SAFETY PRIME

Engineering Safety

[170228] Jurnal Ilmiah: Penguasaan Interprestasi Loadchart Sebagai Upaya Teknik Mengendalikan Risiko Kecelakaan Kerja

Leave a comment

PENGUASAAN INTERPRESTASI LOADCHART SEBAGAI UPAYA TEKNIK MENGENDALIKAN
RISIKO KECELAKAAN KERJA SEKTOR PERTAMBANGAN PADA MOBILE CRANE

Oleh: Erwin Ananta
Dosen Program Studi Diploma IV Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Fakultas Vokasi, Universitas Balikpapan

Versi cetak telah dipublikasikan dalam prosiding
Program Studi D3 Hiperkes & Keselamatan Kerja, Fakultas Kedokteran
Universitas Sebelas Maret. Surakarta, 19 November 2016
ISBN 978-602-397-076-6

ABSTRAK

Penguasaan interpretasi loadchart (diagram beban) merupakan syarat mutlak dalam proses pekerjaan lifting (pengangkatan) khususnya di sektor pertambangan mineral & batubara, dan sektor konstruksi pada umumnya. Penguasaan interprestasi loadchart ini dilakukan sebagai upaya teknik pengendalian risiko kecelakaan kerja, dimana pekerjaan jenis ini merupakan pekerjaan berisiko tinggi. Kegagalan dalam memahami loadchart pada mobile crane dapat berakibat rusaknya alat peralatan, rusaknya material yang diangkat, kerusakan lingkungan kerja disekitarnya, serta cidera atau bahkan terjadinya kematian pekerja. Imbasnya berdampak pada produktivitas dan biaya perusahaan.

Penelitian ini difokuskan untuk menemukan jawaban atas penyebab terjadinya kegagalan menginterprestasikan loadchart pada proses lifting yang berakibat pada kecelakaan kerja. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan melalui pengamatan (observasi) terhadap suatu proses pekerjaan lapangan dengan memberikan gambaran melalui implementative description khusus pada proses lifting dengan melibatkan mobile crane dan peralatan angkatnya. Penelitian ini berlokasi di pertambangan batubara kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur.

Dari hasil penelitian ini, setidaknya dapat disimpulkan bahwa ada beragam faktor yang menciptakan peluang terjadinya kecelakaan kerja khususnya pada proses lifting diantaranya (a) faktor manusia; (b) faktor alat peralatan dan lingkungan kerja, dan; (c) faktor sistem manajemen dan budaya perusahaan.

Meskipun diperlukan penelitian lebih lanjut, faktor manusia yang gagal paham dalam menginterprestasikan loadchart memegang peranan dominan menciptakan peluang terjadinya kecelakaan kerja tambang. Penguasaan ilmu pengetahun dasar eksakta sangat diperlukan untuk memecahkan permasalahan khususnya proses pekerjaan lifting yang melibatkan mobile crane. Diharapan hasil penelitian ini nantinya dapat menjadi pedoman atau rujukan untuk penguasaan interprestasi loadchart pada proses lifting dengan baik, lancar, aman dan selamat.

Kata Kunci: Keselamatan kerja, Loadchart, Proses pekerjaan lifting, Mobile crane.

 

PENDAHULUAN

Loadchart (Diagram beban) merupakan suatu skema grafis yang bersifat teknis dalam suatu manual pengoperasian unit yang umumnya disertakan oleh manufaktur pada setiap unit mobile crane. Pekerjaan lifting adalah proses pekerjaan pengangkatan muatan yang tidak terlepas dari adanya interprestasi loadchart, yang mana dalam setiap proses pekerjaan lifting merupakan salah satu pekerjaan yang sering ditemui di lapangan khususnya pada pekerjaan-pekerjaan pengangkatan di pertambangan, pembangunan gedung-gedung bertingkat, dan juga sering ditemui pada proses bongkar muat kapal di dermaga.

