SAFETY PRIME

Engineering Safety

[160513] Jurnal Ilmiah: Peran CSMS dalam Meminimalkan Risiko Kecelakaan Kerja

PERAN CSMS DALAM MEMINIMALKAN RISIKO KECELAKAAN KERJA

Erwin Ananta
Program Studi Diploma IV Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Fakultas Vokasi – Universitas Balikpapan

Versi cetak diterbitkan dalam prosiding seminar nasional
Program Pascasarjana Fakultas Kedokteran
Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta, 23 April 2016
ISBN 978-602-386-073-9

ABSTRAK

Pembangunan waduk Teritip Balikpapan dirancang merupakan waduk terbesar di Kota Balikpapan dengan menelan dana sebesar 2,4 trilyun rupiah yang sumber dananya diambil dari APBN dalam tahun jamak (multi years). Pembangunannya dimulai sejak 11 Februari 2014 dan dikerjakan oleh BUMN PT Waskita Karya (Persero) Tbk dan berlangsung hingga penelitian ini dilakukan. Proyek yang ground beaking dilakukan oleh Menteri Pekerjaan Umum ini dirancang bangun untuk mengatasi kekurangan air yang kerap kali menimpa Kota Balikpapan pada musim kemarau dihampir setiap tahunnya.

Proyek bernilai trilyunan rupiah itu, sudah barang tentu membutuhkan sebuah sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang baik pula untuk memastikan pekerja-pekerja yang terlibat dalam proyek ini bekerja dengan aman dan selamat.

Contractor Safety Management System (CSMS) merupakan salah satu sistem manajemen dalam mengelola aspek keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dalam bidang konstruksi dengan tujuan untuk meminimalkan terjadinya risiko kecelakaan kerja yang terjadi dalam setiap kegiatan proyek konstruksi. CSMS apabila tidak dilaksanakan dengan baik, maka akan menimbulkan rendahnya kesadaran akan pentingnya penerapan K3 di lingkungan kerja. Jangka panjangnya, akan menimbulkan kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja, serta kerugian-kerugian lainnya seperti kerusakan lingkungan, kerusakan alat peralatan, produktivitas menurun, dan bahkan dapat merusak nama baik perusahaan.

Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan melalui pengamatan(observasi)terhadap suatu sistem manajemen, dengan memberikan gambaran melalui implementative description terhadap penerapan CSMS yang dilaksanakan oleh kontraktor proyek ini, dimana tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan peran CSMS yang telah dilakukan dengan membandingkan dengan tata kelola K3 proyek yang baik.

Kata kunci:
Sistem Manajemen K3, Contractor Safety Management System (CSMS).

 

PENDAHULUAN

Proyek pembangunan waduk yang ditinjau Presiden Joko Widodo bulan Maret 2016 ini yang menelan biaya trilyunan rupiah, maka sudah barang tentu membutuhkan sebuah sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang baik, dengan menerapkan manajemen K3 yang baik maka dipastikan bahwa pekerja-pekerja yang terlibat dalam proyek ini bekerja dengan aman dan selamat.

Balikpapan adalah kota yang terletak di pesisir pantai di Provinsi Kalimantan Timur. Setiap kali kemarau melanda, defisit air bersih kerap kali mengancam hampir setiap tahunnya. Penyebabnya adalah air bersih yang digunakan untuk kebutuhan warga kota berasal dari air baku yang diolah menjadi air bersih oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) sebagian besar mengandalkan air tadah hujan yang tertampung di Waduk Manggar, Balikpapan Utara. Selama enam bulan ketika tidak turun hujan, Waduk Manggar mampu mencukupi kebutuhan air bersih warga, namun apabila kemarau melanda dan tidak ada turun hujan dengan intensitas cukup di atas waduk lebih dari enam bulan, maka terjadilah defisit air bersih.

