SAFETY PRIME

Engineering Safety

[1801221] Analisis Penyebab Penyakit Akibat Kerja (PAK) Akibat Postur Canggung Pekerja Konstruksi

Leave a comment

ANALISIS PENYEBAB PENYAKIT AKIBAT KERJA (PAK) AKIBAT POSTUR CANGGUNG PEKERJA KONSTRUKSI

Ainun Hidayatullah dan Praditya Faiq Pamungkas
Program Diploma IV Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Fakultas Vokasi, Universitas Balikpapan

ABSTRAK

Manusia merupakan titik sentral dari ilmu ergonomi. Keterbatasan manusia menjadi pedoman dalam merancang suatu sistem kerja yang ergonomis. Fokus ergonomi melibatkan tiga komponen utama yaitu manusia, mesin/peralatan dan lingkungan yang saling berinteraksi antara satu dengan yang lainnya dan interaksi tersebut menghasilkan suatu sistem kerja yang tidak bisa dipisahkan. Penelitian ini dilakukan untuk mengurangi kelelahan dalam bekerja di proyek konstruksi.

Fokus perhatian dari ergonomi adalah berkaitan erat dengan aspek-aspek manusia di dalam perencanaan man made objects dan lingkungan kerja. Pendekatan ergonomi akan ditekankan pada penelitian kemampuan keterbatasan manusia baik secara fisik maupun mental psikologis. Rancangan yang ergonomis akan dapat meningkatkan efisiensi, efektivitas dan produktivitas kerja yang cocok, aman, nyaman dan sehat. Penelitian ini dilakukan dengan berlokasi di proyek konstruksi pembangunan klinik Universitas Balikpapan.

Terdapat 4 metode analisa postur dan pergerakan kerja. Pertama, RULA (Rapid Upper Limb Assessment) yaitu sebuah metode survei yang dikembangkan untuk kegunaan investigasi ergonomi pada tempat kerja. Kedua, REBA(Rapid Entire Body Assessment) yaitu sebuah metode yang digunakan untuk menilai tingkat resiko dari sebuah postur kerja.Terakhir yaitu QEC (Quick Exposure Checklist) merupakan metode untuk menilai secara cepat risiko pajanan terhadap gangguan otot rangka yang berhubungan dengan pekerjaan. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode analisa postur RULA (Rapid Upper Limb Assessment). Karena kasus pekerjaan yang diambil rata-rata terindikasi menyebabkan penyakit otot rangka tubuh bagian atas.

Kurangnya pengetahuan tentang cara bekerja dengan postur tubuh yang ergonomis. Kurangnya pengawasan  serta minimnya penerapan aspek kesehatan kerja. Menjadi alasan pekerja terus-menerus bekerja dengan postur canggung. Dengan melakukan pembekalan ilmu tentang bekerja secara ergonomis terhadap pekerja maupun pengawas, tentunya penyakit akibat kerja dapat diminimalkan.

Kata kunci: Ergonomi, Rapid Upper Limb Assessment, Postur canggung.

 

PENDAHULUAN

Di era globalisasi, K3 telah menjadi sebuah kebutuhan dalam setiap bagian kerja baik yang berada di lapangan ataupun di dalam ruangan. K3 adalah suatu bentuk usaha atau upaya bagi para pekerja untuk memperoleh jaminan atas keselamatan dan kesehatan kerja dalam melakukan pekerjaan yang dapat mengancam dirinya baik berasal dari individu maupun lingkungan kerjanya.

Ergonomi berasal dari bahasa Yunani, Ergon yang berarti kerja dan Nomos yang berarti aturan/hukum. Jadi ergonomi secara singkat juga dapat diartikan aturan/hukum dalam bekerja. Secara umum ergonomi didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang kesesuaian pekerjaan, alat kerja dan atau tempat/lingkungan kerja dengan pekerjanya. Semboyan yang digunakan adalah “Sesuaikan pekerjaan dengan pekerjanya dan sesuaikan pekerja dengan pekerjaannya (Fitting the Task to the Person and Fitting the Person to the Task)”.