Pekerjaan jenis ini merupakan pekerjaan dengan katagori risiko tinggi (high risk job) terhadap kecelakaan pada saat pengoperasiannya. Gagalnya penguasaan dan pemahaman terhadap interprestasi loadchart berarti gagalnya pengangkatan muatan. Kegagalan pengangkatan muatan bisa berimbas pada rusaknya alat peralatan, rusaknya material yang diangkat, dan kerusakan pada struktur bangunan disekitarnya, serta cidera atau bahkan terjadinya kematian adalah bagian dari rangkaian bahaya yang mungkin saja terjadi saat proses pekerjaan lifting dengan melibatkan mobile crane dan peralatan angkatnya (lifting gear), yang kesemuanya itu berawal dari pemahaman terhadap interprestasi loadchart. Kegagalan tersebut berdampak kepada produktivitas dan biaya perusahaan. Contoh skematik loadchart dapat dilihat pada Gambar 1 dan Gambar 2 dibawah ini.

gambar-1Gambar 1. Skematik Loadchart untuk jenis Terex-Franna Telescopic Crane

Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor PER.09/MEN/VII/2010 tentang Operator dan Petugas Pesawat Angkat dan Angkut, mewajibkan bah­wa petugas yang mengoperasikan mobile crane adalah orang yang telah lulus uji kompetensi dan memiliki surat izin operasional (SIO) untuk mengoperasikan mobile crane sesuai dengan kelas mobile crane yang dioperasikan. Surat izin operasional inipun berbatas waktu, sehingga apabila batas waktunya habis, maka yang bersangkutan wajib dilakukan penilaian ulang untuk dinilai kembali atas kemampuannya dalam mengoperasikan mobile crane. Salah satu syarat uji kompetensi ini adalah penguasaan dan pemahaman yang mendalam terhadap interprestasi loadchart.

gambar-2

Gambar 2. Range Diagram dan Loadchart Table untuk jenis Terex-Franna Crane

Begitu juga dengan petugas yang bekerja untuk membantu proses pekerjaan lifting seperti Juru Ikat (Rigger) dan Petugas Pemberi Isyarat (Dogsman), yang merupakan orang-orang yang telah mendapatkan pelatihan dan bersertifikasi untuk pekerjaan lifting.

Pada dasarnya semua pekerjaan lifting memiliki potensi bahaya dengan tingkat keparahan masing-masing sesuai dengan berat muatan dan kapasitas mobile crane yang digunakan, dan kondisi lingkungan dimana pekerjaan tersebut dilaksanakan. Sesuai identifikasi dan analisa, bahwa jika mengalami kegagalan dalam proses pekerjaan lifting, maka akan berakibat fatal baik pada alat peralatan, material yang diangkat, struktur disekitarnya, dan korban jiwa. Oleh sebab itu pada saat akan melaksanakan pekerjaan lifting, terutama pada saat mengangkat dengan muatan yang berat dengan menggunakan mobile crane dengan kapasitas besar, maka dibutuhkan izin kerja. Hal ini harus menjadi perhatian karena pada kenyataannya berdasarkan penelitian pada data inspeksi lapangan yang telah dilakukan di kawasan pertambangan batu-bara, masih banyak pekerjaan-pekerjaan lifting tidak memiliki izin operasional dan tidak menggunakan peralatan angkat standar. Bahkan ditemukan adanya operator mobile crane yang tidak memahami bagaimana menginterprestasikan loadchat. Ini sangat berbahaya sekali.

