulanganya antara kasus nomer 1 dan nomer 2 itu sama cara menanggulangi dan yang membedakan adalah
    lokasi proyek tersebut di kerjakan.

    Nama : Dimas Cahya Anggara
    NPM : 13.11.106.701501.0878
    Kelas : B2 ( Malam )
    Semester : 5

  5. Risk matrik

    1.1 Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.
    1.2 potensi penyebab bahaya:
    1.2.1 bahaya lingkungan yakni berupa cuaca contoh panas matahari & cuaca dingin
    1.2.2 bahaya ketinggian atau gravitasi papan pijakan skafolding
    1.2.3 bahaya psikologis berupa stres,fatique dan beban kerja
    1.2.4 bahaya kimia berupa material semen,pasir dan besi beton
    1.3 konsekuensi terhadap manusia,alat/peralatan,lingkungan
    1.3.1.1 terhadap manusia:
    1.3.1.1 terjadi dehidrasi yang menyebabkan daya tahan tubuh pekerja menurun (safery= first aid case)
    1.3.1.2 terjatuh dari pijakan scafolding dengan ketinggian 3,00 meter dari permukaan tanah (safety= fatality)
    1.3.1.3 pihak kontraktor yang tidak memberikan jam istirahat untuk pekerja karna deadline proyek yang menyebabkan pekerja kelelahan/fatique (safety= medical treatment)
    1.3.1.4 debu semen yang bisa kapan saja terhirup oleh pekerja dan dapat menyebabkan gangguan pernapasan ( safety= first aid case)
    1.3.1.5 besi beton yang bisa melukai tangan pekerja,biasanya ujung besi tersebut sangat tajam (safety= medical treatment)
    1.3.2 terhadap alat/perlatan:
    1.3.2.1 perancah yang dapat rusak/keropos karna karat atau terkena air hujan dan panas matahari (property damage)
    1.3.2.2 alat yang mudah mengalami kerusakan jika tidak di rawat atau di cek spare part pada alat tersebut (property daage)
    1.3.3 terhadap lingkungan:
    1.3.3.1 material sisa bangunan yang biasanya di tinggalkan begitu saja oleh kontraktor (moderate/bersifat sedang tanpa mengganggu ekosistem sekitar)
    1.4 resiko awal(tingkat kemungkinan,tingkat keparahan,tingkat resiko)
    1.4.1 manusia:
    1.4.1.1 banyak terjadi dalam 1 tahun ,keparahan= safety,(first aid case) ratingnya sedang
    1.4.1.2 terjadi 1-2x setahun,keparahan= safety,(fatality) ratingnya tinggi
    1.4.1.3 banyak terjadi dalam 1 tahun ,keparahan= safety,(medical treatment) ratingnya tinggi
    1.4.1.4 banyak terjadi dalam 1 tahun ,keparahan= safety,(first aid case) ratingnya sedang
    1.4.1.5 banyak terjadi dalam 1 tahun ,keparahan= safety,(medical treatment) ratingnya tinggi
    1.4.2 alat/ perlatan:
    1.4.2.1 banyak terjadi dalam 1 tahun ,kerahan= property damage,(biaya uss 10.000-uss 100.000)ratingnya tinggi
    1.4.2.1 terjadi 1-2x setahun,keparahan=property damage,(biaya uss 1m- uss 10m) ratingnya tinggi
    1.4.3 lingkungan
    1.4.3.1 banyak terjadi dala 1 tahun ,keparahan=moderate(bersifat sedang tanpa mengganggu ekosistem sekitar) ratingnya tinggi
    1.5 pengendalian potensi bahaya:
    1.5.1 manusia:
    1.5.1.1 sediakan minuman atau suplemen untuk menjaga stamina pekerja agar tidak cepat dehidrasi
    1.5.1.2 buat pijakan scafolding yang kokok,dan perhtikan bagian-bagian scafolding apakah ada yang keropos atau berkarat karna itu sanagat riskan bila tetap digunakan
    1.5.1.3 berikan waktu senggang untuk pekerja beristirahat seperti coffe break,agar para pekerja tidak merasa terbebani dengan pekerjaan yang tak ada rehatnya.
    1.5.1.4 berikan apd berupa masker ke setiap pekerja,dan tidak hanya itu harus ada seorang hse yang mengawasi apakah apd tersebut telah digunakan sebagai mana fungsinya
    1.5.1.5 berikan apd berupa sarung tangan,sehingga para pekerja ketika kontak dengan besi beton tersebut tidak mudah terluka karena ujung besi yang biasanya tajam
    1.5.2 alat/peralatan:
    1.5.2.1 sebaiknya mengganti perancah yang telah rusak dengan yang baru selain itu rutin merawatnya sehingga masa pemakaiannya bisa panjang
    1.5.2.2 lakukan service dan cek spare part secara berkala sehingga bila ditemukan kerusakan dapat di atasi dengan cepat
    1.5.3 lingkungan
    1.5.3.1 biasakan bersihkan area proyek yang telah selesai bangunannya pastikan tidak ada bahan sisa bangunan yang nantinya sangat mengganggu ekosistem sekitar
    1.6 resiko sisa:
    1.6.1 manusia:
    1.6.1.1 terjadi sekali dalam 15 tahun , keparahan=safety,(first aid case) ratingnya rendah
    1.6.1.2 terjadi sekali dalam 15 tahun , keparahan=safety,(medical treatment) rating rendah
    1.6.1.3 terjadi sekali dalam 5 tahun , keparahan=safety ,(medical treatment) rating sedang
    1.6.1.4 terjadi sekali dalam 15 tahun ,keparahan= safety,(first aid case) ratingnya rendah
    1.6.1.5 terjadi sekali dalam 15 tahun ,keparahan= safety,(medical treatment) ratingnya rendah
    1.7 pengendalian tambahan (bila ada)
    1.7.1 tempatkan seorang hse di setiap lokasi proyek untuk mengawasi apakah prosedur k3 sudah berjalan di lapangan
    1.7.2 adakan safety moment sebelum pekerjaan dimulai sehingga para pekerja dapat sharing masalah k3

    2.1 Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah.
    2.2 potensi penyebab bahaya:
    2.2.1 bahaya gravitasi bekerja di ketinggian di atas 3,00 meter dari permukaan tanah
    2.2.2 bahaya lingkungan seperti cuaca (panas matahari dan hujan)
    2.2.3 bahaya kimia berupa material debu semen,debu pasir dan besi beton
    2.2.4 bahaya psikologis berhubungan dengan jiwa,beban kerja dan stress
    2.2.5 bahaya mekanika berupa alat yang digunakan dalam konstruksi seperti (mesin molen,mesin pengaduk semen)
    2.3 konsekuensi terhadap manusia,alat/peralatan,lingkungan:
    2.3.1 manusia:
    2.3.1.1 terjadi dehidrasi yang menyebabkan daya tahan tubuh pekerja menurun (safery= first aid case)
    2.3.1.2 terjatuh dari ketinggian di atas 3,00 meter dari permukaan tanah (safety= fatality)
    2.3.1.3 pihak kontraktor yang tidak memberikan jam istirahat untuk pekerja karna deadline proyek yang menyebabkan pekerja kelelahan/fatique (safety= medical treatment)
    2.3.1.4 debu semen yang bisa kapan saja terhirup oleh pekerja dan dapat menyebabkan gangguan pernapasan ( safety= first aid case)
    2.3.1.5 besi beton yang bisa melukai tangan pekerja,biasanya ujung besi tersebut sangat tajam (safety= medical treatment)
    2.3.2 alat/peralatan:
    2.3.2.1 perancah yang dapat rusak/keropos karna karat atau terkena air hujan dan panas matahari (property damage)
    2.3.2.2 alat yang mudah mengalami kerusakan jika tidak di rawat atau di cek spare part pada alat tersebut (property daage)
    2.3.3 terhadap lingkungan:
    2.3.3.1 material sisa bangunan yang biasanya di tinggalkan begitu saja oleh kontraktor (moderate/bersifat sedang tanpa mengganggu ekosistem sekitar)
    2.4 resiko awal(tingkat kemungkinan,tingkat keparahan,tingkat resiko)
    2.4.1 manusia:
    2.4.1.1 banyak terjadi dalam 1 tahun ,keparahan= safety,(first aid case) ratingnya sedang
    2.4.1.2 terjadi 1-2x setahun,keparahan= safety,(fatality) ratingnya tinggi
    2.4.1.3 banyak terjadi dalam 1 tahun ,keparahan= safety,(medical treatment) ratingnya tinggi
    2.4.1.4 banyak terjadi dalam 1 tahun ,keparahan= safety,(first aid case) ratingnya sedang
    2.4.1.5 banyak terjadi dalam 1 tahun ,keparahan= safety,(medical treatment) ratingnya tinggi
    2.4.2 alat/ perlatan:
    2.4.2.1 banyak terjadi dalam 1 tahun ,kerahan= property damage,(biaya uss 10.000-uss 100.000)ratingnya tinggi
    2.4.2.1 terjadi 1-2x setahun,keparahan=property damage,(biaya uss 1m- uss 10m) ratingnya tinggi
    2.4.3 lingkungan
    2.4.3.1 banyak terjadi dala 1 tahun ,keparahan=moderate(bersifat sedang tanpa mengganggu ekosistem sekitar) ratingnya tinggi
    2.5 pengendalian potensi bahaya:
    2.5.1 manusia:
    2.5.1.1 sediakan minuman atau suplemen untuk menjaga stamina pekerja agar tidak cepat dehidrasi
    2.5.1.2 buat pijakan scafolding yang kokok,dan perhtikan bagian-bagian scafolding apakah ada yang keropos atau berkarat karna itu sanagat riskan bila tetap digunakan
    2.5.1.3 berikan waktu senggang untuk pekerja beristirahat seperti coffe break,agar para pekerja tidak merasa terbebani dengan pekerjaan yang tak ada rehatnya.
    2.5.1.4 berikan apd berupa masker ke setiap pekerja,dan tidak hanya itu harus ada seorang hse yang mengawasi apakah apd tersebut telah digunakan sebagai mana fungsinya
    2.5.1.5 berikan apd berupa sarung tangan,sehingga para pekerja ketika kontak dengan besi beton tersebut tidak mudah terluka karena ujung besi yang biasanya tajam
    2.5.2 alat/peralatan:
    2.5.2.1 sebaiknya mengganti perancah yang telah rusak dengan yang baru selain itu rutin merawatnya sehingga masa pemakaiannya bisa panjang
    2.5.2.2 lakukan service dan cek spare part secara berkala sehingga bila ditemukan kerusakan dapat di atasi dengan cepat
    2.5.3 lingkungan
    2.5.3.1 biasakan bersihkan area proyek yang telah selesai bangunannya pastikan tidak ada bahan sisa bangunan yang nantinya sangat mengganggu ekosistem sekitar
    2.6 resiko sisa:
    2.6.1 manusia:
    2.6.1.1 terjadi sekali dalam 15 tahun , keparahan=safety,(first aid case) ratingnya rendah
    2.6.1.2 terjadi sekali dalam 15 tahun , keparahan=safety,(medical treatment) rating rendah
    2.6.1.3 terjadi sekali dalam 5 tahun , keparahan=safety ,(medical treatment) rating sedang
    2.6.1.4 terjadi sekali dalam 15 tahun ,keparahan= safety,(first aid case) ratingnya rendah
    2.6.1.5 terjadi sekali dalam 15 tahun ,keparahan= safety,(medical treatment) ratingnya rendah
    2.7 pengendalian tambahan (bila ada)
    2.7.1 tempatkan seorang hse di setiap lokasi proyek untuk mengawasi apakah prosedur k3 sudah berjalan di lapangan
    2.7.2 adakan safety moment sebelum pekerjaan dimulai sehingga para pekerja dapat sharing masalah k3

    NAMA:MUHAMMAD IRPAN ANSORI

    NPM: 13.11.106.701501.0907

    KELAS: B2 (MALAM)

    SEMESTER: V

  6. 1.Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.

    a.Analisis potensi bahaya;
    1.Bahaya Fisika : Suhu, Gravitasi, Pergerakan scaffolding, Ketinggian, Konstruksi Batu Bata
    2.Bahaya Kimia : Bahan dan material yang beracun, Debu, iritasi.
    3.Bahaya Biologis : Bakteri, Binatang.
    4.Bahaya Psikososial : Kelelahan, Stress.
    5.Bahaya Lingkungan : Kondisi area kerja, Hujan.
    6.Bahaya Biomekanik : Postur/Posisi Kerja

    Risk matriks pekerjaan 1

    1. Potensi penyebab bahaya
    1.1 Bahaya Fisika : Suhu, Gravitasi, Pergerakan scaffolding, Ketinggian, Konstruksi Batu Bata
    1.2 Bahaya Kimia : Bahan dan material yang beracun, Debu, iritasi.
    1.3 Bahaya Biologis : Bakteri, Binatang.
    1.4 Bahaya Psikososial : Kelelahan, Stress.
    1.5 Bahaya Lingkungan : Kondisi area kerja, Hujan.
    1.6 Bahaya Biomekanik : Postur/Posisi Kerja

    2. Konsekuensi
    2.1 Bahaya Fisika
    2.1.1 Suhu : Sedang
    2.1.2 Gravitasi : Tinggi
    2.1.3 Pergerakan scaffolding :Sedang
    2.1.4 Ketinggian : Tinggi
    2.1.5 Konstruksi Batu Bata : Tinggi

    2.2 Bahaya Kimia
    2.2.1 Bahan/material Beracun : Sedang
    2.2.2 Debu : Tinggi
    2.2.3 Iritasi : Sedang

    2.3 Bahaya Biologis
    2.3.1 Bakteri : Sedang
    2.3.2 Binatang : Sedang

    2.4 Bahaya Psikososial
    2.4.1 Kelelahan : Tinggi
    2.4.2 Stress : Sedang

    2.5 Bahaya Lingkungan
    2.5.1 Kondisi area kerja : Sedang
    2.5.2 Hujan : Ringan

    2.6 Bahaya Biomekanik
    2.6.1 Posisi tubuh/Postur : Tinggi

    3. Deskripsi Konsekuensi
    3.1 Manusia
    3.1.1 Ringan : Pekerja tidak mengalami cidera parah, cidera ringan.
    3.1.2 Sedang : Pekerja membutuhkan perawatan lanjut, medical treatment, tidak kehilangan jam kerja.
    3.1.3 Tinggi : Pekerja mengalami cacat permanen, fatality, kehilangan jam kerja.

    3.2 Aset / alat
    3.2.1 Ringan : Total kerugian akibat kecelakaan kerja kurang dari Rp. 500.000
    3.2.2 Sedang : Total Kerugian akibat kecelakaan kerja antara Rp. 500.000 – Rp. 2.500.000
    3.2.3 Tinggi : Total kerugian akibat kecelakaan kerja lebih dari Rp. 2.500.000

    3.3 Lingkungan
    3.3.1 Ringan : Tidak berdampak pada Lingkungan, atau berefek kecil dan tidak mengganggu operasional pekerjaan.
    3.3.2 Sedang : Berefek serius dalam jangka pendek.
    3.3.3 Tinggi : Berefek serius dalam jangka panjang seperti mencemari lingkungan dari limbah pekerjaan.

    4. Resiko awal
    4.1 Bahaya Fisika : Terpapar sengatan matahari, tertimpa runtuhan material, scaffolding rubuh, terjatuh, dinding rubuh.
    4.2 Bahaya Kimia : Terhirup debu, iritasi mata.
    4.3 Bahaya Biologis : Terjangkit penyakit kulit, terserang bisa dari binatang liar.
    4.4 Bahaya Psikososial : Kelelahan, Stress.
    4.5 Bahaya Lingkungan : Tersandung.
    4.6 Bahaya Biomekanik : Otot jadi tegang, Sakit pinggang

    5. Pengendalian potensi bahaya dengan hierarchy of control
    5.1 Eliminasi :
    5.1.1 Memindahkan material yang tidak digunakan ke tempat yang aman.
    5.2 Subtitusi :
    5.2.1 Mengganti scaffolding sesuai standart,
    5.2.2 Menggunakan bahan dan material yang standart.
    5.3 Rekayasa Teknis :
    5.3.1 Menambah pengaman di sisi scaffolding seperti handrail dan midrail,
    5.3.2 Membuat barikade agar orang yang tidak berkepentingan tidak berada di area kerja,
    5.3.3 Melakukan pembasmian seperti seranggan berbisa, tawon dan lain-lain yang ada di area kerja.
    5.4 Administrasi :
    5.4.1 Membuat SOP dan JSA tentang pekerjaan konstruksi batu bata perumahan.
    5.4.2 Memberikan pelatihan kepada pekerja tentang bekerja dengan aman,
    5.4.3 Pembagian jadwal kerja dan waktu istirahat.
    5.5 APD :
    5.5.1 Memberikan alat pelindung diri standart seperti safety shoes, safety helmet, safety glasses, masker, safety gloves, Baju kerja.
    5.5.2 Apabila bekerja di ketinggian lebih dari 1,8 meter pekerja wajib menggunakan body harness.

    6. Bahaya sisa
    6.1 Bahaya Fisika
    6.1.1 Suhu : Ringan
    6.1.2 Gravitasi : Sedang
    6.1.3 Pergerakan scaffolding :Ringan
    6.1.4 Ketinggian : Ringan
    6.1.5 Konstruksi Batu Bata : Sedang

    6.2 Bahaya Kimia
    6.2.1 Bahan/material Beracun : Ringan
    6.2.2 Debu : Sedang
    6.2.3 Iritasi : Ringan

    6.3 Bahaya Biologis
    6.3.1 Bakteri : Ringan
    6.3.2 Binatang : Ringan

    6.4 Bahaya Psikososial
    6.4.1 Kelelahan : Sedang
    6.4.2 Stress : Ringan

    6.5 Bahaya Lingkungan
    6.5.1 Kondisi area kerja : Ringan
    6.5.2 Hujan : Ringan

    6.6 Bahaya Biomekanik
    6.6.1 Posisi tubuh/Postur : Sedang

    2. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah.

    Risk matriks pekerjaan 2

    1. Potensi penyebab bahaya
    1.1 Bahaya Fisika : Suhu, Gravitasi, Pergerakan scaffolding, Ketinggian, Konstruksi Batu Bata
    1.2 Bahaya Kimia : Bahan dan material yang beracun, Debu, iritasi.
    1.3 Bahaya Biologis : Bakteri, Binatang.
    1.4 Bahaya Psikososial : Kelelahan, Stress.
    1.5 Bahaya Lingkungan : Kondisi area kerja, Hujan.
    1.6 Bahaya Biomekanik : Postur/Posisi Kerja

    2. Konsekuensi
    2.1 Bahaya Fisika
    2.1.1 Suhu : Sedang
    2.1.2 Gravitasi : Tinggi
    2.1.3 Pergerakan scaffolding :Sedang
    2.1.4 Ketinggian : Tinggi
    2.1.5 Konstruksi Batu Bata : Tinggi

    2.2 Bahaya Kimia
    2.2.1 Bahan/material Beracun : Sedang
    2.2.2 Debu : Tinggi
    2.2.3 Iritasi : Sedang

    2.3 Bahaya Biologis
    2.3.1 Bakteri : Sedang
    2.3.2 Binatang : Sedang

    2.4 Bahaya Psikososial
    2.4.1 Kelelahan : Tinggi
    2.4.2 Stress : Sedang

    2.5 Bahaya Lingkungan
    2.5.1 Kondisi area kerja : Sedang
    2.5.2 Hujan : Ringan

    2.6 Bahaya Biomekanik
    2.6.1 Posisi tubuh/Postur : Tinggi

    3. Deskripsi Konsekuensi
    3.1 Manusia
    3.1.1 Ringan : Pekerja tidak mengalami cidera parah, cidera ringan.
    3.1.2 Sedang : Pekerja membutuhkan perawatan lanjut, medical treatment, tidak kehilangan jam kerja.
    3.1.3 Tinggi : Pekerja mengalami cacat permanen, fatality, kehilangan jam kerja.

    3.2 Aset / alat
    3.2.1 Ringan : Total kerugian akibat kecelakaan kerja kurang dari Rp. 1.000.000
    3.2.2 Sedang : Total Kerugian akibat kecelakaan kerja antara Rp. 1.000.000 – Rp. 10.000.000
    3.2.3 Tinggi : Total kerugian akibat kecelakaan kerja lebih dari Rp. 10.000.000

    3.3 Lingkungan
    3.3.1 Ringan : Tidak berdampak pada Lingkungan, atau berefek kecil dan tidak mengganggu operasional pekerjaan.
    3.3.2 Sedang : Berefek serius dalam jangka pendek.
    3.3.3 Tinggi : Berefek serius dalam jangka panjang seperti mencemari lingkungan dari limbah pekerjaan.

    4. Resiko awal
    4.1 Bahaya Fisika : Terpapar sengatan matahari, tertimpa runtuhan material, scaffolding rubuh, terjatuh, dinding rubuh.
    4.2 Bahaya Kimia : Terhirup debu, iritasi mata.
    4.3 Bahaya Biologis : Terjangkit penyakit kulit, terserang bisa dari binatang liar.
    4.4 Bahaya Psikososial : Kelelahan, Stress.
    4.5 Bahaya Lingkungan : Tersandung.
    4.6 Bahaya Biomekanik : Otot jadi tegang, Sakit pinggang

    5. Pengendalian potensi bahaya dengan hierarchy of control
    5.1 Eliminasi:
    5.1.1 Memindahkan material yang tidak digunakan ke tempat yang aman.
    5.2 Subtitusi :
    5.2.1 Mengganti scaffolding sesuai standart,
    5.2.2 Menggunakan bahan dan material yang standart,
    5.2.3 Untuk gedung bertingkat disarankan menggunakan batu ringan, agar mengurangi beban konstruksi gedung bertingkat.
    5.3 Rekayasa Teknis :
    5.3.1 Menambah pengaman di sisi scaffolding seperti handrail dan midrail
    5.3.2 Membuat barikade agar orang yang tidak berkepentingan tidak berada di area kerja,
    5.3.3 Melakukan pembasmiaan serangga yang ada di area kerja.
    5.3.4 Menambahkan alat angkut untuk menaruh material di atas sehingga tidak dilakukan secara manual
    5.4 Administrasi :
    5.4.1 Membuat SOP dan JSA tentang pekerjaan konstruksi batu bata untuk gedung bertingkat,
    5.4.2 Memberikan pelatihan kepada pekerja tentang bekerja dengan aman,
    5.4.3 Pembagian jadwal kerja dan jam istirhat,
    5.4.4 Membuat form izin kerja.

    5.5 APD :
    5.5.1 Memberikan alat pelindung diri standart seperti safety shoes, safety helmet, safety glasses, masker, safety gloves, Baju kerja.
    5.5.2 Apabila bekerja di ketinggian lebih dari 1,8 meter pekerja wajib menggunakan body harness.

    6. Bahaya sisa
    6.1 Bahaya Fisika
    6.1.1 Suhu : Ringan
    6.1.2 Gravitasi : Sedang
    6.1.3 Pergerakan scaffolding :Ringan
    6.1.4 Ketinggian : Ringan
    6.1.5 Konstruksi Batu Bata : Sedang

    6.2 Bahaya Kimia
    6.2.1 Bahan/material Beracun : Ringan
    6.2.2 Debu : Sedang
    6.2.3 Iritasi : Ringan

    6.3 Bahaya Biologis
    6.3.1 Bakteri : Ringan
    6.3.2 Binatang : Ringan

    6.4 Bahaya Psikososial
    6.4.1 Kelelahan : Sedang
    6.4.2 Stress : Ringan

    6.5 Bahaya Lingkungan
    6.5.1 Kondisi area kerja : Ringan
    6.5.2 Hujan : Ringan

    6.6 Bahaya Biomekanik
    6.6.1 Posisi tubuh/Postur : Sedang

    Nama : Imam Arifin
    Kelas : B2
    Semester : 5
    NPM : 13.11.106.701501.0892

    • Cantumkan nama jenis pekerjaan ke-1 dan jenis pekerjaan ke-2 pada analisis risk assessment anda, agar mudah dipahami. Lihatlah tugas dari rekan yang lain yang sudah disetujui sebagai acuan. Klik “Reply” dibawah komentar ini untuk memperbaikinya, hal ini agar proses perbaikan yang anda lakukan agar mudah ditelusuri.

      • 1.Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.

        a.Analisis potensi bahaya;
        1.Bahaya Fisika : Suhu, Gravitasi, Pergerakan scaffolding, Ketinggian, Konstruksi Batu Bata
        2.Bahaya Kimia : Bahan dan material yang beracun, Debu, iritasi.
        3.Bahaya Biologis : Bakteri, Binatang.
        4.Bahaya Psikososial : Kelelahan, Stress.
        5.Bahaya Lingkungan : Kondisi area kerja, Hujan.
        6.Bahaya Biomekanik : Postur/Posisi Kerja

        Risk matriks pekerjaan 1

        1.Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.

        1. Potensi penyebab bahaya
        1.1 Bahaya Fisika : Suhu, Gravitasi, Pergerakan scaffolding, Ketinggian, Konstruksi Batu Bata
        1.2 Bahaya Kimia : Bahan dan material yang beracun, Debu, iritasi.
        1.3 Bahaya Biologis : Bakteri, Binatang.
        1.4 Bahaya Psikososial : Kelelahan, Stress.
        1.5 Bahaya Lingkungan : Kondisi area kerja, Hujan.
        1.6 Bahaya Biomekanik : Postur/Posisi Kerja

        2. Konsekuensi
        2.1 Bahaya Fisika
        2.1.1 Suhu : Sedang
        2.1.2 Gravitasi : Tinggi
        2.1.3 Pergerakan scaffolding :Sedang
        2.1.4 Ketinggian : Tinggi
        2.1.5 Konstruksi Batu Bata : Tinggi

        2.2 Bahaya Kimia
        2.2.1 Bahan/material Beracun : Sedang
        2.2.2 Debu : Tinggi
        2.2.3 Iritasi : Sedang

        2.3 Bahaya Biologis
        2.3.1 Bakteri : Sedang
        2.3.2 Binatang : Sedang

        2.4 Bahaya Psikososial
        2.4.1 Kelelahan : Tinggi
        2.4.2 Stress : Sedang

        2.5 Bahaya Lingkungan
        2.5.1 Kondisi area kerja : Sedang
        2.5.2 Hujan : Ringan

        2.6 Bahaya Biomekanik
        2.6.1 Posisi tubuh/Postur : Tinggi

        3. Deskripsi Konsekuensi
        3.1 Manusia
        3.1.1 Ringan : Pekerja tidak mengalami cidera parah, cidera ringan.
        3.1.2 Sedang : Pekerja membutuhkan perawatan lanjut, medical treatment, tidak kehilangan jam kerja.
        3.1.3 Tinggi : Pekerja mengalami cacat permanen, fatality, kehilangan jam kerja.

        3.2 Aset / alat
        3.2.1 Ringan : Total kerugian akibat kecelakaan kerja kurang dari Rp. 500.000
        3.2.2 Sedang : Total Kerugian akibat kecelakaan kerja antara Rp. 500.000 – Rp. 2.500.000
        3.2.3 Tinggi : Total kerugian akibat kecelakaan kerja lebih dari Rp. 2.500.000

        3.3 Lingkungan
        3.3.1 Ringan : Tidak berdampak pada Lingkungan, atau berefek kecil dan tidak mengganggu operasional pekerjaan.
        3.3.2 Sedang : Berefek serius dalam jangka pendek.
        3.3.3 Tinggi : Berefek serius dalam jangka panjang seperti mencemari lingkungan dari limbah pekerjaan.

        4. Resiko awal
        4.1 Bahaya Fisika : Terpapar sengatan matahari, tertimpa runtuhan material, scaffolding rubuh, terjatuh, dinding rubuh.
        4.2 Bahaya Kimia : Terhirup debu, iritasi mata.
        4.3 Bahaya Biologis : Terjangkit penyakit kulit, terserang bisa dari binatang liar.
        4.4 Bahaya Psikososial : Kelelahan, Stress.
        4.5 Bahaya Lingkungan : Tersandung.
        4.6 Bahaya Biomekanik : Otot jadi tegang, Sakit pinggang

        5. Pengendalian potensi bahaya dengan hierarchy of control
        5.1 Eliminasi :
        5.1.1 Memindahkan material yang tidak digunakan ke tempat yang aman.
        5.2 Subtitusi :
        5.2.1 Mengganti scaffolding sesuai standart,
        5.2.2 Menggunakan bahan dan material yang standart.
        5.3 Rekayasa Teknis :
        5.3.1 Menambah pengaman di sisi scaffolding seperti handrail dan midrail,
        5.3.2 Membuat barikade agar orang yang tidak berkepentingan tidak berada di area kerja,
        5.3.3 Melakukan pembasmian seperti seranggan berbisa, tawon dan lain-lain yang ada di area kerja.
        5.4 Administrasi :
        5.4.1 Membuat SOP dan JSA tentang pekerjaan konstruksi batu bata perumahan.
        5.4.2 Memberikan pelatihan kepada pekerja tentang bekerja dengan aman,
        5.4.3 Pembagian jadwal kerja dan waktu istirahat.
        5.5 APD :
        5.5.1 Memberikan alat pelindung diri standart seperti safety shoes, safety helmet, safety glasses, masker, safety gloves, Baju kerja.
        5.5.2 Apabila bekerja di ketinggian lebih dari 1,8 meter pekerja wajib menggunakan body harness.

        6. Bahaya sisa
        6.1 Bahaya Fisika
        6.1.1 Suhu : Ringan
        6.1.2 Gravitasi : Sedang
        6.1.3 Pergerakan scaffolding :Ringan
        6.1.4 Ketinggian : Ringan
        6.1.5 Konstruksi Batu Bata : Sedang

        6.2 Bahaya Kimia
        6.2.1 Bahan/material Beracun : Ringan
        6.2.2 Debu : Sedang
        6.2.3 Iritasi : Ringan

        6.3 Bahaya Biologis
        6.3.1 Bakteri : Ringan
        6.3.2 Binatang : Ringan

        6.4 Bahaya Psikososial
        6.4.1 Kelelahan : Sedang
        6.4.2 Stress : Ringan

        6.5 Bahaya Lingkungan
        6.5.1 Kondisi area kerja : Ringan
        6.5.2 Hujan : Ringan

        6.6 Bahaya Biomekanik
        6.6.1 Posisi tubuh/Postur : Sedang

        Risk matriks pekerjaan 2

        2. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah.

        1. Potensi penyebab bahaya
        1.1 Bahaya Fisika : Suhu, Gravitasi, Pergerakan scaffolding, Ketinggian, Konstruksi Batu Bata
        1.2 Bahaya Kimia : Bahan dan material yang beracun, Debu, iritasi.
        1.3 Bahaya Biologis : Bakteri, Binatang.
        1.4 Bahaya Psikososial : Kelelahan, Stress.
        1.5 Bahaya Lingkungan : Kondisi area kerja, Hujan.
        1.6 Bahaya Biomekanik : Postur/Posisi Kerja

        2. Konsekuensi
        2.1 Bahaya Fisika
        2.1.1 Suhu : Sedang
        2.1.2 Gravitasi : Tinggi
        2.1.3 Pergerakan scaffolding :Sedang
        2.1.4 Ketinggian : Tinggi
        2.1.5 Konstruksi Batu Bata : Tinggi

        2.2 Bahaya Kimia
        2.2.1 Bahan/material Beracun : Sedang
        2.2.2 Debu : Tinggi
        2.2.3 Iritasi : Sedang

        2.3 Bahaya Biologis
        2.3.1 Bakteri : Sedang
        2.3.2 Binatang : Sedang

        2.4 Bahaya Psikososial
        2.4.1 Kelelahan : Tinggi
        2.4.2 Stress : Sedang

        2.5 Bahaya Lingkungan
        2.5.1 Kondisi area kerja : Sedang
        2.5.2 Hujan : Ringan

        2.6 Bahaya Biomekanik
        2.6.1 Posisi tubuh/Postur : Tinggi

        3. Deskripsi Konsekuensi
        3.1 Manusia
        3.1.1 Ringan : Pekerja tidak mengalami cidera parah, cidera ringan.
        3.1.2 Sedang : Pekerja membutuhkan perawatan lanjut, medical treatment, tidak kehilangan jam kerja.
        3.1.3 Tinggi : Pekerja mengalami cacat permanen, fatality, kehilangan jam kerja.

        3.2 Aset / alat
        3.2.1 Ringan : Total kerugian akibat kecelakaan kerja kurang dari Rp. 1.000.000
        3.2.2 Sedang : Total Kerugian akibat kecelakaan kerja antara Rp. 1.000.000 – Rp. 10.000.000
        3.2.3 Tinggi : Total kerugian akibat kecelakaan kerja lebih dari Rp. 10.000.000

        3.3 Lingkungan
        3.3.1 Ringan : Tidak berdampak pada Lingkungan, atau berefek kecil dan tidak mengganggu operasional pekerjaan.
        3.3.2 Sedang : Berefek serius dalam jangka pendek.
        3.3.3 Tinggi : Berefek serius dalam jangka panjang seperti mencemari lingkungan dari limbah pekerjaan.

        4. Resiko awal
        4.1 Bahaya Fisika : Terpapar sengatan matahari, tertimpa runtuhan material, scaffolding rubuh, terjatuh, dinding rubuh.
        4.2 Bahaya Kimia : Terhirup debu, iritasi mata.
        4.3 Bahaya Biologis : Terjangkit penyakit kulit, terserang bisa dari binatang liar.
        4.4 Bahaya Psikososial : Kelelahan, Stress.
        4.5 Bahaya Lingkungan : Tersandung.
        4.6 Bahaya Biomekanik : Otot jadi tegang, Sakit pinggang

        5. Pengendalian potensi bahaya dengan hierarchy of control
        5.1 Eliminasi:
        5.1.1 Memindahkan material yang tidak digunakan ke tempat yang aman.
        5.2 Subtitusi :
        5.2.1 Mengganti scaffolding sesuai standart,
        5.2.2 Menggunakan bahan dan material yang standart,
        5.2.3 Untuk gedung bertingkat disarankan menggunakan batu ringan, agar mengurangi beban konstruksi gedung bertingkat.
        5.3 Rekayasa Teknis :
        5.3.1 Menambah pengaman di sisi scaffolding seperti handrail dan midrail
        5.3.2 Membuat barikade agar orang yang tidak berkepentingan tidak berada di area kerja,
        5.3.3 Melakukan pembasmiaan serangga yang ada di area kerja.
        5.3.4 Menambahkan alat angkut untuk menaruh material di atas sehingga tidak dilakukan secara manual
        5.4 Administrasi :
        5.4.1 Membuat SOP dan JSA tentang pekerjaan konstruksi batu bata untuk gedung bertingkat,
        5.4.2 Memberikan pelatihan kepada pekerja tentang bekerja dengan aman,
        5.4.3 Pembagian jadwal kerja dan jam istirhat,
        5.4.4 Membuat form izin kerja.

        5.5 APD :
        5.5.1 Memberikan alat pelindung diri standart seperti safety shoes, safety helmet, safety glasses, masker, safety gloves, Baju kerja.
        5.5.2 Apabila bekerja di ketinggian lebih dari 1,8 meter pekerja wajib menggunakan body harness.

        6. Bahaya sisa
        6.1 Bahaya Fisika
        6.1.1 Suhu : Ringan
        6.1.2 Gravitasi : Sedang
        6.1.3 Pergerakan scaffolding :Ringan
        6.1.4 Ketinggian : Ringan
        6.1.5 Konstruksi Batu Bata : Sedang

        6.2 Bahaya Kimia
        6.2.1 Bahan/material Beracun : Ringan
        6.2.2 Debu : Sedang
        6.2.3 Iritasi : Ringan

        6.3 Bahaya Biologis
        6.3.1 Bakteri : Ringan
        6.3.2 Binatang : Ringan

        6.4 Bahaya Psikososial
        6.4.1 Kelelahan : Sedang
        6.4.2 Stress : Ringan

        6.5 Bahaya Lingkungan
        6.5.1 Kondisi area kerja : Ringan
        6.5.2 Hujan : Ringan

        6.6 Bahaya Biomekanik
        6.6.1 Posisi tubuh/Postur : Sedang

        Nama : Imam Arifin
        Kelas : B2
        Semester : 5
        NPM : 13.11.106.701501.0892

  7. Risk matrix

    Likelihood
    1 = tidak mungkin terjadi
    2 = sering terjadi
    3 = pasti terjadi

    Consequences
    1 = ringan
    2 = sedang
    3 = parah

    Risk rating R = C x L
    1-3 = rendah
    4 = sedang
    5-10 = parah

    1,.Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah

    1. Analisis potensi bahaya
    1.1 Bahaya Fisika
    1.1.1.Grafitasi :
    *Bekerja di ketinggian 3,00 meter.
    * Batu bata yang dipasang dengan ketinggian 3,00 meter
    1.1.1.2 Radiasi :
    * Paparan sinar matahari.
    1.1.1.3 Suhu :
    * Suhu yang tinggi saat bekerja di siang hari.
    -1.1.1.4gelombang suara :
    *kebisingan dari putaran suara mesin molen

    1.2 Bahaya Kimia
    1.2.1.1 Debu : Debu yang berasal dari bahan material seperti(batu bata merah,pasir dan semen)

    1.3 Bahaya Biologi
    1.3.1.1 Bakteri : Bakteri yang menempel pada pakaian pekerja dan di lingkungan kerja.

    1.4 Bahaya Mekanik
    1.4.1.1 Katrol : Katrol yang digunakan untuk pengangkutan batu bata merah dari bawah ke ketinggian 3 meter.
    1.4.1.2Putaran mesin molen

    1.5 Bahaya Psikososial
    1.5.1.1 Kelelahan fisik pekerja saat bekerja.
    1.5.1.2 Tindakan menang sendiri kepada pekerja.
    – kurangnya keterampilan dan pengetahuan pada pekerja,saat melakukan pekerjaan

    1.6 Bahaya Lingkungan
    1.6.1.1Permukaan tanah yang tidak rata,yang digunakan untuk menempatkan peranca.

    2.Konsekuensi

    2.a.Manusia
    2.1 Pekerja terjatuh dari peranca ketinggian 3,00 meter dari permukaan tanah (lost time injury tanpa cacat permanen)
    2.2 pekerja kejatuhan batu bata merah (medical treament )
    2.3 pekerja terpapar sinar matahari langsung (First Aid Case )
    2.4 Pekerja terhirup debu dan bahan material lain (First Aid Case)

    2.b. Aset/ alat
    2.1 Mesin molen rusak ( Property Damage)
    2.2 Peranca yang runtuh karna kondisi tanah tidak rata( Property Damage)

    2.c.Lingkungan
    1.1 Pencemaran udara karena debu dari material banguanan (minor effect)

    3. Resiko Awal

    3.a. Manusia
    3.1.2.1 C x L = R -> 2 x 2 = 4 ( sedang)
    3.1.2.2 C x L = R -> 2 x 3 = ( parah )
    3.1.2.3 C x L = R -> 1 x 2 = 2 ( rendah )
    3.1.2.4 C x L = R -> 2 x 2 = 4 ( sedang )

    3.b Aset/ alat
    3.1.2.1 C x L = R -> 2 x 2 =4 (sedang)
    3.1.2.2 C x L = R -> 2 x 3 =6 ( parah )

    3.c Lingkungan
    3.1.2.1 C x L = R -> 2 x 2 = 4( sedang )

    4. Pengendalian potensi bahaya dengan menggunakan hierarchy of control

    4.1 Eliminasi : hilangkan sumber bahaya,yang terdiri dari material-matrial yang tidak digunakan atau tidak terpakai
    4.2 Subtitusi : Mengganti peranca sesuai standart
    4.3 Enginnering : membuat pengangan/handrail pada peranca
    4.4 Administrasi : dibuat JSA dan dilakukan pelatihan
    4.5 APD : menggunakan helm safety,sepatu safety,sarung tangan safety,masker,baju safety dan kaca mata

    5. Resiko Sisa

    5.a Manusia
    5.1.2.1 C x L = R -> 1 x 2 = 2 ( rendah )
    5.1.2.2 C x L = R -> 1 x 3 = 3 ( rendah )
    5.1.2.3 C x L = R -> 1 x 2 = 2 ( rendah )
    5.1.2.4 C x L = R -> 1 x 2 = 2 ( rendah )

    5.b Aset/ alat
    5.1.2.1 C x L = R -> 1 x 2 = 2 (rendah)
    5.1.2.2 C x L = R -> 1 x 3 = 2 ( rendah)

    5.c Lingkungan
    5.1.2.1 C x L = R -> 1 x 2 = ( rendah)

    6.Pengndalian tambahan terhadap bahaya
    6.1 Memberikan papan peringatan,agar para pekerja mengerti dan memahami bahaya di area tersebut.

    2. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah.

    1. Analisis potensi bahaya
    1.1 Bahaya Fisika
    2.1.1.1Grafitasi :
    *Bekerja di ketinggian diatas 3,00 meter.
    * Batu bata yang dipasang dengan ketinggian diatas 3,00 meter
    2.1.1.2 Radiasi :
    * Paparan sinar matahari.
    2.1.1.3 Suhu :
    * Suhu yang tinggi saat bekerja di siang hari.
    2.1.1.4 gelombang suara :
    *kebisingan dari putaran suara mesin molen

    2.2 Bahaya Kimia
    2.2.1.1 Debu : Debu yang berasal dari bahan material seperti(batu bata merah,pasir dan semen)

    2.3 Bahaya Biologi
    2.3.1.1 Bakteri : Bakteri yang menempel pada pakaian pekerja dan di lingkungan kerja.

    2.4 Bahaya Mekanik
    2.4.1.1 Katrol : Katrol yang digunakan untuk pengangkutan batu bata merah dari bawah ke ketinggian diatas 3 meter.
    2.4.1.2Putaran mesin molen

    2.5 Bahaya Psikososial
    2.5.1.1 Kelelahan fisik pekerja saat bekerja.
    2.5.1.2 Tindakan menang sendiri kepada pekerja.
    – kurangnya keterampilan dan pengetahuan pada pekerja,saat melakukan pekerjaan

    2.6 Bahaya Lingkungan
    2.6.1.1Permukaan tanah yang tidak rata,yang digunakan untuk menempatkan peranca.

    2.konsekuensi

    2.a.Manusia
    2.2.1 Pekerja terjatuh dari peranca ketinggian 3,00 meter dari permukaan tanah (fatality)
    2.2.2 pekerja kejatuhan batu bata merah (fatality )
    2.2.3 pekerja terpapar sinar matahari langsung (First Aid Case )
    2.2.4 Pekerja terhirup debu dan bahan material lain (First Aid Case)
    2.2.5 Pekerja terpapar suara bising dari putaran mesin molen(First Aid case)

    2.b. Aset/ alat
    2.2.1 Mesin molen rusak ( Property Damage)
    2.2.2 Peranca yang runtuh karna kondisi tanah tidak rata( Property Damage)

    2.c.Lingkungan
    2.2.1 Pencemaran udara karena debu dari material banguanan (minor effect)

    3.Resiko Awal

    3.a. Manusia
    3.1.2.1 C x L = R -> 3 x 2 = 6 ( parah )
    3.1.2.2 C x L = R -> 2 x 3 = 6 ( parah )
    3.1.2.3 C x L = R -> 1 x 2 = 2 ( rendah )
    3.1.2.4 C x L = R -> 2 x 2 = 4 ( sedang )
    3.1.2.5 C x L = R -> 2 x 2 = 4 (sedang)

    3.b Aset/ alat
    3.1.2.1 C x L = R -> 2 x 2 = 4 (sedang)
    3.1.2.2 C x L = R -> 2 x 3 =6 ( parah )

    3.c Lingkungan
    3.1.2.1 C x L = R -> 2 x 2 = ( sedang )

    4. Pengendalian potensi bahaya dengan menggunakan hierarchy of control

    4.1 Eliminasi : hilangkan sumber bahaya,yang terdiri dari material-matrial yang tidak digunakan atau tidak terpakai
    4.2 Subtitusi : Mengganti peranca sesuai standart
    4.3 Enginnering : membuat pengangan/handrail pada peranca
    4.4 Administrasi : dibuat JSA dan dilakukan pelatihan
    4.5 APD : menggunakan helm safety,sepatu safety,sarung tangan safety,masker,baju safety dan kaca mata

    5. Resiko Sisa
    5.a Manusia
    5.1.2.1 C x L = R -> 1 x 2 = 2 ( rendah )
    5.1.2.2 C x L = R -> 1 x 3 = 3 ( rendah )
    5.1.2.3 C x L = R -> 1 x 2 = 2 ( rendah )
    5.1.2.4 C x L = R -> 1 x 2 = 2 ( rendah )

    5.b Aset/ alat
    5.1.2.1 C x L = R -> 1 x 2 = 2 (rendah)
    5.1.2.2 C x L = R -> 1 x 3 = 2 ( rendah)

    5.c Lingkungan
    5.1.2.1 C x L = R -> 1 x 2 = ( rendah)

    6.Pengndalian tambahan terhadap bahaya
    6.1 Memberikan papan peringatan,agar para pekerja mengerti dan memahami bahaya di area tersebut.

    Nama : Rachmadanny M Merapi

    Kelas : B2 semester 5

    Npm :13.11.106.701501.0884

  8. tugas 4

    judul: keselamatan konstruksi

    keterangan:

    Risk Matriks
    like lihood
    – sulit terjadi : 1
    – sering terjadi : 2
    – sangat sering terjadi : 3

    consequences
    – ringan : 1
    – sedang : 2
    – parah : 3

    Risk Rating
    – rendah : 1-3
    – sedang : 4
    – parah : 5-6

    soal
    1. pekerjaan pemasangan batu bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3 meter dari permukaan tanah.

    1 Analisis potensi bahaya

    1.1 Bahaya fisika
    1.1.1 debu yang berasa dari material bangunan yaitu batu bata dan debu dari kawasan daerah kerja.
    1.1.2 suhu panas dan paparan sinar matahari saat bekerja di siang hari.
    1.1.3 gravitasi, pekerjaan di ketinggian 3 meter dengan kemungkinan terjatuh bila tidak menggunakan body harnes.

    1.2 bahaya biologi
    1.2.1 jamur dan bakteri yang terdapat pada pakaian pekerja.

    1.3 Bahaya Psikososial
    1.3.1 Fatigue : kelelahan dalam bekerja.
    1.3.2 Stress : kondisi para pekerja yang tidak sesuai dengan biologis dan psikis pekerja.
    1.3.3 pengetahuan: keterampilan dan skill yang dikuasi oleh pekrja.

    1.4 bahaya mekanik
    1.4.1 katrol yang di gunakan untuk menganggkuta batu bata merah dari bawah keketinggia 3 meter.

    1.5 Bahaya Lingkungan
    1.5.1 kemiringan tanah atau struktur tanah yang tida rata yang digunakan untuk landasan scaffolding.

    2. konsekuensi
    2.1 a Manusia
    2.1.1 terjatuh dari ketinggian 3 meter dari permukaan tanah (fatality)
    2.1.2 tertimpa material bangunan batu bata merah ( Medical Ttreatment)
    2.1.3 terpapar sinar matahari yang panas saat bekerja ( Frist Aid Case)
    2.1.4 terhirup debu dari material batu bata merah dan debu yang berasal dari lingkungan kerja ( Frist Aid Case)

    2.2 b Aset/alat
    2.2.1 katrol yang digunakan untuk menanggkut batu bata merah rusak (Property Damage)
    2.2.2. scaffolding runtuh karena struktur tanah yang tidak rata ( Property Damage)

    2.3 c lingkungan
    2.3.1 udara yang tercemar yang disebabkan oleh debu material bangunan ( minor effect)

    3. Resiko Awal
    3.1 a Manusia
    3.1.2.1.1 consequences x like lihood= risk ratting 2×3 = 6 ( tinggi )
    3.1.2.1.2 consequences x like lihood= risk ratting 2×2 = 4 ( sedang )
    3.1.2.1.3 consequences x like lihood = risk ratting 1×2 = 2 ( rendah )
    3.1.2.1.4 consequences x like liihod = risk ratting 2×2 = 4 ( sedang )

    3.2 b Aset/Alat
    3.2.2.2.1 consequences x like lihood = risk rating 2×3 = 6 ( parah )
    3.2.2.2.2 consequences x like lohood = risk ratting 2×3 = 6 ( parah )

    3.3 c Lingkungan
    3.3.2.3.1 consequences x like lihood= risk ratting = 2×2 = 4 ( sedang )

    4. pengendalian potensi bahaya
    4.1 bahaya fisika
    4.1.1 melengkapi para pekerja dengan masker anti dedu.
    4.1.2 suhu yang tinggi menyebakan menurunnya daya konsentrasi saat bekerja. dan dehidrasi akibat bekerja dibawah terik matahari oleh karena itu perlunya menyediakan air minum agar para pekerja tida mengalami dehidrasi
    4.1.3 untuk pekerjaan diketinggian 3 meter di atas permukaan tanah harus dilengkapi dengan body harness.
    4.1.4 membuat pijakan scaffolding dengan benar ,kuat dan tertutup permukaannya sehingga material yang terjatuh tidak mengenai langsung para pekeja.
    4.1.5 melengkapi APD para pekerja seperti: helm safety, sepatu safety, kaca mata safety, sarung tangan safety,dan masker

    4.2 Bahaya Biologi
    4.2.1 jamur dan bakteri bisa menyebabkan ketindaknyamanan sampai penyakit kulit .wajib bagi perusahaan menyediakan baju ganti atau pemberian seragam

    4.3 Bahaya Psikososial
    4.3.1 mengatur jam kerja dengan benar
    4.3.2 memberikan hiburan atau reward kepada pekerja yang berdedikasi tinggi.
    4.3.3 menseleksi para pekerja sesuai dengan keahlian, usia, dan jenis pekerjaannya.

    4.4 Bahya Mekanik
    4.4.1 memasang pelindng atau penutup pada katrol/ box tempat batu bata merah diangkat,sehingga batu bata merah tidak jatuh langsung dan menimppa pekerja yang ada di bawahnya

    4.5 Bahaya Lingkungan
    4.5.1 perlunya dilakukakn pembersihan lokasi kerja atau diratakan terlebih dahulu sehingga landasan scaffolding dapat berdiri kokoh.

