SAFETY PRIME

Engineering Safety

[170423] Tugas 4 – Investigasi Insiden 2017

73 Comments

Kepada Mahasiswa D4K3 UNIBA Semester II Kelas A1 dan A2,

Pada tugas ke-4 ini, Anda diminta untuk membuat ringkasan/rangkuman tentang materi “Memahami Kesalahan Manusia (Human Error)” dalam konteks keselamatan dan kesehatan kerja.

Adapun ketentuan mengerjakan tugas adalah sebagai berikut:

  1. Ketik ringkasan/rangkuman Anda secara langsung pada website ini dengan cara mengklik “Leave a comment” atau “Leave a reply”
  2. Ringkasan/rangkuman diketik dengan minimum 600 kata.
  3. Cantumkan nama Anda, NIM, semester, dan kelas di bagian akhir ringkasan/rangkuman.
  4. Batas akhir posting adalah pada hari Minggu 23 April 2017  pukul 23.59 WITA. Lewat waktu tersebut maka tugas Anda TIDAK akan mendapat approval untuk dipostingkan dan dianggap TIDAK mengerjakan tugas.
  5. Posting lebih awal akan mendapatkan penilaian yang lebih tinggi, sedangkan posting yang mendekati waktu deadline akan mendapatkan penilaian yang paling rendah.
  6. Posting Anda hanya akan tampil setelah mendapatkan persetujuan terlebih dulu dari Administrator, sehingga Anda tidak perlu memposting berulang kali untuk tugas yang sama.
  7. Tidak ada tugas susulan atau perbaikan nilai untuk tugas ini.

Kerjakan dengan cepat, tepat dan akurat. Selamat mengerjakan dan Always be safe! 

Advertisements

73 thoughts on “[170423] Tugas 4 – Investigasi Insiden 2017

  1. Memahami Kesalahan Manusia (Human Error)
    Ketika bekerja, terkadang kita tidak mampu menyelesaikan pekerjaan dengan baik atau apa yang kita kerjakan tidak memberikan hasil yang sesuai dengan apa yang kita harapkan. Dalamdunia kerja, hal ini cukup sering terjadi, apalagi bagi mereka yang belum memiliki pengalaman bekerja sebelumnya. Sebagai seseorang yang baru pertama kali bekerja, Kita cukup sering melakukan kesalahan – kesalahan dalam menyelesaikan pekerjaan hingga dapat mengakibatkan suatu kecelakaan. Akar penyebab suatu kecelakaan merupakan kombinasi dari beberapa faktor, banyak diantaranya yang berada di luar kendali pekerja.
    Ada 5 prinsip dasar yang harus terlebih dahulu dimengerti untuk dapat memahami faktor manusia, yaitu :
    1. Semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerja yang paling hebat pun bisa salah.
    2. Situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diprediksi, dikelola dan dicegah.
    3. Perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi.
    4. Pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan, rekan kerja dan bawahannya.
    5. Kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan/sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan di masa lalu.
    Kesalahan (error) adalah tindakan manusia yang tidak disengaja yang menyimpang dari tindakan yang diharapkan. Kesalahan adalah tindakan tak terencana atau dipikirkan terlebih dahulu. Kesalahan manusia (human error) terjadi akibat ketidakcocokan antara keterbatasan manusia dengan kondisi lingkungan di tempat kerja, termasuk ketidaksesuaian manajemen, kepemimpinan dan kelemahan organisasi yang membuat kondisi tersebut muncul.
    Kesalahan pada manusia dibedakan menjadi 2 bagian yaitu :
    1. Unsafe Act (Kesalahan tidak disengaja) diantaranya :
    – Luput (Slips) terjadi ketika suatu aksi fisik gagal mewujudkan hasil yang diinginkan.
    – Sedang Khilaf (Lapse) melibatkan kegagalan terkait ingatan atau mengingat ulang.
    – Keliru (Mistake), sebaliknya, terjadi ketika seseorang mempergunakan rencana yang tidak memadai untuk mencapai hasil yang diinginkan. Kekeliruan biasanya melibatkan kesalahan interpretasi atau kurangnya pengetahuan.
    2. Intended Act (Kesalahan yang disengaja) diantaranya :
    – Keliru (Mistake), dalam hal ini kesalahan dilakukan berulang kali padahal telah di ketahui penyebab resikonya
    – Pelanggaran (Violation), terbagi menjadi 3 bagian yaitu pelanggaran secara rutin/kebiasaan, pelanggaran pengecualian, dan melakukan sabotase.
    Peningkatan kinerja dapat diraih dengan menerapkan tindakan perbaikan sebuah investigasi/analisa kecelakaan. Belajar dari kesalahan diri sendiri dan orang lain adalah hal yang reaktif, namun menjadi hal yang penting sebagai bentuk perbaikan berkelanjutan.
    Menurut George A. Peters, human error adalah suatu penyimpangan dari standar performansi yang telah ditentukan sebelumnya sehingga menyebabkan adanya penundaan akibat dari kesulitan, masalah, insiden, dan kegagalan. Human error merupakan kesalahan dalam pekerjaan yang disebabkan oleh ketidaksesuaian atas pencapaian dengan apa yang diharapkan. Dalam prakteknya, human error terjadi ketika serangkaian aktifitas kita di lapangan kerja yang sudah direncanakan, ternyata berjalan tidak seperti apa yang kita inginkan sehingga kita gagal mencapai target yang diharapkan. Human error bisa juga terjadi karena kesalahan pada perancangan serta prosedur kerja.
    Pada dasarnya terdapat klasifikasi human error yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi penyebab kesalahan. Berikut klasifikasi dari human error secara umum:
    1. Induced Human Error System, dimana mekanisme sistem kerja yang memungkinkan pekerjanya melakukan kesalahan. Misalnya tidak adanya penerapan disiplin yang baik dari pihak manajemen
    2. Induced human error design, yaitu terjadinya kesalahan akibat dari kesalahan rancangan sistem kerja yang kurang baik
    3. Pure human error, ketika kesalahan itu berasal dari manusia itu sendiri. Misalnya karena kemampuan dan pengalamn kerja yang terbatas.
    Sedangkan penyebab terjadinya human error mencakup beberapa faktor, di antaranya:
    Faktor individu
    1. Tingkat keterampilan dan kompetensi yang rendah
    2. Pekerja mengalami kelelahan dan tidak konsentrasi saat bekerja
    3. Pekerja mengalami stres
    4. Pekerja menderita sakit atau masalah medis lainnya
    Faktor pekerjaan
    1. Desain peralatan yang tidak sesuai atau tidak cocok dengan pengguna
    2. Kondisi lingkungan kerja dan tata letak peralatan yang buruk
    3. Prosedur kerja tidak jelas
    4. Peralatan kerja tidak layak
    5. Kompleksitas pekerjaan dan kondisi yang berlebihan
    6. Pencahayaan kurang baik
    7. Tingkat kebisingan berlebihan
    8. Rancangan tata letak fasilitas kerja yang buruk
    Faktor Manajemen
    1. Prosedur kerja yang buruk
    2. Standard Operating Procedures (SOP) yang buruk
    3. Pelatihan dan pengawasan yang kurang memadai
    4. Manajemen hanya menerapkan komunikasi satu arah
    5. Kurangnya koordinasi dan tanggung jawab
    6. Lemahnya respons bila terjadi kecelakaan kerja
    7. Sistem keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang buruk
    8. Buruknya budaya K3 di perusahaan
    Selain itu, secara sederhana human error juga bisa disebabkan oleh tiga hal yang umum biasa terjadi dalam suatu perusahaan, seperti hal yang lebih menekankan kepada individu (kurangnya pelatihan atau pendidikan pada saat masa percobaan karyawan baru) atau yang bersifat manajerial (dimana kurangnya peranan manajemen dalam mengatur para karyawan) serta yang lebih bersifat global (tekanan keuangan, waktu, serta perlakuan sosial dan budaya organisasi).
    Banyak upaya yang dilakukan oleh perusahaan untuk mengantisipasi fenomena human error ini, mulai dari kualifikasi persyaratan perekrutan tenaga kerja yang semakin ketat sampai dengan pengaturan sistem kerja oleh manajemen. Pada dasarnya, human error tidak mungkin hilang sepenuhnya namun bisa diantisipasi agar tidak sering terjadi. Di sinilah peranan dari pihak manajerial sangat dibutuhkan. Mulai dari melakukan monitoring, evaluasi, serta memberikan pelatihan – pelatihan yang bersifat personal skill, seperti communication skill, public speaking, outbond training, serta seminar.
    Selain itu, perlu adanya perhatian terhadap perilaku serta budaya yang ada dalam suatu organisasi, misalnya perilaku individu serta kelompok yang bekerja dalam perusahaan tersebut, hubungan inter – intra personal disetiap divisi yang ada. Dan mungkin yang tidak kalah pentingnya, yaitu suasana kerja organisasi. Bagaimana agar rutinitas kerja menjadi menyenangkan meskipun penuh tekanan sehingga dapat memperkecil resiko jenuh dan stres bagi para pekerja dalam perusahaan tersebut.

    Nama : Olga Regina Yeusy
    NIM : 167051993
    Semester : II
    Kelas : A1


    Komentar Dosen:
    – Rangkuman harus berasal dari materi perkuliahan.
    – Tidak diizinkan mengambil materi dari internet karena belum terjamin validitas teorinya.
    – Materi hanya boleh diambil dari luar yang berasal dari buku cetak yang berwujud secara fisik, dimana terdapat nomor ISBN dengan jelas, nama pengarang, judul buku, tahun terbit, dan nama penerbitnya.
    – Untuk materi rangkuman yang berasal dari buku, wajib mencantumkan daftar pustakanya.
    – Perbaiki kembali tugas Anda ini.

  2. Memahami Kesalahan Manusia (Human Error) dalam konteks Keselamatan dan Kesehatan Kerja

    Pekerja bisa saja melakukan kesalahan (error), tidak terkecuali pekerja yang sudah terlatih dan memiliki motivasi kerja yang baik. Beberapa kesalahan bisa menghasilkan konsekuensi cedera/kecelakaan, sedangkan banyak kesalahan lainnya tidak. Karena kesalahan pasti terjadi, kemampuan untuk dapat mengidentifikasi kesalahan di tahap awal, berguna untuk mencegah terjadinya kecelakaan.
    Data dari Departemen Energi Amerika bahkan mengatakan bahwa di beberapa industri, porsi kesalahan manusia bisa mencapai 90%; hanya sekitar 20% yang terkait kegagalan peralatan.
    Akar penyebab kecelakaan merupakan kombinasi dari beberapa faktor, banyak diantaranya yang berada di luar kendali pekerja.

    Ada 5 prinsip dasar yang harus terlebih dahulu dimengerti untuk dapat memahami faktor manusia :

    1. Semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerja yang paling hebat pun bisa salah.

    Tidak ada satupun pekerja yang kebal/anti kesalahan, berapapun usia, pengalaman atau tingkat pendidikannya. Karenanya dikenal istilah “to err is human” (berbuat salah adalah manusiawi).

    2. Situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diprediksi, dikelola dan dicegah.

    Mengenali perangkap/jebakan kesalahan dan secara aktif mengkomunikasikan bahaya-bahaya tersebut ke orang lain adalah salah satu bentuk pengelolaan kesalahan yang proaktif.

    3. Prilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi.

    Tugas manajemen untuk mengarahkan perilaku para pekerja. Penyelesaian pekerjaan dalam konteks proses dan budaya organisasi, pengelolaan perencanaan dan sistem pengendali, berkontribusi paling besar dalam kesalahan manusia yang bisa mengakibatkan kecelakaan kerja.

    4. Pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan, rekan kerja dan bawahannya.

    Tingkat keselamatan dan kehandalan sebuah fasilitas terkait langsung dengan perilaku para pekerjanya. Karena perilaku dipengaruhi oleh konsekuensi yang pekerja itu alami, apa yang terjadi ketika seorang pekerja menunjukkan perilaku tertentu adalah hal yang penting untuk meningkatkan kinerja manusia.

    5. Kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan/sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan di masa lalu.

    • Kesalahan (error) adalah tindakan manusia yang tidak disengaja yang menyimpang dari tindakan yang diharapkan. Kesalahan adalah tindakan tak terencana atau dipikirkan terlebih dahulu.
    • Kesalahan manusia (human error) terjadi akibat ketidakcocokan antara keterbatasan manusia dengan kondisi lingkungan di tempat kerja, termasuk ketidaksesuaian manajemen, kepemimpinan dan kelemahan organisasi yang membuat kondisi tersebut muncul.
    • Luput (slips) terjadi ketika suatu aksi fisik gagal mewujudkan hasil yang diinginkan.
    • Sedang khilaf (lapses) melibatkan kegagalan terkait ingatan atau mengingat ulang.
    • Keliru (mistake), sebaliknya, terjadi ketika seseorang mempergunakan rencana yang tidak memadai untuk mencapai hasil yang diinginkan. Kekeliruan biasanya melibatkan kesalahan interpretasi atau kurangnya pengetahuan.

    Manusia memiliki karakter fisik, biologi, sosial, mental, dan emosi yang membentuk kecenderungan, kemampuan dan juga menentukan keterbatasannya.Salah satu ciri manusia adalah ketidaktepatannya. Tidak seperti mesin yang selalu tepat setiap saat, manusia cenderung tidak tepat, terutama dalam kondisi tertentu.

    A. Beberapa karakter manusia dibawah ini perlu diperhatikan, terutama ketika menempatkan pekerja di sistem kerja yang rumit :

    • Stres
    • Menghindari kelelahan pikiran
    • Keterbatasan memori kerja
    • Keterbatasan fokus perhatian
    • Pola pikir
    • Sulit melihat kesalahannya sendiri
    • Keterbatasan perspektif
    • Rentan terhadap faktor emosional/sosial
    • Kelelahan
    • Presenteeism
    • Sikap tidak aman

    B. Beberapa sikap yang dapat menimbulkan resiko berbuat salah misalnya :

    • Rasa bangga
    • Heroik
    • Fatalistic
    • Invulnerability ( memiliki rasa kebal terhadap kesalahan/tidak mungkin berbuat salah)
    • Pollyanna (rasa optimis berlebihan)
    • Sikap “Ban gundul”

    C. Kesalahan kelompok bisa diakibatkan oleh beberapa hal, diantaranya :

    • Efek halo yaitu Kepercayaan buta akan kompetensi seseorang dikarenakan pengalaman atau pendidikannya.

    • Pilot-Co-pilot yaitu Keengganan pekerja junior (co-pilot) untuk menentang pendapat, keputusan atau tindakan pekerja senior (pilot) karena posisinya di dalam struktur organisasi perusahaan

    • Menumpang/mengikuti saja yaitu Kecenderungan untuk “menumpang” (ikut-ikutan saja) tanpa secara aktif mengevaluasi maksud dan tindakan pekerja yang melakukan pekerjaan atau mengambil inisiatif. Orang lain yang mengambil inisiatif untuk melakukan pekerjaan, sementara si penumpang hanya mengambil peran pasif.

    • Berpikir grup yaitu Kepaduan, loyalitas, konsensus dan komitmen adalah hal yang baik jika ada di dalam kelompok kerja. Namun, terkadang, hal-hal tersebut bisa menurunkan kualitas keputusan tim

    • Difusi tanggung jawab bisa jadi berisiko dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah kelompok. Jika dua atau lebih pekerja sepakat akan sesuatu yang dianggap cara yang terbaik dalam melakukan sesuatu, maka mereka akan lebih mudah mengambil resiko dan mengabaikan prosedur atau kebijakan yang ada. Fenomena ini bisa disebut mentalitas gembala (herd mentality).

    Nama : Derry Andhika Nurfajri
    NIM : 167052019
    Semester : II
    Kelas : A2

  3. MEMAHAMI KESALAHAN MANUSIA ( HUMAN ERROR ) DALAM KONTENKS KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
    Ketika bekerja, terkadang kita tidak mampu menyelesaikan pekerjaan dengan baik atau apa yang kita kerjakan tidak memberikan hasil yang sesuai dengan apa yang kita harapkan. Dalam dunia kerja, hal ini cukup sering terjadi, apalagi bagi mereka yang belum memiliki pengalaman bekerja sebelumnya. Sebagai seseorang yang baru pertama kali bekerja, Kita cukup sering melakukan kesalahan – kesalahan dalam menyelesaikan pekerjaan. Ini biasa disebut dengan istilah human error.
    Dengan menganggap manusia (pekerja) sebagai akar masalah, tidak sedikit pemimpin yang memberlakukan prosedur kerja yang ketat, sehingga pekerja harus mengikuti aturan tersebut dan tidak boleh melanggarnya. Bila satu kelalaian terjadi, inilah yang dianggap sebagai sebuah unsafe act dan ‘manusia’ dianggap sebagai akar penyebabnya.
    Human error adalah suatu penyimpangan dari standar performansi yang telah ditentukan sebelumnya sehingga menyebabkan adanya penundaan akibat dari kesulitan, masalah, insiden, dan kegagalan. Human error merupakan kesalahan dalam pekerjaan yang disebabkan oleh ketidaksesuaian atas pencapaian dengan apa yang diharapkan. Dalam prakteknya, human error terjadi ketika serangkaian aktifitas kita di lapangan kerja yang sudah direncanakan, ternyata berjalan tidak seperti apa yang kita inginkan sehingga kita gagal mencapai target yang diharapkan. Namun human error tidak mutlak disebabkan oleh kesalahan manusia. Human error bisa juga terjadi karena kesalahan pada perancangan serta prosedur kerja. Human error dapat terjadi dikarenakan oleh banyak faktor seperti,
    1. Indunce human error system, yaitu mekanisme system kerja yang memungkinkan pekerjanya melakukan keselahan. Misalnya, tidak ada penerapan disiplin dari pihak management.
    2. Induced human error design, dimana terjadinya kesalahan akibat dari kesalahan perencanangan system kerja yang kurang baik.
    3. Pure human error, dimana kesalahan itu berasal dari manusia itu sendiri. Misalnya, karena kemampuan dan pengalaman kerja yang terbatas.
    Selain itu, secara sederhana human error juga bisa disebabkan oleh tiga hal yang umum biasa terjadi dalam suatu perusahaan, seperti hal yang lebih menekankan kepada individu (kurangnya pelatihan atau pendidikan pada saat masa percobaan karyawan baru) atau yang bersifat manajerial (dimana kurangnya peranan manajemen dalam mengatur para karyawan) serta yang lebih bersifat global (tekanan keuangan, waktu, serta perlakuan sosial dan budaya organisasi).
    Banyak upaya yang dilakukan oleh perusahaan untuk mengantisipasi fenomena human error ini, mulai dari kualifikasi persyaratan perekrutan tenaga kerja yang semakin ketat sampai dengan pengaturan sistem kerja oleh manajemen. Pada dasarnya, human error tidak mungkin hilang sepenuhnya namun bisa diantisipasi agar tidak sering terjadi. Di sinilah peranan dari pihak manajerial sangat dibutuhkan. Mulai dari melakukan monitoring, evaluasi, serta memberikan pelatihan – pelatihan yang bersifat personal skill, seperti communication skill, public speaking, outbond training, serta seminar.
    Selain itu, perlu adanya perhatian terhadap perilaku serta budaya yang ada dalam suatu organisasi, misalnya perilaku individu serta kelompok yang bekerja dalam perusahaan tersebut. Dan mungkin yang tidak kalah pentingnya, yaitu suasana kerja organisasi. Bagaimana agar rutinitas kerja menjadi menyenangkan meskipun penuh tekanan sehingga dapat memperkecil resiko jenuh dan stres bagi para pekerja dalam perusahaan tersebut.
    Sulit melihat kesalahannya sendiri. Individu, terutama yang bekerja sendiri, rentan terhadap kesalahan. Pekerja yang terlalu asyik dengan kerjaannya, atau disibukkan dengan suatu hal, bisa jadi gagal untuk dapat mengidentifikasi ketidaknormalan.
    Keterbatasan perspektif. Manusia tidak bisa melihat semua hal yang ada ditempat kerja untuk dilihat. Keterbatasan manusia untuk menerima semua fakta dapat menghalangi keputusannya untuk memecahkan masalah.
    Meskipun secara umum manusia bisa melakukan kesalahan, ada beberapa kesalahan yang dapat dicegah sedini mungkin. Pekerjaan dan faktor individu di tempat kerja bisa dikelola untuk mencegah atau setidaknya mengurangi peluang terjadinya kesalahan, dengan mengubah situasi kerja. Kemampuan untuk dapat mengidentifikasi kesalahan pada setiap individu di tahap awal, berguna untuk mencegah terjadinya kecelakaan.
    Perilaku selamat merupakan segala yang dikerjakan oleh manusia atau dalam hal ini tenaga kerja dalam rangka menciptakan keadaan selamat. Tentu perilaku manusia di lihat dari pengetahuannya ( sudahkah dia mengerti atau memahami dalam melakuakan tugas yang dia kerjakan), sikap ( bagaiamana sikap manusia dalam menyikapi pekerjaannya sendiri ), tindakan ( apakah perbuatan atau pekerjaan yang dia lakukan sudah mematuhi aturan atau tidak ). Terbentuknya suatu perilaku dimulai dengan pengetahuan, dalam arti subjek tahu terlebih dahulu berupa materi sehingga menimbulkan pengetahuan baru, selanjutnya menimbulkan respon dalam sikap, ahirnya akan menimbulkan respon yang lebih jauh lagi berupa tindakan.
    Pengetahuan pekerja adalah segala sesuatu yang diketahui oleh pekerja mengenai pekerjaanya, baik melalui arahan pimpinan atau melalui pengamatan dirinya pribadi. Pengetahuan yang kurang mengenai pekerjaannya akan berpengaruh pada tindakan mereka dalam bekerja seperti tidak mematuhi prosedur kerja atau tidak memakai alat APD yagn sudah di sediakan oleh perusahaan, dan inilah yang mempengaruhi keselamatan dan kesehatan kerja akibat human error.

    Nama : Priscilla Jinifer Meirin
    NIM : 167051982
    Semester : II
    Kelas : A1


    Komentar Dosen:
    – Rangkuman harus berasal dari materi perkuliahan.
    – Tidak diizinkan mengambil materi dari internet karena belum terjamin validitas teorinya.
    – Materi hanya boleh diambil dari luar yang berasal dari buku cetak yang berwujud secara fisik, dimana terdapat nomor ISBN dengan jelas, nama pengarang, judul buku, tahun terbit, dan nama penerbitnya.
    – Untuk materi rangkuman yang berasal dari buku, wajib mencantumkan daftar pustakanya dengan menggunakan format Vancouver atau Harvard.
    – Pastikan jumlah rangkuman paling sedikit terdiri atas 600 kata.
    – Cantumkan kalimat “PERBAIKAN TUGAS KE-1” di awal rangkuman pada posting berikutnya.
    – Perbaiki kembali tugas Anda ini.

  4. Ringkasan Memahami Kesalahan Manusia (Human Error)

    Kesalahan manusia atau biasa disebut human error adalah kesalahan yang bisa menghasilkan konsekuensi cedera atau kecelakaan, oleh sebab itu penting bagi praktisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) untuk dapat memahami prinsip yang melatar belakangi kesalahan manusia. Kesalahan pada manusia pasti akan terjadi oleh sebab itu dibutuhkan kemampuan untuk mengidentifikasi kesalahan tersebut dari awal yang berguna untuk mencegah terjadinya kecelakaan saat bekerja.
    Berdasarkan Departemen Energi Amerika, kecelakaan kerja akibat kesalahan manusia hampir sekitar 80%. Jika dijabarkan, terungkap bahwa sebagian besar (70%) kesalahan pekerja diakibatkan oleh kelemahan laten perusahaan. Kesalahan tersebut terjadi karena tidak ada evaluasi atas kesalahan yang tidak tampak oleh pekerja sebelumnya. Sedang 30% lainnya terjadi oleh pekerja yang menangani peralatan atau sistem di area kerja. Untuk menganalisis hubungan antara human error dan kecelakaan, prinsip dasar yang digunakan sebaiknya tidak terfokus hanya pada kesalahan individu atau saja. Akar penyebab kecelakaan merupakan kombinasi dari beberapa faktor, banyak diantaranya yang berada di luar kendali pekerja.

    Ada 5 prinsip dasar yang harus terlebih dahulu dimengerti untuk dapat memahami faktor manusia, yaitu:
    1. Semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerja yang paling hebat bisa salah.
    Tidak ada pekerja yang luput dari kesalahan, berapapun usianya, pengalaman atau tingkat pendidikannya pasti akan berbuat salah karena tindakan tersebut manusiawi ( to err is human), karena pada dasarnya pekerja tidak ada yang sempurna oleh sebab itu kesalahan tidak dapat dihilangkan walaupun telah melewati pelatihan atau konseling. Dr. James Reason, penulis Human Error (1990) mengatakan, human error adalah penting bagi tiap pekerja, terutama managernya, untuk menjadi lebih mawas diri akan potensi manusia berbuat salah. Pekerjaan, tempat kerja dan faktor organisasasi membentuk kemungkinan (likelihood) dan konsekuensi (consequences).

    2. Situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diprediksi, dikelola dan dicegah.
    Secara umum kesalahan manusia adalah hal yang pasti, beberapa kesalahan yang spesifik dapat dicegah. Mengenali perangkap/jebakan kesalahan dan secara aktif mengkomunikasikan bahaya-bahaya tersebut ke orang lain adalah salah satu bentuk pengelolaan kesalahan yang proaktif. Dengan mengubah situasi kerja untuk mencegah, menghilangkan atau mengurangi kondisi yang bisa menyebabkan kesalahan, pekerjaan dan faktor individu di tempat kerja bisa dikelola untuk mencegah atau setidaknya mengurangi peluang terjadinya kesalahan.

    3. Perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi.
    Organisasi digerakkan oleh tujuan, karena itu, proses dan nilai-nilai yang ada di dalamnya dikembangkan untuk mengarahkan perilaku tiap individu di dalam organisasi. Organisasi mencerminkan bagaimana pekerjaan dipecah menjadi tugas-tugas tertentu dan dikoordinasikan untuk mencapai sasaran dengan selamat dan handal. Penyelesaian pekerjaan dalam konteks proses dan budaya organisasi, pengelolaan perencanaan dan sistem pengendali, berkontribusi paling besar dalam kesalahan manusia yang bisa mengakibatkan kecelakaan kerja.

    4. Pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan, rekan kerja dan bawahannya.
    Tingkat keselamatan dan kehandalan sebuah fasilitas terkait langsung dengan perilaku para pekerjanya. Semua perilaku manusia, yang baik ataupun yang buruk, dikuatkan oleh konsekuensi langsung atau pengalaman masa lalunya. Sebuah perilaku dikuatkan oleh konsekuensi yang individu tersebut alami ketika perilaku tertentu dilakukan. Karena perilaku dipengaruhi oleh konsekuensi yang pekerja itu alami, apa yang terjadi ketika seorang pekerja menunjukkan perilaku tertentu adalah hal yang penting untuk meningkatkan kinerja manusia.
    5. Kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan/sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan di masa lalu.
    Peningkatan kinerja dapat diraih dengan menerapkan tindakan perbaikan sebuah investigasi/analisa kecelakaan. Belajar dari kesalahan diri sendiri dan orang lain adalah hal yang reaktif, namun menjadi hal yang penting sebagai bentuk perbaikan berkelanjutan. Kesalahan (error) adalah tindakan manusia yang tidak disengaja yang menyimpang dari tindakan yang diharapkan. Kesalahan adalah tindakan tak terencana atau dipikirkan terlebih dahulu. Kesalahan manusia (human error) terjadi akibat ketidakcocokan antara keterbatasan manusia dengan kondisi lingkungan di tempat kerja, termasuk ketidaksesuaian manajemen, kepemimpinan dan kelemahan organisasi yang membuat kondisi tersebut muncul.
    Luput (slips) terjadi ketika suatu aksi fisik gagal mewujudkan hasil yang diinginkan. Sedang khilaf (lapses) melibatkan kegagalan terkait ingatan atau mengingat ulang.

    Beberapa hal berikut bisa menjelaskan bagaimana ketidaktepatan atau aksi yang salah bisa terjadi:
    • Waktu –terlalu cepat, terlalu lambat, alpa
    • Durasi –terlalu lama, terlalu singkat
    • Urutan –terbalik, berulang-ulang, gangguan
    • Obyek –salah tindakan di obyek yang benar, tindakan bertindak di obyek yang salah
    • Tekananan –terlalu sedikit atau terlalu banyak tekanan
    • Arahan – salah memberikan arahan
    • Kecepatan –terlalu cepat atau terlalu lambat, dan
    • Jarak – terlalu jauh, terlalu dekat.

    Keliru (mistake), terjadi ketika seseorang mempergunakan rencana yang tidak memadai untuk mencapai hasil yang diinginkan. Kekeliruan biasanya melibatkan kesalahan interpretasi atau kurangnya pengetahuan. Manusia memiliki karakter fisik, biologi, sosial, mental, dan emosi yang membentuk kecenderungan, kemampuan dan juga menentukan keterbatasannya. Karena keterbatasan manusia inilah pekerja cenderung rentan terhadap kondisi eksternal yang membuat mereka melampaui batasan sifat manusianya. Kerentanan inilah yang membuat pekerja bisa berbuat salah.

    Beberapa karakter manusia dibawah ini perlu diperhatikan, terutama ketika menempatkan pekerja di sistem kerja yang rumit:
    a. Stress
    Beberapa kondisi stres merupakan hal yang normal dan sehat. Stres bahkan dapat meningkatkan fokus sehingga menguntungkan. Namun, stres bisa terakumulasi dan menguasai seseorang, sehingga pada akhirnya melumpuhkan kinerja.
    b. Menghindari kelelahan pikiran
    Berpikir adalah proses yang membutuhkan usaha yang besar dan juga lambat, akhirnya manusia cenderung mencari pola yang dikenalnya dan menerapkan solusi yang sudah pernah diterapkan. Polanya bisa berupa:
    • Asumsi yaitu menerima suatu kondisi sebagai suatu hal yang benar tanpa verifikasi terlebih dahulu
    • Kebiasaan yaitu pola perilaku dibawah sadar sebagai hasil dari pengulangan yang sering
    • Bias konfirmasi yaitu keengganan untuk menerapkan solusi terbaru karena bias pemikiran yang ada akibat investasi waktu dan usaha yang diperlukan untuk menerapkan solusi terbaru itu. Bias ini terjadi karena otak sudah melihat hasil dari solusi sebelumnya dan menolak data/fakta mengenai keberhasilan solusi yang baru
    • Bias kesamaan yaitu kecenderungan untuk mengambil solusi dari kondisi yang serupa yang berhasil di masa lalu
    • Bias frekuensi yaitu mencoba solusi yang sudah berhasil dan sering dipakai
    • Bias ketersediaan yaitu kecenderungan untuk menerapkan solusi yang tersedia/muncul dalam pikiran
    c. Keterbatasan memori kerja.
    Ingatan jangka pendek (short term memory) adalah tempat kerja/memori kerja bagi penyelesaian masalah dan pengambilan kebutusan. Ingatan jangka pendek dipergunakan untuk menyimpan informasi baru dan aktif dipergunakan ketika belajar, menyimpan dan memanggil (recall) informasi. Inilah yang menyebabkan pekerja lupa, terutama ketika berkerja dengan prosedur yang rumit
    d. Keterbatasan fokus perhatian.
    Keterbatasan kemampuan berkonsentrasi pada dua atau lebih aktifitas menurunkan kemampuan untuk memproses informasi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah. Fokus perhatian sangatlah terbatas, jika diambil oleh satu hal maka dia akan menarik diri dari hal yang lain.
    e. Pola pikir.
    Manusia cenderung fokus pada apa yang hendak dicapai daripada pada fokus pada apa yang harus dihindari, karenanya, manusia hanya melihat apa yang pikirannya harapkan/inginkan untuk dilihat.
    f. Sulit melihat kesalahannya sendiri.
    Pekerja rentan terhadap kesalahan. Pekerja yang terlalu asyik dengan kerjaannya, atau disibukkan dengan suatu hal, bisa jadi gagal untuk dapat mengidentifikasi ketidaknormalan.
    g. Keterbatasan perspektif.
    Manusia tidak bisa melihat semua hal yang ada ditempat kerja untuk dilihat. Keterbatasan manusia untuk menerima semua fakta dapat menghalangi keputusannya untuk memecahkan masalah.
    h. Rentan terhadap faktor emosional/sosial.
    Kemarahan atau rasa malu bisa menurunkan kinerja seorang pekerja atau kelompok kerja.
    i. Kelelahan.
    Kelelahan dapat diakibatkan oleh faktor di dalam pekerjaan (tekanan produksi, lingkungan, dan kurangnya jumlah pekerja) dan faktor d iluar pekerjaan (pola makan dan tidur). Kelelahan memperburuk pengambilan keputusan, menurunkan kewaspadaan, memperlambat proses berpikir dan waktu reaksi, menghilangkan kewaspadaan kepada lingkungan (situational awareness) dan mendorong seseorang mengambil jalan pintas (shortcut).
    j. Presenteeism
    Kecenderungan pekerja tetap melanjutkan pekerjaan meski memiliki masalah kesehatan yang ringan dapat diakibatkan oleh kurangnya cuti sakit, menumpuknya pekerjaan atau tidak tersedianya akses pelayanan kesehatan.
    k. Sikap tidak aman

    Sikap dapat diartikan sebagai kondisi mental atau perasaan terhadap suatu obyek atau subyek. Beberapa sikap yang dapat menimbulkan resiko berbuat salah, yaitu:
    • Rasa bangga. Terlalu fokus pada diri sendiri dan berlebihan rasa bangga cenderung membutakan kita akan hal-hal yang dapat dilakukan oleh orang lain, menurunkan kepercayaan terhadap kerjasama tim.
    • Heroik. Keberanian yang berlebihan. Reaksi heroic biasanya impulsif, ada pemikiran dalam dirinya bahwa pekerjaan harus dilakukan secara cepat atau dianggap gagal. Perspektif ini ditandai dengan fokus berlebih pada tujuan tanpa mempertimbangkan bahaya yang harus dihindari
    • Fatalistic. Sikap kalahan yang meyakini bahwa setiap kejadian sudah ditentukan, tidak bisa dihindari, dan tidak ada yang dapat dilakukan untuk menghindari takdir
    • Invulnerability. Memiliki rasa kebal terhadap kesalahan/tidak mungkin berbuat salah, gagal atau cedera. Padahal, kesalahan selalu mengejutkan ketika terjadi, sebagai akibat dari keterbatasan/ketidak akuratan manusia dalam memperhitungkan resiko
    • Pollyanna (rasa optimis berlebihan). Manusia mencari keteraturan dalam lingkungan, bukan ketidakteraturan. Akibatnya, secara tidak sadar mereka meyakini bahwa segala sesuatu akan berjalan sesuai yang direncanakan. Hal yang bisa terjadi ketika melakukan pekerjaan rutin adalah tanpa sadar meyakini bahwa tidak ada satupun yang bisa berjalan tidak sesuai rencana/salah. Sikap ini membuat ketidakakuratan dalam memperhitungkan resiko dan mengacuhkan situasi atau bahaya yang tidak biasa, sehingga menyebabkan mereka terlambat atau bahkan tidak bereaksi
    • Sikap “Ban gundul”. Kinerja masa lalu terkadang menjadi pembenaran untuk tidak merubah (melakukan perbaikan) praktek atau kondisi yang sudah ada: Kesuksesan bisa membuat kepuasan dan kepercayaan diri berlebih.

    Kesalahan kelompok bisa diakibatkan oleh beberapa hal, diantaranya:
    1. Efek halo adalah kepercayaan buta akan kompetensi seseorang dikarenakan pengalaman atau pendidikannya. Hal ini mengakibatkan antar anggota kelompok menurunkan kewaspadaannya terhadap kesalahan yang dapat diakibatkan oleh individu yang kompeten; tidak memeriksa tindakan seorang yang kompeten
    2. Pilot-Co-pilot adalah keengganan pekerja junior (co-pilot) untuk menentang pendapat, keputusan atau tindakan pekerja senior (pilot) karena posisinya di dalam struktur organisasi perusahaan. Bawahan menunjukkan sopan santun berlebihan ketika berinteraksi dengan manajer senior, tanpa sadar menerima perkataan bos tanpa berpikir kritis atau berbeda pendapat terhadap tindakan dan keputusannya.
    3. Menumpang/mengikuti saja adalah kecenderungan untuk “menumpang” (ikut-ikutan saja) tanpa secara aktif mengevaluasi maksud dan tindakan pekerja yang melakukan pekerjaan atau mengambil inisiatif. Orang lain yang mengambil inisiatif untuk melakukan pekerjaan, sementara si penumpang hanya mengambil peran pasif.
    4. Berpikir grup adalah kepaduan, loyalitas, konsensus dan komitmen adalah hal yang baik jika ada di dalam kelompok kerja. Namun, terkadang, hal-hal tersebut bisa menurunkan kualitas keputusan tim.
    5. Difusi tanggung jawab bisa jadi berisiko dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah kelompok. Jika dua atau lebih pekerja sepakat akan sesuatu yang dianggap cara yang terbaik dalam melakukan sesuatu, maka mereka akan lebih mudah mengambil resiko dan mengabaikan prosedur atau kebijakan yang ada. Fenomena ini bisa disebut mentalitas gembala (herd mentality).


    Nama : M. Pandji Anoem Bayu Prasetyo
    NIM : 167052027
    Semester : II
    Kelas : A2

  5. “Memahami Kesalahan Manusia (Human Error)”

    Semua pekerja bisa melakukan kesalahan ( Error ), tidak terkecuali pekerja yang sudah terlatih dan memiliki motivasi kerja yang baik.
    Hampir 80% kejadian terkait dengan kesalahan manusia,data dari Departement Energi Amerika bahkan mengatakan bahwa di beberapa industri, porsi kesalahan manusia bisa mencapai 90%,hanya sekitar 20% yang terkait kegagalan peralatan.

    5 Prinsip dasar yang harus terlebih dahulu dimengerti untuk dapat memahami faktor manusia :

    1. Semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerja yang paling hebat pun bisa salah.
    dikenal dengan istilah ” To err is human ” ( berbuat salah adalah manusiawi ).
    Dr. James Reason penulis Human Error (1990) mengatakan adalah penting bagi setiap pekerja, terutama managernya untuk menjadi lebih mawas diri akan potensi manusia berbuat salah.

    2. Situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diprediksi,dikelola dan dicegah.
    Menghilangkan atau mengurangi kondisi yang bisa menyebabkan kesalahan,pekerja dan faktor individu ditempat kerja bisa dikelola untuk mencegah atau setidaknya mengurangi peluang terjadinya kesalahan.

    3. Perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi.
    Organisasi digerakkan oleh tujuan,proses dan nilai – nilai yang ada didalamnya dikembangkan untuk mengarahkan perilaku tiap individu di dalam organisasi. budaya organisasi,pengelolaan perencanaan dan sistem pengendali berkontribusi paling besar dalam kesalahan manusia yang bisa mengakibatkan kecelakaan kerja.

    4. Pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan, rekan kerja dan bawahannya. Tingkat keselamatan dan kehandalan sebuah fasilitas terkait langsung dengan perilaku para pekerjanya.

    5. Kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan/sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan di masa lalu.
    Peningkatan kinerja dapat diraih dengan menerapkan tindakan perbaikan sebuah Investigasi/analisa kecelakaan. belajar dari diri sendiri dan orang lain adalah hal yang reaktif,namun menjadi hal yang penting sebagai bentuk perbaikan berkelanjutan.

    – Unsafe Acts (Tindakan Tidak Aman) terbagi menjadi 2, Antara lain :
    1. Unintended Action (Tindakan Tidak Sengaja)
    a. Slip (Luput) terjadi ketika suatu aksi fisik gagal mewujudkan hasil yang di inginkan.
    b. Lapses (Khilaf) melibatkan kegagalan terkait ingatan atau mengingat ulang
    c. Mistake (Keliru) Terjadi ketika seseorang mempergunakan rencana yang tidak memadai untuk mencapai hasil yang diinginkan.
    2. Intended Action (Tindakan Sengaja)
    a. Mistake (Keliru) memaksakan diri/pekerjaan yang tidak sesuai kompetensi
    b. Violation (Pelanggaran) antara lain : Routine (kebiasaan), Exception (Pengecualian) dan Sabotage (Sabotase).

    Beberapa karakter manusia dibawah ini perlu diperhatikan,terutama ketika menempatkan pekerja di sistem yang rumit, anatara lain :
    1. Stres
    Stres bisa terakumulasi dan menguasai seseorang sehingga pada akhirnya melumpuhkan kinerja.
    2. Menghindari kelelahan pikiran
    Manusia cenderung enggan berfikir/konsentrasi/fokus dalam jangka waktu yang lama karena melelahkan sehingga cenderung mencari pola yang dikenalnya dan menerapkan solusi yang sudah pernah diterapkan.
    3. Keterbatasan Memori Kerja
    Berupa ingatan jangka pendek (short term memory) yang digunakan dalam penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan.
    4. Keterbatasan Fokus Perhatian
    Keterbatasan kemampuan berkonsentrasi pada dua atau lebih aktifitas dapat menurunkan kemampuan untuk memproses informasi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah (fokus perhatian sangat terbatas)
    5. Pola Pikir
    Manusia cenderung fokus pada apa yang hendak dicapai daripada fokus pada apa yang harus dihindari.
    6. Sulit Melihat Kesalahannya Sendiri
    Terutama yang bekerja sendiri rentan terhadap kesalahan dan gagal untuk dapat mengidentifikasi ketidaknormalan.
    7. Keterbatasan Perspektif
    Keterbatasan manusia untuk menerima semua fakta dapat menghalangi keputusannya untuk memecahkan masalah.
    8. Rentan Terhadap Faktor Emosional/Sosial
    Kemarahan atau rasa malu bisa menurunkan kinerja seorang pekerja atau kelompok kerja.
    9. Kelelahan
    Lelah secara fisik,emosi dan mental bisa mengarah ke tindakan yang salah dan pengambilan keputusan yang tidak tepat
    10. Presenteeism
    Beberapa pekerja akan tetap memaksakan hadir dan bekerja meskipun kemampuan kerjanya sudah menurun karena penyakit atau cidera.
    11. Sikap Tidak Aman
    Persepsi seseorang terhadap resiko lebih banyak dipengaruhi oleh hatinya dari pada otak.
    contohnya : Rasa bangga,Heroik,fatalistic,Invulnerability,Pollyanna (rasa optimis berlebihan),Sikap ”Ban Gundul”
    12. Efek Halo
    Kepercayaan buta akan kompetensi seseorang dikarenakan pengalaman atau pendidikannya.
    13. Pilot-Co-Pilot
    Keengganan pekerja junior (Co-Pilot) untuk menentang pendapat ,keputusan atau tindakan peserta senior (Pilot) karena posisi didalam struktur organisasi perusahaan.
    14.Menumpang/Mengikuti Saja
    Kecenderungan untuk ”Menumpang” (Ikut-ikutan saja) tanpa secara aktif mengevaluasi maksud dan tindakan pekerja yang melakukan pekerjaan atau mengambil inisiatif.
    15. Berfikir Grup
    Kepaduan,Loyalitas,Konsensus dan komitmen terkadang hal-hal tersebut bisa menurunkan kualitas keputusan tim.
    contohnya ada keengganan untuk berbagi informasi berbeda untuk menjaga keharmonisan tim.
    16. Difusi Tanggung Jawab
    Berisiko dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah kelompok, mereka akan lebih mudah mengambil resiko dan mengabaikan prosedure atau kebijakan yang ada. fenomena ini bisa disebut mentalitas gembala ( herd mentality).

    Jika angka 80% kesalahan manusia didetailkan lebih lanjut,terungkap bahwa :
    – Sebagian besar (70%) kesalahan pekerja diakibatkan oleh kelemahan laten organisasi/perusahaan.
    Contohnya : Organisasi/perusahaan memaksakan kepada pekerja untuk bekerja melebihi batas normal ( Lebih dari 8 jam/hari atau
    40 jam/minggu ) Sesuai Pasal 77 UU No.13 Tahun 2003 Tentang ketenagakerjaan dan Kepmenakertrans Nomor Kep 233/Men/2003 tentang Jenis dan Sifat Pekerjaan yang Dijalan Secara Terus Menerus. Dalam penerapannya, pekerjaan yang dijalankan terus-menerus ini dilakukan dengan pembagian waktu kerja dalam shift-shift.
    Diberikan toleransi sampai dengan 12 jam/hari dengan jeda 1 jam (Istrahat)/4 jam kerja dan wajib diberi upah lembur.
    – 30% lainnya terjadi oleh pekerja yang menangani peralatan atau sistem di area kerja.


    Nama : Nur Fadly Syarif
    NIM : 167051969
    Semester : II
    Kelas : A1


    Komentar Dosen:
    – Perhatikan kalimat yang dicoret. Materi hanya boleh diambil dari luar yang berasal dari buku cetak yang berwujud secara fisik, dimana terdapat nomor ISBN dengan jelas, nama pengarang, judul buku, tahun terbit, dan nama penerbitnya.
    – Tidak diizinkan mengambil materi dari internet karena belum terjamin validitas teorinya.
    – Untuk materi rangkuman yang berasal dari buku, wajib mencantumkan daftar pustakanya dengan menggunakan format penulisan Vancouver atau Harvard.
    – Cantumkan kalimat “PERBAIKAN TUGAS KE-1” di awal rangkuman pada posting berikutnya.
    – Perbaiki kembali tugas Anda ini.

  6. Memahami Kesalahan Manusia ( Human Error )
    Jenis masalah-masalah yang disebabkan oleh faktor manusia sering tidak bisa dihindari. Di dalam suatu perusahaan atau organisasi, manusia akan selalu membuat kesalahan, dan ada batas untuk apa yang dapat dilakukan untuk mengubah perilaku itu sendiri. Misalnya pekerja yang sudah terlatih dan memiliki motivasi kerja yang baik bisa melakukan kesalahan dalam melakukan pekerjaan ,penting bagi pelaksana Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) untuk dapat memahami prinsip yang menyebabkan kesalahan pada manusia. Beberapa kesalahan bisa menghasilkan konsekuensi cedera atau kecelakaan. Kecelakaan – kecelakaan yang telah terjadi mengajarkan bahwa kita tidak boleh menyalahkan kecelakaan hanya kepada pekerja saja,karena yang sebetulnya terjadi adalah proses dan nilai di dalam perusahaan atau organisasi yang berkontribusi besar pada mayoritas kecelakaan. Kemungkinan terjadinya kecelakaan dapat diperkecil,dengan fokus dari manajemen kesalahan misalnya mengurangi kesempatan kesalahan terjadi dan meminimalkan dampak jika suatu kesalahan terjadi. Ada 5 prinsip dasar yang harus terlebih dahulu dimengerti untuk dapat memahami faktor manusia yaitu :
    Pertama, semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerja yang paling hebat pun bisa salah.
    Tidak ada satupun pekerja yang kebal ataupun anti kesalahan, berapa pun usianya, pengalaman atau tingkat pendidikannya.
    Karenanya dikenal dengan istilah berbuat salah adalah manusiawi. Sifat yang sudah ada dalam diri manusia atau pekerja untuk bersikap tidak sempurna, sehingga pada akhirnya, kesalahan dapat terjadi.
    Kedua, situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diprediksi, dikelola dan dicegah.
    Meskipun secara umum kesalahan manusia adalah hal yang pasti, beberapa kesalahan yang spesifik dapat dicegah. Dengan mengubah situasi kerja untuk mencegah, menghilangkan atau mengurangi kondisi yang bisa menyebabkan kesalahan, pekerjaan dan faktor individu di tempat kerja bisa dikelola untuk mencegah atau setidaknya mengurangi peluang terjadinya kesalahan.
    Ketiga, perilaku individu sangat dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi.
    Organisasi digerakkan oleh tujuan, karena itu, proses dan nilai-nilai yang ada di dalamnya dikembangkan untuk mengarahkan perilaku tiap individu di dalam organisasi. Organisasi mencerminkan bagaimana pekerjaan dipecah menjadi tugas-tugas tertentu dan dikoordinasikan untuk mencapai sasaran dengan selamat dan handal. Tugas manajemen untuk mengarahkan perilaku para pekerja. Penyelesaian pekerjaan dalam konteks proses dan budaya organisasi, pengelolaan perencanaan dan sistem pengendali, berkontribusi paling besar dalam kesalahan manusia yang bisa mengakibatkan kecelakaan kerja.
    Keempat, pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan, rekan kerja dan bawahannya. Tingkat keselamatan dan kehandalan sebuah fasilitas terkait langsung dengan perilaku para pekerjanya. Semua perilaku manusia, yang baik ataupun yang buruk, dikuatkan oleh konsekuensi langsung atau pengalaman masa lalunya. Sebuah perilaku dikuatkan oleh konsekuensi yang individu tersebut alami ketika perilaku tertentu dilakukan. Karena perilaku dipengaruhi oleh konsekuensi yang pekerja itu alami, apa yang terjadi ketika seorang pekerja menunjukkan perilaku tertentu adalah hal yang penting untuk meningkatkan kinerja manusia. Kelima,kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan atau sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan di masa lalu. Peningkatan kinerja dapat diraih dengan menerapkan tindakan perbaikan sebuah investigasi atau analisa kecelakaan. Belajar dari kesalahan diri sendiri dan orang lain adalah hal yang cenderung tanggap dan memiliki respon yang baik, namun menjadi hal yang penting sebagai bentuk perbaikan berkelanjutan.
    Manusia tidak berbuat salah secara sengaja. Kesalahan adalah tindakan manusia yang tidak disengaja yang menyimpang dari tindakan yang diharapkan. Kesalahan adalah tindakan tak terencana atau dipikirkan terlebih dahulu. Kesalahan manusia (human error) terjadi akibat ketidakcocokan antara keterbatasan manusia dengan kondisi lingkungan di tempat kerja, termasuk ketidaksesuaian manajemen, kepemimpinan dan kelemahan organisasi yang membuat kondisi tersebut muncul.
    Kesalahan yang terjadi akibat human error memang menjadi suatu permasalahan yang selalu ada dalam setiap proses. Meskipun kesalahan akibat human error ini tidak bisa langsung dihilangkan, namun ada 4 cara yang bisa dilakukan untuk memperbaiki kesalahan tersebut yaitu,
    1. Menangkap kesalahan lebih awal
    Ketika kesalahan terjadi pada saat proses berlangsung, sering kali masalah tersebut menyebabkan proses selanjutnya juga ikut terhambat. Sehingga, mesin atau fasilitas harus bekerja keras untuk menghentikan proses agar sumber masalah dapat ditemukan. Jika terjadi kesalahan kecil, pekerja hanya memerlukan waktu sebentar untuk memperbaikinya. Namun untuk kesalahan yang besar, cara terbaik adalah untuk segera menyelesaikan masalah tersebut sebelum terjadi masalah yang lebih besar. Untuk menangkap kesalahan ini, fasilitas bisa mengandalkan proses mekanik untuk memeriksa hal-hal seperti pengukuran bagian atau kelainan lain yang dapat mereka deteksi.
    2. Memberikan pelatihan yang tepat
    Pelatihan yang tepat bagi pekerja yang bertugas memastikan jalannya proses pada mesin akan membantu mengurangi kesalahan yang terjadi. Dalam banyak kasus, orang membuat kesalahan karena mereka tidak menyadari bahwa mereka melakukan hal yang salah. Sehingga dengan melatih orang-orang untuk melakukan tugas tertentu dengan cara yang benar akan membantu menghindari banyaknya kesalahan yang terjadi. Pastikan bahwa manajemen memberikan pelatihan yang berkelanjutan agar para karyawan dapat lebih terampil untuk mencegah terjadinya kesalahan.
    3. Menemukan akar penyebab masalah
    Cara ini, mungkin yang paling penting dilakukan dari 3 cara lainnya. Ketika human error terjadi, banyak orang tergoda hanya memperbaiki masalah dan bergerak secepat mungkin. Meskipun cara ini terkadang memang diperlukan, namun cara ini tetap tidak bisa memecahkan masalah sampai ke akarnya. Jadi, kemungkinan masalah yang sama terjadi kembali, sangat mungkin. Sebaliknya, cobalah mengambil waktu ekstra untuk mengidentifikasi apa yang menyebabkan masalah terjadi. Dan mengambil langkah-langkah tertentu agar kesalahan yang sama tidak terjadi.
    4. Bekerja sama
    Sangat penting bagi manajemen untuk mengingat bahwa kesalahan sangat mungkin terjadi. Dalam banyak kasus, kesalahan terjadi karena unsur ketidaksengajaan, sehingga tidak ada konsekuensi yang harus ditanggung oleh karyawan. Untuk menemukan penyebab masalah, cobalah untuk bekerja bersama pekerja yang terlibat langsung dalam proses dan pastikan bahwa manajemen tidak akan memberikan konsekuensi apapun atas kesalahan yang terjadi.

    Nama : Bonifatius Heru Prasetyo
    NIM : 167052000
    Semester: II
    Kelas : A1


    Komentar Dosen:
    – Rangkuman harus berasal dari materi perkuliahan.
    – Tidak diizinkan mengambil materi dari internet karena belum terjamin validitas teorinya.
    – Materi hanya boleh diambil dari luar yang berasal dari buku cetak yang berwujud secara fisik, dimana terdapat nomor ISBN dengan jelas, nama pengarang, judul buku, tahun terbit, dan nama penerbitnya.
    – Untuk materi rangkuman yang berasal dari buku, wajib mencantumkan daftar pustakanya dengan menggunakan format Vancouver atau Harvard.
    – Pastikan jumlah rangkuman paling sedikit terdiri atas 600 kata.
    – Cantumkan kalimat “PERBAIKAN TUGAS KE-1” di awal rangkuman pada posting berikutnya.
    – Perbaiki kembali tugas Anda ini.

  7. Human error didefinisikan sebagai suatu keputusan atau tindakan yang mengurangi atau potensial untuk mengurangi efektifitas, keamanan atau performansi suatu sistem (Mc. Cormick 1993). Menurut Peters, human error adalah suatu penyimpangan dari suatu performansi standart yang telah ditentukan sebelumnya, yang mengakibatkan adanya penundaan waktu yang tidak diinginkan, kesulitan, masalah, insiden, kegagalan. Namun pada penyelidikan lebih lanjut human error dapat dikategorikan juga sebagai ketidaksesuaian kerja yang bukan hanya akibat dari kesalahan manusia, tetapi juga karena adanya kesalahan pada perancangan dan prosedur kerja.
    Semua pekerja bisa melakukan kesalahan (error), tak terkecuali pekerja yang sudah terlatih dan memiliki motivasi kerja yang baik. Beberapa kesalahan bisa menghasilkan konsekuensi cedera/kecelakaan, sedang banyak kesalahan lainnya tidak. Karenanya, penting bagi praktisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) untuk dapat memahami prinsip yang melatar belakangi kesalahan manusia.
    Karena kesalahan pasti terjadi, kemampuan untuk dapat mengidentifikasi kesalahan di tahap awal, berguna untuk mencegah terjadinya kecelakaan. Hampir 80% kejadian terkait dengan kesalahan manusia, data dari Departemen Energi Amerika bahkan mengatakan bahwa di beberapa industri, porsi kesalahan manusia bisa mencapai 90%; hanya sekitar 20% yang terkait kegagalan peralatan. Jika angka 80% kesalahan manusia didetailkan lebih lanjut, terungkap bahwa sebagian besar (70%) kesalahan pekerja diakibatkan oleh kelemahan laten organisasi/perusahaan (kelemahan yang dibuat oleh pekerja lain di masa lalu yang tidak nampak karena tidak menimbulkan masalah), sedang 30% lainnya terjadi oleh pekerja yang menangani peralatan atau sistem di area kerja. Kecelakaan-kecelakaan yang telah terjadi mengajarkan bahwa kita tidak boleh menyalahkan kecelakaan hanya kepada pekerja, karena yang sebetulnya terjadi adalah proses dan nilai di dalam organisasi/perusahaan berkontribusi besar pada mayoritas kecelakaan. Akar penyebab kecelakaan merupakan kombinasi dari beberapa faktor, banyak diantaranya yang berada di luar kendali pekerja.
    Pada dasarnya terdapat klasifikasi human error untuk mengidentifikasi penyebab kesalahan tersebut. Menurut Iftikar. Z. Sutalaksana (1979) klasifikasi tersebut secara umumdari penyebab terjadinya human error adalah sebagai berikut :
    1. Sistem Induced Human Error
    Dimana mekanisme suatu sistem memungkinkan manusia melakukan kesalahan, misalnya manajemen yang tidak menerapkan disiplin secara baik dan ketat.
    2. Desain Induced Human Error
    Terjadinya kesalahan diakibatkan karena perancangan atau desain sistem kerja yang kurang baik. Sesuai dengan kaidah Murphy (Murphys law) menyatakan bahwa bila suatu peralatan dirancang kurang sesuai dengan pemakai (aspek ergonomis) maka akan terdapat kemungkinan akan terjadi ketidak sesuaian dalam pemakaian peralatan tersebut, dan cepat atau lambat akan terjadi.
    3. Pure Human Error.
    Suatu kesalahan yang terjadi murni berasal dari dalam manusia itu sendiri, misalnya karena skill, pengalaman, dan psikologis.
    Error secara umum didefinisikan sebagai kegagalan untuk menampilkan suatu perbuatan yang benar dan diinginkan pada suatu keadaan. Error ini hanya dapat terjadi jika ada perhatian yang benar, untuk menanggapi kejadian yang diamati sedangkan tindakan akhir yang dilakukan tidak sesuai dengan yang diinginkan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil akhir dari error berupa kejadian, sehingga nantinya terdapat suatu peristiwa yang dapat diamati. Error ini tidak hanya dibatasi oleh keluaran yang buruk maupun yang serius.
    Sedangkan yang dimaksud dengan kecelakaan adalah kejadian yang tidak direncanakan, diharapkan maupun diinginkan dan biasanya menghasilkan keluaran yang kurang baik. Error merupakan kejadian psikologis yang disebabkan oleh faktor–faktor kejiwaan sehingga ada kemungkinan bahwa sebagian atau keseluruhan error yang terjadi tersebut tidak teridentifikasi. Beberapa taxonomi (istilah) dalam error :
    a. Input Error (Miss Perseption)
    Disini terjadi kesalahan dalam mengamati suatu data masukan sehingga menghasilkan suatu persepsi yang salah dan terjadilah kesalahan dalam mengambil tindakan penyelesaian.
    b. Intention Error (Mistake)
    Disini data masukan telah diamati dengan benar tetapi menghasilkan pengertian yang salah sehingga terjadi penyelesaian yang salah.
    c. Execution Error (Slip)
    Disini data masukan telah diamati dengan benar dan telah menghasilkan pengertian yang benar tetapi terjadi kesalahan pada tindakan penyelesaiannya.
    Berdasarkan asal atau penyebabnya error dibedakan sebagai berikut :
    1. Endogenous Error
    Error terjadi dari proses-proses dalam diri operator. Penghilangan atau pengurangan dari error ini harus melibatkan faktor psikologis, fisiologi dan neurologi.
    2. Exogenous Error
    Error terjadi dari proses dan dari luar operator. Penghilangan atau pengurangan error semacam ini harus mengakibatkan perancangan dan pemikiran secara teknis dari objek dan lingkungan kerja.
    Beberapa karakter manusia dibawah ini perlu diperhatikan, terutama ketika menempatkan pekerja di sistem kerja yang rumit:
    – Stres
    Pada dasarnya, stres bukanlah hal yang buruk. Kondisi stres merupakan hal yang normal dan sehat. Stres dapat meningkatkan fokus sehingga menguntungkan. Namun, stres bisa terakumulasi dan menguasai seseorang, sehingga pada akhirnya melumpuhkan kinerja.
    – Menghindari kelelahan pikiran
    Manusia cenderung enggan berpikir/konsentrasi/fokus dalam jangka waktu yang lama karena melelahkan. Berpikir adalah proses yang membutuhkan usaha yang besar dan juga lambat, akhirnya manusia cenderung mencari pola yang dikenalnya dan menerapkan solusi yang sudah pernah diterapkan. Keterbatasan memori kerja. Ingatan jangka pendek (short term memory) adalah tempat kerja/memori kerja bagi penyelesaian masalah dan pengambilan kebutusan. Ingatan jangka pendek dipergunakan untuk menyimpan informasi baru dan aktif dipergunakan ketika belajar, menyimpan dan memanggil (recall) informasi. Inilah yang menyebabkan pekerja lupa, terutama ketika berkerja dengan prosedur yang rumit.Keterbatasan fokus perhatian. Keterbatasan kemampuan berkonsentrasi pada dua atau lebih aktifitas menurunkan kemampuan untuk memproses informasi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah. Fokus perhatian sangatlah terbatas, jika diambil oleh satu hal maka dia akan menarik diri dari hal yang lain.
    – Pola pikir
    Manusia cenderung fokus pada apa yang hendak dicapai daripada pada fokus pada apa yang harus dihindari, karenanya, manusia hanya melihat apa yang pikirannya harapkan/inginkan untuk dilihat. Otak manusia cenderung mencari keteraturan, setelah didapat, maka ia akan mengacuhkan selain itu; dengan demikian ia akan melewatkan kondisi yang tidak diperkirakan.
    – Sulit melihat kesalahannya sendiri.
    Individu, terutama yang bekerja sendiri, rentan terhadap kesalahan. Pekerja yang terlalu asyik dengan kerjaannya, atau disibukkan dengan suatu hal, bisa jadi gagal untuk dapat mengidentifikasi ketidaknormalan.
    – Keterbatasan perspektif
    Manusia tidak bisa melihat semua hal yang ada ditempat kerja untuk dilihat. Keterbatasan manusia untuk menerima semua fakta dapat menghalangi keputusannya untuk memecahkan masalah.
    – Rentan terhadap faktor emosional/sosial
    Kemarahan atau rasa malu bisa menurunkan kinerja seorang pekerja atau kelompok kerja.
    – Kelelahan
    Lelah secara fisik, emosi dan mental bisa mengarah ke tindakan yang salah dan pengambilan keputusan yang tidak tepat. Kelelahan dapat diakibatkan oleh faktor di dalam pekerjaan (tekanan produksi, lingkungan, dan kurangnya jumlah pekerja) dan faktor diluar pekerjaan (pola makan dan tidur). Kelelahan memperburuk pengambilan keputusan, menurunkan kewaspadaan, memperlambat proses berpikir dan waktu reaksi, menghilangkan kewaspadaan kepada lingkungan (situational awareness) dan mendorong seseorang mengambil jalan pintas (shortcut).
    – Presenteeism
    Beberapa pekerja akan tetap memaksakan hadir dan bekerja meskipun kemampuan kerjanya sudah menurun karena penyakit atau cedera. Kecenderungan pekerja tetap melanjutkan pekerjaan meski memiliki masalah kesehatan yang ringan dapat diakibatkan oleh kurangnya cuti sakit, menumpuknya pekerjaan atau tidak tersedianya akses pelayanan kesehatan.
    – Sikap tidak aman
    Sikap dapat diartikan sebagai kondisi mental atau perasaan terhadap suatu obyek atau subyek. Dikatakan bahwa persepsi seseorang terhadap resiko lebih banyak dipengaruhi oleh hatinya ketimbang otaknya. Beberapa sikap yang dapat menimbulkan resiko berbuat salah.
    – Efek halo
    Kepercayaan buta akan kompetensi seseorang dikarenakan pengalaman atau pendidikannya. Hal ini mengakibatkan antar anggota kelompok menurunkan kewaspadaannya terhadap kesalahan yang dapat diakibatkan oleh individu yang kompeten; tidak memeriksa tindakan seorang yang kompeten
    – Pilot-Co-pilot
    Keengganan pekerja junior (co-pilot) untuk menentang pendapat, keputusan atau tindakan pekerja senior (pilot) karena posisinya di dalam struktur organisasi perusahaan. Bawahan menunjukkan sopan santun berlebihan ketika berinteraksi dengan manajer senior, tanpa sadar menerima perkataan bos tanpa berpikir kritis atau berbeda pendapat terhadap tindakan dan keputusannya.
    – Menumpang/mengikuti saja
    Kecenderungan untuk “menumpang” (ikut-ikutan saja) tanpa secara aktif mengevaluasi maksud dan tindakan pekerja yang melakukan pekerjaan atau mengambil inisiatif. Orang lain yang mengambil inisiatif untuk melakukan pekerjaan, sementara si penumpang hanya mengambil peran pasif.
    – Berpikir grup
    Kepaduan, loyalitas, konsensus dan komitmen adalah hal yang baik jika ada di dalam kelompok kerja. Namun, terkadang, hal-hal tersebut bisa menurunkan kualitas keputusan tim. Contohnya, ada keenganan untuk berbagi informasi yang berbeda untuk menjaga keharmonisan tim. Kondisi itu bisa diperparah jika ada anggota grup yang dominan dan memberikan pengaruh yang kuat dalam pola pikir grup (pilot/co-pilot atau efek halo). Akibatnya, informasi yang penting bisa jadi tidak terbagi kepada anggota kelompok.
    – Difusi tanggung jawab
    bisa jadi berisiko dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah kelompok. Jika dua atau lebih pekerja sepakat akan sesuatu yang dianggap cara yang terbaik dalam melakukan sesuatu, maka mereka akan lebih mudah mengambil resiko dan mengabaikan prosedur atau kebijakan yang ada. Fenomena ini bisa disebut mentalitas gembala (herd mentality).

    Nama : Raka Muhammad Endramanto
    Npm : 167051973
    Semester : II
    Kelas : A1


    Komentar Dosen:
    – Rangkuman harus berasal dari materi perkuliahan.
    – Tidak diizinkan mengambil materi dari internet karena belum terjamin validitas teorinya.
    – Materi hanya boleh diambil dari luar yang berasal dari buku cetak yang berwujud secara fisik, dimana terdapat nomor ISBN dengan jelas, nama pengarang, judul buku, tahun terbit, dan nama penerbitnya.
    – Untuk materi rangkuman yang berasal dari buku, wajib mencantumkan daftar pustakanya dengan menggunakan format Vancouver atau Harvard.
    – Pastikan jumlah rangkuman paling sedikit terdiri atas 600 kata.
    – Cantumkan kalimat “PERBAIKAN TUGAS KE-1” di awal rangkuman pada posting berikutnya.
    – Perbaiki kembali tugas Anda ini.

  8. Memahami Kesalahan Manusia (Human Error)
    Human error dapat didefinisikan sebagai suatu kesalahan manusia ,banyak kecelakaan terjadi di dunia pekerjaan disebabkan oleh manusia itu sendiri. Kesalahan manusia yang telah terjadi menyebabkan kerugian bagi orang yang lain menyebabkan kerugian material hingga sesoeorang. Untuk itulah diajarkan dalam K3 untuk mengatasi human error dan menerapkan nya dalam pekerjaan maupun di lingkungan sekitar kita. Kecelakaan yang terjadi di dalam pekerjaan dapat diperhitungkan 80% akibat manusia itu sendiri dan kesalahan yang terjadi pada mesin hanya sebesar 20% . kesalahan yang dilakukan dalam pekerjaan kebanyakan dilakukan oleh perusahaan itu sendiri karena kurangnya kesadaran resiko akan bahaya akibat pencarian keuntungan atau ketidaktahuan akan keamanan dalam pekerjaan sehingga terjadilah korban kecelakaan kerja, sedangkan kesalahan yang dilakukan oleh individu hanya sedikit saja bahkan hanya sepertiganya saja dalam 80% akibat kesalahan manusia sendiri.
    Sudah sewajarnya bahwa memang manusia tidak mungkin tidak melakukan kesalahan karena juga diakibatkan oleh faktor usia, wawasan, keteledoran atau khilaf untuk itulah banyak sekali pelatihan-pelatihan untuk mengurangi setiap kesalahaan yang dilakukan oleh manusia dan juga merevisi SOP mapun meninjau kembali JSA tetapi kembali lagi ke awal bahwa manusia tidak mungkin tidak melakukan kesalahan karena tidak ada manusia yang sempurna .
    Memperbaiki kesalahan itu penting tetapi bagaimana jika mencegah kesalahan itu sebelum terjadi dengan melakukan analisis pada tempat atau lingkungan yang kita tempati dengan menganilisis kecelakaan yang terjadi sebelumnya maupun melihat faktor-faktor yang mungkin saja akan terjadi kedepaannya untuk itulah dilakukan dengan menerapkan pencegahan dalam tempat kerja maupun lingkungan sekitar kita contohnya dalam pencegahan seperti melihat selang gas kompor di rumah kita yang mungkin saja sudah mulai using sebaiknya diganti sebelum terjadi sebuah kejadian yang tak diinginkan dan juga mencium ada atau tidak adanya bau gas disekitar kita.
    Ada 2 jenis kesalahan yang dapat dilakukan oleh manusia yaitu tidak sengaja (Unintended action) dan sengaja (Inteded action) :
    Yang pertama adalah tidak sengaja yang merupakan sebuah kesalahan yang di lakukan oleh sang manusia oleh karena luput, khilaf dan kurangnya pengetahuan dalam bekerja.
    Yang kedua adalah kesengajaan yang merupakan kesalahan yang dilakukan oleh manusia yang disebabkan karena kurangnya pengetahuan tetapi tetap dipaksakan kemudian pelanggaran karena tidak menaati peraturan ,pengecualian sehingga mengabaikan akan peraturan yang dibuat dan juga sabotase yang merupakan tindakan merugikan perusahaan.
    Pada dasarnya terdapat klasifikasi human error yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi penyebab penyebab kesalahan yang dibuat oleh pekerja, antara lain :
    1.incuded human error system
    Terjadinya kesalahan yang dilakukan pekerja oleh karena mekanisme suatu system. Seperti peraturan dari manajemen kurang ketat atau manajemen kurang menerapkan kedisplinan sehingga sikap para pekerja menjadi lebih seperti yang dia inginkan atau bisa juga dimaksud mengabaikan peraturan tentang kedisiplinan
    2. incuded human error design
    Perancangan atau design system kerja kurang baik yang dapat memungkinkan terjadinya pekerja melakukan tindakan kesalahan. Sesuai kaidah atau hokum Murphy (Murphy Law), bila peralatan dirancang tidak sesuai dengan pengguna (dalam hal ergonomis), maka terdapat kemungkinan akan terjadi ketidaksesuaian dalam pemakaian peralatan tersebut, yang berpotensi menimbulkan human error.
    3. Pure human error
    Kesalahan murni yang berasal dari pekerja itu sendiri, misalnya kurangnya pengetahuaan, pengalaman, kemampuan, dan aspek psikologis
    Dan juga penyebaab terjadinya human error mencakup beberapa faktor, diantara lain :
    Faktor individu
    – Tingkat keterampilan dan kompetensi atau daya saing yang rendah
    – Pekerja mengalami kelelahan dan tidak berkonsentrasi atau tidak focus saat bekerja
    – Pekerja mengalami stress seperti ada masalah dirumah dengan istri atau keluarga lain atau kerabat
    – Pekerja menderita sakit atau masalah medis lainnya
    Faktor Pekerjaan
    – Desain peralatan yang tidak sesuai atau tidak cocok dengan pengguna
    – Kondisi lingkungan kerja dan tata letak yang dapat mempengaruhi
    – Prosedur kerja tidak jelas
    – Peralatan kerja tidak layak
    – Kompleksitas pekerjaan dan kondisi yang berlebihan
    – Pencahayaan kurang baik
    – Tingkat kebisingan yang berlebihan
    – Rancangan tata letak fasilitas kerja yang buruk
    Faktor manajemen
    – Prosedur kerja yang buruk
    – SOP (standard ooperating procedures) yang buruk
    – Pelatihan dan pengawasan yang kurang memadai
    – Manajemen hanya menerapakan komunikasi satu arah
    – Buruknya K3 di perusahaan
    – Lemahnya respons bila terjadi kecelakaan kerja
    – Kurangnya koordinasi dan tanggung jawab

    Nama: Usat Ventufa
    NIM: 167051971
    Semester: II
    Kelas: A1


    Komentar Dosen:
    – Rangkuman harus berasal dari materi perkuliahan.
    – Tidak diizinkan mengambil materi dari internet karena belum terjamin validitas teorinya.
    – Materi hanya boleh diambil dari luar yang berasal dari buku cetak yang berwujud secara fisik, dimana terdapat nomor ISBN dengan jelas, nama pengarang, judul buku, tahun terbit, dan nama penerbitnya.
    – Untuk materi rangkuman yang berasal dari buku, wajib mencantumkan daftar pustakanya dengan menggunakan format Vancouver atau Harvard.
    – Pastikan jumlah rangkuman paling sedikit terdiri atas 600 kata.
    – Cantumkan kalimat “PERBAIKAN TUGAS KE-1” di awal rangkuman pada posting berikutnya.
    – Perbaiki kembali tugas Anda ini.