Adanya analisis keselamatan kerja (JSA), penilaian risiko (risk assessment), penggunaan alat-alat keselamatan kerja dan alat pelindung diri (APD) secara memadai dalam proses pekerjaan lifting adalah upaya yang bijak untuk mencegah terjadinya risiko kecelakaan kerja secara dini. Namun pada kenyataan di lapangan, banyak terjadinya kerusakan alat dan cidera pekerja pada saat proses pekerjaan lifting karena aspek-aspek keselamatan kerja tersebut tidak diindahkan dan dipatuhi sebagaimana mestinya. Seperti terlihat pada Gambar 3, merupakan salah satu contoh kecelakaan kerja yang melibatkan mobile crane yang terjadi di kawasan pertambangan.

gambar-3

Gambar 3. Kecelakaan kerja mobile crane di lokasi pertambangan batubara

Penelitian ini merupakan upaya yang dilakukan dengan tujuan untuk menemukan jawaban penyebab atas terjadinya kegagalan proses pekerjaan lifting yang didasari atas kekurangpahaman terhadap interprestasi loadchart, sehingga berakibat pada kecelakaan kerja di lingkungan pertambangan batubara, dengan harapan hasil penelitian ini nantinya dapat menjadi pedoman atau rujukan untuk melaksanakan proses pekerjaan lifting dengan memahami interprestasi loadchart dengan benar.

Interprestasi loadchart merupakan pekerjaan teknis yang spesifik dimana dibutuhkan orang-orang yang telah mendapat pelatihan yang memadai, memahami matematika dan fisika dasar, memiliki kemampuan membaca grafis adalah syarat mutlak untuk mengerti loadchart. Bila kesemuanya itu telah dikuasai kemudian dilakukan uji kompetensi, maka pekerja yang telah lulus uji kompetensi berhak memiliki izin untuk mengoperasikan mobile crane sesuai dengan kelasnya. Penguasaan dan pemahaman terhadap interprestasi loadchart untuk pengoperasian mobile crane dan peralatan angkatnya (lifting gear) adalah berbeda pada setiap unit mobile crane, sehingga dibutuhkan pemahaman mendalam terhadap kesesuaian setiap unit mobile crane yang akan dioperasikan. Dalam hal ini diasumsikan bahwa jika semua operator mobile crane mampu memahami dan menguasai cara-cara menginterprestasikan loadchart dan peralatan angkatnya (lifting gear), dipergunakan sesuai standar manufaktur dan sesuai dengan regulasi keselamatan kerja yang berlaku, serta sesuai Standard Operating Procedure (SOP), maka pekerjaan lifting dapat diselesaikan dengan baik, lancar, aman dan selamat, tanpa terjadinya kecelakaan kerja.

Penelitian ini difokuskan pada penguasaan loadchart dalam upaya teknik mengendalikan risiko kecelakaan kerja sektor pertambangan batubara pada mobile crane dengan batasan hanya pada jenis penggunaan Terex-Franna telescopic mobile crane dengan kapasitas dibawah 50 (lima puluh) ton, dengan penggerak roda ban karet, yang banyak dipergunakan di lingkungan pekerjaan bidang pertambangan batubara kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur.

METODE PENELITIAN

Rangkaian kegiatan penelitian ini disusun berdasarkan metode penelitian kualitatif implementative description, dimana kegiatan-kegiatan yang akan digunakan bertujuan untuk memberikan gambaran terhadap permasalahan yang diteliti. Penelitian ini lebih mengutamakan proses daripada hasil atau produk, dan analisis data dilakukan secara induktif dengan mencari makna yang sesungguhnya. Kegiatan tersebut meliputi diantaranya (a) pendekatan penelitian; (b) lokasi dan waktu penelitian; (c) teknik pengumpulan data dalam penelitian; dan; (d) pemeriksaan keabsahan (validitas) data yang diterima dan dikumpulkan dalam penelitian ini.

Secara prinsip metodologi dalam penelitian ini adalah bagaimana menjawab pertanyaan penelitian mengapa terjadi kecelakaan kerja yang melibatkan mobile crane di kawasan kerja tambang batubara. Prinsip dasar dari metode apa saja yang digunakan, bagaimana prosedur kerja dilakukan, asumsi-asumsi apa saja yang mendasari penelitian ini, instrumen penelitian meliputi apa saja yang akan digunakan, bagaimana teknik pengumpulan data, dan alasan penting apa yang mendasari dilakukannya penelitian ini.

Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan metode pendekatan studi kasus. Studi kasus dalam penelitian ini adalah proses pekerjaan lifting dilingkup kegiatan pertambangan batubara.dalam proses pekerjaan lifting dengan melibatkan telescopic mobile crane dengan penguasaan interprestasi loadchart.

Penelitian ini dilakukan dengan berlokasi di kawasan tambang batubara kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur. Peneliti mengkhususkan diri untuk melakukan penelitian pada proses pekerjaan lifting dengan melibatkan telescopic mobile crane berdasarkan penguasaan interprestasi loadchart. Penelitian dilakukan dengan tahap pengamatan terhadap tahapan persiapan pekerjaan, tahapan pelaksanaan di lapangan pekerjaan, tahapan evaluasi terhadap data hasil pengamatan, penelusuran data dan dokumentasi yang dikumpulkan selama pelaksanaan penelitian ini.

Observasi dilakukan di lokasi pekerjaan dimana obyek penelitian berupa proses pekerjaan lifting dengan melibatkan telescopic mobile crane dengan cara mengamati implementasi aspek keselamatan kerja. Pengamatan dilakukan dengan mengamati langsung dan dicatat secara sistematis terhadap indikasi dan gejala yang secara visual terlihat pada obyek penelitian. Pada penelitian ini, Peneliti melibatkan diri secara aktif, namun tetap menjaga keseimbangan sebagai pihak eksternal yang melakukan penelitian tanpa terlibat dalam pengambilan keputusan lapangan secara langsung.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pendahuluan

Kegiatan penelitian ini disusun berdasarkan aktifitas-aktifitas yang telah terjadi di kawasan lokasi proyek pertambangan batubara yang melibatkan pekerja, kegiatan pekerjaan, aspek keselamatan dan kesehatan kerja, dan khususnya melibatkan mobile crane seperti telah diuraikan pada pembahasan terdahulu. Peneliti sengaja memilih perusahaan tersebut karena selama ini perusahaan ini memiliki rekam jejak yang baik dalam hal keselamatan dan kesehatan kerja (K3) serta aspek budaya perusahaan (Corporate Culture) yang menjunjung tinggi nilai-nilai K3. Obyek penelitian berlokasi di tambang permukaan terbuka (open pit mining) dengan aktifitas pengangkatan dan menurunkan material berada di sekitar workshop yang masih berada di kawasan tambang.

Insiden fly jib rusak pada terex-franna crane

Mobile crane tipe Terex-Franna dengan lengan panjang tambahan (fly jib) digunakan untuk mengangkat plat baja menuju lokasi pit workshop pada Sabtu 19 Maret 2016. Setelah pengangkatan, operator diminta oleh operator crane truck untuk menurunkan material dari crane truck. Muatan pertama yang terdiri dari satu palet material dapat diturunkan dengan aman terkendali. Pada pengangkatan berikutnya, rigger menambahkan satu tambahan palet lagi menjadi dua palet untuk diangkat sekaligus dengan pertimbangan untuk menghemat waktu, tanpa terlebih dahulu melakukan verifikasi terhadap loadchart kapasitas angkat Franna crane terhadap beban yang akan diangkat. Saat muatan tersebut diangkat, tiba-tiba fly jib pada Terex-Franna crane menjadi bengkok dan retak, seperti terlihat pada Gambar 4.

gambar-4

Gambar 4. Insiden fly jib rusak pada terex-franna crane

Analisis, Investigasi dan Observasi.

Operator crane, telah bekerja pada perusahaan sejak 11 Juni 2008, berusia 33 tahun. Pendidikan terakhir adalah SMA. Yang bersangkutan adalah operator crane untuk membantu aktivitas di workshop pit. Dia juga telah lolos pemeriksaan medis pada Juli 2015 dan memiliki catatan tidur yang cukup, dalam arti yang bersangkutan tidak dalam kondisi fatigue (kelelahan) akibat kerja. Dia juga memegang Surat Izin Mengoperasikan Peralatan Perusahaan (SIM-PER Franna Crane) dan Surat Izin Operasional (SIO) Kelas III dari Kementerian Tenaga Kerja R.I. yang masih berlaku.