Kelurahan Teritip yang terletak di Balikpapan Timur dipilih sebagai lokasi yang digunakan untuk menjadi waduk tadah hujan kedua untuk menambah daya tampung air baku. Waduk ini direncanakan menjadi waduk terbesar di kota Balikpapan mengalahkan waduk sebelumnya, yakni Waduk Manggar, juga digunakan sebagai pengendali banjir. Meski demikian air yang digunakan sebagai sumber bahan baku masih sama persis, yakni air hujan yang ditampung. Artinya, ketika kemarau panjang melanda, maka tidak tertutup kemungkinan kedua waduk ini bisa menjadi kering. Tapi setidaknya dengan adanya penambahan Waduk Teritip, akan mampu memperpanjang usia pelayanan air bersih dari PDAM ketika hujan tak kunjung turun. Proyek Pembangunan Waduk Teritip ini sendiri menggunakan sistem pendanaan tahun jamak (multiyears sys­tem) dengan menelan biaya anggaran APBN murni sebesar Rp2,4 trilyun.

Waduk Teritip

Gambar 1: Progres Proyek Pembangunan Waduk Teritip (Maret 2016)

Salah satu pendekatan keselamatan dan kesehatan kerja yang cocok untuk diterapkan dalam bidang konstruksi sipil adalah Contractor Safety Management System (CSMS). CSMC merupakan salah satu sistem manajemen dalam mengelola aspek keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dalam bidang konstruksi dengan tujuan untuk meminimalkan terjadinya risiko kecelakaan kerja yang terjadi dalam setiap kegiatan proyek konstruksi.

CSMS apabila tidak dilaksanakan dengan baik, maka akan menimbulkan rendahnya kesadaran akan pentingnya penerapan K3 di lingkungan kerja. Jangka panjangnya, akan menimbulkan kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja, serta kerugian-kerugian lainnya seperti kerusakan lingkungan, kerusakan alat peralatan, produktivitas menurun, dan bahkan dapat merusak nama baik perusahaan. Di samping itu akibat CSMS tidak diterapkan dengan baik, maka perlu dilakukan perbaikan kembali terhadap sistem manajemen K3 yang tengah berlangsung.

 

METODE PENELITIAN

Lokasi Penelitian

Penelitian dilaksanakan pada proyek pembangunan waduk dan bendungan Teritip, kelurahan Teritip, kecamatan Balikpapan timur, kota Balikpapan. Lokasi ini dipilih karena masih dalam kawasan kota Balikpapan yang berbatasan dengan wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara. Mengingat proyek ini menelan biaya yang cukup besar dimana saat ground breaking dilakukan oleh Menteri Pekerjaan Umum pada Jumat, 11 April 2014 dan kontraktor utama yang mengerjakan proyek ini adalah PT Waskita Karya (Persero) Tbk, yang merupakan perusahaan BUMN dengan menggunakan beberapa sub-kontraktor, maka Peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian terhadap aspek keselamatan dan kesehatan kerja (K3), khususnya CSMS dalam proyek ini.

Metodologi

Rangkaian kegiatan penelitian ini disusun berdasarkan kegiatan-kegiatan yang akan digunakan meliputi pendekatan penelitian; lokasi dan waktu penelitian; teknik pengumpulan data penelitian; dan pemeriksaan keabsahan (validitas) data yang diterima dan dikumpulkan dalam penelitian ini.

Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan melalui pengamatan (observasi) terhadap suatu sistem manajemen, dengan memberikan gambaran melalui implementative description terhadap penerapan CSMS yang dilaksanakan oleh kontraktor utama, dimana tujuan penelitian ini adalah untuk menjelaskan peran CSMS yang telah dilakukan dengan membandingkan dengan tata kelola K3 proyek yang baik.

Secara prinsip metodologi dalam penelitian ini adalah bagaimana menjawab pertanyaan penelitian yang meliputi metode yang dipergunakan, prinsip dasar dari metode penelitian yang digunakan, prosedur kerja dilakukan, asumsi-asumsi yang mendasari penelitian, instrumen penelitian yang digunakan, teknik pengumpulan data, dan alasan substantif yang mendasari dilakukannya penelitian ini.