  9. “Memahami Kesalahan Manusia (Human Error)”
    Human error didefinisikan sebagai suatu keputusan atau tindakan yang mengurangi atau potensial untuk mengurangi efektifitas, keamanan atau performansi suatu system. Menurut Peters, human error adalah suatu penyimpangan dari suatu performansi standar yang telah ditentukan sebelumnya, yang mengakibatkan adanya penundaan waktu yang tidak diinginkan, kesulitan, masalah, insiden, kegagalan. Namun pada penyelidikan lebih lanjut human error dapat dikategorikan juga sebagai ketidaksesuaian kerja yang bukan hanya akibat dari kesalahan manusia, tetapi juga karena adanya kesalahan pada perancangan dan prosedur kerja.kesalahan yang terjadi yang disebabkan oleh pekerjaan yang berulang ini sedapat mungkin harus dicegah atau dikurangi, yang tujuannya untuk meningkatkan keandalan seseorang dengan menurunnya tingkat kesalahan yang terjadi. Sehingga perlu dilakukan perbaikan performansi manusia untuk mengurangi laju kesalahan.
    Jumlah keterlibatan human error yang tinggi merupakan hal yang mengejutkan karena hampir semua sistem teknologi tidak hanya dijalankan oleh manusia, tetapi juga didesain, dikonstruksi, diorganisasi, dimanage, dipelihara dan diatur oleh manusia. Pada dasarnya terdapat klasifikasi human error untuk mengidentifikasi penyebab kesalahan tersebut.
    Menurut Iftikar. Z. Sutalaksana klasifikasi tersebut secara umumdari penyebab terjadinya human error adalah sebagai berikut :
    1. Sistem Induced Human Error
    Dimana mekanisme suatu sistem memungkinkan manusia melakukan kesalahan, misalnya manajemen yang tidak menerapkan disiplin secara baik dan ketat.
    2. Desain Induced Human Error
    Terjadinya kesalahan diakibatkan karena perancangan atau desain sistem kerja yang kurang baik. Sesuai dengan kaidah Murphy (Murphys law) menyatakan bahwa bila suatu peralatan dirancang kurang sesuai dengan pemakai (aspek ergonomis) maka akan terdapat kemungkinan akan terjadi ketidaksesuaian dalam pemakaian peralatan tersebut, dan cepat atau lambat akan terjadi.
    3. Pure Human Error.
    Suatu kesalahan yang terjadi murni berasal dari dalam manusia itu sendiri, misalnya karena skill, pengalaman, dan psikologis.
    Error secara umum didefinisikan sebagai kegagalan untuk menampilkan suatu perbuatan yang benar dan diinginkan pada suatu keadaan. Error ini hanya dapat terjadi jika ada perhatian yang benar, untuk menanggapi kejadian yang diamati sedangkan tindakan akhir yang dilakukan tidak sesuai dengan yang diinginkan.
    Beberapa taxonomi (istilah) dalam error :
    • Input Error (Miss Perseption)
    Disini terjadi kesalahan dalam mengamati suatu data masukan sehingga menghasilkan suatu persepsi yang salah dan terjadilah kesalahan dalam mengambil tindakan penyelesaian.
    • Intention Error (Mistake)
    Disini data masukan telah diamati dengan benar tetapi menghasilkan pengertian yang salah sehingga terjadi penyelesaian yang salah.
    • Execution Error (Slip)
    Disini data masukan telah diamati dengan benar dan telah menghasilkan pengertian yang benar tetapi terjadi kesalahan pada tindakan penyelesaiannya.
    Berdasarkan asal atau penyebabnya error dibedakan sebagai berikut :
    • Endogenous Error
    Error terjadi dari proses-proses dalam diri operator. Penghilangan atau pengurangan dari error ini harus melibatkan faktor psikologis, fisiologi dan neurologi.
    • Exogenous Error
    Error terjadi dari proses dan dari luar operator. Penghilangan atau pengurangan error semacam ini harus mengakibatkan perancangan dan pemikiran secara teknis dari objek dan lingkungan kerja.
    Beberapa istilah mode atau tipe-tipe kesalahan yaitu :
    • Error of omission (kesalahan pada hal pelampauan /peninggalan), yaitu error yang ditandai dengan terlampauinya atau tertinggalnya atau hilangnya langkah tertentu dari suatu proses.
    • Error of insertion (kesalahan penambahan /penyisipan), yaitu suatu error yang ditandai dengan penambahan suatu langkah yang tidak sesuai dengan proses.
    • Error of repetition, yaitu kesalahan yang ditandai dengan penambahan yang tidak sesuai pada suatu langkah secara normal dalam suatu proses.
    • Error of subtition (kesalahan pensubtitusian), yaitu suatu kesalahan yang ditandai dengan adanya suatu obyek, tindakan, tempat atau waktu yang tidak sesuai berada dalam suatu obyek, tindakan, tempat dan waktu yang sesuai.
    Menentukan penyebab terjadinya human error bukanlah hal yang mudah, terutama jika ingin menentukan penyebeb yang pasti. Secara sistematis setiap error yang terjadi akan berhubungan dengan faktor situasional, faktor individu atau kombinasi dari kedua faktor itu.
    • Faktor-faktor situasional adalah faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya suatu error yang berkaitan dengan situasi tempat kegiatan atau pekerjaan berlangsung. Meister menyatakan bahwa secara umum faktor situasional ini meliputi faktor-faktor ruang kerja dan tata letak peralatan, lingkungan, desain permesinan, alat-alat tangan, metode dalm penanganan, transportasi dan pemeriksaan informasi perencanaan pekerjaan dan instruksi pekerjaan.
    • Faktor-faktor individual adalah faktor yang berkaitan dengan pribadi seseorang. Faktor-faktor ini juga dikenal sebagai faktor Idiosynoratic, yaitu faktor-faktor yang sifatnya khas setiap orang. Faktor-faktor yang termasuk faktor individu diantaranya kecakapan, kepribadian, keterampilan, fisik, umur, jenis kelamin, pendidikan dan pengalaman. Faktor Idiosyneoratic juga meliputi masalah perkawinan, hubungan internasional, konflik emosional dan sikap.

    Nama : Cevin Minaldo Nicholas
    NIM : 167051978
    Semester: II
    Kelas : A1


    Komentar Dosen:
    – Rangkuman harus berasal dari materi perkuliahan.
    – Tidak diizinkan mengambil materi dari internet karena belum terjamin validitas teorinya.
    – Materi hanya boleh diambil dari luar yang berasal dari buku cetak yang berwujud secara fisik, dimana terdapat nomor ISBN dengan jelas, nama pengarang, judul buku, tahun terbit, dan nama penerbitnya.
    – Untuk materi rangkuman yang berasal dari buku, wajib mencantumkan daftar pustakanya dengan menggunakan format Vancouver atau Harvard.
    – Pastikan jumlah rangkuman paling sedikit terdiri atas 600 kata.
    – Cantumkan kalimat “PERBAIKAN TUGAS KE-1” di awal rangkuman pada posting berikutnya.
    – Perbaiki kembali tugas Anda ini.

  10. Memahami Kesalahan Manusia ( Human Eror )

    Semua pekerja yang bekerja dibidang apapun pasti pernah mengalami kesalahan yang disebabkan oleh manusia itu sendiri ( human eror ), sekalipun pekerja yang sangat terlatih dibidangnya. Karena kesalahan pasti terjadi, maka kemampuan untuk dapat mengidentifikasi kesalahan ditahap awal, berguna untuk mencegah terjadinya kecelakaan.

    Hampir 80 % kejadian terkait dangan kesalahan yang dilakukan oleh manusia, dan 20 % lainnya terkait oleh peralatan itu sendiri. Dan, kecelakaan yang dilakukan oleh manusia 30 % berasal dari individu itu sendiri dan 70 % nya berasal dari organisasi, perusahaan, ataupun instansi tempat mereka bekerja.

    Ada 5 prinsip dasar yang harus terlebih dahulu dimengerti untuk dapat memahami faktor manusia yaitu:
    1. Semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerja yang paling ahli dibidangnya sekalipun bisa melakukan kesalahan.
    Tidak satupun pekerja yang tidak pernah melakukan kesalahan, berapapun usianya, pengalaman atau tingkat pendidikannya. Karena itu dikenal istilah berbuat salah adalah manusiawi. Tabiat manusiawi pekerja untuk bersikap tidak sempurna, sehingga pada akhirnya, kesalahan dapat terjadi. Tidak ada pelatihan atau konseling yang dapat mengubah kerentanan manusia ini. Maka daripada itu, jika anda benar sekalipun, belum tentu menurut orang lain anda benar, karena pemahaman meraka belum sampai ketahap yang kita sudah kuasai.

    2. Situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diprediksi, dikelola dan dicegah.
    Mengenali perangkap / jebakan kesalahan dan secara aktif mengkomunikasikan bahaya – bahaya tersebut ke orang lain adalah salah satu bentuk pengelolaan kesalahan yang proaktif. Dengan mengubah situasi kerja untuk mencegah, menghilangkan atau mengurangi kondisi yang bisa menyebabkan kesalahan, pekerjaan dan factor individu di tempat kerja bisa dikelola untuk mencegah peluang terjadinya kesalahan.
    Kecelakaan sekecil apapun bisa dilakukan upaya pencegahan supaya tidak terjadi berulang atau bisa juga melakukan deteksi kecelakaan. Contohnya : Jika lantai dalam kondisi yang basah, itu dapat menyebabkan kecelakaan. Maka dari itu, upaya supaya kecelakaan tersebut tidak terjadi yaitu dengan cara memberi rambu peringatan, tutup jalanan supaya tidak dilalui orang, dll.

    3. Perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi.
    Organisasi digerakkan oleh tujuan, karena itu, proses dan nilai – nilai yang ada didalamnya dikembangkan untuk mengarahkan perilaku tiap individu di dalam organisasi. Organisasi mencerminkan bagaimana pekerjaan dipecah menjadi tugas – tugas tertentu dan dikoordinasikan untuk mencapai sasaran dengan selamat dan handal. Lingkungan yang baik akan membuat kita menjadi pribadi yang baik, namun lingkungan yang buruk akan membuat kita menjadi pribadi yang buruk juga. Maka dari itu lingkungan dimanapun kita berada akan menciptakan pengaruh besar terhadap diri kita sendiri.

    4. Pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan, rekan kerja dan bawahannya.
    Tingkat keselamatan dan kehandalan sebuah fasilitas terkait langsung dengan perilaku para pekerjanya. Semua perilaku manusia, yang baik ataupun yang buruk, dikuatkan oleh konsekuensi langsung atau pengalaman masa lalunya. Karena perilaku dipengaruhi oleh konsekuensi yang pekerja itu alami, apa yang terjadi ketika seorang pekerja menunjukkan perilaku tertentu adalah hal yang penting untuk meningkatkan kinerja manusia.

    5. Kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan / sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan masa lalu.
    Penigkatan kinerja dapat diraih dengan menerapkan tindakan perbaikan sebuah investigasi / analisa kecelakaan. Belajar dari kesalahan diri sendiri dan orang lain adalah hal yang reaktif, namun menjadi hal yang penting sebagai bentuk perbaikan berkelanjutan.

    Unsafe Action ( Tindakan Kesalahan ) ada 2, antara lain :
    1). Unintended Action ( Tidak Disengaja ) dibagi menjadi 3, yaitu :
    a). Slip ( Luput )
    Tindakan kesalahan yang terjadi karena lupa.
    b). Lapse ( khilaf )
    Tindakan kesalahan yang terjadi karena memory / ingatan
    c) Mistake ( Kesalahan )
    Kesalahan yang banyak terjadi karena kesalahan, contohnya :
    1) Kurangnya pengetahuan
    2) Kurangnya pengalaman
    3) Kurangnya pemahaman
    4) Kurangnya pelatihan

    2). Intended Action ( Memang Disengaja )
    a). Mistake
    Contohnya pekerja yang dipaksa melakukan suatu pekerjaan yang pekerja tersebut tidak memiliki pengetahuan atau pemahaman atas pekerjaan yang akan ia lakukan.
    b). Violation ( Pelanggaran ) dibagi menjadi 3, yaitu :
    1). Routine ( Rutin )
    Sudah terbiasa dilakukan. Contohnya : rambu dilarang memutar, tapi karena kurangnya penjagaan dari pihak yang berwajib, maka tetap memutar disitu.
    2). Exception ( pengecualian )
    Kesalahan kesalahan yang sudah dianggap terlalu sering bahkan malah menjadi pengecualian.
    3). Sabotage ( Sabotase )
    Membuat buruk citra perusahaan karna ada maksud tertentu. Contohnya : menghapus file – file penting di perusahaan, merusak fasilitas perusahaan, dll.


    Nama : Irene Virginingtyas
    NIM : 167051986
    Semester : II
    Kelas : A1

  11. Memahami Kesalahan Manusia (Human Error)

    Semua pekerja yang bekerja dibidang apapun pasti pernah mengalami kesalahan yang disebabkan oleh manusia itu sendiri ( human eror ), sekalipun pekerja yang sangat terlatih dibidangnya. Karena kesalahan pasti terjadi, maka kemampuan untuk dapat mengidentifikasi kesalahan ditahap awal, berguna untuk mencegah terjadinya kecelakaan.

    Hampir 80 % kejadian terkait dangan kesalahan manusia,data dari Departemen Energy Amerika bahkan mengatakan bahwa beberapa industri, porsi kesalahan manusia bisa mencapai 90%, dan hanya 20% yang terkait dari peralatan.
    Jika angka 80% kesalahan manusia didetailkan lebih lanjut, terungkap bahwa rata-rata sekitar 70% kesalahan pekerja diakibatkan oleh kelemahan organisasi/perusahaan ( kelemahan yang dibuat oleh pekerja lain di masa lalu yang tidak nampak karena tidak menimbulkan masalah) dan 30% lainnya terjadi oleh pekerja yang menangani peralatan atau sistem pada tempat kerja.

    Kecelakaan-kecelakaan yang terjadi telah mengajarkan kita bahwa kita tidak boleh menyalahkan kecelakaan hanya kepada para pekerja, karena yang terjadi adalah proses dan nilai di dalam perusahaan berkontribusi besar kepada kecelakaan.
    Ada 5 prinsip dasar yang harus terlebih dahulu dimengerti untuk dapat memahami faktor manusia yaitu:
    1. Semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerja yang paling hebat sekalipun bisa berbuat salah.
    Tidak satupun pekerja yang tidak pernah melakukan kesalahan, berapapun usianya, pengalaman atau tingkat pendidikannya. Karena itu dikenal istilah berbuat salah adalah manusiawi. Tidak ada pelatihan atau konseling yang dapat mengubah kerentanan manusia ini.
    Dr. James Reason, penulis Human Error (1990) mengatakan: adalah penting bagi tiap pekerja, terutama managernya, untuk menjadi lebih mawas diri akan potensi manusia berbuat salah. Pekerjaan, tempat kerja dan factor organisasi membentuk kemungkinan (likelihood) dan konsekuensi (consequence). Memahami bagaimana dan mengapa tindakan tidak aman terjadi adalah langkah awal penting dalam mengelola kesalahan dengan efektif.

    2. Situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diprediksi, dikelola dan dicegah.
    Meskipun secara umum kesalahan manusia adalah hal yang pasti, beberapa kesalahan yang spesifik dapat dicegah.
    Mengenali perangkap/jebakan kesalahan dan secara aktif mengkomunikasikan bahaya-bahaya tersebut ke orang lain adalah salah satu bentuk pengelolaan kesalahan yang proaktif. Dengan mengubah situasi kerja untuk mencegah, menghilangkan atau mengurangi kondisi yang bisa menyebabkan kesalahan, pekerjaan dan factor individu di tempat kerja bisa dikelola untuk mencegah peluang terjadinya kesalahan.

    3. Perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi.
    Organisasi digerakkan oleh tujuan, karena itu, proses dan nilai-nilai yang ada didalamnya dikembangkan untuk mengarahkan perilaku tiap individu di dalam organisasi. Organisasi mencerminkan bagaimana pekerjaan dipecah menjadi tugas-tugas tertentu dan dikoordinasikan untuk mencapai sasaran dengan selamat dan handal. Tugas manajemen untuk mengarahkan perilaku para pekerja. Penyelesaian pekerjaan dalam konteks proses dan budaya organisasi, pengelolaan perencanaan dan system pengendali, berkontribusi paling besar dalam kesalahan manusia yang bisa mengakibatkan kecelakaan kerja.

    4. Pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan, rekan kerja dan bawahannya.
    Tingkat keselamatan dan kehandalan sebuah fasilitas terkait langsung dengan perilaku para pekerjanya. Semua perilaku manusia, yang baik ataupun yang buruk, dikuatkan oleh konsekuensi langsung atau pengalaman masa lalunya. Karena perilaku dipengaruhi oleh konsekuensi yang pekerja itu alami.

    5. Kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan/sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan masa lalu.
    Penigkatan kinerja dapat diraih dengan menerapkan tindakan perbaikan sebuah investigasi/analisa kecelakaan. Belajar dari kesalahan diri sendiri dan orang lain adalah hal yang reaktif, namun menjadi hal yang penting sebagai bentuk perbaikan berkelanjutan.
    Manusia tidak berbuat salah secara sengaja. Kesalahan (error) adalah tindakan manusia yang tidak disengaja yang menyimpang dari tindakan yang diharapkan. Kesalahan adalah tindakan tak terencana atau dipikirkan terlebih dahulu. Kesalahan manusia terjadi akibat ketidakcocokan antara keterbatasan manusia dengan kondisi lingkungan ditempat kerja, termasuk ketidaksesuaian manajemen, kepemimpinan dan kelemahan organisasi yang membuat kondisi tersebut muncul.

    Beberapa hal berikut bisa menjelaskan bagaimana ketidaktepatan atau aksi yang salah bisa terjadi:
    a). Waktu – terlalu cepat, terlalu lambat, alpa
    b). Durasi – terlalu lama, terlalu singkat
    c). Urutan – terbalik, berulang – ulang, gangguan
    d). Objek – salah tindakan di objek yang benar, tindakan bertindak di objek yang salah
    e). Tekanan – terlalu sedikit atau terlalu banyak tekanan
    f). Arahan – salah memberi arahan
    g). Kecepatan – terlalu cepat atau terlalu lambat dan
    h). Jarak – terlalu jauh, terlalu dekat

    Beberapa karakter manusia dibawah ini perlu di perhatikan, terutama ketika menempatkan pekerja di system kerja yang rumit :
    a). Stres
    Stres bisa terakumulasi dan menguasai seseorang, sehingga pada akhirnya melumpuhkan kinerja.
    b). Menghindari kelelahan pikiran
    Berpikir membutuhkan usaha yang besar dan juga lambat, akhirnya manusia cenderung mencari pola yang sudah pernah diterapkannya. Polanya bisa berupa:
    • Asumsi, menerima suatu kondisi yang dianggap benar tanpa verifikasi dahulu
    • Kebiasaan, pola perilaku dibawah sadar sebagai hasil dari pengulangan
    • Bias konfirmasi, bias ini terjadi karena otak sudah melihat hasil dari solusi sebelumnya dan menolak fakta mengenai keberhasilan solusi baru
    • Bias kesamaan, kecenderungan mengambil solusi dari kondisi serupa yang berhasil di masa lalu
    • Bias frekuensi, mencoba solusi yang sudah berhasil dan sering dipakai
    • Bias ketersediaan, kecenderungan untuk menerapkan solusi yang tersedia
    c). Keterbatasan memori kerja
    Ingatan jangka pendek dipergunakan untuk menyimpan informasi baru ddan aktif dipergunakan ketika belajar, menyimpan dan recall informasi. Inilah yang menyebabkan pekerja lupa terutama ketika bekerja dengan prosedur rumit.
    d). Keterbatasan focus perhatian
    Fokus perhatian sangatlah terbatas, jika diambil oleh satu hal maka akan menarik diri dari hal lain.
    e). Pola pikir
    Otak manusiaa cenderung mencari keteraturan setelah didapat, dengan demikian ia akan melewatkan kondisi yang tidak diperkirakan.
    f). Sulit melihat kesalahannya sendiri
    Pekerja yang disibukkan dengan suatu hal sulit untuk dapat mengidentifikasi ketidaknormalan
    g). Keterbatasan perspektif
    keterbatasan manusia menerima semua fakta dapat menhalangi keputusan untuk memecahkan masalah
    h). Rentan terhadap factor emosional / social
    i). Kelelahan
    j). Presenteeism
    Kecenderungan pekerja tetap melanjutkan pekerjaan meski memiliki masalah kesehatan
    k). Sikap tidak aman
    Beberapa sikap yang menimbulkan resiko berbuat salah misalnya:
    • Rasa bangga
    • Heroik
    • Fatalistic (Sikap kalahan yang meyakini bahwa setiap kejadian sudah ditentukan)
    • Invulnerability (rasa kebal terhadap kesalahan/tidak mungkin berbuat salah)
    • Pollyanna (rasa optimis berlebihan)
    • Sikap “Ban Gundul” (merasa puas dan percaya diri yang berlebih)

    Bekerja dalam kelompokjuga tidak membuat manusia bebas dari kesalahan. Kesalahan kelompok (team error) bisa terjadi akibat interaksi antara anggota kelompok kerja.
    Kesalahan kelompok bisa di akibatkan oleh beberapa hal diantaranya :
    a). efek halo – kepercayaan buta akan kompetensi seseorang dikarenakan pengalaman atau pendidikannya
    b). Pilot – Co – Pilot – keengganan pekerja junior untuk menentang pendapat pekerja senior karena posisinya di dalam struktur organisasi perusahaan
    c). menumpang / mengikuti saja – kecenderungan untuk ikut-ikut saja tanpa secara aktif mengevaluasi maksud dan tindakan pekerja yang inisiatif
    d). berfikir grup – terkadang ada keengganan untuk berbagi informasi kepada kelompok lain
    e). difusi tanggung jawab bisa jadi beresiko dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah kelompok.


    Nama: Rizky Siti Anisyah
    NIM: 167051997
    Semester: II
    Kelas: A1

  12. Memahami Kesalahan Manusia ( Human Error)

    Semua pekerja pasti pernah mengalami kesalahan yang disebabkan oleh manusia itu sendiri (human error), tak terkecuali para pekerja yang sangat terlatih sekalipun. Karena kesalahan pasti terjadi, maka kemampuan untuk dapat mengidentifikasi kesalahan ditahap awal, berguna untuk mencegah terjadinya kecelakaan.
    Hampir 80% kejadian terkait dengan kesalahan manusia, data dari Departemen Energy Amerika bahkan mengatakan bahwa beberapa industri, porsi kesalahan manusia bisa mencapai 90%, dan hanya 20% yang terkait dari peralatan.
    Ada 5 prinsip dasar yang harus terlebih dahulu dimengerti untuk dapat memahami faktor manusia yaitu:
    1. Semua manusia bisa berbuat salah, bahkan para pekerja yang paling hebat sekalipun dapat berbuat salah.
    2. Situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diprediksi, dikelola dan dicegah.
    3. Perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi.
    4. Pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpina, rekan kerja dan bawahannya.
    5. Kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan/sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan masa lalu.

    Definisi Human error adalah suatu keputusan atau tindakan yang mengurangi atau potensial untuk mengurangi efektifitas, keamanan atau performansi suatu sistem (Mc. Cormick 1993). Sedangkan menurut Peters, Human error adalah suatu penyimpangan dari suatu performansi standart yang telah ditentukan sebelumnya, yang mengakibatkan adanya penundaan waktu yang tidak diinginkan, kesulitan, masalah, insiden, kegagalan. Namun pada penyelidikan lebih lanjut human error dapat dikategorikan juga sebagai ketidaksesuaian kerja yang bukan hanya akibat dari kesalahan manusia, tetapi juga karena adanya kesalahan pada perancangan dan prosedur kerja. Kesalahan (error) adalah tindakan manusia yang tidak disengaja yang menyimpang dari tindakan yang diharapkan.

    Beberapa karakter manusia yang perlu diperhatikan, terutama ketika menempatkan pekerja di sistem kerja yang rumit adalah:
    1. Stress
    2. Menghindari kelelahan pikiran
    3. Keterbatasan memori kerja
    4. Keterbatasan fokus perhatian
    5. Pola piker
    6. Sulit melihat kesalahannya sendiri
    7. Keterbatasan perspektif
    8. Rentan terhadap faktor emosional/social
    9. Kelelahan
    10. Presenteeism
    11. Sikap tidak aman

    Beberapa sikap yang dapat menimbulkan resiko berbuat salah yaitu:
    1. Rasa bangga yaitu kebanggaan yang berlebihan terhadap kemampuan dirinya sendiri.
    2. Heroik yaitu keberanian yang berlebihan.
    3. Fatalistic yaitu sikap kalahan yang meyakini bahwa setiap kejadian sudah ditentukan, dan tidak bisa dihindari.
    4. Invulnerability yaitu memiliki rasa kebal terhadap kesalahan atau tidak mungkin melakukan kesalahan.
    5. Pollyanna yaitu rasa optimis yang sangat berlebihan.
    6. Sikap “Ban gundul” yaitu kinerja masa lalu terkadang menjadi pembenaran untuk tidak merubah atau melakukan suatu perbaikan.

    Faktor-faktor penyebab yang dapat berpengaruh kepada human error
    Menentukan penyebab terjadinya human error bukanlah hal yang mudah, terutama jika ingin menentukan penyebeb yang pasti. Secara sistematis setiap error yang terjadi akan berhubungan dengan faktor situasional, faktor individu atau kombinasi dari kedua faktor itu.
    a. Faktor-faktor situasional adalah faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya suatu error yang berkaitan dengan situasi tempat kegiatan atau pekerjaan berlangsung. Meister (Meister, David 1981) menyatakan bahwa secara umum faktor situasional ini meliputi faktor-faktor ruang kerja dan tata letak peralatan, lingkungan, desain permesinan, alat-alat tangan, metode dalm penanganan, transportasi dan pemeriksaan informasi perencanaan pekerjaan dan instruksi pekerjaan.
    b. Faktor-faktor individual adalah faktor yang berkaitan dengan pribadi seseorang. Faktor-faktor ini juga dikenal sebagai faktor Idiosyneoratic, yaitu faktor-faktor yang sifatnya khas setiap orang. Faktor-faktor yang termasuk faktor individu diantaranya kecakapan, kepribadian, keterampilan, fisik, umur, jenis kelamin, pendidikan dan pengalaman. Faktor Idiosyneoratic juga meliputi masalah perkawinan, hubungan internasional, konflik emosional dan sikap.
    klasifikasi penyebab human error menurut Marguglio.
    1. Knowledge-based error: kesalahan yang timbul akibat tidak adanya pengetahuan mengenai persyaratan, ekspektasi maupun kebutuhan. Kesalahan ini dapat muncul ketika seseorang tidak menerima informasi, baik informasi itu tidak disampaikan ataupun terdapat distorsi dalam penyaluran informasi. Intinya, informasi yang tidak sempurna.
    2. Cognition-based error. kesalahan yang timbul akibat ketidakmampuan dalam memproses knowledge yang dibutuhkan untuk memenuhi persyaratan, ekspektasi, maupun kebutuhan. Kesalahan ini bisa terjadi ketika seseorang tidak memproses informasi yang telah diterima dengan baik, entah itu karena kurang baik dalam mengingat, menganalisa, mencerna ataupun mengevaluasinya.
    3. Value-based error: kesalahan yang timbul karena tidak adanya kemauan untuk menerima persyaratan, ekspektasi maupun kebutuhan. Kesalahan ini muncul ketika seseorang secara sadar melakukan pelanggaran terhadap suatu persyaratan, ekspektasi maupun kebutuhan, karena ia memang tidak menghargainya, atau tidak menganggap perilakunya sebagai sesuatu yang salah.
    4. Reflexive-based error: kesalahan karena ketidakmampuan merespon suatu stimulus dengan cepat. Kesalahan ini mungkin terjadi ketika terdapat situasi dimana dibutuhkan respon yang cepat dan langsung, sementara prosedur sendiri masih kurang jelas.
    5. Error-inducing condition based: kesalahan karena ketidakmampuan dalam mengatasi kondisi yang mengakibatkan error. Kondisi seperti ini biasanya memang sudah terkait langsung dalam pekerjaan itu sendiri, atau terdapat dalam lingkungan pekerjaan, atau memang karena manusia. Kondisi ini banyak yang memang tidak bisa dikeluarkan dari proses karena memang terjadi secara alami.
    6. Skill-based error: kesalahan karena tidak adanya skill tertentu. Kesalahan karena skill memang selalu ada, selama yang melakukan pekerjaan masih manusia. Selama masih belum digantikan oleh mesin, kesalahan karena skill pasti akan selalu muncul.
    7. Lapse-based: kesalahan karena tidak adanya perhatian terhadap sesuatu. Ini juga mirip dengan skill based, karena setinggi mungkin tingkat perhatian, pasti tetap ada kemungkinan terjadi kesalahan, dan hanya bisa dihilangkan dengan mesin.

    Bekerja dalam kelompok juga tidak dapat membuat manusia bebas dari sebuah kesalahan. Kesalahan kelompok tersebut bisa diakibatkan oleh beberapa hal yaitu:
    1. Efek halo yaitu kepercayaan buta terhadap kompetensi seseorang dikarenakan pengalaman dan pendidikannya.
    2. Pilot-co-pilot yaitu keengganan para pekerja junior untuk menentang pendapat dan keputusan para senior karena posisinya di dalam struktur organisasi perusahaan.
    3. Menumpang/mengikuti saja yaitu kecenderungan untuk ikut-ikut tanpa secara aktif mengevaluasi maksud dan tindakan pekerja yang melakukan pekerjaannya.
    4. Berpikir grup yaitu kepaduan, loyalitas dan komitmen adalah hal yang baik jik ada di dalam kelompok kerja.
    5. Difusi tanggung jawab yaitu berisiko dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah dalam kelompok.


    Nama: Rifda Nur Alifah
    NIM: 167052014
    Semester: II
    Kelas: A1


    Komentar Dosen:
    – Perhatikan tulisan yang dicoret. Apabila mengutip teori yang berasal dari sumber lain, maka materi hanya boleh diambil dari luar yang berasal dari buku cetak yang berwujud secara fisik, dimana terdapat nomor ISBN dengan jelas, nama pengarang, judul buku, tahun terbit, dan nama penerbitnya. Kemudian cantumkan sebagai Daftar Pustaka di bagian bawah rangkuman menggunakan format penulisan Harvard atau Vancouver.
    – Jangan mengutip materi dari internet yang belum teruji validitasnya.
    – Perbaiki kembali tugas Anda ini. Cantumkan kalimat “PERBAIKAN TUGAS KE-1” di awal rangkuman pada posting berikutnya.

  13. Kesalahan Manusia (Human Eror)
    Human error didefinisikan sebagai suatu keputusan atau tindakan yang mengurangi atau potensial untuk mengurangi efektifitas, keamanan atau performansi suatu sistem . human error adalah suatu penyimpangan dari suatu performansi standart yang telah ditentukan sebelumnya, yang mengakibatkan adanya penundaan waktu yang tidak diinginkan, kesulitan, masalah, insiden, kegagalan. Namun pada penyelidikan lebih lanjut human error dapat dikategorikan juga sebagai ketidaksesuaian kerja yang bukan hanya akibat dari kesalahan manusia, tetapi juga karena adanya kesalahan pada perancangan dan prosedur kerja. Hamper 80% kejadian terkait dengan kesalahan manusia, data dari Dapartemen Energi amerika bahkan mengatakan bahwa di beberapa industry, porsi kesalahan manusia bisa mencapai 90% hanya sekitar 20% yang terkait kegagalan peralatan. Akar penyebab kecelakaan merupakan kombinasi dari beberapa factor, Secara sistematis setiap error yang terjadi akan berhubungan dengan faktor situasional, faktor individu atau kombinasi dari kedua faktor.
    a. Faktor-faktor situasional adalah faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya suatu error yang berkaitan dengan situasi tempat kegiatan atau pekerjaan berlangsung. Meister (Meister, David 1981) menyatakan bahwa secara umum faktor situasional ini meliputi faktor-faktor ruang kerja dan tata letak peralatan, lingkungan, desain permesinan, alat-alat tangan, metode dalm penanganan, transportasi dan pemeriksaan informasi perencanaan pekerjaan dan instruksi pekerjaan.
    b. Faktor-faktor individual adalah faktor yang berkaitan dengan pribadi seseorang. Faktor-faktor ini juga dikenal sebagai faktor Idiosyneoratic, yaitu faktor-faktor yang sifatnya khas setiap orang. Faktor-faktor yang termasuk faktor individu diantaranya kecakapan, kepribadian, keterampilan, fisik, umur, jenis kelamin, pendidikan dan pengalaman. Faktor Idiosyneoratic juga meliputi masalah perkawinan, hubungan internasional, konflik emosional dan sikap.
    Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya suatu error juga dapat dikelompokan dengan cara lain seperti yang dilakukan oleh Swain. Swain (Kirwan, barri, 1994) menerangkan faktor-faktor yang berpengaruh itu sebagai performance shaping factor (spfs), faktor-faktor ini dibagi tiga kategori yaitu:
    a. Faktor eksternal dari individu (situasioal dan task equitment characteristic)
    b. Faktor-faktor internal individu ( idiosyneoratic factor)
    Manusia tidak berbuat salah dengan sengaja. Kesalahan (error) adalah tindakan manusia yang tidak disengaja yang menyimpang dari tindakan yang di harapkan. Kesalahan adalah tindakan tak terencana atau dipikirkan terlebih dahulu. Kesalahan manusia (human error) akibat ketidakcocokan antara keterbatasan manusia dengan kondisi lingkungan di tempat kerja termasuk ketidaksesuaian menejemen, kepemimpinan dan kelemahan organisasi yang membuat kondusi itu muncul.
    Luput (slips) ketika suatu aksi fisik gagal mewujudkan hasil yang di inginkan sedangkan khilaf (lapse) melibatkan kegagalan terkait ingatan atau mengingat ulang.
    beberapa hal berikut bisa menjelaskan bagaimana ketidaktepatan atau aksi yang salah salah bisa tejadi :
    a. Waktu-terlalu cepat, terlalu lama, alpa
    b. Durasi- terlalu lama, terlalu singkat
    c. Urutan-terbalik,berulang ulang
    d. Obyek- salah tindakan di obyek yang benar
    e. Tekanan- terlalu sedikit atau terlalu banyak tekanan
    f. Arahan- salah memberikan arahan
    g. Kecepatan- terlalu cepat atau terlalu lambat
    h. Jarak- terlalu jauh atau terlalu dekat
    KELIRU (mistake), sebaliknya terjadi ketika seseorang mempergunakan rencana yang tidak memadai untuk mencapai hasil yang di inginkan. Keliru biasanya melibatkan kesalahan interpretasi atau kurangnya pengetahuan. Sifat manusiawi inilah, pekerja cendrung rentan terhadap kondisi eksternal yang bisa berbuat mereka melampaui batasan sifat manusianya. Kerentanan inilah yang membuat pekerja berbuat salah. Kerentanan ini juga terjadi ketika manusia bekerja dalam system yang rumit
    SETRES. Pada dasarnya, stress bukanlah hal yang buruk. Beberapa kondisi stress merupakan hal yang normal dan sehat. Stress bahkan dapat meningkatkan fokus sehingga menguntungkan. Namun, stress bisa terkumulasi dan menguasai seseorang,seehingga pada akhirnya melumpuhkan kinerja.
    MENGHINDARI KELELAHAN PIKIRAN. Manusia cenderung enggan berpikir/konsentrasi/fokus dalam jangka waktu yang lama karena melelahkan.berpikir adalah proses yang membutuhkan usaha yang besar dan juga lambat, akhirnya manusia menerapkan pola yang dikenalnya. Pola bisa berupa :
    1. Asumsi : menerima suatu kondisi sebagai hal yang benar tanpa verifikasi terlebih dahulu
    2. Kebiasaan : pola perilaku dibawah sadar sebagai hasil dari pengulangan yang sering
    3. Bias konfirmasi : tidak menerapkannya solusi baru karena bias pemikiran yang ada akibat investasi waktu dan usaha yang diperlukan untuk menerapkan solusi terbaru.
    4.bias kesamaan : kecendrungan untuk mengambil solusi dari kondisi yang serupa yang berhasil dimasa lalu
    5. Bias frekuensi : mencoba solusi yang sudah berhasil dan seing dipakai
    6. Bias ketersediaan : kecendrungan untuk menerapkan solusi yang tersedia/muncul dalam pikiran
    KETERBATASAN MEMORI KERJA. Ingatan jangka pendek adalah tempat memori kerja bagi penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan . iniolah yang menyebabkan pekerja lupa, terutama ketika bekerja dengan prosedur rumit.
    KETERBATASAN FOKUS PERHATIAN. Keterbatasan kemampuan berkonsentrasi pada dua atau lebih aktifitas menurunkan kemampuan untuk memperoses informasi yang dibutuhkan untuk meyelesaikan masalah. Fokus perhatian sangatlah terbatas, jika diambil oleh satu hal maka dia akan menarik diri dari hal lain
    POLA PIKIR. Otak manusia cenderung mencari keteraturan, setelah di dapat, maka ia akan mengacuhkan selain itu dengan demikian ia akan melewatkan kondisi yang tidak diperkirakan.
    KELELAHAN. Lelah secara fisik, mental dan emosi bisa mengarah ke tindakan yang salah dan mengambil keputusan yang tidak tepat. Kelelahan dapat di akibatkan factor di dalam pekerjaan dan factor di luar pekerjaan.
    Klasifikasi Human Error .Pada dasarnya terdapat klasifikasi human error untuk mengidentifikasi penyebab kesalahan tersebut. Menurut Iftikar. Z. Sutalaksana (1979) klasifikasi tersebut secara umumdari penyebab terjadinya human error adalah sebagai berikut :
    1. Sistem Induced Human Error
    Dimana mekanisme suatu sistem memungkinkan manusia melakukan kesalahan, misalnya manajemen yang tidak menerapkan disiplin secara baik dan ketat.
    2. Desain Induced Human Error
    Terjadinya kesalahan diakibatkan karena perancangan atau desain sistem kerja yang kurang baik. Sesuai dengan kaidah Murphy (Murphys law) menyatakan bahwa bila suatu peralatan dirancang kurang sesuai dengan pemakai (aspek ergonomis) maka akan terdapat kemungkinan akan terjadi ketidaksesuaian dalam pemakaian peralatan tersebut, dan cepat atau lambat akan terjadi.
    3. Pure Human Error.
    Suatu kesalahan yang terjadi murni berasal dari dalam manusia itu sendiri, misalnya karena skill, pengalaman, dan psikologis.
    Error secara umum didefinisikan sebagai kegagalan untuk menampilkan suatu perbuatan yang benar dan diinginkan pada suatu keadaan. Error ini hanya dapat terjadi jika ada perhatian yang benar, untuk menanggapi kejadian yang diamati sedangkan tindakan akhir yang dilakukan tidak sesuai dengan yang diinginkan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil akhir dari error berupa kejadian, sehingga nantinya terdapat suatu peristiwa yang dapat diamati. Error ini tidak hanya dibatasi oleh keluaran yang buruk maupun yang serius.
    Sedangkan yang dimaksud dengan kecelakaan adalah kejadian yang tidak direncanakan, diharapkan maupun diinginkan dan biasanya menghasilkan keluaran yang kurang baik. Error merupakan kejadian psikologis yang disebabkan oleh faktor–faktor kejiwaan sehingga ada kemungkinan bahwa sebagian atau keseluruhan erroryang terjadi tersebut tidak teridentifikasi.
    Berdasarkan asal atau penyebabnya error dibedakan sebagai berikut :
    1. Endogenous ErrorError terjadi dari proses-proses dalam diri operator. Penghilangan atau pengurangan dari error ini harus melibatkan faktor psikologis, fisiologi dan neurologi.
    2. Exogenous ErrorError terjadi dari proses dan dari luar operator. Penghilangan atau pengurangan error semacam ini harus mengakibatkan perancangan dan pemikiran secara teknis dari objek dan lingkungan kerja.

    Nama : Aditya Anggoro
    NIM : 167052003
    Semester : II
    Kelas : A1


    Komentar Dosen:
    – Rangkuman harus berasal dari materi perkuliahan.
    – Tidak diizinkan mengambil materi dari internet karena belum terjamin validitas teorinya.
    – Materi hanya boleh diambil dari luar yang berasal dari buku cetak yang berwujud secara fisik, dimana terdapat nomor ISBN dengan jelas, nama pengarang, judul buku, tahun terbit, dan nama penerbitnya.
    – Untuk materi rangkuman yang berasal dari buku, wajib mencantumkan daftar pustakanya dengan menggunakan format Vancouver atau Harvard.
    – Pastikan jumlah rangkuman paling sedikit terdiri atas 600 kata.
    – Cantumkan kalimat “PERBAIKAN TUGAS KE-1” di awal rangkuman pada posting berikutnya.
    – Perbaiki kembali tugas Anda ini.

  14. Memahami Kesalahan Manusia (Human Error) dalam konteks Keselamatan dan Kesehatan Kerja

    Setiap pekerja bisa melakukan kesalahan (error), tak terkecuali pekerja yang sudah terlatih dan memiliki motivasi kerja yang baik. Beberapa kesalahan bisa menghasilkan konsekuensi cedera/kecelakaan, sedang banyak kesalahan lainnya tidak. Karenanya, penting bagi praktisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) untuk dapat memahami prinsip yang melatarbelakangi kesalahan manusia.Karena kesalahan pasti terjadi, kemampuan untuk dapat mengidentifikasi kesalahan di tahap awal, berguna untuk mencegah terjadinya kecelakaan.

    Hampir 80% kejadian terkait dengan kesalahan manusia, data dari Departemen Energi Amerika bahkan mengatakan bahwa di beberapa industri, porsi kesalahan manusia bisa mencapai 90%; hanya sekitar 20% yang terkait kegagalan peralatan.

    Jika angka 80% kesalahan manusia tersebut didetailkan lebih lanjut, maka terungkap bahwa sebagian besar (70%) kesalahan pekerja diakibatkan oleh kelemahan laten organisasi/perusahaan (kelemahan yang dibuat oleh pekerja lain di masa lalu yang tidak nampak karena tidak menimbulkan masalah), sedang 30% lainnya terjadi oleh pekerja yang menangani peralatan atau sistem di area kerja.

    Kecelakaan-kecelakaan yang telah terjadi mengajarkan bahwa kita tidak boleh menyalahkan kecelakaan hanya kepada pekerja, karena yang sebetulnya terjadi adalah proses dan nilai di dalam organisasi/perusahaan berkontribusi besar pada mayoritas kecelakaan. Akar penyebab kecelakaan merupakan kombinasi dari beberapa faktor, banyak diantaranya yang berada di luar kendali pekerja.

    Ada 5 prinsip dasar yang harus terlebih dahulu dimengerti untuk dapat memahami faktor manusia.

    1. Semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerja yang paling hebat pun bisa salah.

    Tidak ada satupun pekerja yang kebal/anti kesalahan, berapapun usia, pengalaman atau tingkat pendidikannya. Karenanya dikenal istilah “to err is human” (berbuat salah adalah manusiawi). Tabiat manusiawi pekerja untuk bersikap tidak sempurna, sehingga pada akhirnya, kesalahan dapat terjadi. Tidak ada pelatihan atau konseling yang dapat mengubah kerentanan manusia ini.

    Dr. James Reason, penulis Human Error (1990) mengatakan: adalah penting bagi tiap pekerja, terutama managernya, untuk menjadi lebih mawas diri akan potensi manusia berbuat salah. Pekerjaan, tempat kerja dan faktor organisasasi membentuk kemungkinan (likelihood) dan konsekuensi (consequences). Memahami bagaimana dan mengapa tindakan tidak aman terjadi adalah langkah awal penting dalam mengelola kesalahan dengan efektif.

    2. Situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diprediksi, dikelola dan dicegah.

    Meskipun secara umum kesalahan manusia adalah hal yang pasti, beberapa kesalahan yang spesifik dapat dicegah. Seperti halnya jika seseorang menulis formulir penarikan rekening bank di awal tahun baru akan memiliki potensi besar salah menulis tahun sebelumnya, prediksi semacam ini bisa juga dibangun dalam konteks bekerja di tempat kerja.

    Mengenali perangkap/jebakan kesalahan dan secara aktif mengkomunikasikan bahaya-bahaya tersebut ke orang lain adalah salah satu bentuk pengelolaan kesalahan yang proaktif. Dengan mengubah situasi kerja untuk mencegah, menghilangkan atau mengurangi kondisi yang bisa menyebabkan kesalahan, pekerjaan dan faktor individu di tempat kerja bisa dikelola untuk mencegah atau setidaknya mengurangi peluang terjadinya kesalahan.

    3. Perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi.

    Organisasi digerakkan oleh tujuan, karena itu, proses dan nilai-nilai yang ada di dalamnya dikembangkan untuk mengarahkan perilaku tiap individu di dalam organisasi. Organisasi mencerminkan bagaimana pekerjaan dipecah menjadi tugas-tugas tertentu dan dikoordinasikan untuk mencapai sasaran dengan selamat dan handal. Tugas manajemen untuk mengarahkan perilaku para pekerja. Penyelesaian pekerjaan dalam konteks proses dan budaya organisasi, pengelolaan perencanaan dan sistem pengendali, berkontribusi paling besar dalam kesalahan manusia yang bisa mengakibatkan kecelakaan kerja.

    4. Pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan, rekan kerja dan bawahannya.

    Tingkat keselamatan dan kehandalan sebuah fasilitas terkait langsung dengan perilaku para pekerjanya. Semua perilaku manusia, yang baik ataupun yang buruk, dikuatkan oleh konsekuensi langsung atau pengalaman masa lalunya. Sebuah perilaku dikuatkan oleh konsekuensi yang individu tersebut alami ketika perilaku tertentu dilakukan. Karena perilaku dipengaruhi oleh konsekuensi yang pekerja itu alami, apa yang terjadi ketika seorang pekerja menunjukkan perilaku tertentu adalah hal yang penting untuk meningkatkan kinerja manusia.

    5. Kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan/sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan di masa lalu.

    Peningkatan kinerja dapat diraih dengan menerapkan tindakan perbaikan sebuah investigasi/analisa kecelakaan. Belajar dari kesalahan diri sendiri dan orang lain adalah hal yang reaktif, namun menjadi hal yang penting sebagai bentuk perbaikan berkelanjutan.
    Manusia tidak berbuat salah secara sengaja. Kesalahan (error) adalah tindakan manusia yang tidak disengaja yang menyimpang dari tindakan yang diharapkan. Kesalahan adalah tindakan tak terencana atau dipikirkan terlebih dahulu. Kesalahan manusia (human error) terjadi akibat ketidakcocokan antara keterbatasan manusia dengan kondisi lingkungan di tempat kerja, termasuk ketidaksesuaian manajemen, kepemimpinan dan kelemahan organisasi yang membuat kondisi tersebut muncul.

    Luput (slips) terjadi ketika suatu aksi fisik gagal mewujudkan hasil yang diinginkan. Sedang khilaf (lapses) melibatkan kegagalan terkait ingatan atau mengingat ulang.

    Beberapa hal berikut bisa menjelaskan bagaimana ketidaktepatan atau aksi yang salah bisa terjadi:
    • Waktu –terlalu cepat, terlalu lambat, alpa
    • Durasi –terlalu lama, terlalu singkat
    • Urutan –terbalik, berulang-ulang, gangguan
    • Obyek –salah tindakan di obyek yang benar, tindakan bertindak di obyek yang salah
    • Tekananan –terlalu sedikit atau terlalu banyak tekanan
    • Arahan – salah memberikan arahan
    • Kecepatan –terlalu cepat atau terlalu lambat, dan
    • Jarak – terlalu jauh, terlalu dekat.

    Keliru (mistake), sebaliknya, terjadi ketika seseorang mempergunakan rencana yang tidak memadai untuk mencapai hasil yang diinginkan. Kekeliruan biasanya melibatkan kesalahan interpretasi atau kurangnya pengetahuan.

    Manusia memiliki karakter fisik, biologi, sosial, mental, dan emosi yang membentuk kecenderungan, kemampuan dan juga menentukan keterbatasannya.

    Salah satu ciri manusia adalah ketidaktepatannya. Tidak seperti mesin yang selalu tepat setiap saat, manusia cenderung tidak tepat, terutama dalam kondisi tertentu, semisal dalam tekanan stres dan waktu yang besar. Karena sifat manusiawi inilah, pekerja cenderung rentan terhadap kondisi eksternal yang membuat mereka melampaui batasan sifat manusianya. Kerentanan inilah yang membuat pekerja bisa berbuat salah. Kerentanan ini juga terjadi ketika manusia bekerja dalam sistem yang rumit (perangkat lunak maupun administratif).

    Beberapa karakter manusia dibawah ini perlu diperhatikan, terutama ketika menempatkan pekerja di sistem kerja yang rumit:
    • Stres.
    • Menghindari kelelahan pikiran.
    • Keterbatasan memori kerja.
    • Keterbatasan fokus perhatian.
    • Pola pikir.
    • Sulit melihat kesalahannya sendiri.
    • Keterbatasan perspektif.
    • Rentan terhadap faktor emosional/sosial.
    • Kelelahan.
    • Presenteeism.
    • Sikap tidak aman.

    Kesalahan kelompok bisa diakibatkan oleh beberapa hal, diantaranya:
    • Efek halo.
    • Pilot-Co-pilot.
    • Menumpang/mengikuti saja.
    • Berpikir grup.
    • Difusi tanggung jawab.


    Nama : Samuel Hamonangan Lumbanraja
    NIM : 167052025
    Semester : II
    Kelas : A2

  15. Human error

    kesalahan (eror) pasti terjadi, kemampuan untuk dapat mengidentifikasi kesalahan di tahap awal, berguna untuk mencegah terjadinya kecelakaan.
    Hampir 80% kejadian terkait dengan kesalahan manusia, terungkap bahwa sebagian besar (70%) kesalahan pekerja diakibatkan oleh kelemahan laten organisasi/perusahaan (kelemahan yang dibuat oleh pekerja lain di masa lalu yang tidak nampak karena tidak menimbulkan masalah), sedang 30% lainnya terjadi oleh pekerja yang menangani peralatan atau sistem di area kerja.

    Ada 5 prinsip dasar yang harus terlebih dahulu dimengerti untuk dapat memahami faktor manusia :
    · Pertama, semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerja yang paling hebat pun bisa salah.
    · Kedua, situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diprediksi, dikelola dan dicegah.
    · Ketiga, perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi.
    · Keempat, pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan, rekan kerja dan bawahannya.
    · Kelima, kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan/sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan di masa lalu.
    Kesalahan manusia (human error) terjadi akibat ketidak cocokan antara keterbatasan manusia dengan kondisi lingkungan di tempat kerja, termasuk ketidaksesuaian manajemen, kepemimpinan dan kelemahan organisasi yang membuat beberapa kondisi seperti :
    1. Luput (slips) terjadi ketika suatu aksi fisik gagal mewujudkan hasil yang diinginkan.
    2. khilaf (lapses) melibatkan kegagalan terkait ingatan atau mengingat ulang.
    3. Keliru (mistake), sebaliknya, terjadi ketika seseorang mempergunakan rencana yang tidak memadai untuk mencapai hasil yang diinginkan.
    Manusia memiliki karakter fisik, biologi, sosial, mental, dan emosi yang membentuk kecenderungan, kemampuan dan juga menentukan keterbatasannya, Beberapa karakter manusia dibawah ini perlu diperhatikan, terutama ketika menempatkan pekerja di sistem kerja yang rumit :

    I. Stres
    stres bisa terakumulasi dan menguasai seseorang, sehingga pada akhirnya melumpuhkan kinerja.

    II. Menghindari kelelahan pikiran
    Manusia cenderung enggan berpikir/konsentrasi/fokus dalam jangka waktu yang lama karena melelahkan, akhirnya manusia cenderung mencari pola yang dikenalnya dan menerapkan solusi yang sudah pernah diterapkan.
    Polanya bisa berupa:

    a) Asumsi -menerima suatu kondisi sebagai suatu hal yang benar tanpa verifikasi terlebih dahulu
    b) Kebiasaan –pola perilaku dibawah sadar sebagai hasil dari pengulangan yang sering
    c) Bias konfirmasi –keengganan untuk menerapkan solusi terbaru karena bias pemikiran yang ada akibat investasi waktu dan usaha yang diperlukan untuk menerapkan solusi terbaru itu. Bias ini terjadi karena otak sudah melihat hasil dari solusi sebelumnya dan menolak data/fakta mengenai keberhasilan solusi yang baru
    d) Bias kesamaan –kecenderungan untuk mengambil solusi dari kondisi yang serupa yang berhasil di masa lalu
    e) Bias frekuensi – mencoba solusi yang sudah berhasil dan sering dipakai
    f) Bias ketersediaan –kecenderungan untuk menerapkan solusi yang tersedia/muncul dalam pikiran.

    III. Keterbatasan memori kerja
    Inilah yang menyebabkan pekerja lupa, terutama ketika berkerja dengan prosedur yang rumit.

    IV. Keterbatasan fokus perhatian
    Fokus perhatian sangatlah terbatas, jika diambil oleh satu hal maka dia akan menarik diri dari hal yang lain.

    V. Pola pikir.
    Otak manusia cenderung mencari keteraturan, setelah didapat, maka ia akan mengacuhkan selain itu; dengan demikian ia akan melewatkan kondisi yang tidak diperkirakan.

    VI. Sulit melihat kesalahannya sendiri.
    Pekerja yang terlalu asyik dengan kerjaannya, atau disibukkan dengan suatu hal, bisa jadi gagal untuk dapat mengidentifikasi ketidaknormalan.

    VII. Keterbatasan perspektif.
    Keterbatasan manusia untuk menerima semua fakta dapat menghalangi keputusannya untuk memecahkan masalah.

    VIII. Rentan terhadap faktor emosional/sosial.
    Kemarahan atau rasa malu bisa menurunkan kinerja seorang pekerja atau kelompok kerja.

    IX. Kelelahan.
    Kelelahan memperburuk pengambilan keputusan, menurunkan kewaspadaan, memperlambat proses berpikir dan waktu reaksi, menghilangkan kewaspadaan kepada lingkungan (situational awareness) dan mendorong seseorang mengambil jalan pintas (shortcut).

    X. Presenteeism.
    Kecenderungan pekerja tetap melanjutkan pekerjaan meski memiliki masalah kesehatan yang ringan dapat diakibatkan oleh kurangnya cuti sakit, menumpuknya pekerjaan atau tidak tersedianya akses pelayanan kesehatan.

    XI. Sikap tidak aman.
    Beberapa sikap yang dapat menimbulkan resiko berbuat salah misalnya:
    · Rasa bangga
    · Heroik
    · Fatalistic
    · Invulnerability
    · Pollyanna (rasa optimis berlebihan)
    · Sikap “Ban gundul”
    XII. Efek halo.
    kesalahan yang dapat diakibatkan oleh individu yang kompeten; tidak memeriksa tindakan seorang yang kompeten

    XIII. Pilot-Co-pilot
    Tidak berpikir kritis atau berbeda pendapat terhadap tindakan dan keputusannya.

    XIV. Menumpang/mengikuti saja.
    Orang lain yang mengambil inisiatif untuk melakukan pekerjaan, sementara si penumpang hanya mengambil peran pasif.

    XV. Berpikir grup
    Keengganan untuk berbagi informasi yang penting bisa jadi tidak terbagi kepada anggota kelompok.

    XVI. Difusi tanggung jawab
    Fenomena ini bisa disebut mentalitas gembala (herd mentality)


    Nama : Weril Sukanto
    NIM : 167052021
    Semester : II
    Kelas : A2

  16. Memahami Kesalahan Manusia (Human Error)

    Manusia, tidak seperti mesin yang selalu tepat setiap saat. Manusia cenderung melakukan kesalahan disebabkan kecenderungannya untuk melakukan kesalahan. Manusia sangat rentan dalam kesalahan terutama bila ditempatkan dalam kondisi yang rumit semisal ditempatkan dalam kondisi yang dapat menyebabkan stress atau dihadapkan dalam pekerjaan dalam jangka waktu yang lama, kelelahan pikiran, dihadapkan pada pekerjaan yang menuntut ingatan yang baik, juga pada pekerjaan yang menuntut pekerjaan fisik yang berat.

    Menurut data dari riset departemen energi Amerika mengatakan bahwa di beberapa industri, porsi kesalahan manusia bisa mencapai 90%. Hanya 20% saja kesalahan yang mengakibatkan kecelakaan kerja disebabkan oleh kegagalan peralatan.
    Dari 80% skala kesalahan manusia, 70% kesalahan pekerja disebabkan oleh kelemahan laten organisasi atau perusahaan. Sedangkan 30% lainnya disebabkan oleh pekerja yang menangani peralatan atau menjalankan system di lingkungan kerja.
    Meskipun pada dasarnya manusia pasti melakukan kesalahan, namun kita tidak boleh sepenuhnya menyalahkan pekerja atas kesalahan yang terjadi, karena andil besar dalam kecelakaan kerja yang terjadi merupakan kombinasi dari proses dan nilai yang berlaku dalam perusahaan. Beberapa factor diantaranya berada diluar kendali pekerja.

    Berikut adalah 5 prinsip yang harus kita pahami tentang factor manusia, yaitu :
    1. Semua manusia bisa berbuat salah, tidak terkecuali pekerja terhebat sekalipun.
    “To err is human” istilah ini dikenal karena tidak ada satupun manusia yang kebal atau anti dari kesalahan. Istilah ini berlaku untuk semua manusia tanpa mengenal batasan usia, pengalaman kerja, maupun pendidikannya.
    2. Situasi yang dapat menyebabkan kesalahan dapat diprediksi, dikelola dan dicegah.
    Situasi spesifik yang dapat menimbilkan kesalahan dapat dicegah. Beberapa cara proaktif untuk menghindari dan mencegahnya adalah dengan mengenali jebakan atau perangkap kesalahan dans ecaraaktif mengkomunikasikan bahaya-bahaya tersebut kepada orang lain.
    3. Perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi.
    Organisasi digerakkan oleh tujuan yang dikembangkan untuk dijadikan proses dan nilai yang akan mengarahkan prilaku individu dalam organisasi tersebut. Penyelesaian pekerjaan dalam konteks proses dan budaya organisasi, pengelolaan perencanaan, dan system pengendali memegang kontribusi paling besar dalam kesalahan mausia yang bisa mengakibatkan kecelakaan kerja. Oleh karena itu manajemen bertugas untuk mengarahkan perilaku pekerja demi mengurani nilai angka kecelakaan kerja.
    4. Pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan, rekan kerja dan bawahannya.
    Perilaku manusia yang timbul, baik atau buruk akan menerima konsekuensi langsung dari ligkungan sekitarnya juga dari pengalaman masa lalunya. Oleh karena itu memberikan konsekuensi yang tepat pada perilaku yang ditunjukkan oleh pekerja adalah hal yang penting untuk diperhatikan.
    5. Kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan atau sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan di masa lalu.
    Peningkatan kinerja dapat diraih dengan menerapkan tindakan perbaikan dari sebuah investigasi atau analisa kecelakaan. Belajar dari kesalahan, baik kesalahan diri sendiri maupun orang lain adalah hal yang reaktif namun berdampak besar sebagai proses bentuk perbaikan berkelanjutan.

    Human error didasari pada tindakan tidak aman (unsafe acts). Unsafe acts terbagi menjadi 2, yaitu:
    1. Tindakan yang disengaja (intended action)
    a. Violation (pelanggaran)
    Tindakan tidak aman ini timbul ketika seseorang dengan sengaja melanggar peraturan atau SOP yang telah ditetapkan. Ada beberapa jenis pelanggaran yaitu adalah pelanggaran rutin, dimana pekerja sengaja melanggar peraturan karena merasa pekerjaan yang dilakukannya dapat diselesaikan dengan caranya sendiri yang telah menjadi kebiasaan. Kemudian ada pelanggaran yang dilakukan dalam waktu tertentu dalam kondisi tertentu. Misalnya, pekerja sengaja melakkukan pelanggaran karena kondisi di lapangan yang tidak memungkinkan.

    2. Tindakan yang tidak disengaja atau tidak diharapkan (unintended actions).
    a. Slip (luput)
    Slip atau luput merupakan kesalahan yang terjadi disebabkan oleh aksi fisik yang gagal mewujudkan aksi yang diinginkan. Tindakan ini biasanya didasari oleh kurangnya fokus seseorang atau attentional failures.
    b. Lapse (khilaf)
    Lapses merupakan kegagalan terkait ingatan atau mengingat ulang
    c. Mistakes (kesalahan)
    Biasanya terjadi ketika seseorang meggunakan rencana yang kurang matang atau tidak memadai. Kesalahan dapat juga diakibatkan oleh kesalahan interpretasi atau kurangnya pengetahuan.

    berikut ini adalah beberapa karakter manusia yang perlu diperhatikan untuk mengurangi human error ketika ditempatkan pada pekerjaan yang rumit :
    a. Stres
    b. Kelelahan pikiran
    c. Keterbatasan memori kerja
    d. Keterbatasan Fokus
    e. Pola pikir
    f. Keterbatasan prespektif
    g. Rentan terhadap emosi atau rasa malu
    h. Kelelahan
    i. Presenteeism (memaksa bekerja walaupun tiak dalam keadaan prima)
    j. Efek halo (kepercayaan buta)
    k. Pilot-co-pilot (kecenderungan junior untuk menuruti keinginan senior entah benar atau salah)
    l. Mengikuti saja (kecenderungan untuk “ikut-ikutan” saja)
    m Berfikir group (enggan berbagi info demi menjaga keharmonisan group)
    n. Difusi tanggung jawab


    Nama : Fanny Audrey Devina
    NIM : 167052044
    Semester : II
    Kelas : A2

  17. Memahami Kesalahan Manusia ( Human Error )

    Kesalahan ( error ) adalah tindakan manusia yang tidak disengaja / tidak terencana / tidak dipikirkan terlebih dahulu yang menyimpang dari tindakan yang diharapkan. Kesalahan manusia ( human error ) dapat terjadi dengan sengaja atau tidak sengaja.
    Kesalahan manusia ( human error ) terjadi akibat ketidakcocokan antar keterbatasan manusia dengan kondisi lingkungan di tempat kerja, termasuk ketidaksesuaian manajemen, kepemimpinan dan kelemahan organisasi yang membuat kondisi tersebut muncul.
    Insiden disebabkan oleh kesalahan manusia sebesar 80%, dan oleh peralatan sebesar 20%. Dari manusia pun kesalahan disebabkan 30% dari individual ( perorangan ) dan 70% dari organisasi.

    Dalam suatu perusahaan / pekerjaan, semua pekerja dapat melakukan kesalahan atau yang biasa disebut sebagai human error. Kesalahan yang diperbuat oleh pekerja tersebut dapat mengakibatkan cidera / kecelakaan, bahkan bisa menyebabkan hal yang sangat fatal yaitu kematian. Dengan adanya bahaya tersebut, seluruh pekerja wajib mempelajari dan menerapkan budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja ( K3 ) agar meminimalisir terjadinya bahaya atau resiko bahaya. Berbuat salah adalah memang sifat setiap manusia, tidak memandang seberapa tinggi jabatan atau pendidikan seorang pekerja, tua / muda, semuanya sama dan dampaknya sama. Maka dari itu dikenal istilah “to err is human” yang berarti berbuat salah adalah sifat manusiawi, manusia tidak dapat bersikap secara sempurna, dan akhirnya semua manusia dapat melakukan kesalahan. Untuk pencegahan tersebut, tidak ada pelatihan atau konseling yang dapat mengubah kerentanan manusia ini.
    Penting untuk tenaga kerja atau yang diutamakan untuk manager perusahaan atau petinggi perusahaan agar lebih baik dalam memahami mengapa dan bagaimana bisa terjadi tindakan yang tidak aman tersebut. Walaupun secara umum kesalahan manusia itu adalah hal yang pasti, tetapi setidaknya kita bisa mengenali kesalahan yang sering terjadi dan menginformasikannya kepada orang lain. Secara langsung, melakukan tindakan seperti itu, kita telah melakukan pengelolaan kesalahan yang proaktif. Dengan adanya pengelolaan kesalahan yang proaktif kita dapat mencegah kondisi yang dapat menyebabkan kesalahan tersebut. Setidaknya jika kita tidak dapat menghapus kegiatan kesalahan tersebut, tetapi bisa meminimalisir suatu kesalahan yang dapat terjadi.
    Adapun prilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi. Contohnya adalah organisasi yang ada dalam perusahaan mencerminkan bagaimana tugas-tugas tertentu yang di pecah dapat dikoordinasikan untuk mencapai sasaran dengan handal dan selamat tentunya. Pekerja yang mencapai kinerja tertinggi pun juga karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan, rekan kerja dan bawahannya. Karena itu, apa yang terjadi ketika seorang pekerja menunjukkan perilaku tertentu adalah hal yang penting untuk meningkatkan kinerja manusia. Peningkatan kinerja yang ada di pekerja dapat diraih dengan menerapkan tindakan perbaikan investigasi / analisa kecelakaan.
    Dari kegiatan manusia dalam suatu pekerjaan, adapula kesalahan yang dilakukan secara tidak sengaja maupun sengaja. Kita sudah tau bahwa kesalahan adalah manusiawi tetapi masih banyak saja pekerja yang melakukan kesalahan demi kepuasan diri sendiri atau karena banyak dorongan yang membuat pekerja melakukan kesalahan – kesalahan tersebut.

    Kesalahan manusia yang tidak disengaja yaitu :
    – Slips ( Luput ) adalah dimana aksi fisik manusia gagal mewujudkan hasil yang diinginkan.
    – Lapse ( khilaf ) adalah perbuatan salah yang tidak disengaja, bukan perbuatan yang melalui proses pemikiran apalagi direncanakan sebelumnya dan bukan yang dilakukan berulang – ulang.
    – Mistake ( kesalahan ) adalah suatu tindak kesalahan. Dalam arti tindak kesalahan yang tidak di sengaja seperti minimnya pengetahuan / ketidaktahuan yang berakibat kecelakaan dalam suatu pekerjaan.

    Kesalahan manusia yang disengaja :
    – Violation ( pelanggaran )
    — Routine violation adalah pelanggaran yang disengaja secara rutin. Dimana pekerja melakukan kesalahannya secara rutin / sering kali dan pada akhirnya menimbulkan kecelakaan karena aksi orang tersebut.
    — Exception violation adalah pengecualian. Banyaknya pengecualian yang dapat berakibat menjadi kesalahan yang disengaja.
    — Sabotage / sabotase adalah merusak. Seorang pekerja yang sengaja merusak citra perusahaan atau alat, barang, perlengkapan yang ada dalam perusahaan. Sabotase biasanya terjadi akibat masalah hati / perasaan terhadap pekerjaan / orang yang ada di dalam perusahaan tersebut sehingga muncul rasa sakit hati yang mengakibatkan pekerja tersebut merasa terdorong untuk melakukan perusakan dalam bentuk apa saja yang dilakukan secara sengaja.


    Nama : Vira Erwi Novaliana
    NIM : 167051976
    Semester : II
    Kelas : A 1


    Komentar Dosen:
    – Perhatikan kalimat yang dicoret. Materi hanya boleh diambil dari luar yang berasal dari buku cetak yang berwujud secara fisik, dimana terdapat nomor ISBN dengan jelas, nama pengarang, judul buku, tahun terbit, dan nama penerbitnya.
    – Tidak diizinkan mengambil materi dari internet karena belum terjamin validitas teorinya.
    – Untuk materi rangkuman yang berasal dari buku, wajib mencantumkan daftar pustakanya dengan menggunakan format penulisan Vancouver atau Harvard.
    – Cantumkan kalimat “PERBAIKAN TUGAS KE-1” di awal rangkuman pada posting berikutnya.
    – Perbaiki kembali tugas Anda ini.

  18. Memahami Kesalahan Manusia (Human Error)
    Beberapa kesalahan bisa menghasilkan konsekuensi cedera/kecelakaan, sedang banyak kesalahan lainnya tidak. Karenanya, penting bagi praktisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) untuk dapat memahami prinsip yang melatarbelakangi kesalahan manusia.

    Hampir 80% kejadian terkait dengan kesalahan manusia, data dari Departemen Energi Amerika bahkan mengatakan bahwa di beberapa industri, porsi kesalahan manusia bisa mencapai 90%; hanya sekitar 20% yang terkait kegagalan peralatan.

    Jika angka 80% kesalahan manusia didetailkan lebih lanjut, terungkap bahwa sebagian besar (70%) kesalahan pekerja diakibatkan oleh kelemahan laten organisasi/perusahaan (kelemahan yang dibuat oleh pekerja lain di masa lalu yang tidak nampak karena tidak menimbulkan masalah), sedang 30% lainnya terjadi oleh pekerja yang menangani peralatan atau sistem di area kerja.

    Ada 5 prinsip dasar yang harus terlebih dahulu dimengerti untuk dapat memahami faktor manusia
    1. Semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerja yang paling hebat pun bisa salah.
    Tabiat manusiawi pekerja untuk bersikap tidak sempurna, sehingga pada akhirnya, kesalahan dapat terjadi.
    2. Situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diprediksi, dikelola dan dicegah.
    Dengan mengubah situasi kerja untuk mencegah, menghilangkan atau mengurangi kondisi yang bisa menyebabkan kesalahan, pekerjaan dan faktor individu di tempat kerja bisa dikelola untuk mencegah atau setidaknya mengurangi peluang terjadinya kesalahan.
    3. perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi.
    Organisasi mencerminkan bagaimana pekerjaan dipecah menjadi tugas-tugas tertentu dan dikoordinasikan untuk mencapai sasaran dengan selamat dan handal.
    4. Pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan, rekan kerja dan bawahannya.
    Semua perilaku perilaku dipengaruhi oleh konsekuensi yang pekerja itu alami, apa yang terjadi ketika seorang pekerja menunjukkan perilaku tertentu adalah hal yang penting untuk meningkatkan kinerja manusia.
    5. kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan/sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan di masa lalu.
    Belajar dari kesalahan diri sendiri dan orang lain adalah hal yang reaktif, namun menjadi hal yang penting sebagai bentuk perbaikan berkelanjutan.

    Kesalahan manusia (human error) terjadi akibat ketidakcocokan antara keterbatasan manusia dengan kondisi lingkungan di tempat kerja, termasuk ketidaksesuaian manajemen, kepemimpinan dan kelemahan organisasi yang membuat kondisi tersebut muncul.

    Luput (slips) terjadi ketika suatu aksi fisik gagal mewujudkan hasil yang diinginkan. Sedang khilaf (lapses) melibatkan kegagalan terkait ingatan atau mengingat ulang.

    Beberapa hal berikut bisa menjelaskan bagaimana ketidaktepatan atau aksi yang salah bisa terjadi:
    • Waktu –terlalu cepat, terlalu lambat, alpa
    • Durasi –terlalu lama, terlalu singkat
    • Urutan –terbalik, berulang-ulang, gangguan
    • Obyek –salah tindakan di obyek yang benar, tindakan bertindak di obyek yang salah
    • Tekananan –terlalu sedikit atau terlalu banyak tekanan
    • Arahan – salah memberikan arahan
    • Kecepatan –terlalu cepat atau terlalu lambat, dan
    • Jarak – terlalu jauh, terlalu dekat.

    Keliru (mistake), Kekeliruan biasanya melibatkan kesalahan interpretasi atau kurangnya pengetahuan. Kerentanan ini juga terjadi ketika manusia bekerja dalam sistem yang rumit (perangkat lunak maupun administratif)
    Beberapa karakter manusia dibawah ini perlu diperhatikan, terutama ketika menempatkan pekerja di sistem kerja yang rumit:

    1. Stres.
    Beberapa kondisi stres merupakan hal yang normal dan sehat. Stres bahkan dapat meningkatkan fokus sehingga menguntungkan. Namun, stres bisa terakumulasi dan menguasai seseorang, sehingga pada akhirnya melumpuhkan kinerja.

    2. Menghindari kelelahan pikiran.
    Manusia cenderung enggan berpikir/konsentrasi/fokus dalam jangka waktu yang lama karena melelahkan. akhirnya manusia cenderung mencari pola yang dikenalnya dan menerapkan solusi yang sudah pernah diterapkan Polanya bisa berupa:
    Asumsi = Menerima suatu kondisi sebagai suatu hal yang benar tanpa verifikasi terlebih dahulu
    Kebiasaan = Pola perilaku dibawah sadar sebagai hasil dari pengulangan yang sering
    Bias konfirmasi = Keengganan untuk menerapkan solusi terbaru karena bias pemikiran yang ada akibat investasi waktu dan usaha yang diperlukan untuk menerapkan solusi terbaru itu.
    Bias kesamaan = Kecenderungan untuk mengambil solusi dari kondisi yang serupa yang berhasil di masa lalu.
    Bias frekuensi = Mencoba solusi yang sudah berhasil dan sering dipakai.
    Bias ketersediaan = Kecenderungan untuk menerapkan solusi yang tersedia/muncul dalam pikiran.
    3. Keterbatasan memori kerja
    Inilah yang menyebabkan pekerja lupa, terutama ketika berkerja dengan prosedur yang rumit.
    4. Keterbatasan fokus perhatian.
    Fokus perhatian sangatlah terbatas, jika diambil oleh satu hal maka dia akan menarik diri dari hal yang lain.
    5. Pola pikir.
    Otak manusia cenderung mencari keteraturan, setelah didapat, maka ia akan mengacuhkan selain itu; dengan demikian ia akan melewatkan kondisi yang tidak diperkirakan.
    6. Sulit melihat kesalahannya sendiri.
    Pekerja yang terlalu asyik dengan kerjaannya, atau disibukkan dengan suatu hal, bisa jadi gagal untuk dapat mengidentifikasi ketidak normalan.
    7. Keterbatasan perspektif.
    Keterbatasan manusia untuk menerima semua fakta dapat menghalangi keputusannya untuk memecahkan masalah.
    8. Rentan terhadap faktor emosional/sosial.
    Kemarahan atau rasa malu bisa menurunkan kinerja seorang pekerja atau kelompok kerja.
    9. Kelelahan.
    Kelelahan memperburuk pengambilan keputusan, menurunkan kewaspadaan, memperlambat proses berpikir dan waktu reaksi, menghilangkan kewaspadaan kepada lingkungan (situational awareness) dan mendorong seseorang mengambil jalan pintas (shortcut).
    10. Presenteeism.
    Beberapa pekerja akan tetap memaksakan hadir dan bekerja meskipun kemampuan kerjanya sudah menurun karena penyakit atau cedera
    11. Sikap tidak aman.
    Beberapa sikap yang dapat menimbulkan resiko berbuat salah misalnya:
    a. Rasa bangga. Kebanggaan berlebih terhadap kemampuan diri sendiri; sombong.
    b. Heroik. Keberanian yang berlebihan.
    c. Fatalistic. Sikap kalahan yang meyakini bahwa setiap kejadian sudah ditentukan, tidak bisa dihindari, dan tidak ada yang dapat dilakukan untuk menghindari takdir
    d. Invulnerability. Memiliki rasa kebal terhadap kesalahan/tidak mungkin berbuat salah, gagal atau cedera.
    e. Pollyanna (rasa optimis berlebihan).
    f. Sikap “Ban gundul”. Kinerja masa lalu terkadang menjadi pembenaran untuk tidak merubah (melakukan perbaikan) praktek atau kondisi yang sudah ada.