Penyebab langsung atas insiden ini didasarkan atas analisis lapangan dan observasi dimana pekerjaan ini dilakukan dengan sistem yang tidak bekerja dengan baik. Alarm yang terpasang pada LMI (Load Measure Indicator) tidak memberikan tanda suara peringatan saat kapasitas angkat crane telah terlampaui akibat muatan berlebih. Penyebab langsung yang lain yang juga memberikan kontribusi yang tidak kalah penting adalah kurangnya pemahaman terhadap loadchart saat mengoperasikan crane. Seharusnya seorang operator dapat melakukan kalkulasi berdasarkan loadchart sebelum muatan diangkat. Ketidakmampuan melakukan interprestasi loadchart mengakibatkan fly jib pada crane mengalami kerusakan (bengkok) dan retak akibat crane karena tidak sanggup mengangkat muatan. Operator crane harus menguasai interprestasi kalkulasi loadchart pada setiap unit crane, sesuai dengan kelas masing-masing. Hal ini bergantung pada kapasitas crane, radius kerja crane, dan panjang penyaluran boom, karena setiap crane memiliki kapasitas, radius, dan boom yang berbeda, sehingga hasil kalkulasi loadchart juga akan berbeda pula.

Kasus diatas hanyalah satu dari sekian kasus kecelakaan kerja yang melibatkan mobile crane. Kecelakaan tersebut didominasi oleh Human Error, dimana faktor kesalahan manusia menjadi aspek utama dari setiap kecelakaan yang berdampak terjadinya kerusakan peralatan, atau cidera pekerja. Analisis dan interview langsung kepada para pekerja, observasi langsung dan tak langsung di lapangan, serta pengumpulan data, menghasilkan klasifikasi faktor-faktor penyebab kecelakaan kerja, yakni (a) faktor manusia; (b) faktor alat peralatan dan lingkungan kerja, dan; (c) faktor sistem manajemen dan budaya perusahaan.

Pertama, dalam faktor manusia terdeteksi kurangnya pengetahuan atau terbatasnya pemahaman yang dimiliki pekerja khususnya untuk ilmu-ilmu eksakta seperti fisika dan matematika, menjadi faktor utama kecelakaan pengangkatan, karena sebagian besar masalah pekerjaan pengangkatan dapat dipecahkan bila memahami prinsip-prinsip dasar fisika dan matematika. Kedua, faktor alat peralatan, dan lingkungan kerja, terdapat penggunaan unit, alat, dan peralatan kerja yang tidak standar dan tidak sesuai peruntukkannya dalam menangani material. Pekerja tidak menyadari bahwa dengan menggunakan peralatan kerja yang tidak sesuai peruntukkannya akan menciptakan peluang terjadinya kecelakaan kerja. Dan yang ketiga adalah faktor sistem manajemen dan budaya perusahaan. Ketersedian prosedur yang tepat dengan Standard Operating Procedure (SOP) yang dipatuhi oleh setiap pekerja akan membantu mengendalikan terjadinya kecelakaan kerja. Rekam jejak kecelakaan kerja terdahulu yang terdokumentasi dengan baik juga dapat digunakan ulang sebagai bahan safety meeting agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

KESIMPULAN

Interprestasi loadchart merupakan aspek teknis yang spesifik dimana dibutuhkan orang-orang yang telah mendapat pendidikan dan pelatihan yang memadai, sehingga memiliki kemampuan dalam membaca grafik-grafik dan kemampuan dalam meinterpretasikan tabel grafis, dimana hal ini yang merupakan syarat mutlak untuk mengerti loadchart. Penguasaan dan pemahaman terhadap interprestasi loadchart untuk pengoperasian mobile crane dan peralatan angkatnya (lifting gear) adalah berbeda pada setiap unit mobile crane, sehingga dibutuhkan pemahaman mendalam terhadap kesesuaian setiap unit mobile crane yang akan dioperasikan. Penguasaan ilmu-ilmu dasar eksakta seperti fisika dan matematika, menjadi syarat mutlak dapat mengendalikan kecelakaan kerja yang melibatkan mobile crane.

