SAFETY PRIME

Engineering Safety

[170416] Tugas 3 – Investigasi Insiden 2017

53 Comments

Kepada Mahasiswa D4K3 UNIBA Semester II Kelas A1 dan A2,

Berdasarkan studi kasus pada Tugas 2 Investigasi Insiden masing-masing yang sudah diposting sebelumnya, Anda diminta untuk:

  1. Buatlah minimal 5 (lima) tindakan perbaikan (corrective action) terhadap kejadian tersebut.
  2. Buatlah minimal 10 (sepuluh) upaya pencegahan (preventive action).
  3. Buatlah minimal 5 (lima) rekomendasi Anda terhadap manajemen (perusahaan).

Kerjakan tugas ini dengan cara sebagai berikut:

  1. Ketik tugas Anda secara langsung pada website ini dengan cara mengklik “Leave a comment” atau “Leave a reply”
  2. Salin (copy) tugas ke-1 dan tugas ke-2 terlebih dahulu. Kemudian tempelkan (paste) pada tugas ke-3.
  3. Buatlah analisis Anda di bagian bawahnya.
  4. Cantumkan sumber pustaka/referensi, termasuk alamat website-nya (bila ada).
  5. Cantumkan nama Anda, NIM, semester, dan kelas di bagian akhir tugas.
  6. Batas akhir posting adalah pada hari Minggu 16 April 2017 pukul 23.59 WITA. Lewat waktu tersebut maka tugas Anda TIDAK akan mendapat approval untuk dipostingkan dan dianggap TIDAK mengerjakan tugas.
  7. Posting Anda hanya akan tampil setelah mendapatkan persetujuan terlebih dulu dari Administrator, sehingga Anda tidak perlu memposting berulang kali untuk tugas yang sama.
  8. Tidak ada tugas susulan atau perbaikan nilai untuk tugas ini.

Selamat mengerjakan. Always be safe!

Advertisements

53 thoughts on “[170416] Tugas 3 – Investigasi Insiden 2017

  1. Teknisi Tewas Saat Memperbaiki Lift Universitas Jayabaya

    Metrotvnews.com, Jakarta: Teknisi bernama Adi Kelana, 45, meninggal akibat kecelakaan kerja saat memperbaiki lift di Universitas Jayabaya, Jakarta Timur. Adi terjepit lift.

    Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Awi Setiyono mengatakan, peristiwa terjadi pada Senin, 31 Oktober 2016, sekitar pukul 16.00 WIB
    “Saat sedang memperbaiki lift, korban terpeleset dan terjepit di antara pintu lift dengan mesin lift,” ujar Awi saat dikonfirmasi wartawan, Selasa (1/11/2016).

    Saat itu, korban diperintah atasannya untuk memperbaiki lift yang rusak di kampus tersebut sejak pukul 14.00 WIB. Awi menjelaskan, hasil pemeriksaan saksi-saksi diketahui lift dalam keadaan hidup saat diperbaiki.

    Akibat kejadian itu, korban meninggal karena luka robek di bagian leher, pelipis, jari tangan kanan, paha hingga sikut robek dan dada memar.
    “Penyelidikan kasus ini ditangani Polsek Pulo Gadung,” kata Awi
     


    Analisis Peristiwa
    1.Kejadian
    Jakarta Timur Senin, 31 Oktober 2016,pukul 16.00 WIB. Teknisi bernama Adi Kelana, 45, meninggal akibat kecelakaan kerja saat memperbaiki lift di Universitas Jayabaya.
    “Saat sedang memperbaiki lift, korban terpeleset dan terjepit di antara pintu lift dengan mesin lift,” ujar Awi saat dikonfirmasi wartawan, Selasa (1/11/2016).
    Saat itu, korban diperintah atasannya untuk memperbaiki lift yang rusak di kampus tersebut sejak pukul 14.00 WIB. Awi menjelaskan, hasil pemeriksaan saksi-saksi diketahui lift dalam keadaan hidup saat diperbaiki.
    Akibat kejadian itu, korban meninggal karena luka robek di bagian leher, pelipis, jari tangan kanan, paha hingga sikut robek dan dada memar hingga tewas.
     
    2. Analisi Faktor Penyebab Langsung Kecelakaan
    Menurut analisa faktor penyebab langsung kejadian berupa:
    *Peristiwa itu disebabkan krena kelalaian pekerja tersebut. Dikarnakan lift masih dalam keadaan hidup.
    *Pekerja tidak mematuhi SOP saat memperbiki lift tersebut.
    *Alat penjaga atau pengaman jauh dari standard keselamatan ( sudah tidak layak )
    *Tidak memakai alat pelindung diri (APD)
    *Ruang gerak yg tidak leluasa sehingga menyebabkan korban tidak dapat menghindar dari terjepit pintu lift dan mesin
     
    3.Analisis Faktor Kontribusi Secara Tidak Langsung Berperan Pada Kecelakaan
    Adapun analisa faktor penyebab tidak langsung kejadian tersebut
    * Kurangnya pengetahuan analisis korban terhadap lingkungan sekitarnya ( adanya material yang berserakan ) yang menyebabkan iya tepeleset dan terjepit di antara pintu lift
    * Tidak adanya pelatihan atau pengarahan yang tepat dari pemberi tugas
    * Bekerja saat kondisi tubuh sedang tidak fit ( dalam keadaan sehat ) sehingga menyebabkan pekerja tersebut tidak berkonsentrasi saat bekerja.
     


    A. Tindakan perbaikan (corrective action)
    1. Pergantian alat pengaman yang lebih aman atau lebih canggih.
    2. Peninjauan ulang SOP yang ada.
    3. Memahami kegunaan dan fungsi APD saat melakukan SOP.
    4. Menambahkan pembatas untuk menjaga jarak aman antara pekerja dan mesin.
    5. Memahami kerusakan sebelum perbaikan.
     
    B. Upaya pencegahan (preventive action)
    1. Melakukan pengecekan kerusakan sebelum bekerja.
    2. Melakukan pengecekan standar kelayakan alat.
    3. Menyediakan APD sesuai standar.
    4. Memahami sistem perbaikan.
    5. Melakukan isolasi area bila perlu.
    6. Memberi pemberitauhan bila akan melakukan pekerjaan.
    7. Meminta izin melakukan operational kerja.
    8. Mematikan arus listrik ketika akan melakukan perbaikan.
    9. Memastikan kondisi tubuh dalam keadan sehat
    10. Menyediakan alat P3K bila mengalami kecelakan yang tak diinginkan.
     
    C. Rekomendasi Anda terhadap manajemen (perusahaan)
    1. Mengadakan pelatihan SOP agar mengasah ilmu dalam melakukan pekerjaan.
    2. Mengadakan pelatihan mengenai pentingnya K3.
    3. Memberi tunjangan kesehatan kepada setiap tenaga kerjanya agar dapat menunjang kesejahteraan pekerja.
    4. Mengadakan brifing pagi mengenai safety talk agar pekerja lebih memahami fungsi dan kegunaan safety
    5. Memperhatikan kesejahteraan pekerja agar tidak ada factor setress bila melakukan aktivitas pekerjaan, dengan memberi jadwal istirahat yang cukup.
     
    Daftar Pustaka
    DetikNews, Senin 31 Oct 2016, 23:01 WIB
    https://m.detik.com/news/berita/d-3333959/teknisi-tewas-terjepit-saat-perbaiki-lift-di-universitas-jayabaya
     


    Nama : Adithiya Pratama Putra
    NIM : 167052015
    Kelas : A2
    Semester : II

  2. Tambang Batu Bara di Samarinda Longsor, Warga Dikabarkan Tewas

    Tambang batu bara di Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) kembali memakan korban jiwa. Kali ini seorang warga Kelurahan Makroman, Kecamatan Sambutan, Samarinda, tewas tertimbun longsoran di area PIT pertambangan milik CV Arjuna.
    Menurut salah seorang warga Makroman, Niti, peristiwa terjadi pada Minggu malam 24 April 2016.
    “Ada korban longsoran di PIT tambang milik CV Arjuna di RT 26 Kelurahan Makroman, Kecamatan Sambutan, Samarinda,” ujar Niti, seorang petani di Makroman kepada KlikSamarinda pada Senin pagi 25 April 2016.
    Sementara, menurut keterangan warga lainnya, korban tersebut baru mau dikebumikan pada Senin pagi, 25 April 2016. Namun, Bahar belum memastikan waktu tepat peristiwa itu terjadi.
    “Saya dengar korban akan dikuburkan. Kabarnya, korban tertimbun saat memperbaiki mesin eksavator. Awalnya, Pak, kami juga tidak tahu ada korban meninggal, karena perusahaan pemilik tambang tertutup,” ujar Bahar, warga Makroman, Samarinda.
    Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari pemilik maupun manajemen pemilik usaha pertambangan di sekitar kejadian.
    CV Arjuna telah beroperasi di Makroman Samarinda sejak 2008. Perusahaan ini, dalam catatan Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Kaltim mendapatkan penambahan waktu izin operasi dari Pemerintah Kota Samarinda selama 5 tahun pada 2015 akhir
    Korban yang tewas tertimbun longsoran di area PIT milik CV Arjuna di Makroman, Samarinda tersebut menambah daftar panjang korban tewas di area pertambangan.
     


    Analisa Kejadian
    1. sequence of event
    pada 24 april 2016 tepatnya pukul 18.00 WITA korban berangkat menuju tempat kerja seperti biasa dan selang beberapa jam setelah itu terjadi longsor yamg menyeret alat berat jenis buldoser dan truk beroda jamak serta korban yang sedang berusaha melepas kaitan selang ke buldoser dan akhirnya ikut terseret dan terjepit kedua alat berat tersebut.
    Kejadian tersebut langsung diketahui pihak perusahaan. Namun, pihak perusahaan tak langsung memberikan kabar ke keluarga Sunarji. Saat masih bernyawa, korban langsung dibawa ke Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Makroman.
    istri korban, menjelaskan, Sunarji baru diketahui meninggal pada tanggal 25 april 2016 sekitar pukul 00.30 WITA. Setelah itu, korban langsung dilarikan ke kamar jenazah rumah sakit. Hanya beberapa jam, keluarga langsung membawa pulang korban untuk disemayamkan.
     
    2. Direct cause factor
    Penyebab langsung yang dapat di analisis dari keterangan sumber-sumber yang di dapat, adalah kurang nya pengendalian bahaya di tempat kerja oleh pihak perusahaan seperti, bagian-bagian tebing yang biasanya di potong tegak lurus dan tidak di beri terasering.
    Selain itu factor kontur tanah yang tidak terlalu keras dan beban kedua kendaraan yang yang berlebihan, menyebabkan permukaan tanah tidak sanggup menahan beban dan terjadilah longsor.
    Dan factor pencahayaan pun juga dapat berpengaruh dikarenakan dapat mengurangi kewaspadaan pekerja terhadap lingkungan sekitar seperti : tanah yang sudah mulai retak, dan ujung tebing yang tidak terlihat.
    Serta APD yang digunakan pekerja juga sangat berperan penting dalam keselamatan pekerja karena dapat mengurangi resiko dan dampak jika terjadinya kecelakaan dengan menggunakan APD seperti : safety helmet, protective goggles, paddle cloth, safety shoes, dan pakaian pelindung
     
    3. Indirect cause factor
    Termasuk dalam faktor penyebab tidak langsung kecelakaan kerja ialah faktor pekerjaan dan faktor pribadi yang dapat menimbulkan kecelakaan pada korban tersebut seperti lemah nya manajemen pada perusahaan tersebut.
    Factor psikologis pekerja yang menyebabkan hilang nya konsentrasi pekerja sehingga kurangnya kewaspadaan
    Pekerjaan berisiko tinggi namun belum ada upaya pengendalian di dalamnya sehingga harus di lengkapi dengan papan peringatan serta tidak membiarkan pekerja melakukan pekerjaan sendiri tanpa pengawasan baik itu dari rekan atau pengawas.
     


    A. Corrective action
    1. Adanya alaram peringatan jika terjadi nya longsor
    2. Perubahan schedules (jadwal) kerja yang sebelumnya malam hari siang hari sehingga dapat meningkatkan kewaspadaan lingkungan sekitar jika terjadi tanda-tanda longsor
    3. Penyimpanan kendaraan besar yang sesuai bukanya di pinggir lereng galian, sehingga mempermudah perawatan kendaraan besar tersebut
    4. Mempekerjakan tenaga kerja yang bersertifikasi, sehingga lebih efisien,efektif dan dapat menganalisis risiko dengan lebih baik
    5. Process Redesign dengan mengganti proses kerja yang ada seperti, bukannya menempatkan satu pekerja melainkan dua pekerja yang salah satunya dapat bertugas sebagai helper dan pemberi peringatan jika terjadinya bahaya

    B. Preventive action
    1. Monitoring processes dengan pengawasan terus menerus oleh tenaga pengawas pekerjaan (safety officer)
    2. Notifications regarding any situation yaitu dengan pemberitahuan mengenai segala situasi seperti, hujan lebat, suhu udara, kondisi tanah (tekstur tanah), dan intensitas cahaya
    3. Perform risk analysis dengan melakukan analisis risiko pekerjaan yang dapat dilakukan dengan matriks risiko dan yang lainnya
    4. Assessing new technology adalah peneliaian terhadap teknologi baru yang lebih mudah maintenance atau perawatanya seperti tidak perlu menggunakan selang pengaman atau hal lainnya dalam mengisi bahan bakar sehingga lebih cepat dan efisien serta aman
    5. Regular training and checking yaitu melakukan pelatihan pekerja serta mengecek kelayakan pekerja secara rutin
    6. Recovery Planning sebagai proses, kebijakan, dan prosedur yang berkaitan dengan persiapan untuk pemulihan atau kelanjutan dari infrastruktur teknologi yang penting bagi organisasi setelah bencana
    7. Safety and security policies adalah kebijakan keselamatan dan keamanan dari perusahaan yang harus di tingkatkan
    8. Mengganti SOP tentang penggalian tanah agar tidak terlalu curam sehingga tidak mudah longsor
    9. Menngecek kesehatan untuk menyeleksi pekerja yang layak dan siap bekerja
    10. Membatasi tepi curam sesuai dengan jarak aman sehingga tidak menimbulkan longsor
     
    C. Rekomendasi
    1. Perusahaan harus menetapkan skill dan pengalaman sesuai batas minimal berdasarkan bidang nya agar mendapat tenaga kerja yang professional
    2. Melengkapi perlengkapan APD pekerja, karena dapat mengurangi dampak langsung jika terjadi kecelakaan
    3. Selalu melakukan pengawasan rutin yang di lakukan oleh tenaga ahli (safety officer) yang bersertifikasi
    4. Agar membuat JSA pada setiap bidang pekerjaan terutama yang memiliki resiko besar
    5. Melakukan pengukuran bahaya pada setiap elemen pekerjaan seperti : mesin, lingkungan kerja, peralatan, dan pekerja menggunakan matriks risiko dan jika risiko yang di nilai terlalu tinggi maka dapat di lakukan hiraiki pencegahan

    Daftar pustaka
    KlikSamarinda.com edisi Senin, 25 April 2016 Jam: 09:11:56 WIB
    http://www.kliksamarinda.com/
    http://borneobangkit.com/longsor-pekerja-tambang-batubara-tewas-terjepit-alat-berat/ dan http://www.jawapos.com/read/2016/04/26/25551/tebing-longsor-pengawas-tambang-batu-bara-tewas
     


    Nama : Weril Sukanto
    NIM : 167052021
    Semester : II
    Kelas : A2

  3. Rehab Gedung DPRD Merangin Telan Korban, Satu Pekerja Tewas

    Sarkoni (20) seorang pekerja alat berat warga Desa Seling, Kecamatan Tabir, Kabupaten Merangin, Jambi tewas tertimpa puing bangunan saat merenovasi gedung DPRD Merangin, Minggu (31/7/2016).
    Informasi yang didapat dari warga setempat bernama Andi, peristiwa bermula saat korban bersama operator alat berat PT. Jambi Emas Mega Pratama tengah meruntuhkan bangunan DPRD Kabupaten Merangin, guna direhap kembali.
    Disaat korban sedang asyik mengawasi alat berat itu bekerja, tiba-tiba bangunan yang dikais alat berat runtuh dan menimpa kepala bagian belakang korban hingga memar dan berdarah, Nahasnya korban tidak menggunakan helm keselamatan kerja.
    “Kejadian ini bermula, ketika korban sedang mengawasi alat berat meruntuhkan bangunan DPRD. Mungkin korban tak tahu, sedang asyik mengawasi tiba-tiba puing-puing beton yang dikais alat runtuh langsung mengenai kepalanya,” kata Andi.
    Andi menceritakan, melihat kondisi tersebut oprarator alat berat dan warga sekitar langsung mencoba menyalamatkan korban. Namun, sayangnya nyawa korban tak tertolong lagi.
    “Operator alat berat berusaha mengangkat reruntuhan bangunan yang menimpa korban. Namun sayangnya setelah itu nyawa korban sudah tidak ada,” timpalnya.
    Melihat kondisi korban sudah tak bernyawa lagi ujar Andi, kemudian operator membawa jasad korban kerumah duka untuk disemayamkan. “Setelah diketahui tewas, korban langsung dibawa ke rumah duka,” sebut Andi.
    Kapolsek Kota Bangko Iptu Didih engkas Membenarkan jika telah terjadi kecelakaan kerja di Gedung DPRD Merangin.
    “Korban meninggal dunia di rumah sakit, karena korban mengalami luka berat di bagian kepala, dan kini jenazah korban sudah di bawa ke rumah duka,” ungkap IPTU Didih Engkas, Minggu(31/7/2016)
    Didih mengatakan, peristiwa ini masih dalam penyelidikan anggotanya, dan belum bisa menyimpulkan penyebab pasti. “untuk penyebab pasti kita belum bisa menyimpulkan apakah ini murni kecelakaan apa tidak,” pungkasnya.
     


    Analisis Kejadian:
    Merangin,Jambi Minggu,31 Juli 2016 Pukul 21.00 WIB.
    Seorang pekerja PT.Jambi Emas Mega Pratama, bernama Sarkoni (20th), tewas saat mengawas gedung DPRD karena tertimpa puing bangunan saat mengawas dengan jarak dekat dengan alat berat bekerja, tiba-tiba puing bangunan DPRD yang dikais runtuh dan menimpa kepala korban bagian belakang hingga berdarah. Operator alat berat berusaha mengangkat reruntuhan puing bangunan yang menimpa korban, namun nyawa korban tidak tertolong.
     
    Faktor penyebab langsung dalam masalah ini ,yaitu :
    A. Tindakan tidak aman (Unsafe Action )
    1.Tidak memakai APD, korban tidak mengenakan APD saat bekerja.

    B.Kondisi tidak aman (Unsafe Condition)
    1.Tidak ada garis atau pembatas jarak aman,dengan berlangsungnya perobohan bangunan tersebut.Ini dapat menjadi celah kecelakaan kerja bagi siapa saja yang berada disekitar.
     
    Faktor secara tidak langsung :
    Faktor Individu
    A. Sarkoni(korban) kurang memiliki pemikiran yang panjang dalam memandang sesuatu pekerjaan dari berbagai segi ,yaitu segi keamanan diri sendiri.
    B. Rekan kerja korban(operator alat berat) tidak memperhatikan keadaan disekelilingnya. Dan korban tidak menjauh dari posisi tidak aman. Dan awal mulai pekerjaan tersebut tidak ada komunikasi tentang bahaya atau peringatan untuk berada diposisi tidak aman.
     


    A. Corrective Action :
    1. Membawa korban ke rumah sakit untuk dilakukan otopsi untuk mengetahui penyebab kematian korban.
    2. Memastikan pemeriksaan, agar tidak terjadi runtuhan yang lainnya.
    3. Memberi tanda larangan masuk di area gedung yang telah di runtuhkan, kecuali orang yang berwenang untuk melalukan penyelidikan (investigasi).
    4..Dilarang memasuki area reruntuhan gedung, dan dilarang memindahkan perlatan yang berada di area reruntuhan gedung.
    5. Melakukan penyelidikan kecelakaan kerja dengan melibatkan pihak ketiga (Rumah sakit, kepolisian, dan depnaker).

    B. Preventive Action :
    1. Memastikan hasil investigasi sudah dilakukan dengan benar, dan menyelesaikan tindakan perbaikan dari hasil investigasi.
    2. Memastikan adanya personil K3 atau personil yang di tunjuk oleh manajemen untuk menjabat sebagai personil keselamatan kerja.
    3. Memberikan pelatihan K3, terhadap pekerja dan pengawas.
    4. Memberi tanda larangan masuk di area gedung yang akan di runtuhkan, kecuali orang yang berwenang.
    5. Sebelum melakukan pekerjaan pembongkaran gedung, harus dilakukan JSA ( Job safety Analysis).
    6. Bekerja pada hari minggu (libur) harus mendapat ijin dari atasan pekerja (Manajemen yang berwenang, mempekerjakan karayawan di hari libur).
    7. Memastikan pekerja di area gedung menggunakan APD.
    8. Dilarang berada dekat alat berat yang beroperasi untuk meruntuhkan gedung.
    9. Gunakan komunikasi dua arah dengan operator alat berat , dengan menggunakan alat komuniksai (radio tangan).
    10. Memastikan terdapat prosedur emergency, bila terjadi kecelakaan kerja.

    C. Rekomendasi terhadap manajemen perusahaan :
    1. Mensosialisasikan hasil investigasi kepada semua karyawan.
    2. Memberikan pelatihan K3, terhadap pekerja dan pengawas.
    3. Memastikan personil K3, telah mendapat pelatihan, dan sertifikasi K3 sesuai dengan bidang kontruksi.
    4. Melakukan identifikasi penilaian risiko terhadap pekerjaan yang dilakukan.
    5. Melakukan meeting rutin sebelum melaksanakan pekerjaan.

    Sumber Pustaka
    SindoNews.com Sumber Informasi Terpecaya, Edisi Minggu,31 Juli 2016-21.00 WIB.
    https://daerah.sindonews.com/read/1127723/174/rehab-gedung-dprd-merangin-telan-korban-satu-pekerja-tewas-1469973634
     


    Nama : Ratih Faradilla
    NIM : 167052051
    Semester : II
    Kelas : A2

  4. 2 Pekerja Apartemen Rungkut Surabaya Jatuh dari Lantai 11

    SURABAYA, Dua pekerja bangunan di menara Apartemen Rungkut Surabaya tewas setelah lift yang ditumpanginya jatuh dari lantai 11. Diduga, lift tersebut jatuh setelah kawat slingnya putus.
    Kedua korban diketahui bernama Nur Furqon (31), warga Pati, Jawa Tengah, tewas dengan luka di bagian kepala, dan Nur Kamid (40), warga Grobogan, Jawa Tengah, tewas dengan luka mengenaskan di kepala, tangan, dan kaki.
    Kejadian bermula dari kedua korban yang naik ke lantai atas untuk membawa bahan bangunan dengan menggunakan lift. Namun saat tiba di lantai 11, tiba-tiba kawat sling lift putus, sehingga terjun bebas.
    Kedua tubuh pekerja bangunan yang berada di dalam lift ini pun juga ikut terjatuh menghantam bumi. Salah seorang sempat dilarikan ke rumah sakit, namun akhirnya tewas saat dalam perjalanan.
    Aparat kepolisian langsung melakukan penyelidikan atas tewasnya kedua pekerja bangunan ini. Penyelidikan polisi mengarah pada standart keamanan proyek pembangunan apartemen menara tersebut.
    Sementara itu, kedua jenazah korban langsung dibawa ke kamar mayat RSU Dokter Sutomo Surabaya untuk diautopsi. Kemudian, kedua korban dibawa ke kampung halamannya untuk dimakamkan.
     


    Analisis Kejadian:
    Surabaya, 25 April 2016 pukul 20:52 WIB
    Dua pekerja bangunan di menara Apartemen Rungkut Surabaya bernama Nur Furqon (31) dan Nur Kamid (40) naik ke lantai atas untuk membawa bahan bangunan dengan menggunakan lift. Namun saat di lantai 11, tiba-tiba lift jatuh sehingga terjun bebas.
    Kedua tubuh pekerja bangunan yang berada di dalam lift ini pun juga ikut terjatuh menghantam bumi. Salah seorang sempat dilarikan ke rumah sakit, namun akhirnya tewas saat dalam perjalanan.

    Penyebab langsung kecelakaan adalah tidak menggunakan alat pelindung diri (APD), bekerja tanpa intruksi kerja, tidak melakukan pengecekan terdahap lift secara bersekala dan kurangnya perawatan sehingga menyebabkan slingnya putus.

    Penyebab secara tidak langsung dari kecelakaan ini yaitu berkerja pada ketinggiannkorban tidak berlaku hati-hati terhadap segala kemungkinan yang ada , pekerjaan beresiko tinggi namun belum ada upaya pengendalian didalamnya.

    Dari kecelakaan kerja ini menimbulkan kerugian selain nyawa korban juga terdapat
    biaya kompensasi untuk korban. Kerugian tidak langsung seperti jam kerja, kerugian sosial, serta citra dan kepercayaan berkurang.
     


    A. Corrective Action
    1. Segera membawa korban ke rumah sakit terdekat agar dilakukan otopsi.
    2. Melaporkan insiden tersebut terhadap pihak ke tiga (kepolisian,depnaker dan rumah sakit).
    3. Menutup area tempat kerja dan memberi peringatan dilarang masuk (police line) untuk memudahkan penyelidikan insiden tersebut.
    4. Dilarang memindahkan barang bukti yang ada di area lift tersebut.
    5. Menambahkan personil pengawas.

    B. Preventive Action
    1. Kabel sling yang putus segera diganti dengan yang lebih berkualitas dan lift dilengkapi dengan sistem pengamanan ganda
    2. Mengganti lift dengan sitem mekanis yang lebih maju dibanding pendahulunya untuk menangani substansial dari berat sangkar lift dan muatannya.
    3. pemeliharaan sistem pengendalian lift, karena jika tidak dipelihara dapat berpengaruh pada kinerja sistem.
    4. Pemeriksaan sumber tenaga listrik sebagai penggerak lift.
    5. Pemeriksaan alat komunikasi, alarm, dan lampu indikator yang ada pada cabine lift karena kemungkinan gangguan darurat pada kabin, termasuk lift macet dan kelebihan muatan.
    6. Pemeliharaan kawat baja penarik, meliputi pemeriksaan kelenturan kawat baja jika sudah kering beri tambahan pelumas sehingga kelenturan meningkat.
    7. Pemeriksaan lift perlu dilakukan bersekala dan pengawasan yang lebih efektif terhadap lift yang berfungsi.
    8. Mengatur jadwal pemakaian lift agar kelenturan pada sling lift tidak beresiko.
    9. Memasang tanda-tanda peringatan yang mudah dibaca oleh pengguna jika lift terjadi keadaan darurat.
    10. Meletakkan SOP disisi lift agar bila terjadinya keadaan darurat tetap bersikap tenang
    11. Pihak pengelola bangunan harus mendapatkan sertifikat bahwa lift berfungsi dengan baik sebagaimana mestinya.

    C. Rekomendasi terhadap manajemen
    1. Menjalankan program K3 agar karyawan senantiasa merasa aman ketika bekerja dan terlindung dari kemungkinan kecelakaan kerja.
    2. meningkatkan pengawasan dalam hal pelaksanaan program K3 dan Pemantauan budaya K3 seluruh personil K3 di bawah kontrol perusahaan.
    3. Melakukan schedule pemeriksaan kesehatan tenaga kerja bersekala di tempat kerja.
    4. Melakukan penilaian aktivitas kerja yang berhubungan dengan resiko K3 perusahaan.
    5. Melakukan safety brifing setiap ingin memulai pekerjaan di tempat kerja.

    Sumber Pustaka
    Sindonews.com, edisi Senin, 25 April 2016 – 20:52 WIB.
    https://daerah.sindonews.com/read/1103978/23/2-pekerja-apartemen-rungkut-surabaya-jatuh-dari-lantai-11-1461592324
     


    Nama : Sherin Gita Sapitri
    NPM : 167052017
    Semester : II
    Kelas : A2

  5. Pria Terpental Penuh Luka dan Tangan Putus

    Batang – Ledakan keras terdengar dari sebuah bengkel las Cerah Teknik yang berada di Desa Sikebo Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang.
    Akibat peristiwa itu, Sahidin, warga Desa Sempu, Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang, mengalami luka di wajah, leher robek 20 sentimeter dan tangan kiri putus. Sontak peristiwa tersebut sempat menggegerkan warga sekitar.
    “Saat ini Korban sudah dievakuasi dan dibawa ke Rumah Sakit Kraton Pekalongan untuk tindakan medis,” ujar Kapolres Batang AKBP Juli Agung Pramono, melalui Kapolsek Limpung AKP Raharja, Sabtu (25/02/2017).
    Kapolsek Limpung AKP Raharja menuturkan, kejadian bermula saat korban bersama dua teman kerja hendak menyambung pipa ke drum. Saat itulah drum meledak, tutupnya terlepas mengenai korban.
    Sementara dua orang teman korban terpental dan tidak sadarkan diri.
    Mendengar adanya laporan, lalu petugas Polsek Limpung bersama warga melaksanakan evakuasi.
    Barang bukti yang diamankan 1 Drum ukuran 200 liter warna hijau, 1 buah tutup, dan mesin las listrik.
    “Peristiwa tersebut terjadi diduga akibat kelalaian dan kurang hati-hatinya dalam bekerja mengelas drum bekas tiner sehingga mengakibatkan terjadinya ledakan,” tandas AKP Raharja.
     


    Analisis Kejadian:
    1. Urutan Kejadian (sequence of event)
    Ledakan keras terdengar dari sebuah bengkel las yang berada di Desa Sikebo Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang pada hari Sabtu, 25 Februari 2017 sekitar pukul 10.27 WIB. Kejadian bermula pada saat korbanyang bernama Sahidin (26) bersama dua orang rekan kerjanya, yakni Supriyadi (28) dan Shobikin (26) yang merupakan warga Desa Sempu semua tengah bekerja di bengkel las. Diketahui mereka hendak menyambung pipa ke sebuah drum dengan cara mengelasnya.
    Saat itu korban sedang berada di depan drum dan Shobikin berada di sampingnya. Selang beberapa waktu kemudian, drum tersebut meledak. Kemudian tutup drum tersebut terlepas dan mengenai korban. Sehingga korban mengalami luka cukup parahpada bagian wajah, leher, dan tangan kiri putus. Sementara kedua rekannya terpental dan tak sadarkan diri dan hanya mengalami luka ringan
    Mendengar kejadian, Polsek Limpung langsung mengevakuasi TKP dan melarikan korban ke Rumah Sakit Limpung guna mendapatkan pertolongan medis. Sementara barang bukti yang berhasil diamankan berupa drum bekas 200 L, tutup drum, dan mesin las listrik.

    2. Analisis faktor penyebab langsung kecelakaan (direct cause factors).
    Hasil analisa yang saya temukan dalam insiden tersebut berupa :
    • Peristiwa tersebut diduga akibat kelalaian kerja dan kurang hati-hati ketika bekerja mengelas drum bekas minyak thinner, sehingga menimbulkan musibah.
    • Tidak adanya penggunan APD. Dalam kasus ini berupa safety glove, masker, safety google, dan baju tahan panas untuk mengurangi luka jika terjadi kecelakaan.
    • Kualitas alat las yang terlalu panas sehingga memicu sisa-sisa tinner dan menimbulkan ledakan.

    3. Analisis faktor kontribusi yang secara tidak langsung turut berperan pada kecelakaan (indirect cause factors)
    Adapun analisa berupa faktor yang tidak langsung :
    • Kurangnya komunikasi antar sesama pekerja yang bisa mnegakibatkan kecelakaan
    • Kurangnya pengalaman dan pengetahuan pekerja. Dalam kasus ini pengalaman dan pengetahuan tentang mengelas barang yang sesuai standar keamanan
    • Tidak adanya simbol/label “bahan mudah meledak” yang tertempel pada drum bekas thinner
     


    A. Tindakan perbaikan (corrective action)
    1. Merestorasi tempat kerja dan sekitarnya setelah terjadi insiden ledakan
    2. Memperbaiki perabotan dan peralatan kerja yang terkena damage dari ledakan
    3. Memberi penyembuhan dan rehabilitasi terhadap korban luka
    4. Menampung limbah dan sisa-sisa kejadian agar tidak menyebar dan merusak lingkungan
    5. Memperbaiki dan memperbarui SOP
    6. Me-manage ulang sistem waktu bekerja yang sesuai standar
     
    B. Upaya pencegahan (preventive action)
    1. Melakukan inspeksi berkala untuk semua peralatan
    2. Maintenance berkala yang terjadwal untuk semua peralatan
    3. Memberikan pelatihan kepada karyawan yang sudah bekerja
    4. Penyeleksian karyawan baru yang lebih ketat
    5. Penggunaan APD dalam pekerjaan
    6. Penjaminan asuransi pada aset perusahaan dan karyawan
    7. Penerapan JSA / JRA pada setiap pekerjaan
    8. Pemasangan safety equipment seperti apar, sprinkler, dll di tempat kerja
    9. Mengadakan toolbox meeting atau briefing sebelum mengadakan pekerjaan
    10. Mengadakan safety meeting secara berkala yang dihadiri setiap karyawan
    11. Memotivasi karyawan agar lebih aktif melaporkan insiden

    C. Rekomendasi terhadap manajemen perusahaan
    1. Menyarankan kepada pihak manajemen agar mengatur ulang jam kerja para pekerja sesuai dengan aturan undang-undang yang berlaku
    2. Melakukan pengawasan kepada para pekerja yang sedang melakukan tugas terutama pekerja yang belum memiliki pengalaman yang cukup
    3. Menyarankan agar pihak manajemen melakukan pendekatan terhadap semua karyawan agar mengetahui latar belakang, kondisi fisik, ikatan emosional sehingga bisa diposisikan di tempat kerja yang sesuai
    4. Meningkatkan kedisiplinan karyawan dalam lingkungan kerja seperti ketepatan, kecepatan, kesigapan, dan sikap dalam bekerja
    5. Memberikan reward bagi yang rajin memberikan laporan dan baik dalam bekerja, dan memberikan punishment bagi yang sering lalai dan menyepelekan pekerjaan.

    Sumber pustaka
    Tribunnews.com Sabtu, 25 Februari 2017 22:43 WIB
    http://www.tribunnews.com/regional/2017/02/25/pria-terpental-penuh-luka-dan-tangan-putus
     


    Nama : Gilang Purnama
    NIM : 167051980
    Semeter : II
    Kelas : A1

  6. Sebabkan Nyawa Melayang, Dinas Kebersihan DKI Pecat Sopir Truk Sampah

    BEKASI – Dinas Kebersihan DKI Jakarta memecat dua sopir truk sampah atas tuduhan kelalaian pada kecelakaan yang menewaskan Sandi alias Paul (25), warga Bantargebang, Kota Bekasi, Minggu 15 Januari 2017 kemarin.
    “Mereka sudah dipecat hari ini karena lalai dalam bekerja sehingga menghilangkan nyawa orang lain,” kata Kepala Unit Pelaksana Teknis Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Bantargebang Asep Kuswanto di Bekasi, Senin (16/1/2017).
    Kedua sopir itu masing-masing berinisial DS dan AB yang sehari-hari bekerja mengangkut sampah dari kawasan Jakarta Selatan menuju TPST Bantargebang Kota Bekasi.
    Keduanya dianggap lalai menjalankan tugas karena pada saat kejadian kecelakaan AB mendelegasikan tugasnya kepada DS dengan alasan letih. Usai serah terima kendaraan truk, DS menuju TPST Bantargebang untuk membuang sampah seberat 4 ton ke zona 4.
    “Sampai di jembatan timbang 2, DS meminta tolong kepada Sandi untuk membuka terpal penutup sampah di bagian bak truk dan kendaraan kembali melaju ke zona pembuangan,” katanya.
    Dalam perjalanan itu, truk yang dikendarai DS berpapasan dengan truk sampah milik Dinas Kebersihan Kota Bekasi. Kejadian itu mengejutkan DS hingga kemudi yang ia pegang hilang kendali dan truk oleng lalu terguling bersama dengan korban yang ada di bagian bak.
    “Korban jatuh bersama bak truk sampah hingga tertimbun selama beberapa menit dan tewas,” bebernya.
    Asep menyayangkan tindakan sopir tersebut karena lembaganya sudah membina sopir untuk tidak menggunakan jasa orang lain di luar petugas setempat.
    “Sebab, gaji mereka sebesar Rp5 juta per bulan, sudah termasuk membuka terpal sampai ke zona pembuangan. Kalau merasa lelah, sebaiknya minta tolong ke petugas resmi di UPT setempat,” katanya.
    Bukan hanya itu, Asep juga menyesalkan sikap AB (27) yang justru mengalihkan kemudi truk ke DS. DS merupakan warga Bantargebang, Kota Bekasi dan bekerja sebagai sopir Suku Dinas Kebersihan Jakarta Selatan yang saat itu sedang libur bekerja. Peristiwa kecelakaan itu saat ini sedang ditangani Unit Lakalantas Polsek Bantargebang, Kota Bekasi.
     


    Analisis Kejadian
    1. Urutan Kejadian (sequence of event)
    Dinas Kebersihan DKI Jakarta memecat dua sopir truk sampah atas tuduhan kelalaian pada kecelakaan yang menewaskan Sandi alias Paul (25), warga Bantargebang, Kota Bekasi, pada hari Minggu 15 Januari 2017 sekitar pukul 06.00 WIB. Kedua sopir itu berinisial DS dan AB yang bekerja mengangkut sampah dari kawasan Jakarta Selatan menuju TPST Bantargebang Kota Bekasi.
    Kejadian bermula saat pekerja DS mendelegasikan pekerjaannya ke AB dengan alasan letih. Saat DS menuju TPST Bantargebang untuk membuang sampah seberat 4 ton ke zona 4 dan saat melewati jembatan timbang 2, DS berhenti dan meminta tolong kepada Sandi (korban) untuk membuka terpal penutup sampah di bagian bak truk dan kendaraan kembali melaju ke zona pembuangan. Dalam perjalanan itu, truk yang dikendarai DS berpapasan dengan truk sampah milik Dinas Kebersihan Kota Bekasi. Kejadian itu mengejutkan DS sehingga kemudi yang ia pegang hilang kendali dan truk oleng lalu terguling bersama dengan korban yang ada di bagian bak. Korban jatuh bersama bak truk sampah hingga tertimbun selama beberapa menit dan tewas.

    2. Analisis faktor penyebab langsung kecelakaan (direct cause factors).
    Menurut analisa faktor penyebab langsung kejadian tersebut berupa :
    – Peristiwa tersebut disebabkan karena kelalaian dalam berkendara sehingga truk oleng, hilang kendali dan terguling.
    – Pekerja tidak mematuhi prosedur ketetapan perusahaan.

    3. Analisis faktor kontribusi secara tidak langsung turut berperan pada kecelakaan (indirect cause factors).
    Adapun analisa faktor penyebab tidak langsung kejadian tersebut :
    – Tidak menerapkan aturan yang telah diberikan.
    – Kurangnya komunikasi antara pengemudi dan korban.
    – Kurangnya rasa berhati-hati dalam berkendara / tidak mematuhi peraturan berkendara.
    – Pelaku membuat kerugian bagi perusahaan.
     