Fokus perhatian dari ergonomi adalah berkaitan erat dengan aspek-aspek manusia di dalam perencanaan man made objects dan lingkungan kerja. Pendekatan ergonomi akan ditekankan pada penelitian kemampuan keterbatasan manusia baik secara fisik maupun mental psikologis. Rancangan yang ergonomis akan dapat meningkatkan efisiensi, efektivitas dan produktivitas kerja yang cocok, aman, nyaman dan sehat

Sedangkan beberapa ahli mendefinisikan ergonomi sebagai berikut (Solichin, 2014:153-156):

  1. Menurut Sri Tomo W.S ergonomi merupakan disiplin ilmu yang mempelajari manusia dalam kaitannya dengan pekerjaannya.
  2. Menurut Mc Coinick ergonomi dapat dilakukan dengan cara menjabarkannya dalam fokus, tujuan dan pendekatan mengenai ergonomi.
  3. Capains mengatakan bahwa ergonomi adalah ilmu untuk menggali dan mengaplikasikan informasi-informasi mengenai perilaku manusia, kemampuan, keterbatasan dan karakteristik manusia lainnya untuk merancang peralatan, sistem, pekerjaan dan lingkungan untuk meningkatkan produktivitas, keselamatan, kenyamanan dan efektifitas pekerjaan manusia.
  4. Menurut Mc Cormicks dan Sanders membagi ergonomi ke dalam tiga pendekatan yaitu: (a) Fokus utama yaitu mempertimbangkan manusia dalam perancangan benda kerja, prosedur kerja, dan lingkungan kerja; (b) Tujuan yaitu ergonomi mempunyai dua tujuan yaitu meningkatkan efektifitas dan efisiensi pekerjaan dan aktivitas-aktivitas lainnya serta meningkatkan nilai-nilai tertentu yang diinginkan dari pekerjaan tersebut, dan; (c) Pendekatan utama yaitu mencakup aplikasi sistematik dari informasi yang relevan tentang kemampuan, keterbatasan, karakteristik, perilaku dan motivasi manusia terhadap desain produk dan prosedur yang digunakan serta lingkungan tempat menggunakannya.

Ditinjau dari fakta historis, ergonomi telah menyatu dengan manusia sejak zaman megalitik, dalam proses perancangan dan pembuatan benda-benda seperti alat kerja dan barang buatan sesuai dengan kebutuhan manusia pada zamannya (Kuswana, 2014:1-2).

Jadi ergonomi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam kaitannya dengan pekerjaan mereka. Bisa diartikan dengan penyesuaian tugas pekerjaan dengan kondisi tubuh manusia yang berkaitan tentang aspek-aspek manusia dalam lingkungan kerja yang ditinjau secara anatomi, psikologi, engineering, dan manajemen.

Cara kerja, posisi kerja, alat kerja, lingkungan kerja yang salah, dan konstruksi yang salah dapat menimbulkan efek terhadap tubuh yaitu kelelahan fisik, nyeri otot, deformitas tulang, perubahan bentuk, dislokasi, dan kecelakaan. Hal yang sering muncul ialah penyakit akibat kerja (PAK).

Penyakit akibat kerja adalah penyakit yang mempunyai penyebab yang spesifik atau asosiasi yang kuat dengan pekerjaan, pada umumnya terdiri dari satu agen penyebab, harus ada hubungan sebab akibat antara proses penyakit dan hazard di tempat kerja. Factor lingkungan kerja sangat berpengaruh dan berperan sebagai penyebab timbulnya Penyakit Akibat Kerja. Sebagai contoh antara lain debu silica dan silicosis, uap timah dan keracunan timah. Akan tetapi penyebab terjadinya akibat kesalahan factor manusia juga (WHO).

