SAFETY PRIME

Engineering Safety

[1801232] Upaya Pengendalian Risiko Pada Proses Bollard Pull Test

Leave a comment

UPAYA PENGENDALIAN RISIKO PADA PROSES BOLLARD PULL TEST

Gizka Dewi Kencana dan Pradita Ayu Hanani
Program Studi Diploma IV Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Fakultas Vokasi, Universitas Balikpapan

ABSTRAK 

Proses pekerjaan bollard pull test sering kita jumpai pada kegiatan-kegiatan di dermaga pelabuhan atau di galangan kapal, baik pelabuhan darat maupun pelabuhan laut, dimana kegiatan tersebut untuk jenis kapasitas yang besar umumnya menggunakan alat bantu mekanis berupa tugboat yang dioperasikan oleh seorang operator.

Dalam melakukan penelitian tentang bollard pull test sebagai upaya pengendalian risiko kecelakaan kerja pada proses pekerjaan ini, peneliti menggunakan metode kualitatif studi kasus berupa implementatif deskriptif, yakni dengan melakukan wawancara dan observasi langsung di lapangan terhadap suatu kasus kejadian kecelakaan kerja.

Penguasaan bollard pull dalam proses pekerjaan ini  merupakan pemahaman yang bersifat eksakta dimana melibatkan banyak kalkulasi dengan beragam metode dan rumusan. Peralatan dan aksesoris pada pekerjaan bollard pull yang beragam tipe, bahan, jenis ikatan, dan kapasitasnya, digunakan untuk menentukan alat yang tepat untuk mengikat dan atau menarik material yang akan diuji agar saat digunakan tidak mengalami kecelakaan.

Keahlian dalam melakukan pengujian bollard pull merupakan aspek teknis yang spesifik dimana dibutuhkan keahlian khusus, mendapat pendidikan dan pelatihan yang memadai, tersertifikasi, sehingga memiliki kemampuan yang tepat untuk memilih dan mengambil keputusan dengan tepat guna mengendalikan risiko kecelakaan kerja. Di samping itu, penguasaan ilmu-ilmu dasar eksakta seperti fisika dan matematika, menjadi syarat mutlak dapat memahami dan menguasai.

Kata kunci: bollard pull test, pengendalian risiko, konstruksi.

 

PENDAHULUAN 

Proses pekerjaan bollard pull test sering kita jumpai pada kegiatan-kegiatan di dermaga pelabuhan atau di galangan kapal, baik pelabuhan darat maupun pelabuhan laut, dimana kegiatan tersebut untuk jenis kapasitas yang besar umumnya menggunakan alat bantu mekanis berupa tugboat yang dioperasikan oleh seorang operator atau captain dari perusahaan client. Proses bollard pull test pada dasarnya tidak hanya berbatas pada kegiatan-kegiatan di dermaga pelabuhan atau perusahaan galangan kapal saja, namun setiap kegiatan yang melakukan proses ada beban yang ditarik dengan ketentuan hingga berapa ton beban tersebut.

Namun dalam penelitian ini, peneliti hanya membatasi untuk kegiatan jarak dari buritan kapal penarik ke bollard pull point (titik tetap) di darat harus setidaknya dua kali panjang kapal. Misalnya tugboat dengan panjang 36 meter maka jaraknya minimal adalah 72 meter. Kecepatan angin harus sama atau kurang dari 10 mph. Kondisi laut harus tenang. Tujuan bollard pull untuk mengetahui kemampuan kapal untuk menarik beban, berapa tonase tugboat bisa menarik beban. Kapal-kapal tua mestinya tetap dilakukan bollard pull test untuk mengetahui kemampuan kapal tersebut dalam menarik beban, sehingga dapat diputuskan apakah kapal tersebut layak operasi ataukah tidak.

Kegagalan dalam proses pekerjaan bollard pull test dapat berakibat rusaknya alat peralatan, rusaknya material yang ditarik karena bisa jadi tercebur ke dalam air, kerusakan lingkungan kerja di sekitarnya, serta cidera pekerja atau bahkan terjadinya kematian pekerja, dimana dampak dari itu semua akan berujung pada produktivitas dan biaya perusahaan yang akan ditanggung karenanya.

Selain seorang operator yang bertugas mengoperasikan berjalannya proses pekerjaan ini yang memiliki tanggung jawab pekerjaan dan keselamatan kerja, tidak kalah pentingnya juga adalah tugas seorang petugas juru ikat (rigger) dan petugas pembantu isyarat (dogsman) yang membantu operator bollard pull untuk memastikan material terikat dengan baik sebelum ditarik dan kemudian mudah dilepas kembali. Penguasaan secara fundamental yang benar akan aturan-aturan standar bollard pull ini bermanfaat untuk mengendalikan terjadinya risiko kecelakaan kerja dan kerugian-kerugian lain yang tidak diinginkan.

Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 93 Tahun 2014 Tentang Sarana Bantu dan Prasarana Pemanduan Kapal dan International Maritime Organization (IMO), the safety of life at sea 1974 secara tegas mewajibkan seorang petugas yang mengoperasikan proses bollard pull test adalah orang yang telah lulus uji kompetensi dan memiliki surat izin operasional (SIO) untuk menguji bollard pull/bejana tekan sesuai dengan tipe dan kapasitas yang dioperasikan. Begitu pula dengan petugas yang bekerja membantu proses pekerjaan bollard pull test seperti petugas juru ikat (rigger) dan petugas pemberi isyarat (dogsman), yang merupakan orang yang telah mendapatkan pelatihan dan sertifikasi.

Pada dasarnya semua proses memiliki potensi bahaya dengan tingkat keparahan masing-masing tergantung pada berat dan dimensi material yang ditarik, serta kondisi lingkungan dimana proses pekerjaan tersebut dilakukan. Sesuai identifikasi dan analisis, bahwa apabila proses pekerjaan ini mengalami kegagalan, maka akan berakibat pada alat peralatan, material, lingkungan di sekitarnya, dan pada manusia. Hal ini harus menjadi perhatian karena pada kenyataannya berdasarkan penelitian pada data inspeksi lapangan yang telah peneliti lakukan, banyak pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan tanpa dibekali izin operasional dan tidak menggunakan peralatan yang standar/sesuai. Disamping itu juga ditemukan adanya petugas juru ikat (rigger) dan petugas pemberi isyarat (dogsman) merupakan pekerja yang tidak terlatih, belum memiliki kompetensi yang memadai, dan tentu tidak memiliki sertifikasi keahlian di bidang tersebut.

METODE PENELITIAN 

Dalam melakukan penelitian tentang bollard pull test sebagai upaya pengendalian risiko kecelakaan kerja pada proses pekerjaan ini, peneliti menggunakan metode kualitatif studi kasus berupa implementatif deskriptif, yakni dengan melakukan wawancara dan observasi langsung di lapangan terhadap suatu kasus kejadian kecelakaan kerja. Tujuan menggunakan metode ini adalah untuk menggali lebih dalam informasi dari responden agar diperoleh fakta terkait. Secara prinsip metodologis dalam penelitian ini adalah bagaimana menjawab pertanyaan penelitian mengapa terjadi kecelakaan kerja pada proses pekerjaan  yang melibatkan petugas juru ikat (rigger) dan petugas pemberi isyarat.

Metodologi   pelaksanaan merupakan   cara   atau   prosedur   yang   berisi tahapan-tahapan   yang   jelas   yang   disusun   secara   sistematis   dalam   proses penelitian.  Tiap tahapan  maupun  bagian  yang  menentukan  tahapan  selanjutnya sehingga harus dilalui dengan teliti.

Tempat dan waktu dilaksanakan  di  sebuah  perusahaan  kapal  yang berlokasi di PT Galangan Putra Tanjung Pura, Sanga-sanga, Kabupaten Kutai Kartanegara. Perencanaan sistem dilakukan mulai tanggal 25 Oktober 2017 dengan judul “Analisis proses bollard pull test”.

Objek perencanaan sebuah  perusahaan  kapal  merupakan  industri bergerak  di  bidang klasifikasi, repair, repowering/rekondisi dan  bangunan  kapal  baru. Perusahaan  ini  dipercaya oleh salah satu perusahaan swasta   untuk   melakukan rekondisi dengan melakukan bollard pull test (test pada tekanan/kekuatan ditargetkan) pada sejumlah kapal. Kapal sebagai obyek uji akan dianalisis yaitu dengan mengukur kekuatan kapal dalam menarik beban dengan target 10 ton.

Studi  literatur  merupakan  proses  mengetahui  tentang kapal,  sistem  propulsi kapal  dan  mengenai  power  tentang  kapal.  Proses ini dilakukan dengan cara mengumpulkan informasi dari  buku dan  handbook  yang  mendukung  mengenai  tahanan  dan sistem propulsi di kapal berdasarkan aturan dan kelas yang berlaku.