    A. Correction Action ( Tindakan Perbaikan )
    1. Melakukan perbaikan/penggantian truk yang telah rusak (terguling)
    2. Melatih kembali pekerja lain setelah insiden agar memiliki attitude yang baik dalam bekerja
    3. Memperbaharui SOP
    4. Memperbaharui JSA
    5. Mengatur ulang jadwal kerja agar tidak ada lagi pekerja yang kelelahan sehingga mengakibatkan kecelakaan kerja

    B. Preventive Action ( Tindakan Pencegahan )
    1. Melakukan pengecekan kendaraan sebelum dipakai
    2. Melakukan maintenance berkala sesuai aturannya pada truk tersebut
    3. Memberi pelatihan lebih lagi dalam berkendara untuk para sopir truk
    4. Meningkatkan penilaian resiko
    5. Lebih monitor kegiatan pekerja
    6. Seleksi karyawan lebih ketat
    7. Memastikan pekerja mengemudi dalam keadaan sadar, sehat jasmani, rohani dan tidak ada unsur paksaan
    8. Menyediakan sarana dan prasarana agar menerapkan K3 di tempat kerja
    9. Penerapan JSA disetiap pekerjaan
    10. Melakukan sosialisasi agar kelalaian pekerja tidak akan terulang lagi
    11. Mengadakan safety meeting secara teratur dan diusahakan setiap pekerja dan staff maupun direktur mengikuti meeting tersebut

    C. Rekomendasi Terhadap Perusahaan
    1. Lebih menerapkan sistem K3 yang ketat agar tidak terjadi kelalaian saat bekerja
    2. Menekan pekerja terhadap aturan yang terdapat pada perundang-undangan
    3. Pekerja yang telah membuat korban meninggal dunia walaupun bukan pekerja di perusahaan tersebut wajib memberi tunjangan terhadap keluarga yang ditinggalkan
    4. Meningkatkan pengetahuan atau memaksa pekerja agar paham dalam segala peraturan, baik peraturan perusahaan maupun peraturan berkemudi
    5. Memberi apresiasi terhadap pekerja yang taat akan segala aturan agar memberi motivasi para pekerja lain untuk menjadi lebih baik lagi dalam bekerja

    Sumber pustaka
    Okezone.com, edisi Senin 16 Januari 2017 15.37 WIB
    http://m.okezone.com/read/2017/01/16/338/1592731/sebabkan-nyawa-melayang-dinas-kebersihan-dki-pecat-sopir-truk-sampah
     


    Nama : Vira Erwi Novaliana
    NIM : 167051976
    Semester : II
    Kelas : A1

  7. 4 Pekerja Terjatuh dari Lantai 5 Gedung Baru UIN saat Pengecoran

    Jakarta – Kecelakaan kerja terjadi di gedung baru milik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Sebanyak empat orang terluka saat melakukan pengecoran talang gedung yang berada di Jalan Tarumanegara, Pisangan, Ciputat, Tangerang Selatan.
    Kapolsek Ciputat AKP Tatang Syarif membantah adanya gedung UIN yang ambruk. Dia menjelaskan, ada beberapa material yang terjatuh saat melakukan pengecoran di lantai lima gedung yang baru diresmikan beberapa waktu lalu itu.
    “Jadi itu ada ngecor talang, ada bagian yang jatuh, bukannya ambruk. Itu talangnya aja, di lantai paling atas,” ujar Tatang saat dikonfirmasi Liputan6.com, Jakarta, Sabtu (19/11/2016) malam.
    Tatang mengungkapkan, ada empat korban luka dalam peristiwa yang terjadi sekitar pukul 19.50 WIB itu. Keempat korban langsung dilarikan ke Rumah Sakit UIN Ciputat.
    “Nggak ada korban jiwa. Jadi korban ini di atas lagi ngecor, ikut jatuh ke lantai di bawahnya. Bukan ketimpa (material),” tutur dia. Korban juga hanya mengalami luka ringan dalam insiden tersebut. Polisi sendiri belum dapat memastikan penyebab kecelakaan tersebut. “Belum bisa disimpulkan ada kelalaian. Kami masih penyelidikan,” pungkas Tatang
     


    Analisis Kejadian

    A. Kronologis Kecelakaan (sequence of event) :
    Pada hari Sabtu, 19 November 2016 sekitar pukul 19.50 WIB terjadi kecelakaan kerja di gedung baru milik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Tidak ada korban jiwa di kecelakaan ini,Tetapi. Sebanyak empat orang mengalami luka saat pengecoran talang gedung, gedung tersebut bedara di Jalan Tarumanegara Pisangan Ciputat, Tangerang Selatan

    B. Analisis Faktor Penyebab Langsung Kecelakaan (direct cause factors) :
    Menurut saya kenapa bisa terjadi kecelakaan kerja seperti ini karena ada berbagai faktor yang pertama :
    1. Minimnya / tidak menggunakan pemakaian APD/PPE Safety Belt karena apabila pekerja tersebut memakai APD/PPE kemungkinan tidak terjadi/kemungkinan kecil terjadi kecelakaan tersebut.
    2. Tidak mengikuti prosedur(SOP),peraturan dan keselamatan kerja sehingga terjadi material terjatuh dan pekerja tersebut ikut jatuh ke lantai.

    C. Analisis Faktor kontribusi yang secara tidak langsung turut berperan pada kecelakaan (indirect cause factors) :
    1. Faktor Pribadi (Personal) : masalah dirumah yang terbawa ke tempat kerja sehingga kurangnya fokus / konsentrasi kerja.
    2. Faktor Pengetahuan Pekerja dan kurangnya pelatihan dan pengetahuan : sehingga material terjatuh dan mereka (Pekerja) ikut terjatuh.
     


    A. Tindakan perbaikan (corrective action) :
    1. Memperbaharui SOP.
    2. Melaporkan apabila ada terjadinya insiden / bahaya dalam pekerjaan tersebut.
    3. Memperbaiki peralatan / perabotan kerja yang rusak.
    4. Pengujian,memeriksa peralatan kerja dan pemantauan saat bekerja
    5. Memberi penyembuhan atau rehabilitasi terhadap korban luka /korban kecelakaan kerja.

    B. Upaya pencegahan (preventive action) :
    1. Memberikan pelatihan mengenai keselamatan dalam bekerja kepada karyawan. Pelatihan dapat memberikan pemahaman dan pengetahuan kepada karyawan bahwa pentingnya keselamatan dalam bekerja sehingga tidak terjadinya kecelakaan akibat kerja
    2. Memberikan penanda dan isyarat keselamatan kerja.
    3. Memberikan Sanksi kepada karyawan yang melanggar peraturan keselamatan dalam bekerja agar karyawan tersebut tidak akan melanggar peraturan tersebut dan tidak akan terjadi kecelakaan kerja.
    4. Memberikan perhatian lebih kepada karyawan yang kondisi tubuhnya melemah / kurangnya fokus agar tidak terjadinya kecelakaan kerja.
    5. Pemberian alat pelindung diri (personal protective equipment).
    6. Melalukan patrol saat berlangsungnya pekerjaan dan inspeksi keselamatan kerja sebelum melakukan pekerjaan untuk mengurangi risiko kecelakaan kerja.
    7. Menerapkan JSA / JRA.
    8. Mengubah material yang di bawah standart / kurang layak di pakai
    9. Melakukan penelitian resiko
    10. Mengendalikan resiko
    11. Melengkapi semua perkakas dan mesin dengan alat pencegah kecelakaan (safety guards).

    C. Rekomendasi :
    1. Memberikan pelatihan-pelatihan khususnya pelatihan yang bersifat terapan. Agar meningkatnya kualitas sumber daya manusia
    2. Menerapkan sistem K3 untuk mencegah terjadinya kelalaian kerja maupun kecelakaan kerja dan menambah Produktivitas Kerja
    3. Melakukan pengawasan langsung terhadap pekerja yang sedang bekerja terutama kepada pekerja yang belum memiliki pengalaman lebih.
    4. Pihak manajemen harus memiliki hubungan kerja yang baik, harmonis dan saling memperhatikan kepentingan masing-masing pihak yang terlibat. Agar karyawan / pekerja mendapatkan kenyamanan kerja dan penempatan yang benar pekerja dengan pekerjaannya tersebut.
    5. Memberikan award,apresiasi maupun motivasi kepada pekerja / karyawan yang mengikuti aturan / di siplin dan baik dalam bekerja untuk menjadi pekerja / karyawan produktivitasnya lebih baik lagi kedepan.

    Sumber pustaka
    Liputan6.com, edisi 20 November 2016 00:45 WIB
    http://news.liputan6.com/read/2656695/4-pekerja-terjatuh-dari-lantai-5-gedung-baru-uin-saat-pengecoran
     


    Nama: Moch. Vito Anwar
    NIM: 167051979
    Semester: II
    Kelas: A1

  8. TKA China Tewas Kecelakaan Kerja Di Konawe

    KENDARI — Seorang Tenaga Kerja Asing (TKA) asal Tiongkok, Nie Zhi Tao (43) yang bekerja di PT Virtue Dragon Nikel Industry (VDNI), Morosi Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, meninggal dunia akibat kecelakaan kerja pada 10 Maret 2017.
    General Manager PT VDNI, Rudi Rusmadi, di Kendari, Sabtu, mengatakan kejadian tersebut terjadi Jumat (10/3) sekitar pukul 07.00 yang bertempat di Smelter 2 PT.VDNI Kecamatan Morosi.
    “Korban ini terjatuh, diduga korban terpeleset dari ketinggian enam meter,” katanya.
    Saat insiden itu terjadi kata Rudi, ada beberapa saksi yang melihat antara lain, Mr.Chen Hang, Mr.Chen Cong Lin dan Rojali (Jubir).
    Berdasarkan keterangan dari saksi mata, saat terjatuh kepala korban terlebih dulu berada di bawah sehingga mengalami luka di bagian di kepala.
    “Korban mengalami luka di bagian kepala dan mengeluarkan darah dari hidung,” kata Rudi.
    Menurut Rudi, korban kemudian dilarikan ke Rumay Sakit Bahteramas Kendari, sayangnya jiwa korban tidak bisa diselamatkan dan meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.
     


    Adapun hasil analisa yang saya temukan dalam kejadian tersebut ialah

    Kronologis Kecelakaan (sequence of event) :
    Pada hari jumat, 10 Maret 2017 sekitar pukul 06.50 terjadi kecelakaan kerja oleh Tenaga Kerja Asing asal Tiongkok. Nie Zhie Tao yang handak menaiki tangga sebuah gedung tiba-tiba tergelincir jatuh pada ketinggian 6meter. Korban terjatuh di posisi kepala berada di bawah yang berakibat terjadinya pendarahan di daerah kepala dan hidung. Korban tewas dalam perjalan menuju rumah sakit.

    Analisis Faktor Penyebab Langsung kecelakaan (direct cause factors) :
    1. Kurangnya penggunan APD dalam kasus ini berupa: safety shoes, helm, safety belt
    2. Faktor alam seperti hujan yang diduga menjadi penyebab tergelincirnya pekerja dikarenakan lantainya yang licin
    3. Diduga pekerja tidak mengikuti prosedur ,peraturan dan keselamatan kerja

    Analisis Faktor Kontribusi yang turut berperan pada kecelakaan kerja (indirect cause factors) :
    1. Peristiwa tersebut diduga akibat material bahan bangunan yang licin untuk di pijak bagi pekerja yang menyebabkan tergelincir/terpeleset jatuh dari ketinggian.
    2. Kurang hati-hati dalam berpijak pada anak tangga sehingga tergelincir
    3. Pekerja tidak mematuhi rambu keselamatan (safety sign)
    4. Kurangnya pengawasan saat pekerja melakukan proses pekerjaannya
     


    A. Tindakan Perbaikan
    1. Meninjau lokasi kejadian untuk dilakukannya penambahan rambu K3 serta penambahan pagar di tepi gedung agar kejadian tersebut tidak terulang
    2. Memperbaiki system pegawasn pada area industry
    3. Meninjau kembali lokasi dan melakukan perbaikan pada area tersebut agar kecelakaan tidak terulang
    4. Mengurangi trauma/Rehabilitasi pada korban maupun keluarga korban
    5. Memperbarui SOP

    B. Tindakan pencegahan
    1. Memberikan pelatihan mengenai keselamatan kerja pada tiap-tiap karyawan
    2. Memberikan sanksi pada setiap karyawan yang melanggar peraturan keselamatan dalam bekerja
    3. Pemberian alat pelindung diri pada pekerja untuk mengurangi resiko terjadinya kecelakaan
    4. Melakukan pengawasan saat berlangsungnya proses pekerjaan
    5. Melakukan inpeksi sebelum memulai pekerjaan
    6. Memberikan perhatian lebih pada pekerja yang sakit/kondisi tubuhnya lemah
    7. Memberikan pengarahan terhadap karyawan yang melihat insiden agar lebih sigap
    8. Penyeleksian karyawan baru khusunya Tenaga Kerja Asing yang bekerja di lokasi tersebut
    9. Pemasangan safety net di tepi – tepi gedung
    10. Memberikan lining di area yg di anggap berbahaya

    C. Rekomendasi terhadap menejemen perusahaan
    1. Memberi apresiasi kepada pekerja yang taat praturan keselamatan kerja dan pekerja yang mengingatkan pada pekerja lain bahwa pentingnya keselamatan dalam bekerja
    2. Menyarankan agar pihak menejemen melakukan pendekatan pada tiap-tiap pekerja agar mengetahui latar belakang dan kondisi fisik pekerja sehingga dapat di posisikan pada tempat kerja yang sesuai
    3. Melakukan pengawasan terhadap pekerja khususnya Tenaga Kerja Asing
    4. Menerapkan system k3 yang lebih disiplin pada perusahaan untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja
    5. Memberikan pelatihan pada setiap pekerja agar meningkatkan sumber daya manusia dan mengurangi tingkat kecerobohan dalam bekerja yang dapat mengakibatkan kecelakaan

    Sumber Pustaka
    Republika.co.id, edisi Sabtu, 11 Maret 2017 23:12 WIB
    http://m.republika.co.id/berita/nasional/daerah/17/03/11/omni3b280-tka-cina-tewas-kecelakaan-kerja-di-konawe
     


    Nama : Aditya Anggoro
    NIM : 167052003
    Smester : II
    Kelas : A1

  9. Empat Alat Berat Dikerahkan Cari Sumarno Korban Kecelakaan Tambang

    Empat unit exavator (alat berat) diturunkan untuk mempercepat proses pencarin korban kecelakaan tambang, Sumarno (25) warga Dusun Mengkubung Desa Riding Panjang Kecamatan Belinyu, Selasa (7/2/2017).
    Sumarno terkubur tanah longsor saat sedang bekerja menambang di lokasi tambang di Air Rengas Desa Mapur Kecamatan Riausilip.
    Personil Satpol PP Pemkab Bangka yang berrtugas di Kecamatan Riausilip, Reimei juga turun ke lokasi, untuk turut membantu proses pencarian korban.
    “Ada empat alat berat, yang digunakan untuk mencari korban. Sampai sekarang proses pencarin masih berlangsung,” kata Koordinator Satpol PP di Kecamatan Riausilip, Reimei kepada bangkapos.com Selasa (7/2/2017).
    Nasib Sumaro sampai saat ini belum diketahui, setelah terkubur longsoran tanah di lokasi tambang Air Rengas Mapur yang terjadi Senin (6/2/2017) sekitar pukul 16.00 WIB.
     


    Kronologis Kecelakaan (sequence of event) :
    Senin (6/2/2017) sekitar pukul 16.00 WIB.Sumarno terkubur tanah longsor saat sedang bekerja menambang di lokasi tambang di Air Rengas Desa Mapur Kecamatan Riausilip.

    Analisis Faktor Penyebab Langsung Kecelakaan (direct cause factors) :
    Menurut saya kenapa bisa terjadi kecelakaan kerja seperti ini karena, Tidak memiliki sertifikat penambangan,tidak adanya JSA, SOP Sehinga pada saat menambang tdk tqu kondisi dan struktur tanah seperti apa.

    Analisis Faktor kontribusi yang secara tidak langsung turut berperan pada kecelakaan (indirect cause factors) :
    1. Faktor Pribadi (Personal) masalah dirumah yang terbawa ke tempat kerja sehingga kurangnya fokus / konsentrasi kerja.
    2. Faktor Pengetahuan Pekerja dan kurangnya pelatihan dan pengetahuan : sehingga pada saat menambang pekerja tdak tau struktur tanah seperti apa dan bahaya apa yg akan terjadi.
     


    A. Corrective action
    1.Displin ini akan sangat berguna apabila kita gunakan pada saat bekerja.terjadinya kecelakaan bisanya disebabkan kurangnya kedisiplinan dan mentaati peraturan perusahaan.
    2.Inspeksi terhadap konstur tanah peralatan dan juga enginering.
    3.Lingkungan berpena penting dalam melakukan pekerjaan. Karena di pertambangan banyak pekerja yg berlalu lalang.
    4.Cuaca juga sering menjadi penyebab terjadinya kecelakaan.
    5.Mengkondisikan peralatan, peralatan yg kurang memadai harus dilakukan inspekai rutin pada kendaraan dan peralatan penambangan.

    B. Preventive action
    1.Pelatihan pekerja/kariawan
    2.Pencegahan Melalui Simulasi
    3.Program Pelatihan wajib
    4.Paham tentang metode penambangan
    5.kursus operasi mesin di tambang
    6.Legislasi Keselamatan
    7.Tehnologi standar SNI
    8.Memiliki SOP, atau JSA
    9.Memiliki sertifikat penambangan yang sah
    10.Peralatan Pelindung Diri
    11.Mematuhi peraturan Perusahaan

    C. Rekomendasi Anda terhadap manajemen (perusahaan)
    1.Seharusnya perusahaan harus lebih disiplin dan ketat dalam pengawasan pekerja tambang.
    2.Suprvisor tambang harus lebih tau kondisi dan struktur tanah pada saat berlangsungnya penambangan
    3.Perusahaan harus mewajibkan pekerja yg sudah bersertifikat.
    4.Pengunaan SOP,HAZOB, dan JSA harus dilakukan
    5.Menggunakan peralatan yg sesuai, dan harus di inspeksi rutin.

    Sumber pustaka
    Bangkapos.com, edisi Selasa 7 Februari 2017 12:09.
    http://bangka.tribunnews.com/2017/02/07/empat-alat-berat-dikerahkan-cari-sumarno-korban-kecelakaan-tambang
     


    Nama: Dodik Bagus Prihatmoko
    NIM: 157051843
    Semester:II
    Kelas: A1

  10. Gondola Intiland Tower Jatuh Saat Dites

    TEMPO.CO, Jakarta – Gondola yang jatuh dari lantai 23 Intiland Tower di Karet Tengsin, Jakarta Pusat, sedang dalam proses uji coba oleh pihak kontraktor. Akibatnya, teknisi yang sedang berada gondola saat itu, Agus Heriyadi (30 tahun), ikut terhempas dan tewas di lokasi kejadian.
    “Korban sedang bekerja sebagai kontraktor untuk melakukan perbaikan. Saat dites dari lantai 23, tiba-tiba gondola itu jatuh bersama korban hingga ke lantai dasar,” kata Kepala Bagian Humas Polres Jakarta Pusat Komisaris Suyatno, Rabu, 26 Oktober 2016.
    Gondola jatuh sekitar pukul 11.15 WIB. Sebelum jatuh ke lantai dasar, gondola itu sempat menabrak videotron di lantai empat gedung berlantai 23 itu. Videotron itu ringsek, sedangkan gondola jatuh dan hancur berkeping-keping.
    Menurut Corporate Communication PT Intiland Development Prananda Herdiawan, perbaikan itu sudah dilaksanakan sejak beberapa hari terakhir. Gondola itu memang sedang rusak dan sedang diperbaiki kontraktor, yakni PT Hitachindo Utama.
    “Hari ini adalah tahap pengetesan yang dilakukan kontraktor,” kata Prananda saat ditemui di lokasi kejadian. Adapun petugas kontraktor yang berada di gondola pada saat kejadian adalah Agus Heryadi.
    Dari pantauan Tempo, sekitar pukul 12.40 WIB, jenazah Agus dievakuasi tim INAFIS Polres Jakarta Pusat. Jalan Profesor Dr Satrio pun mendadak macet. Beberapa pengendara menghentikan kendaraannya untuk melihat reruntuhan gondola yang belum dievakuasi.
    Prananda mengatakan masih belum mengetahui penyebab jatuhnya gondola. “Kami masih menunggu keterangan dari PT Hitachindo.” kata dia.
    Saat ini, jenazah Agus, warga Garut, Jawa Barat, telah dievakuasi ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Sedangkan reruntuhan gondola masih berserakan di lokasi kejadian. “Kami sedang menyisir dulu di dalam gedung. Baru ke lantai 23 untuk olah TKP,” kata Kanit Reskrim Polsek Tanah Abang Kompol Mustaqim.
     


    Analisis Kejadian

    A. Urutan kejadian (sequence of event)
    Pada hari Rabu, 26 Oktober 2016 tepatnya di gedung Intiland Tower, Jakarta Pusat. Agus Heriyadi (30 tahun) yang merupakan seorang teknisi sedang melakukan perbaikan sekaligus uji coba terhadap gondola gedung yang diketahui sebelumnya sempat rusak dan sudah lama tidak dioperasikan. Sekitar pukul 11.15 WIB pada saat gondola yang di uji coba berada di lantai 23, tiba – tiba gondola terjatuh. Akibatnya, teknisi yang sedang berada gondola saat itu ikut terhempas bersama dengan jatuhnya gondola. Sebelum jatuh ke lantai dasar, gondola sempat menabrak videotron di lantai empat gedung Intiland. Agus Heriyadi pun tewas seketika karena luka parah di bagian kepala. Pukul 12.40 WIB, jenazah Agus dievakuasi tim INAFIS Polres Jakarta Pusat. Setelahnya korban di bawa ke rumah sakit Cipto Mangunkusumo untuk dilakukan visum et repertum.

    B. Faktor penyebab langsung (direct cause factors)
    Diduga penyebab langsung jatuhnya Gondola yaitu putusnya tali sling. Selain itu penyebab jatuhnya gondola yaitu bentuk gondola yang didesain untuk gedung vertical sehingga tidak sesuai dengan bentuk gedung di Intiland Tower yang menjorok ke dalam.

    C. Faktor kontribusi secara tidak langsung (indirect cause factors)
    – Kurangnya pengetahuan, keahlian, serta berperilaku tidak aman saat di ketinggian
    – Peralatan dan perlengkapan mekanik yang selalu berpindah sehingga mempengaruhi kondisi alat (gondola)
    – Tidak adanya prosedur baik SOP maupun JSEA, serta tidak memiliki kecukupan pengawas yang handal
    – Tidak tersedianya pelatihan untuk para teknisi dan kurangnya finansial dalam mendukung program pelatihan
     


    A. Tindakan perbaikan ( Corrective action )
    1. Melakukan perbaikan terhadap alat rusak yang masih bisa digunakan
    2. Membuang alat atau material yang sudah tidak dapat diperbaiki
    3. Teknisi yang dipekerjakan harus memiliki sertifikat keahlian
    4. Mengganti alat (gondola) yang sesuai dan efektif dengan gedung
    5. Mengisolasi area yang rawan/ area yang berada di bawah gondola beroperasi

    B. Upaya pencegahan ( Preventive action )
    1. Melakukan identifikasi atas masalah yang mungkin akan terjadi dalam proses kerja
    2. Membuat SOP dan melaksanakannya sesuai prosedur
    3. Mengumpulkan seluruh pekerja/teknisi dan mengadakan safety meeting
    4. Melakukan pengecekan rutin terhadap kondisi alat sebelum digunakan
    5. Memastikan karyawan yang bekerja dalam kondisi yang sangat fit
    6. Menyediakan alat pelindung diri yang lengkap
    7. Memastikan alat (gondola) sesuai dengan bentuk/kondisi gedung
    8. Memasang rambu pengaman untuk mengingatkan pekerja agar selalu berhati – hati
    9. Tersedianya personil khusus yang mengawasi pekerja agar selalu menggunakan APD
    10. Berhenti melakukan pekerjaan saat hujan, lelah dan saat situasi membahayakan lainnya

    C. Rekomendasi terhadap manajemen ( Perusahaan )
    1. Memberikan pelatihan dan pendidikan kepada para teknisi/pekerja di perusahaan tersebut
    2. Menerapkan sistem K3 dalam manajemen (perusahaan)
    3. Manajemen harus meningkatkan akuntabilitas semua pekerja
    4. Harus tersedia wadah komunikasi bagi pekerja untuk berbagi masukan/pendapat
    5. Memberi penghargaan dan Sanksi terhadap penerapan K3 di tempat kerja kepada tenaga kerja.

    Sumber pustaka
    Tempo.co, edisi Rabu 26 Oktober 2016 23:00 WIB
    https://metro.tempo.co/read/news/2016/10/26/064815345/gondola-intiland-tower-jatuh-saat-dites
     


    Nama: Rizky Siti Anisyah
    NIM: 167051997
    Semester: II
    Kelas: A1

  11. Hendak Bersihkan Kolam Renang, Edi Tewas Tersetrum Mesin Vakum

    TANGERANG SELATAN – Nasib nahas menimpa Edi Prasetyo (34) seorang pekerja di area kolam renang Pulo Saiji, Perumahan Serpong Garden, Cibogo, Cisauk, Tangerang Selatan. Dia tewas tersetrum aliran listrik dari sebuah mesin vakum saat membersihkan kolam tersebut.
    Informasi yang dihimpun, kejadian bermula pada Senin (2/1/2017) dinihari sekira pukul 02.10 WIB. Saat itu, Edi Prasetyo dibantu seorang rekannya, Marwan Lukmana (32) berencana menyedot kotoran kolam renang menggunakan mesin vakum.
    Namun begitu dihidupkan, ternyata mesin vakum tidak berfungsi, kipas penariknya tidak berputar sama sekali. Lalu Edi pun memperbaikinya ke pinggir kolam, sedangkan Marwan pergi ke lantai 2 untuk membersihkan bagian penampungan air.
    “Sekitar 20 menit kemudian, begitu saksi turun kembali ke bawah ternyata mendapati tubuh korban sudah mengambang di kolam tersebut,” kata Kepala Bagian Humas Polres Tangsel, AKP Mansuri.
    Kaget melihat hal itu, Marwan pun berteriak minta tolong memanggil petugas sekuriti setempat dan manager di bagian mess.
    Setelah dievakuasi ke pinggir kolam, akhirnya tubuh korban pun dibawa ke Rumah Sakit Selaras sekira pukul 04.00 WIB, kemudian menghubungi petugas kepolisian terdekat.
    “Polisi yang melakukan olah TKP menduga jika korban tewas akibat tersetrum listrik saat memperbaiki mesin vakum itu,” pungkasnya.
    Dari lokasi, petugas dari Polsek Cisauk mengamankan satu mesin vakum yang rusak. Sementara beberapa saksi pun telah dimintai keterangan atas kejadian tersebut.
     


    Analisa Kejadian

    A. Urutan Kejadian ( Sequence Of Event )

    Senin (2/1/2017) dinihari sekira pukul 02.10 WIB. Saat itu, Edi Prasetyo dibantu seorang rekannya, Marwan Lukmana (32)
    berencana menyedot kotoran kolam renang menggunakan mesin vakum. Namun begitu dihidupkan, ternyata mesin vakum tidak
    berfungsi, kipas penariknya tidak berputar sama sekali. Lalu Edi pun memperbaikinya ke pinggir kolam, sedangkan Marwan pergi
    ke lantai 2 untuk membersihkan bagian penampungan air.
    “Sekitar 20 menit kemudian, begitu saksi turun kembali ke bawah ternyata mendapati tubuh korban sudah mengambang di
    kolam tersebut,” kata Kepala Bagian Humas Polres Tangsel, AKP Mansuri.
    Setelah dievakuasi ke pinggir kolam, akhirnya tubuh korban pun dibawa ke Rumah Sakit Selaras sekira pukul 04.00 WIB,
    kemudian menghubungi petugas kepolisian terdekat.

    B. Analisis Faktor Penyebab Langsung Kecelakaan ( Direct Cause Factors )

    1. Pekerja tidak melakukan pengecekan terhadap peralatan yang akan digunakan sebelum melakukan pekerjaan yang
    berdampak timbulnya permasalahan pada mesin vacum
    2. Proses perbaikan berlangsung dilokasi yang tidak aman ( Pinggir kolam ) yang mungkin terdapat genangan air.
    3. Tidak memeriksa kondisi kabel pada peralatan.
    4. Menyentuh peralatan elektronik pada saat tangan dalam keadaan basah.
    5. Lupa mematikan sumber listrik pada saat melakukan perbaikan

    C. Analisis Faktor Kontribusi yang secara tidak langsung turut berperan dalam kecelakaan ( Indirect Cause Factors )

    Minimnya jumlah pekerja sehingga mewajibkan pekerja untuk bekerja melebihi jam kerja wajib sehingga dapat menurunkan
    tingkat konsentrasi pekerja itu sendiri, Pekerja juga tidak memahami SOP dengan baik, serta terbiasa untuk tidak menggunakan
    APD sehingga pekerja cenderung menganggap pekerjaannya tidak memiliki tingkat resiko yang tinggi. faktor ini menjadi Indirect
    Cause Factors ditambah lagi dengan tidak dilaksanakannya program pemeliharaan dan perawatan peralatan secara rutin.
     


    A. Tindakan Perbaikan ( Corrective Action )
    1. Sebelum memulai pekerjaan sebaiknya dilakukan pemeriksaan pada peralatan yang akan digunakan.
    2. Jika terdapat masalah pada peralatan yang memerlukan perbaikan sesegera mungkin maka team leader wajib memberikan batas
    aman beberapa meter dari pinggir kolam atau daerah yang tidak terdapat genangan air.
    3. Memastikan pekerja dalam kondisi sehat sebelum melakukan pekerjaan.
    4. mengatur schedule kerja yang tidak melebihi jam kerja wajib.
    5. menambah jumlah pekerja sesuai beban kerja bila diperlukan.

    B. Upaya Pencegahan ( Preventive Action )
    1. Menerapkan SOP yang berlaku pada perusahaan
    2. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pekerja melalui pelatihan sesuai bidang masing-masing
    3. Melakukan pemeriksaan rutin terhadap kelayakan peralatan dan fasilitas lainnya
    4. Membuat jadwal pemeliharaan dan perawatan peralatan secara rutin baik itu maintenance harian,mingguan dan bulanan.
    5. Pemberian rambu-rambu K3 baik di lingkungan perusahaan ( Staff ) maupun di lokasi kerja dimana pekerjaan itu
    akan dilaksanakan ( Pekerja Lapangan ).
    6. Membuat Standar Prosedure Pengoperasian Peralatan ( Tahapan pengoperasian peralatan ) guna menghindari kerusakan pada
    peralatan yang timbul dari pengoperasian peralatan yang tidak sesuai kompetensi pekerja itu sendiri.
    7. Pekerja wajib menggunakan APD ( Alat Pelindung Diri )
    8. Membuat JSA ( Job Safety Analysis )
    9. Komunikasi,koodinasi harus berjalan dengan baik dalam melaksanakan pekerjaan.
    10. Team Leader harus diberikan pengetahuan tentang Leadership guna meningkatkan kerjasama tim ( Team Work )

    C. Rekomendasi Terhadap Management
    1. Memperbaharui SOP yang ada serta pemberian sanksi pada pekerja yang melanggar SOP.
    2. Menerapkan dengan tegas aturan dalam penggunaan APD disertai sanksi terkait aturan tersebut.
    3. Menambah jumlah pekerja pada setiap shiftnya bila diperlukan.
    4. Membuat Standar Prosedure Tata Cara Pengoperasian Peralatan.
    5. Menetapkan jadwal uji performance terhadap peralatan.
    6. Menetapkan jadwal rutin perawatan dan pemeliharaan peralatan.

    Sumber Pustaka
    SindoNews.com edisi Senin 2 Januari 2017 11:11 WIB
    https://metro.sindonews.com/read/1167487/170/hendak-bersihkan-kolam-renang-edi-tewas-tersetrum-mesin-vakum-1483329675
     


    Nama : Nur Fadly Syarif
    NIM : 167051969
    Semester : II
    Kelas : A1

  12. Mesin fogging meledak, wajah hingga dada terbakar

    Merdeka.com – Siswanto (35), seorang petugas fogging masih tergolek lemas di UGD RDUP Sanglah Denpasar, Bali, dengan kondisi sebagian badannya dibalut perban akibat luka bakar.
    Itu setelah dia terkena ledakan mesin fogging saat melakukan penyemprotan atau pembasmian jentik nyamuk penyebab penyakit demam berdarah di kawasan Perumahan bukit Ungasan Kuta Selatan, Bali, Senin (30/1) pagi.
    Saat itu, pria asal Surabaya ini baru hendak menghidupkan mesin fogging yang akan digunakannya untuk menyemprot nyamuk aedes aegypti.
    Namun saat dihidupkan mesin tersebut tidak berfungsi. Itu setelah dia melakukan penyemprotan kedua di gang sebelumnya. Entah kenapa mesin tersebut tiba-tiba meledak.
    Akibat ledakan itu, hampir sebagian tubuh Siswanto mengalami luka bakar yang cukup serius.
    “Dia mengalami lukar bakar di bagian wajah, tangan kanan dan kiri serta badan bagian depan. Kira-kira luka bakarnya mencapai 43 persen,” kata Toni (38), kakak kandung korban di IGD RSUP Sanglah.
    Beruntungnya, warga yang ada di lokasi kejadian segera melarikan Siswanto ke RS Kasih Ibu, Kedonganan, Kuta Selatan, Badung.
    Namun karena luka bakarnya cukup serius, Siswanto kemudian dirujuk ke RSUP Sanglah untuk mendapat penanganan yang lebih intensif.
    “Dia baru tiba di sini (RSUP Sanglah) pada pukul 13.00 Wita dan langsung mendapatkan penanganan medis,” katanya.
     


    Analisa Kejadian

    A. Sequence Of Event
    11.00 – Siswanto mulai melakukan Fogging.
    11.45 – Mesin Fogging mati mendadak.
    11.50 – Mesin Fogging meledak ketika coba dinyalakan. (Waktu Kejadian)
    11.55 – Siswanto dilarikan ke RS Kasih Ibu.
    12.17 – Pemeriksaan di RS Kasih Ibu.
    12.32 – Siswanto dirujuk Ke RSUP Sanglah.
    13.00 – Siswanto Sampai di RSUP Sanglah.

    B. Faktor Penyebab Langsung
    Kondisi Tidak Aman
    APD tidak layak/tidak dipakai. Dengan penilaian 43% tubuh Siswanto mengalami luka bakar, hampir bisa dipastikan APD yang digunakan olehnya tidak memenuhi standar kelayakan. Yang berakibat kurang optimalnya fungsi APD untuk melindungi tubuh Siswanto.

    Tindakan Tidak Aman
    Bekerja tanpa Standar Operasional Prosedur(SOP). Meledaknya mesin fogging membuktikan Siswanto lalai dalam melaksanakan SOP, seharusnya ia melakukan pengecekan menyeluruh terhadap mesin fogging yang akan digunakannya, apakah ada kebocoran di tangki bahan bakar, atau adanya kabel listrik terkelupas yang memicu percikan listrik, maupun menggunakan alat melebihi kemampuan alat tersebut yang menyebabkan overheat pada mesin fogging tersebut.

    C. Faktor Tidak Langsung Yang Berkontribusi
    Faktor Pekerjaan
    • Peralatan yang tidak layak operasi
    • Bekerja tanpa pengawasan. Meledaknya mesin fogging bisa disebabkan tidak layaknya mesin untuk di operasikan, yang menyebabkan ledakan ketika mesin mengalami malfungsi.
    • Dengan mengetahui bahwa Siswanto hanya mendapat tindakan pertolongan dari masyarakat, itu membuktikan bahwa yang bersangkutan bekerja tanpa diawasi rekan ataupu tim penyemprotan asap (fogging). Sehingga ketika terjadi insiden korban terlambat mendapat pertolongan.

    Faktor Pribadi
    • Kurangnya Kompetensi. Kurangnya kompetensi bisa menjadi penyebab terjadinya insiden dikarenakan ketidakmampuan Siswanto untuk menangani beban kerja yang di berikan kepadanya, alhasil Siswanto bekerja asal selesai saja, tanpa memikirkan apakah tindakannya berbahaya atau tidak.
    • Stress sapat menyebabkan Siswanto melakukan kesalahan prosedur kerja karena fokusnya terbagi antara masalah pribadinya dan beban kerjanya.
     


    A. Correction Action
    Tindakan korektif adalah langkah-langkah yang diambil untuk menghilangkan penyebab dari ketidaksesuaian yang ada atau situasi yang tidak diinginkan.
    1. Melakukan pekerjaan sesuai prosedur
    2. Tenang saat bekerja
    3. Bekerja harus dalam pengawasan
    4. Menggunakan APD
    5. Memiliki keahlian dan keterampilan yang sesuai pekerjaan

    B. Tindakan Pencegahan
    Tindakan preventif adalah langkah-langkah yang diambil untuk menghapus penyebab ketidaksesuaian potensial atau situasi potensial yang tidak diinginkan.
    1. Pelatihan/Sertifikasi keahlian untuk Karyawan.
    2. Maintenance Berkala
    3. Menggunakan APD layak guna
    4. Mengenal dengan baik area tempat kerja
    5. Menjalankan kebijakan K3 yang sudah ada
    6. Komunikasikan bila terjadi potensi bahaya
    7. Menunjuk penanggung jawab dimasing-masing area kerja
    8. Menjalankan prosedur kerja
    9. Penyesuaian jadwal kerja
    10. Pengawasan menyeluruh areal tempat kerja

    Rekomendasi kepada manajemen perusahaan
    1. Pelaksanaan K3 yang terstruktur dan menyeluruh
    2. Planning / Perencanaan Kerja di perbaiki
    3. Perusahaan/Instansi diaudit Berkala
    4. Rekrutmen karyawan lebih selektif
    5. Meningkatkan standar operasional prosedur
    6. Meninjau Job Safety Analisys(JSA)

    Sumber Pustaka
    Merdeka.com, Edisi Senin, 30 Januari 2017 14:58
    https://www.merdeka.com/peristiwa/mesin-fogging-meledak-wajah-hingga-dada-siswanto-terbakar.html
     


    Nama: Arya Fitra Karunia
    NIM: 167052030
    Semester: II
    Kelas: A2

  13. Jatuh dari Atas Gudang, Pekerja Industri Makanan Tewas

    INDRAGIRI HILIR – Kecelakaan kerja terjadi di PT Riau Sakti United Plantations-Industry (RSUP) di Kabupaten Inhil, Riau yang merupakan perusahaan pengolahan industri makanan. Dalam musibah ini, seorang karyawan meninggal dunia.
    Korban atas nama Agun Rahmadi. Pria berusia 23 tahun ini tewas karena terjatuh dari gudang milik perusahaan.
    “Korban sempat dirawat di rumah sakit. Namun karena banyak mengeluarkan darah, nyawa korban tidak tertolong,” kata Kepala Bidang Humas Polda Riau AKBP, Guntur Aryo Tejo Selasa (15/11/2016).
    Kecelakaan kerja itu berawal saat korban ditugaskan pihak perusahaan untuk membuka baut mal semenisasi bangunan gudang nenas milik PT RSUP yang berada di Kecamatan Pulay Burung, Inhil pada pukul 11.30 WIB.
    Saat naik ke gudang dengan ketinggian 2,60 meter, korban tidak menggunakan pengaman apapun.
    Saat akan membuka baut itulah korban tergelincir. Diduga korban tergelincir karena diatas gudang terbuat dari besi itu licin.
    “Tubuh korban mengalami benturan serta paha kiri korban tertusuk besi ulir dengan panjang 16 milimeter. Korban mengalami luka tusuk sedalam 5 centimeter. Korban banyak kehilangan darah,” kata Guntur.
    Melihat kecelakaan itu sejumlah teman kerja membawa korban ke rumah sakit. Saat berada di rumah sakit, tim medis menyatakan nyawa korban tidak tertolong.
    “Rencananya jenazah akan diserahkan ke pihak keluarganya di Kabupaten Asahan, Sumatera Utara untuk dikebumikan,” tandas Guntur.
     


    Analisis Kejadian

    1. Urutan Kejadian (sequence of event)
    Kecelakaan kerja terjadi di PT Riau Sakti United Plantations-Industry (RSUP) di Kabupaten Inhil, Riau yang merupakan perusahaan pengolahan industri makanan. Kejadian tersebut terjadi pada hari Selasa, 15 November 2016 sekitar pukul 11.30 WIB. Dalam musibah ini, seorang karyawan meninggal dunia atas nama Agun Rahmadi. Pria berusia 23 tahun ini tewas karena terjatuh dari gudang milik perusahaan.
    Kecelakaan kerja terjadi pada saat korban ditugaskan pihak perusahaan untuk membuka baut mal semenisasi bangunan gudang nenas milik PT RSUP yang berada di Kecamatan Pulay Burung, Inhil pada pukul 11.30 WIB. Berawal saat korban naik ke gudang dengan ketinggian 2,60 meter, korban tidak menggunakan pengaman apa pun, dan pada saat akan membuka baut itulah korban tergelincir.
    Salah satu kerabat korban bernama Guntur menyatakan tubuh korban mengalami benturan serta paha kiri korban tertusuk besi ulir dengan panjang 16 milimeter. Korban juga mengalami luka tusuk sedalam 5 centimeter sehingga korban banyak kehilangan darah. Melihat kejadian tersebut, diduga korban tergelincir karena diatas gudang terbuat dari besi itu licin, sehingga dapat berakibat fatal bagi pekerja. Kemudian sejumlah teman kerja langsung membawa korban tersebut ke rumah sakit. Namun saat berada di rumah sakit, tim medis menyatakan nyawa korban tidak tertolong.