    5 pengendalian potensi bahaya dengan mengunakan Hierarchy of Contorl
    5.1 Eliminasi : Menghilangkan sumber bahaya barupa material-material bahan bangunan .
    5.2 subsitusi : mengganti scaffolding yang lebih kuat sesuai standart.
    5.3 Enginnering : membuat papan pijakan untuk scaffolding dan handrail pada scaffolding.
    5.4 administrasi: pelatihan atau training bagi pekerja , pembuatan JSA dan SOP
    5.5 APD : Pemberian sepatu safety,sarung tangan, kacamata , masker, body harness, sarung tangan, dan baju safety

    6. Resiko Sisa
    6.1 a Manusia
    6.1.2.1.1 consequences x like lihood = risk ratting 1 x 3 = 3 ( rendah )
    6.1.2.1.2 consequences x like lihood = risk ratting 1 x 2 = 2 ( rendah )
    6.1.2.1.3 consequences x like lihood = risk ratting 1 x 2 = 2 ( rendah )
    6.1.2.1.4 consequences x like lihood = risk ratting 1 x 2 = 2 ( rendah )

    6.2 b Aset/alat
    6.2.2.2.1 consequences x like lihood = risk ratting 2 x 2 = 2 ( sedang )
    6.2.2.2.2.consequences x like lihood = risk ratting 1 x 2 = 2 ( rendah )

    6.3 c Lingkungan
    6.3.2.3.1 consequences x like lihood = risk ratting 1 x 2 = 2 ( rendah )

    7. pengendalian tambahan terhadap bahaya
    7.1 memberikan safety breafing sebelum memulai pekerjaan. dan memberikan rambu-rambu tanda bahaya

    soal

    2. pekerjaan pemasangan batu bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diata 3 meter dari permukaan tanah

    1. Analisis pontensi bahaya.
    1.1 Bahaya kimia
    1.1.1 grafitasi : bekerja di ketinggian 3 meter dari permukaan tanah
    1.1.2 material batu bata merah pada bangunan dengan ketinggian 3 meter yang telah terpasang.
    1.1.3 paparan sinar matahari yang panas saat bekerja pada siang hari.
    1.1.4 kebisingan yang ditimbulkan oleh mesin atau alat yang digunakan selama pekerjaan berlangsung seperti: crane dan mesin molen.

    2.2 Bahaya mekanik
    2.2.1 pergerakan crane
    2.2.2 putaran mesin molen

    2.3 Bahaya kimia.
    2.3.1 debu yang dihasilkan dari material bangunan seperti batu bata merah, semen serta pasir

    2.4 Bahaya biologi
    2.4.1 bakteri dan jamur yang terdapat pada pakaian pekerja.

    2.5 Bahaya Psikososial
    2.5.1 fatigue: kelelahan dalam bekerja
    2.5.2 stress: kondisi yang tidak stabil yang dialami pekerja.
    2.5.3 keterampilan : kemampuan atau skill para pekerja.

    2.6 Bahaya lingkungan
    2.6.1 struktur tanah yang tidak rata .

    2 konsekuensi
    2.1 a Manusia
    2.1.1 pekerja terjatuh dari scaffolding dari ketinggian 3 meter dari permukaan tanah ( fatality)
    2.1.2 pekerja tertimpa material banhan bangunan seperti batu bata merah ( medical treatment)
    2.1.3 pekerja terpapar sinar matahari secara langsung saat bekerja pada siang hari ( Frist Aid Case )
    2.1.4 terhirup debu yang berasal dari material bangunan.( Frist Aid Case )
    2.1.5 gangguan pendengaran karena kebisingan alat seperti molen dan crane.( Frist Aids Case )

    2.2 b Aset/Alat
    2.2.1 crane yang digunakan rusak ( Property Damage)
    2.2.2 mesin molen tidak bisa beroperasi ( Property Damage )
    2.2.3 scaffolding yang rubuh karena kondisi tanah pada proyek yang tidak rata. (Property Damage )

    2.3 c lingkungan
    2.3.1 udara yang tercemar akibat material bahan bangunan.( minor effect )

    3 Resiko Awal
    3.1 a Manusia
    3.1.2.1.1 consequences x like lihood = risk ratting 2 x 3 = 6 ( parah )
    3.1.2.1.2 consequences x like lihood = risk ratting 2 x 3 = 6 ( parah )
    3.1.2.1.3 consequences x like lihood = risk ratting 1 x 2 = 2 ( rendah )
    3.1.2.1.4 consequences x like lihood = risk ratting 2 x 2 = 4 ( sedang )
    3.1.2.1.5 consequences x like lihood = risk ratting 2 x 2 = 4 ( sedang )

    3.2 b Aset/Alat
    3.2.2.2.1 consequences x like lihood = risk ratting 2 x 2 = 4 ( sedang )
    3.2.2.2.2 consequences x like lihood = risk ratting 2 x 2 = 4 ( sedang )
    3.2.2.2.3 consequences x like lihood = risk ratting 2 x 3 = 6 ( parah )

    3.3 c Lingkungan
    3.3.2.3.1 consequences x like lihood = risk ratting 2 x 2 = 4 ( sedang )

    4. Pengenalian potensi Bahaya
    4.1 Bahaya Kimia
    4.1.1 menyediakan body harness untuk pekerja karena bekerja pada ketinggian 3 meter dari permukaan tanah.
    4.1.2 menutup landasan pijakan pada scaffolding dengan menggunakan papan agar material tidak langsung ke bawah dan menimpa pekerja.serta helm untuk melindungi kepala pekerja.
    4.1.3 menyediakan air minum untuk menguragi bahaya dehidrasi karena pekerja terpapar sinar matahari secara langsung.
    4.1.4 menyediakan earplug agar mengurangi kebisingan akibat suara mesin saat bekerja

    4.2 Bahaya Mekanik
    4.2.1 jangan menggunakan crane yang sudah tidak layak beropersi, serta membuat pondasi landasan crane dengan kuat sehingga crane tidak jatuh.
    4.2.2 pemeriksaan terhadap mesin molen sebelum beroperasi apakah masih layak. dan orang yang mengendalikan molen adalah yang mempunyai skill dan sudah mendapatkan sertifikasi.
    4.2.2.1 membuat jalan masuk kendaraan proyek seperti molen agar tidak menganggu pekerjaan lain yang sedang berlangsung.

    4.3 Bahaya Kimia
    4.3.1 menyedikan masker anti debu untuk pekerja guna mengurangi terhirupnya debu material bahan bangunan.

    4.4 Bahaya Biologi
    4.4.1 pemberian baju seragam lebih dari satu pasang oleh pihak perusahaan, untuk mengurangi penyebaran bakteri jamur pada pakaia pekerja. serta menanamkan kebiasaan hidup bersih kepada pekerja.

    4.5 Bahaya Psikososial
    4.5.1 memberikan dan mengatur jam istirahat yang cukup dan efektif, sehingga pekerja tdak mengalami fatigue atau kelelahan dalam bekerja.
    4.5.2 memberikan hiburan dan reward bagi pekerja agar para pekerja tidak stress akibat tekanan pekerjaan yang mereka hadapi.
    4.5.3 merekrut pekerja sesuai dengan ketermpian , bidang keahlian , usia dan jenis pekerjaan yang harus sesuai.

    4.6 Bahaya lingkungan
    4.6.1 membersihkan atau meratakan terlebih dahulu lokai ( tanah ) untuk memulai proyek agar landasan untuk scaffolding ataupun crane dapat berdiri dengan kuat dan berstruktur.

    5 pengendalian potensi bahaya dengan menggunakan Hierachy of Control.
    5.1 Eliminasi : menghilangkan semua sumber-sumber bahaya : seperti material bangunan yang tidak digunakan lagi
    5.2 subsitusi : mengganti molen dengan alat yang lebih modern, mengganti scaffolding sesuai standart, serta crane yang digunakan apakah masih layak digunakan sesuai dengan standar yang berlaku.
    5.3 Enginnering : membuat penahan sacffolding dengan kuat, sambungan antara bagian scaffolding harus dari material pilihan, menutup papan pijakan pada scaffolding agar tidak ada lubang, serta memberikan handreil /pegangan.
    5.4 Administrasi: membuat JSA, SOP,serta training ataupun pengarahan sebelum pekerjaan dimulai .
    5.5.APD : menggunakan APD seperti, Safety Body harness pada pekerjaan diketinggian 3 meter dari permukaan tanah, sepatu safety, sarung tangan, helm safety ,kacamata ,serta baju untuk melindungi dari terik matahri ( baju safety).

    6 Resiko sisa
    6.1 a manusia
    6.1.2.1.1 consequences x like lihood = risk ratting 1 x 3 = 3 ( rendah)
    6.1.2.1.2 consequences x like lihood = risk ratting 1 x 3 = 3 ( rendah)
    6.1.2.1.3 consequences x like lihood = risk ratting 1 x 2 = 2 ( rendah )
    6.1.2.1.4 consequences x like lihood = risk ratting 1 x 2 = 2 ( rendah)
    6.1.2.1.5 consequences x like lihood = risk ratting 1 x 2 = 2 ( rendah )

    6.2 b Aset/alat

    6.2.2.2.1 consequences x like lihood = risk ratting 1 x 3 = 2 ( rendah)
    6.2.2.2.2.consequences x like lihood = risk ratting 1 x 3 = 3 ( rendah )
    6.2.2.2.3 consequences x like lihood = risk ratting 1 x 2 = 2 ( rendah )

    6.3 c lingkungan
    6.3.consequences x like lihood = risk ratting 1 x 2 = 2 ( rendah )

    7. Pengendalian tambahan terhadap bahaya
    7.1 safety breafing atau safety morning talk setiap pekerjaan dimulai agar pekerja tahu bahaya apa saja dan penganggulangannya serta memaang rambu-rambu larangan ataupu peringatan apada setiap lokasi yang berbahaya.

    Nama : Siti Rohana
    Kelas : B2
    Semester : V
    NPM : 13.11.106.701501.0918

  9. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah :

    a. Analisa Potensi Bahaya
    1. Bahaya Psikososial : Kelelahan di karenakan jam kerja yang sangat padat, usia, pengalaman kerja,dan masalah rumah tangga
    2. Bahaya Fisika : Debu, Gravitasi, Dinding Konstruksi, Suhu
    3. Bahaya Biologi : Jamur ,bakteri,virus
    4. Bahaya Kimia : Material beracun
    5. Bahaya Lingkungan : Permukaan Tanah,Bencana Alam

    b. Pengendalian Potensi Bahaya
    1. Bahaya Psikososial :
    – Seharusnya di beri waktu istrahat yang cukup
    – Jenis pekerjaan disesuaikan dengan usia dan pengalaman kerja.

    2. Bahaya Fisika :
    – Hindari debu dengan menggunakan masker sesuai standar yang berlaku
    – Untuk menghindari resiko terjatuhnya pekerja konstruksi perumahan 3 meter harus menggunakan full body harness.
    – Suhu yang tinggi menyebabkan pekerja jadi cepat lelah, sehingga perlu diatur agar si pekerja tetap terjaga kondisi tubuh nya
    – Melengkapi APD pekerja, seperti Safety Shoes, Safety Glasses, Safety Hand Gloves atau Body Harness.

    3. Bahaya Biologi :
    – Bakteri, pakaian yang dipakai pekerja penuh dengan keringat sehingga dapat menyebabkan pekerja terkena penyakit kulit. Jadi, wajib bagi manajemen menyediakan baju atau pakaian khusus untuk pekerja.
    – Virus, Pekerja harus wajib memeriksakan kondisi tubuh mereka setiap seminggu sekali agar terhindar dari berbagai macam penyakit.
    – Ergonomi, wajib dibuat SOP pemasangan konstruksi. Salah satunya ergonomi nya, sehingga pekerja tidak lagi membangun tembok sambil menjongkok yang berpotensi menyebabkan pekerja sakit pinggang.

    4. Bahaya Kimia :
    – Mengetahui bahan-bahan yang beracun, sehingga dapat melengkapi diri dengan APD.

    5. Bahaya Lingkungan :
    – Permukaan tanah yang tidak rata menyebabkan banyaknya material yang berserakan, sehingga dapat menyebabkan pekerja terjatuh.

    Risk Matriks Pekerjaan 1

    1. Potensi Penyebab Bahaya
    1.1 Bahaya Psikososial : Kelelahan di karenakan jam kerja yang sangat padat, usia, pengalaman kerja,dan masalah rumah tangga
    1.2 Bahaya Fisika : Debu, Gravitasi, Dinding Konstruksi, Suhu
    1.3 Bahaya Biologi : Jamur ,bakteri,virus
    1.4 Bahaya Kimia : Material beracun
    1.5 Bahaya Lingkungan : Permukaan Tanah,Bencana Alam

    2. Konsekuensi
    2.1 Bahaya Psikososial
    2.1.1 Kelelahan karena jam kerja : Sedang
    2.1.2 Usia dan pengalaman kerja : Sedang

    2.2 Bahaya Fisika
    2.2.1 Debu : Sedang
    2.2.2 Gravitasi : Tinggi
    2.2.3 Dinding Konstruksi : Tinggi
    2.2.4 Scaffolding : Sedang
    2.2.5 Suhu : Ringan

    2.3 Bahaya Biologi
    2.3.1 Bakteri : Ringan
    2.3.2 Ergonomi : Sedang

    2.4 Bahaya Kimia
    2.4.1 Material Beracun : Tinggi

    2.5 Bahaya Lingkungan
    2.5.1 Permukaan Tanah : Sedang

    3.Deskripsi Konsekuensi
    3.1 Manusia
    3.1.1 Ringan : Tidak terdapat cedera/penyakit, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    3.1.2 Ringan : Cedera ringan, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    3.1.3 Sedang : Mendapat P3K atau tindakan medis
    3.1.4 Tinggi : Memerlukan tindakan medis lanjut/rujukan, cacat sementara
    3.1.5 Tinggi : Cacat permanen, kematian

    3.2 Aset / alat
    3.2.1 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja kurang dari Rp. 1.000.000
    3.2.2 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.000.000 – Rp. 1.500.000
    3.2.3 Sedang : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.500.000 – Rp. 5.000.000
    3.2.4 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 5.000.000 – Rp. 10.000.000
    3.2.5 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja lebih dari Rp. 10.000.000

    3.3 Lingkungan
    3.3.1 Ringan : Tidak berdampak apa-apa pada lingkungan
    3.3.2 Ringan : Berefek kecil terhadap lingkungan
    3.3.3 Sedang : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka pendek
    3.3.4 Tinggi : Bersifat sangat serius dan berdampak jangka panjang terhadap fungsi ekosistem
    3.3.5 Tinggi : Bersifat sangat serius dan berdampak jangka panjang terhadap fungsi ekosistem

    4. Risiko awal
    4.1 Bahaya Psikososial : Kelelahan atau fatique
    4.2 Bahaya Fisika : Terhirup debu, tertimpa runtuhan material,tangan tercepit,
    4.3 Bahaya Biologi : Terkena penyakit kulit, diserang hewan
    4.4 Bahaya Kimia : Terhirup material beracun
    4.5 Bahaya Lingkungan : Tersandung

    5. Pengendalian potensi bahaya dengan hierarchy of control
    5.1 Eliminasi : Eliminasi material-material disekitar konstruksi yang tidak penting dengan dibuang atau dipindahkan
    5.2 Subtitusi : Mengganti model scaffolding menjadi scaffolding yang standar
    5.3 Enginnering : Pada scaffolding dibuat handrail agar pekerja tidak terjatuh
    5.4 Adiministrasi : Dibuat JSA, training untuk pekerjanya, dibuat rambu-rambu
    5.5 APD : Menggunakan sepatu safety, sarung tangan safety, helm safety, masker, kacamata, baju safety

    Risk Matriks Pekerjaan 2

    1. Potensi Penyebab Bahaya
    1.1 Bahaya Psikososial : Kelelahan di karenakan jam kerja yang sangat padat, usia, pengalaman kerja,dan masalah rumah tangga
    1.2 Bahaya Fisika : Debu, Gravitasi, Dinding Konstruksi, Suhu
    1.3 Bahaya Biologi : Jamur ,bakteri,virus
    1.4 Bahaya Kimia : Material beracun
    1.5 Bahaya Lingkungan : Permukaan Tanah,Bencana Alam

    2. Konsekuensi
    2.1 Bahaya Psikososial
    2.1.1 Kelelahan karena jam kerja : Sedang
    2.1.2 Usia dan pengalaman kerja : Sedang

    2.2 Bahaya Fisika
    2.2.1 Debu : Sedang
    2.2.2 Gravitasi : Tinggi
    2.2.3 Dinding Konstruksi : Tinggi
    2.2.4 Scaffolding : Sedang
    2.2.5 Suhu : Ringan

    2.3 Bahaya Biologi
    2.3.1 Bakteri : Ringan
    2.3.2 Ergonomi : Sedang

    2.4 Bahaya Kimia
    2.4.1 Material Beracun : Tinggi

    2.5 Bahaya Lingkungan
    2.5.1 Permukaan Tanah : Sedang

    3.Deskripsi Konsekuensi
    3.1 Manusia
    3.1 Manusia
    3.1.1 Ringan : Tidak terdapat cedera/penyakit, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    3.1.2 Ringan : Cedera ringan, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    3.1.3 Sedang : Mendapat P3K atau tindakan medis
    3.1.4 Tinggi : Memerlukan tindakan medis lanjut/rujukan, cacat sementara
    3.1.5 Tinggi : Cacat permanen, kematian

    3.2 Aset / alat
    3.2.1 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja kurang dari Rp. 1.000.000
    3.2.2 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.000.000 – Rp. 1.500.000
    3.2.3 Sedang : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.500.000 – Rp. 5.000.000
    3.2.4 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 5.000.000 – Rp. 10.000.000
    3.2.5 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja lebih dari Rp. 10.000.000

    3.3 Lingkungan
    3.3.1 Ringan : Tidak berdampak apa-apa pada lingkungan
    3.3.2 Ringan : Berefek kecil terhadap lingkungan
    3.3.3 Sedang : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka pendek
    3.3.4 Tinggi : Bersifat sangat serius dan berdampak jangka panjang terhadap fungsi ekosistem
    3.3.5 Tinggi : Bersifat sangat serius dan berdampak jangka panjang terhadap fungsi ekosistem

    4. Risiko awal
    4.1 Bahaya Psikososial : Kelelahan atau fatique
    4.2 Bahaya Fisika : Terhirup debu, tertimpa runtuhan material, scaffolding runtuh, tangan tercepit, terjatuh dari scaffolding
    4.3 Bahaya Biologi : Terkena penyakit kulit, diserang hewan
    4.4 Bahaya Kimia : Terhirup material beracun
    4.5 Bahaya Lingkungan : Tersandung

    5. Pengendalian potensi bahaya dengan hierarchy of control
    5.1 Eliminasi : Eliminasi material-material disekitar konstruksi yang tidak penting dengan dibuang atau dipindahkan
    5.2 Subtitusi : Mengganti model scaffolding menjadi scaffolding yang standar, mengganti bahan dari batu bata merah menjadi bata ringan
    5.3 Enginnering : Pada scaffolding dibuat handrail agar pekerja tidak terjatuh, menggunakan bodyharnes
    5.4 Adiministrasi : Dibuat JSA, training untuk pekerjanya, dibuat rambu-rambu
    5.5 APD : Menggunakan sepatu safety, sarung tangan safety, helm safety, masker, kacamata, baju safety , bodyharnes

    Nama : Dedy Heryono
    Kelas : B2
    Semester : 5
    NPM : 13.11.106.701501.0888

    • Cantumkan nama jenis pekerjaan ke-1 dan jenis pekerjaan ke-2 pada analisis risk assessment anda, agar mudah dipahami. Lihatlah tugas dari rekan yang lain yang sudah disetujui sebagai acuan. Klik “Reply” dibawah komentar ini untuk memperbaikinya, hal ini agar proses perbaikan yang anda lakukan agar mudah ditelusuri.

  10. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah :

    a. Analisa Potensi Bahaya
    – Adanya potensi bahaya gravitasi yang berpotensi jatuhnya pekerja langsung ke permukaan tanah
    – Tidak ratanya permukaan tanah (miring)
    – Banyaknya material yang berhamburan di atas tanah yang memiliki potensi pekerja dapat tersandung, terpeleset, cidera
    – Adanya bata yang ditaruh di atas scaffholding yang berpotensi dapat terjatuh dan mencederai pekerja yang ada dibawahnya
    – Cuaca panas saat melakukan pekerjaan, yang berpotensi mengurangi focus, konsentrasi dan dapat menyebabkan dehidrasi pada pekerja
    – Adanya partikel debu yang beterbangan yang dapat menggangu kesehatan pekerja
    – Adanya kemungkinan pekerja tidak mengganti pakaian pekerjaan, yang memiliki potensi terserang jamur, virus dan bakteri yang dapat mengganggu kesehatan
    – Adanya kemungkinan bahwa para pekerja dalam kedaan fatique yang dapat menghilangkan focus dan konsentrasi
    – Adanya kemungkinan pekerja dalam keadaan strees karena beban kerja dan pekerjaan harus segera selesai
    – Adanya kemungkinan mobilisasi peralatan dan material di sekitar area pemasangan bata dan bangunan scaffholding
    – Masih tidak kuatnya bata merah karena masih dalam tahap pemasangan

    b. Pengendalian Potensi Bahaya
    – Pemasangan scaff holding yang sesuai standar
    – Adanya pemasangan jaring-jaring di scaffholding
    – Pemasangan alas untuk tempat berjalan di atas scaffholding
    – Pemasangan pagar scaff holding yang dapat mengurangi potensi jatuhnya pekerja dari atas scaffholding
    – Membuat lalu lintas khusus untuk mobilisasi peralatan dan material agar tidak membahayakan bangunan scaffholding
    – Jika ada penggunaan crane di area pembangunan gedung, ada baiknya jarak crane dan bangunan scaff holding tidak berdekatan
    – Pembangunan bata merah tidak melebihan tinggi 1 meter / hari untuk menghindari robohnya dinding bata merah yang baru di pasang
    – Menyingkirkan material yang tidak perlu dari atas tanah, untuk menghindari terjadinya resiko pekerja tersandung dan cidera karena material yang berhamburan
    – Tidak menaruh bata di atas scaff holding jika tidak ada pagar pengaman untuk menghindari terjadinya cidera pada pekerja yang ada dibawahnya
    – Dapat dipasang tenda diatas tempat pemasangan bata untuk mengurangi paparan langsung dari sinar matahari
    – Penggunaan masker untuk menghindari terhirupnya partikel debu secara berlebihan
    – Pemberian baju seragam kerja agar pekerja dapat mengganti baju setiap bekerja
    – Pemberian hari libur di weekend kepada pekerja untuk mengurangi fatigue dan strees akibat beban kerja
    – Melakukan housekeeping setelah selesai melakukan pekerjaan

    Risk Matriks Pekerjaan 1

    1. Potensi Penyebab Bahaya
    1.1 Adanya potensi bahaya gravitasi yang berpotensi jatuhnya pekerja langsung ke permukaan tanah
    1.2 Tidak ratanya permukaan tanah (miring)
    1.3 Banyaknya material yang berhamburan di atas tanah yang memiliki potensi pekerja dapat tersandung, terpeleset, cidera
    1.4 Adanya bata yang ditaruh di atas scaffholding yang berpotensi dapat terjatuh dan mencederai pekerja yang ada dibawahnya
    1.5 Cuaca panas saat melakukan pekerjaan, yang berpotensi mengurangi focus, konsentrasi dan dapat menyebabkan dehidrasi pada pekerja
    1.6 Adanya partikel debu yang beterbangan yang dapat menggangu kesehatan pekerja
    1.7 Adanya kemungkinan pekerja tidak mengganti pakaian pekerjaan, yang memiliki potensi terserang jamur, virus dan bakteri yang dapat mengganggu kesehatan
    1.8 Adanya kemungkinan bahwa para pekerja dalam kedaan fatique yang dapat menghilangkan focus dan konsentrasi
    1.9 Adanya kemungkinan pekerja dalam keadaan strees karena beban kerja dan pekerjaan harus segera selesai
    1.10 Adanya kemungkinan mobilisasi peralatan dan material di sekitar area pemasangan bata dan bangunan scaffholding
    1.11 Masih tidak kuatnya bata merah karena masih dalam tahap pemasangan

    2. Konsekuensi
    2.1 Adanya potensi jatuhnya pekerja langsung ke permukaan tanah : Tinggi
    2.2 Tidak ratanya permukaan tanah (miring)/amblesnya tanah : Sedang
    2.3 Adanya potensi pekerja dapat tersandung, terpeleset, cidera : Sedang
    2.4 Adanya bata yang ditaruh di atas scaffholding yang berpotensi dapat terjatuh dan mencederai pekerja yang ada dibawahnya : Sedang
    2.5 Cuaca panas saat melakukan pekerjaan, yang berpotensi mengurangi focus, konsentrasi dan dapat menyebabkan dehidrasi pada pekerja : Sedang
    2.6 Adanya partikel debu yang beterbangan yang dapat menggangu kesehatan pekerja : Rendah
    2.7 Adanya kemungkinan pekerja tidak mengganti pakaian pekerjaan, yang memiliki potensi terserang jamur, virus dan bakteri yang dapat mengganggu kesehatan : Rendah
    2.8 Adanya kemungkinan bahwa para pekerja dalam kedaan fatique yang dapat menghilangkan focus dan konsentrasi : Sedang
    2.9 Adanya kemungkinan pekerja dalam keadaan strees karena beban kerja dan pekerjaan harus segera selesai : Rendah
    2.10 Adanya kemungkinan mobilisasi peralatan dan material di sekitar area pemasangan bata dan bangunan scaffholding : Sedang
    2.11 Masih tidak kuatnya bata merah karena masih dalam tahap pemasangan : Sedang

    3.Deskripsi Konsekuensi
    3.1 Manusia
    3.1.1 Ringan : Tidak terdapat cedera/penyakit, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    3.1.2 Ringan : Cedera ringan, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    3.1.3 Sedang : Mendapat P3K atau tindakan medis, tidak ada hilang jam kerja lebih dari 1X24 jam
    3.1.4 Tinggi : Memerlukan tindakan medis lanjut/rujukan, cacat sementara, terdapat jam kerja hilang 1X24 jam
    3.1.5 Tinggi : Cacat permanen, kematian, terdapat jam kerja hilang lebih dari 1X24 jam

    3.2 Aset / alat
    3.2.1 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja kurang dari Rp. 1.000.000
    3.2.2 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.000.000 – Rp. 1.500.000
    3.2.3 Sedang : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.500.000 – Rp. 5.000.000
    3.2.4 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 5.000.000 – Rp. 10.000.000
    3.2.5 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja lebih dari Rp. 10.000.000

    3.3 Lingkungan
    3.3.1 Ringan : Tidak berdampak apa-apa pada lingkungan
    3.3.2 Ringan : Berefek kecil terhadap lingkungan
    3.3.3 Sedang : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka pendek
    3.3.4 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang
    3.3.5 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang

    4. Risiko awal
    4.1 Adanya potensi bahaya gravitasi yang berpotensi jatuhnya pekerja langsung ke permukaan tanah
    4.2 Tidak ratanya permukaan tanah (miring)
    4.3 Banyaknya material yang berhamburan di atas tanah yang memiliki potensi pekerja dapat tersandung, terpeleset, cidera
    4.4 Adanya bata yang ditaruh di atas scaffholding yang berpotensi dapat terjatuh dan mencederai pekerja yang ada dibawahnya
    4.5 Cuaca panas saat melakukan pekerjaan, yang berpotensi mengurangi focus, konsentrasi dan dapat menyebabkan dehidrasi pada pekerja
    4.6 Adanya partikel debu yang beterbangan yang dapat menggangu kesehatan pekerja
    4.7 Adanya kemungkinan pekerja tidak mengganti pakaian pekerjaan, yang memiliki potensi terserang jamur, virus dan bakteri yang dapat mengganggu kesehatan
    4.8 Adanya kemungkinan bahwa para pekerja dalam kedaan fatique yang dapat menghilangkan focus dan konsentrasi
    4.9 Adanya kemungkinan pekerja dalam keadaan strees karena beban kerja dan pekerjaan harus segera selesai
    4.10 Adanya kemungkinan penggunaan alat crane
    4.11 Adanya kemungkinan mobilisasi peralatan dan material di sekitar area pemasangan bata dan bangunan scaffholding
    4.12 Masih tidak kuatnya bata merah karena masih dalam tahap pemasangan

    5. Pengendalian potensi bahaya dengan hierarchy of control
    5.1 Eliminasi : Eliminasi material-material disekitar konstruksi yang tidak penting dengan dibuang atau dipindahkan
    5.2 Subtitusi : Mengganti model scaffolding menjadi scaffolding yang standar
    5.3 Enginnering : Pada scaffolding dibuat handrail agar pekerja tidak terjatuh
    5.4 Adiministrasi : Dibuat JSA, training untuk pekerjanya, dibuat rambu-rambu
    5.5 APD : Menggunakan sepatu safety, sarung tangan safety, helm safety, masker, kacamata, baju safety

    Risk Matriks Pekerjaan 2

    1. Potensi Penyebab Bahaya
    – Adanya potensi bahaya gravitasi yang berpotensi jatuhnya pekerja langsung ke permukaan tanah
    – Tidak ratanya permukaan tanah ( miring)
    – Banyaknya material yang berhamburan di atas tanah yang memiliki potensi pekerja dapat tersandung, terpeleset, cidera
    – Adanya bata yang ditaruh di atas scaff holding yang berpotensi dapat terjatuh dan mencederai pekerja yang ada dibawahnya
    – Cuaca panas saat melakukan pekerjaan,, yang berpotensi mengurangi focus, konsentrasi dan dapat menyebabkan dehidrasi pada pekerja
    – Adanya partikel debu yang beterbangan yang dapat menggangu kesehatan pekerja
    – Adanya kemungkinan pekerja tidak mengganti pakaian pekerjaan, yang memiliki potensi terserang jamur, virus dan bakteri yang dapat mengganggu kesehatan
    – adanya kemungkinan bahwa para pekerja dalam kedaan fatique yang dapat menghilangkan focus dan konsentrasi
    – adanya kemungkinan pekerja dalam keadaan strees karena beban kerja dan ppekerjaan harus segera selesai
    – adanya kemungkinan penggunaan alat crane
    – adanya kemungkinan mobilisasi peralatan dan material di sekitar area pemasangan bata dan bangunan scaff holding
    – masih tidak kuatnya bata merah karena masih dalam tahap pemasangan

    2. Konsekuensi
    2.1 Adanya potensi jatuhnya pekerja langsung ke permukaan tanah : Tinggi
    2.2 Tidak ratanya permukaan tanah (miring)/amblesnya tanah : Sedang
    2.3 Adanya potensi pekerja dapat tersandung, terpeleset, cidera : Sedang
    2.4 Adanya bata yang ditaruh di atas scaffholding yang berpotensi dapat terjatuh dan mencederai pekerja yang ada dibawahnya : Sedang
    2.5 Cuaca panas saat melakukan pekerjaan, yang berpotensi mengurangi focus, konsentrasi dan dapat menyebabkan dehidrasi pada pekerja : Sedang
    2.6 Adanya partikel debu yang beterbangan yang dapat menggangu kesehatan pekerja : Rendah
    2.7 Adanya kemungkinan pekerja tidak mengganti pakaian pekerjaan, yang memiliki potensi terserang jamur, virus dan bakteri yang dapat mengganggu kesehatan : Rendah
    2.8 Adanya kemungkinan bahwa para pekerja dalam kedaan fatique yang dapat menghilangkan focus dan konsentrasi : Sedang
    2.9 Adanya kemungkinan pekerja dalam keadaan strees karena beban kerja dan pekerjaan harus segera selesai : Rendah
    2.10 Adanya kemungkinan mobilisasi peralatan dan material di sekitar area pemasangan bata dan bangunan scaffholding : Sedang
    2.11 Masih tidak kuatnya bata merah karena masih dalam tahap pemasangan : Sedang

    3.Deskripsi Konsekuensi
    3.1 Manusia
    3.1.1 Ringan : Tidak terdapat cedera/penyakit, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    3.1.2 Ringan : Cedera ringan, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    3.1.3 Sedang : Mendapat P3K atau tindakan medis, tidak ada hilang jam kerja lebih dari 1X24 jam
    3.1.4 Tinggi : Memerlukan tindakan medis lanjut/rujukan, cacat sementara, terdapat jam kerja hilang 1X24 jam
    3.1.5 Tinggi : Cacat permanen, kematian, terdapat jam kerja hilang lebih dari 1X24 jam

    3.2 Aset / alat
    3.2.1 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja kurang dari Rp. 1.000.000
    3.2.2 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.000.000 – Rp. 1.500.000
    3.2.3 Sedang : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.500.000 – Rp. 5.000.000
    3.2.4 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 5.000.000 – Rp. 10.000.000
    3.2.5 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja lebih dari Rp. 10.000.000

    3.3 Lingkungan
    3.3.1 Ringan : Tidak berdampak apa-apa pada lingkungan
    3.3.2 Ringan : Berefek kecil terhadap lingkungan
    3.3.3 Sedang : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka pendek
    3.3.4 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang
    3.3.5 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang

    4. Risiko awal
    4.1 Adanya potensi bahaya gravitasi yang berpotensi jatuhnya pekerja langsung ke permukaan tanah
    4.2 Tidak ratanya permukaan tanah (miring)
    4.3 Banyaknya material yang berhamburan di atas tanah yang memiliki potensi pekerja dapat tersandung, terpeleset, cidera
    4.4 Adanya bata yang ditaruh di atas scaffholding yang berpotensi dapat terjatuh dan mencederai pekerja yang ada dibawahnya
    4.5 Cuaca panas saat melakukan pekerjaan, yang berpotensi mengurangi focus, konsentrasi dan dapat menyebabkan dehidrasi pada pekerja
    4.6 Adanya partikel debu yang beterbangan yang dapat menggangu kesehatan pekerja
    4.7 Adanya kemungkinan pekerja tidak mengganti pakaian pekerjaan, yang memiliki potensi terserang jamur, virus dan bakteri yang dapat mengganggu kesehatan
    4.8 Adanya kemungkinan bahwa para pekerja dalam kedaan fatique yang dapat menghilangkan focus dan konsentrasi
    4.9 Adanya kemungkinan pekerja dalam keadaan strees karena beban kerja dan pekerjaan harus segera selesai
    4.10 Adanya kemungkinan penggunaan alat crane
    4.11 Adanya kemungkinan mobilisasi peralatan dan material di sekitar area pemasangan bata dan bangunan scaffholding
    4.12 Masih tidak kuatnya bata merah karena masih dalam tahap pemasangan

    5. Pengendalian potensi bahaya dengan hierarchy of control
    5.1 Eliminasi : Eliminasi material-material disekitar konstruksi yang tidak penting dengan dibuang atau dipindahkan
    5.2 Subtitusi : Mengganti model scaffolding menjadi scaffolding yang standar, mengganti bahan dari batu bata merah menjadi bata ringan
    5.3 Enginnering : Pada scaffolding dibuat handrail agar pekerja tidak terjatuh, menggunakan bodyharnes
    5.4 Adiministrasi : Dibuat JSA, training untuk pekerjanya, dibuat rambu-rambu
    5.5 APD : Menggunakan sepatu safety, sarung tangan safety, helm safety, masker, kacamata, baju safety

    Nama : Muhammad Irvan
    Kelas : B2
    Semester : 5
    NPM : 13.11.106.701501.0886

    • Cantumkan nama jenis pekerjaan ke-1 dan jenis pekerjaan ke-2 pada analisis risk assessment anda, agar mudah dipahami. Lihatlah tugas dari rekan yang lain yang sudah disetujui sebagai acuan. Klik “Reply” dibawah komentar ini untuk memperbaikinya, hal ini agar proses perbaikan yang anda lakukan agar mudah ditelusuri.

      • Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah :

        a. Analisa Potensi Bahaya
        – Adanya potensi bahaya gravitasi yang berpotensi jatuhnya pekerja langsung ke permukaan tanah
        – Tidak ratanya permukaan tanah (miring)
        – Banyaknya material yang berhamburan di atas tanah yang memiliki potensi pekerja dapat tersandung, terpeleset, cidera
        – Adanya bata yang ditaruh di atas scaffholding yang berpotensi dapat terjatuh dan mencederai pekerja yang ada dibawahnya
        – Cuaca panas saat melakukan pekerjaan, yang berpotensi mengurangi focus, konsentrasi dan dapat menyebabkan dehidrasi pada pekerja
        – Adanya partikel debu yang beterbangan yang dapat menggangu kesehatan pekerja
        – Adanya kemungkinan pekerja tidak mengganti pakaian pekerjaan, yang memiliki potensi terserang jamur, virus dan bakteri yang dapat mengganggu kesehatan
        – Adanya kemungkinan bahwa para pekerja dalam kedaan fatique yang dapat menghilangkan focus dan konsentrasi
        – Adanya kemungkinan pekerja dalam keadaan strees karena beban kerja dan pekerjaan harus segera selesai
        – Adanya kemungkinan mobilisasi peralatan dan material di sekitar area pemasangan bata dan bangunan scaffholding
        – Masih tidak kuatnya bata merah karena masih dalam tahap pemasangan

        b. Pengendalian Potensi Bahaya
        – Pemasangan scaff holding yang sesuai standar
        – Adanya pemasangan jaring-jaring di scaffholding
        – Pemasangan alas untuk tempat berjalan di atas scaffholding
        – Pemasangan pagar scaff holding yang dapat mengurangi potensi jatuhnya pekerja dari atas scaffholding
        – Membuat lalu lintas khusus untuk mobilisasi peralatan dan material agar tidak membahayakan bangunan scaffholding
        – Jika ada penggunaan crane di area pembangunan gedung, ada baiknya jarak crane dan bangunan scaff holding tidak berdekatan
        – Pembangunan bata merah tidak melebihan tinggi 1 meter / hari untuk menghindari robohnya dinding bata merah yang baru di pasang
        – Menyingkirkan material yang tidak perlu dari atas tanah, untuk menghindari terjadinya resiko pekerja tersandung dan cidera karena material yang berhamburan
        – Tidak menaruh bata di atas scaff holding jika tidak ada pagar pengaman untuk menghindari terjadinya cidera pada pekerja yang ada dibawahnya
        – Dapat dipasang tenda diatas tempat pemasangan bata untuk mengurangi paparan langsung dari sinar matahari
        – Penggunaan masker untuk menghindari terhirupnya partikel debu secara berlebihan
        – Pemberian baju seragam kerja agar pekerja dapat mengganti baju setiap bekerja
        – Pemberian hari libur di weekend kepada pekerja untuk mengurangi fatigue dan strees akibat beban kerja
        – Melakukan housekeeping setelah selesai melakukan pekerjaan

        Risk Matriks Pekerjaan 1
        Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.

        1. Potensi Penyebab Bahaya
        1.1 Adanya potensi bahaya gravitasi yang berpotensi jatuhnya pekerja langsung ke permukaan tanah
        1.2 Tidak ratanya permukaan tanah (miring)
        1.3 Banyaknya material yang berhamburan di atas tanah yang memiliki potensi pekerja dapat tersandung, terpeleset, cidera
        1.4 Adanya bata yang ditaruh di atas scaffholding yang berpotensi dapat terjatuh dan mencederai pekerja yang ada dibawahnya
        1.5 Cuaca panas saat melakukan pekerjaan, yang berpotensi mengurangi focus, konsentrasi dan dapat menyebabkan dehidrasi pada pekerja
        1.6 Adanya partikel debu yang beterbangan yang dapat menggangu kesehatan pekerja
        1.7 Adanya kemungkinan pekerja tidak mengganti pakaian pekerjaan, yang memiliki potensi terserang jamur, virus dan bakteri yang dapat mengganggu kesehatan
        1.8 Adanya kemungkinan bahwa para pekerja dalam kedaan fatique yang dapat menghilangkan focus dan konsentrasi
        1.9 Adanya kemungkinan pekerja dalam keadaan strees karena beban kerja dan pekerjaan harus segera selesai
        1.10 Adanya kemungkinan mobilisasi peralatan dan material di sekitar area pemasangan bata dan bangunan scaffholding
        1.11 Masih tidak kuatnya bata merah karena masih dalam tahap pemasangan

        2. Konsekuensi
        2.1 Adanya potensi jatuhnya pekerja langsung ke permukaan tanah : Tinggi
        2.2 Tidak ratanya permukaan tanah (miring)/amblesnya tanah : Sedang
        2.3 Adanya potensi pekerja dapat tersandung, terpeleset, cidera : Sedang
        2.4 Adanya bata yang ditaruh di atas scaffholding yang berpotensi dapat terjatuh dan mencederai pekerja yang ada dibawahnya : Sedang
        2.5 Cuaca panas saat melakukan pekerjaan, yang berpotensi mengurangi focus, konsentrasi dan dapat menyebabkan dehidrasi pada pekerja : Sedang
        2.6 Adanya partikel debu yang beterbangan yang dapat menggangu kesehatan pekerja : Rendah
        2.7 Adanya kemungkinan pekerja tidak mengganti pakaian pekerjaan, yang memiliki potensi terserang jamur, virus dan bakteri yang dapat mengganggu kesehatan : Rendah
        2.8 Adanya kemungkinan bahwa para pekerja dalam kedaan fatique yang dapat menghilangkan focus dan konsentrasi : Sedang
        2.9 Adanya kemungkinan pekerja dalam keadaan strees karena beban kerja dan pekerjaan harus segera selesai : Rendah
        2.10 Adanya kemungkinan mobilisasi peralatan dan material di sekitar area pemasangan bata dan bangunan scaffholding : Sedang
        2.11 Masih tidak kuatnya bata merah karena masih dalam tahap pemasangan : Sedang

        3.Deskripsi Konsekuensi
        3.1 Manusia
        3.1.1 Ringan : Tidak terdapat cedera/penyakit, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
        3.1.2 Ringan : Cedera ringan, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
        3.1.3 Sedang : Mendapat P3K atau tindakan medis, tidak ada hilang jam kerja lebih dari 1X24 jam
        3.1.4 Tinggi : Memerlukan tindakan medis lanjut/rujukan, cacat sementara, terdapat jam kerja hilang 1X24 jam
        3.1.5 Tinggi : Cacat permanen, kematian, terdapat jam kerja hilang lebih dari 1X24 jam

        3.2 Aset / alat
        3.2.1 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja kurang dari Rp. 1.000.000
        3.2.2 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.000.000 – Rp. 1.500.000
        3.2.3 Sedang : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.500.000 – Rp. 5.000.000
        3.2.4 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 5.000.000 – Rp. 10.000.000
        3.2.5 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja lebih dari Rp. 10.000.000

        3.3 Lingkungan
        3.3.1 Ringan : Tidak berdampak apa-apa pada lingkungan
        3.3.2 Ringan : Berefek kecil terhadap lingkungan
        3.3.3 Sedang : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka pendek
        3.3.4 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang
        3.3.5 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang

        4. Risiko awal
        4.1 Adanya potensi bahaya gravitasi yang berpotensi jatuhnya pekerja langsung ke permukaan tanah
        4.2 Tidak ratanya permukaan tanah (miring)
        4.3 Banyaknya material yang berhamburan di atas tanah yang memiliki potensi pekerja dapat tersandung, terpeleset, cidera
        4.4 Adanya bata yang ditaruh di atas scaffholding yang berpotensi dapat terjatuh dan mencederai pekerja yang ada dibawahnya
        4.5 Cuaca panas saat melakukan pekerjaan, yang berpotensi mengurangi focus, konsentrasi dan dapat menyebabkan dehidrasi pada pekerja
        4.6 Adanya partikel debu yang beterbangan yang dapat menggangu kesehatan pekerja
        4.7 Adanya kemungkinan pekerja tidak mengganti pakaian pekerjaan, yang memiliki potensi terserang jamur, virus dan bakteri yang dapat mengganggu kesehatan
        4.8 Adanya kemungkinan bahwa para pekerja dalam kedaan fatique yang dapat menghilangkan focus dan konsentrasi
        4.9 Adanya kemungkinan pekerja dalam keadaan strees karena beban kerja dan pekerjaan harus segera selesai
        4.10 Adanya kemungkinan penggunaan alat crane
        4.11 Adanya kemungkinan mobilisasi peralatan dan material di sekitar area pemasangan bata dan bangunan scaffholding
        4.12 Masih tidak kuatnya bata merah karena masih dalam tahap pemasangan

        5. Pengendalian potensi bahaya dengan hierarchy of control
        5.1 Eliminasi : Eliminasi material-material disekitar konstruksi yang tidak penting dengan dibuang atau dipindahkan
        5.2 Subtitusi : Mengganti model scaffolding menjadi scaffolding yang standar
        5.3 Enginnering : Pada scaffolding dibuat handrail agar pekerja tidak terjatuh
        5.4 Adiministrasi : Dibuat JSA, training untuk pekerjanya, dibuat rambu-rambu
        5.5 APD : Menggunakan sepatu safety, sarung tangan safety, helm safety, masker, kacamata, baju safety

        Risk Matriks Pekerjaan 2
        Pekerjaan pemasangan batu bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedun diatas 3,00 meter dari permukaan tanah.

        1. Potensi Penyebab Bahaya
        – Adanya potensi bahaya gravitasi yang berpotensi jatuhnya pekerja langsung ke permukaan tanah
        – Tidak ratanya permukaan tanah ( miring)
        – Banyaknya material yang berhamburan di atas tanah yang memiliki potensi pekerja dapat tersandung, terpeleset, cidera
        – Adanya bata yang ditaruh di atas scaff holding yang berpotensi dapat terjatuh dan mencederai pekerja yang ada dibawahnya
        – Cuaca panas saat melakukan pekerjaan,, yang berpotensi mengurangi focus, konsentrasi dan dapat menyebabkan dehidrasi pada pekerja
        – Adanya partikel debu yang beterbangan yang dapat menggangu kesehatan pekerja
        – Adanya kemungkinan pekerja tidak mengganti pakaian pekerjaan, yang memiliki potensi terserang jamur, virus dan bakteri yang dapat mengganggu kesehatan
        – Adanya kemungkinan bahwa para pekerja dalam kedaan fatique yang dapat menghilangkan focus dan konsentrasi
        – Adanya kemungkinan pekerja dalam keadaan strees karena beban kerja dan ppekerjaan harus segera selesai
        – Adanya kemungkinan penggunaan alat crane
        – Adanya kemungkinan mobilisasi peralatan dan material di sekitar area pemasangan bata dan bangunan scaff holding
        – Masih tidak kuatnya bata merah karena masih dalam tahap pemasangan

        2. Konsekuensi
        2.1 Adanya potensi jatuhnya pekerja langsung ke permukaan tanah : Tinggi
        2.2 Tidak ratanya permukaan tanah (miring)/amblesnya tanah : Sedang
        2.3 Adanya potensi pekerja dapat tersandung, terpeleset, cidera : Sedang
        2.4 Adanya bata yang ditaruh di atas scaffholding yang berpotensi dapat terjatuh dan mencederai pekerja yang ada dibawahnya : Sedang
        2.5 Cuaca panas saat melakukan pekerjaan, yang berpotensi mengurangi focus, konsentrasi dan dapat menyebabkan dehidrasi pada pekerja : Sedang
        2.6 Adanya partikel debu yang beterbangan yang dapat menggangu kesehatan pekerja : Rendah
        2.7 Adanya kemungkinan pekerja tidak mengganti pakaian pekerjaan, yang memiliki potensi terserang jamur, virus dan bakteri yang dapat mengganggu kesehatan : Rendah
        2.8 Adanya kemungkinan bahwa para pekerja dalam kedaan fatique yang dapat menghilangkan focus dan konsentrasi : Sedang
        2.9 Adanya kemungkinan pekerja dalam keadaan strees karena beban kerja dan pekerjaan harus segera selesai : Rendah
        2.10 Adanya kemungkinan mobilisasi peralatan dan material di sekitar area pemasangan bata dan bangunan scaffholding : Sedang
        2.11 Masih tidak kuatnya bata merah karena masih dalam tahap pemasangan : Sedang

        3.Deskripsi Konsekuensi
        3.1 Manusia
        3.1.1 Ringan : Tidak terdapat cedera/penyakit, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
        3.1.2 Ringan : Cedera ringan, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
        3.1.3 Sedang : Mendapat P3K atau tindakan medis, tidak ada hilang jam kerja lebih dari 1X24 jam
        3.1.4 Tinggi : Memerlukan tindakan medis lanjut/rujukan, cacat sementara, terdapat jam kerja hilang 1X24 jam
        3.1.5 Tinggi : Cacat permanen, kematian, terdapat jam kerja hilang lebih dari 1X24 jam

        3.2 Aset / alat
        3.2.1 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja kurang dari Rp. 1.000.000
        3.2.2 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.000.000 – Rp. 1.500.000
        3.2.3 Sedang : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.500.000 – Rp. 5.000.000
        3.2.4 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 5.000.000 – Rp. 10.000.000
        3.2.5 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja lebih dari Rp. 10.000.000

        3.3 Lingkungan
        3.3.1 Ringan : Tidak berdampak apa-apa pada lingkungan
        3.3.2 Ringan : Berefek kecil terhadap lingkungan
        3.3.3 Sedang : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka pendek
        3.3.4 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang
        3.3.5 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang

        4. Risiko awal
        4.1 Adanya potensi bahaya gravitasi yang berpotensi jatuhnya pekerja langsung ke permukaan tanah
        4.2 Tidak ratanya permukaan tanah (miring)
        4.3 Banyaknya material yang berhamburan di atas tanah yang memiliki potensi pekerja dapat tersandung, terpeleset, cidera
        4.4 Adanya bata yang ditaruh di atas scaffholding yang berpotensi dapat terjatuh dan mencederai pekerja yang ada dibawahnya
        4.5 Cuaca panas saat melakukan pekerjaan, yang berpotensi mengurangi focus, konsentrasi dan dapat menyebabkan dehidrasi pada pekerja
        4.6 Adanya partikel debu yang beterbangan yang dapat menggangu kesehatan pekerja
        4.7 Adanya kemungkinan pekerja tidak mengganti pakaian pekerjaan, yang memiliki potensi terserang jamur, virus dan bakteri yang dapat mengganggu kesehatan
        4.8 Adanya kemungkinan bahwa para pekerja dalam kedaan fatique yang dapat menghilangkan focus dan konsentrasi
        4.9 Adanya kemungkinan pekerja dalam keadaan strees karena beban kerja dan pekerjaan harus segera selesai
        4.10 Adanya kemungkinan penggunaan alat crane
        4.11 Adanya kemungkinan mobilisasi peralatan dan material di sekitar area pemasangan bata dan bangunan scaffholding
        4.12 Masih tidak kuatnya bata merah karena masih dalam tahap pemasangan

        5. Pengendalian potensi bahaya dengan hierarchy of control
        5.1 Eliminasi : Eliminasi material-material disekitar konstruksi yang tidak penting dengan dibuang atau dipindahkan
        5.2 Subtitusi : Mengganti model scaffolding menjadi scaffolding yang standar, mengganti bahan dari batu bata merah menjadi bata ringan
        5.3 Enginnering : Pada scaffolding dibuat handrail agar pekerja tidak terjatuh, menggunakan bodyharnes
        5.4 Adiministrasi : Dibuat JSA, training untuk pekerjanya, dibuat rambu-rambu
        5.5 APD : Menggunakan sepatu safety, sarung tangan safety, helm safety, masker, kacamata, baju safety

        Nama : Muhammad Irvan
        Kelas : B2
        Semester : 5
        NPM : 13.11.106.701501.0886

  11. 1. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.