    Kesalahan kelompok bisa diakibatkan oleh beberapa hal, diantaranya:

    Efek halo –Hal ini mengakibatkan antar anggota kelompok menurunkan kewaspadaannya terhadap kesalahan yang dapat diakibatkan oleh individu yang kompeten.

    Pilot-Co-pilot –Menunjukkan sopan santun berlebihan ketika berinteraksi dengan manajer senior, tanpa sadar menerima perkataan bos tanpa berpikir kritis atau berbeda pendapat terhadap tindakan dan keputusannya.

    Menumpang/mengikuti saja – Kecenderungan untuk “menumpang” (ikut-ikutan saja) tanpa secara aktif mengevaluasi maksud dan tindakan pekerja yang melakukan pekerjaan atau mengambil inisiatif.

    Berpikir grup – Kepaduan, loyalitas, konsensus dan komitmen adalah hal yang baik jika ada di dalam kelompok kerja. Namun, terkadang, hal-hal tersebut bisa menurunkan kualitas keputusan tim.

    Difusi tanggung jawab ¬ – Jika dua atau lebih pekerja sepakat akan sesuatu yang dianggap cara yang terbaik dalam melakukan sesuatu, maka mereka akan lebih mudah mengambil resiko dan mengabaikan prosedur atau kebijakan yang ada. Fenomena ini bisa disebut mentalitas gembala (herd mentality).


    Nama : Sherin Gita Sapitri
    NPM : 167052017
    Semester : II
    Kelas : A2

  19. Memahami Kesalahan Manusia (Human Error)
    Semua pekerja bisa melakukan kesalahan(error),tak terkecuali pekerja yang sudah terlatih dan memiliki motivasi yang baik.kecelakaan bisa saja terjadi akibat kesalahan,dan kita harus mengetahui kecelakaan yang timbul bisa saja dari faktor kegagalan Peralatan dan kesalahan manusia itu sendiri.
    Hampir 80% kecelakaan terjadi akibat kesalahan manusia,dan 20% dari kegagalan Peralatan,dan jika angka 80% didetailkan lebih lanjut,terungkap bahwa sebagian besar (70%) kesalahan pekerja diakibatkan oleh kelemahan laten organisasi/perusahaan(kelemahan yang dibuat oleh pekerja lain dimasa lalu yang tidak Nampak karena tidak menimbulkan masalah),sedang 30% lainnya terjadi oleh pekerja yang menangani peralatan atau sistem di area kerja).Saat terjadi kecelakaan kita tidak boleh hanya menyalahkan pekerja,perusahaan juga berkonstribusi besar dalam terjadinya kecelakaan.Ada 5 prinsip dasar yang harus terlebih dahulu dimengerti untuk dapat memahami factor manusia.
    1. Semua Manusia bisa berbuat salah,bahkan pekerja yang paling hebat pun bisa salah.
    2. Situasi yang mungkin menyebabkan kesalaha dapat diprediksi,dikelola dan dicegah.
    3. Perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi
    4. Pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan,rekan kerja dan bawahannya.
    5. Kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan/sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan di masa lalu.

    Unsafe Action(tindakan Kesalahan) terbagi menjadi 2 bagian yaitu Unintended Action(Kecelakaan tidak disengaja dan Intended Action(Kecelakaan yang disengaja).
    Ada 2 faktor dalam Kecelakaan yang tidak disengaja yaitu:
    1. Luput(Slips) terjadi ketika suatu aksi fisik gagal mewujudkan hasil yang diinginkan
    2. Khilaf(lapses) melibatkan kegagalan ingatan atau kurangnya kemampuan untuk mengingat ulang.
    Beberapa hal berikut yang bisa menjelaskan bagaimana ketidaktepatan atau aksi yang salah bisa terjadi :
    – Waktu – Terlalu cepat,terlalu lambat,alpa.
    – Durasi – Terlalu lama,terlalu singkat.
    – Urutan – Terbalik,berulang-ulang,gangguan.
    – Obyek – Salah tindakan di obyek yang benar,tindakan bertindak di obyek yang salah.
    – Tekanan – Terlalu sedikit atau terlalu banyak.
    – Arahan – Salah memberikan arahan.
    – Kecepatan – Terlalu cepat atau terlalu lambat.
    – Jarak – Terlalu jauh,terlalu dekat.
    faktor dalam kecelakaan yang disengaja yaitu :
    – Keliru(Mistake),Terjadi ketika seseorang mempergunakan rencana yang tidak memadai untuk mencapai hasil yang diinginkan.Kekeliruan biasanya melibatkan kesalahan Interpretasi atau kurangnya pengetahuan.
    Berikut manusia dibawah ini yang dapat membuat pekerja keliru dalam bekerja,dan karakter yang perlu diperhatikan,terutama ketika menempatkan pekerja di sistem kerja yang rumit.
    1. Stres,terakumulasi dan menguasai seseorang,sehingga melumpuhkan kinerja.
    2. Menghindari kelelahan pikiran,Manusia cenderung enggan berpikir/konsentrasi/fokus dalam jangka waktu yang lama karena melelahkan,akhirnya manusia cenderung mencari pola yang dikenalnya dan menerapkan solusi yang sudah diterapkan.polanya bisa berupa,Asumsi,Kebiasaan,Bias konfirmasi,Bias kesamaan,Bias Frekuensi,Bias ketersediaan.
    3. Keterbatasan memori kerja,pekerja sering lupa,terutama ketika bekerja dengan prosedur yang rumit.
    4. Keterbatasan fokus perhatian,Keterbatasan kemampuan berkonsentrasi pada dua atau lebih aktifitas menurunkan kemampuan untuk memproses informasi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah.
    5. Pola Pikir,manusia cenderung fokus pada apa yang hendak dicapai daripada apa yang harus dihindari.
    6. Sulit melihat kesalahan sendiri,pekerja yang terlalu asyik dengan kerjannya,atau disibukkan dengan suatu hal bisa jadi gagal untuk dapat mengidentifikasi ketidak normalan.
    7. Keterbatasan perspektif,manusia tidak bisa melihat semua hal yang ada ditempat kerja untuk dilihat.
    8. Rentan terhadap factor emosional/social,kemarahan atau rasa malu bisa menurunkan kinerja seorang pekerja atau kelompok kerja
    9. Kelelahan,lelah secara fisik,emosi dan mental bisa mengarah ke tindakan yang salah dan pengambilan keputusan yang tidak tepat.
    10. Presenteeism,beberapa pekerja akan tetap memaksakan hadir dan bekerja meskipun kemampuan kerjanya sudah menurun karena penyakit atau cedera.
    11. Sikap tidak aman,sikap dapat diartikan sebagai kondisi mental atau perasaan terhadap suatu obyek atau subyek.

    – Violation.Kelalaian yang dilandasi oleh “kesengajaan” untuk melanggar
    Dalam bekerja pekerja tidak selalu bekerja sendiri atau individu pekerja juga bekerja secara kelompok,dan dalam bekerja secara kelompok tidak membuat manusia terbebas dari kesalahan,kesalahan kelompok bisa terjadi akibat interaksi antara anggota kelompok kerja.

    Kesalahan kelompok bisa di akibatkan oleh beberapa hal,diantaranya :
    1. Efek halo.Kepercayaan buta akan komptensi seseorang dikarenakan pengalaman atau pendidikannya.Hal ini mengakibatkan antar anggota kelompok menurunkan kewaspadaannya terhadap kesalahan yang dapat mengakibatkan antar anggota kelompok menurunkan kewaspadaanya terhadap kesalahan yang dapat diakibatkan oleh individu yang kompeten.
    2. Pilot-Co-Pilot.Keengganan pekerja junior untuk menentang pendapat,keputusan,atau tindakan pekerja senior karena posisinya didalam struktur organisasi perusahaan.
    3. Menumpang/mengikut aja.Kecenderungan untuk menumpang(ikut-ikutan saja) tanpa secara aktif mengevaluasi maksud dan tindakan pekerja yang melakukan pekerjaan atau mengambil inisiatif.
    4. Berpikir Grup.Kepaduan,Loyalitas,Konsensus dan komitmen adalah hal yang baik jika ada di dalam kelompok kerja.Namun terkadang,hal-hal tersebut bisa menurunkan kualitas keputusan tim.
    5. Difusi tanggung jawab bisa jadi beresiko dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah kelompok.jika dua atau lebih pekerja sepakat akan sesuatu yang dianggap cara yang terbaik dalam melakukan sesuatu,maka mereka akan lebih mudah mengambil resiko dan mengabaikan prosedur atau kebijakan yang ada.fenomena ini bisa disebut mentalitas gembala(herd mentality)

    Dan didalam kesalahan kelompok itu bisa saja terjadi tindakan sabotase untuk menjatuhkan sesorang dan dapat membahaya posisi orang yang disabotase dan pekerja/pelaku sabotase itu sendiri di perusahaan.


    Nama : Naufal Rodhi Septiady
    NIM : 167051998
    Semester : II
    Kelas : A1

  20. Rangkuman Memahami Kesalahan Manusia(Human Error)

    Semua pekerja bisa melakukan kesalahan (error), tak terkecuali pekerja yang sudah terlatih sekalipun
    Karena kesalahan pasti terjadi, kemampuan untuk dapat mengidentifikasi kesalahan di tahap awal, berguna untuk mencegah terjadinya kecelakaan. Hampir 80% kejadian terkait dengan kesalahan manusia, data dari Departemen Energi Amerika bahkan mengatakan bahwa di beberapa industri, porsi kesalahan manusia bisa mencapai 90%; hanya sekitar 20% yang terkait kegagalan peralatan.

    Jika angka 80% kesalahan manusia didetailkan lebih lanjut, terungkap bahwa sebagian besar (70%) kesalahan pekerja diakibatkan oleh kelemahan laten organisasi/perusahaan (kelemahan yang dibuat oleh pekerja lain di masa lalu yang tidak nampak karena tidak menimbulkan masalah), sedang 30% lainnya terjadi oleh pekerja yang menangani peralatan atau sistem di area kerja.

    Kecelakaan-kecelakaan yang telah terjadi mengajarkan bahwa kita tidak boleh menyalahkan kecelakaan hanya kepada pekerja, karena yang sebetulnya terjadi adalah proses dan nilai di dalam organisasi/perusahaan berkontribusi besar pada mayoritas kecelakaan. Akar penyebab kecelakaan merupakan kombinasi dari beberapa faktor, banyak diantaranya yang berada di luar kendali pekerja.

    Ada 5 prinsip dasar yang harus terlebih dahulu dimengerti untuk dapat memahami faktor manusia.

    Pertama, semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerja yang paling hebat pun bisa salah. Tidak ada satupun pekerja yang kebal/anti kesalahan, berapapun usia, pengalaman atau tingkat pendidikannya.

    Kedua, situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diprediksi, dikelola dan dicegah. Meskipun secara umum kesalahan manusia adalah hal yang pasti, beberapa kesalahan yang spesifik dapat dicegah.

    Ketiga, perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi. Organisasi digerakkan oleh tujuan, karena itu, proses dan nilai-nilai yang ada di dalamnya dikembangkan untuk mengarahkan perilaku tiap individu di dalam organisasi.

    Keempat, pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan, rekan kerja dan bawahannya.

    Kelima, kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan/sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan di masa lalu.

    Peningkatan kinerja dapat diraih dengan menerapkan tindakan perbaikan sebuah investigasi/analisa kecelakaan. Belajar dari kesalahan diri sendiri dan orang lain adalah hal yang reaktif, namun menjadi hal yang penting sebagai bentuk perbaikan berkelanjutan.

    Manusia tidak berbuat salah secara sengaja. Kesalahan (error) adalah tindakan manusia yang tidak disengaja yang menyimpang dari tindakan yang diharapkan. Kesalahan adalah tindakan tak terencana atau dipikirkan terlebih dahulu. Kesalahan manusia (human error) terjadi akibat ketidakcocokan antara keterbatasan manusia dengan kondisi lingkungan di tempat kerja, termasuk ketidaksesuaian manajemen, kepemimpinan dan kelemahan organisasi yang membuat kondisi tersebut muncul.
    – Luput (slips) terjadi ketika suatu aksi fisik gagal mewujudkan hasil yang diinginkan.
    – Khilaf (lapses) melibatkan kegagalan terkait ingatan atau mengingat ulang.
    Beberapa hal berikut bisa menjelaskan bagaimana ketidaktepatan atau aksi yang salah bisa terjadi:
    • Waktu –terlalu cepat, terlalu lambat, alpa
    • Durasi –terlalu lama, terlalu singkat
    • Urutan –terbalik, berulang-ulang, gangguan
    • Obyek –salah tindakan di obyek yang benar, tindakan bertindak di obyek yang salah
    • Tekananan –terlalu sedikit atau terlalu banyak tekanan
    • Arahan – salah memberikan arahan
    • Kecepatan –terlalu cepat atau terlalu lambat, dan
    • Jarak – terlalu jauh, terlalu dekat.

    – Keliru (mistake), sebaliknya, terjadi ketika seseorang mempergunakan rencana yang tidak memadai untuk mencapai hasil yang diinginkan.
    Beberapa karakter manusia dibawah ini perlu diperhatikan, terutama ketika menempatkan pekerja di sistem kerja yang rumit:
    – Stres. Pada dasarnya, stres bukanlah hal yang buruk. Beberapa kondisi stres merupakan hal yang normal dan sehat.
    – Keterbatasan memori kerja. Ingatan jangka pendek (short term memory) adalah tempat kerja/memori kerja bagi penyelesaian masalah dan pengambilan kebutusan.
    – Keterbatasan fokus perhatian. Keterbatasan kemampuan berkonsentrasi pada dua atau lebih aktifitas menurunkan kemampuan untuk memproses informasi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah.
    – Pola pikir. Manusia cenderung fokus pada apa yang hendak dicapai daripada pada fokus pada apa yang harus dihindari, karenanya, manusia hanya melihat apa yang pikirannya harapkan/inginkan untuk dilihat.
    – Sulit melihat kesalahannya sendiri. Individu, terutama yang bekerja sendiri, rentan terhadap kesalahan.
    – Keterbatasan perspektif. Manusia tidak bisa melihat semua hal yang ada ditempat kerja untuk dilihat.
    – Rentan terhadap faktor emosional/sosial. Kemarahan atau rasa malu bisa menurunkan kinerja seorang pekerja atau kelompok kerja.
    – Kelelahan. Lelah secara fisik, emosi dan mental bisa mengarah ke tindakan yang salah dan pengambilan keputusan yang tidak tepat.
    – Presenteeism. Beberapa pekerja akan tetap memaksakan hadir dan bekerja meskipun kemampuan kerjanya sudah menurun karena penyakit atau cedera.
    – Sikap tidak aman. Sikap dapat diartikan sebagai kondisi mental atau perasaan terhadap suatu obyek atau subyek.
    Beberapa sikap yang dapat menimbulkan resiko berbuat salah misalnya:
    • Rasa bangga. Kebanggaan berlebih terhadap kemampuan diri sendiri; sombong.
    • Heroik. Keberanian yang berlebihan. Reaksi heroic biasanya impulsif, ada pemikiran dalam dirinya bahwa pekerjaan harus dilakukan secara cepat atau dianggap gagal.
    • Fatalistic. Sikap kalahan yang meyakini bahwa setiap kejadian sudah ditentukan, tidak bisa dihindari, dan tidak ada yang dapat dilakukan untuk menghindari takdir
    • Invulnerability. Memiliki rasa kebal terhadap kesalahan/tidak mungkin berbuat salah, gagal atau cedera.
    • Pollyanna (rasa optimis berlebihan). Manusia mencari keteraturan dalam lingkungan, bukan ketidakteraturan.
    • Sikap “Ban gundul”. Kinerja masa lalu terkadang menjadi pembenaran untuk tidak merubah (melakukan perbaikan) praktek atau kondisi yang sudah ada: “saya sudah berkendara 100.000 KM tanpa sekalipun mengalami ban bocor.” Kesuksesan bisa membuat kepuasan dan kepercayaan diri berlebih.
    Bekerja dalam kelompok juga tidak membuat manusia bebas dari kesalahan. Kesalahan kelompok (team error) bisa terjadi akibat interaksi antara anggota kelompok kerja.

    Kesalahan kelompok bisa diakibatkan oleh beberapa hal, diantaranya:
    – Efek halo – Kepercayaan buta akan kompetensi seseorang dikarenakan pengalaman atau pendidikannya.
    – Pilot-Co-pilot – Keengganan pekerja junior (co-pilot) untuk menentang pendapat, keputusan atau tindakan pekerja senior (pilot) karena posisinya di dalam struktur organisasi perusahaan. Bawahan menunjukkan sopan santun berlebihan ketika berinteraksi dengan manajer senior, tanpa sadar menerima perkataan bos tanpa berpikir kritis atau berbeda pendapat terhadap tindakan dan keputusannya.
    – Menumpang/mengikuti saja – Kecenderungan untuk “menumpang” (ikut-ikutan saja) tanpa secara aktif mengevaluasi maksud dan tindakan pekerja yang melakukan pekerjaan atau mengambil inisiatif.
    – Berpikir grup – Kepaduan, loyalitas, konsensus dan komitmen adalah hal yang baik jika ada di dalam kelompok kerja.
    – Difusi tanggung jawab. bisa jadi berisiko dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah kelompok.


    Nama: Bobby Annastasia Prahari
    NIM: 167052018
    Semester: II
    Kelas: A2

  21. Memahami Kesalahan Manusia (Human Error)
    Di dunia kerja, kita cukup sering melakukan kesalahan – kesalahan dalam menyelesaikan pekerjaan. Baik berupa ketidakmampuan kita dalam menyelesaikan pekerjaan atau apa yang telah kita kerjakan tidak memberikan hasil yang sesuai dengan apa yang kita harapkan, apalagi bagi pekerja baru yang belum memiliki pengalaman bekerja yang cukup. Ini biasa disebut dengan Human Error. Apa itu Human Error?
    • Human error didefinisikan sebagai suatu keputusan atau tindakan yang mengurangi atau potensial untuk mengurangi efektifitas, keamanan atau performansi suatu sistem (Mc. Cormick 1993).
    • Sedangkan menurut Iftikar Z. Sultalaksana, Human Error adalah kesalahan yang diakibatkan oleh faktor manusia kemungkinan disebabkan oleh pekerjaan yang berulang-ulang (repetitive work) dengan kemungkinan kesalahan sebesar 1%.
    • Menurut George A. Peters, human error adalah suatu penyimpangan dari standar performansi yang telah ditentukan sebelumnya sehingga menyebabkan adanya penundaan akibat dari kesulitan, masalah, insiden, dan kegagalan.
    Jadi bisa disimpulkan bahwa Human error merupakan kesalahan dalam pekerjaan yang disebabkan oleh ketidaksesuaian atas pencapaian dengan apa yang diharapkan. Dalam prakteknya, human error terjadi ketika serangkaian aktifitas kita di lapangan kerja yang sudah direncanakan, ternyata berjalan tidak seperti apa yang kita inginkan sehingga kita gagal mencapai target yang diharapkan.
    Dari suatu kecelakaan kerja, hampir 80% penyebabnya adalah kesalahan manusia. Dan jika didetailkan lebih terperinci, 30% terjadi pada individu pekerja yang menangani peralatan di lingkungan kerja, dan 70% kesalahan diakibatkan oleh pihak organisasi. Namun kita tidak boeh menyalahkan suatu kecelakaan sepenuhnya kepada pekerja, sebab akar penyebab kecelakaan itu sendiri merupakan kombinasi dari beberapa faktor, seperti :
    1. Sistem Induced Human Error
    Dimana mekanisme suatu sistem memungkinkan manusia melakukan kesalahan, misalnya manajemen yang tidak menerapkan disiplin secara baik dan ketat.
    2. Desain Induced Human Error
    Terjadinya kesalahan diakibatkan karena perancangan atau desain sistem kerja yang kurang baik. Sesuai dengan kaidah Murphy (Murphys law) menyatakan bahwa bila suatu peralatan dirancang kurang sesuai dengan pemakai (aspek ergonomis) maka akan terdapat kemungkinan akan terjadi ketidaksesuaian dalam pemakaian peralatan tersebut, dan cepat atau lambat akan terjadi.
    3. Pure Human Error.
    Suatu kesalahan yang terjadi murni berasal dari dalam manusia itu sendiri, misalnya karena skill, pengalaman, dan psikologis.
    Dari semua pekerjaan, tidak ada satupun pekerja yang anti kesalahan. Karena pada dasarnya semua manusia pasti pernah mengalami kesalahan, tidak pandang usia, pengalaman, atau tingkat pendidikannya. Karena kesalahan pada manusia sudah manusiawi, maka penting bagi pekerja untuk mawas diri akan potensi dirinya. Meskipun kesalahan manusia sudah merupakan hal yang pasti, beberapa kesalahan yang spesifik masih bisa dicegah dengan mengubah situasi kerja, menghilangkan, atau mengurangi kondisi yang bisa menyebabkan kesalahan.
    Lingkungan sekitar tempat kerja juga merupakan faktor terjadinya human error. Jika lingkungan di sekitar mendukung dalam maksud positif, maka kemungkinan terjadinya kesalahan dalam bekerja. Begitu pula sebaliknya, jika lingkungan tempat kerja tidak mendukung, kemungkinan kesalahan manusia akan kecelakaan kerja semakin tinggi.
    Jika ditelaah lebih dalam lagi, kesalahan adalah tindakan manusia yang tidak disengaja yang menyimpang dari yang diharapkan. Kesalahan ada yang tak terencana dan ada yang direncanakan atau dipikirkan terlebih dahulu.
    • Unintended action ( Kesalahan yang tidak disengaja )
    1. Slip ( luput )
    adalah dimana aksi fisik manusia gagal mewujudkan hasil yang diinginkan.
    2. Lapse ( khilaf )
    Adalah kelalaian yang melibatkan kegagalan terkait ingatan atau memori
    3. Mistake
    Error dalam kategori ini berhubungan dengan dua hal, yaitu rule ( peraturan ) dan knowledge ( pengetahuan ). Kondisi ini terjadi karena berada dalam situasi tidak sepenuhnya mengetahui solusi dari apa yang terjadi karena di liuar rutinitas sehingga seseorang harus mengambil keputusan berdasarkan keadaan yang ditemui dan panduan yang dia miliki
    • Intended action ( kesalahan yang disengaja )
    1. Violation ( penlanggaran )
    1. Routine violations
    Pelanggaran disengaja yang dilakukan secara rutin. Biasanya dilakukan karena kebiasaan atau sikap buruk dari pekerja itu sendiri atau lemahnya sanksi yang diberikan perusahaan untuk yang melanggar peraturan
    2. Exceptional violations
    Suatu keadaan dimana pekerja yang melanggar merasa dirinya dia tidak melanggar peraturan atau peraturan yang dilanggar tersebut tidak mempengaruhi pekerjaannya. Jika diteruskan, tentu saja ini bisa mengakibatkan suatu kecelakaan dalam pekerjaan
    3. Sabotage
    Tindakan pengerusakan yang dilakukan secara terencana, disengaja dan tersembunyi terhadap peralatan, personel dan aktivitas dari bidang sasaran yang ingin dihancurkan, kehancuran harus menimbulkan efek psikologis yang besar.
    Pelanggaran bisa diminimalisir dan dicegah melalui edukasi tentang resiko dan konsekuensi, pelatihan, dan penggunaan membuat keputusan yang tepat.
    Ada beberapa karakter manusia yang harus diperhatikan guna mengurangi kesalahan manusia ( human error ) :
    1. Stress
    Stress bisa terakumulasi dan menguasai seseorang, sehingga bisa melumpuhkan kinerja.
    2. Menghindari kelelahan pikiran
    Berpikir memerlukan usaha yang besar dan juga lambat sehingga mudah membuat kelelahan
    3. Short term memory
    Memori jangka pendek menyebabkan pekerja lupa, terutama dengan prosedur kerja yang rumit
    4. Keterbatasn fokus perhatian
    Keterbatasan kemampuan konsentrasi pada dua hal atau lebih menurunkan kemampuan untuk memproses informasi
    5. Rentan terhadap emosional
    Kemarahan atau rasa malu bisa menurukan kinerja dalam pekerjaan
    6. Kelelahan
    Lelah secara fisik, mental, dan emosional bisa mengarah ke tindakan yang salah dalam mengambil keputusan

    Nama : Gilang Purnama
    NIM : 167051980
    Semester : 2
    Kelas : A1


    Komentar Dosen:
    – Rangkuman harus berasal dari materi perkuliahan.
    – Tidak diizinkan mengambil materi dari internet karena belum terjamin validitas teorinya.
    – Materi hanya boleh diambil dari luar yang berasal dari buku cetak yang berwujud secara fisik, dimana terdapat nomor ISBN dengan jelas, nama pengarang, judul buku, tahun terbit, dan nama penerbitnya.
    – Untuk materi rangkuman yang berasal dari buku, wajib mencantumkan daftar pustakanya dengan menggunakan format Vancouver atau Harvard.
    – Pastikan jumlah rangkuman paling sedikit terdiri atas 600 kata.
    – Cantumkan kalimat “PERBAIKAN TUGAS KE-1” di awal rangkuman pada posting berikutnya.
    – Perbaiki kembali tugas Anda ini.

  22. Memahami Kesalahan Manusia (Human Error)
    Banyak praktisi dan ahli mencoba mendefinisikan mengenai Kesalahan Manusia (human error), namun belum ditemukan pengertian yang cocok untuk menggambarkan human error Pada akhirnya, semua ahli sepakat untuk membahas bersama-sama bagaimana Human Error itu bisa didefinisikan dan di dapat hasil bahwa Kesalahan manusia merupakan kegagalan manusia dalam melakukan suatu tugas sehingga tujuannya tidak dapat dicapai, kegagalan mencapai tujuan ini bukan disebabkan oleh faktor diluar kendali manusia tersebut. Hampir 80% kejadian terkait dengan kesalahan manusia, data dari Departemen Energi Amerika bahkan mengatakan bahwa di beberapa industri, porsi kesalahan manusia bisa mencapai 90%; hanya sekitar 20% yang terkait kegagalan peralatan.
    Jika angka 80% kesalahan manusia didetailkan lebih lanjut, terungkap bahwa sebagian besar (70%) kesalahan pekerja diakibatkan oleh kelemahan laten organisasi/perusahaan (kelemahan yang dibuat oleh pekerja lain di masa lalu yang tidak nampak karena tidak menimbulkan masalah), sedang 30% lainnya terjadi oleh pekerja yang menangani peralatan atau sistem di area kerja.
    Di dalam HFACS (The Human Factors Analysis and Classification System) menguraikan bahwa kegagalan manusia (human failure) atau juga disebut sebagai tindakan tidak aman (unsafe acts) pada dasarnya terdiri dari dua katagori, yaitu kesalahan manusia (human error) dan pelanggaran (violation). Kesalahan manusia (human error) adalah representasi dari suatu kegiatan mental dan fisik seseorang yang tidak berhasil melakukan sesuatu yang di inginkan.
    Sedangkan pelanggaran (violation) menunjukkan adanya keinginan untuk mengabaikan petunjuk atau aturan yang telah ditetapkan untuk melakukan suatu tugas tertent. Human error sendiri diartikan sebagai ketidak sengajaan pada tindakan atau keputusan yang dipengaruhi oleh keterampilan (skill based errors) dan juga kesalahan (mistake). Kesalahan yang disebabkan oleh keterampilan, dapat membuat seseorang melakukan aktivitas yang tidak sesuai dengan rencana awal atau sering disebut dengan “Slips of Action” dan juga Lupa melakukan sesuatu yang harus dilakukan dalam suatu tugas/aktivitas yang sering disebut dengan “Lapses of Memory”.Sedangkan kesalahan dalam memutuskan (Mistake), dibagi menjadi 2 yaitu kesalahan yang didasari karena aturan (rule based mistake) dan kesalahan yang didasari karena pengetahuan (knowledge based mistake).
    Rule based mistake merupakan kesalahan manusia karena tidak melakukan aktivitas yang seharusnya dilakukan atau melakukan suatu aktivitas yang tidak sesuai dengan apa yang seharusnya dilakukan sesuai dengan aturan yang berlaku. Knowledge based mistake merupakan kesalahan manusia yang disebabkan karena tidak dmilikinya pengetahuan yang dibutuhkan untuk melakukan suatu aktivitas atau tugas.Pelanggaran (violation) merupakan Kegagalan yang disengaja, pelaku sengaja melakukan hal yang salah atau tidak diperbolehkan. Di dalam beberapa kasus kejadian kecelakaan, pelanggaran memegang peranan yang besar terhadap terhadap terjadinya kecelakaan. Alasan yang sering muncul adalah “Saya tidak punya alasan lain untuk tidak melakukan hal tersebut” atau “Saya tidak perduli dengan konsekuensi yang akan saya terima”. Pelanggaran ini bisa berupa pelanggaran yang sudah dianggap menjadi kebiasaan (Routine), penggaran karena kondisi tertentu (situational seperti cuaca, peralatan kerja yang tidak sesuai, dan lain-lain), serta mengambil keputusan yang tidak sesuai aturan karena adanya kondisi darurat (exceptinal).
    Ada juga yang berpendapat bahwa human error dapat dikategorikan sebagai ketidaksesuaian kerja yang bukan hanya disebabkan oleh kesalahan manusia, tetapi juga karena adanya kesalahan pada perancangan dan prosedur kerja. Terdapat tiga kategori human error yang sebaiknya Anda ketahui, di antaranya:
    • Exogeneous vs Endogeneous, berasal dari luar ataupun dari dalam individu.
    • Situasi vs perencanaan, misalnya perencanaan sistem, perencanaan prosedur kerja, pengambilan keputusan, dan mengeksekusi pekerjaan.
    • Tingkat analisa, misalnya persepsi pada masing-masing individu.
    ada dasarnya terdapat klasifikasi human error yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi penyebab kesalahan. Berikut klasifikasi dari human error secara umum:
    1. Induced Human Error System
    Terjadinya kesalahan yang dilakukan pekerja diakibatkan mekanisme suatu sistem. Misalnya, peraturan dari manajemen kurang ketat atau manajemen kurang menerapkan kedisiplinan.
    2. Induced Human Error Design
    Perancangan atau desain sistem kerja yang kurang baik memungkinkan pekerja melakukan kesalahan. Sesuai dengan kaidah atau hukum Murphy (Murphy Law), bila peralatan dirancang tidak sesuai dengan pengguna (dalam hal ergonomis), maka terdapat kemungkinan akan terjadi ketidaksesuaian dalam pemakaian peralatan tersebut, yang berpotensi menimbulkan human error.
    3. Pure Human Error
    Kesalahan murni berasal dari pekerja itu sendiri, misalnya kurangnya pengalaman, kemampuan, dan aspek psikologis.Sedangkan penyebab terjadinya human error mencakup beberapa faktor, di antaranya:
    Faktor individu
    • Tingkat keterampilan dan kompetensi yang rendah
    • Pekerja mengalami kelelahan dan tidak konsentrasi saat bekerja
    • Pekerja mengalami stresPekerja menderita sakit atau masalah medis lainnya.
    Faktor pekerjaan
    • Desain peralatan yang tidak sesuai atau tidak cocok dengan pengguna
    • Kondisi lingkungan kerja dan tata letak peralatan yang buruk
    • Prosedur kerja tidak jelas
    • Peralatan kerja tidak layak
    • Kompleksitas pekerjaan dan kondisi yang berlebihan
    • Pencahayaan kurang baik
    • Tingkat kebisingan berlebihan
    • Rancangan tata letak fasilitas kerja yang buruk.
    Faktor Manajemen
    • Prosedur kerja yang buruk
    • Standard Operating Procedures (SOP) yang buruk
    • Pelatihan dan pengawasan yang kurang memadai
    • Manajemen hanya menerapkan komunikasi satu arah
    • Kurangnya koordinasi dan tanggung jawab
    • Lemahnya respons bila terjadi kecelakaan kerja
    • Sistem keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang buruk
    • Buruknya budaya K3 di perusahaan.
    Banyak upaya yang dilakukan oleh perusahaan untuk mengantisipasi fenomena human errorini, mulai dari kualifikasi persyaratan perekrutan tenaga kerja yang semakin ketat sampai dengan pengaturan sistem kerja oleh manajemen. Pada dasarnya, human error tidak mungkin hilang sepenuhnya namun bisa diantisipasi agar tidak sering terjadi. Di sinilah peranan dari pihak manajerial sangat dibutuhkan. Mulai dari melakukan monitoring, evaluasi, serta memberikan pelatihan – pelatihan yang bersifat personal skill, seperticommunication skill, public speaking, outbond training, serta seminar.

    Nama : Candra Kautsar
    NIM : 167051974
    Semester : II
    Kelas : A1


    Komentar Dosen:
    – Rangkuman harus berasal dari materi perkuliahan.
    – Tidak diizinkan mengambil materi dari internet karena belum terjamin validitas teorinya.
    – Materi hanya boleh diambil dari luar yang berasal dari buku cetak yang berwujud secara fisik, dimana terdapat nomor ISBN dengan jelas, nama pengarang, judul buku, tahun terbit, dan nama penerbitnya.
    – Untuk materi rangkuman yang berasal dari buku, wajib mencantumkan daftar pustakanya dengan menggunakan format Vancouver atau Harvard.
    – Pastikan jumlah rangkuman paling sedikit terdiri atas 600 kata.
    – Cantumkan kalimat “PERBAIKAN TUGAS KE-1” di awal rangkuman pada posting berikutnya.
    – Perbaiki kembali tugas Anda ini.

  23. Rangkuman Human Error
    Menurut George A. Peters, human error adalah suatu penyimpangan dari standar performansi yang telah ditentukan sebelumnya sehingga menyebabkan adanya penundaan akibat dari kesulitan, masalah, insiden, dan kegagalan. Human error merupakan kesalahan dalam pekerjaan yang disebabkan oleh ketidaksesuaian atas pencapaian dengan apa yang diharapkan. Dalam prakteknya, human error terjadi ketika serangkaian aktifitas kita di lapangan kerja yang sudah direncanakan, ternyata berjalan tidak seperti apa yang kita inginkan sehingga kita gagal mencapai target yang diharapkan. Namun human error tidak mutlak disebabkan oleh kesalahan manusia. Peters meneliti lebih dalam lagi dan menemukan bahwa human error bisa juga terjadi karena kesalahan pada perancangan serta prosedur kerja. Human error dapat terjadi dikarenakan oleh banyak faktor.

    Semua pekerja bisa melakukan kesalahan (error), tak terkecuali pekerja yang sudah terlatih dan memiliki motivasi kerja yang baik. Beberapa kesalahan bias menghasilkan konsekuensi cidera/kecelakaan, sedangkan banyak kesalahan lainnya. Karena itu, penting bagi praktisi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) untuk dapat memahami prinsip yang melatarbelakangi kesalahan manusia. Karena setiap kesalahan pasti dapat terjadi, kemampuan untuk dapat mengidentifikasi kesalahan di tahap awal, yang dapat berguna untuk mencegah terjadinya kecelakaan di tempat kerja.
    Hampir 80% kecelekaan yang terjadi banyak terkait pada kesalahan manusia. Data dari Departemen Energi Amerika bahkan mengatakan bahwa di beberapa industry, kesalahan manusia bias mencapai 90% bahkan lebih dan sekitar 20% yang terkait kegagalan peralatan.
    Secara sederhana human error juga bias disebabkan oleh tiga hal yang umum biasa terjadi dalam suatu perusahaan, seperti hal yang lebih menekankan kepada individu (kurangnya pelatihan atau training pada saat masa percobaan karyawan baru) atau yang bersifat manajem (dimana kurangnya peranan manajemen dalam mengatur para karyawan) serta yang lebih bersifat global (tekanan keuangan, waktu, serta perlakuan sosial dan budaya organisasi).
    Jika angka di atas menunjukkan 80% kesalahan manusia didetailkan lebih lanjut, terungkap bahwa sebagian besar (70%) kesalahan pekerja diakibatkan oleh kelemahan pada organisasi/perusahaan (kelemahan yang dibuat oleh pekerja lain di masa lalu yang tidak Nampak karena tidak menimbulkan masalah), sedangkan 30% lainnya terjadi oleh pekerja yang menangani peralatan atau sistem di area kerja.
    Kecelakaan-kecelakaan yang telah terjadi mengajarkan bahwa kita tidak boleh menyalahkan kecelakaan hanya pada pekerja, karena sebenarnya terjadi adalah proses dan nilai di dalam organisasi/perusahaan berkontribusi besar pada mayoritas kecelakaan. Akar penyebab kecelakaan merupakan kombinasi dari beberapa faktor, banyak diantaranya yang berada di luar kendali pekerja.
    Ada 5 prinsip dasar yang harus terlebih dahulu dimengerti untuk dapat memahami faktor manusia:
    1. Semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerja yang paling berpengalaman pun bisa melakukan kesalahan.
    Tidak ada satupun pekerja yang tidak melakukan kesalahan, berapapun usia, pengalaman atau tingkat pendidikan pekerja tersebut. Karenanya dikenal istilah “to err is human” (berbuat salah adalah manusiawi). Tabiat manusiawi pekerja untuk bersikap tidak sempurna, sehingga pada akhirnya, kesalahan dapat terjadi, tidak ada pelatihan atau konseling yang dapat mengubah kerentanan manusia ini.
    Dr. James Reason, penulis human error (1990) mengatakan adalah penting bagi tiap pekerja, terutama managernya, untuk menjadi lebih menjaga diri akan potensi manusia berbuat salah. Pekerja, tempat kerja dan faktor organisasi membentuk kemungkinan (likelihood) dan konsekuensi. Memahami bagaimana dan mengapa tindakan tidak aman terjadi adalah langkah awal penting dalam mengelola kesalahan dengan cara yang efektif.
    2. Situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diprediksi, dikelola dan dicegah.
    Meskipun secara umum kesalahan manusia adalah hal yang pasti, beberapa kesalahan yang spesifik dapat dicegah. Dengan mengubah situasi kerja untuk mencegah, menghilangkan atau mengurangi kondisi yang bisa menyebabkan kesalahan, pekerjaan dan faktor individu di tempat kerja bisa dikelola untuk mencegah terjadinya kesalahan.
    3. Perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi.
    Organisasi mencerminkan bagaimana pekerjaan dipecah menjadi tugas-tugas tertentu dan dikoordinasikan untuk mencapai sasaran dengan selamat dan handal.
    4. Pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan, rekan kerja dan bawahannya.
    5. Kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan/sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahn di masa lalu.
    Kesalahan manusia terjadi akibat ketidakcocokan antara keterbatasan manusia dengan kondisi lingkungan di tempat kerja, termasuk ketidaksesuaian manajemen, kepemimpinan dan kelemahan organisasi yang membuat kondisi tersebut muncul.
    Tindakan tidak aman yang dilakukan oleh pekerja yang dilakukan secara sengaja maupun tidak sengaja. Sedangkan tindakan yang tidak sengaja didasari oleh slip, lapse dan untuk tindakan yang disengaja didasari oleh mistake dan violation.
    Beberapa karakter manusia perlu diperhatikan, terutama ketika menempatkan pekerja di sistem kerja yang rumit:
    – Stress
    – Menghindari kelelahan pikiran
    – Keterbatasan memori kerja
    – Keterbatasan fokus perhatian.
    – Pola pikir.
    – Sulit melihat kesalahannya sendiri
    – Keterbatasan perspektif
    – Rentan terhadap faktor emosional/social
    – Kelelahan
    – Presenteeism
    – Sikap tidak aman
    Bekerja dalam kelompok juga tidak membuat manusia bebas dari kesalahan. Kesalahan kelompok bisa terjadi akibat interaksi antara anggota kelompok kerja. Diantaranya:
    – Efek halo
    – Pilot-co-pilot
    – Menumpang/mengikuti aturan saja
    – Berpikir grup
    – Difusi tanggung jawab

    NAMA : RIMA NUR ZAIN
    NIM : 13.11.106.701501.0846
    SEMESTER : VIII
    KELAS : A2


    Komentar Dosen:
    – Perhatikan kalimat yang dicoret. Bila menyadur dari sumber lain, pastikan materinya berasal dari buku cetak yang berwujud secara fisik, dimana terdapat nomor ISBN dengan jelas, nama pengarang, judul buku, tahun terbit, dan nama penerbitnya. Tidak diizinkan mengambil materi dari internet karena belum terjamin validitas teorinya.
    – Cantumkan daftar pustakanya dibagian bawah rangkuman (bila bersumber dari buku) dengan menggunakan format Vancouver atau Harvard.
    – Cantumkan kalimat “PERBAIKAN TUGAS KE-1” di awal rangkuman pada posting berikutnya.
    – Pastikan jumlah rangkuman paling sedikit terdiri atas 600 kata.
    – Perbaiki kembali tugas Anda ini.

  24. Memahami Kesalahan Manusia (Human Error)

    Manusia tidak berbuat salah secara sengaja. Kesalahan (error) adalah tindakan manusia yang tidak disengaja yang menyimpang dari tindakan yang diharapkan .Semua pekerja bisa melakukan kesalahan (error), tak terkecuali pekerja yang sudah terlatih dan memiliki motivasi kerja yang baik.

    Kecelakaan terkait dengan kesalahan manusia hampir 80%,sedangkan 20% disebabkan oleh peralatan.Lebih lanjut dari 80% kesalahan manusia ke 70% adalah kesalahan pekerja yang diakibatkan oleh kelemahan organisasi(kelompok/system) yang dibuat oleh pekerja pekerja lain di masa lalu yang tidak nampak karena tidak menimbulkan masalah), sedang 30% lainnya terjadi oleh pekerja yang menangani peralatan atau sistem di area kerja.

    5 prinsip dasar yang harus terlebih dahulu dimengerti untuk dapat memahami faktor manusia :

    1.Semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerja yang paling hebat pun bisa salah.
    Tidak ada satupun pekerja yang kebal/anti kesalahan, berapapun usia, pengalaman atau tingkat pendidikannya.
    2. Situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diprediksi, dikelola dan dicegah.
    Meskipun secara umum kesalahan manusia adalah hal yang pasti, beberapa kesalahan yang spesifik dapat dicegah. Mengenali perangkap/jebakan kesalahan dan secara aktif mengkomunikasikan bahaya-bahaya tersebut ke orang lain adalah salah satu bentuk pengelolaan kesalahan yang proaktif.
    3. Perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi.
    Tugas manajemen untuk mengarahkan perilaku para pekerja.
    4. Pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan, rekan kerja dan bawahannya.
    Semua perilaku manusia, yang baik ataupun yang buruk, dikuatkan oleh konsekuensi langsung atau pengalaman masa lalunya.
    5. Kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan/sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan di masa lalu.
    Belajar dari kesalahan diri sendiri dan orang lain adalah hal yang reaktif, namun menjadi hal yang penting sebagai bentuk perbaikan berkelanjutan.Dan jangan mengulangi kesalahan dimasa lalu.

    Manusia tidak berbuat salah secara sengaja. Kesalahan (error) adalah tindakan manusia yang tidak disengaja yang menyimpang dari tindakan yang diharapkan. Kesalahan adalah tindakan tak terencana atau dipikirkan terlebih dahulu. Kesalahan manusia (human error) terjadi akibat ketidakcocokan antara keterbatasan manusia dengan kondisi lingkungan di tempat kerja, termasuk ketidaksesuaian manajemen, kepemimpinan dan kelemahan organisasi yang membuat kondisi tersebut muncul.

    Luput (slips) terjadi ketika suatu aksi fisik gagal mewujudkan hasil yang diinginkan. Sedang khilaf (lapses) melibatkan kegagalan terkait ingatan atau mengingat ulang.

    Keliru (mistake), sebaliknya, terjadi ketika seseorang mempergunakan rencana yang tidak memadai untuk mencapai hasil yang diinginkan. Kekeliruan biasanya melibatkan kesalahan interpretasi atau kurangnya pengetahuan(knowledge).
    Salah satu ciri manusia adalah ketidaktepatannya.
    Beberapa karakter manusia dibawah ini perlu diperhatikan, terutama ketika menempatkan pekerja di sistem kerja yang rumit:

    Stres. Stres bisa terakumulasi dan menguasai seseorang, sehingga pada akhirnya melumpuhkan kinerja.

    Menghindari kelelahan pikiran. Berpikir adalah proses yang membutuhkan usaha yang besar dan juga lambat, akhirnya manusia cenderung mencari pola yang dikenalnya dan menerapkan solusi yang sudah pernah diterapkan.

    Keterbatasan memori kerja. Ingatan jangka pendek (short term memory) adalah tempat kerja/memori kerja bagi penyelesaian masalah dan pengambilan kebutusan. Keterbatasan fokus perhatian. Keterbatasan kemampuan berkonsentrasi pada dua atau lebih aktifitas menurunkan kemampuan untuk memproses informasi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah.
    Pola pikir. Manusia cenderung fokus pada apa yang hendak dicapai daripada pada fokus pada apa yang harus dihindari, karenanya, manusia hanya melihat apa yang pikirannya harapkan/inginkan untuk dilihat.
    Sulit melihat kesalahannya sendiri. Individu, terutama yang bekerja sendiri, rentan terhadap kesalahan.
    Keterbatasan perspektif. Manusia tidak bisa melihat semua hal yang ada ditempat kerja untuk dilihat. Keterbatasan manusia untuk menerima semua fakta dapat menghalangi keputusannya untuk memecahkan masalah.
    Rentan terhadap faktor emosional/sosial. Kemarahan atau rasa malu bisa menurunkan kinerja seorang pekerja atau kelompok kerja.
    Kelelahan.Kelelahan memperburuk pengambilan keputusan, menurunkan kewaspadaan, memperlambat proses berpikir dan waktu reaksi, menghilangkan kewaspadaan kepada lingkungan (situational awareness) dan mendorong seseorang mengambil jalan pintas (shortcut).
    Presenteeism. Beberapa pekerja akan tetap memaksakan hadir dan bekerja meskipun kemampuan kerjanya sudah menurun karena penyakit atau cedera.
    Sikap tidak aman. Dikatakan bahwa persepsi seseorang terhadap resiko lebih banyak dipengaruhi oleh hatinya ketimbang otaknya. Beberapa sikap yang dapat menimbulkan resiko berbuat salah misalnya:

    • Rasa bangga. Kebanggaan berlebih terhadap kemampuan diri sendiri; sombong.
    • Heroik. Keberanian yang berlebihan. Perspektif ini ditandai dengan fokus berlebih pada tujuan tanpa mempertimbangkan bahaya yang harus dihindari
    • Fatalistic. Sikap kalahan yang meyakini bahwa setiap kejadian sudah ditentukan, tidak bisa dihindari, dan tidak ada yang dapat dilakukan untuk menghindari takdir
    • Invulnerability. Memiliki rasa kebal terhadap kesalahan/tidak mungkin berbuat salah, gagal atau cedera. Kebanyakan orang tidak percaya bahwa mereka akan berbuat salah, sebagai akibat dari keterbatasan/ketidak akuratan manusia dalam memperhitungkan resiko
    • Pollyanna (rasa optimis berlebihan). Manusia mencari keteraturan dalam lingkungan, bukan ketidakteraturan. Akibatnya, secara tidak sadar mereka meyakini bahwa segala sesuatu akan berjalan sesuai yang direncanakan.

    Bekerja dalam kelompok juga tidak membuat manusia bebas dari kesalahan. Kesalahan kelompok (team error) bisa terjadi akibat interaksi antara anggota kelompok kerja.
    Efek halo – Kepercayaan buta akan kompetensi seseorang dikarenakan pengalaman atau pendidikannya.
    Pilot-Co-pilot – Keengganan pekerja junior (co-pilot) untuk menentang pendapat, keputusan atau tindakan pekerja senior (pilot) karena posisinya di dalam struktur organisasi perusahaan.
    Menumpang/mengikuti saja – Kecenderungan untuk “menumpang” (ikut-ikutan saja) tanpa secara aktif mengevaluasi maksud dan tindakan pekerja yang melakukan pekerjaan atau mengambil inisiatif.
    Berpikir grup – Kepaduan, loyalitas, konsensus dan komitmen adalah hal yang baik jika ada di dalam kelompok kerja. Kondisi itu bisa diperparah jika ada anggota grup yang dominan dan memberikan pengaruh yang kuat dalam pola pikir grup (pilot/co-pilot atau efek halo). Akibatnya, informasi yang penting bisa jadi tidak terbagi kepada anggota kelompok.
    Difusi tanggung jawab bisa jadi berisiko dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah kelompok. Fenomena ini bisa disebut mentalitas gembala (herd mentality).


    Nama : Ratih Faradilla
    NIM : 167052051
    Semester : II
    Kelas : A2

  25. 1 / 6
    Human Error
    1. Pengertian Human Error
    Human error didefinisikan sebagai suatu keputusan atau tindakan yang mengurangi atau potensial untuk mengurangi efektifitas, keamanan atau performansi suatu sistem (Mc. Cormick 1993). Menurut Peters, human error adalah suatu penyimpangan dari suatu performansi standart yang telah ditentukan sebelumnya, yang mengakibatkan adanya penundaan waktu yang tidak diinginkan, kesulitan, masalah, insiden, kegagalan. Namun pada penyelidikan lebih lanjut human error dapat dikategorikan juga sebagai ketidaksesuaian kerja yang bukan hanya akibat dari kesalahan manusia, tetapi juga karena adanya kesalahan pada perancangan dan prosedur kerja.
    Kesalahan yang diakibatkan oleh faktor manusia kemungkinan disebabkan oleh pekerjaan yang berulang-ulang (repetitive work) dengan kemungkinan kesalahan sebesar 1% (Iftikar Z. Sutalaksana,1979). Adanya kesalahan yang terjadi yang disebabkan oleh pekerjaan yang berulang ini sedapat mungkin harus dicegah atau dikurangi, yang tujuannya untuk meningkatkan keandalan seseorang dengan menurunnya tingkat kesalahan yang terjadi. Sehingga perlu dilakukan perbaikan performansi manusia untuk mengurangi laju kesalahan. Laju kesalahan (error rate) yang besarnya 1 dalam 100 terjadi dengan kemungkinan 1%. Apabila hal semacam ini terjadi maka dapat dikatakan bahwa kondisi dalam keadaan baik.
    2. Klasifikasi Human Error
    Pada dasarnya terdapat klasifikasi human error untuk mengidentifikasi penyebab kesalahan tersebut. Menurut Iftikar. Z. Sutalaksana (1979) klasifikasi tersebut secara umumdari penyebab terjadinya human error adalah sebagai berikut :
    1. Sistem Induced Human Error
    Dimana mekanisme suatu sistem memungkinkan manusia melakukan kesalahan, misalnya manajemen yang tidak menerapkan disiplin secara baik dan ketat.
    2. Desain Induced Human Error
    Terjadinya kesalahan diakibatkan karena perancangan atau desain sistem kerja yang kurang baik. 3. Pure Human Error.
    Suatu kesalahan yang terjadi murni berasal dari dalam manusia itu sendiri, misalnya karena skill, pengalaman, dan psikologis.
    Error secara umum didefinisikan sebagai kegagalan untuk menampilkan suatu perbuatan yang benar dan diinginkan pada suatu keadaan. Error ini hanya dapat terjadi jika ada perhatian yang benar, untuk menanggapi kejadian yang diamati sedangkan tindakan akhir
    2 / 6
    yang dilakukan tidak sesuai dengan yang diinginkan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil akhir dari error berupa kejadian, sehingga nantinya terdapat suatu peristiwa yang dapat diamati. Error ini tidak hanya dibatasi oleh keluaran yang buruk maupun yang serius.
    Sedangkan yang dimaksud dengan kecelakaan adalah kejadian yang tidak direncanakan, diharapkan maupun diinginkan dan biasanya menghasilkan keluaran yang kurang baik. Error merupakan kejadian psikologis yang disebabkan oleh faktor–faktor kejiwaan sehingga ada kemungkinan bahwa sebagian atau keseluruhan error yang terjadi tersebut tidak teridentifikasi. Beberapa taxonomi (istilah) dalam error :
    a. Input Error (Miss Perseption)
    Disini terjadi kesalahan dalam mengamati suatu data masukan sehingga menghasilkan suatu persepsi yang salah dan terjadilah kesalahan dalam mengambil tindakan penyelesaian.
    b. Intention Error (Mistake)
    Disini data masukan telah diamati dengan benar tetapi menghasilkan pengertian yang salah sehingga terjadi penyelesaian yang salah.
    c. Execution Error (Slip)
    Disini data masukan telah diamati dengan benar dan telah menghasilkan pengertian yang benar tetapi terjadi kesalahan pada tindakan penyelesaiannya.
    Berdasarkan asal atau penyebabnya error dibedakan sebagai berikut :
    1. Endogenous Error
    Error terjadi dari proses-proses dalam diri operator. Penghilangan atau pengurangan dari error ini harus melibatkan faktor psikologis, fisiologi dan neurologi.
    2. Exogenous Error
    Error terjadi dari proses dan dari luar operator. Penghilangan atau pengurangan error semacam ini harus mengakibatkan perancangan dan pemikiran secara teknis dari objek dan lingkungan kerja.
    3. Mode
    Jika suatu kesalahan terjadidalam suatu pekerjaan, maka akan timbul suatu fenomena yang dapat kita amati. Penampakan tertentu dari error dapat kita sebut sebagai mode (tipe/jenis). Beberapa istilah mode atau tipe-tipe kesalahan yaitu :
    1. Error of omission (kesalahan pada hal pelampauan /peninggalan), yaitu error yang ditandai dengan terlampauinya atau tertinggalnya atau hilangnya langkah tertentu dari suatu proses.
    3 / 6
    2. Error of insertion (kesalahan penambahan /penyisipan), yaitu suatu error yang ditandai dengan penambahan suatu langkah yang tidak sesuai dengan proses.
    3. Error of repetition, yaitu kesalahan yang ditandai dengan penambahan yang tidak sesuai pada suatu langkah secara normal dalam suatu proses.
    4. Error of subtition (kesalahan pensubtitusian), yaitu suatu kesalahan yang ditandai dengan adanya suatu obyek, tindakan, tempat atau waktu yang tidak sesuai berada dalam suatu obyek, tindakan, tempat dan waktu yang sesuai.
    Pengurangan error dapat dibagi dua point, yaitu :
    1. Internal point (dalam rangkaian peristiwa/kejadian mental), kemungkinan tindakan-tindakan pembetulannya dapat berhubungan dengan ilmu kejiwaan/psikologi dalam sifat-sifat/pembawaanya. Misalnya kemungkinan diadakan trainning /pelatihan yang berguna untuk mengurangi kesalahan yang mungkin terjadi.
    2. External point (dalam rangkaian kejadian fisik), harus ada analisa sistem dan perancangan ulang (re-desain) dari elemen-elemen suatu sistem. Tujuan dari perancangan ulang yang terdiri dari maksud kegunaannya, pengemasannya, pemberian labelnya, peringatan, adalah untuk membuat suatu obyek yang dapat memberitahu identitasnya kepada pemakainya, sehingga pemakai dapat menggunakan sesuai dengan aturan yang berlaku.
    4. Faktor-faktor yang berpengaruh pada human error
    Secara sistematis setiap error yang terjadi akan berhubungan dengan faktor situasional, faktor individu atau kombinasi dari kedua faktor itu.
    a. Faktor-faktor situasional adalah faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya suatu error yang berkaitan dengan situasi tempat kegiatan atau pekerjaan berlangsung. Meister (Meister, David 1981) menyatakan bahwa secara umum faktor situasional ini meliputi faktor-faktor ruang kerja dan tata letak peralatan, lingkungan, desain permesinan, alat-alat tangan, metode dalm penanganan, transportasi dan pemeriksaan informasi perencanaan pekerjaan dan instruksi pekerjaan.
    b. Faktor-faktor individual adalah faktor yang berkaitan dengan pribadi seseorang. Faktor-faktor ini juga dikenal sebagai faktor Idiosyneoratic, yaitu faktor-faktor yang sifatnya khas setiap orang. Faktor-faktor yang termasuk faktor individu diantaranya kecakapan, kepribadian, keterampilan, fisik, umur, jenis kelamin, pendidikan dan pengalaman. Faktor Idiosyneoratic juga meliputi masalah perkawinan, hubungan internasional, konflik emosional dan sikap.
    Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya suatu error
    a. Faktor eksternal dari individu (situasioal dan task equitment characteristic)
    4 / 6
    b. Faktor-faktor internal individu ( idiosyneoratic factor)
    c. Stress psikologis, merupakan penghubung dari kedua faktor diatas.
    Memahami Kesahalan manusia ( Human error )
    Semua pekerja bisa melakukan kesalahan ( error ) tak terkecuali pekerja yang sudah telatih dan memiliki motivasi kerja yang baik.
    Beberapa kesalahan bisa menghasilkan konsekuensi cedera atau kecelakaan, sedang banyak kesalahan lainnya tidak. Karenanya penting bagi praktisi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) untuk dapat memahami prinsip yang melatarbelakangi kesalahan manusia.
    5 prinsip dasar yang harus terlebih dahulu di mengerti untuk dapat memahami faktor manusia dalam kecelakaan :
    1. Semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerja yang paling hebat pun bisa salah.
    2. Situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat di prediksi, di kelola dan di cegah.
    3. Perilaku individu di pengaruhi oleh proses dan nilai organisasi.
    4. Pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang di terimanya dari pimpinan, rekan kerja dan bawahannya.
    5. Pekerja bisa di hindari dengan memahami alasan atau sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan di masa lalu.
    Unsafe act ( tindakan tidak nyaman ) terbagi menjadi 2 yaitu :
    1. Unintended act ( tindakan tidak di sengaja ) :
    * Slips : additional failure
    * Lapse : Memory
    * Mistake : knowladge mistake
    2. Intended act ( tindakan yang di sengaja ) :
    * Mistake : knowladge mistake
    * Violation : – Routine
    – Exaption
    – Sabotage
    Beberapa hal berikut bisa menjelaskan bagaimana ketidaktepatan atau aksi yang salah bisa terjadi:
    Waktu terlalu cepat, terlalu lambat, alpa
    Durasi terlalu lama, berulang-ulang, gangguan
    5 / 6
    Obyek salah tindakan di obyek yang benar, tindakan bertindak di obyek yang salah
    Tekanan terlalu sedikit atau terlalu banyak tekanan
    Arahan salah memberikan arahan
    Kecepatan terlalu cepat atau terlalu lambat, dan
    Jarak terlalu jauh, terlalu dekat.
    Menghindari kelelahan pikiran. Manusia cenderung enggan berpikir/konsentrasi/focus dalam jangka waktu yang lama karena melelahkan. Berpikir adalah proses yang membutuhkan usaha yang besar dan juga lambat, akhirnya manusia cenderung mencari pola yang dikenalnya dan menerapkan solusi yang sudah pernah diterapkan. Polanya bisa berupa:
    * Asumsi menerima suatu kondisi sebagai suatu hal yang benar tanpa verifikasi terlebih dahulu
    * Kebiasaan pola perilaku di bawah sadar sebagai hasil dari pengulangan yang sering
    * Bias konfirmasi keengganan untuk menerapkan solusi terbaru karena bias pemikiran yang
    * Bias kesamaan kecenderungan untuk mengambil solusi dari kondisi yang serupa yang berhasil di masa lalu
    * Bias frekuensi mencoba solusi yang sudah berhasildan sering dipakai
    * Bias ketersediaan kecenderungan untuk menerepkan solusi yang tersedia/muncul dalam pikiran.
    Berikut ini beberapa sikap yang dapat yang dapat menimbulkan resiko berbuat salah misalnya:
    * Rasa bangga
    * Heroik
    * Fatalistic
    * Invulnerability
    * Pollyana
    * Sikap ”

    Nama : Moch Vito Anwar
    NPM : 167051979
    Semester : II
    Kelas : A-1


    Komentar Dosen:
    – Rangkuman harus berasal dari materi perkuliahan.
    – Tidak diizinkan mengambil materi dari internet karena belum terjamin validitas teorinya.
    – Materi hanya boleh diambil dari luar yang berasal dari buku cetak yang berwujud secara fisik, dimana terdapat nomor ISBN dengan jelas, nama pengarang, judul buku, tahun terbit, dan nama penerbitnya.
    – Untuk materi rangkuman yang berasal dari buku, wajib mencantumkan daftar pustakanya dengan menggunakan format Vancouver atau Harvard.
    – Pastikan jumlah rangkuman paling sedikit terdiri atas 600 kata.
    – Cantumkan kalimat “PERBAIKAN TUGAS KE-1” di awal rangkuman pada posting berikutnya.
    – Perbaiki kembali tugas Anda ini.

  26. MEMAHAMI KESALAHAN MANUSIA (HUMAN ERROR

    Semua pekerjaan bisa melakukan kesalahan (error), tak terkecuali pekerja yang sudah terlatih dan memiliki motivasi kerja yang baik. Beberapa kesalahan bisa menghasilkan konsekuensi cedera/kecelakaan,sedang banyak kesalahan lainnya tidak. Karenanya,penting bagi praktisi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) untuk dapat memahami prinsip yang melatarbelakangi kesalahan manusia. Jika dibandingkan,ada kecelakaan yang 80% merupakan kesalahan manusia , 20% kegagalan peralatan dan 30% kesalahan individual lebihnya 70% untuk kesalahan Organisasi.
    Human error seringkali dinyatakan merupakan factor utama penyebab terjadinya suatu kecelakaan. Bagi masyarakat, berita-berita tentang kecelakaan transportasi dengan human error sebagai penyebabnya dapat diartikan sebagai kesalahan manusia operator system.
    Kecelakaan-kecelakaan yang sering terjadi mengingatkan kita bahwa kita tidak boleh mempersalahkan kecelakaan hanya kepada pekerja, namun ini adalah sebab akan terjadi karena proses dan mulai didalamnya organisasi/perusahaan berkontribusi besar pada mayoritas kecelakaan. Akar terjadinya kecelakaan merupakan kombinasi dari beberapa factor.

    Ada 5 prinsip yang harus terlebih dahulu dimengerti untuk dapat memahami faktor manusia
    1.Semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerja yang paling hebat pun bisa salah
    Dr.James Reason,penulis Human Error(1990) mengatakan : penting bagi managernya, untuk menjadi lebih mawas diri akan potensi manusia berbuat salah. Pekerjaan, tempat kerja dan factor organisasi membentuk kemungkinan (likelihood) dan konsekuensi (consequences). Memahami bagaimana dan mengapa tindakan tidak aman terjadi adalah langkah awal penting dalam mengelola kesalahan dengan efektif.
    2.Situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat dipredisi, dikelola dan dicegah.
    Meskipun secara umum kesalahan manusia adalah hal yang pasti, beberapa kesalahan yang spesifik dapat dicegah, Seperti halnya jika seseorang menulis formulir penarikan rekening bank di awal tahun baru akan memiliki potensi besar salah menulis tahun sebelumnya, prediksi semacam ini bisa juga dibangun dalam konteks bekerja ditempat kerja,
    Dengan mengubah situasi kerja untuk mencegah, menghilangkan atau mengurangi kondisi yang bisa menyebabkan kesalahan, pekerjaan dan factor individual ditempat kerja yang bisa dikelolahnya.
    3.Perilaku individual dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi
    Organisasi mencerminkan bagaimana pekerjaan dipecah menjadi tugas-tugas tertentu dan dikordinasikan untuk mencapai sasaran dengan selamat dan handal. Tugas manajemen untuk mengarahkan perilaku para pekerja. Penyelesaian pekerjaan dalam konteks proses dan budaya organisasi, pengelolahan perencanaan dan system pengendalian, berkontribusi paling besar dalam kesalahan manusia yang bisa mengakibatkan kecelakaan kerja.
    4.Pekerjaan mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterima dari pimpinan, rekan kerja dan bawahannya.
    Semua perilaku manusia, yang baik ataupun yang buruk, dikuatkan oleh konsekuensi yang individual tersebut alami ketika perilaku tertentu dilakukan. Karena perilaku dipengaruhi oleh konsekuensi yang pekerja itu alami, apa yang terjadi ketika seorang pekerja menunjukkan perilaku tertentu adalah hal yang penting untuk meningkatkan kinerja manusia.
    5.Kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alas an/sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan di masa lalu.
    Peningkatan kinerja dapat diraih dengan menerapkan tindakan perbaikan sebuah investigasi/analisa kecelakaan. Belajar dari kesalahan diri sendiri dan orang lain adalah hal yang reaktif, namun yang penting sebagai bentuk perbaikan berkelanjutan.

    Unsafe Acts terbagi menjadi 2 yaitu :
    1.Unintended Action = *Slip -> Attentional Failures
    *Lapse -> Memory Failures
    2.Intended Action =*Mistake -> Rule Bassed,Knowledge Based Mistake
    *Violation -> Routine Violations, Exceptional violiations Sabotage
    Manusia tidak berbuat salah secara sengaja. Kesalahan manusia (human error) adalah tindakan manusia yang tidak disengaja yang menyimpang dari tindakan yang diharapkan. Kesalahan manusia (human error) terjadi akibat ketidakcocokan antara keterbatasan manusia dengan kondisi lingkungan ditempat kerja, termasuk ketidaksesuaian manajemen dan kelemahan organisasi yang membuat kondisi tersebut muncul.
    Luput (slips) terjadi ketika suatu aksi fisik gagal mewujudkan hasil yang diinginkan. Sedang khilaf (lapses) mengakibatkan kegagalan terkait ingatan atau mengingat ulang.
    Beberapa hal berikut bisa menjelaskan bagaimana ketidaktepatan atau aksi yang salah bisa terjadi :
    =>Waktu-terlalu cepat, terlalu lambat, alpa
    => Durasi-terlalu lama, terlalu singkat
    => Urutan-terbalik, berulang-ulang, gangguan
    => Obyek-salah tindakan di obyek yang benar, tindakan bertindak di obyek yang salah
    =>Tekanan-terlalu sedikit atau terlalu banyak tekanan.


    NAMA : RASIBA LASE
    NIM : 167052040
    SEMESTER : II
    KELAS : A2

  27. MEMAHAMI KESALAHAN MANUSIA (HUMAN ERROR)

    Semua pekerja bisa melakukan kesalahan (error), tak terkecuali pekerja yang sudah terlatih dan memiliki motivasi kerja yang baik. Beberapa kesalahan bisa menghasilkan konsekuensi cedera/kecelakaan, sedang banyak kesalahan lainnya tidak. Karenanya, penting bagi praktisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) untuk dapat memahami prinsip yang melatarbelakangi kesalahan manusia.

    Hampir 80% kejadian terkait dengan kesalahan manusia, data dari Departemen Energi Amerika bahkan mengatakan bahwa di beberapa industri, porsi kesalahan manusia bisa mencapai 90%; hanya sekitar 20% yang terkait kegagalan peralatan.

    Jika angka 80% kesalahan manusia didetailkan lebih lanjut, terungkap bahwa sebagian besar (70%) kesalahan pekerja diakibatkan oleh kelemahan laten organisasi/perusahaan (kelemahan yang dibuat oleh pekerja lain di masa lalu yang tidak nampak karena tidak menimbulkan masalah), sedang 30% lainnya terjadi oleh pekerja yang menangani peralatan atau sistem di area kerja.

    Kecelakaan-kecelakaan yang telah terjadi mengajarkan bahwa kita tidak boleh menyalahkan kecelakaan hanya kepada pekerja, karena yang sebetulnya terjadi adalah proses dan nilai di dalam organisasi/perusahaan berkontribusi besar pada mayoritas kecelakaan. Akar penyebab kecelakaan merupakan kombinasi dari beberapa faktor, banyak diantaranya yang berada di luar kendali pekerja.

    Ada 5 prinsip dasar yang harus terlebih dahulu dimengerti untuk dapat memahami faktor manusia.

    Pertama, semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerja yang paling hebat pun bisa salah.
    Tidak ada satupun pekerja yang kebal/anti kesalahan, berapapun usia, pengalaman atau tingkat pendidikannya. Karenanya dikenal istilah “to err is human” (berbuat salah adalah manusiawi). Tabiat manusiawi pekerja untuk bersikap tidak sempurna, sehingga pada akhirnya, kesalahan dapat terjadi. Tidak ada pelatihan atau konseling yang dapat mengubah kerentanan manusia ini.

    Kedua, situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diprediksi, dikelola dan dicegah.
    Meskipun secara umum kesalahan manusia adalah hal yang pasti, beberapa kesalahan yang spesifik dapat dicegah. Seperti halnya jika seseorang menulis formulir penarikan rekening bank di awal tahun baru akan memiliki potensi besar salah menulis tahun sebelumnya, prediksi semacam ini bisa juga dibangun dalam konteks bekerja di tempat kerja.

    Ketiga, perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi.
    Organisasi digerakkan oleh tujuan, karena itu, proses dan nilai-nilai yang ada di dalamnya dikembangkan untuk mengarahkan perilaku tiap individu di dalam organisasi. Organisasi mencerminkan bagaimana pekerjaan dipecah menjadi tugas-tugas tertentu dan dikoordinasikan untuk mencapai sasaran dengan selamat dan handal. Tugas manajemen untuk mengarahkan perilaku para pekerja. Penyelesaian pekerjaan dalam konteks proses dan budaya organisasi, pengelolaan perencanaan dan sistem pengendali, berkontribusi paling besar dalam kesalahan manusia yang bisa mengakibatkan kecelakaan kerja.

    Keempat, pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan, rekan kerja dan bawahannya.
    Tingkat keselamatan dan kehandalan sebuah fasilitas terkait langsung dengan perilaku para pekerjanya. Semua perilaku manusia, yang baik ataupun yang buruk, dikuatkan oleh konsekuensi langsung atau pengalaman masa lalunya. Sebuah perilaku dikuatkan oleh konsekuensi yang individu tersebut alami ketika perilaku tertentu dilakukan. Karena perilaku dipengaruhi oleh konsekuensi yang pekerja itu alami, apa yang terjadi ketika seorang pekerja menunjukkan perilaku tertentu adalah hal yang penting untuk meningkatkan kinerja manusia.

    Kelima, kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan/sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan di masa lalu.
    Peningkatan kinerja dapat diraih dengan menerapkan tindakan perbaikan sebuah investigasi/analisa kecelakaan. Belajar dari kesalahan diri sendiri dan orang lain adalah hal yang reaktif, namun menjadi hal yang penting sebagai bentuk perbaikan berkelanjutan.

    Manusia tidak berbuat salah secara sengaja. Kesalahan (error) adalah tindakan manusia yang tidak disengaja yang menyimpang dari tindakan yang diharapkan. Kesalahan adalah tindakan tak terencana atau dipikirkan terlebih dahulu. Kesalahan manusia (human error) terjadi akibat ketidakcocokan antara keterbatasan manusia dengan kondisi lingkungan di tempat kerja, termasuk ketidaksesuaian manajemen, kepemimpinan dan kelemahan organisasi yang membuat kondisi tersebut muncul.
    Luput (slips) terjadi ketika suatu aksi fisik gagal mewujudkan hasil yang diinginkan. Sedang khilaf (lapses) melibatkan kegagalan terkait ingatan atau mengingat ulang.
    Beberapa hal berikut bisa menjelaskan bagaimana ketidaktepatan atau aksi yang salah bisa terjadi:
    · Waktu –terlalu cepat, terlalu lambat, alpa
    · Durasi –terlalu lama, terlalu singkat
    · Urutan –terbalik, berulang-ulang, gangguan
    · Obyek –salah tindakan di obyek yang benar, tindakan bertindak di obyek yang salah
    · Tekananan –terlalu sedikit atau terlalu banyak tekanan
    · Arahan – salah memberikan arahan
    · Kecepatan –terlalu cepat atau terlalu lambat, dan
    · Jarak – terlalu jauh, terlalu dekat.

    Keliru (mistake), sebaliknya, terjadi ketika seseorang mempergunakan rencana yang tidak memadai untuk mencapai hasil yang diinginkan. Kekeliruan biasanya melibatkan kesalahan interpretasi atau kurangnya pengetahuan.

    Manusia memiliki karakter fisik, biologi, sosial, mental, dan emosi yang membentuk kecenderungan, kemampuan dan juga menentukan keterbatasannya.
    Salah satu ciri manusia adalah ketidaktepatannya. Tidak seperti mesin yang selalu tepat setiap saat, manusia cenderung tidak tepat, terutama dalam kondisi tertentu, semisal dalam tekanan stres dan waktu yang besar. Karena sifat manusiawi inilah, pekerja cenderung rentan terhadap kondisi eksternal yang membuat mereka melampaui batasan sifat manusianya. Kerentanan inilah yang membuat pekerja bisa berbuat salah. Kerentanan ini juga terjadi ketika manusia bekerja dalam sistem yang rumit (perangkat lunak maupun administratif)

    Beberapa karakter manusia dibawah ini perlu diperhatikan, terutama ketika menempatkan pekerja di sistem kerja yang rumit:
    Stres. Pada dasarnya, stres bukanlah hal yang buruk. Beberapa kondisi stres merupakan hal yang normal dan sehat. Stres bahkan dapat meningkatkan fokus sehingga menguntungkan. Namun, stres bisa terakumulasi dan menguasai seseorang, sehingga pada akhirnya melumpuhkan kinerja.