    2. Analisis faktor penyebab langsung kecelakaan (direct cause factors)
    Berdasarkan hasil analisa yang saya dapatkan dalam insiden tersebut yaitu :
    – Peristiwa kecelakaan kerja tersebut diduga akibat kelalaian pekerja dalam melakukan suatu tindakan yang telah diketahui potensi bahayanya tetapi tidak berhati-hati ketika melakukan suatu pekerjaan tersebut
    – Pekerja tidak menggunakan pengaman atau Alat Pelindung Diri (APD) yang mana seharusnya perusahaan dapat memberikan dan mewajibkan pekerjanya untuk menggunakan APD tersebut agar terhindar dari suatu kecelakaan atau penyakit akibat kerja. Dalam hal ini pekerja yang bekerja di suatu ketinggian semestinya memakai APD berupa full body harness double lanyard, hand gloves, coverall, safety shoes dan safety helmet
    – Gudang terbuat dari besi yang licin sehingga pekerja mudah tergelincir hingga menyebabkan kehilangan nyawa dan dapat berakibat fatal lainnya bagi pekerja yang melewatinya

    3. Analisis faktor kontribusi yang secara tidak langsung turut berperan pada kecelakaan (indirect cause factors)
    Berdasarkan hasil analisa yang saya dapatkan dalam insiden tersebut yaitu :
    – Kurangnya pelatihan atau pengarahan K3 pada pekerja sehingga para pekerja tidak mengetahui tentang masalah-masalah jika menghadapi suatu kecelakaan kerja. Oleh karena itu, seharusnya pihak perusahaan memberikan pelatihan K3 kepada para pekerjanya agar tidak terulang terjadinya suatu insiden kecelakaan kerja diperusahaan tersebut.
    – Meningkatkan kompetensi terhadap resiko ketinggian dan menerapkan kontrol untuk mencegah insiden yang serupa dapat tejadi kembali
    – Kurangnya menjalin komunikasi yang baik antar sesama pekerja untuk saling mengingatkan keamanan dalam bekerja
    – Perusahaan tidak memberi tanda peringatan/bahaya disekitar gudang yang terdapat suatu potensi bahaya dan dapat mengakibatkan suatu kecelakaan kerja
     


    A. Tindakan perbaikan (corrective action) terhadap kejadian tersebut:
    1. Pastikan setiap pekerja telah memiliki Surat Ijin Kerja untuk bekerja di suatu ketinggian
    2. Pelajari dan pahami sistem perlindungan jatuh dengan menggunakan alat pelindung diri yang tepat
    3. Amankan lokasi untuk bekerja diketinggian
    4. Gunakan Alat Pelindung Diri (diantaranya full body harness, lanyard, dan atau lifeline) dengan benar
    5. Sebelum memulai pekerjaan di ketinggian, pastikan full body harness yang digunakan dalam kondisi baik
    6. Gunakan tangga / scafolding yang standar untuk menuju tempat kerja yang tinggi
    7. Saat menggunakan tangga, perhatikan sudut kemiringan dan posisi tangga harus stabil
    8. Perusahaan harus memperbaharui JSA & SOP
    9. Melatih serta memberikan arahan bagi pekerja untuk mengutamakan keselamatan kerja agar tidak terjadi suatu insiden kembali

    B. Upaya pencegahan (preventive action) terhadap kejadian tersebut :
    1. Memahami hingga mengidentifikasi jenis-jenis bahaya yang ada di tempat kerja
    2. Melakukan penilaian resiko (analisa dan memperkirakan resiko dari setiap bahaya), dengan menghitung atau menaksir kemungkinan terjadinya, dan keparahan suatu bahaya
    3. Mengantisipasi keberadaan faktor penyebab bahaya dan melakukan pencegahan sebelumnya
    4. Meningkatkan kompetensi terhadap resiko ketinggian dan menerapkan kontrol untuk mencegah insiden yang serupa dapat tejadi kembali
    5. Penerapan JSA untuk mengevaluasi dan mengendalikan terjadinya suatu bahaya atau komplikasi
    6. Menciptakan tempat kerja yang efesien dan produktif agar tenaga kerja merasa nyaman
    7. Menjalin komunikasi yang baik antar sesama pekerja untuk saling mengingatkan keamanan dalam bekerja
    8. Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran karyawan tentang pentingnya pencegahan dan penyelamatan dari kecelakaan kerja
    9. Memberi petunjuk bagaimana suatu pekerjaan dilakukan dengan hati-hati untuk mencapai keselamatan kerja maksimum
    10. Melakukan pemantauan, penumbuhan kedisiplinan dan tindakan tegas kepada karyawan yang cenderung melakukan kelalaian berulang-ulang
    11. Melakukan maintenance secara berkala pada prosedur kerja serta peralatan yang dipakai oleh pekerja
    12. Memberi tanda peringatan/bahaya disekitar gudang yang terdapat suatu potensi bahaya dan dapat mengakibatkan suatu kecelakaan kerja

    C. Rekomendasi saya terhadap manajemen (perusahaan) tersebut :
    1. Pihak manajemen perlu menerapkan bentuk perlindungan bagi karyawan (sistem K3) dalam menghadapi suatu pekerjaan
    2. Pihak manajemen dapat menentukan apakah peraturan tentang keselamatan kerja bersifat formal ataukah informal. Secara formal dimaksudkan setiap aturan dinyatakan secara tertulis, dilaksanakan dan dikontrol sesuai dengan aturan. Sementara secara informal dinyatakan tidak tertulis atau konvensi dan dilakukan melalui pelatihan dan kesepakatan-kesepakatan.
    3. Pihak manajemen perlu proaktif dan reaktif dalam pengembangan prosedur dan rencana tentang keselamatan dan kesehatan kerja karyawan. Proaktif berarti pihak manajemen perlu memperbaiki terus menerus prosedur dan rencana sesuai kebutuhan perusahaan dan karyawan. Sementara arti reaktif, pihak manajemen perlu segera mengatasi masalah keselamatan dan kesehatan kerja setelah suatu kejadian timbul.
    4. Pihak manajemen dapat memberikan apresiasi terhadap pekerja yang mentaati segala prosedur kerja hingga aturan yang berlaku agar dapat memberikan motivasi untuk pekerja lainnya sehingga setiap tenaga kerja akan lebih baik lagi dalam melakukan suatu pekerjaan
    5. Pihak manajemen dapat menggunakan tingkat derajad keselamatan dan kesehatan kerja yang rendah sebagai faktor promosi perusahaan ke khalayak luas. Artinya perusahaan sangat peduli dengan keselamatan dan kesehatan kerja

    Sumber Pustaka
    SINDONEWS.COM edisi Rabu, 16 November 2016 04:04 WIB.
    https://daerah.sindonews.com/read/1155654/174/jatuh-dari-atas-gudang-pekerja-industri-makanan-tewas-1479238101
     


    Nama : Olga Regina Yeusy
    NIM : 167051993
    Semester : II
    Kelas : A1

  14. Pekerja Pabrik Tewas Tergilas Mesin Pengering Kain

    RANCAEKEK, TRIBUNJABAR.CO.ID – Nahas menimpa Andri Kurniawan. Pria berusian dua puluh tahun asal Kampung Cipasir, Desa Linggar, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, tewas mengenaskan.
    Andri tewas di tempat kerjanya di PT Budi Agung Sentosa yang berada di Desa Cangkuang, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung sekira pukul 08.00, Kamis (19/1).
    Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun Tribun, Andri yang diketahui memiliki anak yang masih berusia enam bulan tersebut tewas setelah tergilas mesin Centri Bugal (mesin pengering kain).
    Pihak kepolisian dari Polsek Rancaekek, Tim Inafis Polres Bandung saat ini masih melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan menanyai beberapa saksi mata. Pihak keluarga korban pun juga sudah berdatangan.
    Meski begitu, wartawan maupun pihak keluarga korban masih belum diperbolehkan untuk menuju atau melihat TKP. Saksi mata yang mengetahui pasti kronologis kejadian tersebut belum bisa dimintai keterangan karena masih syok.(raw)
     


    Analisis Kejadian

    A. Urutan kejadian (sequence of events)
    1. Korban (seorang operator mesin pengering kain otomatis) hendak memasukkan kain ke dalam mesin pengering. (19 Januari 2017 pukul 07:58 WIB)
    2. Korban terpeleset. (19 Januari 2017 pukul 07:58 WIB)
    3. Tangan korban terlilit kain. (19 Januari 2017 pukul 07:58 WIB)
    4. Korban terseret masuk ke dalam mesin pengering. (19 Januari 2017 pukul 07:58 WIB)
    5. Tubuh korban tergilas mesin pengering. (19 Januari 2017 pukul 07:58 WIB)
    6. Korban meninggal dengan keadaan kaki terlepas dari badan dan anggota badan lainnya hancur tergilas mesin pengering. (19 Januari 2017 pukul 07:58 WIB)
    7. Jasad korban dievakuasi dan di bawa ke RSHS. (19 Januari 2017 sekitar pukul 08:00 WIB)

    B. Penyebab langsung kecelakaan (direct cause factors)
    a. Kondisi lantai yang basah dan licin.
    b. Tidak ada safeguard atau pengaman di sekitar mesin yang berputar.
    c. Mesin tidak dilengkapi dengan sistem pengamanan otomatis.
    d. Pekerja tidak memakai APD yang semestinya. Sebagai contoh, pekerja yang bekerja di lingkungan yang licin harus menggunakan sepatu safety dengan sol anti slip atau slip resistence.

    C. Penyebab tidak langsung kecelakaan (indirect cause factors)
    a. Kurangnya konsentrasi.
    b. Kurangnya pengawasan dari pengawas.
    c. Perusahaan mengabaikan peraturan sistem K3.
    d. Perusahaan kurang memperhatikan kesejahteraan pekerjanya hingga dapat berakibat stress pada tenaga kerja.
    e. Kurangnya pengetahuan tenaga kerja tentang pentingnya budaya K3.
     


    A. Tindakan perbaikan (corrective action)
    a. Melakukan tindakan substitusi dengan penggantian mesin pengering yang ada menjadi mesin pengering yang telah dilengkapi dengan sistem pengaman otomatis.
    b. Menambahkan conveyor belt untuk memasukkan kain kedalam mesin pengering sehingga dapat mengurangi kontak langsung antara tenaga kerja dengan mesin.
    c. Menambahkan pembatas atau safeguard disekitar mesin untuk menjaga jarak aman antara pekerja dan mesin.
    d. Menambahkan penutup mesin atau machine guard.
    e. Isolasi atau pemisahan area antara lingkungan kerja basah dengan area lingkungan kerja yang kering.
    f. Tindakan perbaikan dari administrasi juga dapat diberikan contohnya dengan memberikan pelatihan kepada para pekerja, baik pelatihan tentang pekerjaan terkait dan pelatihan tentang pentingnya penerapan budaya K3 dalam bekerja.
    g. Memberikan alat pelindung diri (yang sebelumnya tidak diberikan) sesuai kebutuhan pekerja, dalam hal ini memberikan sepatu anti slip kepada operator mesin pengering yang bekerja di tempat yang basah dan licin.

    B. Upaya pencegahan (preventive action)
    a. Memastikan pengaman mesin yang telah terpasang dapat bekerja dengan baik.
    b. Memastikan machine guard terpasang ketika mesin sedang bekerja dan membuka machine guard setelah mesin selesai berhenti berputar atau bekerja.
    c. Melakukan pengecekan mesin secara berkala.
    d. Mengadakan safety briefing sebelum pergantian shift.
    e. Supervisor harus memastikan pekerja telah mematuhi SOP yang telah diberikan.
    f. Pengawasan dari petugas K3, agar para pekerja mematuhi semua standar K3 yang telah ditetapkan.
    g. Menambahkan rambu-rambu peringatan atau warning signs di area lingkungan kerja.
    h. Memastikan pekerja dalam keadaan yang sehat secara fisik dan mampu bekerja dengan baik dengan cara mengadakan medical check up secara berkala.
    i. Memastikan kesehatan pekerja secara psikologis, dengan mengurangi sumber stress bagi pekerja. Sebagai contoh menunjang kesejahteraan pekerja.
    j. Memberi dan mengontrol kelayakan APD yang telah diberikan sesuai lingkungan kerja dan kebutuhan para tenaga kerja.
    k. Menyaring tenaga kerja yang akan bekerja sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan yang dibutuhkan dalam pekerjaan yang ada.
    l. Meninjau keadaan di lapangan apakah sudah sesuai dengan peraturan perundang-undangan tentang keselamatan kerja yang berlaku.

    C. Rekomendasi terhadap managemen (perusahaan)
    a. Menerapkan budaya K3 di lingkungan kerja.
    b. Mengadakan pelatihan untuk mengasah keahlian dan pengetahuan tenaga kerja.
    c. Megadakan pelatihan untuk pera tenaga kerjanya tentang pentingnya budaya K3.
    d. Lebih memperhatikan kesejahteraan perkerjanya untuk mengurangi faktor penyebab stress yang dapat berpengaruh kepada produktivitas pekerjanya.
    e. Memberikan tunjangan kesehatan kepada setiap tenaga kerjanya agar selain dapat menunjang kesejahteraan pekerja (mengurangi kekhawatiran pekerja tentang biaya kesehatan) juga dapat mengurangi pengeluaran perusahaan ketika terjadi kecelakaan kerja.

    Sumber pustaka
    Tribun Jabar edisi Kamis, 19 Januari 2017 14:31 WIB
    http://jabar.tribunnews.com/2017/01/19/breaking-news-pekerja-pabrik-tewas-tergilas-mesin-pengering-kain
    elJabar, 19 Januari 2017 14:18 WIB
    http://eljabar.com/tubuh-andri-hancur-tercabik-cabik-mesin-pengering-pabrik
     


    Nama : Fanny Audrey Devina
    NIM : 167052044
    Semester : II
    Kelas : A2

  15. 2 Pekerja Proyek Wisma Atlet Tewas Tercebur ke Septic Tank

    JAKARTA – Dua pekerja proyek bernama Bowo (21) dan Riyanto (31) tewas tenggelam di septic tank. Keduanya tercebur saat tengah mengerjakan proyek Wisma Atlet di Kemayoran, Jakarta Pusat.
    Kasubbag Humas Polres Jakarta Pusat Kompol Suyatno mengatakan, peristiwa terjadi ada Minggu, (25/12/2016) pagi tadi. Saat itu, korban tengah membersihkan lubang saptic tank yang ada di Wisma Atlet tersebut.
    Mendadak, korban Bowo terjatuh ke dalam lubang saptic tank karena terpeleset. “Korban Riyanto pun menolong korban. Namun, dia malah ikut terjatuh ke dalam lobang saptic tank dan tenggelam bersama,” ujarnya saat dikonfirmasi, Minggu (25/12/2016).
    Melihat itu, lanjut Suyatno, satu orang pekerja lainnya pun kembali hendak menolong korban. Namun, dicegah karena khawatir bakal kembali jatuh. Tak lama, pekerja proyek pun berdatangan dan beramai-ramai menolong kedua korban.
    “Namun, saat keduanya dibawa ke Rumah Sakit Mitra Kemayoran untuk mendapatkan pertolongan para korban meninggal dunia,” tuturnya.
    Kini, jenazah kedua orang pekerja asal Tanjungsari, RT 06/02, Sragen,Jawa Tengah itu dibawa ke RS Cipto Mangunkusumo untuk dilakukan proses visum.
     


    Analisa Kejadian

    1. Urutan Kejadian (sequence of event)
    Minggu (25/12/2016) berlokasi di proyek wisma atlet kemayoran Jakarta pusat. Sekitar pagi hari pak bowo bersama rekannya pak riyanto sedang membersihkan lubang septic tank yang berada di wisma atlet. Mendadak pak bowo yang sedang membersihkan lubang tersebut terpeleset dan jatuh kedalam lubang septic tank, malangnya pak riyanto yang hendak menolong rekannya tersebut ikut terjatuh ke dalam lubang septic tank tersebut. Para pekerja yang mengetahui bahwa keduanya sudah terjatuh ke dalam lubang septic tank tersebut berusaha membantu menggeluarkan kedua korban yang terjatuh dan membawa kedua korban ke rumah sakit terdekat, namun pada saat dalam perjalanan untuk mendapatkan pertolongan kedua korban tidak dapat di selamatkan.

    2. Analisis faktor penyebab langsung kecelakaan (direct cause factors).
    Analisis faktor penyebab langsung kecelakaan adalah menurut saya pada saat kedua korban saat itu menjalankan pekerjaan tanpa megetahui kejelasan yang jelas dari atasan mereka, kedua korban langsung melakukan pekerjaan tersebut tampa bertanya kembali apa yang harus di lakukan pada yang memiliki kewenangan. Menggunakan APD yang tidak layak bisa menjadi salah satu penyebab faktor kecelakaan tersebut, dengan menggunakan APD yang tidak layak atau APD tersebut sudah dalam keadaan tidak dapat di gunakan sangat mempengaruhi keselamatan para pekerja. Atau pada saat korban sedang melalukan tugasnya korban tidak memakai APD yang seharusnya di gunakan saat bekerja. Atau faktor lingkungan sekitar yang bisa saja terdapat serpihan-serpihan atau puing-puing bangunan yang tidak atau belum di bersihkan dan mengakibatkan korba terpeleset dan terjatuh ke dalam lubang septic tenk.

    3. Analisis faktor kontribusi yang secara tidak langsung turut berperan pada kecelakaan (indirect cause factors).
    Analisis faktor penyebab tidak langsungnya kecelakaan adalah menurut saya adalah kurangnya pengetahuan pekerja terhadap mengalisis lingkungan sekitarnya yang mungkin banyak benda-benda berserakan yang mengakibatkan terpleset,tersandung atau pun hal lain yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja, fisik yang tidak mendukung atau pada saat dia bekerja ia sedang tidak fit dalam melakukan pekerjaannya atau pekerja tersebut tidak berkonsentrasi. Selain itu, faktor penyebab lainnya adalah kurangnya komunikasi antar sesama pekerja untuk menjalin keselamatan bersama.
     


    A. Corrective action
    1. Perbaikan terhadap peralatan kerja ( atau bisa juga mengganti alat pengaman )
    2. Memahami lingkungan sekitar yang tidak baik
    3. Fisik sang pekerja ( memerhatikan titik kelelahan pekerja )
    4. Membuat pembatas untuk menjaga jarak aman antara pekerja dan proyek yang akan di kerjakan
    5. Memahami SOP ( memperbaharui SOP )

    B. Preventive Action
    1. Melakukan pengecekan standar alat sebelum bekerja
    2. Mamahami system perbaikan
    3. Mengunakan APD sesuai standart
    4. Memberikan pelatihan mengenai keselamatan pada tiap karyawan
    5. Memberi pengarahan terhadap karyawan yang melihat insiden agar lebih sigap
    6. Melakukan pengawasan saat berlangsungnya proses pekerjaan
    7. Melakukan isolasi terhadap area
    8. Menyeleksi karyawan baru yang lebih ketat
    9. Melakukan inspeksi
    10. Melakukan pengecekan standart kelayakan alat sebelum bekerja

    C. Rekomendasi anda terhadapat manajemen
    1. Mengadakan briefing ( safety talk ) agar pekerja memahami fungsi dan kegunaan safety
    2. Memberi tunjangan kesehatan kepada setiap tenaga kerjanya agar dapat menunjang kesejateraan pekerja
    3. Mengadakan pelatihan SOP agar mengasah ilmu dalam melakukan pekerjaan
    4. Memperhatikan kesejateraan pakerja agar tidak ada faktor stress bila melakukan aktivitas pekerjaan, dengan memberi jadwal istirahat yang cukup
    5. Meningkatkan kedisiplinan karyawan dalam lingkungan kerja seperti ketepatan, kecepatan, kesigapan, dan sikap dalam bekerja

    Sumber Pustaka
    Sindonews.com, edisi Minggu 25 Desember 2016 19:43 WIB
    https://metro.sindonews.com/read/1165723/170/2-pekerja-proyek-wisma-atlet-tewas-tercebur-ke-septic-tank-1482669790
     


    Nama : Priscilla Jinifer Meirin
    NIM : 167051982
    Semester : II
    Kelas : A1

  16. Karyawan Tewas Setelah Jatuh dari Ketinggian 7 Meter

    Kecelakaan terjadi di Stasiun Pengumpulan Utama (SPU) Pertama di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) Riau. Satu orang karyawan bernama Robi Suarwan (38) tewas setelah jatuh dari ketinggian 7 meter.
    Robi yang merupakan karyawan dari PT URTE ditugaskan untuk memasang exaust (knalpot mesin) milik Pertamina jatuh setelah atap yang dipijaknya jebol.
    “Korban tewas setelah mengalami luka berat di bagian kepala,” ucap Paur Humas Polres Inhu, Iptu Yarmen Djambak, Rabu (15/3/2017).
    Peristiwa itu terjadi korban bersama temannya Sarianto memanjat tangki minyak SPU untuk untuk melakukan pemasangan knalpot. Sekitar pukul 17.50 WIB pengerjaan selesai. Keduanya bermaksud turun dengan melewati atap. Namun apes, saat dipijak, atap yang terbuat dari seng tranparan itu jebol.
    Korbanpun ‘terjun bebas’. Korban terjatuh dengan posisi kepala terlebih dahulu. Melihat kejadian itu, teman korban berusaha menolong dengan membawa ke Rumah Sakit Ibnu Sina di Air Molek, Inhu.
    “Namun nyawanya tidak tertolong, korban sudah menghembuskan napas terakhirnya saat dalam perjalanan,” imbuh Yarmen. (sym)
     


    Analisis yang saya dapat dari Artikel ini :
    Pada hari Rabu, 3 Maret 2017 Pukul 17.50 WIB terjadi kecelakaan kerja di Stasiun Pengumpulan Utama (SPU) Kabupaten Indragiri Hulu (INHU) Riau. Korban (Robi) bersama temannya yang bernama Sarianto di tugaskan untuk memasang Exaust (Knalpot mesin) milik Pertamina. Setelah pengerjaan selesai, keduanya bermaksud turun dengan melewati atap yang terbuat dari seng transparan itu jebol. Korban terjatuh dari ketinggian 7 m. Korban terjatuh dengan posisi kepala terlebih dahulu. Korban meninggal saat akan di bawa ke Rumah sakit Ibnu sina di Air molek, inhu.

    Analisis faktor penyebab langsung kecelakan (Direct Couse Factors):
    1. Minimnya / tidak menggunakan pemakaian APD/PPE Safety Belt karena apabila pekerja tersebut memakai APD/PPE kemungkinan tidak terjadi/kemungkinan kecil terjadi kecelakaan tersebut.
    2. Tidak mengikuti prosedur(SOP),peraturan dan keselamatan kerja sehingga pekerja jatuh dari atap

    Analisis faktor konstribusi yang secara tidak langsung turut berperan pada kecelakaan (Indirect Couse Factors) :
    1. Tidak teliti saat melakukan pijakan

     


    A. Tindakan perbaikan (Corrective action)
    1. Meninjau kembali lokasi dan melakukan renovasi dengan material yang lebih kuat
    2. Memeriksa peralatan kerja sebelum di gunakan
    3. Memperbaiki/mengganti peralatan kerja yang rusak
    4. Melengkapi APD agar lebih aman saat melakukan pekerjaan
    5. Memperbarui SOP

    B. Upaya pencegahan (Preventive action)
    1. Memberikan pelatihan kepada pekerja
    2. Melakukan pengawasan saat pekerja bekerja
    3. Melengkapi peralatan yang layak pakai untuk pekerja
    4. Memberikan APD yang sesuai dengan pekerjaan pekerja
    5. Menerapkan JSA
    6. Mengadakan Briefing sebelum melakukan pekerjaan
    7. Melakukan pengecekan secara rutin pada mesin dan alat-alat pekerja
    8. Memberikan perhatian lebih pada pekerja yang kurang fit/sehat
    9. Memotivasi pekerja agar lebih fokus saat bekerja
    10. Memberikan jaminan asuransi kepada pekerja

    C. Rekomendasi terhadap manajemen perusahaan
    1. Menerapkan sistem K3 untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja
    2. Menerapkan pendekatan kepada seluruh pekerja agar mengetahui latar belakang, kondisi fisik, ikatan emosional sehingga bisa di posisikan di tempat kerja yang sesuai
    3. Memberikan pengawasan kepada para pekerja yang sedang bekerja terutama pada pekerja yang belum memiliki pengalaman
    4. Meningkatkan kedisiplinan kepada pekerja dalam melakukan pekerjaan seperti sikap, ketepatan, kesigapan dalam bekerja
    5. Memberikan reward bagi yang rajin dan baik dalam bekerja dan memberikan punishment yang sering lalai dan menyepelekan pekerjaan

    Sumber pustaka
    Okezone.com, edisi Kamis, 16 Maret 2017 – 00:00 WIB
    http://m.okezone.com/read/2017/03/15/340/1643825/innalillahi-karyawan-tewas-setelah-jatuh-dari-ketinggian-7-meter
     


    Nama : Raka Muhammad Endramanto
    Npm : 167051973
    Semester : II
    Kelas : A1

  17. Tertimpa Marmer yang Jatuh dari Truk, Pekerja di Kebayoran Lama Tewas

    Jakarta – Seorang pekerja harian lepas bernama Sarip Hidayat, meninggal dunia akibat kecelakaan kerja yang terjadi saat memindahkan muatan marmer dari atas truk. Ia tertimpa marmer yang ambruk.
    Insiden ini terjadi sekitar pukul 17.00 WIB di Jl Ridwan 2 RT 10 / 07 Kelurahan Grogol Utara Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Kapolsek Kebayoran Lama Kompol Agus Rizal mengatakan peristiwa berawal saat korban dan saksi bernama Herdin sedang menurunkan marmer dari atas truk dengan menggunakan tali tambang yang diikatkan ke bambu sebagai alat untuk mengangkat marmer.
    “Pada saat keduanya ingin mengangkat marmer yang pertama dan menggesernya sedikit, tiba-tiba marmer yang berada di urutan belakang ambruk dan pekerja tidak dapat menahan sehingga marmer tersebut jatuh dari atas truk,” ujar Kompol Agus Rizal dalam keterangannya, Senin (26/4/2016).
    Pada saat kejadian, korban berada di ujung atas truk bernomor polisi B 9209 GQB. Kemudian korban pun terjatuh dari truk dan tertimpa marmer yang mengakibatkan meninggal dunia dengan mengalami luka pada bagian kepala.
    Sarip lalu dibawa ke RS Fatmawati. Pada saat kejadian, ada beberapa pekerja lainnya yang menjadi saksi atas kematian rekannya. Polisi melakukan proses identifikasi dan memeriksa para saksi seusai mendapat laporan peristiwa tersebut.
     


    Analisis Kejadian

    Kronologis Kecelakaan (sequence of event):
    Pada hari Senin tanggal 26 April 2016 terjadi kecelakaan kerja sekitar pukul 17.00 WIB di jalan Ridwan 2 RT 10/01 Kelurahan Grogol Utara Kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Pekerja bernama Sarip Hidayat dan Herdin mengalami kecelakaan kerja yang terjadi Pada saat keduanya ingin mengangkat marmer dan menggesernya sedikit, tiba-tiba marmer yang berada di urutan belakang ambruk dan pekerja tidak dapat menahan sehingga marmer tersebut jatuh dari atas truk. Pada saat kejadian, korban bernama Sarip Hidayat berada di ujung atas truk bernomor polisi B 9209 GQB. Kemudian korban pun terjatuh dari truk dan tertimpa marmer yang mengakibatkan meninggal dunia dengan mengalami luka pada bagian kepala.

    Analisis Faktor Penyebab Langsung Kecelakaan (direct cause factors) :
    1. Tidak mengikuti prosedur peraturan sehingga menyebabkan kecelakaan.
    2. Tidak mengikuti rambu-rambu kerja.

    Analisis Faktor Penyebab Tidak Langsung Kecelakaan (indirect cause factors) :
    1. Faktor personal.
    2. Adanya masalah diluar lingkungan kerja yang dibawa kedalam lingkungan kerja sehingga pekerja tidak fokus (stress).
    3. Lalai dalam bekerja.
    4. Faktor pekerjaan: pekerjaan yang beresiko tinggi namun pekerjaan tersebut belum ada pengendaliannya sehingga terjadi kecelakaan.
     


    A. Tindakan Perbaikan (corrective action) :
    1. Memperbaiki peralatan kerja yang rusak.
    2. Memperbaharui SOP.
    3. Menyelidiki tempat kerja dan sekitarnya setelah terjadi insiden.
    4. Melakukan pengujian dan memerika peralatan kerja.
    5. Memberi penyembuhan dan rehabilitasi terhadap korban yang terluka.
    6. Melaporkan apabila terjadi insiden.
    7. Memperbaiki sistem pengawasan disekitar area kerja.

    B. Tindakan Pencegahan (preventive action) :
    1. Memberikan pelatihan mengenai keselamatan kerja pada setiap karyawan.
    2. Memberikan alat pelindung diri pada pekerja untuk mengurangi resiko terjadinya kecelakaan kerja.
    3. Melakukan pengawasan pada saat berlangsungnya proses pekerjaan.
    4. Memberikan rambu disekitar area pekerjaan.
    5. Memberikan sanksi pada karyawan yang melanggar peraturan.
    6. Menerapkan JSA.
    7. Melakukan inspeksi berkala untuk semua peralatan kerja.
    8. Penjaminan asuransi pada aset perusahaan dan karyawan.
    9. Melakukan briefing sebelum melaksanakan pekerjaan.
    10. Memberikan perhatian lebih pada karyawan yang sakit.
    11. Memberikan pengarahan pada karyawan agar lebih sigap jika terjadi kecelakaan kerja.
    12. Pemasangan safety net di sudut-sudut gedung.
    13. Memberikan lining di area yang dianggap berbahaya.

    C. Rekomendasi Terhadap Menejemen Perusahaan :
    1. Menyarankan pihak perusahaan untuk melakukan pendekatan pada setiap karyawan agar mengetahui latar belakang dan kondisi fisik pekerja sehingga dapat diposisikan pada tempat kerja yang sesuai.
    2. Melakukan pengawasan terhapat pekerja.
    3. Melakukan system k3 yang lebih disiplin untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja.
    4. Memberikan pelatihan khususnya pelatihan yang bersifat terapan agar meningkatnya kualitas sumber daya manusia.
    5. Pihak menejemen harus memiliki hubungan yang baik pada setiap karyawan agar karyawan mendapat kenyamanan saat bekerja.

    Sumber Pustaka
    Detiknews.com, edisi Selasa 26 April 2016 21:53 WIB
    https://news.detik.com/berita/d-3197333/tertimpa-marmer-yang-jatuh-dari-truk-pekerja-di-kebayoran-lama-tewa
     


    Nama : Rinaldy Alfriano
    NIM : 167051983
    Semester : II
    Kelas : A1

  18. Penambang Kapur Tewas Tertimpa Batu di Jember

    Jember – Penambang batu kapur, Zaenal Abidin (37) diketahui meninggal usai kepalanya tertimpa batu yang menggelinding di lokasi pertambangan kapur Desa Grenden, Kecamatan Puger, Jember. Korban merupakan warga Dusun Krajan.
    Dia tewas tertimpa bongkahan batu kapur yang jatuh dari atas tebing tempatnya kerja setiap hari. Rekan korban, Kartonadi mengaku peristiwa bermula saat korban bersama teman-temannya hendak melakukan aktivitas penambangan batu kapur.
    “Saat itu korban sedang mengumpulkan batu kapur bersama dengan teman-temannya. Namun tidak berselang lama, tiba-tiba dari atas tebing ada bongkahan batu kapur yang jatuh dan menimpa korban. Karena datangnya tiba-tiba, korban tidak sempat menyelamatkan diri,” kata Kartonadi di lokasi, Kamis (23/2/2017).
    Atas kejadian ini, korban mengalami luka serius di kepala. Korban sempat dilarikan ke Puskesmas Puger Kulon. Namun nyawa korban tidak tertolong, hingga akhirnya meninggal dunia.
    “Jatuhnya batu kapur kemungkinan akibat adanya kera yang bermain di atas tebing, sehingga ada batu yang terjatuh,” ungkapnya.
    Alasannya, selama ini memang sejumlah kera sering terlihat bermain-main di tebing batu kapur.
    Kartonadi menambahkan, jika aktivitas penambangan dilakukan dengan meledakkan bongkahan batu, semua pekerja diminta berhenti beraktivitas dan menunggu sirine tanda aman berbunyi. Namun saat kejadian, pekerja sama sekali tidak mendengar sirine.
    “Kalau bongkahan dari ledakan biasanya 10 menit ada sirine yang dibunyikan sebagai pertanda aman untuk bekerja. Sedangkan saat kejadian tidak ada sirine. Jadi di atas memang sedang tidak ada aktivitas penambangan,” katanya.
    Jajaran Polsek Puger yang mendapat laporan adanya kecelakaan kerja ini pun langsung mendatangi TKP. Petugas melakukan olah TKP untuk mencari tahu penyebab-penyebab jatuhnya bongkahan batu tersebut.
    “Sampai saat ini kami masih melakukan olah TKP. Namun dugaan sementara karena ada bongkahan batu yang jatuh dari atas tebing. Tidak ada unsur kesengajaan dalam kasus ini, tetapi murni kecelakaan kerja,” ujar seorang petugas yang datang ke lokasi.
    Sementara Kapolsek Puger AKP Sudaryanto saat dikonfirmasi melalui telepon seluler mengaku masih sibuk
     


    Analisis Kejadian

    Adapun hasil analisa yang saya temukan dalam kejadian tersebut ialah :
    Kronologis Kecelakaan (sequence of event) :
    Pada hari Kamis tanggal 23 Febuari 2017, terjadi kecelakaan kerja seorang pria yang bernama Abidin (37) diketahui meninggal usai kepalanya tertimpa batu yang menggelinding dilokasi pertambangan kapur Desa Grenden, Kecamatan Puger, Jember. Korban merupakan warga Desa Krajan. Kejadian tersebut saat korban mengumpulkan batu kapur dengan temannya, tiba-tiba ada bongkahan batu kapur yang jatuh dan menimpa korban tersebut. Atas kejadian ini korban mengalami luka serius namun akhirnya nyawa korban tersebut tidak tertolong atau meninggal dunia.

    Analisis faktor penyebab langsung kecelakaan (direct cause factors) :
    1. Kurang atau minimnya pemakaian APD, salah satunya Safety Helmet.
    2. Tempat kerja yang berserakan batu-batu.
    3. Faktor hewan atau lingkungan yang tidak terduga sehingga batu jatuh mengenai si pekerja.

    Analisis faktor penyebab tidak langsung kecelakaan (indirect cause factors) :
    1. Pekerjaan tersebut beresiko tinggi, namun ada belum ada pengendalian didalamnya.
    2. Faktor pekerjaan yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.

     


    A. Tindakan perbaikan (corrective action) :
    1. Memperbarui dan memperbaiki SOP.
    2. Melaporkan apabila ada terjadinya insiden / bahaya dalam pekerjaan tersebut.
    3. Pengujian, memeriksa peralatan kerja dan pemantauan saat bekerja.
    4. Meninjau lokasi sekitar lingkungan kerja untuk menambah rambu K3.
    5. Memperbaiki sistem pengawasan pada pekerja.

    B. Upaya pencegahan (preventive action) :
    1. Memberikan pelatihan mengenai keselamatan dalam bekerja kepada karyawan. Pelatihan dapat memberikan pemahaman dan pengetahuan kepada karyawan bahwa pentingnya keselamatan dalam bekerja sehingga tidak terjadinya kecelakaan akibat kerja.
    2. Penyeleksian karyawan baru yang lebih ketat.
    3. Melakukan inspeksi berkala untuk semua peralatan.
    4. Memotivasi karyawan agar lebih aktif melaporkan insiden.
    5. Penggunaan APD dalam pekerjaan.
    6. Memberikan pengarahan terhadap karyawan yang melihat insiden agar lebih sigap.
    7. Memberikan lining di area yang di anggap berbahaya.
    8. Memberikan alat pelindung diri pada pekerja untuk mengurangi resiko kecelakaan kerja.
    9. Melakukan ispeksi sebelum bekerja.
    10. Memberikan perhatian lebih pada pekerja yang sakit/kondisi tubuhnya yang lemah.
    11. Penjamin asuransi pada karyawan.

    C. Rekomendasi :
    1. Melakukan pengawasan langsung terhadap pekerja yang sedang bekerja terutama kepada pekerja yang belum memiliki pengalaman lebih.
    2. Meningkatkan kedisiplinan karyawan dalam lingkungan kerja seperti ketepatan, kecepatan, kesigapan dan sikap dalam bekerja.
    3. Memberikan apresiasi kepada pekerja untuk menataati peraturan dalam keselamatan bekerja dan pekerja dapat mengingatkan pada pekerja lain untuk menataati peraturan bahwa pentingnya keselamatan dalam bekerja.
    4. Memberikan pelatihan pada setiap pekeja untuk mengurangi tingkat kecerobohan dalam bekerja.
    5. Menerapkan sistem K3 untuk mecegah terjadinya kelalaian kerja dan terjadinya kecelakaan kerja.

    Sumber Pustaka
    Detiknews.com, edisi Kamis, 23 Februari 2017 16:18 WIB
    https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-3430257/penambang-kapur-tewas-tertimpa-batu-di-jember?utm_source=line&utm_campaign=detikcomsocmed*utm_medium=btn&utm_content=news
     


    Nama : Marion Laurens
    NIM : 167051987
    Semester : II
    Kelas : A1

  19. Terperosok, Kuli Bangunan Jatuh dari Lantai 4 Proyek Bangunan

    JAKARTA – Seorang kuli bangunan bernama Hadi Yusmana (36) tewas dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Santa Carolus, Salemba Raya, Senen, Jakarta Pusat.
    Kompol Suyatno, Kasubag Humas Polres Jakarta Pusat menjelaskan kejadian nahas yang menimpa pria asal Bandung itu. “Saat korban memasang stager di lantai 4 yang akan digunakan untuk melester tembok, korban menginjak triplek yang belom dipaku sehingga korban terjatuh ke lantai bawah,” kata Suyatno kepada wartawan di Jakarta, Senin (31/10/2016).
    Suyatno melanjutkan, diketahui korban sedang bekerja di proyek Garuda Karya Mandiri di Jalan Kramat Sentiong Nomor 17 RT 04 RW05 Kelurahan Kramat, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat. Peristiwa itu terjadi pada petang kemarin saat adzan Maghrib berkumandang.
    “Kemudian korban dibawa ke RS Caroulus oleh temannya sesama pekerja bangunan. Setelah sampai di RS Carolus korban meninggal dunia,” tambahnya.
    Polisi yang mendapatkan laporan tersebut langsung melakukan olpijakan
    at Kejadian Perkara (TKP). “Jasad korban dibawa ke RSCM untuk dilakukan autopsi,” tutup Suyatno
     


    Analisis Kejadian

    1. Kronologi :
    Seorang kuli bangunan yang bernama Hadi Yusmana , berumur 36 tahun tewas dalam perjalanan menuju rumah sakit Santa Carolus , Salemva Raya, Senen, Jakarta Pusat.
    Korban tewas dikarenakan saat korban memasang stager di lantai 4 yang akan digunakan untuk melester tembok, korban menginjak triplek yang belum dipaku sehingga korban terjatuh ke lantai bawah. Korban diketahui bekerja untuk proyek Garuda Karya Mandiri di Jalan Kramat Sentiong Nomor 17 RT 04 RW05 Kelurahan Kramat, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat.

    2. Analisa Faktor Langsung
    – Tidak memakai APD seperti safety shoes, safety helmet, safety belt.

    3. Analisa Faktor Tidak Langsung
    – Kurangnya pengetahuan tentang safety
    – Tidak adanya rambu ranbu tentang bahaya dalam bangunan yang dibangun
    – Tidak teliti dalam memilih pijakan
     


    A. Tindakan Perbaikan(Corrective Action)
    1. Melakukan peninjauan ke lokasi kejadian untuk melakukan pemasangan rambu K3
    2. Melakukan perbaikan pada area kejadian
    3. Melakukan perbaikan system pengawasan pada area kerja
    4. Melakukan rehabilitasi pada karyawan lain maupun keluarga korban agar mengurangi trauma
    5. Memperbarui SOP

    B. Tindakan Pencegahan
    1. Memberi pelatihan pada karyawan mengenai keselamatan kerja
    2. Memperketat pengawasan saat berlangsung nya proses pekerjaan
    3. Memberikan alat pelindung diri (APD) kepada setiap karyawan
    4. Melakukan pengarahan setiap sebelum bekerja
    5. Pemasangan safety net di tepi-tepi gedung
    6. Memberikan lining di tempat area kerja yang dianggap berbahaya
    7. Memberikan sanggsi pada setiap karyawan yang melanggar peraturan
    8. Memberikan pelatihan pada karyawan yang sedang dalam kondisi sakit
    9. Melakukan inpeksi sebelum melakukan pekerjaan
    10. Melakukan pemasangan safety net

    C.Rekomendasi Terhadap Manajemen Perusahaan
    1. Menyarankan agar pihak managemen melakukan pendekatan pada tiap pekerja agar mengetahui latar belakang kondisi fisik pekerja sehingga dapat diposisikan pada kerja yang sesuai
    2. Memberikan pelatihan pada setiap pekerja agar mengurangi tingkat kecerobohan dalam bekerja yang dapat mengakibatkan kecelakaan
    3. Melakukan pengawasan kepada karyawan dalam bekerja
    4. Memberi asperisasi kepada karyawan yang taat peraturan
    5. Menerapkan system yang lebih disiplin pada perusahaan untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja

    Sumber pustaka
    Sindonews.com,
    https://metro.sindonews.com/read/1151708/170/terperosok-kuli-bangunan-jatuh-dari-lantai-4-proyek-bangunan-1477948808

    Sumber pustaka harus ditulis lengkap, sumber berita dan waktu dipublikasikan.
     


    Nama : Olivin Marcheldy Setiawan
    NIM : 167051984
    Semester : II
    Kelas : A1

  20. Pekerja Tewas dalam Pembangunan Kolam Renang di Komplek Stadion Kanjuruhan Malang

    SURYAMALANG.COM, KEPANJEN – Proyek pembangunan kolam renang indoor di komplek Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Kabupaten Malang, memakan korban. Kecelakaan kerja terjadi, saat sejumlah pekerja berusaha memasang kerangka atap, Selasa (6/9/2016), pukul 15.00 WIB. Kerangka atap model melengkung tersebut sudah naik di atas tiang pancang. Namun tiba-tiba kerangka berbahan besi tersebut ambruk.
    Sejumlah pekerja yang berada di atas menjadi korban. Para pekerja ini tengah bekerja sambil mengikatkan tubuh pada kerangka baja yang sudah terpasang. Saat kerangka tersebut jatuh, mereka turut jatuh. Satu orang meninggal dunia dan empat orang terluka.

    Suasana semakin mencekam, lantaran satu pekerja terluka di atas tiang pancang beton setinggi 15 meter. Kaki pekerja malang itu terhimpit kerangka besi. Proses evakuasi berjalan dramatis. Berkat kesigapan Tim SAR BPBD Kabupaten Malang, pekerja tersebut berhasil dievakuasi dan dilarikan ke RSUD Kanjuruhan.
     