Teknik dan instrumen pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan melalui teknik wawancara mendalam (in depth interviewing), dimana teknik ini diperoleh dengan melakukan wawancara terhadap narasumber secara langsung. Kegiatan wawancara dilakukan untuk menyempurnakan data yang diperoleh melalui pengamatan (observasi) yaitu berkaitan dengan masalah implementasi CSMS. Reduksi data digunakan untuk memudahkan pemahaman terhadap data yang dihasilkan, dan dilakukan sejak awal dalam langkah analisis data. Teknik reduksi data ini dilakukan dengan membuat rangkuman terhadap pokok-pokok masalah yang ada dalam penelitian. Dilakukan secara sistematis dengan mengesampingkan data yang tidak valid atau data yang tidak diperlukan. Tahapan reduksi data ini dimulai dengan melakukan telaah secara menyeluruh atas hasil data yang diperoleh dari berbagai sumber, berbagai pengamatan, wawancara, dan studi lainnya termasuk studi dokumentasi. Reduksi data juga dilakukan untuk menyeleksi dan menyortir data secara menyeluruh, melakukan penyederhanaan atas data yang diperoleh, kompaksi data dari data mentah (row datum) menjadi data siap olah.

Tahapan akhir dari implementative decription adalah penarikan kesimpulan atas data yang telah diperoleh melalui rangkaian analisis sebelumnya dengan terlebih dahulu dilakukan verifikasi atas data tersebut. Penarikan kesimpulan ini dimaksudkan untuk memberikan simpulan akhir terhadap data yang diperoleh dalam bentuk pernyataan singkat dan mudah dipahami dengan merujuk pada aspek-aspek yang telah diteliti.

 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Peran CSMS Bidang Konstruksi

CSMS merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh korporasi bidang konstruksi yang menjadi bagian secara keseluruhan dalam sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (SMK3). Seluruh kegiatan mengenai keselamatan dan kesehatan bagi industri, pekerja dan lingkungan diatur dalam suatu rangkaian yang saling terkait.

Gambar 2

Gambar 2: Posisi CSMS dalam hubungan aktivitas proyek

Kontraktor merupakan unsur penting dalam industri konstruksi sebagai bagian yang membantu kegiatan operasional terciptanya kerja yang aman. Kontraktor rawan terhadap kecelakaan dalam menjalankan kegiatan proyek, hal ini disebabkan oleh: (a) tenaga kerja yang dilibatkan oleh kontraktor umumnya bersifat sementara; (b) pekerja-pekerja yang terlibat di lapangan mayoritas adalah pekerja kasar dengan pendidikan relatif rendah; (c) tingkat disiplin terhadap K3 kurang; (d) pemahaman tentang peraturan K3 perusahaan rendah; dan (e) terlibat langsung dalam pelaksanaan pekerjaan sehingga lebih banyak terpapar bahaya.

Kontraktor utama dalam melaksanakan kegiatan proyek konstruksi wajib menekankan pentingnya K3 kepada sub-sub kontraktor yang berada dibawahnya, karena kecelakaan yang menimpa sub-kontraktor tinggi. Kelalaian yang dilakukan oleh sub-kon¬traktor dapat menimbulkan bahaya dan mempengaruhi kinerja operasional kontraktor utama. Kegiatan sub-kontraktor harus dikelola dengan baik untuk menjamin keselamatan dalam setiap kegiatan proyek konstruksi. Untuk itulah dibutuhkan Contractor Safety Management System dalam pengelolaannya.

CSMS sedikit berbeda dengan SMK3 PP 50/2012 pada umumnya, karena pada pekerjaan konstruksi dengan sistem kontrak kerja terdapat batasan waktu, sehingga perlu ada proses berupa tahapan mulai dari pemilihan kontraktor dan sub-kontraktor sampai dengan berakhirnya pekerjaan sesuai kontrak. Posisi dan peran CSMS dalam hubungannya dengan aktititas proyek ini dapat ditunjukkan seperti pada Gambar 2.

CSMS dalam hal ini, merupakan sistem manajemen untuk mengelola para kontraktor dan sub-sub kontraktor yang bekerja di lingkungan korporasinya. Fungsi dibutuhkan adanya CSMS diantaranya adalah untuk: (a) meningkatkan kinerja K3 di tempat kerja dengan membantu kontraktor dan sub-kontraktor dalam administrasi yang efektif; (b) membantu kontraktor dalam mengelola program K3 sesuai tujuan dan target yang ditetapkan; (c) memfasilitasi kontraktor utama dengan pemilik proyek, dan kontraktor utama dengan para subkontraktor dalam kaitannya dengan pekerjaan, seperti terlihat pada struktur organisasi proyek konstruksi Gambar 3.