Terdapat tiga klasifikasi faktor utama penyebab kecelakaan kerja, yakni (a) faktor manusia; (b) faktor alat peralatan dan lingkungan kerja, dan; (c) faktor sistem manajemen dan budaya perusahaan. Pada penelitian ini dititikberatkan pada faktor manusia (tanpa mengesampingkan faktor-faktor yang lain). Faktor manusia memegang peranan penting dan dominan terciptanya kecelakaan kerja. Kurangnya pengetahuan atau terbatasnya pemahaman yang dimiliki seorang pekerja khususnya untuk ilmu-ilmu dasar eksakta, menjadi salah satu faktor terciptanya kecelakaan kerja. Disamping itu, faktor alat peralatan, dan lingkungan kerja juga memiliki kontribusi terciptanya kecelakaan kerja. Alat peralatan digunakan dengan tidak standar dan tidak sesuai peruntukkannya dalam mengangkat/menurunkan material juga berpeluang menciptakan kecelakaan kerja. Pekerja tidak menyadari bahwa dengan menggunakan peralatan kerja yang tidak standar dan tidak sesuai peruntukkannya akan menciptakan terjadinya kecelakaan kerja pada dirinya dan orang lain.

Dengan pemahaman interpretasi loadchart yang baik dan benar, hal ini dapat mengendalikan risiko kecelakaan kerja dalam proyek-proyek pertambangan batubara pada khususnya, dan proyek-proyek konstruksi pada umumnya dimana pekerjaan ini melibatkan unit mobile crane dalam beragam tipe dan kapasitasnya.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Brauer, Roger L. 1994. Safety and Health for Engineers. New York: John Willey & Son, Inc.
    Moran, Mark McGuire. 1996. Construction Safety Handbook. Maryland: Government Institute, Inc. Rockvile.
  2. Muin, Syamsir A. 1995. Pesawat-pesawat Pengangkat. Jakarta: Ghalia Indonesia.
  3. Nazir, Muhammad. 2003. Metode Penelitian. Cetakan Ketiga. Jakarta: Ghalia Indonesia.
  4. Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor PER.05/MEN/1985 tentang Pesawat Angkat dan Angkut. 1985. Kementerian Tenaga Kerja Republik Indonesia.
  5. Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor Per.01/Men/1989 tentang Kwalifikasi dan Syarat-Syarat Operator Keran Angkat. 1989. Kementerian Tenaga Kerja Republik Indonesia.
  6. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER.09/MEN/VII/ 2010 tentang Operator dan Petugas Pesawat Angkat dan Angkut. 2010. Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia.
  7. Riddley, John. 2006. Kesehatan dan Keselamatan Kerja (alih bahasa Soni Astranto). Jakarta: Gelora Aksara Pratama.
  8. Soejono. 1996. Cara Kerja Pesawat Pengangkat. Jakarta: Gelora Aksara Pratama.
  9. Tarwaka. 2008. Manajemen dan Implementasi K3 di Tempat Kerja. Surakarta: Harapan Press.
  10. Terex Lifting Australia Pty., Ltd. 2005. Rated Capacity Manual AT-20 Terex Franna Operator Manual. Book Part Number 16C1320-0 Revision B.
  11. Wahyono, Dwi, dan Hendarminta. 1980. Alat Pengangkat. Jakarta: PT Rineka Cipta.
  12. Widharto, Sri. 2003. Manual Rigging (Punggah). Jakarta: Pradnya Paramita.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s