    Analisis yang saya dapat dari artikel ini adalah:

    Kronologis: Kecelakaan ini terjadi pada hari Selasa, tanggal 6 September 2016 pada pukul 15.00 WIB. Kecelakaan terjadi disaat pelaksanaan Proyek pembangunan kolam renang indoor di komplek Stadion Kanjuruhan, Kepanjen, Kabupaten Malang. Kecelakaan ini disebabkan karena keranka atap yang ambruk dengan safety belt yang sedang terpasang disaat para pekerja sedang memasang keranka atap dengan cara manual.Kecelakaan ini mengakibatkan 1 orang tewas dan 4 orang terluka. Proses evakuasi berjalan dramatis dikarenakan salah satu korban terluka di atas tiang pancang beton setinggi 15 meter dengan kaki terjepit keranka besi.

    Analisis Faktor Penyebab Langsung kecelakaan (Direct Cause Factors):
    1.Peristiwa tersebut diduga akibat alat kerja yang tidak tersedia sehingga pekerja memasang kerangka atap yang berbobot lebih dari 1 ton diangkat dengan cara manual yang sangat beresiko tinggi.
    2.Hujan yang terjadi sebelum bekerja yang membuat pijakan menjadi licin yang menggangu proses bekerja.

    Analisis Faktor Konstribusi yang turut berperan pada kecelakaan kerja (Indirect Cause Factors):
    1.Diduga pekerja tidak disiplin tentang pemahaman SOP
    2.Kurangnya pengalaman atau pelatihan keahlian bekerja
     


    A.Tindakan perbaikan (Corrective Action)
    1.Melaporkan apabila ada terjadinya kecelakaan insiden atau bahaya dalam pekerjaan tersebut
    2.Memperbaiki alat yang tidak layak pakai atau telah rusak
    3.Memeriksa peralatan kerja disaat bekerja maupun disaat tidak bekerja
    4.Memeriksa kondisi dilapangan kerja setelah terjadinya insiden
    5.Memberikan perawatan dan penyembuhan terhadap korban

    B.Upaya pencegahan (Preventive Action)
    1.Menerapkan JSA kepada setiap kegiatan kerja
    2.Mengadakan briefing sebelum melaksanakan pekerjaan
    3.Memberikan pelatihan kepada karyawan yang sudah bekerja
    4.Melakukan pengawasan yang ketat disaat bekerja
    5.Melakukan inspeksi yang rutin untuk SOP dan semua peralatan kerja
    6.Memberikan pengarahan terhadap pekerja jika adanya kecelakaan yang membahayakan nyawa pekerja
    7.Membuat dan memberitahukan lining kepada pekerja atau tamu di area yang dianggap berbahaya
    8.Memberikan sanksi kepada setiap pekerja yang melanggar aturan keselamatan kerja
    9.Menjamin asuransi pada aset perusahaan dan karyawan
    10.Memberikan alat pelindung diri (Personal Protective Equipment)

    C.Rekomendasi terhadap menejemen perusahaan
    1.Menerapkan sistem K3 untuk mencegah terjadinya kelalaian kerja yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja
    2.Menyarankan pihak menejemen harus melakukan pendekatan kepada setiap pekerja agar memiliki hubungan yang baik dan karyawan atau pekerja nyaman disaat bekerja
    3.Melakukan pengawasan langsung terhadap pekerja yang sedang bekerja terutama kepada pekerja yang belum memiliki pengalaman lebih
    4.Meningkatkan kedisiplinan karyawan dalam lingkungan kerja seperti ketepatan, kecepatan, kesigapan dan sikap dalam bekerja
    5.Memberikan apresiasi/award maupun motivasi kepada pekerja yang mematuhi aturan atau disiplin dalam bekerja dan menjadi pekerja yang produktivitasnya lebih baik lagi kedepan.

    Sumber Pustaka
    Tribunnews.com, edisi hari Selasa 6 September 2016
    http://suryamalang.tribunnews.com/2016/09/06/breaking-news-pekerja-tewas-dalam-pembangunan-kolam-renang-di-komplek-stadion-kanjuruhan-malang
     


    Nama : Melky Jusuf Tarukbua
    NIM : 167052012
    Semester : II
    Kelas : A1

  21. Kecelakaan Kerja di Kelapa Gading Tewaskan Seorang Buruh

    Jakarta – Seorang buruh berusia 40 tahun-an yang belum diketahui identitasnya tewas seketika setelah mengalami kecelakaan kerja di Jalan Puspa Gading VIII Blok C1 Nomor 21, RT09/RW16, Kelurahan Pegangsaan Dua, Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara pada Senin (27/2).
    Pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab pasti dari kecelakaan ini. Pria ini tewas saat mengerjakan renovasi sebuah rumah tinggal yang menggunakan sejumlah buruh dari dua kampung halaman yang berbeda itu.
    Kapolsek Kelapa Gading, Kompol Argo Wiyono, mengatakan kejadian kecelakaan itu terjadi sekitar pukul 16.00 WIB dan pihaknya baru mendapat laporan dari warga yang melihat ada sejumlah buruh berlarian dari sebuah rumah proyek.
    “Setelah kami periksa rupanya ada seorang buruh yang jatuh dan tertimpa puing bangunan dan sudah dalam kondisi meninggal dunia,” ujar Argo, Senin (27/2) sore.
    Ia menyebutkan masih melakukan penyelidikan lebih lanjut dalam kecelakaan tersebut. Pasalnya dari sejumlah saksi yang diperiksa menyebutkan ada ketidakakuran antara dua kelompok buruh yang dipekerjakan dalam proyek renovasi rumah itu.
    Warsito (51) asal Sukaharjo, mandor utama dari proyek tersebut saat ini sedang dalam pemeriksaan polisi. Begitu pula Robby Kurniawan (36) seorang petugas keamanan kompleks perumahan tersebut.
    “Korban saat ini sudah dievakuasi ke RSCM, sedangkan semua buruh yang berada di lokasi saat kejadian masih kami periksa,” tandas Argo.
     


    Analisis Kejadian

    1. Urutan kejadian (sequence of event) dengan mencantumkan tanggal dan jam kejadian.
    Urutan kejadian dari peristiwa tersebut yaitu :
    – Pada hari Senin tanggal 27 Febuari 2017 sekitar pukul 16.00 WIB, seorang buruh berusia sekitar 40 tahunan mengalami kecelakaan kerja di Jalan Puspa Gading VIII Blok C1 Nomor 21, RT09/RW16, Kelurahan Pegangsaan Dua, Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara.
    Pria ini tewas saat mengerjakan renovasi sebuah rumah tinggal yang menggunakan sejumlah buruh dari dua kampung halaman yang berbeda. Setelah diperiksa rupanya ada seorang buruh yang jatuh dan tertimpa puing bangunan dan sudah dalam kondisi meninggal dunia. Pihak kepolisian baru mendapatkan laporan dari warga yang melihat ada sejumlah buruh berlarian dari sebuah rumah proyek. Dari sejumlah saksi yang di periksa menyebutkan ada ketidakakuran antara dua kelompok buruh yang dipekerjakan dalam proyek renovasi rumah tersebut. Saat ini korban telah di evakuasi ke RSCM, sedangkan semua buruh yang berada di lokasi saat kejadian masih diperiksa oleh pihak kepolisian. Dan pihak kepolisian pun masih terus melakukan penyelidikan untuk mengetahui apa penyebab pasti kecelakaan tersebut.

    2. Analisis faktor penyebab langsung kecelakaan (direct cause factors).
    Berdasarkan hasil analisa yang saya dapatkan dari insiden tersebut yaitu :
    – Peristiwa kecelakaan tersebut diduga akibat kelalaian seorang buruh yang jatuh dan tertimpa puing bangunan dan langsung dalam kondisi meninggal dunia.
    – Faktor emosional, karena dari berita tersebut menurut sejumlah saksi yang diperiksa menyebutkan ada ketidakakuran antara dua kelompok buruh yang dipekerjakan dalam proyek renovasi rumah itu. Itu dapat menimbulkan beban kerja tersendiri bagi korban karna ketidakakuran antara kelompok buruh yang satu dengan yang lainnya.

    3. Analisis faktor kontribusi yang secara tidak langsung turut berperan pada kecelakaan (indirect cause factors).
    Berdasarkan hasil analisa yang saya dapatkan dari insiden tersebut yaitu :
    – Kurangnya pelatihan tentang K3 pada pekerja, sehingga para pekerja tidak mengetahui tentang masalah – masalah jika menghadapi suatu kecelakaan. Oleh karena itu seharusnya pihak perusahaan memberikan pelatihan K3 kepada para pekerja, agar kejadian semacam ini tidak terulang kembali.
    – Kurangnya pengamanan yang di pakai oleh pekerja pada saat bekerja di ketinggian.
    – Tidak adanya prosedur baik SOP maupun JSA. Serta tidak memiliki pengawas yang handal dibidangnya.
    – Kurangnya pengetahuan pekerja tentang bahaya yang di timbulkan ketika bekerja di ketinggian.
     


    1. Tindakan Perbaikan (corrective action) meliputi :
    – Menutup area yang rawan terhadap kecelakaan.
    – Melatih pekerja lain setelah insiden agar memiliki perilaku yang baik pada saat bekerja.
    – Mempelajari dan memahami sistem perlindungan jatuh dengan menggunakan alat pelindung diri yang tepat.
    – Melatih serta memberikan arahan bagi pekerja agar terhindar dari kecelakaan kerja
    – Sebelum memulai pekerjaan di ketinggian pastikan full body harness yang digunakan dalam kondisi baik.

    2. Upaya pencegahan (preventive action) antara lain :
    – Meningkatkan kompetensi terhadap resiko ketinggian dan menerapkan kontrol untuk mencegah insiden yang serupa dapat terjadi kembali.
    – Memahami hingga mengidentifikasi jenis jenis bahaya yang ada di tempat kerja
    – Menciptakan tempat kerja yang efisien dan produktif agar tenaga kerja merasa nyaman dalam bekerja.
    – Pemantauan dan Pengendalian Kondisi Tidak Aman di tempat kerja.
    – Menjalin komunikasi yang baik antar sesama pekerja untuk saling meningkatkan keamanan dalam bekerja.
    – Melakukan pemantauan, penumbuhan kedisiplinan dan tindakan tegas kepada karyawan yang cenderung melakukan kelalaian yang berulang ulang.
    – Penerapan JSA untuk mengevaluasi dan mengendalikan terjadinya suatu bahaya / komplikasi.
    – Memberi petunjuk bagaimana suatu pekerjaan dilakukan dangan hati hati untuk mencapai keselamatan kerja maksimum.
    – Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran karyawan tentang pentingnya pencegahan dan penyelamatan dari kecelakaan kerja.
    – Memberi tanda peringatan bahaya di sekitar area yang terdapat suatu potensi bahaya dan mengakibatkan kecelakaan kerja.

    3. Rekomendasi terhadap manajemen ( perusahaan ) antara lain :
    – Mengadakan sosialisasi dan pendidikan terhadap pekerja konstruksi.
    – Menerapkan ilmu K3 dalam melakukan pekerjaan.
    – Mendatangkan pengawas yang handal di bidang konstruksi.
    – Memulai kegiatan dangan mengadakan safety talk.
    – Pihak manajemen melakukan pendekatan kepada tiap tiap pekerja agar pihak manajemen mengetahui latar belakang para pekerja dan kondisi fisik pekerja.

    Sumber Pustaka
    Edisi Senin, 27 Febuari 2017
    http://www.beritasatu.com/aktualitas/416647-kecelakaan-kerja-di-kelapa-gading-tewaskan-seorang-buruh.html

    Sumber pustaka harus ditulis lengkap, sumber berita dan waktu dipublikasikan.
     


    Nama : Irene Virginingtyas
    NIM : 167051986
    Semester : II
    Kelas : A1

  22. Dua Pekerja di Karawang Tewas Akibat Ledakan Tabung Penyimpanan Oli

    Bandung – Dua orang pekerja kasar di PT. TAWU INTI BATI, di Kabupaten Karawang, tewas seketika terkena ledakan tabung penyimpanan oli saat sedang bekerja. Hingga saat ini belum diketahui penyebab meledaknya tabung tesebut.
    Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Pol Yusri Yunus mengatakan peristiwa itu terjadi di Kampung Pasirpeundeuy, Desa Tamanmekar, Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Karawang, Senin (21/11/2016) sekitar pukul 13.30 WIB.
    Ia menuturkan, saat itu Safrudin (30) dan Dede Mulyadi (35) sedang melakukan kegiatan pengelasan. Berdasarkan keterangan saksi, kata dia, keduanya berada tepat di atas tabung penyimpanan oli tersebut.
    “Para korban sedang melakukan pengelasan di atas tabung penyimpanan oli, tiba-tiba tabung tersebut meledak dan kedua korban terpental hingga tewas,” kata Yusri via pesan singkat.
    Yusri menyebut polisi sudah mendatangai tempat kejadian perkara untuk melakukan penyelidikan dan penyidikan terkait kecelakaan kerja tersebut. Hal itu untuk memastikan tidak adanya sebuah kesengajaan.
    “Sementara waktu kami pasang garis polisi untuk kepentingan penyelidikan dan penyidikan di lokasi,” ujar Yusri.
     


    Analisis Kejadian
     
    1. Buatlah urutan kejadian (sequence of event)
    Pada hari Senin, 21 November 2016 sekitar pukul 13:30 WIB, dua orang pekerja dari PT.TAWU INTI BATI di Kampung Pasirpeundeuy, Desa Tamanmekar, Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Karawang mengalami kecelakaan kerja. Saat itu, pekerja yang bernama Safrudin 30 tahun dan Dede Mulyadi 35 tahun sedang melakukan kegiatan pengelasan. Kegiatan pengelasan tersebut berada tepat diatas tabung penyimpanan oli, dan pada saat mereka sedang mengelas tiba-tiba tabung tersebut meledak sehingga mereka terpental dan tewas ditempat, para korban langsung dilarikan kerumah sakit terdekat.

    2. Buatlah analisis faktor penyebab langsung kecelakaan (direct cause factors).
    Menurut saya faktor penyebab langsung dari kecelakaan tersebut adalah kedua pekerja tersebut melakukan pengelasan diatas tempat penyimpanan oli, karena tempat penyimpanan oli tersebut bila diberi dengan sumber panas dari alat pengelasan maka, persenyawaan udara, hidrogen, dan sumber panas akan menghasilkan sebuah ledakan.

    3. Buatlah analisis faktor kontribusi yang secara tidak langsung turut berperan pada kecelakaan (indirect cause factors).
    Menurut saya faktor penyebab secara tidak langsung dari kecelakaan tersebut adalah:
    – Kurangnya pengetahuan pekerja tentang bahaya yang akan ditimbulkan jika mengelas diatas tempat penyimpanan oli,
    – Tidak adanya rambu-rambu jika tidak boleh mengelas diatas tempat penyimpanan oli dan,
    – Kurangnya pelatihan dan pengarahan K3 dari perusahaan kepada para pekerjanya.
     


    1. Tindakan perbaikan (corrective action) terhadap kejadian tersebut
    – Pastikan para pekerja memiliki surat izin kerja dan pelatihan untuk pekerjaan mereka.
    – Memeriksa kondisi alat selalu dalam keadaan baik.
    – Para pekerja memakai alat pelindung diri yang sesuai.
    – Pastikan memperbaharui selalu JSA yang ada.
    – Selalu memberikan arahan kepada para pekerja untuk selalu mementingkan keselamatan dalam bekerja.
    – Mengadakan pengecekan alat secara berkala agar tidak terjadinya kecelakaan kerja.

    2. Upaya pencegahan (preventive action) terhadap kejadian tersebut
    – Selalu mengidentifikasi bahaya yang ada di tempat kerja.
    – Mengantisipasi keberadaan faktor penyebab bahaya dan selalu melakukan pencegahan sebelumnya.
    – Meningkatkan kompetensi para pekerja tentang resiko pengelasan di atas tempat penyimpanan oli.
    – Selalu menerapkan JSA dan SOP dalam melakukan setiap pekerjaan.
    – Memberikan rambu-rambu untuk tempat-tempat yang dapat membahayakan para pekerja.
    – Menciptakan tempat kerja yang selalu nyaman untuk karyawannya.
    – Selalu menjalin komunikasi antar sesama karyawan untuk saling mengingatkan tentang keselamatan dalam bekerja.
    – Selalu melakukan pemantauan terhadap karyawan yang sedang melakukan pekerjaannya.
    – Melakukan maintenance secara berkala pada prosedur kerja serta peralatan yang dipakai oleh para pekerja.
    – Hindari melakukan pengelasan di atas tempat penyimpanan oli.

    3. Rekomendasi saya terhadap manajemen (perusahaan) tersebut
    – Pihak manajemen (perusahaan) selalu menerapkan sistem K3 dalam melakukan suatu pekerjaan.
    – Pihak manajemen (perusahaan) selalu memberikan apresiasi terhadap para pekerja untuk selalu menaati segala prosedur kerja yang berlaku.
    – Selalu mengadakan safety talk
    – Pihak manajemen (perusahaan) selalu memonitoring para pekerja.
    – Pihak manajemen (perusahaan) selalu melakukan pendekatan terhadap karyawan agar mengetahui kondisi karyawan itu.

    Sumber pustaka
    Detik.com, edisi Senin 21 November 2016 20:08 WIB
    https://m.detik.com/news/berita/d-3350879/dua-pekerja-di-karawang-tewas-akibat-ledakan-tabung-penyimpanan-oli
     


    Nama: Rifda Nur Alifah
    NIM: 167052014
    Semester: II
    Kelas: A1

  23. Dua Pekerja PT Antam Kecelakaan Kerja, Satu Tewas

    Bogor – Dua pekerja PT Aneka Tambang (Antam) Gunung Pongkor, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor menjadi korban kecelakaan kerja saat berada di terowongan area penambangan emas Pongkor. Satu orang bernama Deni Anwar (30) dilaporkan meninggal dunia, dan Jaenudin (25) dalam perawatan rumah sakit.
    Kepala Kepolisian Resor Kabupaten Bogor, Ajun Komisaris Besar AM Dicky dalam keterangannya menuturkan, kejadian bermula ketika keduanya tengah kegiatan cooking/penutupan dengan cor semen di jalur penambangan sekitar pukul 10.00 WIB.
    “Keduanya terjatuh di ketinggian sekitar 30 meter. Mendapat laporan tersebut, tim darurat PT Antam melakukan evakuasi dan berhasil mengeluarkan Jaenudin dalam keadaan kritis dan sudah ditangani rumah sakit. Sedangkan, Deni baru bisa dievakuasi sekitar pukul 19.00 dan ditemukan dalam kondisi meninggal,” kata Dicky, Selasa (27/12).
    Diduga lubang berisi gas beracun, tiga tim darurat, Yoga, Dian, dan Agung juga mengalami pingsan. Namun demikian, kata Dicky, ketiganya sudah dalam keadaan baik dan sudah diperbolehkan pulang.
    Saat ini, polisi, PT Antam dan dinas terkait tengah melakukan cek kejadian perkara untuk mengetahui penyebab terjadinya kecelakaan kerja tersebut.
    Sementara, Humas PT Antam, Pongkor Bagus Purbananda menambahkan, PT Antam sepenuhnya bertanggung jawab terhadap peristiwa tersebut. Ia pun menyebutkan, tim investigasi saat ini tengah melakukan observasi guna mengetahui penyebab kecelakaan tersebut.
    “Bisa saja karena gas, tetapi kami tidak bisa memastikan. Ada orang engineer untuk mengetahui penyebab kejadian tersebut,” katanya. Bagus juga memastikan, bahwa PT Antam tetap beroperasi seperti semula. “Hanya area kecelakaan saja yang ditutup sementara, selebihnya beroperasi seperti semula,” tambahnya.
     


    Analisis Kejadian

    Kronologis Kecelakaan (sequence of event) :
    Pada hari selasa, 27 Desember 2016 sekitar pukul 10.00 WIB terjadi kecelakaan kerja di PT. Aneka Tambang (Antam) Gunung pongkor, kecamatan Nanggung, kabupaten Bogor. Satu orang bernama Deni Anwar (30) dilaporkan meninggal dunia, dan Jaenudin (25) dalam perawatan rumah sakit. Kejadian bermula ketika keduanya tengah kegiatan cooking/penutupan dengan cor semen di jalur penambangan sekitar pukul 10.00 WIB.Keduanya terjatuh di ketinggian sekitar 30 meter. tim darurat PT Antam melakukan evakuasi dan berhasil mengeluarkan Jaenudin dalam keadaan kritis dan sudah ditangani rumah sakit. Sedangkan, Deni baru bisa dievakuasi sekitar pukul 19.00 dan ditemukan dalam kondisi meninggal.

    Analisis Faktor Penyebab Langsung Kecelakaan (direct cause factors) :
    1. Kemungkinan tidak adanya alat pelindung diri (APD) yang dipersiapkan oleh pihak PT. Antam.
    2. Kemungkinan tidak adanya pelatihan mengenai keselamatan kerja.
    3. Tidak mengikuti prosedur (SOP), peraturan dan keselamatan kerja

    Analisis Faktor secara tidak langsung (indirect cause factors) :
    1. Mengabaikan inturuksi kerja, tidak mematuhi rambu-rambu dilokasi kerja.
    2. Kemungkinan pekerja tidak mengikuti prosedur, peraturan dan keselamatan kerja.
     


    1. Tindakan Perbaikan (Corrective Action) :
    • Meninjau persyaratan dan peraturan perundang undangan
    • Memperbarui SOP
    • Melakukan inspeksi tempat kerja
    • Pengujian, memeriksa, dan pemantauan tempat kerja dan peralatan
    • Pengecekkan alat alat keselamatan yang cacat

    2. Upaya Pencegahan (Preventive Action) :
    • Pengarahan penyaluran instruksi dan informasi yang lengkap dan jelas
    • Pembinaan pengetahuan dan keterampilan melalui training yang relevan dengan pekerjaannya
    • Pengawasan dan disiplin yang wajar
    • Pemeliharaan tempat kerja tetap bersih dan aman untuk pekerja
    • Penyebaran, pelaksanaan dan pengawasan dari safety policy
    • Pembuatan sistem pengendalian bahaya
    • Pemasangan safety net di tepi tepi gedung
    • Pemberian APD pada pekerja untuk mengurangi resiko kecelakaan kerja
    • Menerapkan JSA / JRA
    • Menyediakan alat P3K bila mengalami kecelakaan yang tak di inginkan

    3. Rekomendasi Terhadap Manajemen Perusahaan :
    • Pelatihan karyawan tentang praktek kerja aman
    • Menerapkan sistem K3 untuk mencegah terjadinya kelalaian kerja maupun kecelakaan kerja
    • Melakukan Analisa bahaya untuk evaluasi bahaya lain dalam tugas tertentu dan melatih karyawan terhadap bahaya ini
    • Evaluasi dari prosedur kerja dengan rekomendasi perbaikan
    • Pengendalian teknik untuk membuat tugas lebih aman atau pengendalian administrative untuk mengganti cara tugas dilakukan.

    Sumber Pustaka
    Beritasatu.com, edisi Selasa 27 Desember 2016 20:56 WIB
    http://m.beritasatu.com/aktualitas/406686-dua-pekerja-pt-antam-kecelakaan-kerja-satu-tewas.html
     


    Nama : Candra Kautsar
    NIM : 167051974
    Semester : II
    Kelas : A1

  24. Mesin Oven Sepatu Meledak, Dua Pekerja Tewas Enam Luka-luka

    BANDUNG – Dua pekerja perusahaan sepatu di Kota Bandung tewas setelah mengalami kecelakaan kerja, Jumat (5/8/2016).
    Enam pekerja lainnya mengalami luka-luka pada peristiwa yang terjadi sekitar pukul 14.00 WIB.
    Informasi yang dihimpun Tribun, peristiwa itu terjadi di perusahaan sepatu di Jalan Kavling Industri nomor 58, Kelurahan Cigondewah Kaler, Kecamatan Bandung Kulon.
    Kecelakaan kerja itu terjadi ketika para pekerja mencoba mesin oven sepatu yang baru.
    “Awalnya ada seorang karyawan/ teknisi sedang melakukan uji coba mesin oven sepatu baru, ketika menghidupkan, mesin tak bekerja sempurna,” kata Kasubbag Humas Polrestabes Bandung, Kompol Reny Marthaliana, kepada Tribunmelalui pesan singkat, Jumat (5/8/2016) malam.
    Berdasarkan keterangan saksi tidak bekerjanya mesin oven baru itu disebabkan kunci penutup mesin tidak sempurna.
    Sedangkan tekanan kompresor sangat tinggi sehingga mengakibatkan tutup open terlempar sehingga mengenai para korban.
    “Pada saat kejadian saksi mendengar suara ledakan dan melihat tutup open sepatu melayang ke arah karyawan yang sedang bekerja tak jauh dari mesin baru itu,” kata Reny.
    Selanjutnya sejumlah karyawan yang mendengar letusan itu, kata Reny, berlari ke ruangan produksi. Sejumlah karyawan lainnya melihat empat pekerja terbaring di sekitar mesin baru perusahaan tersebut.
    “Selanjutnya karyawan membawa korban ke Rumah Sakit Rajawali Bandung dengan menggunakan kendaran perusahaan,” kata Reny.
    Reny mengatakan, kasus tersebut kini ditangani Polrestabes Bandung untuk memastikan penyebab timbulnya suara ledakan pada mesin. Pihaknya mengamankan lokasi kejadian dengan memasang garis polisi untuk kepentingan penyelidikan.
    “Rata-rata korban yang mengalami luka badannya terasa panas akibat semburan tekanan panas dari mesin oven sepatu,” kata Reny. (cis)
     


    Analisis Kejadian
     
    1. Sequence of event
    Dua pekerja perusahaan sepatu di Kota Bandung tewas setelah mengalami kecelakaan kerja, pada hari Jumat tanggal 5 Agustus 2016 sekitar pukul 14.00 WIB. Peristiwa itu terjadi di perusahaan sepatu di Jalan Kavling Industri nomor 58, Kelurahan Cigondewah Kaler, Kecamatan Bandung Kulon.
    Kecelakaan kerja itu berawal ketika para pekerja mencoba mesin oven sepatu yang baru. Disamping itu ada seorang karyawan/ teknisi yang sedang melakukan uji coba mesin oven sepatu baru, ketika menghidupkan, mesin tak bekerja sempurna. Tidak bekerjanya mesin oven baru itu disebabkan kunci penutup mesin tidak sempurna. Sedangkan tekanan kompresor sangat tinggi sehingga mengakibatkan tutup open terlempar sehingga mengenai para korban.
    Pada saat kejadian, terdengar suara ledakan dan terlihat tutup open sepatu melayang ke arah karyawan yang sedang bekerja tak jauh dari mesin baru tersebut. Sejumlah karyawan yang mendengar letusan tersebut berlari ke ruangan produksi. Sejumlah karyawan lainnya melihat empat pekerja terbaring di sekitar mesin baru perusahaan tersebut.
    Selanjutnya karyawan membawa para korban ke Rumah Sakit Rajawali Bandung dengan menggunakan kendaran perusahaan.
    Kasus tersebut kini ditangani Polrestabes Bandung untuk memastikan penyebab timbulnya suara ledakan pada mesin. Pihak Polrestabes Bandung mengamankan lokasi kejadian dengan memasang garis polisi untuk kepentingan penyelidikan.

    2. Analisis faktor penyebab langsung kecelakaan (direct cause factors)
    • Kecelakaan tersebut terjadi akibat kelalaian kunci penutup mesin yang tidak dikunci dengan sempurna
    • Tekanan kompresor sangat tinggi sehingga mengakibatkan tutup open terlempar sehingga mengenai para korban
    • Tidak menerapkan aturan yang dibuat oleh perusahaan

    3. Analisis faktor kontribusi secara tidak langsung turut berperan pada kecelakaan (indirect cause factors)
    • Membuat kerugian bagi perusahaan
    • Kurangnya pelatihan kerja
    • Mengurangi produktifitas perusahaan
     


    1. Tindakan perbaikan (corrective action)
    • Memperbaiki perabotan dan peralatan kerja yang terkena damage ledakan
    • Memberi penyembuhan dan rehabilitasi terhadap karyawan yang mengalami luka-luka
    • Membersihkan tempat kerja setelah terjadi ledakan
    • Memperkerjakan pekerja baru yang dalam kondisi sehat dan berpengalaman untuk menggantikan korban yang tewas
    • Mempersiapkan APD baru yang lebih lengkap
    • Memperbaki dan memperbaharui SOP

    2. Upaya pencegahan (preventive action)
    • Menjalin komunikasi yang baik antar sesama pekerja untuk saling mengingatkan keamanan dalam bekerja
    • Melakukan inspeksi berkala untuk semua peralatan
    • Maintenance berkala yang terjadwal untuk semua peralatan
    • Memberi tanda peringatan bahaya di sekitar area yang memiliki potensi bahaya dan dapat mengakibatkan kecelakaan kerja
    • Melakukan penilaian resiko dengan menghitung atau menaksir kemungkinan terjadinya bahaya
    • Mengantisipasi keberadaan faktor penyebab bahaya dan melakukan pencegahan sebelumnya
    • Penerapan JSA untuk mengevaluasi dan mengendalikan terjadinya suatu bahaya atau komplikasi
    • Penggunaan APD dalam bekerja
    • Pemasangan safety equipment seperti apar, splinker dan lain lain di tempat kerja
    • Mengadakan briefing sebelum memulai pekerjaan
    • Mengadakan safety meeting secara berkala
    • Memotivasi karyawan agar lebih aktif melaporkan insiden

    3. Rekomendasi terhadap manajemen perusahaan
    • Menerapkan atau menjalankan ilmu K3 dalam perusahaan
    • Memperkerjakan pekerja yang sudah memiliki sertifikat
    • Melakukan pengawasan kepada pekerja yang sedang melakukan tugas terugama pekerja yang belum memiliki pengalaman yang cukup
    • Meningkatkan kedisiplinan karyawan dalam lingkungan kerja seperti ketepatan, kecepatan dan kesigapan dalam bekerja
    • Memberikan reward kepada karyawan yang mentaati atau menjalankan sistem K3 dengan baik dan benar
    • Memberikan punishment kepada karyawan yang menyepelekan aturan perusahaan.

    Sumber pustaka
    Tribunnews.com, edisi Jumat 5 Agustus 2016 21:15 WIB
    http://m.tribunnews.com/regional/2016/08/05/mesin-oven-sepatu-meledak-dua-pekerja-tewas-enam-luka-luka
     


    Nama : Dini Febriyani
    NIM :167052008
    Semester : II
    Kelas : A1

  25. Kecelakaan kerja terjadi di Babarsari

    Harianjogja.com, SLEMAN — Nasib nahas harus menimpa Tejo Purwanto, 27, warga Ledokdawan, Grobogan, Jawa Tengah. Ia tewas karena tersengat aliran listrik saat mengerjakan pekerjaannya di sebuah proyek pembangunan hotel di daerah Babarsari, Depok, Sleman.
    Kapolsek Depok Barat Kompol Sukirin Haryanto mengatakan kejadian kecelakaan tersebut terjadi pada Rabu (25/1/2017) pagi. Saat korban bersama satu temannya mulai mengerjakan proyek di salah satu ruangan dalam proyek hotel tersebut. Karena ruangan tersebut gelap, korban menyambung kabel guna membuat penerangan dengan sebuah lampu. Saat menyambung kabel di ruangan yang gelap tersebut korban tiba-tiba tersengat aliran listrik hingga beberapa waktu.
    “Korban sempat dibantu oleh temannya untuk melepaskan dari sengatan listrik namun sedikit terlambat. Mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan korban kemudian segera dibawa ke rumah sakit,” katanya, Rabu (25/1/2017).
    Dikatakannya setelah sempat dilarikan ke RSPAU Hardjolukito nyawa korban akhirnya tidak dapat tertolong. Akibat sengatan listrik tersebut korban mengalami luka cukup parah. Pada bagian perut korban bahkan sampai mengalami luka bakar yang serius.
    Pihak kontraktor dan teman-teman korban yang sudah mengetahui korban tewas namun tidak segera melaporkan kejadian kepada petugas Polsek Depok Barat. Saat korban akan dibawa ke rumah duka di Jawa Tengah barulah salah satu rekannya melapor kepada petugas.
    Petugas yang menerima laporan, saat itu juga kemudian mendatangi lokasi kejadian untuk melakukan olah TKP. “Dari keterangan petugas yang ke lokasi, di tempat kejadian memang ada genangan air. Itu yang terlihat sangat membahayakan,” katanya
     


    Analisis Kejadian
     
    Kronologis Kecelakaan (sequence of event):
    Pada hari Rabu tanggal 25 Januari 2017,terjadi kecelakaan kerja sekitar pukul 08.35 WIB di sebuah proyek pembangunan hotel di daerah Babarsari,Depok,Sleman. Pekerja bernama Tejo Purwanto berumur 27 tahun mengalami kecelakaan kerja pada saat mengerjakan proyek disalah satu ruangan dalam proyek hotel tersebut bersama satu temannya ,dikarenakan ruangan gelap,korban(Tejo) menyambung kabel guna untuk membuat penerangan dengan sebuah lampu.saat menyambung kabel diruangan gelap tersebut korban(Tejo) tiba-tiba tersengat aliran listrik hingga beberapa waktu.Korban sempat dibantu oleh temannya untuk melepaskan dari sengatan listrik namun sedikit terlambat.Korban kemudian dibawa kerumah sakit RSPAU Hardjolukito,nyawa korban tidak dapat tertolong.Korban mengalami luka bakar yang serius.Petugas melakukan olah TKP,dari keterangan petugas,ditempat kejadian terdapat genangan air.

    Analisis Faktor Penyebab Langsung Kecelakaan (direct cause factors) :
    1. Kurangnya pencahayaan didalam ruangan.
    2. Terdapat genangan air didalam ruangan.
    3. Minimnya penggunaan APD seperti sarung tangan dan sepatu berbahan karet

    Analisis Faktor Penyebab Tidak Langsung Kecelakaan (indirect cause factors) :
    1. Faktor personal.
    2. Kondisi tempat kerja yang kurang kondusif.
    3. Faktor pekerjaan: pekerjaan yang beresiko tinggi namun pekerja tersbeut tidak meperhatikan kondisi tempat kerja sehingga terjadi kecelakaan.
    4. Lalai dalam bekerja
     


    A.Tindakan perbaikan (corrective action)

    1. Memberi penerangan di ruangan terjadinya kecelakaan kerja dan ruangan-ruangan lainnya yang tidak memiliki pencahayaan yang cukup.
    2. Memperbaiki permukaan lantai dan mentup ruangan agar tidak tergenangi air saat hujan.
    3. Memperbaiki instalasi kabel ditempat kerja.
    4. Me manage ulang sistem waktu bekerja yang sesuai standar
    5. Memperbaiki dan memperbarui SOP.

    B. Upaya pencegahan (Preventive Action)
    1. Memberi pelatihan kepada pekerja
    2. Mengadakan Safety meeting secara berkala yang dihadari semua pekerja.
    3. Penerapan JSA/JRA pada setiap pekerjaan.
    4. Penggunaan APD dalam pekerjaan
    5. Pemeriksaan kondisi tempat kerja sacara rutin
    6. Penyeleksian karyawan baru yang lebih ketat.
    7. Memotivasi karyawan agar lebih aktif melaporkan jika ada problem di tempat kerja.
    8. Penjaminan Asuransi pada aset perusahaan dan karyawan.
    9. Pemasangan Safety equipment di tempat kerja.
    10. Maintenance berkala untuk semua peralatan dan APD

    C. Rekomendasi terhadap manajemen perusahaan.
    1. Meningkatkan kedisiplinan karyawan dalam lingkungan kerja,seperti Kesigapan,kecepatan,ketepatan,dan sikap dalam bekerja.
    2. Melakukan pengawasan kepada pekerja yang sedang bekerja.
    3. Menyarankan kepada pihak manajemen agar mengatur ulang jam kerja para pekerja dengan aturan undang-undang yangberlaku
    4. Memberikan reward bagi pekerja yang rajin dan lebih memperhatikan keselamatan dan keamaan saat bekerja.dan memberikan punishment bagi yang sering lalai dan menyepelekan pekerjaan dan keselamatan.
    5. Melakukan Pemeriksaan kondisi di tempat kerja

    Sumber Pustaka
    Harianjogja.com,edisi Rabu,25 Januari 2017, 22.20 WIB
    http://www.harianjogja.com/baca/2017/01/25/kecelakaan-kerja-pekerja-bangunan-tewas-tersengat-listrik-787736
     


    Nama : Naufal Rodhi Septiady
    NIM : 167051998
    Semester : II
    Kelas : A1

  26. Pekerja Furniture Tewas Tersengat Listrik di Pondok Aren

    TANGERANG – Seorang buruh pekerja furniture tewas tersengat arus listrik saat sedang mengamplas bahan kayu di Jalan Canosa, RT 02 RW 04, Jurang Mangu Timur, Pondok Aren, Tangerang Selatan, Jumat (24/3/2017).
    Korban bernama Santomi (26), dia merupakan pekerja paruh waktu pada bangunan pembuat furniture milik Wisnu Pamungkas itu. Saat di temukan, tubuh Santomi dalam posisi tergeletak dengan tangan kanannya memegang mesin pengampelas.
    Informasi yang dihimpun, kejadian pertama kali di ketahui sekira pukul 10.00 WIB. Ketika itu, rekan korban, Dana Khairul (35) baru saja tiba di lokasi.
    “Rekannya sekira jam 10.00 WIB baru sampai di tempat kerja itu, lalu melihat korban sudah dalam keadaan tergeletak di bawah, tangan kanannya memegang mesin pengampelas,” terang AKP Mansuri, Kepala Bagian Humas Polres Tangsel.
    Melihat Santomi telah terbaring kaku, Khairul pun segera memberitahukan pekerja yang lain. Selanjutnya mengecek bersama-sama tubuh korban, hingga akhirnya diketahui bahwa pria yang beralamat tinggal di Kampung Nambo, RT 13 RW 05, Kresek, Kabupaten Tangerang, itu di pastikan telah meninggal dunia.
    Petugas dari Polsek Pondok Aren yang tiba di tempat kejadian perkara lantas melakukan pemeriksaan, beberapa saksi di lokasi juga telah dimintai keterangan. Sementara jenazah korban dibawa ke RSUD Tangerang.
    “Korban diduga meninggal akibat tersetrum saat mengampelas, tangan kanan dan bagian dada sebelah kanannya mengalami luka bakar. Jenazahnya sudah di bawa ke RSUD Tangerang,” ungkap AKP Mansuri.

     


    ANALISIS KEJADIAN
     
    Urutan kejadian
    1. seorang pekerja furniture tewas tersengat arus listrik saat sedang mengamplas bahan kayu di jalan Canosa,Jurang Mangur
    Timur,Pondok Aren,Jumat ( 24/03/2017 ).
    2. Kejadian pertama kali diketahui sekitar pukul 10.00 WIB. Ketika itu rekan korban,Dana khairul (35 tahun) baru saja tiba dilokasi dan melihat korban sudah dalam keadaan tergeletak.
    3. Melihat keadaan Satomi (korban), Khairulpun segera memberitahukan pekerja yang lain.kemudian memeriksa bersama-sama
    tubuh korban, hingga mengetahui bahwa Satomi telah meninggal dunia.
    4. petugas dari Polsek Pondok Aren melakukan pemeriksaan. Korban diduga meninggal akibat tersetrum saat mengampelas.
    5. Jenazah dibawa ke RSUD Tangerang.

    Faktor penyebab langsung dari masalah ini,yaitu :
    1. Tidak memakai APD
    Korban tidak memakai APD saat bekerja,dan sesama pekerja tidak saling mengingatkan untuk memakai APD.
    2. Korban tidak memperhatikan apakah mesin yang digunakan berfungsi dengan baik dan juga kurang memperhatikan tegangan
    listrik saat menggunakan mesin amplas.

    Faktor secara tidak langsung :
    Faktor Individu
    1. Kurangnya pemahaman korban akan keselamatan diri sendiri.
    2. Kurangnya pengawasan yang diberikan dan kurangnya komunikasi tentang bahaya listrik saat korban bekerja.
    3. Korban kurang memperhatikan instalasi listrik yang digunakan saat bekerja.
    4. Korban kurang berhati-hati dan kurang konsentrasi dalam bekerja, sehingga dapat memicu terjadinya kecelakaan kerja.

     


    ANALISIS CORRECTION ACTION, PREVENTIVE ACTION DAN REKOMENDASI
     
    Corrective Action:
    1. Memastikan melakukan pemeriksaan disekitar tempat kerja agar kecelakaan yang terjadi tidak terjadi pada pekerja yang lain.
    2. Memberikan tanda larangan masuk ke area kerja,kecuali pihak yang berwenang melakukan pemeriksaan dan investigasi.
    3. Pihak yang memeriksa juga harus memperhatikan terlebih dahulu keselamatan diri sendiri,jangan sampai masih ada arus listrik pada peralatan kerja yang ada ditangan korban dan malahan menjadi korban juga.
    4. Melibatkan pikak ketiga dalam melakukan penyelidikan,baik itu kepolisian maupun Rumah Sakit.
    5. Memastikan pekerja yang lain memakai APD saat bekerja agar tidak terjadi kecelakaan kerja yang sama.