    Menghindari kelelahan pikiran. Manusia cenderung enggan berpikir/konsentrasi/fokus dalam jangka waktu yang lama karena melelahkan. Berpikir adalah proses yang membutuhkan usaha yang besar dan juga lambat, akhirnya manusia cenderung mencari pola yang dikenalnya dan menerapkan solusi yang sudah pernah diterapkan. Polanya bisa berupa:
    · Asumsi -menerima suatu kondisi sebagai suatu hal yang benar tanpa verifikasi terlebih dahulu
    · Kebiasaan –pola perilaku dibawah sadar sebagai hasil dari pengulangan yang sering
    · Bias konfirmasi –keengganan untuk menerapkan solusi terbaru karena bias pemikiran yang ada akibat investasi waktu dan usaha yang diperlukan untuk menerapkan solusi terbaru itu. Bias ini terjadi karena otak sudah melihat hasil dari solusi sebelumnya dan menolak data/fakta mengenai keberhasilan solusi yang baru
    · Bias kesamaan –kecenderungan untuk mengambil solusi dari kondisi yang serupa yang berhasil di masa lalu
    · Bias frekuensi – mencoba solusi yang sudah berhasil dan sering dipakai
    · Bias ketersediaan –kecenderungan untuk menerapkan solusi yang tersedia/muncul dalam pikiran.
    Keterbatasan memori kerja. Ingatan jangka pendek (short term memory) adalah tempat kerja/memori kerja bagi penyelesaian masalah dan pengambilan kebutusan. Ingatan jangka pendek dipergunakan untuk menyimpan informasi baru dan aktif dipergunakan ketika belajar, menyimpan dan memanggil (recall) informasi. Inilah yang menyebabkan pekerja lupa, terutama ketika berkerja dengan prosedur yang rumit.

    Keterbatasan fokus perhatian. Keterbatasan kemampuan berkonsentrasi pada dua atau lebih aktifitas menurunkan kemampuan untuk memproses informasi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah. Fokus perhatian sangatlah terbatas, jika diambil oleh satu hal maka dia akan menarik diri dari hal yang lain.
    Pola pikir. Manusia cenderung fokus pada apa yang hendak dicapai daripada pada fokus pada apa yang harus dihindari, karenanya, manusia hanya melihat apa yang pikirannya harapkan/inginkan untuk dilihat. Otak manusia cenderung mencari keteraturan, setelah didapat, maka ia akan mengacuhkan selain itu; dengan demikian ia akan melewatkan kondisi yang tidak diperkirakan.
    Sulit melihat kesalahannya sendiri. Individu, terutama yang bekerja sendiri, rentan terhadap kesalahan. Pekerja yang terlalu asyik dengan kerjaannya, atau disibukkan dengan suatu hal, bisa jadi gagal untuk dapat mengidentifikasi ketidaknormalan.
    Keterbatasan perspektif. Manusia tidak bisa melihat semua hal yang ada ditempat kerja untuk dilihat. Keterbatasan manusia untuk menerima semua fakta dapat menghalangi keputusannya untuk memecahkan masalah.

    Rentan terhadap faktor emosional/sosial. Kemarahan atau rasa malu bisa menurunkan kinerja seorang pekerja atau kelompok kerja.
    Kelelahan. Lelah secara fisik, emosi dan mental bisa meng arah ke tindakan yang salah dan pengambilan keputusan yang tidak tepat. Kelelahan dapat diakibatkan oleh faktor di dalam pekerjaan (tekanan produksi, lingkungan, dan kurangnya jumlah pekerja) dan faktor d iluar pekerjaan (pola makan dan tidur). Kelelahan memperburuk pengambilan keputusan, menurunkan kewaspadaan, memperlambat proses berpikir dan waktu reaksi, menghilangkan kewaspadaan kepada lingkungan (situational awareness) dan mendorong seseorang mengambil jalan pintas (shortcut).
    Presenteeism. Beberapa pekerja akan tetap memaksakan hadir dan bekerja meskipun kemampuan kerjanya sudah menurun karena penyakit atau cedera. Kecenderungan pekerja tetap melanjutkan pekerjaan meski memiliki masalah kesehatan yang ringan dapat diakibatkan oleh kurangnya cuti sakit, menumpuknya pekerjaan atau tidak tersedianya akses pelayanan kesehatan.
    Sikap tidak aman. Sikap dapat diartikan sebagai kondisi mental atau perasaan terhadap suatu obyek atau subyek. Dikatakan bahwa persepsi seseorang terhadap resiko lebih banyak dipengaruhi oleh hatinya ketimbang otaknya. Beberapa sikap yang dapat menimbulkan resiko berbuat salah misalnya:
    · Rasa bangga. Kebanggaan berlebih terhadap kemampuan diri sendiri; sombong. Terlalu fokus pada diri sendiri dan berlebihan rasa bangga cenderung membutakan kita akan hal-hal yang dapat dilakukan oleh orang lain, menurunkan kepercayaan terhadap kerjasama tim.
    · Heroik. Keberanian yang berlebihan. Reaksi heroic biasanya impulsif, ada pemikiran dalam dirinya bahwa pekerjaan harus dilakukan secara cepat atau dianggap gagal. Perspektif ini ditandai dengan fokus berlebih pada tujuan tanpa mempertimbangkan bahaya yang harus dihindari
    · Fatalistic. Sikap kalahan yang meyakini bahwa setiap kejadian sudah ditentukan, tidak bisa dihindari, dan tidak ada yang dapat dilakukan untuk menghindari takdir
    · Invulnerability. Memiliki rasa kebal terhadap kesalahan/tidak mungkin berbuat salah, gagal atau cedera. Kebanyakan orang tidak percaya bahwa mereka akan berbuat salah: “tidak mungkin terjadi pada diriku.” Padahal, kesalahan selalu mengejutkan ketika terjadi, sebagai akibat dari keterbatasan/ketidak akuratan manusia dalam memperhitungkan resiko
    · Pollyanna (rasa optimis berlebihan). Manusia mencari keteraturan dalam lingkungan, bukan ketidakteraturan. Memiliki kecenderungan mengisi kekosongan persepsi dan melihat secara keseluruhan ketimbang per bagian. Akibatnya, secara tidak sadar mereka meyakini bahwa segala sesuatu akan berjalan sesuai yang direncanakan. Hal yang bisa terjadi ketika melakukan pekerjaan rutin adalah tanpa sadar meyakini bahwa tidak ada satupun yang bisa berjalan tidak sesuai rencana/salah. Sikap ini membuat ketidakakuratan dalam memperhitungkan resiko dan mengacuhkan situasi atau bahaya yang tidak biasa, sehingga menyebabkan mereka terlambat atau bahkan tidak bereaksi
    · Sikap “Ban gundul”. Kinerja masa lalu terkadang menjadi pembenaran untuk tidak merubah (melakukan perbaikan) praktek atau kondisi yang sudah ada: “saya sudah berkendara 100.000 KM tanpa sekalipun mengalami ban bocor.” Kesuksesan bisa membuat kepuasan dan kepercayaan diri berlebih. Kalimat yang biasa digunakan misalnya, “kita tidak pernah mengalami masalah seperti ini di masa lalu,” atau “kita selalu melakukannya dengan cara seperti ini.”
    Bekerja dalam kelompok juga tidak membuat manusia bebas dari kesalahan. Kesalahan kelompok (team error) bisa terjadi akibat interaksi antara anggota kelompok kerja.
    Kesalahan kelompok bisa diakibatkan oleh beberapa hal, diantaranya:
    Efek halo – Kepercayaan buta akan kompetensi seseorang dikarenakan pengalaman atau pendidikannya. Hal ini mengakibatkan antar anggota kelompok menurunkan kewaspadaannya terhadap kesalahan yang dapat diakibatkan oleh individu yang kompeten; tidak memeriksa tindakan seorang yang kompeten
    Pilot-Co-pilot – Keengganan pekerja junior (co-pilot) untuk menentang pendapat, keputusan atau tindakan pekerja senior (pilot) karena posisinya di dalam struktur organisasi perusahaan. Bawahan menunjukkan sopan santun berlebihan ketika berinteraksi dengan manajer senior, tanpa sadar menerima perkataan bos tanpa berpikir kritis atau berbeda pendapat terhadap tindakan dan keputusannya.
    Menumpang/mengikuti saja – Kecenderungan untuk “menumpang” (ikut-ikutan saja) tanpa secara aktif mengevaluasi maksud dan tindakan pekerja yang melakukan pekerjaan atau mengambil inisiatif. Orang lain yang mengambil inisiatif untuk melakukan pekerjaan, sementara si penumpang hanya mengambil peran pasif.
    Berpikir grup – Kepaduan, loyalitas, konsensus dan komitmen adalah hal yang baik jika ada di dalam kelompok kerja. Namun, terkadang, hal-hal tersebut bisa menurunkan kualitas keputusan tim. Contohnya, ada keenganan untuk berbagi informasi yang berbeda untuk menjaga keharmonisan tim. Kondisi itu bisa diperparah jika ada anggota grup yang dominan dan memberikan pengaruh yang kuat dalam pola pikir grup (pilot/co-pilot atau efek halo). Akibatnya, informasi yang penting bisa jadi tidak terbagi kepada anggota kelompok.

    Difusi tanggung jawab bisa jadi berisiko dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah kelompok. Jika dua atau lebih pekerja sepakat akan sesuatu yang dianggap cara yang terbaik dalam melakukan sesuatu, maka mereka akan lebih mudah mengambil resiko dan mengabaikan prosedur atau kebijakan yang ada. Fenomena ini bisa disebut mentalitas gembala (herd mentality).


    Nama: Arie Rahmat Hidayat
    NIM: 167051965
    Semester: II
    Kelas: A1

  28. Memahami Kesalahan Manusia (Human Error)
    Human error adalah suatu penyimpangan dari standar performansi yang telah ditentukan sebelumnya sehingga menyebabkan adanya penundaan akibat dari kesulitan, masalah, insiden, dan kegagalan. Human error terjadi saat aktifitas atau pekerjaan kita di lapangan kerja yang sudah direncanakan ternyata tidak berjalan seperti apa yang kita rencanakan sehingga kita gagal mencapai target yang diharapkan.
    Menurut The Human Factors Analysis and Classification System (HFACS), kegagalan manusia dikategorikan menjadi dua kategori, yaitu:
    1. Kesalahan (error) : Biasanya terjadi karena ketidaksengajaan atau kelalaian pekerja yang
    mengakibatkan kegagalan atau kecelakaan kerja
    2. Pelanggaran (violation) : Terjadi karena faktor kesengajaan pekerja untuk mengabaikan
    peraturan keselamatan kerjadi sehingga mengakibatkan kegagalan
    atau kecelakaan kerja
    Human error dapat dilakukan oleh semua pekerja, dan pekerja yang sudah terlatih juga dapat berpotensi melakukan human error. Data dari Departemen Energi Amerika mengatakan bahwa dibeberapa industri porsi kesalahan manusia bias mencapai 90% dan hanya sekitar 20% yang terkait kegagalan peralatan.
    Ada dua aspek yang berkembang, yaitu pendekatan dalam mencari faktor-faktor yang dapat menyebabkan manusia berbuat salah dan pendekatan dalam mencari aspek yang dapat memperkecil terjadinya kesalahan manusia.
    Pendekatan pertama yaitu pendekatan analisis kesalahan (Error Analysis Approach). Yaitu analisa dimulai dari adanya suatu kejadian kecelakaan, kemudian dilakukan analisa mundur untuk mencari faktor penyebab kecelakaan tersebut. Pendekatan untuk memperkecil kesalahan manusia disebut analisi kepatuhan (compliance analysis approach), yaitu analisa dimulai dengan menganalisa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kepatuhan pekerja pada peraturan keselamatan kerja dan bagaimanacara meningkatkan kepatuhan pekerja tersebut.
    Namun kita tidak boleh meyalahkan kecelakaan kerja yang terjadi hanya pada seorang pekerja saja, tetapi proses dan nilai dalam suatu organisasi atau suatu perusahaan juga berkontribusi pada kecelakaan kerja.
    5 prinsip dasar yang perlu dipahami untuk dapat memahami faktor manusia:
    1. Semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerja yang paling hebat pun bisa salah.
    Kesalahan dapat terjadi pada setiap pekrja, bahkan pekerja yang terlatih dan berpengalaman dapat melakukan kesalahan. Karena itu ada istilah “to err is human” (Berbuat salah adalah manusiawi)
    2. situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diprediksi, dikelola dan dicegah.
    Beberapa kesalahan pekerja masih dapat dicegah yaitu dengan cara mengenali jebakan kesalahan dan mengkomunikasikan bahaya tersebut ke pekerja lain. Mengubah situasi kerja untuk mencegah dan meminimalisir potensi pekerja melakukan kesalahan saat bekerja. Contohnya yaitu tidak membuat pekerja tertekan dan menyebabkan kesalahan karena adanya tekanan untuk menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat.
    3. perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi.
    Organisasi memiliki suatu tujuan tertentu, karena itu proses dan nilai yang ada dikembangkan mengarahkan perilaku setiap individu. Tugas manajemen pada suatu organisasi yaitu mengarahkan perilaku pekerja.
    4. pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan, rekan
    kerja dan bawahannya
    Adanya dorongan dan motivasi dari sesame pekerja dan dari pimpinan dapat meminimalisir kesalahan pekerja karena dapat meningkatkan konsentrasi pekerja
    5. kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan/sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan
    di masa lalu.
    Dengan belajar dari kesalahan yang ada di masa lalu dan melakukan perbaikan serta belajar dari kesalahan sendiri dan belajar dari kesalahan orang lain dapar meminimalisir kesalahan terulang atau terjadi kembali.
    Menurut HFACS terdapat dua tipe kesalahan, yaitu:
    1. Variabel Error : Menunjukkan potensi kesalahan dalam diri manusia yang sifatnya
    Bervariasi.
    2. Konstan Error : Kesalahan yang terdapat dalam diri seseorang secara konstan dan
    bentuknya sama dalam dimensi tempat, lingkungan dan organisasi.
    Human error dapat terjadi karena faktor-faktor berikut ini :
    1. Induced Human Error System
    Mekanisme system kerja yang memungkinkan pekerja melakukan kesalahan. Contohnya yaitu tidak adanya penerapan disiplin yang baik dari pihak manajemen
    2. Induced Human Error Design
    Yaitu terjadinya kesalahan akibat dari kesalahan rancangan sistem kerja
    3. Pure Human Error
    Yaitu kesalahan kerja yang disebabkan murni dari pekerja itu sendiri

    Nama : Fredrick Purba
    NIM : 167052031
    Semester : II
    Kelas : A2


    Komentar Dosen:
    – Rangkuman harus berasal dari materi perkuliahan.
    – Tidak diizinkan mengambil materi dari internet karena belum terjamin validitas teorinya.
    – Materi hanya boleh diambil dari luar yang berasal dari buku cetak yang berwujud secara fisik, dimana terdapat nomor ISBN dengan jelas, nama pengarang, judul buku, tahun terbit, dan nama penerbitnya.
    – Untuk materi rangkuman yang berasal dari buku, wajib mencantumkan daftar pustakanya dengan menggunakan format Vancouver atau Harvard.
    – Pastikan jumlah rangkuman paling sedikit terdiri atas 600 kata.
    – Cantumkan kalimat “PERBAIKAN TUGAS KE-1” di awal rangkuman pada posting berikutnya.
    – Perbaiki kembali tugas Anda ini.

  29. Hampir 80% kecelakaan kerja yang terjadi terkait dengan kesalahan manusia (diambil dari data Departemen Energi Amerika ). Hanya sekitar 20% kejadian yang terkait kegagalan peralatan. Jika angka 80% kesalahan manusia didetailkan lebih lanjut, terungkap bahwa sebesar 70% kesalahan pekerja diakibatkan oleh kelemahan laten organisasi atau perusahaan. sedang 30% lainnya terjadi oleh pekerja yang menangani peralatan atau sistem di area kerja.
    Kesalahan pada manusia adalah hal yang manusiawi oleh karena itu ada 5 prinsip dasar yang harus terlebih dahulu dimengerti untuk dapat memahami faktor manusia.
    Pertama, semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerja yang paling hebat pun bisa salah.
    “to err is human” (berbuat salah adalah manusiawi). Tidak ada satupun manusia yang luput dari kesalahan. berapapun usia, pengalaman atau tingkat pendidikannya. Hal ini sangat penting untuk dipahami terlebih dahulu karena tidak ada pelatihan atau konseling yang dapat mengubah kerentanan manusia ini.
    Kedua, situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diprediksi, dikelola dan dicegah.
    Meskipun secara umum kesalahan manusia adalah hal yang pasti, beberapa kesalahan yang spesifik dapat dicegah. Mengenali perangkap maupun jebakan kesalahan dan secara aktif mengkomunikasikan bahaya-bahaya tersebut ke orang lain adalah salah satu bentuk pengelolaan kesalahan yang proaktif. Dengan mengelola sumber-sumber kesalahan diharapkan dapat menekan angka kecelakaan kerja yang terjadi akibat kesalahan manusia.
    Ketiga, perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi.
    Organisasi digerakkan oleh tujuan, karena itu, proses dan nilai-nilai yang ada di dalamnya dikembangkan untuk mengarahkan perilaku tiap individu di dalam organisasi. Penyelesaian pekerjaan dalam konteks proses dan budaya organisasi, pengelolaan perencanaan dan sistem pengendali, berkontribusi paling besar dalam kesalahan manusia yang bisa mengakibatkan kecelakaan kerja. Maka sangat penting bagi manajemen untuk mengatur dan mengelola tata tertib dan budaya yang berlaku pada perusahaan agar mengarahkan periaku pekerjanya menjadi lebih baik.
    Keempat, pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan, rekan kerja dan bawahannya.
    Semua perilaku manusia, yang baik ataupun yang buruk, dikuatkan oleh konsekuensi dari lingkungannya atau pengalaman masa lalunya.
    Kelima, kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan/sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan di masa lalu.
    Peningkatan kinerja dapat diraih dengan menerapkan tindakan perbaikan sebuah investigasi/analisa kecelakaan. Belajar dari kesalahan diri sendiri dan orang lain adalah hal yang reaktif, namun menjadi hal yang penting sebagai bentuk perbaikan berkelanjutan.
    Kesalahan manusia (human error) didasari oleh tindaka tidak aman. 2 macam tindakan tidak aman atau unsafe acts adalah tindakan manusia yang tidak disengaja (unintended actions) yang menyimpang dari tindakan yang diharapkan dan tindakan manusia yang disengaja (intended actions).
    Pada unintended action beberapa diantaranya adalah Luput (slips) terjadi ketika suatu aksi fisik gagal mewujudkan hasil yang diinginkan. Sedang khilaf (lapses) melibatkan kegagalan terkait ingatan atau mengingat ulang. Keliru (mistake), sebaliknya, terjadi ketika seseorang mempergunakan rencana yang tidak memadai untuk mencapai hasil yang diinginkan. Kekeliruan biasanya melibatkan kesalahan interpretasi atau kurangnya pengetahuan.
    Contoh intended action adalah tindakan yang sengaja dilakukan. Contohnya adalah pelanggaran. Tindakan tidak aman ini timbul ketika seseorang dengan sadar sengaja melanggar peraturan yang tela ditetapkan. Hal ini biasanya disebabkan oleh pelanggaran peraturan secara terus-menerus dan pelanggaran peraturan pada waktu dan kondisi tertentu. Sabotase juga merupakan salah satu contoh dari intended actions. Sabotase biasanya dilakukan pekerja secara sengaja, conthnya seperti menyabotase data perusahaan untuk maksud dan tujuan tertentu.
    Karena sifat manusiawi manusia adalah melakukan kesalahan, pekerja cenderung rentan terhadap kondisi eksternal yang membuat mereka melampaui batasan sifat manusianya. Kerentanan inilah yang membuat pekerja bisa berbuat salah. Kerentanan ini juga terjadi ketika manusia bekerja dalam sistem yang rumit (perangkat lunak maupun administratif)
    Beberapa karakter manusia dibawah ini perlu diperhatikan, terutama ketika menempatkan pekerja di sistem kerja yang rumit:
    Stres, menghindari kelelahan pikiran, keterbatasan memori kerja, keterbatasan fokus perhatian manusia, pola piker, sulit melihat kesalahan sendiri, keterbatasan prespektif, rentan terhadap factor emosional atau sosial, kelelahan, presenteeism atau memaksakan kehadiran, sikap tidak aman seperti mendahului hati atau perasaan daripada logika, efek halo atau kepercayaan berlebihan, pilot-co.pilot atau kesopanan berlebihan terhadap senior, menumpang atau hanya suka mengikuti saja, berfikir grup, dan difusi tanggung jawab.

    Nama : Adam Ilhamsyah
    NIM :167052058
    Semester : II
    Kelas : A2



    Komentar Dosen:
    – Cantumkan judul rangkuman di bagian atas tugas.
    – Pastikan jumlah rangkuman paling sedikit terdiri atas 600 kata.
    – Cantumkan kalimat “PERBAIKAN TUGAS KE-1” di awal rangkuman pada posting berikutnya.
    – Perbaiki kembali tugas Anda ini.

  30. Memahami Kesalahan Manusia (Human Error)

    Semua pekerja bisa melakukan kesalahan. Beberapa kesalahan bisa menghasilkan konsekuensi cedera/kecelakaan,karenanya,penting bagi praktisi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) untuk dapat memahami prinsip yang melatarbelakangi kesalahan manusuia.
    Hampir 80% kejadian terkait dengan kesalahan manusia,data dari Departemen Energi Amerika bahkan mengatakan bahwa dibeberapa industri,porsi kesalahan manusia bisa mencapai 90%; hanya sekitar 20% yang terkait kegagalan peralatan.
    Jika angka 80% kesalahan manusia didetailkan lebih lanjut,terungkap bahwa sebagian besar (70%) kesalahan pekerja diakibatkan oleh kelemahan laten organisasi/perusahaan (kelemahan yang dibuat oleh pekerja lain dimasa lalu yang tidak nampak karena tidak menimbulkan masalah),sedang 30% lainnya terjadi oleh pekerja yang menangani peralatan atau sistem di area kerja.

    Ada 5 prinsip dasar yang terlebih dahulu dimengerti untuk dapat memahami faktor manusia.
    1. Semua manusia bisa berbuat salah,bahkan pekerja yang paling hebat pun bisa salah.
    Tidak ada satupun pekerja yang kebal/anti kesalahan,berapapun usia,pengalaman atau tingkat pendidikannya. karenanya dikenal istilah “to err is human”(berbuat salah adalah manusiawi).Tidak ada pelatihan atau konseling yang dapat mengubah kerentanan manusia ini.
    2. Situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diprediksi,dikelola dan dicegah.
    Mengenali perangkap/jebakan kesalahan dn secara aktif mengkomunikasikan bahaya-bahaya tersebut ke orang lain adalah slah satu bentuk pengelolahan kesalahan yang proaktif. dengan mengubah situasi kerja untuk mencegah,menghilangkan atau mangurangi kondisi yang bisa menyebabkan kesalahan,pekerjan dan faktor individu ditempat kerja bisa dikelola untuk mencegah atau setidaknya mengurangi peluang terjadiny kesalahan.
    3. Perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai orgnisasi.
    Organisasi mencerminkan bagaimana pekerjaan dipecah manjadi tugas-tugas tertentu dan dikoordinasikan untuk mencapai sasaran dengan selamat dan handal. Tugas manajemen untuk mengarahkan perilaku para pekerja.
    4. Pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan,rekan kerja dan bawahannya.
    Tingkat keselamatan dan kehandalan sebuah fsilitas terkait langsung dengan perilaku para pekerjanya. Semua perilaku manusia,yang baik ataupun yang buruk,dikuatkan oleh konsekuensi langsung atau pengalaman masa lalunya.
    5. Kecelakaan bisa dihindari dengn memahami alasan/sebab kejadian dan mengambil pelajaran dri kesalahan di masa lalu.
    Belajar dari kesalahan diri sendiri dan orang lain adalah hal yang reaktif,namun menjadi hal yang penting sebagai bentuk perbaikan berkelanjutan.
    Kesalahan/error adalah tindakan manusia yang tidak disengaja yang menyimpang dari tindakan yang diharapkan. Kesalahan adalah tindakan tak terencana atau dipikirkan terlebih dahulu.

    Luput (slips) terjadi ketika suatu aksi fisik gagal mewujudkan hasil yang diinginkan.sedang Khilaf (lapses) melibatkan kegagalan terkait ingatan atau mengingt ulang.
    beberapa hal berikut bisa menjelaskan bagaimana ketidaktepatan atau aksi yang salah bisa terjadi:
    a. Waktu -terlalu cepat,terlalu lambat,alpa
    b. Durasi -terlalu lama,terlalu singkat
    c. Urutan -terbalik,berulang-ulang gangguan
    d. Obyek -salah tindakan di obyek yang benar,tindakan bertindak di obyek yang salah
    e. Tekana -terlalu sedikit atau terlalu banyak tekanan
    f. Arahan -salah memberikan arahan
    g. Kecepatan -terlalu cepat atau terlalu lambat,dan
    h. Jarak -terlalu jauh,terlalu dekat

    Keliru (mistake),sebaliknya, terjadi ketika seseorang mempergunakan rencana yang tidak memadai untuk mencapai hasil yang diinginkan.Manusia memiliki karakter fisik,biologi,sosial,mental,dan emosi yang membentuk kecenderungan,kemampuan dan juga menentukan keterbatasannya.
    Beberapa karakter manusia dibawah ini perlu diperhatikan,terutama ketika menempatkan pekerja disistem kerja yang rumit:
    Stres.pada dasarnya,stres bukanlah hal yang buruk. Namun,stres bisa terakumulasi dan menguasai seseorang.
    Menghindari kesalahan pikiran. Berpikir adalah proses yang membutuhkan usaha yang besar dan juga lambat,akhirnya manusia cenderung mencari pola yang dikenalnya dan menerapkan solusi yang sudah pernah diterapkan.Polanya bis berupa:
    -Asumsi
    -Kebiasaan
    -Bias konfirmasi
    -Bias kesamaan
    -Bias frekuensi
    -Bias ketersediaan
    Keterbatasan memori kerja. Ingatan jangka pendek (short term memory) adalah tempat kerja/memori kerja bagi penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan.
    Keterbatasan fokus perhatian. Keterbatasan kemampuan berkonsentrasi pada dua atau lebih aktifitas menurunkan kemampuan untuk memproses informasi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah.
    Pola pikir. Manusia cenderung fokus pada apa yang hendak dicapai daripada fokus padaa apa yang harus dihindari,karenanya manusia hanya melihat apa yang pikirannya harapkan/inginkan untuk dilihat.
    Sulit melihat kesalahannya sendiri. Pekerja yang terlalu asyik dengan kerjaannya,atau disibukkan dengan suatu hal,bisa jadi gagal untuk dapat mengidentifikasi ketidaknormalan.
    Keterbatasan perspektif. Manusia tidak bisa melihat semua hal yang ada ditempat kerja untuk dilihat.
    Rentan terhadao faktor emosional/sosial. Kemarahan atau rasa malu bisa menurunkan kinerja seorang pekerja atau kelompok kerja.
    Kelelahan. Lelah secara fisik,emosi dan mental bisa mengarah ke tindakan yang salah dan pengambilan keputusan yang tidak tepat.kesalahan dapat diakibakan oleh faktor didalam pekerjaan (tekanan produksi,lingkungan,dan kurangnya jumlah pekerja) dan faktor diluar pekerjaan (pola makan dan tidur).
    Presenteeism. Beberapa pekerj akan tetap memaksakan hadir dan bekerja meskipun kemampuan kerjanya sudah menurun karena penyakit atau cidera.
    Sikap tidak aman. Sikap dapat diartikan sebagai kondisi mental atau perasaan terhadap suatu obyek atau subyek.

    Beberapa sikap yang dapat menimbulkan resiko berbuat salah misalnya:
    -Rsa bangga.Kebanggaan berlebih terhadap kemampuan diri sendiri.
    -Heroik. Keberanian yang berlebihan.Reaksi heroic biasanya impulsif,ada pemikiran dalam dirinya bahwa pekerjaan harus dilakukan secara cepat atau dianggap gagal.
    -Fatalistic. Sikap kalahan yang meyakini bahwa setiap kejadian sudah ditentukan,tidak bisa dihindari,dan tidak ada yang dapat dialkukan untuk menghindari takdir.
    -Invulnarability. Memiliki rasa kebal terhadap kesalahan/tidak mungkin berbuat salah,gagal atau cedera.
    -Pollyanna (rasa optimis berlebihan). Manusia mencari keteraturan dalam lingkungan,bukan ketidakteraturan
    -Sikap “ban gundul”. kinerja masa lalu terkadang menjadi pembenaran untuk tidak merubah praktek atau kondisi yang sudah ada.
    Bekerja dalam kelompok juga tidak membuat manusia bebas dari kesalahan.Kesalahan kelompok (team error) bisa terjadi akibat interaksi antara anggota kelompok kerja.
    kesalahan kelompok bisa diakibatkan oleh beberapa hal,diantaranya:
    -Efek halo-Kepercayaan buta akan kompetensi seorang dikarenakan pengalaman atau pendidikannya.
    -Pilot-co-pilot. Bawahan menunjukkan sopan santun berlebihan ketika berinteraksi dengan manajer senior,tanpa sadar menerima perkataan bos tanpa berpikir kritis atau berbeda pendapat terhadap tindakan dan keputusannya.
    -Menumpang/mengikuti saja. Kecenderunga untuk ikut-ikutan saja tanpa secara aktif mengevaluasi maksud dan tindakan pekerja yang melakukan pekerjaan atau mengambil inisiatif.
    -Berpikir grup. Kepaduan,loyalitas,konsensus dan komitmen adalah hal yang baik jika ada didalam kelompok kerja.
    -Difusi tanggung jawab bisa jadi beresiko dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah kelompok.Jika dua atau lebih pekerja sepakat akan sesuatu yang dianggap cara yang terbaik dalam melakukan sesuatu,maka mereka akan lebih mudah mengambil resiko dan mengambil prosedur atau kebijakan yang ada.


    Nama: Alfrida Sanggalangi
    NIM: 167052055
    Semester: II
    Kelas: A2

  31. Human Error
    Semua pekerja bisa melakukan kesalahan (error), tak terkecuali pekerja yang sudah terlatih dan memiliki motivasi kerja yang baik. Beberapa kesalahan bisa menghasilkan konsekuensi cedera atau kecelakaan .
    1. Pengertian Human Error
    Human error didefinisikan sebagai suatu keputusan atau tindakan yang atau potensial untuk mengurangi efektifitas, keamanan atau performa suatu sistem, human error adalah suatu penyimpangan dari suatu performansi standart yang telah ditentukan sebelumnya, yang mengakibatkan adanya penundaan waktu yang tidak diinginkan, kesulitan, masalah, insiden, kegagalan. Namun pada penyelidikan lebih lanjut human error dapat di kategorikan juga sebagai ketidaksesuaian kerja yang bukan hanya akibat dari kesalahan manusia, tetapi juga karena adanya kesalahan pada perangan dan prosedur kerja.
    Kesalahan yang diakibatkan oleh faktor manusia kemungkinan disebabkan oleh pekerjaan yang berulang-ulang (repetitive work) dengan kemungkinan kesalahan sebesar 1%, Adanya kesalahan yang terjadi yang disebabkan oleh pekerjaan yang berulang ini sedapat mungkin harus dicegah atau dikurangi, yang tujuannya untuk meningkatkan keandalan seseorang dengan menurunnya tingkat kesalahan yang terjadi.
    2. Klasifikasi Human Error
    Pada dasarnya terdapat klasifikasi human error untuk mengidentifikasi penyebab kesalahan tersebut.
    klasifikasi tersebut secara umum dari penyebab terjadinya human error adalah sebagai berikut :
    – Sistem Induced Human Error
    Dimana mekanisme suatu sistem memungkinkan manusia melakukan kesalahan, misalnya manajemen yang tidak menerapkan disiplin.
    – Desain Induced Human Error
    Terjadinya kesalahan diakibatkan karena perancangan atau desain sistem kerja yang kurang baik.
    – Pure Human Error.
    Suatu kesalahan yang terjadi murni berasal dari dalam manusia itu sendiri, misalnya karena skill, pengalaman, dan psikologis.
    Error secara umum didefinisikan sebagai kegagalan untuk menampilkan suatu perbuatan yang benar dan diinginkan pada suatu keadaan.
    Beberapa istilah dalam error:
    a. Input Error (Miss Perseption)
    Terjadi kesalahan dalam mengamati suatu data masukan sehingga menghasilkan suatu persepsi yang salah dan terjadilah kesalahan dalam mengambil tindakan penyeselaian.
    b. Intention Error (mistake)
    Data masukan telah diamati dengan benar tetapi menghasilkan pengertian yang salah sehingga terjadi penyelesaian yang salah
    c. Execution Error (Slip)
    data masukan telah diamati dengan benar dan telah menghasilkan pengertian yang benar tetapi terjadi kesalahan pada tindakan penyelesaiannya.
    prinsip dasar yang harus di mengerti terlebih dahulu :
    1. Semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerjaan yang paling hebat pun bisa salah.
    Tidak ada satupun pekerja yang kebal/anti kesalahan, berapapun usia, pengalaman atau tingkat pendidikannya. Karenanya dikenal istilah “to err is human” (berbuat salah adalah manusiawi).
    2. Situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diprediksi, dikelola dan dicegah.
    Meskipun secara umum kesalahan manusia adalah hal yang pasti, beberapa kesalahan yang spesifik dapat dicegah. Seperti halnya jika seseorang menulis formulir penarikan rekening bank di awal tahun baru akan memiliki potensi besar salah menulis tahun sebelumnya, prediksi semacam ini bisa juga dibangun dalam konteks bekerja di tempat kerja.
    3. Prilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi.
    Organisasi digerakkan oleh tujuan, karena itu, proses dan nilai-nilai yang ada di dalamnya dikembangkan untuk mengarahkan perilaku tiap individu di dalam organisasi. Organisasi mencerminkan bagaimana pekerjaan dipecah menjadi tugas-tugas tertentu dan dikoordinasikan untuk mencapai sasaran dengan selamat dan handal.
    4. pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan, rekan kerja dan bawahannya.
    Tingkat keselamatan dan kehandalan sebuah fasilitas terkait langsung dengan perilaku para pekerjanya. Semua perilaku manusia, yang baik ataupun yang buruk, dikuatkan oleh konsekuensi langsung atau pengalaman masa lalunya.
    beberapa metode investigasi kesalahan manusia, yaitu:
    a. Metode naturalistic atau corpus gathering; yaitu metode investigasi human error dilihat dari sifat alamiah manusia.
    b. Studi angket (questionare); yaitu menyelidiki dengan menggunakan beberapa bentuk angket yang bertujuan mengetahui respon dari individu terhadap hal yang ditanyakan.
    c. Studi laboratorium; yaitu menyelidiki melalui eksperimen terhadap individu yang hasilnya dapat terukur dan terkontrol
    d. Studi simulator; yaitu investigasi human error dengan menggunakan simulator berbasis komputer dengan menggunakan program software.
    e. Studi kasus; yaitu investigasi dengan menyelidiki berbagai kasus, menggalinya, dan mengkombinasikannya dengan berbagai teori kesalahan, sehingga dapat membuat disain dan diharapkan dapat mengurangi kesalahan (error).

    Nama: William Adrian Gofu
    NIM: 167052041
    Semester: II
    Kelas: A2


    Komentar Dosen:
    – Rangkuman harus berasal dari materi perkuliahan.
    – Tidak diizinkan mengambil materi dari internet karena belum terjamin validitas teorinya.
    – Materi hanya boleh diambil dari luar yang berasal dari buku cetak yang berwujud secara fisik, dimana terdapat nomor ISBN dengan jelas, nama pengarang, judul buku, tahun terbit, dan nama penerbitnya.
    – Untuk materi rangkuman yang berasal dari buku, wajib mencantumkan daftar pustakanya dengan menggunakan format Vancouver atau Harvard.
    – Pastikan jumlah rangkuman paling sedikit terdiri atas 600 kata.
    – Cantumkan kalimat “PERBAIKAN TUGAS KE-1” di awal rangkuman pada posting berikutnya.
    – Perbaiki kembali tugas Anda ini.

  32. Memahami Kesalahan Manusia (Human Error)

    Semua pekerjaan bisa melakukan kesalahaan (error), tak terkecuali pekerja yang sudah terlatih dan memiliki motivasi kerja yang baik. Beberapa kesalahan bisa menghasilkan konsekuensi cedera/kecelakaan. Karenanya penting bagi praktisi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) untuk dapat memahami prinsip yang melatarbelakangi kesalahan manusia. Hampir 80% kejadian terkait dengan kesalahan manusia, jika angka 80% kesalahan manusia didetailkan lebih lanjut, terungkap bahwa sebagian besar kesalahan pekerja diakibatkan oleh kelemahan laten organisasi/perusahaan, sedangkan lainnya terjadi oleh pekerja yang menangani peralatan atau system di area kerja.

    Ada 5 prinsip dasar yang harus terlebih dahulu di mengerti untuk dapat memahami factor manusia.
    1. Semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerja yang paling hebat pun bisa salah.
    Tidak ada satupun pekerja yang kebal/anti kesalahan karenanya ada istilah “to err is human” (berbuat salah adalah manusiawi). Tidak ada pelatihan atau konseling yang dapat mengubah kerentanan manusia ini. Dr James Reason, penulis Human Error (1990) mengatakan penting bagi tiap pekerja, terutama managernya, untuk menjadi lebih mawas diri akan potensi manusia berbuat salah. Tempat kerja dan faktor organisasi membentuk kemungkinan dan konsekuensi. Memahami bagaimana dan mengapa tindakan tidak aman terjadi adalah langkah awal penting dalam mengelola kesalahan dengan efektif.
    2. Situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diprediksi, dikelola dan dicegah.
    Meskipun secara umum kesalahan manusia adalah hal yang pasti, beberapa kesalahan yang spesifik dapat dicegah. Mengenali perangkap/jebakan kesalahan dan secara aktif mengkomunikasikan bahaya tersebut ke orang lain adalah salah satu bentuk pengelolaan kesalahan yang proaktif.
    3. Perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi.
    Organisasi digerakkan oleh tujuan, karena itu proses dan nilai-nilai yang ada di dalamnya di kembangkan untuk mengerahkan perilaku tiap individu di dalam organisasi. Penyelesaian pekerjaan dalam konteks proses dan budaya organisasi, pengelolaan perencanaan dan system pengendalian, berkontribusi paling besar dalam kesalahan manusia yang bisa mengakibatkan kecelakaan kerja.
    4. Pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan, rekan kerja dan bawahannya.
    Tingkat keselamatan dan kehandalan sebuah fasilitas terkait langsung dengan perilaku para pekerjanya. Semua prilaku manusia, yang baik ataupun yang buruk, dikuatkan oleh konsekuensi langsung atau pengalaman masa lalunya. Karena perilaku dipengaruhi oleh konsekuensi yang pekerja itu alami, apa yang terjadi ketika seorang pekerja menunjukan perilaku tertentu adalah hal yang penting untuk meningkatkan kinerja manusia.
    5. Kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan/sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan di masa lalu.
    Peningkatan kinerja dapat diraih dengan menerapkan tindakan perbaikan sebuah investigsi/analisa kecelakaan. Belajar dari kesalahan diri sendiri dan orang lain adalah hal yang reaktif, namun menjadi hal yang penting sebagai bentuk perbaikan berkelanjutan.

    Beberapa karakter manusia dibawah ini perlu di perhatikan terutama ketika menempatkan pekerja di system kerja yang rumit:
    Stress. Pada dasarnya stress bukanlah hal yang buruk. Beberapa kondisi stress merupakan hal yang normal dan sehat. Stress bahkan dapat meningkatkan focus sehingga menguntungkan. Namun stress bisa terakumulasi dan menguasai seseorang sehingga pada akhirnya melumpuhkan kinerja.
    Menghindari kelelahan pikiran. Manusia cenderung enggan berfikir/konsentrasi/focus dalam jangka waktu yang lama karena melelahkan. Berpikir adalah proses yang membutuhkan usaha yang besar dan juga lambat, akhirnya manusia cenderung mencari pola yang dikenalnya dan menerapkan solusi yang sudah pernah diterapkan.
    Keterbatasan memori kerja. Ingatan jangka panjang pendek adalah tempat kerja/memori kerja bagi penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan.
    Pola pikir. Manusia cenderung focus pada apa yang hendak dicapai dari pada focus pada apa yang harus dihindari karenanya manusia hanya melihat apa yang pikirannya harapkan untuk dilihat.
    Keterbatasan perspektif. Manusia tidak bisa melihat semua hal yang ada ditempat kerja untuk dilihat. Keterbatasan manusia untuk menerima semua fakta dapat menghalangi keputusannya untuk memecahkan masalah.
    Rentan terhadap factor emosional/social. Kemarahan atau rasa malu bisa menurunkan kinerja seorang pekerja atau kelompok kerja.
    Kelelahan. Lelah secara fisik, emosi dan mental bisa mengarah ke tindakan yang salah dan pengambilan keputusan yang tidak tepat. Kelelahan dapat oleh factor didalam pekerjaan dan factor diluar pekerjaan.
    Presenteeism. Beberapa pekerja akan tetap memaksakan hadir dan bekerja meskipun kemampuan kerjanya sudah menurun karena penyakit atau cidera.
    Sikap tidak aman. Sikap dapat diartikan sebagai kondisi mentau atau perasaan terhadap objek atau subjek.
    Efek halo. Kepercayaan buta akan kompetensi seseorang dikarenakan pengalaman atau pendidikannya.
    Berpikir grup. Kepaduan, loyalitas, consensus dan komitmen adalah hal yang baik jika ada di dalam kelompok kerja.
    Difusi tanggung jawab. Bisa jadi beresiko dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah kelompok.


    Nama : Rinaldy Alfriano
    NIM : 167051983
    Semester : II
    Kelas : A1 D4K3

  33. Memahami Kesalahan Manusia (Human Error)

    Semua pekerjaan bisa melakukan kesalahaan (error) , tak terkecuali pekerja yang sudah memiliki keahlian atau sudah terlatih dan motivasi dalam bekerja yang baik.Beberapa keselahan seorang pekerja yang bisa menghasilkan kosekuensi cedera atau kecelakaan.Oleh sebeb itu penting bagi praktisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) untuk dapat memahami prinsip yang melatar belakangi keselahan manusia.
    Oleh sebab itu hamper 80% kejadian terkait dengan kesalahan manusia, data dari Departemen Energi Amerika bahkan mengatakan bahwa di beberapa industri, porsi kesalahan manusia bisa mencapai 90% hanya sekitar 20% yang terkait kegagalan peralatan.
    Jika 80% kesalahan manusia didetailkan lebih lanjut , terungkap bahwa sebagian besar (70%) kesalahan pekerja diakibatkan oleh kelemahan laten organisasi atau perusahaan ,sedangkan 30% lainya terjadi oleh pekerja yang menangani peralatan atau sistem di area kerja.
    Ada 5 prinsip dasar yang harus terlebih dahulu di mengerti untuk dapat memahami factor manusia.
    1. Semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerja yang paling hebat pun bisa salah.
    Tidak ada satupun seorang pekerja yang kebal atau anti kesalahan , berapapun usia, pengalaman atau tingkat pendidikanya. Karena dikenal dengan istilah “to err is human” (berbuat salah adalah manusiawi). Tidak ada pelatihan atau konseling yang dapat mengubah kerentanan manusia ini. Dr James Reason, penulis Human Error (1990) mengatakan penting bagi tiap pekerja, terutama managernya, untuk menjadi lebih mawas diri akan potensi manusia berbuat salah. Tempat kerja dan faktor organisasi membentuk kemungkinan dan konsekuensi. Memahami bagaimana dan mengapa tindakan tidak aman terjadi adalah langkah awal penting dalam mengelola kesalahan dengan efektif.
    2. Situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diprediksi, dikelola dan dicegah.
    Meskipun secara umum kesalahan manusia adalah hal yang pasti, beberapa kesalahan yang spesifik dapat dicegah. Mengenali perangkap/jebakan kesalahan dan secara aktif mengkomunikasikan bahaya tersebut ke orang lain adalah salah satu bentuk pengelolaan kesalahan yang proaktif dengan mengubah situasi untuk mencegah, menghilangkan atau mengurangi kondisi yang menyebabkan keselahan.
    3. Perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi.
    Organisasi digerakkan oleh tujuan, karena itu proses dan nilai-nilai yang ada di dalamnya di kembangkan untuk mengerahkan perilaku tiap individu di dalam organisasi. Penyelesaian pekerjaan dalam konteks proses dan budaya organisasi, pengelolaan perencanaan dan system pengendalian, berkontribusi paling besar dalam kesalahan manusia yang bisa mengakibatkan kecelakaan kerja.
    4. Pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan, rekan kerja dan bawahannya.
    Tingkat keselamatan dan kehandalan sebuah fasilitas terkait langsung dengan perilaku para pekerjanya. Semua prilaku manusia, yang baik ataupun yang buruk, dikuatkan oleh konsekuensi langsung atau pengalaman masa lalunya. Karena perilaku dipengaruhi oleh konsekuensi yang pekerja itu alami, apa yang terjadi ketika seorang pekerja menunjukan perilaku tertentu adalah hal yang penting untuk meningkatkan kinerja manusia.
    5. Kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan/sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan di masa lalu.
    Peningkatan kinerja dapat diraih dengan menerapkan tindakan perbaikan sebuah investigsi/analisa kecelakaan. Belajar dari kesalahan diri sendiri dan orang lain adalah hal yang reaktif, namun menjadi hal yang penting sebagai bentuk perbaikan berkelanjutan.

    Ada beberapa sifat atau karakter manusia dibawah ini yang perlu kita perhatikan untuk menempatkan seorang pekerja disistem kerja yang rumit:
    1.Stress.
    Pada dasarnya stress bukanlah hal yang buruk. Beberapa kondisi stress merupakan hal yang normal dan sehat. Stress bahkan dapat meningkatkan focus sehingga menguntungkan. Namun stress bisa terakumulasi dan menguasai seseorang sehingga pada akhirnya melumpuhkan kinerja.
    2.Menghindari kelelahan pikiran.
    Manusia cenderung enggan berfikir/konsentrasi/focus dalam jangka waktu yang lama karena melelahkan. Berpikir adalah proses yang membutuhkan usaha yang besar dan juga lambat, akhirnya manusia cenderung mencari pola yang dikenalnya dan menerapkan solusi yang sudah pernah diterapkan.
    3.Keterbatasan memori kerja.
    Ingatan jangka panjang pendek adalah tempat kerja/memori kerja bagi penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan ingatan jangka pendek dipergunakan untuk menyimpan informasi baru dan aktif dipergunakan ketika belajar menyimpan dan menggali informasi.
    4.Keterbatasan Fokus perhatian
    Keterbatasan kemampuan berkonsentrasi pada dua atau lebih aktifitas menurunkan kemampuan untuk memproses informasi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah.
    5.Pola pikir.
    Manusia cenderung focus pada apa yang hendak dicapai dari pada focus pada apa yang harus dihindari karenanya manusia hanya melihat apa yang pikirannya harapkan untuk dilihat.
    6.Keterbatasan perspektif.
    Manusia tidak bisa melihat semua hal yang ada ditempat kerja untuk dilihat. Keterbatasan manusia untuk menerima semua fakta dapat menghalangi keputusannya untuk memecahkan masalah.
    7.Rentan terhadap factor emosional/social.
    Kemarahan atau rasa malu bisa menurunkan kinerja seorang pekerja atau kelompok kerja.
    8.Kelelahan.
    Lelah secara fisik, emosi dan mental bisa mengarah ke tindakan yang salah dan pengambilan keputusan yang tidak tepat. Kelelahan dapat oleh factor didalam pekerjaan dan factor diluar pekerjaan.
    9.Presenteeism.
    Beberapa pekerja akan tetap memaksakan hadir dan bekerja meskipun kemampuan kerjanya sudah menurun karena penyakit atau cidera.
    10.Sikap tidak aman.
    Sikap dapat diartikan sebagai kondisi mentau atau perasaan terhadap objek atau subjek.
    Beberapa sikap yang dapat menimbulkan resiko berbuat salah misalnya:
    -Rasa bangga
    -Heroik
    -Fatalistic
    -Invulnerabillty
    -Pollyanna (Rasa optimis berlebihan)
    -Sikap ’’ Ban gundul ‘’
    11.Efek halo.
    Kepercayaan buta akan kompetensi seseorang dikarenakan pengalaman atau pendidikannya
    12. Pilot-Co-Pilot
    Keengganan pekerja junior (Co-Pilot ) untukb menentang pendapat, keputusan atau tindakan pekerja senior karena strukturnya di dalam organisasi perusahaan

    13. Menumpang atau Mengikuti saja
    Kecendrungan untuk menumpang atau ikut-ikutan ,tanpa secara aktif mengevaluasi maksud dan tindakan pekerja atau menangambil inisiatif.
    14.Berpikir grup.
    Kepaduan, loyalitas, consensus dan komitmen adalah hal yang baik jika ada di dalam kelompok kerja ,namun terkadang hal-hal tersebut bisa menurunkan kualitas keputusan tim.
    15.Difusi tanggung jawab.
    Bisa jadi beresiko dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah kelompok jikavdua tatau lebih pekerja sepakat akan sesuatu yang dianggap cara yang terbaik dalam melakukan sesuatu, maka mereka akan lebih mudah mengambil resiko dan mengabaikan prosedur atau kebijakan yang ada.


    Nama : Olivin Marcheldy Setiawan
    NIM : 167051984
    Semester : II
    Kelas : A1

  34. Memahami Kesalahan Manusia (Humman Error)

    Semua kerja bisa kesalahan (error), tak terkecuali pekerja yang sudah terlatih dan memiliki motivasi kerja yang baik. Beberapa kerja kesalahan bisa menghasilkan konsekuensi cedera/kecelakaan, sedang banyak kesalahan lainnya tidak. Karenanya, penting bagi praktisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) untuk dapat memahami prinsip yang melatar belakangi kesalahan manusia. Karena kesalahan pasti terjadi, kemampuan untuk dapat mengidentifikasi kesalahan di tahap awal, berguna untuk mencegah terjadinya kecelakaan.
    Kecelakaan-kecelakaan yang terjadi mengajarkan kita bahwa kita tidak boleh menyalahkan kecelakaan hanya kepada pekerja. Akar penyebab kecelakaan merupakan kombinasi dari beberapa faktor, banyak di antaranya yang berada diluar kendali pekerja. Ada 5 prinsip dasar yang harus terlebih dahulu dimengerti untuk dapat memahami faktor manusia.
    • Semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerja yang paling hebat pun bisa salah.
    Tidak ada satupun pekerja yang kebal/anti kesalahan, berapapun usia, pengalaman atau tingkat pendidikannya. Karena dikenal istilah”to err is humman” ( Berbuat salah adalah manusiawi ). Tabiat manusiawi pekerja untuk bersikap tidak sempurna.
    Dr.James Reason, penulis Humman Error (1990) mengatakan : adalah penting bagi tiap pekerja, terutama managernya, untuk menjadi lebih mawas dari akan potensi manusia berbuat salah, pekerjaan, tempat kerja dan faktor organisasi membentuk kemungkinan ( likelihood) dan konsekuensi ( consequences ). Memahami bagaimana dan mengapa tindakan tidak aman terjadi adalah langkah awal penting dalam mengelola kesalahan dengan efektif.

    • Situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diprediksi, dikelola dan dicegah.
    Meskipun secara umum kesalahan manusia adalah hal yang basti. Beberapa kesalahan yang spesifik dapat dicegah : seperti hal nya jika seorang menulis formulir penarikan rekening bank diawal tahun baru akan memiliki potensi besar salah menulis tahun sebelumnya, prediksi semacam ini bisa juga dibangun dalam konteks bekerja ditempat kerja mengenali perangkap/jebakan kesalahan dan secara aktif mengkomunikasikan bahaya-bahaya tersebut keorang lain adalah salah satu bentuk pengelolaan kesalahan yang proaktif.

    • Perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi.
    Organisasi digerakkan oleh tujuan, karena itu, proses dan nilai-nilai yang ada didalamnya dikembangkan untuk mengarahkan perilaku tiap individu didalam organisasi. Organisasi mencerminkan bagaimana pekerjaan dipecah menjadi tugas-tugas tertentu dan dikoordinasikan untuk mencapai sasaran dalam konteks proses dan budaya organisai, pengelolaan perencanaan dan sistem pengendalian.

    • Pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan, rekan kerjan dan bawahannya.
    Tingkat keselamatan dan kehandalan sebuah fasilitas terkait langsung dengan perilaku para pekerjanya. Sebuah perilaku dikuatkan oleh kosekuensi yang individu tersebut alami ketika perilaku tertentu dilakukan. Karena perilaku dipengaruhi oleh kosekuensi yang pekerja itu alami, apa yang terjadi ketika seorang pekerja menunjukkan perilaku tertentu adalah hal yang penting untuk meningkatkan kinerja manusia.

    • Kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan/sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan dimasa lalu.
    Peningkatan kinerja dapat diraih dengan menerapkan tindakan perbaikan sebuah investigasi/analisa kecelakaan. Bekerja dari kesalahan diri sendiri dan orang lain adalah hal yang rekatif, namun menjadi hal yang penting sebagai bentuk perbaikan berkelanjutan.

    Manusia tidak berbuat salah secara sengaja. Kesalahan sengaja ( error ) adalah tindakan manusia yang tidak sengaja yang menyimpang dari tindakan yang diharapkan. Kesalahan adalah tindakan tak terencana atau dipikirkan terlebih dahulu. Kesalahan manusia ( humman error ) terjadi akibat ketidakcocokan antara keterbatasan manusia dengan kondisi lingkungan ditempat kerja, termasuk ketidaksesuaian manajemen, kepemimpinan dan kelemahan organisasi yang membuat kondisi tersebut muncul.

    Menghindari kelelahan pikiran manusia cenderung enggan berfikir/konsentrasi/fokus dalam jangka waktu yang lama karena melelahkan. Berpikir adalah proses yang membutuhkan usaha yang besar dan juga lambat, akhirnya manusia cenderung mencari pola yang dikenalnya dan menerapkan solusi yang sudah pernah diterapkan. Polanya bisa berupa :

    • Asumsi – Menerima suatu kondisi sebagai suatu hal yang benar tanpa verifikasi terlebih dahulu.
    • Kebiasaan – pola perilaku dibawah sadar sebagai hasil dari pengulangan yang sering.
    • Bias konfirmasi – keengganan untuk menerapkan solusi terbaru karena bias pemikiran yang ada akibat investigasi waktu dan usaha yang diperlukan untuk menerapkan solusi terbaru itu. Bias ini terjadi karena otak sudah melihat hasil dari solusi sebelumnya dan menolak data/fakta mengenal keberhasilan solusi yang baru.
    • Bias kesamaan – kecenderungan untuk mengambil solusi dari kondisi yang serupa yang berhasil dimasa lalu.
    • Bias frekuensi – mencoba solusi yang sudah berhasil dan sering dipakai.
    • Bias ketersediaan – kecenderungan untuk menerapkan solusi yang tersedia/muncul dalam pikiran.


    Nama : Chandra Adi Saputra
    NIM : II <—- Tidak ada NIM II di Universitas Balikpapan!
    Semester : II
    Kelas : A1

  35. Memahami Kesalahan Manusia (Human Error)
    Human error adalah suatu penyimpangan dari standar performansi yang telah ditentukan sebelumnya sehingga menyebabkan adanya penundaan akibat dari kesulitan, masalah, insiden, dan kegagalan. Human error merupakan kesalahan dalam pekerjaan yang disebabkan oleh ketidaksesuaian atas pencapaian dengan apa yang diharapkan. Dalam prakteknya, human error terjadi ketika serangkaian aktifitas kita di lapangan kerja yang sudah direncanakan, ternyata berjalan tidak seperti apa yang kita inginkan sehingga kita gagal mencapai target yang diharapkan. Namun human error tidak mutlak disebabkan oleh kesalahan manusia. Peters meneliti lebih dalam lagi dan menemukan bahwa human error bisa juga terjadi karena kesalahan pada perancangan serta prosedur kerja. Human error dapat terjadi dikarenakan oleh banyak faktor seperti :
    1. Induced Human Error System, dimana mekanisme sistem kerja yang memungkinkan pekerjanya melakukan kesalahan. Misalnya tidak adanya penerapan disiplin yang baik dari pihak manajemen
    2. Induced human error design, yaitu terjadinya kesalahan akibat dari kesalahan rancangan sistem kerja yang kurang baik
    3. Pure human error, ketika kesalahan itu berasal dari manusia itu sendiri. Misalnya karena kemampuan dan pengalamn kerja yang terbatas.
    Selain itu, secara sederhana human error juga bisa disebabkan oleh tiga hal yang umum biasa terjadi dalam suatu perusahaan, seperti hal yang lebih menekankan kepada individu (kurangnya pelatihan atau pendidikan pada saat masa percobaan karyawan baru) atau yang bersifat manajerial (dimana kurangnya peranan manajemen dalam mengatur para karyawan) serta yang lebih bersifat global (tekanan keuangan, waktu, serta perlakuan sosial dan budaya organisasi). Berdasarkan asal atau penyebabnya error dibedakan sebagai berikut :
    1. Endogenous Error
    Error terjadi dari proses-proses dalam diri operator. Penghilangan atau pengurangan dari error ini harus melibatkan faktor psikologis, fisiologi dan neurologi.
    2. Exogenous Error
    Error terjadi dari proses dan dari luar operator. Penghilangan atau pengurangan error semacam ini harus mengakibatkan perancangan dan pemikiran secara teknis dari objek dan lingkungan kerja.
    Banyak upaya yang dilakukan oleh perusahaan untuk mengantisipasi fenomena human error ini, mulai dari kualifikasi persyaratan perekrutan tenaga kerja yang semakin ketat sampai dengan pengaturan sistem kerja oleh manajemen. Pada dasarnya, human error tidak mungkin hilang sepenuhnya namun bisa diantisipasi agar tidak sering terjadi. Di sinilah peranan dari pihak manajerial sangat dibutuhkan. Mulai dari melakukan monitoring, evaluasi, serta memberikan pelatihan – pelatihan yang bersifatpersonal skill, seperti communication skill, public speaking, outbond training, serta seminar.
    Jika suatu kesalahan terjadidalam suatu pekerjaan, maka akan timbul suatu fenomena yang dapat kita amati. Penampakan tertentu dari error dapat kita sebut sebagai mode (tipe/jenis). Beberapa istilah mode atau tipe-tipe kesalahan yaitu :
    1.Error of omission (kesalahan pada hal pelampauan /peninggalan), yaitu error yang ditandai dengan terlampauinya atau tertinggalnya atau hilangnya langkah tertentu dari suatu proses.
    2.Error of insertion (kesalahan penambahan /penyisipan), yaitu suatu error yang ditandai dengan penambahan suatu langkah yang tidak sesuai dengan proses.
    3.Error of repetition, yaitu kesalahan yang ditandai dengan penambahan yang tidak sesuai pada suatu langkah secara normal dalam suatu proses.
    4.Error of subtition (kesalahan pensubtitusian), yaitu suatu kesalahan yang ditandai dengan adanya suatu obyek, tindakan, tempat atau waktu yang tidak sesuai berada dalam suatu obyek, tindakan, tempat dan waktu yang sesuai.
    Pengurangan error dapat dibagi dua point, yaitu :
    1.Internal point (dalam rangkaian peristiwa/kejadian mental), kemungkinan tindakan-tindakan pembetulannya dapat berhubungan dengan ilmu kejiwaan/psikologi dalam sifat-sifat/pembawaanya. Misalnya kemungkinan diadakan trainning /pelatihan yang berguna untuk mengurangi kesalahan yang mungkin terjadi.
    2.External point (dalam rangkaian kejadian fisik), harus ada analisa sistem dan perancangan ulang (re-desain) dari elemen-elemen suatu sistem. Tujuan dari perancangan ulang yang terdiri dari maksud kegunaannya, pengemasannya, labelnya, peringatan, adalah untuk membuat suatu obyek yang dapat memberitahu identitasnya kepada pemakainya, sehingga pemakai dapat menggunakan sesuai dengan aturan yang berlaku.
    Selain itu, perlu adanya perhatian terhadap perilaku serta budaya yang ada dalam suatu organisasi, misalnya perilaku individu serta kelompok yang bekerja dalam perusahaan tersebut, hubungan inter – intra personal disetiap divisi yang ada. Dan mungkin yang tidak kalah pentingnya, yaitu suasana kerja organisasi. Bagaimana agar rutinitas kerja menjadi menyenangkan meskipun penuh tekanan sehingga dapat memperkecil resiko jenuh dan stres bagi para pekerja dalam perusahaan tersebut.

    Nama : Melky Jusuf Tarukbua
    NIM : 167052012
    Semester : II
    Kelas : A1


    Komentar Dosen:
    – Rangkuman harus berasal dari materi perkuliahan.
    – Tidak diizinkan mengambil materi dari internet karena belum terjamin validitas teorinya.
    – Materi hanya boleh diambil dari luar yang berasal dari buku cetak yang berwujud secara fisik, dimana terdapat nomor ISBN dengan jelas, nama pengarang, judul buku, tahun terbit, dan nama penerbitnya.
    – Untuk materi rangkuman yang berasal dari buku, wajib mencantumkan daftar pustakanya dengan menggunakan format Vancouver atau Harvard.
    – Pastikan jumlah rangkuman paling sedikit terdiri atas 600 kata.
    – Cantumkan kalimat “PERBAIKAN TUGAS KE-1” di awal rangkuman pada posting berikutnya.
    – Perbaiki kembali tugas Anda ini.

  36. Menentukan penyebab terjadinya human error bukanlah hal yang mudah, terutama jika ingin menentukan penyebeb yang pasti. Secara sistematis setiap error yang terjadi akan berhubungan dengan faktor situasional, faktor individu atau kombinasi dari kedua faktor itu.
    a. Faktor-faktor situasional adalah faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya suatu error yang berkaitan dengan situasi tempat kegiatan atau pekerjaan berlangsung. Meister (Meister, David 1981) menyatakan bahwa secara umum faktor situasional ini meliputi faktor-faktor ruang kerja dan tata letak peralatan, lingkungan, desain permesinan, alat-alat tangan, metode dalm penanganan, transportasi dan pemeriksaan informasi perencanaan pekerjaan dan instruksi pekerjaan.
    b. Faktor-faktor individual adalah faktor yang berkaitan dengan pribadi seseorang. Faktor-faktor ini juga dikenal sebagai faktor Idiosyneoratic, yaitu faktor-faktor yang sifatnya khas setiap orang. Faktor-faktor yang termasuk faktor individu diantaranya kecakapan, kepribadian, keterampilan, fisik, umur, jenis kelamin, pendidikan dan pengalaman. Faktor Idiosyneoratic juga meliputi masalah perkawinan, hubungan internasional, konflik emosional dan sikap.
    Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya suatu error juga dapat dikelompokan dengan cara lain seperti yang dilakukan oleh Swain. Swain (Kirwan, barri, 1994) menerangkan faktor-faktor yang berpengaruh itu sebagai performance shaping factor (spfs), faktor-faktor ini dibagi tiga kategori yaitu:
    a. Faktor eksternal dari individu (situasioal dan task equitment characteristic)
    b. Faktor-faktor internal individu ( idiosyneoratic factor)
    Stress psikologis, merupakan penghubung dari kedua faktor diatas.

    Nama : M.ade rizky H
    NPM :167052017
    Semester: II
    Kelas : A2


    Komentar Dosen:
    – Rangkuman harus berasal dari materi perkuliahan.
    – Tidak diizinkan mengambil materi dari internet karena belum terjamin validitas teorinya.
    – Materi hanya boleh diambil dari luar yang berasal dari buku cetak yang berwujud secara fisik, dimana terdapat nomor ISBN dengan jelas, nama pengarang, judul buku, tahun terbit, dan nama penerbitnya.
    – Untuk materi rangkuman yang berasal dari buku, wajib mencantumkan daftar pustakanya dengan menggunakan format Vancouver atau Harvard.
    – Pastikan jumlah rangkuman paling sedikit terdiri atas 600 kata.
    – Cantumkan kalimat “PERBAIKAN TUGAS KE-1” di awal rangkuman pada posting berikutnya.
    – Tulis nama Anda dengan benar menggunakan ejaan bahasa Indonesia sesuai EYD 1972 dan PUEBI 2016.
    – Perbaiki kembali tugas Anda ini.

    • TUGAS PERBAIKAN KE-1


      Memahami Kesalahan Manusia (Human Error)

      Manusia sebagai makhluk hidup yang paling sempurna tentu tetap tidak luput dari kesalahan. Kesalahan manusia atau Human eror dapat diartikan juga sebagai ketidaksesuaian kerja yang bukan hanya akibat dari kesalahan manusia, tetapi juga karena adanya kesalahan pada perancangan dan prosedur kerja. Beberapa kesalahan bisa menghasilkan konsekuensi cedera/kecelakaan, Karenanya, penting bagi praktisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) untuk dapat memahami prinsip yang melatar belakangi kesalahan manusia.
      Hampir 80% kejadian terkait dengan kesalahan manusia, data dari Departemen Energi Amerika bahkan mengatakan bahwa di beberapa industri, porsi kesalahan manusia bisa mencapai 90%; hanya sekitar 20% yang terkait kegagalan peralatan. Jika angka 80% kesalahan manusia didetailkan lebih lanjut, terungkap bahwa sebagian besar (70%) kesalahan pekerja diakibatkan oleh kelemahan laten organisasi/perusahaan (kelemahan yang dibuat oleh pekerja lain di masa lalu yang tidak nampak karena tidak menimbulkan masalah), sedang 30% lainnya terjadi oleh pekerja yang menangani peralatan atau sistem di area kerja.
      Factor penyebab Insiden tersebut tidak hanya dari kesalahan pekerja, proses dan nilai di dalam organisasi/perusahaan tersebut pun berkontribusi besar pada mayoritas kecelakaan.

       Ada 5 prinsip dasar yang harus terlebih dahulu dimengerti untuk dapat memahami faktor manusia.
      1. semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerja yang paling hebat pun bisa salah.
      Tidak ada satupun pekerja luput dari kesalahan. berapapun usia, pengalaman atau tingkat pendidikannya. Karenanya dikenal istilah “to err is human” (berbuat salah adalah manusiawi). Dr. James Reason, penulis Human Error (1990) mengatakan: penting bagi tiap pekerja, terutama managernya, untuk menjadi lebih mawas diri akan potensi manusia berbuat salah. Pekerjaan, tempat kerja dan faktor organisasasi membentuk kemungkinan (likelihood) dan konsekuensi (consequences). Memahami bagaimana dan mengapa tindakan tidak aman terjadi adalah langkah awal penting dalam mengelola kesalahan dengan efektif.

      2. situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diprediksi, dikelola dan dicegah.
      kesalahan manusia adalah hal yang pasti, beberapa kesalahan yang spesifik dapat dicegah. Mengenali perangkap/jebakan kesalahan dan secara aktif mengkomunikasikan bahaya-bahaya tersebut ke orang lain adalah salah satu bentuk pengelolaan kesalahan yang proaktif. Dengan mengubah situasi kerja untuk mencegah, menghilangkan atau mengurangi kondisi yang bisa menyebabkan kesalahan, pekerjaan dan faktor individu di tempat kerja bisa dikelola untuk mencegah atau setidaknya mengurangi peluang terjadinya kesalahan.

      3. perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi.
      Organisasi digerakkan oleh tujuan, karena itu, proses dan nilai-nilai yang ada di dalamnya dikembangkan untuk mengarahkan perilaku tiap individu di dalam organisasi. Organisasi mencerminkan bagaimana pekerjaan dipecah menjadi tugas-tugas tertentu dan dikoordinasikan untuk mencapai sasaran dengan selamat dan handal. Tugas manajemen untuk mengarahkan perilaku para pekerja. Penyelesaian pekerjaan dalam konteks proses dan budaya organisasi, pengelolaan perencanaan dan sistem pengendali, berkontribusi paling besar dalam kesalahan manusia yang bisa mengakibatkan kecelakaan kerja.

      4. pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan, rekan kerja dan bawahannya.
      Tingkat keselamatan dan kehandalan sebuah fasilitas terkait langsung dengan perilaku para pekerjanya. Semua perilaku manusia, yang baik ataupun yang buruk, dikuatkan oleh konsekuensi langsung atau pengalaman masa lalunya. Karena perilaku dipengaruhi oleh konsekuensi yang pekerja itu alami, apa yang terjadi ketika seorang pekerja menunjukkan perilaku tertentu adalah hal yang penting untuk meningkatkan kinerja manusia.

      5. kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan/sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan di masa lalu.
      Peningkatan kinerja dapat diraih dengan menerapkan tindakan perbaikan sebuah investigasi/analisa kecelakaan. Belajar dari kesalahan diri sendiri dan orang lain adalah hal yang reaktif, namun menjadi hal yang penting sebagai bentuk perbaikan berkelanjutan. Kesalahan adalah tindakan tak terencana atau dipikirkan terlebih dahulu. Kesalahan manusia (human error) terjadi akibat ketidakcocokan antara keterbatasan manusia dengan kondisi lingkungan di tempat kerja, termasuk ketidaksesuaian manajemen, kepemimpinan dan kelemahan organisasi yang membuat kondisi tersebut muncul.
      Luput (slips) terjadi ketika suatu aksi fisik gagal mewujudkan hasil yang diinginkan. Sedang khilaf (lapses) melibatkan kegagalan terkait ingatan atau mengingat ulang.
       Beberapa hal berikut bisa menjelaskan bagaimana ketidaktepatan atau aksi yang salah bisa terjadi:
      • Waktu –terlalu cepat, terlalu lambat, alpa
      • Durasi –terlalu lama, terlalu singkat
      • Urutan –terbalik, berulang-ulang, gangguan
      • Obyek –salah tindakan di obyek yang benar, tindakan bertindak di obyek yang salah
      • Tekananan –terlalu sedikit atau terlalu banyak tekanan
      • Arahan – salah memberikan arahan
      • Kecepatan –terlalu cepat atau terlalu lambat, dan
      • Jarak – terlalu jauh, terlalu dekat.
      Keliru (mistake), terjadi ketika seseorang mempergunakan rencana yang tidak memadai untuk mencapai hasil yang diinginkan. Kekeliruan biasanya melibatkan kesalahan interpretasi atau kurangnya pengetahuan. Manusia memiliki karakter fisik, biologi, sosial, mental, dan emosi yang membentuk kecenderungan, kemampuan dan juga menentukan keterbatasannya. Karena sifat manusiawi inilah, pekerja cenderung rentan terhadap kondisi eksternal yang membuat mereka melampaui batasan sifat manusianya. Kerentanan inilah yang membuat pekerja bisa berbuat salah. Kerentanan ini juga terjadi ketika manusia bekerja dalam ystem yang rumit (perangkat lunak maupun ystem trative)

      Beberapa karakter manusia dibawah ini perlu diperhatikan, terutama ketika menempatkan pekerja di system kerja yang rumit:
      1. Stres. :
      Pada dasarnya, stres bukanlah hal yang buruk. Stres bahkan dapat meningkatkan fokus sehingga menguntungkan. Namun, stres bisa terakumulasi dan menguasai seseorang, sehingga pada akhirnya melumpuhkan kinerja.

      2. Menghindari kelelahan pikiran.
      Manusia cenderung enggan berpikir/konsentrasi/fokus dalam jangka waktu yang lama karena melelahkan. akhirnya manusia cenderung mencari pola yang dikenalnya dan menerapkan solusi yang sudah pernah diterapkan. Polanya bisa berupa:

      • Asumsi -menerima suatu kondisi sebagai suatu hal yang benar tanpa verifikasi terlebih dahulu
      • Kebiasaan –pola perilaku dibawah sadar sebagai hasil dari pengulangan yang sering
      • Bias konfirmasi –keengganan untuk menerapkan solusi terbaru karena bias pemikiran yang ada akibat investasi waktu dan usaha yang diperlukan untuk menerapkan solusi terbaru itu. Bias ini terjadi karena otak sudah melihat hasil dari solusi sebelumnya dan menolak data/fakta mengenai keberhasilan solusi yang baru
      • Bias kesamaan –kecenderungan untuk mengambil solusi dari kondisi yang serupa yang berhasil di masa lalu
      • Bias frekuensi – mencoba solusi yang sudah berhasil dan sering dipakai
      • Bias ketersediaan –kecenderungan untuk menerapkan solusi yang tersedia/muncul dalam pikiran.

      3. Keterbatasan memori kerja.
      Ingatan jangka pendek (short term memory) adalah tempat kerja/memori kerja bagi penyelesaian masalah dan pengambilan kebutusan. Ingatan jangka pendek dipergunakan untuk menyimpan informasi baru dan aktif dipergunakan ketika belajar, menyimpan dan memanggil (recall) informasi. Inilah yang menyebabkan pekerja lupa, terutama ketika berkerja dengan prosedur yang rumit.