Gambar 3Gambar 3: Struktur Organisasi Proyek Konstruksi

Analisis Lapangan

Dari hasil observasi di lapangan, pengumpulan data, dan wawancara kepada narasumber didapatkan bahwa proyek pembangunan Waduk Teritip ini dikerjakan dengan kerjasama antara PT Waskita Karya (Persero) Tbk selaku kontraktor utama dengan PT Mettana joint operation dengan PT Teknika Cipta, dengan melibatkan sub-sub kontraktor lokal Balikpapan.

Dalam pemilihan sub-kontraktor yang dilibatkan dalam proyek pembangunan pekerjaan sipil tubuh bendungan, pihak PT Waskita Karya (Persero) Tbk menerapkan CSMS melalui beberapa tahapan.

PT Waskita Karya (Persero) Tbk yang telah memiliki sertifikasi ISO 9001 Quality Management, ISO 14001 Environmental Management, OHSAS 18001 Occupational Health and Safety, juga sertifikasi SMK3 PP 50/2010, dalam memilihan sub-kontraktor yang dilibatkan pada proyek ini, menggunakan kebijakan dalam dua tahap utama CSMS, yakni (a) tahap administrasi; dan (b) tahap implementasi.

Penerapan CSMS

Kebijakan kontraktor utama terhadap CSMS seperti diuraikan diatas terdiri dari dua tahap yaitu administrasi dan implementasi. Dalam tahap administrasi, dilakukan analisis terhadap tahapan penilaian risiko kerja (risk assessment), Pra-kualifikasi sub-kontraktor dan seleksi sub-kontraktor. Pada tahap implementasi terdapat tahapan prelimineary activities, on-going project activities, dan over all evaluation. Tahapan ini dapat dilihat pada Gambar 4.

Pada tahapan risk assessment bertujuan untuk: (a) mengetahui tingkat risiko suatu pekerjaan yang akan diserahkan kepada sub-kontraktor; (b) menyesuaikan potensi bahaya dengan kemampuan sub-kontraktor dalam menjalankan pekerjaan dengan aman; dan (c) sebagai dasar menentukan kriteria sub-kontraktor yang sesuai melaksanakan pekerjaan. Sub-kontraktor dalam pekerjaannya diklasifikasikan menurut tingkat risiko bahaya yang mungkin terpapar. Tingkat risiko dibagi tiga, yakni (a) Risiko Tinggi (High risk) dengan nilai minimum 80; (b) Risiko Sedang (Medium risk) dengan nilai minimum 70; dan (c) Risiko Rendah (Low risk) dengan nilai minimum 60.

Gambar 4

Pada tahapan pa-kualifikasi, dilakukan penyeleksian awal terhadap sub-kontraktor yang memenuhi persyaratan K3 dalam melakukan pekerjaan. Pra-kualifikasi ini juga untuk mengevaluasi dokumen yang diserahkan oleh sub-kontraktor kepada kontraktor utama tentang persyaratan administratif, pengalaman dalam K3, organisasi K3, petugas-petugas K3 yang dimiliki, rekam jejak K3 di proyek sebelumnya, manual-manual K3 yang dimiliki, serta referensi dan sertifikasi yang diperoleh.

Tahapan seleksi bertujuan untuk menentukan sub-kontraktor yang akan melaksanakan pekerjaan sesuai dengan proses penunjukan atau proses pelelangan, baik secara terbuka ataupun tertutup, berdasarkan kinerja K3 yang baik, penawaran biaya yang rasional baik secara teknikal maupun ekonomis, juga sebagai salah satu unsur dalam menentukan pemenang lelang dari beberapa sub-kontraktor yang mengikuti pelalangan sesuai Peraturan Presiden RI No. 54 tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.

Pada tahap implementasi, prelimineary activities dilaksanakan setelah pemenang/pelaksana proyek telah ditetapkan. Kegiatan awal sebagai persiapan sebelum proyek dijalankan meliputi antara lain: (a) pertemuan pendahuluan membahas rencana kerja; (b) menentukan strategi pelaksanaan pekerjaan lapangan; (c) menentukan persyaratan perizinan yang diperlukan (d) menentukan persyaratan tenaga kerja yang diperlukan; (e) menentukan sistem supervisi selama pekerjaan berlangsung; dan (f) memberikan kesempatan kepada sub-kontraktor untuk mengenal lebih lanjut lokasi dan aktivitas yang akan dikerjakan.