    Preventive Action:
    1. Memastikan adanya personal K3 yang ditunjuk manajemen untuk menjabat sebagai personil keselamatan kerja.
    2. Diperlukannya penyusunan rencana kerja
    3. Membangun komunikasi,baik antara pekerja dengan pekerja maupun pekerja dengan manajemen.
    4. Mengidentifikasi berbagai bahaya yang ada ditempat kerja yang beresiko pada pekerja dan lingkungan sekitar.
    5. Memastikan pekerja paham terhadap keselamatan kerja listrik untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja.
    6. Mencegah jangan sampai tubuh terhubung langsung dengan tanah dengan menggunakan sepatu safety,karena tanah merupakan kutub negatif pada setiap aliran listrik.
    7. Selalu mengecek aliran listrik menggunakan test pen untuk mengetahui kabel mana yang terdapat aliran listrik,serta bagian mana kabel yang negatif dan posotifnya.
    8. Memastikan mematikan sentral listrik pada saat memperbaiki listrik.
    9. Memastikan untuk memperhatikan keselamatan kerja listrik sewaktu bekerja yang berhubungan dengan listrik dan pekerja lainnya.
    10. Memastikan bahwa peralatan listrik yang digunakan sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI).

    Rekomendasi terhadap manajemen /perusahaan:
    1. Mensosialisasikan hasil investigasi kepada semua karyawan.
    2. Memberikan pelatihan mengenai K3 kepada pekerja dan pengawas,agar tidak terjadi kesalahan dalam bekerja yang dapat memicu terjadinya kecelakaan kerja.
    3. Perusahaan atau manajemen harus menyediakan APD yang cukup dan sesuai untuk pekerjaan ini.
    4. Menyediakan peralatan listrik yang baik dan sesuai dengan standar nasional.
    5. Memastikan memberikan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan pekerja.

    Sumber Pustaka
    SindoNews.com Edisi Sabtu 25 Maret 2017 01.56 WIB
    https://metro.sindonews.com/read/1191415/170/pekerja-furniture-tewas-tersengat-listrik-di-pondok-aren-1490381793
     


    Nama :Alfrida Sanggalangi
    NIM :167052055
    Semester :II
    Kelas :A2

  27. Pekerja CS IKPP Tewas Terjatuh dari Ketinggian 20 Meter

    RIAUBOOK.COM – Terjadi kecelakaan kerja di dalam perusahaan PT Indah Kiat Pulp and Paper (IKPP) Perawang.
    Ely Nawarni Daulay yang berprofesi sebagai Cleaning Service (CS) menjadi korban, ia tewas di tempat setelah jatuh dari ketinggian 20 meter di Damper Conveyor 6 lokasi MB-12.
    Saat kejadian, korban yang bekerja dengan kontraktor PT Yove Anugerah sedang bekerja di lokasi MB-12. Kecelakaan kerja terjadi Sabtu (18/03/2017) sekitar pukul 10.00 WIB.
    Saat dikonfirmasi, Kapolsek Tualang Kompol Ali Dahmar Siregar melalui Kanit Reskrim AKP Yusuf Purba membenarkan adanya insiden satu orang karyawan yang jatuh saat sedang bekerja.
    Berdasarkan informasi yang diperoleh, korban pada saat kejadian sedang bekerja bersih-bersih di lantai atas bagian Damper Conveyor 6 lokasi MB-12. Tanpa diduga ternyata korban terjatuh.
    Insiden tersebut mengagetkan pekerja yang ada di lokasi tersebut. Korban tersebut tewas dan langsung dibawa ke klinik terdekat. Jasadnya kemudian diserahkan ke keluarga untuk dikebumikan.
    Sementara itu, Humas PT IKPP, Armadi saat dikonfirmasi, belum memberikan keterangan mengenai hal tersebut. Hingga kini, awak media masih mencoba untuk melakukan konfirmasi kepada pihak perusahaan. (RB/Agus)
     


    ANALISIS KEJADIAN
     
    Kronologi kejadian ( sequence of event):
    Pada hari sabtu (18/03/2017) sekitar pukul 10.00 terjadi kecelakaan kerja di PT Yove Anugerah Perawang satu orang tewas dalam kejadian ini karena terjatuh dari ketinggian 20 meter di Damper Conveyor 6 lokasi MB-12 Perawang

    Analisis Faktor Penyebab Langsung Kecelakaan (direct cause factors) :

    Menurut saya kenapa bisa terjadi kecelakaan kerja seperti ini karena ada berbagai faktor yang pertama :
    1.Minimnya / tidak menggunakan pemakaian APD/PPE Safety Belt karena apabila pekerja tersebut memakai APD/PPE kemungkinan tidak terjadi.
    2.Tidak mengikuti prosedur(SOP),peraturan dan keselamatan kerja

    Analisis Faktor kontribusi yang secara tidak langsung turut berperan pada kecelakaan (indirect cause factors) :
    1.Faktor Pribadi (Personal) : masalah dirumah yang terbawa ke tempat kerja sehingga kurangnya fokus / konsentrasi kerja.
    2.Faktor Pengetahuan Pekerja: kurangnya pelatihan dan pengetahuan sehingga terjatuh dari gedung

     


    ANALISIS CORRECTION ACTION, PREVENTIVE ACTION DAN REKOMENDASI
     
    1. Tindakan perbaikan (corrective action) :
    – Memperbarui SOP.
    – Memberitahu bahaya dalam pekerjaan tersebut.
    – Pengujian,memeriksa peralatan kerja dan pemantauan saat bekerja
    – Memberi penyembuhan atau rehabilitasi terhadap korban kecelakaan kerja.
    – Memperbaiki peralatan / perabotan kerja yang rusak.

    2. Upaya pencegahan (preventive action) :
    – Memberikan pelatihan mengenai keselamatan dalam bekerja kepada karyawan.
    – Menerapkan JSA / JRA.
    – Mengubah material yang di bawah standart / kurang layak di pakai
    – Melakukan penelitian resiko
    – Melengkapi semua perkakas dan mesin dengan alat pencegah kecelakaan
    – Memberikan perhatian lebih kepada karyawan yang kondisi tubuhnya melemah / kurangnya fokus agar tidak terjadinya kecelakaan kerja.
    – Memberikan penanda dan isyarat keselamatan kerja.
    – Memberikan Sanksi kepada karyawan yang melanggar peraturan keselamatan dalam bekerja
    – Pemberian alat pelindung diri (personal protective equipment).
    – Melalukan patrol saat berlangsungnya pekerjaan dan inspeksi keselamatan kerja sebelum melakukan pekerjaan untuk mengurangi risiko kecelakaan kerja.

    3. Rekomendasi :
    – Memberikan pelatihan-pelatihan khususnya pelatihan yang bersifat terapan.
    – Melakukan pengawasan langsung terhadap pekerja yang sedang bekerja
    – Menerapkan sistem K3 untuk mencegah terjadinya kelalaian kerja maupun kecelakaan kerja
    – Pihak manajemen harus memiliki Hubungan kerja yang baik, harmonis dan saling memperhatikan kepentingan masing-masing pihak yang terlibat. Agar pekerja mendapatkan kenyamanan kerja dan penempatan yang benar pekerja dengan pekerjaannya tersebut.
    – Memberikan apresiasi kepada pekerja yang mengikuti aturan dalam bekerja

    Sumber pustaka
    Riaubook.com edisi minggu 19 maret 2017 – 19:23 WIB
    http://www.riaubook.com/berita/29205/pekerja-cs-ikpp-tewas-terjatuh-dari-ketinggian-20-meter
     


    Nama : Ridho Adi Dharma Kusuma
    NIM : 167052005
    Semester : II
    Kelas : A1

  28. Pipa Pertamina Meledak,Seorang Warga Tewas Terbakar

    INDRAMAYU – Kebocoran pada pipa milik Pertamina menyebabkannya meledak. Akibatnya, sebuah kendaraan sepeda motor dan seorang warga mengalami luka bakar serius, hingga korban dilarikan ke Rumah Sakit (RS) PMC, Rabu (5/10).
    Informasi yang Rakcer, sepeda motor korban yang belakangan diketahui bernama Duljalil alias Sandul, warga Desa Amis blok 6 Kecamatan Cikedung diamankan di Mapolsek Cikedung.
    Kejadian tersebut bermula dari seorang warga sekitar tengah melintas di kawasan kebun tebu di Desa Amis, kemudian melewati genangan air yang sudah tercampur minyak dari kebocoran pipa pertamina tersebut.
    Salah satu saksi mata yang berada di lokasi kejadian, Marya alias Kumis (60) menuturkan, saat dirinya hendak pergi ke sawah, sesampainya ia dijalan tebu tersebut ia mendengar ledakan dari sebelah kirinya.
    Disusul kemudian munculnya api yang sangat besar dan kepulan asap yang tebal, sekitar Pukul 06.30 Wib. “Kaget, saya saat itu sedang lewat dekat dengan lokasi ledakan,” ucapnya.
    Lanjut Mary+a, Mengetahui hal itu dirinya bersama beberapa warga yang juga sedang melintas di lokasi kejadilan, sontak berhenti untuk mencari tahu titik ledakan tersebut.
    “Kami mendatangi sumber api guna mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Sesampainya dilokasi kejadian, kami sangat kaget begitu melihat sebuah motor dan seorang warga sudah hangus terbakar. Sebenarnya kami takut mendekat, karena kita lihat api menyambar sampai ke pipa pertamina,” tuturnya.
    Begitu didekati, ternyata korban tersebut ialah warga Desa Amis (Sadul, red), melihat hal itu, lalu korban dilarikan dengan dibonceng sepeda motor warga ke Mantri, untuk mendapatkan pertolongan.
    “Pas dibawa memang masih hidup, terus pingsan, sampai mantri langsung dirujuk ke RS PMC Indramayu, namun akhirnya tewas,” paparnya.
    Hingga kini, peristiwa tersebut masih di tangani Polsek Cikedung. Salah satu pegawai Pertamina yang berada di lokasi kejadian, Nana mengatakan jika kebakaran tersebut berasal dari adanya kebocoran pada pipa Pertamina yang berada di lokasi Jalan Kebun Tebu Desa Amis.
    “Yang namanya kebocoran kan bisa terjadi sewaktu-waktu dan gak bisa di prediksi terjadinya kapan,” ucapnya.
    Nana menambahkan, begitu ia mendapat kabar adanya kebakaran tersebut, pihaknya dan beberapa petugas lainya langsung mendatangi lokasi kejadian, serta membawa satu unit pemadam kebakaran milik Pertamina EP.
    “Kebakaran terjadi mungkin dari percikan api di sepeda motor warga, yang terjadi jauh sekitar 500 meter dari pipa Pertamina, melalui saluran air yang tercampur minyak dan gas,” jelasnya.
    Dikatakan, nantinya korban akan dibawa ke RS Pertamina Cirebon, untuk seluruh biaya pengobatan serta yang lainnya menjadi tanggung jawab Pertamina.
    Selain itu, kebocoran minyak yang terjadi pada pipa distribusi yang menghubungkan Stasiun Pengumpul Minyak TGB ke Stasiun Pengumpul Utama Cemara, Rabu (5/10) itu mendorong PT Pertamina EP Jatibarang Field selaku pihak yang bertanggung jawab melakukan perbaikan dan penanganan terhadap semua akibat kebocorannya.
    Dengan menurunkan Tim Penanggulangan Keadaan Darurat, kebocoran yang diklaim rembesan pada jalur pipa crude oil di Desa Amis tersebut langsung menjadi konsentrasi perbaikan.
    “Tim kami langsung melakukan penanganan berupa perbaikan pipa di lokasi. Terkait korban pengendara motor yang terkena luka bakar atas nama Bapak Duljalil berusia 55 tahun saat ini sedang dalam penanganan di UGD RS PMC Indramayu,” jelas Asset 3 Legal Relation Manager, Yosi Ardila.
    Disampaikan, penyebab korban luka bakar menjadi perhatian serius pihaknya dan masih dilakukan investigasi lebih lanjut. “Korban beserta kendaraannya yang terbakar langsung dapat dipadamkan. Mudah-mudahan semuanya bisa diatasi tanpa kendala,” ujarnya.
    Sementara itu, penanggulangan rembesan minyak dan lokalisir tempat kejadian saat ini sudah berhasil ditangani oleh tim dari HSSE dan Onshore Production Operation Pertamina EP Jatibarang Field. Bahkan telah dilakukan pemasangan pipe clamp (klem pipa). “Kami juga melakukan pembersihan ceceran minyak di sekitar lokasi,” terangnya.
    Terkait dengan kerugian yang teridentifikasi dari kejadian, adalah 1 orang korban luka bakar, 1 buah sepeda motor, dan kebun tebu saat ini masih dalam proses perhitungan untuk luasannya.
    “Tim Pertamina EP Jatibarang Field sedang melakukan koordinasi penanggulangan kejadian antara pihak Pertamina EP, dan pihak-pihak terkait setempat, termasuk camat dan polsek,” kata dia.
    Ditegaskan, pendampingan keluarga korban dilakukan Humas Pertamina EP Jatibarang di RS PMC Indramayu. Selanjutnya korban akan dibawa ke RS Pertamina Cirebon untuk mendapatkan perawatan intensif. “Untuk penanganan lebih lanjut terhadap korban agar segera pulih, kami membawanya ke Cirebon,” tandasnya. (tar)
     


    ANALISIS KEJADIAN
     
    Kronologis
    Pada hari Rabu 5 Oktober 2016 sekitar pukul 06.30, Terjadi sebuah insiden ledakan pipa Pertamina di Desa Amis blok 6 Kecamatan Cikedung . Kejadian ini diduga adanya kebocoran pada pipa Pertamina yang berada di lokasi Jalan Kebun Tebu Desa Amis. Seorang korban yang mengendarai speda motor diduga melintas area pipa Pertamina saat ledakan terjadi. Peristiwa tersebut mengakibatkan satu orang tewas terbakar ,satu buah sepeda motor dan beberapa hektar kebun tebu yang terbakar .

    Analisis Penyebab Langsung (direct cause factors) :
    1. Kualitas alat alat yang sudah tua kemungkinan rusak itu ada, contohnya : Pipa yang sudah tua
    2. Kurangnya pengecekan alat pipa sehingga terjadi kebocoran pipa

    Analisis Penyebab Tidak Langsung (indirect cause factors)
    1. Kurangnya kewaspadaan korban saat melintasi area pipa Pertamina
    2. Kurangnya penyuluhan terhadap tentang pipa pertaminia
     


    ANALISIS CORRECTION ACTION, PREVENTIVE ACTION DAN REKOMENDASI
     
    1. Tindakan Perbaikan
    – Menambahkan rambu K3
    – Memperbaiki system pegawasan pada area pipa
    – Meninjau kembali lokasi dan melakukan perbaikan pada area tersebut agar kecelakaan tidak terulang
    – Mengurangi trauma/Rehabilitasi pada korban maupun keluarga korban
    – Memperbarui SOP

    2. Tindakan pencegahan
    – Melakukan pengecekkan rutin
    – Memberikan rambu K3 di sekitar pipa
    – Pemberian alat pelindung diri pada pekerja untuk mengurangi resiko terjadinya kecelakaan
    – Melakukan pengawasan saat berlangsungnya proses pekerjaan
    – Melakukan inpeksi sebelum memulai pekerjaan
    – Memberikan perhatian lebih pada pekerja yang sakit/kondisi tubuhnya lemah
    – Memberikan pengarahan terhadap karyawan yang melihat insiden agar lebih sigap
    – Memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang bahaya melintas di dekat area pipa
    – memasang alarm agar pekerja atau masyarakat dapat mengetahui apabila terjadi kebocoran
    minyak
    – Memberikan lining di area yg di anggap berbahaya

    3. Rekomendasi terhadap menejemen perusahaan
    – Memberi apresiasi kepada pekerja yang taat praturan keselamatan kerja dan pekerja yang mengingatkan pada pekerja lain bahwa pentingnya keselamatan dalam bekerja
    – Menyarankan agar pihak menejemen melakukan pendekatan pada tiap-tiap pekerja agar mengetahui latar belakang dan kondisi fisik pekerja sehingga dapat di posisikan pada tempat kerja yang sesuai
    – Melakukan pengawasan terhadap pekerja khususnya Tenaga Kerja Asing
    – Menerapkan system k3 yang lebih disiplin pada perusahaan untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja
    – Memberikan pelatihan pada setiap pekerja agar meningkatkan sumber daya manusia dan mengurangi tingkat kecerobohan dalam bekerja yang dapat mengakibatkan kecelakaan

    Sumber Pustaka
    http://www.rakyatcirebon.co.id/2016/10/pipa-pertamina-meledak-seorang-warga-tewas-terbakar.html
     
    Sumber pustaka harus ditulis lengkap, sumber asal berita dan waktu dipublikasikan.
     


    Nama : Cevin Minaldo Nicholas
    NPM : 167051978
    Semester : II
    Kelas : A1

  29. Karyawan PT Era Sawit Tewas Terjatuh dari Rebusan Sawit

    PEKANBARU – Kecelakaan kerja terjadi di PT Era Sawit, di Desa Kepenuhan Barat Mulia, Kecamatan Kepenuhan, Kabupaten Rohul, Riau. Seorang karyawan bernama Totok Suprianto (48), tewas terjatuh dari tempat perebusan kelapa sawit.
    “Sempat dibawa ke rumah sakit, namun nyawa korban tidak tertolong,” kata Paur Humas Polres Rohul Ipda Efendi Lupino, kepada wartawan, Sabtu (6/8/2016).
    Kecelakaan itu terjadi sekitar pukul 13.00 WIB. Saat itu, teman kerja korban bernama Riawan sedang melakukan pengelasan di areal rebusan sawit. Tempat rebusan itu terbuat dari baja berbentuk bulat dan cukup tinggi.
    Pada awalnya dia melihat korban berada di atas rebusan. Tidak berapa lama, saksi melihat ada suara seperti benda jatuh. Saat itu dia memeriksa keadaan sekitar.
    “Saat itu saksi melihat korban tersangkut di bawah anak tangga rebusan dengan posisi kepala mengarah ke bawah,” terangnya.
    Melihat kejadian itu, saksi kemudian memanggil teman-teman korban. Mereka berusaha memberikan pertolongan kepada korban. Namun korban sudah tidak bergerak-gerak lagi.
    “Korban kemudian dibawa ke Puskesmas Kota Tengah. Namun ternyata Totok sudah meninggal. Kita belum mengetahui penyebab kecelakaan kerja itu. Pihak keluarga menolak untuk dilakukan autopsi,” ucapnya.
     


    ANALISIS KEJADIAN
     
    1. Urutan peristiwa (sequence of event)
    Kecelakaan terjadi di PT.Era Sawit, di Desa Kepenuhan Barat Mulia, Kecamatan Kepenuhan, Kabupaten Rohul, Riau. Korban merupakan salah satu karyawan perusahaan PT.Era Sawit yang bernama Totok Suprianto (48). Korban terjatuh dari tempat perebusan kelapa sawit, pada hari Sabtu tanggal 06 September 2016, kejadian tersebut pukul 13.00 WIB.
    Kejadian yang menimpa korban saat korban melakukan perebusan sawit pada bagian produksi PT.Era Sawit, saat kejadian berlangsung saksi mendengar ada suara benda jatuh, pada saat di periksa ternyata posisi korban sudah tersangkut dibawah anak tangga mesin perebusan dengan kondisi kepala yang mengarah kebawah. Korban langsung dibawa ke Puskesmas Kota Tengah, namun nyawa korban tidak dapat terselamatkan, pemeriksaan tidak dapat dilakukan secara lebih lanjut karena dari pihak keluarga menolak untuk melakukan autopsy terhadap korban.

    2. Faktor langsung terjadinya kecelakaan ( direct cause factors )
    Tindakan yang tidak aman yang terjadi pada korban adalah korban tidak menggunkan APD, korban tidak mematuhi aturan pelaksaan kerja pada PT.Era Sawit, padahal pada saat melakukan perebusan kelapa sawit pada bagian pabrik itu memiliki resiko yang tinggi.
    Berdasarkan kasus tersebut, kondisi yang tidak aman yang dialami korban adalah pada bagian perebusan kelapa sawit dikarenakan tidak dilengkapi dengan system keamanan yang berstandar.

    3. Faktor tidak langsung pada kecelaan kerja ( indirect cause factors )
    Berdasarkan kecelakaan kerja yang terjadi pada korban, faktor yang menjadi pengaruh adalah faktor pekerjaan karena pada lingkungan perebusan kelapa sawit tidak dilengkapi dengan alat-alat keselamatan kerja bagi karyawan yang sedang melakukan kegiatan perebusan sawit, oleh sebab itu saat terjadi kecelakaan kerja di pabrik perebusan tersebut, teman-teman korban hanya mampu memberikan pertolongan secara manual, sehingga menyebabkan risiko yang tidak dapat ditanggulangi secara cepat. Selain itu, faktor yang mempengaruhi adalah dimana pekerja juga tidak mau menggunakan alat-alat keselamatan dalam melakukan pekerjaannya.

     


    ANALISIS CORRECTION ACTION, PREVENTIVE ACTION DAN REKOMENDASI
     
    Tindakan perbaikan (corrective action) :

    1. Seluruh karyawan PT.Era Sawit wajib mematuhi semua peraturan-peraturan keselamatan kerja yang diberikan oleh atasan.
    2. Dari pihak perusahaan harusnya bertanggung jawab untuk menyediakan dan mewajibkan semua karyawannya memakai Alat Pelindung Diri (APD) yang sesuai dengan pekerjaannya.
    3. Seharusnya disekitar areal rebusan sawit tersebut harus ada seorang pengawas yang berjaga, sehingga pekerja tidak bekerja seorang diri pada areal yang berbahaya tersebut.
    4. Safetyman wajib memberikan safety briefing setiap harinya sebelum memulai bekerja, agar pekerja lebih memperhatikan pentingnya K3.
    5. Dari pihak perusahaan harus lebih cepat dan tanggap dalam menangani suatu kecelakaan kerja.

    Upaya pencegahan (preventive action) :

    1. Memastikan peralatan yang digunakan dalam keadaan aman, layak pakai dan sesuai dengan standar operasional.
    2. Menyediakan perlengkapan kerja dan alat-alat pelindung diri yang sesuai untuk melindungi karyawan dari bahaya-bahaya di tempat kerja.
    3. Memastikan semua karyawan berada dalam keadaan sehat untuk bekerja.
    4. Menciptakan lingkungan dan suasana kerja yang aman, bersih dan sehat.
    5. Mengkuti dan mematuhi peraturan –peraturan keselamatan kerja.
    6. Mengenali dan selalu melaporkan adanya kondisi ataupun tindakan yang tidak aman.
    7. Memberikan kerjasama yang baik dengan rekan kerja dan pengawas.
    8. Memberikan pelatihan K3 terhadap seluruh karyawan dan pengawas.
    9. Menyediakan peralatan P3K disektar perusahaan / pabrik tersebut.
    10. Memberikan tanda (sign) diarea yang rawan bahaya.

    Rekomendasi terhadap manjemen perusahaan :

    1. Aktif mengajak seluruh karyawan agar terlibat dalam penyusunan dan pelaksanaan prosedur kerja yang aman (Standart Operation Procedure / SOP) pada setiap jenis pekerjaannya.
    2. Meyediakan program-program untuk menunjang promosi keselamatan dan kesehatan kerja di tempat kerja.
    3. Melakukan General Medical Check Up secara perodik minimal sekali pertahun.
    4. Meyediakan perlengkapan kerja dan memberikan alat-alat pelindung diri secara cuma-cuma bagi setiap karyawan.
    5. Setiap karyawan wajib diberikan pelatihan K3 dan mempunyai sertifikasi K3 sesuai dengan bidangnya.

    Sumber Pustaka
    SindoNews.com, edisi Sabtu 6 Agustus 2016 15:43 WIB
    https://daerah.sindonews.com/read/1129227/174/karyawan-pt-era-sawit-tewas-terjatuh-dari-rebusan-sawit-1470472976
     


    Nama : Derry Andhika Nurfajri
    NIM : 167052019
    Semester : II
    Kelas : A2

  30. Alat Pelebur Emas Meledak, Satu Pekerja Tewas dan Kritis

    BATAM – Asmi Iskandar (20) dan Agus Saputra (23) terpanggang api di rumah majikannya di Perumahan Paradisse, Blok L Nomor 12, Kelurahan Bukit Tempayan, Batuaji, Kota Batam, Selasa (28/6/2016) siang.
    Nahasnya, Asmi meninggal di tempat sedangkan Agus masih kritis di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Embung Fatimah.
    Meki, Warga setempat sekaligus saksi mata melihat kepulan asap dari lantai dua rumahnya di lantai tiga rumah korban yang juga menjadi tempat peleburan emas.
    Ia mengatakan, setelah kaget melihat asap itu langsung memberitahu kepada warga menolong korban. Awalnya, warga menolong Agus yang masih bernapas.
    Setelah berusaha mematikan api menggunakan alat seadanya, warga kemudian menemukan Asmi di dalam kamar. Ia mengaku sempat kewalahan mengeluarkan korban karena kepulan asap dan lantai sudah panas dipanggang api.
    “Lihat asap di lantai tiga, saya langsung beritahu warga. Kami melihat korban sudah terbakar kemudian bawa ke rumah sakit. Satu lagi tidak dapat ditolong lagi,” kata Meki.
    Ia menyampaikan setelah korban hangus terbakar, tidak lama kemudian petugas Penanggulangan Bahaya Kebakaran (PBK) datang ke lokasi memadamkan api. “Setelah korban di selematkan warga, baru datang petugas PBK,” katanya.
    Kapolsek Batuaji Kompol Andy Rahmansyah membenarkan kejadiannya. Setelah mendapat informasi dari warga langsung menuju lokasi.
    Ia mengatakan hingga saat ini belum mengetahui penyebab kebakaran tersebut, pihaknya masih mendalami kasusnya.
    Dari lokasi pihaknya telah mengamankan barang bukti untuk penyelidikan berupa tabung gas, kompresor, alat tos, serta telah menggaris polisi rumah lokasi kejadian.
    “Satu orang kritis, satu orang meninggal. Sementara penyebabnya masih kami dalami. Belum tahu korban sedang apa mereka,” pungkasnya.
     


    ANALISIS KEJADIAN
     
    Urutan Kejadian
    Alat pelebur emas meledak di Perumahan Paradisse, Blok L Nomor 12, Kelurahan Bukit Tempayan, Batuaji, Kota Batam, Selasa (28/6/2016) pukul 15.10 WIB. Ledakan tersebut mengakibatkan kepulan asap dan kebakaran pada lantai tiga rumah korban, warga sekitar pun berusaha memadamkan api dengan alat seadanya dan menolong Agus yang merupakan salah satu korban ledakan dan kondisinya kritis sehingga warga membawanya ke Rumah Sakit Umum Daerah(RSUD) Embung Fathimah. Sedangkan rekan kerja Agus yaitu Asmi meninggal di tempat kejadian dikarenakan terpanggang di dalam kamar. Sementara penyebab terjadinya kebakaran tersebut masih dalam penyelidikan polisi. Dari lokasi kejadian polisi mengamankan sejumlah barang bukti berupa tabung gas, kompresor, dan alat tos guna penyelidikan lebih lanjut.

    Faktor Penyebab Langsung
    1. Tindakan tidak aman(unsafe acts) : merokok di dalam ruangan tempat kerja.
    2. Kondisi tidak aman/KTA (unsafe condition) : peralatan kondisi suatu peralatan baik itu umur maupun kualitas sangat mempengaruhi terjadinya kecelakaan kerja. Alat-alat yang sudah tua kemungkinan rusak itu ada. Apabila alat itu sudah rusak, tentu saja dapat mengakibatkan kecelakaan.
    3. Bahan yang digunakan merupakan bahan mudah terbakar.

    Faktor Penyebab Tidak Langsung
    1. Beban kerja yang tidak sesuai.
    2. Pekerjaan beresiko tinggi namun, belum ada upaya pengendalian di dalamnya.
    3. Stress (mendapat tekanan dari pimpinan kerja).
    4. Suasana kerja yang tidak kondusif.
     


    ANALISIS CORRECTION ACTION, PREVENTIVE ACTION DAN REKOMENDASI
     
    Tindakan Perbaikan
    1. Melarang pekerja untuk merokok di dalam tempat kerja, serta memasang poster larangan merokok.
    2. Melakukan pemasangan pendeteksi kebakaran(sprinkler).
    3. Penyediaan APAR di dalam tempat kerja.
    4. Melakukan simulasi kebakaran, agar para pekerja mengerti apa saja yang harus dilakukan saat kebakaran.
    5. Memeriksa kondisi alat-alat yang dipakai.

    Tindakan Pencegahan
    1. Memperkerjakan pekerja sesuai dengan kemampuannya.
    2. Melakukan JSA(Job Safety Analysis) terhadap pekerjaan yang dilakukan.
    3. Mengganti peralatan yang sudah tua/rusak dengan peralatan yang baru.
    4. Menerapkan sistem ISO9001 di dalam perusahaan.
    5. Melakukan edukasi tentang bahaya-bahaya di tempat kerja.
    6. Membuat suasana kerja yang kondusif agar pekerja bisa fokus terhadap pekerjaannya.
    7. Menggunakan APD untuk pekerja.
    8. Memberikan waktu kerja sesuai standar yaitu 8jam/hari.
    9. Memindahkan barang-barang yang mudah terbakar ke tempat seharusnya.
    10. Memastikan bahwa tindakan investigasi sudah benar dan menyelesaikan perbaikan dari hasil yang ditemukan dalam investigasi.

    Rekomendasi
    1. Perusahaan harus memiliki seorang ahli K3 di dalamnya serta menerapkannya.
    2. Perusahaan wajib menyediakan APD untuk pekerjanya.
    3. Pihak manajemen harusnya menerapkan/mengeluarkan SOP(standar operasional prosedur) terhadap pekerjaan yang dilakukan.
    4. Pihak manajemen wajib mengadakan training bagi pekerjanya sebelum di tempatkan di posisi kerjanya.
    5. Melakukan komunikasi dan mendengarkan masukan dari pekerja.

    Sumber pustaka
    Sindonews.com, edisi Selasa 28 Juni 2016 15:10 WIB
    https://daerah.sindonews.com/read/1120302/194/alat-pelebur-emas-meledak-satu-pekerja-tewas-dan-kritis-1467101427
     


    Nama: Bobby Annastasia Prahari
    NIM: 167052018
    Semester: II
    Kelas: A2

  31. Karyawan Pabrik Kertas Tewas Tertimpa Kertas Pres Seberat 1,2 Ton

    Mojokerto – Kecelakaan kerja terjadi di pabrik kertas PT Mega Surya Eratama (MSE) di Jalan Raya Jasem, Kecamatan Ngoro, Mojokerto, Kamis (28/7/2016). Seorang karyawan bagian operator forklif, Soni Perngadi (42) tewas dengan kepala pecah dan kaki patah setelah tertimpa kertas pres seberat 1,2 ton. Diduga tumpukan kertas itu ambruk menimpa korban akibat ditata terlalu tinggi.
    Supervisor PT MSE, Edi mengatakan, korban ditemukan dalam kondisi tak bernyawa sekitar pukul 08.30 Wib. Saat itu, rekan kerja korban, Agus Sugiarto hendak memindahkan tumpukan kertas bekas yang menjadi bahan baku, ke mesin penggilingan.
    Bak disambar petir, Agus justru menemukan tubuh Soni di bawah tumpukan kertas afalan yang berserakan itu. Kondisi pria asal Miji Baru Satu, Kelurahan Miji, Kecamatan Kranggan, Kota Mojokerto itu tewas tertelungkup. Kepala korban pecah, sedangkan kedua kakinya patah.
    “Korban tertimpa kertas afalan yang dipres seberat 1,2 ton. Kejadiannya seperti apa, saya kurang tahu,” kata Edi kepada wartawan di kamar jenazah RS Bhayangkara Pusdik Brimob Watukosek, Pasuruan.
    Edi menambahkan, Soni merupakan karyawan di bagian afalan yang mengoperasikan mesin forklif. Menurut dia, di lokasi kecelakaan dipenuhi tumpukan kertas bekas yang dipres dengan ketinggian mencapai 10 meter. Setiap pres kertas bekas itu beratnya mencapai 1,2 ton.
    Sayangnya, Edi enggan berkomentar terkait standar keamanan kerja yang diterapkan di PT MSE. “Soal safety saya No comment, silakan tanyakan ke penyidik saja,” cetusnya.
    Sementara Kapolsek Ngoro Kompol Khoirul Anam menjelaskan, pihaknya baru memintai keterangan dua orang saksi yakni karyawan pabrik yang pertama kali menemukan jasad korban. Pemeriksaan itu untuk mengungkap misteri Kematian Soni.
    “Untuk sementara saksi hanya mengetahui korban sudah tewas, saat itu saksi sedang memindahkan tumpukan kertas. Posisi korban tertelungkup tertimpa tumpukan kertas,” terangnya.
    Khoirul menambahkan, selain memeriksa para saksi, pihaknya juga melakukan olah TKP. Sementara jasad korban dievakusi ke RS Bhayangkara Pusdik Brimob Watukosek, Pasuruan untuk diautopsi.
    “Untuk penyebab kecelakaan kerja ini apakah ada kelalaian dari pihak perusahaan dalam menata barang, masih kami selidiki. Yang jelas, nanti pihak perusahaan akan kami periksa,” tandasnya.
    Jika terbukti terdapat kelalaian dari PT MSE, Khoirul berjanji tak akan tebang pilih. “Kalau ada kelalaian, perusahaan akan kami proses hukum,” pungkasnya. (fat/fat)
     


    ANALISIS KEJADIAN
     
    Yang saya dapat dari kejadian di artikel adalah:

    1. Kronologis : Pada hari kamis, tanggal 28 Juli 2016 terjadi kecelakaan kerja di pabrik kertas PT. Mega  Surya Eratama yang menewaskan seorang pekerja operator forklif yang bernama Soni Perngadi yang berusia  42 tahun. Korban ditemukan tewas pada pukul 08.30 WIB dengan kepala pecah dan kaki patah setelah tertimpa kertas pres seberat 1,2 ton.

    2. Analisa faktor langsung :
    -Di duga akibat kelalaian pekerja karna menaruh kertas pres setinggi 10 meter dan seberat 1,2 ton.
    – Tidak adanya penggunaan APD seperti safety helmet.

    3. Analisa faktor tidak langsung :
    -Kurang adanya pemahaman tentang safety
    -Tidak adanya rambu rambu safety
     


    ANALISIS CORRECTION ACTION, PREVENTIVE ACTION DAN REKOMENDASI
     
    A. Tindakan perbaikan
    1. Perbaikan peralatan yang terkena damage saat kejadian
    2. Memperbaiki atau memperbarui SOP
    3. Mengatur ulang jam kerja
    4. Meningkatkan dan lebih ketat di sistem pengawasan do area industri
    5. Menambahkan rambu atau tanda k3

    B. Tindakan pencegahan
    1. Melengkapi alat pelindung diri yang kurang
    2. Memberi pelatihan/pembekalan terhadap pekerja mengenai bahaya bahaya dan resiko di tempat kerja
    3. Melakukan inspeksi rutin
    4. Maintance berkala untuk setiap alat atau mesin
    5. Menjamin asuransi kepada karyawan
    6. Penerapan JSA
    7. Melakukan safety talk sebelum memulai pekerjaan
    8. Mengarahkan kepada pekerja agar setiap ada insiden maupun accident agar selalu melapor
    9. Melakukan pengawasan
    10. Melakukan perbaikan terhadap area  tersebut agar tidak terjadi kecelakaan yang sama

    C. Rekomendasi terhadap manajemen perusahaan
    1. Meningkatkan kedisiplinan karyawan kerja
    2. Menerapkan sistem k3 yang lebih ketat dan disiplin
    3. Memberikan pelatihan kepada karyawan
    4. Melakukan pendekatan kepada tiap tiap pekerja agar mengetahui latar belakang pekerja tersebut
    5. Memberikan reward kepada pekerja yang menjunjung tinggi peraturan keselamatan kerja

    Sumber pustaka
    Detik.com, edisi Kamis 28 Juli 2016 14:40 WIB
    https://m.detik.com/news/berita-jawa-timur/3263552/karyawan-pabrik-kertas-tewas-tertimpa-kertas-pres-seberat-12-ton
     


    Nama : Resky Agus Syahputra
    NIM : 167051996
    Semester : 2
    Kelas : A1

  32. Innalillahi… Pekerja PLN Tewas Tersengat Listrik ketika Pasang Jaringan Baru

    TANGERANG SELATAN – Seorang pekerja kontrak PLN, Satiri (50) tewas tersengat aliran listrik saat tengah memasang jaringan kabel di Desa Dangdang, Cisauk, Tangerang Selatan.
    Menurut keterangan Solihin (45), saksi sekaligus petugas sekuriti di SMPN 2, karyawan kontrak PLN cabang Serpong itu datang ke lokasi sekira pukul 12.30 WIB, lalu meminta ijin untuk memasang jaringan kabel listrik baru yang mengarah ke jaringan kabel laboratorium SMPN 2 Tangsel.
    “Korban datang ke lokasi mengendarai sepeda motor dan membawa sejumlah perlengkapan, kemudian meminta ijin pada sekuriti SMPN 2 untuk memasang jaringan kabel baru itu,” terang Kepala Bagian Humas Polres Tangsel, AKP Mansuri kepada wartawan, Senin (13/2/2017).
    Awalnya Solihin sempat mengawasi korban yang akan memulai proses pemasangan kabel melalui tiang listrik, namun karena merasa tak memerlukan bantuannya, Solihin berlalu dan kembali ke sekolah.
    Selang beberapa menit kemudian, tiba-tiba terdengar teriakan dari penjaga kantin sekolah, Rumayati (50). Solihin pun bergegas menghampirinya, dan melihat Rumayati menunjuk pada tubuh korban yang tergantung lemas pada tali pengaman di tiang listrik tersebut.
    “Korban menggantung di tiang listrik dengan tali pengaman, diduga korban meninggal akibat tersengat listrik,” ungkap Mansuri.
    Korban saat kejadian mengenakan kemeja warna biru motif putih dan celana jeans biru dengan ikat pinggang berlogo securiti. Jenazahnya kemudian dibawa ke Rumah Sakit Selaras untuk dilakukan autopsi.
    “Barang bukti yang kita amankan di lokasi berupa sepeda motor korban, gulungan kabel listrik dan alat pemotong kabel,” tutupnya.
     


    ANALISIS KEJADIAN
     
    Kronologis kecelakaan (sequence of event).
    Kejadian bermula di siang hari pukul jam 12.30 WIB. Seorang pekerja PLN cabang Serpong, Tangerang Selatan bernama Satiri datang ke desa Dangdang, Cisauk, Tangerang Selatan untuk memasang jaringan kabel listrik baru yang mengarah ke jaringan lab SMP Negeri 2 Tangerang Selatan dengan membawa perlengkapan. Awalnya Satiri di awasi oleh Solihin yang merupakan satpam SMP Negeri 2 Tangerang Selatan tersebut tetapi karena merasa tidak perlu diawasi Solihin pun meninggalkan Satiri. Selang beberapa menit tiba-tiba terdengar teriakan dari penjaga kantin sekolah, Rumayati, sang satpam bergegas menghampirinya dan melihat Rumayati menunjuk pada tubuh Satiri yang tergantung lemas pada tali pengaman di tiang listrik. Jenazahnya kemudian dibawa ke Rumah Sakit Selaras untuk dilakukan autopsi.

    Analisis faktor penyebab langsung kecelakaan (direct cause factors), antara lain :
    1. Tidak memakai Alat Pelindung Diri (APD) yang lengkap.
    2. Tidak mengikuti SOP.
    3. Kualitas kabel yang buruk.
    4. Kelalaian dalam bekerja.

    Analisis faktor kontribusi yang secara tidak langsung turut berperan pada kecelakaan (indirect cause factors), antara lain :
    1. Kurangnya pelatihan atau pengetahuan.
    2. Tidak fokus dalam bekerja.
    3. Kurangnya pengawasan.