      4. Keterbatasan fokus perhatian.
      Keterbatasan kemampuan berkonsentrasi pada dua atau lebih aktifitas menurunkan kemampuan untuk memproses informasi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah. Fokus perhatian sangatlah terbatas, jika diambil oleh satu hal maka dia akan menarik diri dari hal yang lain.

      5. Pola pikir.
      Manusia cenderung fokus pada apa yang hendak dicapai daripada pada fokus pada apa yang harus dihindari, karenanya, manusia hanya melihat apa yang pikirannya harapkan untuk dilihat. Otak manusia cenderung mencari keteraturan, setelah didapat, maka ia akan mengacuhkan selain itu; dengan demikian ia akan melewatkan kondisi yang tidak diperkirakan.

      6. Sulit melihat kesalahannya sendiri.
      Individu rentan terhadap kesalahan. Pekerja yang terlalu asyik dengan kerjaannya, atau disibukkan dengan suatu hal, bisa jadi gagal untuk dapat mengidentifikasi ketidaknormalan.

      7. Keterbatasan perspektif.
      Keterbatasan manusia untuk menerima semua fakta dapat menghalangi keputusannya untuk memecahkan masalah.

      8. Rentan terhadap faktor emosional/sosial.
      Kemarahan atau rasa malu bisa menurunkan kinerja seorang pekerja atau kelompok kerja.

      9. Kelelahan.
      Kelelahan dapat diakibatkan oleh faktor di dalam pekerjaan (tekanan produksi, lingkungan, dan kurangnya jumlah pekerja) dan faktor d iluar pekerjaan (pola makan dan tidur). Kelelahan memperburuk pengambilan keputusan, menurunkan kewaspadaan, memperlambat proses berpikir dan waktu reaksi, menghilangkan kewaspadaan kepada lingkungan (situational awareness) dan mendorong seseorang mengambil jalan pintas (shortcut).

      10. Presenteeism.
      Beberapa pekerja akan tetap memaksakan hadir dan bekerja meskipun kemampuan kerjanya sudah menurun karena penyakit atau cedera. Kecenderungan pekerja tetap melanjutkan pekerjaan meski memiliki masalah kesehatan yang ringan dapat diakibatkan oleh kurangnya cuti sakit, menumpuknya pekerjaan atau tidak tersedianya akses pelayanan kesehatan.

      11. Sikap tidak aman.
      Sikap dapat diartikan sebagai kondisi mental atau perasaan terhadap suatu obyek atau subyek. Beberapa sikap yang dapat menimbulkan resiko berbuat salah misalnya:
      a. Sombong : Terlalu fokus pada diri sendiri dan berlebihan rasa bangga cenderung membutakan kita akan hal-hal yang dapat dilakukan oleh orang lain, menurunkan kepercayaan terhadap kerjasama tim.
      b. Heroik. Keberanian yang berlebihan : fokus berlebih pada tujuan tanpa mempertimbangkan bahaya yang harus dihindari
      c. Fatalistic : Sikap yang meyakini bahwa setiap kejadian sudah ditentukan, tidak bisa dihindari, dan tidak ada yang dapat dilakukan untuk menghindari takdir
      d. Invulnerability : Memiliki rasa tidak mungkin berbuat salah, gagal atau cedera. Kebanyakan orang tidak percaya bahwa mereka akan berbuat salah. Padahal, kesalahan selalu mengejutkan ketika terjadi, sebagai akibat dari keterbatasan/ketidak akuratan manusia dalam memperhitungkan resiko
      e. Pollyanna (rasa optimis berlebihan) : Memiliki kecenderungan mengisi kekosongan persepsi dan melihat secara keseluruhan ketimbang per bagian. Akibatnya, secara tidak sadar mereka meyakini bahwa segala sesuatu akan berjalan sesuai yang direncanakan. Hal yang bisa terjadi ketika melakukan pekerjaan rutin adalah tanpa sadar meyakini bahwa tidak ada satupun yang bisa berjalan tidak sesuai rencana/salah. Sikap ini membuat ketidakakuratan dalam memperhitungkan resiko dan mengacuhkan situasi atau bahaya yang tidak biasa, sehingga menyebabkan mereka terlambat atau bahkan tidak bereaksi
      f. Sikap “Ban gundul”: Kinerja masa lalu terkadang menjadi pembenaran untuk tidak merubah (melakukan perbaikan) praktek atau kondisi yang sudah ada. Kesuksesan bisa membuat kepuasan dan kepercayaan diri berlebih.

      Bekerja dalam kelompok juga tidak membuat manusia bebas dari kesalahan. Kesalahan kelompok (team error) bisa terjadi akibat interaksi antara anggota kelompok kerja.
      Kesalahan kelompok (team error) bisa terjadi akibat interaksi antara anggota kelompok kerja :
      1. Efek halo :
      Kepercayaan buta akan kompetensi seseorang dikarenakan pengalaman atau pendidikannya. Hal ini mengakibatkan antar anggota kelompok menurunkan kewaspadaannya terhadap kesalahan yang dapat diakibatkan oleh individu yang kompeten; tidak memeriksa tindakan seorang yang kompeten

      2. Pilot-Co-pilot :
      Keengganan pekerja junior (co-pilot) untuk menentang pendapat, keputusan atau tindakan pekerja senior (pilot) karena posisinya di dalam struktur organisasi perusahaan. Bawahan menunjukkan sopan santun berlebihan ketika berinteraksi dengan manajer senior, tanpa sadar menerima perkataan bos tanpa berpikir kritis atau berbeda pendapat terhadap tindakan dan keputusannya.

      3. Menumpang atau mengikuti saja :
      Kecenderungan untuk “menumpang” (ikut-ikutan saja) tanpa secara aktif mengevaluasi maksud dan tindakan pekerja yang melakukan pekerjaan atau mengambil inisiatif.

      4. Berpikir grup :
      Kepaduan, loyalitas, konsensus dan komitmen adalah hal yang baik jika ada di dalam kelompok kerja. Namun, terkadang, hal-hal tersebut bisa menurunkan kualitas keputusan tim.

      5. Difusi tanggung jawab :
      Jika dua atau lebih pekerja sepakat akan sesuatu yang dianggap cara yang terbaik dalam melakukan sesuatu, maka mereka akan lebih mudah mengambil resiko dan mengabaikan prosedur atau kebijakan yang ada. Fenomena ini bisa disebut mentalitas gembala (herd mentality).


      Nama : Muhammad Ade Rizky Hidayat
      NIP NIM : 167052017 167052026
      Semester : II
      Kelas : A2

  37. TUGAS PERBAIKAN KE-1


    Memahami Kesalahan Manusia (Human Error)

    Semua pekerja bisa melakukan kesalahan (error), tak terkecuali pekerja yang sudah terlatih dan memiliki motivasi kerja yang baik. Beberapa kesalahan bisa menghasilkan konsekuensi cedera/kecelakaan, sedang banyak kesalahan lainnya tidak. Karenanya, penting bagi praktisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) untuk dapat memahami prinsip yang melatarbelakangi kesalahan manusia.
    Proses dan nilai di dalam organisasi/perusahaan juga berkontribusi besar pada mayoritas kecelakaan. Akar penyebab kecelakaan merupakan kombinasi dari beberapa faktor, banyak diantaranya yang berada di luar kendali pekerja.

    Ada 5 prinsip dasar yang harus terlebih dahulu dimengerti untuk dapat memahami faktor manusia:
    1. Semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerja yang paling hebat pun bisa salah.
    Tidak ada satupun pekerja yang kebal/anti kesalahan, berapapun usia, pengalaman atau tingkat pendidikannya. Karenanya dikenal istilah “to err is human” (berbuat salah adalah manusiawi). Tabiat manusiawi pekerja untuk bersikap tidak sempurna, sehingga pada akhirnya, kesalahan dapat terjadi. Tidak ada pelatihan atau konseling yang dapat mengubah kerentanan manusia ini. Dr. James Reason, penulis Human Error (1990) mengatakan: adalah penting bagi tiap pekerja, terutama managernya, untuk menjadi lebih mawas diri akan potensi manusia berbuat salah. Pekerjaan, tempat kerja dan faktor organisasasi membentuk kemungkinan (likelihood) dan konsekuensi (consequences). Memahami bagaimana dan mengapa tindakan tidak aman terjadi adalah langkah awal penting dalam mengelola kesalahan dengan efektif.

    2. Situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diprediksi, dikelola dan dicegah.
    Meskipun secara umum kesalahan manusia adalah hal yang pasti, beberapa kesalahan yang spesifik dapat dicegah. Seperti halnya jika seseorang menulis formulir penarikan rekening bank di awal tahun baru akan memiliki potensi besar salah menulis tahun sebelumnya, prediksi semacam ini bisa juga dibangun dalam konteks bekerja di tempat kerja. Mengenali perangkap/jebakan kesalahan dan secara aktif mengkomunikasikan bahaya-bahaya tersebut ke orang lain adalah salah satu bentuk pengelolaan kesalahan yang proaktif. Dengan mengubah situasi kerja untuk mencegah, menghilangkan atau mengurangi kondisi yang bisa menyebabkan kesalahan, pekerjaan dan faktor individu di tempat kerja bisa dikelola untuk mencegah atau setidaknya mengurangi peluang terjadinya kesalahan.

    3. Perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi.

    Organisasi digerakkan oleh tujuan, karena itu, proses dan nilai-nilai yang ada di dalamnya dikembangkan untuk mengarahkan perilaku tiap individu di dalam organisasi. Organisasi mencerminkan bagaimana pekerjaan dipecah menjadi tugas-tugas tertentu dan dikoordinasikan untuk mencapai sasaran dengan selamat dan handal. Tugas manajemen untuk mengarahkan perilaku para pekerja. Penyelesaian pekerjaan dalam konteks proses dan budaya organisasi, pengelolaan perencanaan dan sistem pengendali, berkontribusi paling besar dalam kesalahan manusia yang bisa mengakibatkan kecelakaan kerja.

    4. Pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan, rekan kerja dan bawahannya.
    Tingkat keselamatan dan kehandalan sebuah fasilitas terkait langsung dengan perilaku para pekerjanya. Semua perilaku manusia, yang baik ataupun yang buruk, dikuatkan oleh konsekuensi langsung atau pengalaman masa lalunya. Sebuah perilaku dikuatkan oleh konsekuensi yang individu tersebut alami ketika perilaku tertentu dilakukan. Karena perilaku dipengaruhi oleh konsekuensi yang pekerja itu alami, apa yang terjadi ketika seorang pekerja menunjukkan perilaku tertentu adalah hal yang penting untuk meningkatkan kinerja manusia.

    5. Kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan/sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan di masa lalu.
    Peningkatan kinerja dapat diraih dengan menerapkan tindakan perbaikan sebuah investigasi/analisa kecelakaan. Belajar dari kesalahan diri sendiri dan orang lain adalah hal yang reaktif, namun menjadi hal yang penting sebagai bentuk perbaikan berkelanjutan.

    Manusia tidak berbuat salah secara sengaja. Kesalahan (error) adalah tindakan manusia yang tidak disengaja yang menyimpang dari tindakan yang diharapkan. Kesalahan adalah tindakan tak terencana atau dipikirkan terlebih dahulu. Kesalahan manusia (human error) terjadi akibat ketidakcocokan antara keterbatasan manusia dengan kondisi lingkungan di tempat kerja, termasuk ketidaksesuaian manajemen, kepemimpinan dan kelemahan organisasi yang membuat kondisi tersebut muncul.

    Luput (slips) terjadi ketika suatu aksi fisik gagal mewujudkan hasil yang diinginkan. Sedang khilaf (lapses) melibatkan kegagalan terkait ingatan atau mengingat ulang.

    Beberapa hal berikut bisa menjelaskan bagaimana ketidaktepatan atau aksi yang salah bisa terjadi:
    – Waktu (Terlalu cepat, terlalu lambat, alpa)
    – Durasi (Terlalu lama, terlalu singkat)
    – Urutan (Terbalik, berulang-ulang, gangguan)
    – Obyek (Salah tindakan di obyek yang benar, tindakan bertindak di obyek yang salah)
    – Tekananan (Terlalu sedikit atau terlalu banyak tekanan)
    – Arahan (Salah memberikan arahan)
    – Kecepatan (Terlalu cepat atau terlalu lambat)
    – Jarak (Terlalu jauh, terlalu dekat)

    Keliru (mistake), sebaliknya, terjadi ketika seseorang mempergunakan rencana yang tidak memadai untuk mencapai hasil yang diinginkan. Kekeliruan biasanya melibatkan kesalahan interpretasi atau kurangnya pengetahuan.
    Manusia memiliki karakter fisik, biologi, sosial, mental, dan emosi yang membentuk kecenderungan, kemampuan dan juga menentukan keterbatasannya.
    Salah satu ciri manusia adalah ketidaktepatannya. Tidak seperti mesin yang selalu tepat setiap saat, manusia cenderung tidak tepat, terutama dalam kondisi tertentu, semisal dalam tekanan stres dan waktu yang besar. Karena sifat manusiawi inilah, pekerja cenderung rentan terhadap kondisi eksternal yang membuat mereka melampaui batasan sifat manusianya. Kerentanan inilah yang membuat pekerja bisa berbuat salah. Kerentanan ini juga terjadi ketika manusia bekerja dalam sistem yang rumit (perangkat lunak maupun administratif)
    Beberapa karakter manusia dibawah ini perlu diperhatikan, terutama ketika menempatkan pekerja di sistem kerja yang rumit:
    1. Stres
    Pada dasarnya, stres bukanlah hal yang buruk. Beberapa kondisi stres merupakan hal yang normal dan sehat. Stres bahkan dapat meningkatkan fokus sehingga menguntungkan. Namun, stres bisa terakumulasi dan menguasai seseorang, sehingga pada akhirnya melumpuhkan kinerja.

    2. Menghindari kelelahan pikiran
    Manusia cenderung enggan berpikir/konsentrasi/fokus dalam jangka waktu yang lama karena melelahkan. Berpikir adalah proses yang membutuhkan usaha yang besar dan juga lambat, akhirnya manusia cenderung mencari pola yang dikenalnya dan menerapkan solusi yang sudah pernah diterapkan. Polanya bisa berupa:
    – Asumsi -menerima suatu kondisi sebagai suatu hal yang benar tanpa verifikasi terlebih dahulu
    – Kebiasaan –pola perilaku dibawah sadar sebagai hasil dari pengulangan yang sering
    – Bias konfirmasi –keengganan untuk menerapkan solusi terbaru karena bias pemikiran yang ada akibat investasi waktu dan usaha yang diperlukan untuk menerapkan solusi terbaru itu. Bias ini terjadi karena otak sudah melihat hasil dari solusi sebelumnya dan menolak data/fakta mengenai keberhasilan solusi yang baru
    – Bias kesamaan –kecenderungan untuk mengambil solusi dari kondisi yang serupa yang berhasil di masa lalu
    – Bias frekuensi – mencoba solusi yang sudah berhasil dan sering dipakai
    – Bias ketersediaan –kecenderungan untuk menerapkan solusi yang tersedia/muncul dalam pikiran.

    3. Keterbatasan memori kerja
    Ingatan jangka pendek (short term memory) adalah tempat kerja/memori kerja bagi penyelesaian masalah dan pengambilan kebutusan. Ingatan jangka pendek dipergunakan untuk menyimpan informasi baru dan aktif dipergunakan ketika belajar, menyimpan dan memanggil (recall) informasi. Inilah yang menyebabkan pekerja lupa, terutama ketika berkerja dengan prosedur yang rumit.

    4. Keterbatasan fokus perhatian
    Keterbatasan kemampuan berkonsentrasi pada dua atau lebih aktifitas menurunkan kemampuan untuk memproses informasi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah. Fokus perhatian sangatlah terbatas, jika diambil oleh satu hal maka dia akan menarik diri dari hal yang lain.

    5. Pola pikir
    Manusia cenderung fokus pada apa yang hendak dicapai daripada pada fokus pada apa yang harus dihindari, karenanya, manusia hanya melihat apa yang pikirannya harapkan/inginkan untuk dilihat. Otak manusia cenderung mencari keteraturan, setelah didapat, maka ia akan mengacuhkan selain itu; dengan demikian ia akan melewatkan kondisi yang tidak diperkirakan.

    5. Sulit melihat kesalahannya sendiri
    Individu, terutama yang bekerja sendiri, rentan terhadap kesalahan. Pekerja yang terlalu asyik dengan kerjaannya, atau disibukkan dengan suatu hal, bisa jadi gagal untuk dapat mengidentifikasi ketidaknormalan.

    6. Keterbatasan perspektif
    Manusia tidak bisa melihat semua hal yang ada ditempat kerja untuk dilihat. Keterbatasan manusia untuk menerima semua fakta dapat menghalangi keputusannya untuk memecahkan masalah.

    7. Rentan terhadap faktor emosional/sosial
    Kemarahan atau rasa malu bisa menurunkan kinerja seorang pekerja atau kelompok kerja.

    8. Kelelahan
    Lelah secara fisik, emosi dan mental bisa mengarah ke tindakan yang salah dan pengambilan keputusan yang tidak tepat. Kelelahan dapat diakibatkan oleh faktor di dalam pekerjaan (tekanan produksi, lingkungan, dan kurangnya jumlah pekerja) dan faktor d iluar pekerjaan (pola makan dan tidur). Kelelahan memperburuk pengambilan keputusan, menurunkan kewaspadaan, memperlambat proses berpikir dan waktu reaksi, menghilangkan kewaspadaan kepada lingkungan (situational awareness) dan mendorong seseorang mengambil jalan pintas (shortcut).

    9. Presenteeism
    Beberapa pekerja akan tetap memaksakan hadir dan bekerja meskipun kemampuan kerjanya sudah menurun karena penyakit atau cedera. Kecenderungan pekerja tetap melanjutkan pekerjaan meski memiliki masalah kesehatan yang ringan dapat diakibatkan oleh kurangnya cuti sakit, menumpuknya pekerjaan atau tidak tersedianya akses pelayanan kesehatan.

    10. Sikap tidak aman
    Sikap dapat diartikan sebagai kondisi mental atau perasaan terhadap suatu obyek atau subyek. Dikatakan bahwa persepsi seseorang terhadap resiko lebih banyak dipengaruhi oleh hatinya ketimbang otaknya. Beberapa sikap yang dapat menimbulkan resiko berbuat salah misalnya:

    – Rasa bangga. Kebanggaan berlebih terhadap kemampuan diri sendiri; sombong. Terlalu fokus pada diri sendiri dan berlebihan rasa bangga cenderung membutakan kita akan hal-hal yang dapat dilakukan oleh orang lain, menurunkan kepercayaan terhadap kerjasama tim.
    – Heroik. Keberanian yang berlebihan. Reaksi heroic biasanya impulsif, ada pemikiran dalam dirinya bahwa pekerjaan harus dilakukan secara cepat atau dianggap gagal. Perspektif ini ditandai dengan fokus berlebih pada tujuan tanpa mempertimbangkan bahaya yang harus dihindari
    – Fatalistic. Sikap kalahan yang meyakini bahwa setiap kejadian sudah ditentukan, tidak bisa dihindari, dan tidak ada yang dapat dilakukan untuk menghindari takdir
    – Invulnerability. Memiliki rasa kebal terhadap kesalahan/tidak mungkin berbuat salah, gagal atau cedera. Kebanyakan orang tidak percaya bahwa mereka akan berbuat salah: “tidak mungkin terjadi pada diriku.” Padahal, kesalahan selalu mengejutkan ketika terjadi, sebagai akibat dari keterbatasan/ketidak akuratan manusia dalam memperhitungkan resiko
    – Pollyanna (rasa optimis berlebihan). Manusia mencari keteraturan dalam lingkungan, bukan ketidakteraturan. Memiliki kecenderungan mengisi kekosongan persepsi dan melihat secara keseluruhan ketimbang per bagian. Akibatnya, secara tidak sadar mereka meyakini bahwa segala sesuatu akan berjalan sesuai yang direncanakan. Hal yang bisa terjadi ketika melakukan pekerjaan rutin adalah tanpa sadar meyakini bahwa tidak ada satupun yang bisa berjalan tidak sesuai rencana/salah. Sikap ini membuat ketidakakuratan dalam memperhitungkan resiko dan mengacuhkan situasi atau bahaya yang tidak biasa, sehingga menyebabkan mereka terlambat atau bahkan tidak bereaksi
    – Sikap “Ban gundul”. Kinerja masa lalu terkadang menjadi pembenaran untuk tidak merubah (melakukan perbaikan) praktek atau kondisi yang sudah ada: “saya sudah berkendara 100.000 KM tanpa sekalipun mengalami ban bocor.” Kesuksesan bisa membuat kepuasan dan kepercayaan diri berlebih. Kalimat yang biasa digunakan misalnya, “kita tidak pernah mengalami masalah seperti ini di masa lalu,” atau “kita selalu melakukannya dengan cara seperti ini.”
    Bekerja dalam kelompok juga tidak membuat manusia bebas dari kesalahan. Kesalahan kelompok (team error) bisa terjadi akibat interaksi antara anggota kelompok kerja.
    Kesalahan kelompok bisa diakibatkan oleh beberapa hal, diantaranya:
    1. Efek halo
    Kepercayaan buta akan kompetensi seseorang dikarenakan pengalaman atau pendidikannya. Hal ini mengakibatkan antar anggota kelompok menurunkan kewaspadaannya terhadap kesalahan yang dapat diakibatkan oleh individu yang kompeten; tidak memeriksa tindakan seorang yang kompeten
    2. Pilot-Co-pilot
    Keengganan pekerja junior (co-pilot) untuk menentang pendapat, keputusan atau tindakan pekerja senior (pilot) karena posisinya di dalam struktur organisasi perusahaan. Bawahan menunjukkan sopan santun berlebihan ketika berinteraksi dengan manajer senior, tanpa sadar menerima perkataan bos tanpa berpikir kritis atau berbeda pendapat terhadap tindakan dan keputusannya.
    3. Menumpang/mengikuti saja
    Kecenderungan untuk “menumpang” (ikut-ikutan saja) tanpa secara aktif mengevaluasi maksud dan tindakan pekerja yang melakukan pekerjaan atau mengambil inisiatif. Orang lain yang mengambil inisiatif untuk melakukan pekerjaan, sementara si penumpang hanya mengambil peran pasif.
    4. Berpikir grup
    Kepaduan, loyalitas, konsensus dan komitmen adalah hal yang baik jika ada di dalam kelompok kerja. Namun, terkadang, hal-hal tersebut bisa menurunkan kualitas keputusan tim. Contohnya, ada keenganan untuk berbagi informasi yang berbeda untuk menjaga keharmonisan tim. Kondisi itu bisa diperparah jika ada anggota grup yang dominan dan memberikan pengaruh yang kuat dalam pola pikir grup (pilot/co-pilot atau efek halo). Akibatnya, informasi yang penting bisa jadi tidak terbagi kepada anggota kelompok.

    Difusi tanggung jawab bisa jadi berisiko dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah kelompok. Jika dua atau lebih pekerja sepakat akan sesuatu yang dianggap cara yang terbaik dalam melakukan sesuatu, maka mereka akan lebih mudah mengambil resiko dan mengabaikan prosedur atau kebijakan yang ada. Fenomena ini bisa disebut mentalitas gembala (herd mentality).


    Nama : Raka Muhammad Endramanto
    Npm : 167051973
    Semester : II
    Kelas : A1

  38. Memahami Kesalahan Manusia (Human Eror)

    Semua pekerja bisa melakukan kesalahan (eror), tak terkecuali pekerja yang sudah terlatih dan memiliki motivasi kerja yang baik. Beberapa kesalahan bisa menghasilkan konsekuensi cedera/kecelakaan, sedangkan banyak kesalahan lainnya tidak. Karenanya, penting bagi praktisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) untuk dapat memahami prinsip yang melatarbelakangi kesalahan manusia.

    Hampir 80% kejadian terkait dengan kesalahan manusia, data dari Departemen Energi Amerika bahkan mengatakan bahwa di beberapa industri, porsi kesalahan manusia bisa mencapai 90%; hanya sekitar 20% yang terkait kegagalan peralatan.

    Jika angka 80% kesalahan manusia didetailkan lebih lanjut, terungkap bahwa sebagian besar (70%) kesalahan pekerja diakibatkan oleh kelemahan laten organisasi/preusahaan (kelemahan yang dibuat oleh pekerja lain di masa lalu yang tidak nampak karena tidak menimbulkan masalah), sedangkan 30% lainnya terjadi oleh pekerja yang menangani peralatan atau sistem di area kerja.

    Kecelakaan-kecelakaan yang telah terjadi mengajarkan bahwa kita tidak boleh menyalahkan kecelakaan hanya kepada pekerja saja, karena yang sebetulnya terjadi adalah proses dan nilai di dalam organisasi/perusahaan berkontribusi besar pada myoritas kecelakaan. Akar penyebab kecelakaan merupakan kombinasi dari beberapa faktor, banyak diantaranya di luar kendali dari pekerja. Ada 5 prinsin dasar yang harus terlebih dahulu dimengerti untuk dapat memahami faktor manusia.

    1. Semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerja yang paling hebat pun bisa salah.
    Tidak ada satupun pekerja yang kebal/anti kesalahan,berapapun usia, pengalaman atau tingkat pendidikannya. Karenanya dikenali istilah “to err is human” (berbuat salah adalah manusiawi). Tabiat manusiawi pekerja untuk bersikap tidak sempurna, sehingga pada akhirnya, kesalahan dapat terjadi. Tidak ada pelatihan atau konseling yang dapat mengubah kerentanan manusia ini.
    Dr. James Reason, penulis Human Eror (1990) mengatakan: adalah penting bagi tiap pekerja terutama managernya, untuk menjadi lebih mawas diri akan potensi manusia berbuat salah. Pekerjaan, tempat kerja dan faktor organisasi membentuk kemungkinan (likelihood) dan konsekuensi ( consequences). Memahami bagaimana dan mengapa tindakan tidak aman terjadi adalah langkah awal penting dalam mengelola kesalahan dengan efektif.

    2. Situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diprediksi, dikelola dan dicegah.
    Meskipun secara umum kesalahan manusia adalah hal yang pasti, beberapa kesalahan yang spesifik dapat di cegah. Seperti halnya jika seseorang menulis formulir penarikan rekening bank di aeal tahun baru akan memiliki potensi besar salah menulis tahun sebelumnya, prediksi semacam ini bisa juga dibangun dalam konteks bekerja di tempat kerja. Dengan mengubah situasi kerja untuk mencegah, menghilangkan atau mengurangi kondisi yang bisa menyebabkan kesalahan, pekerjaaan dan faktor individu di tempat kerja bisa dikelola untuk mencegah atau setidaknya mengurangi peluang terjadinya kesalahan.

    3. Perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi.
    Organisasi digerakkan oleh tujuan, karena itu, proses dan nilai-nilai yang ada di dalamnya dikembangkan untuk mngarahkan perilaku setiap individu dalam organisasi. Organisasi mencerminkan bagaimana pekerjaan dipecah menjadi tugas-tugas tertentu dan dikoordinasikan untuk mencapai sasaran dengan selamat dan handal. Tugas manajemen untuk mengarahkan perilaku pekerja.

    4. Pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan, rekan kerja dan bawahannya.
    Tingkat keselamatan dan kehandalan sebuah fasilitas terkait langsung dengan perilaku para pekerjanya. Semua perilaku manusia, yang baik dan yang buruk, dikuatkan oleh konsekuensi langsung atau pengalaman masa lalunya. Sebuah perilaku dikuatkan olehkonsekuensi yang individu tersebut alami ketika perilaku tersebut alami ketika perilaku tertentu dilakukan. Karena perilaku dipengaruhi oleh konsekuensi para pekerja alami, apa yang terjadi ketika seorang pekerja menunjukkan perilaku tertentu adalah hal yang penting untuk meningkatkan kinerja manusia.

    5. Kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan/sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan di masa lalu.
    Peningkata kinerja dapat diraih dengan menerapkan tindakan perbaikan sebuah investigasi/analisa kecelakaan. Belajar dari kesalahan diri sendiri dan orang lain adalah hal yang reaktif, namun menjadi hal yang penting sebagai bentuk perbaikan berkelanjutan.

    Manusia tidak berbuat salah secara sengaja. Kesalahan (error) adalah tindakan manusia yang tidak disengaja yang menyimpang dari tindakan yang diharapkan. Kesalahan adalah tindakan tak terencana atau dipikirkan terlebih dahulu. Kesalahan manusia (Human Error) terjadi akibat ketidakcocokan antara keterbatasan manusia dengan kondisi lingkungan di tempat kerja, termasuk ketidaksesuaian manajemen, kepemimpinan dan kelemahan organisasi yang membuat kondisi tersebut muncul.

    Luput (slips) terjadi ketika suatu aksi fisik gagal mewujudkan hasil yang diinginkan. Sedang khilaf (Lapses) melibatkan kegagalan terkait ingatan atau mengingat ulang.

    Beberapa hal berikut bisa menjelaskan bagaimana ketidakpastian atau aksi yang salah bisa terjadi:
    * Waktu-terlalu cepat, terlalu lambat, alpa
    * Durasi-terlalu lama, terlalu singkat
    * Urutan-terbalik, berulang-ulang, gangguan
    * Obyek-salah tindakan di obyek yang benar, tindakan bertindak di obyek yang salah
    * Tekanan-teralu sedikit atau terlalu banyak tekanan
    * Arahan-salah memberikan arahan
    * Kecepatan-terlalu cepat atau terlalu lambat,dan
    * Jarak-terlalu jauh, terlalu dekat.

    Keliru (mistakes), sebaliknya, terjadi ketika seseorang mempergunakan rencana yang tidak memadai untuk mencapai hasil yang diinginkan. Kekeliruan biasanya melibatkan kesalahan interpretasi atau kurangnya pengetahuan.
    Manusia memiliki karakter fisik, biologi, sosial, mental, dan emosi yang membentuk kecenderungan, kemampuan dan juga menentukan keterbatasannya. Salah satu ciri manusia adalah ketidaktepatannya. Tidak seperti mesin yang selalu tepat setiap saat, manusia cenderung tidak tepat, trauma dalam kondisi tertentu, semisal dalam tekanan stress dan waktu yang besar. Karena sifat inilah manusia cenderung bisa berbuat salah.
    Beberapa karakter manusia dibawah ini perlu diperhatikan, terutama ketika menempatkan pekerja di sistem kerja yang rumit:
    Stres. Pada dasarnya, stres bukanlah hal yang buruk. Beberapa kondisi stres merupakan hal yang normal dan sehat. Stres bahkan dapat meningkatkan fokus sehinga menguntungkan. Namun, stres bisa terakumulasi dan menguasai seseorang, sehingga pada akhirnya melumpuhkan kinerjanya.

    Menghindari kelelahan pikiran. Manusia cenderung enggan berpikir/konsentrasi/fokus dalam jangka waktu yang lama karena melelahkan. Berpikir adalah proses yang membutuhkan usaha yang besar dan juga lambat, akhirnya manusia cenderung mencari pola yang dikenalnya dan menerapkan solusi yang sudah pernah diterapkan. Polanya bisa berupa:
    * Asumsi -menerima suatu kondisi sebagai suatu hal yang benar tanpa verifikasi terlebih dahulu
    * Kebiasaan -pola perilaku dibawah sadar sebagai hasil dari pengulangan yang sering
    * Bias konfirmasi -keengganan untuk menerapkan solusi terbaru karena bias pemikiran yang ada akibat investasi waktu dan usaha yang diperlukan untuk menerapkan solusi terbaru itu.
    * Bias kesamaan -kecenderungan untuk mengambil solusi dari kondisi yang serupa yang berhasil di masa lalu
    * Bias frekuensi -mencoba solusi yang sudah berhasil dan sering dipakai
    * Bias ketersediaan -kecenderungan untuk menerapkan solusi yang tersedia/muncul dalam pikiran.

    Keterbatasan memori kerja. Ingatan jangka pendek (Short Term Memory) adalah tempa kerja/memori kerja bagi penyelesaian masalah dan pengambilan kebutusan.
    Keterbatasan fokus perhatian. Keterbatasan kemampuan berkonsentrasi pada dua atau lebih aktifitas menurunkan kemampuan untuk memproses informasi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah.
    Pola pikir. Manusia cenderung fokus pada apa yang hendak dicapai daripada fokus pada apa yang harus dihindari, karenanya, manusia hanya melihat apa yang pikirannya harapkan/iginkan untuk dilihat.
    Sulit melihat kesalahannya sendiri. Individu, terutama yang bekerja sendiri, rentan terhadap kesalahan. Pekerja yang terlalu asyik dengan pekerjaannya, atau disibukkan dengan suatu hal, bisa jadi gagal untuk dapat mengidentifikasi ketidaknormalan.
    Keterbatasan prespektif. Manusia tidak bisa melihat semua hal yang ada di tempat kerja untuk dilihat.
    Rentan terhadap faktor emosional/sosial. Kemarahan atau rasa malu bisa menurunkan kinerja seorang pekerja atau kelompok kerja.
    Kelelahan. Lelah secara fisik, emosi dan mental bisa mengarah ke tindakan yang salah dan pengambilan keputusan yang tidak tepat.
    Presenteeism. Beberapa pekerja akan tetap memaksakan hadir dan bekerja meskipun kemampuan kerjanya sudah menurun karena penyakit atau cidera.
    Sikap tidak aman. Sikap dapat diartikan sebagai kondisi mental atau perasaan terhadap suatu obyek atau subyek. Beberapa sikap yang dapat menimbulkan resiko berbuat salah misalnya:
    * Rasa bangga. Kebanggaan berlebih terhadap kemampuan diri sendiri; sombong.
    * Heroik. Keberanian yang berlebiha.
    * Fatalistic. Sikap kelelahan yang meyakini bahwa setiap kejadian sudah ditentukan, tidak bisa dihindari, dan tidak ada yang dapat dilakukan untuk menghindari takdir.
    * Invulnerability. Memiliki rasa kebal terhadap kesalahan/tidak mungkin melakukan kesalahan, gagal atau cidera.
    * Pollyanna (rasa optimis berlebihan). Manusia mencari keteraturan dalam lingkungan, bukan ketidakteraturan.
    * Sikap “Ban gundul”. Kinerja masa lalu terkadang menjadi pembenaran untuk tidak merubah(melakukan perbaikan) praktek atau kondisi yang sudah ada.
    Efek halo – Kepercayaan buta akan kompetensi seseorang dikarenakan pengalaman atau pendidikannya.
    Pilot-Co-pilot – Keengganan pekerja junior (co-pilot) untuk menentang pendapat, keputusan atau tindakan pekerja senior (pilot) karena posisinya di dalam struktur organisasi perusahaan.
    Menumpang/mengikuti saja – Kecenderungan untuk “menumpang” (ikut-ikutan saja) tanpa secara aktif mengevaluasi maksud dan tidakan pekerja yang melakukan pekerjaan atau mengambil inisiatif.
    * Berpikir grup – Kepaduan, loyalitas, konsensus dan komitmen adalah hal yang baik jika ada di dala kelompok kerja.
    Difusi tanggung jawab bisa jadi berisiko dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah kelompok.


    Nama: Muhammad Jayadi Burhans Maramis
    NIM: 167051989
    Semester: II
    Kelas: A1

  39. TUGAS PERBAIKAN KE-1


    Memahami Kesalahan Manusia (Human Error)

    Semua pekerja bisa melakukan kesalahan yang disebabkan oleh manusia itu sendiri (human eror). Kesalahan (error) adalah tindakan manusia yang tidak disengaja yang menyimpang dari tindakan yang diharapkan. Kesalahan manusia dapat terjadi akibat ketidakcocokan antara keterbatasan manusia dengan kondisi lingkungan ditempat kerja, termasuk ketidaksesuaian manajemen, kepemimpinan dan kelemahan organisasi yang membuat kondisi tersebut muncul. Suatu kesalahan manusia juga bisa menghasilkan konsekuensi cedera/kecelakaan, sedang banyak kesalahan lainnya tidak. Karena kesalahan yang pasti akan terjadi, maka kemampuan untuk dapat mengidentifikasi suatu kesalahan di tahap awal, berguna untuk mencegah terjadinya kecelakaan. Oleh sebab itu, pentingnya bagi praktisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) untuk memahami prinsip yang melatarbelakangi kesalahan manusia.

    Hampir 80 % kejadian terkait dangan kesalahan manusia, Jika angka 80% kesalahan manusia didetailkan lebih lanjut, terungkap bahwa sebagian besar atau rata-rata sekitar 70% kesalahan pekerja diakibatkan oleh kelemahan laten organisasi/perusahaan ( kelemahan yang dibuat oleh pekerja lain di masa lalu yang tidak nampak karena tidak menimbulkan masalah) dan 30% lainnya terjadi oleh pekerja yang menangani peralatan atau sistem pada tempat kerja.
    Kecelakaan-kecelakaan yang terjadi telah mengajarkan kita bahwa kita tidak boleh menyalahkan kecelakaan hanya kepada para pekerja, karena yang terjadi adalah proses dan nilai di dalam perusahaan berkontribusi besar kepada kecelakaan.
    Ada 5 prinsip dasar yang harus terlebih dahulu dimengerti untuk dapat memahami faktor manusia yaitu:
    1. Semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerja yang paling hebat sekalipun bisa berbuat salah.
    Tidak satupun pekerja yang tidak pernah melakukan kesalahan, berapapun usianya, pengalaman atau tingkat pendidikannya. Karena itu dikenal istilah berbuat salah adalah manusiawi. Tabiat manusiawi pekerja untuk bersikap tidak sempurna, sehingga pada akhirnya, kesalahan dapat terjadi. Tidak ada pelatihan atau konseling yang dapat mengubah kerentanan manusia ini. Menurut Dr. James Reason, penulis Human Error (1990) mengatakan: penting bagi tiap pekerja, terutama managernya, untuk menjadi lebih mawas diri akan potensi manusia berbuat salah. Pekerjaan, tempat kerja dan factor organisasi membentuk kemungkinan (likelihood) dan konsekuensi (consequence). Memahami bagaimana dan mengapa tindakan tidak aman terjadi adalah langkah awal penting dalam mengelola kesalahan dengan efektif.
    2. Situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diprediksi, dikelola dan dicegah.
    Meskipun secara umum kesalahan manusia adalah hal yang pasti, beberapa kesalahan yang spesifik dapat dicegah. Seperti halnya jika seseorang menulis formulir penarikan rekening bank di awal tahun baru akan memiliki potensi besar salah menulis tahun sebelumnya, prediksi semacam ini bisa juga dibangun dalam konteks bekerja di tempat kerja.
    Dengan mengubah situasi kerja untuk mencegah, menghilangkan atau mengurangi kondisi yang bisa menyebabkan kesalahan, pekerjaan dan factor individu di tempat kerja bisa dikelola untuk mencegah peluang terjadinya kesalahan.
    3. Perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi.
    Organisasi digerakkan oleh tujuan, karena itu, proses dan nilai-nilai yang ada didalamnya dikembangkan untuk mengarahkan perilaku tiap individu di dalam organisasi. Organisasi mencerminkan bagaimana pekerjaan dipecah menjadi tugas-tugas tertentu dan dikoordinasikan untuk mencapai sasaran dengan selamat dan handal.
    4. Pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpina, rekan kerja dan bawahannya.
    Tingkat keselamatan dan kehandalan sebuah fasilitas terkait langsung dengan perilaku para pekerjanya. Karena perilaku dipengaruhi oleh konsekuensi yang pekerja itu alami, apa yang terjadi ketika seorang pekerja menunjukkan perilaku tertentu adalah hal yang penting untuk meningkatkan kinerja manusia.
    5. Kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan/sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan masa lalu.
    Peningkatan kinerja dapat diraih dengan menerapkan tindakan perbaikan sebuah investigasi/analisa kecelakaan. Belajar dari kesalahan diri sendiri dan orang lain adalah hal yang reaktif, namun menjadi hal yang penting sebagai bentuk perbaikan berkelanjutan.
    Dari kegiatan manusia dalam melakukan suatu pekerjaan, adapula kesalahan yang dilakukan secara tidak sengaja maupun disengaja, diantaranya yaitu :
    *Kesalahan manusia yang tidak disengaja terdiri dari :
    -Slips ( Luput ) adalah dimana aksi fisik manusia gagal mewujudkan hasil yang diinginkan.
    -Lapse ( khilaf ) adalah perbuatan salah yang tidak disengaja, bukan perbuatan yang melalui proses pemikiran apalagi direncanakan sebelumnya dan bukan yang dilakukan berulang – ulang.
    -Mistake ( kesalahan ) adalah suatu tindak kesalahan. Dalam arti tindak kesalahan yang tidak di sengaja seperti minimnya pengetahuan / ketidaktahuan yang berakibat kecelakaan dalam suatu pekerjaan.
    *Kesalahan manusia yang disengaja diantaranya yaitu, violation ( pelanggaran ) yang terdiri dari :
    -Routine (rutin) adalah pelanggaran yang disengaja secara rutin/sudah biasa dilakukan.
    -Exception(pengecualian) adalah suatu kesalahan yang sudah dianggap terlalu sering dilakukan, tetapi malah menjadi pengecualian.
    -Sabotage (sabotase) adalah sorang pekerja yang sengaja merusak citra perusahaan seperti peralatan, barang, perlengkapan yang ada dalam perusahaan.
    Ada beberapa hal yang bisa menjelaskan bagaimana ketidaktepatan atau aksi yang salah bisa terjadi, yaitu :
    a). Waktu – terlalu cepat, terlalu lambat, alpa
    b). Durasi – terlalu lama, terlalu singkat
    c). Urutan – terbalik, berulang – ulang, gangguan
    d). Objek – salah tindakan di objek yang benar, tindakan bertindak di objek yang salah
    e). Tekanan – terlalu sedikit atau terlalu banyak tekanan
    f). Arahan – salah memberi arahan
    g). Kecepatan – terlalu cepat atau terlalu lambat dan
    h). Jarak – terlalu jauh, terlalu dekat
    Beberapa karakter manusia dibawah ini perlu di perhatikan, terutama ketika menempatkan pekerja di system kerja yang rumit :
    a). Stres
    Stres bisa terakumulasi dan menguasai seseorang, sehingga pada akhirnya melumpuhkan kinerja.
    b). Menghindari kelelahan pikiran
    Berpikir membutuhkan usaha yang besar dan juga lambat, akhirnya manusia cenderung mencari pola yang sudah pernah diterapkannya. Polanya bisa berupa:
    • Asumsi, menerima suatu kondisi yang dianggap benar tanpa verifikasi dahulu
    • Kebiasaan, pola perilaku dibawah sadar sebagai hasil dari pengulangan
    • Bias konfirmasi, bias ini terjadi karena otak sudah melihat hasil dari solusi sebelumnya dan menolak fakta mengenai keberhasilan solusi baru
    • Bias kesamaan, kecenderungan mengambil solusi dari kondisi serupa yang berhasil di masa lalu
    • Bias frekuensi, mencoba solusi yang sudah berhasil dan sering dipakai
    • Bias ketersediaan, kecenderungan untuk menerapkan solusi yang tersedia
    c). Keterbatasan memori kerja
    Ingatan jangka pendek dipergunakan untuk menyimpan informasi baru ddan aktif dipergunakan ketika belajar, menyimpan dan recall informasi. Inilah yang menyebabkan pekerja lupa terutama ketika bekerja dengan prosedur rumit.
    d). Keterbatasan focus perhatian
    Fokus perhatian sangatlah terbatas, jika diambil oleh satu hal maka akan menarik diri dari hal lain.
    e). Pola pikir
    Otak manusiaa cenderung mencari keteraturan setelah didapat, dengan demikian ia akan melewatkan kondisi yang tidak diperkirakan.
    f). Sulit melihat kesalahannya sendiri
    Pekerja yang disibukkan dengan suatu hal sulit untuk dapat mengidentifikasi ketidaknormalan
    g). Keterbatasan perspektif
    keterbatasan manusia menerima semua fakta dapat menhalangi keputusan untuk memecahkan masalah
    h). Rentan terhadap factor emosional / social
    i). Kelelahan
    j). Presenteeism
    k). Sikap tidak aman
    Sikap dapat diartikan sebagai kondisi mental atau perasaan terhadap suatu objek atau subyek. Berikut beberapa sikap yang menimbulkan resiko berbuat salah misalnya:
    – Rasa bangga
    – Heroik
    – Fatalistic
    – Invulnerability
    – Pollyanna (rasa optimis berlebihan)
    – Sikap “Ban Gundul” (merasa puas dan percaya diri yang berlebih)
    Kesalahan kelompok (team error) bisa terjadi akibat interaksi antara anggota kelompok kerja. Kesalahan kelompok bisa di akibatkan oleh beberapa hal diantaranya :
    • Efek halo – kepercayaan buta akan kompetensi seseorang dikarenakan pengalaman atau pendidikannya
    • Pilot – Co – Pilot – keengganan pekerja junior untuk menentang pendapat pekerja senior karena posisinya di dalam struktur organisasi perusahaan
    • Menumpang / mengikuti saja – kecenderungan untuk ikut-ikut saja tanpa secara aktif mengevaluasi maksud dan tindakan pekerja yang inisiatif
    • Berfikir grup – terkadang ada keengganan untuk berbagi informasi kepada kelompok lain
    • Difusi tanggung jawab bisa jadi beresiko dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah kelompok.


    Nama : Olga Regina Yeusy
    NIM : 167051993
    Semester : II
    Kelas : A1

  40. TUGAS PERBAIKAN KE-1


    Human Error

    Semua pekerja bisa melakukan kesalahan (error), tak terkecuali pekerja yang sudah terlatih dan memiliki motivasi kerja yang baik. Beberapa kesalahan bias menghasilkan konsekuensi cidera/kecelakaan, sedangkan banyak kesalahan lainnya. Karena itu, penting bagi praktisi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) untuk dapat memahami prinsip yang melatarbelakangi kesalahan manusia. Karena setiap kesalahan pasti dapat terjadi, kemampuan untuk dapat mengidentifikasi kesalahan di tahap awal, yang dapat berguna untuk mencegah terjadinya kecelakaan di tempat kerja.

    Hampir 80% kecelekaan yang terjadi banyak terkait pada kesalahan manusia. Data dari Departemen Energi Amerika bahkan mengatakan bahwa di beberapa industry, kesalahan manusia bias mencapai 90% bahkan lebih dan sekitar 20% yang terkait kegagalan peralatan.
    Secara sederhana human error juga bisa disebabkan oleh tiga hal yang umum biasa terjadi dalam suatu perusahaan, seperti hal yang lebih menekankan kepada individu (kurangnya pelatihan atau training pada saat masa percobaan karyawan baru) atau yang bersifat manajem (dimana kurangnya peranan manajemen dalam mengatur para karyawan) serta yang lebih bersifat global (tekanan keuangan, waktu, serta perlakuan sosial dan budaya organisasi).
    Jika angka di atas menunjukkan 80% kesalahan manusia didetailkan lebih lanjut, terungkap bahwa sebagian besar (70%) kesalahan pekerja diakibatkan oleh kelemahan pada organisasi/perusahaan (kelemahan yang dibuat oleh pekerja lain di masa lalu yang tidak Nampak karena tidak menimbulkan masalah), sedangkan 30% lainnya terjadi oleh pekerja yang menangani peralatan atau sistem di area kerja.
    Kecelakaan-kecelakaan yang telah terjadi mengajarkan bahwa kita tidak boleh menyalahkan kecelakaan hanya pada pekerja, karena sebenarnya terjadi adalah proses dan nilai di dalam organisasi/perusahaan berkontribusi besar pada mayoritas kecelakaan. Akar penyebab kecelakaan merupakan kombinasi dari beberapa faktor, banyak diantaranya yang berada di luar kendali pekerja.

    Ada 5 prinsip dasar yang harus terlebih dahulu dimengerti untuk dapat memahami faktor manusia:
    1. Semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerja yang paling berpengalaman pun bisa melakukan kesalahan.
    Tidak ada satupun pekerja yang tidak melakukan kesalahan, berapapun usia, pengalaman atau tingkat pendidikan pekerja tersebut. Karenanya dikenal istilah “to err is human” (berbuat salah adalah manusiawi). Tabiat manusiawi pekerja untuk bersikap tidak sempurna, sehingga pada akhirnya, kesalahan dapat terjadi, tidak ada pelatihan atau konseling yang dapat mengubah kerentanan manusia ini.
    Dr. James Reason, penulis human error (1990) mengatakan adalah penting bagi tiap pekerja, terutama managernya, untuk menjadi lebih menjaga diri akan potensi manusia berbuat salah. Pekerja, tempat kerja dan faktor organisasi membentuk kemungkinan (likelihood) dan konsekuensi. Memahami bagaimana dan mengapa tindakan tidak aman terjadi adalah langkah awal penting dalam mengelola kesalahan dengan cara yang efektif.
    2. Situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diprediksi, dikelola dan dicegah.
    Meskipun secara umum kesalahan manusia adalah hal yang pasti, beberapa kesalahan yang spesifik dapat dicegah. Seperti halnya jika seseorang menulis formulir penarikan rekening bank di awal tahun baru akan memiliki potensi besar salah menulis tahun sebelumnya, dikarenakan prediksi semacam ini bisa juga dibangun dalam konteks bekerja di tempat kerja. Mengenali perangkap/jebakan kesalahan dan secara aktif mengkomunikasikan bahaya-bahaya tersebut ke orang lain adalah salah satu bentuk pengelolan kesalahan yang proaktif.
    Dengan mengubah situasi kerja untuk mencegah, menghilangkan atau mengurangi kondisi yang bisa menyebabkan kesalahan, pekerjaan dan faktor individu di tempat kerja bisa dikelola untuk mencegah terjadinya kesalahan.
    3. Perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi.
    Organisasi mencerminkan bagaimana pekerjaan dipecah menjadi tugas-tugas tertentu dan dikoordinasikan untuk mencapai sasaran dengan selamat dan handal. Tugas manajemen untuk mengarahkan perilaku para pekerja tersebut. Penyelesaian pekerjaan dalam konteks proses dan budaya organisasi, pengelolaan perencanaan dan sistem pengendali, berkontribusi paling besar dalam kesalahan manusia yang bisa mengakibatkan kecelakaan kerja.
    4. Pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan, rekan kerja dan bawahannya.
    Tingkat keselamatan dan kehandalan sebuah fasilitas terkait langsung dengan perilaku para pekerjannya. Semua perilaku manusia, yang baik maupun yang cukup buruk, dikuatkan oleh konsekuensi yang individu tersebut alami ketika perilaku tertentu dilakukan. Karena perilaku dipengaruhi oleh konsekuensi yang pekerja tersebut alami sendiri, apa yang terjadi ketika seorang pekerja menunjukkan perilaku tertentu adalah hal yang penting untuk meningkatkan kinerja manusia.
    5. Kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan/sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahn di masa lalu.
    Peningkatan kinerja dapat diraih dengan menerapkan tindakan perbaikan sebuah investigas/analisa kecelakaan. Belajar dari kesalahan diri sendiri dan orang lain adalah hal yang reaktif, namun menjadi hal yang penting sebagai bentuk perbaikan berkelanjutan.
    Manusia tidak berbuat salah secara sengaja. Kesalahan (error) adalah tindakan manusia yang tidak disengaja yang meyimpang dari tindakan yang diharapkan. Kesalahan adalah tindakan tak terencana atau dipikirkan terlebih dahulu. Kesalahan manusia terjadi akibat ketidakcocokan antara keterbatasan manusia dengan kondisi lingkungan di tempat kerja, termasuk ketidaksesuaian manajemen, kepemimpinan dan kelemahan organisasi yang membuat kondisi tersebut muncul.

    Tindakan tidak aman yang dilakukan oleh pekerja yang dilakukan secara sengaja maupun tidak sengaja. Sedangkan tindakan yang tidak sengaja didasari oleh slip, lapse dan untuk tindakan yang disengaja didasari oleh mistake dan violation.
    Luput (slips) terjadi ketika suatu aksi fisik gagal mewujudkan hasil yang diinginkan. Sedang khilaf (lapses) melibatkan kegagalan terkait ingatan atau mengingat ulang.
    Keliru (mistake) sebaliknya, terjadi ketika seseorang mempergunakan rencana yang tidak memadai untuk mencapai hasil yang diinginkan. Kekeliruan biasanya melibatkan kesalahan interpretasi atau kurangnya pengetahuan.
    Manusia memiliki karakteristik fisik biologi, social, mental dan emosi yang membentuk kecenderungan, kemampuan dan juga menentukan keterbatasannya. Salah satu cirri manusia adalah ketidaktepatannya. Tidak seperti mesin yang selalu tepat setiap saat, manusia cenderung tidak tepat, terutama dalam kondisi tertentu, misalnya dalam tekanan stress dan waktu yang besar. Karena manusia memiliki sifat tersebut, yang cenderung rentan terhadap kondisi eksternal yang membuat mereka melampaui batasan sifat manusianya. Kerentanan inilah yang membuat pekerja bisa berbuat salah. Kerentanan ini juga terjadi ketika manusia bekerja dalam sistem yang rumit (perangkat lunak maupun administratif).
    Beberapa karakter manusia perlu diperhatikan, terutama ketika menempatkan pekerja di sistem kerja yang rumit:
    – Stress
    – Menghindari kelelahan pikiran
    – Keterbatasan memori kerja
    – Keterbatasan fokus perhatian.
    – Pola pikir.
    – Sulit melihat kesalahannya sendiri
    – Keterbatasan perspektif
    – Rentan terhadap faktor emosional/social
    – Kelelahan (lelah secara fisik)
    – Presenteeism
    – Sikap tidak aman
    Bekerja dalam kelompok juga tidak membuat manusia bebas dari kesalahan. Kesalahan kelompok bisa terjadi akibat interaksi antara anggota kelompok kerja. Diantaranya:
    – Efek halo
    – Pilot-co-pilot
    – Menumpang/mengikuti aturan saja
    – Berpikir grup
    – Difusi tanggung jawab


    Nama : Rima Nur Zain
    NIM : 13.11.106.701501.0846
    Semester : VIII
    Kelas : A2

  41. RINGKASAN MATERI HUMAN ERROR

    Semua pekerja bisa melakukan kesalahan (error), tak terkecuali pekerja yang sudah terlatih dan memiliki motivasi kerja yang baik. Beberapa kesalahan bias menghasilkan konsekuensi cidera/kecelakaan, sedangkan banyak kesalahan lainnya. Karena itu, penting bagi praktisi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) untuk dapat memahami prinsip yang melatarbelakangi kesalahan manusia. Karena setiap kesalahan pasti dapat terjadi, kemampuan untuk dapat mengidentifikasi kesalahan di tahap awal, yang dapat berguna untuk mencegah terjadinya kecelakaan di tempat kerja.
    Hampir 80% kecelekaan yang terjadi banyak terkait pada kesalahan manusia. Data dari Departemen Energi Amerika bahkan mengatakan bahwa di beberapa industry, kesalahan manusia bias mencapai 90% bahkan lebih dan sekitar 20% yang terkait kegagalan peralatan.
    Secara sederhana human error juga bias disebabkan oleh tiga hal yang umum biasa terjadi dalam suatu perusahaan, seperti hal yang lebih menekankan kepada individu (kurangnya pelatihan atau training pada saat masa percobaan karyawan baru) atau yang bersifat manajem (dimana kurangnya peranan manajemen dalam mengatur para karyawan) serta yang lebih bersifat global (tekanan keuangan, waktu, serta perlakuan sosial dan budaya organisasi).
    Jika angka di atas menunjukkan 80% kesalahan manusia didetailkan lebih lanjut, terungkap bahwa sebagian besar (70%) kesalahan pekerja diakibatkan oleh kelemahan pada organisasi/perusahaan (kelemahan yang dibuat oleh pekerja lain di masa lalu yang tidak Nampak karena tidak menimbulkan masalah), sedangkan 30% lainnya terjadi oleh pekerja yang menangani peralatan atau sistem di area kerja.
    Kecelakaan-kecelakaan yang telah terjadi mengajarkan bahwa kita tidak boleh menyalahkan kecelakaan hanya pada pekerja, karena sebenarnya terjadi adalah proses dan nilai di dalam organisasi/perusahaan berkontribusi besar pada mayoritas kecelakaan. Akar penyebab kecelakaan merupakan kombinasi dari beberapa faktor, banyak diantaranya yang berada di luar kendali pekerja.

    Ada 5 prinsip dasar yang harus terlebih dahulu dimengerti untuk dapat memahami faktor manusia:
    1. Semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerja yang paling berpengalaman pun bisa melakukan kesalahan.
    Tidak ada satupun pekerja yang tidak melakukan kesalahan, berapapun usia, pengalaman atau tingkat pendidikan pekerja tersebut. Karenanya dikenal istilah “to err is human” (berbuat salah adalah manusiawi). Tabiat manusiawi pekerja untuk bersikap tidak sempurna, sehingga pada akhirnya, kesalahan dapat terjadi, tidak ada pelatihan atau konseling yang dapat mengubah kerentanan manusia ini.
    Dr. James Reason, penulis human error (1990) mengatakan adalah penting bagi tiap pekerja, terutama managernya, untuk menjadi lebih menjaga diri akan potensi manusia berbuat salah. Pekerja, tempat kerja dan faktor organisasi membentuk kemungkinan (likelihood) dan konsekuensi. Memahami bagaimana dan mengapa tindakan tidak aman terjadi adalah langkah awal penting dalam mengelola kesalahan dengan cara yang efektif.
    2. Situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diprediksi, dikelola dan dicegah.
    Meskipun secara umum kesalahan manusia adalah hal yang pasti, beberapa kesalahan yang spesifik dapat dicegah. Seperti halnya jika seseorang menulis formulir penarikan rekening bank di awal tahun baru akan memiliki potensi besar salah menulis tahun sebelumnya, dikarenakan prediksi semacam ini bisa juga dibangun dalam konteks bekerja di tempat kerja. Mengenali perangkap/jebakan kesalahan dan secara aktif mengkomunikasikan bahaya-bahaya tersebut ke orang lain adalah salah satu bentuk pengelolan kesalahan yang proaktif.
    Dengan mengubah situasi kerja untuk mencegah, menghilangkan atau mengurangi kondisi yang bisa menyebabkan kesalahan, pekerjaan dan faktor individu di tempat kerja bisa dikelola untuk mencegah terjadinya kesalahan.
    3. Perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi.
    Organisasi mencerminkan bagaimana pekerjaan dipecah menjadi tugas-tugas tertentu dan dikoordinasikan untuk mencapai sasaran dengan selamat dan handal. Tugas manajemen untuk mengarahkan perilaku para pekerja tersebut. Penyelesaian pekerjaan dalam konteks proses dan budaya organisasi, pengelolaan perencanaan dan sistem pengendali, berkontribusi paling besar dalam kesalahan manusia yang bisa mengakibatkan kecelakaan kerja.
    4. Pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan, rekan kerja dan bawahannya.
    Tingkat keselamatan dan kehandalan sebuah fasilitas terkait langsung dengan perilaku para pekerjannya. Semua perilaku manusia, yang baik maupun yang cukup buruk, dikuatkan oleh konsekuensi yang individu tersebut alami ketika perilaku tertentu dilakukan. Karena perilaku dipengaruhi oleh konsekuensi yang pekerja tersebut alami sendiri, apa yang terjadi ketika seorang pekerja menunjukkan perilaku tertentu adalah hal yang penting untuk meningkatkan kinerja manusia.
    5. Kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan/sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahn di masa lalu.
    Peningkatan kinerja dapat diraih dengan menerapkan tindakan perbaikan sebuah investigas/analisa kecelakaan. Belajar dari kesalahan diri sendiri dan orang lain adalah hal yang reaktif, namun menjadi hal yang penting sebagai bentuk perbaikan berkelanjutan.

    Manusia tidak berbuat salah secara sengaja. Kesalahan (error) adalah tindakan manusia yang tidak disengaja yang meyimpang dari tindakan yang diharapkan. Kesalahan adalah tindakan tak terencana atau dipikirkan terlebih dahulu. Kesalahan manusia terjadi akibat ketidakcocokan antara keterbatasan manusia dengan kondisi lingkungan di tempat kerja, termasuk ketidaksesuaian manajemen, kepemimpinan dan kelemahan organisasi yang membuat kondisi tersebut muncul.
    Luput (slips) terjadi ketika suatu aksi fisik gagal mewujudkan hasil yang diinginkan. Sedang khilaf (lapses) melibatkan kegagalan terkait ingatan atau mengingat ulang.
    Beberapa hal berikut bisa menjelaskan bagaimana ketidaktepatan atau aksi yang salah bisa terjadi:
    • Waktu – terlalu cepat, terlalu lambat;alpa
    • Durasi -terlalu lama, terlalu singkat
    • Urutan-terbalik, berulang-ulang, gangguan
    • Obyek -salah tindakan di obyek yang benar, tindakan bertindak di obyek yang salah.
    • Tekanan- terlalu sedikit atau terlalu banyak tekanan.
    • Arahan- salah memberikan arahan.
    • Kecepatan- terlalu cepat atau terlalu lambat, dan
    • Jarak- terlalu jauh, terlalu dekat.
    Keliru (mistake) sebaliknya, terjadi ketika seseorang mempergunakan rencana yang tidak memadai untuk mencapai hasil yang diinginkan. Kekeliruan biasanya melibatkan kesalahan interpretasi atau kurangnya pengetahuan.
    Manusia memiliki karakteristik fisik biologi, social, mental dan emosi yang membentuk kecenderungan, kemampuan dan juga menentukan keterbatasannya. Salah satu cirri manusia adalah ketidaktepatannya. Tidak seperti mesin yang selalu tepat setiap saat, manusia cenderung tidak tepat, terutama dalam kondisi tertentu, misalnya dalam tekanan stress dan waktu yang besar. Karena manusia memiliki sifat tersebut, yang cenderung rentan terhadap kondisi eksternal yang membuat mereka melampaui batasan sifat manusianya. Kerentanan inilah yang membuat pekerja bisa berbuat salah. Kerentanan ini juga terjadi ketika manusia bekerja dalam sistem yang rumit (perangkat lunak maupun administratif).
    Beberapa karakter manusia perlu diperhatikan, terutama ketika menempatkan pekerja di sistem kerja yang rumit:
    • Stres pada dasarrnya bukanlah hal yang buruk. Kondisi stress adalah hal yang normal dan sehat. Namun stress dapat menguasai seseorang sehingga pada akhirnya melumpuhkan kinerja.
    • Menghindari kelelahan pikiran (enggan berpikir/konsentrasi/fokus dalan jangka waktu yang lama).
    • Keterbatasan memori kerja (ingatan jangka pendek).
    • Keterbatasan fokus perhatian. (keterbatasan kemampuan berkonsentrasi)
    • Pola pikir.
    • Sulit melihat kesalahannya sendiri
    • Keterbatasan perspektif
    • Rentan terhadap faktor emosional/social. Kemarahan atau rasa malu bisa menurunkan kinerja pekerja.
    • Kelelahan, lelah secara fisik, emosi dan mental.
    • Presentetism
    • Sikap tidak aman seperti rasa bangga, heroic, fatalistic, invulnerability, Pollyanna, sikap “ban gundul”
    Bekerja dalam kelompok juga tidak membuat manusia bebas dari kesalahan. Kesalahan kelompok bisa terjadi akibat interaksi antara anggota kelompok kerja. Diantaranya:
    • Efek halo
    • Pilot-co-pilot
    • Menumpang/mengikuti aturan saja
    • Berpikir grup
    • Difusi tanggung jawab


    Nama : Muhamad Afin Abizal
    NIM : 13111067015010860
    Semester : VIII
    Kelas : A2

  42. Memahami Kesalahan Manusia (Human Error)

    Dewasa ini, hampir semua pekerjaan punya bahaya dan resiko masing masing. Banyak hal hal yang dapat menyebabkan suatu kecelakaan di sebuah perusahaan, salah satunya adalah karena faktor manusia atau yang bisa disebut Human Error. Semua pekerja bisa melakukan kesalahan yang daoat menyebabkan kecelakaan individu maupun di sekitarnya. Bahkan tidak sedikitpun pekerja pekerja yang sudah terlatih kerap melakukan kesalahan.
    Ketika terjadi suatu kecelakaan di perusahaan atau kantor, ada 2 (dua) faktor penyebab kecelakaan itu terjadi. 80% dikarenakan kesalahan manusia dan 20% dikarenakan kesalahan peralatan kantor atau perusahaan. Umumnya, kesalahan manusia disebabkan oleh 70% kesalahan organisasi dan 30% kesalahan individu. Ada 5 prinsip dasar yang harus dimengerti untuk dapat memahami faktor manusia.

    1. Semua manusia bisa berbuat salah. Bahkan pekerja yang paling hebat.
    Tidak ada satu pun pekerja yang anti atau keval terhadap kesalahan, berapapun usianya, sebanyak apapun pengalamannya, dan apapun latar belakang pendidikannya.
    Dr. James Reason , penulis human error (1990) mengatakan : penting bagi tiap pekerja dan managernya untuk menjadi lebih mawas diri terhadap potensi bahaya yang dapat menyebabkan kecelakaan yang dilakukan oleh manusia.

    2. Situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat di deteksi, di cegah, dan di kelola.
    Terdapat beberapa kecelakaan yang dapat dicegah. Seperti halnya jika seseorang menulis formulir penarikan uang di bank pada awal tahun baru. Ada kemungkinan salah menulis tahun sebelumnya. Prediksi semacam ini bisa juga di bangun di tempat kerja.

    3. Perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi.
    Organisasi mencerminkan bagaimana tugas dipecah pecah menjadi tugas tugas tertentu dan dikoordinasikan untuk mencapai sasaran yang handal dan tepat.

    4. Pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang di terimanya dari pimpinan,rekan kerja, dan bawahannya.
    Semua perilaku manusia, yang baik maupun buruk, dikuatkan oleh konsekuensi langsung atau pengalaman masa lalunya.

    5. Kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan atau sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan di masa lalu.
    Belajar dari kesalahan diri sendiri dan orang lain adalah hal yang reaktif, namun menjadi hal yang penting sebagai bentuk perbaikan berkelanjutan.

    Manusia tidak berbuat salah secara sengaja karena kesalahan (error) adalah tindakan manusia yang tidak sengaja yang menyimpang dari tindakan yang diharapkan. Kesalahan manusia (human error) terjadi akibat ketidakcocokan antara keterbatasan manusia dengan kondisi lingkungan di tempat kerja, termasuk ketidaksesuaian manajemen.
    Luput (slips) terjadi ketika suatu aksi fisik gagal mewujudkan hasil yang diinginkan. Sedangkan khilaf (lapses) melibatkan kegagalan terkait ingatan atau mengingat ulang.

    Beberapa hal berikut yang bisa menjelaskan bagaimana ketidaktepatan atau aksi yang salah bisa terjadi:
    • Waktu – terlalu cepat, terlalu lambat, alpa
    • Durasi – terlalu lama, terlalu singkat
    • Urutan – terbalik, berulang ulang, gangguan
    • Obyek – salah tindakan di obyek yang benar, tindakan bertindak di obyek yang salah
    • Tekanan – terlalu sedikit atau terlalu banyak
    • Arahan – salah memberi arahan
    • Kecepatan – terlalu cepat atau terlalu lambat
    • Jarak – terlalu jauh atau terlalu pendek
    Keliru (mistake), sebaliknya, terjadi ketika seseorang mempergunakan rencana yang tidak memadai untuk mencapai hasil yang diinginkan.
    Manusia memiliki karakter fisik, biologi, social, mental, dan emosi yang membentuk kecenderungan, kemampuan dan juga menentukan keterbatasannya dan salah satu ciri manusia adalah ketidaktepatannya. Manusia cenderung tidak tepat, terutama dalam kondisi tertentu, semisal dalam tekanan yang stress.
    Beberapa karakter manusia dibawah ini perlu diperhatikan:
    • Stress. Stress bisa terakuulasi dan menguasai seseorang sehingga pada akhirnya melumpuhkan suatu kinerja
    • Menghindari kelelahan pikiran. Manusia cenderung enggan berpikir atau focus atau konsentrasi dalam jangka waktu yang lama karena melelahkan. Akhirnya manusia cenderung mencari pola yang dikenalnya, seperti:
    1. Asumsi – menerima suatu kondisi sebagai suatu hal yang benar tanpa verifikasi terlebih dahulu.
    2. Kebiasaan – pola prilaku dibawah sadar sebagai hasil dari pengulangan yang sering
    3. Bias konfirmasi – keengganan untuk menerapkan solusi terbaru
    4. Bias kesamaan – kecenderungan untuk mengambil solusi dari kondisi yang serupa yang berhasil di masa lalu
    5. Bias frekuensi- mencoba solusi yang sudah berhasil dan sering dipakai
    6. Bias ketersediaan – kecenderungan untuk menerapkan solusi yang tersedia dalam pikiran
    • Keterbatasan memori kerja. Ingatan jangka pendek adalah tempat kerja atau memori kerja bagi penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan. Inilah yang menyebabkan pekerja lupa, terutama ketika bekerja dengan prosedur yang rumit.
    • Keterbatasan focus pehatian. Focus perhatian sangatlah terbatas, jika diambil oleh satu hal maka dia akan menarik diri dari hal yang lain.
    • Pola pikir. Otak manusia cenderung mencari keteraturan, setelah di dapat, maka ia akan mengacuhkan selain itu; dengan demikian ia akan melewatkan kondisi yang tidak diperkirakan.
    • Sulit melihat kesalahannya sendiri.
    • Keterbatasan perspektif. Keterbatasan manusia untuk menerima semua fakta dapat menghalangi keputusannya memecahkan masalah.
    • Rentan terhadap factor emosional.
    • Kelelahan. Lelah secara fisik, emosi dan mental bisa mengarah ketindakan yang salah dan pengambilan keputusan yang tidak tepat.
    • Presenteeism.
    • Sikap tidak aman. Beberapa sikap yang dapat menimbulkan resiko berbuat salah misalnya:
    1. Rasa bangga
    2. Heroic
    3. Fatalistik
    4. Pollyanna (rasa optimis berlebihan)
    5. Sikap “Ban Gundul”


    Nama : Resky Agus Syahputra
    NIM : 167051996
    Semester : II
    Kelas : A1

  43. TUGAS PERBAIKAN KE-1


    Memahami Kesalahan Manusia (Human Error)

    Semua pekerja bisa melakukan kesalahan (error), tak terkecuali pekerja yang sudah terlatih dan memiliki motivasi kerja yang baik. Beberapa konsekuensi seperti cerdera atau kecelakaan, sedang banyak kesalahan lainnya tidak. Karena itu, penting bagi pagi praktisi keselamatan dan kesehatan kerja
    (K3) untuk dapat memahami prinsip yang melatarbelakangi kesalahan manusia.
    Karena kesalahan pasti terjadi, kemampuan untuk dapat mengidentifikasi kesalahan di tahap awal, berguna untuk mencegah terjadinya kecelakaan.
    Hampir 80% kejadian atau kecelakaan terjadi akibat kesalahan manusia, jika angka 80% kesalahan manusia didetailkan lebih lanjut, terungkap bahwa sebagian besar kesalahan pekerja diakibatkan oleh kelemahan organisasi atau perusahaan (kelemahan yang dibuat oleh pekerja lain di masalalu yang tidak Nampak karena tidak menimbulkan masalah), sedangkan 30% lainnya terjadi oleh pekerja yang menangani peralatan atau sistem di area kerja.

    Ada 5 prinsip dasar yang harus terlebih dahulu dimengerti untuk dapat memahami factor manusia.
    1. Semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerja yang paling hebat pun bisa salah.
    Tidak ada satu pekerja pun yang kebal atau anti kesalahan, berapapun usia, pengalaman atau tingkat pendidikannya. Karena itu dikenal dengan istilah “to err is human” (berbuat salah adalah manusiawi).
    2. Situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat di prediksi, dikelola, dan dicegah.
    Secara umum kesalahan manusia adalah hal yang pasti, beberapa kesalahan yang spesifik dapat di cegah. Mengenali perangkap atau jebakan kesalahan dan secara aktif mengkomunikasikan bahaya-bahaya ke orang lain adalah salah satu bentuk pengelolaan kesalahan yang proaktif.
    3. Perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi.
    Organisasi digerakkan oleh tujuan, oleh karena itu, proses dan nilai-nilai yang ada di dalamnya dikembangkan untuk mengarah ke perilaku tiap individu di dalam organisasi. Organisasi mencerminkan bagaimana pekerja dipecah menjadi tugas-tugas tertentu dan dikoordinasikan untuk mencapai sasaran dengan selamat dan handal. Tugas manajemen untuk mengarahkan perilaku para pekerja.
    4. Pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan, rekan dan bawahannya.
    Tingkat keselamatan dan kehandalan sebuah fasilitas terkait langsung dengan perilaku para pekerjanya. semua perilaku manusia, yang baik maupun yang buruk, dikuatkan oleh konsekuensi langsung atau pengalaman masa lalunya. Karena perilaku dipengaruhi oleh konsekuensi yang pekerja itu alami, apa yang terjadi ketika seseorang pekerja menunjukkan perilaku tertentu adalah hal yang penting untuk meningkatkan kinerja manusia.
    5. Kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan atau sebab kejadian dan mengambil pekajaran dari kesalahan masa lalu
    Peningkatan kinerja dapat diraih dengan menerapkan tindakan perbaikan sebuah investigasi atau analisa kecelakaan. Belajar dari kesalahan diri sendiri dan orang lain adalah hal yang reaktif, namun menjadi hal yang penting sebagai bentuk perbaikan berkelanjutan.