    A.Potensi bahaya
    1.Jatuh dari ketinggian karena mengunakan alat bantu berkerja di ketinggian yang tidak sesuai dan tidak standar
    2.Postur kerja yang tidak sesuai dan tidak alami
    3.Debu yang dihasilkan dari material bangunan yang digunakan yaitu bata ringan dan semen
    4.Tertimpa material bangunan (bata ringan) yang di gunakan
    5.Jam kerja yang melebihi jam kerja normal karena diburu waktu untuk menyelesaikan pekerjaan tepat waktu
    6.Meletakan bahan material bangunan yang digunakan di tempat yang mudah terjatuh dan susah di jangkau pekerja

    B.Konsekuensi
    1.Manusia : Pekerja dapat mengalami WMSDs (Work-related Musculoskeletal Disorders) yang menyebabkan pekerjaan yang dilakukan menjadi terganggu
    2.Manusia : Pekerja yang terjatuh dari ketinggian dapat mengalami kematian atau fatality
    3.Manusia : Pekerja dapat mengalami gangguan pernapasan dan pengelihatan akibat debu
    4.1.Manusia : Pekerja yang tertimpa material dapat mengalami kematian atau fatality
    4.2.Peralatan : Peralatan yang tertimpa material dapat mengalami kerusakan
    5.Manusia : Pekerja dapat mengalami kelelahan atau fatique yang menyebabkan pekerja kurang fokus dalam bekerja
    6.1.Manusia : Pekerja dapat tertimpa material yang jatuh yang menyebabkan kematian
    6.2.Peralatan : Material bangunan yang terjatuh menjadi rusak dan tidak dapat digunakan dan peralatan yang tertimpa material yang jatuh menjadi rusak

    C.Resiko awal
    1.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan besar terjadi
    1.2.Tingkat keparahan : Fatality (manusia)
    1.3.Tingkat resiko : Very high
    2.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan besar terjadi
    2.2.Tingkat keparahan : Medical treatment (manusia)
    2.3.Tingkat resiko : Medium
    3.1.Tingkat kemungkinan : Pasti terjadi
    3.2.Tingkat keparahan : Medical treatment (manusia)
    3.3.Tingkat resiko : High
    4.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan besar terjadi
    4.2.Tingkat keparahan : Fatality (manusia)
    4.3.Tingkat resiko : Very high
    5.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan besar terjadi
    5.2.Tingkat keparahan : Medical treatment (manusia)
    5.3.Tingkat resiko : Medium
    6.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan besar terjadi
    6.2.Tingkat keparahan : Fatality (manusia) dan property damage
    6.3.Tingkat resiko : Very high

    D.Pengendalian potensi bahaya
    1.1. Training ; Melakukan pelatihan tentang tata cara menggunakan scafolding yang benar .
    1.2.Administratif : Pekerja diberitahukan bahaya apa saja yang dapat terjadi di bila bekerja di ketinggian
    1.3.APD : Pekerja diberikan helm dan sepatu safety
    2.Admistratif : Pekerja diberitahukan untuk selalu bekerja untuk selalu bekerja dalam postur tubuh yang sesuai dan alami dan memberikan pelatihan ke pekerja tentang ergonomi yang baik dalam bekerja
    3.APD : Pekerja diberikan masker saat bekerja agar tidak menghisap debu dan kacamata untuk melindungi pengelihatan pekerja saat bekerja
    4.1.Rekayasa teknis : Memasang jaring pengaman di sekitar bangunan agar saat material jatuh dapat tertahan oleh jaring
    4.2.APD: Pekerja diberikan helm dan sepatu safety
    5.Administratif : Mengatur pola jam kerja tidak lebih dari 8 jam per hari agar pekerja tidak kelelahan dan kurang fokus akibat jam kerja yang tidak normal
    6.1.Rekayasa teknis : Membuat tempat meletakan material yang aman dan mudah dijangkau oleh pekerja
    6.2.APD: Pekerja diberikan helm dan sepatu safety

    E.Resiko sisa
    1.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan kecil terjadi
    1.2.Tingkat keparahan : Fatality (manusia)
    1.3.Tingkat resiko : Medium
    2.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan kecil terjadi
    2.2.Tingkat keparahan : Medical treatment (manusia)
    2.3.Tingkat resiko : Low
    3.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan kecil terjadi
    3.2.Tingkat keparahan : First aid case (manusia)
    3.3.Tingkat resiko : Low
    4.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan kecil terjadi
    4.2.Tingkat keparahan : Fatality (manusia)
    4.3.Tingkat resiko : Medium
    5.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan kecil terjadi
    5.2.Tingkat keparahan : First aid case (manusia)
    5.3.Tingkat resiko : Low
    6.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan kecil terjadi
    6.2.Tingkat keparahan : Fatality (manusia) dan property damage
    6.3.Tingkat resiko : Medium

    2. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian diatas 3,00 meter.

    A.Potensi bahaya
    1.Jatuh dari ketinggian karena mengunakan alat bantu berkerja di ketinggian yang tidak sesuai dan tidak standar
    2.Postur kerja yang tidak sesuai dan tidak alami
    3.Debu yang dihasilkan dari material bangunan yang digunakan yaitu bata ringan dan semen
    4.Tertimpa material bangunan (bata ringan) yang di gunakan
    5.Jam kerja yang melebihi jam kerja normal karena diburu waktu untuk menyelesaikan pekerjaan tepat waktu
    6.Meletakan bahan material bangunan yang digunakan di tempat yang mudah terjatuh dan susah di jangkau pekerja
    7.Pekerja tidak menggunakan fall protection sistem saat bekerja di ketinggian

    B.Konsekuensi
    1.Manusia : Pekerja yang terjatuh dari ketinggian dapat mengalami kematian atau fatality
    2.Manusia : Pekerja dapat mengalami WMSDs (Work-related Musculoskeletal Disorders) yang menyebabkan pekerjaan yang dilakukan menjadi terganggu
    3.Manusia : Pekerja dapat mengalami gangguan pernapasan dan pengelihatan akibat debu
    4.1.Manusia : Pekerja yang tertimpa material dapat mengalami kematian atau fatality
    4.2.Peralatan : Peralatan yang tertimpa material dapat mengalami kerusakan
    5.Manusia : Pekerja dapat mengalami kelelahan atau fatique yang menyebabkan pekerja kurang fokus dalam bekerja
    6.1.Manusia : Pekerja dapat tertimpa material yang jatuh yang menyebabkan kematian
    6.2.Peralatan : Material bangunan yang terjatuh menjadi rusak dan tidak dapat digunakan dan peralatan yang tertimpa material yang jatuh menjadi rusak
    7.Manusia : Apabila pekerja jatuh dari ketinggian dapat mengamai kematian atau fatality karena tidak ada fall protection sistem yang menahan pekerja tersebut jatuh

    C.Resiko awal
    1.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan besar terjadi
    1.2.Tingkat keparahan : Fatality (manusia)
    1.3.Tingkat resiko : Very high
    2.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan besar terjadi
    2.2.Tingkat keparahan : Medical treatment (manusia)
    2.3.Tingkat resiko : Medium
    3.1.Tingkat kemungkinan : Pasti terjadi
    3.2.Tingkat keparahan : Medical treatment (manusia)
    3.3.Tingkat resiko : High
    4.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan besar terjadi
    4.2.Tingkat keparahan : Fatality (manusia)
    4.3.Tingkat resiko : Very high
    5.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan besar terjadi
    5.2.Tingkat keparahan : Medical treatment (manusia)
    5.3.Tingkat resiko : Medium
    6.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan besar terjadi
    6.2.Tingkat keparahan : Fatality (manusia) dan property damage
    6.3.Tingkat resiko : Very high
    7.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan besar terjadi
    7.2.Tingkat keparahan : Fatality (manusia)
    7.3.Tingkat resiko : Very high

    D.Pengendalian potensi bahaya
    1.1.Rekayasa teknis : Menggunakan scafolding yang sesuai dengan standar untuk membantu bekerja di ketinggian
    1.2.Administratif : Pekerja diberitahukan bahaya apa saja yang dapat terjadi di bila bekerja di ketinggian, membuat SOP tetang cara bekerja yang aman di ketinggian dan pekerja diberikan pelatihan tentang cara bekerja yang aman di ketinggian
    1.3.APD : Pekerja diberikan helm, sepatu safety dan full body harness
    2.Admistratif : Pekerja diberitahukan untuk selalu bekerja untuk selalu bekerja dalam postur tubuh yang sesuai dan alami dan memberikan pelatihan ke pekerja tentang ergonomi yang baik dalam bekerja
    3.APD : Pekerja diberikan masker saat bekerja agar tidak menghisap debu dan kacamata untuk melindungi pengelihatan pekerja saat bekerja
    4.1.Rekayasa teknis : Memasang jaring pengaman di sekitar bangunan agar saat material jatuh dapat tertahan oleh jaring
    4.2.APD: Pekerja diberikan helm dan sepatu safety
    5.Administratif : Mengatur pola jam kerja tidak lebih dari 8 jam per hari agar pekerja tidak kelelahan dan kurang fokus akibat jam kerja yang tidak normal
    6.1.Rekayasa teknis : Membuat tempat meletakan material yang aman dan mudah dijangkau oleh pekerja
    6.2.APD: Pekerja diberikan helm dan sepatu safety
    7.1.Administratif : Membuat SOP tetang cara bekerja yang aman di ketinggian dan pekerja diberikan pelatihan tentang cara bekerja yang aman di ketinggian
    7.2.APD : Pekerja diberikan fall protection sistem sperti full body harness saat bekerja di ketinggian

    E.Resiko sisa
    1.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan kecil terjadi
    1.2.Tingkat keparahan : Fatality (manusia)
    1.3.Tingkat resiko : Medium
    2.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan kecil terjadi
    2.2.Tingkat keparahan : Medical treatment (manusia)
    2.3.Tingkat resiko : Low
    3.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan kecil terjadi
    3.2.Tingkat keparahan : First aid case (manusia)
    3.3.Tingkat resiko : Low
    4.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan kecil terjadi
    4.2.Tingkat keparahan : Fatality (manusia)
    4.3.Tingkat resiko : Medium
    5.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan kecil terjadi
    5.2.Tingkat keparahan : First aid case (manusia)
    5.3.Tingkat resiko : Low
    6.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan kecil terjadi
    6.2.Tingkat keparahan : Fatality (manusia) dan property damage
    6.3.Tingkat resiko : Medium
    7.1.Tingkat kemungkinan : Kemungkinan kecil terjadi
    7.2.Tingkat keparahan : First aid case (manusia)
    7.3.Tingkat resiko : Low

    Nama : TEGUH NW

    NPM : 13.11.106.701501.0879

    Kelas : B1
    Semester : 5

  12. Risk Matriks Pekerjaan 1

    1. Potensi Penyebab Bahaya
    1.1 Bahaya Fisika : Debu, Gravitasi, Dinding Konstruksi, Suhu
    1.2 Bahaya Biologi : Jamur ,bakteri,virus
    1.3 Bahaya Kimia : Material beracun
    1.4 Bahaya Lingkungan : Permukaan Tanah,Bencana Alam
    1.5 Bahaya Psikososial : Kelelahan di karenakan jam kerja yang sangat padat, usia, pengalaman kerja

    2. Konsekuensi
    2.1 Bahaya Psikososial
    2.1.1 Kelelahan karena jam kerja : Sedang
    2.1.2 Usia dan pengalaman kerja : Sedang

    2.2 Bahaya Fisika
    2.2.1 Debu : Sedang
    2.2.2 Gravitasi : Tinggi
    2.2.3 Dinding Konstruksi : Tinggi
    2.2.4 Scaffolding : Sedang
    2.2.5 Suhu : Ringan

    2.3 Bahaya Biologi
    2.3.1 Bakteri : Ringan
    2.3.2 Ergonomi : Sedang

    2.4 Bahaya Kimia
    2.4.1 Material Beracun : Tinggi

    2.5 Bahaya Lingkungan
    2.5.1 Permukaan Tanah : Sedang

    3.Deskripsi Konsekuensi
    3.1 Manusia
    3.1.1 Ringan : Tidak terdapat cedera/penyakit, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    3.1.2 Ringan : Cedera ringan, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    3.1.3 Sedang : Mendapat P3K atau tindakan medis
    3.1.4 Tinggi : Memerlukan tindakan medis lanjut/rujukan, cacat sementara
    3.1.5 Tinggi : Cacat permanen, kematian

    3.2 Aset / alat
    3.2.1 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja kurang dari Rp. 1.000.000
    3.2.2 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.000.000 – Rp. 1.500.000
    3.2.3 Sedang : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.500.000 – Rp. 5.000.000
    3.2.4 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 5.000.000 – Rp. 10.000.000
    3.2.5 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja lebih dari Rp. 10.000.000

    3.3 Lingkungan
    3.3.1 Ringan : Tidak berdampak apa-apa pada lingkungan
    3.3.2 Ringan : Berefek kecil terhadap lingkungan
    3.3.3 Sedang : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka pendek
    3.3.4 Tinggi : Bersifat sangat serius dan berdampak jangka panjang terhadap fungsi ekosistem
    3.3.5 Tinggi : Bersifat sangat serius dan berdampak jangka panjang terhadap fungsi ekosistem

    4. Risiko awal
    4.1 Bahaya Psikososial : Kelelahan atau fatique
    4.2 Bahaya Fisika : Terhirup debu, tertimpa runtuhan material,tangan tercepit,
    4.3 Bahaya Biologi : Terkena penyakit kulit, diserang hewan
    4.4 Bahaya Kimia : Terhirup material beracun
    4.5 Bahaya Lingkungan : Tersandung

    5. Pengendalian potensi bahaya dengan hierarchy of control
    5.1 Eliminasi : Eliminasi material-material disekitar konstruksi yang tidak penting dengan dibuang atau dipindahkan
    5.2 Subtitusi : Mengganti model scaffolding menjadi scaffolding yang standar
    5.3 Enginnering : Pada scaffolding dibuat handrail agar pekerja tidak terjatuh
    5.4 Adiministrasi : Dibuat JSA, training untuk pekerjanya, dibuat rambu-rambu
    5.5 APD : Menggunakan sepatu safety, sarung tangan safety, helm safety, masker, kacamata, baju safety

    Risk Matriks Pekerjaan 2

    1. Potensi Penyebab Bahaya
    1.1 Bahaya Fisika : Debu, Gravitasi, Dinding Konstruksi, Suhu
    1.2 Bahaya Biologi : Jamur ,bakteri,virus
    1.3 Bahaya Kimia : Material beracun
    1.4 Bahaya Lingkungan : Permukaan Tanah,Bencana Alam
    1.5 Bahaya Psikososial : Kelelahan di karenakan jam kerja yang sangat padat, usia, pengalaman kerja

    2. Konsekuensi

    2.1 Bahaya Fisika
    2.1.1 Debu : Sedang
    2.1.2 Gravitasi : Tinggi
    2.1.3 Dinding Konstruksi : Tinggi
    2.1.4 Scaffolding : Sedang
    2.1.5 Suhu : Ringan

    2.2 Bahaya Biologi
    2.2.1 Bakteri : Ringan
    2.2.2 Ergonomi : Sedang

    2.3 Bahaya Kimia
    2.3.1 Material Beracun : Tinggi

    2.4 Bahaya Lingkungan
    2.4.1 Permukaan Tanah : Sedang

    2.5 Bahaya Psikososial
    2.5.1 Kelelahan karena jam kerja : Sedang

    3.Deskripsi Konsekuensi
    3.1 Manusia
    3.1 Manusia
    3.1.1 Ringan : Tidak terdapat cedera/penyakit, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    3.1.2 Ringan : Cedera ringan, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    3.1.3 Sedang : Mendapat P3K atau tindakan medis
    3.1.4 Tinggi : Memerlukan tindakan medis lanjut/rujukan, cacat sementara
    3.1.5 Tinggi : Cacat permanen, kematian

    3.2 Aset / alat
    3.2.1 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja kurang dari Rp. 1.000.000
    3.2.2 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.000.000 – Rp. 1.500.000
    3.2.3 Sedang : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.500.000 – Rp. 5.000.000
    3.2.4 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 5.000.000 – Rp. 10.000.000
    3.2.5 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja lebih dari Rp. 10.000.000

    3.3 Lingkungan
    3.3.1 Ringan : Tidak berdampak apa-apa pada lingkungan
    3.3.2 Ringan : Berefek kecil terhadap lingkungan
    3.3.3 Sedang : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka pendek
    3.3.4 Tinggi : Bersifat sangat serius dan berdampak jangka panjang terhadap fungsi ekosistem
    3.3.5 Tinggi : Bersifat sangat serius dan berdampak jangka panjang terhadap fungsi ekosistem

    4. Risiko awal
    4.1 Bahaya Fisika : Terhirup debu, tertimpa runtuhan material, tangan tercepit, terjatuh dari scaffolding
    4.2 Bahaya Biologi : Terkena penyakit kulit
    4.3 Bahaya Kimia : Terhirup material beracun
    4.4 Bahaya Lingkungan : Longsor, hujan badai
    4.5Bahaya Psikososial : Kelelahan atau fatique

    5. Pengendalian potensi bahaya dengan hierarchy of control
    5.1 Eliminasi : Eliminasi material-material disekitar konstruksi yang tidak penting dengan dibuang atau dipindahkan
    5.2 Subtitusi : Mengganti model scaffolding menjadi scaffolding yang standar
    5.3 Enginnering : Pada scaffolding dibuat handrail agar pekerja tidak terjatuh,
    5.4 Adiministrasi : Dibuat JSA, training untuk pekerjanya, dibuat rambu-rambu
    5.5 APD : Menggunakan sepatu safety, sarung tangan safety, helm safety, masker, kacamata, baju safety , bodyharnes

    Nama : Ruddy Prannoto
    Kelas : B2
    Semester : 5
    NPM : 13.11.106.701501.0911

    • Cantumkan nama jenis pekerjaan ke-1 dan jenis pekerjaan ke-2 pada analisis risk assessment anda, agar mudah dipahami. Lihatlah tugas dari rekan yang lain yang sudah disetujui sebagai acuan. Klik “Reply” dibawah komentar ini untuk memperbaikinya, hal ini agar proses perbaikan yang anda lakukan agar mudah ditelusuri.

    • 1)) Jenis pekerjaan 1 : Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.

      Risk Matriks Pekerjaan 1

      1. Potensi Penyebab Bahaya
      1.1 Bahaya Fisika : Debu, Gravitasi, Dinding Konstruksi, Suhu
      1.2 Bahaya Biologi : Jamur ,bakteri,virus
      1.3 Bahaya Kimia : Material beracun
      1.4 Bahaya Lingkungan : Permukaan Tanah,Bencana Alam
      1.5 Bahaya Psikososial : Kelelahan di karenakan jam kerja yang sangat padat, usia, pengalaman kerja

      2. Konsekuensi
      2.1 Bahaya Psikososial
      2.1.1 Kelelahan karena jam kerja : Sedang
      2.1.2 Usia dan pengalaman kerja : Sedang

      2.2 Bahaya Fisika
      2.2.1 Debu : Sedang
      2.2.2 Gravitasi : Tinggi
      2.2.3 Dinding Konstruksi : Tinggi
      2.2.4 Scaffolding : Sedang
      2.2.5 Suhu : Ringan

      2.3 Bahaya Biologi
      2.3.1 Bakteri : Ringan
      2.3.2 Ergonomi : Sedang

      2.4 Bahaya Kimia
      2.4.1 Material Beracun : Tinggi

      2.5 Bahaya Lingkungan
      2.5.1 Permukaan Tanah : Sedang

      3.Deskripsi Konsekuensi
      3.1 Manusia
      3.1.1 Ringan : Tidak terdapat cedera/penyakit, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
      3.1.2 Ringan : Cedera ringan, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
      3.1.3 Sedang : Mendapat P3K atau tindakan medis
      3.1.4 Tinggi : Memerlukan tindakan medis lanjut/rujukan, cacat sementara
      3.1.5 Tinggi : Cacat permanen, kematian

      3.2 Aset / alat
      3.2.1 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja kurang dari Rp. 1.000.000
      3.2.2 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.000.000 – Rp. 1.500.000
      3.2.3 Sedang : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.500.000 – Rp. 5.000.000
      3.2.4 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 5.000.000 – Rp. 10.000.000
      3.2.5 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja lebih dari Rp. 10.000.000

      3.3 Lingkungan
      3.3.1 Ringan : Tidak berdampak apa-apa pada lingkungan
      3.3.2 Ringan : Berefek kecil terhadap lingkungan
      3.3.3 Sedang : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka pendek
      3.3.4 Tinggi : Bersifat sangat serius dan berdampak jangka panjang terhadap fungsi ekosistem
      3.3.5 Tinggi : Bersifat sangat serius dan berdampak jangka panjang terhadap fungsi ekosistem

      4. Risiko awal
      4.1 Bahaya Psikososial : Kelelahan atau fatique
      4.2 Bahaya Fisika : Terhirup debu, tertimpa runtuhan material,tangan tercepit,
      4.3 Bahaya Biologi : Terkena penyakit kulit, diserang hewan
      4.4 Bahaya Kimia : Terhirup material beracun
      4.5 Bahaya Lingkungan : Tersandung

      5. Pengendalian potensi bahaya dengan hierarchy of control
      5.1 Eliminasi : Eliminasi material-material disekitar konstruksi yang tidak penting dengan dibuang atau dipindahkan
      5.2 Subtitusi : Mengganti model scaffolding menjadi scaffolding yang standar
      5.3 Enginnering : Pada scaffolding dibuat handrail agar pekerja tidak terjatuh
      5.4 Adiministrasi : Dibuat JSA, training untuk pekerjanya, dibuat rambu-rambu
      5.5 APD : Menggunakan sepatu safety, sarung tangan safety, helm safety, masker, kacamata, baju safety

      2)) Jenis pekerjaan 2 : Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah.

      Risk Matriks Pekerjaan 2

      1. Potensi Penyebab Bahaya
      1.1 Bahaya Fisika : Debu, Gravitasi, Dinding Konstruksi, Suhu
      1.2 Bahaya Biologi : Jamur ,bakteri,virus
      1.3 Bahaya Kimia : Material beracun
      1.4 Bahaya Lingkungan : Permukaan Tanah,Bencana Alam
      1.5 Bahaya Psikososial : Kelelahan di karenakan jam kerja yang sangat padat, usia, pengalaman kerja

      2. Konsekuensi

      2.1 Bahaya Fisika
      2.1.1 Debu : Sedang
      2.1.2 Gravitasi : Tinggi
      2.1.3 Dinding Konstruksi : Tinggi
      2.1.4 Scaffolding : Sedang
      2.1.5 Suhu : Ringan

      2.2 Bahaya Biologi
      2.2.1 Bakteri : Ringan
      2.2.2 Ergonomi : Sedang

      2.3 Bahaya Kimia
      2.3.1 Material Beracun : Tinggi

      2.4 Bahaya Lingkungan
      2.4.1 Permukaan Tanah : Sedang

      2.5 Bahaya Psikososial
      2.5.1 Kelelahan karena jam kerja : Sedang

      3.Deskripsi Konsekuensi
      3.1 Manusia
      3.1 Manusia
      3.1.1 Ringan : Tidak terdapat cedera/penyakit, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
      3.1.2 Ringan : Cedera ringan, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
      3.1.3 Sedang : Mendapat P3K atau tindakan medis
      3.1.4 Tinggi : Memerlukan tindakan medis lanjut/rujukan, cacat sementara
      3.1.5 Tinggi : Cacat permanen, kematian

      3.2 Aset / alat
      3.2.1 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja kurang dari Rp. 1.000.000
      3.2.2 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.000.000 – Rp. 1.500.000
      3.2.3 Sedang : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.500.000 – Rp. 5.000.000
      3.2.4 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 5.000.000 – Rp. 10.000.000
      3.2.5 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja lebih dari Rp. 10.000.000

      3.3 Lingkungan
      3.3.1 Ringan : Tidak berdampak apa-apa pada lingkungan
      3.3.2 Ringan : Berefek kecil terhadap lingkungan
      3.3.3 Sedang : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka pendek
      3.3.4 Tinggi : Bersifat sangat serius dan berdampak jangka panjang terhadap fungsi ekosistem
      3.3.5 Tinggi : Bersifat sangat serius dan berdampak jangka panjang terhadap fungsi ekosistem

      4. Risiko awal
      4.1 Bahaya Fisika : Terhirup debu, tertimpa runtuhan material, tangan tercepit, terjatuh dari scaffolding
      4.2 Bahaya Biologi : Terkena penyakit kulit
      4.3 Bahaya Kimia : Terhirup material beracun
      4.4 Bahaya Lingkungan : Longsor, hujan badai
      4.5Bahaya Psikososial : Kelelahan atau fatique

      5. Pengendalian potensi bahaya dengan hierarchy of control
      5.1 Eliminasi : Eliminasi material-material disekitar konstruksi yang tidak penting dengan dibuang atau dipindahkan
      5.2 Subtitusi : Mengganti model scaffolding menjadi scaffolding yang standar
      5.3 Enginnering : Pada scaffolding dibuat handrail agar pekerja tidak terjatuh,
      5.4 Adiministrasi : Dibuat JSA, training untuk pekerjanya, dibuat rambu-rambu
      5.5 APD : Menggunakan sepatu safety, sarung tangan safety, helm safety, masker, kacamata, baju safety , bodyharnes

      Nama : Ruddy Prannoto
      Kelas : B2
      Semester : 5
      NPM : 13.11.106.701501.0911

  13. Pekerjaan pemasangan bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.

    a. Analisa potensi bahaya :
    – Terdapatnya partikel-partikel debu yang berada di sekitaran area pembangunan yang dapat berpotensi mengganggu kesehatan para pekerja.
    – Adanya bata yang diletakkan di scaffolding yang dapat kapan saja jatuh dan bisa mencederai para pekerja yang sedang bekerja dibawahnya.
    – Para pekerja yang sewaktu-waktu dapat saja terjatuh dari perancah atau andang.
    – Kemungkinan ambruknya perancah atau andang.
    – Pakaian pekerja yang kemungkinan tidak nyaman dikenakan karena keringat, virus, bakteri dan juga jamur yang dikarenakan baju tersebut tidak pernah diganti.
    – Kemungkinan adanya binatang-binatang seperti kalajengking, ular, kelabang yang terdapat di bongkahan material di area kerja.
    – Para pekerja yang kemungkinan mengalami fatique dan mungkin juga stress akibat dehidrasi yang dikarenakan lingkungan tempat bekerja yang panas dan juga target penyelesaian pembangunan yang harus cepat diselesaikan.

    b. Pengendalian potensi bahaya
    – Melengkapi para pekerja dengan masker anti debu dan bisa saja menyiram area sekitaran kerja dengan air untunk menghindari debu yang beterbangan pada saat pekerjaan sedang berlangsung.
    – Membuat perancah atau andang dengan struktur yang kuat, jangan sampai adanya lubang yang terdapat di papan perancah yang dapat memungkinkan kaki pekerja terperosok ataumungkin saja tergelincir.
    – Membersihkan area tempat bekerja dari bekas-bekas material sehingga perancah dapat didirikan dengan sempurna di permukaan tanah.
    – Memastikan kaitan atau sambungan yang terdapat di perancah sudah terhubung dengan sempurna dan pastikan menggunakan perancah yang layak pakai.
    – Tidak menaruh bata pada scaffolding atau pekerja dapat memasang pagar atau penghalang yang memungkinkan bata tidak langsung jatuh kebawah dan dapat mencederai pekerja.
    – Dari kesadaran diri masing-masing para pekerja untuk menjaga kebersihan pakaian kerjanya.
    – Dapat membersihkan area kerja sebelum melakukan pekerjaan.
    – Selalu menyediakan minum agar tidak terjadi dehidrasi.
    – Dapat memberikan hari libur pada para pekerja dan konsisten pada jam kerja yang disepakati dan jangan berlebihan agar menghindarkan para pekerja dari fatique dan juga stress.

    Risk Matriks Pekerjaan 1

    1. Potensi Penyebab Bahaya
    1.1 Terdapatnya partikel-partikel debu yang berada di sekitaran area pembangunan yang dapat berpotensi mengganggu kesehatan para pekerja.
    1.2 Adanya bata yang diletakkan di scaffolding yang dapat kapan saja jatuh dan bisa mencederai para pekerja yang sedang bekerja dibawahnya.
    1.3 Para pekerja yang sewaktu-waktu dapat saja terjatuh dari perancah atau andang.
    1.4 Kemungkinan ambruknya perancah atau andang.
    1.5 Pakaian pekerja yang kemungkinan tidak nyaman dikenakan karena keringat, virus, bakteri dan juga jamur yang dikarenakan baju tersebut tidak pernah diganti.
    1.6 Kemungkinan adanya binatang-binatang seperti kalajengking, ular, kelabang yang terdapat di bongkahan material di area kerja.
    1.7 Para pekerja yang kemungkinan mengalami fatique dan mungkin juga stress akibat dehidrasi yang dikarenakan lingkungan tempat bekerja yang panas dan juga target penyelesaian pembangunan yang harus cepat diselesaikan.

    2. Konsekuensi
    2.1 Partikel debu yang berpotensi mengganggu kesehatan para pekerja : Sedang
    2.2 Adanya bata yang diletakkan di scaffolding yang dapat kapan saja jatuh dan bisa mencederai para pekerja yang sedang bekerja dibawahnya : Sedang
    2.3 Para pekerja yang sewaktu-waktu dapat saja terjatuh dari perancah atau andang : Sedang
    2.4 Kemungkinan ambruknya perancah atau andang : Sedang
    2.5 Pakaian pekerja yang kemungkinan tidak nyaman dikenakan karena keringat, virus, bakteri dan juga jamur yang dikarenakan baju tersebut tidak pernah diganti : Ringan
    2.6 Kemungkinan adanya binatang-binatang seperti kalajengking, ular, kelabang yang terdapat di bongkahan material di area kerja : Ringan
    2.7 Para pekerja yang kemungkinan mengalami fatique dan mungkin juga stress akibat dehidrasi yang dikarenakan lingkungan tempat bekerja yang panas dan juga target penyelesaian pembangunan yang harus cepat diselesaikan : Sedang

    3. Deskripsi Konsekuensi
    3.1 Manusia
    3.1.1 Ringan : Tidak terdapat cedera/penyakit, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    3.1.2 Ringan : Cedera ringan, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    3.1.3 Sedang : Mendapat P3K atau tindakan medis, tidak ada hilang jam kerja lebih dari 1X24 jam
    3.1.4 Tinggi : Memerlukan tindakan medis lanjut/rujukan, cacat sementara, terdapat jam kerja hilang 1X24 jam
    3.1.5 Tinggi : Cacat permanen, kematian, terdapat jam kerja hilang lebih dari 1X24 jam

    3.2 Aset / alat
    3.2.1 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja kurang dari Rp. 1.000.000
    3.2.2 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.000.000 – Rp. 1.500.000
    3.2.3 Sedang : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.500.000 – Rp. 5.000.000
    3.2.4 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 5.000.000 – Rp. 10.000.000
    3.2.5 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja lebih dari Rp. 10.000.000

    3.3 Lingkungan
    3.3.1 Ringan : Tidak berdampak apa-apa pada lingkungan
    3.3.2 Ringan : Berefek kecil terhadap lingkungan
    3.3.3 Sedang : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka pendek
    3.3.4 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang
    3.3.5 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang

    4. Risiko Awal
    4.1 Bahaya Psikososial : Kelelahan atau fatique
    4.2 Bahaya Fisika : Terhirup debu, tertimpa runtuhan material, scaffolding runtuh, tangan tercepit, terjatuh dari scaffolding
    4.3 Bahaya Biologi : Terkena penyakit kulit, diserang hewan
    4.4 Bahaya Kimia : Terhirup material beracun
    4.5 Bahaya Lingkungan : Tersandung

    5. Pengendalian Potensi Bahaya dengan Hierarchy of Control
    5.1 Eliminasi : Eliminasi material-material disekitar konstruksi yang tidak penting dengan dibuang atau dipindahkan
    5.2 Subtitusi : Mengganti model scaffolding menjadi scaffolding yang standar
    5.3 Enginnering : Pada scaffolding dibuat handrail agar pekerja tidak terjatuh
    5.4 Adiministrasi : Dibuat JSA, training untuk pekerjanya, dibuat rambu-rambu
    5.5 APD : Menggunakan sepatu safety, sarung tangan safety, helm safety, masker, kacamata, baju safety

    Risk Matriks Pekerjaan 2

    1. Potensi penyebab bahaya
    1.1 Adanya partikel debu yang berada di sekitaran area pembangunan dan beterbangan yang dapat berpotensi mengganggu kesehatan para pekerja.
    1.2 Pada area kerja gedung bertingkat yang dapat memungkinkan para pekerja terjatuh dari perancah atau andang yang dapat mengakibatkan fatality.
    1.3 Benda peralatan kerja atau bata yang mungkin saja jatuh dari ketinggian yang berbeda maka akan berbeda juga tingkat resikonya.
    1.4 Penggunaan alat crane yang digunakan untuk pembangunan gedung bertingkat di atas 3,00 meter.
    1.5 Mobilisasi peralatan dan material yang beraktifitas di sekitaran area pembangunan.
    1.6 Kemungkinan ambruknya perancah atau andang.
    1.7 Pakaian pekerja yang kemungkinan tidak nyaman dikenakan karena keringat, virus, bakteri dan juga jamur yang dikarenakan baju tersebut tidak pernah diganti.
    1.8 Para pekerja yang kemungkinan mengalami fatique dan mungkin juga stress akibat dehidrasi yang dikarenakan lingkungan tempat bekerja yang panas dan juga target penyelesaian pembangunan yang harus cepat diselesaikan.

    2. Konsekuensi
    2.1 Adanya partikel debu yang berada di sekitaran area pembangunan dan beterbangan yang dapat berpotensi mengganggu kesehatan para pekerja : Sedang
    2.2 Pada area kerja gedung bertingkat yang dapat memungkinkan para pekerja terjatuh dari perancah atau andang yang dapat mengakibatkan fatality : Tinggi
    2.3 Benda peralatan kerja atau bata yang mungkin saja jatuh dari ketinggian yang berbeda maka akan berbeda juga tingkat resikonya : Tinggi
    2.4 Penggunaan alat crane yang digunakan untuk pembangunan gedung bertingkat di atas 3,00 meter : Tinggi
    2.5 Mobilisasi peralatan dan material yang beraktifitas di sekitaran area pembangunan : Sedang
    2.6 Kemungkinan ambruknya perancah atau andang : Sedang
    2.7 Pakaian pekerja yang kemungkinan tidak nyaman dikenakan karena keringat, virus, bakteri dan juga jamur yang dikarenakan baju tersebut tidak pernah diganti : Ringan
    2.8 Para pekerja yang kemungkinan mengalami fatique dan mungkin juga stress akibat dehidrasi yang dikarenakan lingkungan tempat bekerja yang panas dan juga target penyelesaian pembangunan yang harus cepat diselesaikan : Sedang

    3.Deskripsi Konsekuensi
    3.1 Manusia
    3.1.1 Ringan : Tidak terdapat cedera/penyakit, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    3.1.2 Ringan : Cedera ringan, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    3.1.3 Sedang : Mendapat P3K atau tindakan medis, tidak ada hilang jam kerja lebih dari 1X24 jam
    3.1.4 Tinggi : Memerlukan tindakan medis lanjut/rujukan, cacat sementara, terdapat jam kerja hilang 1X24 jam
    3.1.5 Tinggi : Cacat permanen, kematian, terdapat jam kerja hilang lebih dari 1X24 jam

    3.2 Aset / alat
    3.2.1 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja kurang dari Rp. 1.000.000
    3.2.2 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.000.000 – Rp. 1.500.000
    3.2.3 Sedang : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.500.000 – Rp. 5.000.000
    3.2.4 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 5.000.000 – Rp. 10.000.000
    3.2.5 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja lebih dari Rp. 10.000.000

    3.3 Lingkungan
    3.3.1 Ringan : Tidak berdampak apa-apa pada lingkungan
    3.3.2 Ringan : Berefek kecil terhadap lingkungan
    3.3.3 Sedang : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka pendek
    3.3.4 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang
    3.3.5 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang

    4. Risiko awal
    4.1 Bahaya Psikososial : Kelelahan atau fatique
    4.2 Bahaya Fisika : Terhirup debu, tertimpa runtuhan material, scaffolding runtuh, tangan tercepit, terjatuh dari scaffolding
    4.3 Bahaya Biologi : Terkena penyakit kulit, diserang hewan
    4.4 Bahaya Kimia : Terhirup material beracun
    4.5 Bahaya Lingkungan : Tersandung

    5. Pengendalian potensi bahaya dengan hierarchy of control
    5.1 Eliminasi : Eliminasi material-material disekitar konstruksi yang tidak penting dengan dibuang atau dipindahkan
    5.2 Subtitusi : Mengganti model scaffolding menjadi scaffolding yang standar, mengganti bahan dari batu bata merah menjadi bata ringan
    5.3 Enginnering : Pada scaffolding dibuat handrail agar pekerja tidak terjatuh, menggunakan bodyharnes
    5.4 Adiministrasi : Dibuat JSA, training untuk pekerjanya, dibuat rambu-rambu
    5.5 APD : Menggunakan sepatu safety, sarung tangan safety, helm safety, masker, kacamata, baju safety

    Nama : Nur Lutfiani
    Kelas : B2
    Semester : V (Lima)
    NPM : 13.11.106.701501.0887

    • Cantumkan nama jenis pekerjaan ke-1 dan jenis pekerjaan ke-2 pada analisis risk assessment anda, agar mudah dipahami. Lihatlah tugas dari rekan yang lain yang sudah disetujui sebagai acuan. Klik “Reply” dibawah komentar ini untuk memperbaikinya, hal ini agar proses perbaikan yang anda lakukan agar mudah ditelusuri.

      • Risk Matriks pekerjaan 1

        Jenis pekerjaan 1 : pekerjaan pemasangan bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.

        1. Potensi Penyebab Bahaya
        1.1 Terdapatnya partikel-partikel debu yang berada di sekitaran area pembangunan yang dapat berpotensi mengganggu kesehatan para pekerja.
        1.2 Adanya bata yang diletakkan di scaffolding yang dapat kapan saja jatuh dan bisa mencederai para pekerja yang sedang bekerja dibawahnya.
        1.3 Para pekerja yang sewaktu-waktu dapat saja terjatuh dari perancah atau andang.
        1.4 Kemungkinan ambruknya perancah atau andang.
        1.5 Pakaian pekerja yang kemungkinan tidak nyaman dikenakan karena keringat, virus, bakteri dan juga jamur yang dikarenakan baju tersebut tidak pernah diganti.
        1.6 Kemungkinan adanya binatang-binatang seperti kalajengking, ular, kelabang yang terdapat di bongkahan material di area kerja.
        1.7 Para pekerja yang kemungkinan mengalami fatique dan mungkin juga stress akibat dehidrasi yang dikarenakan lingkungan tempat bekerja yang panas dan juga target penyelesaian pembangunan yang harus cepat diselesaikan.

        2. Konsekuensi
        2.1 Partikel debu yang berpotensi mengganggu kesehatan para pekerja : Sedang
        2.2 Adanya bata yang diletakkan di scaffolding yang dapat kapan saja jatuh dan bisa mencederai para pekerja yang sedang bekerja dibawahnya : Sedang
        2.3 Para pekerja yang sewaktu-waktu dapat saja terjatuh dari perancah atau andang : Sedang
        2.4 Kemungkinan ambruknya perancah atau andang : Sedang
        2.5 Pakaian pekerja yang kemungkinan tidak nyaman dikenakan karena keringat, virus, bakteri dan juga jamur yang dikarenakan baju tersebut tidak pernah diganti : Ringan
        2.6 Kemungkinan adanya binatang-binatang seperti kalajengking, ular, kelabang yang terdapat di bongkahan material di area kerja : Ringan
        2.7 Para pekerja yang kemungkinan mengalami fatique dan mungkin juga stress akibat dehidrasi yang dikarenakan lingkungan tempat bekerja yang panas dan juga target penyelesaian pembangunan yang harus cepat diselesaikan : Sedang

        3. Deskripsi Konsekuensi
        3.1 Manusia
        3.1.1 Ringan : Tidak terdapat cedera/penyakit, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
        3.1.2 Ringan : Cedera ringan, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
        3.1.3 Sedang : Mendapat P3K atau tindakan medis, tidak ada hilang jam kerja lebih dari 1X24 jam
        3.1.4 Tinggi : Memerlukan tindakan medis lanjut/rujukan, cacat sementara, terdapat jam kerja hilang 1X24 jam
        3.1.5 Tinggi : Cacat permanen, kematian, terdapat jam kerja hilang lebih dari 1X24 jam

        3.2 Aset / alat
        3.2.1 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja kurang dari Rp. 1.000.000
        3.2.2 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.000.000 – Rp. 1.500.000
        3.2.3 Sedang : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.500.000 – Rp. 5.000.000
        3.2.4 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 5.000.000 – Rp. 10.000.000
        3.2.5 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja lebih dari Rp. 10.000.000

        3.3 Lingkungan
        3.3.1 Ringan : Tidak berdampak apa-apa pada lingkungan
        3.3.2 Ringan : Berefek kecil terhadap lingkungan
        3.3.3 Sedang : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka pendek
        3.3.4 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang
        3.3.5 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang

        4. Risiko Awal
        4.1 Bahaya Psikososial : Kelelahan atau fatique
        4.2 Bahaya Fisika : Terhirup debu, tertimpa runtuhan material, scaffolding runtuh, tangan tercepit, terjatuh dari scaffolding
        4.3 Bahaya Biologi : Terkena penyakit kulit, diserang hewan
        4.4 Bahaya Kimia : Terhirup material beracun
        4.5 Bahaya Lingkungan : Tersandung

        5. Pengendalian Potensi Bahaya dengan Hierarchy of Control
        5.1 Eliminasi : Eliminasi material-material disekitar konstruksi yang tidak penting dengan dibuang atau dipindahkan
        5.2 Subtitusi : Mengganti model scaffolding menjadi scaffolding yang standar
        5.3 Enginnering : Pada scaffolding dibuat handrail agar pekerja tidak terjatuh
        5.4 Adiministrasi : Dibuat JSA, training untuk pekerjanya, dibuat rambu-rambu
        5.5 APD : Menggunakan sepatu safety, sarung tangan safety, helm safety, masker, kacamata, baju safety

        Risk Matriks Pekerjaan 2

        Jenis pekerjaan 2 : pemasangan bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.

        1. Potensi penyebab bahaya
        1.1 Adanya partikel debu yang berada di sekitaran area pembangunan dan beterbangan yang dapat berpotensi mengganggu kesehatan para pekerja.
        1.2 Pada area kerja gedung bertingkat yang dapat memungkinkan para pekerja terjatuh dari perancah atau andang yang dapat mengakibatkan fatality.
        1.3 Benda peralatan kerja atau bata yang mungkin saja jatuh dari ketinggian yang berbeda maka akan berbeda juga tingkat resikonya.
        1.4 Penggunaan alat crane yang digunakan untuk pembangunan gedung bertingkat di atas 3,00 meter.
        1.5 Mobilisasi peralatan dan material yang beraktifitas di sekitaran area pembangunan.
        1.6 Kemungkinan ambruknya perancah atau andang.
        1.7 Pakaian pekerja yang kemungkinan tidak nyaman dikenakan karena keringat, virus, bakteri dan juga jamur yang dikarenakan baju tersebut tidak pernah diganti.
        1.8 Para pekerja yang kemungkinan mengalami fatique dan mungkin juga stress akibat dehidrasi yang dikarenakan lingkungan tempat bekerja yang panas dan juga target penyelesaian pembangunan yang harus cepat diselesaikan.

        2. Konsekuensi
        2.1 Adanya partikel debu yang berada di sekitaran area pembangunan dan beterbangan yang dapat berpotensi mengganggu kesehatan para pekerja : Sedang
        2.2 Pada area kerja gedung bertingkat yang dapat memungkinkan para pekerja terjatuh dari perancah atau andang yang dapat mengakibatkan fatality : Tinggi
        2.3 Benda peralatan kerja atau bata yang mungkin saja jatuh dari ketinggian yang berbeda maka akan berbeda juga tingkat resikonya : Tinggi
        2.4 Penggunaan alat crane yang digunakan untuk pembangunan gedung bertingkat di atas 3,00 meter : Tinggi
        2.5 Mobilisasi peralatan dan material yang beraktifitas di sekitaran area pembangunan : Sedang
        2.6 Kemungkinan ambruknya perancah atau andang : Sedang
        2.7 Pakaian pekerja yang kemungkinan tidak nyaman dikenakan karena keringat, virus, bakteri dan juga jamur yang dikarenakan baju tersebut tidak pernah diganti : Ringan
        2.8 Para pekerja yang kemungkinan mengalami fatique dan mungkin juga stress akibat dehidrasi yang dikarenakan lingkungan tempat bekerja yang panas dan juga target penyelesaian pembangunan yang harus cepat diselesaikan : Sedang

        3.Deskripsi Konsekuensi
        3.1 Manusia
        3.1.1 Ringan : Tidak terdapat cedera/penyakit, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
        3.1.2 Ringan : Cedera ringan, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
        3.1.3 Sedang : Mendapat P3K atau tindakan medis, tidak ada hilang jam kerja lebih dari 1X24 jam
        3.1.4 Tinggi : Memerlukan tindakan medis lanjut/rujukan, cacat sementara, terdapat jam kerja hilang 1X24 jam
        3.1.5 Tinggi : Cacat permanen, kematian, terdapat jam kerja hilang lebih dari 1X24 jam

        3.2 Aset / alat
        3.2.1 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja kurang dari Rp. 1.000.000
        3.2.2 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.000.000 – Rp. 1.500.000
        3.2.3 Sedang : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.500.000 – Rp. 5.000.000
        3.2.4 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 5.000.000 – Rp. 10.000.000
        3.2.5 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja lebih dari Rp. 10.000.000

        3.3 Lingkungan
        3.3.1 Ringan : Tidak berdampak apa-apa pada lingkungan
        3.3.2 Ringan : Berefek kecil terhadap lingkungan
        3.3.3 Sedang : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka pendek
        3.3.4 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang
        3.3.5 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang

        4. Risiko awal
        4.1 Bahaya Psikososial : Kelelahan atau fatique
        4.2 Bahaya Fisika : Terhirup debu, tertimpa runtuhan material, scaffolding runtuh, tangan tercepit, terjatuh dari scaffolding
        4.3 Bahaya Biologi : Terkena penyakit kulit, diserang hewan
        4.4 Bahaya Kimia : Terhirup material beracun
        4.5 Bahaya Lingkungan : Tersandung

        5. Pengendalian potensi bahaya dengan hierarchy of control
        5.1 Eliminasi : Eliminasi material-material disekitar konstruksi yang tidak penting dengan dibuang atau dipindahkan
        5.2 Subtitusi : Mengganti model scaffolding menjadi scaffolding yang standar, mengganti bahan dari batu bata merah menjadi bata ringan
        5.3 Enginnering : Pada scaffolding dibuat handrail agar pekerja tidak terjatuh, menggunakan bodyharnes
        5.4 Adiministrasi : Dibuat JSA, training untuk pekerjanya, dibuat rambu-rambu
        5.5 APD : Menggunakan sepatu safety, sarung tangan safety, helm safety, masker, kacamata, baju safety

        Nama : Nur Lutfiani
        Kelas : B2
        Semester : V (Lima)
        NPM : 13.11.106.701501.0887

  14. Pekerjaan pemasangan batu bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.

    A. Potensi Bahaya
    − Pekerja yang bisa terjatuh dari perancah.
    − Batu bata yang diletakkan di scaffolding yang bisa jatuh dan bisa melukai para pekerja yang sedang bekerja dibawahnya.
    − Perancah ambruk.
    − Adanya debu-debu yang berada disekitaran area pembangunan atau area pekerja yang dapat mengganggu penglihatan mata atau kesehatan para pekerja.
    − Pakaian para pekerja yang mungkin tidak nyaman saat digunakan karena berkeringat atau adanya bakteri-bakteri dan juga jamur yang disebabkan oleh baju yang tidak diganti.
    − Kemungkinan adanya binatang-binatang yang berbisa seperti ular,kalajengking yang berada pada bongkahan material.
    − Para pekerja yang mungkin saja mengalami fatique dan stress karena kecapean saat bekerja dan mengalami dehidrasi karena lingkungan tempat bekerja yang panas.
    − Banyaknya material yang berhamburan disekitar area kerja.