     


    ANALISIS CORRECTION ACTION, PREVENTIVE ACTION DAN REKOMENDASI
     
    1. tindakan perbaikan (corrective action)

    – Merestorasi tempat terjadinya kejadian akibat kelalaian korban
    – Memberi pengarahan kepada warga atau orang sekitar supaya tidak mengganggu proses evakuasi korban
    – Memperbaiki tiang atau kabel yang terkena dampak dari kejadian
    – Memperbaiki dan memperbarui SOP
    – Memperbaiki peralatan kerja yang terkena dampak dari kejadian

    2. Upaya pencegahan (preventive action).
    – Melakukan inspeksi berkala untuk peralatan yang digunakan ketika bertugas
    – Melakukan pelatihan kepada pekerja
    – Penggunaan APD yang lengkap untuk setiap karyawan yang bertugas
    – Penyeleksian kepada calon-calon karyawan yang baru
    – Penerapan JSA kepada setiap pekerjaan
    – Membutuhkan pengawas agar lebih menjamin terjaminnya berhasilnya sebuah pekerjaan
    – Melakukan briefing sebelum memulai pekerjaan
    – Jaminan asuransi kepada setiap pekerja dan aset-aset perusahaan
    – Melakukan safety meeting secara berkala
    – Maintenance berkala terjadwal untuk semua peralatan yang digunakan

    3 . Rrekomendasi terhadap manajemen (perusahaan).
    – Memberi saran kepada pihak manajemen agar lebih menerapkan peraturan undang-undang kepada setiap karyawan agar lebih mengerti
    – Mengadakan pengawasan kepada karyawan yang melakukan tugas lapangan terutama yang belum berpengalaman
    – Meningkatkan kedisiplinan kepada setiap pekerja agar lebih cepat, tepat dan sigap dalam setiap kondisi
    – Melakukan pendekatan kepada setiap pegawai dan karyawan agar lebih bisa mengerti kondisi fisik maupun mental supaya pekerja dapat diposisikan di tempat kerja yang nyaman baginya
    – Memberikan motivasi agar karyawan lebih semangat dan berhati hati dalam bekerja

    Sumber pustaka
    Okezone.com, edisi Senin, 13 Februari 2017 20:13 WIB
    http://m.okezone.com/read/2017/02/13/338/1617348/innalillahi-pekerja-pln-tewas-tersengat-listrik-ketika-pasang-jaringan-baru
     


    Nama: Usat Ventufa
    NIM: 167051971
    Semester: II
    Kelas: A1

  33. Kecelakaan Kerja di Tambang Freeport, Satu Orang Tewas

    VIVA.co.id – Kecelakaan kerja kembali terjadi di tambang terbuka Grasberg, Papua, yang dikelola oleh PT Freeport Indonesia (PTFI). Kecelakaan yang terjadi pada hari Senin, 17 Oktober 2016, pukul 17.23 WIT menelan satu orang korban Jiwa.
    Kecelakaan terjadi karena satu unit kendaraan dozer D 11 terguling di area Bench 1. Dikabarkan, satu operator meninggal dan satu pengawas cedera berat.
    Juru Bicara PT Freeport Indonesia, Riza Pratama, membenarkan peristiwa tersebut. Menurut Riza, pihaknya langsung melakukan proses evakuasi sesaat setelah kejadian nahas tersebut terjadi.
    “Tim Command Center PT Freeport Indonesia menerima laporan adanya insiden di area tambang terbuka Grasberg. Satu orang karyawan dilaporkan meninggal dunia, dan satu orang karyawan mengalami cedera,” kata Riza kepada VIVA.co.id, Selasa 18 Oktober 2016.
    Saat ini, kedua korban telah dievakuasi ke di Rumah Sakit Tembagapura sambil menunggu proses identifikasi lebih lanjut. “Sesuai dengan prosedur, kami telah melaporkan hal ini ke Kementerian ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral),” katanya. Pihak Freeport, lanjut dia, menyampaikan duka yang mendalam kepada keluarga korban. Riza mengklaim bahwa keselamatan kerja menjadi prioritas utama perusahaan.
    “Keluarga besar PTFI menyampaikan turut berduka cita atas meninggalnya korban. Keselamatan kerja adalah prioritas utama kami.” kata Riza. (ase).
     


    ANALISIS KEJADIAN
     
    Urutan kejadian (Sequence of event)
    1. 2 (dua) orang operator dozer DZ 0193 (Nelson Pondayar dan Yereth) sedang melakukan aktivitas penambangan di area Gresberg Tembagapura.
    2. Kemudian hari Senin, 17 Oktober 2016 pukul 17:23 WIT dozer yang dikendarai Nelson Pondayar terguling akibat jalan yang dilalui tidak dapat menahan beban kendaraan.
    3. Jalan tersebut ambruk ke bawah.
    4. Dozer tersebut terguling dari ketinggian 20 meter.
    5. satu korban meninggal dunia di lokasi kejadian, diketahui atas nama Nelson Pondayar. Sementara salah satunya selamat dan mengalami luka adalah Yereth Usior.
    6. Pada pukul 19:05 WIT korban langsung dievakuasi dan dibawa ke Rumah Sakit ISOS di Mile-68 Tembagapura dengan mengunakan ambulance.

    Penyebab langsung kecelakaan (Direct cause factors)
    • Massa kendaraan yang begitu besar.
    • Kondisi jalanan yang kurang memadai.
    • Kelalaian operator yang tidak menggunakan APD (Safety belt).

    Penyebab tidak langsung kecelakaan (Indirect cause factors)
    • Kurangnya pengetahuan korban tentang area tempat kerjanya.
    • Kurangnya pengawasan di area tambang tersebut.
    • Komunikasi yang kurang baik antara operator dengan supervisor atau pengawas K3.
    • Kurangnya pengetahuan tenaga kerja akan pentingnya penerapan budaya K3.
    • Kurangnya rambu-rambu lalu lintas di area tambang.
     


    ANALISIS CORRECTION ACTION, PREVENTIVE ACTION DAN REKOMENDASI
     
    Tindakan perbaikan ( corrective action )
    • Peninjauan ulang kelayakan dan keamanan jalur lalu lintas.
    • Mencari jalur yang lebih aman dan mampu dilalui untuk kendaraan alat berat.
    • Memberi pagar pengaman atau pembatas jalan.
    • Memberi rambu-rambu disekitar jalur lalu lintas.
    • Mengganti kendaraan yang sesuai dengan medan jalur lalu lintas (mengganti dozer dengan ukuran yang lebih kecil atau lebih ringan).
    • Perbaikan komunikasi dan alat komunikasi antara pekerja dan pengawas K3 dan supervisor.

    Tindakan pencegahan
    • Peninjauan kelayakan jalur lalu lintas secara berkala.
    • Menjaga pengawasan terhadap pekerja lapangan.
    • Memberi pelatihan pekerja sesuai dengan bidangnya masing-masing.
    • Melakukan perawatan terhadap rambu-rambu disekitar jalur lalu lintas. Membersihkan rambu-rambu dari debu yang dapat menyebabkan rambu-rambu sulit terbaca.
    • Memberi penerangan disekitar area lalu lintas.
    • Menjalin dan menjaga komunikasi yang baik antara pengawas dan pekerja terutama dengan operator alat-alat berat.
    • Memastikan bahwa para tenaga kerja sudah memenuhi standar K3 yang diberlakukan ketika sebelum dan saat memlakukan pekerjaan.
    • Memberikan pelatihan tentang budaya K3.
    • Memberikan safety talk sebelum memulai shift.
    • Penerimaan pekerja sesuai dengan kemampuan yang dibutuhkan pada pekerjaan tersebut.

    Rekomendasi untuk pihak manajemen
    • Mengadakan pelatihan rutin untuk para pekerja sesuai dengan bidangnya masing-masing.
    • Mengadakan pelatihan tentang budaya K3.
    • Lebih selektif dalam penerimaan tenaga kerja sesuai dengan keahlian yang dibutukan.
    • Membuat perencanaan kerja yang lebih matang sebelum menambahkan alat baru atau membuka lahan baru untuk memastikan lingkungan kerja benar-benar aman untuk.
    • Memperhatikan kesejahteraan pekerja agar mengurangi stress pada pekerja yang dapat berakibat kurangnya fokus ketika bekerja.

    Sumber pustaka
    Viva.co.id edisi Selasa, 18 Oktober 2016 | 12:21 WIB
    http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/836033-kecelakaan-kerja-di-tambang-freeport-satu-orang-tewas
    detikNews edisi Selasa 18 Oct 2016, 17:11 WIB
    http://news.detik.com/berita/d-3323634/ada-kecelakaan-di-tambang-freeport-seorang-pekerja-tewas
     


    Nama : Adam Ilhamsyah
    NIM : 167052058
    Semeter : II
    Kelas : A2

  34. Tersengat Listrik Tegangan Tinggi, Kuli Bangunan Tewas

    KOTAWARINGIN BARAT – Nahas dialami seorang kuli bangunan, Asmadin (31). Warga Jalan Maid Badir, Kelurahan Madurejo, Kecamatan Arut Selatan, Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah itu tewas tersetrum listrik tegangan tinggi di lokasi proyek pembangunan sebuah kantor di Jalan Pasanah, Pangkalan Bun, Kamis (27/10/2016) siang.
    Saat itu, korban bersama sejumlah rekannya sedang bekerja di lokasi proyek di atas bangunan. “Saat itu korban Asmadin membawa besi ke atas, setelah naik tak tahunya besinya nyantol di kabel listrik PLN. Korban langsung tersetrum. Tubuhnya terbakar, gosong mencapai 80 persen,” ujar Ali, teman korban, di lokasi kejadian, Kamis (27/10/2016).
    Kata dia, jasad korban langsung dilarikan ke Rumah Sakit Citra Husada, Pangkalan Bun untuk divisum. Seusai divisum di rumah sakit, jenazah langsung dibawa ke rumah duka di Jalan Maid Badir untuk disemayamkan.
    Begitu jenazah diturunkan dari mobil ambulans, tangisan dan teriakan histeris terdengar di dalam rumah korban. “Ya Allah, kenapa begini, Astagfirullah,” teriak sejumlah keluarga.
    Salah seorang keluarga, Mukri, akan menuntut pemilik bangunan dan juga kontraktor yang mempekerjakan Asmadin. Sebab jika dilihat di lokasi kejadian, tidak ada peralatan keamanan bagi para pekerjanya.
    “Kami tidak rela, kami akan bawa kasus laka kerja ini ke polisi. Pengusaha dan kontraktornya harus bertanggung jawab,” ujar Mukri di rumah duka.
    Sementara itu dari hasil visum pihak rumah sakit, korban mengalami luka bakar serius di sekujur tubuh. Luka bakar mencapai 80 persen yang membuat korban langsung tewas di tempat.
     


    ANALISIS KEJADIAN
     
    Urutan kejadian
    Tersengat listrik tegangan tinggi di lokasi proyek pembangunan sebuah kantor di Jalan Pasanah, Pangkalan Bun, Kamis (27/10/2016) pada pukul 14.45 WIB.Kejadian tersebut awalnya Asmadin bersama rekannya sedang bekerja di lokasi proyek di atas bangunan.Saat itu korban Asmadin membawa besi ke atas bangunan, setelah naik ke atas tak tahunya besinya tersangkut di kabel listrik PLN tersebut.Korban langsung tersetrum dan tubuhnya terbakar hingga mencapai 80 persen, jasad korban tersebut dibawa ke Rumah Sakit Citra Husada.Salah satu keluarga korban yaitu mukri akan menuntut pemilik bangunan dan bagian kontraktor yang memperkerjakan Asmadin atas kejadian ini.Keluarga korban akan bawa kasus kejadian ini ke polisi.

    Faktor Penyebab Langsung
    1. Tidak memakai APD (Alat Pelindung Diri) yang disediakan.
    2. Korban tersebut membawa besi, besi adalah penghantar listrik sehingga korban tersebut tersetrum kabel listrik.

    Faktor Penyebab Tidak Langsung
    1. Suasana kerja yang tidak kondusif.
    2. Pekerja beresiko tinggi namun belum ada upaya pengendalian didalamnya.
    3. Beban kerja yang tidak sesuai dengan kondisinya.
     


    ANALISIS CORRECTION ACTION, PREVENTIVE ACTION DAN REKOMENDASI
     
    A. Corrective action (tindakan perbaikan)
    1. Pengujian, memeriksa, dan pemantauan proyek dan peralatan.
    2. Pengecekan dengan produk cacat.
    3. Menyelidiki keluhan para pekerja.
    4. Harus adanya pengawasan bagi pekerja.
    5. Melakukan inspeksi tempat kerja.

    B. Preventive action (upaya pencegahan)
    1. Menyediakan alat P3K bila mengalami kecelakaan yang tak diinginkan.
    2. Meminta izin melakukan operasional kerja.
    3. Memastikan kondisi tubuh dalam keadaan sehat.
    4. Memberi pemberitahuan bila akan melakukan pekerjaan.
    5. Melakukan isolasi area bila perlu.
    6. Memahami sistem perbaikan.
    7. Mematikan arus listrik ketika akan bekerja.
    8. Menyediakan APD sesuai prosedur perusahaan.
    9. Mencari akar masalah dalam tindakan perbaikan.
    10. Melalui proses tinjauan manajemen.

    C. Rekomendasi terhadap manajemen (perusahaan)
    1. Mengadakan pelatihan mengenai pentingnya K3.
    2. Mengadakan breafing pagi mengenai safety taalk agar pekerja lebih memahami fungsi dari kegunaan APD.
    3. Memperhatikan kesejahteraan pekerja agar tidak ada faktor stress atau beban dalam bekerja dan memberi jadwal istirahat yang cukup.
    4. Mengadakan pelatihan SOP agar mengasah ilmu dalam melakukan pekerjaan.
    5. Memberi tunjangan kesehatan kepada setiap tenaga kerjanya agar dapat mensejahterakan pekerjanya.

    Sumber pustaka
    Sindonews.com, edisi Kamis 27 Oktober 2016 18:37 WIB.
    https://daerah.sindonews.com/read/1150711/174/tersengat-listrik-tegangan-tinggi-kuli-bangunan-tewas-1477568214
     


    Nama: Samuel Hamonangan Lumbanraja
    NIM: 167052025
    Semester: II
    Kelas: A2

  35. Karyawan Pabrik Pengolahan Biji Plastik Tewas Tersengat Listrik.

    JAKARTA – Kasus kecelakaan kerja menimpa seorang pekerja di Kalideres, Jakarta Barat. Diduga ada kabel yang terkelupas di mesin pengolahan biji plastik, karyawan tersebut tersengat dan tewas seketika. Korban tewas adalah Herry Siregar (26) karyawan PT Cipta Jaya Plastik, Pergudangan Miami Blok A.9. Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat.
    ”Nyawa tak bisa diselamatkan meskipun sudah dicoba dibawa ke klinik,” ucap Kanit Reskrim Polsek Kalideres, AKP Syfrie Wasdar kepada wartawan, Kamis (26/1/2017). Terkait hal itu, Syafrie ‎ masih melakukan penyidikan, seorang saksi, Budi (21) masih dimintai keterangan untuk mengetahui kornologis peristiwa itu. Budi sendiri, lanjutnya, sempat melihat Herry tersetrum. Ia kemudian langsung mematikan aliran listrik pada mesin biji plastik.
    Terkait hal ini, Syafrie mengatakan masih melakukan pemeriksaan terhadap kasus ini. Unsur pidana dalam peristiwa ini sedang digali untuk ditingkatkan ke proses penyidikan. Garis polisi kemudian dipasang untuk membersihkan TKP. “Korban sudah dibawa ke RSCM untuk dilakukan autopsi,” katanya.
     


    ANALISIS KEJADIAN
     
    1. Urutan kejadian (Sequence Of Event)
    Kecelakaan kerja terjadi kepada salah satu karyawan di pabrik pengolahan biji plastik PT. Cipta Jaya Plastik yang berlokasi di Pergudangan Miami Blok A.9. Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat. Korban (Herry Siregar, 26 tahun) tersengat listrik pada hari Kamis, 26 Januari 2017. Saat kejadian yang dialami korban, pekerja lain sempat melihat kejadian tersebut dan langsung mematikan aliran listrik mesin pengolahan. Korban langsung dibawa ke klinik namun sayang nyawa korban tidak bisa terselamatkan.
    Terkait kasus yang menimpa korban tersebut, penyelidikan lebih lanjut dilakukan di TKP oleh Kanit Reskrim Polsek Kalideres, AKP Syfrie Wasdar dan kepada saksi (Budi, 21 tahun). Dugaan sementara adalah adanya kabel yang terkupas pada mesin biji plastik. Untuk proses penyelidikan yang lebih lanjut, korban dibawa ke RSCM untuk diautopsi.

    2. Faktor penyebab langsung kecelakaan (Direct Cause Factors)

    Berdasarkan kasus yang telah dipaparkan tersebut, penyebab langsung kecelakaan dibagi menjadi dua, yaitu:
    1) Tindakan Tidak Aman (Unsafe Acts)
    Tindakan tidak aman yang dimaksut yaitu tidak menggunakan alat pelindung diri (APD). Kecelakaan kerja yang dialami oleh korban (Herry Siregar) dikarenakan korban tidak menggunakan APD saat bekerja di pabrik pengolahan biji plastik, oleh sebab itu saat korban tersengat aliran listrik, sengatan tersebut langsung mengenai tubuh korban hingga menyebabkan kematian. Penggunaan APD diharapkan bisa mengurangi resiko kecelakaan kerja terutama pada karyawan di pabrik yang memiliki resiko kecelakaan tinggi.

    2) Kondisi Tidak Aman (Unsafe Condition)
    Kondisi tidak aman yang dimaksut pada kasus yang dialami korban (Herry Siregar) disebabkan oleh kondisi mesin yang sudah tidak baik. Dugaan sementara adalah kondisi mesin tersebut mengalami pengelupasan pada bagian kabel yang memiliki aliran listrik dan kurangnya perhatian untuk perawatan mesin tersebut. Selain itu tidak terdapat instalasi kabel listrik yang terstandart untuk dipasang pada lingkungan berbahaya seperti pada mesin pengolah biji plastik yang tidak terdapat pada pabrik tersebut.

    3. Faktor kontribusi yang secara tidak langsung turut berperan pada kecelakaan (Indirect Cause Factors).
    Berdasarkan kasus yang telah dipaparkan tersebut, penyebab tidak langsung kecelakaan dibagi menjadi dua, yaitu:
    1) Faktor Pekerjaan
    Berdasarkan kecelakaan kerja yang terjadi pada korban (Herry Siregar), salah satu faktor pekerjaan yang dimaksut adalah tidak adanya pengaman atau antisipasi sistem keamanan pada lingkungan kerja terutama di bagian pabrik pengolahan biji plastik PT Cipta Jaya Plastik. Padahal pada bagian pengolahan merupakan bagian yang beresiko tinggi dan membahayakan keselamatan karyawan

    2) Faktor Personal
    Faktor personal yang dimaksut adalah terjadinya human error pada korban (Herry Siregar), dimana korban tidak memeriksa kondisi atau alat kerja sebelum melakukan pekerjaannya dan tidak memperhatikan keselamatan diri dalam bekerja sehingga merugikan dirinya sendiri.

     


    ANALISIS CORRECTION ACTION, PREVENTIVE ACTION DAN REKOMENDASI
     
    1. Tindakan perbaikan (corrective action) terhadap kejadian tersebut.
    a. Menggunakan alat keselamatan diri bagi pekerja pabrik agar meminimalisis resiko kecelakaan saat mengolah biji plastik.
    b. Mengganti sirkuit mesin yang ada dengan sirkuit mesin yang memiliki keamanan otomatis agar tidak ada pekerja yang
    tersengat listrik lagi.
    c. Memperbaiki kabel-kabel mesin dan aliran listrik yang terkupas.
    d. Mengumpulkan informasi dan bukti-bukti terkait penyebab kecelakaan di pabrik pengolahan.
    e. Mengkoreksi prosedur dalam pelaksanaan pengolahan biji plastik di pabrik.

    2. Upaya pencegahan (preventive action).
    a. Memberikan pengetahuan kepada pekerja untuk memperhatiakan keselamatan diri saat bekerja.
    b. Menanamkan kesadaran untuk selalu menggunakan alat pelindung diri (APD) saat bekerja.
    c. Memberi informasi mengenai potensi yang memicu kecelakaan dalam bekerja.
    d. Menyediakan alat pelindung diri (APD) yang terstandar.
    e. Menyediakan alat keselamatan sederhana seperti P3K dalam ruang kerja guna menangani kecelakaan kerja dengan resiko
    kecil.
    f. Memperbaiki sistem operasional dalam bekerja secara berkala.
    g. Memperbaiki mesin-mesin dan alat-alat kerja secara rutin.
    h. Melakukan penempatan kerja sesuai dengan skill pekerja.
    i. Melakukan evaluasi secara berkala terhadap kinerja pegawai.
    j. Membuat aturan baru untuk pegawai agar meminimalisir kecelakaan kerja.

    3. Rekomendasi terhadap manajemen (perusahaan).
    a. Memberikan seminar mengenai pentingnya kesehatan dan keselamatan kerja (K3).
    b. Melakukan pelatihan yang berkaitan dengan operasional perusahaan agar pekerja dapat bekerja dengan professional.
    c. Memiliki prosedur kerja yang terstandar hingga pekerja mampu mengikuti aturan yang telah dibuat untuk mengurangi
    resiko kecelakaan dalam bekerja.
    d. Melakukan evaluasi terhadap pekerja dan melakukan pengecekkan mesin secara rutin.
    e. Memberikan program kesejahteraan karyawan baik dari segi waktu kerja dan tunjangan kerja.

    Sumber Pustaka
    SindoNews.com edisi Kamis, 26 Januari 2017 19:20 WIB
    https://metro.sindonews.com/read/1174546/170/karyawan-pabrik-pengolahan-biji-plastik-tewas-tersengat-listrik-1485433247
    http://www.sentral-sistem.com/article/IMP_corrective_action_VS_preventive_action_VS_continuous_improvement.pdf
     


    Nama : M. Pandji Anoem B.P
    NIM : 167052027
    Semester : II
    Kelas : A2

  36. Tertimpa Bongkahan Beton Buruh Bangunan Tewas Seketika

    GIANYAR – Nahas menimpa buruh bangunan bernama Supri (27) yang tertimpa bongkahan beton gapura hingga tewas di Banjar Banda, Desa Saba, Blahbatuh, Gianyar, Minggu (19/2/2017).
    Berdasarkan data yang dihimpun peristiwa itu terjadi ketika pukul 08.00 Wita, Supri bersama temannya Yudi bekerja membongkar gapura yang terbuat dari beton, di lokasi tanah milik Made Suraja.
    Pekerjaaan tersebut diawali dengan membongkar bagian atas gapura. Namun tiba-tiba gapura tersebut ambruk. Saat itu Supri dan Yudi yang tengah bekerja di atasnya pun terjatuh.
    Sudah terjatuh, kepala Supri malah tertimpa reruntuhan gapura dan mengalami luka berat di belakang kepalanya, hingga tewas di tempat.
    Posisi Supri tersungkur di tanah dan kepalanya tertimbun reruntuhan beton. Sementara Yudi meringis kesakitan karena reruntuhan itu menjepit kakinya.
    Peristiwa ini dibenarkan oleh Kapolsek Blahbatuh, Kompol Abdus Salim. “Satu orang tewas di tempat karena kepala bagian belakangnya terbentur beton yang roboh,” katanya. Sementara itu Yudi harus dilarikan ke rumah sakit, karena kakinya luka-luka akibat terjepit beton.
    “Kecelakaan kerja itu terjadi karena kelalaian korban. Korban tidak memastikan kondisi pondasi gapura yang tidak kuat saat dibongkar dari atas,” pungkasnya.
     


    ANALISIS KEJADIAN
     
    Urutan Kejadian:
    Pada tanggal 19 Februari 2017, tepat pukul 08.00 WITA, Supri bersama temannya yang benama Yudi bekerja membongkar gapura yang terbuat dari beton di lokasi tanah milik Made Suraja.
    Pekerjaaan tersebut diawali dengan membongkar bagian atas gapura. Namun tiba-tiba gapura tersebut ambruk. Saat itu Supri dan Yudi yang tengah bekerja di atasnya pun terjatuh.
    Setelah terjatuh, kepala Supri malah tertimpa reruntuhan gapura dan mengalami luka berat di belakang kepalanya, hingga tewas di tempat.
    Posisi Supri tersungkur di tanah dan kepalanya tertimbun reruntuhan beton. Sementara Yudi meringis kesakitan karena reruntuhan itu menjepit kakinya.
    Setelah itu Yudi harus dilarikan ke rumah sakit, karena kakinya luka-luka akibat terjepit beton.
    Kecelakaan kerja itu terjadi karena kelalaian korban. Korban tidak memastikan kondisi pondasi gapura yang tidak kuat saat dibongkar dari atas.

    Analisis Faktor Penyebab Langsung:
    1. Para pekerja tidak memastikan kondisi pondasi gapura yang tidak kuat saat dibongkar.
    2. Para pekerja tidak menggunakan APD saat melakukan pekerjaan.
    3. Posisi kerja yang tidak aman, karena korban melakukan pekerjaan di ketinggian tanpa menggunakan pengaman sedikitpun
    4. Lingkungan kerja yang tidak kondusif, terbatasnya ruang gerak para pekerja pada saat bekerja di ketinggian membuat para pekerja tidak bisa menghindari bahaya ambruk yang dialami
    5. Melakukan pekerjaan tanpa adanya pengawasan.
    6. Kurangnya pengusaan pekerja terhadap pekerjaan.
    7. Korban yang tidak terampil dalam mengoperasikan suatu peralatan.

    Analisis Faktor Penyebab Tidak Langsung:
    1. Tidak ada pekerja yang menerapkan keselamatan kerja.
    2. Apd tidak tersedia.
    3. Lemahnya kesadaran pekerja terhadap bahaya dan resiko yang dihadapinya.
    4. Fatique atau kelelahan.
    5. Stress.
    6. Kurangnya motivasi kerja.
    7. Terburu-buru dalam bekerja.
    8. Pekerjaan beresiko tinggi namun belum ada upaya pengendaliannya.
    9. Suasana kerja yang tidak kondusif.
    10. Keahlian yang tidak sesuai.
    11. Kurangnya konsentrasi.
     


    ANALISIS CORRECTION ACTION, PREVENTIVE ACTION DAN REKOMENDASI
     
    Corrective Action (tindakan perbaikan):
    1. Melakukan tool box meeting sebelum bekerja.
    2. Pekerja wajib menggunakan alat pelindung diri.
    3. Membuat catatan potensi bahaya yang ada di tempat kerja.
    4. Menggunakan penahan di sisi-sisi samping gapura yang akan dibongkar seperti penahan yang terbuat dari kayu maupun besi.
    5. Mempekerjakan seorang pengawas untuk memantau pekerjaan yang berlangsung.
    6. Meminimalisir tekanan kerja agar pekerja dapat berkonsentrasi dan tidak melakukan pekerjaan dengan terburu-buru.
    7. Menggunakan peralatan kerja yang lebih berkualitas dan sesuai dengan beban pekerjaan yang akan dikerjakan

    Preventive Action (Upaya Pencegahan):
    1. Pemilihan karyawan/pekerja yang sesuai agar diperoleh keserasian antara bakat dan kemampuan fisik pekerja dengan tugas yang akan diberikan.
    2. Pembinaan pengetahuan terhadap keselamatan kerja.
    3. Menetapkan jam kerja yang sesuai.
    4. Memastikan keadaan fisik pekerja dalam kondisi yang sehat sebelum bekerja.
    5. Pemantauan terhadap potensi bahaya yang ada di tempat kerja sebelum melakukan pekerjaan.
    6. Menyiapkan alat pelindung diri.
    7. Mengecek peralatan yang akan digunakan tidak ada yang rusak atau tidak berfungsi dengan baik. Seperti tangga, palu, sekop, dll untuk membongkar gapura tersebut.
    8. Membuat tempat kerja yang nyaman seperti penggunaan atap agar terhindar dari sinar matahari secara langsung.
    9. Meletakkan peralatan secara rapi agar terhindar dari bahaya.
    10. Hindari bersenda gurau saat melakukan pekerjaan.
    11. Dilakukannya pengawasan saat bekerja.

    Rekomendasi Manajemen:
    1. Menerapkan aspek K3 dalam segala kegiatan yang dilakukan.
    2. Menggunakan alat-alat yang memadai agar memudahkan segala pekerjaan.
    3. Melakukan training khusus sesuai bidang masing-masing kepada pekerja yang melakukan pekerjaan high risk.
    4. Membuat dan menerapkan sanksi untuk semua karyawan yang melakukan pelanggaran K3 di perusahaan.
    5. Melakukan kegiatan safety reward secara berkala, untuk karyawan yang patuh dan peduli terhadap K3, agar memotivasi karyawan yang lain.
    6. Menggunakan APD dan alat kerja yang sesuai dengan pekerjaan yang akan dikerjakan.

    Sumber Pustaka
    Sindonews.com Minggu, 19 Februari 2017 – 19:26 WIB
    https://daerah.sindonews.com/read/1181394/174/tertimpa-bongkahan-beton-buruh-bangunan-tewas-seketika-1487507215
     


    Nama: Muhamad Afin Abizal
    NPM: 13.11.106.701501.0860
    Semester: VIII
    Kelas: A2

  37. 5 Karyawan Tersiram Air Panas Mesin Pabrik Kelapa Sawit

    MAMUJU – Lima karyawan PT Terniti di Dusun Padada, Desa Tabolang, Kecamatan Topoyo, Kabupaten Mamuju Tengah, Provinsi Sulawesi Barat, Selasa (18/10/2016) mengalami kecelakaan kerja. Kelima karyawan ini tersiram air panas mesin pabrik kelapa sawit saat salah satu dari lima korban membuka pipa pembuangan.
    Akibatnya empat orang diantaranya mengalami luka serius dan langsung dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah Topoyo karena sekujur tubuhnya melepuh akibat tersiram air panas.
    Manajer PT Terniti Ilham Apdilla menjelaskan, keempat karyawan PT Terniti yang menjadi korban kecelakaan kerja tersiram air panas mesin pabrik sawit yakni Eko (35), Suardi (25), Rahmat (22), Selfiadi (25) saat ini masih dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Topoyo Kabupaten Mamuju Tengah.
    “Kejadiannya terjadi sekitar jam 07:30 waktu setempat dimana karyawan membuka baut pipa uap namun airnya tiba-tiba keluar dan menyiram rekannya yang juga berada tidak jauh,” kata Ilham.
     


    ANALISIS KEJADIAN
     
    1.Kecelakaan “5 Karyawan Tersiram Air Panas Mesin Pabrik Kelapa Sawit yang terjadi di daerah mamuju sulselbar”,kejadian tersebut terjadi pada tanggal Selasa (18/10/2016) sekitar jam 07.30 waktu setempat.

    2.Seperti yang didapatkan pada kecelakaan kerja pada artikel tersebut,faktor penyebab yang saya dapatkan dari analisis “karyawan tersebut menemukan ke janggalan dalam proses pengelolahan kelapa sawit yang terjadi dimesinnya,sehingga salah satu karyawannya membuka baut pipa uap namun airnya tiba – tiba keluar dan menyiram rekannya yang juga berada tidak jauh, sehingga menyebabkan luka-luka hingga dilarikan kerumah sakit didaerah Mamuju (Sulselbar).

    3.Faktor kontribusi penyebab tidak langsung turut berperan kecelakaan pada artikel “5 Karyawan Tersiram Air Panas Mesin Pabrik Kelapa Sawit yang terjadi di daerah mamuju sulselbar, setelah saya analisis pada kecelakaan tersebut ada kemungkinan alat dan peralatan yang sudah tidak layak, terjadi kemacetan pada mesin, alat penjaga / pengaman pabrik kurang standar ,kondisi suhu yang membahayakan pada pabrik dan kelebihan muatan pada saat pengelolahan bahan kelapa sawit.
     


    ANALISIS CORRECTION ACTION, PREVENTIVE ACTION DAN REKOMENDASI
     
    A. Tindakan perbaikan (corrective action )
    1).Melakukan inspeksi pada pipa uap pembuangan ataupun alat/mesin yang punya potensi bahaya
    2).Menyelidiki insiden tersebut untuk mencari akar permasalahan agar kejadian tersebut tidak terulang lagi.
    3).Meninjau persyaratan perundang-undangan terkait K3 dipabrik.
    4).Meninjau kegagalan operasi pada pipa pembuangan tersebut.
    5).Meninjau area kejadian untuk dilakukan investigasi.

    B.Upaya Pencegahan (preventive action)
    1).Pemantauan dan pengendalian kondisi tidak aman ditempat kerja.
    2).Melakukan pengawasan terhadap proses pekerjaan dipabrik termasuk membuka baut pipa pembuangan
    3).Para pekerja harus menggunakan APD
    4).Menggunakan safety talk yang membahas tentang bahaya terkait mesin dipabrik dan izin untuk membuka/menutup mesin.
    5).Pegawai harus mengetahui kerusakan.
    6).Memeriksa dan memantau pabrik dalam peralatan.
    7).Pemantauan perundang-undangan terkait K3 dipabrik
    8).Meninjau kegagalan operasi pada pipa pembuangan tersebut
    9).Pegawai harus mengetahui kerusakan pada pipa atau sekitar mesin.
    10).Membuat tanda bahaya di area pipa pembuangan pabrik.
    11).Melakukan penilaian resiko oleh dept HSE pada pabrik tersebut untuk meminimalisirkan resiko yang ada.

    C. Rekomendasi terhadap manajemen (perusahaan).
    1).Agar membuat metode yang efektif bagi para pekerja guna mengatasi masalah, sehingga kesalahan tidak terjadi lagi pada insiden tersebut pada saat pembukaan baut pipa pembuangan mesin pabrik.
    2).Agar adanya suatu prosedur yang membatasi kreativitas para pekerja agar tidak melakukan sesuatu diluar prosedur, sehingga menyebabkan kejadian yang tidak diinginkan.
    3).Perusahaan atau setiap pabrik hendak menyediakan APD untuk para pegawai/pekerjanya.
    4).Mengusahakan keselamatan para pegawai/pekerja terlebih dahulu baru usaha perbaikan, jika ada kerusakan atau harus diperbaiki SOP bila ada terhadap kesalahan prosedur.
    5).Perusahaan harus mengurus asuransi pegawai di jamsostek/BPJS untuk pencatatan nama karyawan untuk jika nanti kedepannya mendapat kecelakaan kerja.

    Sumber pustaka
    https://daerah.sindonews.com/read/1148046/192/5-karyawan-tersiram-air-panas-mesin-pabrik-kelapa-sawit-1476761805
     
    Sumber pustaka harus ditulis lengkap, sumber asal berita dan waktu dipublikasikan.
     


    Nama : Rasiba Lase
    NIM : 167052040
    Semester : II
    Kelas : A2

  38. Kecelakaan Kerja di Barito Selatan

    Okezone.com pada 20 Januari 2017 memberitakan nasib tragis yang menimpa buruh sawit PT Antang Ganda Utama (AGU) bernama Kamani. Ia harus meregang nyawa setelah tertimpa tandan buah segar (TBS) kelapa sawit yang dipanennya di Blok 16, Kandau C, Desa Butong, Kecamatan Teweh Selatan, Kabupaten Barito Selatan, Kamis sore kemarin.
    Kapolsek Teweh Selatan, Iptu Jenal Mutakim mengatakan, ia mendapat laporan sekitar pukul 18.30 WIB. Korban meninggal bernama Kamani bin Katijan (42). Korban tewas akibat tertimpa TBS kelapa sawit.
    “Diperkirakan berat tandan mencapai 30 kilogram yang jatuh dari ketinggian 8 meter yang menimpa kepala Kamani. korban tewas di TKP,” ungkap Kapolsek Jumat (20/1/2017).
    Saat ditemukan posisi tubuh Kamani miring ke sebelah kanan dan dari kepalanya terus mengeluarkan darah.
    Sementara itu korban langsung dibawa ke kamar mayat RSUD Muara Teweh. “Pagi ini dimakamkan,” pungkasnya.

     


    ANALISIS KEJADIAN
     
    Urutan kejadian:
    Pada tanggal 20 Januari 2017 di wilayah Blok 16, Kandau C, Desa Butong, Kecamatan Teweh Selatan, Kabupaten Barito Selatan seorang buruh bernama Kamani yang bekerja di PT Antang Ganda Utama (AGU) sedang bekerja seperti biasanya. Awal mula ketika Kamani melakukan kegiatan memanen tandan buah segar (TBS). Di saat yang sama sang korban tertimba tandan buah segar (TBS) yang beratnya diperkirakan mencapai 30kg dari ketinggian 8 meter yang secara langsung menimpa kepala Kamani, dan membuatnya tewas seketika. Tepat pukul 18.30 WIB Kapolsek Teweh Selatan mendapat laporan bahwa buruh yang bernama Kamani telah mengalami kecelakaan kerja yang menyebabkan dirinya harus meregang nyawa. Pada saat di temukan posisi tubuh korban miring kesebelah kanan dan kepalanya terus mengeluarkan darah, setelah korban ditemukan korban langsung di bawa ke kamar mayat RSUD Muara Teweh dan keesokan harinya korban langsung dimakamkan..

    Analisis Faktor Penyebab Langsung:
    1. Korban tidak menggunakan APD berupa helm untuk melindungi kepalanya.
    2. Posisi kerja yang tidak aman, karena korban tepat berada di bawah tandan buah yang akan dipanen.
    3. Kurangnya alat penunjang peralatan dalam memanen tandan buah yang dapat meminimalisir resiko tertimpa.
    4. Lingkungan kerja yang tidak kondusif, seperti panas, berdebu dan sinar matahari yang berlebih.
    5. Melakukan pekerjaan tanpa adanya pengawasan.
    6. Kurangnya pengusaan pekerja terhadap pekerjaan.
    7. Korban yang tidak terampil dalam mengoperasikan suatu peralatan.

    Analisis Faktor Penyebab Tidak Langsung:
    1. Perusahaan tidak menerapkan aspek K3.
    2. Beban kerja yang terlampau berat/tidak sesuai.
    3. Pekerjaan beresiko tinggi namun belum ada upaya pengendaliannya.
    4. Suasana kerja yang tidak kondusif.
    5. Keahlian yang tidak sesuai.
    6. Kurangnya konsentrasi.
    7. Kondisi fisik yang kurang baik.
    8. Stress.
    9. Fatique

     


    ANALISIS CORRECTION ACTION, PREVENTIVE ACTION DAN REKOMENDASI
     
    Tindakan Perbaikan (Corrective Action):
    1. Penerapan K3 kepada seluruh pekerja di PT. Antam Ganda Utama.
    2. Menggunakan alat pelindung diri yang sesuai untuk pekerja.
    3. Meminimalisir tekanan kerja agar pekerja dapat berkonsentrasi dan tidak melakukan pekerjaan dengan terburu-buru.
    4. Menambahkan alat bantu untuk memanen buah sawit seperti tangga yang kokoh dan diletakkan pada tanah yang datar.
    5. Memasang jaring pada sekitaran pohon agar jika buah terjatuh akan tertahan oleh jaring tersebut.
    6. Diadakannya pengawasan pada saat melakukan pekerjaan.
    7. Membuat sistem pengendalian terhadap bahaya yang ada diperkebunan.
    8. Melaporkan bila menemukan hal yang tidak aman ke atasan terdekat.
    9. Mereview ulang setiap prosedur-prosedur yang diterapkan untuk mengetahui kesalahan yang muncul serta melakukan pencegahannya.

    Upaya Pencegahan (Preventive Action):
    1. Memilih karyawan yang memiliki bakat atau potensi yang dibutuhkan dalam pekerjaan.
    2. Pelatihan dan pembinaan tentang pengetahuan keselematan kerja.
    3. Pembinaan pengetahuan dan keterampilan melalui training yang relevan dengan pekerjaannya.
    4. Membuat prosedur kerja aman yang dibutuhkan para buruh.
    5. Menerapkan sanksi untuk pekerja jika tidak mematuhi aturan-aturan yang berlaku.
    6. Memastikan keadaan fisik pekerja dalam kondisi yang sehat sebelum bekerja.
    7. Pemantauan terhadap potensi bahaya yang ada di tempat kerja sebelum melakukan pekerjaan.
    8. Menyiapkan alat pelindung diri.
    9. Mengecek peralatan yang akan digunakan tidak ada yang rusak atau tidak berfungsi dengan baik.
    10. Mengatur jam kerja agar tidak terjadi kelelahan pada pekerja.
    11. Membuat tempat kerja yang nyaman.
    12. Pemeliharaan tempat kerja agar tetap bersih dan aman untuk pekerja.

    Rekomendasi Manajemen (Perusahaan):
    1. Menerapkan aspek K3 dalam segala kegiatan yang dilakukan.
    2. Melakukan penyebaran, pelaksanaan dan pengawasan saat pekerjaan dilakukan.
    3. Pembuatan sistem pemantauan untuk mengetahui ketimpangan/kesalahan yang ada.
    4. Menggunakan alat-alat yang memadai agar memudahkan segala pekerjaan.
    5. Melakukan training sesuai bidang masing-masing kepada pekerja yang melakukan pekerjaan high risk.
    6. Membuat dan menerapkan sanksi untuk semua karyawan yang melakukan pelanggaran K3 di perusahaan.
    7. Menggunakan APD dan alat kerja yang sesuai dengan pekerjaan yang akan dikerjakan.

    Sumber pustaka
    Okezone.com, edisi 24 Januari 2017
    https://www.koranperdjoeangan.com/bekerja-bukan-untuk-menyerahkan-nyawa-beberapa-tragedi-kecelakaan-kerja-yang-menelan-korban-jiwa/
     


    Nama: Rima Nur Zain
    NPM: 13.11.106.701501.0846
    Semester: VIII
    Kelas: A2

  39. 2 Pekerja Tewas Terjatuh dari Lantai 18 Gedung Capitol Jakarta Pusat

    Liputan6.com, Jakarta – Kecelakaan kerja di Gedung Capitol, Jalan Prajurit KKO Usman Harun, Senen, Jakarta Pusat, menelan korban jiwa. Dua pekerja meninggal dunia setelah terjatuh dari lantai 18 gedung tersebut.
    Kasubag Humas Polres Metro Jakarta Pusat Kompol Suyatno mengungkapkan, dua korban tewas akibat kecelakaan kerja itu bernama Didik Eko Prasetyo (20) dan Suyoto (37). Keduanya merupakan warga Boyolali, Jawa Tengah yang bekerja pada proyek pembangunan gedung tersebut.
    “Kejadian sekitar pukul 22.15 WIB tadi.‎ Kedua korban meninggal setelah terjatuh dari lantai 18,” ucap Suyatno di Jakarta, Sabtu malam, 7 Mei 2016.
    Berdasarkan keterangan saksi, menurut Suyatno, ‎kedua korban saat itu tengah memasang tiang besi di lantai 18. Diduga, korban kurang hati-hati hingga terjatuh dan tewas di lokasi kejadian.
    “Saat bekerja, diduga korban tak memakai alat keselamatan, sehingga terjatuh,” Suyatno menerangkan.
    Polisi yang menerima laporan adanya kecelakaan kerja langsung mendatangi lokasi dan menggelar olah tempat kejadian perkara (TKP).‎ Saat ini korban telah dibawa ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Salemba, Jakarta Pusat, untuk divisum.
    “Jenazah korban sudah dibawa ke RSCM. Polisi juga masih memeriksa sejumlah saksi-saksi. Kasusnya ditangani Polsek Senen,” ujar Suyatno.
     