Penyakit akibat kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan, alat kerja, bahan, proses maupun lingkungan kerja. Dengan demikian penyakit, akibat kerja merupakan penyakit yang artifisial atau man made disease.

WHO membedakan empat kategori penyakit akibat kerja:

  1. Penyakit yang hanya disebabkan oleh pekerjaan, misalnya pneumoconiosis.
  2. Penyakit yang salah satu penyebabnya adalah pekerjaan, misalnya Karsinoma Bronkhogenik.
  3. Penyakit dengan pekerjaan merupakan salah satu penyebab diantara faktor-faktor penyebab lainnya, misalnya Bronkhitis chronis.
  4. Penyakit dimana pekerjaan memperberat suatu kondisi yang sudah ada sebelumnya, misalnya asma.

Pada symposium internasional mengenai penyakit akibat hubungan pekerjaan yang diselenggarakan oleh International Labour Organization (ILO) di Linz, Austria, dihasilkan definisi menyangkut PAK sebagai berikut :

  1. Penyakit Akibat Kerja (Occupational Disease) adalah penyakit yang mempunyai penyebab yang spesifik atau asosiasi yang kuat dengan pekerjaan, yang pada umumnya terdiri dari satu agen penyebab yang sudah diakui.
  2. Penyakit yang Berhubungan dengan Pekerjaan (Work Related Disease) adalah penyakit yang mempunyai beberapa agen penyebab, dimana faktor pekerjaan memegang peranan bersama dengan faktor risiko lainnya dalam perkembangannya penyakit yang mempunyai etiologi kompleks.

Penyakit yang Mengenal Populasi Kerja – Disease of Facting Working Population adalah penyakit yang terjadi pada populasi pekerja tanpa adanya agen penyebab di tempat kerja, namun dapat diperberat oleh kondisi pekerjaan yang buruk bagi kesehatan.

METODE PENELITIAN

Dalam melakukan penelitian tentang analisis penyakit akibat kerja dikarenakan postur canggung melakukan metode kualitatif, yaitu dengan melakukan analisa dari pengukuran metode RULA ( Rapid Upper Limb Assassment ) kepada salah satu tahap pekerjaan. Tujuan menggunakan metode ini adalah untuk menggali lebih dalam informasi dari responden agar diperoleh fakta terkait. Selanjutnya menentukan apakah postur tersebut baik untuk diteruskan atau butuh penggantian postur tubuh.

Penelitian dilakukan di Universitas Balikpapan khususnya pada pembangunan klinik. Dalam melakukan penelitian tentang analisis postur canggung pada pekerja konstruksi ini, peneliti menggunakan metode kualitatif studi kasus yakni dengan melakukan wawancara dan observasi langsung di lapangan terhadap suatu aktivitas proyek konstruksi yang dilakukan. Secara prinsip metodologis dalam penelitian ini adalah bagaimana menjawab pertanyaan penelitian apakah postur pekerja saat bekerja merupakan postur yang baik atau postur canggung/buruk.

Prinsip dasar dari penelitian ini adalah memperoleh informasi apa saja hal hal yang dilakukan dalam proses pembangunan gedung ini. Pendekatan dalam penelitian ini menggunakan metode pendekatan studi kasus, dimana penelitian berfokus pada postur tubuh saat mengerjakan proyek konstruksi Peneliti mengkhususkan diri untuk melakukan penelitian pada proses pekerjaan pemasangan keramik pada area dinding klinik.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pemahaman dasar tentang metode analisa postur dan pergerakan kerja adalah pemahaman yang dapat mempengaruhi produktivitas dalam pekerjaan konstruksi, terutama pada pekerja buruh kasar. Minimnya pengetahuan tentang cara kerja yang ergonomis menyebabkan pekerja mengalami keluhan pada otot-otot rangka (muskuloskeletel), yaitu suatu kondisi yang mengganggu fungsi sendi, ligamen, otot syaraf dan tendon, serta tulang belakang.