    B. Pengendaliannya
    − Membut perancah dengan struktur kuat jangan sampai ada pijakan yang berlubang atau sela sela papan perancah yang dapat menyebabkan kaki pekerja terperosok atau tergelincir.
    − Para pekerja memakai masker atau menyiram bagian area pekerja dengan air supaya terhindar dari debu-debu beterbangan pada saat melakukan pekerjaan.
    − Tidak menaruh batu bata di scaffolding atau para pekerja dapat memasang pagar atau penghalang supaya batu bata tidak langsung terjatuh kebawah.
    − Para pekerja harus menjaga kebersihan pakaian yaitu dengan mencuci dan mengganti baju kerjanya.
    − Membersihkan area kerja supaya tidak digigit binatang.
    − Menyediakan air minum ditempat kerja agar tidak dehidrasi dan memberikan para pekerja hari libur agar tidak stress dan tidak selalu fatique.
    − Membersihkan material-material di area kerja untuk mengurangi potensi tersandung,terjepit dan cidera lainnya.
    − Memastikan kaitan atau sambungan yang terdapat diperancah sudah sempurna atau aman dan selalu memastikan memakai perancah yang layak pakai.

    Risk Matriks Pekerjaan 1

    1. Potensi Bahaya
    1.1 Pekerja yang bisa terjatuh dari perancah.
    1.2 Batu bata yang diletakkan di scaffolding yang bisa jatuh dan bisa melukai para pekerja yang sedang bekerja dibawahnya.
    1.3 Perancah ambruk.
    1.4 Adanya debu-debu yang berada disekitaran area pembangunan atau area pekerja yang dapat mengganggu penglihatan mata atau kesehatan para pekerja.
    1.5 Pakaian para pekerja yang mungkin tidak nyaman saat digunakan karena berkeringat atau adanya bakteri-bakteri dan juga jamur yang disebabkan oleh baju yang tidak diganti.
    1.6 Kemungkinan adanya binatang-binatang yang berbisa seperti ular,kalajengking yang berada pada bongkahan material.
    1.7 Para pekerja yang mungkin saja mengalami fatique dan stress karena kecapean saat bekerja dan mengalami dehidrasi karena lingkungan tempat bekerja yang panas.
    1.8 Banyaknya material yang berhamburan disekitar area kerja.

    2. Konsekuensi
    2.1 Pekerja yang bisa terjatuh dari perancah : Sedang
    2.2 Batu bata yang diletakkan di scaffolding yang bisa jatuh dan bisa melukai para pekerja yang sedang bekerja dibawahnya : Sedang
    2.3 Perancah ambruk : Sedang
    2.4 Adanya debu-debu yang berada disekitaran area pembangunan atau area pekerja yang dapat mengganggu penglihatan mata atau kesehatan para pekerja : Sedang
    2.5 Pakaian para pekerja yang mungkin tidak nyaman saat digunakan karena berkeringat atau adanya bakteri-bakteri dan juga jamur yang disebabkan oleh baju yang tidak diganti : Ringan
    2.6 Kemungkinan adanya binatang-binatang yang berbisa seperti ular,kalajengking yang berada pada bongkahan material : Ringan
    2.7 Para pekerja yang mungkin saja mengalami fatique dan stress karena kecapean saat bekerja dan mengalami dehidrasi karena lingkungan tempat bekerja yang panas : Sedang
    2.8 Banyaknya material yang berhamburan disekitar area kerja : Ringan

    3. Deskripsi Konsekuensi
    3.1 Manusia
    3.1.1 Ringan : Tidak terdapat cedera/penyakit, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    3.1.2 Ringan : Cedera ringan, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    3.1.3 Sedang : Mendapat P3K atau tindakan medis, tidak ada hilang jam kerja lebih dari 1X24 jam
    3.1.4 Tinggi : Memerlukan tindakan medis lanjut/rujukan, cacat sementara, terdapat jam kerja hilang 1X24 jam
    3.1.5 Tinggi : Cacat permanen, kematian, terdapat jam kerja hilang lebih dari 1X24 jam

    3.2 Aset / alat
    3.2.1 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja kurang dari Rp. 1.000.000
    3.2.2 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.000.000 – Rp. 1.500.000
    3.2.3 Sedang : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.500.000 – Rp. 5.000.000
    3.2.4 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 5.000.000 – Rp. 10.000.000
    3.2.5 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja lebih dari Rp. 10.000.000

    3.3 Lingkungan
    3.3.1 Ringan : Tidak berdampak apa-apa pada lingkungan
    3.3.2 Ringan : Berefek kecil terhadap lingkungan
    3.3.3 Sedang : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka pendek
    3.3.4 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang
    3.3.5 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang

    4. Risiko awal
    4.1 Bahaya Psikososial : Kelelahan atau fatique
    4.2 Bahaya Fisika : Terhirup debu, tertimpa runtuhan material, scaffolding runtuh, tangan tercepit, terjatuh dari scaffolding
    4.3 Bahaya Biologi : Terkena penyakit kulit, diserang hewan
    4.4 Bahaya Kimia : Terhirup material beracun
    4.5 Bahaya Lingkungan : Tersandung

    5. Pengendalian potensi bahaya dengan hierarchy of control
    5.1 Eliminasi : Eliminasi material-material disekitar konstruksi yang tidak penting dengan dibuang atau dipindahkan
    5.2 Subtitusi : Mengganti model scaffolding menjadi scaffolding yang standar
    5.3 Enginnering : Pada scaffolding dibuat handrail agar pekerja tidak terjatuh
    5.4 Adiministrasi : Dibuat JSA, training untuk pekerjanya, dibuat rambu-rambu
    5.5 APD : Menggunakan sepatu safety, sarung tangan safety, helm safety, masker, kacamata, baju safety

    Risk Matriks Pekerjaan 2

    1. Potensi Bahaya
    1.1 Penggunaan alat crane yang digunakan untuk pembangunan gedung bertingkat diatas 3,00 meter
    1.2 Para pekerja yang mungkin saja mengalami fatique dan stress karena kecapean saat bekerja dan mengalami dehidrasi karena lingkungan tempat bekerja yang panas.
    1.3 Pakaian para pekerja yang mungkin tidak nyaman saat digunakan karena berkeringat atau adanya bakteri-bakteri dan juga jamur yang disebabkan oleh baju yang tidak diganti.
    1.4 Adanya debu-debu yang berada disekitaran area pembangunan atau area pekerja yang dapat mengganggu penglihatan mata atau kesehatan para pekerja.
    1.5 Di area kerja gedung bertingkat yang dapat menyebabkan pekerja bisa terjatuh dari perancah dan bisa menyebabkan fatality.
    1.6 Peralatan kerja atau batu bata yang bisa saja jatuh dari ketinggian yang berbeda dan bisa berbeda juga tingkat resikonya.
    1.7 Perancah ambruk.
    1.8 Banyaknya material yang berhamburan disekitar area kerja.
    1.9 Mobilisasi peralatan dan material yang bolak-balik beraktivitas di sekitar area pembangunan.

    2. Konsekuensi
    2.1 Penggunaan alat crane yang digunakan untuk pembangunan gedung bertingkat diatas 3,00 meter : Tinggi
    2.2 Para pekerja yang mungkin saja mengalami fatique dan stress karena kecapean saat bekerja dan mengalami dehidrasi karena lingkungan tempat bekerja yang panas : Sedang
    2.3 Pakaian para pekerja yang mungkin tidak nyaman saat digunakan karena berkeringat atau adanya bakteri-bakteri dan juga jamur yang disebabkan oleh baju yang tidak diganti : Ringan
    2.4 Adanya debu-debu yang berada disekitaran area pembangunan atau area pekerja yang dapat mengganggu penglihatan mata atau kesehatan para pekerja : Sedang
    2.5 Di area kerja gedung bertingkat yang dapat menyebabkan pekerja bisa terjatuh dari perancah dan bisa menyebabkan fatality : Tinggi
    2.6 Peralatan kerja atau batu bata yang bisa saja jatuh dari ketinggian yang berbeda dan bisa berbeda juga tingkat resikonya : Tinggi
    2.7 Perancah ambruk : Sedang
    2.8 Banyaknya material yang berhamburan disekitar area kerja : Ringan
    2.9 Mobilisasi peralatan dan material yang bolak-balik beraktivitas di sekitar area pembangunan : Sedang

    3.Deskripsi Konsekuensi
    3.1 Manusia
    3.1.1 Ringan : Tidak terdapat cedera/penyakit, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    3.1.2 Ringan : Cedera ringan, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    3.1.3 Sedang : Mendapat P3K atau tindakan medis, tidak ada hilang jam kerja lebih dari 1X24 jam
    3.1.4 Tinggi : Memerlukan tindakan medis lanjut/rujukan, cacat sementara, terdapat jam kerja hilang 1X24 jam
    3.1.5 Tinggi : Cacat permanen, kematian, terdapat jam kerja hilang lebih dari 1X24 jam

    3.2 Aset / alat
    3.2.1 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja kurang dari Rp. 1.000.000
    3.2.2 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.000.000 – Rp. 1.500.000
    3.2.3 Sedang : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.500.000 – Rp. 5.000.000
    3.2.4 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 5.000.000 – Rp. 10.000.000
    3.2.5 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja lebih dari Rp. 10.000.000

    3.3 Lingkungan
    3.3.1 Ringan : Tidak berdampak apa-apa pada lingkungan
    3.3.2 Ringan : Berefek kecil terhadap lingkungan
    3.3.3 Sedang : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka pendek
    3.3.4 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang
    3.3.5 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang

    4. Risiko awal
    4.1 Bahaya Psikososial : Kelelahan atau fatique
    4.2 Bahaya Fisika : Terhirup debu, tertimpa runtuhan material, scaffolding runtuh, tangan tercepit, terjatuh dari scaffolding
    4.3 Bahaya Biologi : Terkena penyakit kulit, diserang hewan
    4.4 Bahaya Kimia : Terhirup material beracun
    4.5 Bahaya Lingkungan : Tersandung

    5. Pengendalian potensi bahaya dengan hierarchy of control
    5.1 Eliminasi : Eliminasi material-material disekitar konstruksi yang tidak penting dengan dibuang atau dipindahkan
    5.2 Subtitusi : Mengganti model scaffolding menjadi scaffolding yang standar, mengganti bahan dari batu bata merah menjadi bata ringan
    5.3 Enginnering : Pada scaffolding dibuat handrail agar pekerja tidak terjatuh, menggunakan bodyharnes
    5.4 Adiministrasi : Dibuat JSA, training untuk pekerjanya, dibuat rambu-rambu
    5.5 APD : Menggunakan sepatu safety, sarung tangan safety, helm safety, masker, kacamata, baju safety

    Nama : Marisa Wulandari Lestaluhu
    Kelas : B2
    Semester : V (Lima)
    NPM : 13.11.106.701501.0919

    • Cantumkan nama jenis pekerjaan ke-1 dan jenis pekerjaan ke-2 pada analisis risk assessment anda, agar mudah dipahami. Lihatlah tugas dari rekan yang lain yang sudah disetujui sebagai acuan. Klik “Reply” dibawah komentar ini untuk memperbaikinya, hal ini agar proses perbaikan yang anda lakukan agar mudah ditelusuri.

      • Risk Matriks Pekerjaan 1

        jenis pekerjaan 1 : pekerjaan pemasangan bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.

        1. Potensi Bahaya
        1.1 Pekerja yang bisa terjatuh dari perancah.
        1.2 Batu bata yang diletakkan di scaffolding yang bisa jatuh dan bisa melukai para pekerja yang sedang bekerja dibawahnya.
        1.3 Perancah ambruk.
        1.4 Adanya debu-debu yang berada disekitaran area pembangunan atau area pekerja yang dapat mengganggu penglihatan mata atau kesehatan para pekerja.
        1.5 Pakaian para pekerja yang mungkin tidak nyaman saat digunakan karena berkeringat atau adanya bakteri-bakteri dan juga jamur yang disebabkan oleh baju yang tidak diganti.
        1.6 Kemungkinan adanya binatang-binatang yang berbisa seperti ular,kalajengking yang berada pada bongkahan material.
        1.7 Para pekerja yang mungkin saja mengalami fatique dan stress karena kecapean saat bekerja dan mengalami dehidrasi karena lingkungan tempat bekerja yang panas.
        1.8 Banyaknya material yang berhamburan disekitar area kerja.

        2. Konsekuensi
        2.1 Pekerja yang bisa terjatuh dari perancah : Sedang
        2.2 Batu bata yang diletakkan di scaffolding yang bisa jatuh dan bisa melukai para pekerja yang sedang bekerja dibawahnya : Sedang
        2.3 Perancah ambruk : Sedang
        2.4 Adanya debu-debu yang berada disekitaran area pembangunan atau area pekerja yang dapat mengganggu penglihatan mata atau kesehatan para pekerja : Sedang
        2.5 Pakaian para pekerja yang mungkin tidak nyaman saat digunakan karena berkeringat atau adanya bakteri-bakteri dan juga jamur yang disebabkan oleh baju yang tidak diganti : Ringan
        2.6 Kemungkinan adanya binatang-binatang yang berbisa seperti ular,kalajengking yang berada pada bongkahan material : Ringan
        2.7 Para pekerja yang mungkin saja mengalami fatique dan stress karena kecapean saat bekerja dan mengalami dehidrasi karena lingkungan tempat bekerja yang panas : Sedang
        2.8 Banyaknya material yang berhamburan disekitar area kerja : Ringan

        3. Deskripsi Konsekuensi
        3.1 Manusia
        3.1.1 Ringan : Tidak terdapat cedera/penyakit, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
        3.1.2 Ringan : Cedera ringan, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
        3.1.3 Sedang : Mendapat P3K atau tindakan medis, tidak ada hilang jam kerja lebih dari 1X24 jam
        3.1.4 Tinggi : Memerlukan tindakan medis lanjut/rujukan, cacat sementara, terdapat jam kerja hilang 1X24 jam
        3.1.5 Tinggi : Cacat permanen, kematian, terdapat jam kerja hilang lebih dari 1X24 jam

        3.2 Aset / alat
        3.2.1 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja kurang dari Rp. 1.000.000
        3.2.2 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.000.000 – Rp. 1.500.000
        3.2.3 Sedang : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.500.000 – Rp. 5.000.000
        3.2.4 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 5.000.000 – Rp. 10.000.000
        3.2.5 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja lebih dari Rp. 10.000.000

        3.3 Lingkungan
        3.3.1 Ringan : Tidak berdampak apa-apa pada lingkungan
        3.3.2 Ringan : Berefek kecil terhadap lingkungan
        3.3.3 Sedang : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka pendek
        3.3.4 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang
        3.3.5 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang

        4. Risiko awal
        4.1 Bahaya Psikososial : Kelelahan atau fatique
        4.2 Bahaya Fisika : Terhirup debu, tertimpa runtuhan material, scaffolding runtuh, tangan tercepit, terjatuh dari scaffolding
        4.3 Bahaya Biologi : Terkena penyakit kulit, diserang hewan
        4.4 Bahaya Kimia : Terhirup material beracun
        4.5 Bahaya Lingkungan : Tersandung

        5. Pengendalian potensi bahaya dengan hierarchy of control
        5.1 Eliminasi : Eliminasi material-material disekitar konstruksi yang tidak penting dengan dibuang atau dipindahkan
        5.2 Subtitusi : Mengganti model scaffolding menjadi scaffolding yang standar
        5.3 Enginnering : Pada scaffolding dibuat handrail agar pekerja tidak terjatuh
        5.4 Adiministrasi : Dibuat JSA, training untuk pekerjanya, dibuat rambu-rambu
        5.5 APD : Menggunakan sepatu safety, sarung tangan safety, helm safety, masker, kacamata, baju safety

        Risk Matriks Pekerjaan 2

        Jenis pekerjaan 2 : pemasangan bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.

        1. Potensi Bahaya
        1.1 Penggunaan alat crane yang digunakan untuk pembangunan gedung bertingkat diatas 3,00 meter
        1.2 Para pekerja yang mungkin saja mengalami fatique dan stress karena kecapean saat bekerja dan mengalami dehidrasi karena lingkungan tempat bekerja yang panas.
        1.3 Pakaian para pekerja yang mungkin tidak nyaman saat digunakan karena berkeringat atau adanya bakteri-bakteri dan juga jamur yang disebabkan oleh baju yang tidak diganti.
        1.4 Adanya debu-debu yang berada disekitaran area pembangunan atau area pekerja yang dapat mengganggu penglihatan mata atau kesehatan para pekerja.
        1.5 Di area kerja gedung bertingkat yang dapat menyebabkan pekerja bisa terjatuh dari perancah dan bisa menyebabkan fatality.
        1.6 Peralatan kerja atau batu bata yang bisa saja jatuh dari ketinggian yang berbeda dan bisa berbeda juga tingkat resikonya.
        1.7 Perancah ambruk.
        1.8 Banyaknya material yang berhamburan disekitar area kerja.
        1.9 Mobilisasi peralatan dan material yang bolak-balik beraktivitas di sekitar area pembangunan.

        2. Konsekuensi
        2.1 Penggunaan alat crane yang digunakan untuk pembangunan gedung bertingkat diatas 3,00 meter : Tinggi
        2.2 Para pekerja yang mungkin saja mengalami fatique dan stress karena kecapean saat bekerja dan mengalami dehidrasi karena lingkungan tempat bekerja yang panas : Sedang
        2.3 Pakaian para pekerja yang mungkin tidak nyaman saat digunakan karena berkeringat atau adanya bakteri-bakteri dan juga jamur yang disebabkan oleh baju yang tidak diganti : Ringan
        2.4 Adanya debu-debu yang berada disekitaran area pembangunan atau area pekerja yang dapat mengganggu penglihatan mata atau kesehatan para pekerja : Sedang
        2.5 Di area kerja gedung bertingkat yang dapat menyebabkan pekerja bisa terjatuh dari perancah dan bisa menyebabkan fatality : Tinggi
        2.6 Peralatan kerja atau batu bata yang bisa saja jatuh dari ketinggian yang berbeda dan bisa berbeda juga tingkat resikonya : Tinggi
        2.7 Perancah ambruk : Sedang
        2.8 Banyaknya material yang berhamburan disekitar area kerja : Ringan
        2.9 Mobilisasi peralatan dan material yang bolak-balik beraktivitas di sekitar area pembangunan : Sedang

        3.Deskripsi Konsekuensi
        3.1 Manusia
        3.1.1 Ringan : Tidak terdapat cedera/penyakit, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
        3.1.2 Ringan : Cedera ringan, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
        3.1.3 Sedang : Mendapat P3K atau tindakan medis, tidak ada hilang jam kerja lebih dari 1X24 jam
        3.1.4 Tinggi : Memerlukan tindakan medis lanjut/rujukan, cacat sementara, terdapat jam kerja hilang 1X24 jam
        3.1.5 Tinggi : Cacat permanen, kematian, terdapat jam kerja hilang lebih dari 1X24 jam

        3.2 Aset / alat
        3.2.1 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja kurang dari Rp. 1.000.000
        3.2.2 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.000.000 – Rp. 1.500.000
        3.2.3 Sedang : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.500.000 – Rp. 5.000.000
        3.2.4 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 5.000.000 – Rp. 10.000.000
        3.2.5 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja lebih dari Rp. 10.000.000

        3.3 Lingkungan
        3.3.1 Ringan : Tidak berdampak apa-apa pada lingkungan
        3.3.2 Ringan : Berefek kecil terhadap lingkungan
        3.3.3 Sedang : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka pendek
        3.3.4 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang
        3.3.5 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang

        4. Risiko awal
        4.1 Bahaya Psikososial : Kelelahan atau fatique
        4.2 Bahaya Fisika : Terhirup debu, tertimpa runtuhan material, scaffolding runtuh, tangan tercepit, terjatuh dari scaffolding
        4.3 Bahaya Biologi : Terkena penyakit kulit, diserang hewan
        4.4 Bahaya Kimia : Terhirup material beracun
        4.5 Bahaya Lingkungan : Tersandung

        5. Pengendalian potensi bahaya dengan hierarchy of control
        5.1 Eliminasi : Eliminasi material-material disekitar konstruksi yang tidak penting dengan dibuang atau dipindahkan
        5.2 Subtitusi : Mengganti model scaffolding menjadi scaffolding yang standar, mengganti bahan dari batu bata merah menjadi bata ringan
        5.3 Enginnering : Pada scaffolding dibuat handrail agar pekerja tidak terjatuh, menggunakan bodyharnes
        5.4 Adiministrasi : Dibuat JSA, training untuk pekerjanya, dibuat rambu-rambu
        5.5 APD : Menggunakan sepatu safety, sarung tangan safety, helm safety, masker, kacamata, baju safety

        Nama : Marisa Wulandari Lestaluhu
        Kelas : B2
        Semester : V (Lima)
        NPM : 13.11.106.701501.0919

  15. (1) Pekerjaan pemasangan batu bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai 3,00 m dari permukaan tanah.
    A. Analisis potensi bahaya
    – Bahaya fisika berupa gravitasi yang dapat menyebabkan pekerja jatuh dari ketinggian.
    – Scaffolding didirikan di atas tanah yang tidak rata dan banyak sisa-sisa material dapat mengakibatkan scaffolding tidak stabil.
    – Tanah yang tidak rata dan banyaknya sisa-sisa material yang berserakan dapat menyebabkan pekerja tersandung, terluka dan cidera lainnya.
    – Batu bata yang diletakan diatas scaffolding bisa saja terjatuh dan melukai pekerja yang ada dibawah.
    – Cuaca yang panas di siang hari saat bekerja dapat mengurangi fokus dan konsentrasi pekerja.
    – Selain cuaca yang panas, debu yang berasal dari proses pembangunan juga dapat mengganggu saluran pernafasan.

    B. Pengendalian potensi bahaya
    – Membuat scaffolding dengan struktur yang kuat dan menutup semua bagian yang kosong sebagai pijakan agar pekerja tidak terperosok serta membuat pekerja lebih nyaman.
    – Sebelum mendirikan scaffolding, bersihkan dulu sisa-sisa material yang berserakan dia area itu agar scaffolding lebih stabil.
    – Membersihkan sisa-sisa material yang tidak terpakai agar pekerja lebih bebas dan nyaman dalam bekerja, serta lebih memudahkan pekerja mengambil bahan dan peralatan yang digunakan untuk pemasangan batu bata.
    – Tidak menaruh material di atas scaffolding karena tempatnya terbatas dan untuk memberi ruang gerak pada pekerja yang memasang batu bata.
    – Memasang terpal diatas bangunan untuk mengurangi paparan langsung panas matahari ke pekerja.
    – Penggunaan masker untuk mengurangi masuknya debu yang mengganggu saluran pernafasan.
    – Seluruh pekerja diwajibkan menggunakan alat pelidung diri standar seperti safety helmet dan safety shoes untuk mengurang cidera.
    – Untuk konstruksi menggunakan batu bata merah sebaiknya tidak dipasang melebihi tinggi 1 m per hari untuk menghindari robohnya dinding karena belum terlalu kuat.

    (2) Pekerjaan pemasangan batu bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian lebih dari 3,00 m dari permukaan tanah.
    A. Analisis potensi bahaya
    – Bahaya fisika berupa gravitasi yang dapat menyebabkan pekerja jatuh dari ketinggian.
    – Scaffolding didirikan di atas tanah yang tidak rata dan banyak sisa-sisa material dapat mengakibatkan scaffolding tidak stabil.
    – Tanah yang tidak rata dan banyaknya sisa-sisa material yang berserakan dapat menyebabkan pekerja tersandung, terluka dan cidera lainnya.
    – Batu bata yang diletakan diatas scaffolding bisa saja terjatuh dan melukai pekerja yang ada dibawah.
    – Cuaca yang panas di siang hari saat bekerja dapat mengurangi fokus dan konsentrasi pekerja.
    – Selain cuaca yang panas, debu yang berasal dari proses pembangunan juga dapat mengganggu saluran pernafasan.
    – Jika pembangunan gedung bertingkat diatas 3 m kemungkinan adanya penggunaan alat berat crane.
    – Mobilisasi peralatan dan material di sekitar area pembangunan gedung yang berlalu lalang.
    – Jika pekerja kejatuhan material dari ketinggian yang berbeda maka berbeda juga tingkat resikonya.

    B. Pengendalian potensi bahaya
    – Membuat scaffolding dengan struktur yang kuat dan menutup semua bagian yang kosong sebagai pijakan agar pekerja tidak terperosok serta membuat pekerja lebih nyaman.
    – Sebelum mendirikan scaffolding, bersihkan dulu sisa-sisa material yang berserakan dia area itu agar scaffolding lebih stabil.
    – Membersihkan sisa-sisa material yang tidak terpakai agar pekerja lebih bebas dan nyaman dalam bekerja, serta lebih memudahkan pekerja mengambil bahan dan peralatan yang digunakan untuk pemasangan batu bata.
    – Tidak menaruh material di atas scaffolding karena tempatnya terbatas dan untuk memberi ruang gerak pada pekerja yang memasang batu bata.
    – Memasang terpal diatas bangunan untuk mengurangi paparan langsung panas matahari ke pekerja.
    – Penggunaan masker untuk mengurangi masuknya debu yang mengganggu saluran pernafasan.
    – Seluruh pekerja diwajibkan menggunakan alat pelidung diri standar seperti safety helmet dan safety shoes untuk mengurang cidera.
    – Untuk konstruksi menggunakan batu bata merah sebaiknya tidak dipasang melebihi tinggi 1 m per hari untuk menghindari robohnya dinding karena belum terlalu kuat.
    – Membuat jalur khusus kendaraan untuk mobilisasi peralatan dan material agar truk atau alat berat lainnya tidak mengenai scaffolding.

    Risk Matriks Pekerjaan 1

    1. Potensi Penyebab Bahaya
    1.1 Bahaya fisika berupa gravitasi yang dapat menyebabkan pekerja jatuh dari ketinggian.
    1.2 Scaffolding didirikan di atas tanah yang tidak rata dan banyak sisa-sisa material dapat mengakibatkan scaffolding tidak stabil.
    1.3 Tanah yang tidak rata dan banyaknya sisa-sisa material yang berserakan dapat menyebabkan pekerja tersandung, terluka dan cidera lainnya.
    1.4 Batu bata yang diletakkan diatas scaffolding bisa saja terjatuh dan melukai pekerja yang ada dibawah.
    1.5 Cuaca yang panas di siang hari saat bekerja dapat mengurangi fokus dan konsentrasi pekerja.
    1.6 Selain cuaca yang panas, debu yang berasal dari proses pembangunan juga dapat mengganggu saluran pernafasan.

    2. Konsekuensi
    2.2 Adanya potensi jatuhnya pekerja dari ketinggian : Tinggi
    2.3 Scaffolding tidak stabil karena didirikan di atas tanah yang tidak rata : Sedang
    2.4 Adanya potensi pekerja tersandung, terjatuh, terluka dan cidera lainnya karena banyak sisa-sisa material yang berserakan : Sedang
    2.5 Adanya potensi pekerja terluka karena tertimpa batu bata yang diletakkan di atas scaffolding : Sedang
    2.6 Berkurangnya fokus dan konsentrasi pekerja karena paparan langsung panas matahari dan menyebabkan pekerja dehidrasi : Sedang
    2.7 Adanya debu yang berasal dari proses pembangunan dapat mengganggu saluran pernafasan : Rendah

    3.Deskripsi Konsekuensi
    3.1 Manusia
    3.1.1 Ringan : Tidak terdapat cedera/penyakit, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    3.1.2 Ringan : Cedera ringan, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    3.1.3 Sedang : Mendapat P3K atau tindakan medis, tidak ada hilang jam kerja lebih dari 1X24 jam
    3.1.4 Tinggi : Memerlukan tindakan medis lanjut/rujukan, cacat sementara, terdapat jam kerja hilang 1X24 jam
    3.1.5 Tinggi : Cacat permanen, kematian, terdapat jam kerja hilang lebih dari 1X24 jam

    3.2 Aset / alat
    3.2.1 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja kurang dari Rp. 1.000.000
    3.2.2 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.000.000 – Rp. 1.500.000
    3.2.3 Sedang : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.500.000 – Rp. 5.000.000
    3.2.4 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 5.000.000 – Rp. 10.000.000
    3.2.5 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja lebih dari Rp. 10.000.000

    3.3 Lingkungan
    3.3.1 Ringan : Tidak berdampak apa-apa pada lingkungan
    3.3.2 Ringan : Berefek kecil terhadap lingkungan
    3.3.3 Sedang : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka pendek
    3.3.4 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang
    3.3.5 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang

    4. Risiko awal
    4.1 Bahaya fisika berupa gravitasi yang dapat menyebabkan pekerja jatuh dari ketinggian.
    4.2 Scaffolding didirikan di atas tanah yang tidak rata dan banyak sisa-sisa material dapat mengakibatkan scaffolding tidak stabil.
    4.3 Tanah yang tidak rata dan banyaknya sisa-sisa material yang berserakan dapat menyebabkan pekerja tersandung, terluka dan cidera lainnya.
    4.4 Batu bata yang diletakkan diatas scaffolding bisa saja terjatuh dan melukai pekerja yang ada dibawah.
    4.5 Cuaca yang panas di siang hari saat bekerja dapat mengurangi fokus dan konsentrasi pekerja.
    4.6 Selain cuaca yang panas, debu yang berasal dari proses pembangunan juga dapat mengganggu saluran pernafasan.

    5. Pengendalian potensi bahaya dengan hierarchy of control
    5.1 Eliminasi : Eliminasi material-material disekitar konstruksi yang tidak penting dengan dibuang atau dipindahkan
    5.2 Subtitusi : Mengganti model scaffolding menjadi scaffolding yang standar
    5.3 Enginnering : Pada scaffolding dibuat handrail agar pekerja tidak terjatuh
    5.4 Adiministrasi : Dibuat JSA, training untuk pekerjanya, dibuat rambu-rambu
    5.5 APD : Menggunakan sepatu safety, sarung tangan safety, helm safety, masker, kacamata, baju safety

    Risk Matriks Pekerjaan 2

    1. Potensi Penyebab Bahaya
    1.1 Bahaya fisika berupa gravitasi yang dapat menyebabkan pekerja jatuh dari ketinggian.
    1.2 Scaffolding didirikan di atas tanah yang tidak rata dan banyak sisa-sisa material dapat mengakibatkan scaffolding tidak stabil.
    1.3 Tanah yang tidak rata dan banyaknya sisa-sisa material yang berserakan dapat menyebabkan pekerja tersandung, terluka dan cidera lainnya.
    1.4 Batu bata yang diletakan diatas scaffolding bisa saja terjatuh dan melukai pekerja yang ada dibawah.
    1.5 Cuaca yang panas di siang hari saat bekerja dapat mengurangi fokus dan konsentrasi pekerja.
    1.6 Selain cuaca yang panas, debu yang berasal dari proses pembangunan juga dapat mengganggu saluran pernafasan.
    1.7 Jika pembangunan gedung bertingkat diatas 3 m kemungkinan adanya penggunaan alat berat crane.
    1.8 Mobilisasi peralatan dan material di sekitar area pembangunan gedung yang berlalu lalang.

    2. Konsekuensi
    2.1 Adanya potensi jatuhnya pekerja dari ketinggian : Tinggi
    2.2 Scaffolding tidak stabil karena didirikan di atas tanah yang tidak rata : Sedang
    2.3 Adanya potensi pekerja tersandung, terjatuh, terluka dan cidera lainnya karena banyak sisa-sisa material yang berserakan : Sedang
    2.4 Adanya potensi pekerja terluka karena tertimpa batu bata yang diletakkan di atas scaffolding : Sedang
    2.5 Berkurangnya fokus dan konsentrasi pekerja karena paparan langsung panas matahari dan menyebabkan pekerja dehidrasi : Sedang
    2.6 Adanya debu yang berasal dari proses pembangunan dapat mengganggu saluran pernafasan : Rendah
    2.7 Potensi kecelakaan crane : Tinggi
    2.8 Mobilisasi peralatan dan materialdi area kerja : Sedang

    3.Deskripsi Konsekuensi
    3.1 Manusia
    3.1.1 Ringan : Tidak terdapat cedera/penyakit, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    3.1.2 Ringan : Cedera ringan, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    3.1.3 Sedang : Mendapat P3K atau tindakan medis, tidak ada hilang jam kerja lebih dari 1X24 jam
    3.1.4 Tinggi : Memerlukan tindakan medis lanjut/rujukan, cacat sementara, terdapat jam kerja hilang 1X24 jam
    3.1.5 Tinggi : Cacat permanen, kematian, terdapat jam kerja hilang lebih dari 1X24 jam

    3.2 Aset / alat
    3.2.1 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja kurang dari Rp. 1.000.000
    3.2.2 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.000.000 – Rp. 1.500.000
    3.2.3 Sedang : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.500.000 – Rp. 5.000.000
    3.2.4 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 5.000.000 – Rp. 10.000.000
    3.2.5 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja lebih dari Rp. 10.000.000

    3.3 Lingkungan
    3.3.1 Ringan : Tidak berdampak apa-apa pada lingkungan
    3.3.2 Ringan : Berefek kecil terhadap lingkungan
    3.3.3 Sedang : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka pendek
    3.3.4 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang
    3.3.5 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang

    4. Risiko awal
    4.1 Bahaya fisika berupa gravitasi yang dapat menyebabkan pekerja jatuh dari ketinggian
    4.2 Scaffolding didirikan di atas tanah yang tidak rata dan banyak sisa-sisa material dapat mengakibatkan scaffolding tidak stabil
    4.3 Tanah yang tidak rata dan banyaknya sisa-sisa material yang berserakan dapat menyebabkan pekerja tersandung, terluka dan cidera lainnya
    4.4 Batu bata yang diletakan diatas scaffolding bisa saja terjatuh dan melukai pekerja yang ada dibawah
    4.5 Cuaca yang panas di siang hari saat bekerja dapat mengurangi fokus dan konsentrasi pekerja
    4.6 Selain cuaca yang panas, debu yang berasal dari proses pembangunan juga dapat mengganggu saluran pernafasan
    4.7 Jika pembangunan gedung bertingkat diatas 3 m kemungkinan adanya penggunaan alat berat crane
    4.8 Mobilisasi peralatan dan material di sekitar area pembangunan gedung yang berlalu lalang

    5. Pengendalian potensi bahaya dengan hierarchy of control
    5.1 Eliminasi : Eliminasi material-material disekitar konstruksi yang tidak penting dengan dibuang atau dipindahkan
    5.2 Subtitusi : Mengganti model scaffolding menjadi scaffolding yang standar, mengganti bahan dari batu bata merah menjadi bata ringan
    5.3 Enginnering : Pada scaffolding dibuat handrail agar pekerja tidak terjatuh, menggunakan bodyharnes
    5.4 Adiministrasi : Dibuat JSA, training untuk pekerjanya, dibuat rambu-rambu
    5.5 APD : Menggunakan sepatu safety, sarung tangan safety, helm safety, masker, kacamata, baju safety

    Nama: Rani Ramadhani
    NPM: 13.11.106.701501.0937
    Kelas: B2
    Semester: V (Lima)

    • Cantumkan nama jenis pekerjaan ke-1 dan jenis pekerjaan ke-2 pada analisis risk assessment anda, agar mudah dipahami. Lihatlah tugas dari rekan yang lain yang sudah disetujui sebagai acuan. Klik “Reply” dibawah komentar ini untuk memperbaikinya, hal ini agar proses perbaikan yang anda lakukan agar mudah ditelusuri.

      • (1) Pekerjaan pemasangan batu bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai 3,00 m dari permukaan tanah.
        A. Analisis potensi bahaya
        – Bahaya fisika berupa gravitasi yang dapat menyebabkan pekerja jatuh dari ketinggian.
        – Scaffolding didirikan di atas tanah yang tidak rata dan banyak sisa-sisa material dapat mengakibatkan scaffolding tidak stabil.
        – Tanah yang tidak rata dan banyaknya sisa-sisa material yang berserakan dapat menyebabkan pekerja tersandung, terluka dan cidera lainnya.
        – Batu bata yang diletakan diatas scaffolding bisa saja terjatuh dan melukai pekerja yang ada dibawah.
        – Cuaca yang panas di siang hari saat bekerja dapat mengurangi fokus dan konsentrasi pekerja.
        – Selain cuaca yang panas, debu yang berasal dari proses pembangunan juga dapat mengganggu saluran pernafasan.

        B. Pengendalian potensi bahaya
        – Membuat scaffolding dengan struktur yang kuat dan menutup semua bagian yang kosong sebagai pijakan agar pekerja tidak terperosok serta membuat pekerja lebih nyaman.
        – Sebelum mendirikan scaffolding, bersihkan dulu sisa-sisa material yang berserakan dia area itu agar scaffolding lebih stabil.
        – Membersihkan sisa-sisa material yang tidak terpakai agar pekerja lebih bebas dan nyaman dalam bekerja, serta lebih memudahkan pekerja mengambil bahan dan peralatan yang digunakan untuk pemasangan batu bata.
        – Tidak menaruh material di atas scaffolding karena tempatnya terbatas dan untuk memberi ruang gerak pada pekerja yang memasang batu bata.
        – Memasang terpal diatas bangunan untuk mengurangi paparan langsung panas matahari ke pekerja.
        – Penggunaan masker untuk mengurangi masuknya debu yang mengganggu saluran pernafasan.
        – Seluruh pekerja diwajibkan menggunakan alat pelidung diri standar seperti safety helmet dan safety shoes untuk mengurang cidera.
        – Untuk konstruksi menggunakan batu bata merah sebaiknya tidak dipasang melebihi tinggi 1 m per hari untuk menghindari robohnya dinding karena belum terlalu kuat.

        (2) Pekerjaan pemasangan batu bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian lebih dari 3,00 m dari permukaan tanah.
        A. Analisis potensi bahaya
        – Bahaya fisika berupa gravitasi yang dapat menyebabkan pekerja jatuh dari ketinggian.
        – Scaffolding didirikan di atas tanah yang tidak rata dan banyak sisa-sisa material dapat mengakibatkan scaffolding tidak stabil.
        – Tanah yang tidak rata dan banyaknya sisa-sisa material yang berserakan dapat menyebabkan pekerja tersandung, terluka dan cidera lainnya.
        – Batu bata yang diletakan diatas scaffolding bisa saja terjatuh dan melukai pekerja yang ada dibawah.
        – Cuaca yang panas di siang hari saat bekerja dapat mengurangi fokus dan konsentrasi pekerja.
        – Selain cuaca yang panas, debu yang berasal dari proses pembangunan juga dapat mengganggu saluran pernafasan.
        – Jika pembangunan gedung bertingkat diatas 3 m kemungkinan adanya penggunaan alat berat crane.
        – Mobilisasi peralatan dan material di sekitar area pembangunan gedung yang berlalu lalang.
        – Jika pekerja kejatuhan material dari ketinggian yang berbeda maka berbeda juga tingkat resikonya.

        B. Pengendalian potensi bahaya
        – Membuat scaffolding dengan struktur yang kuat dan menutup semua bagian yang kosong sebagai pijakan agar pekerja tidak terperosok serta membuat pekerja lebih nyaman.
        – Sebelum mendirikan scaffolding, bersihkan dulu sisa-sisa material yang berserakan dia area itu agar scaffolding lebih stabil.
        – Membersihkan sisa-sisa material yang tidak terpakai agar pekerja lebih bebas dan nyaman dalam bekerja, serta lebih memudahkan pekerja mengambil bahan dan peralatan yang digunakan untuk pemasangan batu bata.
        – Tidak menaruh material di atas scaffolding karena tempatnya terbatas dan untuk memberi ruang gerak pada pekerja yang memasang batu bata.
        – Memasang terpal diatas bangunan untuk mengurangi paparan langsung panas matahari ke pekerja.
        – Penggunaan masker untuk mengurangi masuknya debu yang mengganggu saluran pernafasan.
        – Seluruh pekerja diwajibkan menggunakan alat pelidung diri standar seperti safety helmet dan safety shoes untuk mengurang cidera.
        – Untuk konstruksi menggunakan batu bata merah sebaiknya tidak dipasang melebihi tinggi 1 m per hari untuk menghindari robohnya dinding karena belum terlalu kuat.
        – Membuat jalur khusus kendaraan untuk mobilisasi peralatan dan material agar truk atau alat berat lainnya tidak mengenai scaffolding.

        Risk Matriks Pekerjaan 1
        Pekerjaan pemasangan batu bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai 3,00 m dari permukaan tanah.

        1. Potensi Penyebab Bahaya
        1.1 Bahaya fisika berupa gravitasi yang dapat menyebabkan pekerja jatuh dari ketinggian.
        1.2 Scaffolding didirikan di atas tanah yang tidak rata dan banyak sisa-sisa material dapat mengakibatkan scaffolding tidak stabil.
        1.3 Tanah yang tidak rata dan banyaknya sisa-sisa material yang berserakan dapat menyebabkan pekerja tersandung, terluka dan cidera lainnya.
        1.4 Batu bata yang diletakkan diatas scaffolding bisa saja terjatuh dan melukai pekerja yang ada dibawah.
        1.5 Cuaca yang panas di siang hari saat bekerja dapat mengurangi fokus dan konsentrasi pekerja.
        1.6 Selain cuaca yang panas, debu yang berasal dari proses pembangunan juga dapat mengganggu saluran pernafasan.

        2. Konsekuensi
        2.1 Adanya potensi jatuhnya pekerja dari ketinggian : Tinggi
        2.2 Scaffolding tidak stabil karena didirikan di atas tanah yang tidak rata : Sedang
        2.3 Adanya potensi pekerja tersandung, terjatuh, terluka dan cidera lainnya karena banyak sisa-sisa material yang berserakan : Sedang
        2.4 Adanya potensi pekerja terluka karena tertimpa batu bata yang diletakkan di atas scaffolding : Sedang
        2.5 Berkurangnya fokus dan konsentrasi pekerja karena paparan langsung panas matahari dan menyebabkan pekerja dehidrasi : Sedang
        2.6 Adanya debu yang berasal dari proses pembangunan dapat mengganggu saluran pernafasan : Rendah

        3.Deskripsi Konsekuensi
        3.1 Manusia
        3.1.1 Ringan : Tidak terdapat cedera/penyakit, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
        3.1.2 Ringan : Cedera ringan, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
        3.1.3 Sedang : Mendapat P3K atau tindakan medis, tidak ada hilang jam kerja lebih dari 1X24 jam
        3.1.4 Tinggi : Memerlukan tindakan medis lanjut/rujukan, cacat sementara, terdapat jam kerja hilang 1X24 jam
        3.1.5 Tinggi : Cacat permanen, kematian, terdapat jam kerja hilang lebih dari 1X24 jam

        3.2 Aset / alat
        3.2.1 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja kurang dari Rp. 1.000.000
        3.2.2 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.000.000 – Rp. 1.500.000
        3.2.3 Sedang : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.500.000 – Rp. 5.000.000
        3.2.4 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 5.000.000 – Rp. 10.000.000
        3.2.5 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja lebih dari Rp. 10.000.000

        3.3 Lingkungan
        3.3.1 Ringan : Tidak berdampak apa-apa pada lingkungan
        3.3.2 Ringan : Berefek kecil terhadap lingkungan
        3.3.3 Sedang : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka pendek
        3.3.4 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang
        3.3.5 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang

        4. Risiko awal
        4.1 Bahaya fisika berupa gravitasi yang dapat menyebabkan pekerja jatuh dari ketinggian.
        4.2 Scaffolding didirikan di atas tanah yang tidak rata dan banyak sisa-sisa material dapat mengakibatkan scaffolding tidak stabil.
        4.3 Tanah yang tidak rata dan banyaknya sisa-sisa material yang berserakan dapat menyebabkan pekerja tersandung, terluka dan cidera lainnya.
        4.4 Batu bata yang diletakkan diatas scaffolding bisa saja terjatuh dan melukai pekerja yang ada dibawah.
        4.5 Cuaca yang panas di siang hari saat bekerja dapat mengurangi fokus dan konsentrasi pekerja.
        4.6 Selain cuaca yang panas, debu yang berasal dari proses pembangunan juga dapat mengganggu saluran pernafasan.

        5. Pengendalian potensi bahaya dengan hierarchy of control
        5.1 Eliminasi : Eliminasi material-material disekitar konstruksi yang tidak penting dengan dibuang atau dipindahkan
        5.2 Subtitusi : Mengganti model scaffolding menjadi scaffolding yang standar
        5.3 Enginnering : Pada scaffolding dibuat handrail agar pekerja tidak terjatuh
        5.4 Adiministrasi : Dibuat JSA, training untuk pekerjanya, dibuat rambu-rambu
        5.5 APD : Menggunakan sepatu safety, sarung tangan safety, helm safety, masker, kacamata, baju safety

        Risk Matriks Pekerjaan 2
        Pekerjaan pemasangan batu bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian lebih dari 3,00 m dari permukaan tanah.

        1. Potensi Penyebab Bahaya
        1.1 Bahaya fisika berupa gravitasi yang dapat menyebabkan pekerja jatuh dari ketinggian.
        1.2 Scaffolding didirikan di atas tanah yang tidak rata dan banyak sisa-sisa material dapat mengakibatkan scaffolding tidak stabil.
        1.3 Tanah yang tidak rata dan banyaknya sisa-sisa material yang berserakan dapat menyebabkan pekerja tersandung, terluka dan cidera lainnya.
        1.4 Batu bata yang diletakan diatas scaffolding bisa saja terjatuh dan melukai pekerja yang ada dibawah.
        1.5 Cuaca yang panas di siang hari saat bekerja dapat mengurangi fokus dan konsentrasi pekerja.
        1.6 Selain cuaca yang panas, debu yang berasal dari proses pembangunan juga dapat mengganggu saluran pernafasan.
        1.7 Jika pembangunan gedung bertingkat diatas 3 m kemungkinan adanya penggunaan alat berat crane.
        1.8 Mobilisasi peralatan dan material di sekitar area pembangunan gedung yang berlalu lalang.