    Manusia tidak berbuat salah secara sengaja. Kesalahan (error) adalah tindakan manusia yang tidak di sengaja yang menyimpang dari tindakan yang diharapkan. Kesalahan adalah tindakan tak terncana atau dipikirkan terlebih dahulu. Kesalahan manusia (human error) terjadi akibat ketidakcocokan antara keterbatasan manusia dengan kondisi lingkungan di tempat kerja, termasuk ketidaksesuaian manajemen, pemimpin dan kelemahan organisasi yang membuat kondisi tersebut muncul.

    Luput (slips)
    Terjadi ketika suatu aksi fisik gagal mewujudkan hasil yang diinginkan. Sedang khilaf (lapses) melibatkan kegagalan terkait ingatan atau mengingat ulang

    Beberapa hal berikut bisa menjelaskan bagaimana ketidaktepatan atau aksi yang salah bisa terjadi:
    a. Waktu
    -Terlalu cepat, terlalu lambat, alpa
    b. Durasi
    -Terlalu lama, terlalu singkat.
    c. Urutan
    -Terbalik, berulang-ulang, gangguan.
    d. Obyek
    -Salah tindakan di obyek yang benar, tindakan bertindak di obyek yang salah.
    e. Tekanan
    -Terlalu sedikit atau terlalu banyak tekanan.
    f. Arahan
    -Salah memberikan arahan
    g. Kecepatan
    -Terlalu cepat atau terlalu lambat .
    h. Jarak
    -Terlalu jauh, terlalu dekat.
    Keliru (mistake) Terjadi ketika seseorang mempergunakan rencana yang tidak memadai untuk mencapai hasil yang diinginkan.

    Bebrapa karakter manusia dibawah ini perlu diperhatikan, terutama ketika menempatkan pekerja di sistem kerja yang rumit:
    1. Stress
    Pada dasarnya stress bukanlah hal yang buruk, beberapa kondisi stress merupakan hal yang normal dan sehat. Stress bahkan dapat meningkatkan fokus sehingga menguntungkan. Namun, stres bisa terakumulasi dan menguasai seseorang, sehingga pada akhirnya melumpuhkan kierja.
    2. Menghindari kelelahan pikiran
    Manusia cenderung enggan berpikir atau konsentrasi atau fokus dalam jangka waktu yang lama karena melelahkan, oleh karena itu manusia akhirnya cenderung mencari pola yang dikenalnya dan menerapkan solusi yang sudah pernah di terapkan.
    3. Keterbatasan memorial kerja.
    Ingatan jangka pendek (short term memory) adalah tempat kerja atau memori kerja bagi penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan.
    4. Keterbatasan fokus perhatian
    Keterbatasan kemampuan berkonsentrasi pada dua atau lebih aktifitas menurunkan kemampuan untuk memproses informasi yang di butuhkan untuk menyelesaikan masalah.
    5. Pola pikir
    Manusia cendrung fokus pada apa yang hendak dicapai daripada fokus pada apa yang harus dihindari, karenanya, manusia hanya melihat apa yang dipikirannya atau yang diinginkan untuk dilihat.
    6. Sulit melihat kesalahannya sendiri
    Individu, terutama yang bekerja sendiri, rentan terhadap kesalahan. Pekerja yang terlalu asik dengan kerjaannya, bisa jadi gagal untuk dapat mengidentifikasi ketidaknormalan
    7. Rentan terhadap factor emosional atau social.
    Kemarahan atau rasa malu bisa menurunkan kinerja seorang pekerja atau kelompok kerja.
    8. Kelelahan
    Lelah secara fisik, emosi dan mental bisa mengarah ke tindakan yang salah dan pengambilan keputusan yang tidak tepat.
    9. Presenteeism
    Beberapa pekerja akan tetap memaksakan hadir dan bekerja meskipun kemampuan kerjanya sudah menurun karena penyakit atau cedera.
    10. Sikap tidak aman
    Dapat diartikan sebagai kondisi mental atau perasaan terhadap suatu obyek atau subyek. Persepsi seseorang terhadap resiko lebih banyak dipengaruhi oleh hatinya ketimbang otaknya.


    Nama: William Adrian Gofu
    NIM: 167052041
    Semester: II
    Kelas: A2

  44. TUGAS PERBAIKAN KE-1


    Memahami Kesalahan Manusia (human error)

    Semua pekerja bisa melakukan kesalahan (error), Beberapa kesalahan bisa menghasilkan konsekuensi cedera/kecelakaan, sedang banyak kesalahan lainnya tidak. Karenanya, penting bagi praktisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) untuk dapat memahami prinsip yang melatarbelakangi kesalahan manusia.
    Karena kesalahan pasti terjadi, kemampuan untuk dapat mengidentifikasi kesalahan di tahap awal, berguna untuk mencegah terjadinya kecelakaan. Hampir 80% kejadian terkait dengan kesalahan manusia, data dari Departemen Energi Amerika bahkan mengatakan bahwa di beberapa industri, porsi kesalahan manusia bisa mencapai 90%; hanya sekitar 20% yang terkait kegagalan peralatan.

    Jika angka 80% kesalahan manusia didetailkan lebih lanjut, terungkap bahwa sebagian besar (70%) kesalahan pekerja diakibatkan oleh kelemahan laten organisasi/perusahaan (kelemahan yang dibuat oleh pekerja lain di masa lalu yang tidak nampak karena tidak menimbulkan masalah), sedang 30% lainnya terjadi oleh pekerja yang menangani peralatan atau sistem di area kerja.

    Ada 5 prinsip dasar yang harus terlebih dahulu dimengerti untuk dapat memahami faktor manusia.

    1. semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerja yang paling hebat pun bisa salah.
    Tidak ada satupun pekerja yang kebal/anti kesalahan, berapapun usia, pengalaman atau tingkat pendidikannya. Karenanya dikenal istilah “to err is human” (berbuat salah adalah manusiawi). Tabiat manusiawi pekerja untuk bersikap tidak sempurna, sehingga pada akhirnya, kesalahan dapat terjadi.
    Dr. James Reason, penulis Human Error (1990) mengatakan: adalah penting bagi tiap pekerja, terutama managernya, untuk menjadi lebih mawas diri akan potensi manusia berbuat salah. Pekerjaan, tempat kerja dan faktor organisasasi membentuk kemungkinan (likelihood) dan konsekuensi (consequences). Memahami bagaimana dan mengapa tindakan tidak aman terjadi adalah langkah awal penting dalam mengelola kesalahan dengan efektif.

    2. situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diprediksi, dikelola dan dicegah.
    Meskipun secara umum kesalahan manusia adalah hal yang pasti, beberapa kesalahan yang spesifik dapat dicegah. Seperti halnya jika seseorang menulis formulir penarikan rekening bank di awal tahun baru akan memiliki potensi besar salah menulis tahun sebelumnya. Mengenali perangkap/jebakan kesalahan dan secara aktif mengkomunikasikan bahaya-bahaya tersebut ke orang lain adalah salah satu bentuk pengelolaan kesalahan yang proaktif. Dengan mengubah situasi kerja untuk mencegah, menghilangkan atau mengurangi kondisi yang bisa menyebabkan kesalahan, pekerjaan dan faktor individu di tempat kerja bisa dikelola untuk mencegah atau setidaknya mengurangi peluang terjadinya kesalahan.

    3. perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi.
    Organisasi digerakkan oleh tujuan, karena itu, proses dan nilai-nilai yang ada di dalamnya dikembangkan untuk mengarahkan perilaku tiap individu di dalam organisasi. Organisasi mencerminkan bagaimana pekerjaan dipecah menjadi tugas-tugas tertentu dan dikoordinasikan untuk mencapai sasaran dengan selamat dan handal. Tugas manajemen untuk mengarahkan perilaku para pekerja. Penyelesaian pekerjaan dalam konteks proses dan budaya organisasi, pengelolaan perencanaan dan sistem pengendali, berkontribusi paling besar dalam kesalahan manusia yang bisa mengakibatkan kecelakaan kerja.

    4. pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan, rekan kerja dan bawahannya.
    Tingkat keselamatan dan kehandalan sebuah fasilitas terkait langsung dengan perilaku para pekerjanya. Semua perilaku manusia, yang baik ataupun yang buruk, dikuatkan oleh konsekuensi langsung atau pengalaman masa lalunya. Sebuah perilaku dikuatkan oleh konsekuensi yang individu tersebut alami ketika perilaku tertentu dilakukan. Karena perilaku dipengaruhi oleh konsekuensi yang pekerja itu alami.

    5. kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan/sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan di masa lalu.
    Peningkatan kinerja dapat diraih dengan menerapkan tindakan perbaikan sebuah investigasi/analisa kecelakaan. Belajar dari kesalahan diri sendiri dan orang lain adalah hal yang reaktif, namun menjadi hal yang penting sebagai bentuk perbaikan berkelanjutan.

    Kesalahan (error) adalah tindakan manusia yang tidak disengaja yang menyimpang dari tindakan yang diharapkan. Kesalahan manusia (human error) terjadi akibat ketidakcocokan antara keterbatasan manusia dengan kondisi lingkungan di tempat kerja, termasuk ketidaksesuaian manajemen, kepemimpinan dan kelemahan organisasi yang membuat kondisi tersebut muncul. Luput (slips) terjadi ketika suatu aksi fisik gagal mewujudkan hasil yang diinginkan. Sedang khilaf (lapses) melibatkan kegagalan terkait ingatan atau mengingat ulang. Keliru (mistake), sebaliknya, terjadi ketika seseorang mempergunakan rencana yang tidak memadai untuk mencapai hasil yang diinginkan.
    Beberapa karakter manusia dibawah ini perlu diperhatikan, terutama ketika menempatkan pekerja di sistem kerja yang rumit:
    • stres
    • menghindari kelelahan pikiran
    • keterbatasan memori kerja
    • keterbatasan fokus perhatian
    • pola pikir
    • sulit melihat kesalahan sendiri
    • keterbatasan perspektif
    • rentan terhadap faktor emosional/sosial
    • kelelahan
    • Presenteeism
    • Sikap tidak aman

    Bekerja dalam kelompok juga tidak membuat manusia bebas dari kesalahan. Kesalahan kelompok (team error) bisa terjadi akibat interaksi antara anggota kelompok kerja. Kesalahan kelompok bisa diakibatkan oleh beberapa hal, diantaranya:
    • efek halo
    • pilot-co-pilot
    • menumpang/mengikuti saja
    • berpikir grup
    • difusi tanggung jawab


    Nama : Candra Kautsar
    NIM : 167051974
    Semester : II
    Kelas : A1

  45. TUGAS PERBAIKAN KE-1


    Memahami Kesalahan Manusia (Human Error)

    Semua pekerja bisa melakukan kesalahan (error). Tak terkecuali pekerja yang sudah terlatih dan memiliki motivasi kerja yang baik. Beberaa kesalahan bisa menghasilkan konsekuensi cedera/kecelakaan. Sedang banyak kesalahan lainnya tidak. Karenannya, penting bagi praktisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) untuk dapat memahami prinsip yang melatarbelakangi kesalahan manusia.
    Dari suatu kecelakaan kerja, hampir 80% penyebabnya adalah kesalahan manusia. Data dari Departemen Energi Amerika mengatakan bahwa porsi kesalahan manusia dalam kecelakaan hampir sebesar 90% , hanya sekitar 20% berasal dari peralatan. Dan jika didetailkan lebih terperinci, 30% terjadi pada individu pekerja yang menangani peralatan atau sistem di lingkungan kerja, dan 70% kesalahan diakibatkan oleh kelemahan organisasi.
    Namun kita tidak boleh menyalahkan suatu kecelakaan sepenuhnya kepada pekerja, karena yang sebenarnya terjadi adalah proses dan nilai di dalam organisasi/perusahaan berkontribusi besar pada mayoritas kecelakaan. Sebab akar penyebab kecelakaan itu sendiri merupakan kombinasi dari beberapa faktor, banyak diantaranya yang berada di luar kendali pekerja.

    Ada 5 prinsip dasar yang harus terlebih dahulu dimengerti untuk dapat memahami faktor manusia:
    1. Semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerja yang paling berpengalaman pun bisa melakukan kesalahan.
    semua pekerja pasti pernah melakukan salah, tidak memandang usia atau pengalaman bekerjanya. Karenanya dikenal istilah “to err is human” (berbuat salah adalah manusiawi). Tabiat manusiawi pekerja untuk bersikap tidak sempurna, sehingga pada akhirnya, kesalahan dapat terjadi, tidak ada pelatihan atau konseling yang dapat mengubah kerentanan manusia ini.
    Memahami bagaimana dan mengapa tindakan tidak aman terjadi adalah langkah awal penting dalam mengelola kesalahan dengan cara yang efektif.
    2. Situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diprediksi, dikelola dan dicegah.
    Meskipun secara umum kesalahan manusia adalah hal yang pasti, beberapa kesalahan yang spesifik dapat dicegah. Dengan mengubah situasi kerja untuk mencegah, menghilangkan atau mengurangi kondisi yang bisa menyebabkan kesalahan, pekerjaan dan faktor individu di tempat kerja bisa dikelola untuk mencegah terjadinya kesalahan.
    3. Perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi.
    Organisasi mencerminkan bagaimana pekerjaan dipecah menjadi tugas-tugas tertentu dan dikoordinasikan untuk mencapai sasaran dengan selamat dan handal.
    4. Pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan, rekan kerja dan bawahannya.
    Semua perilaku manusia dipengaruhi oleh konsekuensi yang pekerja itu alamiapa yang terjadi ketika pekerja menunjukkan perilaku tersebutadalah hal yang penting untuk meningkatkan kinerja manusia
    5. Kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan/sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan di masa lalu.
    Belajar dari kesalahan sendiri dan orang lain sebagai bentuk perbaikan berkelanjutan.

    • Unintended action ( Kesalahan yang tidak disengaja )
    1. Slip ( luput )
    adalah dimana aksi fisik manusia gagal mewujudkan hasil yang diinginkan.
    2. Lapse ( khilaf )
    Adalah kelalaian yang melibatkan kegagalan terkait ingatan atau memori
    3. Mistake
    Suatu keadaan dimana seseorang mempergunakan rencana yang tidak sesuai atau tidak memadai untuk mencapai hasil yang diinginkan

    • Intended action ( kesalahan yang disengaja )
    1. Violation ( penlanggaran )
    1. Routine violations
    Pelanggaran disengaja yang dilakukan secara rutin.
    2. Exceptional violations
    Pelanggaran yang dilakukan secara berulang-ulang.
    3. Sabotage
    Tindakan pengerusakan berupa alat, personel atau data perusahaan.

    Ada beberapa karakter manusia yang harus diperhatikan guna mengurangi kesalahan manusia ( human error ) :

    1. Stress
    Stress bisa terakumulasi dan menguasai seseorang, sehingga bisa melumpuhkan kinerja.
    2. Menghindari kelelahan pikiran
    Berpikir memerlukan usaha yang besar dan juga lambat sehingga mudah membuat kelelahan
    3. Short term memory
    Memori jangka pendek menyebabkan pekerja lupa, terutama dengan prosedur kerja yang rumit
    4. Keterbatasn fokus perhatian
    Keterbatasan kemampuan konsentrasi pada dua hal atau lebih menurunkan kemampuan untuk memproses informasi
    5. Rentan terhadap emosional
    Kemarahan atau rasa malu bisa menurukan kinerja dalam pekerjaan
    6. Kelelahan
    Lelah secara fisik, mental, dan emosional bisa mengarah ke tindakan yang salah dalam mengambil keputusan

    Bekerja dalam kelompok juga tidak membuat manusia bebas dari kesalahan. Kesalahan kelompok bisa terjadi akibat interaksi antara anggota kelompok kerja. Diantaranya:
    • Efek halo
    Kepercayaan buta akan kompetensi seseorang dikarenakan pengalaman atau pendidikannya.
    • Pilot-co-pilot
    Keengganan pekerja junior untuk menentang pendapat, keputusan, atau tindakan pekerja seniornya.
    • Menumpang/mengikuti aturan saja
    Kecenderungan “ikut-ikut saja” tanpa memahami maksud dan tindakan pekerja yang melakukan pekerjaan
    • Berpikir grup
    Keengganan berbagi informasi yang berbeda untuk keharmonisan tim
    • Difusi tanggung jawab
    Risiko dalam pengambilan keputusan berkelompok.


    Nama : Gilang Purnama
    NIM : 167051980
    Semester : II
    Kelas : A1

  46. TUGAS PERBAIKAN KE-1


    Memahami Kesalahan Manusia (Human Error)

    Semua pekerja bisa melakukan kesalahan (error), tak terkecuali pekerja yang sudah terlatih dan memiliki motivasi kerja yang baik. Beberapa kesalahan bisa menghasilkan konsekuensi cedera/kecelakaan, sedang banyak kesalahan lainnya tidak. Karenanya, penting bagi praktisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) untuk dapat memahami prinsip yang melatarbelakangi kesalahan manusia.

    Hampir 80% kejadian terkait dengan kesalahan manusia, data dari Departemen Energi Amerika bahkan mengatakan bahwa di beberapa industri, porsi kesalahan manusia bisa mencapai 90%; hanya sekitar 20% yang terkait kegagalan peralatan.

    Karena kesalahan pasti terjadi, kemampuan untuk dapat mengidentifikasi kesalahan di tahap awal, berguna untuk mencegah terjadinya kecelakaan. Grafik di bawah memperlihatkan porsi faktor manusia dan hubungannya dengan kecelakaan.

    Jika angka 80% kesalahan manusia didetailkan lebih lanjut, terungkap bahwa sebagian besar (70%) kesalahan pekerja diakibatkan oleh kelemahan laten organisasi/perusahaan (kelemahan yang dibuat oleh pekerja lain di masa lalu yang tidak nampak karena tidak menimbulkan masalah), sedang 30% lainnya terjadi oleh pekerja yang menangani peralatan atau sistem di area kerja.

    Kecelakaan-kecelakaan yang telah terjadi mengajarkan bahwa kita tidak boleh menyalahkan kecelakaan hanya kepada pekerja, karena yang sebetulnya terjadi adalah proses dan nilai di dalam organisasi/perusahaan berkontribusi besar pada mayoritas kecelakaan. Akar penyebab kecelakaan merupakan kombinasi dari beberapa faktor, banyak diantaranya yang berada di luar kendali pekerja.

    Ada 5 prinsip dasar yang harus terlebih dahulu dimengerti untuk dapat memahami faktor manusia.
    1. Semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerja yang paling hebat pun bisa salah.
    Tidak ada satupun pekerja yang kebal/anti kesalahan, berapapun usia, pengalaman atau tingkat pendidikannya. Karenanya dikenal istilah “to err is human” (berbuat salah adalah manusiawi). Tabiat manusiawi pekerja untuk bersikap tidak sempurna, sehingga pada akhirnya, kesalahan dapat terjadi. Tidak ada pelatihan atau konseling yang dapat mengubah kerentanan manusia ini.
    Adalah penting bagi tiap pekerja, terutama managernya, untuk menjadi lebih mawas diri akan potensi manusia berbuat salah. Pekerjaan, tempat kerja dan faktor organisasasi membentuk kemungkinan (likelihood) dan konsekuensi (consequences). Memahami bagaimana dan mengapa tindakan tidak aman terjadi adalah langkah awal penting dalam mengelola kesalahan dengan efektif.
    2. Situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diprediksi, dikelola dan dicegah.
    Meskipun secara umum kesalahan manusia adalah hal yang pasti, beberapa kesalahan yang spesifik dapat dicegah. Seperti halnya jika seseorang menulis formulir penarikan rekening bank di awal tahun baru akan memiliki potensi besar salah menulis tahun sebelumnya, prediksi semacam ini bisa juga dibangun dalam konteks bekerja di tempat kerja.
    Mengenali perangkap/jebakan kesalahan dan secara aktif mengkomunikasikan bahaya-bahaya tersebut ke orang lain adalah salah satu bentuk pengelolaan kesalahan yang proaktif. Dengan mengubah situasi kerja untuk mencegah, menghilangkan atau mengurangi kondisi yang bisa menyebabkan kesalahan, pekerjaan dan faktor individu di tempat kerja bisa dikelola untuk mencegah atau setidaknya mengurangi peluang terjadinya kesalahan.
    3. Perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi.
    Organisasi digerakkan oleh tujuan, karena itu, proses dan nilai-nilai yang ada di dalamnya dikembangkan untuk mengarahkan perilaku tiap individu di dalam organisasi. Organisasi mencerminkan bagaimana pekerjaan dipecah menjadi tugas-tugas tertentu dan dikoordinasikan untuk mencapai sasaran dengan selamat dan handal. Tugas manajemen untuk mengarahkan perilaku para pekerja. Penyelesaian pekerjaan dalam konteks proses dan budaya organisasi, pengelolaan perencanaan dan sistem pengendali, berkontribusi paling besar dalam kesalahan manusia yang bisa mengakibatkan kecelakaan kerja.
    4. Pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan, rekan kerja dan bawahannya.
    Tingkat keselamatan dan kehandalan sebuah fasilitas terkait langsung dengan perilaku para pekerjanya. Semua perilaku manusia, yang baik ataupun yang buruk, dikuatkan oleh konsekuensi langsung atau pengalaman masa lalunya. Sebuah perilaku dikuatkan oleh konsekuensi yang individu tersebut alami ketika perilaku tertentu dilakukan. Karena perilaku dipengaruhi oleh konsekuensi yang pekerja itu alami, apa yang terjadi ketika seorang pekerja menunjukkan perilaku tertentu adalah hal yang penting untuk meningkatkan kinerja manusia.
    5. Kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan/sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan di masa lalu.
    Peningkatan kinerja dapat diraih dengan menerapkan tindakan perbaikan sebuah investigasi/analisa kecelakaan. Belajar dari kesalahan diri sendiri dan orang lain adalah hal yang reaktif, namun menjadi hal yang penting sebagai bentuk perbaikan berkelanjutan.
    Manusia tidak berbuat salah secara sengaja. Kesalahan (error) adalah tindakan manusia yang tidak disengaja yang menyimpang dari tindakan yang diharapkan. Kesalahan adalah tindakan tak terencana atau dipikirkan terlebih dahulu. Kesalahan manusia (human error) terjadi akibat ketidakcocokan antara keterbatasan manusia dengan kondisi lingkungan di tempat kerja, termasuk ketidaksesuaian manajemen, kepemimpinan dan kelemahan organisasi yang membuat kondisi tersebut muncul.

    Luput (slips) terjadi ketika suatu aksi fisik gagal mewujudkan hasil yang diinginkan. Sedang khilaf (lapses) melibatkan kegagalan terkait ingatan atau mengingat ulang.

    Beberapa hal berikut bisa menjelaskan bagaimana ketidaktepatan atau aksi yang salah bisa terjadi:
    • Waktu : terlalu cepat, terlalu lambat apla
    • Durasi : terlalu lama, terlalu singkat
    • Urutan : terbalik, berurang-ulang, gangguan
    • Obyek : salah tindakan di objek yang benar, bertindak rindakan di objek yang salah
    • Tekanan : terlalu sedikit atau terlalu banyak tertekan
    • Arahan : salah memberika arahan
    • Kecepatan : terlalu cepat atau terlalu lambat, dan
    • Jarak : terlalu jauh, terlalu dekat

    Keliru (mistake), sebaliknya, terjadi ketika seseorang mempergunakan rencana yang tidak memadai untuk mencapai hasil yang diinginkan. Kekeliruan biasanya melibatkan kesalahan interpretasi atau kurangnya pengetahuan.

    Manusia memiliki karakter fisik, biologi, sosial, mental, dan emosi yang membentuk kecenderungan, kemampuan dan juga menentukan keterbatasannya.

    Salah satu ciri manusia adalah ketidaktepatannya. Tidak seperti mesin yang selalu tepat setiap saat, manusia cenderung tidak tepat, terutama dalam kondisi tertentu, semisal dalam tekanan stres dan waktu yang besar. Karena sifat manusiawi inilah, pekerja cenderung rentan terhadap kondisi eksternal yang membuat mereka melampaui batasan sifat manusianya. Kerentanan inilah yang membuat pekerja bisa berbuat salah. Kerentanan ini juga terjadi ketika manusia bekerja dalam sistem yang rumit (perangkat lunak maupun administratif)

    Beberapa karakter manusia dibawah ini perlu diperhatikan, terutama ketika menempatkan pekerja di sistem kerja yang rumit.

    Stres. Pada dasarnya, stres bukanlah hal yang buruk. Beberapa kondisi stres merupakan hal yang normal dan sehat. Stres bahkan dapat meningkatkan fokus sehingga menguntungkan. Namun, stres bisa terakumulasi dan menguasai seseorang, sehingga pada akhirnya melumpuhkan kinerja.

    Menghindari kelelahan pikiran. Manusia cenderung enggan berpikir/konsentrasi/fokus dalam jangka waktu yang lama karena melelahkan. Berpikir adalah proses yang membutuhkan usaha yang besar dan juga lambat, akhirnya manusia cenderung mencari pola yang dikenalnya dan menerapkan solusi yang sudah pernah diterapkan. Polanya bisa berupa:
    · Asumsi -menerima suatu kondisi sebagai suatu hal yang benar tanpa verifikasi terlebih dahulu
    · Kebiasaan –pola perilaku dibawah sadar sebagai hasil dari pengulangan yang sering
    · Bias konfirmasi –keengganan untuk menerapkan solusi terbaru karena bias pemikiran yang ada akibat investasi waktu dan usaha yang diperlukan untuk menerapkan solusi terbaru itu. Bias ini terjadi karena otak sudah melihat hasil dari solusi sebelumnya dan menolak data/fakta mengenai keberhasilan solusi yang baru
    · Bias kesamaan –kecenderungan untuk mengambil solusi dari kondisi yang serupa yang berhasil di masa lalu
    · Bias frekuensi – mencoba solusi yang sudah berhasil dan sering dipakai
    · Bias ketersediaan –kecenderungan untuk menerapkan solusi yang tersedia/muncul dalam pikiran.

    Keterbatasan memori kerja. Ingatan jangka pendek (short term memory) adalah tempat kerja/memori kerja bagi penyelesaian masalah dan pengambilan kebutusan. Ingatan jangka pendek dipergunakan untuk menyimpan informasi baru dan aktif dipergunakan ketika belajar, menyimpan dan memanggil (recall) informasi. Inilah yang menyebabkan pekerja lupa, terutama ketika berkerja dengan prosedur yang rumit.

    Keterbatasan fokus perhatian. Keterbatasan kemampuan berkonsentrasi pada dua atau lebih aktifitas menurunkan kemampuan untuk memproses informasi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah. Fokus perhatian sangatlah terbatas, jika diambil oleh satu hal maka dia akan menarik diri dari hal yang lain.

    Pola pikir. Manusia cenderung fokus pada apa yang hendak dicapai daripada pada fokus pada apa yang harus dihindari, karenanya, manusia hanya melihat apa yang pikirannya harapkan/inginkan untuk dilihat. Otak manusia cenderung mencari keteraturan, setelah didapat, maka ia akan mengacuhkan selain itu; dengan demikian ia akan melewatkan kondisi yang tidak diperkirakan.
    Sulit melihat kesalahannya sendiri. Individu, terutama yang bekerja sendiri, rentan terhadap kesalahan. Pekerja yang terlalu asyik dengan kerjaannya, atau disibukkan dengan suatu hal, bisa jadi gagal untuk dapat mengidentifikasi ketidaknormalan.

    Keterbatasan perspektif. Manusia tidak bisa melihat semua hal yang ada ditempat kerja untuk dilihat. Keterbatasan manusia untuk menerima semua fakta dapat menghalangi keputusannya untuk memecahkan masalah.
    Rentan terhadap faktor emosional/sosial. Kemarahan atau rasa malu bisa menurunkan kinerja seorang pekerja atau kelompok kerja.
    Kelelahan. Lelah secara fisik, emosi dan mental bisa meng arah ke tindakan yang salah dan pengambilan keputusan yang tidak tepat. Kelelahan dapat diakibatkan oleh faktor di dalam pekerjaan (tekanan produksi, lingkungan, dan kurangnya jumlah pekerja) dan faktor d iluar pekerjaan (pola makan dan tidur). Kelelahan memperburuk pengambilan keputusan, menurunkan kewaspadaan, memperlambat proses berpikir dan waktu reaksi, menghilangkan kewaspadaan kepada lingkungan (situational awareness) dan mendorong seseorang mengambil jalan pintas (shortcut).

    Presenteeism. Beberapa pekerja akan tetap memaksakan hadir dan bekerja meskipun kemampuan kerjanya sudah menurun karena penyakit atau cedera. Kecenderungan pekerja tetap melanjutkan pekerjaan meski memiliki masalah kesehatan yang ringan dapat diakibatkan oleh kurangnya cuti sakit, menumpuknya pekerjaan atau tidak tersedianya akses pelayanan kesehatan.

    Sikap tidak aman. Sikap dapat diartikan sebagai kondisi mental atau perasaan terhadap suatu obyek atau subyek. Dikatakan bahwa persepsi seseorang terhadap resiko lebih banyak dipengaruhi oleh hatinya ketimbang otaknya. Beberapa sikap yang dapat menimbulkan resiko berbuat salah misalnya:
    · Rasa bangga. Kebanggaan berlebih terhadap kemampuan diri sendiri; sombong. Terlalu fokus pada diri sendiri dan berlebihan rasa bangga cenderung membutakan kita akan hal-hal yang dapat dilakukan oleh orang lain, menurunkan kepercayaan terhadap kerjasama tim.
    · Heroik. Keberanian yang berlebihan. Reaksi heroic biasanya impulsif, ada pemikiran dalam dirinya bahwa pekerjaan harus dilakukan secara cepat atau dianggap gagal. Perspektif ini ditandai dengan fokus berlebih pada tujuan tanpa mempertimbangkan bahaya yang harus dihindari
    · Fatalistic. Sikap kalahan yang meyakini bahwa setiap kejadian sudah ditentukan, tidak bisa dihindari, dan tidak ada yang dapat dilakukan untuk menghindari takdir
    · Invulnerability. Memiliki rasa kebal terhadap kesalahan/tidak mungkin berbuat salah, gagal atau cedera. Kebanyakan orang tidak percaya bahwa mereka akan berbuat salah: “tidak mungkin terjadi pada diriku.” Padahal, kesalahan selalu mengejutkan ketika terjadi, sebagai akibat dari keterbatasan/ketidak akuratan manusia dalam memperhitungkan resiko
    · Pollyanna (rasa optimis berlebihan). Manusia mencari keteraturan dalam lingkungan, bukan ketidakteraturan. Memiliki kecenderungan mengisi kekosongan persepsi dan melihat secara keseluruhan ketimbang per bagian. Akibatnya, secara tidak sadar mereka meyakini bahwa segala sesuatu akan berjalan sesuai yang direncanakan. Hal yang bisa terjadi ketika melakukan pekerjaan rutin adalah tanpa sadar meyakini bahwa tidak ada satupun yang bisa berjalan tidak sesuai rencana/salah. Sikap ini membuat ketidakakuratan dalam memperhitungkan resiko dan mengacuhkan situasi atau bahaya yang tidak biasa, sehingga menyebabkan mereka terlambat atau bahkan tidak bereaksi
    · Sikap “Ban gundul”. Kinerja masa lalu terkadang menjadi pembenaran untuk tidak merubah (melakukan perbaikan) praktek atau kondisi yang sudah ada: “saya sudah berkendara 100.000 KM tanpa sekalipun mengalami ban bocor.” Kesuksesan bisa membuat kepuasan dan kepercayaan diri berlebih. Kalimat yang biasa digunakan misalnya, “kita tidak pernah mengalami masalah seperti ini di masa lalu,” atau “kita selalu melakukannya dengan cara seperti ini.”

    Bekerja dalam kelompok juga tidak membuat manusia bebas dari kesalahan. Kesalahan kelompok (team error) bisa terjadi akibat interaksi antara anggota kelompok kerja.

    Kesalahan kelompok bisa diakibatkan oleh beberapa hal, diantaranya:
    1. Efek halo – Kepercayaan buta akan kompetensi seseorang dikarenakan pengalaman atau pendidikannya. Hal ini mengakibatkan antar anggota kelompok menurunkan kewaspadaannya terhadap kesalahan yang dapat diakibatkan oleh individu yang kompeten; tidak memeriksa tindakan seorang yang kompeten
    2. Pilot-Co-pilot – Keengganan pekerja junior (co-pilot) untuk menentang pendapat, keputusan atau tindakan pekerja senior (pilot) karena posisinya di dalam struktur organisasi perusahaan. Bawahan menunjukkan sopan santun berlebihan ketika berinteraksi dengan manajer senior, tanpa sadar menerima perkataan bos tanpa berpikir kritis atau berbeda pendapat terhadap tindakan dan keputusannya.
    3. Menumpang/mengikuti saja – Kecenderungan untuk “menumpang” (ikut-ikutan saja) tanpa secara aktif mengevaluasi maksud dan tindakan pekerja yang melakukan pekerjaan atau mengambil inisiatif. Orang lain yang mengambil inisiatif untuk melakukan pekerjaan, sementara si penumpang hanya mengambil peran pasif.
    4. Berpikir grup – Kepaduan, loyalitas, konsensus dan komitmen adalah hal yang baik jika ada di dalam kelompok kerja. Namun, terkadang, hal-hal tersebut bisa menurunkan kualitas keputusan tim. Contohnya, ada keenganan untuk berbagi informasi yang berbeda untuk menjaga keharmonisan tim. Kondisi itu bisa diperparah jika ada anggota grup yang dominan dan memberikan pengaruh yang kuat dalam pola pikir grup (pilot/co-pilot atau efek halo). Akibatnya, informasi yang penting bisa jadi tidak terbagi kepada anggota kelompok.
    5. Difusi tanggung jawab bisa jadi berisiko dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah kelompok. Jika dua atau lebih pekerja sepakat akan sesuatu yang dianggap cara yang terbaik dalam melakukan sesuatu, maka mereka akan lebih mudah mengambil resiko dan mengabaikan prosedur atau kebijakan yang ada. Fenomena ini bisa disebut mentalitas gembala (herd mentality).

    Nama : Priscilla Jinifer Meirin
    NIM : 167051982
    Semester : II
    Kelas : A1

  47. Memahami Kesalahan Manusia (Human Error)

    Semua pekerjaan bisa melakukan kesalahaan (error), tak terkecuali pekerja yang sudah terlatih dan memiliki motivasi kerja yang baik. Beberapa kesalahan bisa menghasilkan konsekuensi cedera/kecelakaan. Karenanya penting bagi praktisi keselamatan dan kesehatan kerja (K3) untuk dapat memahami prinsip yang melatarbelakangi kesalahan manusia. Karena kesalahan pasti terjadi, kemampuan untuk dapat mengidentifikasi kesalahan di tahap awal berguna untuk mencegah terjadinya kecelakaan.
    Hampir 80% kejadian terkait dengan kesalahan manusia, jika angka 80% kesalahan manusia didetailkan lebih lanjut, terungkap bahwa sebagian besar kesalahan pekerja diakibatkan oleh kelemahan laten organisasi/perusahaan, sedangkan lainnya terjadi oleh pekerja yang menangani peralatan atau system di area kerja.

    Ada 5 prinsip dasar yang harus terlebih dahulu di mengerti untuk dapat memahami factor manusia.
    1. Semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerja yang paling hebat pun bisa salah.
    Tidak ada satupun pekerja yang kebal/anti kesalahan karenanya ada istilah “to err is human” (berbuat salah adalah manusiawi). Tidak ada pelatihan atau konseling yang dapat mengubah kerentanan manusia ini. Dr James Reason, penulis Human Error (1990) mengatakan penting bagi tiap pekerja, terutama managernya, untuk menjadi lebih mawas diri akan potensi manusia berbuat salah. Tempat kerja dan faktor organisasi membentuk kemungkinan dan konsekuensi. Memahami bagaimana dan mengapa tindakan tidak aman terjadi adalah langkah awal penting dalam mengelola kesalahan dengan efektif.
    2. Situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diprediksi, dikelola dan dicegah.
    Meskipun secara umum kesalahan manusia adalah hal yang pasti, beberapa kesalahan yang spesifik dapat dicegah. Mengenali perangkap/jebakan kesalahan dan secara aktif mengkomunikasikan bahaya tersebut ke orang lain adalah salah satu bentuk pengelolaan kesalahan yang proaktif. Dengan mengubah situasi kerja untuk mencegah kondisi yang bisa menyebabkan kesalahan, pekerja dan factor individu di tempat kerja bisa di kelola untuk mencegah terjadinya kesalahan.
    3. Perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi.
    Organisasi digerakkan oleh tujuan, karena itu proses dan nilai-nilai yang ada di dalamnya di kembangkan untuk mengerahkan perilaku tiap individu di dalam organisasi. Penyelesaian pekerjaan dalam konteks proses dan budaya organisasi, pengelolaan perencanaan dan system pengendalian, berkontribusi paling besar dalam kesalahan manusia yang bisa mengakibatkan kecelakaan kerja.

    4. Pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan, rekan kerja dan bawahannya.
    Tingkat keselamatan dan kehandalan sebuah fasilitas terkait langsung dengan perilaku para pekerjanya. Semua prilaku manusia, yang baik ataupun yang buruk, dikuatkan oleh konsekuensi langsung atau pengalaman masa lalunya. Karena perilaku dipengaruhi oleh konsekuensi yang pekerja itu alami, apa yang terjadi ketika seorang pekerja menunjukan perilaku tertentu adalah hal yang penting untuk meningkatkan kinerja manusia.
    5. Kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan/sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan di masa lalu.
    Peningkatan kinerja dapat diraih dengan menerapkan tindakan perbaikan sebuah investigsi/analisa kecelakaan. Belajar dari kesalahan diri sendiri dan orang lain adalah hal yang reaktif, namun menjadi hal yang penting sebagai bentuk perbaikan berkelanjutan.

    Beberapa karakter manusia dibawah ini perlu di perhatikan terutama ketika menempatkan pekerja di system kerja yang rumit:
    Stress. Pada dasarnya stress bukanlah hal yang buruk. Beberapa kondisi stress merupakan hal yang normal dan sehat. Stress bahkan dapat meningkatkan focus sehingga menguntungkan. Namun stress bisa terakumulasi dan menguasai seseorang sehingga pada akhirnya melumpuhkan kinerja.
    Menghindari kelelahan pikiran. Manusia cenderung enggan berfikir/konsentrasi/focus dalam jangka waktu yang lama karena melelahkan. Berpikir adalah proses yang membutuhkan usaha yang besar dan juga lambat, akhirnya manusia cenderung mencari pola yang dikenalnya dan menerapkan solusi yang sudah pernah diterapkan. Pola bisa berupa:
    • Asumsi
    • Kebiasaan
    • Bias konfirmasi
    • Bias kesamaan
    • Bias frekuensi
    • Bias ketersediaan
    Keterbatasan memori kerja. Ingatan jangka panjang pendek adalah tempat kerja/memori kerja bagi penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan.
    Pola pikir. Manusia cenderung focus pada apa yang hendak dicapai dari pada focus pada apa yang harus dihindari karenanya manusia hanya melihat apa yang pikirannya harapkan untuk dilihat.
    Keterbatasan perspektif. Manusia tidak bisa melihat semua hal yang ada ditempat kerja untuk dilihat. Keterbatasan manusia untuk menerima semua fakta dapat menghalangi keputusannya untuk memecahkan masalah.
    Rentan terhadap factor emosional/social. Kemarahan atau rasa malu bisa menurunkan kinerja seorang pekerja atau kelompok kerja.
    Kelelahan. Lelah secara fisik, emosi dan mental bisa mengarah ke tindakan yang salah dan pengambilan keputusan yang tidak tepat. Kelelahan dapat oleh factor didalam pekerjaan dan factor diluar pekerjaan.
    Presenteeism. Beberapa pekerja akan tetap memaksakan hadir dan bekerja meskipun kemampuan kerjanya sudah menurun karena penyakit atau cidera.
    Sikap tidak aman. Sikap dapat diartikan sebagai kondisi mentau atau perasaan terhadap objek atau subjek. Beberapa sikap yang dapat menimbulkan resiko berbuat salah misalnya:
    • Rasa bangga
    • Heroik
    • Fatalistic
    • Invuinerabillity
    • Pollyanna
    • Sikap ban gundul
    Efek halo. Kepercayaan buta akan kompetensi seseorang dikarenakan pengalaman atau pendidikannya.
    Berpikir grup. Kepaduan, loyalitas, consensus dan komitmen adalah hal yang baik jika ada di dalam kelompok kerja.
    Difusi tanggung jawab. Bisa jadi beresiko dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah kelompok.


    Nama : Marion Laurens
    NIM : 167051987
    Semester : II
    Kelas : A1 D4K3

  48. Memahami kesalahan manusia (Human Error)

    Semua pekerja pasti bisa melakukan kesalahan (error), tak terkecuali pekerja yang sudah terlatih dan memiliki motivasi kerja yang baik. Beberapa kesalahan bisa menghasilkan konsekuensi cedera/kecelakaan, sedang banyak kesalahan lainnya tidak. Karenanya, penting bagi praktisi Keselamatan dan Kesehatan kerja (K3) untuk dapat memahami prinsip yang melatar belakangi kesalahan manusia. Karena kesalahan pasti terjadi, kemampuan untuk dapat mengidentifikasi kesalahan di tahap awal, berguna untuk mencegah terjadinya kecelakaan.
    Hampir 80% kejadian terkait dengan kesalahan manusia, jika angka 80% kesalahan manusia didetailkan lebih lanjut, terungkap bahwa sabagian besar (70%) kesalahan pekerja diakibatkan oleh kelemahan laten organisasi/perusahaan (kelemahan yang dibuat oleh pekerja lain di masa lalu yang tidak nampak karena karena tidak menimbulkan masalah), sedang 30% lainnya terjadi oleh pekerjayang menangani peralatan atau sistem di area kerja.
    Kecelakaan-kecelakaan yang telah terjadi mengajarkan bahwa kita tidak boleh menyalahkan kecelakaan hanya kepada pekerja, karena yang sebetulnya terjadi adalah proses dan nilai di dalam organisasi/perusahaan berkontribusi besar pada mayoritas kecelakaan.

    Ada beberapa prinsip dasar yang harus terlebih dahulu dimengerti untuk dapat memahami factor manusia.
    1. Semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerja yang paling hebat pun bisa salah.
    Tidak ada satupun pekerja yang kebal/anti kesalahan, berapapun usia, pengalaman atau tingkat pendidikannya. Karenanya dikenal istilah “to err is human” (berbuat salah adalah manusiawi). Tabiat manusiawi pekerja untuk bersikap tidak sempurna, sehingga pada akhirnya kesalahan dapat terjadi.
    2. Situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diprediksi, dikelola dan dicegah.
    Meskipun secara umum kesalahan manusia adalah hal yang pasti, beberapa kesalahan yang spesifik dapat dicegah. Seperti halnya jika seseorang menulis formulir penarikan rekening bank di awal tahun baru akan memiliki potensi besar salah manulis tahun sebelumnya, prediksi semacam ini bisa juga dibangun dalam konteks bekerja di tempat kerja.
    3. Perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi.
    Organisasi digerakkan oleh tujuan, karenaitu proses dan nilai-nilai yang ada di dalamnya dikembangkan untuk mengarahkan perilaku tiap individu di dalam organisasi. Organisasi mencerminkan bagaimana pekerja dipecah menjadi tugas-tugas tertentu dan dikoordinasikan untuk mencapai sasaran dengan selamat dan handal. Tugas manajemen untuk mengarahkan perilaku para pekerja. Penyelesaian pekerjaan dalam konteks proses dan budaya organisasi, pengelolaan perencanaan dan sistem pengendali, berkontribusi paling besar dalam kesalahan manusia yang bisa mengakibatkan kecelakaan kerja.
    4. Pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan, rekan kerja dan bawahannya.
    Tingkat keselamatan dan kehandalan sebuah fasilitas terkait langsung dengan perilaku para pekerjanya. Semua perilaku manusia yang baik maupun yang buruk, dikuatkan oleh konsekuensi langsung atau pengalaman masa lalunya. Sebuah perilaku dikuatkan oleh konsekuensi yang individu tersebut alami ketika perilakutertentu dilakukan.
    5. Kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan/sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan di masa lalu.
    Peningkatan kinerja dapat diraih dengan menerapkan tindakan perbaikan sebuah investigasi/analisa kecelakaan. Belajar dari kesalahan diri sendiri dan orang lain adalah hal yang reaktif, namun menjadi hal yang penting sebagai bentuk perbaikan bekelanjutan.
    Manusia tidak berbuat salah secara sengaja. Kesalahan (error) adalah tindakan manusia yang tidak disengaja yang menyimpang dari tindakan yang diharapakan. Kesalahan manusia (human error) terjadi akibat ketidakcocokan antara keterbatasan manusia dengan kondisi lingkungan di tempat kerja, termasuk ketidaksesuaian manajemen,kepemimpinan dan kelemahan organisasi yang membuat kondisi tersebut muncul.
    Luput (slips) terjadi ketika suatu aksi fisik gagal mewujudkan hasil yang diinginkan. Sedang khilaf (lapses) melibatkan kegagalan terkait ingatan atau mengingat ulang.
    Beberapa hal berikut bisa menjelaskan bagaimana ketidaktepatan atau aksi yang salah bisa terjadi :
    – Waktu
    Terlalu cepat, terlalu lambat, alpa
    – Durasi
    Terlalu lama, terlalu singkat
    – Urutan
    Terbalik, berulang-ulang, ganguan
    – Obyek
    Salah tindakan di obyek yang benar, tindakan bertindak di obyek yang salah
    – Tekanan
    Terlalu sedikit atau terlalu banyak tekanan
    – Arahan
    Salah memberikan arahan
    – Kecepatan
    Terlalu cepat atau terlalu lambat
    – Jarak
    Terlalu jauh atau terlalu dekat.
    Keliru (mistake), sebaliknya, terjadi ketika seseorang mempergunakan rencana yang tidak memadai untuk mencapai hasil yang diinginkan.
    Manusia memiliki karakter fisik, biologi, sosial, mental, dan emosi yang membentuk kecenderungan, kemampuan dan juga menentukan keterbatasannya.
    Salah satu ciri manusia adalah ketidaktepatannya. Tidak seperti mesin yang selalu tepat setiap saat, manusia cenderung tidak tepat, terutama dalam kondisi tertentu, semisal dalam tekanan stress dan waktu yang besar. Karena sifat manusiawi inilah, pekerja cenderung rentan terhadap kondisi eksternal yang membuat mereka malampaui batasan sifat manusinya. Kerentanan inilah yang membuat pekerja bisa berbuat salah. Kerentanan ini juga terjadi ketika manusia bekerja dalam sistem yang rumit (perangkat lunak maupun administratif).


    Nama : Harish Syahrijal
    NIM : 167052050
    Semester : II
    Kelas : A2

  49. TUGAS PERBAIKAN KE-1


    Memahami Kesalahan Manusia (Human Error)

    Semua pekerja bisa melakukan kesalahan,, bahkan pekerja yang terlatih dan memiliki motivasi yang baik dapat melakukan kesalahan. Kesalahan yang dilakukan oleh pekerja dapat menyebabkan kecelakaan dan kerugian tetapi ada juga kesalahan yang tidak menyebabkan kecelakaan dan kerugian. Untuk mencegah terjadi kecelakaan akibat kesalahan pekerja, dibutuhkan kemampuan untuk dapat mengidentifikasi kesalahan di tahap awal.
    Hampir 80% kejadian terkait dengan kesalahan manusia, data dari Departemen Energi Amerika bahkan mengatakan bahwa di beberapa industri, porsi kesalahan manusia bisa mencapai 90%; hanya sekitar 20% yang terkait kegagalan peralatan. Kesalahan pekerja juga diakibatkan oleh kelemahan laten organisasi atau perusahaan.

    5 prinsip dasar yang perlu dipahami untuk dapat memahami faktor manusia:
    1. Semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerja yang paling hebat pun bisa salah.
    Kesalahan dapat terjadi pada setiap pekrja, bahkan pekerja yang terlatih dan berpengalaman dapat melakukan kesalahan. Karena itu ada istilah “to err is human” (Berbuat salah adalah manusiawi).

    2. Situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diprediksi, dikelola dan dicegah.
    Beberapa kesalahan pekerja masih dapat dicegah yaitu dengan cara mengenali jebakan kesalahan dan mengkomunikasikan bahaya tersebut ke pekerja lain. Mengubah situasi kerja untuk mencegah dan meminimalisir potensi pekerja melakukan kesalahan saat bekerja. Contohnya yaitu tidak membuat pekerja tertekan dan menyebabkan kesalahan karena adanya tekanan untuk menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat.

    3. Perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi.
    Organisasi memiliki suatu tujuan tertentu, karena itu proses dan nilai yang ada dikembangkan mengarahkan perilaku setiap individu. Tugas manajemen pada suatu organisasi yaitu mengarahkan perilaku pekerja.

    4. Pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan, rekan kerja dan
    bawahannya.
    Adanya dorongan dan motivasi dari sesame pekerja dan dari pimpinan dapat meminimalisir kesalahan pekerja karena dapat meningkatkan konsentrasi pekerja

    5. Kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan atau sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan di masa lalu.
    Dengan belajar dari kesalahan yang ada di masa lalu dan melakukan perbaikan serta belajar dari kesalahan sendiri dan belajar dari kesalahan orang lain dapar meminimalisir kesalahan terulang atau terjadi kembali.

    Kesalahan manusia terjadi karena ketidakcocokan antara keterbatasan manusia dengan kondisi di lingkungan kerja, ketidaksesuaian manajemen, kepemimpinan dan kelemahan organisasi yang menyebabkan terjadi kesalahan kerja. Berikut hal-hal yang menyebabkan pekerja melakukan kesalahan:
    1. Luput (Slips) : Terjadi ketika aksi fisik gagal mewujudkan hasil yang diinginkan.

    2. Khilaf (Lapses) : Kegagalan dalam ingatan atau mengingat ulang.

    3. Keliru (Mistake) : Terjadi karena seseorang mempergunakan rencana yang tidak
    Memadai.

    Beberapa karakter manusia yang perlu diperhatikan ketika menempatkan pekerja di sistem kerja yang rumit:
    1. Stress.
    Tidak semua stress merupakan hal yang buruk karena stress dapat meningatkan fokus seorang pekerja. Tetapi stress bisa terakumulasi dan menguasai seseorang sehingga dapat mengurangi kinerja pekerja.

    2. Menghindari kelelahan pikiran.
    Berpikir adalah proses yang membutuhkan usaha dan juga lambat, sehungga dapat menyebabkan seseorang tidak mau berpikir atau fokus dalam jangka waktu yang lama.

    3. Keterbatasan memori kerja.
    Kurangnya kemampuan ingatan jangka pendek pekerja dapat menyebabkan pekerja lupa. Ingatan jangka pendek (Short term memory) adalah tempat kerja atau memori kerja bagi penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan. Digunakan untuk menyimpan informasi baru.

    4. Keterbatasan fokus perhatian.
    Manusia memiliki keterbatasan kemampuan untuk berkonsentrasi pada dua atau lebih aktifitas dan dapat menurunkan kemampuan untuk memproses informasi yang dibutuhkan.

    5. Pola pikir.
    Otak manusia cenderung mencari keteraturan setelah mendapatkan keteraturan tersebut maka ia akan mengacuhkan hal-hal selain keteraturan itu. Dengan demikian ia akan melewatkan kondisi yang tidak diperkirakan.

    6. Keterbatasan perspektif.
    Manusia memiliki keterbatasan untuk menerima semua fakta dapat menghalangi keputusannya untuk memecahkan masalah

    7. Rentan terhadap faktor emosional atau sosial.
    Faktor emosional manusia seperti kemarahan dan rasa malu dapat menurunkan kinerja seorang pekerja atau kelompok kerja

    8. Kelelahan.
    Kelelahan dapat diakibatkan oleh faktor dalam pekerjaan seperti tekanan produksi, lingkungan, dan kurangnya jumlah pekerja. Dan faktor dari luar pekerjaan yaitu pola makan dan pola tidur. Kelelahan dapat menyebabkan menurunkan kewaspadaan, memperlambat proses berpikir dan waktu reaksi, menghilangkan kewaspadaan kepada lingkungan (Situational awareness).

    9. Presenteeism.
    Terjadi karena beberapa pekerja akan tetap memaksakan hadir dan meskipun kemampuan kerjanya menurun dikarenakan suatu penyakit dan cedera. Pekerja tetap melanjutkan bekerja meskipun tidak dalam kondisi baik dapat diakibatkan oleh kurangnya cuti sakit, pekerjaan yang menumpuk dan tidak tersedianya akses pelayanan pekerja.

    10. Sikap tidak aman.
    Sikap yang dapat menimbulkan resiko berbuat salah yaitu:
    – Rasa bangga.
    – Heroik.
    – Fatalistic.
    – Invulnerability.
    – Pollyanna (Rasa optimis berlebihan).
    – Sikap “Ban gundul”.

    Kesalahan kelompok dapat diakibatkan oleh beberapa hal, yaitu:
    1. Efek halo.
    Kepercayaan buta akan kompetensi kompetensi seseorang dikarenakan pengalaman atau pendidikannya dapat menurunkan kewaspadaan terhadap kesalahan yang dapat terjadi.

    2. Pilot-Co-pilot.
    Keengganan pekerja junior (co-pilot) untuk menentang pendapat dan keputusan pekerja senior (Pilot).

    3. Berpikir grup.
    Keengganan untuk berbagi informasi yang berbeda untuk menjaga keharmonisan tim.

    4. Difusi tanggung jawab.
    Dapat beresiko jika dua atau lebih pekerja sepakat akan sesuatu yang dianggap cara yang terbaik dan mereka akan lebih mudah mengambil resiko dan mengabaikan prosedur yang ada.


    Nama : Fredrick Purba
    NIM : 167052031
    Semester : II
    Kelas : A2

  50. TUGAS PERBAIKAN KE-1


    Kesalahan Manusia (Human Eror)

    Semua pekerja bisa melakukan kesalahan (error). Beberaa kesalahan bisa menghasilkan konsekuensi cedera/kecelakaan. Sedang banyak kesalahan lainnya tidak. Karenannya, penting bagi praktisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) untuk dapat memahami prinsip yang melatarbelakangi kesalahan manusia.
    Dari suatu kecelakaan kerja, hampir 80% penyebabnya adalah kesalahan manusia. Data dari Departemen Energi Amerika mengatakan bahwa porsi kesalahan manusia dalam kecelakaan hampir sebesar 90% , hanya sekitar 20% berasal dari peralatan. Dan jika didetailkan lebih terperinci, 30% terjadi pada individu pekerja yang menangani peralatan atau sistem di lingkungan kerja, dan 70% kesalahan diakibatkan oleh kelemahan organisasi.
    Manusia tidak berbuat salah dengan sengaja. Kesalahan (error) adalah tindakan manusia yang tidak disengaja yang menyimpang dari tindakan yang di harapkan. Kesalahan adalah tindakan tak terencana atau dipikirkan terlebih dahulu. Kesalahan manusia (human error) akibat ketidakcocokan antara keterbatasan manusia dengan kondisi lingkungan di tempat kerja termasuk ketidaksesuaian menejemen, kepemimpinan dan kelemahan organisasi yang membuat kondusi itu muncul.
    Luput (slips) ketika suatu aksi fisik gagal mewujudkan hasil yang di inginkan sedangkan khilaf (lapse) melibatkan kegagalan terkait ingatan atau mengingat ulang.
    beberapa hal berikut bisa menjelaskan bagaimana ketidaktepatan atau aksi yang salah salah bisa tejadi :

    a. Waktu-terlalu cepat, terlalu lama, alpa
    b. Durasi- terlalu lama, terlalu singkat
    c. Urutan-terbalik,berulang ulang
    d. Obyek- salah tindakan di obyek yang benar
    e. Tekanan- terlalu sedikit atau terlalu banyak tekanan
    f. Arahan- salah memberikan arahan
    g. Kecepatan- terlalu cepat atau terlalu lambat
    h. Jarak- terlalu jauh atau terlalu dekat

    KELIRU (mistake), sebaliknya terjadi ketika seseorang mempergunakan rencana yang tidak memadai untuk mencapai hasil yang di inginkan. Keliru biasanya melibatkan kesalahan interpretasi atau kurangnya pengetahuan. Sifat manusiawi inilah, pekerja cendrung rentan terhadap kondisi eksternal yang bisa berbuat mereka melampaui batasan sifat manusianya. Kerentanan inilah yang membuat pekerja berbuat salah. Kerentanan ini juga terjadi ketika manusia bekerja dalam system yang rumit
    SETRES. Pada dasarnya, stress bukanlah hal yang buruk. Beberapa kondisi stress merupakan hal yang normal dan sehat. Stress bahkan dapat meningkatkan fokus sehingga menguntungkan. Namun, stress bisa terkumulasi dan menguasai seseorang,seehingga pada akhirnya melumpuhkan kinerja.
    MENGHINDARI KELELAHAN PIKIRAN. Manusia cenderung enggan berpikir/konsentrasi/fokus dalam jangka waktu yang lama karena melelahkan.berpikir adalah proses yang membutuhkan usaha yang besar dan juga lambat, akhirnya manusia menerapkan pola yang dikenalnya. Pola bisa berupa :

    1. Asumsi : menerima suatu kondisi sebagai hal yang benar tanpa verifikasi terlebih dahulu
    2. Kebiasaan : pola perilaku dibawah sadar sebagai hasil dari pengulangan yang sering
    3. Bias konfirmasi : tidak menerapkannya solusi baru karena bias pemikiran yang ada akibat investasi waktu dan usaha yang diperlukan untuk menerapkan solusi terbaru.
    4. bias kesamaan : kecendrungan untuk mengambil solusi dari kondisi yang serupa yang berhasil dimasa lalu
    5. Bias frekuensi : mencoba solusi yang sudah berhasil dan seing dipakai
    6. Bias ketersediaan : kecendrungan untuk menerapkan solusi yang tersedia/muncul dalam pikiran

    KETERBATASAN MEMORI KERJA. Ingatan jangka pendek adalah tempat memori kerja bagi penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan . iniolah yang menyebabkan pekerja lupa, terutama ketika bekerja dengan prosedur rumit.
    KETERBATASAN FOKUS PERHATIAN. Keterbatasan kemampuan berkonsentrasi pada dua atau lebih aktifitas menurunkan kemampuan untuk memperoses informasi yang dibutuhkan untuk meyelesaikan masalah. Fokus perhatian sangatlah terbatas, jika diambil oleh satu hal maka dia akan menarik diri dari hal lain
    POLA PIKIR. Otak manusia cenderung mencari keteraturan, setelah di dapat, maka ia akan mengacuhkan selain itu dengan demikian ia akan melewatkan kondisi yang tidak diperkirakan.
    KELELAHAN. Lelah secara fisik, mental dan emosi bisa mengarah ke tindakan yang salah dan mengambil keputusan yang tidak tepat. Kelelahan dapat di akibatkan factor di dalam pekerjaan dan factor di luar pekerjaan.
    KETERBATASAN PRESPEKTIF. Manusia tidak melihat semua hal yang ada ditempat kerja untuk dilihat. keterbatasan manusia untuk menerima semua fakta dapat menghalangi keputusannya untuk memecahkan masalah.
    PRESENTEEISM. Kecendrungan pekerja melanjutkan pekerjaanya meskipun yang bersangkutan memiliki masalah kesehatan yang ringan dapat diakibatkan kurangnya cuti sakit, menumpuknya pekerjaan atau tidak tersedianya akses pelayanan kesehatan

    Bekerja dalam kelompok juga tidak membuat manusia bebas dari kesalahan. Kesalahan kelompok bisa terjadi akibat interaksi antara anggota kelompok kerja. Diantaranya:

    • Efek halo
    Kepercayaan buta akan kompetensi seseorang dikarenakan pengalaman atau pendidikannya.
    • Pilot-co-pilot
    Keengganan pekerja junior untuk menentang pendapat, keputusan, atau tindakan pekerja seniornya.
    • Menumpang/mengikuti aturan saja
    Kecenderungan “ikut-ikut saja” tanpa memahami maksud dan tindakan pekerja yang melakukan pekerjaan
    • Berpikir grup
    Keengganan berbagi informasi yang berbeda untuk keharmonisan tim
    • Difusi tanggung jawab
    Risiko dalam pengambilan keputusan berkelompok.


    Nama : ADITYA ANGGORO
    NIM : 167052003
    Semester : II
    Kelas : A1

  51. Memahami Kesalahan Manusia (Human Error)

    Kecelakaan kecelakaan yang terjadi mengajarkan bahwa kita tidak boleh menyalahkan kecelakaan hanya kepada pekerja, karena yang sebetulnya terjadi adalah proses dan nilai di dalam organisasi atau perusahaan berkontribusi besar pada ma indyoritas kecelakaan. Akar penyebab kecelakaan merupakan kombinasi dari beberapa faktor, banyak di antaranya yang berada di luar kendali pekerja.

    Ada 5 prinsip dasar yang harus terlebih dahulu dimengerti untuk dapat memahami faktor manusia

    1. Semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerja yang paling hebat pun bisa salah.

    Tidak ada satu pun pekerja yang kebal atau anti kesalahan, berapapun usia, pengalaman atau tinkat pendidikannya. karena di kenal istila ”to err is human” [berbuat salah adalah manusiawi]. Terbiat manusiawi pekerja untuk bersikap tidak sempurna, sehingga pada akhirnya, kesalahan dapat terjadi. Dr. James Reason, penulis human error 1998 mengatakan: adalah penting buat pekerja, terutama managernya, untuk menjadi lebih mawas dari akan potensi manusia berbuat salah. Pekerjaan, tempat kerja dan faktor organisasi membentuk kemungkinan dan konsekuensi memahami dan mengapa tindakan tidak aman terjadi adalah langkah awal penting dalam mengelola kesalahan dengan efektif.

    2. Situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat di prediksi, dikelola dan dicegah.

    Meskipun secara umum kesalahan manusia adalah hal yang pasti, beberapa kesalahan yang spesifik dapat di cegah. Seperti halnya jika seorang menulis formulir penarikan rekening bank di awal tahun baru akan memiliki potensi besar salah menulis tahun sebeumnya, prediksi semacam ini bisa juga dibangun dalam konteks bekerja di tempat kerja.
    Mengenali perangkap atau jebakan kesalahan dan secara aktif mengkomunikasikan bahaya bahaya tersebut ke orang lain adalah salah satu bentuk pengelolahan kesalahanyang proaktif.Dengan mengubah situasi kerja untuk mencegah, menghilangkan atau mengurangi kondisi yang bisa menyebabkan kesalahan, pekerjaan dan faktor individu di tempat kerja bisa di kelolah untuk mencegah atau setidaknya mengurangi peluang terjadinya kesalahan.

    3. Peerilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai oreganisasi.

    Organisasi digerakkan oleh tujuan, karena itu, proses dan nilai nilai yang ada di dalamnya dikembangkan untuk mengerahkan perilaku tiap individu di dalam organisasi. Organisasi mencerminkan bagaimana pekerjaan di pecah menjadi tugas tugas tertentu dikordinasikan untuk mencapai sasaran dengan selamat dan handal.

    4. Pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan atau penguatan yang di terimanya dari pimpinan, rekan keja, dan
    bawahannya.

    Tingkat keselamtan dan kehandalan sebuah fasilitas terkait langsung dengan perilaku para pekerjanya. Semua perilaku manusia, yang baik ataupun yang buruk, dikuatkan oleh konsekuensi langsung atau pengalaman masa lalunya. Sebuah perilaku dikuatkan oleh konsekuensi yang individu tersebut alami ketika perilaku tertentu di lakukan. Karena perilaku dipengaruhi oleh konsekuensi yang pekerja itu alami, apa yang terjadi ketika seorang pekerja menunjukkan perilaku tertentu adalah hal yang penting untuk meningkatkan kinerja manusia.

    5. Kecelakaan bisa di hadiri dengan memahami alasan kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan di masa lalu.

    Peningkatan kinerja dapat di raih dengan penerapan tindakan perbaikan sebuah investigasi/analisa kecelakaan. Belajar dari kesalahan diri sendiri dan orang lain adalah hal yang reaktif, namun menjadi hal yang penting sebagai bentuk perbaikan berkelanjitan.

    Manusia tidak berbuat salah secara sengaja, kesalahan [error] adalah tindakan manusia yang tidak disengaja yang menyimpang diri tindakan yang di harapkan. Kesalahan adalah tindakan tak terencana atau di pikirkan terlebih dahulu. Kesalahan manusia terjadi akibat ketidakcocokan antara keterbatasan manusiaa dengan kondisi lingkungan di tempat kerja, termasuk ketidaksesuaian mangemen, kepemimpinan dan kelemahan organisasi yang membuat kondisi tersebut muncul.
    luput [slips] terjadi ketika suatu aksi fisik gagal mewujudkan hasil yang di inginkan, Sedang khilaf melibatkan kegagalan terkait ingatan atau mengingat ulang.
    Beberapa hal berikut bisa menjelaskan bagaimana ketidaktepatan atau aksi yang salah bisa terjadi:
    a. Waktu- terlalu cepat, terlalu lambat dan alpa
    b. Durasi- terlalu lama, terlalu singkat
    c. Urutan- terbalik, berulang ulang, gangguan
    d. Objek- salah tindakan di objek yang benar, tindakan bertindak di objek yang salah
    e. Tekanan- terlalu sedikit atau terlalu banyak tekanan
    f. Arahan- salah memberikan arahan
    g. Kecepatan- terlalu cepat atau terlalu lambat
    h. Jarak- terlalu jauh, terlalu dekat.

    Keliru sebaiknya terjadi ketika seorang mempergunakan rencana yang tidak memadai untuk mencapai hasil yang di inginkan. Kekeliruan biasanya melibatkan kesalahan interpretasi atau kurangnya pengetahuan.
    Beberapa karakter manusia dibawah ini perlu diperhatikan, terutama ketika menempatkan pekerja di sisem kerja rumit:
    1. Stres
    2. Sikap tidak aman
    3. Pola pikir
    4. Keterbatasan perspektif
    5. Emosional
    6. Kelelahan
    7. presenteeism
    8. Menghindari kelelahan pikiran
    9. Keterbatasan
    Semua pekerja bisa melakukan kesalahan [error], tak terkecuali pekerja yang sudah terlati dan memiliki motivasi kerja yang baik. Beberapa kesalahan bisa menghasilkan konsekuensi cedera atau kecelakaan, sedang banyak kesalahan kerja [K3] untuk dapat memahami prinsip yang melatarbelakangi kesalahan manusia, karena kesalahan pasti terjadi, kemampuan untuk dapat mengidentifikasi kesalahan di tahap awal, berguna untuk mencegah terjadinya kecelakan.


    Nama : Yulius Paken
    NPM : 167051994
    Semester: II
    Kelas : A1

  52. TUGAS PERBAIKAN KE-1


    Kesalahan Manusia (Human Eror)

    Semua pekerja bisa melakukan kesalahan (error). Beberaa kesalahan bisa menghasilkan konsekuensi cedera/kecelakaan. Sedang banyak kesalahan lainnya tidak. Karenannya, penting bagi praktisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) untuk dapat memahami prinsip yang melatarbelakangi kesalahan manusia.
    Dari suatu kecelakaan kerja, hampir 80% penyebabnya adalah kesalahan manusia. Data dari Departemen Energi Amerika mengatakan bahwa porsi kesalahan manusia dalam kecelakaan hampir sebesar 90% , hanya sekitar 20% berasal dari peralatan. Dan jika didetailkan lebih terperinci, 30% terjadi pada individu pekerja yang menangani peralatan atau sistem di lingkungan kerja, dan 70% kesalahan diakibatkan oleh kelemahan organisasi.
    Manusia tidak berbuat salah dengan sengaja. Kesalahan (error) adalah tindakan manusia yang tidak disengaja yang menyimpang dari tindakan yang di harapkan. Kesalahan adalah tindakan tak terencana atau dipikirkan terlebih dahulu. Kesalahan manusia (human error) akibat ketidakcocokan antara keterbatasan manusia dengan kondisi lingkungan di tempat kerja termasuk ketidaksesuaian menejemen, kepemimpinan dan kelemahan organisasi yang membuat kondusi itu muncul.
    Luput (slips) ketika suatu aksi fisik gagal mewujudkan hasil yang di inginkan sedangkan khilaf (lapse) melibatkan kegagalan terkait ingatan atau mengingat ulang.
    beberapa hal berikut bisa menjelaskan bagaimana ketidaktepatan atau aksi yang salah salah bisa tejadi :
    a. Waktu-terlalu cepat, terlalu lama, alpa
    b. Durasi- terlalu lama, terlalu singkat
    c. Urutan-terbalik,berulang ulang
    d. Obyek- salah tindakan di obyek yang benar
    e. Tekanan- terlalu sedikit atau terlalu banyak tekanan
    f. Arahan- salah memberikan arahan
    g. Kecepatan- terlalu cepat atau terlalu lambat
    h. Jarak- terlalu jauh atau terlalu dekat
    Keliru (mistake), sebaliknya terjadi ketika seseorang mempergunakan rencana yang tidak memadai untuk mencapai hasil yang di inginkan. Keliru biasanya melibatkan kesalahan interpretasi atau kurangnya pengetahuan. Sifat manusiawi inilah, pekerja cendrung rentan terhadap kondisi eksternal yang bisa berbuat mereka melampaui batasan sifat manusianya. Kerentanan inilah yang membuat pekerja berbuat salah. Kerentanan ini juga terjadi ketika manusia bekerja dalam sistem yang rumit (perangkat lunak maupun administratif).

    Beberapa karakter manusia dibawah ini perlu diperhatikan, terutama ketika menempatkan pekerja di sistem kerja yang sulit:
    1. STRES. Pada dasarnya, stres bukanlah hal yang buruk. Beberapa kondisi stres merupakan hal yang normal dan sehat. Stres bahkan dapat meningkatkan fokus sehingga menguntungkan. Namun, stress bisa terkumulasi dan menguasai seseorang,seehingga pada akhirnya melumpuhkan kinerja.
    2. MENGHINDARI KELELAHAN PIKIRAN. Manusia cenderung enggan berpikir/konsentrasi/fokus dalam jangka waktu yang lama karena melelahkan.berpikir adalah proses yang membutuhkan usaha yang besar dan juga lambat, akhirnya manusia menerapkan pola yang dikenalnya. Pola bisa berupa :
    a. Asumsi : menerima suatu kondisi sebagai hal yang benar tanpa verifikasi terlebih dahulu
    b. Kebiasaan : pola perilaku dibawah sadar sebagai hasil dari pengulangan yang sering
    c. Bias konfirmasi : tidak menerapkannya solusi baru karena bias pemikiran yang ada akibat investasi waktu dan usaha yang diperlukan untuk menerapkan solusi terbaru.
    d. Bias kesamaan : kecendrungan untuk mengambil solusi dari kondisi yang serupa yang berhasil dimasa lalu
    e. Bias frekuensi : mencoba solusi yang sudah berhasil dan seing dipakai
    f. Bias ketersediaan : kecendrungan untuk menerapkan solusi yang tersedia/muncul dalam pikiran.
    3. KETERBATASAN MEMORI KERJA. Ingatan jangka pendek adalah tempat memori kerja bagi penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan . iniolah yang menyebabkan pekerja lupa, terutama ketika bekerja dengan prosedur rumit.
    4. KETERBATASAN FOKUS PERHATIAN. Keterbatasan kemampuan berkonsentrasi pada dua atau lebih aktifitas menurunkan kemampuan untuk memperoses informasi yang dibutuhkan untuk meyelesaikan masalah. Fokus perhatian sangatlah terbatas, jika diambil oleh satu hal maka dia akan menarik diri dari hal lain
    6. POLA PIKIR. Otak manusia cenderung mencari keteraturan, setelah di dapat, maka ia akan mengacuhkan selain itu dengan demikian ia akan melewatkan kondisi yang tidak diperkirakan.
    7. KETERBATASAN PERSPEKTIF. Manusia tidak bisa melihat semua hal yang ada di tempat kerja unyuk dilihat. Keterbatasan manusia untuk menerima semua fakta dapat menghalangi keputusanya untuk memecahkan masalah.
    8. RENTAN TERHADAP FAKTOR EMOSIONAL/SOSIAL. Kemarahan atau rasa malu bisa menurunkan kinerja seorang pekerja atau kelompok kerja.
    9. KELELAHAN. Lelah secara fisik, mental dan emosi bisa mengarah ke tindakan yang salah dan mengambil keputusan yang tidak tepat. Kelelahan dapat di akibatkan factor di dalam pekerjaan dan factor di luar pekerjaan.
    10. PRESENTEESIM. Ada beberapa pekerja atau karyawan yang akan tetap memaksakan diri untuk hadir dan bekerja meskipun kemampuan kerjanya sudah menurun dikarenakan penyakit atau cedera. Penyebab pekerja atau karyawan tetap melanjutkan kerja cenderung karena mereka memiliki masalah kesehatan yang ringan dapat diakibatkan oleh kurangnya cuti sakit, menumpuknya pekerjaan atau tidak tersedianya akses pelayanan kesehatan.
    11. SIKAP TIDAK AMAN. Sikap dapat diartikan sebagai kondisi mental. Dikatakan bahwa persepsi seseorang terhadap resiko lebih banyak dipengaruhi oleh hatinya ketimbang otaknya. Berikut beberapa sikap yabg dapat menimbulkan resiko berbuat salah misalnya:
    – Rasa Bangga
    – Heroik
    – Fatalistic
    – Invulnerability
    – Pollyanna (rasa optimis berlebihan)
    – Sikap “Ban Gundul”
    Bekerja dalam kelompok juga tidak membuat manusia bebas dari kesalahan. Kesalahan kelompok bisa terjadi akibat interaksi antara anggota kelompok kerja. Diantaranya:
    • Efek halo
    Kepercayaan buta akan kompetensi seseorang dikarenakan pengalaman atau pendidikannya.
    • Pilot-co-pilot
    Keengganan pekerja junior untuk menentang pendapat, keputusan, atau tindakan pekerja seniornya.
    • Menumpang/mengikuti aturan saja
    Kecenderungan “ikut-ikut saja” tanpa memahami maksud dan tindakan pekerja yang melakukan pekerjaan
    • Berpikir grup
    Keengganan berbagi informasi yang berbeda untuk keharmonisan tim
    • Difusi tanggung jawab
    Risiko dalam pengambilan keputusan berkelompok yang menurut mereka akan lebih mudah mengambil resiko dan mengabaikan prosedur atau kebijakan yang ada. Fenomena ini bisa disebut mentalitas gembala (hard mentality)


    Nama : Melky Jusuf Tarukbua
    NIM : 167052012
    Semester : II
    Kelas : A1

  53. TUGAS PERBAIKAN KE-1


    “Memahami Kesalahan Manusia (Human Eror)”

    Semua pekerja bisa melakukan kesalahan (error). Beberaa kesalahan bisa menghasilkan konsekuensi cedera/kecelakaan. Sedang banyak kesalahan lainnya tidak. Karenannya, penting bagi praktisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) untuk dapat memahami prinsip yang melatarbelakangi kesalahan manusia.
    Dari suatu kecelakaan kerja, hampir 80% penyebabnya adalah kesalahan manusia. Data dari Departemen Energi Amerika mengatakan bahwa porsi kesalahan manusia dalam kecelakaan hampir sebesar 90% , hanya sekitar 20% berasal dari peralatan. Dan jika didetailkan lebih terperinci, 30% terjadi pada individu pekerja yang menangani peralatan atau sistem di lingkungan kerja, dan 70% kesalahan diakibatkan oleh kelemahan organisasi.
    Manusia tidak berbuat salah dengan sengaja. Kesalahan (error) adalah tindakan manusia yang tidak disengaja yang menyimpang dari tindakan yang di harapkan. Kesalahan adalah tindakan tak terencana atau dipikirkan terlebih dahulu. Kesalahan manusia (human error) akibat ketidakcocokan antara keterbatasan manusia dengan kondisi lingkungan di tempat kerja termasuk ketidaksesuaian menejemen, kepemimpinan dan kelemahan organisasi yang membuat kondusi itu muncul.