Pengumpulan data dalam   proses   pengumpulan   data   atau   pengambilan   data   dikelompokkan menjadi beberapa kelompok proses pengambilan data, diantaranya:

  1. Data primer  adalah  data  yang  diperoleh  dari  pengamatan  dan penelitian secara  langsung di    Pengumpulan  data  primer  ini  dilakukan dengan jalan mengamati secara langsung pada kapal dan meminta keterangan serta mewawancarai karyawan yang terlibat secara operasional. Data yang diperoleh  antara  lain  adalah  kecepatan  kapal, kondisi  main  engine  dan sistem  propulsi  dan  konstruksi  yang  berhubungan  dengan  main  engine berupa pondasi mesin dan lain-lain.
  2. Data sekunder adalah data yang tidak langsung diamati oleh peneliti. Data ini merupakan data berupa desain lama, spesifikasi kapal, rule and standard kapal serta buku dan handbook tentang sistem propulsi kapal

HASIL DAN PEMBAHASAN 

Penguasaan bollard pull dalam proses pekerjaan ini  merupakan pemahaman yang bersifat eksakta dimana melibatkan banyak kalkulasi dengan beragam metode dan rumusan. Peralatan dan aksesoris pada pekerjaan bollard pull yang beragam tipe, bahan, jenis ikatan, dan kapasitasnya, digunakan untuk menentukan alat yang tepat untuk mengikat dan atau menarik material yang akan diuji agar saat digunakan tidak mengalami kecelakaan dan mengalami kerusakan baik sebelum maupun setelah diuji.

Berikut beberapa peralatan yang digunakan saat melakukan bollard pull test diantaranya adalah: (a) Dynamometer; (b) Towing Line; (c) Towing Hook; (d) Towing Arch; (e) Shackle; (f) Wire Sling; (g) Wire Rope; (h) Wire Clips; (i) Sling Belt; (j) Turnbuckle, dan; (k) Weighting SystemDynamometer (load cell) yang digunakan untuk bollard pull test harus sudah terkalibrasi (dengan bukti kalibrasinya) dan dapat digunakan dalam posisi tarik horizontal dan harus dilengkapi dengan swivel atau sensitive terhadap adanya torsi.

Setelah selesai, bollard pull test harus dihitung rata-ratanya dari beberapa catatan beban dalam interval tarik tiga sampai lima menit. Jika tambang penarik kapal tidak dalam posisi horizontal, sudut tambang harus menjadi pertimbangan yang digunakan untuk mendapatkan tarikan horizontal yang sebenarnya. Suhu mesin harus dalam kondisi steady state selama bollard pull test mesin harus dioperasikan dalam kondisi Maximum Continuous Rating (MCR). MCR is the maximum power output engine can produce while running continuously at safe limits and conditions. 

Insiden pada saat berlangsungnya bollard pull test terjadi akibat beban pengangkatan  di atas kapasitas, sehingga melampaui batas muatan beban. Kondisi lingkungan kerja pada saat insiden terjadi berlokasi di tepi alur sungai. Cuaca cerah dengan jarak pandang yang cukup dan tidak terhalang. Suhu udara di lokasi pekerjaan tercatat 38 derajat Celcius. Tidak ada orang di sekitar ketika proses pekerjaan sedang berlangsung. Job safety analysis (JSA) telah dibuat dan telah pula dikomunikasikan kepada tim kerja. Semua peralatan dalam kondisi baik dan telah ditandai dengan benar dan termutahirkan. Dengan melakukan analisis, interview langsung kepada para pekerja, observasi langsung dan tak langsung di lapangan, pengumpulan data yang berhubungan dengan proses pekerjaan seperti dapat dijelaskan di atas, peneliti dapat mengklasifikasikan bahwa proses pekerjaan ini mempunyai faktor-faktor kegagalan yaitu: (a) kerusakan pada pompa bahan bakar tekanan tinggi; (b) Lemahnya keperdulian pekerja terhadap aspek keselamatan kerja; (c) Sistem manajemen dan budaya perusahaan; (d) bollard pull yang melebihi tekanan 90 ton; (e) shackle yang melebihi tekanan; (f) wire rope/wire sling/sling belt yang putus dan; (g) ada tanda-tanda korosi dan piston crown rusak.

Kapal penarik sesuai ketentuan badan klasifikasi minimal harus sama dengan atau lebih besar dari syarat dalam kondisi kapal dengan ballast tidak boleh lebih kecil dari tanda garis muat (sesuai load line mark). Kadang kala seorang surveyor karena keterbatasan lingkungan galangan kapal diburu waktu dan lain lain akhirnya memutuskan untuk melakukan bollard pull test dengan kondisi seadanya. Namun jika dilakukan seperti itu pekerjaan tersebut dapat dikatakan kurang efektif. Kedalaman air di tempat pengujian yang dibawah lunas kapal dan lebar air di bawah kapal harus bebas dari benda atau apapun di setiap sisi kapal dimana harus setidaknya 2x dari syarat kapal penarik pada bagian tengah-tengah kapal kapal, hal ini kadang-kadang terabaikan.