        2. Konsekuensi
        2.1 Adanya potensi jatuhnya pekerja dari ketinggian : Tinggi
        2.2 Scaffolding tidak stabil karena didirikan di atas tanah yang tidak rata : Sedang
        2.3 Adanya potensi pekerja tersandung, terjatuh, terluka dan cidera lainnya karena banyak sisa-sisa material yang berserakan : Sedang
        2.4 Adanya potensi pekerja terluka karena tertimpa batu bata yang diletakkan di atas scaffolding : Sedang
        2.5 Berkurangnya fokus dan konsentrasi pekerja karena paparan langsung panas matahari dan menyebabkan pekerja dehidrasi : Sedang
        2.6 Adanya debu yang berasal dari proses pembangunan dapat mengganggu saluran pernafasan : Rendah
        2.7 Potensi kecelakaan crane : Tinggi
        2.8 Mobilisasi peralatan dan materialdi area kerja : Sedang

        3.Deskripsi Konsekuensi
        3.1 Manusia
        3.1.1 Ringan : Tidak terdapat cedera/penyakit, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
        3.1.2 Ringan : Cedera ringan, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
        3.1.3 Sedang : Mendapat P3K atau tindakan medis, tidak ada hilang jam kerja lebih dari 1X24 jam
        3.1.4 Tinggi : Memerlukan tindakan medis lanjut/rujukan, cacat sementara, terdapat jam kerja hilang 1X24 jam
        3.1.5 Tinggi : Cacat permanen, kematian, terdapat jam kerja hilang lebih dari 1X24 jam

        3.2 Aset / alat
        3.2.1 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja kurang dari Rp. 1.000.000
        3.2.2 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.000.000 – Rp. 1.500.000
        3.2.3 Sedang : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.500.000 – Rp. 5.000.000
        3.2.4 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 5.000.000 – Rp. 10.000.000
        3.2.5 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja lebih dari Rp. 10.000.000

        3.3 Lingkungan
        3.3.1 Ringan : Tidak berdampak apa-apa pada lingkungan
        3.3.2 Ringan : Berefek kecil terhadap lingkungan
        3.3.3 Sedang : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka pendek
        3.3.4 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang
        3.3.5 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang

        4. Risiko awal
        4.1 Bahaya fisika berupa gravitasi yang dapat menyebabkan pekerja jatuh dari ketinggian
        4.2 Scaffolding didirikan di atas tanah yang tidak rata dan banyak sisa-sisa material dapat mengakibatkan scaffolding tidak stabil
        4.3 Tanah yang tidak rata dan banyaknya sisa-sisa material yang berserakan dapat menyebabkan pekerja tersandung, terluka dan cidera lainnya
        4.4 Batu bata yang diletakan diatas scaffolding bisa saja terjatuh dan melukai pekerja yang ada dibawah
        4.5 Cuaca yang panas di siang hari saat bekerja dapat mengurangi fokus dan konsentrasi pekerja
        4.6 Selain cuaca yang panas, debu yang berasal dari proses pembangunan juga dapat mengganggu saluran pernafasan
        4.7 Jika pembangunan gedung bertingkat diatas 3 m kemungkinan adanya penggunaan alat berat crane
        4.8 Mobilisasi peralatan dan material di sekitar area pembangunan gedung yang berlalu lalang

        5. Pengendalian potensi bahaya dengan hierarchy of control
        5.1 Eliminasi : Eliminasi material-material disekitar konstruksi yang tidak penting dengan dibuang atau dipindahkan
        5.2 Subtitusi : Mengganti model scaffolding menjadi scaffolding yang standar, mengganti bahan dari batu bata merah menjadi bata ringan
        5.3 Enginnering : Pada scaffolding dibuat handrail agar pekerja tidak terjatuh, menggunakan bodyharnes
        5.4 Adiministrasi : Dibuat JSA, training untuk pekerjanya, dibuat rambu-rambu
        5.5 APD : Menggunakan sepatu safety, sarung tangan safety, helm safety, masker, kacamata, baju safety

        Nama: Rani Ramadhani
        NPM: 13.11.106.701501.0937
        Kelas: B2
        Semester: V (Lima)

  16. 1. Pekerjaan pemasangan bata-bata merahuntuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah :
    1.1 Analisis potensi bahaya
    1.1.1 Bahaya fisika :
    1.1.1.1 Grafitasi : bekerja diketinggian 3,00 meter
    1.1.1.2 Radiasi : paparan sinar matahari
    1.1.1.3 Pergerakan : pergerakan pekerja saat pengambilan dan pemasangan batu bata merah
    1.1.2 Bahaya biologi
    – Bakteri : bakteri yang menempel pada pakaian pekerja dan lingkungan kerja.
    1.1.3 Bahaya kimia : debu
    – Debu : debu yang berasal dari batu bata merah dan bahan bangunan lainnya.
    1.1.4 Bahaya psikososial: fatigue
    – Fatigue : kelelahan mental pekerja
    1.1.5 Bahaya lingkungan :
    – Kemiringan tanah : tanah landasan scaffolding yang digunakan pada saat pemasangan bata

    1.2 Konsekuensi
    1.2.1.1 Bekerja diketinggian = terjatuh
    1.2.1.2 Paparan sinar matahari = tersengat
    1.2.1.3 Pergerakan pekerja saat mengambil material = terjatuh, terjepit
    1.2.2 Pakaian kotor = Terkontaminasi bakteri
    1.2.3 debu = terhirup
    1.2.4 Fatigue = terjatuh, terjepit,
    1.2.5.1 kemiringan tanah = terjatuh
    1.2.5.2 Gangguan binatang = terjatuh

    1.3 Deskripsi konsekuensi
    1.3.1 manusia/safety
    1.3.1.1 pertolongan pertama
    1.3.1.2 perawatan medis
    1.3.1.3 kehilangan waktu kerja tanpa cacat permanen
    1.3.1.4 kehilangan waktu kerja dengan cacat permanen
    1.3.1.5 kematian

    1.3.2 property damage/kerusakan properti
    1.3.2.1 total kerugian kecelakaan kerja kurang dari Rp 1.000.000
    1.3.2.2 total kerugian kecelakaan kerja antara Rp 1.000.000 sampai Rp 2.000.000
    1.3.2.3 total kerugian kecelakaan kerja antara Rp 2.000.000 sampai Rp 5.000.000
    1.3.2.4 total kerugian kecelakaan kerja antara Rp 5.000.000 sampai Rp 10.000.000
    1.3.2.5 total kerugian kecelakaan kerja lebih dari Rp 10.000.000

    1.3.3 lingkungan
    1.3.3.1 Berefek kecil terhadap lingkungan
    1.3.3.2 Berefek sedang terhadap lingkungan ,efek jangka pendek tanpa mempengaruhi ekosistem
    1.3.3.3 Berefek serius terhadap lingkungan ,efek jangka pendek tanpa mempengaruhi ekosistem
    1.3.3.4 Berefek sangat serius dan bersifat jangka panjang yang mempengaruhi fungsi ekosistem
    1.3.3.5 Berefek sangat serius dan bersifat jangka panjang yag mempengaruhi fungsi ekosistem

    1.4 Deskripsi kemungkinan terjadinya konsekuensi (likelehood)
    1.4.1 Tidak mungkin terjadi
    1.4.2 kemungkinan kecil terjadi
    1.4.3 kemungkinan terjadi rata-rata
    1.4.4 kemungkinan besar terjadi
    1.4.5 Pasti terjadi

    1.5 Resiko awal
    1.5.1.1 Significant( konsekuensi = fatality dan likelihood = Pasti terjadi)
    1.5.1.2 High (konsekuensi = perawatan medis dan likelihood = Pasti terjadi)
    1.5.1.3 Significant( konsekuensi = cacat permanen dan likelihood = Pasti terjadi)
    1.5.2 High (konsekuensi = perawatan medis dan likelihood = Pasti terjadi)
    1.5.3 High (konsekuensi = perawatan medis dan likelihood = Pasti terjadi)
    1.5.4 Significant( konsekuensi = cacat permanen dan likelihood = Pasti terjadi)
    1.5.5.1 Significant( konsekuensi = fatality dan likelihood = Pasti terjadi)
    1.5.5.2 Significant( konsekuensi = cacat permanen dan likelihood = Pasti terjadi)

    1.6 Pengendalian Potensi bahaya
    1.6.1 Eliminasi : Hilangkan segala material-material disekitar konstruksi yang tidak dibutuhkan lagi dengan cara dibuang atau di pindahkan ke tempat yang tidak menggangu mobilitas kerja
    1.6.2 Subtitusi : mengganti scaffolding sederhana dengan scaffolding yang memiliki standar SNI atau ISO
    1.6.3 Enginnering : pada scaffolding diberi tambahan pengaman seperti midrail,handrail agar pekerja tidak jatuh
    1.6.4 Administrasi : Buatkan JSA,SOP saat sebelum melakukan pekerjaan,training Semua pekerja tentang bekerja diketinggian, pasang rambu-rambu safety.
    1.6.5 APD : gunakan APD seperti, sepatu safety, baju safety,sarung tangan, masker, helm safety ,dan kacamata.

    1.7 Risiko sisa
    1.7.1.1 medium( konsekuensi = fatality dan likelihood = kemungkinan kecil terjadi)
    1.7.1.2 Low (konsekuensi = perawatan medis dan likelihood = kemungkinan kecil terjadi)
    1.7.1.3 Medium ( konsekuensi = cacat permanen dan likelihood = kemungkinan kecil terjadi)
    1.7.2 low (konsekuensi = perawatan medis dan likelihood = kemungkinan kecil terjadi)
    1.7.3 low (konsekuensi = perawatan medis dan likelihood = kemungkinan kecil terjadi)
    1.7.4 medium ( konsekuensi = cacat permanen dan likelihood = kemungkinan kecil terjadi)
    1.7.5.1 Medium ( konsekuensi = fatality dan likelihood = kemungkinan kecil terjadi)
    1.7.5.2 Medium ( konsekuensi = cacat permanen dan likelihood = kemungkinan kecil terjadi)

    1.8 pengendalian tambahan terhadap bahaya
    Tidak ada

    2.Pekerjaan pemasangan bata-bata merahuntuk perumahan dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah :

    2.1 Analisis potensi bahaya
    2.1.1 Bahaya fisika :
    2.1.1.1 Grafitasi : bekerja diketinggian 3,00 meter
    2.1.1.2 Radiasi : paparan sinar matahari
    2.1.1.3 Pergerakan : pergerakan pekerja saat pengambilan dan pemasangan batu bata merah
    2.1.2 Bahaya biologi
    – Bakteri : bakteri yang menempel pada pakaian pekerja dan lingkungan kerja.
    2.1.3 Bahaya kimia : debu
    – Debu : debu yang berasal dari batu bata merah dan bahan bangunan lainnya.
    2.1.4 Bahaya psikososial: fatigue
    – Fatigue : kelelahan mental pekerja
    2.1.5 Bahaya lingkungan :
    – Kemiringan tanah : tanah landasan scaffolding yang digunakan pada saat pemasangan bata

    2.2 Konsekuensi
    2.2.1.1 Bekerja diketinggian = terjatuh
    2.2.1.2 Paparan sinar matahari = tersengat
    2.2.1.3 Pergerakan pekerja saat mengambil material = terjatuh, terjepit
    2.2.2 Pakaian kotor = Terkontaminasi bakteri
    2.2.3 debu = terhirup
    2.2.4 Fatigue = terjatuh, terjepit,
    2.2.5.1 kemiringan tanah = terjatuh
    2.2.5.2 Gangguan binatang = terjatuh

    2.3 Deskripsi konsekuensi
    2.3.1 manusia/safety
    2.3.1.1 pertolongan pertama
    2.3.1.2 perawatan medis
    2.3.1.3 kehilangan waktu kerja tanpa cacat permanen
    2.3.1.4 kehilangan waktu kerja dengan cacat permanen
    2.3.1.5 kematian

    2.3.2 property damage/kerusakan properti
    2.3.2.1 total kerugian kecelakaan kerja kurang dari Rp 1.000.000
    2.3.2.2 total kerugian kecelakaan kerja antara Rp 1.000.000 sampai Rp 2.000.000
    2.3.2.3 total kerugian kecelakaan kerja antara Rp 2.000.000 sampai Rp 5.000.000
    2.3.2.4 total kerugian kecelakaan kerja antara Rp 5.000.000 sampai Rp 10.000.000
    2.3.2.5 total kerugian kecelakaan kerja lebih dari Rp 10.000.000

    2.3.3 lingkungan
    2.3.3.1 Berefek kecil terhadap lingkungan
    2.3.3.2 Berefek sedang terhadap lingkungan ,efek jangka pendek tanpa mempengaruhi ekosistem
    2.3.3.3 Berefek serius terhadap lingkungan ,efek jangka pendek tanpa mempengaruhi ekosistem
    2.3.3.4 Berefek sangat serius dan bersifat jangka panjang yang mempengaruhi fungsi ekosistem
    2.3.3.5 Berefek sangat serius dan bersifat jangka panjang yag mempengaruhi fungsi ekosistem

    2.4 Deskripsi kemungkinan terjadinya konsekuensi (likelehood)
    2.4.1 Tidak mungkin terjadi
    2.4.2 kemungkinan kecil terjadi
    2.4.3 kemungkinan terjadi rata-rata
    2.4.4 kemungkinan besar terjadi
    2.4.5 Pasti terjadi

    2.5 Resiko awal
    2.5.1.1 Significant( konsekuensi = fatality dan likelihood = Pasti terjadi)
    2.5.1.2 High (konsekuensi = perawatan medis dan likelihood = Pasti terjadi)
    2.5.1.3 Significant( konsekuensi = cacat permanen dan likelihood = Pasti terjadi)
    2.5.2 High (konsekuensi = perawatan medis dan likelihood = Pasti terjadi)
    2.5.3 High (konsekuensi = perawatan medis dan likelihood = Pasti terjadi)
    2.5.4 Significant( konsekuensi = cacat permanen dan likelihood = Pasti terjadi)
    2.5.5.1 Significant( konsekuensi = fatality dan likelihood = Pasti terjadi)
    2.5.5.2 Significant( konsekuensi = cacat permanen dan likelihood = Pasti terjadi)

    2.6 Pengendalian Potensi bahaya
    2.6.1 Eliminasi : Hilangkan segala material-material disekitar konstruksi yang tidak dibutuhkan lagi dengan cara dibuang atau di pindahkan ke tempat yang tidak menggangu mobilitas kerja
    2.6.2 Subtitusi : mengganti scaffolding sederhana dengan scaffolding yang memiliki standar SNI atau ISO
    2.6.3 Enginnering : pada scaffolding diberi tambahan pengaman seperti midrail,handrail agar pekerja tidak jatuh
    2.6.4 Administrasi : Buatkan JSA,SOP saat sebelum melakukan pekerjaan,training Semua pekerja tentang bekerja diketinggian, pasang rambu-rambu safety.
    2.6.5 APD : gunakan APD seperti, sepatu safety, baju safety,sarung tangan, masker, helm safety ,dan kacamata.

    2.7 Risiko sisa setelah diberi controll
    2.7.1.1 medium( konsekuensi = fatality dan likelihood = kemungkinan kecil terjadi)
    2.7.1.2 Low (konsekuensi = perawatan medis dan likelihood = kemungkinan kecil terjadi)
    2.7.1.3 Medium ( konsekuensi = cacat permanen dan likelihood = kemungkinan kecil terjadi)
    2.7.2 low (konsekuensi = perawatan medis dan likelihood = kemungkinan kecil terjadi)
    2.7.3 low (konsekuensi = perawatan medis dan likelihood = kemungkinan kecil terjadi)
    2.7.4 medium ( konsekuensi = cacat permanen dan likelihood = kemungkinan kecil terjadi)
    2.7.5.1 Medium ( konsekuensi = fatality dan likelihood = kemungkinan kecil terjadi)
    2.7.5.2 Medium ( konsekuensi = cacat permanen dan likelihood = kemungkinan kecil terjadi)

    2.8 pengendalian tambahan terhadap bahaya
    Tidak ada

    Nama : Yogi adi Wilantara
    kelas : B2 (sore)
    semester: 5
    NPM : 13.11.106.701501.0912

  17. A. Analisa saya untuk pekerjaan bangunan perumahan dengen tinggi 3 meter :

    1.1. Potensi bahayanya :
    1.1.1. Batu bata yang berserakan di lantai , sangat berpotensi membuat pekerja tersandung .
    1.1.2. Cat walk Platform pada scaffolding hanya menggunakan beberapa papan yang di susun , perkerja berpotensi terperosok .
    1.1.3. Banyak bahan material bangunan di cat walk scaffolding .
    1.1.4. Scaffolding tidak diberi pengaman , sangat berpotensi pekerja terjatuh.

    1.2. Contol bahayanya :
    1.2.1. House keeping , rapikan batu bata yanag berserakan selain agar terlihat tidak berserekan ini membuat pekerja tidak tersandung dan lebih mudah untuk mengambilnya.
    1.2.2. Cat walk di buat penuh menutupi bagian atas scaffolding , bertujan agar pekerja tidak terperosok selain itu dapat mempermudah pekerja menaruh peralatan kerja.
    1.2.3. Beri barricade/pagar pada scaffolding agar potensi pekerja terjatuh berkurang.
    1.2.4. Pakai selalu APD saat bekerja. Helmet, sepatu safety, sarung tangan, kaca mata dan baju lengan panjang.

    B. Analisa untuk pekerjaan banguna bertingkat lebih dari 3 meter diatas permukaan tanah :

    2.1. Potensi bahayanya :
    2.1.1. Scaffloding runtuh karena tumpuan tidak seimbang.
    2.1.1. Pekerja tidak berkompeten untuk bekerja di ketinggian.
    2.1.2. Pekerja terjatuh pada saat bekerja di ketinggian,
    2.1.3. Material bangunan terjatuh ke bawah.
    2.1.4. Cat walk yang hanya menggunakan beberapa papan.

    2.2. Control bahayanya :
    2.2.1. Sebelum digunakan scaffolding wajib di inspeksi terlebuh dahulu oleh scaffolding inspector.
    2.2.2. Beri pelatihan bekerja di ketinggian kedapa semua pekerja yang bekerja di ketinggian.
    2.2.2.1 Full body harness selalu digunakan saat bekerja & selalu dikaitkan pada scaffolding
    2.2.2.2 APD : helmet, safety shoes, sarung tangan selalu di gunakan saat bekerja.
    2.2.3. Toolbox meeting dilakukan sebelum memulai pekerjaan
    2.2.3.1 Beri jaring pada semua bagian scaffolding hingga seluruhnya.
    2.2.4. Cat walk dibuat menutupi seluruh bagian atas scaffolding, agar pekerja tidak terperosok

    Risk Matriks Analisa 1

    1. Konsekuensi
    1.1 Batu bata yang berserakan : Sedang
    1.2 Cat Walk yang tidak standar : Tinggi
    1.3 Material bangunan di cat walk : Tinggi
    1.4 Scaffolding tidak di beri pengaman : Tinggi

    2. Diskripsi Konsekuensi
    2.1 Manusia
    2.1.1 Ringan : Tidak terdapat cedera/penyakit, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    2.1.2 Ringan : Cedera ringan, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    2.1.3 Sedang : Mendapat P3K atau tindakan medis, tidak ada hilang jam kerja lebih dari 1X24 jam
    2.1.4 Tinggi : Memerlukan tindakan medis lanjut/rujukan, cacat sementara, terdapat jam kerja hilang 1X24 jam
    2.1.5 Tinggi : Cacat permanen, kematian, terdapat jam kerja hilang lebih dari 1X24 jam

    2.2 Aset / alat
    2.2.1 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja kurang dari Rp. 1.000.000
    2.2.2 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.000.000 – Rp. 1.500.000
    2.2.3 Sedang : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.500.000 – Rp. 5.000.000
    2.2.4 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 5.000.000 – Rp. 10.000.000
    2.2.5 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja lebih dari Rp. 10.000.000

    2.3 Lingkungan
    2.3.1 Ringan : Tidak berdampak apa-apa pada lingkungan
    2.3.2 Ringan : Berefek kecil terhadap lingkungan
    2.3.3 Sedang : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka pendek
    2.3.4 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang
    2.3.5 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang

    3. Pengendalian potensi bahaya dengan hierarchy of control
    3.1 Eliminasi : Eliminasi material-material disekitar area kerja yang tidak penting dengan dibuang atau di pindahkan
    3.2 Subtitusi : Mengganti cat walk sesuai dengan standar
    3.3 Eliminasi : Eliminasi material-material disekitar area kerja yang tidak penting dengan dibuang atau di pindahkan
    3.4 Engineering : Pada scaffolding dibuat handrail agar pekerja tidak terjatuh
    3.4.1 Administrasi : Buat JSA , rambu-rambu , dan training untuk pekerjanya
    3.4.2 APD : Selalu menggunakan APD saaat bekerja.

    4. Konsekuensi setelah diberikan control
    4.1 Batu bata yang berserakan : Ringan
    4.2 Cat Walk yang tidak standar : Ringan
    4.3 Material bangunan di cat walk : Ringan
    4.4 Scaffolding tidak di beri pengaman : Sedang

    Risk Matriks Analisa 2

    1. Konsekuensi
    1.1 Scaffloding tidak seimbang : Tinggi
    1.2 Pekerja tidak berkompeten : Tinggi
    1.3 Pekerja terjatuh dari ketinggian : Tinggi
    1.4 Cat walk yang tidak standar: Tinggi
    1.5 Material bangunan terjatuh ke bawah : Sedang

    2. Diskripsi Konsekuensi
    2.1 Manusia
    2.1.1 Ringan : Tidak terdapat cedera/penyakit, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    2.1.2 Ringan : Cedera ringan, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    2.1.3 Sedang : Mendapat P3K atau tindakan medis, tidak ada hilang jam kerja lebih dari 1X24 jam
    2.1.4 Tinggi : Memerlukan tindakan medis lanjut/rujukan, cacat sementara, terdapat jam kerja hilang 1X24 jam
    2.1.5 Tinggi : Cacat permanen, kematian, terdapat jam kerja hilang lebih dari 1X24 jam

    2.2 Aset / alat
    2.2.1 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja kurang dari Rp. 1.000.000
    2.2.2 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.000.000 – Rp. 1.500.000
    2.2.3 Sedang : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.500.000 – Rp. 5.000.000
    2.2.4 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 5.000.000 – Rp. 10.000.000
    2.2.5 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja lebih dari Rp. 10.000.000

    2.3 Lingkungan
    2.3.1 Ringan : Tidak berdampak apa-apa pada lingkungan
    2.3.2 Ringan : Berefek kecil terhadap lingkungan
    2.3.3 Sedang : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka pendek
    2.3.4 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang
    2.3.5 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang

    3. Pengendalian potensi bahaya dengan hierarchy of control
    3.1 Administrasi : Inspeksi scaffolding sebelum digunakan
    3.2 Administrasi : Beri pelatihan untuk perkerja tentang cara bekerja di ketinggian
    3.2.1 APD : full body harness dan APD lain selalu digunakan saat bekerja
    3.3 Engineering : Beri handrail pada scaffolding dan jaring pengaman pada seluruh permukaan scaffolding
    3.3.1 Administrasi : Buat JSA tentang bekerja di ketinggian
    3.4 Subtitusi : Mengganti catwalk yang sesuai dengan standar
    3.5 Eliminasi : Sisihkan material yang tidak digunakan di sekitar catwalk

    4. Konsekuensi setelah diberi conrtol
    4.1 Scaffloding tidak seimbang : Sedang
    4.2 Pekerja tidak berkompeten : Ringan
    4.3 Pekerja terjatuh dari ketinggian : Ringan
    4.4 Cat walk yang tidak standar: Ringan
    4.5 Material bangunan terjatuh ke bawah : Ringan

    Nama : Rizky Prayogo
    Npm : 13.11.106.701501.0913
    Kelas : B2 / Sms : V (lima)

    • Perbaiki kembali tulisan Anda, ganti semua kata “Cat Walk” dengan kata “Platform”, karena dalam istilah pekerjaan scaffolding tidak dikenal kata “Cat Walk”. Kata tersebut hanya cocok dipakai pada ajang peragaan busana, bukan untuk pekerjaan scaffolding. Cantumkan nama jenis pekerjaan ke-1 dan jenis pekerjaan ke-2 pada analisis risk assessment anda, agar mudah dipahami. Lihatlah tugas dari rekan yang lain yang sudah disetujui sebagai acuan. Klik “Reply” dibawah komentar ini untuk memperbaikinya, hal ini agar proses perbaikan yang anda lakukan agar mudah ditelusuri.

      • A. Risk Matriks I untuk pekerjaan bangunan perumahan dengen tinggi 3 meter :

        1.1. Potensi bahayanya :
        1.1.1. Batu bata yang berserakan di lantai , sangat berpotensi membuat pekerja tersandung .
        1.1.2. Platform pada scaffolding hanya menggunakan beberapa papan yang di susun , perkerja berpotensi terperosok .
        1.1.3. Banyak bahan material bangunan di platform scaffolding .
        1.1.4. Scaffolding tidak diberi pengaman , sangat berpotensi pekerja terjatuh.

        1.2. Contol bahayanya :
        1.2.1. House keeping , rapikan batu bata yanag berserakan selain agar terlihat tidak berserekan ini membuat pekerja tidak tersandung dan lebih mudah untuk mengambilnya.
        1.2.2. Platform di buat penuh menutupi bagian atas scaffolding , bertujan agar pekerja tidak terperosok selain itu dapat mempermudah pekerja menaruh peralatan kerja.
        1.2.3. Beri barricade/pagar pada scaffolding agar potensi pekerja terjatuh berkurang.
        1.2.4. Pakai selalu APD saat bekerja. Helmet, sepatu safety, sarung tangan, kaca mata dan baju lengan panjang.

        Risk Matriks Analisa 1

        1. Konsekuensi
        1.1 Batu bata yang berserakan : Sedang
        1.2 Platform yang tidak standar : Tinggi
        1.3 Material bangunan di platform : Tinggi
        1.4 Scaffolding tidak di beri pengaman : Tinggi

        2. Diskripsi Konsekuensi
        2.1 Manusia
        2.1.1 Ringan : Tidak terdapat cedera/penyakit, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
        2.1.2 Ringan : Cedera ringan, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
        2.1.3 Sedang : Mendapat P3K atau tindakan medis, tidak ada hilang jam kerja lebih dari 1X24 jam
        2.1.4 Tinggi : Memerlukan tindakan medis lanjut/rujukan, cacat sementara, terdapat jam kerja hilang 1X24 jam
        2.1.5 Tinggi : Cacat permanen, kematian, terdapat jam kerja hilang lebih dari 1X24 jam

        2.2 Aset / alat
        2.2.1 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja kurang dari Rp. 1.000.000
        2.2.2 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.000.000 – Rp. 1.500.000
        2.2.3 Sedang : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.500.000 – Rp. 5.000.000
        2.2.4 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 5.000.000 – Rp. 10.000.000
        2.2.5 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja lebih dari Rp. 10.000.000

        2.3 Lingkungan
        2.3.1 Ringan : Tidak berdampak apa-apa pada lingkungan
        2.3.2 Ringan : Berefek kecil terhadap lingkungan
        2.3.3 Sedang : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka pendek
        2.3.4 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang
        2.3.5 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang

        3. Pengendalian potensi bahaya dengan hierarchy of control
        3.1 Eliminasi : Eliminasi material-material disekitar area kerja yang tidak penting dengan dibuang atau di pindahkan
        3.2 Subtitusi : Mengganti platform sesuai dengan standar
        3.3 Eliminasi : Eliminasi material-material disekitar area kerja yang tidak penting dengan dibuang atau di pindahkan
        3.4 Engineering : Pada scaffolding dibuat handrail agar pekerja tidak terjatuh
        3.4.1 Administrasi : Buat JSA , rambu-rambu , dan training untuk pekerjanya
        3.4.2 APD : Selalu menggunakan APD saaat bekerja.

        4. Konsekuensi setelah diberikan control
        4.1 Batu bata yang berserakan : Ringan
        4.2 Platfrom yang tidak standar : Ringan
        4.3 Material bangunan di platform : Ringan
        4.4 Scaffolding tidak di beri pengaman : Sedang

        B. Risk Matriks II Pekerjaan Banguna Bertingkat Lebih Dari 3 Meter Diatas Permukaan Tanah :

        2.1. Potensi bahayanya :
        2.1.1. Scaffloding runtuh karena tumpuan tidak seimbang.
        2.1.1. Pekerja tidak berkompeten untuk bekerja di ketinggian.
        2.1.2. Pekerja terjatuh pada saat bekerja di ketinggian,
        2.1.3. Material bangunan terjatuh ke bawah.
        2.1.4. Platform yang hanya menggunakan beberapa papan.

        2.2. Control bahayanya :
        2.2.1. Sebelum digunakan scaffolding wajib di inspeksi terlebuh dahulu oleh scaffolding inspector.
        2.2.2. Beri pelatihan bekerja di ketinggian kedapa semua pekerja yang bekerja di ketinggian.
        2.2.2.1 Full body harness selalu digunakan saat bekerja & selalu dikaitkan pada scaffolding
        2.2.2.2 APD : helmet, safety shoes, sarung tangan selalu di gunakan saat bekerja.
        2.2.3. Toolbox meeting dilakukan sebelum memulai pekerjaan
        2.2.3.1 Beri jaring pada semua bagian scaffolding hingga seluruhnya.
        2.2.4. Platform dibuat menutupi seluruh bagian atas scaffolding, agar pekerja tidak terperosok

        Risk Matriks Analisa 2

        1. Konsekuensi
        1.1 Scaffloding tidak seimbang : Tinggi
        1.2 Pekerja tidak berkompeten : Tinggi
        1.3 Pekerja terjatuh dari ketinggian : Tinggi
        1.4 Cat walk yang tidak standar: Tinggi
        1.5 Material bangunan terjatuh ke bawah : Sedang

        2. Diskripsi Konsekuensi
        2.1 Manusia
        2.1.1 Ringan : Tidak terdapat cedera/penyakit, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
        2.1.2 Ringan : Cedera ringan, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
        2.1.3 Sedang : Mendapat P3K atau tindakan medis, tidak ada hilang jam kerja lebih dari 1X24 jam
        2.1.4 Tinggi : Memerlukan tindakan medis lanjut/rujukan, cacat sementara, terdapat jam kerja hilang 1X24 jam
        2.1.5 Tinggi : Cacat permanen, kematian, terdapat jam kerja hilang lebih dari 1X24 jam

        2.2 Aset / alat
        2.2.1 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja kurang dari Rp. 1.000.000
        2.2.2 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.000.000 – Rp. 1.500.000
        2.2.3 Sedang : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.500.000 – Rp. 5.000.000
        2.2.4 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 5.000.000 – Rp. 10.000.000
        2.2.5 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja lebih dari Rp. 10.000.000

        2.3 Lingkungan
        2.3.1 Ringan : Tidak berdampak apa-apa pada lingkungan
        2.3.2 Ringan : Berefek kecil terhadap lingkungan
        2.3.3 Sedang : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka pendek
        2.3.4 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang
        2.3.5 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang

        3. Pengendalian potensi bahaya dengan hierarchy of control
        3.1 Administrasi : Inspeksi scaffolding sebelum digunakan
        3.2 Administrasi : Beri pelatihan untuk perkerja tentang cara bekerja di ketinggian
        3.2.1 APD : full body harness dan APD lain selalu digunakan saat bekerja
        3.3 Engineering : Beri handrail pada scaffolding dan jaring pengaman pada seluruh permukaan scaffolding
        3.3.1 Administrasi : Buat JSA tentang bekerja di ketinggian
        3.4 Subtitusi : Mengganti platform yang sesuai dengan standar
        3.5 Eliminasi : Sisihkan material yang tidak digunakan di sekitar platform

        4. Konsekuensi setelah diberi conrtol
        4.1 Scaffloding tidak seimbang : Sedang
        4.2 Pekerja tidak berkompeten : Ringan
        4.3 Pekerja terjatuh dari ketinggian : Ringan
        4.4 Paltform yang tidak standar: Ringan
        4.5 Material bangunan terjatuh ke bawah : Ringan

        Nama : Rizky Prayogo
        Npm : 13.11.106.701501.0913
        Kelas : B2 / Smt : V (lima)

  18. 1. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.

    1.1. Analisis potensi bahaya
    1.1.1. Permukanaan Tanah yang tidak rata
    1.1.2. Batu bata yang berserakan di lokasi kerja
    1.1.3. Pekerja yang tidak menggunakan sarung tangan
    1.1.4. Suhu udara yang panas
    1.1.5. Scaffolding yang tidak baik pemasangannya
    1.1.6. Jatuh dari ketinggian
    1.1.7. Fatigue yang dapat membuat pekerja bisa pingsan

    1.2. Pengendalian potensi bahaya
    1.2.1. Sebaiknya permukaan yang tidak rata tersebut diratakan terlebih dahulu agar scaffolding tidak goyang
    1.2.2. Bata yang berserakan lebih bai dibersihkan dahulu agar tidak mengganggu akses jalan bagi para pekerja
    1.2.3. Pekerja harus menggunkan sarung tangan sehingga tidak menimbulkan alergi yang di sebabkan oleh semen
    1.2.4. Menggunakan pakaian lengan panjang dan helm agar tidak terpapar sinar matahari secara langsung
    1.2.5. Sebelum mulai bekerja lebih baik memeriksa scaffolding agar tidak terjadi kecelakaan atau bahkan mengganti scaffolding dengan yang lebih baik
    1.2.6. Menggunakan body harness , dipasang plat tambahan di bagian belakang scaffolding
    1.2.7. Pengaturan jam kerja dan jam istirahat dengan baik

    2. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah.

    2.1. Analisi potensi bahaya
    2.1.1. Gangguan cuaca yang tidak bisa diduga
    2.1.2. Jatuh dari ketinggian
    2.1.3. Bahan material yang jatuh dari atas
    2.1.4. Fatigue yang dapat membahayakan bagi pekerja tersebut
    2.1.5. Scaffolding yang tidak baik pemasangannya
    2.1.6. Suhu udara yang panas

    2.2. pengendalian potensi bahaya
    2.2.1. Menghentikan pekerjaan jika cuaca mulai buruk
    2.2.2. Menggunakan body harness dan memasang plat tambahan di belakang scaffolding
    2.2.3. Memasang jaring di sekitar scaffoldingagar bahan material yang jatuh di terlempar jauh dan melukai pekerja yang ada di bawah
    2.2.4. Pengaturan jam kerja yang baik
    2.2.5. Memeriksa scaffolding jika ingin melakukan pekerjaan , pastikan scaffolding terpasang dengan baik dan layak untuk digunakan
    2.2.6. Pekerja menggunakan pakaian lengan panjang dan helm agar tidak terpapar sinar matahari secara langsung

    Risk Matrix analisa 1

    1. Konsekuensi
    1.1 Permukaan tidak rata : Sendang
    1.2 Batu bata yang berserakan : Sedang
    1.3 Tidak menggunakansarung tangan : Sedang
    1.4 Suhu udara yang panas : Sedang
    1.5 Scaffolding yang tidak baik pemasangannya : Tinggi
    1.6 Jatuh dari ketinggian : Tinggi
    1.7 Fatige yang membuat pekerja pingsan : Sedang

    2. Diskripsi Konsekuensi
    2.1 Manusia
    2.1.1 Ringan : Tidak terdapat cedera/penyakit, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    2.1.2 Ringan : Cedera ringan, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    2.1.3 Sedang : Mendapat P3K atau tindakan medis, tidak ada hilang jam kerja lebih dari 1X24 jam
    2.1.4 Tinggi : Memerlukan tindakan medis lanjut/rujukan, cacat sementara, terdapat jam kerja hilang 1X24 jam
    2.1.5 Tinggi : Cacat permanen, kematian, terdapat jam kerja hilang lebih dari 1X24 jam

    2.2 Aset / alat
    2.2.1 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja kurang dari Rp. 1.000.000
    2.2.2 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.000.000 – Rp. 1.500.000
    2.2.3 Sedang : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.500.000 – Rp. 5.000.000
    2.2.4 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 5.000.000 – Rp. 10.000.000
    2.2.5 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja lebih dari Rp. 10.000.000

    2.3 Lingkungan
    2.3.1 Ringan : Tidak berdampak apa-apa pada lingkungan
    2.3.2 Ringan : Berefek kecil terhadap lingkungan
    2.3.3 Sedang : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka pendek
    2.3.4 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang
    2.3.5 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang

    3. Pengendalian potensi bahaya dengan hierarchy of control
    3.1 Eliminasi : Eliminasi material-material disekitar konstruksi yang tidak penting dengan dibuang atau dipindahkan
    3.2 Subtitusi : Mengganti model scaffolding menjadi scaffolding yang standar
    3.3 Enginnering : Pada scaffolding dibuat handrail agar pekerja tidak terjatuh
    3.4 Adiministrasi : Dibuat JSA, training untuk pekerjanya, dibuat rambu-rambu
    3.5 APD : Menggunakan sepatu safety, sarung tangan safety, helm safety, masker, kacamata, baju safety

    4. Konsekuensi setelah diberi control
    4.1 Permukaan tidak rata : Ringan
    4.2 Batu bata yang berserakan : Ringan
    4.3 Tidak menggunakansarung tangan : Ringan
    4.4 Suhu udara yang panas : Ringan
    4.5 Scaffolding yang tidak baik pemasangannya : Sedang
    4.6 Jatuh dari ketinggian : Sedang
    4.7 Fatige yang membuat pekerja pingsan : Ringan

    Risk Matriks Analisa 2

    1. Konsekuensi
    1.1 Gangguan cuaca yang tidak bisa diduga : Sedang
    1.2 Jatuh dari ketinngian : Tinggi
    1.3 Bahan material yang jatuh dari atas : Tinggi
    1.4 Fatigue yang dapat membahayakan bagi pekerja tersebut : Sedang
    1.5 scaffolding yang tidak baik pemasangannya :Tinggi
    1.6 Suhu udara yang panas : Sedang

    2. Diskripsi Konsekuensi
    2.1 Manusia
    2.1.1 Ringan : Tidak terdapat cedera/penyakit, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    2.1.2 Ringan : Cedera ringan, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    2.1.3 Sedang : Mendapat P3K atau tindakan medis, tidak ada hilang jam kerja lebih dari 1X24 jam
    2.1.4 Tinggi : Memerlukan tindakan medis lanjut/rujukan, cacat sementara, terdapat jam kerja hilang 1X24 jam
    2.1.5 Tinggi : Cacat permanen, kematian, terdapat jam kerja hilang lebih dari 1X24 jam

    2.2 Aset / alat
    2.2.1 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja kurang dari Rp. 1.000.000
    2.2.2 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.000.000 – Rp. 1.500.000
    2.2.3 Sedang : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.500.000 – Rp. 5.000.000
    2.2.4 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 5.000.000 – Rp. 10.000.000
    2.2.5 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja lebih dari Rp. 10.000.000

    2.3 Lingkungan
    2.3.1 Ringan : Tidak berdampak apa-apa pada lingkungan
    2.3.2 Ringan : Berefek kecil terhadap lingkungan
    2.3.3 Sedang : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka pendek
    2.3.4 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang
    2.3.5 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang

    3. Penegendalian potensi bahaya dengan hierarchy of control
    3.1 Eliminasi : Eliminasi material-material disekitar konstruksi yang tidak penting dengan dibuang atau dipindahkan
    3.2 Subtitusi : Mengganti model scaffolding menjadi scaffolding yang standar
    3.3 Enginnering : Pada scaffolding dibuat handrail agar pekerja tidak terjatuh
    3.4 Adiministrasi : Dibuat JSA, training untuk pekerjanya, dibuat rambu-rambu
    3.5 APD : Menggunakan sepatu safety, sarung tangan safety, helm safety, masker, kacamata, baju safety

    4. Konsekuensi setelah diberi control
    4.1 Gangguan cuaca yang tidak bisa diduga : Ringan
    4.2 Jatuh dari ketinngian : Sedang
    4.3 Bahan material yang jatuh dari atas : Sedang
    4.4 Fatigue yang dapat membahayakan bagi pekerja tersebut : Ringan
    4.5 scaffolding yang tidak baik pemasangannya :Sedang
    4.6 Suhu udara yang panas : Ringan

    Nama : Ardy Prabowo
    Kelas : B2
    Semester V (Lima)
    NPM : 13.11.106.701501.0895

    • Cantumkan nama jenis pekerjaan ke-1 dan jenis pekerjaan ke-2 pada analisis risk assessment anda, agar mudah dipahami. Lihatlah tugas dari rekan yang lain yang sudah disetujui sebagai acuan. Klik “Reply” dibawah komentar ini untuk memperbaikinya, hal ini agar proses perbaikan yang anda lakukan agar mudah ditelusuri.

      • 1. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.

        1.1. Analisis potensi bahaya
        1.1.1. Permukanaan Tanah yang tidak rata
        1.1.2. Batu bata yang berserakan di lokasi kerja
        1.1.3. Pekerja yang tidak menggunakan sarung tangan
        1.1.4. Suhu udara yang panas
        1.1.5. Scaffolding yang tidak baik pemasangannya
        1.1.6. Jatuh dari ketinggian
        1.1.7. Fatigue yang dapat membuat pekerja bisa pingsan

        1.2. Pengendalian potensi bahaya
        1.2.1. Sebaiknya permukaan yang tidak rata tersebut diratakan terlebih dahulu agar scaffolding tidak goyang
        1.2.2. Bata yang berserakan lebih bai dibersihkan dahulu agar tidak mengganggu akses jalan bagi para pekerja
        1.2.3. Pekerja harus menggunkan sarung tangan sehingga tidak menimbulkan alergi yang di sebabkan oleh semen
        1.2.4. Menggunakan pakaian lengan panjang dan helm agar tidak terpapar sinar matahari secara langsung
        1.2.5. Sebelum mulai bekerja lebih baik memeriksa scaffolding agar tidak terjadi kecelakaan atau bahkan mengganti scaffolding dengan yang lebih baik
        1.2.6. Menggunakan body harness , dipasang plat tambahan di bagian belakang scaffolding
        1.2.7. Pengaturan jam kerja dan jam istirahat dengan baik

        Risk Matrix analisa 1

        1. Konsekuensi
        1.1 Permukaan tidak rata : Sendang
        1.2 Batu bata yang berserakan : Sedang
        1.3 Tidak menggunakansarung tangan : Sedang
        1.4 Suhu udara yang panas : Sedang
        1.5 Scaffolding yang tidak baik pemasangannya : Tinggi
        1.6 Jatuh dari ketinggian : Tinggi
        1.7 Fatige yang membuat pekerja pingsan : Sedang

        2. Diskripsi Konsekuensi
        2.1 Manusia
        2.1.1 Ringan : Tidak terdapat cedera/penyakit, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
        2.1.2 Ringan : Cedera ringan, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
        2.1.3 Sedang : Mendapat P3K atau tindakan medis, tidak ada hilang jam kerja lebih dari 1X24 jam
        2.1.4 Tinggi : Memerlukan tindakan medis lanjut/rujukan, cacat sementara, terdapat jam kerja hilang 1X24 jam
        2.1.5 Tinggi : Cacat permanen, kematian, terdapat jam kerja hilang lebih dari 1X24 jam

        2.2 Aset / alat
        2.2.1 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja kurang dari Rp. 1.000.000
        2.2.2 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.000.000 – Rp. 1.500.000
        2.2.3 Sedang : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.500.000 – Rp. 5.000.000
        2.2.4 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 5.000.000 – Rp. 10.000.000
        2.2.5 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja lebih dari Rp. 10.000.000

        2.3 Lingkungan
        2.3.1 Ringan : Tidak berdampak apa-apa pada lingkungan
        2.3.2 Ringan : Berefek kecil terhadap lingkungan
        2.3.3 Sedang : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka pendek
        2.3.4 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang
        2.3.5 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang

        3. Pengendalian potensi bahaya dengan hierarchy of control
        3.1 Eliminasi : Eliminasi material-material disekitar konstruksi yang tidak penting dengan dibuang atau dipindahkan
        3.2 Subtitusi : Mengganti model scaffolding menjadi scaffolding yang standar
        3.3 Enginnering : Pada scaffolding dibuat handrail agar pekerja tidak terjatuh
        3.4 Adiministrasi : Dibuat JSA, training untuk pekerjanya, dibuat rambu-rambu
        3.5 APD : Menggunakan sepatu safety, sarung tangan safety, helm safety, masker, kacamata, baju safety

        4. Konsekuensi setelah diberi control
        4.1 Permukaan tidak rata : Ringan
        4.2 Batu bata yang berserakan : Ringan
        4.3 Tidak menggunakansarung tangan : Ringan
        4.4 Suhu udara yang panas : Ringan
        4.5 Scaffolding yang tidak baik pemasangannya : Sedang
        4.6 Jatuh dari ketinggian : Sedang
        4.7 Fatige yang membuat pekerja pingsan : Ringan

        2. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah.

        2.1. Analisi potensi bahaya
        2.1.1. Gangguan cuaca yang tidak bisa diduga
        2.1.2. Jatuh dari ketinggian
        2.1.3. Bahan material yang jatuh dari atas
        2.1.4. Fatigue yang dapat membahayakan bagi pekerja tersebut
        2.1.5. Scaffolding yang tidak baik pemasangannya
        2.1.6. Suhu udara yang panas

        2.2. pengendalian potensi bahaya
        2.2.1. Menghentikan pekerjaan jika cuaca mulai buruk
        2.2.2. Menggunakan body harness dan memasang plat tambahan di belakang scaffolding
        2.2.3. Memasang jaring di sekitar scaffoldingagar bahan material yang jatuh di terlempar jauh dan melukai pekerja yang ada di bawah
        2.2.4. Pengaturan jam kerja yang baik
        2.2.5. Memeriksa scaffolding jika ingin melakukan pekerjaan , pastikan scaffolding terpasang dengan baik dan layak untuk digunakan
        2.2.6. Pekerja menggunakan pakaian lengan panjang dan helm agar tidak terpapar sinar matahari secara langsung

        Risk Matriks Analisa 2

        1. Konsekuensi
        1.1 Gangguan cuaca yang tidak bisa diduga : Sedang
        1.2 Jatuh dari ketinngian : Tinggi
        1.3 Bahan material yang jatuh dari atas : Tinggi
        1.4 Fatigue yang dapat membahayakan bagi pekerja tersebut : Sedang
        1.5 scaffolding yang tidak baik pemasangannya :Tinggi
        1.6 Suhu udara yang panas : Sedang

        2. Diskripsi Konsekuensi
        2.1 Manusia
        2.1.1 Ringan : Tidak terdapat cedera/penyakit, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
        2.1.2 Ringan : Cedera ringan, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
        2.1.3 Sedang : Mendapat P3K atau tindakan medis, tidak ada hilang jam kerja lebih dari 1X24 jam
        2.1.4 Tinggi : Memerlukan tindakan medis lanjut/rujukan, cacat sementara, terdapat jam kerja hilang 1X24 jam
        2.1.5 Tinggi : Cacat permanen, kematian, terdapat jam kerja hilang lebih dari 1X24 jam

        2.2 Aset / alat
        2.2.1 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja kurang dari Rp. 1.000.000
        2.2.2 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.000.000 – Rp. 1.500.000
        2.2.3 Sedang : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.500.000 – Rp. 5.000.000
        2.2.4 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 5.000.000 – Rp. 10.000.000
        2.2.5 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja lebih dari Rp. 10.000.000

        2.3 Lingkungan
        2.3.1 Ringan : Tidak berdampak apa-apa pada lingkungan
        2.3.2 Ringan : Berefek kecil terhadap lingkungan
        2.3.3 Sedang : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka pendek
        2.3.4 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang
        2.3.5 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang

        3. Penegendalian potensi bahaya dengan hierarchy of control
        3.1 Eliminasi : Eliminasi material-material disekitar konstruksi yang tidak penting dengan dibuang atau dipindahkan
        3.2 Subtitusi : Mengganti model scaffolding menjadi scaffolding yang standar
        3.3 Enginnering : Pada scaffolding dibuat handrail agar pekerja tidak terjatuh
        3.4 Adiministrasi : Dibuat JSA, training untuk pekerjanya, dibuat rambu-rambu
        3.5 APD : Menggunakan sepatu safety, sarung tangan safety, helm safety, masker, kacamata, baju safety

        4. Konsekuensi setelah diberi control
        4.1 Gangguan cuaca yang tidak bisa diduga : Ringan
        4.2 Jatuh dari ketinngian : Sedang
        4.3 Bahan material yang jatuh dari atas : Sedang
        4.4 Fatigue yang dapat membahayakan bagi pekerja tersebut : Ringan
        4.5 scaffolding yang tidak baik pemasangannya :Sedang
        4.6 Suhu udara yang panas : Ringan

        Nama : Ardy Prabowo
        Kelas : B2
        Semester V (Lima)
        NPM : 13.11.106.701501.0895

  19. Risk Matriks

    Rating :

    Probability
    Sulit terjadi = 1
    Jarang = 2
    Sering = 3
    Sangat sering = 4

    Severity
    Ringan = 1
    Sedang = 2
    Serius = 3
    Sangat serius = 4

    Risk Rating
    1-3 = Low
    4-5 = Medium
    6-7 = High
    8 = Very High

    1. Pekerjaan pemasangan batu bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.
    1.1 Potensi Bahaya
    1.1.1 Bahaya Fisika (Gravitasi jatuh dari ketinggian 3,00 meter, Radiasi paparan Sinar matahari, suhu yang panas).
    1.1.2 Bahaya Kimia (Debu yang terhirup dan iritasi pada mata yang timbul dari pemasangan bata-bata merah).
    1.1.3 Bahaya Biologi (Baju, karena keringat yang dihasilkan menjadi bakteri ketubuh).
    1.1.4 Bahaya Psikososial (Fatigue, pekerjaan tersebut membutuhkan tenaga yang extra. Stress, karena lingkungannya tidak bersih).
    1.1.5 Bahaya Lingkungan (Kemiringan tanah dan banyak bebatuan di pondasi scaffolding,adanya binatang yang menganggu dari tumpukan bata-bata merah).

    1.2 Deskripsi Konsekuensi
    1.2.1 Manusia
    1.2.1.1 Para pekerja terjatuh dari ketinggian 3,00 meter karena scaffolding yang tidak kokoh dan terpapar sinar matahari secara langsung (Lost time injury tanpa cacat permanen).
    1.2.1.2 Para pekerja terhirup debu dan iritasi pada mata yang timbul dari pemasangan bata-bata merah (firs aid case).
    1.2.1.3 Para pekerja terkontaminasi bakteri yang menempel pada pakaian karena debu dan berkeringat (Medical Treatment).
    2.2.1.4 Para pekerja mengalami fatigue dan dehidrasi akibat pekerjaan tersebut serta suhu yang panas. (First Aid Case).
    1.2.1.5 Para pekerja terjatuh dari ketinggian 3,00 meter karena tanah yang tidak rata dan gangguan dari binatang yang ada disekitar (Lost Time Injury tanpa cacat permanen).

    1.2.2 Alat/peralatan
    1.2.2.1 Scaffolding karena tanah yang tidak rata (Poperty Damage).

    1.2.3 Lingkungan
    1.2.3.1 Lingkungan tercemar akibat debu dari bata-bata merah (Minor Effect).

    1.3 Risiko Awal
    1.3.1 Manusia
    1.3.1.1 (Probability = 4, Severity = 3, Risk Rating = 7 High)
    1.3.1.2 (Probability = 3, Severity = 1, Risk Rating = 4 medium)
    1.3.1.3 (Probability = 4, Severity = 1, Risk Rating = 5 medium)
    1.3.1.4 (Probability = 3, Severity = 1, Risk Rating = 4 medium)
    1.3.1.5 (Probability = 4, Severity = 3, Risk Rating = 7 high

    1.3.2 Alat/peralatan
    1.3.2.1 (Probability = 3, Severity = 3, Risk Rating = 6 High)

    1.3.3 Lingkungan
    1.3.3.1 (Probability = 3, Severity = 2, Risk Rating = 5 Medium)

    1.4 Pengendalian Potensi Bahaya
    1.4.1 Manusia
    1.4.1.1 Memakai scaffolding yang aman untuk pekerja agar meminimalisir terjatuhnya pekerja saat memasang bata-bata merah dan memakai papan dan tiang yang lebih kokoh agar aman untuk berpijak, memberikan air minum dan safety helmet untuk mengurangi radiasi suhu panas matahari, membuat JSA untuk para pekerja agar mengetahui tahapan pada saat bekerja.
    1.4.1.2 Selalu menggunakan masker dan safety glasses agar debu tidak terpapar ke hidung dan mata.
    1.4.1.3 Memberikan para pekerja pakaian peganti yang bersih untuk digunakan pada saat bekerja.
    1.4.1.4 Memberikan jam istirahat yang cukup untuk para pekerja dan instruksikan kepada pekerja harus selalu mebersihkan area lingkungan kerja pada saat selesai bekerja.
    1.4.1.5 Menempatkan scaffolding ditempat yang rata dan menyingkirkan bebatuan agar pondasi scaffolding tidak bergoyang serta inspeksi area sekitar kerja agar dapat memastikan area kerja terlindung dari binatang.

    1.4.2 Alat/peralatan
    1.4.2.1 Menaruh scaffolding di permukaan tanah yang rata agar tidak bergoyang dan mampu menahan beban pekerja yang berpijak di atasnya.
    1.4.2.2 Inspeksi scaffolding secara rutin sebelum digunakan pekerja agar dapat meminimalisir ambruknya scaffolding.

    1.4.3 Lingkungan
    1.4.3.1 Membersihkan area lingkungan kerja sehabis bekerja serta merapikan peralatan kerja yang telah habis dipakai.