    Ada 5 prinsip dasar yang harus terlebih dahulu dimengerti untuk dapat memahami factor manusia
    1.Semua manusia bisa berbuat salah,bahkan pekerja yang paling hebatpun bisa berbuat salah
    2.Situasi yang mungkin menyebapkan kesalahan dapat di perediksi,dikelola dan dicegah
    3.Perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi
    4.Pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan,rekan kerja dan bawahannya
    5.Kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan/sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan masa lalu

    Kesalahan manusia (human error) terjadi akibat ketidakcocokan antara keterbatasan manusia dengan kondisi lingkungan di tempat kerja,termasuk ketidaksesuaian manajemen,kepemimpinan dan kelemahan organisasi yang membuat kondisi tersebut muncul
    LUPUT(slips) ketika suatu aksi fisik gagal mewujudkan hasil yang di inginkan sedangkan khilaf (lapse) melibatkan kegagalan terkait ingatan atau mengingat ulang.
    beberapa hal berikut bisa menjelaskan bagaimana ketidaktepatan atau aksi yang salah salah bisa tejadi :
    a. Waktu-terlalu cepat, terlalu lama, alpa
    b. Durasi- terlalu lama, terlalu singkat
    c. Urutan-terbalik,berulang ulang
    d. Obyek- salah tindakan di obyek yang benar
    e. Tekanan- terlalu sedikit atau terlalu banyak tekanan
    f. Arahan- salah memberikan arahan
    g. Kecepatan- terlalu cepat atau terlalu lambat
    h. Jarak- terlalu jauh atau terlalu dekat
    KELIRU (mistake), sebaliknya terjadi ketika seseorang mempergunakan rencana yang tidak memadai untuk mencapai hasil yang di inginkan. Keliru biasanya melibatkan kesalahan interpretasi atau kurangnya pengetahuan.Manusia memiliki karakter fisik,biologi,social,mental dan emosi yang membentuk kecenderungan,kemampuan dan juga menentukan keterbatasannya.salah satu ciri manusia adalah ketidak tepatannya.Tidak seperti mesin yang selalu tepat setiap saat,manusia cenderung tidak tepat,terutama dalam kondisi tertentu,semisal dalam tekanan stress dan waktu yang besar.Karena Sifat manusiawi inilah, pekerja cendrung rentan terhadap kondisi eksternal yang bisa berbuat mereka melampaui batasan sifat manusianya. Kerentanan inilah yang membuat pekerja berbuat salah. Kerentanan ini juga terjadi ketika manusia bekerja dalam system yang rumit.

    Beberapa karakter manusia dibawah ini perlu di perhatikan,terutama ketika menempatkan pekerja di system kerja yang rumit:
    STRES. Pada dasarnya, stress bukanlah hal yang buruk. Beberapa kondisi stress merupakan hal yang normal dan sehat. Stress bahkan dapat meningkatkan fokus sehingga menguntungkan. Namun, stress bisa terkumulasi dan menguasai seseorang,seehingga pada akhirnya melumpuhkan kinerja.
    MENGHINDARI KELELAHAN PIKIRAN. Manusia cenderung enggan berpikir/konsentrasi/fokus dalam jangka waktu yang lama karena melelahkan.berpikir adalah proses yang membutuhkan usaha yang besar dan juga lambat, akhirnya manusia menerapkan pola yang dikenalnya. Pola bisa berupa :
    1. Asumsi : menerima suatu kondisi sebagai hal yang benar tanpa verifikasi terlebih dahulu
    2. Kebiasaan : pola perilaku dibawah sadar sebagai hasil dari pengulangan yang sering
    3. Bias konfirmasi : tidak menerapkannya solusi baru karena bias pemikiran yang ada akibat investasi waktu dan usaha yang diperlukan untuk menerapkan solusi terbaru.
    4.bias kesamaan : kecendrungan untuk mengambil solusi dari kondisi yang serupa yang berhasil dimasa lalu
    5. Bias frekuensi : mencoba solusi yang sudah berhasil dan seing dipakai
    6. Bias ketersediaan : kecendrungan untuk menerapkan solusi yang tersedia/muncul dalam pikiran
    KETERBATASAN MEMORI KERJA. Ingatan jangka pendek adalah tempat memori kerja bagi penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan . iniolah yang menyebabkan pekerja lupa, terutama ketika bekerja dengan prosedur rumit.
    KETERBATASAN FOKUS PERHATIAN. Keterbatasan kemampuan berkonsentrasi pada dua atau lebih aktifitas menurunkan kemampuan untuk memperoses informasi yang dibutuhkan untuk meyelesaikan masalah. Fokus perhatian sangatlah terbatas, jika diambil oleh satu hal maka dia akan menarik diri dari hal lain
    POLA PIKIR. Otak manusia cenderung mencari keteraturan, setelah di dapat, maka ia akan mengacuhkan selain itu dengan demikian ia akan melewatkan kondisi yang tidak diperkirakan.
    KELELAHAN. Lelah secara fisik, mental dan emosi bisa mengarah ke tindakan yang salah dan mengambil keputusan yang tidak tepat. Kelelahan dapat di akibatkan factor di dalam pekerjaan dan factor di luar pekerjaan.

    Bekerja dalam kelompok juga tidak membuat manusia bebas dari kesalahan. Kesalahan kelompok bisa terjadi akibat interaksi antara anggota kelompok kerja. Diantaranya:
    • Efek halo
    Kepercayaan buta akan kompetensi seseorang dikarenakan pengalaman atau pendidikannya.
    • Pilot-co-pilot
    Keengganan pekerja junior untuk menentang pendapat, keputusan, atau tindakan pekerja seniornya.
    • Menumpang/mengikuti aturan saja
    Kecenderungan “ikut-ikut saja” tanpa memahami maksud dan tindakan pekerja yang melakukan pekerjaan
    • Berpikir grup
    Keengganan berbagi informasi yang berbeda untuk keharmonisan tim
    • Difusi tanggung jawab
    Risiko dalam pengambilan keputusan berkelompok.


    Nama : Cevin Minaldo Nicholas
    NIM : 167051978
    Semester : II
    Kelas : A1

  54. Memahami Kesalahan Manusia (Human Error)

    Semua pekerja bisa melakukan kesalahan (error), tak terkecuali pekerja yang sudah terlatih dan memiliki motivasi kerja yang baik. Beberapa kesalahan bisa menghasilkan konsekuensi cedera/kecelakaan, sedang banyak kesalahan lainnya tidak. Karenanya, penting bagi praktisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) untuk dapat memahami prinsip yang melatarbelakangi kesalahan manusia.Karena kesalahan pasti terjadi, kemampuan untuk dapat mengidentifikasi kesalahan di tahap awal, berguna untuk mencegah terjadinya kecelakaan. Grafik di bawah memperlihatkan porsi faktor manusia dan hubungannya dengan kecelakaan.

    Hampir 80% kejadian terkait dengan kesalahan manusia, data dari Departemen Energi Amerika bahkan mengatakan bahwa di beberapa industri, porsi kesalahan manusia bisa mencapai 90%; hanya sekitar 20% yang terkait kegagalan peralatan.Jika angka 80% kesalahan manusia didetailkan lebih lanjut, terungkap bahwa sebagian besar (70%) kesalahan pekerja diakibatkan oleh kelemahan laten organisasi/perusahaan (kelemahan yang dibuat oleh pekerja lain di masa lalu yang tidak nampak karena tidak menimbulkan masalah), sedang 30% lainnya terjadi oleh pekerja yang menangani peralatan atau sistem di area kerja.Kecelakaan-kecelakaan yang telah terjadi mengajarkan bahwa kita tidak boleh menyalahkan kecelakaan hanya kepada pekerja, karena yang sebetulnya terjadi adalah proses dan nilai di dalam organisasi/perusahaan berkontribusi besar pada mayoritas kecelakaan.

    Akar penyebab kecelakaan merupakan kombinasi dari beberapa faktor, banyak diantaranya yang berada di luar kendali pekerja.
    Kesalahan (error) adalah tindakan manusia yang tidak disengaja yang menyimpang dari tindakan yang diharapkan. Kesalahan manusia (human error) terjadi akibat ketidakcocokan antara keterbatasan manusia dengan kondisi lingkungan di tempat kerja, termasuk ketidaksesuaian manajemen, kepemimpinan dan kelemahan organisasi yang membuat kondisi tersebut muncul.

    Ada 5 prinsip dasar yang harus terlebih dahulu dimengerti untuk dapat memahami faktor manusia.
    1. Semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerja yang paling hebat pun bisa salah.
    Tidak ada satupun pekerja yang kebal atau anti kesalahan, berapapun usia, pengalaman atau tingkat pendidikannya. Karenanya dikenal istilah “to err is human” (berbuat salah adalah manusiawi). Tabiat manusiawi pekerja untuk bersikap tidak sempurna, sehingga pada akhirnya, kesalahan dapat terjadi. Tidak ada pelatihan atau konseling yang dapat mengubah kerentanan manusia ini.
    2. Situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diprediksi, dikelola dan dicegah.
    Meskipun secara umum kesalahan manusia adalah hal yang pasti, beberapa kesalahan yang spesifik dapat dicegah. Seperti halnya jika seseorang menulis formulir penarikan rekening bank di awal tahun baru akan memiliki potensi besar salah menulis tahun sebelumnya, prediksi semacam ini bisa juga dibangun dalam konteks bekerja di tempat kerja.
    3. Perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi.
    Organisasi digerakkan oleh tujuan, karena itu, proses dan nilai-nilai yang ada di dalamnya dikembangkan untuk mengarahkan perilaku tiap individu di dalam organisasi. Organisasi mencerminkan bagaimana pekerjaan dipecah menjadi tugas-tugas tertentu dan dikoordinasikan untuk mencapai sasaran dengan selamat dan handal.
    4. Pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan, rekan kerja dan bawahannya.
    Tingkat keselamatan dan kehandalan sebuah fasilitas terkait langsung dengan perilaku para pekerjanya. Semua perilaku manusia, yang baik ataupun yang buruk, dikuatkan oleh konsekuensi langsung atau pengalaman masa lalunya. Sebuah perilaku dikuatkan oleh konsekuensi yang individu tersebut alami ketika perilaku tertentu dilakukan.
    5. Kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan atau sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan di masa lalu.
    Peningkatan kinerja dapat diraih dengan menerapkan tindakan perbaikan sebuah investigasi atau analisa kecelakaan. Belajar dari kesalahan diri sendiri dan orang lain adalah hal yang reaktif.
    Beberapa karakter manusia dibawah ini perlu diperhatikan, terutama ketika menempatkan pekerja di sistem kerja yang rumit :
    a. Stres.
    b. Menghindari kelelahan pikiran.
    c. Keterbatasan memori kerja.
    d. Keterbatasan fokus perhatian.
    e. Pola pikir.
    f. Sulit melihat kesalahannya sendiri.
    g. Keterbatasan perspektif.
    h. Rentan terhadap faktor emosional atau sosial.
    i. Kelelahan.
    j. Presenteeism.
    k. Sikap tidak aman.
    l. Rasa bangga.
    m. Heroik.
    n. Fatalistic.
    o. Invulnerability.
    p. Pollyanna (rasa optimis berlebihan).
    q. Sikap “Ban gundul”.


    Nama : Bonifatius Heru Prasetyo
    NIM : 167052000
    Semester : II
    Kelas : A1

  55. Memahami Kesalahan Manusia (Human Error)

    Semua pekerja bisa melakukan kesalahan (error), tak terkecuali pekerja yang sudah terlatih dan memiliki motivasi kerja yang baik. Karenanya, penting bagi praktisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) untuk dapat memahami prinsip yang melatarbelakangi kesalahan manusia.

    Karena kesalahan pasti terjadi, kemampuan untuk dapat mengidentifikasi kesalahan di tahap awal, berguna untuk mencegah terjadinya kecelakaan.

    Kecelakaan-kecelakaan yang telah terjadi mengajarkan bahwa kita tidak boleh menyalahkan kecelakaan hanya kepada pekerja, karena yang sebetulnya terjadi adalah proses dan nilai di dalam organisasi/perusahaan berkontribusi besar pada mayoritas kecelakaan. Akar penyebab kecelakaan merupakan kombinasi dari beberapa faktor, banyak diantaranya yang berada di luar kendali pekerja.

    Pertama, semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerja yang paling hebat pun bisa salah.

    Tidak ada satupun pekerja yang kebal/anti kesalahan, berapapun usia, pengalaman atau tingkat pendidikannya. Karenanya dikenal istilah “to err is human” (berbuat salah adalah manusiawi

    Kedua, situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diprediksi, dikelola dan dicegah.

    Meskipun secara umum kesalahan manusia adalah hal yang pasti, beberapa kesalahan yang spesifik dapat dicegah. Mengenali perangkap/jebakan kesalahan dan secara aktif mengkomunikasikan bahaya-bahaya tersebut ke orang lain adalah salah satu bentuk pengelolaan kesalahan yang proaktif. Dengan mengubah situasi kerja untuk mencegah, menghilangkan atau mengurangi kondisi yang bisa menyebabkan kesalahan, pekerjaan dan faktor individu di tempat kerja bisa dikelola untuk mencegah atau setidaknya mengurangi peluang terjadinya kesalahan.

    Ketiga, perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi.

    Organisasi digerakkan oleh tujuan, karena itu, proses dan nilai-nilai yang ada di dalamnya dikembangkan untuk mengarahkan perilaku tiap individu di dalam organisasi. Organisasi mencerminkan bagaimana pekerjaan dipecah menjadi tugas-tugas tertentu dan dikoordinasikan untuk mencapai sasaran dengan selamat dan handal.

    Keempat, pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan, rekan kerja dan bawahannya.

    Tingkat keselamatan dan kehandalan sebuah fasilitas terkait langsung dengan perilaku para pekerjanya. Karena perilaku dipengaruhi oleh konsekuensi yang pekerja itu alami, apa yang terjadi ketika seorang pekerja menunjukkan perilaku tertentu adalah hal yang penting untuk meningkatkan kinerja manusia.

    Kelima, kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan/sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan di masa lalu.

    Peningkatan kinerja dapat diraih dengan menerapkan tindakan perbaikan sebuah investigasi/analisa kecelakaan. Belajar dari kesalahan diri sendiri dan orang lain adalah hal yang reaktif, namun menjadi hal yang penting sebagai bentuk perbaikan berkelanjutan.

    Manusia tidak berbuat salah secara sengaja. Kesalahan (error) adalah tindakan manusia yang tidak disengaja yang menyimpang dari tindakan yang diharapkan. Kesalahan adalah tindakan tak terencana atau dipikirkan terlebih dahulu. Kesalahan manusia (human error) terjadi akibat ketidakcocokan antara keterbatasan manusia dengan kondisi lingkungan di tempat kerja, termasuk ketidaksesuaian manajemen, kepemimpinan dan kelemahan organisasi yang membuat kondisi tersebut muncul.

    Luput (slips) terjadi ketika suatu aksi fisik gagal mewujudkan hasil yang diinginkan. Sedang khilaf (lapses) melibatkan kegagalan terkait ingatan atau mengingat ulang.

    Beberapa hal berikut bisa menjelaskan bagaimana ketidaktepatan atau aksi yang salah bisa terjadi:
    • Waktu –terlalu cepat, terlalu lambat, alpa
    • Durasi –terlalu lama, terlalu singkat
    • Urutan –terbalik, berulang-ulang, gangguan
    • Obyek –salah tindakan di obyek yang benar, tindakan bertindak di obyek yang salah
    • Tekananan –terlalu sedikit atau terlalu banyak tekanan
    • Arahan – salah memberikan arahan
    • Kecepatan –terlalu cepat atau terlalu lambat, dan
    • Jarak – terlalu jauh, terlalu dekat.

    Beberapa karakter manusia dibawah ini perlu diperhatikan, terutama ketika menempatkan pekerja di sistem kerja yang rumit:

    Stres. Pada dasarnya, stres bukanlah hal yang buruk. Beberapa kondisi stres merupakan hal yang normal dan sehat. Stres bahkan dapat meningkatkan fokus sehingga menguntungkan. Namun, stres bisa terakumulasi dan menguasai seseorang, sehingga pada akhirnya melumpuhkan kinerja.

    Menghindari kelelahan pikiran. Manusia cenderung enggan berpikir/konsentrasi/fokus dalam jangka waktu yang lama karena melelahkan. Berpikir adalah proses yang membutuhkan usaha yang besar dan juga lambat, akhirnya manusia cenderung mencari pola yang dikenalnya dan menerapkan solusi yang sudah pernah diterapkan

    Keterbatasan memori kerja. Ingatan jangka pendek (short term memory) adalah tempat kerja/memori kerja bagi penyelesaian masalah dan pengambilan kebutusan. Ingatan jangka pendek dipergunakan untuk menyimpan informasi baru dan aktif dipergunakan ketika belajar, menyimpan dan memanggil (recall) informasi. Inilah yang menyebabkan pekerja lupa, terutama ketika berkerja dengan prosedur yang rumit.

    Keterbatasan fokus perhatian. Keterbatasan kemampuan berkonsentrasi pada dua atau lebih aktifitas menurunkan kemampuan untuk memproses informasi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah. Fokus perhatian sangatlah terbatas, jika diambil oleh satu hal maka dia akan menarik diri dari hal yang lain.

    Pola pikir. Manusia cenderung fokus pada apa yang hendak dicapai daripada pada fokus pada apa yang harus dihindari, karenanya, manusia hanya melihat apa yang pikirannya harapkan/inginkan untuk dilihat. Otak manusia cenderung mencari keteraturan, setelah didapat, maka ia akan mengacuhkan selain itu; dengan demikian ia akan melewatkan kondisi yang tidak diperkirakan.

    Sulit melihat kesalahannya sendiri. Individu, terutama yang bekerja sendiri, rentan terhadap kesalahan. Pekerja yang terlalu asyik dengan kerjaannya, atau disibukkan dengan suatu hal, bisa jadi gagal untuk dapat mengidentifikasi ketidaknormalan.

    Keterbatasan perspektif. Manusia tidak bisa melihat semua hal yang ada ditempat kerja untuk dilihat. Keterbatasan manusia untuk menerima semua fakta dapat menghalangi keputusannya untuk memecahkan masalah.

    Rentan terhadap faktor emosional/sosial. Kemarahan atau rasa malu bisa menurunkan kinerja seorang pekerja atau kelompok kerja.

    Kelelahan. Lelah secara fisik, emosi dan mental bisa mengarah ke tindakan yang salah dan pengambilan keputusan yang tidak tepat. Kelelahan dapat diakibatkan oleh faktor di dalam pekerjaan (tekanan produksi, lingkungan, dan kurangnya jumlah pekerja) dan faktor d iluar pekerjaan (pola makan dan tidur.

    Presenteeism. Beberapa pekerja akan tetap memaksakan hadir dan bekerja meskipun kemampuan kerjanya sudah menurun karena penyakit atau cedera. Kecenderungan pekerja tetap melanjutkan pekerjaan meski memiliki masalah kesehatan yang ringan dapat diakibatkan oleh kurangnya cuti sakit, menumpuknya pekerjaan atau tidak tersedianya akses pelayanan kesehatan.

    Sikap tidak aman. Sikap dapat diartikan sebagai kondisi mental atau perasaan terhadap suatu obyek atau subyek. Dikatakan bahwa persepsi seseorang terhadap resiko lebih banyak dipengaruhi oleh hatinya ketimbang otaknya

    Bekerja dalam kelompok juga tidak membuat manusia bebas dari kesalahan. Kesalahan kelompok (team error) bisa terjadi akibat interaksi antara anggota kelompok kerja.

    Kesalahan kelompok bisa diakibatkan oleh beberapa hal, diantaranya:

    Efek halo :Kepercayaan buta dikarenakan pengalaman atau pendidikannya.
    Pilot-Co-pilot :Keenganan pekerja junior untuk menentang pendapat.
    Menumpang/mengikuti saja :Kecenderungan untuk menumpang.
    Berpikir grup :Kepaduan, loyalitas, dan komitmen adalah hal yg baik. Namun kadang hal tersebut dapat menurunkan kualitas keputusan tim.
    Difusi tanggung :Bisa jadi berisiko dalam pengambilan keputusn dan memecahkan masalah kelompok.


    Nama : Dodik bagus prihatmoko <<– Tulis nama Anda sesuai kaidah yang benar. Lihat PUEBI 2016.
    NIM :157051843
    Kelas :A1
    Semester : II
    Semester :II
    Kelas : A1

  56. TUGAS PERBAIKAN KE-1


    Human Error (Kesalahan Manusia)

    Human error dapat didefinisikan sebagai suatu kesalahan manusia ,banyak kecelakaan terjadi di dunia pekerjaan disebabkan oleh manusia itu sendiri. Kesalahan manusia yang telah terjadi menyebabkan kerugian bagi orang yang lain menyebabkan kerugian material hingga sesoeorang. Untuk itulah diajarkan dalam K3 untuk mengatasi human error dan menerapkan nya dalam pekerjaan maupun di lingkungan sekitar kita. Kecelakaan yang terjadi di dalam pekerjaan dapat diperhitungkan 80% akibat manusia itu sendiri dan kesalahan yang terjadi pada mesin hanya sebesar 20% . kesalahan yang dilakukan dalam pekerjaan kebanyakan dilakukan oleh perusahaan itu sendiri karena kurangnya kesadaran resiko akan bahaya akibat pencarian keuntungan atau ketidaktahuan akan keamanan dalam pekerjaan sehingga terjadilah korban kecelakaan kerja, sedangkan kesalahan yang dilakukan oleh individu hanya sedikit saja bahkan hanya sepertiganya saja dalam 80% akibat kesalahan manusia sendiri.

    Sudah sewajarnya bahwa memang manusia tidak mungkin tidak melakukan kesalahan karena juga diakibatkan oleh faktor usia, wawasan, keteledoran atau khilaf untuk itulah banyak sekali pelatihan-pelatihan untuk mengurangi setiap kesalahaan yang dilakukan oleh manusia dan juga merevisi SOP mapun meninjau JSA tetapi kembali lagi ke awal bahwa manusia tidak mungkin tidak melakukan kesalahan karena tidak ada manusia yang sempurna .

    Memperbaiki kesalahan itu penting tetapi bagaimana jika mencegah kesalahan itu sebelum terjadi dengan melakukan analisis pada tempat atau lingkungan yang kita tempati dengan menganilisis kecelakaan yang terjadi sebelumnya maupun melihat faktor-faktor yang mungkin saja akan terjadi kedepaannya untuk itulah dilakukan dengan menerapkan pencegahan dalam tempat kerja maupun lingkungan sekitar kita contohnya dalam pencegahan seperti melihat selang gas kompor di rumah kita yang mungkin saja sudah mulai using sebaiknya diganti sebelum terjadi sebuah kejadian yang tak diinginkan dan juga mencium ada atau tidak adanya bau gas disekitar kita.

    Ada beberapa prinisip dasar yang dapat digunakan untuk memahami faktor manusia :
    1. Semua Manusia bias berbuat salah, bahkan pekerja paling hebat pun bias berbuat salah
    Yang pertama adalah tidak sengaja yang merupakan sebuah kesalahan yang di lakukan oleh sang manusia oleh karena luput, khilaf dan kurangnya pengetahuan dalam bekerja.
    2. Situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diprediksi, dikelola dan dicegah
    Yang kedua adalah kesengajaan yang merupakan kesalahan yang dilakukan oleh manusia yang disebabkan karena kurangnya pengetahuan tetapi tetap dipaksakan kemudian pelanggaran karena tidak menaati peraturan ,pengecualian sehingga mengabaikan akan peraturan yang dibuat dan juga sabotase yang merupakan tindakan merugikan perusahaan.
    3. Perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi
    Yang ketiga adalah organisasi sekumpulan orang yang bersatu padu berdasarkan tujuan yang sama hingga tujuan tersebut tercapai. Dalam organisasi akan dibagi beberapa struktur dan dikoordinasi agar pekerjaan yang dilakukan lebih mudah tercapai ataupun terorganisir.
    4. Pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan, teman kerja dan bawahannya
    Yang keempat adalah pada dasarnya perilaku manusia yang baik maupun buruk bergantung pada konsekuensi atau pengalaman masa lalunya karena perilaku manusia didasari konsekuensi yang alami ketika seorang manusia menunjukan perilaku tertentu pada saat bekerja itu adalah hal yang penting untuk meningkatkan kinerja manusia
    5. Kecelakaan dapat dihindari dengan memahami alasan/sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari masa lalu
    Yang kelima adalah kecelakaan kerja dapat dihindari dengan mengambil pelajaran kesalahan dari masa lalu, hal ini dapat diraih dengan tindakan perbaikan dari diri sendiri. Belajar dari kesalahan diri sendiri walapun orang lain adalah hal yang reaktif namun dapat menjadi hal yang penting sebagai perbaikan lanjutan
    Manusia sering melakukan kesalahan yang tidak disengajai (human error) karena pada dasarnya memang tidak ada yang manusia yang tidak melakukan kesalahan dan juga disengajai karena tindakan gegabah akibat keinginan yang dipaksakan dan kesalahan manusia terpicu oleh lingkungan tempat kerja, ketidaksesuaian manajemen, kelemahan dan kepimpinan organisasi yang membuat kesalahan kesalahan tersebut terjadi
    Beberapa hal hal berikut ini dapat menjelaskan bagaimana manusia bias melakukan kesalahan atau yang disebut human error :
    – Waktu : terlalu cepat, terlalu lambat, alpa
    – Durasi : terlalu lama dan terlalu singkat
    – Urutan : terbalik balik, berulang ulang dan gangguan
    – Obyek : salah tindakan di obyek yang benar, tindakan di onyek yang salah
    – Tekanan : terlalu sedikit sehingga menyebabkan malas atau enggan melakukan, terlalu banyak tekanan sehingga menjadi stress
    – Arahan : kesalahan dalam memberikan arahan sehingga terjadinya kesalahan
    – Kecepatan : terlalu cepat sehingga ceroboh , terlalu lambat sehingga melewati batas waktu yang ditentukan sehingga terjadinya penundaan
    – Jarak : terlalu jauh dan terlalu dekat

    Ketika sesorang ditempatkan di tempat yang sangat rumit atau susah kondisi pekerja harus diperhatikan seperti hal-hal berikut ini :
    1. Stres – stress yang berlebihan dapat mempengaruhi kinerja sesorang
    2. Menghindari kelelahan pikiran – seorang manusia mempunyai batas kemampuan fisik maupun mental jika dipaksakan dapat berakibat buruk bagi sang pekerja
    3. Keterbatasan memori kerja – seorang pekerja mempunyai batas dalam mengingat sesuatu tetapi jika sesorang pekerja langsung ditempatkan di tempat yang rumit maka pekerja cenderung lupa akan tugasnya karena akibat ingatan yang terbatas
    4. Pola pikir – manusia cenderung ingin mencapai tujuannya tetapi terkadang ketika dicapai manusia akan lupa dengan kondisi sekitarnya
    5. Sulit melihat kesalahan sendiri – berbahaya bagi sebuah organisasi karena dapat menyebabkan kesalahan pada suatu perusahan akibat tidak memperdulikan proses yang benar degna hanya berfokus dengan tujuan saja
    6. Keterbatasan perspektif – kurangnya melihat segala hal dalam segala cara pandang dan sulit menerima fakta fakta yang ada
    7. Rentan terhadap faktor emosional/social – susahnya menahan emosi dalam bekerja atau malu saat bekerja
    8. Presenteeism – dipaksakannya suatu kehadiran saat bekerja walau fisik tidak fit
    9. Sikap tidak aman – susahnya pengendalian suatu mental seperti merasa paling bahagia, sedih, optimis berlebihan


    Nama: Usat Ventufa
    NIM: 167051971
    Semester: II
    Kelas: A1

  57. Memahami Kesalahan Manusia (Human Error)

    Semua pekerja bisa melakukan kesalahan (error), tak terkecuali pekerja yang sudah terlatih dan memiliki motivasi kerja yang baik. Beberapa kesalahan bisa menghasilkan konsekuensi cedera/kecelakaan, sedang kesalahan lainnya tidak. Karenanya, penting bagi praktisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) untuk dapat memahami prinsip yang melatar belakangi kesalahan manusia. Karena kesalahan pasti terjadi, kemampuan untuk dapat mengidentifikasi kesalahan di tahap awal, berguna untuk mencegah terjadinya kecelakaan.
    Kecelakaan-kecelakaan yang telah terjadi mengajarkan bahwa kita tidak boleh menyalahkan kecelakaan hanya kepada pekerja, karena yang sebetulnya terjadi adalah proses dan nilai di dalam organisasi/perusahaan berkontribusi besar pada mayoritas kecelakaan. Akar penyebab kecelakaan merupakan kombinasi dari beberapa faktor, banyak yang diantaranya berada di luar kendali pekerja.

    Ada 5 prinsip prinsip dasar yang harus terlebih dahulu dimengerti untuk dapat memahami faktor manusia :
    1. Semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerja yang paling hebat pun bisa salah
    Tidak ada satupun pekerja yang kebal/anti kesalahan. Karenanya, dikenal istilah “to err is human” (berbuat salah adalah manusiawi).
    Dr. James Reason, penulis Human Error (1990) mengatakan : adalah penting bagi tiap pekerja, terutama managernya, untuk menjadi mawas diri akan potensi manusia berbuat salah. Pekerjaan, tempat kerja dan faktor organisasi membentuk kemungkinan (likelihood) dan konsekuensi (consequences). Memahami bagaimana dan mengapa tindakan tidak aman terjadi adalah langkah awal penting dalam mengelola kesalahan dengan efektif.
    2. Situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diprediksi, dikelola dan dicegah
    Meskipun secara umum kesalahan manusia adalah hal yang pasti, beberapa kesalahan yang spesifik dapat dicegah. Mengenali perangkap/jebakan kesalahan dan secara aktif mengkomunikasikan bahaya-bahaya tersebut ke orang lain adalah salah satu bentuk pengelolaan kesalahan yang proaktif.
    3. Perilaku individu dipengeruhi oleh proses dan nilai organisasi
    Organisasi digerakkan oleh tujuan, karena itu, proses dan nilai-nilai yang ada di dalamnya dikembangkan untuk mengarahkan perilaku tiap individu di dalamn organisasi. Organisasi mencerminkan bagaimana pekerjaan dipecah menjadi tugas-tugas tertentu dan dikoordinasikan untuk mencapai sasaran dengan selamat dan handal. Penyelesaian pekerjaan dalam konteks proses dan budaya organisasi, pengelolaan perencanaan dan sistem pengendali, berkontribusi paling besar dalam kesalahan manusia yang bisa mengakibatkan kecelakaan kerja.
    4. Pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan, rekanan kerja dan bawahannya
    Tingkat keselamatan dan kehandalan sebuah fasilitas terkait langsung dengan perilaku para pekerjanya. Semua perilaku manusia, baik maupun buruk, dikuatkan oleh konsekuensi langsung atau pengalaman masa lalunya.
    5. Kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan/sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan dimasa lalu
    Peningkatan kinerja dapat diraih dengan menerapkan tindakan perbaikan sebuah investigasi/analisa kecelakaan. Belajar dari kesalahan adalah hal yang relatif, namun menjadi hal yang penting sebagai bentuk perbaikan berkelanjutan.

    Kesalahan adalah tindakan tak terencana atau dipikirkan terlebih dahulu. Kesalahan manusia (human error) terjadi akibat ketidakcocokkan antara keterbatasan manusia dengan kondisi lingkungan di tempat kerja, termasuk ketidaksesuaian manajemen, kepemimpinan dan kelemahan organisasi yang membuat keselahan tersebut muncul.
    Luput (slips) terjadi ketika suatu aksi fisik gagal mewujudkan hasil yang`diingainkan.
    Khilaf (lapses) melibatkan kegagalan terkait ingatan atau mengingat ulang.
    Keliru (mistake) terjadi ketika seseorang mempergunakan rencana yang tidak memadai untuk mencapai hasil yang diinginkan.
    Manusia memiliki karakteristik fisik, biologi, sosial, mental dan emosi yang membentuk kecenderungan, kemampuan dan juga menentukan keterbatasannya. Salah satu ciri manusia adalah ketidaktepatanya. Pekerja cenderung rentan terhadap kondisi eksternal yang membuat pekerja bisa berbuat salah. Kerentanan ini juga terjadi ketika manusia bekerja dalam sistem yang rumit (perangkat lunak maupun administratif)
    Beberapa karakter manusia yang perlu diperhatikan, terutama ketika menempatkan pekerja di sistem pekerja yang rumit :
    • Stres
    Pada dasarnya, stres bukanlah hal yang buruk. Beberapa kondisi stres merupakan hal yang normal dan sehat. Namun, stres bisa terakumulasi dan menguasai seseorang, sehingga pada akhirnya melumpuhkan kinerja.
    • Menghindari kelelahan pikiran
    Berpikir adalah proses yang membutuhkan usaha yang besar dan juga lambat, akhirnya manusia cenderung mencari pola yang dikenalnya dan menerapkan solusi yang pernah diterpakan.
    • Keterbatasan memori kerja
    Ingatan jangka pendek (short term memory) adalah tempat kerja/memori kerja bagi penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan.
    • Keterbatasan fokus perhatian
    Fokus perhatian sangatlah terbatas, jika diambil oleh satu hal maka dia akan menarik diri dari hal yang lain.
    • Pola pikir
    Manusia cenderung fokus pada apa yang hendak dicapai daripada fokus apa yang harus dihindari, karenanya, manusia hanya melihat apa yang pikirannya harapkan/inginkan untuk dilihat. Dengan demikian ia akan melewatkan kondisi yang tidak diperkirakan.
    • Sulit melihat kesalahannya sendiri
    Pekerja yang terlalu asyik dengan kerjaannya, atau disibukkan dengan suatu hal bisa jadi gagal untuk dapat mengidentifikasikan ketidaknormalan.
    • Keterbatasan perspektif
    Manusia tidak dapat melihat semua yang ada di tempat kerja untuk dilihat pada saat yang bersamaan. Keterbatasan manusia untuk menerima semua fakta dapat menghalangi keputusannya untuk memecahkan masalah.
    • Rentan terhadap faktor emosional/sosial
    Kemarahan atau rasa malu bisa menurunkan kinerja seseorang pekerja atau kelompok kerja.
    • Kelelahan
    Lelah secara fisik, emosi dan mental bisa mengarah ke tindakan yang salah dan pengambilan keputusan yang tidak tepat. Kelelahan diakibatkan oleh faktor di dalam pekerjaan (tekanan produksi, lingkungan, dan kurangnya jumlah pekerja) dan faktor diluar pekerjaan (pola makan dan tidur).
    • Presenteeism
    Beberapa pekerja akan tetap memaksakan hadir dan bekerja meskipun kemampuan kerjanya sudah menurun karena penyakit atau cedera.
    • Sikap tidak aman
    Sikap dapat diartikan sebagai kondisi mental atau perasaan terhadap suatu obyek atau subyek.
    Beberapa sikap yang dapat menimbulkan resiko berbuat salah, misalnya :
    o Rasa bangga (kebanggan berlebih terhadap diri sendiri)
    o Heroik (keberanian yang berlebihan)
    o Fatalistic (sikap yang meyakini bahwa kejadian sudah ditentukan)
    o Invulnerability (memiliki rasa kebal terhadap kesalahan/mustahil berbuat salah)
    o Pollyanna (rasa optimis berlebihan)
    o Sikap “ban gundul” (tidak merubah perbaikan praktek/kondisi kesalahan yang ada)
    • Efek halo
    Kepercayaan buta akan kompetensi seseorang dikarenakan pengalaman atau pendidikannya.
    • Pilot-Co-pilot
    Keengganan pekerja junior (co-pilot) untuk menentang pendapat, keputusan atau tindakan pekerja senior (pilot). Bawahan menunjukan sopan santun berlebihan ketika berinterkasi dengan senior, tanpa sadar menerima perkataan bos tanpa berpikir kritis terhadap tindakan dan keputusan.
    • Menumpang/mengikut saja
    Kecenderungan untuk ikut-ikutan saja tanpa aktif mengevaluasi maksud dan tindakan pekerja yang melakukan pekerjaan dan mengambil inisiatif.

    • Berpikir grup
    Kepaduan, loyalitas, konsensus dan komitmen adalah hal yang baik jika ada di dalam kelompok kerja. Namun, terkadang hal-hal tersebut bisa menurunkan kualitas keputusan tim. Akibatnya, informasi penting yang bisa jadi tidak terbagi kepada anggota kelompok.
    • Difisi tanggung jawab
    Bisa jadi berisiko dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah kelompok. Jika dua atau lebih pekerja sepakat akan sesuatu yang dianggap cara yang terbaik dalam melakukan sesuatu, maka mereka akan lebih mudah mengambil resiko dan mengabaikan prosedur atau kebijakan yang ada. Fenomena ini bisa disebut mentalitas gembala (herd mentality).


    Nama : Dini Febriyani
    NIM : 167052008
    Semester : II
    Kelas : A1

  58. TUGAS PERBAIKAN KE-4 <—- KE-1


    Kesalahan Manusia (Human Error)

    Semua pekerja bisa melakukan kesalahan ( Error ), tak terkecuali pekerja yang sudah terlatih(Berpengalaman dalam bekerja) dan memiliki motivasi kerja yang baik. Beberapa kesalahan bisa menghasilkan konsekuensi cedera / kecelakaan kerja, sedangkan banyak kesalahan lainnya tidak. Karenanya, penting bagi praktisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) untuk memahami prinsip yang melatarbelakangi kesalahan manusia, karena kesalahan pasti terjadi.
    Hampir 80% kejadian kecelakaan kerja disebabkan oleh kesalahan manusia, sedangkan 20% nya disebabkan oleh faktor kegagalan peralatan
    Jika didetailkan lebih terperinci dan lebih lanjut 70% kesalahan pekerja diakibatkan oleh kelemahan laten organisasi / perusahaan ( Kelemahan yang di buat oleh pekerja lain di masa lalu yang tidak Nampak karena tidak adanya timbul masalah ) sedangkan 30% lainnya terjadi oleh pekerja yang menangani peralatan atau system di area kerja. Bagaimanapun manusia tidak berbuat salah secara sengaja, kesalahan (error) adalah tindakan manusia yang tidak disengaja yang menyimpang dari tindakan yang diharapkan. Kesalahan adalah tindakan tak terencana / di rencanakan atau dipikirkan terlebih dahulu. Kesalahan manusia ( Human Error ) terjadi akibat ketidakcocokan antara keterbatasan manusia dengan kondisi lingkungan di tempat kerja, termasuk ketidaksesuaian manajemen, kepemimpinan dan kelemahan organisasi yang membuat kondisi tersebut muncul.
    Oleh karena itu kecelakaan – kecelakaan yang sudah terjadi mengajarkan bahwa kita tidak boleh menyalahkan kecelakaan hanya kepada pekerja, karena kecelakaan kerja terjadi adanya proses dan nilai di dalam organisasi / perusahaan kontribusi besar pada mayoritas kecelakaan. Penyebab kecelakaan kerja merupakan kombinasi dari beberapa faktor, banyak di antaranya yang berada di luar kendali pekerja.
    5 prinsip dasar yang harus dimengerti untuk memahami faktor manusia :
    1. Semua manusia bisa berbuat salah, bahkan perkerja yang berpengalaman / hebatpun bisa salah.
    Tidak ada satupun pekerja yang kebal / anti kesalahan, berapapun usianya, pengalaman ataupun pendidikannya.
    2. Situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diprediksi, dikelola dan di cegah.
    Meskipun secara umum kesalahan manusia adalah hal yang pasti, beberapa kesalahan yang spesifik dapat di cegah.
    3. Perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi.
    Organisasi digerakkan oleh tujuan. Oleh karena itu, proses dan nilai-nilai yang ada di dalamnya dikembangkan untuk mengarahkan perilaku setiap individu di dalam organisasi.
    4. Pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pemimpin, rekan kerja dan bawahannya.
    Tingkat keselamatan dan kehandalan sebuah fasilitas terkait langsung dengan perilaku para pekerjanya.
    5. Kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan / sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan di masa lalu.
    Peningkatan kinerja dapat diraih dengan menerapkan tindakan perbaikan sebuah investigasi / analisa kecelakaan.

    Unsafe act ( Tindakan tidak aman)
    Contohnya : sikap dan tingkah laku yang tidak aman
    Unsafe act ( Tindakan tidak aman) dibagi menjadi 2 yaitu :
    – Unintended act ( Tindakan yang tidak disengaja ) :
     Slips ( Luput ) : terjadi ketika suatu aksi fisik gagal mewujudkan hasil yang diinginkan
     Additional failure ( Kegagalan disengaja )
     Lapse ( Khilaf ) : Melibatkan kegagalan terkait ingatan atau mengingat ulang
     Memory
     Mistake ( Keliru ) : tejadi ketika seseorang mempergunakan rencana yang tidak memadai untuk mencapai hasil yang diinginkan. Keliru biasanya melibatkan kesalahan interpretasi atau kurangnya pengetahuan.
     Knowledge mistake

    – Intended Act ( Tindakan yang disengaja ) :
     Mistake ( Keliru )
    • Rule Based
    • Knowledge Based
    • Mistakes
     Violation ( Pelanggaran )
    • Routine
    • Exception ( Pengecualian )
    • Sabotage ( Merusak peralatan / harta benda perusahaan )
    Contoh : menghapus file / data perusahaan karena tidak menerima / sakit hati terhadap atasan.

    8 hal ketidaktepatan atau aksi yang salah menyebabkan human error :
    – Waktu : Telalu cepat, telalu lambat, alpa
    – Durasi : Terlalu lama, terlalu singkat
    – Urutan : Terbalik, berulang-ulang, gangguan
    – Objek : Bertindak salah di objek yang benar, tindakan bertindak di objek yang salah
    – Tekanan : Terlalu sedikit atau terlalu banyaknya tekanan kepada pekerja
    – Arahan : Salah memberi pengarahan
    – Kecepatan : Terlalu cepat atau terlalu lambat
    – Jarak : Terlalu jauh, terlalu dekat

    Beberapa karakter yang harus diperhatikan terutama ketika menempatkan pekerja di sistem kerja yang rumit :
    – Stres : Bukanlah hal buruk, beberapa kondisi stres merupakan hal normal dan sehat. Stres bahkan dapat meningkatkan fokus sehingga menguntungkan. Tetapi, stres bisa tera kumulasi dan menguasai manusia, sehingga pada akhirnya melumpuhkan kinerja.
    – Menghindari kelelahan pikiran : Manusia cenderung tidak mau / enggan berfikir, konsentrasi, fokus dalam jangka waktu yang lama karena melelahkan. Berfikir adalah proses yang membutuhkan usaha yang besar dan juga lambat, pada akhirnya manusia cenderung mencari pola yang dikenalnya dan menerapkan solusi yang pernah diterapkan pola tersebut :
    • Asumsi : Menerima kondisi sebagai suatu hal yang benar tanpa di verifikasi terlebih dahulu
    • Kebiasaan : Pola perilaku dibawah sadar sebagai hasil dari pengulangan yang sering di lakukan.
    • Bias konfirmasi : Keenganan untuk menerapkan solusi terbaru karena bias pemikiran yang ada akibat investasi waktu dan usaha yang diperlukan untuk menerapkan solusi terbaru.
    • Bias kesamaan : Mengambil solusi dari kondisi yang serupa/sama yang berhasil dimasa lalu
    • Bias frekuensi : Mecoba solusi yang sering dipakai dan yang sudah berhasil
    • Bias ketersediaan : Cenderung menerapkan solusi yang muncul dalam pikiran atau yang tersedia.
    Keterbatasan memori kerja : Ingatan jangka pendek ( short term memory ) adalah tempat kerja / memori kerja bagi penyelesaian dan mengambil keputusan dipergunakan untuk menyimpan informasi baru dan aktif saat belajar, pekerja lupa ketika bekerja dengan prosedur yang rumit
    Keterbatasan fokus perhatian : Fokus perhatian sangatlah terbatas, keterbatasan kemampuan berkonsentrasi pada dua atau lebih aktifitas menurunkan kemampuan untuk memproses informasi yang dibutuhkan saat menyelesaikan masalah.
    Pola pikir : Manusia cenderung fokus pada apa yang hendak dicapai daripada pada fokus pada apa yang harus dihindari.Karenanya, manusia hanya melihat apa yang dipikirannya harapan/inginkan untuk dilihat.
    Sulit melihat kesalahan sendiri : Individu, terutama yang bekerja sendiri, rentan terhadap kesalahan.
    Keterbatasan perspektif : Manusia tidak bisa melihat semua hal yang ada ditempat kerja untuk dilihat.
    Rentan terhadap faktor emosional/sosial : Kemarahan atau rasa malu bisa menurukan kinerja seorang pekerja atau kelompok kerja.
    Kelelahan : Lelah secara fisik, emosi dan mental bisa mengarah ke tindakan yang salah dan mengambil keputusan yang tidak tepat.
    Presenteeism : Beberapa pekerja akan tetap memaksa hadir dan bekerja meskipun kemampuannya kerjanya sudah menurun karena penyakit atau cedera.
    Sikap tidak aman : Sikap bisa diartikan kondisi atau mental atau perasaaan terhadap suatu objek atau subjek

    Beberapa sikap yang dapat menimbulkan resiko berbuat salah antara lain :
    • Rasa bangga : Rasa bangga berlebihan terhadap diri sendiri dan sombong.
    • Heroik : Keberanian yang berlebihan.
    • Fatalistic : Sikap kalahan yang meyakini bahwa setiap kejadian sudah ditemukan, tidak bisa dihindari dan tidak dapat dilakukan untuk menghindari.
    • Invulnerability : Memiliki rasa kebal terhadap kesalahan / tidak mungkin berbuat salah, gagal atau cedera.
    • Pollyanna : Memiliki rasa optimis yang berlebihan. Manusia mencari keteraturan dalam lingkungan, bukan ketidakraturan
    • Sikap “BAN GUNDUL”

    Bekerja dalam kelompok juga tidak membuat manusia bebas dari kesalahan. Kesalahan kelompok ( Team Error ) bisa terjadi akibat miss communication / kurangnya interaksi antara anggota kelompok kerja.
    Berikut kesalahan kelompok bisa diakibatkan oleh beberapa hal yaitu :
    1. Efek halo : Kepercayaan buta akan kompetensi seseorang dikarenakan pengalamannya atau pendidikannya.
    2. Pilot-Co-Pilot : keengganan pekerja junior ( co-pilot ) untuk memberi/menentang pendapat, keputusan atau tindakan pekerja senior ( pilot )
    3. Menumpang/mengikuti saja : cenderung “menumpang” ( ikut-ikutan saja) tanpa secara aktif mengevaluasi maksud dan tindakan pekerja yang melakukan pekerja atau mengambil inisiatif.
    4. Berpikir grup : Kepaduan, loyalitas, kekompakan, konsensus dan komitmen adalah hal yang baik jika ada di dalam kelompok kerja, Namun terkadang bisa menurunkan kualitas keputusan tim.
    5. Difusi tanggung jawab : berisiko dalam mengambil keputusan dan pemecahkan masalah kelompok.


    Nama : Moch. Vito Anwar
    NPM : 167051979
    Semester : II
    Kelas : A1

  59. TUGAS PERBAIKAN KE-1


    Memahami Kesalahan Manusia (Human Error)

    Hampir 80% kecelakaan kerja yang terjadi terkait dengan kesalahan manusia (diambil dari data Departemen Energi Amerika ). Hanya sekitar 20% kejadian yang terkait kegagalan peralatan. Jika angka 80% kesalahan manusia didetailkan lebih lanjut, terungkap bahwa sebesar 70% kesalahan pekerja diakibatkan oleh kelemahan laten organisasi atau perusahaan. sedang 30% lainnya terjadi oleh pekerja yang menangani peralatan atau sistem di area kerja.
    Kesalahan pada manusia adalah hal yang manusiawi oleh karena itu ada 5 prinsip dasar yang harus terlebih dahulu dimengerti untuk dapat memahami faktor manusia.

    Pertama, semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerja yang paling hebat pun bisa salah.
    “to err is human” (berbuat salah adalah manusiawi). Tidak ada satupun manusia yang luput dari kesalahan. berapapun usia, pengalaman atau tingkat pendidikannya. Hal ini sangat penting untuk dipahami terlebih dahulu karena tidak ada pelatihan atau konseling yang dapat mengubah kerentanan manusia ini.

    Kedua, situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diprediksi, dikelola dan dicegah.
    Meskipun secara umum kesalahan manusia adalah hal yang pasti, beberapa kesalahan yang spesifik dapat dicegah. Mengenali perangkap maupun jebakan kesalahan dan secara aktif mengkomunikasikan bahaya-bahaya tersebut ke orang lain adalah salah satu bentuk pengelolaan kesalahan yang proaktif. Dengan mengelola sumber-sumber kesalahan diharapkan dapat menekan angka kecelakaan kerja yang terjadi akibat kesalahan manusia.

    Ketiga, perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi.
    Organisasi digerakkan oleh tujuan, karena itu, proses dan nilai-nilai yang ada di dalamnya dikembangkan untuk mengarahkan perilaku tiap individu di dalam organisasi. Penyelesaian pekerjaan dalam konteks proses dan budaya organisasi, pengelolaan perencanaan dan sistem pengendali, berkontribusi paling besar dalam kesalahan manusia yang bisa mengakibatkan kecelakaan kerja. Maka sangat penting bagi manajemen untuk mengatur dan mengelola tata tertib dan budaya yang berlaku pada perusahaan agar mengarahkan periaku pekerjanya menjadi lebih baik.

    Keempat, pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan, rekan kerja dan bawahannya.
    Semua perilaku manusia, yang baik ataupun yang buruk, dikuatkan oleh konsekuensi dari lingkungannya atau pengalaman masa lalunya.
    Kelima, kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan/sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan di masa lalu.

    Peningkatan kinerja dapat diraih dengan menerapkan tindakan perbaikan sebuah investigasi/analisa kecelakaan. Belajar dari kesalahan diri sendiri dan orang lain adalah hal yang reaktif, namun menjadi hal yang penting sebagai bentuk perbaikan berkelanjutan.
    Kesalahan manusia (human error) didasari oleh tindaka tidak aman. 2 macam tindakan tidak aman atau unsafe acts adalah tindakan manusia yang tidak disengaja (unintended actions) yang menyimpang dari tindakan yang diharapkan dan tindakan manusia yang disengaja (intended actions).

    Pada unintended action beberapa diantaranya adalah Luput (slips) terjadi ketika suatu aksi fisik gagal mewujudkan hasil yang diinginkan. Sedang khilaf (lapses) melibatkan kegagalan terkait ingatan atau mengingat ulang. Keliru (mistake), sebaliknya, terjadi ketika seseorang mempergunakan rencana yang tidak memadai untuk mencapai hasil yang diinginkan. Kekeliruan biasanya melibatkan kesalahan interpretasi atau kurangnya pengetahuan.

    Contoh intended action adalah tindakan yang sengaja dilakukan. Contohnya adalah pelanggaran. Tindakan tidak aman ini timbul ketika seseorang dengan sadar sengaja melanggar peraturan yang tela ditetapkan. Hal ini biasanya disebabkan oleh pelanggaran peraturan secara terus-menerus dan pelanggaran peraturan pada waktu dan kondisi tertentu. Sabotase juga merupakan salah satu contoh dari intended actions. Sabotase biasanya dilakukan pekerja secara sengaja, conthnya seperti menyabotase data perusahaan untuk maksud dan tujuan tertentu.

    Karena sifat manusiawi manusia adalah melakukan kesalahan, pekerja cenderung rentan terhadap kondisi eksternal yang membuat mereka melampaui batasan sifat manusianya. Kerentanan inilah yang membuat pekerja bisa berbuat salah. Kerentanan ini juga terjadi ketika manusia bekerja dalam sistem yang rumit (perangkat lunak maupun administratif)

    Beberapa karakter manusia dibawah ini perlu diperhatikan, terutama ketika menempatkan pekerja di sistem kerja yang rumit:
    Stres, menghindari kelelahan pikiran, keterbatasan memori kerja, keterbatasan fokus perhatian manusia, pola piker, sulit melihat kesalahan sendiri, keterbatasan prespektif, rentan terhadap factor emosional atau sosial, kelelahan, presenteeism atau memaksakan kehadiran, sikap tidak aman seperti mendahului hati atau perasaan daripada logika, efek halo atau kepercayaan berlebihan, pilot-co.pilot atau kesopanan berlebihan terhadap senior, menumpang atau hanya suka mengikuti saja, berfikir grup, dan difusi tanggung jawab.


    Nama : Adam Ilhamsyah
    NIM :167052058
    Semester : II
    Kelas : A2

  60. Memahami keselahan manusia (human error)

    Semua pekerja bisa melakukan kesalahan (error), tak terkecuali pekerja yang sudah terlatih dan memiliki motivasi kerja yang baik. Beberapa kesalahan bisa menghasilkan konsekuensi cedera/kecelakaan, sedang banyak kesalahan lainnya tidak. Karenanya, penting bagi praktisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) untuk dapat memahami prinsip yang melatarbelakangi kesalahan manusia.

    Kesalahan individu
    Kegagalan Peralatan
    Grafik di atas memperlihatkan porsi faktor manusia dan hubungannya dengan kecelakaan.

    Hampir 80% kejadian terkait dengan kesalahan manusia, data dari Departemen Energi Amerika bahkan mengatakan bahwa di beberapa industri, porsi kesalahan manusia bisa mencapai 90%; hanya sekitar 20% yang terkait kegagalan peralatan.Jika angka 80% kesalahan manusia didetailkan lebih lanjut, terungkap bahwa sebagian besar (70%) kesalahan pekerja diakibatkan oleh kelemahan laten organisasi/perusahaan (kelemahan yang dibuat oleh pekerja lain di masa lalu yang tidak nampak karena tidak menimbulkan masalah), sedang 30% lainnya terjadi oleh pekerja yang menangani peralatan atau sistem di area kerja.

    Ada 5 prinsip dasar yang harus terlebih dahulu dimengerti untuk dapat memahami faktor manusia.
    1. Semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerja yang paling hebat pun bisa salah.
    Tidak ada satupun pekerja yang kebal/anti kesalahan, berapapun usia, pengalaman atau tingkat pendidikannya. Karenanya dikenal istilah “to err is human” (berbuat salah adalah manusiawi). Tabiat manusiawi pekerja untuk bersikap tidak sempurna, sehingga pada akhirnya, kesalahan dapat terjadi. Tidak ada pelatihan atau konseling yang dapat mengubah kerentanan manusia ini.

    2. Situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diprediksi, dikelola dan dicegah.
    Meskipun secara umum kesalahan manusia adalah hal yang pasti, beberapa kesalahan yang spesifik dapat dicegah. Seperti halnya jika seseorang menulis formulir penarikan rekening bank di awal tahun baru akan memiliki potensi besar salah menulis tahun sebelumnya, prediksi semacam ini bisa juga dibangun dalam konteks bekerja ditempat kerja.

    3. Perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi.
    Organisasi digerakkan oleh tujuan, karena itu, proses dan nilai-nilai yang ada di dalamnya dikembangkan untuk mengarahkan perilaku tiap individu di dalam organisasi. Organisasi mencerminkan bagaimana pekerjaan dipecah menjadi tugas-tugas tertentu dan dikoordinasikan untuk mencapai sasaran dengan selamat dan handal.

    4. pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan, rekan kerja dan bawahannya.
    Tingkat keselamatan dan kehandalan sebuah fasilitas terkait langsung dengan perilaku para pekerjanya. Semua perilaku manusia, yang baik ataupun yang buruk, dikuatkan oleh konsekuensi langsung atau pengalaman masa lalunya.

    5. Kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan/sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan di masa lalu.
    Peningkatan kinerja dapat diraih dengan menerapkan tindakan perbaikan sebuah investigasi/analisa kecelakaan. Belajar dari kesalahan diri sendiri dan orang lain adalah hal yang reaktif, namun menjadi hal yang penting sebagai bentuk perbaikan berkelanjutan.

    Sabotage
    Manusia tidak berbuat salah secara sengaja. Kesalahan (error) adalah tindakan manusia yang tidak disengaja yang menyimpang dari tindakan yang diharapkan. Kesalahan adalah tindakan tak terencana atau dipikirkan terlebih dahulu. Kesalahan manusia (human error) terjadi akibat ketidakcocokan antara keterbatasan manusia dengan kondisi lingkungan di tempat kerja, termasuk ketidaksesuaian manajemen, kepemimpinan dan kelemahan organisasi yang membuat kondisi tersebut muncul.

    Luput (slips) terjadi ketika suatu aksi fisik gagal mewujudkan hasil yang diinginkan. Sedang
    khilaf (lapses) melibatkan kegagalan terkait ingatan atau mengingat ulang.

    Beberapa hal berikut bisa menjelaskan bagaimana ketidaktepatan atau aksi yang salah bisa terjadi:
    Waktu-terlalu cepat, terlalu lambat, alpa
    Durasi-terlalu lama, terlalu singkat
    Urutan-terbalik, berulang-ulang, gangguan
    Obyek-salah tindakan di obyek yang benar, tindakan bertindak di obyek yang salah
    Tekananan-terlalu sedikit atau terlalu banyak tekanan
    Arahan salah memberikan arahan
    Kecepatan terlalu cepat atau terlalu lambat, dan
    Jarak terlalu jauh, terlalu dekat.
    Keliru (mistake), sebaliknya, terjadi ketika seseorang mempergunakan rencana yang tidak memadai untuk
    mencapai hasil yang diinginkan. Kekeliruan biasanya melibatkan kesalahan interpretasi atau kurangnya
    pengetahuan. Manusia memiliki karakter fisik, biologi, sosial, mental, dan emosi yang membentuk kecenderungan,
    kemampuan dan juga menentukan keterbatasannya.

    Salah satu ciri manusia adalah ketidaktepatannya. Tidak seperti mesin yang selalu tepat setiap saat, manusia cenderung tidak tepat, terutama dalam kondisi tertentu, semisal dalam tekanan stres dan waktu yang besar. Karena sifat manusiawi inilah, pekerja cenderung rentan terhadap kondisi eksternal yang membuat mereka melampaui batasan sifat manusianya. Kerentanan inilah yang membuat pekerja bisa berbuat salah

    Keterbatasan memori kerja. Ingatan jangka pendek (short term memory) adalah tempat kerja/memori kerja bagi penyelesaian masalah dan pengambilan kebutusan. Ingatan jangka pendek dipergunakan untuk menyimpan informasi baru dan aktif dipergunakan ketika belajar, menyimpan dan memanggil (recall) informasi. Inilah yang menyebabkan pekerja lupa, terutama ketika berkerja dengan prosedur yang rumit.

    Keterbatasan fokus perhatian. Keterbatasan kemampuan berkonsentrasi pada dua atau lebih aktifitas menurunkan kemampuan untuk memproses informasi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah. Fokus perhatian sangatlah terbatas, jika diambil oleh satu hal maka dia akan menarik diri dari hal yang lain.

    Rentan terhadap faktor emosional/sosial. Kemarahan atau rasa malu bisa menurunkan kinerja seorang pekerja atau kelompok kerja.

    Kelelahan. Lelah secara fisik, emosi dan mental bisa mengarah ke tindakan yang salah dan pengambilan keputusan yang tidak tepat. Kelelahan dapat diakibatkan oleh faktor di dalam pekerjaan (tekanan produksi, lingkungan, dan kurangnya jumlah pekerja) dan faktor di luar pekerjaan (pola makan dan tidur). Kelelahan memperburuk pengambilan keputusan, menurunkan kewaspadaan, memperlambat proses berpikir dan waktu reaksi, menghilangkan kewaspadaan
    kepada lingkungan (situational a wareness) dan mendorong seseorang mengambil jalan pintas (shortcut).

    Sikap tidak aman. Sikap dapat diartikan sebagai kondisi mental atau perasaan terhadap suatu obyek atau Subyek. Dikatakan bahwa persepsi seseorang terhadap resiko lebih banyak dipengaruhi oleh hatinya ketimbang otaknya. Beberapa sikap yang dapat menimbulkan resiko berbuat salah misalnya:
    Rasa bangga. Kebanggaan berlebih terhadap kemampuan diri sendiri; sombong.
    Terlalu fokus pada diri sendiri dan berlebihan rasa bangga cenderung membutakan kita akan hal-hal
    yang dapat dilakukan oleh orang lain, menurunkan kepercayaan terhadap kerjasama tim.
    Heroik. Keberanian yang berlebihan. Reaksi heroic biasanya impulsif, ada pemikiran dalam dirinya bahwa pekerjaan harus dilakukan secara cepat atau dianggap gagal. Perspektif ini ditandai dengan fokus berlebih pada tujuan tanpa mempertimbangkan bahaya yang harus dihindari
    Fatalistic. Sikap kalahan yang meyakini bahwa setiap kejadian sudah ditentukan, tidak bisa dihindari, dan tidak ada yang dapat dilakukan untuk menghindari takdir
    Invulnerability. Memiliki rasa kebal terhadap kesalahan/tidak mungkin berbuat salah, gagal atau cedera. Kebanyakan orang tidak percaya bahwa mereka akan berbuat salah: “tidak mungkin terjadi pada diriku.” Padahal, kesalahan selalu mengejutkan ketika terjadi, sebagai akibat dari keterbatasan/ketidak akuratan manusia dalam memperhitungkan resiko
    Pollyanna (rasa optimis berlebihan). Manusia mencari keteraturan dalam lingkungan, bukan ketidakteraturan. Memiliki kecenderungan mengisi kekosongan persepsi dan melihat secara keseluruhan ketimbang per bagian. Akibatnya, secara tidak sadar mereka meyakini bahwa segala sesuatu akan berjalan sesuai yang direncanakan. Hal yang bisa terjadi ketika melakukan pekerjaan rutin adalah tanpa sadar meyakini bahwa tidak ada satupun yang bisa
    berjalan tidak sesuai rencana/salah.


    Nama: Ketut Radea Pandunata
    NIM: 167051977
    Semester: II
    Kelas: A1


    Komentar Dosen:
    – Perhatikan kalimat yang dicoret.
    – Terdapat ketidaksesuaian tulisan Anda dengan penjelasan dibawahnya.
    – Rangkuman Anda membuat orang lain bingung membacanya karena kacau dan tidak sistematis.
    – Tugas ini adalah tugas rangkuman yang harus diketik sendiri, bukan tugas copy-paste.
    – Perbaiki kembali tugas Anda ini dan cantumkan kalimat “PERBAIKAN TUGAS KE-1” di awal rangkuman pada posting berikutnya.

  61. Rangkuman Human Error

    Semua pekerja bisa melakukan kesalahan (error), tak terkecuali pekerja yang sudah terlatih dan memiliki motivasi kerja yang baik. Beberapa kesalahan bisa menghasilkan konsekuensi cedera/kecelakaan, sedang banyak kesalahan lainnya tidak. Karenanya, penting bagi praktisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) untuk dapat memahami prinsip yang melatar belakangi kesalahan manusia.
    Karena kesalahan pasti terjadi, kemampuan untuk dapat mengidentifikasi kesalahan di tahap awal, berguna untuk mencegah terjadinya kecelakaan. Hampir 80% kejadian terkait dengan kesalahan manusia, data dari Departemen Energi Amerika bahkan mengatakan bahwa di beberapa industri, porsi kesalahan manusia bisa mencapai 90%; hanya sekitar 20% yang terkait kegagalan peralatan.
    Kecelakaan-kecelakaan yang telah terjadi mengajarkan bahwa kita tidak boleh menyalahkan kecelakaan hanya kepada pekerja, karena yang sebetulnya terjadi adalah proses dan nilai di dalam organisasi/perusahaan berkontribusi besar pada mayoritas kecelakaan. Akar penyebab kecelakaan merupakan kombinasi dari beberapa faktor, banyak diantaranya yang berada di luar kendali pekerja.
    Ada 5 prinsip dasar yang harus terlebih dahulu dimengerti untuk dapat memahami faktor manusia.
    – Pertama, semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerja yang paling hebat pun bisa salah. Tidak ada satupun pekerja yang kebal/anti kesalahan, berapapun usia, pengalaman atau tingkat pendidikannya. Karenanya dikenal istilah “to err is human” (berbuat salah adalah manusiawi)
    Dr. James Reason, penulis Human Error (1990) mengatakan: adalah penting bagi tiap pekerja, terutama managernya, untuk menjadi lebih mawas diri akan potensi manusia berbuat salah. Pekerjaan, tempat kerja dan faktor organisasasi membentuk kemungkinan (likelihood) dan konsekuensi (consequences). Memahami bagaimana dan mengapa tindakan tidak aman terjadi adalah langkah awal penting dalam mengelola kesalahan dengan efektif.
    – Kedua, situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diprediksi, dikelola dan dicegah. Meskipun secara umum kesalahan manusia adalah hal yang pasti, beberapa kesalahan yang spesifik dapat dicegah. Seperti halnya jika seseorang menulis formulir penarikan rekening bank di awal tahun baru akan memiliki potensi besar salah menulis tahun sebelumnya, prediksi semacam ini bisa juga dibangun dalam konteks bekerja di tempat kerja.
    – Ketiga, perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi. Organisasi digerakkan oleh tujuan, karena itu, proses dan nilai-nilai yang ada di dalamnya dikembangkan untuk mengarahkan perilaku tiap individu di dalam organisasi. Organisasi mencerminkan bagaimana pekerjaan dipecah menjadi tugas-tugas tertentu dan dikoordinasikan untuk mencapai sasaran dengan selamat dan handal.
    – Keempat, pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan, rekan kerja dan bawahannya. Tingkat keselamatan dan kehandalan sebuah fasilitas terkait langsung dengan perilaku para pekerjanya. Semua perilaku manusia, yang baik ataupun yang buruk, dikuatkan oleh konsekuensi langsung atau pengalaman masa lalunya. Sebuah perilaku dikuatkan oleh konsekuensi yang individu tersebut alami ketika perilaku tertentu dilakukan. Karena perilaku dipengaruhi oleh konsekuensi yang pekerja itu alami, apa yang terjadi ketika seorang pekerja menunjukkan perilaku tertentu adalah hal yang penting untuk meningkatkan kinerja manusia.
    – Kelima, kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan/sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan di masa lalu. Peningkatan kinerja dapat diraih dengan menerapkan tindakan perbaikan sebuah investigasi/analisa kecelakaan. Belajar dari kesalahan diri sendiri dan orang lain adalah hal yang reaktif, namun menjadi hal yang penting sebagai bentuk perbaikan berkelanjutan. Peningkatan kinerja dapat diraih dengan menerapkan tindakan perbaikan sebuah investigasi/analisa kecelakaan. Belajar dari kesalahan diri sendiri dan orang lain adalah hal yang reaktif, namun menjadi hal yang penting sebagai bentuk perbaikan berkelanjutan.
    Luput (slips) terjadi ketika suatu aksi fisik gagal mewujudkan hasil yang diinginkan. Sedang khilaf (lapses) melibatkan kegagalan terkait ingatan atau mengingat ulang.
    Beberapa Hal berikut bisa menjelaskan bagaimana ketidaktepatan atau aksi yang salah bisa terjadi:
    ·Waktu –terlalu cepat, terlalu lambat, alpa
    ·Durasi –terlalu lama, terlalu singkat
    ·Urutan –terbalik, berulang-ulang, gangguan
    ·Obyek –salah tindakan di obyek yang benar, tindakan bertindak di obyek yang salah
    ·Tekananan –terlalu sedikit atau terlalu banyak tekanan
    ·Arahan–salah memberikan arahan
    ·Kecepatan–terlalucepat atau terlalu lambat, dan
    · Jarak – terlalu jauh, terlalu dekat.
    Keliru (mistake), sebaliknya, terjadi ketika seseorang mempergunakan rencana yang tidak memadai untuk mencapai hasil yang diinginkan. Kekeliruan biasanya melibatkan kesalahan interpretasi atau kurangnya pengetahuan.

    karakter manusia dibawah ini perlu diperhatikan, terutama ketika menempatkan pekerja di sistem kerja yang rumit:
    1. Stres.
    2. Menghindari kelelahan pikiran. Manusia cenderung enggan berpikir/konsentrasi/fokus dalam jangka waktu yang lama karena melelahkan. Berpikir adalah proses yang membutuhkan usaha yang besar dan juga lambat, akhirnya manusia cenderung mencari pola yang dikenalnya dan menerapkan solusi yang sudah pernah diterapkan. Polanya bisa berupa:
    · Asumsi -menerima suatu kondisi sebagai suatu hal yang benar tanpa verifikasi terlebih dahulu
    · Kebiasaan –pola perilaku dibawah sadar sebagai hasil dari pengulangan yang sering
    · Bias konfirmasi –keengganan untuk menerapkan solusi terbaru karena bias pemikiran yang ada akibat investasi waktu dan usaha yang diperlukan untuk menerapkan solusi terbaru itu. Bias ini terjadi karena otak sudah melihat hasil dari solusi sebelumnya dan menolak data/fakta mengenai keberhasilan solusi yang baru
    · Bias kesamaan –kecenderungan untuk mengambil solusi dari kondisi yang serupa yang berhasil di masa lalu
    · Bias frekuensi – mencoba solusi yang sudah berhasil dan sering dipakai
    · Bias ketersediaan –kecenderungan untuk menerapkan solusi yang tersedia/muncul dalam pikiran.
    3. Keterbatasan memori kerja. Ingatan jangka pendek
    4. Keterbatasan fokus perhatian.
    5. Pola pikir. Manusia
    6. Sulit melihat kesalahannya sendiri.
    7. Keterbatasan perspektif.
    8. Rentan terhadap faktor emosional/sosial.
    9. Kelelahan. Lelah secara fisik, emosi dan mental
    10. Presenteeism.
    11. Sikap tidak aman
    12. Bekerja dalam kelompok
    13. Kesalahan kelompok bisa diakibatkan oleh beberapa hal, diantaranya:
    -Efek halo Kepercayaan buta akan kompetensi seseorang dikarenakan pengalaman atau pendidikannya.
    -Pilot-Co-pilot Keengganan pekerja junior (co-pilot) untuk menentang pendapat, keputusan atau tindakan pekerja senior (pilot) karena posisinya di dalam struktur organisasi perusahaan.
    -Menumpang/ mengikuti saja Kecenderungan untuk “menumpang” (ikut-ikutan saja) tanpa secara aktif mengevaluasi maksud dan tindakan pekerja yang melakukan pekerjaan atau mengambil inisiatif.
    -Berpikir grup loyalitas, konsensus dan komitmen adalah hal yang baik jika ada di dalam kelompok kerja
    -Difusi tanggung jawab bisa jadi berisiko dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah kelompok.