Pengujian harus dilakukan pada perairan yang tenang, tidak ada arus air dan harus memilihnya berdasarkan waktu, oleh karena itu bollard pull test tidak dapat dilakukan setiap saat. Jika terdapat arus air mempunyai kecepatan melebihi 1 knot, maka harus dilakukan tindakan koreksi terdapat hasil dari bollard pull test tersebut. Hal ini masih bisa ditolerir.

Jarak dari buritan kapal penarik ke bollard pull point (titik tetap) di darat harus setidaknya dua kali panjang kapal, misalnya tugboat dengan panjang 36 meter maka jaraknya minimal adalah 72 meter, kecepatan angin harus sama atau kurang dari 10 mph, kondisi laut harus tenang. Pernyataan kapten kapal atau perwakilan pemilik kapal bahwa baling-baling yang dipasang sudah mendapatkan approval dari badan klasifikasi untuk kapal tersebut, hal ini dapat dibuktikan dengan menunjukkan bukti approval. Pemilik kapal harus yakin semua konstruksi harus handal termasuk towing hawser kapal, towing winch atau tow bitt yang digunakan selama proses pengujian bollard pull mempunyai kecukupan konstruksi. Buku stabilitas kapal harus dilampirkan kondisi pengujian bollard pull.

Pada penelitian ini, peneliti melibatkan diri secara aktif, namun tetap menjaga keseimbangan sebagai pihak eksternal yang melakukan penelitian tanpa terlibat dalam pengambilan keputusan lapangan secara langsung. Peneliti melakukan pengolahan data dengan pendekatan analisis kualitatif. Pengolahan data dilakukan dengan bersumber dari hasil wawancara Bapak Syariful Anwar dan Hary Mulyo serta Julian Siringo Ringo selaku responden, mengklasifikasikan informasi yang diperoleh berdasarkan variabel penelitian dan disusun agar dapat dibandingkan antara informasi yang satu dengan yang lainnya, melakukan analisis data, meninjau ulang data dengan menggunakan tinjauan teori yang relevan. Selanjutnya menarik kesimpulan berdasarkan data yang diperoleh.

Berikut adalah gambar-gambar peralatan saat proses penarikan Bollard pull test dilaksanakan.

KESIMPULAN 

Keahlian dalam melakukan pengujian bollard pull merupakan aspek teknis yang spesifik dimana dibutuhkan keahlian khusus, mendapat pendidikan dan pelatihan yang memadai, tersertifikasi, sehingga memiliki kemampuan yang tepat untuk memilih dan mengambil keputusan dengan tepat guna mengendalikan risiko kecelakaan kerja. Di samping itu, penguasaan ilmu-ilmu dasar eksakta seperti fisika dan matematika, menjadi syarat mutlak dapat memahami dan menguasai bollard pull test. 

Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa terdapat tiga klasifikasi faktor utama penyebab kecelakaan kerja pada proses bollard pull test, yakni (a) kerusakan pada pompa bahan bakar tekanan tinggi; (b) Lemahnya kepedulian pekerja terhadap aspek keselamatan kerja; (c) Sistem manajemen dan budaya perusahaan; (d) Bollard pull yang melebihi tekanan 90 ton; (e) Alat-peralatan yang dibebani secara berlebihan sehingga mengalami kerusakan.

DAFTAR PUSTAKA 

  1. Ananta, Erwin. Fundamental Rigging Sebagai Upaya Pengendalian Risiko Kecelakaan Kerja Pada Proses Punggah. Surakarta: Prosiding Seminar Nasional K3 Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS). Tersedia pada situs https://wp.me/s5PMfT-1711021. 2017.
  2. Ananta, Erwin. Engineering Safety Prime: Construction Safety. Materi Perkuliahan Keselamatan Konstruksi, Fakultas Vokasi Universitas Balikpapan. Tersedia pada situs http://www.safety.cf. 2017.
  3. American Society of Mechanical Engineers. Rigging Hardware ASME B30.26-2004. New York USA. 2004.
  4. Bureau Veritas. Guidance Note N.I.202 DNC R00 E 1985 Rules for Ships, January 2000.
  5. Det Norske Veritas. Part 5, Chapter 7, Section 2, Appendix A, Bollard Pull Testing Procedure Recommendations for the Performance of Bollard Pull Tests.
  6. Occupational safety and health branch labour department. Guidance notes on inspection, Thorough Examination and Testing of Lifting Appliances and Lifting Gear. United Kingdom. 2001.
  7. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 93 Tahun 2014 Tentang Sarana Bantu dan Prasarana Pemanduan Kapal.
  8. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER.09/MEN/VII/ 2010 tentang Operator dan petugas pesawat angkat dan angkut. Kementerian tenaga kerja dan transmigrasi Republik Indonesia. 2010.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.