    ANALISIS KEJADIAN
     
    Kronologis kecelakaan :
    Pada hari Sabtu malam 7 Mei 2016 sekitar pukul 22.15 WIB terjadi sebuah kecelakaan yang menewaskan dua orang pekerja yang sedang melakukan pekerjaan memasang tiang besi di gedung capitol di lantai 18. Saat pekerjaan itu di lakukan,pekerja diduga kurang berhati hati dalam melakukan pekerjaanya sehingga pekerja tersebut terjatuh dan meninggal dunia di lokasi kejadian.

    Faktor penyebab langsung kecelakaan (direct cause factors ):
    1. Pekerja tidak memaksimalkan APD (alat pelindung diri) dalam pekerjaan yang dilakukannya
    2. Pekerja tersebut tidak mematuhi SOP yang diberikan pada Perusahaan

    Faktor kontribusi yang secara tidak langsung turut berperan pada kecelakaan (indirect cause factors):
    1. Pekerja tersebut kurang berhati hati dalam melakukan pekerjaannya
    2. Kurangnya pengetahuan keselamatan bagi pekerja tersebut
    3. Kurangnya pengawasan bagi pekerja tersebut

     


    ANALISIS CORRECTION ACTION, PREVENTIVE ACTION DAN REKOMENDASI
     
    Tindakan perbaikan (corrective action) :
    • Memperbarui SOP perusahaan
    • Memperbarui APD (alat pelindung diri) yang rusak atau sudah usang
    • Merehabilitasi pekerja yang mengalami insiden kecelakaan kerja
    • Melakukan investigasi di lokasi kejadian yang mengalami kecelakaan kerja
    • Memberikan penyuluhan tentang keselamatan bagi para pekerja

    Upaya pencegahan (preventive action) :
    • Memberikan sanksi sesuai undang undang k3 bagi pekerja yang melanggar
    • Penerapan JSA /JRA
    • Memberikan poster tentang keselamatan kerja agar pekerja ingat pentingnya keselamatan kerja di perusahaan
    • Pengasawan yang ketat bagi pekerja
    • Melakukan pengecekan APD
    • Pemberian APD kepada pekerja seperti : helmet , sepatu safety , sarung tangan dan lain-lain
    • Memberikan pembinaan dalam mencegah kecelakaan kerja
    • Memberikan Sign (tanda) bahaya di area-area yang memiliki resiko kecelakaan
    • Menyeleksi ketat SDM agar mampu bekerja secara profesional dan tidak mencelakakan diri sendiri maupun orang lain
    • Memberikan waktu shift bagi pekerja agar tidak terjadi hilangnya konsentrasi pekerja karena kecapaian

    Rekomendasi :
    • Memberikan pendekatan bagi pekerja agar pekerja merasakan kenyamanan serta tidak merasakan tekanan saat bekerja
    • Memberikan asuransi jiwa bagi para pekerja
    • Memberikan insentif bagi para pekerja yang menaati perarturan
    • Memberikan Traning keselamatan kerja bagi para pekerja baru
    • Menerapkan sistem sistem keselamatan kerja di perusahaan

    Sumber Pustaka
    Liputan6.com, edisi 8 Mei 2016 01:07 WIB
    http://m.liputan6.com/news/read/2501468/2-pekerja-tewas-terjatuh-dari-lantai-18-gedung-capitol-jakpus
     


    Nama: Ketut Radea Pandunata
    NIM: 167051977
    Semester: II
    Kelas: A1

  40. Pekerja Pabrik Gula Merah Tewas Tergilas Mesin Giling Tebu

    Kediri (beritajatim.com) — Seorang pekerja pabrik pembuatan gula merah di Kabupaten Kediri tewas mengenaskan setelah sekujur tubuhnya tergilas mesin penggilingan tebu.
    Korban ikut tergiling bersama tebu saat bajunya tersangkut pada mesin penggilingan.
    Nasib nahas ini dialami Kusmani (60) pekerja pabrik pembuatan gula merah milik Komari asal Desa Rembang, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri.‎
    Rokhim, salah salah seorang karyawan mengaku, korban tergilas mesin penggilingan bersama tebu karena bajunya tersangkut sewaktu mengambil puntung rokok. Seketika, karyawan lain mematikan mesin. Tetapi sekujur tubuh korban sudah remuk hingga akhirnya tewas.
    “Saya dengar jeritan dari ruang mesin di belakang. Saat saya datang, pak Kus sudah terjepit pada gerigi mesin. Kondisinya sungguh mengenaskan. Badannya remuk,” ujar Rokhim, Rabu (23/11/2016).
    Tim identifikasi dari Polres Kediri bersama Polsek Ngadiluwih langsung melakukan olah tempat kejadian perkara. Menurut Kapolsek Ngadiluwih AKP Ridwan Sahara, kecelakaan kerja ini terjadi akibat pakaian korban yang tersangkut mesin, sehingga ikut tergiling bersama tebu sebagai bahan baku pembuatan gula merah.‎
    Polisi langsung membawa jenasah korban ke Rumah Sakit Bhayangkara Kota Kediri untuk dioutopsi. Sementara itu, pemilik pabrik akan diperiksa perihal indikasi unsur kelalaian, mengingat mesin penggilan tanpa dilengkapi pengaman.
    Kronologis kejadian:
    Pada jam 16:20WIB Rabu 23 november 2016 Wib Pak Kusmani mendapatkan intruksi pembuatan gula merah. proses pembuatan gula merah di lakukan dengan cara memasukkan tebu ke mesin penggilingan, setelah itu pak kusmani melihat puntung rokok yang ada di dalam mesin tersebut, pada saat pak Kusmani mengambil puntung rokok tersebut, baju pak kusmani tersangkut sewaktu mengambil puntung rokok. saat itulah pak kusmani ikut terjepit pada gerigi mesin. Di situlah terdengar jeritan pak kusmani dari ruang mesin belakang.di situlah salah seorang rekan kerjanya datang melihat langsung dan mematikan mesin. tetapi sekujur tubuhnya sudah remuk hingga pak kusmani tewas. Pada hari rabu 23/11/2016 tim identifikasi dari polres kediri bersama polsek ngadiluwih langsung melakukan olah tempat kejadian perkara. Pada jam 16:30 WIB Rabu 23 november 2016, polisi langsung membawa jenasah pak kusmani ke rumah sakit bhayangkara kota kediri untuk di outopsi.
     


    ANALISIS KEJADIAN
     
    Pada kasus kecelakaan ini di sebabkan karena kurangnya pengetahuan sehingga menyebabkan kecelakaan yang fatal, kurang hati hati dalam melakukan suatu pekerjaan. karena pak kusmani kemungkinan ada kelainan atau kondisinya kurang sehahat sehingga dapat mengalami kecelakaan dengan ikut terjepit dengan mesin.

    Faktor penyebab langsung:
    1 Tindakan tidak aman
    2. Kondisi tidak aman
    3. Faktor manusia
    4. Faktor fisik

    Faktor penyebab tidak langsung:
    1. Faktor pekerjaan
    2. Faktor pribadi
    3. Kurangnya kesadaran
     


    ANALISIS CORRECTION ACTION, PREVENTIVE ACTION DAN REKOMENDASI
     
    1. Tindakan perbaikan
    a. Mengambil tindakan segera untuk mencegah terjadianya kecelakaan atau kerusakan.
    b. Menginformasikan pekerja dari bahaya diidentifikasi dan bagaimana dikendalikan.
    c. Mengamankan tempat kejadian sampai penyelidikan di TKP selesai.
    d. Mengidentifikasi sumber informasi potensial (orang yang dapat diajak bicara, bukti Anda dapat melihat atau mengumpulkan).
    e. Lakukan athering untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang apa yang telah terjadi sehingga tindakan
    dapat diambil untuk mencegah insiden serupa di masa mendatang.

    2. Upaya pencegahan
    a. gunakan alat pelindung diri
    b. matikan mesin pada saat membersihkan mesin
    c. pasang pengaman pada gerigi mesin yang terbuka
    d. lakukan pemeriksaan sebelum melakukan pekerjaan
    e. pindahkan alat alat yang mengganggu pekerjaan anda terlebih dahulu
    f. usahakan kondisi kesehatan anda baik sblum melakukan pekerjaan
    g. berada dalam sumber daya yang tersedia.
    h. bisa dipercaya untuk bekerja
    i. pekerja harus mempunyai keahlian
    j. kondisi lingkungan yang baik

    3. Rekomendasi terhadap manajemen
    a. membuat JSA sehingga dapat mengantisipasi terjadinya kecelakaan kerja
    b. memberikan pelatihan tentang keselamatan dan kesehatan kerja
    c. peralatan perbaikan, pemeliharaan atau penggantianerikan
    d. memberikan kebijakan / prosedur revisi atau pengembangan
    e. pengawasan yang maksimal terhadap pekerja

    Sumber pustaka
    Beritajatim.com, edisi Rabu 23 November 2016 16:20 WIB
    http://m.beritajatim.com/berita_kediri/283098/p
     


    Nama : Yulius Paken
    NIM : 167051994
    Semester: II
    Kelas : A.1

  41. Kronologi Lift Jatuh di Dealer Vespa Bogor yang Tewaskan 1 Orang

    Liputan6.com, Bogor – Polisi masih menyelidiki kasus lift jatuh di Dealer Vespa Piagio Cabang Bogor, Jalan Pajajaran, Kelurahan Baranangsiang, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor, Jumat 24 Juni 2016.
    Kapolsek Bogor Timur Kompol Marsudi Widodo mengungkapkan, peristiwa bermula saat Harun (20) bersama Agus Suryadi (20) membawa lampu penerangan sekitar pukul 19.00 WIB, menggunakan lift barang dari lantai dasar menuju ke lantai empat.
    Setiba di lantai empat, menurut Marsudi, kedua warga Cipaku, Kecamatan Bogor Selatan itu kemudian mengeluarkan lampu dari dalam lift tersebut. Belum sempat memindahkan seluruh alat penerangan, tiba-tiba lampu padam dan tak lama sling lift putus.
    “Sling yang putus mengenai tubuh Agus hingga ia terpental ke tangga lalu terjatuh ke lantai dasar,” ia menjelaskan.
    Korban tewas di tempat akibat mengalami luka parah di bagian kepala, sedangkan Harun mengalami luka pada bagian tangan. “Kami masih menyelidiki penyebab kejadian itu dan memintai keterangan dari sejumlah saksi. Dugaan sementara karena sling lift putus,” ujar Marsudi.
    Sementara itu Kepala Cabang Vespa Piagio Bogor, Pario, mengaku tidak mengetahui secara pasti kronologi kejadian lift jatuh tersebut.
    Namun, sebelum insiden lift jatuh, keduanya sedang bekerja lembur karena banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan. “Agus dan Harun sudah lama bekerja sebagai cleaning service,” kata Pario
     


    ANALISIS KEJADIAN
     
    Deskripsi kejadian :
    • Nama Perusahaan : Dealer Vespa Bogor
    • Tanggal kejadian : Jumat 24 Juni 2016 jam 19.00 WIB
    • Nama lokasi kejadian : Jalan Pajajaran, Kelurahan Baranangsiang, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor.
    • Ringkasan cerita : Orang jatuh dari lift

    Kronologi kejadian :
    Peristiwa bermula saat Harun (20) bersama Agus Suryadi (20) membawa lampu penerangan sekitar pukul 19.00 WIB, menggunakan lift barang dari lantai dasar menuju ke lantai empat.
    Setiba di lantai empat, menurut Marsudi, kedua warga Cipaku, Kecamatan Bogor Selatan itu kemudian mengeluarkan lampu dari dalam lift tersebut. Belum sempat memindahkan seluruh alat penerangan, tiba-tiba lampu padam dan tak lama sling lift putus.
    “Sling yang putus mengenai tubuh Agus hingga ia terpental ke tangga lalu terjatuh ke lantai dasar,” ia menjelaskan.
    Korban tewas di tempat akibat mengalami luka parah di bagian kepala, sedangkan Harun mengalami luka pada bagian tangan. “Kami masih menyelidiki penyebab kejadian itu dan memintai keterangan dari sejumlah saksi. Dugaan sementara karena sling lift putus,” ujar Marsudi.
    Sementara itu Kepala Cabang Vespa Piagio Bogor, Pario, mengaku tidak mengetahui secara pasti kronologi kejadian lift jatuh tersebut.
    Namun, sebelum insiden lift jatuh, keduanya sedang bekerja lembur karena banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan. “Agus dan Harun sudah lama bekerja sebagai cleaning service,” kata Pario

    Faktor penyebab langsung terjadinya kecelakaan :
    Lift rusak, Sling putus, Lampu padam, Membawa barang yang terlalu banyak

    Faktor penyebab tidak langsung terjadinya kecelakaan :
    Kurangnya maintenance pada lift, Kurangnya pengawasan terhadap safety equipment, Jam kerja yang berlebihan ( Lembur ), Tidak ada pengecekan terhadap lifting sling secara reguler, Pintu lift yang dibuka terlalu lama dari biasanya ( diganjal )

     


    ANALISIS CORRECTION ACTION, PREVENTIVE ACTION DAN REKOMENDASI
     
    Tindakan perbaikan (corrective action)
    – Dibuat regular maintenance
    – Dibuat schedule untuk pengawasan safety equipment
    – Penambahan jumlah karyawan untuk mencegah jam lembur
    – Dibuat schedule untuk pengawasan lifting equipment
    – Pastikan berat barang yang dibawa tidak melebihi kapasitas dari lift

    Upaya pencegahan (preventive action)
    – Membuat SOP untuk lift
    – Membuat pelatihan kepada karyawan tentang cara pengoperasian lift
    – Melakukan safety briefing sebelum bekerja
    – Melakukan pengecekan secara reguler terhadap lift
    – Reguler inspection yang dilakukan orang ke 3
    – Membuat work permit
    – Untuk penggunaan lift harus dipisahkan antara lift barang dengan lift orang
    – Menambahkan CCTV pada lift barang
    – Melakukan pengecekan secara reguler terhadap system kelistrikan
    – Pekerja menggunakan APD saat melakukan pemindahan barang

    Rekomaendasi terhadap perusahaan
    – Perawatan terhadap lift dilakukan secara reguler
    – Pemeriksaan dan pemeliharaan secara berkala dilakukan oleh teknisi yang handal dan berpengalaman serta memiliki lisensi
    – Reguler safety briefing yang di ikuti oleh seluruh maintenance team, HSE, dan manajemen level
    – Melakukan pengecekan secara reguler terhadap system keamanan pada lift
    – Membuat SOP untuk lift dan di sampaikan setiap kali safety breafing. Contohnya ( jangan menutup/mengganjal lift dengan benda apapun )
    – Melakukan reguler safety drill

    Sumber Pustaka
    Liputan6.com 25 Juni 2016, 05:11 WIB
    http://news.liputan6.com/read/2539607/kronologi-lift-jatuh-di-dealer-vespa-bogor-yang-tewaskan-1-orang?source=search
     


    Nama: Arie Rahmat Hidayat
    NIM: 167051965
    Semester: II
    Kelas: A1

  42. Tersembur Uap Panas, Empat Karyawan PLTU Rembang Luka Serius

    REMBANG, suaramerdeka.com
    Kecelakaan kerja yang menimpa empat orang pekerja terjadi di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Pembangkit Jawa Bali (PJB) di Desa Leran Kecamatan Sluke, Kamis (18/8). Kecelakaan yang terjadi sekitar pukul 14.30 itu, mengakibatkan empat orang pekerja mengalami luka bakar serius hingga 90 persen.
    Berdasarkan informasi yang diterima oleh Suara Merdeka, kecelakaan tersebut bermula saat keempat pekerja, masing-masing Agus Suliyono, Misbahar, Suwardi serta Andik Purwanto sedang melakukan aktivitas di area mesin penggerak turbin, lantai tiga PLTU.
    Saat sedang melaksanakan pekerjaannya itu, tiba-tiba terdengar bunyi letupan keras dari ruangan tersebut. Sejurus kemudian, tiba-tiba dari bagian pipa muncul semburan uap panas langsung mengenai keempat pekerja yang berada tak jauh dari titik tersebut.
    Mengetahui adanya insiden kecelakaan kerja, selanjutnya tim medis PLTU PJB segera melakukan pertolongan dan mengevakuasi keempat korban. Awalnya keempat korban sempat dilarikan ke RSI Arafah Lasem.
    Lantaran ada keterbatasan alat di sana, keempat korban langsung dirujuk ke RSUD dr R Soetrasno Rembang. Mereka langsung mendapatkan penanganan medis secara intensif di Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit itu, mulai pukul 19.30.
    Namun, sekitar pukul 21.30, keempat korban kembali harus dirujuk ke rumah sakit berbeda. Misbahul dan Andik Purwanto terpaksa dirujuk ke Rumah Sakit Columbia Semarang. Agus Suliyono dirujuk ke RSUD dr Soetomo Surabaya. Sedangkan Suwardi dirujuk ke KSH Pati.
    Belum ada keterangan resmi dari PLTU PJB soal kecelakaan itu. Seorang petugas PLTU PJB, Nonok Indaryitno saat dikonfirmasi enggan memberikan jawaban. Alasannya, yang berhak memberikan keterangan adalah General Manager PLTU PJB.t
     


    ANALISIS KEJADIAN
     
    Adapun hasil analisa yang saya temukan dalam kejadian tersebut ialah :

    Kronoligis Kecelakaan (Squence Of Event) :
    Pada hari Kamis tanggal 18 Agustus 2016 sekitar pukul 14.30 WIB terjadi kecelakaan pada empat karyawan PLTU Rembang, di Desa Leran Kecamatan Sluke yang mengakibatkan 4 pekerja masing masing bernama Agus Suliyono, Misbahar, Suwardi, dan Andik Purwanto mengalami luka bakar yang serius. Kejadian bermula ketika keempat pekerja sedang melaksanakan pekerjaannya tiba tiba terjadi letupan keras dari ruangan tersebut di ikuti dengan semburan uap panas yang langsung mengenai keempat pekerja yang sedang bekerja tidak jauh dari tempat terjadinya semburan uap tersebut.

    Adapun hasil analisa yang saya temukan dalam kejadian tersebut ialah :
    Analisis faktor penyebab langsung kecelakaan (direct cause factors) :
    1.Kurangnya pengecekan pada pipa uap
    2.Kualitas alat alat yang sudah tua kemungkinan rusak itu ada. Contohnya : Pipa yang sudah tua.
    3.Tidak menggunakan alat pelindung diri (APD)
    4.Tidak adanya rambu rambu peringatan bahaya

    Analisis faktor penyebab tidak langsung kecelakaan (indirect cause factors) :
    1.Pekerja tidak waspada terhadap resiko kecelakaan yang akan terjadi
    2.Pekerjaan beresiko tinggi namun belum ada upaya pengendalian di dalamnya

     


    ANALISIS CORRECTION ACTION, PREVENTIVE ACTION DAN REKOMENDASI
     
    1. Tindakan perbaikan (Corrective Action) :
    -Memberi pelayanan penyembuhan dan rehabilitas terhadap korban luka bakar akibat kecelakaan kerja.
    -SOP harus diperbaharui.
    -Melakukan pemeriksaan dan pemantauan pipa serta peralatan kerja pada saat bekerja.
    -Memperbaiki/memperhabarui pipa maupun peralatan kerja yang sudah tua atau yang sudah rusak.
    -Melakukan pengujian pada pipa maupun peralatan kerja.

    2. Upaya pencegahan (Preventive Action) :
    -Memberikan pelatihan dan pendidikan tentang keselamatan kerja dalam bekerja kepada karyawan, sehingga karyawan mendapat
    pengetahuan tentang pentingnya keselamatan dalam bekerja dan dapat mencegah terjadinya resiko kecelakaan kerja.
    -Memberikan peraturan ketat terhadap karyawan yg melanggar peraturan keselamatan dalam bekerja seperti memberikan sanksi.
    -Menghimbau karyawan untuk tetap fokus dalam bekerja sehingga tidak terjadi kesalahan dalam bekerja yang dapat menyebabkan
    terjadinya kecelakaan pada saat bekerja.
    -Menghimbau karyawan/pekerja untuk selalu menggunakan alat pelindung diri (Personal Protective Equipment) pada saat
    melakukan pekerjaan.
    -Membuat laporan JSA/JRA
    -Melakukan pemeriksaan terhadap pipa maupaun peralatan kerja dengan rutin.
    -Memberikan tanda peringatan bahaya seperti alarm apabila terjadi kebocoran uap.
    -Adakan patroli pada saat jam kerja berlangsung.
    -Melakukan penelitian terhadap resiko apa saja yang akan terjadi.
    -Memberi perlengkapan tempat kerja dengan alat pencegah kecelakaan (Safety Guards).

    3. Rekomendasi :
    -Melakukan pengawasan secara langsung kepada pekerja terutama kepada pekerja baru atau pekerja yang kurang memiliki
    pengalaman lebih dalam melakukan pekerjaan.
    -Melakukan penerapan sistem K3 di perusahaan.
    -Memberikan apresiasi atau penghargaan kepada pekerja yang disiplin dan melakukan pekerjaannya dengan baik agar pekerja
    termotivasi dan lebih produktiv dalam melaksanakan pekerjaannya.
    -Manajemen dan Karyawan harus memiliki hubungan kerja yang baik untuk mencapai tujuan kerja bersama.
    -Memberikan pelatihan khusus kepada karyawan/pekerja agar kualitas para pekerja semakin meningkat dan lebih siap dalam
    melakukan pekerjaannya.

    Sumber pustaka
    Suaramerdeka.com, edisi 19 Agustus 2016 16:31 WIB
    http://berita.suaramerdeka.com/tersembur-uap-panas-empat-karyawan-pltu-rembang-luka-serius/
     


    Nama: Muhammad Jayadi Burhans Maramis
    NIM: 167051989
    Semester: II
    Kelas: A1

  43. Buruh bangunan jatuh, besi beton menembus dagu hingga kening
    Merdeka.com – Ari (28) buruhbangunaninimasihterlihatkuatsaatditanganitimmedis di ruangoperasi RSUP Sanglah Denpasar, Bali. Sore tadi, Jumat (20/1) buruhasalTulungagung, JawaTimuriniterjatuhdariatasbangunansetinggi 3 meter dandagunyatertusukbesibetontembushinggasampaikekening.
    Bahkanuntukbisamelarikan Ari kerumahsakit, sejumlahrekanburuhlainnyaharussibukberupayamemotongbesi yang sudahtertancap di betonsambilmemegangipriaini yang nampaktegangsaattertancapbesi di dagunya.
    Tidakhanyaitu, padabagianlengannyajugatertancappotonganbesisisa material bangunan.Beruntungkorbanmasihbisadiselamatkan.Menuruttemankorbansesamaburuhproyek Rizal (20), peristiwanahas yang menimpakorbanituterjadisaatpengerjaanproyek di sebuahvila di daerahCanggu.
    Meskisama-samapekerjaproyek di lokasikejadian, Rizal tidaktahusecarapastikronologiskejadian yang menyebabkankorbanterjatuhhinggatertusukpotonganbesibetonbangunan.
    “Tiba-tibasudahramai, sayalihatdiasudah di bawahdanpekerjapotongbesi yang masihnempel di betondantertancap di kepalanya,” tandasnya.
    Kata dia, saatdalamperjalananmenujurumahsakitkorbanmasihdalamkeadaansadar.Selainitu, kata dia, meskitertancapbesi di bagiankepala, korbantidakbanyakmengeluarkandarah.“Saat di jalandiamenggigil, hanyabilangkedinginan,” terangnya.
    Sebelumnya, korbansempatdilarikanke RSUD Badungnamunkondisilukakorbancukupparah.Korbankemudiandirujukke RSUP Sanglah.Meskipunkorbanmemiliki KIS, namunpihak HRD vilamengatakanakanmembantubiayapengobatandanobatkorbanselamamenjalaniperawatan di RSUP Sanglah
    ________________________________________
    Sequence of event
    Jum’at 13 Januari 2017
    14:00=Ari sedangbekerjadiketinggian 3 meter
    14.30=Ari terjatuhketinggian 3 meter hinggatertusukbesibeton
    14:40=rekankerjasibukmemotongbesibeton
    15:10=Rizal ditanya, tetapitidaktahusecarapastikronologisnya
    15:20=Rizal melihatsi Ari sudahdibawahdanpekerjamemotongbesibetondanterancapdibagiankepala
    15:25=PerjalananmenujuRumahSakit. Ari masihdalamkeadaansadardantidakbanyakmengeluarkandarah
    16:00=Ari sampai di RSUD Badung. Dikarenakankondisilukacukupparah. Ari kemudiandirujukke RSUP Sanglah
    16:15=Ari sampai di RSUP Sanglah. Ari memiliki KIS namun HRD Vila mengatakanakanmembantubiayapengobatan Ari selama jalani prawatan.
    Direct cause factors
    Kondisitidakaman
    1.Tidakadanyatalipembatas, ataurambuperingatan
    2.APD tidaklayak/tidakdipakai
    Analisa
    1.Ari bisajatuhdisebabkantidakadanyatalipembatas area bekerjalicin
    2.Tubuharitersebut, terjatuhsampaimengenaibesibeton.
    Tindakantidakaman
    1.BekerjatanpaStandarOperasionalProsedur (SOP)
    2. Bekerjatanpapengawasan
    Analisa
    1.Ari lalaimelakukanpengecekan, adanyapotensibahayaatautidaknya.
    2. Ari bisaterjatuhkarenakurangnyapengawasandarirekankerjanya.
    Indirect cause factors
    Faktormanusia
    Kelalahan
    Analisa
    Yang disabakankurangnyawaktuberistirahat.
    Faktorpekerjaan
    Bebanpekerjaan
    Analisa
    Yang menyebabkan Ari melakukankesalahanpadasaatbekerja yang menimbulkanpotensibahaya
    TindakanPerbaikan(Corrective Action)
    Definisi Corrective Action: tindakankorektifadalahlangkah-langkah yang diambiluntukmenghilangkanpenyebabketidaksesuaian yang adaatausituasi yang tidakdiinginkan.
    1. Sebaiknya Ari menggunakan APD
    2. Sebaiknya Ari tenang dalam bekerja
    3. Bekerja harus dalam pengawasan, sesama rekan kerja atau pekerja khusus untuk mengawasi
    4. Melakukan pekerjaan sesuai prosedur
    5. Memiliki keahlian dan keterampilan yang sesuai
    Tindakanpencegahan (Preventive Action)
    DefinisiAksiPencegahan: tindakanpreventifadalahlangkah-langkah yang diambiluntukmenghapuspenyebabketidaksesuaianpotensialatausituasipotensial yang tidakdiinginkan
    1. Harap memakai APD
    2. Melakukan pengecekan terlebih dahulu. Agar tahu ada potensi bahaya atau tidaknya
    3. Diberi rambu-rambu peringatan
    4. Harap diberi pembatas area
    5. Istirahatlah yang cukup, agar tidak kelelahan
    6. Memberi pekerjaan sesuai kemampuan kepada pekerjanya
    7. Diharapkan sesama rekan kerja salig mengawasi
    8. Melakukan edukasi terhadap pekerja
    9. Membuat suasana kerja yang kondusif
    10. Memastikan untuk melakukan investigasi sudah benar
    Rekomendasi
    1. Diharuskan mandor proyek memberikan APD
    2. Adanya pengawas khusus, tidak sesama rekan kerja saja
    3. Melakukan pengecekan terlebih dahulu, pada area kerja tersebut
    4. Sebaiknya, harus menerapkan SOP (Standar Opersional Prosedure )
    5. Planning / perencanaan kerja di perbaiki
    Analisis
    Ari terlihatkuat, meskipun dalam keadaan cedera. Yaitu tertusuk besibeton, dari dagu hingga kening. Ari memiliki KIS, namun HRD Vila tetap membntupengobtan Ari (bertanggung jawab).
    DaftarPustaka : Merdeka.com, edisiJumat 13 Januari 2017 22:58 WIB
    https://www.merdeka.com/peristiwa/terjadi-ledakan-di-pt-start-aero-direktur-perusahaan-tewas.html

    ________________________________________
    Nama: BintangYudhaPrakoso
    NIM: 167052036
    Semester: II
    Kelas: A2
     


    Komentar Dosen:
    Tulisan ada terlihat kacau dan menjadi satu tanpa jeda antar kata, sehingga sulit untuk dibaca.
    Segera perbaiki dan kirim ulang untuk diberi penilaian.

  44. Uji Coba Alat Berat, Seorang Pengusaha Tewas Tertimpa Ekskavator

    Liputan6.com, Trenggalek – Seorang pengusaha rental alat berat di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, Minggu sore tadi, tewas tertimpa unit ekskavator miliknya sendiri yang melorot dan terguling saat uji coba pasca perbaikan.
    “Alat berat itu rusak lalu diperbaiki di lokasi galian (pertambangan) dan sedang proses ujicoba mesin,” ucap Kepala Desa Mlinjon, Kecamatan Suruh Suprianto di Trenggalek, seperti dilansir Antara, Minggu (26/6/2016).
    Insiden yang terjadi sekitar pukul 15.30 WIB di areal pertambangan kaolin Desa Mlinjon, Kecamatan Suruh itu menyebabkan Gufron (55), pengusaha alat berat asal Kecamatan Durenan tewas di lokasi kejadian.
    Sulitnya medan serta beban tonase alat berat membuat proses evakuasi korban yang tertimpa bodi ekskavator berlangsung lama.
    Menurut keterangan Suprianto, jasad korban baru bisa dikeluarkan dari tumpukan material batu dan badan ekskavator sekitar pukul 18.19 WIB lalu dibawa ke rumah duka di Desa Durenan.
    “Kejadian ini murni kecelakaan kerja. Tidak ada unsur kesengajaan,” kata Kapolsek Suruh AKP Yasir.
    Selesai mengevakuasi korban, lokasi kejadian saat ini diberi garis polisi. Sementara ekskavator masih dibiarkan terbalik di lokasi reruntuhan dengan kondisi rusak berat.
    Menurut Yasir, kronologi kecelakaan kerja terjadi saat Gufron selaku pemilik alat berat memperbaiki ekskavatornya yang ngadat atau mengalami kerusakan mesin di lokasi pertambangan kaolin di Desa Mlinjon.
    Selesai memperbaiki dari pagi hingga sore sekitar pukul 15.25 WIB, kata Yasir, korban bermaksud mencoba sistem hidrolis serta fungsi mesin ekskavator miliknya itu untuk mengeruk tebing di lokasi yang sama.
    “Saat mesin dihidupkan itulah tiba-tiba tanah pijakan ekskavator ambrol, sehingga menyebabkan alat berat melorot dan terguling ke sisi kiri bersama korban,” ujar dia.
     


    ANALISIS KEJADIAN
     
    Urutan kejadian:
    1. Gufron selaku pemilik alat berat memperbaiki ekskavatornya yang mengalami kerusakan mesin di lokasi pertambangan kaolin di Desa Mlinjon.
    Selesai memperbaiki dari pagi hingga sore sekitar pukul 15.25 WIB
    2. Gufron bermaksud mencoba sistem hidrolis serta fungsi mesin ekskavator miliknya itu untuk mengeruk tebing di lokasi yang sama.
    3. Saat mesin dihidupkan itulah tiba-tiba tanah pijakan ekskavator ambruk, sehingga menyebabkan alat berat merosot dan terguling ke sisi kiri

    Faktor penyebab langsung kecelakaan:
    1.Terlindas eksavator
    2 Tanahnya tidak kuat untuk menahan beban eksavator

    Faktor penyebab tidak langsung:
    1. Pekerja yang tidak kompeten atau tidak terlatih
    2. Tidak adanya metode pengendalian jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan
    3. Pekerja tidak memperhatikan keadaan di sekitarnnya
     


    ANALISIS CORRECTION ACTION, PREVENTIVE ACTION DAN REKOMENDASI
     
    Tindakan perbaikan (corrective action):
    1 Bahaya pada alat dan lingkungan sekitar alat tersebut
    2 Melakukan inspeksi di lokasi tempat kecelakaan kerja
    3 Membuat standarisasi uji coba ekskavator sesuai persyaratan keselamatan kerja
    4 Mengadakan perencanaan terhadap kejadian darurat
    5.Meninjau kembali lokasi pada tempat kecelakaan kerja demi mencegah terjadinya hal serupa di kemudian hari

    Tindakan pencegahan (preventive action):
    1.Menggunakan APD yang lengkap sesuai dengan kebutuhan pekerja
    2.Pelatihan dan Pendidikan K3 terhadap tenaga kerja
    3.Prosedur dan aturan k3 di tempat kerja
    4.Pemantauan dan Pengendalian Tindakan Tidak Aman di tempat kerja
    5.Waspada terhadap hal-hal timbulnya kecelakaan
    6.Penyediaan Sarana dan Prasarana K3 dan pendukungnya di tempat kerja.
    7.Meningkatkan pengawasan terhadap pekerja
    8.Pengembangan Sumber Daya ataupun Teknologi yang berkaitan dengan peningkatan penerapan K3 di tempat kerja
    9.Konsultasi mengenai penerapan K3
    10.Pemantauan dan Pengendalian Kondisi Tidak Aman di tempat kerja

    Rekomendasi saya terhadap perusahaan
    1. Perusahaan tersebut memberikan pelatihan K3 terhadap tenaga kerja tersebut
    2. Pemeriksaan perlengkapan kerja berdasarkan standar prosedur dan keselamatan kerja
    3. Perusahaan memberikan pengawasan kepada tenaga kerja saat bekerja
    4. Perusahaan wajib menyediakan APD untuk pekerjanya
    5. Pihak manajemen harusnya menerapkan atau mengeluarkan SOP tentang pekerjaan yang dilakukannya

    Sumber pustaka
    Liputan6.com, edisi Minggu 26 Juni 2016 23:48 WIB
    http://regional.liputan6.com/read/2540601/uji-coba-alat-berat-seorang-pengusaha-tewas-tertimpa-ekskavator
     


    Nama: William Adrian Gofu
    NIM: 167052041
    Semester: II
    Kelas: A2

  45. Pasang kabel internet, Malik terjatuh dari ketinggian 8 meter

    Merdeka.com – Nyawa, Malik (20) buruh pasang kabel internet ini masih terselamatkan. Pasalnya, Ia terpental akibat tersengat setrum bertegangan tinggi dan terjatuh dari ketinggian 8 meter.
    Rekan kerjanya menyebutkan, Malik terjatuh dalam posisi kepala di bawah. “Dahinya luka parah, makanya kita antar ke rumah sakit,” kata Sodik di RSUP Sanglah, Denpasar, Sabtu (23/4).
    Kejadian bermula ketika Malik hendak memasang kabel internet di kawasan Seminyak, Badung Selatan. Setelah menaiki tangga dan akan memasang kabel, tanpa disengaja tangan korban menyentuh kabel listrik. Dalam hitungan detik, pria itu tersengat dan terjatuh dari ketinggian sekira 8 meter.
    Dalam kondisi tersengat kabel tegangan tinggi, Ia terjatuh dengan posisi kepala di bawah pada ketinggian 8 meter. Hebatnya, Malik masih sempat bernapas panjang dan tidak sampai pingsan.
    Meski demikian, Ia tetap harus dilarikan ke rumah sakit. Sampai saat ini, korban masih mendapat perawatan intesif di IGD RSUP Sanglah.
     


    ANALISIS KEJADIAN
     
    Kronologi kejadian :
    Pada hari Sabtu (23/4), Malik (20) sedang malakukan pasang baru jaringan internet. Kejadian bermula ketika Malik hendak memasang kabel jaringan internet di kawasan Seminyak, Badung Selatan. Setelah menaiki tangga dan akan memasang kabel, tanpa disengaja tangan Malik menyentuh kabel listrik, pria itu tersengat dan langsung terjatuh dari ketinggian sekitar 8 meter. Dalam kondisi tersengat kabel tegangan tinggi, ia terjatuh dengan posisi kepala di bawah.

    Penyebab langsung :
    Tersengat kabel listrik tegangan tinggi.

    Penyebab tidak langsung :
    Kurang memperhatikan keadaan disekitarnya, APD yang kurang memadai.
     


    ANALISIS CORRECTION ACTION, PREVENTIVE ACTION DAN REKOMENDASI
     
    Tindakan perbaikan (corrective action) :
    1. Melakukan pengecekan terhadap bahaya yang ada disekitar
    2. Mengadakan perencanaan terhadap kejadian darurat
    3. Meninjau kembali lokasi tempat kecelakaan kerja demi mencegah terjadinya hal serupa dikemudian hari
    4. Pengadaan laporan bahaya dilokasi sekitar
    5. Melakukan inspeksi dilokasi tempat kecelakaan kerja

    Tindakan pencegahan (preventive action) :
    1. Pelatihan keselamatan dalam bekerja
    2. Mencari permasalahan yang terjadi agar ada tindakan perbaikan
    3. Diperlukannya saran dari pekerja lain agar tidak terulang kejadian seperti ini lagi
    4. Adanya pengawas dilokasi
    5. Pemantauan dan pengendalian kondisi tidak Aman di tempat kerja
    6. Konsultasi mengenai penerapan K3
    7. Pengembangan sumber daya ataupun teknologi yang berkaitan dengan peningkatan penerapan K3 di tempat kerja
    8. Penghargaan dan Sanksi terhadap penerapan K3 di tempat kerja
    9. Pembinaan motivasi agar tenaga kerja dapat menerapkan keselamatan kerja dengan baik
    10. Menggunakan APD saat bekerja

    Rekomendasi saya terhadap manajemen ( perusahaan ) :
    1. Perusahaan harusnya mengadaakan pelatihan keselamatan dalam bekerja.
    2. Perusahaan wajib menyediakan APD untuk pekerjanya.
    3. Melakukan komunikasi dan mendengarkan masukan dari perkerja lain.
    4. Pihak manajemen harusnya menerapkan atau mengeluarkan SOP tentang pekerjaan yang dilakukannya.
    5. Perusahaan memberikan pengawasan kepada tenaga kerja saat melakukan pekerjaan

    Sumber pustaka
    Merdeka.com, edisi Minggu 24 April 2016 00:03 WIB
    https://www.merdeka.com/peristiwa/pasang-kabel-internet-malik-terjatuh-dari-ketinggian-8-meter.html
     


    Nama: Harish Syahrijal
    NIM: 167052050
    Semester: II
    Kelas: A2

  46. Dua Pekerja Bangunan Tewas Tertimpa Tembok di Boyolali.

    Solo – Dua orang pekerja bangunan tewas tertimpa tembok SDN 1 Boyolali, Jawa Tengah. Saat kejadian, keduanya bersama para pekerja lainnya sedang merobohkan tembok lama untuk diganti dengan tembok baru.
    Peristiwa nahas itu terjadi pada Kamis (12/1/2017) siang. Kedua korban adalah Eko Sulistyo, warga Kelurahan Siswodipuran, Kecamatan Boyolali Kota, dan Teguh, warga Desa Manggis, Mojosongo, Boyolali.
    Saat itu kedua korban berusaha merobohkan tembok di sisi timur gedung SDN 1 Boyolali. Tembok setinggi 3 meter dengan lebar 5 meter itu akan dirobohkan dan diganti dengan bangunan yang baru.
    Untuk mempercepat pekerjaan, mereka melubangi tembok setinggi 1,5 meter dari permukaan tanah, sehingga membentuk bongkahan tembok yang selanjutnya akan ditarik menggunakan mobil pikap untuk merobohkannya.
    Belum sempat rencana diwujudkan, tembok keburu roboh. Kedua korban Eko yang saat itu berada di bawahnya tak sempat menghindar. Eko langsung tewas di lokasi kejadian, sedangkan Teguh, yang mengalami luka parah di kepala, kaki, dan tangan kanan patah, masih sempat dilarikan ke rumah sakit sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir.
    Kapolsek Boyolali Kota AKP Setyo Budiyono membenarkan kejadian tersebut. Pihaknya saat ini masih melakukan penyelidikan terkait kejadian nahas itu dengan meminta keterangan kepada sejumlah saksi dan mengamankan beberapa barang bukti.

     


    ANALISIS KEJADIAN
     
    A. Urutan Kejadian:
    1. Eko Sulistyo dan Teguh berusaha merobohkan tembok di sisi timur gedung SDN 1 Boyolali
    2. Eko Sulistyo dan Teguh melubangi tembok setinggi 1,5 meter dari permukaan tanah
    3. Tembok tiba-tiba roboh
    4. Eko Sulistyo dan Teguh tertimpa tembok tersebut
    5. Eko Sulistyo Tewas di lokasi kejadian dan Teguh mengalami luka parah di kepala dan kaki serta tangan kanan patah
    6. Teguh dibawa ke rumah sakit dan Teguh menghembuskan nafas terakhirnya

    B. Faktor Penyebab Langsung:
    1. Tidak menggunakan APD (Sepatu safety, pelindung kepala)
    2.Tidak melakukan pekerjaan sesuai SOP
    3. Tembok yang tidak kokoh meyebabkan pekerja tetimpa tembok yang runtuh

    C. Faktor Penyebab Tidak Langsung:
    1. Bekerja tidak sesuai dengan keahliannya
    2. Kurang pengawasan
    3. Kurangnya kesadaran tentang safety.