    1.5 Risiko Sisa
    1.5.1 Manusia
    1.5.1.1 (Probability = 2, Severity = 1, Risk Rating = 3 Low)
    1.5.1.2 (Probability = 2, Severity = 1, Risk Rating = 3 Low)
    1.5.1.3 (Probability = 2, Severity = 1, Risk Rating = 3 Low)
    1.5.1.4 (Probability = 2, Severity = 1, Risk Rating = 3 Low)
    1.5.1.5 (Probability = 2, Severity = 1, Risk Rating = 3 Low)

    1.5.2 Alat/peralatan
    1.5.2.1 (Probability = 1, Severity = 1, Risk Rating = 2 Low)

    1.5.3 Lingkungan
    1.5.3.1 (Probability = 2, Severity = 1, Risk Rating = 3 Low)

    1.6 Pengendalian Tambahan Terhadap Bahaya (bila ada)
    1.6.1 Memberi gajih lebih terhadap pekerja yang taat mengikuti peraturan selama bekerja.
    1.6.2 Memberikan training kepada pekerja.

    2. Pekerjaan pemasangan batu bata merah untuk perumahan dengan ketinggian Gedung di atas 3,00 meter dari permukaan tanah.
    2.1 Potensi Bahaya
    2.1.1 Bahaya Fisika : Gravitasi, potensi fatality lebih besar apabila terjatuh karena bekerja diatas 3;00 meter, Radiasi suhu yang panas karena terpapar dari sinar matahari serta potensi rubuhnya scaffolding lebih besar.
    2.1.2 Bahaya Kimia: Debu dari lingkungan dan bata-bata merah akan terhirup serta terkena mata yang bisa mengakibatkan kesehatan pekerja terganggu.
    2.1.3 Bahaya Biologi: Baju, karena keringat yang dihasilkan menjadi bakteri ketubuh.
    2.1.4 Bahaya Psikososial: Fatigue dan stres karena pekerjaan tersebut membutuhkan tenaga yang extra, mental terganggu lebih besar karena di ketinggian diatas 3,00 meter, serta tekanan dari pimpinan proyek kontruksi.
    2.1.5 Bahaya Lingkungan: Kemiringan tanah, banyak bebatuan di pondasi scaffolding,

    2.2 Deskripsi Konsekuensi
    2.2.1 Manusia
    2.2.1.1 Potensi terjatuh pekerja lebih besar dari ketinggian diatas 3,00 meter karena scaffolding yang tidak kokoh (Lost time injury cacat permanen).
    2.2.1.2 Para pekerja terhirup debu dan iritasi pada mata yang timbul dari pemasangan bata-bata merah (firs aid case).
    2.2.1.3 Para pekerja terkontaminasi bakteri yang menempel pada pakaian karena debu dan berkeringat (Medical Treatment).
    2.2.1.4 Para pekerja mengalami fatigue dan dehidrasi akibat pekerjaan tersebut serta suhu yang panas. (First Aid Case).
    2.2.1.5 Para pekerja terjatuh dari ketinggian diatas 3,00 karena tanah yang tidak rata dan gangguan dari binatang yang ada disekitar (Lost Time Injury cacat permanen).

    2.2.2 Alat/peralatan
    2.4.2.1 Scafolding karena tanah yang tidak rata (Poperty Damage).
    2.4.2.2 Body harnes kemungkinan bisa putus (property damage)

    2.2.3 Lingkungan
    2.2.3.1 Lingkungan tercemar akibat debu dari bata-bata merah (Minor Effect).

    2.3 Risiko Awal
    2.3.1 Manusia
    1.3.1.1 (Probability = 4, Severity = 3, Risk Rating = 7 High)
    1.3.1.2 (Probability = 3, Severity = 1, Risk Rating = 4 medium)
    1.3.1.3 (Probability = 3, Severity = 1, Risk Rating = 4 medium)
    1.3.1.4 (Probability = 4, Severity = 1, Risk Rating = 5 medium)
    1.3.1.5 (Probability = 4, Severity = 3, Risk Rating = 7 high)

    2.3.2 Alat/peralatan
    2.3.2.1 (Probability = 3, Severity = 3, Risk Rating = 6 High)

    2.3.3 Lingkungan
    2.3.3.1 (Probability = 3, Severity = 2, Risk Rating = 5 Medium)

    2.4 Pengendalian Potensi Bahaya
    2.4.1 Manusia
    2.4.1.1 Memastikan para pekerja harus selalu menggunakan body harness dan pastikan inspeksi body harnes masih layak pakai atau tidak, menyarankan agar selalu meggunakan APD seperti safety helmet, safety shoes dan sarung tangan, inspeksi scaffolding sebelum digunakan agar potensi ambruknya scaffolding dapat dihindari, selalu mengadakan safety talk sebelum melakukan pekerjaan.
    2.4.1.2 Selalu menggunakan masker dan safety glasses agar debu tidak terpapar ke hidung dan mata.
    2.4.1.3 Memberikan para pekerja pakaian peganti yang bersih untuk digunakan pada saat bekerja.
    2.4.1.4 Memberikan tempat istirahat sipekerja yang terhindar dari paparan sinar matahari, memberikan pelatihan bagaimana cara bekerja ditempat ketinggian dengan benar dan aman serta hiburan agar pekerja tidak stres
    2.4.1.5 Meratakan tanah yang akan di pakai untuk pondasi scaffolding atau memindahkan scaffiolding ditempat yang rata dan padat agar tidak bergoyang dan mampu menahan beban berat pekerja serta membersihkan area pondasi dari bebatuan fungsinya untuk memudahkan peletakan scafolding.

    2.4.2 Alat/peralatan
    2.4.2.1 Menaruh scaffolding di permukaan tanah yang rata agar tidak bergoyang dan mampu menahan beban pekerja yang berpijak di atasnya.
    2.4.2.2 Inspeksi scaffolding secara rutin sebelum digunakan pekerja agar dapat meminimalisir ambruknya scaffolding.
    2.4.2.3 Inspeksi body harnes secara rutin sebelum digunakan.

    2.4.3 Lingkungan
    2.4.3.1 Membersihkan area lingkungan kerja sehabis bekerja serta merapikan peralatan kerja yang telah habis dipakai.

    2.5 Risiko Sisa
    2.5.1 Manusia
    1.5.1.1 (Probability = 2, Severity = 1, Risk Rating = 3 Low)
    1.5.1.2 (Probability = 2, Severity = 1, Risk Rating = 3 Low)
    1.5.1.3 (Probability = 2, Severity = 1, Risk Rating = 3 Low)
    1.5.1.4 (Probability = 2, Severity = 1, Risk Rating = 3 Low)
    1.5.1.5 (Probability = 2, Severity = 1, Risk Rating = 3 Low)

    2.5.2 Alat/peralatan
    2.5.2.1 (Probability = 1, Severity = 1, Risk Rating = 2 Low)

    2.5.3 Lingkungan
    2.5.3.1 (Probability = 2, Severity = 1, Risk Rating = 3 Low)

    2.6 Pengendalian Tambahan Terhadap Bahaya (bila ada)
    2.6.1 Memberi gajih lebih terhadap pekerja yang bekerja yang taa mengikuti peraturan selama bekerja
    2.6.2 Memberikan training kepada pekerja.

    NAMA : RIZKY SEPTIAN
    NPM : 13.11.106.701501.0897
    KELAS : B2 (MALAM)
    SEMESTER : V

  20. Risk Matrix

    Rating :
    Probability
    Sulit Terjadi = 1
    Jarang Terjadi = 2
    Sering Terjadi = 3

    Severity
    Ringan = 1
    Sedang = 2
    Serius = 3

    Risk Ratting
    1-3 = Rendah
    4 = Sedang
    5-6 = Tinggi

    1. Pekerjaan Pemasangan bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah s.d 3,00 meter dari permukaan tanah.
    1.1 Potensi Penyebab Bahaya (hazard)
    1.1.1 Bahaya Fisika
    1.1.1.1 Bahaya gravitasi di ketinggian 3,00 meter
    1.1.1.2 Bahaya bekerja di ketinggian 3,00 meter
    1.1.1.3 Bata merah yang di letakan di ketinggian 3,00 meter dan bahan/alat bangunan lain
    1.1.1.4 Suhu panas dari terik matahari di siang hari kerja
    1.1.1.5 Bahaya pergerakan pekerja saat memasang bata merah atau menggunakan alat kerja di ketinggian 3,00 m
    1.1.2 Bahaya Lingkungan
    1.1.2.1 Kelembaban tempat kerja
    1.1.2.2 Struktur tanah dan kemiringan yang berpengaruh terhadap alas fondasi scaffolding
    1.1.3 Bahaya Kimia
    1.1.3.1 Bahaya kepulan debu atau kepulan partikel yang terbawa angin dari bahan atau bata merah saat di gunakan
    1.1.4 Bahaya Psikososial
    1.1.4.1 Persaingan antara rekan kerja adanya intimidasi dan rivalisme pengalaman
    1.1.4.2 Tekanan kerja akibat overtime dan permintaan kontrak kerja yang membuat stress pekerja
    1.1.4.3 Kelelahan Pekerja (fatigue)
    1.1.5 Bahaya Mekanik
    1.1.5.1 Tingkat kelelahan alat perancah dalam waktu atau periode yang lama tanpa maintenance
    1.1.5.2 Pergerakan alat Angkut Bata merah baik Katrol atau media transfer bahan ke atas diketinggian 3,00 m
    1.1.6 Bahaya Biologis
    1.1.6.1 Terdapatnya Jamur, bakteri atau kuman di pakaian dari keringat pekerja yang beraktifitas
    1.1.6.2 Adanya mahluk hidup atau serangga seperti semut merah, lebah dan tawon yang membahayakan aktifitas pembangunan

    1.2 Deskripsi Konsekuensi terhadap Manusia, alat/peralatan, dan lingkungan.
    1.2.1 Human (Manusia)
    1.2.1.1 Pekerja terjatuh dari ketinggian 3,00 m akibat kelelahan (overtime) dan lack of control (Lost time injury with Med Treatment)
    1.2.1.2 Pekerja tertimpa bata merah yang terjatuh dari ketinggian 3,00 m (First Aid with Med Treatment)
    1.2.1.3 Pekerja terserang penyakit akibat kotornya areal kerja (LTI or Med Treatment)
    1.2.1.4 Pekerja Kepanasan akibat panas tinggi dari bekerja di siang hari tanpa perlindungan (First Aid)
    1.2.1.5 Pekerja terpeleset akibat kemiringan tanah yang berakibat ke scaffolding runtuh atau bergetar saat kerja ( LTI or First Aid)
    1.2.1.6 Pekerja terjatuh, terjepit dan tertumbuk saat horseplay atau bercanda diatas scaffold ketika mengunakan alat kerja (LTI)
    1.2.1.7 Pekerja menghirup debu dan partikel dari kegiatan bekerja (First Aid)
    1.2.1.8 Pekerja kehilangan kontrol karena gangguan lebah, gigitan semut atau mahluk lainnya yang berakibat jatuh ke bawah (LTI)
    1.2.1.9 Pekerja Berkelahi karena Rivalisme skill atau pengalaman (First Aid)
    1.2.2 Peralatan dan Alat
    1.2.2.1 Roboh dan Rusaknya Perancah scaffolding akibat struktur dan kemiringan tanah yang unstable (Property Demage)
    1.2.3 Lingkungan (Environment)
    1.2.3.1 Tercemarnya Lingkungan kerja akibat debu yang berterbangan dan partikel serpihan dari kegiatan kerja (Minor Effect)

    1.3 Resiko Awal
    1.3.1 Human (manusia)
    1.3.1.1 Probability = 3 Severity = 2 Risk Rating = 5 (Tinggi)
    1.3.1.2 Probability = 2 Severity = 2 Risk Rating = 4 (Sedang)
    1.3.1.3 Probability = 2 Severity = 2 Risk Rating = 4 (Sedang)
    1.3.1.4 Probability = 2 Severity = 2 Risk Rating = 4 (Sedang)
    1.3.1.5 Probability = 3 Severity = 2 Risk Rating = 5 (Tinggi)
    1.3.1.6 Probability = 1 Severity = 2 Risk Rating = 3 (Rendah)
    1.3.1.7 Probability = 2 Severity = 2 Risk Rating = 4 (Sedang)
    1.3.1.8 Probability = 2 Severity = 2 Risk Rating = 4 (Sedang)
    1.3.1.9 Probability = 1 Severity = 2 Risk Rating = 3 (Rendah)
    1.3.2 Peralatan dan Alat
    1.3.2.1 Probability = 3 Severity = 2 Risk Rating = 5 (Tinggi)
    1.3.3 Lingkungan
    1.3.3.1 Probability = 2 Severity = 1 Risk Rating = 3 (Sedang)

    1.4 Pengendalian Bahaya (Hirarchy of Control)
    1.4.1 Human (manusia)
    1.4.1.1 Subtitusi Bahan bangunan yang ramah lingkungan dan memiliki resiko yang minim terhadap manusia
    1.4.1.2 Pemasangan Platform yang rapat tanpa celah yang dapat membahayakan pekerja saat melangkah
    1.4.1.3 Pemasangan Fall Arest pada pekerja agar tidak terjatuh secara langsung dan toe board tempat penahan dan berpijak yang aman.
    1.4.1.4 Pemasangan Tenda berteduh dan beristirahat dari kerja yang padat dan panas
    1.4.1.5 Pengamanan Areal kerja melalui check areal kerja dan tinjauan observasi keamanan Work permit
    1.4.1.6 Penghimbauan Bagi Pekerja agar membersihkan diri dan menjaga pakaian tetap Bersih
    1.4.1.7 Penyediaan tempat break time, agar pekerja dapat bersantai sejenak sambil memulihkan kejenuhan
    1.4.1.8 Pengecekan Apd dan Pengawasan kerja di ketinggian
    1.4.1.9 Mengadopsi sistem kerja Rotasi agar tidak banyak pekerja yang collapse
    1.4.1.10 Memberikan Training bagi Karyawan mengenai bahaya dan tips bekerja diketinggian
    1.4.1.11 Mengarahkan Toolbox meeting dan Safety talk sebelum bekerja
    1.4.1.12 Membuat SOP dan JSA dari Pemasangan bata merah di ketinggian, serta persyaratan bekerja di ketinggian bagi keryawan.
    1.4.1.13 Memberikan PPE yang sesuai dan tepat bagi pekerja diketinggian seperti full body harness, Safety Helm-Gloves-Shoe-Glasses-Masker
    1.4.2 Peralatan dan Alat
    1.4.2.1 Subtitusi Perancah Scaffolding dengan Gondola
    1.4.2.2 Pemasangan Katrol dengan stoper untuk angkutan bata ke atas platform scaffolding
    1.4.2.3 Pemasangan Hand Rail dan Mid Rail pada Scaffolding
    1.4.2.4 Inspeksi Scaffolding berkala
    1.4.2.5 Penempatan Scaffold di landasan keras dengan trigger yang kokoh
    1.4.2.6 Penyimpanan alat dan peralatan di tempat tool box agar tidak berserakan
    1.4.3 Lingkungan (Environment)
    1.4.3.1 Pengadaan Penghalang atau Barikade sekitar area kerja agar debu atau partikel tidak menyebar kearah lain selain areal kerja.

    1.5 Resiko Sisa
    1.5.1 Human (Manusia)
    1.5.1.1 Probability = 1 Severity = 2 Risk Rating = 3 (Rendah)
    1.5.1.2 Probability = 2 Severity = 1 Risk Rating = 3 (Rendah)
    1.5.1.3 Probability = 2 Severity = 1 Risk Rating = 3 (Rendah)
    1.5.1.4 Probability = 2 Severity = 1 Risk Rating = 3 (Rendah)
    1.5.1.5 Probability = 1 Severity = 2 Risk Rating = 3 (Rendah)
    1.5.1.6 Probability = 1 Severity = 1 Risk Rating = 2 (Rendah)
    1.5.1.7 Probability = 1 Severity = 2 Risk Rating = 3 (Rendah)
    1.5.1.8 Probability = 1 Severity = 2 Risk Rating = 3 (Rendah)
    1.5.1.9 Probability = 1 Severity = 2 Risk Rating = 3 (Rendah)
    1.5.2 Peralatan dan Alat
    1.5.2.1 Probability = 1 Severity = 2 Risk Rating = 3 (Rendah)
    1.5.3 Lingkungan (Environment)
    1.5.2.2 Probability = 1 Severity = 2 Risk Rating = 3 (Rendah)

    1.6 Pengendalian Tambahan terhadap bahaya (bila ada)
    1.6.1 Penambahan Safety sign pada setiap areal kerja mengenai keselamatan di ketinggian atau konstruksi
    1.6.2 Penambahan ERP (emergency respon plan)
    1.6.3 Reward and Archivement Status bagi yang bekerja tanpa LTI dan punishment bagi pelanggar

    2. Pekerjaan Pemasangan bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 m dari permukaan tanah
    2.1 Potensi Bahaya
    2.1.1 Bahaya Fisika
    2.1.1.1 Bahaya gravitasi di ketinggian konstruksi gedung diatas 3,00 meter
    2.1.1.2 Bahaya bekerja di ketinggian konstruksi gedung diatas 3,00 meter
    2.1.1.3 Bata merah yang di letakan diatas ketinggian 3,00 meter dan bahan/alat bangunan lain pada platform
    2.1.1.4 Suhu panas dari terik matahari di siang hari kerja
    2.1.1.5 Bahaya pergerakan pekerja saat memasang bata merah atau menggunakan alat kerja diatas ketinggian 3,00 m
    2.1.2 Bahaya Lingkungan
    2.1.2.1 Kelembaban tempat kerja
    2.1.2.2 Struktur tanah dan kemiringan yang berpengaruh terhadap alas fondasi scaffolding
    2.1.3 Bahaya Kimia
    2.1.3.1 Bahaya kepulan debu atau kepulan partikel yang terbawa angin dari bahan atau bata merah saat di gunakan
    2.1.4 Bahaya Psikososial
    2.1.4.1 Persaingan antara rekan kerja adanya intimidasi dan rivalisme pengalaman
    2.1.4.2 Tekanan kerja akibat overtime dan permintaan kontrak kerja yang membuat stress pekerja
    2.1.4.3 Kelelahan Pekerja (fatigue)
    2.1.5 Bahaya Mekanik
    2.1.5.1 Tingkat kelelahan alat perancah dalam waktu atau periode yang lama tanpa maintenance
    2.1.5.2 Pergerakan alat Angkut Bata merah baik Katrol atau media transfer bahan ke atas diketinggian 3,00 m
    2.1.5.3 Pergerakan getaran Ready Mix Pump Truk molen (beton cor) Ke atas Platform diatas ketinggian 3,00 m
    2.1.6 Bahaya Biologis
    2.1.6.1 Terdapatnya Jamur, bakteri atau kuman di pakaian dari keringat pekerja yang beraktifitas
    2.1.6.2 Adanya mahluk hidup atau serangga seperti semut merah, lebah dan tawon yang membahayakan aktifitas pembangunan

    2.2 Deskripsi Konsekuensi
    2.2.1 Human (Manusia)
    2.2.1.1 Pekerja terjatuh dari ketinggian diatas 3,00 m akibat kelelahan (overtime) dan lack of control (Lost time injury with Med Treatment)
    2.2.1.2 Pekerja tertimpa bata merah yang terjatuh dari ketinggian diatas 3,00 m (First Aid with Med Treatment)
    2.2.1.3 Pekerja terserang penyakit akibat kotornya areal kerja (LTI or Med Treatment)
    2.2.1.4 Pekerja Kepanasan akibat panas tinggi dari bekerja di siang hari tanpa perlindungan (First Aid)
    2.2.1.5 Pekerja terpeleset akibat kemiringan tanah yang berakibat ke scaffolding runtuh atau bergetar saat kerja ( LTI or First Aid)
    2.2.1.6 Pekerja terjatuh, terjepit dan tertumbuk saat horseplay atau bercanda diatas scaffold ketika mengunakan alat kerja (LTI)
    2.2.1.7 Pekerja menghirup debu dan partikel dari kegiatan bekerja (First Aid)
    2.2.1.8 Pekerja kehilangan kontrol karena gangguan lebah, gigitan semut atau mahluk lainnya yang berakibat jatuh ke bawah (LTI)
    2.2.1.9 Pekerja Berkelahi karena Rivalisme skill atau pengalaman (First Aid)
    2.2.2 Peralatan dan Alat
    2.2.2.1 Roboh dan Rusaknya Perancah scaffolding akibat struktur dan kemiringan tanah yang unstable (Property Demage)
    2.2.3 Lingkungan (Environment)
    2.2.3.1 Tercemarnya Lingkungan kerja akibat debu yang berterbangan dan partikel serpihan dari kegiatan kerja (Minor Effect)

    2.3 Resiko Awal
    2.3.1 Human (manusia)
    2.3.1.1 Probability = 2 Severity = 4 Risk Rating = 5 (Tinggi)
    2.3.1.2 Probability = 3 Severity = 1 Risk Rating = 4 (Sedang)
    2.3.1.3 Probability = 2 Severity = 2 Risk Rating = 4 (Sedang)
    2.3.1.4 Probability = 2 Severity = 2 Risk Rating = 4 (Sedang)
    2.3.1.5 Probability = 3 Severity = 2 Risk Rating = 5 (Tinggi)
    2.3.1.6 Probability = 1 Severity = 2 Risk Rating = 3 (Rendah)
    2.3.1.7 Probability = 2 Severity = 2 Risk Rating = 4 (Sedang)
    2.3.1.8 Probability = 2 Severity = 2 Risk Rating = 4 (Sedang)
    2.3.1.9 Probability = 2 Severity = 1 Risk Rating = 3 (Rendah)
    2.3.2 Peralatan dan Alat
    2.3.2.1 Probability = 3 Severity = 2 Risk Rating = 5 (Tinggi)
    2.3.3 Lingkungan
    2.3.3.1 Probability = 2 Severity = 1 Risk Rating = 3 (Sedang)

    2.4 Pengendalian Bahaya (Hirarchy of Control)
    2.4.1 Human (manusia)
    2.4.1.1 Subtitusi Bahan bangunan yang ramah lingkungan dan memiliki resiko yang minim terhadap manusia
    2.4.1.2 Pemasangan Platform yang rapat tanpa celah yang dapat membahayakan pekerja saat melangkah
    2.4.1.3 Pemasangan Fall Arest dan Net pada pekerja agar tidak terjatuh secara langsung dan toe board tempat penahan dan berpijak yang aman.
    2.4.1.4 Pemasangan Tenda berteduh dan beristirahat dari kerja yang padat dan panas
    2.4.1.5 Pengamanan Areal kerja melalui check areal kerja dan tinjauan observasi keamanan Work permit
    2.4.1.6 Penghimbauan Bagi Pekerja agar membersihkan diri dan menjaga pakaian tetap Bersih setiap masuk kerja
    2.4.1.7 Penyediaan tempat break time, agar pekerja dapat bersantai sejenak sambil memulihkan kejenuhan
    2.4.1.8 Pengecekan Apd dan Pengawasan kerja di ketinggian
    2.4.1.9 Mengadopsi sistem kerja Rotasi agar tidak banyak pekerja yang collapse
    2.4.1.10 Memberikan Training bagi Karyawan mengenai bahaya dan tips bekerja diketinggian
    2.4.1.11 Mengarahkan Toolbox meeting dan Safety talk sebelum bekerja
    2.4.1.12 Membuat SOP dan JSA dari Pemasangan bata merah di ketinggian, serta persyaratan bekerja di ketinggian bagi keryawan.
    2.4.1.13 Memberikan PPE yang sesuai dan tepat bagi pekerja diketinggian seperti full body harness, Safety Helm-Gloves-Shoe-Glasses-Masker
    2.4.2 Peralatan dan Alat
    2.4.2.1 Subtitusi Perancah Scaffolding dengan Gondola
    2.4.2.2 Pemasangan Katrol dengan stoper untuk angkutan bata ke atas platform scaffolding
    2.4.2.3 Pemasangan Hand Rail dan Mid Rail pada Scaffolding
    2.4.2.4 Inspeksi Scaffolding berkala
    2.4.2.5 Penempatan Scaffold di landasan keras dengan trigger yang kokoh
    2.4.2.6 Penyimpanan alat dan peralatan di tempat tool box agar tidak berserakan
    2.4.3 Lingkungan (Environment)
    2.4.3.1 Pengadaan Penghalang atau Barikade sekitar area kerja agar debu atau partikel tidak menyebar kearah lain selain areal kerja.

    2.5 Resiko Sisa
    2.5.1 Human (Manusia)
    2.5.1.1 Probability = 1 Severity = 2 Risk Rating = 3 (Rendah)
    2.5.1.2 Probability = 1 Severity = 1 Risk Rating = 2 (Rendah)
    2.5.1.3 Probability = 1 Severity = 1 Risk Rating = 2 (Rendah)
    2.5.1.4 Probability = 2 Severity = 1 Risk Rating = 3 (Rendah)
    2.5.1.5 Probability = 2 Severity = 1 Risk Rating = 3 (Rendah)
    2.5.1.6 Probability = 1 Severity = 1 Risk Rating = 2 (Rendah)
    2.5.1.7 Probability = 2 Severity = 1 Risk Rating = 3 (Rendah)
    2.5.1.8 Probability = 1 Severity = 2 Risk Rating = 3 (Rendah)
    2.5.1.9 Probability = 1 Severity = 1 Risk Rating = 2 (Rendah)
    2.5.2 Peralatan dan Alat
    2.5.2.1 Probability = 1 Severity = 1 Risk Rating = 2 (Rendah)
    2.5.3 Lingkungan (Environment)
    2.5.2.2 Probability = 1 Severity = 1 Risk Rating = 2 (Rendah)

    2.6 Pengendalian Tambahan terhadap bahaya (bila ada)
    2.6.1 Penambahan Safety sign pada setiap areal kerja mengenai keselamatan di ketinggian atau konstruksi
    2.6.2 Penambahan ERP (emergency respon plan)
    2.6.3 Reward and Archivement Status bagi yang bekerja tanpa LTI dan punishment bagi pelanggar

    Nama : Roynando Silitonga
    Kelas : b2 malam / Npm : 13.11.106.7010501.0921
    Semester 5

  21. Tugas 4
    1. Pekerjaan pemasangan bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah

    1.1. Potensi penyebab bahaya
    1.1.1. Bekerja pada ketinggian 3,00 meter yang melebihi 1,8 meter dari permukaan tanah
    1.1.2. Debu yang berterbangan di area bekerja
    1.1.3. Cuaca yang tidak menentu dan berubah-ubah suhunya dapat mengganggu kesehatan bagi para pekerjanya
    1.1.4. Material dan area sekitar proyek pengerjaan tidak Ringkas, Rapi, Resik, Rawat dan Rajin (5R)
    1.1.5. Pekerja tidak menggunakan APD yang kurang lengkap
    1.1.6. Posisi para pekerja tidak ergonomis

    1.2. Deskripsi konsekuensi terhadap manusia, alat/peralatan, lingkungan
    1.2.1. Risiko bekerja pada ketinggian yang melebihi 1,8 meter akan beresiko terjatuh, patah tulang, dan tidak kemungkinan akan cacat total.
    1.2.2. Risiko dari debu yaitu dapat mengganggu kesehatan antara lain pernapasan, dan penglihatan
    1.2.3. Cuaca yang tidak menentu dapat berisiko menghambat pekerjaan pada proyek tersebut
    1.2.4. Material yang berantakan di area proyek dapat menghambat jalannya para pekerja,
    1.2.5. Konsekuensi pekerja yang tidak menggunakan APD dapat terkena paparan bahan material yang dapat berisiko seperti tertimpa bahan material
    1.2.6. Posisi pekerja yang tidak ergonomis dapat berisiko terkena penyakit Muskuloskeletal Disorder

    1.3. Risiko awal
    1.3.1. Bekerja pada ketinggian 3,00 meter yang melebihi 1,8 meter dari permukaan tanah: LTI dengan cacat permanen (2) x kemungkinan terjadi rata-rata (c) = High risk
    1.3.2. Debu yang berterbangan di area bekerja: medical treatment (4) x kemungkinan besar terjadi (D) = Medium risk
    1.3.3. Cuaca yang tidak menentu: Medical treatment (4) x kemungkinan terjadi rata-rata (C) = Medium risk
    1.3.4. Material tidak 5R: LTI taPA cacat permanen (3) x kemungkinan terjadi rata-rata (C) = Medium Risk
    1.3.5. Pekerja tidak menggunakan APD yang tidak lengkap: LTI dengan cacat permanen (2) x kemungkinan besar terjadi (D)= High risk
    1.3.6. Posisi pekerja tidak ergonomis: medical treatment (4) x kemungkinan terjadi rata-rata (C) = Medium Risk

    1.4. Pengendalian potensi bahaya
    1.4.1. Bekerja pada ketinggian 3,00
    1.4.1.1. Training= diberi pelatihan/pembelajaran pada pekerja yang bekerja diketinggian melebihi 1,8 meter dari permukaan tanah
    1.4.1.2. APD= memakai Alat Pelindung Diri (APD) yang lengkap bagi para pekerja seperti sepatu safety, sarung tangan dan body harness)

    1.4.2. Debu di area bekerja
    1.4.2.1. Training= diberi pelatihan/pembelajaran pada para pekerja
    1.4.2.2. APD= memakai Alat Pelindung Diri (APD) yang lengkap bagi para pekerja seperti ( masker dan kacamata)

    1.4.3. Cuaca yang tidak menentu
    1.4.3.1. Administrasi= melakukan pengaturan administrasi (shift kerja, SOP, JSA) untuk menurunkan resiko dari bahaya

    1.4.4. Material di area proyek yang tidak 5R
    1.4.4.1. Isolasi= menjauhkan sumber bahaya, seperti material dan sampah-sampah yang berantakan di area jalannya para pekerja
    1.4.4.2. APD= memakai Alat Pelindung Diri bagi para pekerja seperti sepatu safety dan sarung tangan

    1.4.5. APD yang tidak lengkap
    1.4.5.1. Isolasi= menjauhkan sumber bahaya seperti benda-benda tajam maupun tumpul yang berada disekitar pekerja
    1.4.5.2. Training= diberi pelatihan/pembelajaran bagi para pekerja agar pekerja memahami pentingnya bekerja dalam keadaan yang aman
    1.4.5.3. APD= Memakai Alat Pelindung Diri (APD) yang lengkap, seperti ( sarung tangan, kacamata, masker dan body harness)

    1.4.6. Posisi bekerja tidak ergonomis
    1.4.6.1. Administrasi: melakukan peraturan SOP dan JSA yang sesuai dengan standar posisi bekerja pada ketinggian
    1.4.6.2. Training= diberi pelatihan posisi bekerja yang benar kepada para pekerja sebelum melakukan pekerjaan

    1.5. Risiko sisa
    1.5.1. Bekerja pada ketinggian 3,00 meter= medical treatment (4) x kemungkinan kecil terjadi (B) = Low risk
    1.5.2. Debu di area bekerja= First aid case (5) x kemungkinan kecil terjadi (B)= Low risk
    1.5.3. Cuaca yang tidak menentu= medical treatment (4) x kemungkinan kecil terjadi (B)= Low risk
    1.5.4. Material di area proyek yang tidak 5R= Medical treatment (4) x kemungkinan kecil terjadi (B) = Low risk
    1.5.5. APD yang tidak lengkap= medical treatment (4) x kemungkinan terjadi rata-rata (C) = Medium risk
    1.5.6. Posisi bekerja tidak ergonomis= Medical treatment (4) x kemungkinan kecil terjadi (B) = Low risk

    2. Pekerjaan pemasangan bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung di atas 3,00 meter dari permukaan tanah

    2.1. Potensi penyebab bahaya
    2.1.1. Bekerja pada ketinggian > 3,00 meter yang melebihi 1,8 meter dari permukaan tanah
    2.1.2. Debu yang berterbangan di area bekerja
    2.1.3. Cuaca yang tidak menentu dan berubah-ubah suhunya dapat mengganggu kesehatan bagi para pekerjanya
    2.1.4. Material dan area sekitar proyek pengerjaan tidak Ringkas, Rapi, Resik, Rawat dan Rajin (5R)
    2.1.5. Pekerja tidak menggunakan APD yang kurang lengkap
    2.1.6. Posisi para pekerja tidak ergonomis

    2.2. Deskripsi konsekuensi terhadap manusia, alat/peralatan, lingkungan
    2.2.1. Risiko bekerja pada ketinggian yang melebihi 1,8 meter akan berisiko terjatuh, patah tulang, dan kemungkinan akan cacat total.
    2.2.2. Risiko dari debu yaitu dapat mengganggu kesehatan antara lain pernapasan, dan penglihatan
    2.2.3. Cuaca yang tidak menentu dapat berisiko menghambat pekerjaan pada proyek tersebut
    2.2.4. Material yang berantakan di area proyek dapat menghambat jalannya para pekerja,
    2.2.5. Konsekuensi pekerja yang tidak menggunakan APD dapat terkena paparan bahan material yang dapat berisiko seperti tertimpa bahan material
    2.2.6. Posisi pekerja yang tidak ergonomis dapat berisiko terkena penyakit Muskuloskeletal Disorder

    2.3. Risiko awal
    2.3.1. Bekerja pada ketinggian > 3,00 meter yang melebihi 1,8 meter dari permukaan tanah: Fatality (1) x kemungkinan terjadi rata-rata (c) = High risk
    2.3.2. Debu yang berterbangan di area bekerja: medical treatment (4) x kemungkinan besar terjadi (D) = Medium risk
    2.3.3. Cuaca yang tidak menentu: Medical treatment (4) x kemungkinan terjadi rata-rata (C) = Medium risk
    2.3.4. Material tidak 5R: LTI taPA cacat permanen (3) x kemungkinan terjadi rata-rata (C) = Medium Risk
    2.3.5. Pekerja tidak menggunakan APD yang tidak lengkap: LTI dengan cacat permanen (2) x kemungkinan besar terjadi (D)= High risk
    2.3.6. Posisi pekerja tidak ergonomis: medical treatment (4) x kemungkinan terjadi rata-rata (C) = Medium Risk

    2.4. Pengendalian potensi bahaya
    2.4.1. Bekerja pada ketinggian > 3,00
    2.4.1.1. Training= diberi pelatihan/pembelajaran pada pekerja yang bekerja diketinggian melebihi 1,8 meter dari permukaan tanah
    2.4.1.2. APD= memakai Alat Pelindung Diri (APD) yang lengkap bagi para pekerja seperti sepatu safety, sarung tangan dan body harness)

    2.4.2. Debu di area bekerja
    2.4.2.1. Training= diberi pelatihan/pembelajaran pada para pekerja
    2.4.2.2. APD= memakai Alat Pelindung Diri (APD) yang lengkap bagi para pekerja seperti ( masker dan kacamata)

    2.4.3. Cuaca yang tidak menentu
    2.4.3.1. Administrasi= melakukan pengaturan administrasi (shift kerja, SOP, JSA untuk menurunkan resiko dari bahaya)

    2.4.4. Material di area proyek yang tidak 5R
    2.4.4.1. Isolasi= menjauhkan sumber bahaya, seperti material dan sampah-sampah yang berantakan di area jalannya para pekerja
    2.4.4.2. APD= memakai Alat Pelindung Diri bagi para pekerja seperti sepatu safety dan sarung tangan

    2.4.5. APD yang tidak lengkap
    2.4.5.1. Isolasi= menjauhkan sumber bahaya
    2.4.5.2. Training= diberi pelatihan/pembelajaran bagi para pekerja agar pekerja memahami pentingnya bekerja dalam keadaan yang aman
    2.4.5.3. APD= Memakai Alat Pelindung Diri (APD) yang lengkap, seperti ( sarung tangan, kacamata, masker dan body harness)

    2.4.6. Posisi bekerja tidak ergonomis
    2.4.6.1. Administrasi: melakukan peraturan SOP dan JSA yang sesuai dengan standar posisi bekerja pada ketinggian
    2.4.6.2. Training= diberi pelatihan posisi bekerja yang benar kepada para pekerja sebelum melakukan pekerjaan

    2.5. Risiko sisa
    2.5.1. Bekerja pada ketinggian > 3,00 meter= medical treatment (4) x kemungkinan kecil terjadi (B) = Low risk
    2.5.2. Debu di area bekerja= First aid case (5) x kemungkinan kecil terjadi (B)= Low risk
    2.5.3. Cuaca yang tidak menentu= medical treatment (4) x kemungkinan kecil terjadi (B)= Low risk
    2.5.4. Material di area proyek yang tidak 5R= Medical treatment (4) x kemungkinan kecil terjadi (B) = Low risk
    2.5.5. APD yang tidak lengkap= medical treatment (4) x kemungkinan terjadi rata-rata (C) = Medium risk
    2.5.6. Posisi bekerja tidak ergonomis= Medical treatment (4) x kemungkinan kecil terjadi (B) = Low risk

    Nama : Adinda Rachmasari
    NIM : 13.11.106.701501.0876
    Semester: v
    Kelas : b2-D4K3

  22. Tugas 4
    1. Pekerjaan pemasangan bata merah untuk perumahan dengan ketinggian sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.

    1.1. Potensi bahaya
    1.1.1. Pekerja yang tidak menggunakan APD dengan lengkap sesuai dengan ketentuannya saat bekerja dan kurangnya pengawasan.
    1.1.2. Bakteri yang ditimbulkan dari seragam pekerja yang tidak bersih.
    1.1.3. Bekerja pada ketinggian sampai dengan 3,00 meter yang melebihi 1.80 meter diatas permukaan tanah.
    1.1.4. Kelelahan disebabkan ketidaksesuaian waktu istirahat dengan beban kerja yang berpengaruh terhadap kondisi psikis dan biologis pekerja.
    1.1.5. Kemiringan tanah pada tempat kerja, terutama area dimana diletakkannya perancah.

    1.2. Deskripsikan konsekuensi terhadap manusia, alat/peralatan, lingkungan
    1.2.1. Kemungkinan bahan material yang jatuh menimpa dan mengenai pekerja dapat menyebabkan patah tulang, cacat permanen, bahkan sampai meninggal dunia.
    1.2.2. Bakteri maupun virus terdapat pada seragam yang kotor dapat menyebabkan berbagai macam penyakit kulit, seperti panu, kurap, kista, dsb.
    1.2.3. Konsekuensi yang akan dihadapi pekerja yang bekerja diketinggian ialah jatuh dari ketinggian yang dapat menyebabkan cacat total, dan kemungkinan terbesar ialah meninggal dunia.
    1.2.4. Pembagian beban kerja dan waktu istirahat yang benar sangat berpengaruh terhadap stamina dan energi pekerja.Jika diabaikan,maka konsekuensinya pekerja akan mengalami penurunan konsentrasi dan mengakibatkan kinerja kerja menurun yang kemudian berpengaruh pada lingkungan kerja.
    1.2.5. Akibat yang ditimbulkan dari peletakkan perancah pada dasar permukaan tanah yang tidak rata ialah tidak kokohnya tumpuan perancah dan mengakibatkan perancah tidak mampu menahan beban yang ada diatasnya maupun yang tergantung.

    1.3. Risiko awal
    1.3.1. Risiko dari tidak lengkapnya penggunaan APD pada saat bekerja: likely [8] x major [8] = high risk
    1.3.2. Seragam yang kotor: very likely [16] x moderate [2] = medium risk
    1.3.3. Bekerja diketinggian sampai dengan 3,00 meter: possible [4] x catastrophic [16] = high risk
    1.3.4. Kelelahan akibat kelebihan beban kerja: possible [4] x major [8] = medium risk
    1.3.5. Kemiringan tanah untuk tumpuan perancah: likely [8] x major [8] = high risk

    1.4. Pengendalian potensi bahaya
    1.4.1. Tidak lengkapnya penggunaan APD pada saat bekerja
    1.4.1.1. Menyediakan kelengkapan alat pelindung diri sesuai dengan standart yang ditetapkan
    1.4.1.2. Inspeksi terencana pada pekerja yang bekerja dilapangan
    1.4.1.3. Pelatihan terhadap pengendalian bahaya dan kedisiplinan penggunaan APD

    1.4.2. Seragam pekerja yang kotor
    1.4.2.1. Penyediaan seragam untuk pekerja yang bersih minimal pergantian setiap harinya
    1.4.2.2. Sosialisasi mengenai dampak dan akibat yang ditimbulkan dari pakaian yang kotor
    1.4.2.3. Penyesuaian SOP dan JSA untuk diaplikasikan para pekerja

    1.4.3. Bekerja pada ketinggian sampai dengan 3,00 meter
    1.4.3.1. Pekerja dilengkapi dengan APD yang sesuai dengan beban kerjanya, seperti body harness, dsb
    1.4.3.2. Pelatihan mengenai pekerjaan diketinggian juga mengenai pengendalian potensi bahaya
    1.4.3.3. Pengawasan untuk siaga tanggap darurat

    1.4.4. Kelelahan akibat kelebihan beban kerja
    1.4.4.1. Pembagian beban kerja dan waktu istirahat yang benar karena kondisi suhu dilapangan sangat berpengaruh terhadap stamina dan energi pekerja
    1.4.4.2. Pengaturan shift kerja sesuai jam kerja dengan jumlah pekerja
    1.4.4.3. Melakukan safety briefing setiap memulai pekerjaan disetiap harinya

    1.4.5. Kemiringan tanah untuk tumpuan perancah
    1.4.5.1. Menempatkan perancah di permukaan tanah yang rata dan keras agar mampu menahan beban perancah serta beban diatasnya
    1.4.5.2. Membuat SOP dan JSA pada setiap tahap pekerjaan dan di sosialisasikan kepada pekerja serta inspeksi perancah secara rutin sebelum digunakan untuk memastikan perancah bebas dari keretakan, cacat permukaan dan pengunci atau clam berfungsi dengan baik.
    1.4.5.3. Pemasangan handrail dan midrail pada perancah.

    1.5 Risiko sisa
    1.5.1. Risiko dari tidak lengkapnya penggunaan APD pada saat bekerja: unlikely [2] x moderate [2] = low risk
    1.5.2. Seragam yang kotor: unlikely [2] x moderate [2] = medium risk
    1.5.3. Bekerja diketinggian sampai dengan 3,00 meter: possible [4] x serious [4] = high risk
    1.5.4. Kelelahan akibat kelebihan beban kerja: unlikely [4] x moderate [8] = medium risk
    1.5.5. Kemiringan tanah untuk tumpuan perancah: possible [4] x moderate [2] = medium risk

    2. Pekerjaan pemasangan bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.

    2.1. Potensi bahaya
    1.1.1. Pekerja yang tidak menggunakan APD dengan lengkap sesuai dengan ketentuannya saat bekerja dan kurangnya pengawasan.
    1.1.2. Bakteri yang ditimbulkan dari seragam pekerja yang tidak bersih.
    1.1.3. Bekerja pada ketinggian sampai dengan 3,00 meter yang melebihi 1.80 meter diatas permukaan tanah.
    1.1.4. Kelelahan disebabkan ketidaksesuaian waktu istirahat dengan beban kerja yang berpengaruh terhadap kondisi psikis dan biologis pekerja.
    1.1.5. Kemiringan tanah pada tempat kerja, terutama area dimana diletakkannya perancah.

    2.2. Deskripsikan konsekuensi terhadap manusia, alat/peralatan, lingkungan
    1.2.1. Kemungkinan bahan material yang jatuh menimpa dan mengenai pekerja dapat menyebabkan patah tulang, cacat permanen, bahkan sampai meninggal dunia.
    1.2.2. Bakteri maupun virus terdapat pada seragam yang kotor dapat menyebabkan berbagai macam penyakit kulit, seperti panu, kurap, kista, dsb.
    1.2.3. Konsekuensi yang akan dihadapi pekerja yang bekerja diketinggian ialah jatuh dari ketinggian yang dapat menyebabkan cacat total, dan kemungkinan terbesar ialah meninggal dunia.
    1.2.4. Pembagian beban kerja dan waktu istirahat yang benar sangat berpengaruh terhadap stamina dan energi pekerja.Jika diabaikan,maka konsekuensinya pekerja akan mengalami penurunan konsentrasi dan mengakibatkan kinerja kerja menurun yang kemudian berpengaruh pada lingkungan kerja.
    1.2.5. Akibat yang ditimbulkan dari peletakkan perancah pada dasar permukaan tanah yang tidak rata ialah tidak kokohnya tumpuan perancah dan mengakibatkan perancah tidak mampu menahan beban yang ada diatasnya maupun yang tergantung.

    2.3. Risiko awal
    1.3.1. Risiko dari tidak lengkapnya penggunaan APD pada saat bekerja: likely [8] x major [8] = high risk
    1.3.2. Seragam yang kotor: very likely [16] x moderate [2] = medium risk
    1.3.3. Bekerja diketinggian sampai dengan 3,00 meter: possible [4] x catastrophic [16] = high risk
    1.3.4. Kelelahan akibat kelebihan beban kerja: possible [4] x major [8] = medium risk
    1.3.5. Kemiringan tanah untuk tumpuan perancah: likely [8] x major [8] = high risk

    2.4. Pengendalian potensi bahaya
    1.4.1. Tidak lengkapnya penggunaan APD pada saat bekerja
    1.4.1.1. Menyediakan kelengkapan alat pelindung diri sesuai dengan standart yang ditetapkan
    1.4.1.2. Inspeksi terencana pada pekerja yang bekerja dilapangan
    1.4.1.3. Pelatihan terhadap pengendalian bahaya dan kedisiplinan penggunaan APD

    1.4.2. Seragam pekerja yang kotor
    1.4.2.1. Penyediaan seragam untuk pekerja yang bersih minimal pergantian setiap harinya
    1.4.2.2. Sosialisasi mengenai dampak dan akibat yang ditimbulkan dari pakaian yang kotor
    1.4.2.3. Penyesuaian SOP dan JSA untuk diaplikasikan para pekerja

    1.4.3. Bekerja pada ketinggian sampai dengan 3,00 meter
    1.4.3.1. Pekerja dilengkapi dengan APD yang sesuai dengan beban kerjanya, seperti body harness, dsb
    1.4.3.2. Pelatihan mengenai pekerjaan diketinggian juga mengenai pengendalian potensi bahaya
    1.4.3.3. Pengawasan untuk siaga tanggap darurat

    1.4.4. Kelelahan akibat kelebihan beban kerja
    1.4.4.1. Pembagian beban kerja dan waktu istirahat yang benar karena kondisi suhu dilapangan sangat berpengaruh terhadap stamina dan energi pekerja
    1.4.4.2. Pengaturan shift kerja sesuai jam kerja dengan jumlah pekerja
    1.4.4.3. Melakukan safety briefing setiap memulai pekerjaan disetiap harinya

    1.4.5. Kemiringan tanah untuk tumpuan perancah
    1.4.5.1. Menempatkan perancah di permukaan tanah yang rata dan keras agar mampu menahan beban perancah serta beban diatasnya
    1.4.5.2. Membuat SOP dan JSA pada setiap tahap pekerjaan dan di sosialisasikan kepada pekerja serta inspeksi perancah secara rutin sebelum digunakan untuk memastikan perancah bebas dari keretakan, cacat permukaan dan pengunci atau clam berfungsi dengan baik.
    1.4.5.3. Pemasangan handrail dan midrail pada perancah.

    2.5 Risiko sisa
    1.5.1. Risiko dari tidak lengkapnya penggunaan APD pada saat bekerja: unlikely [2] x moderate [2] = low risk
    1.5.2. Seragam yang kotor: unlikely [2] x moderate [2] = medium risk
    1.5.3. Bekerja diketinggian sampai dengan 3,00 meter: possible [4] x serious [4] = high risk
    1.5.4. Kelelahan akibat kelebihan beban kerja: unlikely [4] x moderate [8] = medium risk
    1.5.5. Kemiringan tanah untuk tumpuan perancah: possible [4] x moderate [2] = medium risk

    Nama : Dinda Rizky K.N
    NPM : 13.11.106.701501.1117
    Semester : V ( Lima )
    Kelas : B2

  23. Pekerjaan pemasangan batu bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah :

    A. Analisa Potensi Bahaya
    1.Bahaya gravitasi : Jatuh dari ketinggian, (papan pijakan yang telah di dudukin )
    2.Kejatuhan benda asing ( Benda yang berada di area pekerja tersebut )
    3.Bahaya Kimia : Material beracun,zat yang terhirup (debu )
    4.Bahaya Lingkungan : Permukaan Tanah yang tidak merata
    5.Bahaya Psikososial : Kelelahan karena jam kerja, usia dan pengalaman kerja
    6.Bahaya Biologi : Bakteri, Ergonomi ( Bakteri hewan penyengat dan berbisa di area tempat kerja )

    B. Pengendalian Potensi Bahaya
    1. Bahaya Gravitasi
    _ Harus ada papan pijakan ( perancah ) agar tetap aman bagi para pekerja.

    2. Melakukan housekeeping di tempat kerja ( memilah barang yang kiranya tidak di perlukan )

    3. Bahaya Kimia :
    – Mengetahui bahan-bahan yang beracun, sehingga dapat melengkapi diri dengan APD. Contoh material beracun asbes. Sehingga perlu pengetahuan tentang material tersebut dan cara penanganannya.
    4. Bahaya Lingkungan :
    – Permukaan tanah yang tidak rata karena banyaknya material yang berserakan, sehingga dapat menyebabkan pekerja terjatuh. Sehingga perlu dilakukan housekeeping terlebih dahulu atau pemindahan material yang menggaggu mobilisasi atau aktivitas pekerja.

    5. Mengatur jam kerja sehingga mengurangi resiko dari faktor kelelahan.
    – Jenis pekerjaan disesuaikan dengan usia dan pengalaman kerja.
    _ Di adakan shift bagi para pekerja

    6. Bahaya Biologi :
    – Bakteri, pakaian yang dipakai pekerja penuh dengan keringat sehingga dapat menyebabkan pekerja terkena penyakit kulit. Jadi, wajib bagi manajemen menyediakan baju atau pakaian khusus untuk pekerja.