Terdapat 4 metode analisa postur dan pergerakan kerja. Pertama, RULA (Rapid Upper Limb Assessment) yaitu sebuah metode survei yang dikembangkan untuk kegunaan investigasi ergonomi pada tempat kerja, dimana penyakit otot rangka tubuh bagian atas yang terkait kerja teridentifikasi. Piranti ini tidak membutuhkan peralatan khusus dalam menyediakan pengukuran postur leher,punggung, lengan dan tubuh bagian atas seiring fungsi otot dan beban luar yang dialami tubuh.

Kedua, REBA(Rapid Entire Body Assessment) yaitu sebuah metode yang digunakan untuk menilai tingkat resiko dari sebuah postur kerja. REBA membagi bagian tubuh menjadi 5 : trunk (badan), neck (leher), legs (kaki), upper arms (lengan atas) dan lower arms (lengan bawah).

Ketiga, OWAS (Ovako Working Postural Analysis System) merupakan suatu metode yang digunakan untuk melakukan pengukuran tubuh dimana prinsip pengukuran yang digunakan adalah keseluruhan aktivitas kerja direkapitulasi, dibagi ke beberapa interval waktu (detik atau menit), sehingga diperoleh beberapa sampling postur kerja dari suatu siklus kerja dan/atau aktivitas lalu diadakan suatu pengukuran terhadap sampling dari siklus kerja tersebut.

Terakhir yaitu QEC (Quick Exposure Checklist) merupakan metode untuk menilai secara cepat risiko pajanan terhadap gangguan otot rangka yang berhubungan dengan pekerjaan. Metode ini menilai gangguan resiko yang terjadi pada bagian belakang punggung, bahu/lengan, pergelangan tangan, dan leher serta kombinasinya dengan faktor resiko durasi, repetisi, pekerjaan statis dan dinamis, tenaga yang dibutuhkan dan kebutuhan visual.

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode analisa postur RULA (Rapid Upper Limb Assessment). Karena kasus pekerjaan yang diambil rata-rata terindikasi menyebabkan penyakit otot rangka tubuh bagian atas.

Pada tabel 1, 2 dan 3 menunjukkan tabel-tabel dari pengukuran metode RULA. Pengukuran ini lakukan dengan cara mendokumentasikan pekerjaan yang akan diukur dan pengukuran dilakukan dengan menggunakan alat pengukur sudut. Dalam proses pengukuran ini dituntut untuk memiliki ketelitian dan pengalaman agar hasil pengukuran sudut mendapatkan hasil yang akurat. Dari hasil pengukuran dalam metode ini akan didapat hasil apakah postur pekerjaan yang dilakukan dapat diterima atau perlu dilakukan investigasi lebih lanjut dan membutuhkan perubahan secara tidak langsung atau bahkan membutuhkan investigasi secara langsung serta perubahan dengan segera. Sehingga dapat meminimalkan risiko penyakit akibat kerja.

Dalam penelitian ini, peneliti melakukan analisis pengukuran pada fakta yang terjadi langsung di lapangan. Analisis pengukuran yang dilakukan pada proses pekerjaan pemasangan keramik pada dinding bangunan yang akan dijadikan klinik tersebut. Peneliti melakukan wawancara kepada pekerja yang bersangkutan pada gambar 4 bahwa pekerja tersebut sudah melakukan proses pemasangan keramik pada area dinding selama 2 hari dan masih akan berlanjut. Peneliti menanyakan apakah selama melakukan pekerjaannya, pekerja tersebut pernah mengeluhkan sakit pada area tubuh bagian atasnya. Pekerja tersebut menyampaikan setelah melakukan proses pemasangan keramik selama beberapa jam ia merasakan sakit pada bagian pinggang dan tulang belakangnya.

Peneliti menanyakan alasan mengapa ia bekerja dengan postur tersebut dan pekerja menyampaikan karena dengan posisi tersebut dapat memudahkan serta mempercepat pekerjaannya.