     


    ANALISIS CORRECTION ACTION, PREVENTIVE ACTION DAN REKOMENDASI
     
    A. Tindakan Perbaikan:
    1. Membentuk tim untuk mengidentifikasi bahaya, Penilaian resiko dan pengendalian resiko
    2. Melakukan pembongkaran sesuai dengan prosedur
    3. Mengecek kondisi tembok terlebih dahulu sebelum melakukan pembongkaran
    4. Melakukan analisa setelah mengetahui akar permasalahan
    5. Membuat prosedur baru bila diperlukan

    B. Upaya Pencegahan:
    1. Meningkatkan pengawasan terhadap pekerja
    2. Pemilihan / penempatan pekerja secara tepat agar diperoleh keserasian antara bakat dan kemampuan fisik pekerja dengan tugasnya.
    3. Pembuatan sistem pengendalian bahaya.
    4. Pengarahan penyaluran instruksi dan informasi yang lengkap dan jelas.
    5. Pembinaan pengetahuan dan keterampilan melalui training yang relevan dengan pekerjaannya.
    6. Perencanaan sistem pemeliharaan, penempatan dan pembinaan pekerja yang terpadu.
    7. Menerapkan standarisasi pembongkaran tembok yang memenuhi persyaratan keselamatan kerja.
    8. Pendidikan yaitu menyangkut pendidikan kesehatan dan keselamatan kerja kepada pekerja.
    9. Mengikuti peraturan perundangan-undangan pada kondisi pekerja, perencanaan, kontruksi.
    10. Mewajibkan pekerja menggunakan APD sesuai dengan kebutuhan pekerjaan.

    C. Rekomendasi terhadap manajemen (perusahaan):
    1. Perusahaan menyediakan APD yang dibutuhkan
    2. Perusahaan memiliki ahli K3
    3. Perusahaan menyediakan peralatan sesuai dengan kebutuhan pekerja
    4. Perusahaan memberi pengawasan lebih kepada pekerja
    5. Perusahaan mengadakan pelatihan kepada pekerja sebelum dipekerjakan di lapangan

    Sumber Pustaka
    Detiknews.com, Edisi Kamis 12 Januari 2017 18:21 WIB
    https://news.detik.com/berita/d-3394552/dua-pekerja-bangunan-tewas-tertimpa-tembok-di-boyolali
     


    Nama : Fredrick Purba
    NIM : 167052031
    Semester : II
    Kelas : A2

  47. Tergelincir saat Kerja Lembur, Darmawi Tewas Tergilas Mesin Pencacah Plastik

    SUMSEL – Sungguh tragis nasib Darmawi (40), buruh pabrik asal kecamatan Gandus kota Palembang ini, tewas tercincang mesin pencacah plastik saat sedang bekerja lembur di Pabrik CV Cahaya Pelangi Kecamatan Talang Kelapa, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, Sabtu 14 Januari 2017, sekira pukul 22.45 WIB.
    Akibatnya insiden itu, kaki kanan korban hancur berkeping-keping tergiling mesin penghancur plastik. Korbanpun tidak tertolong karena mengalami pendarahan hebat.
    Herman (30) salah satu teman yang juga satu pabrik dengan korban mengatakan, kejadian bermula saat korban hendak memasukkan plastik ke mesin penggiling, kemudian jatuh tergelincir. “Saat tergelincir celana yang digunakan korban terjepit pisau mesin hingga kaki kanannya ikut terseret masuk ke dalam mesin pencacah plastik, hingga tercincang berkeping-keping,” ungkap Herman.
    Dia melanjutkan, sebenarnya saat celana korban nyangkut dia sempat teriak minta tolong, tapi banyak yang tidak mendengar karena bisingnya suara mesin pabrik. “Mesin baru dimatikan setelah korban menjerit histeris, kakinya tergiling,” katanya.
    Korban sempat dibawa ke rumah sakit di Kota Palembang untuk dilakukan visum, selanjutnya dibawa ke rumah duka. “Kejadiannya sangat cepat, tidak mengira akan seperti ini,” jelasnya.
    Ketika ditanyai terkait kelengkapan pakaian keselamatan, Herman mengakui tidak pernah mengenakan itu. “Memang tidak disediakan oleh perusahaan,” ungkapnya.
    Sementara itu, Kapolres Banyuasin Andri Sudarmadi membenarkan kejadian yang menewaskan satu orang pekerja di pabrik pengelolan plastik. Bahkan pihak manajemen CV Cahaya Palstik sebelumnya menutupi peristiwa yang merenggut nyawa korban. “Petugas telah melakukan olah TKP,” katanya.
    Sejauh ini pihaknya sudah melakukan pemeriksaan beberapa saksi terkait peristiwa tersebut. Polisi juga sudah meminta keterangan dari warga setempat mengenai kejadian tersebut.
    “Kami sudah memeriksa beberapa saksi mata yang melihat langsung kejadian tersebut. Untuk selanjutnya pemeriksaan pemilik atau manajemen pabrik plastik pihaknya akan melakukan koordinasi terlebih dulu dengan Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Banyuasin,” tegas pria murah senyum itu.
    Lebih lanjut Kapolres mengatakan, jasad korban sudah dievakuasi ke rumah duka, dari keterangan keluarga korban jenazah akan di kebumikan di kampung halamannya.

     


    ANALISIS KEJADIAN
     
    Kronologis Kejadian ( Sequence of Event )
    Pada hari Sabtu,14 Januari 2017 sekitar pukul 22.45 WIB,terjadi kecelakaan kerja pada seorang pekerja buruh pabrik di pabrik CV.Cahaya Pelangi Kecamatan Talang Kelapa,Kabupaten Banyuasin,Sumatera Selatan. Kejadian bermula saat korban yang bernama Darmawi (40) hendak memasukkan plastik ke mesin penggiling,kemudian jatuh tergelincir dan celana yang digunakan korban terjepit pisau mesin hingga kaki kanannya ikut terseret ke dalam mesin pencacah plastik hingga kakinya tercincang berkeping-keping. Korban sempat berteriak minta tolong tapi banyak yang tidak mendengar karena bisingnya suara mesin pabrik. Mesin baru dimatikan setelah kakinya tergiling,korban sempat dibawa ke Rumah Sakit namun nyawa korban tidak tertolong karena mengalami pendarahan hebat.

    Analisis Faktor Penyebab Langsung Kecelakaan ( Direct Cause Factor )
    1. Tidak dipasangnya pengaman ( safeguard) pada bagian mesin yang berputar.
    2. Alat kerja / mesin/kendaraan yang kurang layak pakai.
    3. Tidak menggunakan alat pelindung diri ( APD).
    4. Tidak mematuhi rambu-rambu di tempat kerja.

    Analisis Faktor Penyebab Tidak Langsung Kecelakaan ( Indirect Cause Factor )
    1. Pekerjaan tidak sesuai dengan kondisi yang sebenarnya.
    2. Pekerjaan tidak sesuai dengan tenaga kerja.
    3. Kurangnya pengetahuan tentang resiko dan bahaya.
    4. Kurangnya pengendalian tentang resiko dan bahaya.
    5. Tidak mengurus ijin kerja berbahaya sebelum memulai pekerjaan dengan resiko dan bahaya tinggi.

     


    ANALISIS CORRECTION ACTION, PREVENTIVE ACTION DAN REKOMENDASI
     
    Tindakan Perbaikan ( Corecttive Action )
    1. Memperbaiki peralatan/alat kerja/mesin yang rusak.
    2. Meninjau kembali lokasi dan area kerja agar kecelakaan tidak terulang.
    3. Memperbaiki sistem pengawasan saat bekerja
    4. Memperbaharui SOP
    5. Memberikan penyembuhan/trauma rehabilitasi terhadap korban kecelakaan kerja .

    Upaya Pencegahan ( Preventive Action )
    1. Memberikan penanda dan isyarat keselamatan kerja.
    2. Mengendalikan resiko dan bahaya yang terjadi di tempat kerja.
    3. Memberikan sanksi yang tegas terhadap pekerja yang melanggar peraturan.
    4. Menerapkan JSA.
    5. Pemberian alat pelindung diri ( APD )
    6. Mengganti semua material yang kurang layak pakai.
    7. Melengkapi peralatan dan mesin dengan alat pengaman.
    8. Menjamin asuransi untuk karyawan dan perusahaan.
    9. Pemeriksaan jadwal maintenance secara berkala dan terjadwal.
    10. Mengadakan safety meeting sebelum melakukan pekerjaan.

    Rekomendasi
    1. Melakukan pengawasan langsung terhadap pekerja yang sedang bekerja agar mengurangi resiko kecelakaan kerja.
    2. Meningkatkan kedisiplinan dalam lingkungan kerja.
    3. Melakukan sistem pengaturan ulang jam kerja sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
    4. Memberikan pelatihan dan pengetahuan tentang keselamatan kerja untuk mengurangi kecelakaan kerja.
    5. Memberikan apresiasi dan motivasi terhadap pekerja untuk memperoleh produktivitas/kualitas,sumber daya manusia yang lebih baik.

    Sumber pustaka
    Okezone.com, edisi Senin 16 Januari 2017 03:30 WIB
    http://news.okezone.com/read/2017/01/16/340/1592197/tergelincir-saat-kerja-lembur-darmawi-tewas-tergilas-mesin-pencacah-plastik
     


    Nama: Bonifatius Heru Prasetyo
    NIM: 167052000
    Semester: II
    Kelas: A1

  48. Evaporator AC Meledak, 2 Orang Terluka

    JAKARTA – Dua orang teknisi AC menjadi korban ledakan evaporator AC indoor salah satu rumah di Jalan H IV, RT 08/08, Tebet, Jakarta Selatan. Dua korban itu mengalami luka di wajahnya dan dilarikan ke RS Tebet.
    Korban ledakan ialah Ali Krisdianto (43) dan Zaenal Arifin (36). Rekan korban sesama teknisi AC Lukman (35) mengatakan, saat itu kedua korban sedang mendeteksi kebocoran pipa evaporator menggunakan tekanan oksigen.
    “Evaporator AC pecah karena tekanan oksigen untuk mendeteksi kebocoran pipa di evaporator terlalu kencang,” kata Lukman di lokasi, Jumat (1/4/2016)
    Wakapolres Jakarta Selatan AKBP Surawan menjelaskan, akibat tekanan oksigen yang tinggi menyebabkan evaporator pecah dan material pecahan mengenai wajah korban.”Kemungkinan ada unsur kelalaian, tapi ini masih kami dalami,” ujarnya.
    Saat ini, tambah Surawan, polisi tengah melakukan penyelidikan di lokasi dan memintai keterangan saksi juga yang melihat insiden tersebut. Sedangkan korban masih dalam perawatan di Rumah Sakit Tebet, Jaksel lantran menderita luka dibagian wajahnya.
     


    ANALISIS KEJADIAN
     
    Kronologis Kecelakaan ( sequenceofevent )
    Pada hari jumat 1 April 2016 terjadi ledakan Evaporator AC. Penyebab ledakan tersebut di karenakan adanya tekanan oksigen terlalu kencang sehingga menyebabkan ledakan yang mengenai wajah 2 teknisi AC tersebut. Korban tersebut mengalami luka luka di wajahnya, nama korban tersebut ialah : Ali Krisdianto (43) dan Zaenal Arifin (36). Kedua korban ini di larikan ke rumah sakit untuk di rawat.

    A. Analisi Faktor penyebab langsung kecelakaan ( directcausefactors ) :
    1. Tidak menggunakan APD saat melakukan pekerjaan seperti Helm dan Kacamata
    2. Pekerja tidak mematuhi SOP ( Standar Operasional Prosedur )

    Analisi Faktor penyebab tidak langsung kecelakaan ( indirectcausefactors ) :
    1. Kelalaian dalam bekerja mengakibatkan kecelakaan pada pekerja
    2. Kurangnya fokus dalam bekerja
     


    ANALISIS CORRECTION ACTION, PREVENTIVE ACTION DAN REKOMENDASI
     
    1. Tindakan perbaikan ( corrective action )
    ▪ Memperbaharui SOP
    ▪ Memeriksa kembali peralatan yang akan di gunakan
    ▪ Memahami kegunaan APD
    ▪ Pelatihan karyawan tentang praktek kerja aman
    ▪ Evaluasi dari prosedur kerja dengan rekomendasi perbaikan

    2. Tindakan upaya pencegahan ( preventive action )
    ▪ Menyediakan APD sebelum bekerja
    ▪ Melakukan pengecekan sebelum bekerja
    ▪ Mengeluarkan alat yang pas untuk melakukan pekerjaan
    ▪ Melakukan penelitian sebelum melakukan pekerjaan
    ▪ Menjaga kebersihan lingkungan kerja
    ▪ Mengetahui dan mentaati peraturan – peraturan di dalam perusahaan
    ▪ Mematuhi Hiperkes dengan baik
    ▪ Pembinaan motivasi agar tenaga kerja bersikap dan bertindak sesuai dengan keperluan standar keselamatan kerja
    ▪ Menyediakan alat P3K
    ▪ Pelatihan dan Pendidikan terhadap tenaga kerja
    ▪ Pengendalian faktor bahaya di tempat kerja

    3. Rekomendasi terhadap manajemen perusahaan
    ▪ Rekomendasi harus mempresentasikan jangka waktu dalam menyelesaikan atau mengatasi masalah
    ▪ Meningkatkan kinerja atau performance perusahaan
    ▪ Memberikan pelatihan untuk pekerjaan dan juga untuk sistem,metode,prosedur kerja yang baru
    ▪ Melakukan pembinaan dan pengembangan dalam melakukan pekerjaan
    ▪ Memperbarui / memperbaiki SOP

    Sumber pustaka
    Sindonews.com, edisi Jumat 1 April 2016 20:44 WIB
    https://metro.sindonews.com/read/1097590/170/evaporator-ac-meledak-2-orang-terluka-1459518251
     


    Nama : Chandra Adi Saputra
    NIM : 167051988
    Kelas : A1
    Semester : ll

  49. Ceroboh Pasang AC, Seorang Pekerja Tewas Kesetrum di Bekasi

    Liputan6.com, Bekasi – Diduga ceroboh saat mengerjakan instalasi penyejuk ruangan atau air conditioner (AC), seorang karyawan toko elektronik terkemuka di Kota Bekasi, Jawa Barat, tewas kesetrum di rumah konsumen pada Kamis sore tadi.
    Korban bernama Samsul Bahri, warga Jalan Kemuning Tiga, Matraman, Jakarta Timur. Ia tewas di plafon rumah milik konsumen, yang berada di Perumahan Taman Galaksi, Jalan Cemara, Blok W, No 31 A, Kota Bekasi.
    Peristiwa ini bermula, saat korban bersama rekan sekerjanya, Munandar, hendak memasang AC baru di rumah milik konsumen. Nahas, usai memasang instalasi AC dan tengah mencari aliran listrik, korban yang baru tiga bulan bekerja itu mendadak tersetrum, hingga akhirnya tewas di tempat.
    “Awalnya saya cuma kerja, dapat job mau memasang AC. Iya, dia baru tiga bulan ditempatkan di bagian instalasi,” ucap Munandar saat ditemui di lokasi, Kamis 11 Agustus 2016.
    Melihat korban telah tak bernyawa, saksi dan pemilik rumah bergegas menelepon petugas. Kepolisian Bekasi Selatan dan tim identifikasi Polres Bekasi Kota, lalu membongkar paksa plafon rumah warga guna mengeluarkan jasad korban.
    “Saya sudah bilang ke korban perlu bantuan tidak, untuk memastikan listrik menyala atau enggak. Eh, korban menjawab, ‘Enggak usah’. Karena dianggap listrik sudah mati. Tahunya, korban tidak tahu kalau MCB yang di AC masih menyala, sementara MCB luarnya mati,” Munandar memungkasi.
    Kini, guna kepentingan visum dan penyelidikan, jasad korban langsung dilarikan ke RSUD Kota Bekasi. Petugas pun telah memasang garis polisi usai olah tempat kejadian perkara. Akibat kejadian itu, sejumlah warga Perumahan Galaksi sempat berkerumun untuk melihat langsung lokasi kecelakaan kerja tersebut.
     


    ANALISIS KEJADIAN
     
    A. Urutan Kejadian (Sequence Of Event) :
    • Samsul Bahri memasang instalasi penyejuk ruangan atau Air Conditioner (AC)
    • LIstrik dalam keadaan mengalir/menyala, seharus nya dalam keadaan mati
    • Mekanik tersengat listrik
    • Mekanik meninggal di tempat

    B. Faktor penyebab lansung :
    • Tersengat aliran listrik

    C. Faktor penyebab tidak lansung :
    • Mekanik tidak memperhatikan aliran listrik
    • Pengalaman mekanik yang kurang
    • Mekanik mengabaikan instruksi
     


    ANALISIS CORRECTION ACTION, PREVENTIVE ACTION DAN REKOMENDASI
     
    Tindakan Perbaikan:
    • Memperhatikan bahaya pada alat
    • Memperhatikan arus listrik
    • Menyediakan APD
    • Mengikuti instruksi
    • Memberikan pelatihan

    Tindakan Pencegahan:
    • Mengikuti pelatihan k3
    • Menggunakan APD
    • Memperbaiki kabel yang terkelupas
    • Menggunakan material yang baik/berkualitas
    • Waspadai sumber listrik
    • Jangan curang dalam memasang isntalasi listrik
    • Jangan memasang atau memperbaiki jika tidak mengerti
    • Selalu mengecek aliran listrik menggunakan test pen
    • Teliti dalam bekerja
    • Tidak main main saat bekerja

    Rekomendasi terhadap perusahaan:
    • Seharus nya dari pihak perusahaan memberikan pelatihan kepada setiap pekerja nya
    • Perusahaan seharus nya memberikan atau menugaskan pekerja yang sudah siap atau yang sudah cukup paham pada apa yang akan dikerjakan
    • Perusahaan harus nya memberikan pengawasan kepada karyawan yang sedang bekerja
    • Perusahaan harus nya menyediakan APD
    • Diberikan himbuan, intruksi tentang cara kerja yang aman

    Sumber pustaka
    Liputan6.com, edisi Jumat 12 Agustus 2016 01:58 WIB
    http://news.liputan6.com/read/2575218/ceroboh-pasang-ac-seorang-pekerja-tewas-kesetrum-di-bekasi
     


    Nama : Vincentius Rizky Chandra
    NIM : 167052029
    Semester : II
    Kelas : A2

  50. Diduga Kelelahan, Nyawa Checker Man Melayang

    Seorang pekerja di PT Karya Bakti Mandiri (KBM) site Sukan tewas saat sedang menjalankan shift malam. Pria paro baya yang diketahui bernama Eko Yunarto (45) diduga tertindis alat grader yang dioperasikannya.
    Kejadian diketahui sekitar pukul 00.30 Wita, Jumat (10/2). Sedang menjalankan shift malam, korban diduga kelelahan bekerja sehingga lalai dalam bekerja. Dari informasi yang dihimpun Berau Post, korban saat ini telah dikebumikan usai salat Jumat.
    Dari keterangan pihak Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), korban yang memiliki jabatan sebagai checker man sedang mencoba belajar mengoperasikan mesin grader. Sial, alat berat dengan puluhan ton tersebut hilang kendali dan membuat nyawa Eko Yunarto melayang.
    Sab’an staf Disnakertrans Provinsi Kaltim wilayah Berau menerangkan, kecelakaan tempat kejadian perkara (TKP) kecelakaan kerja telah disterilkan oleh pihak kepolisian. Walau belum melakukan investigasi lapangan, pihaknya telah berkoordinasi dengan perusahaan tempat Eko Yunarto bekerja dan kepolisian yang berada di TKP.
    ”Kami belum berani memberikan pernyataan penyebab terjadinya kecelakaan. Tapi umumnya, jika kecelakaan terjadi saat malam hari, diduga karena korban kelelahan,” kata Sab’an memberi keterangan kepada Berau Post, kemarin (10/2).
    Hingga kini, pihak perusahaan ujarnya telah diberi peringatan untuk tidak melakukan operasional pekerjaan di lokasi kecelakaan. Bahkan pihak kepolisian ujar Sab’an telah memasang police line di TKP.
    ”Segera akan kami lakukan investigasi bersamaan dengan pihak kepolisian,” terangnya.
    Kecelakaan kerja yang kewenangannya telah dialihkan ke Disnakertrans Provinsi Kaltim menyusul mulai diimplementasikannya Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, membuat pengawasan terhadap keselamatan tenaga kerja diakui Sab’an menjadi lebih sulit.
    Pasalnya dalam dua pekan terakhir, telah terjadi dua kali kecelakaan kerja di Berau. ”Tentu hal ini menjadi perhatian kami juga dari Disnakertrans Kaltim. Karena seminggu sekali terjadi kecelakaan terjadi memberi indikasi yang buruk terhadap sistem kesehatan, keselamatan dan keamanan (K3) kerja di Berau,” ujarnya.
    Saat berita ini diterbitkan, belum ada keterangan khusus dari perusahaan tempat Eko Yunarto bekerja. Sab’an sendiri telah melaporkannya kepada Kepala Disnakertrans Provinsi Kaltim dan akan memanggil PT KBM untuk dimintai keterangan. ”Pihak perusahaan akan kami minta keterangan untuk mengetahui secara rinci proses terjadinya kecelakaan kerja sehingga menewaskan Eko Yunarto,” pungkasnya.
     


    ANALISIS KEJADIAN
     
    Kronologi kejadian
    Seorang pekerja di PT Karya Bakti Mandiri (KBM) site Sukan tewas saat sedang menjalankan sift malam. Pria paro baya yang diketahui bernama Eko Yunarto (45) di duga tertindis alat grader yang di operasikannya. Kejadian di ketahui pada pukul 00.30 Wita. Jumat(10/2). Korban di duga Kelelahan bekerja sehingga ia mengalami sebuah kecelakaan saat bekerja . Korban saat ini telah di kebumikan usai salat jumat. Dari keterangan pihak Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), korban yang memiliki jabatan sebagai checker man sedang mencoba belajar mengoperasikan mesin grader. Sial, alat berat dengan puluhan ton tersebut hilang kendali dan membuat nyawa Eko Yunarto melayang.

    Penyebab langsung
    Tertindis alat greder yang di operasikannya

    Penyebab tidak langsung
    Kelelahan, kurang fokus, mengantuk, tekanan pekerjaan
     


    ANALISIS CORRECTION ACTION, PREVENTIVE ACTION DAN REKOMENDASI
     
    Corrective action
    1. Membawa korban ke rumah sakit untuk di Autopsi agar perusahaan dapat mengetahui apa yang menyebabkan korban dapat meninggal tertindis mesin grader.
    2. Memberi pengarahan tentang bahayanya bekerja bila kondisi mengantuk atau kelelehan.
    3. Memberi pengarahan tentang penggunaan APD sesuai dengan SOP perusahaan.
    4. Lebih tegasnya kepengawasan terhadap pekerja yang bekerja.
    5. Memberikan waktu istirahat yang lebih untuk pekerja, terutama untuk pekerja yang melakukan pekerjaan di waktu malam hari.

    Preventive action
    1. Menyedikan APD yang sesuai dengan pekerjaannya.
    2. Melakukan pengecekan alat sebelum memulai pekerjaan.
    3. Adanya pengecekan kondisi karyawan tersebut sebelum memulai pekerjaan dan memastikan karyawan tersebut sehat.
    4. Melakukan pelatihan untuk karyawan tentang keselamatan dan kesehatan kerja.
    5. Memastikan adanya prosedur emergency bila terjadinya sebuah insident.
    6. Adanya pengawasan lebih dari pihak perusahaan.
    7. Memberikan karyawan istirahat yang lebih.
    8. Memberikan fasilitas atau tunjangan yang lebih untuk karyawan yang melakukan perkejaan, terutama karyawan yang bekerja di malam hari.
    9. Memberikan pengarahan tentang k3 sebelum memulai pekerjaan.
    10. Memberikan tanda larangan bahaya di area tersebut.

    Rekomendasi terhadap manajemen perusahaan
    1. Melakukaan pengarahan rutin sebelum bekerja.
    2. Melakukan pelatihan tentang k3 kepada karyawan.
    3. Memberikan tunjangan kesehatan yang lebih untuk karyawan.
    4. Memberikan APD secara rutin kepada setiap karyawan yang bekerja di dalam perusahaan tersebut.
    5. Memberikan fasilitas atau bonus yang lebih kepada karyawan agar dapat bekerja lebih rajin dan lebih berhati-hati dalam bekerja

    Sumber pustaka
    Beraupost.co.id, edisi Sabtu, 11 Februari 2017 10:07 WIB
    http://m.berau.prokal.co/read/news/47985-diduga-kelelahan-nyawa-checker-man-melayang.html
     


    Nama : Marsellyandi
    NPM : 167052016
    Semester : II
    Kelas : A2

  51. Buruh bangunan jatuh, besi beton menembus dagu hingga kening

    Merdeka.com – Ari (28) buruh bangunan ini masih terlihat kuat saat ditangani tim medis di ruangoperasi RSUP Sanglah Denpasar, Bali. Sore tadi, Jumat (20/1) buruh asal Tulungagung, Jawa Timur ini terjatuh dari atas bangunan setinggi 3 meter dan dagunya tertusuk besi beton tembus hingga sampai kekening.
    Bahkan untuk bisa melarikan Ari kerumah sakit, sejumlah rekan buruh lainnya harus sibuk berupaya memotong besi yang sudah tertancap di beton sambil memegangi pria ini yang nampak tegang saat tertancap besi di dagunya.
    Tidak hanya itu, pada bagian lengannya juga tertancap potongan besi sisa material bangunan. Beruntung korban masih bisa diselamatkan. Menurut teman korban sesama buruh proyek Rizal (20), peristiwa nahas yang menimpa korban itu terjadi saat pengerjaan proyek di sebuah vila di daerah Canggu.
    Meski sama-sama pekerja proyek di lokasi kejadian, Rizal tidak tahu secara pasti kronologis kejadian yang menyebabkan korban terjatuh hingga tertusuk potongan besi beton bangunan.
    “Tiba-tiba sudah ramai, saya lihat dia sudah di bawah dan pekerja potong besi yang masih nempel di beton dan tertancap di kepalanya,” tandasnya.
    Kata dia, saat dalam perjalanan menuju rumah sakit korban masih dalam keadaan sadar. Selain itu, kata dia, meski tertancap besi di bagian kepala, korban tidak banyak mengeluarkan darah.“Saat di jalan dia menggigil, hanya bilang kedinginan,” terangnya. Sebelumnya, korban sempat dilarikanke RSUD Badung namun kondisi luka korban cukup parah. Korban kemudian dirujuk ke RSUP Sanglah. Meskipun korban memiliki KIS, namun pihak HRD vila mengatakan akan membantu biaya pengobatan dan obat korban selama menjalani perawatan di RSUP Sanglah.
     


    ANALISIS KEJADIAN
     
    Sequence of event
    Jum’at 13 Januari 2017
    14:00=Ari sedang bekerjadi ketinggian 3 meter
    14.30=Ari terjatuh ketinggian 3 meter hingga tertusuk besi beton
    14:40=rekan kerja sibuk memotong besi beton
    15:10=Rizal ditanya, tetapi tidak tahu secara pasti kronologisnya
    15:20=Rizal melihatsi Ari sudah dibawah dan pekerja memotong besi beton dan terancap dibagian kepala
    15:25=Perjalanan menuju Rumah Sakit. Ari masih dalam keadaan sadar dan tidak banyak mengeluarkan darah
    16:00=Ari sampai di RSUD Badung. Dikarenakan kondisi luka cukup parah. Ari kemudian dirujuk ke RSUP Sanglah
    16:15=Ari sampai di RSUP Sanglah. Ari memiliki KIS namun HRD Vila mengatakan akan membantu biaya pengobatan Ari selama jalani prawatan.

    Direct cause factors
    Kondisi tidak aman
    1. Tidak adanya tali pembatas, atau rambu peringatan. Ari bisa jatuh disebabkan tidak adanya tali pembatas area bekerja licin.
    2. APD tidak layak/tidak dipakai. Tubuh ari tersebut, terjatuh sampai mengenai besi beton.

    Tindakan tidak aman
    1. Bekerja tanpa Standar Operasional Prosedur (SOP). Ari lalai melakukan pengecekan, adanya potensi bahaya atau tidaknya.
    2. Bekerja tanpa pengawasan. Ari bisa terjatuh karena kurangnya pengawasan dari rekan kerjanya.

    Indirect cause factors
    Faktor manusia. Yang disabakan kurangnya waktu beristirahat.
    Kelalahan. Faktor pekerjaan. Beban pekerjaan. Yang menyebabkan Ari melakukan kesalahan pada saat bekerja yang menimbulkan potensi bahaya
     


    ANALISIS CORRECTION ACTION, PREVENTIVE ACTION DAN REKOMENDASI
     
    Tindakan Perbaikan (Corrective Action)
    Definisi Corrective Action: tindakan korektif adalah langkah-langkah yang diambil untuk menghilangkan penyebab ketidaksesuaian yang ada atau situasi yang tidak diinginkan.
    1. Sebaiknya Ari menggunakan APD <– WAJIB APD.
    2. Sebaiknya Ari tenang dalam bekerjastrong> <– Fokus dalam bekerja.
    3. Bekerja harus dalam pengawasan, sesama rekan kerja atau pekerja khusus untuk mengawasi
    4. Melakukan pekerjaan sesuai prosedur
    5. Memiliki keahlian dan keterampilan yang sesuai

    Tindakan pencegahan (Preventive Action)
    Definisi Aksi Pencegahan: tindakan preventif adalah langkah-langkah yang diambil untuk menghapus penyebab ketidaksesuaian potensial atau situasi potensial yang tidak diinginkan
    1. Harap memakai APD
    2. Melakukan pengecekan terlebih dahulu. Agar tahu ada potensi bahaya atau tidaknya
    3. Diberi rambu-rambu peringatan
    4. Harap diberi pembatas area
    5. Istirahatlah yang cukup, agar tidak kelelahan
    6. Memberi pekerjaan sesuai kemampuan kepada pekerjanya
    7. Diharapkan sesama rekan kerja salig mengawasi
    8. Melakukan edukasi terhadap pekerja
    9. Membuat suasana kerja yang kondusif
    10. Memastikan untuk melakukan investigasi sudah benar

    Rekomendasi
    1. Diharuskan mandor proyek memberikan APD
    2. Adanya pengawas khusus, tidak sesama rekan kerja saja
    3. Melakukan pengecekan terlebih dahulu, pada area kerja tersebut
    4. Sebaiknya, harus menerapkan SOP (Standar Opersional Prosedure )
    5. Planning / perencanaan kerja di perbaiki diperbaiki (Kata “di” harus disambung, bukan dipisah! Belajar lagi bahasa Indonesia dengan benar).

    DaftarPustaka Sumber pustaka
    Merdeka.com, edisiJumat 13 Januari 2017 22:58 WIB
    https://www.merdeka.com/peristiwa/terjadi-ledakan-di-pt-start-aero-direktur-perusahaan-tewas.html
     


    Nama: Bintang Yudha Prakoso
    NIM: 167052036
    Semester: II
    Kelas: A2

  52. Hangga Septiawan

    Terjadi ledakan di PT Start Aero, direktur perusahaan tewas
    Merdeka.com – Sebuah ledakan terjadi di PT Start Aero Engeenering, area Bandara Budiarto, Kampung Kedaung, Desa Rancagong, Kecamatan Legok, Kota Tangsel, Jumat (13/1).
    Ledakan yang disebabkan tabung gas nitrogen ini menyebabkan direktur perusahaan tersebut Heni Susanti (48), tewas dan seorang karyawan, Arif Kurnia (30), luka berat.
    Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 10.00 WIB. Ketika itu, Arif hendak membuang isi tabung gas yang sudah kedaluwarsa di ruang bottle Shop (tempat untuk pengisian oksigen).
    “Ketika ujung tabung dibuka dengan kunci pas, tiba – tiba tabung gas meledak dan terbang menembus dinding tembok dan kaca ruang bagian batre,” kata Kasubag Humas Polres Tangsel AKN Mansuri.
    Tabung gas juga menembus dinding dan kaca ruang Avionic Shop ke-1 (elektronik) dan Avionnic ke-2. Lalu tabung berhenti setelah membentur ruang avionic shop ke-3.
    “Posisi korban Heni pada saat kejadian, sedang duduk di kursi kerja pada ruang bottle shop menghadap ke dalam. Sedangkan korban kedua, Arif sedang duduk sambil membuka botol gas generator,” jelasnya.
    Heni mendapat luka pada bagian kedua lengan tangan dan dada sempat dilarikan ke Rumah Sakit Keluarga Kita, lalu dirujuk ke RS Hermina Curug. Namun meninggal dalam perjalanan.
    “Sedangkan korban Arif Kurnia mendapat luka pada kedua lengan tangan putus,” kata Mansuri.
    Baik korban meninggal maupun korban luka diperkirakan karena terkena serpihan tabung gas generator atau tertabrak tabung gas generator yang meledak dan terbang.
    “Satu buah tabung gas generator berisi nitrogen diamankan sebagai barang bukti. Kasus ini masih dalam penyelidikan, jelasnya.
     


    ANALISIS KEJADIAN
     
    Analisa kejadian:
    Waktu :Jumat,13 Januari 2017
    -10.00 wib. Arif hendak membuang isi tabung gas yang kedaluarsa di ruang botle shoop (tempat pengisian oksigen), ketika ujung tabung di buka, tiba-tiba tabung gas meledak dan terbang menembus dinding tembok dan kaca ruang bagian bateray.
    -10.15 wib. Kedua korban di larikan ke RS Keluarga kita
    -10.32 wib. Tiba di RS Keluarga kita untuk pemeriksaan
    -10.40 wib. Di rujuk ke RS Hermina Curug untuk penanganan lebih intensif
    -12.25 wib. Kedua korban tiba di RS Hermina Curug , namun Heni sudah menghembuskan nafas terakhir saat perjalanan menuju RS Hemina Curug , sedangkan Arif mendapatkan penanganan medis pada tangan nya yang terputus.

    FAKTOR PENYEBAB LANGSUNG
    Tindakan Tidak Aman
    – Kesalahan dalam melakukan pembuangan isi tabung nitrogen. Pekerja tidak mengerti peraturan bekerja, seharusnya membuang isi tabung gas di ruang terbuka, tidak di dalam ruang tertutup
    – Tidak menggunakan APD

    FAKTOR PENYEBAB TIDAK LANGSUNG
    Faktor Manusia
    – Pekerja tidak memiliki kompetensi bekerja yang benar
    – Kesalahan pekerja yang tidak mengerti peraturan dalam bidang pekerjaan tsb
     


    ANALISIS CORRECTION ACTION, PREVENTIVE ACTION DAN REKOMENDASI
     
    A. Tindakan perbaikan (corrective action)
    1. Sebaiknya menggunakan APD
    2. Peninjauan ulang SOP yang ada.
    3. Memahami kegunaan dan fungsi APD saat melakukan SOP.
    4. Memiliki keahlian dan keterampilan yang sesuai
    5. Bekerja harus dalam pengawasan

    B. Upaya pencegahan (preventive action)
    1. Harap memakai APD <– WAJIB MENGGUNAKAN APD.
    2. Melakukan pengecekan terlebih dahulu. Agar tahu ada potensi bahaya atau tidaknya
    3. Diberi rambu-rambu peringatan
    4. Memberi pekerjaan sesuai kemampuan kepada pekerjanya
    5. Melakukan edukasi terhadap pekerja
    6. Membuat suasana kerja yang kondusif
    7. Memastikan untuk melakukan investigasi sudah benar
    8. Penerapan JSA / JRA pada setiap pekerjaan
    9. Mengadakan toolbox meeting atau briefing sebelum mengadakan pekerjaan
    10. Memotivasi karyawan agar lebih aktif melaporkan insiden

    C. Rekomendasi terhadap manajemen perusahaan
    1. Menyarankan kepada pihak manajemen agar mengatur ulang jam kerja para pekerja sesuai dengan aturan undang-undang yang berlaku
    2. Melakukan pengawasan kepada para pekerja yang sedang melakukan tugas terutama pekerja yang belum memiliki pengalaman yang cukup
    3. Melakukan pengecekan terlebih dahulu, pada area kerja tersebut
    4. Sebaiknya, harus menerapkan SOP (Standar Opersional Prosedure )
    5. Planning / perencanaan kerja di perbaiki diperbaiki (Kata “di” harus disambung, bukan dipisah! Belajar lagi bahasa Indonesia dengan benar).

    Sumber pustaka
    Merdeka.com, edisi Jumat 13 Januari 2017 22:58 WIB
    https://www.merdeka.com/peristiwa/terjadi-ledakan-di-pt-start-aero-direktur-perusahaan-tewas.html
     


    Nama: Hangga Septiawan
    NIM: 167052056
    Semester: II
    Kelas A2

  53. Drum Berisi Zat Kimia Meledak, 2 Pekerja Terbakar

    BENGKALIS – Dua pekerja mengalami luka bakar serius karena terkena ledakan drum berisi zat kimia di bengkel Utica Stel, Jalan Hangtuah, Kelurahan Babusalam, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Riau, Kamis (2/3/2017). Drum berisi zat kimia tersebut tiba-riba meledak saat korban Alnofian Sarfi (43) memotong drum menggunakan gerinda besi.

    Tubuh korban pun terpental dan mengalami luka bakar serius. Rekan korban, Rahmat Jumadi (27) yang saat kejadian berada di bengkel, mengalami luka bakar di lengan kiri terkena uap panas yang timbul saat terjadi ledakan.

    “Korban mengalami luka bakar di sekujur tubuhnya akibat ledakan tersebut. Pada saat dipotong sekitar 20 centimeter, tiba-tiba drum tersebut meledak dan mengeluarkan api yg cukup besar sehingga membakar tubuh korban. Diduga bahan kimia tersebut terkena percikan api dari gerinda,” kata Kapolres Bengkalis AKBP Hadi Wicaksono.
     


    ANALISIS KEJADIAN
     
    A. Sequence Of Event
    Hari: Jumat,2 Maret 2017
    -09.00 Pekerja menyiapkan alat untuk melakukan pemotongan drum zat kimia
    -09.15 Pekerja melakukan pemotongan drum zat kimia
    -09.18 Terjadi ledakan pada drum akubat percikan api gerinda yang mengenai zat kimia
    -09.25 Korban dilarikan ke Rumah Sakit terdekat untuk mendapat penanganan medis

    B. Faktor Penyebab Langsung
    Tidak menjalankan SOP. Ledakan bisa terjadi kerena pekerja tidak menjalankan SOP yang seharusnya di jalankan yang menyebabkan terjadinya kondisi tidak aman seperti masih tersisanya zat kimia di drum akibat tidak di bersihkan terlebih dahulu.

    2.Kondisi Tidak Aman
    Tidak adanya rambu peringatan. Kondisi areal atau objek pekerjaan yang berlumuran zat kimia. Tidak adanya rambu peringatan menyebabkan korban kedua yang berjarak agak jauh pun terkena ledakan karena tidak mengetahui jarak yang aman untuk berada di sekitar area pemotongan drum.
    Masih adanya lumuran zat kimia di dalam drum atau di daerah pekerjaan dapat menyebabkan ledakan yang sebenarnya bisa di perkirakan sebelumnya.

    C. Faktor Tidak Langsung
    Stress menyebabkan pekerja hilang fokus antara pekerjaan dan beban pribadinya yang menyebabkan teledor dalam bekerja
    Kurang terlatihnya pekerja mungkin menyebabkan pekerja tidak dapat melakukan pekerjaannya seperti yang seharusnya namun dipaksakan, yang menyebabkan tidak sesuainya hasil kerjanya.
     


    ANALISIS CORRECTION ACTION, PREVENTIVE ACTION DAN REKOMENDASI
     
    A. Corrective Action
    1.Memindahkan sisa-sisa drum yang berisi zat kimia dari area pemotongan.
    2. Membawa korban dengan segera mungkin ke rumah sakit/puskesmas terdekat agar dilakukan pertolongan pertama pada korban.
    3. Melaporkan kejadian tersebut terhadap pihak ke tiga/pihak berwenang.
    4. Mengisolasi ditempat kejadian dan memberi peringatan dilarang masuk untuk memudahkan penyelidikan di tempat tersebut.
    5. menjaga tempat kejadian tersebut agar tidak berpindah atau bahkan hilangnya barang bukti.

    B. Preventive action
    1. Menjauhkan drum-drum yang berisi zat kimia atau sejenisnya dari tempat penggerindaan.
    2. Melakukan pengecekkan berkala pada drum yang berisi zat kimia.
    3. Melakukan pengecekkan arus listrik yang digunakan sebelum proses penggerindaan.
    4. Melakukan pengecekkan pada kabel yang akan digunakan .
    5. Melakukan penggerindaan di tempat terbuka.
    6. Penggunaan APD dalam bekerja.
    7. Memasang tanda peringatan di tempat kerja.
    8. Memberikan label peringatan disetiap drum.
    9. Melakukan pengecekkan di setiap drum yang berisi zat kimia.
    10. Melakukan pemeliharaan pada mesin gerinda.

    C. Rekomendasi terhadap manajemen
    1. Memberikan safety brifing pada karyawan pada saat sebelum memulai pekerjaan.
    2. Memberikan pengawasan lebih di tempat penyimpanan bahan kimia.
    3. Menerapkan program K3, agar aman pada setiap pekerjaan yang dilakukan.
    4. Memberikan pelatihan khusus pada karyawan baru.
    5. Memberikan pengetahuan tentang house keeping yang baik, untuk pemeliharaan dan penempatan barang-barang yang berbahaya.

    Sumber pustaka
    Sindonews.com, edisi Jumat 3 Maret 2017 00:48 WIB
    https://daerah.sindonews.com/read/1184871/174/drum-berisi-zat-kimia-meledak-2-pekerja-terbakar-1488476852

    Nama: Muhammad Khairuddin Anwar
    NIM: 167052047
    Semester: II
    Kelas: A2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s