    Risk Matriks Pekerjaan 1

    1. Potensi Penyebab Bahaya

    1.1 Bahaya Kimia : Material beracun
    1.2 Bahaya Lingkungan : Permukaan Tanah
    1.3 Bahaya Psikososial : Kelelahan karena jam kerja, usia dan pengalaman kerja
    1.4 Bahaya Fisika : Debu, Gravitasi, Dinding Konstruksi, Scaffolding, Suhu
    1.5 Bahaya Biologi : Bakteri, Ergonomi

    2. Konsekuensi

    1.1 Bahaya kimia
    1.1.1 Material beracun : Tinggi

    1.2 Bahaya lingkungan
    1.2.1 Permukaan Tanah : Sedang

    1.3 Bahaya Psikososial
    1.3.1 Kelelahan karena jam kerja : Sedang
    1.3.2 Usia dan pengalaman kerja : Sedang

    1.4 Bahaya Fisika
    1.4.1 Debu : Tinggi
    1.4.2 Gravitasi : Sedang

    1.5 Bahaya Biologi
    2.5.1 Bakteri : Sedang
    2.5.2 Ergonomi : Sedang

    3.Deskripsi Konsekuensi
    3.1 Manusia
    3.1.1 Tidak terdapat cedera/penyakit, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali di tempat kerja.
    ( Ringan )
    3.1.2 Cedera ringan, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali ke tempat kerja. (Ringan)
    3.1.3 Mendapat P3K atau tindakan medis, tidak ada hilang jam kerja lebih dari 1X24 jam (sedang )
    3.1.4 Memerlukan tindakan medis lanjut/rujukan, cacat sementara, terdapat jam kerja hilang 1X24 jam ( tinggi )
    3.1.5 Cacat permanen, kematian, terdapat jam kerja hilang lebih dari 1X24 jam (tinggi )

    3.2 Aset / alat
    3.2.1 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja kurang dari Rp. 2.000.000
    3.2.2 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.000.000 – Rp. 1.500.000
    3.2.3 Sedang : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.500.000 – Rp. 5.000.000
    3.2.4 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 5.000.000 – Rp. 10.000.000
    3.2.5 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja lebih dari Rp. 10.000.000

    3.3 Lingkungan
    3.3.1 Ringan : Tidak berdampak apa-apa pada lingkungan
    3.3.2 Ringan : Berefek kecil terhadap lingkungan ( minor effect )
    3.3.3 Sedang : Berefek serius (serious effect ) terhadap lingkungan dalam jangka pendek
    3.3.4 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang
    3.3.5 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang

    4. Risiko awal
    4.1 Bahaya Kimia : Terhirup material beracun
    4.2 Bahaya Lingkungan : Tersandung,terjatuh.
    4.3 Bahaya Psikososial : Kelelahan karena jam kerja, fatique
    4.4 Bahaya Fisika : Debu, Gravitasi, Dinding Konstruksi, Scaffolding, yang roboh
    4.5 Bahaya Biologi : Terkena penyakit kulit,Iritasi pada kulit.

    5. Pengendalian potensi bahaya dengan hierarchy of control
    5.1 Eliminasi : Eliminasi material-material disekitar konstruksi yang tidak penting atau tidak terpakai dengan dibuang atau dipindahkan.
    5.2 Subtitusi : Mengganti model scaffolding menjadi scaffolding yang standar
    5.3 Enginnering : Pada scaffolding dibuat handrail agar pekerja tidak terjatuh
    5.4 Adiministrasi : Dibuat JSA, pelatihan k3,training untuk pekerjanya, dibuat rambu-rambu
    5.5 APD : Menggunakan sepatu safety, sarung tangan safety, helm safety, masker, kacamata, baju safety.

    6. Risiko sisa
    6.1 Bahaya Psikososial
    6.1.1 Kelelahan karena jam kerja : Rendah
    6.1.2 Usia dan pengalaman kerja : Rendah

    6.2 Bahaya Fisika
    6.2.1 Debu : Rendah
    6.2.2 Gravitasi : Sedang
    6.2.3 Dinding Konstruksi : Sedang
    6.2.4 Scaffolding : Sedang
    6.2.5 Suhu : Rendah

    6.3 Bahaya Biologi
    6.3.1 Bakteri : Ringan

    6.4 Bahaya Kimia
    6.4.1 Material Beracun : Tinggi

    6.5 Bahaya Lingkungan
    6.5.1 Permukaan Tanah : Ringan

    Risk Matriks Pekerjaan 2

    1. Potensi Penyebab Bahaya
    1.1 Bahaya Psikososial : Kelelahan karena jam kerja, usia dan pengalaman kerja ,panas matahari
    1.2 Bahaya Fisika : Debu, Gravitasi, Dinding Konstruksi, Scaffolding, Suhu
    1.3 Bahaya Biologi : Bakteri, Ergonomi
    1.4 Bahaya Kimia : Material beracun
    1.5 Bahaya Lingkungan : Permukaan Tanah

    2. Konsekuensi
    2.1 Bahaya Psikososial
    2.1.1 Kelelahan karena jam kerja : Sedang
    2.1.2 Usia dan pengalaman kerja : Sedang

    2.2 Bahaya Fisika
    2.2.1 Debu : Sedang
    2.2.2 Gravitasi : Tinggi
    2.2.3 Dinding Konstruksi : Tinggi
    2.2.4 Scaffolding : Sedang
    2.2.5 Suhu : Ringan

    2.3 Bahaya Biologi
    2.3.1 Bakteri : Ringan
    2.4 Bahaya Lingkungan
    2.4.1 Permukaan Tanah : Sedang

    3.Deskripsi Konsekuensi
    3.1 Manusia
    3.1.1 Ringan : Tidak terdapat cedera/penyakit, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    3.1.2 Ringan : Cedera ringan, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    3.1.3 Sedang : Mendapat P3K atau tindakan medis, tidak ada hilang jam kerja lebih dari 1X24 jam
    3.1.4 Tinggi : Memerlukan tindakan medis lanjut/rujukan, cacat sementara, terdapat jam kerja hilang 1X24 jam
    3.1.5 Tinggi : Cacat permanen, kematian, terdapat jam kerja hilang lebih dari 1X24 jam

    3.2 Aset / alat
    3.2.1 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja kurang dari Rp. 1.000.000,-
    3.2.2 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.000.000 – Rp. 1.500.000,-
    3.2.3 Sedang : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.500.000 – Rp. 5.000.000,-
    3.2.4 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 5.000.000 – Rp. 10.000.000,-
    3.2.5 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja lebih dari Rp. 10.000.000,-

    3.3 Lingkungan
    3.3.1 Ringan : Tidak berdampak apa-apa pada lingkungan.
    3.3.2 Ringan : Berefek kecil terhadap lingkungan .
    3.3.3 Sedang : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka pendek.
    3.3.4 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang.
    3.3.5 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang.

    4. Risiko awal
    4.1 Bahaya Psikososial : Kelelahan atau fatique.
    4.2 Bahaya Fisika : Terhirup debu, tertimpa runtuhan material, scaffolding runtuh, tangan tercepit, terjatuh dari scaffolding.
    4.3 Bahaya Biologi : Terkena penyakit kulit, diserang.
    4.4 Bahaya Kimia : Terhirup material beracun.
    4.5 Bahaya Lingkungan : Tersandung , Terpeleset.

    5. Pengendalian potensi bahaya dengan hierarchy of control
    5.1 Eliminasi : Eliminasi material-material disekitar konstruksi yang tidak penting dengan dibuang atau dipindahkan
    5.2 Subtitusi : Mengganti model scaffolding menjadi scaffolding yang standar, mengganti bahan dari batu bata merah menjadi bata ringan
    5.3 Enginnering : Pada scaffolding dibuat handrail agar pekerja tidak terjatuh, menggunakan bodyharnes
    5.4 Adiministrasi: Dibuat JSA, training untuk pekerjanya, dibuat rambu-rambu
    5.5 APD : Menggunakan sepatu safety, sarung tangan safety, helm safety, masker, kacamata, baju safety

    6. Risiko sisa
    6.1 Bahaya Psikososial
    6.1.1 Kelelahan karena jam kerja : Rendah
    6.1.2 Usia dan pengalaman kerja : Rendah

    6.2 Bahaya Fisika
    6.2.1 Debu : Rendah
    6.2.2 Gravitasi : Sedang
    6.2.3 Dinding Konstruksi : Sedang
    6.2.4 Scaffolding : Rendah
    6.2.5 Suhu : Rendah

    6.3 Bahaya Biologi
    6.3.1 Bakteri : Ringan
    6.4 Bahaya Kimia
    6.4.1 Material Beracun : Tinggi

    6.5 Bahaya Lingkungan
    6.5.1 Permukaan Tanah : Ringan

    Rating :

    Probability
    Sulit terjadi = 1
    Jarang = 2
    Sering = 3

    Severity
    Ringan = 1
    Sedang = 2
    Serius = 3

    Risk Rating
    1-3 = Rendah
    4 = Sedang
    5-6 = Tinggi

    Nama : Agustinah
    Kelas : B2
    Semester : 5
    NPM : 13.11.106.701501.0917

    • Cantumkan nama jenis pekerjaan ke-1 dan jenis pekerjaan ke-2 pada analisis risk assessment anda, agar mudah dipahami. Lihatlah tugas dari rekan yang lain yang sudah disetujui sebagai acuan. Klik “Reply” dibawah komentar ini untuk memperbaikinya, hal ini agar proses perbaikan yang anda lakukan agar mudah ditelusuri.

      • Pekerjaan pemasangan batu bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah :

        A. Analisa Potensi Bahaya
        1.Bahaya gravitasi : Jatuh dari ketinggian, (papan pijakan yang telah di dudukin )
        2.Kejatuhan benda asing ( Benda yang berada di area pekerja tersebut )
        3.Bahaya Kimia : Material beracun,zat yang terhirup (debu )
        4.Bahaya Lingkungan : Permukaan Tanah yang tidak merata
        5.Bahaya Psikososial : Kelelahan karena jam kerja, usia dan pengalaman kerja
        6.Bahaya Biologi : Bakteri, Ergonomi ( Bakteri hewan penyengat dan berbisa di area tempat kerja )

        B. Pengendalian Potensi Bahaya
        1. Bahaya Gravitasi
        _ Harus ada papan pijakan ( perancah ) agar tetap aman bagi para pekerja.

        2. Melakukan housekeeping di tempat kerja ( memilah barang yang kiranya tidak di perlukan )

        3. Bahaya Kimia :
        – Mengetahui bahan-bahan yang beracun, sehingga dapat melengkapi diri dengan APD. Contoh material beracun asbes. Sehingga perlu pengetahuan tentang material tersebut dan cara penanganannya.
        4. Bahaya Lingkungan :
        – Permukaan tanah yang tidak rata karena banyaknya material yang berserakan, sehingga dapat menyebabkan pekerja terjatuh. Sehingga perlu dilakukan housekeeping terlebih dahulu atau pemindahan material yang menggaggu mobilisasi atau aktivitas pekerja.

        5. Mengatur jam kerja sehingga mengurangi resiko dari faktor kelelahan.
        – Jenis pekerjaan disesuaikan dengan usia dan pengalaman kerja.
        _ Di adakan shift bagi para pekerja

        6. Bahaya Biologi :
        – Bakteri, pakaian yang dipakai pekerja penuh dengan keringat sehingga dapat menyebabkan pekerja terkena penyakit kulit. Jadi, wajib bagi manajemen menyediakan baju atau pakaian khusus untuk pekerja.

        Risk Matriks Pekerjaan 1

        1. Potensi Penyebab Bahaya

        1.1 Bahaya Kimia : Material beracun
        1.2 Bahaya Lingkungan : Permukaan Tanah
        1.3 Bahaya Psikososial : Kelelahan karena jam kerja, usia dan pengalaman kerja
        1.4 Bahaya Fisika : Debu, Gravitasi, Dinding Konstruksi, Scaffolding, Suhu
        1.5 Bahaya Biologi : Bakteri, Ergonomi

        2. Konsekuensi

        2.1Bahaya kimia
        2.1.2 Material beracun : Tinggi

        2.2 Bahaya lingkungan
        2.2.1 Permukaan Tanah : Sedang

        2.3 Bahaya Psikososial
        2.3.1 Kelelahan karena jam kerja : Sedang
        2.3.2 Usia dan pengalaman kerja : Sedang

        2.4 Bahaya Fisika
        4.4.1 Debu : Tinggi
        4.4.2 ravitasi : Sedang

        2.5 Bahaya Biologi
        5.5.1 Bakteri : Sedang
        5.5.2 Ergonomi : Sedang

        3.Deskripsi Konsekuensi

        3.1 Manusia
        3.1.1 Tidak terdapat cedera/penyakit, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali di tempat kerja.
        ( Ringan )
        3.1.2 Cedera ringan, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali ke tempat kerja. (Ringan)
        3.1.3 Mendapat P3K atau tindakan medis, tidak ada hilang jam kerja lebih dari 1X24 jam (sedang )
        3.1.4 Memerlukan tindakan medis lanjut/rujukan, cacat sementara, terdapat jam kerja hilang 1X24 jam ( tinggi )
        3.1.5 Cacat permanen, kematian, terdapat jam kerja hilang lebih dari 1X24 jam (tinggi )

        4.1 Aset / alat
        4.1.1 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja kurang dari Rp. 2.000.000
        4.1.2Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.000.000 – Rp. 1.500.000
        4.1.3Sedang : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.500.000 – Rp. 5.000.000
        4.1.4Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 5.000.000 – Rp. 10.000.000
        4.1.5 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja lebih dari Rp. 10.000.000

        5.1Lingkungan
        5.1.1 Ringan : Tidak berdampak apa-apa pada lingkungan
        5.1.2 Ringan : Berefek kecil terhadap lingkungan ( minor effect )
        5.1.3Sedang : Berefek serius (serious effect ) terhadap lingkungan dalam jangka pendek
        5.1.4 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang
        5.1.5 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang

        6.1Risiko awal

        6.1.1Bahaya Kimia : Terhirup material beracun
        6.1.2 Bahaya Lingkungan : Tersandung,terjatuh.
        6.1.3 Bahaya Psikososial : Kelelahan karena jam kerja, fatique
        6.1.4 Bahaya Fisika : Debu, Gravitasi, Dinding Konstruksi, Scaffolding, yang roboh
        6.1.5Bahaya Biologi : Terkena penyakit kulit,Iritasi pada kulit.

        7.1 Pengendalian potensi bahaya dengan hierarchy of control

        7.1.1 Eliminasi : Eliminasi material-material disekitar konstruksi yang tidak penting atau tidak terpakai dengan dibuang atau dipindahkan.
        7.1.2 Subtitusi : Mengganti model scaffolding menjadi scaffolding yang standar
        7.1.3 Enginnering : Pada scaffolding dibuat handrail agar pekerja tidak terjatuh
        7.1.4 Adiministrasi : Dibuat JSA, pelatihan k3,training untuk pekerjanya, dibuat rambu-rambu
        7.1.5 APD : Menggunakan sepatu safety, sarung tangan safety, helm safety, masker, kacamata, baju safety.

        8.1 Risiko sisa

        8.1.1 Bahaya Psikososial
        8.1.2 Kelelahan karena jam kerja : Rendah
        8.1.3 Usia dan pengalaman kerja : Rendah

        8.2 Bahaya Fisika
        8.2.1 Debu : Rendah
        8.2.2 Gravitasi : Sedang
        8.2.3 Dinding Konstruksi : Sedang
        8.2.4 Scaffolding : Sedang
        8.2.5 Suhu : Rendah

        8.3 Bahaya Biologi
        8.3.1 Bakteri : Ringan

        8.4 Bahaya Kimia
        8.4.1 Material Beracun : Tinggi

        8.5 Bahaya Lingkungan
        8.5.1 Permukaan Tanah : Ringan

        Risk Matriks Pekerjaan 2

        (2 ) Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah.

        (2.1 Potensi Penyebab Bahaya)

        2.1.1 Bahaya Psikososial : Kelelahan karena jam kerja, usia dan pengalaman kerja ,panas matahari

        2.1.2 Bahaya Fisika : Debu, Gravitasi, Dinding Konstruksi, Scaffolding, Suhu

        2.1.3 Bahaya Biologi : Bakteri, Ergonomi
        2.1.4 Bahaya Kimia : Material beracun
        2.1.5 Bahaya Lingkungan : Permukaan Tanah

        (3.1 Konsekuensi )

        3.1.1 Bahaya Psikososial

        3.1.1.1Kelelahan karena jam kerja : Sedang

        3.1.1.2 Usia dan pengalaman kerja : Sedang

        3.1.2 Bahaya Fisika Debu : Sedang

        3.1.2 Bahaya gravitasi

        3.1.2.1 Gravitasi : Tinggi sedang

        3.1.2.2 Dinding Konstruksi : Tinggi

        3.1.2.3 Scaffolding : Sedang

        3.1.Suhu : Ringan

        4.1 Bahaya Biologi

        4.1 Bakteri : Ringan

        5.1 Bahaya Lingkungan
        5.1.1ermukaan Tanah : Sedang

        (6.1 Deskripsi Konsekuensi)

        6.1.1 Manusia

        6.1.1.1Ringan : Tidak terdapat cedera/penyakit, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
        6.1.1.2Ringan : Cedera ringan, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
        6.1.1.3 Sedang : Mendapat P3K atau tindakan medis, tidak ada hilang jam kerja lebih dari 1X24 jam
        6.1.1.4 Tinggi : Memerlukan tindakan medis lanjut/rujukan, cacat sementara, terdapat jam kerja hilang 1X24 jam
        6.1.1.5 Tinggi : Cacat permanen, kematian, terdapat jam kerja hilang lebih dari 1X24 jam

        6.1.2 Aset / alat

        6.1.2.1 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja kurang dari Rp. 1.000.000,-
        6.1.2.2 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.000.000 – Rp. 1.500.000,-
        6.1.2.3 Sedang : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.500.000 – Rp. 5.000.000,-
        6.1.2.4 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 5.000.000 – Rp. 10.000.000,-
        6.1.2.5 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja lebih dari Rp. 10.000.000,-

        6.1.3 Lingkungan

        6.1.3.1 Ringan : Tidak berdampak apa-apa pada lingkungan.
        6.1.3.2 Ringan : Berefek kecil terhadap lingkungan .
        6.1.3.3 Sedang : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka pendek.
        6.1.3.4 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang.
        6.1.3.5 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang.

        (6.2 Risiko awal)

        6.2.1 Bahaya Psikososial : Kelelahan atau fatique.
        6.2.2 Bahaya Fisika : Terhirup debu, tertimpa runtuhan material, scaffolding runtuh, tangan tercepit, terjatuh dari scaffolding.
        6.2.3 Bahaya Biologi : Terkena penyakit kulit, diserang.
        6.2.4 Bahaya Kimia : Terhirup material beracun.
        6.2.5 ahaya Lingkungan : Tersandung , Terpeleset.

        (7.2 Pengendalian potensi bahaya dengan hierarchy of control)

        7.2.1 Eliminasi : Eliminasi material-material disekitar konstruksi yang tidak penting dengan dibuang atau dipindahkan
        7.2.2 Subtitusi : Mengganti model scaffolding menjadi scaffolding yang standar, mengganti bahan dari batu bata merah menjadi bata ringan
        7.2.3 Enginnering : Pada scaffolding dibuat handrail agar pekerja tidak terjatuh, menggunakan bodyharnes
        7.2.4 Adiministrasi: Dibuat JSA, training untuk pekerjanya, dibuat rambu-rambu
        7.1.5 APD : Menggunakan sepatu safety, sarung tangan safety, helm safety, masker, kacamata, baju safety

        (8.1 Risiko sisa)

        8.1.1 Bahaya Psikososial
        8.1.1.1 Kelelahan karena jam kerja : Rendah
        8.1.1.2 Usia dan pengalaman kerja : Rendah

        8.2 Bahaya Fisika
        8.2.2.1 Debu : Rendah
        8.2.2.2 Gravitasi : Sedang
        8.2.2.3 Dinding Konstruksi : Sedang
        8.2.2.4 Scaffolding : Rendah
        8.2.2.5 Suhu : Rendah

        8.3 Bahaya Biologi
        8.3.3.1 Bakteri : Ringan
        8.3.3.2 Bahaya Kimia
        8.3.3.3 Material Beracun : Tinggi

        8.4 Bahaya Lingkungan
        8.4.1 Permukaan Tanah : Ringan

        Rating :

        Probability
        Sulit terjadi = 1
        Jarang = 2
        Sering = 3

        Severity
        Ringan = 1
        Sedang = 2
        Serius = 3

        Risk Rating
        1-3 = Rendah
        4 = Sedang
        5-6 = Tinggi

        Nama : Agustinah
        Kelas : B2
        Semester : 5
        NPM : 13.11.106.701501.0917

  24. Pekerjaan pemasangan bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah :

    a. analisa potensi bahaya
    1. bahaya lingkungan : permukaan tanah,
    2. bahaya psikososial: kelelahan,pengalaman kerja dan usia
    3. bahaya fisika : debu,gravitasi,suhu,dinding konstruksi,scaffolding
    4. bahaya biologi : bakteri,ergonomi
    5. bahaya kimia : material beracun

    b. pengendalian potensi bahaya
    1. bahaya lingkungan : permukaan tanah yang tidak rata menyebabkan banyaknya material yang berserakan,sehingga dapat menyebabkan pekerja terjatuh.
    2. bahaya psikososial: harus diberi waktu istrahat yang cukup,jenis pekerjaan harus sesuai dengan pengalaman kerja dan usia.
    3. bahaya fisika : pekerja harus menggunakan masker. Suhu yang tinggi akan cepat pekerja menjadi lelah. Tinggi pemasangan bata merah yang dikerjakan maksimum 1 meter agar tidak roboh. Untuk mencegah pekerjaa terjatuh scaffolding harus dilengkapi dengan handrail dan madrail. Memasang konstruksi scaffolding dengan kokoh dan memperhatikan struktur permukaan tanah. Pekerja harus dilengkapi APD, seperti safety shoes, safety glasses, safety hand, body harness.
    4. bahaya biologi : pakaian pekerja yang dipakai penuh dengan keringat terdapat bakteri yang dapat menimbulkan penyakit kulit. Sehingga perlu disediakan pakaian khusus untuk pekerja. Posisi kerja yang kurang ergonomis dapat menimbulkan cidera kepada pekerja.
    5. bahaya kimia : mengetahui bahaya dari bahan dan material yang digunakan, serta mengetahui cara penangannya.

    Risk Matriks Pekerjaan 1

    1. Potensi Penyebab bahaya
    1.1 Bahaya lingkungan : permukaan tanah
    1.2 Bahaya psikososial : kelelahan,pengalaman kerja dan usia
    1.3 Bahaya fisika : debu, gravitasi, suhu, dinding konstruksi, scaffolding
    1.4 Bahaya biologi : bakteri, virus, ergonomi
    1.5 Bahaya kimia : material beracun

    2. Konsekuensi
    2.1 Bahaya lingkungan
    2.1.1 permukaan tanah : sedang

    2.2 Bahaya psikososial
    2.2.1 kelelahan : sedang
    2.2.2 pengalaman kerja dan usia : sedang

    2.3 Bahaya fisika
    2.3.1 debu : sedang
    2.3.2 gravitasi : tinggi
    2.3.3 dinding konstruksi : tinggi
    2.2.4 suhu : ringan
    2.2.5 scaffolding : sedang

    2.4 Bahaya biologi
    2.4.1 bakteri : ringan
    2.4.2 ergonomi : sedang

    2.5 Bahaya kimia
    2.5.1 material beracun : tinggi

    3. Deskripsi Konsekuensi
    3.1 Manusia
    3.1.1 ringan : terjadi tehidrasi yang menyeabkan daya tahan tubuh pekerja menurun
    3.1.2 ringan : debu yang bisa kapan saja terhirup oleh pekerja dan dapat menyebabkan gangguan pernapasan
    3.1.3 sedang : pihak kontaktor yang tidak memberikan jam istirahat yang cukup akan menyebabkan pekerja kelelahan
    3.1.4 tinggi : terjatuh dari pijakan scaffolding dengan ketinggian 3.00 meter dari permukaan tanah

    3.2 aset/ alat
    3.2.1 ringan : total kerugian kecelakaan kerja kurang dari Rp. 1.000.000,-
    3.2.2 ringan : total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.000.000,00 – Rp. 1.500.000,-
    3.2.3 sedang : total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.500.000,00 – Rp. 5.000.000,-
    3.2.4 tinggi : total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 5.000.000,00 – Rp.10.000.000,-
    3.2.5 tinggi : total kerugian kecelakaan kerja lebih Rp. 10.000.000,-

    3.3 lingkungan
    3.3.1 sedang : material sisa bangunan yang biasanya ya ditinggal begitu saja setelah selesai pembangunan proyek tersebut

    4. Resiko awal
    4.1 bahaya lingkungan : tersandung
    4.2 bahaya psikososial : kelelahan
    4.3 bahaya fisika : terhirup debu, scaffolding runtuh, terjatuh dari scaffolding, tangan terjepit,
    4.4 bahaya biologi : penyakit kulit
    4.5 bahaya kimia : terhirup material beracun

    5. pengendalian potensi bahaya dengan hierarchy of control
    5.1 Eliminasi : material-material yang tidak digunakan lagi dengan di buang atau di pindahkan di tempat yang aman
    5.2 Subtitusi : mengganti scaffolding menjadi scaffolding standar
    5.3 Enginnering : scaffolding di buat handrail dan madrail agar pekerja tidak terjatuh
    5.4 Administrasi : dibuat JSA, training untuk para pekerja
    5.5 APD : menggunakan masker, kacamata, helm safety, sepatu safety, sarung tangan

    6. Resiko sisa
    6.1 bahaya lingkungan
    6.1.2 permukaan tanah : ringan

    6.2 bahaya psikososial
    6.2.1 kelelahan jam kerja : rendah
    6.2.3 pengalaman kerja dan usia kerja : rendah

    6.3 bahaya fisika
    6.3.1 debu : rendah
    6.3.2 gravitasi : sedang
    6.3.3 suhu : rendah
    6.3.4 dinding konstruksi : sedang
    6.3.5 scaffolding : rendah

    6.4 bahaya biologi
    6.4.1 bakteri : ringan
    6.4.2 ergonomi : sedang

    6.5 bahaya kimia
    6.5.1 material beracun : sedang

    Risk Matriks Pekerjaan 2

    1. Potensi Penyebab bahaya
    1.1 Bahaya lingkungan : permukaan tanah
    1.2 Bahaya psikososial : kelelahan,pengalaman kerja dan usia
    1.3 Bahaya fisika : debu, gravitasi, suhu, dinding konstruksi, scaffolding
    1.4 Bahaya biologi : bakteri, virus, ergonomi
    1.5 Bahaya kimia : material beracun

    2. Konsekuensi
    2.1 Bahaya lingkungan
    2.1.1 permukaan tanah : sedang

    2.2 Bahaya psikososial
    2.2.1 kelelahan : sedang
    2.2.2 pengalaman kerja dan usia : sedang

    2.3 Bahaya fisika
    2.3.1 debu : sedang
    2.3.2 gravitasi : tinggi
    2.3.3 dinding konstruksi : tinggi
    2.2.4 suhu : ringan
    2.2.5 scaffolding : sedang

    2.4 Bahaya biologi
    2.4.1 bakteri : ringan
    2.4.2 ergonomi : sedang

    2.5 Bahaya kimia
    2.5.1 material beracun : tinggi

    3. Deskripsi Konsekuensi
    3.1 Manusia
    3.1.1 ringan : terjadi tehidrasi yang menyeabkan daya tahan tubuh pekerja menurun
    3.1.2 ringan : debu yang bisa kapan saja terhirup oleh pekerja dan dapat menyebabkan gangguan pernapasan
    3.1.3 sedang : pihak kontaktor yang tidak memberikan jam istirahat yang cukup akan menyebabkan pekerja kelelahan
    3.1.4 tinggi : terjatuh dari pijakan scaffolding dengan ketinggian 3.00 meter dari permukaan tanah

    3.2 aset/ alat
    3.2.1 ringan : total kerugian kecelakaan kerja kurang dari Rp. 1.000.000,-
    3.2.2 ringan : total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.000.000,00 – Rp. 1.500.000,-
    3.2.3 sedang : total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.500.000,00 – Rp. 5.000.000,-
    3.2.4 tinggi : total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 5.000.000,00 – Rp.10.000.000,-
    3.2.5 tinggi : total kerugian kecelakaan kerja lebih Rp. 10.000.000,-

    3.3 lingkungan
    3.3.1 sedang : material sisa bangunan yang biasanya ya ditinggal begitu saja setelah selesai pembangunan proyek tersebut

    4. Resiko awal
    4.1 bahaya lingkungan : tersandung
    4.2 bahaya psikososial : kelelahan
    4.3 bahaya fisika : terhirup debu, scaffolding runtuh, terjatuh dari scaffolding, tangan terjepit,
    4.4 bahaya biologi : penyakit kulit
    4.5 bahaya kimia : terhirup material beracun

    5. pengendalian potensi bahaya dengan hierarchy of control
    5.1 Eliminasi : material-material yang tidak digunakan lagi dengan di buang atau di pindahkan di tempat yang aman
    5.2 Subtitusi : mengganti scaffolding menjadi scaffolding standar, mengganti bahan batu merah menjadi batako
    5.3 Enginnering : scaffolding di buat handrail dan madrail agar pekerja tidak terjatuh, menggunakan body harnes
    5.4 Administrasi : dibuat JSA, training untuk para pekerja
    5.5 APD : menggunakan masker, kacamata, helm safety, sepatu safety, sarung tangan

    6. Resiko sisa
    6.1 bahaya lingkungan
    6.1.2 permukaan tanah : ringan

    6.2 bahaya psikososial
    6.2.1 kelelahan jam kerja : rendah
    6.2.3 pengalaman kerja dan usia kerja : rendah

    6.3 bahaya fisika
    6.3.1 debu : rendah
    6.3.2 gravitasi : sedang
    6.3.3 suhu : rendah
    6.3.4 dinding konstruksi : sedang
    6.3.5 scaffolding : rendah

    6.4 bahaya biologi
    6.4.1 bakteri : ringan
    6.4.2 ergonomi : sedang

    6.5 bahaya kimia
    6.5.1 material beracun : sedang

    Nama : Diana rosmini
    Kelas : B2
    Semester : V
    NPM : 13.11.106.701501.0902

    • Cantumkan nama jenis pekerjaan ke-1 dan jenis pekerjaan ke-2 pada analisis risk assessment anda, agar mudah dipahami. Lihatlah tugas dari rekan yang lain yang sudah disetujui sebagai acuan. Klik “Reply” dibawah komentar ini untuk memperbaikinya, hal ini agar proses perbaikan yang anda lakukan agar mudah ditelusuri.

  25. 1. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.

    a. Analisa Potensi Bahaya
    1. Bahaya Fisika : radiasi, suhu, pergerakan, gelombang suara, gravitasi
    2. Bahaya Biologi : Bakteri, binatang
    3. Bahaya Psikososial : fatique, beban kerja
    4. Bahaya Kimia : Material beracun
    5. Bahaya Lingkungan : Permukaan Tanah

    b. Pengendalian Potensi Bahaya
    1. Bahaya Fisika :
    a. Pemasangan handrail dan midrail pada perancah.
    b. Memberikan APD yang layak dan sesuai dengan jenis pekerjaan.
    c. Membuat JSA dan SOP pada pekerjaan yang akan dikerjakan dan menjelaskan setiap rincian dari SOP dan JSA tersebut.
    d. Memberikan pelatihan kepada setiap pekerja, sebelum pekerja melakukan pekerjaan.
    e. Membuat canopy sementara bagi para pekerja.

    2. Bahaya Biologi :
    a. Memberikan pakaian khusus ke pekerja untuk menghindari berkembangnya bakteri yang dapat menyebabkan penyakit kulit.
    b. Pendataan terhadap binatang berbahaya yang ada di area kerja dan mensosialisasikan kepada pekerja dengan harapan pekerja dapat mengenali bahaya binatang apa saja yang ada di area kerja.

    3. Bahaya psikososial:
    a. Melakukan safety briefing setiap memulai pekerjaan di setiap harinya.
    b. Pengaturan shift kerja sesuai jam kerja dengan jumlah pekerja.
    c. Mengatur waktu bekerja dan waktu beristirahat bagi pekerja.

    4. Bahaya Kimia :
    a. Mengetahui bahan-bahan yang beracun, sehingga dapat melengkapi diri dengan APD. seperti material debu semen. Sehingga perlu pengetahuan tentang material tersebut dan cara penanganannya.

    5. Bahaya Lingkungan :
    a. Memastikan kondisi tanah stabil dan layak sebelum melakukan pekerjaan.
    b. Pekerjaan wajib dihentikan apabila cuaca hujan atau dalam kondisi yang tidak memungkinkan

    Risk Matriks Pekerjaan 1

    1. Potensi Penyebab Bahaya
    1.1 Bahaya Fisika : radiasi, suhu, pergerakan, gelombang suara, gravitasi
    1.2 Bahaya Biologi : bakteri, binatang
    1.3 Bahaya psikososial : fatique, beban kerja
    1.4 Bahaya Kimia : Material beracun
    1.5 Bahaya Lingkungan : Permukaan Tanah

    2. Konsekuensi
    2.1 Bahaya Fisika
    2.1.1 radiasi : tinggi
    2.1.2 suhu : tinggi
    2.1.3 pergerakan : ringan
    2.1.4 gelombang suara : sedang
    2.1.5 gravitasi : tinggi

    2.2 Bahaya Biologi
    2.2.1 bakteri : ringan
    2.2.2 binatang : sedang

    2.3 Bahaya psikososial
    2.3.1 fatique : sedang
    2.3.2 beban kerja : Sedang

    2.4 Bahaya Kimia
    2.4.1 Material Beracun : Tinggi

    2.5 Bahaya Lingkungan
    2.5.1 Permukaan Tanah : Sedang

    3.Deskripsi Konsekuensi
    3.1 Manusia
    3.1.1 Ringan : Tidak terdapat cedera/penyakit, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    3.1.2 Ringan : Cedera ringan, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    3.1.3 Sedang : Mendapat P3K atau tindakan medis, tidak ada hilang jam kerja lebih dari 1X24 jam
    3.1.4 Tinggi : Memerlukan tindakan medis lanjut/rujukan, cacat sementara, terdapat jam kerja hilang 1X24 jam
    3.1.5 Tinggi : Cacat permanen, kematian, terdapat jam kerja hilang lebih dari 1X24 jam

    3.2 Aset / alat
    3.2.1 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja kurang dari Rp. 1.000.000
    3.2.2 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.000.000 – Rp. 1.500.000
    3.2.3 Sedang : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.500.000 – Rp. 5.000.000
    3.2.4 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 5.000.000 – Rp. 10.000.000
    3.2.5 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja lebih dari Rp. 10.000.000

    3.3 Lingkungan
    3.3.1 Ringan : Tidak berdampak apa-apa pada lingkungan
    3.3.2 Ringan : Berefek kecil terhadap lingkungan
    3.3.3 Sedang : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka pendek
    3.3.4 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang
    3.3.5 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang

    4. Risiko awal
    4.1 Bahaya Fisika: iritasi kulit, suhu tubuh meningkat, pendengaran terganggu, terjatuh dari scaffolding
    4.2 Bahaya Biologi : penyakit kulit, serangan binatang
    4.3 Bahaya psikososial : kelelahan/fatique
    4.4 Bahaya Kimia : Terhirup material beracun
    4.5 Bahaya Lingkungan : Tersandung

    5. Pengendalian potensi bahaya dengan hierarchy of control
    5.1 Eliminasi : Eliminasi bahan – bahan di sekitar area kerja yang dianggap mengganggu pekerjaaan
    5.2 Subtitusi : Mengganti perkakas yang standar yang lebih menunjang pekerjaan
    5.3 Enginnering : pada alat perkakas pegangan alat di buat lebih ergonomis
    5.4 Adiministrasi : Training pekerja, membuat JSA dan penambahan rambu – rambu pekerjaan
    5.5 APD : Menggunakan sepatu safety, sarung tangan safety, helm safety, masker, kacamata, baju safety

    6. Risiko sisa
    6.1 Bahaya Fisika
    6.1.1 radiasi: sedang
    6.1.2 suhu: sedang
    6.1.3 pergerakan : ringan
    6.1.4 gelombang suara : ringan
    6.1.5 gravitasi : sedang

    6.2 Bahaya Biologi
    6.2.1 bakteri: Rendah
    6.2.2 binatang : ringan

    6.3 Bahaya psikososisal
    6.3.1 fatique: Ringan
    6.3.2 beban kerja : Sedang

    6.4 Bahaya Kimia
    6.4.1 Material Beracun : Sedang

    6.5 Bahaya Lingkungan
    6.5.1 Permukaan Tanah : Ringan

    2. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah.

    Risk matriks pekerjaan 2

    1. Potensi Penyebab Bahaya
    1.1 Bahaya Fisika : radiasi, suhu, pergerakan, gelombang suara, gravitasi
    1.2 Bahaya Biologi : bakteri, binatang
    1.3 Bahaya psikososisal: fatique, beban kerja
    1.4 Bahaya Kimia : Material beracun
    1.5 Bahaya Lingkungan : Permukaan Tanah

    2. Konsekuensi
    2.1 Bahaya Fisika
    2.1.1 radiasi : tinggi
    2.1.2 suhu : tinggi
    2.1.3 pergerakan : ringan
    2.1.4 gelombang suara : sedang
    2.1.5 gravitasi : tinggi

    2.2 Bahaya Biologi
    2.2.1 bakteri: ringan
    2.2.2 binatang : sedang

    2.3 Bahaya psikososial
    2.3.1 fatique : sedang
    2.3.2 beban kerja : Sedang

    2.4 Bahaya Kimia
    2.4.1 Material Beracun : Tinggi

    2.5 Bahaya Lingkungan
    2.5.1 Permukaan Tanah : Sedang

    3.Deskripsi Konsekuensi
    3.1 Manusia
    3.1.1 Ringan : Tidak terdapat cedera/penyakit, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    3.1.2 Ringan : Cedera ringan, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    3.1.3 Sedang : Mendapat P3K atau tindakan medis, tidak ada hilang jam kerja lebih dari 1X24 jam
    3.1.4 Tinggi : Memerlukan tindakan medis lanjut/rujukan, cacat sementara, terdapat jam kerja hilang 1X24 jam
    3.1.5 Tinggi : Cacat permanen, kematian, terdapat jam kerja hilang lebih dari 1X24 jam

    3.2 Aset / alat
    3.2.1 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja kurang dari Rp. 1.000.000
    3.2.2 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.000.000 – Rp. 1.500.000
    3.2.3 Sedang : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.500.000 – Rp. 5.000.000
    3.2.4 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 5.000.000 – Rp. 10.000.000
    3.2.5 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja lebih dari Rp. 10.000.000

    3.3 Lingkungan
    3.3.1 Ringan : Tidak berdampak apa-apa pada lingkungan
    3.3.2 Ringan : Berefek kecil terhadap lingkungan
    3.3.3 Sedang : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka pendek
    3.3.4 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang
    3.3.5 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang

    4. Risiko awal
    4.1 Bahaya Fisika: iritasi kulit, suhu tubuh meningkat, pendengaran terganggu, terjatuh dari scaffolding
    4.2 Bahaya Biologi : penyakit kulit, serangan binatang
    4.3 Bahaya psikososial : kelelahan/fatique
    4.4 Bahaya Kimia : Terhirup material beracun
    4.5 Bahaya Lingkungan : Tersandung

    5. Pengendalian potensi bahaya dengan hierarchy of control
    5.1 Eliminasi : Eliminasi bahan – bahan di sekitar area kerja yang dianggap mengganggu pekerjaaan
    5.2 Subtitusi : Mengganti perkakas yang standar yang lebih menunjang pekerjaan
    5.3 Enginnering : pada alat perkakas pegangan alat di buat lebih ergonomis
    5.4 Adiministrasi : Training pekerja, membuat JSA dan penambahan rambu – rambu pekerjaan
    5.5 APD : Menggunakan sepatu safety, sarung tangan safety, helm safety, masker, kacamata, baju safety

    6. Risiko sisa
    6.1 Bahaya Fisika
    6.1.1 Radiasi : sedang
    6.1.2 suhu : sedang
    6.1.3 pergerakan : ringan
    6.1.4 gelombang suara : ringan
    6.1.5 gravitasi : sedang

    6.2 Bahaya Biologi
    6.2.1 bakteri : Rendah
    6.2.2 binatang : Sedang

    6.3 Bahaya psikosisoal
    6.3.1 fatique : Ringan
    6.3.2 beban kerja : sedang

    6.4 Bahaya Kimia
    6.4.1 Material Beracun : Sedang

    6.5 Bahaya Lingkungan
    6.5.1 Permukaan Tanah : Ringan

    Nama : Muhammad Faisal Mahmud

    NPM : 13.11.106.701501.0920

    Kelas : B2

    Semester : V (Lima)

    • Cantumkan nama jenis pekerjaan ke-1 dan jenis pekerjaan ke-2 pada analisis risk assessment anda, agar mudah dipahami. Lihatlah tugas dari rekan yang lain yang sudah disetujui sebagai acuan. Klik “Reply” dibawah komentar ini untuk memperbaikinya, hal ini agar proses perbaikan yang anda lakukan agar mudah ditelusuri.

    • 1). Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.

      a. Analisa Potensi Bahaya
      1. Bahaya Fisika : radiasi, suhu, pergerakan, gelombang suara, gravitasi
      2. Bahaya Biologi : Bakteri, binatang
      3. Bahaya Psikososial : fatique, beban kerja
      4. Bahaya Kimia : Material beracun
      5. Bahaya Lingkungan : Permukaan Tanah

      b. Pengendalian Potensi Bahaya
      1. Bahaya Fisika :
      a. Pemasangan handrail dan midrail pada perancah.
      b. Memberikan APD yang layak dan sesuai dengan jenis pekerjaan.
      c. Membuat JSA dan SOP pada pekerjaan yang akan dikerjakan dan menjelaskan setiap rincian dari SOP dan JSA tersebut.
      d. Memberikan pelatihan kepada setiap pekerja, sebelum pekerja melakukan pekerjaan.
      e. Membuat canopy sementara bagi para pekerja.

      2. Bahaya Biologi :
      a. Memberikan pakaian khusus ke pekerja untuk menghindari berkembangnya bakteri yang dapat menyebabkan penyakit kulit.
      b. Pendataan terhadap binatang berbahaya yang ada di area kerja dan mensosialisasikan kepada pekerja dengan harapan pekerja dapat mengenali bahaya binatang apa saja yang ada di area kerja.

      3. Bahaya psikososial:
      a. Melakukan safety briefing setiap memulai pekerjaan di setiap harinya.
      b. Pengaturan shift kerja sesuai jam kerja dengan jumlah pekerja.
      c. Mengatur waktu bekerja dan waktu beristirahat bagi pekerja.

      4. Bahaya Kimia :
      a. Mengetahui bahan-bahan yang beracun, sehingga dapat melengkapi diri dengan APD. seperti material debu semen. Sehingga perlu pengetahuan tentang material tersebut dan cara penanganannya.

      5. Bahaya Lingkungan :
      a. Memastikan kondisi tanah stabil dan layak sebelum melakukan pekerjaan.
      b. Pekerjaan wajib dihentikan apabila cuaca hujan atau dalam kondisi yang tidak memungkinkan

      Risk Matriks Pekerjaan 1

      1. Potensi Penyebab Bahaya
      1.1 Bahaya Fisika : radiasi, suhu, pergerakan, gelombang suara, gravitasi
      1.2 Bahaya Biologi : bakteri, binatang
      1.3 Bahaya psikososial : fatique, beban kerja
      1.4 Bahaya Kimia : Material beracun
      1.5 Bahaya Lingkungan : Permukaan Tanah

      2. Konsekuensi
      2.1 Bahaya Fisika
      2.1.1 radiasi : tinggi
      2.1.2 suhu : tinggi
      2.1.3 pergerakan : ringan
      2.1.4 gelombang suara : sedang
      2.1.5 gravitasi : tinggi

      2.2 Bahaya Biologi
      2.2.1 bakteri : ringan
      2.2.2 binatang : sedang

      2.3 Bahaya psikososial
      2.3.1 fatique : sedang
      2.3.2 beban kerja : Sedang

      2.4 Bahaya Kimia
      2.4.1 Material Beracun : Tinggi

      2.5 Bahaya Lingkungan
      2.5.1 Permukaan Tanah : Sedang

      3.Deskripsi Konsekuensi
      3.1 Manusia
      3.1.1 Ringan : Tidak terdapat cedera/penyakit, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
      3.1.2 Ringan : Cedera ringan, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
      3.1.3 Sedang : Mendapat P3K atau tindakan medis, tidak ada hilang jam kerja lebih dari 1X24 jam
      3.1.4 Tinggi : Memerlukan tindakan medis lanjut/rujukan, cacat sementara, terdapat jam kerja hilang 1X24 jam
      3.1.5 Tinggi : Cacat permanen, kematian, terdapat jam kerja hilang lebih dari 1X24 jam

      3.2 Aset / alat
      3.2.1 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja kurang dari Rp. 1.000.000
      3.2.2 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.000.000 – Rp. 1.500.000
      3.2.3 Sedang : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.500.000 – Rp. 5.000.000
      3.2.4 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 5.000.000 – Rp. 10.000.000
      3.2.5 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja lebih dari Rp. 10.000.000

      3.3 Lingkungan
      3.3.1 Ringan : Tidak berdampak apa-apa pada lingkungan
      3.3.2 Ringan : Berefek kecil terhadap lingkungan
      3.3.3 Sedang : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka pendek
      3.3.4 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang
      3.3.5 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang

      4. Risiko awal
      4.1 Bahaya Fisika: iritasi kulit, suhu tubuh meningkat, pendengaran terganggu, terjatuh dari scaffolding
      4.2 Bahaya Biologi : penyakit kulit, serangan binatang
      4.3 Bahaya psikososial : kelelahan/fatique
      4.4 Bahaya Kimia : Terhirup material beracun
      4.5 Bahaya Lingkungan : Tersandung

      5. Pengendalian potensi bahaya dengan hierarchy of control
      5.1 Eliminasi : Eliminasi bahan – bahan di sekitar area kerja yang dianggap mengganggu pekerjaaan
      5.2 Subtitusi : Mengganti perkakas yang standar yang lebih menunjang pekerjaan
      5.3 Enginnering : pada alat perkakas pegangan alat di buat lebih ergonomis
      5.4 Adiministrasi : Training pekerja, membuat JSA dan penambahan rambu – rambu pekerjaan
      5.5 APD : Menggunakan sepatu safety, sarung tangan safety, helm safety, masker, kacamata, baju safety

      6. Risiko sisa
      6.1 Bahaya Fisika
      6.1.1 radiasi: sedang
      6.1.2 suhu: sedang
      6.1.3 pergerakan : ringan
      6.1.4 gelombang suara : ringan
      6.1.5 gravitasi : sedang

      6.2 Bahaya Biologi
      6.2.1 bakteri: Rendah
      6.2.2 binatang : ringan

      6.3 Bahaya psikososisal
      6.3.1 fatique: Ringan
      6.3.2 beban kerja : Sedang

      6.4 Bahaya Kimia
      6.4.1 Material Beracun : Sedang

      6.5 Bahaya Lingkungan
      6.5.1 Permukaan Tanah : Ringan

      2). Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah.

      a. Analisa Potensi Bahaya
      1. Bahaya Fisika : radiasi, suhu, pergerakan, gelombang suara, gravitasi
      2. Bahaya Biologi : Bakteri, binatang
      3. Bahaya Psikososial : fatique, beban kerja
      4. Bahaya Kimia : Material beracun
      5. Bahaya Lingkungan : Permukaan Tanah

      b. Pengendalian Potensi Bahaya
      1. Bahaya Fisika :
      a. Pemasangan handrail dan midrail pada perancah.
      b. Memberikan APD yang layak dan sesuai dengan jenis pekerjaan.
      c. Membuat JSA dan SOP pada pekerjaan yang akan dikerjakan dan menjelaskan setiap rincian dari SOP dan JSA tersebut.
      d. Memberikan pelatihan kepada setiap pekerja, sebelum pekerja melakukan pekerjaan.
      e. Membuat canopy sementara bagi para pekerja.

      2. Bahaya Biologi :
      a. Memberikan pakaian khusus ke pekerja untuk menghindari berkembangnya bakteri yang dapat menyebabkan penyakit kulit.
      b. Pendataan terhadap binatang berbahaya yang ada di area kerja dan mensosialisasikan kepada pekerja dengan harapan pekerja dapat mengenali bahaya binatang apa saja yang ada di area kerja.

      3. Bahaya psikososial:
      a. Melakukan safety briefing setiap memulai pekerjaan di setiap harinya.
      b. Pengaturan shift kerja sesuai jam kerja dengan jumlah pekerja.
      c. Mengatur waktu bekerja dan waktu beristirahat bagi pekerja.

      4. Bahaya Kimia :
      a. Mengetahui bahan-bahan yang beracun, sehingga dapat melengkapi diri dengan APD. seperti material debu semen. Sehingga perlu pengetahuan tentang material tersebut dan cara penanganannya.