    Nama : Ridho Adi Dharma Kusuma
    NIM : 167052005
    Semester : II
    Kelas : A1

  62. Memahami kesalahan manusia Human Error dalam konteks keselamatan dan kesehatan kerja.

    Semua pekerjaan bias melakukan kesalahan (error), tak terkecuali pekerja yang terlatih dan memiliki motivasi kerja yang baik. Beberapa kesalahan bias menghasilkan konsekuensi kecelakaan. Karena pentingnya bagi pekerja yang terlatih untuk memahami prinsip latar bekang kesalahan manusia.
    Hampir 80% kejadian terkait dengan kesalahan manusia. Data dari Departemen Energi Amerika mengatakan bahwa porsi kesalahan mencapai 90%, hanya 20% yang mengalami kegagalan peralatan. Terungkap bahwa sebagian besar (70%) kesalahan pekerja di akibatkan oleh kelemahan (kelemahan yang dibuat oleh pekerjanya itu sendiri).
    Kecelakaan-kecelakaan yang telah terjadi mengajarkan bahwa kita tidak boleh menyalahkan kecelakaan hanya kepada pekerja, karna yang sebetulnya terjadi adalah proses dan nilai di dalam perusahaan berkontribusi besar pada mayoritas kecelakaan.

    5 prinsip dasar yang harus di mengerti terlebih dahulu :

    1. Semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerjaan yang paling hebat pun bisa salah.
    Tidak ada satupun pekerja yang kebal/anti kesalahan, berapapun usia, pengalaman atau tingkat pendidikannya. Karenanya dikenal istilah “to err is human” (berbuat salah adalah manusiawi).
    2. Situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diprediksi, dikelola dan dicegah.
    Meskipun secara umum kesalahan manusia adalah hal yang pasti, beberapa kesalahan yang spesifik dapat dicegah. Seperti halnya jika seseorang menulis formulir penarikan rekening bank di awal tahun baru akan memiliki potensi besar salah menulis tahun sebelumnya, prediksi semacam ini bisa juga dibangun dalam konteks bekerja di tempat kerja.
    3. Prilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi.
    Organisasi digerakkan oleh tujuan, karena itu, proses dan nilai-nilai yang ada di dalamnya dikembangkan untuk mengarahkan perilaku tiap individu di dalam organisasi. Organisasi mencerminkan bagaimana pekerjaan dipecah menjadi tugas-tugas tertentu dan dikoordinasikan untuk mencapai sasaran dengan selamat dan handal.
    4. pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan, rekan kerja dan bawahannya.
    Tingkat keselamatan dan kehandalan sebuah fasilitas terkait langsung dengan perilaku para pekerjanya. Semua perilaku manusia, yang baik ataupun yang buruk, dikuatkan oleh konsekuensi langsung atau pengalaman masa lalunya.
    5. kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan atau sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan di masa lalu.
    Peningkatan kinerja dapat diraih dengan menerapkan tindakan perbaikan sebuah investigasi atau analisa kecelakaan.

    Manusia tidak berbuat salah secara sengaja. Kesalahan (error) adalah tindakan manusia yang tidak disengaja yang menyimpang dari tindakan yang diharapkan. Kesalahan adalah tindakan tak terencana atau dipikirkan terlebih dahulu. Kesalahan manusia (human error) terjadi akibat ketidakcocokan antara keterbatasan manusia dengan kondisi lingkungan di tempat kerja, termasuk ketidaksesuaian manajemen, kepemimpinan dan kelemahan organisasi yang membuat kondisi tersebut muncul, seperti :
    – Luput (slips) terjadi jika suatu aksi fisik gagal mewujudkan hasil yang di inginkan.
    – khilaf (lapses) melibatkan kegagalan terkait ingatan atau mengingat ulang.
    – keliru (mistake) sebaliknya, terjadi jika seseorang mempergunakan rencana yang tidak memadai untuk mencapai hasil yang di inginkan.

    Beberapa hal berikut bisa menjelaskan bagaimana ketidaktepatan atau aksi yang salah bisa terjadi:
    • Waktu –terlalu cepat, terlalu lambat, alpa
    • Durasi –terlalu lama, terlalu singkat
    • Urutan –terbalik, berulang-ulang, gangguan
    • Obyek –salah tindakan di obyek yang benar, tindakan bertindak di obyek yang salah
    • Tekananan –terlalu sedikit atau terlalu banyak tekanan
    • Arahan – salah memberikan arahan
    • Kecepatan –terlalu cepat atau terlalu lambat, dan
    • Jarak – terlalu jauh, terlalu dekat.
    Manusia memiliki karakter fisik, biologi, sosial, mental, dan emosi yang membentuk kecenderungan, kemampuan dan juga menentukan keterbatasannya.

    Beberapa karakter manusia dibawah ini perlu diperhatikan, terutama ketika menempatkan pekerja di sistem kerja yang rumit:
    – Stres.
    Pada dasarnya, stres bukanlah hal yang buruk. Beberapa kondisi stres merupakan hal yang normal dan sehat. Stres bahkan dapat meningkatkan fokus sehingga menguntungkan. Namun, stres bisa terakumulasi dan menguasai seseorang, sehingga pada akhirnya melumpuhkan kinerja.
    – Menghindari kelelahan pikiran.
    Manusia cenderung enggan berpikir konsentrasi atau fokus dalam jangka waktu yang lama karena melelahkan. Berpikir adalah proses yang membutuhkan usaha yang besar dan juga lambat, akhirnya manusia cenderung mencari pola yang dikenalnya dan menerapkan solusi yang sudah pernah diterapkan.
    – Keterbatasan memori kerja.
    Ingatan jangka pendek (short term memory) adalah tempat kerja/memori kerja bagi penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan.
    – Keterbatasan fokus perhatian.
    Keterbatasan kemampuan berkonsentrasi pada dua atau lebih aktifitas menurunkan kemampuan untuk memproses informasi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah.
    – Pola pikir.
    Manusia cenderung fokus pada apa yang hendak dicapai daripada pada fokus pada apa yang harus dihindari, karenanya manusia hanya melihat apa yang pikirannya harapkan/inginkan untuk dilihat.
    – Sulit melihat kesalahannya sendiri.
    Individu, terutama yang bekerja sendiri, rentan terhadap kesalahan. Pekerja yang terlalu asyik dengan kerjaannya, atau disibukkan dengan suatu hal, bisa jadi gagal untuk dapat mengidentifikasi ketidaknormalan.
    – Keterbatasan perspektif.
    Manusia tidak bisa melihat semua hal yang ada ditempat kerja untuk dilihat. Keterbatasan manusia untuk menerima semua fakta dapat menghalangi keputusannya untuk memecahkan masalah.
    – Rentan terhadap faktor emosional.
    Kemarahan atau rasa malu bisa menurunkan kinerja seorang pekerja atau kelompok kerja.
    – Kelelahan.
    Lelah secara fisik, emosi dan mental bisa mengarah ke tindakan yang salah dan pengambilan keputusan yang tidak tepat.
    – Presenteeism.
    Beberapa pekerja akan tetap memaksakan hadir dan bekerja meskipun kemampuan kerjanya sudah menurun karena penyakit atau cedera.
    – Sikap tidak aman.
    Sikap dapat diartikan sebagai kondisi mental atau perasaan terhadap suatu obyek atau subyek. Dikatakan bahwa persepsi seseorang terhadap resiko lebih banyak dipengaruhi oleh hatinya ketimbang otaknya.

    Kesalahan kelompok bisa diakibatkan oleh beberapa hal, diantaranya:
    Efek halo – Kepercayaan buta akan kompetensi seseorang dikarenakan pengalaman atau pendidikannya.

    Pilot-Co-pilot – Keengganan pekerja junior (co-pilot) untuk menentang pendapat, keputusan atau tindakan pekerja senior (pilot) karena posisinya di dalam struktur organisasi perusahaan. Bawahan menunjukkan sopan santun berlebihan ketika berinteraksi dengan manajer senior, tanpa sadar menerima perkataan bos tanpa berpikir kritis atau berbeda pendapat terhadap tindakan dan keputusannya.

    Menumpang/mengikuti saja – Kecenderungan untuk “menumpang” (ikut-ikutan saja) tanpa secara aktif mengevaluasi maksud dan tindakan pekerja yang melakukan pekerjaan atau mengambil inisiatif. Orang lain yang mengambil inisiatif untuk melakukan pekerjaan, sementara si penumpang hanya mengambil peran pasif.

    Berpikir grup – Kepaduan, loyalitas, konsensus dan komitmen adalah hal yang baik jika ada di dalam kelompok kerja. Namun, terkadang, hal-hal tersebut bisa menurunkan kualitas keputusan tim. Contohnya, ada keengganan untuk berbagi informasi yang berbeda untuk menjaga keharmonisan tim.

    Difusi tanggung jawab bisa jadi berisiko dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah kelompok. Jika dua atau lebih pekerja sepakat akan sesuatu yang dianggap cara yang terbaik dalam melakukan sesuatu, maka mereka akan lebih mudah mengambil resiko dan mengabaikan prosedur atau kebijakan yang ada.


    Nama : Marsellyandi
    NIM : 167052016
    Semester : 2
    Kelas : A2

  63. Memahami kesalahan Manusia (Human Eror)

    Semua pekerjaan bisa melakukan kesalahan (eror), tak terkecuali pekerja yang sudah terlatih dan memiliki motivasi kerja yang baik. Beberapa kesalahan bisa menghasilkan konsekuensi cedera, sedang banyak kesalahan lainnya tidak. Karenanya penting bagi praktis Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) untuk dapat memahami prinsip yang melatarbelakangi kesalahan manusia
    Karena kesalahan manusia pasti terjadi, kemampuan untuk dapat mengidentifikasi kesalahan di tahap awal, berguna untuk mencegah terjadinya kecelakaan.

    Ada 5 prinsip dasar yang harus terlebih dahaulu dimengerti untuk dapat memahami faktor manusia
    1. Semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerja yang paling hebat pun bisa salah
    Tidak ada satupun pekerja yang kebal/anti kesalahan, berapapun usia, pengalaman atau tingkat pendidikannya.
    2. Situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diprediksi, dikelola dan dicegah
    Meskipun secara umum kesalahan manusia adalah hal yang pasti, beberapa kesalahan yang spesifik dapat dicegah.
    3. Perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi
    Organisasi digerakkan oleh tujuan, karena itu, proses dan nilai-nilai yang ada di dalamnya dikembangkan untuk mengarahkan perilaku tiap individu di dalam organisasi.
    4. Pekerja mencapai kinerja tinggi karena dorongan dan pengutan yang diterimanya dari pimpinan, rekan kerja dan bawahannya.
    5. Kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan/sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan di masa lalu.

    Manusia tidak berbuat salah secara sengaja. Kesalahan (eror) adalah tindakan manusia yang tidak disengaja yang menyimpan dari tindakan yang diharapkan. Kesalahan adalah tindakan tak terencana atau dipikirkan terlebih dahulu. Kesalahan manusia (human eror) terjadi akibat ketidakcocokan manajemen, kepemimpinan dan kelemahan organisasi yang membuat kondisi tersebut muncul.

    Beberapa hal berikut bisa menjelaskan bagaimana ketidaktepatan atau aksi yang salah bisa terjadi:
    1. Waktu-terlalu cepat, terlalau lambat, alpa
    2. Durasi-terlalu lama, terlalu singkat
    3. Urutan-terbaik, berulang-ulang, gangguan
    4. Obyek-salah tindakan di obyek yang benar, tindakan di obyek yang salah
    5. Tekanan-terlalu sedikit atau terlalu banyak tekanan
    6. Arahan-salah memberikan arahan
    7. Kecepatan-terlalu cepat atau terlalu lambat
    8. Jarak-terlalu jauh, terlalu dekat

    Keliru (msitoke), sebaliknya, terjadi ketika seseorang mempergunakan rencana yang tidak memadai untuk mencapai hasil yang diinginkan. Kekeliruan biasanya melibatkan kesalahan interpretasi atau kurangnya pengetahuan.

    Manusia memiliki karakter fisik, biologi, sosial, mental, dan emosi yang membentuk kecenderungan, kemampuan dan juga menentukan keterbatasannya.

    Menghindari kelelahan pikiran. Manusia cenderung enggan berpikir/konsentrais/fokus dalam jangka waktu yang lama karena melelahkan. Berpikir adalah proses yang membutuhkan usaha yang besar dan juga lambat, akirnya manusia cenderung mencari pola yang dikenalnya dan menerapkan solusi yang sudah pernah diterapkan.

    Polanya bisa berupa:
    1. Asumsi-menerima suatu kondisi sebagai suatu hal yang benar tanpa verifikasi terlebih dahulu.
    2. Kebiasaan-pola perilaku dibawah sadar sebagai hasil dari pengulangan yang sering.
    3. Bias konfirmasi-keengganan untuk menerapkan solusi terbaru karena bias pemikiran yang ada akibat investasi waktu dan usaha yang diperlukan untuk menerapkan solusi terbaru itu. Bias ini terjadi karena otak sudah melihat hasil dari solusi sebelumnya dan menolak data/fakta mengenai keberhasilan solusi yang baru.
    4. Bias kesamaan-kecenderungan untuk mengambil solusi dari kondisi yang serupa berhasil di masa lalu.
    5. Bias frekuensi-mencoba solusi yang sudah berhasil dan sering dipakai
    6. Bias ketersediaan-kecenderuangan untuk menerapkan solusi yang tersedia/muncul dalam pikiran.

    Keterbatasan memori kerja.
    Ingatan jangka pendek (short term memory) adalah tempat kerja/memori kerja bagi penyelesaian masalah dan pengambilan kebutusan.

    Keterbatasan fokus perhatian
    Keterbatasan kemampuan berkonsentrasi pada dua atau lebih aktifitas menurunkan kemampuan untuk memproses informasi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah.

    Pola pikir
    Manusia cenderung fokus pada apa yang hendak dicapai pada fokus apa yang harus dihindari.
    Sulit melihat kesalahannya sendiri
    Individu, terutama yang bekerja sendiri rentan terhadap kesalahan.

    Keterbatasan perspektif.
    Manusia tidak bisa melihat semua hal yang ada ditempat untuk dilihat.

    Rentan terhadap faktor emosional.
    Kemarahan atau rasa malu bisa menurunkan kinerja seorang pekerja atau kelompok kerja.
    Kelelahan.

    Lelah secara fisik, emosi, dan mental bisa mengarah ke tindakan yang salah dan pengambilan keputusan yang tidak tepat. Kelelahan dapat diakibatkan oleh faktor di luar pekerjaan (pola makan dan tidur).

    Presenteeism.
    Beberapa pekerja akan tetap memaksakan hadir dan bekerja meskipun kerjanya sudah menurun karena penyakit atau cedera.

    Kesalahan kelompok bisa diakibatkan oleh beberapa hal diantaranya.
    1. Efek halo-kepercayaan buta akan kompetensi seseorang dikarenakan pengalaman atau pendidikannya.
    2. Pilot-Co-pilot-Keengganan pekerja junior (co-pilot) untuk menentang pendapat, keputusan atau tindakan pekerja senior (pilot) karena posisinya di dalam struktur organisasi perusahaan.
    3. Menumpang/mengikuti saja-kecenderungan untuk menumpang (ikut-ikutan saja) tanpa secara aktif mengevaluasi maksud dan tindakan pekerja yang melakukan pekerjaan atau mengambil inisiatif.
    4. Berpikir grup-kepaduan, loyalitas, konsensus dan komitmen adalah hal yang baik jika ada di dalam kelompok kerja.
    5. Difusi tanggung jawab bisa jadi berisiko dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah kelompok.


    Nama: Bintang Yudha Prakoso
    NIM: 167052036
    Semester: II
    Kelas: A2

  64. Memahami kesalahan manusia (Human Error)

    Semua pekerjaan bisa melakukan kesalahan (eror), tak terkecuali pekerja yang sudah terlatih dan memiliki motivasi kerja yang baik. Beberapa kesalahan bisa menghasilkan konsekuensi cedera, sedang banyak kesalahan lainnya tidak. Karenanya penting bagi praktis Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) untuk dapat memahami prinsip yang melatarbelakangi kesalahan manusia
    Karena kesalahan manusia pasti terjadi, kemampuan untuk dapat mengidentifikasi kesalahan di tahap awal, berguna untuk mencegah terjadinya kecelakaan.

    Ada 5 prinsip dasar yang harus terlebih dahaulu dimengerti untuk dapat memahami faktor manusia
    1. Semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerja yang paling hebat pun bisa salah
    Tidak ada satupun pekerja yang kebal/anti kesalahan, berapapun usia, pengalaman atau tingkat pendidikannya. Karena dikenal istilah to eror is human (berbuat salah adalah manusiawi). Tabiat manusiawi pekerja untuk bersikap tidak sempurna, sehingga pada akhirnya, kesalahan dapat terjadi.
    2. Situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diprediksi, dikelola dan dicegah
    Meskipun secara umum kesalahan manusia adalah hal yang pasti, beberapa kesalahan yang spesifik dapat dicegah. Seperti halnya jika seseorang menulis formulir penarikan rekening bank diawal tahun baru akan memiliki potensi besar salah menulis tahun sebelumnya, predikisi semacam ini bisa juga dibangun dalam konteksi bekerja di tempat kerja.
    3. Perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi
    Organisasi digerakkan oleh tujuan, karena itu, proses dan nilai-nilai yang ada di dalamnya dikembangkan untuk mengarahkan perilaku tiap individu di dalam organisasi. Organisasi mencerminkan bagaimana pekerjaan dipecah menjadi tugas-tugas tertentu dan dikoordinasikan untuk mencapai sasaran dengan selamat dan handal.
    4. Pekerja mencapai kinerja tinggi karena dorongan dan pengutan yang diterimanya dari pimpinan, rekan kerja dan bawahannya.
    5. Kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan/sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan di masa lalu.
    Peningkatan kinerja dapat diraih dengan menerapkan tindakan perbaikan sebuah insvestigsi/analisa kecelakaan. Belajar dari kesalahan dari sendiri dan orang lain adalah hal yang relatif, namun menjadi hal yang penting sebagai bentuk perbaikan berkelanjutan.

    Beberapa hal berikut bisa menjelaskan bagaimana ketidaktepatan atau aksi yang salah bisa terjadi:
    1. Waktu-terlalu cepat, terlalau lambat, alpa
    2. Durasi-terlalu lama, terlalu singkat
    3. Urutan-terbaik, berulang-ulang, gangguan
    4. Obyek-salah tindakan di obyek yang benar, tindakan di obyek yang salah
    5. Tekanan-terlalu sedikit atau terlalu banyak tekanan
    6. Arahan-salah memberikan arahan
    7. Kecepatan-terlalu cepat atau terlalu lambat
    8. Jarak-terlalu jauh, terlalu dekat

    Keliru (msitoke), sebaliknya, terjadi ketika seseorang mempergunakan rencana yang tidak memadai untuk mencapai hasil yang diinginkan. Kekeliruan biasanya melibatkan kesalahan interpretasi atau kurangnya pengetahuan.

    Menghindari kelelahan pikiran. Manusia cenderung enggan berpikir/konsentrais/fokus dalam jangka waktu yang lama karena melelahkan. Berpikir adalah proses yang membutuhkan usaha yang besar dan juga lambat, akirnya manusia cenderung mencari pola yang dikenalnya dan menerapkan solusi yang sudah pernah diterapkan.

    Polanya bisa berupa:
    1. Asumsi-menerima suatu kondisi sebagai suatu hal yang benar tanpa verifikasi terlebih dahulu.
    2. Kebiasaan-pola perilaku dibawah sadar sebagai hasil dari pengulangan yang sering.
    3. Bias konfirmasi-keengganan untuk menerapkan solusi terbaru karena bias pemikiran yang ada akibat investasi waktu dan usaha yang diperlukan untuk menerapkan solusi terbaru itu. Bias ini terjadi karena otak sudah melihat hasil dari solusi sebelumnya dan menolak data/fakta mengenai keberhasilan solusi yang baru.
    4. Bias kesamaan-kecenderungan untuk mengambil solusi dari kondisi yang serupa berhasil di masa lalu.
    5. Bias frekuensi-mencoba solusi yang sudah berhasil dan sering dipakai
    6. Bias ketersediaan-kecenderuangan untuk menerapkan solusi yang tersedia/muncul dalam pikiran.

    Keterbatasan memori kerja.
    Ingatan jangka pendek (short term memory) adalah tempat kerja/memori kerja bagi penyelesaian masalah dan pengambilan kebutusan.

    Keterbatasan fokus perhatian
    Keterbatasan kemampuan berkonsentrasi pada dua atau lebih aktifitas menurunkan kemampuan untuk memproses informasi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah.

    Pola pikir
    Manusia cenderung fokus pada apa yang hendak dicapai pada fokus apa yang harus dihindari.

    Sulit melihat kesalahannya sendiri
    Individu, terutama yang bekerja sendiri rentan terhadap kesalahan.

    Keterbatasan perspektif.
    Manusia tidak bisa melihat semua hal yang ada ditempat untuk dilihat.
    Rentan terhadap faktor emosional.
    Kemarahan atau rasa malu bisa menurunkan kinerja seorang pekerja atau kelompok kerja.

    Kelelahan.
    Lelah secara fisik, emosi, dan mental bisa mengarah ke tindakan yang salah dan pengambilan keputusan yang tidak tepat. Kelelahan dapat diakibatkan oleh faktor di luar pekerjaan (pola makan dan tidur).


    Nama: Hangga Septiawan
    NIM: 167052056
    Semester: II
    Kelas: A2

  65. KESALAHAN MANUSIA (Human Error)

    Semua pekerja bisa melakukan kesalahan (error), tak terkecuali pekerja yang sudah terlatih dan memiliki motivasi kerja yang baik. Beberapa kesalahan bisa menghasilkan konsekuensi cedera/kecelakaan, sedangkan banyak kesalahan lainnya tidak. Kerenanya, penting bagi praktisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) untuk dapat memahami prinsip yang melatarbelakangi Kesalahan manusia.

    Karena kesalahan pasti terjadi, kemampuan untuk dapat mengidentifikasi kesalahan ditahap awal, berguna untuk mencegah terjadinya kecelakaan.

    Grafik Memperlihatkan porsi faktor manusia dan hubungannya dengan kecelakaan.

    Hampir 80% kejadian terkait dengan kesalahan manusia, data dari Departemen Energi Amerika bahkan mengatakan bahwa di beberapa industri, porsi kesalahan manusia bisa mencapai 90%, hanya sekitar 20% yang terkait kegagalan peralatan.

    Jika angtka 80% kesalahan manusia di detailkan lebih lanjut, terungkap bahwa sebagian besar (70%) kesalahan pekerja diakibatkan oleh kelemahan laten perusahaan/organisasi (kelemahan yang dibuat oleh pekerja lain di masa lalu yang tidak tampak karena tidak menimbulkan masalah), sedangkan 30% lainnya terjadi oleh pekerja yang menangani peralatan atau sistem di area kerja.
    Kecelakaan yang terjadi mengajarkan bahwa kita tidak boleh menyalahkan kecelakaan hanya pada pekerja, karena yang sebenarnya terjadi adalah proses dan nilai didalam organisasi/perusahaan berperan besar pada mayoritas kecelakaan.

    Penyebab kecelakaan kerja berasal dari beberapa faktor, banyak diantaranya berada diluar kendali pekerja.
    Ada 5 Prinsip dasar yang harus terlebih dahulu dimengerti untuk dapat memahami faktor manusia
    1. Semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerja yang paling hebat pun bisa.
    2. Situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diprediksi, dikelola dan dicegah.
    3. Perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi.
    4. Pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan, rekan kerja dan bawahannya
    5. Kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan/sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan dimasa lalu.

    Manusia tidak berbuat salah secara sengaja. Kesalahan (Error) adalah tindakan manusia yang tidak disengaja yang menyimpang dari tindakan yang diharapkan. Kesalahan adalah tindakan tidak terencana atau dipikirkan terlebih dahulu.

    Kesalahan manusia (Human Error) terjadi akibat ketidakcocokan antara keterbatasan manusia dengan kondisi lingkungan ditempat kerja, termasuk ketidaksesuaian manajemen, kepemimpinan dan kelemahan organisasi yang membuat kondisi tersebut muncul.

    Luput (Slips) terjadi ketika suatu fisik gagal mewujudkan hasil yang diinginkan.
    Sedangkan Khilaf (Lapses) melibatkan kegagalan terkait ingatan atau mengingat ulang

    Beberapa hal berikut bisa menjelaskan bagaimana ketidaktepatan atau aksi yang salah bisa terjadi:
    • Waktu – Terlalu cepat, terlalu lambat, alpa
    • Durasi – Terlalu lama, terlalu singkat
    • Urutan – Terbalik, berulang-ulang, gangguan
    • Obyek – Salah tindakan di obyek yang benar, tindakan bertindak di obyek yang salah
    • Tekanan – Terlalu sedikit atau terlalu banyak
    • Arahan – Salah memberi Intruksi.
    • Kecepatan – Terlalu cepat atau terlalu lambat, dan
    • Jarak – Terlalu jauh, terlalu dekat

    Keliru (Mistake), sebaliknya, terjadi ketika seseorang mempergunakan rencana yang tidak memadai untuk mencapai hasil yang diinginkan. Kekeliruan biasanya melibatkan kesalahan interpretasi atau kurangnya pengetahuan.

    Manusia memiliki karakter fisik, biologi, sosial, mental dan emosi yang membentuk kecenderungan, kemampuan dan juga menentukan keterbatasannya. Salah satu ciri manusia adalah ketidaktepatannya. Tidak seperti mesin yang selalu tepat setiap saat, manusia cenderung tidak tepat, terutama didalam kondisi tertentu.

    Semisal dalam tekanan stress dan waktu yang besar. Karena sifat manusiawi inilah, pekerja cenderung rentan terhadap kondisi eksternal yang membuat meraka melampaui batasana sifat manusiawinya. Kerentanan inilah yang membuat pekerja bisa berbuat salah. Kerentanan ini juga terjadi ketika manusia bekerja dalam system yang rumit (Perangkat lunak atau administratif)

    Beberapa karakter manusia dibawah ini perlu diperhatikan, terutama ketika menepatkan pekerja di system kerja yang rumit:
    • Stress
    • Menghindari berpikir keras
    • Keterbatasan memori kerja
    • Keterbatasab focus perhatian
    • Pola Pikir
    • Keterbatasan Prespektif
    • Rentan emosional/sosial
    • Kelelahan
    • Memaksa Hadir

    Sikap Tidak Aman, Sikap dapat diartikan sebagai kondisi mental atau perasaan terhadsap suatu obyek atau subyek. Dikatakan bahwa presepsi seseorang terhadap risiko lebih banyak di pengaruhi oleh hatinya ketimbang otaknya,
    Beberapa sikap yang dapat menibulkan risiko berbuat salah misalnya:
    • Rasa Bangga, Percaya diri Berlebih, Sombong
    • Heroik, Merasa paling berani
    • Fatalistic, Pasrah
    • Invulnerability, Merasa tidak melakuakan kesalahan
    • Pollyanna, Optimis berlebihan
    • Sikap “Ban Gundul”, Pembenaran melalui kinerja masa lalu untuk tidak melakuan perubahan

    Kesalahan Kelompok bisa diakibatkan beberapa hal, diantaranya:

    Efek Halo, Kepercayaab buta akan kompetensi seseorang dikarenakan pengalaman atau pendidikannya. Hal yang dapat menyebabkan hilang kewaspadaan terhadap kesalahan yang dapat terjadi karena individu yang kompeten.

    Pilot Co-Pilot, Keengganan junior menentang pendapat, keputusan atau tindakan senior karena pengaruh jabatan di tempat kerja.

    Menumpang/mengikut saja, Cendeung ikut-ikutan tanpa secara aktif mengevaluasi maksud dan tindakan pekerja yang melakukan pekerjaan atau mengambil inisiatif.

    Berpikir Grup, Adanya keengganan untuk berbagi informasi yang berbeda untuk menjaga keharmonisan tim. Akibatnya, informasi penting bisa jadi tidak terbagi kepada anggota kelompok.

    Difusi tanggung jawab, Kesepakatan antara pekerja unhtuk mengambil keputusan yang dianggap mereka yang terbaik untuk dilakukan, namun mereka lebih memilih risiko ketimbang mengutamakan prosedur dan kebijakan yang ada.


    Nama: Arya Fitra Karunia
    NIM: 167052030
    Semester: II
    Kelas: A2


    Komentar Dosen:
    – Lihat tulisan yang dicoret. Tugas ini hanya berupa tekstual, tanpa dilengkapi dengan gambar, diagram ataupun grafik, sehingga terdapat ketidaksesuaian makna dalam tulisan Anda ini.
    – Perbaiki kembali tugas Anda ini dan cantumkan kalimat “PERBAIKAN TUGAS KE-1” di awal rangkuman pada posting berikutnya.

  66. Human Error

    Semua pekerja bisa melakukan kesalahan (error), tak terkecuali pekerja yang sudah terlatih dan memiliki motivasi kerja yang baik. Beberapa kesalahan bisa menghasilkan konsekuensi cedera/kecelakaan, sedang banyak kesalahan lainnya tidak. Karenanya, penting bagi praktisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) untuk dapat memahami prinsip yang melatarbelakangi kesalahan manusia. Karena kesalahan pasti terjadi, kemampuan untuk dapat mengidentifikasi kesalahan di tahap awal, berguna untuk mencegah terjadinya kecelakaan.
    Kecelakaan Kesalahan Manusia,
    Hampir 80% kejadian terkait dengan kesalahan manusia, data dari Departemen Energi Amerika bahkan mengatakan bahwa di beberapa industri, porsi kesalahan manusia bisa mencapai 90%; hanya sekitar 20% yang terkait kegagalan peralatan Jika angka 80% kesalahan manusia didetailkan Iebih Ianjut, terungkap bahwa sebagian besar, (70%) kesalahan pekerja diakibatkan oleh kelemahan Iaten organisasi/perusahaan (kelemahan yang, dibuat oleh pekerja Iain di masa lalu yang tidak nampak karena tidak menimbulkan masalah), sedangkan 30% lainnya terjadi oleh pekerja yang menangani peralatan atau sistem di area kerja.

    5 prinsip dasar yang harus di mengerti terlebih dahulu :
    1. Semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerjaan yang paling hebat pun bisa salah.
    Tidak ada satupun pekerja yang kebal/anti kesalahan, berapapun usia, pengalaman atau tingkat pendidikannya. Karenanya dikenal istilah “to err is human” (berbuat salah adalah manusiawi).
    2. Situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diprediksi, dikelola dan dicegah.
    Meskipun secara umum kesalahan manusia adalah hal yang pasti, beberapa kesalahan yang spesifik dapat dicegah. Seperti halnya jika seseorang menulis formulir penarikan rekening bank di awal tahun baru akan memiliki potensi besar salah menulis tahun sebelumnya, prediksi semacam ini bisa juga dibangun dalam konteks bekerja di tempat kerja.
    3. Prilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi.
    Organisasi digerakkan oleh tujuan, karena itu, proses dan nilai-nilai yang ada di dalamnya dikembangkan untuk mengarahkan perilaku tiap individu di dalam organisasi. Organisasi mencerminkan bagaimana pekerjaan dipecah menjadi tugas-tugas tertentu dan dikoordinasikan untuk mencapai sasaran dengan selamat dan handal.
    4. pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan, rekan kerja dan bawahannya.
    Tingkat keselamatan dan kehandalan sebuah fasilitas terkait langsung dengan perilaku para pekerjanya. Semua perilaku manusia, yang baik ataupun yang buruk, dikuatkan oleh konsekuensi langsung atau pengalaman masa lalunya.
    5. kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan atau sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan di masa lalu.
    Peningkatan kinerja dapat diraih dengan menerapkan tindakan perbaikan sebuah investigasi atau analisa kecelakaan.

    Manusia tidak berbuat salah secara sengaja. Kesalahan (error) adalah tindakan manusia yang tidak disengaja yang menyimpang dari tindakan yang diharapkan. Kesalahan adalah tindakan tak terencana atau dipikirkan terlebih dahulu. Kesalahan manusia (human error) terjadi akibat ketidak cocokan antara keterbatasan manusia dengan kondisi lingkungan di tempat kerja, termasuk ketidaksesuaian manajemen, kepemimpinan dan kelemahan organisasi yang membuat kondisi tersebut muncul, seperti :
    – Luput (slips) terjadi jika suatu aksi fisik gagal mewujudkan hasil yang di inginkan.
    – khilaf (lapses) melibatkan kegagalan terkait ingatan atau mengingat ulang.
    -keliru (mistake) sebaliknya, terjadi jika seseorang mempergunakan rencana yang tidak memadai untuk mencapai hasil yang di inginkan.

    Pola pikir Manusia cenderung fokus pada apa yang hendak dicapai daripada pada fokus pada apa yang harus dihindari, karenanya, manusia hanya melihat apa yang pikirannya harapkan/inginkan untuk dilihat. Otak manusia cenderung mencari keteraturan, setelah didapat, maka la akan mengacuhkan selain itu; dengan demikian ia akan melewatkan kondisi yang tidak diperkirakan. Sulit melihat kesalahannya sendiri. Individu, terutama yang bekerja sendiri, rentan terhadap kesalahan. Pekerja yang terlalu asyik dengan kerjaannya, atau disibukkan dengan suatu hal, bisa jadi gagal untuk dapat mengidentifikasi ketidaknormalan. Keterbatasan perspektif. Manusia tidak bisa melihat semua hal yang ada ditempat kerja untuk dilihat. Keterbatasan manusia untuk menerima semua fakta dapat menghalangi keputusannya untuk memecahkan masalah.
    Rentan terhadap faktor emosionaI/sosial. Kemarahan atau rasa malu bisa menurunkan kinerja seorang pekerja atau kelompok kerja.
    Kelelahan. Lelah secara fisik, emosi dan mental bisa mengarah ke tindakan yang salah dan pengambilan keputusan yang tidak tepat. Kelelahan dapat diakibatkan oleh faktor di dalam pekerjaan (tekanan produksi, lingkungan, dan kurangnya jumlah pekerja) dan faktor diluar pekerjaan (pola makan dan tidur). Kelelahan memperburuk pengambilan keputusan, menurunkan
    kewaspadaan, memperlambat proses berpikir dan waktu reaksi, menghilangkan kewaspadaan kepada lingkungan (situational awareness) dan mendorong seseorang mengambil jalan pintas (shortcut). Presenteeism. Beberapa pekerja akan tetap memaksakan hadir dan bekerja meskipun kemampuan kerjanya sudah menurun karena penyakit atau cedera. Kecenderungan pekerja tetap
    melanjutkan pekerjaan meski memiliki masalah kesehatan yang ringan dapat diakibatkan oleh kurangnya cuti sakit, menumpuknya pekerjaan atau tidak tersedianya akses pelayanan kesehatan.


    Nama : Vincentius Rizky Chandra
    NIM : 167052029
    Semester : II
    Kelas : A2

  67. Memahami Kesalahan Manusia (Human Error)

    Semua pekerja bias melakukan kesalahan (error), tak terkecuali pekerja yang sudah terlatih dan memiliki motivasi kerja yang baik. Beberapa kesalahan bisa menghasilkan konsekuensi cedera/kecelakaan, sedang banyak kesalahan lainnya tidak. Karenanya, penting bagi praktisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) untuk dapat memahami prinsip yang melatarbelakangi kesalahan manusia.
    Hampir 80% kejadian terkait dengan kesalahan manusia, data dari Departemen Energi Amerika bahkan mengatakan bahwa di beberapa industry, porsi kesalahan manusia bias mencapai 90%; hanya sekitar 20% yang terkait kegagalan peralatan.
    Jika angka 80% kesalahan manusia didetailkan lebih lanjut, terungkap bahwa sebagian besar (70%) kesalahan pekerja diakibatkan oleh kelemahan laten organisasi/perusahaan (kelemahan yang dibuat oleh pekerja lain di masa lalu yang tidak Nampak karena tidak menimbulkan masalah), sedang 30% lainnya terjadi oleh pekerja yang menangani peralatan atau sistem di area kerja.
    Kecelakaan-kecelakan yang terjadi mengajarkan bahwa kita tidak boleh menyalahkan kecelakaan hanya kepada pekerja, karena yang sebetulnya terjadi adalah proses dan nilai di dalam organisasi/perusahaan berkontribusi besar pada mayoritas kecelakaan. Ada 5 prinsip dasar yang harus terlebih dahulu dimengerti untuk dapat memahami faktor manusia.
    1. Semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerja yang paling hebat pun bisa salah.
    Dr. James Reason, penulis Human Error (1990) mengatakan: adalah penting bagi tiap pekerja,terutama managernya, untuk menjadi lebih mawas diri akan potensi manusia berbuat salah. Pekerjaan, tempat kerja dan faktor organisasi membentuk kemungkinan (likelihood) dan konsekuensi (consequences).
    2. Situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat di prediksi, dikelola dan dicegah.
    Mengenali perangkap/jebakan kesalahan dan secara aktif mengkomunikasikan bahaya-bahaya tersebut ke orang lain adalah salah satu bentuk pengelolaan kesalahan yang proaktif. Dengan mengubah situasi kerja untuk mencegah, menghilangkan atau mengurangi kondisi yang bias menyebabkan kesalahan, pekerjaan dan faktor individu di tempat kerja bias dikelola untuk mencegah atau setidaknya mengurangi peluan terjadinya kesalahan.
    3. Perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi.
    Organisasi mencerminkan bagaimana pekerjaan dipecah menjadi tugas-tugas tertentu dan dikoordinasikan untuk mencapai sasaran dengan selamat dan handal.
    4. Pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan, rekan kerja dan bawahannya.
    Sebuah perilaku dikuatkan oleh konsekuensi yang individu tersebut alami ketika perilaku tertentu dilakukan.
    5. Kecelakan bisa dihindari dengan memahami alasan/sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan di masa lalu.
    Belajar dari kesalahan diri sendiri dan orang lain adalah hal yang reaktif, namun menjadi hal yang penting sebagai bentuk perbaikan berkelanjutan.
    Beberapa hal berikut bisa menjelaskan bagaimana ketidaktepatan atau aksi yang salah bisa terjadi:
    • Waktu – terlalu cepat, terlalu lambat, alpa
    • Durasi – terlalu lama, terlalu singkat
    • Urutan – terbalik, berulang-ulang, gangguan
    • Obyek – salah tindakan di obyek yang benar, tindakan bertindak di obyek yang salah
    • Tekanan – terlalu sedikit atau terlalu banyak tekanan
    • Arahan – salah memberikan arahan
    • Kecepatan – terlalu cepat atau terlalu lambat, dan
    • Jarak – terlalu jauh,terlalu dekat.

    Beberapa sikap yang dapat menimbulkan risiko berbuat salah misalnya:
    • Rasa bangga. Kebanggan berlebih terhadap kemampuan diri sendiri; sombong. Terlalu fokus pada diri sendiri dan berlebihan rasa bangga cenderung membutakan kita akan hal-hal yang dapat dilakukan oleh orang lain,menurunkan kepercayaan terhadap kerja sama tim.
    • Heroik. Keberanian yang berlebihan. Perspektif ini ditandai dengan fokus berlebih pada tujuan tanpa mempertimbangkan bahaya yang harus dihindari.
    • Fatalistic. Sikap kalahan yang meyakini bahwa setiap kejadian sudah ditentukan, tidak bias dihindari, dan tidak ada yang dapat dilakukan untuk menghindari takdir.
    • Invulnerability. Memiliki rasa kebal terhadap kesalahan/tidak mungkin berbuat salah, gagal atau cedera.
    • Pollyanna (rasa optimis berlebihan). Manusia mencari keteraturan dalam lingkungan, bukan ketidakteraturan. Akibatnya, secara tidak sadar mereka meyakini bahwa segala sesuatu akan berjalan sesuai yang direncanakan.
    • Sikap “Ban gundul”. Kinerja masa lalu terkadang menjadi pembenaran untuk tidak merubah (melakukan perbaikan) praktek atau kondisi yang sudah ada.
    Bekerja dalam kelompok juga tidak membuat manusia bebas dari kesalahan. Kesalahan kelompok (team error) bias terjadi akibat interaksi antara anggota kelompok kerja.
    Kesalahan kelompok bisa diakibatkan oleh beberapa hal, diantaranya:
    • Efek halo – kepercayaan buta akan kompetensi seseorang dikarenakan pengalaman atau pendidikannya.
    • Pilot-Co-pilot – keengganan pekerja junior (co-pilot) untuk menentang pendapat, keputusan atau tindakan pekerja senior (pilot) karena posisinya di dalam struktur organisasi perusahaan.
    • Menumpang/mengikuti saja – kecenderungan untuk “menumpang” (ikut-ikutan saja) tanpa secara aktif mengevaluasi maksud dan tindakan pekerja yang melakukan pekerjaan atau mengambil inisiatif.
    • Berpikir grup – kepaduan , kepaduan, loyalitas, konsensus dan komitmen adalah hal yang baik jika ada didalam kelompok kerja.
    • Difusi tanggung jawab bisa jadi berisiko dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah kelompok.


    Nama: Muhammad Khairuddin Anwar
    NIM: 167052047
    Semester: II
    Kelas: A2

  68. TUGAS PERBAIKAN KE-1


    “Memahami Kesalahan Manusia (Human Error)”

    Semua pekerja bisa melakukan kesalahan ( Error ), tidak terkecuali pekerja yang sudah terlatih dan memiliki motivasi kerja yang baik.
    Hampir 80% kejadian terkait dengan kesalahan manusia,data dari Departement Energi Amerika bahkan mengatakan bahwa di beberapa industri, porsi kesalahan manusia bisa mencapai 90%,hanya sekitar 20% yang terkait kegagalan peralatan.

    5 Prinsip dasar yang harus terlebih dahulu dimengerti untuk dapat memahami faktor manusia :

    1. Semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerja yang paling hebat pun bisa salah.
    dikenal dengan istilah ” To err is human ” ( berbuat salah adalah manusiawi ).
    Dr. James Reason penulis Human Error (1990) mengatakan adalah penting bagi setiap pekerja, terutama managernya untuk menjadi lebih mawas diri akan potensi manusia berbuat salah.

    2. Situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diprediksi,dikelola dan dicegah.
    Menghilangkan atau mengurangi kondisi yang bisa menyebabkan kesalahan,pekerja dan faktor individu ditempat kerja bisa dikelola untuk mencegah atau setidaknya mengurangi peluang terjadinya kesalahan.

    3. Perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi.
    Organisasi digerakkan oleh tujuan,proses dan nilai – nilai yang ada didalamnya dikembangkan untuk mengarahkan perilaku tiap individu di dalam organisasi. budaya organisasi,pengelolaan perencanaan dan sistem pengendali berkontribusi paling besar dalam kesalahan manusia yang bisa mengakibatkan kecelakaan kerja.

    4. Pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan, rekan kerja dan bawahannya. Tingkat keselamatan dan kehandalan sebuah fasilitas terkait langsung dengan perilaku para pekerjanya.

    5. Kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan/sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan di masa lalu.
    Peningkatan kinerja dapat diraih dengan menerapkan tindakan perbaikan sebuah Investigasi/analisa kecelakaan. belajar dari diri sendiri dan orang lain adalah hal yang reaktif,namun menjadi hal yang penting sebagai bentuk perbaikan berkelanjutan.

    – Unsafe Acts (Tindakan Tidak Aman) terbagi menjadi 2, Antara lain :
    1. Unintended Action (Tindakan Tidak Sengaja)
    a. Slip (Luput) terjadi ketika suatu aksi fisik gagal mewujudkan hasil yang di inginkan.
    b. Lapses (Khilaf) melibatkan kegagalan terkait ingatan atau mengingat ulang
    c. Mistake (Keliru) Terjadi ketika seseorang mempergunakan rencana yang tidak memadai untuk mencapai hasil yang diinginkan.
    2. Intended Action (Tindakan Sengaja)
    a. Mistake (Keliru) memaksakan diri/pekerjaan yang tidak sesuai kompetensi
    b. Violation (Pelanggaran) antara lain : Routine (kebiasaan), Exception (Pengecualian) dan Sabotage (Sabotase).

    Beberapa karakter manusia dibawah ini perlu diperhatikan,terutama ketika menempatkan pekerja di sistem yang rumit, anatara lain :
    1. Stres
    Stres bisa terakumulasi dan menguasai seseorang sehingga pada akhirnya melumpuhkan kinerja.
    2. Menghindari kelelahan pikiran
    Manusia cenderung enggan berfikir/konsentrasi/fokus dalam jangka waktu yang lama karena melelahkan sehingga cenderung mencari pola yang dikenalnya dan menerapkan solusi yang sudah pernah diterapkan.
    3. Keterbatasan Memori Kerja
    Berupa ingatan jangka pendek (short term memory) yang digunakan dalam penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan.
    4. Keterbatasan Fokus Perhatian
    Keterbatasan kemampuan berkonsentrasi pada dua atau lebih aktifitas dapat menurunkan kemampuan untuk memproses informasi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan masalah (fokus perhatian sangat terbatas)
    5. Pola Pikir
    Manusia cenderung fokus pada apa yang hendak dicapai daripada fokus pada apa yang harus dihindari.
    6. Sulit Melihat Kesalahannya Sendiri
    Terutama yang bekerja sendiri rentan terhadap kesalahan dan gagal untuk dapat mengidentifikasi ketidaknormalan.
    7. Keterbatasan Perspektif
    Keterbatasan manusia untuk menerima semua fakta dapat menghalangi keputusannya untuk memecahkan masalah.
    8. Rentan Terhadap Faktor Emosional/Sosial
    Kemarahan atau rasa malu bisa menurunkan kinerja seorang pekerja atau kelompok kerja.
    9. Kelelahan
    Lelah secara fisik,emosi dan mental bisa mengarah ke tindakan yang salah dan pengambilan keputusan yang tidak tepat
    10. Presenteeism
    Beberapa pekerja akan tetap memaksakan hadir dan bekerja meskipun kemampuan kerjanya sudah menurun karena penyakit atau cidera.
    11. Sikap Tidak Aman
    Persepsi seseorang terhadap resiko lebih banyak dipengaruhi oleh hatinya dari pada otak.
    contohnya : Rasa bangga,Heroik,fatalistic,Invulnerability,Pollyanna (rasa optimis berlebihan),Sikap ”Ban Gundul”
    12. Efek Halo
    Kepercayaan buta akan kompetensi seseorang dikarenakan pengalaman atau pendidikannya.
    13. Pilot-Co-Pilot
    Keengganan pekerja junior (Co-Pilot) untuk menentang pendapat ,keputusan atau tindakan peserta senior (Pilot) karena posisi didalam struktur organisasi perusahaan.
    14.Menumpang/Mengikuti Saja
    Kecenderungan untuk ”Menumpang” (Ikut-ikutan saja) tanpa secara aktif mengevaluasi maksud dan tindakan pekerja yang melakukan pekerjaan atau mengambil inisiatif.
    15. Berfikir Grup
    Kepaduan,Loyalitas,Konsensus dan komitmen terkadang hal-hal tersebut bisa menurunkan kualitas keputusan tim.
    contohnya ada keengganan untuk berbagi informasi berbeda untuk menjaga keharmonisan tim.
    16. Difusi Tanggung Jawab
    Berisiko dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah kelompok, mereka akan lebih mudah mengambil resiko dan mengabaikan prosedure atau kebijakan yang ada. fenomena ini bisa disebut mentalitas gembala ( herd mentality).


    Nama : Nur Fadly Syarif
    NIM : 167051969
    Semester : II
    Kelas : A1

  69. TUGAS PERBAIKAN KE-1


    KESALAHAN MANUSIA (Human Error)

    Semua pekerja bisa melakukan kesalahan (error), tak terkecuali pekerja yang sudah terlatih dan memiliki motivasi kerja yang baik. Beberapa kesalahan bisa menghasilkan konsekuensi cedera/kecelakaan, sedangkan banyak kesalahan lainnya tidak. Kerenanya, penting bagi praktisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) untuk dapat memahami prinsip yang melatarbelakangi Kesalahan manusia.
    Karena kesalahan pasti terjadi, kemampuan untuk dapat mengidentifikasi kesalahan ditahap awal, berguna untuk mencegah terjadinya kecelakaan.

    Hampir 80% kejadian terkait dengan kesalahan manusia, data dari Departemen Energi Amerika bahkan mengatakan bahwa di beberapa industri, porsi kesalahan manusia bisa mencapai 90%, hanya sekitar 20% yang terkait kegagalan peralatan.
    Jika angtka 80% kesalahan manusia di detailkan lebih lanjut, terungkap bahwa sebagian besar (70%) kesalahan pekerja diakibatkan oleh kelemahan laten perusahaan/organisasi (kelemahan yang dibuat oleh pekerja lain di masa lalu yang tidak tampak karena tidak menimbulkan masalah), sedangkan 30% lainnya terjadi oleh pekerja yang menangani peralatan atau sistem di area kerja.
    Kecelakaan yang terjadi mengajarkan bahwa kita tidak boleh menyalahkan kecelakaan hanya pada pekerja, karena yang sebenarnya terjadi adalah proses dan nilai didalam organisasi/perusahaan berperan besar pada mayoritas kecelakaan.
    Penyebab kecelakaan kerja berasal dari beberapa faktor, banyak diantaranya berada diluar kendali pekerja.

    Ada 5 Prinsip dasar yang harus terlebih dahulu dimengerti untuk dapat memahami faktor manusia
    1. Semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerja yang paling hebat pun bisa.
    2. Situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diprediksi, dikelola dan dicegah.
    3. Perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi.
    4. Pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan, rekan kerja dan bawahannya
    5. Kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan/sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan dimasa lalu.

    Manusia tidak berbuat salah secara sengaja. Kesalahan (Error) adalah tindakan manusia yang tidak disengaja yang menyimpang dari tindakan yang diharapkan. Kesalahan adalah tindakan tidak terencana atau dipikirkan terlebih dahulu.
    Kesalahan manusia (Human Error) terjadi akibat ketidakcocokan antara keterbatasan manusia dengan kondisi lingkungan ditempat kerja, termasuk ketidaksesuaian manajemen, kepemimpinan dan kelemahan organisasi yang membuat kondisi tersebut muncul.
    Luput (Slips) terjadi ketika suatu fisik gagal mewujudkan hasil yang diinginkan.
    Sedangkan Khilaf (Lapses) melibatkan kegagalan terkait ingatan atau mengingat ulang.

    Beberapa hal berikut bisa menjelaskan bagaimana ketidaktepatan atau aksi yang salah bisa terjadi:
    • Waktu – Terlalu cepat, terlalu lambat, alpa
    • Durasi – Terlalu lama, terlalu singkat
    • Urutan – Terbalik, berulang-ulang, gangguan
    • Obyek – Salah tindakan di obyek yang benar, tindakan bertindak di obyek yang salah
    • Tekanan – Terlalu sedikit atau terlalu banyak
    • Arahan – Salah memberi Intruksi.
    • Kecepatan – Terlalu cepat atau terlalu lambat, dan
    • Jarak – Terlalu jauh, terlalu dekat

    Keliru (Mistake), sebaliknya, terjadi ketika seseorang mempergunakan rencana yang tidak memadai untuk mencapai hasil yang diinginkan. Kekeliruan biasanya melibatkan kesalahan interpretasi atau kurangnya pengetahuan.

    Manusia memiliki karakter fisik, biologi, sosial, mental dan emosi yang membentuk kecenderungan, kemampuan dan juga menentukan keterbatasannya. Salah satu ciri manusia adalah ketidaktepatannya. Tidak seperti mesin yang selalu tepat setiap saat, manusia cenderung tidak tepat, terutama didalam kondisi tertentu.

    Semisal dalam tekanan stress dan waktu yang besar. Karena sifat manusiawi inilah, pekerja cenderung rentan terhadap kondisi eksternal yang membuat meraka melampaui batasana sifat manusiawinya. Kerentanan inilah yang membuat pekerja bisa berbuat salah. Kerentanan ini juga terjadi ketika manusia bekerja dalam system yang rumit (Perangkat lunak atau administratif)
    Beberapa karakter manusia dibawah ini perlu diperhatikan, terutama ketika menepatkan pekerja di system kerja yang rumit:
    • Stress
    • Menghindari berpikir keras
    • Keterbatasan memori kerja
    • Keterbatasab focus perhatian
    • Pola Pikir
    • Keterbatasan Prespektif
    • Rentan emosional/sosial
    • Kelelahan
    • Memaksa Hadir

    Sikap Tidak Aman, Sikap dapat diartikan sebagai kondisi mental atau perasaan terhadsap suatu obyek atau subyek. Dikatakan bahwa presepsi seseorang terhadap risiko lebih banyak di pengaruhi oleh hatinya ketimbang otaknya,
    Beberapa sikap yang dapat menibulkan risiko berbuat salah misalnya:
    • Rasa Bangga, Percaya diri Berlebih, Sombong
    • Heroik, Merasa paling berani
    • Fatalistic, Pasrah
    • Invulnerability, Merasa tidak melakuakan kesalahan
    • Pollyanna, Optimis berlebihan
    • Sikap “Ban Gundul”, Pembenaran melalui kinerja masa lalu untuk tidak melakuan perubahan

    Kesalahan Kelompok bisa diakibatkan beberapa hal, diantaranya:

    Efek Halo, Kepercayaab buta akan kompetensi seseorang dikarenakan pengalaman atau pendidikannya. Hal yang dapat menyebabkan hilang kewaspadaan terhadap kesalahan yang dapat terjadi karena individu yang kompeten.

    Pilot Co-Pilot, Keengganan junior menentang pendapat, keputusan atau tindakan senior karena pengaruh jabatan di tempat kerja.

    Menumpang/mengikut saja, Cendeung ikut-ikutan tanpa secara aktif mengevaluasi maksud dan tindakan pekerja yang melakukan pekerjaan atau mengambil inisiatif.

    Berpikir Grup, Adanya keengganan untuk berbagi informasi yang berbeda untuk menjaga keharmonisan tim. Akibatnya, informasi penting bisa jadi tidak terbagi kepada anggota kelompok.

    Difusi tanggung jawab, Kesepakatan antara pekerja unhtuk mengambil keputusan yang dianggap mereka yang terbaik untuk dilakukan, namun mereka lebih memilih risiko ketimbang mengutamakan prosedur dan kebijakan yang ada.


    Nama: Arya Fitra Karunia
    NIM: 167052030
    Semester: II
    Kelas: A2

  70. TUGAS PERBAIKAN KE-1


    Memahami Kesalahan Manusia ( Human Error)

    Semua pekerja bisa melakukan kesalahan (error), tak terkecuali para pekerja yang sudah terlatih sekalipun. Karena penting bagi praktisi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) untuk dapat memahami prinsip yang melatarbelakangi kesalahan manusia.
    Hampir 80% kejadian terkait dengan kesalahan manusia, data dari Departemen Energi Amerika mengatakan bahwa di beberapa industri, porsi kesalahan manusia bias mencapai 90%, hanya sekitar 20% yang terkait kegagalan peralatan.
    Secara sederhana human error juga bisa disebabkan oleh tiga hal yang umum biasa terjadi dalam suatu perusahaan, seperti hal yang lebih menekankan kepada individu (kurangnya pelatihan atau training pada saat masa percobaan karyawan baru) atau bersifat manajem (dimana kurangnya peranan manajemen dalam mengatur para karyawannya) serta yang lebih bersifat global (tekanan keuangan, waktu, serta perlakuan social dan budaya organisasi).
    Akar penyebab kecelakaan merupakan kombinasi dari beberapa faktor, banyak diantaranya yang berada di luar kendali pekerja.
    Ada 5 prinsip dasar yang harus terlebih dahulu dimengerti untuk dapat memahami faktor manusia, yaitu:
    1. Semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerja yang paling hebat pun bisa berbuat salah.
    Tidak ada satupun pekerja yang tidak melakukan kesalahan, berapapun usianya, pengalaman, atau pendidikan para pekerja tersebut. Karenanya dikenl istilah “to err is human” (berbuat salah adalah manusiawi). Tabiat manusiawi pekerja untuk bersikap tidak sempurna, sehingga pada akhirnya, kesalahan dapat terjadi, tidak ada pelatihan yang dapat mengubah kerentanan manusia ini.
    Dr. James Reason, penulis Human Error (1990) mengatakan penting bagi tiap pekerja, terutama managernya, untuk menjadi lebih mawas diri akan potensi manusia berbuat salah.
    Pekerjaan, tempat kerja dan faktor organisasi membentuk kemungkinan dan konsekuensi.
    2. Situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diperbaiki, dikelola, dan dicegah.
    meskipun secara umum kesalahan manusia adalah hal yang pasti, beberapa kesalahan yang spesifik dapat dicegah.
    Mengenali perangkap/jebakan kesalahan dan secara aktif mengkomunikasikan bahaya-bahaya tersebut ke orang lain adalah salah satu bentuk pengelolaan kesalahan secara proaktif.
    3. Perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi.
    Organisasi mencerminkan bagaiman pekerjaan dipecah menjadi tugas-tugas tertentu dan dikoordinasikan untuk mencapai sasaran dengan selamat dan handal. Tugad dari managemen untuk mengarahkan perilaku para pekerja.
    4. Pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan, rekan kerja dan bawahannya.
    Tingkat keselamatan dan kehandalan sebuah fasilitas terkait langsung dengan perilaku para pekerjanya.
    Karena perilaku dipengaruhi oleh konsekuensi yang pekerja itu alami, apa yang terjadi ketika seorang pekerja menunjukkan perilaku tertentu adalah hal yang penting untuk meningkatkan kinerja manusia.
    5. Kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alas an/sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan dimasa lalu.
    Peningkatan kinerja dapat diraih dengan menerapkan tindakan perbaikan sebuah investigasi/analisa kecelakaan. Belajar dari kesalahan diri sendiri dan orang lain adalah hal yang reaktif, namun menjadi hal yang penting sebagai bentuk perbaikan berkelanjutan.

    Beberapa hal yang bisa menjelaskan bagaimana ketidaktepatan atau aksi yang salah bisa terjadi:
    1. Waktu, terlalu cepat atau terlalu terlambat.
    2. Durasi, terlalu lama, terlalu singkat
    3. Urutan, terbalik berulang-ulang, gangguan
    4. Obyek, salah tindakan di obyek yang benar
    5. Tekanan, terlalu sedikit atau terlalu banyak tekanan
    6. Arahan, salah member arahan
    7. Kecepatan, terlalu cepat atau terlalu lambat
    8. Jarak, terlalu jauh, terlalu dekat

    Beberapa karakter manusia dibawah ini perlu diperhatikan, terutama ketika menempatkan pekerja di sistem kerja yang rumit, yaitu:
    1. Stress
    2. Menghindari kelelahan pikiran
    3. Keterbatasan memori kerja
    4. Keterbatasan fokus perhatian
    5. Pola pikir
    6. Sulit melihat kesalahannya sendiri
    7. Rentan terhadap faktor emosional/social
    8. Kelelahan
    9. Presenteeism
    10. Sikap tidak aman

    Beberapa sikap yang dapat menimbulkan resiko berbuat salah misalnya:
    1. Rasa bangga
    Kebanggaan berlebih terhadap kemampuan diri sendiri, sombong.
    2. Heroik
    Keberanian yang berlebihan
    3. Fatalistic
    Sikap kalahan yang meyakini bahwa setiap kejadian sudah ditentukan, tidak bisa dihindari, dan tidak ada yang dapat dilakukan untuk meghindari takdir.
    4. Invulnerability
    Memiliki rasa kebal terhadap kesalahan atau tidak mungkin berbuat salah gagal atau cedera.
    5. Pollyanna
    Manusia mencari keteraturan dalam lingkungan, bukan ketidakteraturan.
    6. Sikap “Ban gundul”
    Kinerja masa lalu terkadang menjadi pembenaran untuk tidak merubah praktek atau kondisi yang sudah ada.

    Kesalahan kelompok bisa diakibatkan oleh beberapa hal, yaitu diantaranya:
    1. Efek halo
    Kepercayaan buta akan kompetensi seseorang dikarenakan pengalaman atau pendidikannya. Hal yang mengakibatkan antar anggota kelompok menurunkan kewaspadaannya terhadap kesalahan yang dapat diakibatkan oleh individu yang kompeten, tidak memeriksa tindakan seorang yang kompeten
    2. Pilot-co-pilot
    Keengganan pekerja junior untuk menentang pendapat, keputusan atau tindakan pekerja senior karena posisinya di dalam struktur organisasi perusahaan.
    3. Menumpang atau mengikuti saja
    Kecenderungan untuk “menumpang” atau ikut-ikutan saja tanpa secara aktif mengevaluasi maksud atau tindakan pekerja yang melakukan pekerjaan atau mengambil inisiatif. Orang lain yang mengambil inisiatif untuk melakukan pekerjaan, sementara si penumpang hanya mengambil peran pasif.
    4. Berpikir grup
    Kepaduan, loyalitas, konsensus dan komitmen adalah hal yang baik jika ada didalan kelompok kerja. Contohnya, ada keengganan untuk berbagi informasi yang berbeda untuk menjaga keharmonisan tim. Kondisi itu bisa diperparah jik ada anggota grup yang dominan dan memberikan pengaruh yang kuat dalam pola pikir grup.
    Akibatnya, informasi yang penting bisa jadi tidak terbagi kepada anggota kelompok.
    5. Difusi tanggung jawab
    Bisa jadi beresiko dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah kelompok. Jika dua atau lebih pekerja sepakat akan sesuatu yang dianggap cara yang terbaik dalam melakukan sesuatu, maka mereka akan lebih mudah mengambil resiko dan mengabaikan prosedur atau kebijakan yang ada.


    Nama: Rifda Nur Alifah
    NIM: 167052014
    Semester: II
    Kelas: A1

  71. Memahami Kesalahan Manusia ( Human Eror )
    Semua pekerja yang bekerja dibidang apapun pasti pernah mengalami kesalahan yang disebabkan oleh manusia itu sendiri ( human eror ), sekalipun pekerja yang sangat terlatih dibidangnya. Karena kesalahan pasti terjadi, maka kemampuan untuk dapat mengidentifikasi kesalahan ditahap awal, berguna untuk mencegah terjadinya kecelakaan.
    Hampir 80 % kejadian terkait dangan kesalahan yang dilakukan oleh manusia, dan 20 % lainnya terkait oleh peralatan itu sendiri. Dan, kecelakaan yang dilakukan oleh manusia 30 % berasal dari individu itu sendiri dan 70 % nya berasal dari organisasi, perusahaan, ataupun instansi tempat mereka bekerja.
    Ada 5 prinsip dasar yang harus terlebih dahulu dimengerti untuk dapat memahami faktor manusia yaitu:
    1. Semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerja yang paling ahli dibidangnya sekalipun bisa melakukan kesalahan.
    Tidak satupun pekerja yang tidak pernah melakukan kesalahan, berapapun usianya, pengalaman atau tingkat pendidikannya. Karena itu dikenal istilah berbuat salah adalah manusiawi. Tabiat manusiawi pekerja untuk bersikap tidak sempurna, sehingga pada akhirnya, kesalahan dapat terjadi. Tidak ada pelatihan atau konseling yang dapat mengubah kerentanan manusia ini. Maka daripada itu, jika anda benar sekalipun, belum tentu menurut orang lain anda benar, karena pemahaman meraka belum sampai ketahap yang kita sudah kuasai.
    2. Situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diprediksi, dikelola dan dicegah.
    Mengenali perangkap / jebakan kesalahan dan secara aktif mengkomunikasikan bahaya – bahaya tersebut ke orang lain adalah salah satu bentuk pengelolaan kesalahan yang proaktif. Dengan mengubah situasi kerja untuk mencegah, menghilangkan atau mengurangi kondisi yang bisa menyebabkan kesalahan, pekerjaan dan factor individu di tempat kerja bisa dikelola untuk mencegah peluang terjadinya kesalahan.
    Kecelakaan sekecil apapun bisa dilakukan upaya pencegahan supaya tidak terjadi berulang atau bisa juga melakukan deteksi kecelakaan. Contohnya : Jika lantai dalam kondisi yang basah, itu dapat menyebabkan kecelakaan. Maka dari itu, upaya supaya kecelakaan tersebut tidak terjadi yaitu dengan cara memberi rambu peringatan, tutup jalanan supaya tidak dilalui orang, dll.
    3. Perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi.
    Organisasi digerakkan oleh tujuan, karena itu, proses dan nilai – nilai yang ada didalamnya dikembangkan untuk mengarahkan perilaku tiap individu di dalam organisasi. Organisasi mencerminkan bagaimana pekerjaan dipecah menjadi tugas – tugas tertentu dan dikoordinasikan untuk mencapai sasaran dengan selamat dan handal. Lingkungan yang baik akan membuat kita menjadi pribadi yang baik, namun lingkungan yang buruk akan membuat kita menjadi pribadi yang buruk juga. Maka dari itu lingkungan dimanapun kita berada akan menciptakan pengaruh besar terhadap diri kita sendiri.
    4. Pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan, rekan kerja dan bawahannya.
    Tingkat keselamatan dan kehandalan sebuah fasilitas terkait langsung dengan perilaku para pekerjanya. Semua perilaku manusia, yang baik ataupun yang buruk, dikuatkan oleh konsekuensi langsung atau pengalaman masa lalunya. Karena perilaku dipengaruhi oleh konsekuensi yang pekerja itu alami, apa yang terjadi ketika seorang pekerja menunjukkan perilaku tertentu adalah hal yang penting untuk meningkatkan kinerja manusia.
    5. Kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan / sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan masa lalu.
    Penigkatan kinerja dapat diraih dengan menerapkan tindakan perbaikan sebuah investigasi / analisa kecelakaan. Belajar dari kesalahan diri sendiri dan orang lain adalah hal yang reaktif, namun menjadi hal yang penting sebagai bentuk perbaikan berkelanjutan.
    Unsafe Action ( Tindakan Kesalahan ) ada 2, antara lain :
    1). Unintended Action ( Tidak Disengaja ) dibagi menjadi 3, yaitu :
    a). Slip ( Luput )
    Tindakan kesalahan yang terjadi karena lupa.
    b). Lapse ( khilaf )
    Tindakan kesalahan yang terjadi karena memory / ingatan
    c) Mistake ( Kesalahan )
    Kesalahan yang banyak terjadi karena kesalahan, contohnya :
    1) Kurangnya pengetahuan
    2) Kurangnya pengalaman
    3) Kurangnya pemahaman
    4) Kurangnya pelatihan
    2). Intended Action ( Memang Disengaja )
    a). Mistake
    Contohnya pekerja yang dipaksa melakukan suatu pekerjaan yang pekerja tersebut tidak memiliki pengetahuan atau pemahaman atas pekerjaan yang akan ia lakukan.
    b). Violation ( Pelanggaran ) dibagi menjadi 3, yaitu :
    1). Routine ( Rutin )
    Sudah terbiasa dilakukan. Contohnya : rambu dilarang memutar, tapi karena kurangnya penjagaan dari pihak yang berwajib, maka tetap memutar disitu.
    2). Exception ( pengecualian )
    Kesalahan kesalahan yang sudah dianggap terlalu sering bahkan malah menjadi pengecualian.
    3). Sabotage ( Sabotase )
    Membuat buruk citra perusahaan karna ada maksud tertentu. Contohnya : menghapus file – file penting di perusahaan, merusak fasilitas perusahaan, dll.

    Nama : Yusuf Bagas Prakoso
    NIM : 167052028
    Semester : 2
    Kelas : A2



    Komentar Dosen:
    Tugas Anda DITOLAK karena sudah melampaui batas waktu.

  72. TUGAS PERBAIKAN KE-1


    Memahami Kesalahan Manusia ( Human Error )

    Kesalahan ( error ) adalah tindakan manusia yang tidak disengaja / tidak terencana / tidak dipikirkan terlebih dahulu yang menyimpang dari tindakan yang diharapkan. Kesalahan manusia ( human error ) dapat terjadi dengan sengaja atau tidak sengaja.
    Kesalahan manusia ( human error ) terjadi akibat ketidakcocokan antar keterbatasan manusia dengan kondisi lingkungan di tempat kerja, termasuk ketidaksesuaian manajemen, kepemimpinan dan kelemahan organisasi yang membuat kondisi tersebut muncul.
    Insiden disebabkan oleh kesalahan manusia sebesar 80%, dan oleh peralatan sebesar 20%. Dari manusia pun kesalahan disebabkan 30% dari individual ( perorangan ) dan 70% dari organisasi.

    Berikut 5 prinsip dasar yang harus terlebih dahulu dimengerti untuk dapat memahami faktor manusia :

    1. Semua manusia bisa berbuat salah, bahkan pekerja yang paling hebat bisa salah

    Tidak ada pekerja yang luput dari kesalahan, berapapun usianya, pengalaman atau tingkat pendidikannya pasti akan berbuat salah karena tindakan tersebut manusiawi ( to err is human), karena pada dasarnya pekerja tidak ada yang sempurna oleh sebab itu kesalahan tidak dapat dihilangkan walaupun telah melewati pelatihan atau konseling. Dr. James Reason, penulis Human Error (1990) mengatakan, human error adalah penting bagi tiap pekerja, terutama managernya, untuk menjadi lebih mawas diri akan potensi manusia berbuat salah. Pekerjaan, tempat kerja dan faktor organisasasi membentuk kemungkinan (likelihood) dan konsekuensi (consequences)

    2. Situasi yang mungkin menyebabkan kesalahan dapat diprediksi, dikelola dan dicegah

    Secara umum kesalahan manusia adalah hal yang pasti, beberapa kesalahan yang spesifik dapat dicegah. Mengenali perangkap/jebakan kesalahan dan secara aktif mengkomunikasikan bahaya-bahaya tersebut ke orang lain adalah salah satu bentuk pengelolaan kesalahan yang proaktif. Dengan mengubah situasi kerja untuk mencegah, menghilangkan atau mengurangi kondisi yang bisa menyebabkan kesalahan, pekerjaan dan faktor individu di tempat kerja bisa dikelola untuk mencegah atau setidaknya mengurangi peluang terjadinya kesalahan

    3. Perilaku individu dipengaruhi oleh proses dan nilai organisasi

    Organisasi digerakkan oleh tujuan, karena itu, proses dan nilai-nilai yang ada di dalamnya dikembangkan untuk mengarahkan perilaku tiap individu di dalam organisasi. Organisasi mencerminkan bagaimana pekerjaan dipecah menjadi tugas-tugas tertentu dan dikoordinasikan untuk mencapai sasaran dengan selamat dan handal. Penyelesaian pekerjaan dalam konteks proses dan budaya organisasi, pengelolaan perencanaan dan sistem pengendali, berkontribusi paling besar dalam kesalahan manusia yang bisa mengakibatkan kecelakaan kerja

    4. Pekerja mencapai kinerja tertinggi karena dorongan dan penguatan yang diterimanya dari pimpinan, rekan kerja dan bawahannya

    Tingkat keselamatan dan kehandalan sebuah fasilitas terkait langsung dengan perilaku para pekerjanya. Semua perilaku manusia, yang baik ataupun yang buruk, dikuatkan oleh konsekuensi langsung atau pengalaman masa lalunya. Sebuah perilaku dikuatkan oleh konsekuensi yang individu tersebut alami ketika perilaku tertentu dilakukan. Karena perilaku dipengaruhi oleh konsekuensi yang pekerja itu alami, apa yang terjadi ketika seorang pekerja menunjukkan perilaku tertentu adalah hal yang penting untuk meningkatkan kinerja manusia

    5. Kecelakaan bisa dihindari dengan memahami alasan/sebab kejadian dan mengambil pelajaran dari kesalahan di masa lalu.

    Peningkatan kinerja dapat diraih dengan menerapkan tindakan perbaikan sebuah investigasi/analisa kecelakaan. Belajar dari kesalahan diri sendiri dan orang lain adalah hal yang reaktif, namun menjadi hal yang penting sebagai bentuk perbaikan berkelanjutan. Kesalahan (error) adalah tindakan manusia yang tidak disengaja yang menyimpang dari tindakan yang diharapkan. Kesalahan adalah tindakan tak terencana atau dipikirkan terlebih dahulu. Kesalahan manusia (human error) terjadi akibat ketidakcocokan antara keterbatasan manusia dengan kondisi lingkungan di tempat kerja, termasuk ketidaksesuaian manajemen, kepemimpinan dan kelemahan organisasi yang membuat kondisi tersebut muncul.
    Luput (slips) terjadi ketika suatu aksi fisik gagal mewujudkan hasil yang diinginkan. Sedang khilaf (lapses) melibatkan kegagalan terkait ingatan atau mengingat ulang

    Kesalahan manusia yang tidak disengaja yaitu :

    – Slips ( Luput ) adalah dimana aksi fisik manusia gagal mewujudkan hasil yang diinginkan.
    – Lapse ( khilaf ) adalah perbuatan salah yang tidak disengaja, bukan perbuatan yang melalui proses pemikiran apalagi direncanakan sebelumnya dan bukan yang dilakukan berulang – ulang.
    – Mistake ( kesalahan ) adalah suatu tindak kesalahan. Dalam arti tindak kesalahan yang tidak di sengaja seperti minimnya pengetahuan / ketidaktahuan yang berakibat kecelakaan dalam suatu pekerjaan.

    Kesalahan manusia yang disengaja :
    – Violation ( pelanggaran )
    — Routine violation adalah pelanggaran yang disengaja secara rutin. Dimana pekerja melakukan kesalahannya secara rutin / sering kali dan pada akhirnya menimbulkan kecelakaan karena aksi orang tersebut.
    — Exception violation adalah pengecualian. Banyaknya pengecualian yang dapat berakibat menjadi kesalahan yang disengaja.
    — Sabotage / sabotase adalah merusak. Seorang pekerja yang sengaja merusak citra perusahaan atau alat, barang, perlengkapan yang ada dalam perusahaan. Sabotase biasanya terjadi akibat masalah hati / perasaan terhadap pekerjaan / orang yang ada di dalam perusahaan tersebut sehingga muncul rasa sakit hati yang mengakibatkan pekerja tersebut merasa terdorong untuk melakukan perusakan dalam bentuk apa saja yang dilakukan secara sengaja.


    Nama : Vira Erwi Novaliana
    NIM : 167051976
    Semester : II
    Kelas : A1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s