Tahapan on-going project activities meliputi implementasi program K3 yang telah disusun sebelumnya pada saat kegiatan kerja berlangsung. Sub-kontraktor melakukan upaya pencegahan kecelakaan dalam setiap langkah kegiatannya sesuai dengan sifat dan jenis bahaya yang ada, dan program K3 yang dijalankan disesuaikan dengan skala pekerjaan, tingkat risiko dan jumlah tenaga kerja yang dipekerjakan.

Over all evaluation merupakan tahapan dimana dilakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap hasil kerja K3, CSMS dievaluasi secara berkala, khususnya setelah suatu pekerjaan kontrak selesai dan dilakukan penyerahan pekerjaan dari sub-kontraktor kepada kontraktor utama. Hasil evaluasi digunakan untuk menilai kinerja sub-kontraktor, dan digunakan sebagai masukan untuk meningkatkan program CSMS berikutnya. Dalam tahapan ini pula dibentuk tim evaluasi yang melibatkan semua unsur terkait dalam.

Pada saat penelitian ini berlangsung, tahap administrasi sudah selesai dilaksanakan, sehingga Peneliti hanya bisa melakukan pengamatan dan wawancara mendalam pada tahap implementasi CSMS. Implementasi yang telah dilakukan secara administratif sudah menunjukkan adanya upaya yang baik terhadap penerapan keselamatan dan kesehatan kerja proyek. PT Waskita Karya (Persero) Tbk sejauh ini telah melakukan upaya membudayakan K3 dengan baik. Adanya komitmen dari pihak manajemen untuk mengutamakan K3 dalam setiap kegiatan proyek sudah menunjukkan itikad korporasi dalam menjunjung tinggi K3, namun implementasi di tingkat lapangan masih perlu dibenahi. Diperlukan adanya ketegasan dan keseriusan oleh semua pihak dalam menjalankan program-program K3 di lapangan.

 

KESIMPULAN

Peran CSMS dalam kegiatan pelaksanaan proyek konstruksi sangat penting untuk meminimalkan terjadinya kecelakaan kerja terhadap pekerja konstruksi di lapangan yang terpapar secara langsung atas kegiatan yang dilakukan. Mengingat sebagian besar pekerja merupakan pekerja kasar dengan taraf pendidikan yang rendah serta pemahaman K3 yang masih kurang, maka perlu secara terus-menerus disadarkan akan pentingnya K3 melalui beragam program K3 atau kampanye K3.

Sejauh penelitian ini dilakukan, tahap implementasi CSMS kepada sub-kontraktor yang mengacu pada pedoman tata kerja organisasi PT Wakita Karya (Persero) Tbk telah cukup baik, adanya komitmen manajemen terhadap K3 sudah menggambarkan upaya serius yang dilakukan korporasi, namun implementasi di tingkat lapangan terdapat beberapa hambatan yang membuat penerapan rencana K3 dalam CSMS tidak bisa diterapkan sepenuhnya, hal ini disebabkan masih belum adanya ketegasan, konsistensi, dan keseriusan dalam menerapkan rencana K3. Kurangnya kesadaran dan budaya K3 yang rendah menjadi penghambat dalam penerapan CSMS di lapangan.

 

DAFTAR PUSTAKA

Peraturan Presiden RI No. 54 tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.

Peraturan Pemerintah RI No. 50 tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 09/Per/M/2008 tentang Pedoman Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum.

Berita Waskita. 2014. Waskita Karya Mulai Kerjakan Bendungan Teritip, Balikpapan. Jakarta: Internal buletin.

DuPont. 2016. Contractor Safety Management Consulting. http://www.dupont.com.

Geigle. 2015. Developing a Construction Safety Management System. Oregon: OHSA Academy.

Wendt, Noel and Newman, Peter. 2001. Contractor Safety Management: Who Manages Who: A Contractor’s Perspective. Queensland: Roche Mining.

Waskita Karya (Persero) Tbk, PT. 2014. Kebijakan Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Lingkungan dan Mutu (RK3LM) Proyek Pembangunan Lanjutan Bendungan Teritip Kota Balikpapan. Kontrak No. HK.02.03/SNVT.PJ SA.K.III/PKDSA/23/II/2014 tanggal 18 Februari 2014.

Advertisements

Comments are closed.