      5. Bahaya Lingkungan :
      a. Memastikan kondisi tanah stabil dan layak sebelum melakukan pekerjaan.
      b. Pekerjaan wajib dihentikan apabila cuaca hujan atau dalam kondisi yang tidak memungkinkan

      Risk matriks pekerjaan 2

      1. Potensi Penyebab Bahaya
      1.1 Bahaya Fisika : radiasi, suhu, pergerakan, gelombang suara, gravitasi
      1.2 Bahaya Biologi : bakteri, binatang
      1.3 Bahaya psikososisal: fatique, beban kerja
      1.4 Bahaya Kimia : Material beracun
      1.5 Bahaya Lingkungan : Permukaan Tanah

      2. Konsekuensi
      2.1 Bahaya Fisika
      2.1.1 radiasi : tinggi
      2.1.2 suhu : tinggi
      2.1.3 pergerakan : ringan
      2.1.4 gelombang suara : sedang
      2.1.5 gravitasi : tinggi

      2.2 Bahaya Biologi
      2.2.1 bakteri: ringan
      2.2.2 binatang : sedang

      2.3 Bahaya psikososial
      2.3.1 fatique : sedang
      2.3.2 beban kerja : Sedang

      2.4 Bahaya Kimia
      2.4.1 Material Beracun : Tinggi

      2.5 Bahaya Lingkungan
      2.5.1 Permukaan Tanah : Sedang

      3.Deskripsi Konsekuensi
      3.1 Manusia
      3.1.1 Ringan : Tidak terdapat cedera/penyakit, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
      3.1.2 Ringan : Cedera ringan, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
      3.1.3 Sedang : Mendapat P3K atau tindakan medis, tidak ada hilang jam kerja lebih dari 1X24 jam
      3.1.4 Tinggi : Memerlukan tindakan medis lanjut/rujukan, cacat sementara, terdapat jam kerja hilang 1X24 jam
      3.1.5 Tinggi : Cacat permanen, kematian, terdapat jam kerja hilang lebih dari 1X24 jam

      3.2 Aset / alat
      3.2.1 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja kurang dari Rp. 1.000.000
      3.2.2 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.000.000 – Rp. 1.500.000
      3.2.3 Sedang : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.500.000 – Rp. 5.000.000
      3.2.4 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 5.000.000 – Rp. 10.000.000
      3.2.5 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja lebih dari Rp. 10.000.000

      3.3 Lingkungan
      3.3.1 Ringan : Tidak berdampak apa-apa pada lingkungan
      3.3.2 Ringan : Berefek kecil terhadap lingkungan
      3.3.3 Sedang : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka pendek
      3.3.4 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang
      3.3.5 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang

      4. Risiko awal
      4.1 Bahaya Fisika: iritasi kulit, suhu tubuh meningkat, pendengaran terganggu, terjatuh dari scaffolding
      4.2 Bahaya Biologi : penyakit kulit, serangan binatang
      4.3 Bahaya psikososial : kelelahan/fatique
      4.4 Bahaya Kimia : Terhirup material beracun
      4.5 Bahaya Lingkungan : Tersandung

      5. Pengendalian potensi bahaya dengan hierarchy of control
      5.1 Eliminasi : Eliminasi bahan – bahan di sekitar area kerja yang dianggap mengganggu pekerjaaan
      5.2 Subtitusi : Mengganti perkakas yang standar yang lebih menunjang pekerjaan
      5.3 Enginnering : pada alat perkakas pegangan alat di buat lebih ergonomis
      5.4 Adiministrasi : Training pekerja, membuat JSA dan penambahan rambu – rambu pekerjaan
      5.5 APD : Menggunakan sepatu safety, sarung tangan safety, helm safety, masker, kacamata, baju safety

      6. Risiko sisa
      6.1 Bahaya Fisika
      6.1.1 Radiasi : sedang
      6.1.2 suhu : sedang
      6.1.3 pergerakan : ringan
      6.1.4 gelombang suara : ringan
      6.1.5 gravitasi : sedang

      6.2 Bahaya Biologi
      6.2.1 bakteri : Rendah
      6.2.2 binatang : Sedang

      6.3 Bahaya psikosisoal
      6.3.1 fatique : Ringan
      6.3.2 beban kerja : sedang

      6.4 Bahaya Kimia
      6.4.1 Material Beracun : Sedang

      6.5 Bahaya Lingkungan
      6.5.1 Permukaan Tanah : Ringan

      Nama : Muhammad Faisal Mahmud

      NPM : 13.11.106.701501.0920

      Kelas : B2

      Semester : V (Lima)

  26. 1. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah.

    1.1. Analisis potensi bahaya

    1.1.1. Kontur tanah tidak stabil
    1.1.2. Bahan bangunan yg tidak tertata dengan rapi yang berserakan di lokasi kerja
    1.1.3. Alat pelindung diri yg tidak di gunakan oleh pekerja
    1.1.4. Terpapar matahari dengan suhu yang tinggi
    1.1.5. Scaffolding yang seadanya tidak memenuhi standar
    1.1.6. Bahaya dari gravitasi bumi
    1.1.7. Fatigue yang membuat pekerja tidak konsentrasi saat bekerja

    1.2. Pengendalian potensi bahaya

    1.2.1. Sebaiknya permukaan yang tidak rata tersebut diratakan terlebih dahulu agar scaffolding tidak goyang
    1.2.2. Bahan bangunan yang berserakan lebih baik disusun  dahulu agar tidak mengganggu akses jalan bagi para pekerja
    1.2.3. Pekerja harus menggunkan alat pelindung diri seperti sarung tangan sehingga tidak menimbulkan alergi yang di sebabkan oleh semen
    1.2.4. Membuat tenda darurat agar matahari tidak langsung mengenai pekerja serta di dukung dengan pakaian lengan panjang dan helm agar tidak terpapar sinar matahari secara langsung
    1.2.5. Memasang handrail di scaffolding agar pekerja dapat berpegangan
    1.2.6. Menggunakan body harness , agar menghambat pekerja jika terjatuh
    1.2.7. Pengaturan jam kerja dan jam istirahat dengan baik

    2. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah.

    2.1. Analisi potensi bahaya

    2.1.1. Cuaca extreme
    2.1.2. Jatuh dari ketinggian
    2.1.3. Bahan material yang jatuh dari atas
    2.1.4. Fatigue yang dapat membahayakan bagi pekerja tersebut
    2.1.5. Scaffolding yang tidak baik pemasangannya
    2.1.6. Suhu udara yang panas

    2.2. pengendalian potensi bahaya

    2.2.1. Menghentikan pekerjaan jika cuaca mulai buruk
    2.2.2. Menggunakan body harness dan memasang handrail di belakang scaffolding
    2.2.3. Memasang jaring di sekitar scaffolding agar bahan material yang jatuh tidak terlempar /terjatuh dan melukai pekerja yang ada di bawah
    2.2.4. Pengaturan pergantian jam kerja yg baik
    2.2.5. Memeriksa scaffolding jika ingin melakukan pekerjaan , pastikan scaffolding terpasang dengan baik dan memenuhi standar kelayakan pemakaian
    2.2.6. Pekerja menggunakan pakaian lengan panjang dan helm agar tidak terpapar sinar matahari secara langsung

    Risk Matriks Pekerjaan 1

    1. Potensi Penyebab Bahaya
    1.1 bahaya lingkungan : kontur tanah tidak stabil
    1.2 Bahaya Fisika : bahan bangunan berserakan, debu, terik matahari
    1.3 Bahaya psikososial:kurang pemahaman penggunaan alat pelindung diri yang benar
    1.4 Bahaya Kimia : Material beracun dari bahan bangunan

    2. Konsekuensi
    2.1 Bahaya Lingkungan
    2.1.1 permukaan tanah  : Sedang

    2.2 Bahaya Fisika
    2.2.1 Debu : Sedang
    2.2.2 Gravitasi : Tinggi
    2.2.3 Dinding Konstruksi : Tinggi
    2.2.4 Scaffolding : Sedang
    2.2.5 Suhu : Ringan

     2.3 Bahaya Psikososial
    2.3.1 fatigue :sedang
    2.3.2 

    2.4 Bahaya Kimia
    2.4.1 Material Beracun : Tinggi

    3.Deskripsi Konsekuensi
    3.1 Manusia
    3.1.1 Ringan : Tidak menimbulkan cidera serius
    3.1.2 Ringan : Cedera ringan, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
     3.1.3 Sedang : Mendapat P3K atau tindakan medis, tidak ada hilang jam kerja lebih dari 1X24 jam
    3.1.4 Tinggi : Memerlukan tindakan medis lanjut/rujukan, cacat sementara, terdapat jam kerja hilang 1X24 jam

    3.2 Aset / alat
    3.2.1 sedang : Total kerugian kecelakaan kerja antara dari Rp. 3.000.000 – 4.500.000
    3.2.2 sedang : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 3.000.000 – Rp. 4.500.000
    3.2.3 ringan : Total kerugian kecelakaan kerja kurang dari Rp. 3.500.000 
    3.2.4 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 4.500.000 – Rp. 10.000.000

     3.3 Lingkungan
    3.3.1 sedang : berdampak jangka pendek
    3.3.2 Ringan : Berefek kecil terhadap lingkungan
    3.3.3 Sedang : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka pendek
    3.3.4 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang

    4. Risiko awal
    4.1 Bahaya Lingkungan : terjatuh Tersandung
    4.2 Bahaya Fisika : Terhirup debu, tertimpa runtuhan material, scaffolding runtuh, tangan tercepit, terjatuh dari scaffolding
    4.3 psikososial : tidak konsentrasi
     4.4 Bahaya Kimia : Terhirup material beracun 

    5. Pengendalian potensi bahaya dengan hierarchy of control
    5.1 Eliminasi : Eliminasi material-material disekitar konstruksi yang tidak penting dengan dibuang atau dipindahkan
    5.2 Subtitusi : Mengganti model scaffolding menjadi scaffolding yang standar
    5.3 Enginnering : Pada scaffolding dibuat handrail agar pekerja tidak terjatuh
    5.4 Adiministrasi : Dibuat JSA, training untuk pekerjanya, dibuat rambu-rambu
    5.5 APD : Menggunakan sepatu safety, sarung tangan safety, helm safety, masker, kacamata, baju safety

     6. Risiko sisa
    6.1 Bahaya Lingkungan
    6.1.1 terpeleset d tempat  kerja : Rendah

    6.2 Bahaya Fisika
    6.2.1 Debu : Rendah
    6.2.2 Gravitasi : Sedang
    6.2.3 Dinding Konstruksi : Sedang
    6.2.4 Scaffolding : Rendah
    6.2.5 Suhu : Rendah

    6.3 psikososial
    6.3.1 lelah saat bekerja: ringan
    6.3.2 usia dan pengalaman : ringan

    6.4 Bahaya Kimia
    6.4.1 Material Beracun : Sedang

    Risk matriks pekerjaan 2
    1. Potensi Penyebab Bahaya
    1.1 bahaya lingkungan : kontur tanah tidak stabil
    1.2 Bahaya Fisika : bahan bangunan berserakan, debu, terik matahari
    1.3 Bahaya psikososial:kurang pemahaman penggunaan alat pelindung diri yang benar
    1.4 Bahaya Kimia : Material beracun dari bahan bangunan

    2. Konsekuensi
    2.1 Bahaya Lingkungan
    2.1.1 permukaan tanah  : Sedang

    2.2 Bahaya Fisika
    2.2.1 Debu : Sedang
    2.2.2 Gravitasi : Tinggi
    2.2.3 Dinding Konstruksi : Tinggi
    2.2.4 Scaffolding : Sedang
    2.2.5 Suhu : Ringan

     2.3 Bahaya Psikososial
    2.3.1 fatigue :sedang
    2.3.2 

    2.4 Bahaya Kimia
    2.4.1 Material Beracun : Tinggi

    3.Deskripsi Konsekuensi
    3.1 Manusia
    3.1.1 Ringan : Tidak menimbulkan cidera serius
    3.1.2 Ringan : Cedera ringan, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
     3.1.3 Sedang : Mendapat P3K atau tindakan medis, tidak ada hilang jam kerja lebih dari 1X24 jam
    3.1.4 Tinggi : Memerlukan tindakan medis lanjut/rujukan, cacat sementara, terdapat jam kerja hilang 1X24 jam

    3.2 Aset / alat
    3.2.1 sedang : Total kerugian kecelakaan kerja antara dari Rp. 3.000.000 – 4.500.000
    3.2.2 sedang : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 3.000.000 – Rp. 4.500.000
    3.2.3 ringan : Total kerugian kecelakaan kerja kurang dari Rp. 3.500.000 
    3.2.4 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 4.500.000 – Rp. 10.000.000

     3.3 Lingkungan
    3.3.1 sedang : berdampak jangka pendek
    3.3.2 Ringan : Berefek kecil terhadap lingkungan
    3.3.3 Sedang : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka pendek
    3.3.4 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang

    4. Risiko awal
    4.1 Bahaya Lingkungan : terjatuh Tersandung
    4.2 Bahaya Fisika : Terhirup debu, tertimpa runtuhan material, scaffolding runtuh, tangan tercepit, terjatuh dari scaffolding
    4.3 psikososial : tidak konsentrasi
     4.4 Bahaya Kimia : Terhirup material beracun 

    5. Pengendalian potensi bahaya dengan hierarchy of control
    5.1 Eliminasi : Eliminasi material-material disekitar konstruksi yang tidak penting dengan dibuang atau dipindahkan
    5.2 Subtitusi : Mengganti model scaffolding menjadi scaffolding yang standar
    5.3 Enginnering : Pada scaffolding dibuat handrail agar pekerja tidak terjatuh
    5.4 Adiministrasi : Dibuat JSA, training untuk pekerjanya, dibuat rambu-rambu
    5.5 APD : Menggunakan sepatu safety, sarung tangan safety, helm safety, masker, kacamata, baju safety

     6. Risiko sisa
    6.1 Bahaya Lingkungan
    6.1.1 terpeleset d tempat  kerja : Rendah

    6.2 Bahaya Fisika
    6.2.1 Debu : Rendah
    6.2.2 Gravitasi : Sedang
    6.2.3 Dinding Konstruksi : Sedang
    6.2.4 Scaffolding : Rendah
    6.2.5 Suhu : Rendah

    6.3 psikososial
    6.3.1 lelah saat bekerja: ringan
    6.3.2 usia dan pengalaman : ringan

    6.4 Bahaya Kimia
    6.4.1 Material Beracun : Sedang

    Rheza Ridwan Nurrochman
    13.11.106.701501.0896
    B2 semester v d4k3

    • Cantumkan nama jenis pekerjaan ke-1 dan jenis pekerjaan ke-2 pada analisis risk assessment anda, agar mudah dipahami. Lihatlah tugas dari rekan yang lain yang sudah disetujui sebagai acuan. Klik “Reply” dibawah komentar ini untuk memperbaikinya, hal ini agar proses perbaikan yang anda lakukan agar mudah ditelusuri.

  27. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah :

    a. Analisa Potensi Bahaya
    1. Bahaya Psikososial : Kelelahan karena jam istirahat tidak teratur, Pengaruh usia serta pengalaman dari pekerja dalam bidang tersebut
    2. Bahaya Fisika : Konstruksi Scaffolding, Suhu saat bekerja
    3. Bahaya Biologi : Kuman-kuman penyakit yang terdapat di udara, Bakteri, Posisi tubuh pekerja
    4. Bahaya Kimia : Material beracun
    5. Bahaya Lingkungan : Suara bising berlebihan, Debu

    b. Pengendalian Potensi Bahaya
    1. Bahaya Psikososial :
    � Mengatur jam kerja agar pekerja tidak kelelahan pada saat bekerja
    � Penyesuaian jenis pekerjaan dengan usia & pengalaman pekerja tersebut

    2. Bahaya Fisika :
    � Memahami beban maksimal dari scaffolding
    � Suhu lingkungan yang tinggi / terkena matahari langsung membuat fokus pekerja terbagi (pekerja kepanasan)

    3. Bahaya Biologi :
    � Kuman-kuman penyakit yang bersumber dari tenaga kerja yang menderita penyakit tertentu
    � Bakteri yang timbul akibat kesehatan dan sanitasi kurang terjaga
    � Menerapkan posisi tubuh yang benar saat bekerja

    4. Bahaya Kimia :
    � Mengetahui serta menguasai MSDS (Material Safety Data Sheet) dari bahan kimia yang ada di sekitar daerah pekerja

    5. Bahaya Lingkungan :
    � dianjurkan memakai penutup telinga (Earplug) & masker saat bekerja

    Risk Matriks Pekerjaan 1

    1. Potensi Penyebab Bahaya
    1.1 Bahaya Psikososial : Kelelahan karena jam istirahat tidak teratur, Pengaruh usia serta pengalaman dari pekerja dalam bidang tersebut
    1.2 Bahaya Fisika : Konstruksi Scaffolding, Suhu saat bekerja
    1.3 Bahaya Biologi : Kuman-kuman penyakit yang terdapat di udara, Bakteri, Posisi tubuh pekerja
    1.4 Bahaya Kimia : Material beracun
    1.5 Bahaya Lingkungan : Suara bising berlebihan, Debu

    2. Konsekuensi
    2.1 Bahaya Psikososial
    2.1.1 Kelelahan karena jam istirahat tidak teratur : Sedang
    2.1.2 Pengaruh usia serta pengalaman dari pekerja dalam bidang tersebut : Sedang

    2.2 Bahaya Fisika
    2.2.1 Konstruksi Scaffolding : Sedang
    2.2.2 Suhu saat bekerja : Sedang

    2.3 Bahaya Biologi
    2.3.1 Kuman-kuman penyakit yang terdapat di udara : Ringan
    2.3.2 Bakteri : Ringan
    2.3.3 Posisi tubuh pekerja

    2.4 Bahaya Kimia
    2.4.1 Material Beracun : Tinggi

    2.5 Bahaya Lingkungan
    2.5.1 Suara bising berlebihan : Ringan
    2.5.2 Debu : Ringan

    3.Deskripsi Konsekuensi
    3.1 Manusia
    3.1.1 Ringan : Tidak terdapat cedera/penyakit, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    3.1.2 Ringan : Cedera ringan, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    3.1.3 Sedang : Mendapat P3K atau tindakan medis, tidak ada hilang jam kerja lebih dari 1X24 jam
    3.1.4 Tinggi : Memerlukan tindakan medis lanjut/rujukan, cacat sementara, terdapat jam kerja hilang 1X24 jam
    3.1.5 Tinggi : Cacat permanen, kematian, terdapat jam kerja hilang lebih dari 1X24 jam

    3.2 Aset / alat
    3.2.1 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja kurang dari Rp. 1.000.000
    3.2.2 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.000.000 – Rp. 1.500.000
    3.2.3 Sedang : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.500.000 – Rp. 5.000.000
    3.2.4 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 5.000.000 – Rp. 10.000.000
    3.2.5 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja lebih dari Rp. 10.000.000

    3.3 Lingkungan
    3.3.1 Ringan : Tidak berdampak apa-apa pada lingkungan
    3.3.2 Ringan : Berefek kecil terhadap lingkungan
    3.3.3 Sedang : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka pendek
    3.3.4 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang
    3.3.5 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang

    4. Risiko awal
    4.1 Bahaya Psikososial : Kelelahan atau fatique
    4.2 Bahaya Fisika : Terhirup debu, tertimpa runtuhan material, scaffolding runtuh, tangan tercepit, terjatuh dari scaffolding
    4.3 Bahaya Biologi : Terkena penyakit kulit, diserang hewan
    4.4 Bahaya Kimia : Terhirup material beracun
    4.5 Bahaya Lingkungan : Tersandung

    5. Pengendalian potensi bahaya dengan hierarchy of control
    5.1 Eliminasi : Eliminasi material-material disekitar konstruksi yang tidak penting dengan dibuang atau dipindahkan
    5.2 Subtitusi : Mengganti model scaffolding menjadi scaffolding yang standar
    5.3 Enginnering : Pada scaffolding dibuat handrail agar pekerja tidak terjatuh
    5.4 Adiministrasi : Dibuat JSA, training untuk pekerjanya, dibuat rambu-rambu
    5.5 APD : Menggunakan sepatu safety, sarung tangan safety, helm safety, masker, kacamata, baju safety

    6. Risiko sisa
    6.1 Bahaya Psikososial
    6.1.1 Kelelahan karena jam istirahat tidak teratur : Sedang
    6.1.2 Pengaruh usia serta pengalaman dari pekerja dalam bidang tersebut : Sedang

    6.2 Bahaya Fisika
    6.2.1 Konstruksi Scaffolding : Sedang
    6.2.2 Suhu saat bekerja : Sedang

    6.3 Bahaya Biologi
    6.3.1 Kuman-kuman penyakit yang terdapat di udara : Ringan
    6.3.2 Bakteri : Sedang
    6.3.3 Posisi tubuh pekerja : Sedang

    6.4 Bahaya Kimia
    6.4.1 Material Beracun : Tinggi

    6.5 Bahaya Lingkungan
    6.5.1 Suara bising berlebihan : Ringan
    6.5.2 Debu : Ringan

    Risk Matriks Pekerjaan 2

    a. Potensi Penyebab Bahaya
    1. Bahaya Psikososial : Kelelahan karena jam istirahat tidak teratur, Pengaruh usia serta pengalaman dari pekerja dalam bidang tersebut, Kondisi kesehatan dan riwayat penyakit kronis pekerja
    2. Bahaya Fisika : Konstruksi Scaffolding, Suhu saat bekerja
    3. Bahaya Biologi : Kuman-kuman penyakit yang terdapat di udara, Bakteri, Virus, Posisi tubuh pekerja
    4. Bahaya Kimia : Material beracun
    5. Bahaya Lingkungan : Suara bising berlebihan, Debu

    b. Pengendalian Potensi Bahaya
    1. Bahaya Psikososial :
    � Mengatur jam kerja agar pekerja tidak kelelahan pada saat bekerja
    � Penyesuaian jenis pekerjaan dengan usia & pengalaman pekerja tersebut
    � Sebaiknya melakukan MCU (Medical Check Up) secara teratur

    2. Bahaya Fisika :
    � Memahami beban maksimal dari scaffolding, harus menggunakan handrail
    � Pekerja wajib memakai full body harness
    � Suhu lingkungan yang tinggi / terkena matahari langsung membuat fokus pekerja terbagi (pekerja kepanasan)

    3. Bahaya Biologi :
    � Kuman-kuman penyakit yang bersumber dari tenaga kerja yang menderita penyakit tertentu
    � Bakteri yang timbul akibat kesehatan dan sanitasi kurang terjaga
    � Menerapkan posisi tubuh yang benar saat bekerja

    4. Bahaya Kimia :
    � Mengetahui serta menguasai MSDS (Material Safety Data Sheet) dari bahan kimia yang ada di sekitar daerah pekerja

    5. Bahaya Lingkungan :
    � dianjurkan memakai penutup telinga (Earplug) & masker saat bekerja

    2. Konsekuensi
    2.1 Bahaya Psikososial
    2.1.1 Kelelahan karena jam istirahat tidak teratur : Sedang
    2.1.2 Pengaruh usia serta pengalaman dari pekerja dalam bidang tersebut : Sedang
    2.1.3 Kondisi kesehatan dan riwayat penyakit kronis pekerja : Tinggi

    2. Bahaya Fisika : Konstruksi Scaffolding, Suhu saat bekerja
    2.2 Bahaya Fisika
    2.2.1 Konstruksi Scaffolding : Sedang
    2.2.2 Suhu saat bekerja : Sedang

    2.3 Bahaya Biologi
    2.3.1 Kuman-kuman penyakit yang terdapat di udara : Ringan
    2.3.2 Bakteri : Ringan
    2.3.3 Posisi tubuh pekerja

    2.4 Bahaya Kimia
    2.4.1 Material Beracun : Tinggi

    2.5 Bahaya Lingkungan
    2.5.1 Suara bising berlebihan : Ringan
    2.5.2 Debu : Ringan

    3.Deskripsi Konsekuensi
    3.1 Manusia
    3.1.1 Ringan : Tidak terdapat cedera/penyakit, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    3.1.2 Ringan : Cedera ringan, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
    3.1.3 Sedang : Mendapat P3K atau tindakan medis, tidak ada hilang jam kerja lebih dari 1X24 jam
    3.1.4 Tinggi : Memerlukan tindakan medis lanjut/rujukan, cacat sementara, terdapat jam kerja hilang 1X24 jam
    3.1.5 Tinggi : Cacat permanen, kematian, terdapat jam kerja hilang lebih dari 1X24 jam

    3.2 Aset / alat
    3.2.1 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja kurang dari Rp. 1.000.000
    3.2.2 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.000.000 � Rp. 1.500.000
    3.2.3 Sedang : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.500.000 � Rp. 5.000.000
    3.2.4 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 5.000.000 � Rp. 10.000.000
    3.2.5 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja lebih dari Rp. 10.000.000

    3.3 Lingkungan
    3.3.1 Ringan : Tidak berdampak apa-apa pada lingkungan
    3.3.2 Ringan : Berefek kecil terhadap lingkungan
    3.3.3 Sedang : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka pendek
    3.3.4 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang
    3.3.5 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang

    4. Risiko awal
    4.1 Bahaya Psikososial : Kelelahan atau fatique
    4.2 Bahaya Fisika : Terhirup debu, tertimpa runtuhan material, scaffolding runtuh, tangan tercepit, terjatuh dari scaffolding
    4.3 Bahaya Biologi : Terkena penyakit kulit, diserang hewan
    4.4 Bahaya Kimia : Terhirup material beracun
    4.5 Bahaya Lingkungan : Tersandung

    5. Pengendalian potensi bahaya dengan hierarchy of control
    5.1 Eliminasi : Eliminasi material-material disekitar konstruksi yang tidak penting dengan dibuang atau dipindahkan
    5.2 Subtitusi : Mengganti model scaffolding menjadi scaffolding yang standar, mengganti bahan dari batu bata merah menjadi bata ringan
    5.3 Enginnering : Pada scaffolding dibuat handrail agar pekerja tidak terjatuh, menggunakan bodyharnes
    5.4 Adiministrasi : Dibuat JSA, training untuk pekerjanya, dibuat rambu-rambu
    5.5 APD : Menggunakan sepatu safety, sarung tangan safety, helm safety, earplug, masker, kacamata, baju safety

    6. Risiko sisa
    6.1 Bahaya Psikososial
    6.1.1 Kelelahan karena jam istirahat tidak teratur : Sedang
    6.1.2 Pengaruh usia serta pengalaman dari pekerja dalam bidang tersebut : Sedang
    6.1.2 Kondisi kesehatan dan riwayat penyakit kronis pekerja : Tinggi

    6.2 Bahaya Fisika
    6.2.1 Konstruksi Scaffolding : Sedang
    6.2.2 Suhu saat bekerja : Sedang

    6.3 Bahaya Biologi
    6.3.1 Kuman-kuman penyakit yang terdapat di udara : Ringan
    6.3.2 Bakteri : Sedang
    6.3.3 Posisi tubuh pekerja : Sedang

    6.4 Bahaya Kimia
    6.4.1 Material Beracun : Tinggi

    6.5 Bahaya Lingkungan
    6.5.1 Suara bising berlebihan : Ringan
    6.5.2 Debu : Ringan

    Nama : Tiffany Crissie
    Kelas : B2
    Semester : 5
    NPM : 13.11.106.701501.1006

    • Cantumkan nama jenis pekerjaan ke-1 dan jenis pekerjaan ke-2 pada analisis risk assessment anda, agar mudah dipahami. Lihatlah tugas dari rekan yang lain yang sudah disetujui sebagai acuan. Klik “Reply” dibawah komentar ini untuk memperbaikinya, hal ini agar proses perbaikan yang anda lakukan agar mudah ditelusuri.

      • Jenis Pekerjaan 1 Pemasangan batu bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah :

        a. Analisa Potensi Bahaya
        1. Bahaya Psikososial : Kelelahan karena jam istirahat tidak teratur, Pengaruh usia serta pengalaman dari pekerja dalam bidang tersebut
        2. Bahaya Fisika : Konstruksi Scaffolding, Suhu saat bekerja
        3. Bahaya Biologi : Kuman-kuman penyakit yang terdapat di udara, Bakteri, Posisi tubuh pekerja
        4. Bahaya Kimia : Material beracun
        5. Bahaya Lingkungan : Suara bising berlebihan, Debu

        b. Pengendalian Potensi Bahaya
        1. Bahaya Psikososial :
        � Mengatur jam kerja agar pekerja tidak kelelahan pada saat bekerja
        � Penyesuaian jenis pekerjaan dengan usia & pengalaman pekerja tersebut

        2. Bahaya Fisika :
        � Memahami beban maksimal dari scaffolding
        � Suhu lingkungan yang tinggi / terkena matahari langsung membuat fokus pekerja terbagi (pekerja kepanasan)

        3. Bahaya Biologi :
        � Kuman-kuman penyakit yang bersumber dari tenaga kerja yang menderita penyakit tertentu
        � Bakteri yang timbul akibat kesehatan dan sanitasi kurang terjaga
        � Menerapkan posisi tubuh yang benar saat bekerja

        4. Bahaya Kimia :
        � Mengetahui serta menguasai MSDS (Material Safety Data Sheet) dari bahan kimia yang ada di sekitar daerah pekerja

        5. Bahaya Lingkungan :
        � dianjurkan memakai penutup telinga (Earplug) & masker saat bekerja

        Risk Matriks Pekerjaan 1 Pemasangan batu bata merah untuk perumahan dengan ketinggian rumah sampai dengan 3,00 meter dari permukaan tanah :

        1. Potensi Penyebab Bahaya
        1.1 Bahaya Psikososial : Kelelahan karena jam istirahat tidak teratur, Pengaruh usia serta pengalaman dari pekerja dalam bidang tersebut
        1.2 Bahaya Fisika : Konstruksi Scaffolding, Suhu saat bekerja
        1.3 Bahaya Biologi : Kuman-kuman penyakit yang terdapat di udara, Bakteri, Posisi tubuh pekerja
        1.4 Bahaya Kimia : Material beracun
        1.5 Bahaya Lingkungan : Suara bising berlebihan, Debu

        2. Konsekuensi
        2.1 Bahaya Psikososial
        2.1.1 Kelelahan karena jam istirahat tidak teratur : Sedang
        2.1.2 Pengaruh usia serta pengalaman dari pekerja dalam bidang tersebut : Sedang

        2.2 Bahaya Fisika
        2.2.1 Konstruksi Scaffolding : Sedang
        2.2.2 Suhu saat bekerja : Sedang

        2.3 Bahaya Biologi
        2.3.1 Kuman-kuman penyakit yang terdapat di udara : Ringan
        2.3.2 Bakteri : Ringan
        2.3.3 Posisi tubuh pekerja

        2.4 Bahaya Kimia
        2.4.1 Material Beracun : Tinggi

        2.5 Bahaya Lingkungan
        2.5.1 Suara bising berlebihan : Ringan
        2.5.2 Debu : Ringan

        3.Deskripsi Konsekuensi
        3.1 Manusia
        3.1.1 Ringan : Tidak terdapat cedera/penyakit, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
        3.1.2 Ringan : Cedera ringan, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
        3.1.3 Sedang : Mendapat P3K atau tindakan medis, tidak ada hilang jam kerja lebih dari 1X24 jam
        3.1.4 Tinggi : Memerlukan tindakan medis lanjut/rujukan, cacat sementara, terdapat jam kerja hilang 1X24 jam
        3.1.5 Tinggi : Cacat permanen, kematian, terdapat jam kerja hilang lebih dari 1X24 jam

        3.2 Aset / alat
        3.2.1 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja kurang dari Rp. 1.000.000
        3.2.2 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.000.000 – Rp. 1.500.000
        3.2.3 Sedang : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.500.000 – Rp. 5.000.000
        3.2.4 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 5.000.000 – Rp. 10.000.000
        3.2.5 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja lebih dari Rp. 10.000.000

        3.3 Lingkungan
        3.3.1 Ringan : Tidak berdampak apa-apa pada lingkungan
        3.3.2 Ringan : Berefek kecil terhadap lingkungan
        3.3.3 Sedang : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka pendek
        3.3.4 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang
        3.3.5 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang

        4. Risiko awal
        4.1 Bahaya Psikososial : Kelelahan atau fatique
        4.2 Bahaya Fisika : Terhirup debu, tertimpa runtuhan material, scaffolding runtuh, tangan tercepit, terjatuh dari scaffolding
        4.3 Bahaya Biologi : Terkena penyakit kulit, diserang hewan
        4.4 Bahaya Kimia : Terhirup material beracun
        4.5 Bahaya Lingkungan : Tersandung

        5. Pengendalian potensi bahaya dengan hierarchy of control
        5.1 Eliminasi : Eliminasi material-material disekitar konstruksi yang tidak penting dengan dibuang atau dipindahkan
        5.2 Subtitusi : Mengganti model scaffolding menjadi scaffolding yang standar
        5.3 Enginnering : Pada scaffolding dibuat handrail agar pekerja tidak terjatuh
        5.4 Adiministrasi : Dibuat JSA, training untuk pekerjanya, dibuat rambu-rambu
        5.5 APD : Menggunakan sepatu safety, sarung tangan safety, helm safety, masker, kacamata, baju safety

        6. Risiko sisa
        6.1 Bahaya Psikososial
        6.1.1 Kelelahan karena jam istirahat tidak teratur : Sedang
        6.1.2 Pengaruh usia serta pengalaman dari pekerja dalam bidang tersebut : Sedang

        6.2 Bahaya Fisika
        6.2.1 Konstruksi Scaffolding : Sedang
        6.2.2 Suhu saat bekerja : Sedang

        6.3 Bahaya Biologi
        6.3.1 Kuman-kuman penyakit yang terdapat di udara : Ringan
        6.3.2 Bakteri : Sedang
        6.3.3 Posisi tubuh pekerja : Sedang

        6.4 Bahaya Kimia
        6.4.1 Material Beracun : Tinggi

        6.5 Bahaya Lingkungan
        6.5.1 Suara bising berlebihan : Ringan
        6.5.2 Debu : Ringan

        Risk Matriks Pekerjaan 2 Pemasangan batu bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah.

        a. Potensi Penyebab Bahaya
        1. Bahaya Psikososial : Kelelahan karena jam istirahat tidak teratur, Pengaruh usia serta pengalaman dari pekerja dalam bidang tersebut, Kondisi kesehatan dan riwayat penyakit kronis pekerja
        2. Bahaya Fisika : Konstruksi Scaffolding, Suhu saat bekerja
        3. Bahaya Biologi : Kuman-kuman penyakit yang terdapat di udara, Bakteri, Virus, Posisi tubuh pekerja
        4. Bahaya Kimia : Material beracun
        5. Bahaya Lingkungan : Suara bising berlebihan, Debu

        b. Pengendalian Potensi Bahaya
        1. Bahaya Psikososial :
        � Mengatur jam kerja agar pekerja tidak kelelahan pada saat bekerja
        � Penyesuaian jenis pekerjaan dengan usia & pengalaman pekerja tersebut
        � Sebaiknya melakukan MCU (Medical Check Up) secara teratur

        2. Bahaya Fisika :
        � Memahami beban maksimal dari scaffolding, harus menggunakan handrail
        � Pekerja wajib memakai full body harness
        � Suhu lingkungan yang tinggi / terkena matahari langsung membuat fokus pekerja terbagi (pekerja kepanasan)

        3. Bahaya Biologi :
        � Kuman-kuman penyakit yang bersumber dari tenaga kerja yang menderita penyakit tertentu
        � Bakteri yang timbul akibat kesehatan dan sanitasi kurang terjaga
        � Menerapkan posisi tubuh yang benar saat bekerja

        4. Bahaya Kimia :
        � Mengetahui serta menguasai MSDS (Material Safety Data Sheet) dari bahan kimia yang ada di sekitar daerah pekerja

        5. Bahaya Lingkungan :
        � dianjurkan memakai penutup telinga (Earplug) & masker saat bekerja

        2. Konsekuensi
        2.1 Bahaya Psikososial
        2.1.1 Kelelahan karena jam istirahat tidak teratur : Sedang
        2.1.2 Pengaruh usia serta pengalaman dari pekerja dalam bidang tersebut : Sedang
        2.1.3 Kondisi kesehatan dan riwayat penyakit kronis pekerja : Tinggi

        2. Bahaya Fisika : Konstruksi Scaffolding, Suhu saat bekerja
        2.2 Bahaya Fisika
        2.2.1 Konstruksi Scaffolding : Sedang
        2.2.2 Suhu saat bekerja : Sedang

        2.3 Bahaya Biologi
        2.3.1 Kuman-kuman penyakit yang terdapat di udara : Ringan
        2.3.2 Bakteri : Ringan
        2.3.3 Posisi tubuh pekerja

        2.4 Bahaya Kimia
        2.4.1 Material Beracun : Tinggi

        2.5 Bahaya Lingkungan
        2.5.1 Suara bising berlebihan : Ringan
        2.5.2 Debu : Ringan

        3.Deskripsi Konsekuensi
        3.1 Manusia
        3.1.1 Ringan : Tidak terdapat cedera/penyakit, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
        3.1.2 Ringan : Cedera ringan, tenaga kerja dapat langsung bekerja kembali
        3.1.3 Sedang : Mendapat P3K atau tindakan medis, tidak ada hilang jam kerja lebih dari 1X24 jam
        3.1.4 Tinggi : Memerlukan tindakan medis lanjut/rujukan, cacat sementara, terdapat jam kerja hilang 1X24 jam
        3.1.5 Tinggi : Cacat permanen, kematian, terdapat jam kerja hilang lebih dari 1X24 jam

        3.2 Aset / alat
        3.2.1 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja kurang dari Rp. 1.000.000
        3.2.2 Ringan : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.000.000 � Rp. 1.500.000
        3.2.3 Sedang : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 1.500.000 � Rp. 5.000.000
        3.2.4 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja antara Rp. 5.000.000 � Rp. 10.000.000
        3.2.5 Tinggi : Total kerugian kecelakaan kerja lebih dari Rp. 10.000.000

        3.3 Lingkungan
        3.3.1 Ringan : Tidak berdampak apa-apa pada lingkungan
        3.3.2 Ringan : Berefek kecil terhadap lingkungan
        3.3.3 Sedang : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka pendek
        3.3.4 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang
        3.3.5 Tinggi : Berefek serius terhadap lingkungan dalam jangka panjang

        4. Risiko awal
        4.1 Bahaya Psikososial : Kelelahan atau fatique
        4.2 Bahaya Fisika : Terhirup debu, tertimpa runtuhan material, scaffolding runtuh, tangan tercepit, terjatuh dari scaffolding
        4.3 Bahaya Biologi : Terkena penyakit kulit, diserang hewan
        4.4 Bahaya Kimia : Terhirup material beracun
        4.5 Bahaya Lingkungan : Tersandung

        5. Pengendalian potensi bahaya dengan hierarchy of control
        5.1 Eliminasi : Eliminasi material-material disekitar konstruksi yang tidak penting dengan dibuang atau dipindahkan
        5.2 Subtitusi : Mengganti model scaffolding menjadi scaffolding yang standar, mengganti bahan dari batu bata merah menjadi bata ringan
        5.3 Enginnering : Pada scaffolding dibuat handrail agar pekerja tidak terjatuh, menggunakan bodyharnes
        5.4 Adiministrasi : Dibuat JSA, training untuk pekerjanya, dibuat rambu-rambu
        5.5 APD : Menggunakan sepatu safety, sarung tangan safety, helm safety, earplug, masker, kacamata, baju safety

        6. Risiko sisa
        6.1 Bahaya Psikososial
        6.1.1 Kelelahan karena jam istirahat tidak teratur : Sedang
        6.1.2 Pengaruh usia serta pengalaman dari pekerja dalam bidang tersebut : Sedang
        6.1.2 Kondisi kesehatan dan riwayat penyakit kronis pekerja : Tinggi

        6.2 Bahaya Fisika
        6.2.1 Konstruksi Scaffolding : Sedang
        6.2.2 Suhu saat bekerja : Sedang

        6.3 Bahaya Biologi
        6.3.1 Kuman-kuman penyakit yang terdapat di udara : Ringan
        6.3.2 Bakteri : Sedang
        6.3.3 Posisi tubuh pekerja : Sedang

        6.4 Bahaya Kimia
        6.4.1 Material Beracun : Tinggi

        6.5 Bahaya Lingkungan
        6.5.1 Suara bising berlebihan : Ringan
        6.5.2 Debu : Ringan

        Nama : Tiffany Crissie
        Kelas : B2
        Semester : 5
        NPM : 13.11.106.701501.1006

  28. 1. Pekerjaan pemasangan bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung 3,00 meter dari permukaan tanah.
    1.1 Potensial Bahaya
    1.1.1. Bahaya Fisika : Gravitasi (Drop Object, Working At Height), Suhu (Panas Matahari,
    Hujan), Debu (Abu Semen, Pasir dan Batu bata), Konstruksi Scafolding
    1.1.2. Bahaya Kimia :Bahan Iritan/Penyebab Iritasi : Semen.
    1.1.3. Bahaya Biologi : Bakteri, Hewan Penyengat dan Berbisa (Kalajengking, Ular dst)
    1.1.4. Bahaya Biomekanika : Ergonomi(Posisi Kerja), Pengangkutan Manual
    1.1.5. Bahaya Psikologi : Fatigue, Underpressure)

    1.2.Konsekuensi
    1.2.1 Bahaya Fisika:
    Drop Object : Bila kejatuhan material dan mengenai tubuh pekerja akan mengalami luka/cidera.
    Working At Height : Bila pekerja jatuh bisa menyebabkan cidera seperti memar, luka, bahkan patah tulang
    Panas Matahari : Bila terpapar terus pada pekerja akan menyebabkan sakit kepala, puing db.
    Debu : Bila terpapar pada pekerja akan menyebabkan ISPA (Inspeksi Saluran Pernafasan).
    Konstruksi Scafolding :Kegagalan konstruksi scaffolding akan menyebabkan resiko tinggi pada pekerja seperti terjatuh, terpelosok.
    1.2.2 Bahaya Kimia :
    1.2.2.1 Semen : Jika terkena tangan akan menyebabkan iritasi kulit. Dan jika terhirup akan menyebkan penyakit pernafasan.
    1.2.3 Bahaya Biologi : Jika terkena bakteri yang menempel pada baju pekerja akan menyebakna penyakit kulit seperti panu dll.
    1.2.4 Bahaya Biomekanika
    1.2.4.1 Ergonomi, Bila bekerja posisi kerja tidak ergonomi akan menyebakan penyakit akibat kerja seperti cidera otot, sakit pinggang, dll
    1.2.5 Bahaya Psikologi, jika pekerja bekerja dalam posisi fatigue akan menyebabkan hilang konsentrasi sehingga menyebabkan kesalahan dalam bekerja.

    1.3.Resiko Awal
    1.3.1. Drop Object : High
    Working At Height : High
    Panas Matahari: Medium
    Debu : Medium
    Konstruksi Scaffolding : High
    1.3.2. Bahaya Kimia : Semen : Medium
    1.3.3. Bahaya Biologi : Medium
    1.3.4. Bahaya Bioekanika : High
    1.3.5. Bahaya Psikologi : High

    1.4. Pengendalian potensi bahaya.
    1.4.1 Drop Object : Menyingirkan bahan material yang tidak digunakan
    Menggunakan barricade atau pita penghalang dibawah orang bekerja.
    Menggunakan Helm safety agar mengurangi dampak resiko

    Working at Height : Menggunakan full body Harness sesuai standar ketetentuan bekerja diketinggian.
    Pekerja diberi pelatihan tentang sikap aman bekerja
    Pekerja membuat JSA sebelum bekerja
    Suhu : Membuat pelindung terik matahari seperti memasang kanopi atau tenda, Jika hujan tiba menghentikan semua pekerjaan
    Debu : Menggunakan masker agar debu tidak terhirup,Menggunakan kacamata agar serpihan pasir, semen yang terbang tdk terkena mata
    Konstruksi Scafolding : Mengganti pijakan scafolding dengan bahan dari plat sehinga tidak ada celah yang menimbulkan kaki terperosok., Memasang handrill
    1.4.2. Menggunakan sarung tangan, agar tangan tidak terpapar langsung oleh semen yang
    dapat mengakibatkan iritasi kulit dan segera cuci tangan.
    1.4.3 Bakteri : Mengganti dan mencuci pakaian kerja
    hewan Penyengat/Berbisa : Membersihkan area sekitar tumpukan material sebelum dan
    seleai bekerja.
    1.4.4 Ergonomi : Hindari sikap kerja yang tidak ergonomi seperti menjongkok
    Pengangkatan Manual : Lakukan pengangkatan sesuai dengan ketentuan standar MMH(Manual Material Handling)
    1.4.5. Fatigue : Manfaatkan waktu istirahat dengan baik, Memberikan suplemen tambahan sebagai penambah energy.
    Membuat shift kerja yang maksimal. Memberikan asupan makanan gizi seimbang
    Underpressure : Komunikasi yang baik.

    1.5.Resiko Sisa.
    1.5.1. Drop Object : Low
    Working At Height : Low
    Panas Matahari: Low
    Debu : Low
    Konstruksi Scaffolding : Low
    1.5.2. Bahaya Kimia : Semen : Low
    1.5.3. Bahaya Biologi : Low
    1.5.4. Bahaya Bioekanika : Low
    1.5.5. Bahaya Psikologi : Low

    2. Pekerjaan pemasangan bata bata merah untuk gedung bertingkat dengan ketinggian gedung diatas 3,00 meter dari permukaan tanah.

    2.1. Analisis potensi bahaya.
    2.1.1. Bahaya Fisika : Gravitasi (Drop Object, Working At Height), Suhu (Panas Matahari,Hujan), Debu (Abu Semen, Pasir dan Batu bata), Konstruksi Scafolding
    2.1.2. Bahaya Kimia :Bahan Iritan/Penyebab Iritasi : Semen.
    2.1.3. Bahaya Biologi : Bakteri, Hewan Penyengat dan Berbisa (Kalajengking, Ular dst)
    2.1.4. Bahaya Biomekanika : Ergonomi(Posisi Kerja), Pengangkutan Manual
    2.1.5. Bahaya Psikologi : Fatigue, Underpressure)

    2.2.Konsekuensi
    2.2.1 Bahaya Fisika:
    2.2.1.1 Drop Object : Bila kejatuhan material dan mengenai tubuh pekerja akan mengalami Cidera serius bahkan bisa Fatality
    Working At Height : Bila pekerja jatuh bisa menyebabkan cidera berat seperti patah tulang bahkan fatality
    Panas Matahari : Bila terpapar terus pada pekerja akan menyebabkan sakit kepala, puing db.
    Debu : Bila terpapar pada pekerja akan menyebabkan ISPA (Inspeksi Saluran Pernafasan).
    Konstruksi Scafolding :Kegagalan konstruksi scaffolding akan menyebabkan resiko tinggi pada pekerja seperti terjatuh, terpelosok.
    2.2.2 Bahaya Kimia :
    Semen : Jika terkena tangan akan menyebabkan iritasi kulit. Dan jika terhirup akan menyebkan penyakit pernafasan.
    2.2.3. Bahaya Biologi : Jika terkena bakteri yang menempel pada baju pekerja akan menyebakna penyakit kulit seperti panu dll.
    2.2.4. Bahaya Biomekanika
    Ergonomi, Bila bekerja posisi kerja tidak ergonomi akan menyebakan penyakit akibat kerja seperti cidera otot, sakit pinggang, dll
    2.2.5. Bahaya Psikologi, jika pekerja bekerja dalam posisi fatigue akan menyebabkan hilang konsentrasi sehingga menyebabkan kesalahan dalam bekerja.

    2.3.Resiko Awal
    2.3.1. Drop Object : Fatality
    Working At Height : Fatality
    Panas Matahari: Medium
    Debu : Medium
    Konstruksi Scaffolding : High
    2.3.2. Bahaya Kimia : Semen : Medium
    2.3.3. Bahaya Biologi : Medium
    2.3.4. Bahaya Bioekanika : High
    2.3.5. Bahaya Psikologi : High

    2.4 Pengendalian potensi bahaya.
    2.4.1 Drop Object : Menggunakan barricade atau pita penghalang dibawah orang bekerja. Menggunakan Helm safety agar mengurangi dampak resiko
    Mengganti bata merah dengan batako/bata ringan untuk mengurangi resiko
    Memasang Jaring pengaman untuk meredam benda jatuh.

    Working at Height : Menggunakan full body Harness sesuai standar ketentuan bekerja diketinggian.
    Memasang jala keselmatan.
    Memberi pelatihan tentang sikap aman saat bekerja
    Membuat JSA sebelum melakukan pekerjaan
    Suhu : Membuat pelindung terik matahari seperti memasang kanopi atau tenda, Jika
    hujan tiba menghentikan semua pekerjaan
    Debu : Menggunakan masker agar debu tidak terhirup, Menggunakan kacamata agar serpihan pasir, semen yang terbang tdk terkena mata
    Konstruksi Scafolding : Mengganti pijakan scafolding dengan bahan dari plat sehinga tidak ada celah yang menimbulkan kaki terperosok., Memasang handrill.
    Lakukan isnpeksi scafolding secara berkala agar memastikan scafolding aman dan layak pakai
    2.4.2. Menggunakan sarung tangan, agar tangan tidak terpapar langsung oleh semen yang dapat mengakibatkan iritasi kulit dan segera cuci tangan.
    2.4.3. Bakteri : Mengganti dan mencuci pakaian kerja
    hewan Penyengat/Berbisa : Membersihkan area sekitar tumpukan material sebelum dan seleai bekerja.
    2.4.4. Ergonomi : Hindari sikap kerja yang tidak ergonomi seperti menjongkok
    Pengangkatan Manual : Lakukan pengangkatan sesuai dengan ketentuan standar MMH(Manual Material Handling).
    Breafing sebelum bekerja
    Melakukan training
    2.4.5. Fatigue : Manfaatkan waktu istirahat dengan baik, Memberikan suplemen tambahan sebagai penambah energy.
    Membuat shift kerja yang maksimal. Memberikan asupan makanan gizi seimbang
    Underpressure : Komunikasi yang baik.

    2.5.Resiko Sisa.
    2.5.1. Drop Object : Medium
    Working At Height : Medium
    Panas Matahari: Low
    Debu : Low
    Konstruksi Scaffolding : Medium
    2.5.2. Bahaya Kimia : Semen : Low
    2.5.3. Bahaya Biologi : Low
    2.5.4. Bahaya Bioekanika : Low
    2.5.5. Bahaya Psikologi : Low

    Note : Sebelum melakukan aktifitas kerja harus melakukan Tool Box Meeting, melakukan pembagian tugas dan wewenang kepada setiap pekerja, Pastikan pekerja adalah orang yang kompeten di bidangnya. Pekerjaan harus selalu di awasi supervisor dan orang safety

    Terima kasih.

    Nama : Dewi Fatmah Febriyanti
    Kelas : B2 / V
    NPM : 13.11.106.701501.0880

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s