Berikut ini adalah metode analisa postur kerja, tahapan pengukuran berdasarkan metode RULA yaitu :

A. Analisis lengan dan pergelangan tangan. Tahapan yang pertama mengukur posisi lengan atas pada gambar 5, mendapatkan skor +5.

Tahapan ke-2 mengukur posisi lengan bawah pada gambar 6, mendapatkan skor +3.

Tahapan ke-3 mengukur posisi pergelangan tangan pada gambar 7, mendapatkan skor +4.

Tahapan ke-4 mengukur posisi pergelangan tangan memutar, mendapatkan skor +1. Tahapan ke-5 melihat skor yang di dapat dari tabel A adalah 7. Tahapan ke-6 mengukur tambahan penggunaan otot, mendapatkan skor 0. Tahapan ke-7 mengukur tambahan kekuatan/beban, mendapatkan skor +3. Tahapan ke-8 menemukan deretan di tabel C adalah 10.

B. Analisis leher, tubuh dan kaki. Tahapan ke-9 mengukur posisi leher seperti pada gambar 8, mendapatkan skor +4.

Tahapan ke-10 mengukur posisi badan pada gambar 9, mendapatkan skor +3.

Tahapan ke-11 menentukan posisi kaki pada tabel B, mendapatkan skor +1. Tahapan ke-12 melihat sikap badan dalam tabel B, mendapatkan skor 6. Tahapan ke-13 mengukur tambahan penggunaan kekuatan otot, mendapatkan skor 0. Tahapan ke-14 mengukur tambahan kekuatan/beban, mendapatkan skor +3. Tahapan terakhir yang ke-15 menemukan deretan di tabel C adalah 9. Setelah melakukan pengukuran hingga tahapan terakhir didapatkan skor RULA sebesar 7. Dari skor RULA yang didapat dalam proses pekerjaan pemasangan keramik pada area dinding tersebut. Bahwa postur dalam melakukan pekerjaan ini harus dilakukan pemeriksaan dan melakukan perubahan postur kerja dengan segera agar risiko timbulnya penyakit akibat kerja dapat diminimalkan.

KESIMPULAN

Postur canggung merupakan postur kerja yang salah namun sering diabaikan oleh pekerja. Namun memiliki dampak yang sangat besar ke depannya. Bekerja dengan postur yang ergonomis adalah bentuk investasi kesehatan jangka panjang untuk diri setiap pekerja. Dengan memiliki kesehatan yang baik pekerja akan tetap mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan berat bahkan hingga di usia tua.

Dari uraian diatas, disimpulkan bahwa pekerja yang melakukan pekerjaan dengan postur canggung mereka melakukannya karena faktor kebiasaan. Mereka juga kurang mendapat pengetahuan tentang cara bekerja dengan postur tubuh yang ergonomis. Kurangnya pengawasan  serta minimnya penerapan aspek kesehatan kerja. Menjadi alasan pekerja terus-menerus bekerja dengan postur canggung. Dengan melakukan pembekalan ilmu tentang bekerja secara ergonomis terhadap pekerja maupun pengawas, tentunya penyakit akibat kerja dapat diminimalkan.

DAFTAR PUSTAKA

Ananta, Erwin. 2017. Engineering Safety Prime: Construction Safety. Materi Perkuliahan Keselamatan Konstruksi, Fakultas Vokasi Universitas Balikpapan. Tersedia pada situs http://www.safety.cf

Simbolon, Hendrik P. 2009. Perancangan Fasilitas Berdasarkan Prinsip-prinsip Ergonomi pada Bagian Sortasi Udang di PT Central Windu Sejati. Medan: Skripsi TI Universitas Sumatera Utara.

Sama’mur, P.K. 1998. Ergonomi untuk Produktivitas Kerja. Jakarta: Haji Masagung, Cetakan Pertama.

Sutalaksana, Iftikar Z. Teknik Tata Cara Kerja. Bandung: Institut Teknologi Bandung.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s